PASSION

Orang tua itu, tak pernah berhenti belajar. Jadi mengapa kita harus malu? Selalu ada ilmu lama dan baru, tapi bukankah ilmu itu harus diraih dengan kerendahan hati?

Orang tua itu, tak pernah berhenti belajar. Jadi mengapa kita harus malu? Selalu ada ilmu lama dan baru, tapi bukankah ilmu itu harus diraih dengan kerendahan hati?

PASSION

Hidup adalah teka-teki dengan jawaban berubah-ubah.

Tidak seperti banyak dugaan sebelumnya, tidak ada drama spesial dalam balapan MotoGP Valencia. Tak ada penghalang buat Jorge Lorenzo, tidak ada mukjizat untuk Valentino Rossi.

Mengawali race dari posisi 26 akibat dianggap menendang Marc Marques di Sirkuit Sepang, Rossi perlu 12 lap untuk mencapai 4 besar. Lawan Rossi yang paling sulit adalah Aleix Espargaro. Sebab, ia disalip lagi oleh rivalnya di lap 11 sebelum ia berhasil melepaskan diri dari pembalap Suzuki itu di lap berikutnya. Hanya saja, berikutnya terbilang berat, karena jaraknya dengan Dani Pedrosa (urutan 3) sudah 11 detik.

Balapan mulai “sepi” sejak lap ke-15. Tak ada aksi lagi seru-seruan di lintasan. Lorenzo dan Marquez “berduaan” diposisi 1-2. Pedrosa sempat menipiskan jarak menjelang akhir lomba, namun ia gagal. Dan Lorenzo tak tertahankan menjadi pemenang 30 lap MotoGP Valencia, sekaligus juara dunia MotoGP 2015. Jorge Lorenzo (Spain) Yamaha 330 poin, Valentino Rossi (Italia) 325 poin.

Terjadi polemik disini, pendukung Valentino Rossi menuding Marc Marques yang berada di posisi 2, secara sengaja melindungi Jorge Lorenzo. Bahkan ia dianggap menghalangi Dani Pedrosa yang coba merangsek ke depan menjelang akhir balapan. Tak mau kalah, pendukung Jorge Lorenzo dan Marc Marques juga menduga bahwa Valentino Rossi membalap seperti Ambulance, di mana semua pembalap memberi jalan kepada sang legenda, bagaimanapun memulai balapan dari posisi 26 sampai akhirnya berada di tempat ke 4, agak mustahil.

Tapi sebagaimana teori konspirasi lain, ia tidak bisa dibuktikan. Ibarat kentut, ia berbau tapi tak berwujud. Tapi ada satu fenomena menarik di MotoGP Valencia yang notabene adalah Negara Spanyol, rumah bagi Jorge Lorenzo dan Marc Marques, tapi setiap Valentino Rossi melewati pembalap lain, para penonton bersorak. Publik lebih menyukai Italiano.

Dalam hal tidak terlibat kepentingan sama sekali (posisi netral), Niccolo Machiavelli dalam The Prince berkata, “kebenaran cenderung bersama orang banyak.”

Jika ada konspirasi dalam olah raga seperti yang (diduga) terjadi di MotoGP maka kita patut khawatir. Nilai sejati dari sebuah olah raga adalah sportivitas. Berjuang untuk menang dengan kejujuran dan sikap satria. Oleh karena itu anak-anak sangat baik jika senang berolahraga, mereka belajar untuk meraih kemenangan dan menerima kekalahan. Dan sportivitas bagi pembalap adalah berusaha untuk menang, bukan memberi jalan kepada orang lain atau membantu orang lain dalam sebuah kompetisi.

Mungkin, Valentino Rossi memang sebaiknya kalah. Ada pelajaran yang bisa diambil dari MotoGP 2015. Meski berat menjadi juara, tapi berjuang adalah wajib hukumnya. Dan kita tidak bisa memastikan bahwa Jorge Lorenzo dan Marc Marques bekerja sama. Tapi kita bisa memastikan bahwa mereka tidak sebesar Valentino Rossi.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa seorang Valentino Rossi sempurna, sebagaimana seharusnya ia tidak terprovokasi oleh Marc Marques di sirkuit Sepang. Secara karakter ada banyak kekurangan yang ia miliki, dan kita mungkin (banyak) tak sepaham dengannya. Seperti misalnya, pemilihan klub sepakbola favorit.

Tapi kita bisa melihat, di usia yang sudah tidak muda lagi di lintasan balapan. Di mana para rekan satu angkatan, dan bahkan beberapa angkatan sesudahnya telah menyerah. Terhadap perubahan regulasi, teknologi, waktu dan lain-lain. Ia terus belajar, itulah salah satu penyebab ia selalu mampu bersaing dalam kondisi terburuk sekalipun.

Orang tua itu, tak pernah berhenti belajar. Jadi mengapa kita harus malu? Selalu ada ilmu lama dan baru, tapi bukankah ilmu itu harus diraih dengan kerendahan hati?

Passion. Hegel pernah menulis, “tidak ada hal besar di dunia telah tercapai tanpa passion” Teknik, perencanaan, ketertiban memang menjanjikan hasil yang diperhitungkan. Seperti halnya MotoGP hari ini. Tanpa orang banyak, tanpa fan, yang gandrung dan tergila-gila, permainan di sana itu akan kehilangan makna.

Dan di MotoGP, passion bernama Valentino.

Posted in Asal Usil, Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

SERAKAH

Kita tak pernah tahu sampai batas kapan hasrat itu akan terpuaskan, jika yang berlaku adalah fatwa “serakah itu baik.”

Kita tak pernah tahu sampai batas kapan hasrat itu akan terpuaskan, jika yang berlaku adalah fatwa “serakah itu baik.”

APAKAH ITU SERAKAH BAIK

Kini banyak orang membela keserakahan. “Serakah itu baik,” kata Gekko, tokoh dalam filem Wall Street, di depan sebuah rapat pemegang saham di hotel Roosevelt yang tua di Manhattan. Dan bila ditanya kenapa serakah itu baik, orang serakah macam Gekko akan pandai memasang kalimat. Ia, misalnya, akan bisa mengutip Giambattista Vico dari abad ke-18 Italia. Justru dari kebengisan, kebakhilan, dan ambisi manusia, telah lahir banyak hal baik di dunia. Keserakahan  jugalah yang telah mendorong orang membuat perkakas. Dari sana lahir teknologi, untuk memperoleh hasil yang kian lama kian besar.

Keserakahan jugalah yang menyebabkan manusia mengarungi lautan, dan Columbus menemukan benua Amerika. Keserakahan bahkan bisa membuat manusia taat beribadah, menghitung pahala, setelah hidup di dunia demi sebanyak-banyaknya kenikmatan di akhirat.

Tak mengherankan bila orang tak malu-malu memamerkan kekayaan. Dengan ranggi memasang baju terbagus, memilih mobil mentereng, mengunjungi restoran terlezat, dan melupakan bahwa hanya beberapa tahun silam mereka sebenarnya anak muda yang pernah berseru indahnya hidup bersahaja.

Kita tak pernah tahu sampai batas kapan hasrat itu akan terpuaskan, jika yang berlaku adalah fatwa “serakah itu baik.”

Inilah zaman ketika sinetron bercerita tentang gaya hidup “orang kaya dan termasyur” dengan menampilkan mobil mahal dan gadget yang canggih. Itu menjadi contoh bagaimana seharusnya menikmati hidup, pengusaha dan pejabat dengan segera menirunya. Mobil-mobil mewah bersilewan di jalan raya, barang-barang mahal melekat di badan, apa boleh buat. Tamak itu tampan.

Ada juga yang berhasil mengakumulasi kekayaan mereka dan memperpanjang daftar milik mereka, masih ingin bersembunyi dari mata umum. Mungkin mereka tahu bahwa disekeliling mereka yang luas terhampar peta orang-orang miskin. Mungkin merasa bahwa nasib mereka belum tentu langgeng.

Tapi tabiat menyimpan dengan terlalu juga memiliki sisi lain, dengan segera mereka kehilangan hubungan pertemanan. Kehilangan hubungan sosial, ketika ada yang merasa terbebani oleh pengeluaran-pengeluaran mereka, orang kaya kok disubsidi? Sisi lain, Bakhil itu buruk rupa.

Jika ia sadar. Seperti haknya kisah Qarun, dalam hasratnya memiliki segantang emas, kemudian ingin memperoleh segantang emas lainnya. Ia akan kehilangan nasihat yang baik dan peringatan yang jujur, karena ia bahkan merasa karena kekayaannya (kekuasaan) ialah yang seharusnya memberi nasehat dan bukan menerima nasehat.

Tidak kata para ulama, dan berjuta-juta orang lain. Ketika kita melihat kemanfaatan umum tersedot oleh mereka. Proyek tak perlu diadakan. Barang-barang tak berkualitas dijual ke pemerintah dengan harga mahal, jalan-jalan buruk tak kunjung dibangun, malah jalan yang sudah bagus ditimpa terus menerus. Yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin banyak. Tapi adakah kita tahu cara menghentikannya, sementara mereka yang tamak itu sendiri tak bisa diharapkan akan bisa menghentikan hasrat mereka?

Tentu saja dalam filem karya Oliver Stone dan kisah Qarun itu, pada dasarnya adalah sebuah cerita tentang moralitas lama. Si Gekko jatuh. Yang menang bukanlah tokoh yang tamak. Yang menang adalah mereka yang berjuang bersama orang-orang lemah yang setia.

Dalam kisah Qarun, ia bersama hartanya tenggelam. Dalam filem Wall Street, hukum ada dan dijalankan. Gekko akhirnya bisa distop. Tapi setelah itu, cerita pun selesai, seperti baru siuman kita terjaga. Apa boleh buat, kita menghadapi kenyataan.

Beberapa kisah hikmah lain:

  1. Menyerahkan Nasib Pada Takdir; 3 September 2009;
  2. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  3. Menelusuri Sejarah Perang Salib; 30 April 2010;
  4. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  5. Pahit; 8 Maret 2012;
  6. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  7. Nun; 3 Desember 2014;
  8. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  9. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  10. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  11. Momentum; 18 Mei 2015;
  12. Ramadhan Dan Relativitas; 27 Juni 2015;
  13. Khusyuk; 14 Juli 2015;
  14. Ibrahim; 20 September 2015;
  15. Hijrah; 14 Oktober 2015;

 

Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

RENOVASI

Rencana Renovasi Masjid Raya Baiturrahman

Rencana Renovasi Masjid Raya Baiturrahman

RENOVASI

Tahun 2017 ditargetkan pembangunan infrastruktur dan landscape dalam lingkungan Masjid Raya Baiturrahman. Untuk jangka panjang, kegiatan akan dilakukan adalah pembebasan lahan dan bangunan sampai tepi sungai Krueng Aceh.

Ketika lahan pelataran Masjid Raya Baiturrahman ditutup, pohon-pohon kurma dicabut serta area rerumputan itu hilang, kita mungkin tertegun, merasakan sesuatu sejak masa silam yang hilang, renovasi berarti membangun, tapi ia juga menghancurkan kenangan. Tapi mungkin anda bertanya, masa silam siapa yang lenyap itu?

10 April 1873, agresi tentara Belanda dipimpin Jenderal Van Swieten membakar habis Masjid Raya Baiturrahman. Cut Nyak Dhien saat itu menjadi saksi dan berkata lantang, “Wahai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikan sendiri oleh matamu! Masjid kita dibakarnya! Mereka menantang Allah S.W.T! Tempatmu beribadah dibinasakannya! Nama Allah dicemarkannya! Camkanlah itu! Jangnlah kita melupakan budi si kafir yang serupa itu! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa si kafir yang serupa itu? Masih adalah orang Aceh yang suka menjadi budak kafir Belanda?”

Belanda, kelak membangun kembali masjid Raya Baiturrahman pada tahun 1877 atas perintah Gubernur Jenderal Van Lansberge untuk meredam kemarahan rakyat Aceh sekaligus sebagai permintaan maaf. Masjid satu kubah, kemudian diperluas tahun 1935 (tiga kubah) adalah portrait yang kita ingat sebagaimana harusnya bentuk masjid tersebut.

Tapi benarkah bentuk sebenarnya layaknya seperti itu? Peter Mundy pernah ke Aceh pada tahun 1637, ia membuat sketsa. Bangunan masjid berupa persegi yang terbuat dari kayu, atapnya bukan kubah, tapi model mengkerucut seperti piramida tumpang empat.

Syahdan bukan masjid itu juga yang dingat oleh orang Aceh zaman itu, setelah Peter Mundy pulang, Masjid Raya Baiturrahman terbakar pada masa Ratu Safiatuddin akibat pertikaian internal kerajaan. Dan dibangun kembali.

Ketika Belanda menyelesaikan pembagunan Masjid Raya Baiturrahman tahun 1883, masyarakat Aceh menolak untuk shalat disana, mereka tidak mau beribadah dan menggunakan masjid yang dibangun musuh. Kondisi itu berlangsung 10 tahun, hingga area masjid ditumbuhi semak belukar dan pekarangannya menjadi pasar.

Belanda terus merayu rakyat Aceh agar mau menerima masjid itu. Hingga kemudian Belanda berhasil membujuk masyarakat melalui ulama berpengaruh kala itu yakni Teungku Chik Keumala dan Teungku Chik Krueng Kalee. Penggunaan kembali masjid ini dilakukan sekitar 1893 sampai sekarang.

Maka, tak semua warisan adalah bangunan. Tidak setiap kali ada tambatan yang tulus diri kita kini dan sebuah bangunan bersejarah. Jauh atau dekat sebuah peninggalan masa lalu tak ditentukan peta bumi, bahkan tak selamanya ditentukan oleh kronologi.

Masjid Raya Baiturrahman zaman Kolonial Belanda

Masjid Raya Baiturrahman zaman Kolonial Belanda

Coba kita lihat foto-foto lama Masjid Raya Baiturrahman zaman Belanda, bangunan megah itu begitu terasing dengan lingkungannya. Pada awalnya para orang tua kita mungkin tidak melihat bagian dari dirinya pada foto tua itu. Ia bukan bagian dari kebanggaan itu. Malah mungkin melihat sesuatu yang pahit dan menyakitkan. Rekaman status sebagai bangsa terjajah, terjerumusan yang kekal di lapisan mereka yang kalah.

Bahkan dengan mata netral, kita sendiri melihat foto tersebut sebagai cenderamata yang menarik karena antik, sesuatu yang bisa dikirimkan ke facebook “Kisah dan foto tempoe doeloe”. Boleh jadi kelak selembar benda penting pencatat tarikh.

Karena itulah ketika Gubernur Ibrahim Hasan (1991-1993) melaksanakan perluasan kembali, Masjid Raya Baiturrahman memiliki 7 kubah, 4 menara, dan 1 menara induk dengan bagian halaman ditumbuhi rumput dan indah diselingi pohon kurma kita merasakan lanskap yang nikmat, tampilnya sebuah Masjid dengan kedekatan dengan masyarakat.

Kondisi Masjid Raya Baiturrahman saat tsunami (2004)

Kondisi Masjid Raya Baiturrahman saat tsunami (2004)

Masjid Raya Baiturrahman dalam bukan hanya menjadi kebanggaan rakyat Aceh dan Indonesia semata, bahkan dunia juga tertaut bersama bangunan ini. Bersamaan dengan bencana Tsunami 26 Desember 2004, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri tegak, meski compang takkala ombak tsunami membasahi bumi Aceh. Ia menjadi tempat berlindung juga sebagai tempat evakuasi jenazah korban tsunami yang bergelimpangan.

Andrea Hirata dalam novel Ayah punya gambaran yang mengesankan tentang Masjid Raya Baiturrahman (Halaman 305), “Besarnya mungkin dua puluh kali lebih besar daripada Masjid Al Hikmah di kampong kita, Rai. Lantainya dingin, pilar-pilarnya gagah, seakan dapat memanggul gunung. Kalau kau memandang langit-langitnya, rasanya angkasa terbelah dan kau berubah menjadi seputir pasir. Suasana shalat Jumat di masjid ini tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Saat engkau shalat rasanya ribuan malaikat menungguimu, suara muadzin merdu sekali. Begitu megah, begitu agung mesjid ini sehingga kuakui semua dosaku, yang terkecil sekali pun.”

Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman

Benarkah pandangan Andrea Hirata itu menurut kita? Mungkin kemegahan itu menyimpan ironi bagi mereka disekitarnya, kita bercakap tentang kebanggaan dan kemudian kehilangan hakikat itu, kisah kericuhan tongkat di Masjid Raya Ramadhan lalu, salah satu contohnya. Jatuhnya crane di Masjidil Haram pada saat ibadah haji kemarin, adalah salah satu contoh yang lain lagi.

Maka, haruskah bangunan ini direnovasi besar-besaran seperti yang direncanakan sekarang?

Kita tahu, dalam hidup, biarpun ringkas, selalu ada yang harus dilepas. Mungkin ke arah yang lebih baik, mungkin kearah yang lebih buruk. Dan apa yang “lebih baik” dan “lebih buruk” bagi suatu zaman tak pernah ditentukan setiap orang.

Dan kita tak selamanya berdaya untuk mencegah, seperti kita tak bisa mencegah sejumlah peninggalan sejarah lain harus di bongkar. Misalnya, tempat kita dilahirkan menjadi jalan raya.

Wajar ketika Masjid Raya Baiturrahman hendak dibangun besar-besaran kembali muncul petisi menggugat pembangunan tersebut. Mungkin ada kepongahan dalam mega proyek tersebut, tapi di sisi yang lain benar bahwa yang paling penting akhirnya bukan sikap mempertahankan, suatu sikap defensif, tetapi menciptakan

Tanda peradaban, pada hakikatnya, ialah perilaku kita yang hidup dengan rasa hormat kepada yang tumbuh dalam hidup. Dan sebaiknya, para penguasa mengetahui itu.

Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

ARIF

Kearifan yang sulit dipelajari pada masa kejayaan.

ARIF

Apa yang diperoleh bila seseorang (atau sekelompok) suatu hari kehilangan kejayaannya? Akankah kemarahan atau kekecewaan menguasai? Atau mungkin kesepian?  Tapi barangkali kearifan adalah yang paling baik.

Sekelompok tifosi AC Milan di malam berhujan itu mesti rela pertandingan melawan Sassuolo (25 Oktober 2015 pukul 21.00 WIB), di langsungkan dilayar infocus yang tertembak di dinding, streaming putus-putus dan tanpa suara. Warung kopi yang dijadikan basecamp lebih memilih menayangkan derby Manchester dengan suara menggelegar dalam fokus yang maksimal, bahkan televisi kecil (dengan suara tentunya) di dekat mereka lebih mengutamakan partai seru liga Inggris tersebut.

Salahkah? Mungkin tidak. Serie A sudah menurun banyak dibandingkan beberapa dekade lalu, dan AC Milan sendiri sudah tiga musim berturut-turut bermain seperti tim medioker. Tim ini, tidak lagi menunjukkan mental seperti di Athena 2007 lalu. Di dunia yang penuh kompetisi, apa yang terjadi hari itu wajar-wajar saja.

Di dunia yang sedih dan tak sempurna, selalu saja orang harus bertanding dengan akhir yang tak selamanya tenteram. Untuk tiap pemenang harus ada yang kalah, dan para pemenang hanya dapat ada bila ada yang kalah.

Di dunia yang sedih dan tak sempurna, tak semua orang bisa menjadi pemenang. Sebagian akan menderita kekalahan. Politik ekonomi berlangsung seperti permainan bola saat final, piala yang diperebutkan tak bisa dibagi sama.

Kejadian tersebut, tidak pernah dibayangkan (10 tahun lalu) oleh tim yang pernah dijuluki The Dream Team tersebut, menghilang dari persaingan di Eropa bahkan tertatih-tatih dalam liga domestik Italia.

Nikita Khrushchev menulis dalam memoarnya, “kosongnya hidup seorang pensiunan sering menerawangkan hati. Kadang saya tak tahu apa yang akan saya lakukan dengan diri saya. Saya tak tahu apa yang akan saya lakukan dengan waktu saya.”

Lalu, seperti dikemukakannya dalam buku kedua Khrushchev Remembers, ia ditolong oleh sebuah kamera. Pemberian Walikota Goteborg, ketika Khrushchev, sebagai presiden Uni Sovyet mengunjungi Swedia. Di masa setelah Nikita disingkirkan dari tahtanya yang perkasa, benda itulah yang ditimangnya. “kamera itu membantu saya mengisi kehampaan hidup saya,” tulisnya terus terang.

Agaknya bagi Khrushchev, kamera itu juga tanda tentang persahabatan dan kebaikan hati orang lain. Dua hal yang tak terasa bila seseorang dipuncak kekuasaan. Di puncak itu “persahabatan” ibarat tali yang getas, sering palsu. Teman selalu bisa menjadi musuh, atau penghambat, yang bila perlu disingkirkan. Di sekitar selalu berkerumun penjilat.

Dan “kebaikan hati”? Dari orang lain, itu terasa cuma sederet taktik. Apalagi Uni Sovyet (ketika itu) adalah sebuah negeri yang tak mengizinkan orang bicara bebas. Di situ para pemimpin dihukum untuk dirundung selalu curiga, akhirnya tak banyak lagi orang berani terus terang.

Mungkin itulah sebabnya setelah ia tak lagi berkuasa, Khrushchev dengan sebuah kamera dari Walikota Goteberg bisa melihat dunia yang lebih memikat. Lebih terang, ada penyesalan dalam dirinya, bahwa, misalnya, sewaktu dia berkuasa telah menindak Boris Pasternak. Penulis novel Doktor Zhivago, yang menulis begitu indah, dilarang menerbitkan bukunya di dalam negeri, lalu dimaki-maki oleh hampir seluruh corong komunis di dunia.

Khrushchev menulis di masa pensiunnya. “Bila berurusan dengan pikiran kreatif, tindakan administratif selalu paling merusak dan tak progresif.” Ia tahu penyesalannya dalam hal Doktor Zhivago mungkin telat, tapi katanya pula, “lebih baik telat daripada tidak pernah sama sekali.”

Itulah kearifan yang datang setelah kekuasaan hilang. Seperti diakuinya itu terlambat, tapi kearifan selalu sesuatu yang berharga untuk disambungkan ke orang lain. Terutama orang lain yang, terenyak di kursi kekuasaan, belum menemukannya.

Sebab kekuasaan, selain memberi kemampuan, ternyata juga memberi ketidakmampuan. Kalau orang sedang menjabat, bekerja atau tidak, sukar melihat dirinya sendiri. Sukar.

“Sekarang saya kurang lebih dapat mengerti bagaimana dulunya perasaan tifosi Napoli, Fiorentina, Roma bahkan Lazio sedikit demi sedikit.” Kata-kata itu tidak datang dari Presiden AC Milan, Silvio Berlusconi atau bahkan CEO AC Milan, Andriano Galliani melainkan seorang tifosi biasa.

Ketika pemilik warung diakhir pertandingan datang menyalami dan memohon agar para Milanisti mengerti bahwa ia harus mengedepankan selera pasar, ia hanya tersenyum memahami dan mengucapkan terima kasih.

Kearifan membuat kita mengerti, tak ada zaman yang sempurna, memang. Tapi bila karena itu kita bisa memaafkan suatu keadaan, kita bisa menerima alternatif lain.

Ketika kita menertawakan mereka yang mencemooh dan menghina, karena dalam tragedi kita belajar betapa penting nilai humor. Kearifan yang sulit dipelajari pada masa kejayaan

Posted in Asal Usil, Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

TUA

Aku tumbuh dewasa dengan cepat.

Aku tumbuh dewasa dengan cepat.

TUA

Resensi dan review film Mr. Holmes (2015)

Sherlock Holmes masih berjalan tegak bagai ia masih muda. Dia ulet menampik keuzuran. Berapa umurnya? Ian McKellen memerankan Sherlock berusia 93 tahun dalam Mr. Holmes (2015). Kubur mungkin sudah digali tapi Sherlock masih meneruskan memelihara lebah untuk memperkuat ingatannya dengan Royal Jelly.

Barangkali dia memang menyadari dengan proses menua. Barangkali dia terlalu berlogika. Sudah tentu Sherlock ini berbeda dengan Sherlock yang (biasa) kita kenal. Atau bahkan orang lain, dimasyarakat kita umumnya suka bila dituakan. Itu artinya mendapatkan hak tambahan buat rasa hormat. Tapi Sherlock ini ia jujur mengakui bahwa ia merasa takut, dan memilih menyendiri agar tak menyakiti orang lain. Berdasarkan pengalaman masa lalu.

Sebuah ulasan tentang Filem Mr. Holmes (2015)

Mereka yang ingin dihormati karena tua pada dasarnya hanya memberi bobot tinggi pada faktor pengalaman. Tapi apakah masa lalu itu? Masa lampau bukanlah panorama damai yang terbentang dibelakang, sebuah negeri yang bisa ditempuh ketika ingin, yang akan menunjukkan secara berangsur-angsur, bukit dan lembah rahasia. Tapi semakin kita ke depan, masa lampau itu dapat runtuh yang mana sebahagian reruntuhan itu masih dapat terlihat, tak punya warna, bisu dan maknanya lepas.

Kurasa aku pernah menjadi nyata sehingga Jhon (Watson) membuatku menjadi fiksi. Lalu setelah itu, aku tak banyak pilihan. Bermain peran seperti dia bentuk, atau menjadi kontradiksi. Itu adalah kata-kata Sherlock kepada Umezaki.

Tapi benarkah masa lalu menghilang? Tak semuanya benar. Masa lalu sering bisa dikunjungi kembali. Batu-batunya yang menutup satu-dua liang yang dulu tak berarti, kini bisa diungkit, menjadi detail menarik bagi  suatu panorama yang dulu cuma biasa. Tapi memang jalan Baker Street itu tidak bisa mengulang kembali pengalaman masa silam seutuhnya.

Disitulah orang tua sering tersesat. Ketika mereka ingin menemukan makna hidupnya, rencana, harapan dan ketakutan di jalanan kota lama itu mereka cari untuk dihidupkan kembali lagi. Tapi yang di dapatkan hanya sepasang lebah yang diawetkan, terekat dalam kaca, tak bergerak.

Sementara itu bagi mereka masa depan sangat terbatas. Seperti yang di katakan Sherlock pula, “Aku takkan pernah kembali ke Jepang. Perjalanan itu terlalu panjang untuk orang tua.” Sang anak Roger bertanya, “Kau berhasil sebelumnya.” Sherlock menjawab, “Itu sebelumnya.”

Barangkali karena itu, dalam diri Sherlock Holmes yang diperankan oleh Ian McKellen, usia tua tampak seperti kegilaan. Atau, setidaknya sebuah pangkal kesalahan menilai, ia telah sedemikian uzur akhirnya mudah terpedaya oleh ingatan sendiri.

Sementara kebanyakan orang tua dimanjakan oleh masa silam dan cemas dilupakan masa depan. Tapi untunglah orang tua ini, meski (akhirnya) tidak lagi berjalan tegak menemukan akhir manis. Bahwa seharusnya hidup, adalah tanpa ada rasa penyesalan. Karena ia telah berusaha melakukan yang terbaik.

XXX

Beberapa artikel Hikmah:

  1. Menyerahkan Nasib Pada Takdir; 3 September 2009;
  2. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  3. Menelusuri Sejarah Perang Salib; 30 April 2010;
  4. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  5. Pahit; 8 Maret 2012;
  6. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  7. Nun; 3 Desember 2014;
  8. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  9. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  10. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  11. Momentum; 18 Mei 2015;
  12. Ramadhan Dan Relativitas; 27 Juni 2015;
  13. Khusyuk; 14 Juli 2015;
  14. Ibrahim; 20 September 2015;
  15. Hijrah; 14 Oktober 2015;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

KRISIS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Fantasi harus berubah bersama waktu, mungkin karena waktu membawa masalah-masalah baru.

Fantasi harus berubah bersama waktu, mungkin karena waktu membawa masalah-masalah baru.

KRISIS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Fantasi harus berubah bersama waktu, mungkin karena waktu membawa masalah-masalah baru. Tabib Pong pun kian tua. Ia kurang gesit dan bertambah hati-hati. Jika dulu ia menghabiskan tiga kaleng tembakau sehari (tanda kejantanan), kini ia cuma menghisap tiga linting tembakau berkadar tar terendah.  Poor Mister.

Assosiasi Budjang Lapok tak lagi suatu kekuatan dunia. Kian lama hanya jadi peran pembantu. Bisa kita bayangkan dalam waktu tak terlalu lama Tabib Pong akan menjadi purnawirawan ABL (seperti yang lain). Berdiri di tepi pantai, menyiulkan lagu The Beatles, When I’m Sixty-Four.

Tentu, suatu pemandangan menyedihkan. Tapi Tabib Pong memang sudah lama dinujum para ahli. Dia, seperti tokoh dongeng dalam kisah ABL. Ia telah menciptakan gambar dan bayangan diri sendiri. Ia telah menciptakan glamor, glamor akan menciptakan peminat. Dan peminat akan menciptakan permintaan. Keinginan akan mendesak permintaan.

Pada suatu tahap, perekonomian akan tumbuh sehat oleh proses seperti itu. Pada satu tahap, kuda mengkilap, rambut mengkilap dan gadis-gadis mengkilap. Semuanya lancar dan merangsang konsumsi, dan itu artinya memperluas pasar, gaya hidup setinggi itu gampang menular.

Impian memang tak bisa dicegah memasuki kelas yang di bawah. Sampai abad berapapun, impian itu tak boleh di cegah. Idaman hidup enak yang mendorong orang untuk naik ke atas, ditambah dengan kemajuan ekonomi yang terjadi bersama itu, merupakan penggerak demokrasi dan kemakmuran.

Tapi sampai kapan?

Tabib Pong mulai cemas dan mengurangi tembakau. Rasa nyaman, seperti fantasi, berubah bersama waktu. Ketika Mas Jaim telah menikah, Barbarossa dan Amish Khan bersamaan membuka lepau nasi. Tapi siapapun yang mengejar sesuatu yang terus mengelak. Hasilnya adalah kehilangan waktu, tenaga dan pikiran. Keluarga, bisnis dan hidup. Mereka semakin sibuk, dan tak terlihat lagi di jalan-jalan Kota. Waktu adalah hal yang mahal, apalagi secara percuma menemani Tabib Pong berleha sejenak di lepau nasi.

Apakah pilihan lain yang tersisa bagi ABL terakhir ini, di samping proses menuju krisis itu? Membatasi hak orang lain, atau ikut menjangkau-jangkau dan berlomba? Atau membatasi diri sendiri? Seperti Tabib Pong membatasi rokoknya berganti yang lebih sehat seperti shisha?

X

Selamat Ulang Tahun kepada anggota ABL yang paling muda, paling dirindukan dan dicintai, Tabib Pong. Selamat bergabung dalam klub tiga puluh.

XX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

RUN

Life is too short not to live.

Life is too short not to live.

RUN

Breathing, breathing feel the air around you

Feel the air on your face

Feel the ground, your feet will be raised

Push forward

 

Feel light, feel its power

The strength of the electric pump through your veins

Crunching through the body

Flow into every nerve in your body, such as vibration

 

You are not yourself anymore

You are part of something bigger

You are part of the universe

That’s yours

 

Banda Aceh, 17 October 2015

Posted in International, Literature, Poetry, Puisiku | Tagged , , , , , | 9 Comments

HIJRAH

Hidup adalah perjalanan ruang dan waktu.

Hidup adalah perjalanan ruang dan waktu.

HIJRAH

Che Guevara mengelilingi Amerika latin untuk mewujudkan cita-cita revolusionernya, mengorbankan masa depan sebagai seorang calon dokter muda menjadi pejuang di Kuba dan akhirnya tewas di ujung peluru tentara pemerintah Bolivia. El Che tidak hanya menjadi dokter biasa, ia menjadi icon, seorang legenda.

Mohamdas Karamdas Gandhi atau yang lebih kita kenal sebagai Mahatma Gandhi menjelajahi negerinya untuk melihat nasib bangsanya, sebuah perjalanan yang dimulai dari seorang pengacara muda di Afrika Selatan yang mengurusi nasib orang India disana ia pulang ke India untuk memperjuangkan bangsanya dengan perlawanan ahimsa (a=tanpa/tidak, himsa=kekerasan) terhadap penjajahan Inggris. Dalam dunia yang penuh kekerasan, Gandhi menjadi seseorang yang berbeda, ia unik sekaligus menarik.

Rasullullah di usia yang masih belasan melakukan perjalanan niaga ke negeri Syam, dan pada saat wahyu telah diturunkan kepada beliau Rasullullah juga mencoba berdakwah ke Thaif dan puncaknya ketika Rasullullah berhijrah dari Mekkah ke Madinah untuk melebarkan wilayah dakwah dan akhirnya menjadi awal dari kebangkitan Islam di Jazirah Arabia dan kemuliaan Islam di dunia. Keistimewaan  proses Hijrah ini membuat khalifah Umar bin Khattab menetapkan bahwa awal penaggalan tahun Islam dimulai dari Hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah dan dikenal dengan sebutan Tahun Hijriah

Apa yang dapat kita petik dari pelajaran tersebut? Terkadang kita perlu membuka mata terhadap dunia, apa yang terjadi disekeliling kita. Orang yang berpergian ibarat air yang mengalir meskipun ia kotor maka alirannya yang akan membersihkannya, orang yang hanya diam ditempatnya ibarat air yang tergenang meskipun ia bersih lama kelamaan ia akan kotor jua adanya.

Berkaca dari kesuksesan orang-orang terdahulu, sebenarnya hikmah perjalanan itu sebenarnya adalah sangat-sangat besar, terbayang? tidak seandainya Rasulullah tidak pernah Hijrah ke Madinah bagaimana dengan keadaan kita saat ini?

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang hari ini lebih baik dialah orang yang beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah termasuk orang yang merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin dialah termasuk orang yang celaka”

Sejatinya manusia bertumbuh sepanjang waktu, ia melewati berbagai tantangan zaman dan yang beruntung adalah mereka yang terus memperbaiki kualitas diri menjadi lebih baik. Ada dua kualitas terbaik (fitrah) anak-anak yang sebaiknya dimiliki orang dewasa. Pertama, pemaaf. Seberat apapun dua orang anak-anak bertengkar, adu pukul antara mereka tapi beberapa saat kemudian mereka akan bermain dan tertawa bersama kembali. Kedua, rasa ingin tahu. Anak-anak selalu penuh pertanyaan, sehingga mereka selalu belajar hal yang baru antusiasme. Jika, kita selaku memiliki dua sikap ini, Insya Allah akan selalu bertumbuh menjadi lebih baik.

Hijrah yang ditandai dengan tahun Hijriah memiliki makna yang dalam. Hijrah artinya berpindah menjadi lebih baik. Maka, saya ingin mengucapkan selamat TAHUN BARU HIJRIAH 1437 H. Semoga kita semua menjadi orang yang beruntung.

Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , | 7 Comments

REALITAS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

WAKE UP You are not in a movie. This is life, get back to reality

WAKE UP
You are not in a movie. This is life, get back to reality

REALITAS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Seberapa sering kau berpikir tentang mengapa teman-temanmu datang dalam kehidupanmu? Apakah itu acak, diatur atau mungkin gabungan dari keduanya? Terlepas dari semua alasan, teman yang kau kenal setidaknya akan berada disisimu untuk sementara waktu. Lainnya, kau tidak akan begitu yakin akankah pertemanan berlaku selamanya.  Satu persatu teman, sahabat kelak menemui realitas masing-masing.  Realitas atau kenyataan dalam bahasa sehari-hari berarti hal yang nyata, benar-benar ada.

Pada bulan-bulan belakangan, Assosiasi Budjang Lapok telah kehilangan banyak energi, semangat, gelora mereka. Satu persatu anggotanya telah menikah, “kelapukan” yang senantiasa melekat pada masing-masing personil telah menghilang bersama angin

Kisah Assosiasi Budjang Lapok ini kembali ketika kabar bahwa salah satu anggotanya Mas Jaim juga akan segera menikah. Ia adalah  seseorang yang termasuk terakhir bergabung dalam ABL lama, sosok yang menjadi bulan-bulanan Assosiasi pada puncak kejayaan mereka. Ia memiliki ilmu ikhlas tingkat tinggi.

Beberapa bulan  ini Mas Jaim tidak pernah muncul di lepau nasi, muncul pertanyaan apakah dia sedang mengikuti adat pingit? Aduhai, jika benar maka ia terlalu rumit, jalan pikirannya melebihi calon pengantin perempuan.

Menurut penuturan Mister Big, ia bertemu dengan Mas Jaim dan bertanya mengapa tidak pernah muncul lagi di lepau nasi. Mas Jaim menjawab, “teman-teman masa bermain saya telah selesai. Saatnya menghadapi realitas kehidupan yaitu menikah. Untuk itu aku harus fokus mengumpulkan uang dan mengurangi pengeluaran.” Ternyata Mas Jaim selama ini tak terlihat di lepau nasi, bekerja keras mengejar realitas yang diimpikan.

Ia melewatkan banyak hal yang terjadi dalam Assosiasi Budjang Lapok, ia tahu bahwa Assosiasi telah menemukan beberapa personil angkatan baru yaitu Homer, Wan Velor dan Aak De misalnya. Namun ia belum dekat lagi dengan para junior sampai akhirnya pengumuman pernikahannya.

X

Bintang keberuntungan seolah tersenyum ramah kepada Barbarossa, penjaga gudang beras kerajaan ini sedang berjalan menuju puncak kejayaan. Baru-baru ini istrinya melahirkan seorang putra yang rupawan. Selain itu bersama seorang sahabat nama Om Zhen ia merintis usaha lepau nasi, yang diberi nama “Lepau Gorengan” dan syukur perniagaan itu berlangsung baik baginya dan rekan.

Ketika mendapat kabar akan pernikahan Mas Jaim, ia tersenyum girang. “Kawan aku itu sudah banyak berubah, ia semakin baik dari hari ke hari. Aku ingat, dulu dia pernah bercerita dekat dengan anak pejabat dan berpacaran melalui surat-suratan, ternyata dia ditipu dan pacarnya tersebut ujung-ujungnya malah minta pinjam uang.”

Barbarossa meludahkan sirih dari mulutnya, setelah memiliki anak dia telah mengurangi tembakau yang sebenarnya adalah kegemeran utamanya.

“Waktu itu dia sedang dalam krisis kepercayaan diri. Oh ya, aku dulu pernah mengajak dia ke rumah menyanyi, tapi dia diam saja. Tidak menyanyikan satu tembang pun.”

Ia tertawa terbahak, “ternyata dia takut diminta bayaran atas tembang yang dilagukan.”

“Kali ini aku berharap, kabar penikahan ini bukanlah berita palsu. Soalnya Mas Jaim berulang kali mengatakan akan menikah, tapi kenyataannya sampai sekarang dia belum menikah.”

Harapan Barbarossa pun terkabul, ketika undangan pernikahan Mas Jaim tiba.

X

“Yang dulu-dulu banyak yang negatifnya, maaf bukan tidak peduli. Tidak mungkin kalau kita kupas sisi negatifnya di hari Mas Jaim sedang happy.

Laksamana Chen menolak berkomentar terhadap pernikahan Mas Jaim.“No Comment.” Laksamana Chen tidak mampu mengungkapkan masa lalu Mas Jaim, dengan mengeluarkan kata-kata tajam. Sangking tidak ingin merusak hari bahagia Mas Jaim, ia memilih tidak hadir pada acara tersebut.

X

Prof. Gahul tidak dapat hadir dalam pernikahan Mas Jaim, akan tetapi sebagai anggota Assosiasi yang paling cerdik pandai, ia sudah meminta izin untuk tidak dapat hadir pada acara sakral tersebut dikarenakan ada urusan mengajar.

“Menurut saya, Mas Jaim selama ini adalah korban. Ia selalu menjadi sasaran ejekan anggota ABL lain, mungkin terlalu banyak dan saya pikir di luar batas kemanusiaan. Sampai-sampai dia ngambek. Tapi mungkin yang lain lebih dapat memberikan referensi, karena saya tidak terlalu sering bergabung ketika ada kejadian-kejadian tersebut, karena seperti yang kalian ketahui, saya sibuk dengan profesi dan kegiatan-kegiatan akademisi.”

X

Mendung mengantung pagi itu di Bandar, awan hitam menyelemuti seantero kota. Mas Jaim terlihat gelisah, lima belas menit lagi di masjid kebanggaan masyarakat kota ini dia akan melangsungkan akad nikah. Mana teman-teman? Belum ada satu orang pun yang datang, pengantin perempuan pun sampai saat ini belum hadir.

Ia melihat ibunya mondar-mandir, pihak keluarga dan hanya sepuluh orang yang masih berhadir ke masjid. Bagaimana bisa Mas Jaim seorang legenda ABL ketika menikah hanya dihadiri jumlah orang segitu. Rasanya ia ingin teriak, marah dan protes tapi tidak tahu kemana harus menumpahkan perasaan tersebut. Perasaan muak memuncak, tapi siapakah yang harus disalahkan atas semua kejadian ini?

Sepuluh menit lagi akad nikah, akhirnya ia memutuskan untuk shalat sunnah guna menenangkan hatinya. Selesai salam, ia merasakan sedikit ketenangan. Apalagi ketika ia melihat Penyair sudah tersenyum disampingnya.

“Seumur hidup Mas Jaim, baru kali ini beta melihat engkau shalat.”

Kampet si Penyair pikir Mas Jaim. Ingin ia maki psikopat itu. Otot-otot tubuhnya menegang, dalam hitungan detik bahan kimia yang berfungsi sebagai neutrontransmitter yang bernama catecholamine dilepaskan, untung aliran marah tersebut terhenti sebelum ia menjadi tak terkontrol. Setidaknya Penyair sudah hadir.

Tak lama kemudian, gemuruh hujan pun turun menyapu bumi. Angin kencang menggoyang pelita masjid. Pada saat bersamaan detak jantung Mas Jaim meningkat, tekanan darah naik, dan dengan demikian juga laju pernafasan menjadi tidak teratur. Wajahnya menjadi kemerah-merahan, ia berteriak. “Maaak, mana pengantin perempuannya!”

Dari arah berlawanan ibu Mas Jaim menjawab tenang, “rombongan pengantin perempuan sudah sampai, mereka sedang di teras masjid.

Lima menit lagi menjelang upacara dimulai, pengantin perempuan baru datang? Adrenalin dan noradrenalin terlepas, ia panas.

“Jangan tegang kali Mas Jaim.”Penyair memijat pundaknya.Ia melihat pengantin perempuan sudah mengambil tempat diseberang, tubuhnya mulai rileks menuju posisi normal. Ia ditemani dengan Penyair maju menghadap tuan Kadi. Tapi bukankah yang seharusnya menjadi pendamping pernikahan adalah Tabib Pong? Dia belum kelihatan batang hidungnya, dan belum ada anggota ABL lain yang hadir, inisiatif Penyair menemaninya membuat ia sedikit tenang. Kakinya bergetar, mungkin ia marah tadi untuk menyembunyikan ketakutan.

Mas Jaim sempat kebingungan, menyebutkan kata “mahar” atau “mas kawin” ketika hendak melafadzkan akad, ia sempat gamang. Tiba-tiba ia merasakan bahunya ditinju dari belakang dan pantatnya disepak.  Alhamdulillah akhirnya ia mengucapkan kalimat ijab qabul dengan sempurna. Dalam kesenangan yang amat sangat ia sempat mendelik kepada Penyair.

“Yang Beta pukul dan tendang itu bukan engkau Mas Jaim, tapi segala syaitan yang coba menganggu akad nikah kau.”Kata Penyair dengan wajah tanpa rasa bersalah. Bagaimana bisa dia dalam kondisi bersila ditengah suasana syahdu tersebut sempat memukul dan menendang aku pikirnya. Ia berjanji, jika kelak menikah lagi tidak akan memilih orang gila ini sebagai pendamping lagi.

Tapi Mas Jaim punya niat menikah lagi?

Suasana tegang sekejab menjadi ceria, apalagi dikejauhan ia melihat Barbarossa, Mister Big, Amish Khan dan Aak De udah berhadir juga di masjid, dengan kondisi basah kuyup. Ia langsung mendekati Barbarossa dan berbisik senang, “Nikah juga aku bro!” Ia tertawa lepas, lepas sekali.

X

Sebaliknya, bintang keberuntungan seolah sedang menjauhi Tabib pong. Segala apa yang dia rencanakan belakangan ini selalu gagal. Ditambah lagi, dengan menikahnya Mas Jaim maka ia menjadi satu-satunya anggota ABL versi Beta 2.0 yang belum menikah.

Pada malam sebelum Mas Jaim akan menikah ia meminta penyair untuk mengirimkan merpati guna membangunkan dia, ia memiliki penyakit khas pangeran mana pun, yaitu susah bangun tidur di pagi hari. Penyair sendiri sudah mengirimkan merpati pos ke Tabib pong, tapi diketahui tewas karena menganggu sang pengeran tidur. Ketika tersadar di tengah hari Tabib Pong bertanya dalam hati, apakah merpati pos yang tewas berdarah-darah disampingnya adalah kiriman Penyair. Lalu ia menangis dalam luka dalam (Ini adalah pengakuan Tabib Pong yang sangat diragukan kebenarannya).

Sekarang dia menghadapi dua masalah baru, pertama ia telah membunuh merpati pos milik Penyair yang efisien, ia membayangkan Penyair akan marah ketika asetnya telah dimusnahkan walaupun tanpa sengaja oleh Tabib Pong. Akan tetapi masalah itu sangat kecil jika dibandingkan dengan masalah kedua yaitu, ia telah berjanji menjadi pendamping Mas Jaim dan ia telah melewatkan acara sakral itu. Itu baru namanya masalah besar!

Otaknya berpikir keras, bagaimana cara meredakan amarah Mas Jaim. Terlintas olehnya bahwa Mas Jaim memiliki kearifan tingkat dewa, dan sebagaimana dewa kuno manapun di dunia harus diredakan dalam bentuk sesaji.

Ia bergegas menuju rumah Mas Jaim, awalnya Mas Jaim menolak menemuinya. Setelah dengan segala bujuk rayu Tabib Pong akhirnya ia dimaafkan, dengan syarat tentunya. Tabib Pong mengajak Mas Jaim makan malam bersama di “Rumah Makan Ikan” yang dikelola oleh Amish Khan.

Kita ceritakan sedikit, baru-baru ini Amish Khan dipercaya oleh seorang Tabib kaya untuk mengelola sebuah rumah makan, bernama R.M Ikan. Sebenarnya di R.M Ikan itu tidak hanya menyediakan ikan, malah sangat sedikit. Menu unggulan mereka adalah berbagai macam olahan susu, dan daging. Namun Amish Khan sangat mencintai ikan oleh karena itu rumah makan itu dinamakan R.M Ikan.

Mungkin para pembaca tidak tahu, bahwa Mas Jaim adalah anggota Assosiasi Budjang Lapok terkuat. Ia adalah titisan Viking abad ini. Oh, kekuatan Mas Jaim itu bukan dalam hal adu pancho atau mengampak. Tapi dalam skill yang paling purba, yaitu makan. Diperlukan dua gentong besar susu, satu paha kambing dan sepotong roti untuk membuat Mas Jaim memaafkan Tabib Pong.

Selesai makan besar Mas Jaim pun pamit pulang, sebelum pergi ia berkata kepada Tabib Pong. “Sebelum kemari tadi aku sudah makan, jadi belum benar-benar puas. Besok kamu harus mengundang aku lagi.”

Amish Khan yang kebetulan berada disitu memandang Mas Jaim dengan mulut ternganga.Tabib Pong mengeluarkan beberapa keping koin dan membayar. Wajahnya mencoba bertingkah setenang mungkin. Tapi ia menjadi cemberut ketika Amish Khan berbisik, “Selamat ya, sekarang kamu punya berhala yang harus diberikan sesajen.”

Amish Khan tertawa terbahak-tahak, dan Tabib Pong dengan kepala miring meninggalkan R.M. Ikan.

X

“Happy wedding Mas Jaim”~ Homer, anggota baru ABL. Seorang pendongeng piawai nan tajir, berniat dan berencana menikah dua tahun lagi. Dia tidak hadir pada akad nikah Mas jaim. Mas Jaim menanggapi ucapannya dengan dingin, “Homer cuma pandai ngomong, beda dengan Tabib Pong.”

X

Sang Penyair adalah pendamping dadakan ketika Mas Jaim menikah, maka ia pun diwawancarai oleh tim reportase pernikahan Mas Jaim. Ia terlihat santun, tenang dan nyaris tanpa ekspresi ketika ditanyai kesan dan pesan tentang sahabatnya tersebut.

“Jika saja seluruh intelejensi anggota Assosiasi Budjang Lapok ditambahkan, kemudian dibagi dalam bentuk rata-rata. Maka dari penjumlahan tersebut yang menyumbang terkecil adalah Mas Jaim.”

Ia tersenyum, sedang Aak De yang berada di sampingnya terdiam hening. Bulu kuduk tim reportase berdiri, sumpah kami sangat ketakutan berhadapan dengan orang ini. Wajar, Mas Jaim menyebutkan sebelumnya hati-hatilah dengan orang ini, dia seorang psikopat.

“Psikopat? Beta hanya dingin.” Ia tersenyum manis, dan anggota tim reportase buru-buru meninggalkan orang tersebut.

X

Mewakili anggota ABL generasi baru, Wan Valor angkat bicara.

“Baiklah mas brow. By the way, Mas Jaim emang luar biasah kali progress perkembangannya. Yang pasti tu bukan efek dari kekinian.”Wan Velor tertawa terbahak.

“Singkat ajah yah brow. Kalo akuh seh jarang bertemu Mas Jaim dibandingkan yang lain. Jadi sangat sedikit yang akuh tau kronologis perjalanan hidup Mas Jaim beberapa taon kebelakang. Walau pun akuh udah kenal sejak sekolah sama Mas Jaim.”

“Tapih, eh tapih. Akuh pernah dengar  sebelum menemukan istrinya yang sekarang, dia pernah memiliki hubungan bertepuk sebelah tangan.Dia hanyah dimanfaatkan ajah untuk antar jemput sajah.”

Wan Velor semakin bersemangat, “kayaknyah ituh semuah dapat terjadi karenah Mas Jaim belum ada kerjah tetap waktu itu, dan harapan ortu pacarnya agak tinggi.”

Wan Velor menjadi teringat sesuatu, “Nanti kita lanjutkan ya mas brow. Akuh ada janji sama dekgem (Dedek Gemez) nih.”

Percayalah bahwa Assosiasi Budjang Lapok telah menemukan satu lagi orator ulung, ahli retorika yang bernama Wan Velor.

X

“Sampai saat ini aku masih tidak menyangka telah menikah, ini semua terjadi seakan dalam mimpi. Ternyata setelah aku merenung kembali ini adalah realitas. Terima kasih teman-teman ABL yang telah mendukung aku selama ini. Istilahnya, ini semua terjadi karena kalian.” ~ Mas Jaim

X

Tak susah melukiskan Assosiasi Budjang Lapok, karena mereka adalah salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan Budjang, sekelompok senewan yang ingin (segera) kawin, semua biasa saja. Akan tetapi ketika alam semesta membuat sesuatu terjadi, menempatkan sekelompok orang yang berbeda karakter bersama-sama, mereka mencari jalan keluar dengan segala lebih dan kurang. Menjalani hidup di bumi, pada titik ini cerita ini berhubungan dengan perasaan mereka bagaikan fenomena unik dan bersifat pribadi.

Maka, Assosiasi Budjang Lapok layak mengucapkan terima kasih kepada Mas Jaim. Ketika kita telah melupakan keajaiban, di hidup yang biasa saja. Kami melihat Mas Jaim telah mengalami berbagai kekalahan, penghinaan namun tak pernah hancur. Dimana banyak orang ketika mereka hancur tak pernah kembali seperti semula. Tapi Mas Jaim bisa sembuh dan semakin kuat dari hari ke hari. Kami berharap dapat begitu seterusnya.

X

“Bagaimana ya cara mengatakannya? Saya segan. Mmmm, Mas Jaim dalam pernikahan itu tolong menjaga emosi ya. Pernikahan itu bukan uji emosi. Apalagi istri, nanti jangan ditampar-tampar ya Mas Jaim.” ~ Mister Big

X

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR

 

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 21 Comments

IBRAHIM

Menyembelih seorang anak yang tak berdosa, menyembelih anak sendiri yang tak bersalah, sanggupkah engkau? Ibrahim

IBRAHIM

Siapapun yang menjadi ayah, atau berkeinginan menjadi ayah harus belajar dari Ibrahim. Seseorang yang seluruh agama samawi dinisbatkan sebagai keturunannya. Ibrahim telah diusir oleh kaumnya, setelah sebelumnya dibakar dalam api menyala, mengungsi sampai ke Mesir, bertahun-tahun tidak memiliki keturunan, padahal ia sangat berkeinginan memiliki keturunan yang saleh. Ia berdoa, “Ya Tuhanku, kurniakan kiranya kepadaku keturunan-keturunan dari orang-orang yang shalih” (QS Ash-Shaffat ayat 100)

Ketika akhirnya Ibrahim diberi keturunan, perintah itu datang. Mengorbankan sang anak dengan cara menyembelih. Sanggupkah ia?

Menyembelih seorang anak yang tak berdosa, menyembelih anak sendiri yang tak bersalah, sanggupkah engkau? Ibrahim telah mendengar suara itu. Ia yakin itu titah tuhan, agar itulah yang dikerjakannya. Ia sedang diuji sedekat manakah dirinya dengan Tuhan yang harus ditaati. Ia berangkat.

Bayangkan jika kita yang diuji? Tapi kita bukanlah Ibrahim, Nabi yang dijuluki Kholilullah, “sahabat Allah” tentu bukan sembarang. Ia mengatasi  nilai “kebaikan” yang universal, yang berlaku kepada siapa saja, dimana saja, kapan saja. Ia juga unik, tersendiri, bersendiri. Tindakan Ibrahim di bukit itu tidak dapat dibenarkan oleh nilai, hukum dan kemanusiaan. Tindakan itu hanya bisa dilakukan karena Ibrahim memiliki kepercayaan. Ia seorang Ksatria Iman.

Tapi tetap saja tak mudah membayangkan “ksatria iman” harus memotong leher anaknya sendiri. Mungkinkah ia sampai hati benar?

Al Qur’an mengambarkan Ibrahim meletakkan anaknya dengan muka yang menelungkup. Dalam tafsir Al-Tabari disebutkan bahwa si bocah berkata kepada ayahnya : “Bila ayah baringkan aku sebagai qurban, telungkupkan wajahku, jangan ayah letakkan  miring ke samping, sebab aku khawatir, bila ayah melihat wajahku, rasa belas akan merasuki diri ayah, dan ayah akan batal melaksanakan perintah Allah”

Kita membayangkan, Ibrahim menutup wajah anaknya seraya menghunus pisau. Ia tak akan tega melihat mata si bocah dalam kesakitan. Kemudian tangan menyembelih kurban yang ternyata telah diganti oleh Allah dengan seekor domba. Biji matanya yang hitam merekah sebagai bagian dari senyum yang belum merekah.

Sebab itu, di saat itulah ia melihat kembali wajah nyaris seseorang kurban. Wajah manusia. Wajah yang tak tepermanai. Yang tak bisa menjadi objek. Wajah yang menyebabkan perintah Tuhan memiliki makna, “Jangan engkau membunuh!”

Sebagaimana halnya bagi kita, tiap wajah mengetuk diri kita. Kita pun memberi respons, bertanggung jawab, tak mudah sewenang-wenang. Ketika kita mengingat Ibrahim di bukit itu. Ibrahim mengajarkan kita tauhid, ia mengajarkan kita juga kemanusiaan dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ia, Ibrahim berarti karena itu.

KATALOG HIKMAH

  1. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  2. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  3. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  4. Orang Asing Yang Terasing; 3 Februari 2009;
  5. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  6. Menyerahkan Nasib Pada Takdir; 3 September 2009;
  7. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  8. Menelusuri Sejarah Perang Salib; 30 April 2010;
  9. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  10. Pahit; 8 Maret 2012;
  11. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  12. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  13. Momentum; 18 Mei 2015;
  14. Ramadhan Dan Relativitas; 27 Juni 2015;
  15. Khusyuk; 14 Juli 2015;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments