RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TUJUH BELAS

Illustrasi sosok Teuku Umar Johan Pahlawan

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TUJUH BELAS

Siapa saja yang berbangga dengan harta dan keturunan, maka hanya saja kebanggaan kami dengan ilmu dan akhlak. Tiada kebaikan pada seseorang merdeka, bila tanpa akhlak mulia. Sama sekali tidak, sekalipun dia dibangsakan kepada Arab Quraisy.

Inskripsi Kaligrafi sebuah makam dari abad X Masehi di Lamno, Aceh

X

Aceh, awal 1874

Entah berapa lama aku tertidur. Tidurku nyenyak dan panjang, menjadi tidur yang menyembuhkan. Saat bangun, aku tidak kesulitan lagi membuka mata dan tubuhku tidak selemah sebelumnya. Lidahku bisa digerakkan sedikit. Aku juga bisa memasukkan jariku ke dalam mulut untuk membersihkannya dari sedikit darah beku dan nanah.

Aku terkejut mendapati diriku berada di sebuah ruangan segi empat dari kayu. Kamar ini mendapatkan penerangan dari ambang pintu yang tidak berdaun pintu, hanya tirai. Aku mengingat-ingat dalam tidur aku menjumpai sesosok tubuh mirip diriku, berbaju sorban putih dan bertanya kepadaku, “untuk apa kau berperang durjana?” Sepanjang tidurku, ia terus bertanya-tanya, sedang aku tak mampu menjawabnya sama sekali.

Aku tidak tahu dimana aku berada, tapi aku lebih tidak tahu jawaban pertanyaan tersebut. Aku mencari-cari dalam batinku, apakah aku berperang untuk kejayaan, kekayaaan, dendam, cinta atau apapun itu. Dalam perenunganku, aku belum menemukan jawaban penuh keyakinan atas pergulatan batin yang aku alami.

Kemudian dari pojok pintu masuklah dua orang perempuan menuju kearahku, rupanya merekalah yang selama ini merawat aku. Yang pertama perempuan tua dengan penuh keriput yang aku duga merupakan tabib kampong dan yang kedua adalah perempuan yang sangat cantik, seumpama dia berjalan di pasar maka akan menarik perhatian di kedai manapun. Dia mengenakan gaun panjang seperti gamis, tidak mengenakan perhiasan apapun hanya rambut bersanggul yang ditusuk konde. Bentuk wajahnya serupa dengan Panglima Tuanku Nanta Setia, perempuan ini pun memiliki bola mata hitam lembut yang sama, tulang pipi yang tidak menonjol seperti orang Aceh lain. Pipinya yang lembut dan berwarna segar seperti menyatu dengan dagunya.

Dia berbicara dengan suara pelan kepada perempuan yang tua agar aku tak terjaga. Saat dia membuka mulutnya yang berbentuk indah untuk tersenyum, giginya berkilat seperti tulang gading paling murni di antara bibirnya yang merah. Kulitnya berwarna coklat tembaga yang agak keperakan, aku menebak usia perempuan ini menjelang tiga puluhan. Aku menebak dia adalah Cut Nyak Dhien, putri Tuanku Nanta Setia. Aku bersyukur tidak jatuh ke tangan musuh.

Kedua perempuan itu sibuk merajang daun untuk pengobatan. Aku duduk. Ya, duduk.

“Kau bangun,” katanya, membuatku terkejut. “Kau perlu sesuatu?”

Aku membuka mulutku untuk menjawab, tetapi kututup lagi. Mendadak ku kira aku tidak bisa berbicara. Namun, aku sudah bisa duduk, mungkin aku bisa berbicara juga. Jadi, aku mencobanya, “ya, beta perlu segelas air.”

Senang sekali mendengar suaraku sendiri. Suaraku memang terdengar aneh di telingaku. Kata-kataku terucap dengan terjepit dan berdegih dan membuat bagian belakang mulutku sakit.

“Berbicara perlahan saja, atau dengan isyarat,” katanya seraya menyerahkan segelas air yang langsung aku minum. “Aku, Cut Nyak Dhien mendengar kau merasa sakit kalau berbicara.”

“Mengapa aku berada disini? Kalau tidak salah ini di Lampisang, sangat jauh dari ingatanku terakhir di Lhambhuek.”

“Awalnya aku dan adikku Tuanku Raja Nanta mencari ayah dan suamiku selepas pertempuran, Alhamdulillah suamiku Ibrahim selamat.” Ia tersenyum.

Sebuah keajaiban, aku mengingat Teuku Ibrahim Lam Nga menantu Tuanku Nanta Setia diberondong senapan Belanda di Kuala Gigieng, ternyata Panglima tak salah pilih menantu.

“Tapi ayah telah gugur.” Suasana hening.

“Dimana Teuku Ibrahim sekarang?” Tanyaku.

“Suamiku sedang menyusun pertahanan di Lampadang, ia menitipkan salam padamu. Ia pula yang menemukan kau sedang merangkak tersengal-sengal di dekat benteng Lhambhuek. Suamiku berkata, kau adalah letnan kesayangan ayah dan almarhum pernah berpesan untuk menjagamu.”

Luar biasa Tuanku Nanta Setia, dalam keadaan perang pun ia menitipkan menjaga diriku kepada keluarganya, dia adalah bangsawan terbaik yang pernah dilahirkan. Aku menangis pilu untuk sang komandan, terisak-isak.

“Tuan Durjana, setiap manusia punya luka. Hadapilah hidup dan jangan cengeng seperti perempuan.” Setelah menghiburku dengan pengetahuan itu, Cut Nyak Dhien mengundurkan diri. Aku ditinggalkan untuk membayangkan betapa sengsara perang yang sudah dan akan menjelang. Pada saat itu aku tidak memikirkan kematianku saja, namun kematian para sahabat dan kerabat yang bisa kapan saja menjelang.

Aku tertidur dengan sebuah pertanyaan yang belum terjawab, “untuk apa beta berperang?”

X

Pesisir Barat Aceh, circa akhir abad XIX

Dusun Jeuram yang terletak dipinggir sungai Krueng Seunagan, di daerah Meulaboh telah sunyi keadaannya. Matahari telah tenggelam di lautan Hindia yang lebar itu, cahaya yang silau, menyilaukan mata berpendar di muka air biru yang maha luas itu.

Aku sedang menatap kosong aliran sungai ketika tiba-tiba orang dibelakang menegur riang. “Ambo melihat tuan sedang bersedih, apakah gerangan?”

Aku melihat kebelakang. Anak muda itu begitu percaya diri, kurang ajar. “Darimana kau menilai?”

Ia tertawa, “sedari tadi kau bercakap-cakap dengan mata kosong. Itu bukan kau?”

Aku menarik nafas, aku tahu pasti dia memiliki kemampuan menelisik ke dalam otak hampir setiap orang, menembus sisi terdalam otak manusia. Aku merasakan setiap bercakap dengan siapapun dia selalu menggunakan bahasa yang sama, namun ia mampu berada dalam satu aliran dengan lawan bicara, orang yang berbahaya.

Tiba-tiba emosiku memuncak, mengetahui bahwa benteng pikiranku tertembus, olah orang yang lebih muda dariku. “Kau bangsawan, tak tahu perasaan beta?”

“Apa salah ambo?”

“Nasib baik terlahir sebagai bangsawan, kau tidak merasakan anggota keluargamu tersandera oleh orang lain, kau punya segala kekuatan yang tak mesti kau cari?”

“Siapa pula keluargamu yang tersandera?”

“Istriku! Ia terkurung di Kutaradja, dikelilingi benteng Belanda, dan kacaunya dijaga ketat oleh para bangsawan yang disana.”

Ia tersenyum. “Setiap orang memiliki masalah masing-masing. Ambo bangsawan, kakek ambo raja Meulaboh. Tapi ambo tak mengenal ayah, ia pergi meninggalkan kami pulang ke Minangkabau, tak pernah kembali sampai ambo dewasa. Ketika melihatnya kembali, ambo bahkan tak punya kenangan apa-apa padanya.”

Aku bersimpati pada nasib anak bangsawan ini, dia memiliki nasib tragis khas anak manusia, ditinggalkan oleh orang yang seharusnya menyayanginya.

“Jadi menurut ambo, dunia ini adalah kesedihan.” Tambahnya.

Hmm. Itu benar juga.”

Ditengah percakapan Dokarim keluar dari semak-semak, rupanya dia sedari tadi mencuri dengar. Teuku Umar meloncat dan mengunuskan rencong ke leher sang Penyair.

“Apa maksudmu Dokarim?”

“Hamba mendengar percakapan menarik, mungkin hamba bisa menambahkan dalam Hikayat Prang Kumpeni yang sedang hamba karang.” Dokarim gugup ketakutan.

Teuku Umar menampar keras Dokarim, “jangan berani-berani menambahkan yang tidak ambo perintahkan. Pergi!”

Dokarim pergi seraya menggerutu.

“Eh, mengapa kau tampar dia Umar?” Tanyaku marah seraya mencabut kelewang.

Ia menahan tanganku seraya tersenyum manis. “Kau yang terlalu perasa seperti perempuan, lelaki itu harus bertindak keras terhadap bawahan.” Teuku Umar menjelaskan kepadaku.

Teuku Umar adalah sosok yang sukar diterka jalan pikirannya, baik oleh kawan atau lawan, itulah yang membuat dia menawan, bahkan ketika ia mengatakan aku mirip perempuan, malah amarahku mereda. Akan tetapi, “bukan begitu memperlakukan manusia Umar?”

Ia tersenyum, “ambo pikir telah jelas kelemahan kau Durjana. Kau tak punya seni memimpin, seni merangkul orang, masing-masing orang perlu diperlakukan berbeda menurut pola pikirnya.”

“Apa hubungannya dengan menampar dia?” Tanyaku.

“Kamu adalah kamu, mempersamakan logika semua orang dengan dirimu. Sedang orang tak begitu, kitalah yang menyesuaikan diri dengan lawan bicara. Dokarim memang harus ditampar, agar dia mengerti siapa Panglima. Hal yang sama tak bisa aku lakukan padamu.”

“Beta pikir kau licik Umar?

“Kau yang terlalu berprinsip Ahmad, sadarilah kau tak hidup sendiri. Menyesuaikan dirilah terhadap dunia.”

Aku menggeleng.

Ambo yakin, kau memang petarung hebat, tapi memimpin pasukan kau pasti tak akan bisa. Buktinya dalam setiap pertempuran dengan Belanda kau selalu kalah, teman-teman kau mana? Hampir semua tewas telah bukan?”

Kata-kata bangsawan ini terlalu menusuk hati, para sahabatku gugur semua. Mataku berkaca-kaca. Mungkin benar kata Umar, mungkin aku terlalu bersifat keperempuanan, dan kehilangan keuntungan taktis dalam berperang.

Ia tersenyum penuh empati, dengan kesiagaan penuh aku menatap orang ini, jika ada hal yang aku syukuri saat ini adalah dia bukan musuhku. Jika ia musuhku maka sedari tadi aku sudah tak bernyawa. Tapi benarkah dia temanku?

“Kawan, nikmatilah hidup. Pesisir Barat merdeka dari Belanda. Sembuhkan lukamu, kelak kau akan mengangkat senjata kembali melawan belanda, cepat atau lambat.” Senyum tak pernah hilang dari bibirnya, “ingatlah selalu Durjana, ambo adalah sahabatmu selalu.”

Aku terdiam dan merenung. Pesisir Barat Aceh masih merdeka dari cengkraman Belanda, tapi sampai kapan?

XX

Kampung Pelanggahan, Koetaradja. 30 September 1893

Teuku Umar bersama 15 orang pengikutnya datang ke hadapan Tuan Kadi, Jenderal Deijkerhoff tersenyum senang. Mereka datang seperti yang telah dijanjikan, awalnya ia sempat cemas jagoan Meulaboh ini ingkar janji. Hari ini di makam Teungku Di Anjong. Teuku Umar mengucapkan sumpah setia, sengaja dipilih oleh Belanda dengan harapan Teuku Umar tidak akan mengingkari janji yang diucapkan di depan makam keramat tersebut.

Pada bulan-bulan akhir tahun 1893, Teuku Umar memiliki tentara dua ribu orang bersenjata, senjata Belanda. Pada tanggal 30 Oktober bahkan dia menaklukkan Aneuk Galong, pangkalan militer terpenting Panglima Polem di lembah Seulawah, akhirnya Jenderal Deijkerhoff dapat memerintahkan dapat bendera Belanda dikibarkan dalam radius 16 Kilometer dari Koetaradja setelah 20 tahun berperang. Belanda pun akhirnya menguasai jalur laut dari Ulee Lheu ke Krueng Raba di pantai Barat.

Pada bulan April selesailah operasi pembersihan besar-besaran, dengan kondisi lembah Seulawah telah dikuasai Belanda sepenuhnya. Kaum ulama kebingungan, bolehkah pertempuran melawan pasukan Teuku Umar, yang terdiri dari orang-orang muslim seperti mereka, juga disebut prang sabil, perang suci? Sebagian orang berpendapat tidak. Hal ini juga segera banyak mengurangi hasrat bertempur, bila orang yang gugur tidak memperoleh jaminan syahid memasuki surga.

Belanda kini diatas angin. Siapakah yang masih meragukan bahwa peperangan telah hampir berakhir?

XXX

Lembah Seulawah, circa 1894

Akibat hawa dingin yang menganggu, Jenderal Deijkerhoff sudah terjaga dan siaga sebelum fajar. Pasukan Marsose belum terbiasa membaca jejak, mereka sudah berdiri tegak meski sudah sama-sama kedinginan bersama legion Teuku Umar. Mereka bergerak karena itu membuat hangat. Padang prairi masih terbentang, sekarang perbukitan.

“Kalau sesuai dengan dugaanku, semua usaha kita telah berbuah hasil.” Bintang keberuntungan seperti tersenyum manis pada Jenderal Deijkerhoff ketika ia melirik Teuku Umar.

“Belum Meneer, perang masih akan panjang.” Jawab Teuku Umar.

“Mengapa? Jagoan Sultan yaitu Panglima Polem sudah terdesak. Teungku Tiro sudah mati, pasukan mereka cerai berai. Tak lama lagi Negeri Pidie yang keras kepala pasti akan jatuh.”

“Ada satu orang berbahaya yang belum mati, yang menjadi sandungan. Dialah sang Durjana.” Teuku Umar menjawab mantap.

“Siapa sang Durjana? Tidak ada laporan tentang manusia itu dari mata-mata kita.” Jenderal Deijkerhoff menarik alis.

“Dia adalah orang cerdik nan licik. Kelihatannya dia tidak berbahaya, dugaan ambo dialah yang harus kita lenyapkan dari muka bumi sebelum kita menyerang kenegerian Pidie.” Jawab Teuku Umar.

Jenderal Deijkerhoff sebegitu terpesona oleh Teuku Umar, akan kegemilangan Panglima kesayangannya tersebut. Ia mengagumi orang ini, menurut Jenderal Deijkerhoff, Teuku Umar telah berada dalam satu gelombang pikir dengan Belanda, tanpa perlu mendengar alasan yang terlalu jauh. Ia memerintahkan pasukan berhenti. “Dimana keparat Durjana itu berada?” Tanyanya

“Dia sekarang di Barat, dan sekarang adalah saat yang tepat meremukkannya.” Teuku Umar menerawang menatap langit Barat.

“Baik, kita tunda ekspedisi ke Pidie. Kita cari dan bunuh si Durjana.”

“Siap!” Adalah jawaban yang serentak diucapkan oleh pasukan Belanda, Marsose dan legion Teuku Umar.

XXXX

Krueng Sabee, Pesisir Barat Aceh 1894

Kegelapan, dan dalam kegelapan itu, keheningan.

Ahmad merasa dirinya meluncur sampai berhenti, kemudian tidak ada apa-apa. Ia bisa bernafas, tapi udara terasa apak dan pengap, dan ketika ia berusaha bergerak, tekanan pada jantungnya semakin meningkat.

Melalui udara yang penuh asap, udara berbau dan terasa seperti besi. Dinding-dinding ruangan retak, dan semua pilar, pahatan dan lentera telah hancur. Ahmad menyumpah, jauh dari lorong pasar ratusan orang pribumi dan Belanda menghambur dari ambang-ambang jalan masuk yang menganga. Ahmad menoleh sebelum melihat pasar dilalap api.

Umar! Teriak Ahmad dalam pikirannya, ia bertanya-tanya mengapa kawannya membawa marsose kemari. Ia menyaksikan dalam beberapa detik, kemudian dadanya dipenuhi emosi. Ia menguatkan diri berlari diantara desingan pelor, jelas dia menjadi target utama penyergapan ini.

“Sejak kapan aku menjadi target utama Belanda?” Ia tak habis pikir Belanda telah masuk ke pedalaman Barat Aceh yang selama ini belum tersentuh. Ke pegunungan, ia harus berlari segera. Tak peduli betapapun berat ia harus lolos.

Ahmad menghembuskan nafas, kerongkongannya kering, jantung berdebar sebegitu kencang, sampai sakit rasanya. “Aku harus terus berlari.” Pikirnya, rasa takutnya menyerang kembali. Ia mulai menjauh dari area penyergapan.

Lumpur menempel pada sepatu Ahmad setiap kali ia mengangkat kaki, memperlambat langkahnya yang sudah letih dan pegal. Kakinya tergelincir di saat yang tidak menguntungkan. Ia tak lagi ingin menghindari lumpur. Ia tak peduli lagi pakaiannya kotor. Lagi pula, ia begitu letih, lebih mudah melangkah kearah yang sama daripada harus berpindah-pindah dari satu pulau rumput ke pulau rumput yang lain.

Dalam keadaan getir amat sangat. Lehernya yang tercekat dan membuat sulit bernafas, ia digoda oleh keinginan menyerah. Kemudian ia mengeram, marah dan jijik kepada diri sendiri.

“Pertempuran ini harus berakhir. Aku tak bisa terus menerus seperti ini. Aku tak bisa, aku tak sanggup.” Ia menegadah dan dengan ngeri, rasa takut dan bersemangat membuat gerakan Ahmad semakin cepat.

Gunong Ujeun, Gunung Hujan. Kegirangan, Ahmad meloncat. “Aku masih hidup.” Ia melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada pasukan musuh yang berada di dekatnya, kemudian tersenyum menunjukkan taringnya, ia memperpanjang hidupnya sehari lagi.

XXXXX

Gunong Ujeun, 1894

Sudah dua puluh tahun perang Aceh bergejolak. Aku masih mengingat malam dimana aku diselamatkan oleh keluarga Tuanku Nanta Setia, malamnya aku tertidur dengan kegelisahan akan pertanyaan untuk apa berperang? Disaat aku merasa patah arang dan putus asa seperti hari ini baiknya aku mengenang kembali malam itu.

Lelaki bersorban putih yang menyerupai aku itu kembali datang dalam mimpiku, aku sadar ini hanyalah sebuah mimpi belaka, namun bukankah sebenarnya mimpi itu terkadang adalah refleksi dari kegelisahan hidup. “Apa tujuanmu berperang Ahmad?”

Aku terdiam, tapi kali ini aku membayangkan Sultan Mahmud Syah, Tuanku Nanta Setia dan para sahabat yang telah gugur sebelum malam itu, aku mengingat bahwa sebelum Belanda datang hidup kami penuh canda tawa. Aku tidak mengatakan kondisi negeri Aceh sepenuhnya baik, namun kami hidup dalam keadaan damai.

“Aku tak pernah ingin berperang, aku tidak ingin berjuang. Aku memimpikan darah dan perkelahian brutal saat masih kecil, seperti semua anak. Sewaktu ayah hidup, tanah pertanian kitalah yang aku anggap penting. Itu dan keluarga. Dan sekarang aku membunuh. Aku telah berkali-kali membunuh.” Aku menjawab sosok bersorban itu seolah-olah dia adalah aku.

Ia tersenyum kepadaku. “Pejuang sejati tidak bertempur karena ingin, tapi karena harus bertempur. Seseorang yang bertempur demi sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri mampu membunuh seratus orang dengan mudah.”

“Hati nuraniku berkata, aku tidak bisa melihat ada orang lain kemari dengan alasan peradaban atau apapun membakar, menjarah dan memisahkan anak dari orang tua. Dan menghancurkan ini semua hanya untuk sebuah keserakahan yang membabi buta.”

“Lelaki dengan hati nurani adalah orang paling berbahaya di dunia.” Ia tersenyum lagi, sekejap kemudian aku melihat wajah almarhum Sultan Mahmudsyah dan Tuanku Nanta Setia muncul di belakang laki-laki bersorban putih, mereka tersenyum padaku.

Sultan yang wafat pada usia belasan akibat kolera yang di bawa Belanda pada ekspedisi kedua itu hanya mengangguk, sedang Tuanku Nanta Setia panglima yang dengan gagah berani pernah memimpin pasukan Aceh pada pertempuran di Kuala gigieng berkata, “restu kami padamu, dalam kalah maupun menang. Karena dengan nurani akan menjaga dirimu dari sikap kecewa bilamana nanti pengganti kami tidak sebaik yang kau bayangkan.”

Cahaya putih perak menjelang, dan aku merasa damai.

XXXXXX

Ketika linangan rindu mengalir dari nafas yang retak rekah, apa dayaku zaman telah berpaling muka

XXXXXXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 30 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN ENAM BELAS

Suatu hakikat sejarah pengkhianatan yang hampir selalu menghancurkan kebesaran suatu bangsa.

Suatu hakikat sejarah pengkhianatan yang hampir selalu menghancurkan kebesaran suatu bangsa.

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN ENAM BELAS

Ini adalah kisah para pengkhianat yang telah dimaafkan oleh sejarah, turun-temurun mengalirkan darah mereka, zaman ini mereka berkuasa dan menunjuk orang lain pengkhianat. Tapi mereka lupa, sejarah mencatat darah kotor mereka, garis keturunan yang dimegah-megahkan itu hanyalah noda hitam sejarah.

X

Benteng Lhambhuek, Aceh Darussalam pada hari 1 Januari 1874

Asap yang perlahan-lahan naik menerawang sawang, akan berpadu dengan tedza-tedza yang berarak-arak seluruh cakrawala, kelak menceritakan kepada sekalian anak manusia yang hidup di bawah kolong langit ini dari zaman ke zaman.

Ahmad terbaring di antara mayat-mayat itu. Jumlahnya ribuan.

“Dunia sudah gila,” pikirnya nanar. “Manusia seperti daun kering, yang hanyut ditiup angin.”

Ia sendiri seperti tubuh-tubuh tak bernyawa yang berserakan di sekitarnya. Ia mencoba mengangkat kepala, tapi hanya dapat beberapa senti dari tanah. Ia tak ingat, apakah pernah merasa lebih lemah. “Sudah berapa lama aku disini?” Ia bertanya-tanya.

Lalat-lalat mendengung di sekitar kepalanya. Ia ingin mengusirnya, tapi mengerahkan tenaga untuk mengangkat tangan pun tak sanggup. Tangan itu kaku, hampir-hampir rapuh, seperti halnya bagian tubuh yang lain. “Tentunya sudah beberapa lama aku pingsan,” pikirnya sambil mengerak-gerakkan jemarinya satu demi satu. Ia belum sadar bahwa sudah terluka. Dua peluru bersarang erat di dalam pahanya.

Awan gelap mengerikan berlayar rendah di langit. Malam sebelumnya kira-kira antara tengah malam dan fajar, hujan deras mengguyur daratan. Sesekali siraman hujan segar menimpa mayat-mayat itu, termasuk Ahmad tengadah. Tiap kali hujan menyiram, ia membuka dan menutup mulutnya seperti ikan, mencoba mereguk titik-titik air itu, “seperti air yang dipakai mengusap bibir orang sekarat,” kenangnya sambil melahap setiap titik air yang datang. Kepalanya sudah hilang rasa, sedang pikirannya seperti bayangan-bayangan igauan yang melintas.

Bunyi meriam masih bertaut dari kejauhan, entah dari Peunayong atau istana. Perang masih berlanjut, tapi pihaknya telah kalah. Ia tahu betul itu, Benteng Lhambhuek telah jatuh, oleh pengkhianatan Ali Bahanan, atau siapapun itu.

Hanya dalam setengah hari, seluruh harapan yang pernah ia miliki lebur.

XX

Kuala Gigieng, Pesisir Aceh Darussalam 9 Desember 1873

Belanda telah memperhitungkan bahwa setibanya di Gigieng mereka belum lagi mendapatkan perlawanan. Nyatanya tidak demikian. Begitu mereka tiba segeralah barisan pertahanan Aceh menembaki mereka dengan bedil dan lila, yang dikomandoi Tuanku Nanta Setia. Untuk mengadapi tembakan seru itu, Belanda dibawah pimpinan Jenderal Van Swieten menyerbu barisan sayap kanan dati batalyon-14, di samping mendobrak secara lempar jiwa dalam formasi 100 meter berlapis, dengan juga dilindungi tembakan meriam maju mundur tapak demi tapak dalam percobaan garis muka di seberang dan di hadapannya.

Panglima itu, Tuanku Nanta Setia. Ia memandang lurus kedepan, lalu memanggil ajudannya, “Ahmad, sepertinya mereka sudah mengetahui formasi kita, ada kebocoran.”

Ahmad terdiam.

Di depan mayat bergelimpangan, sang menantu Ibrahim telah berkalang tanah. Mayat-mayat tentara Aceh berjatuhan satu demi satu menghadapi artileri Belanda. Terlihat kepala mayat tergeletak dalam rumput tinggi. Ada yang menegadah ke sungai. Lainnya tersangkut satu sama lain. Aliran air mata membentuk jalur sutra putih menurumi wajah muram Tuanku Nanta Setia. Ia mendengarkan keluhan seseorang yang sakit parah.

“Hari ini kita banyak kehilangan generasi terbaik bangsa ini, aku takut ketika perang ini berakhir yang tersisa hanyalah pengkhianat culas.”

“Kita akan menang Tuan,” jawab Ahmad.

“Menantuku Ibrahim telah gugur,” ia mengusap airmatanya.

“Ahmad, kalau aku mati maukah kau mengurus Nyak Dien putri kesayanganku?”

“Apa yang Tuanku bicarakan?”

“Suaminya telah gugur, dan aku merasa seperti akan mati dalam pertempuran ini.”

Ahmad gusar, ia sendiri sebagai prajurit menyandarkan diri kepada Panglima. “Ayolah Tuanku jangan cengeng seperti ini.”

Suara bedil masih bersahut-sautan, diselingi dentuman meriam. Mereka maju lebih jauh sedikit, sampailah mereka kepada bertumpuk-tumpuk tubuh tanpa nyawa, hingga kelihatannya satu divisi telah di sapu habis. Waktu itu sudah hilang perasaan mereka melihat darah kental. Mata mereka berkaca-kaca menangkap pemandangan itu dengan sikap masa bodoh yang dingin.

XXX

Kubu pertahanan Aceh di pesisir Selat Malaka, Aceh Darussalam 13 Desember 1873.

Belanda telah mengetahui ada dua kubu pertahanan Aceh di dekat pantai sekitar Selat Malaka, yaitu Kota Musapi dan Kota Pohama (Kota Po Amat). Di sini Aceh mempunyai benteng tua yang telah diperbuat semenjak sebelum Iskandar Muda. Jika Belanda ingin mendapatkan jaminan yang lepas dari bahaya jepitan Aceh dari pantai apabila kelak menyerbu ibu kota, mereka harus menaklukkan keduanya.

“Aku mendapat kabar, sejumlah 1500 bantuan sukarela dari Pidie lengkap dengan senjata telah sengaja tiba di ibu kota, mereka dipimpin Teuku Pakeh Dalam untuk mempertahankan benteng Lhambhuek. Maka pergilah kesana Ahmad?”

“Mengapa mereka tidak menuju kemari Tuanku?”

“Kapal Hitam Belanda terlalu ganas di lautan, meriam mereka melindungi marinir mereka dengan sangat baik, mungkin peruntungan kita di darat lebih baik.”

“Beta tak mau pergi!”

“Jangan membantah Ahmad, kau lakukan tugasmu.”

“Tapi.”

“Aku dan pasukan yang tersisa disini akan berusahan mengurangi setiap Belanda yang akan tiba di sana, pergilah! Ingat pesan ku beberapa hari yang lalu!”

Untuk sesaat berkecamuk kesunyian yang menyesakkan. Keduanya menyadari semakin mendekatnya maut. Ahmad akhirnya pergi seraya berpikir, “lihatlah aku berlari seperti seorang pengecut.”

Pertempuran yang telah berkecamuk di sekitar Selat Malaka itu akhirnya memakan waktu 5 hari sampai akhirnya Belanda dapat melumpuhkan tentara Aceh di Musapi dan Pohama.

Panglima itu, Tuanku Nanta Setia gugur bersama seluruh pasukannya.

XXXX

Kemah Pasukan Belanda, Aceh Darussalam 20 Desember 1873

Letnan Jendral Spyck menatap wajah Teuku Ali dalam batinnya terlintas jikalau Kohler berhasil menawan Teuku Nek Meuraksa menjadi kaki tangannya, Spyck pun mempunyai mata-mata rahasia yang tidak harus dicari-cari melainkan datang dengan sendirinya. Teuku Ali datang ke markas besar Spyck untuk memberikan peta negeri, bangunan pertahanan tentara Aceh, nama-nama orang kuat dalam pemerintahan dan masyarakat.

Dengan senyum simpul sesembahan itu diterima oleh Panglima Belanda itu, hatinya bangga tiada terbada-bada, kegirangan. Sementara mereka mengadakan permusyawaratan, tentara Belanda terus menerus menggempur benteng Lhambhuek yang diibaratkan waja dari Kutaraja.

Asap cerutu suguhan Spyck, yang dihembuskan oleh Teuku Ali menerawang perlahan-lahan ke udara, diikuti oleh asap cerutu Spyck sendiri, akan menjadilah saksi seumur hidup bahwa sejak malam itu Teuku Ali menjadi pengkhianat besar bagi Negara Aceh.

Selagi mereka sedang tertawa besar, dewasa itulah Teuku Nek Meuraksa tiba diiringi oleh dua utusan yang mencarinya. T. Nek memberi hormat dengan takzimnya lalu Spyck menyilakan ia duduk. Baru ia tiba dipintu, hatinya terus bertanya-tanya, demi melihat perubahan wajah T. Nek. Teka-teki dalam kalbunya menjadi-jadi apakah teuku Ali juga menjadi pegawai ketentaraan Belanda seperti dia?

Tanda Tanya besar ini lenyap, setelah ia disuguhkan minuman dan cerutu, istimewa karena kesepian ruangan dipecahkan oleh suara Penglima Belanda itu, “kamukah bernama Teuku Nek Hulubalang Meuraksa?”

“Benar,” sahut T. Nek dengan merendah.

“Dahulu kalau saya tidak salah, kamu ada membuat perhubungan dengan Jenderal Kohler, bukan?” Tanya Spyck menyelidik.

Baru saja perkataan itu lepas dari mulut Spyck Teuku Ali ternganga, gelombang perasaan menggunung dan berjuang di pantai hatinya, di antara ombak perompakan itu lahirlah suara hatinya, “rupanya sejak dahulu T. Nek ini telah menjadi pegawai Belanda.”

Pertanyaan itu lama disambut T. Nek karena tanda Tanya besar yang timbul terhadap teuku Ali belum terjawab oleh hatinya. Spyck, rupanya lebih arif akan isi hati T. Nek dewasa itu lalu menegaskan perhubungan dengan Jenderal Kohler bukan?

Mau tak mau, meskipun diliputi oleh selajang perasaan segan, T. Nek terpaksa menjawab, “benar, saya ada membuat perhubungan dengan orang Belanda,” lalu ia pun memperlihatkan surat keterangannya kepada pembesar Belanda itu.

Jawaban itu disambut oleh Spyck dengan simpul dan menegaskan, “saya undang kamu kemari untuk mengadakan perembukan tentang pendaratan kami ke Aceh ini. Sebelum kami menduduki seluruh tanah Aceh, hendak kami ketahui lebih dahulu dari kedua kamu, bagaimana yang sebenarnya pikiran rakyat tentang hal ini?’

Dengan segan T. Nek menjawab, “rakyat Aceh sebahagian besar menyukainya tuan.”

“Oh, begitu?” Tanya Spyck.

“Iya tuan besar.” Jawab T.Nek takzim.

Spyck telah lama mengenal tentang watak rakyat Aceh dengan perantaraan tulisan-tulisan dari pelawat-pelawat kemari, tentunya ia tidak akan mentah-mentah mempercayai pengakuan T. Nek, malahan ia sempat menarik suatu kesimpulan bahwa jiwa T. Nek tidak dapat dipercaya sebagai seorang pegawai Belanda.

“Kalau begitu, atas pertolongan kami bersama Teuku Ali ini, saya pertanggungkan kewajiban untuk memudahkan tentara Belanda melakukan kewajibannya disini.”

“Kamu bersedia, tuan besar!” Serentak suara pengkhianat terhambur dari mulutnya, rupanya mereka telah sejiwa.

“Dalam pertempuran merebut benteng Lhambhuek, tentara kami mulai pecah, karena berbagai daya yang kami cobakan, belum memberi hasil yang baik.” Kata pembesar Belanda dengan suara kecewa. Setelah itu diucapkannya, kelihatannya ia termenung kemudian ditukasnya lagi. “Rancangan merebut kerajaan Aceh tentu akan lebih rusak lagi, manakala berlama-lama mengalahkan Lhambhuek ini.”

Sementara itu kedua pengkhianat tanah air itu memutar otaknya, memikirkan bagaimanakah sistem operasi yang akan diserahkan kepada tentara Belanda itu, untuk memudahkan pendudukan atas benteng Lhambhuek dan menduduki istana Aceh.

Serupa dengan pelajar-pelajar menghadapi pertanyaan-pertanyaan, yang berlomba-lomba untuk lomba berpikir untuk memberi jawaban yang benar, demikianlah layaknya dua pengkhianat ulung itu menghadapi soalan majikannya. Setelah sekian lama memutar otak, T. Nek berkata, “untuk menduduki benteng Lhambhuek, handaklah seluruh kampung di sekitarnya dibakar lebih dahulu. Kalau tidak, sekali-kali Lhambheuk tidak akan jatuh, karena bala bantuan dapat diantarkan dengan perantaraan desa-desa itu. Bilamana kampung-kampung itu tidak ada lagi, maka penjagaan perhubungan keluar benteng mesti dapat diamat-amati.”

Lama pembesar Belanda itu termenung berpikir, kemudian dengan tegas membenarkan pendapat T.Nek, entah beberapa kali bahu T.Nek ditepuk-tepuk oleh Letnan Jenderal itu, tiadalah dapat dihitung lagi, karena ia asyik dibuai gelombang kegirangan.

“Dalam soal pertama ini saya sangat setuju dan akan saya jalankan. Tetapi bagaimanakah soal merebut istana sultan?”

Teuku Ali yang ternyata murid yang tertinggal, dengan soal yang kedua ini ia mencoba mencapai ponten yang baik, sebab itu digunakan otaknya dengan agak terburu-buru lalu ditukasnya dengan gugup, “Tuan besar! Untuk meleburkan istana sultan tidak ada suatu jalan pun, selain menangkap komandan-komandan pengawalnya, diantaranya Tuanku Panglima Polim atau Tuanku Hasyim.” Setelah ia mengucapkan perkataan itu, iapun diamlah, menjadikan ruangan kemah markas hening sepi.

Letnan Jenderal Belanda itu belum dapat membenarkan anjuran Teuku Ali, agaknya ia sedang dihanyutkan oleh gelombang pikiran. Kebimbangan itu lenyap sebentar setelah Spyck menegaskan perkataannya, “ya, saya setuju. Tapi untuk menangkap kedua orang itu bukan perkara mudah.”

“Itulah yang semudah-mudahnya tuan besar, saya sanggup melakukannya.” Teuku Ali girang usulnya diterima.

“Bagaimana pikiran T. Nek?” Tanya Spyck.

Pengkhianat ini hanya mengangguk.

“Nah sekarang kalau begitu kami akan menjalankan pembakaran, kalian berdua sangat berjasa kepada Belanda.” Kemudian setelah ucapannya terhambur dari mulutnya, dua gulungan besar uang kertas telah masuk ke saku mereka masing-masing. Ya, mereka berpura-pura menolak akan pemberian Letnan Jenderal Spyck, tapi tokh masuk juga ke kantong mereka.

Suatu hakikat sejarah pengkhianatan yang hampir selalu menghancurkan kebesaran suatu bangsa.

XXXXX

Semarang, tercetak oleh G.C.T Van Dorp & Co. 1889

Perang di kampong lembu, pada hari 25 Desember 1873

Dari pada segala perbuatan pelawan di negeri Aceh, yang harus diceritakan, ialah seketika batalion tiga berperang di kampong lembu pada hari 25 bulan Desember, 1873.

Meskipun waktu itu beberapa serdadu meninggal dunia di medan perang akan tetapi keberanian itu memberikan kehormatan kepada bendera narandji, yang mengikut battalion tiga. Dari sebab itu dan akan lain perang, pada titah raja bendera itu beroleh bintang kerajaan, yang ternama Militaire Willemsorde.

Haruslah satu-satu serdadu yang mengikut batalion tiga itu, selamanya mengingati perbuatan pelawan temannya dahulu. Maka baiklah satu-satu serdadu tahu perbuatan batalion tiga, sedang berperang akan mengalahkan kampong lembu, yang teramat kuatnya.

Pada hari yang tersebut di atas ini, batalion tiga bersama dengan lain-lain batalion di suruh berangkat ke kampong Lembu, berbahaya betul batalion tiga itu, sedang menghadap benteng-benteng yang berkeliling pinggir kampong.

Dua kali benteng itu diserang sebaik-baiknya, maka dua kali juga batalion itu diundurkan oleh musuh.

Takkala itu menjanjikan kecil hati serdadu itu, maka ajudan onder-officier E.C.O. Von Bredow, yang memikul bendera narandji itu lalu berlari ke pinggir kampong, serta bendera itu ditanamkan di kaki tembok benteng. Barulah orang menengok berbahaya bendera itu, maka secepat-cepatnya officer dan serdadu berlari kehadapan, sedang bendera itu dikepungkan berkeliling

Seperti karang batu di tengah laut, yang sia-sia dipukul ombak, serta tidak bisa dirubuhkan, begitulah orang-orang pelawan itu tetap tinggal ditempatnya. Meskilah beribu pelor musuh berbahayakan officer dan serdadu itu, maka tidak ada satu yang mengingat akan mundur.

Bersama-sama, benteng Aceh itu dilanggar dengan sungguh-sungguh, meskipun kuat sangat perlawanan musuh itu. Seperti macan galak batalion tiga tampil menyerang benteng-benteng Aceh, serta merebahkan segala barang yang menahan jalannya, musuh yang berani melawan ditikam dengan bayonet. Tidak lama kemudian daripada itu, antero kampong dikalahkan.

Maka sebab kelakuan, yang amat beraninya, bintang tanjung, yaitu Militaire Willemsorde diberikan kepada Ajudan onder-officier Von Bredow, Sergeant Majoor J. Bach, dan Sergeant Ambon L. Latoemaina. Bintang tanjung itu yang sudah diberikan kepada bendera narandji batalion tiga menunjukkan keberanian dan setia orangnya.

Maka haruslah anak-anak serdadu yang mengikut batalion tiga itu, baik di medan perang baik di tempat perdamaian selamanya mengingat akan laku jalan temannya dahulu, dengan hati besar boleh tunjuk pada perbuatannya itu. Harus jaga satu-satu serdadu mengingat keharusannya, kalau diserahkan perlawanan benderanya.

Meski berbahaya batul, jangan sekali-kali orang mengingat akan tinggalkan benderanya, maka lebih baik tetap ditempatnya atau meninggal dunia di medan perang.

Terhikayat oleh W.J Philips, Kapitein Infaterie

XXXXXX

Setelah kejatuhan Benteng Lhambhuek (Lembu)

29 Desember 1873 – Belanda menguasai Peunayong

6 Januari 1874 – Masjid Raya Baiturrahman diduduki.

24 Januari 1874 – Istana Aceh Darussalam lebur untuk selamanya.

XXXXXXX

Kutaraja (Nama Bandar Aceh Darussalam setelah ibukota direbut Belanda), Aceh 31 Desember 1874.

Sesudah menduduki istana, Jenderal Van Swieten mengeluarkan maklumat yang disebutnya dengan nama Proklamasi. Isi maklumat tersebut, “Pemerintah Hindia Belanda telah menggantikan kedudukan sultan dan menempatkan daerah Aceh Besar menjadi milik pemerintah Hindia Belanda.”

Jenderal Van Swieten yang pada 16 April 1874 kembali ke Batavia dengan meninggalkan korban tewas sebanyak 28 orang perwira, 1024 bawahan, serta 52 orang perwira dan 1082 bawahan yang luka-luka dan sakit serta diungsikan ketempat lain.

Perang Aceh telah berakhir, bagi Jenderal Van Swieten ia meninggalkan Aceh dan tak pernah kembali.

XXXXXXXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 31 Comments

AKHLAK

Mengetahui kita bersama orang yang menyayangi kita, dan yang mengerti diri kita sampai ke tulang-tulang, dan tidak akan menelantarkan kita bahkan dalam situasi yang paling sulit, itulah hubungan paling berharga yang dimiliki seseorang.

Mengetahui kita bersama orang yang menyayangi kita, dan yang mengerti diri kita sampai ke tulang-tulang, dan tidak akan menelantarkan kita bahkan dalam situasi yang paling sulit, itulah hubungan paling berharga yang dimiliki seseorang.

AKHLAK

Nenek moyang kita mengenal alam dari lingkungan sekitarnya. Semua orang pada masa itu menjadi biolog, dan dunia menjadi ruang kelas. Dengan pengertian yang masih kabur, konon mereka tidak membedakan benda hidup dan mati. Selama belajar, nenek moyang kita tentu telah mengamati fakta yang muncul, beberapa benda cenderung membiakkan dirinya sendiri. Orang melakukannya, binantang melakukannya, dan dalam benak mereka yang primitive nampaknya batu dianggap dapat melahirkan banyak kerikil.

Beberapa filsuf Yunani berpikir lebih mendalam, merekalah yang pertama menyusun teori hereditas yang kukuh setelah berusaha menjawab pertanyaan. “Mengapa anak-anak menyerupai orang tuanya?”

Sebenarnya Socrates, filsuf, telah lama penasaran, mengapa kadangkala anak-anak justru tidak serupa orang tuanya. Ia sering berkata, putra pejabat Negara biasanya malas dan tak berguna. Kita harus selalu ingat, tidak semua kualitas diwariskan. Malangnya, dengan berkata jujur tanpa kenal gentar semacam itu, Socrates seperti memancing penduduk Athena untuk menghukumnya sampai mati.

Teori Hereditas Yunani yang paling koheren disusun oleh Hippocrates seorang dokter terkenal. Hippocrates menemukan, sumbangan laki-laki terhadap pewarisan anak terdapat pada cairan semen. Dia menganggap perempuan memiliki cairan serupa. Cairan tersebut, menurutnya dibuat di sekujur tubuh, dan dikumpulkan dalam organ reproduksi. Cairan semen dari jari jemari mengandung bahan-bahan banyak jari, cairan dari rambut untuk membuat rambut dan begitu juga seterusnya.

Pada saat pembuahan, terjadi semacam pertempuran antarcairan. Apakah tangan anak akan mirip dengan ibu atau bapak bergantung pada cairan semen jari siapa yang menang! Teori yang bagus hanya saja ia tidak memperhitungkan adanya anak yang berbeda dengan kedua orangtuanya. Pasangan bermata coklat sering memiliki anak bermata biru. Empedocles menganggap perbedaan ini sebagai hasil si ibu memandang patung-patung dengan penuh damba selama kehamilan.

Peradaban Yunani mungkin telah punah, tetapi Ilmu Pengetahuan terus bergerak maju!

X

Orang bilang kecerdasan seorang anak itu menurun dari ibunya, tapi ingatlah anakku! Segala kurang atas akhlakmu merupakan tanggungjawabku, ayahmu dalam mewariskan karakter. Itulah sebabnya pepatah melayu kuno berbunyi, bukan salah ibu mengandung.

XX

Sewaktu kecil, belum sekolah mungkin sekitar 4 tahun. Ketika aku tidur-tiduran di tikar, terpikir olehku tentang Allah. Bagaimana bentuknya? Dan dimana dia berada? Terbayang olehku seorang lelaki berjanggut yang berada di antara bintang-bintang. Tiba-tiba aku merasakan takut amat sangat, salahkah aku? Berdosakah aku? Rasa takut itu mendera sepanjang hari sehingga membuat aku tidak bersemangat untuk makan siang.

Dalam lelahnya ia setelah bekerja, setiap selepas Maghrib ia menjadi guru pertamaku mengaji dalam mengenal huruf-huruf hijaiyah. Alif, ba, ta, tsa. Setelah berpikir lama, aku mengutarakan pertanyaanku tadi siang, dan menceritakan apa yang aku bayangkan berserta perasaan yang telah aku alami sedari tadi.

Aku tidak ingat persis ekspresinya, aku masih sangat kecil saat itu. Aku rasa ayah terkejut, ia tidak siap mendapat pertanyaan tersebut saat itu. Ia menarik nafas panjang, mungkin keringat dingin juga. Kemudian ia menjawab setelah berpikir lama.

“Allah berada di arasy, singgasana-Nya. Mengenai bentuk, ketahuilah nak. Bahwa tiada dzat yang patut di sembah melainkan Allah. Allah SWT adalah pencipta segala di alam semesta ini. Allah Maha Sempurna, dan kita adalah ciptaan-Nya yang tidak sempurna. Maka dari itu kita memiliki otak yang tidak sempurna, jadi kita tidak mampu membayangkan kesempurnaan-Nya.”

Aku masih ketakutan. Takut kena marah, takut berdosa, perasaanku masih campur aduk. “Berdosakah aku membayangkan tadi siang?” Mataku berkaca-kaca.

Ia tertawa, perasaan tegang tadi yang dialami ayah mencair, “tentu tidak nak.”

Ia membelai kepalaku.

“Ayah baru ingat, pertanyaanmu tadi kurang lebih sama dengan pertanyaan Nabi Ibrahim. Fitrah manusia memang mencari tuhan, itulah yang dinamakan tauhid.

Aku belum mengerti istilah-istilah Arab itu, tapi dadaku terasa sejuk. Aku tersenyum lebar, setelah sepanjang hari penuh ketakutan.

Ia menambahkan, “jika satu hari nanti di masa depan, kamu merasa ragu, takut atau perasaan-perasaan tidak enak datang. Yakinlah kamu adalah makhluk-Nya, yang suatu hari akan kembali kepada-Nya. Berusahalah menjadi orang baik, meraih ridha-Nya. Mudah-mudahan kamu dapat bertemu dengan-Nya sesudah kematian. Karena ganjaran terbaik bagi kita bukanlah surga, aku ulangi bukan surga anakku. Melainkan melihat wajah sang Pencipta.”

Aku menatap ayahku dengan bangga, lelaki ini begitu istimewa. Ketika orang lain diajarkan untuk berusaha meraih surga, ia mengajarkan kepadaku untuk berusaha bertemu sang Pencipta. Mungkin, bagi orang lain dia hanyalah seseorang dengan vespa tua, tapi bagiku dia adalah ayah terbaik di dunia.

XXX

Aku sudah berkuliah dua semester di salah satu perguruan tinggi ternama di kotaku. Aku Secara iseng aku mengikuti sebuah tes, dan lulus. Tes tersebut meluluskan aku pada sebuah jurusan D1 di kota lain, namun dengan jaminan kerja. Setelah memutuskan matang-matang aku merasa akan mengambil pilihan ini.

Ketika aku bercerita kepada ayah, aku pikir dia sedikit kecewa. Dihidupkannya vespa lalu ayah pergi ke rumah sepupunya yang dianggap lebih bijak meminta pertimbangan. Belakangan hari aku mengetahui dari sepupu ayah tersebut, bahwa hari itu ia menyuruh agar menahan aku pergi. Dan ketika dalam meminta saran tersebut ayah malah mendukung keputusan aku, sepupu ayah itu malah marah. Sepupu ayah bercerita ulang padaku bahwa ia berkata, “Dia itu berprestasi, apa kamu tidak sanggup membiayai lagi sampai harus cepat bekerja!”

Aku hanya tahu hari itu, ayah kembali dan mengajak aku duduk di lantai kemudian berkata, “Sepanjang hidupku aku berharap  mempunyai anak-anak yang bisa membedakan mana yang benar dan salah. Anak-anak yang, pada saat harus membuat keputusan-keputusan besar akan melakukan hal yang benar. Aku percaya padamu, dan kamu melakukan hal yang benar. Mana mungkin bisa aku menahanmu sekarang?”

Selalu, ayahku adalah ayah terbaik di dunia. Ia mempercayaiku, di saat sebenarnya aku pun menyimpan keraguan di hatiku.

XXXX

Aku pikir, aku akan diberikan kesempatan untuk lebih membahagiakan ayahku. Aku sedang makan mie tiaw di kosan ketika mendapat telepon dari rumah bahwa ayah meninggal dunia. Aku terdiam, aku setengah tak percaya. Aku tahu ayah beberapa kali sakit parah, tapi ayah selalu sembuh. Ayah begitu tangguh sehingga aku pikir dia tak akan pernah terkalahkan. Aku salah, dan perlu delapan tahun kemudian untuk berani makan mie tiaw kembali.

Aku tiba di rumah sesaat sebelum ayah dimandikan, mungkin inilah yang dinamakan kiamat kecil dalam hidupku. Seperkasa apapun aku coba menahan diri, air mata tanpa henti menetes.

Aku lemah, sampai mama memelukku. Ia wanita perkasa, aku tahu. Ketika perempuan paling hebat penah aku kenal itu, memeluk tanpa daya sama sekali. Terpikir olehku, aku tak boleh lunglai, karena akulah yang harus menjadi paling kuat, menjadi paling perkasa.

Aku harus menjadi tiang pancang terkuat!

Sebelum beliau dimasukkan ke peti jenazah, aku memandang wajah ayah untuk terakhir kalinya. Aku melihat ayah tersenyum, damai. Aku menciumi wajah beliau, dan aku bisikkan di telinga ayah. “Ayah kembalilah kepada-Nya dalam damai, karena segala tanggungjawab ayah terhadap keluarga ini telah aku terima, ini janjiku!”

Tanah merah selesai ditimbun, satu persatu keluarga pulang. Aku berdoa, “Ya Allah sayangi ayah hamba milyaran kali lipat daripada ia menyayangi aku.” Dan aku selalu berdoa agar ayah menjadi orang yang kelak dijumpai Allah SWT di kehidupan kemudian.

XXXXX

Aku mungkin belum menjadi seorang ayah, tapi sedikit mulai memahami kenapa ridha Allah SWT bergantung pada ridha orang tua. Mereka membesarkan, mendidik, menjawab pertanyaan-pertanyaan kita dengan semampu mereka, kalau dipikir-pikir sebelum mendidik kita, mereka tidak pernah belajar mendidik orang lain.

Aku merasa belum menjadi insan kamil, banyak kesalahan kanak-kanak masih aku lakukan, tapi aku selalu berusaha tidak melakukan tindakan tercela, karena aku meyakini di sana, ayah akan bersedih.

Memiliki orang tua adalah kebahagiaan. Mengetahui kita bersama orang yang menyayangi kita, dan yang mengerti diri kita sampai ke tulang-tulang, dan tidak akan menelantarkan kita bahkan dalam situasi yang paling sulit, itulah hubungan paling berharga yang dimiliki seseorang.

XXXXXX

Katalog Oase:

  1. Taman Kanak-Kanak; 24 Februari 2014;
  2. Lelaki Tua Yang Miskin; 1 Maret 2014;
  3. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  4. Nostagia; 19 April 2014;
  5. Cinta Sebesar Cinta; 10 Mei 2014;
  6. Anak-Anak; 6 Juli 2014;
  7. Lalai; 6 Agustus 2014;
  8. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  9. Pengembaraan; 11 Januari 2015;
  10. Setitik Noktah Di Dalam Noktah; 25 Februari 2015;
  11. Pesan Dalam Cermin; 18 April 2015;
  12. Robotik; 29 April 2015;
  13. Momentum; 18 Mei 2015;
  14. Gaya Abadi; 23 Mei 2015;
  15. Zarah; 11 Agustus 2015;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 7 Comments

ZARAH

Hari ini masa mudaku, kuhisap tembakau karena ia pelipurku; Jangan salahkan aku, meski pahit tembakau itu sedap, ia pahit karena ia hidupku.

ZARAH

Di akhir penderitaan dalam sejarah panjang manusia, angka yang di dapat hanya satu.

X

Kepada kamu yang pernah menjadi orang yang paling aku sayangi. Ketahuilah, setiap orang pernah terluka. Tidak mungkin kita, dia atau siapapun menjalani hidup tanpa terluka.

Aku selalu membayangkan hal ini, tirai putih yang tertiup angin memandang pucuk daun di luar jendela. Aku terbaring di rumah sakit dalam kondisi tidak bergerak dan hanya merasakan energi dedaunan itu dengan susah payah. Seluruh tubuhku sakit, tapi sebentar lagi operasi yang akan mengakhiri penderitaan akan dimulai.

Waktu operasi akhirnya tiba. Dokter yang akan mengoperasiku pun muncul. Dokter tersebut adalah aku. Tidak usah cemas! Kau adalah aku. Akulah orang yang melakukan operasi itu.

Seperti dokter yang menyebalkan, aku tidak bisa protes karena dia adalah diriku sendiri.

Kau bilang manusia tergoda berbuat jahat akibat pengaruh masyarakat. Kalau terus berpikir seperti itu, kelak akan muncul dokter yang berpikir ini semua gara-gara masyakakat. Kegelapan akan tetap ada.

Menghasilkan uang itu yang paling penting atau bekerja demi hidup atau walau bodoh, asal sepenuh hati tidak masalah. Bayangkan bahwa ditengah masyarakat yang menganut nilai-nilai seperti itu muncul dokter dengan prinsip yang sama.

Tapi alangkah baiknya kalau kau bisa bertahan supaya tidak terseret kedalamnya.

Mengapa? Kita adalah dokter. Ilmuwan yang paling dipercaya tuhan adalah ahli matematikawan, sedang dokter tidak. Aku bukan orang romantis seperti mereka. Melainkan orang yang memegang prinsip realitas. Kau mengerti perbedaannya?

Katanya matematikawan adalah orang yang romantis. Membuat aksioma pembuktian yang tidak memerlukan penjelasan. Matematika eksis karena berdiri di atas setumpuk aksioma.

Ahli matematika selalu memulai dari pembuktian aksioma, setelah itu mereka menciptakan dalil yang akan membuktikan kebenaran pembuktian tersebut. Aksioma para ahli matematika zaman sekarang adalah teori kolektif. Kau tahu apa syaratnya?

Himpunan kosong phi atau nol

Benar, bilangan nol tidak memerlukan pembuktian ataupun paradoks. Seorang dokter sebaiknya mengetahui teori bilangan nol itu, yang juga akhir, kematian. Manusia akan mati itu adalah suatu kenyataan.

Dalam kenyataan ada yang disebut kematian. Kematian adalah sesuatu yang tidak memerlukan penjelasan dan tidak memerlukan paradoks apapun. Orang yang memikirkan hal-hal tak terhingga seperti itu. Adalah orang yang romantis.

Aku bukan orang yang romantis, aku bukan mereka. Padahal hari terang seperti ini. Tapi kata mereka bulan masih terlihat. Kau hanya melihat apa yang ada dalam pikiranmu. Maaf, tapi pemandangan yang kau lihat sama sekali tak terlihat dimataku.

Akan lebih baik bila orang seperti aku yang bercita-cita menjadi dokter mengerti keberadaan bilangan phi itu. Dan sebaiknya manusia mengetahui akan kenyataan keberadaan bilangan kematian (nol)

Tapi coba lihat! Cara pandang manusia dipengaruhi oleh subjektivitas manusia itu sendiri. Biar aku beri satu nasehat. Aku menyampaikan sesuatu yang sepatutnya aku sampaikan. Kelak, pasti kau akan menemui kenyataan.

Rembulan! Kelak kau akan menemukan rembulan. Lebih indah daripada yang pernah kau lihat! Lihatlah! Aku bisa pun akan menggapainya. Meski kita harus patah, harus berpisah, meski kita kembali ke bilangan nol dihidup kita masing-masing.

Saat ini, aku hanya ingin sekali lagi melihat kamu, kenanganku di masa lalu.

XX

Percayalah pada usia tertentu, pada tahap tertentu, seorang pria yang belum menikah bisa menjadi buruk.

XXX

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

KHUSYUK

Dunia ini, waktu, seperti aliran air, kadang-kadang terbelokkan oleh secuil puing, oleh tiupan angin sepoi-sepoi.

KHUSYUK

Andaikan waktu adalah sebuah lingkaran, yang mengitari dirinya sendiri. Demikianlah, dunia mengulang dirinya sendiri, setepat-tepatnya, selama-lamanya.

Biasanya, orang tidak tahu bahwa mereka akan menjalani kehidupan mereka kembali. Pedagang tidak tahu bahwa mereka akan menawar dan menawar lagi. Politikus tidak akan tahu bahwa mereka akan berseru dari mimbar ke mimbar berulang-ulang dalam putaran waktu. Orang tua menikmati sepuas-puasnya tawa pertama anak-anak mereka seolah-olah tak akan mendengar kembali. Sepasang pengantin baru yang pertama kali bercinta malu-malu melepas busana, terkesima oleh paha yang gemulai, puting yang lembut.

Bagaimanakah gerangan mereka tahu bahwa tiap kerlingan rahasia, tiap sentuhan akan berulang tanpa henti, persis seperti sebelumnya?

Sebuah kota, sebuah semesta, demikian juga yang terjadi. Bagaimana gerangan para pekerja tahu bahwa tiap lembar uang, tiap ikat uang, tiap materai, tiap kerusakan yang terjadi dalam perjalanan kembali ke kantong mereka.

Pada malam hari, para pekerja pulang ke rumah atau mampir di kedai kopi, berteriak gembira bersama dengan teman-teman, membelai tiap kesempatan berharga itu bagai membelai zamrud yang dititipkan untuk sementara.

Bagaimana gerangan mereka tahu bahwa tak ada yang sementara, bahwa semuanya bisa kembali? Persis seekor semut yang memutari ulir lampu Kristal, tahu bahwa ia akan kembali kepada semula.

Dalam dunia di mana waktu adalah lingkaran, setiap jabat tangan, setiap ciuman, setiap kelahiran, setiap kata akan berulang persis. Begitu juga dengan peristiwa ketika dua orang sahabat berhenti berteman, ketika keluarga menjadi berantakan, ketika kata-kata busuk keluar dari mulut suami istri yang sedang bertengkar, ketika kesempatan rujuk menjadi sirna karena dibakar api cemburu, atau dosa yang terungkap, ketika janji tak tertepati.

Dan karena segala sesuatu akan berulang kembali di masa depan, maka yang terjadi saat ini telah terjadi pula jutaan kali sebelumnya. Beberapa orang di setiap kota, dalam mimpi mereka, secara samar-samar menyadari bahwa segala sesuatu yang mereka impikan telah terjadi di masa silam. Merekalah orang-orang yang hidupnya tak bahagia. Mereka merasa bahwa penilaian yang keliru, perbuatan yang salah serta ketidakberuntungan mereka telah mengambil tempat dalam putaran waktu sebelumnya.

Di malam yang sunyi senyap, ia bergumul dengan selimut, tak bisa tidur, dibenturkan pada pengetahuan bahwa mereka tak mampu mengubah satu tindakan pun, bahkan satu gerak tubuh. Kesalahan yang telah mereka lakukan akan berulang secara persis dalam kehidupan ini, sebagaimana kehidupan sebelumnya.

Padahal, jika ia berpikir. Manusia adalah ciptaan-Nya, bagian dari semesta. Semesta yang tercipta dengan energi yang sama ketika ia dihancurkan, maka berbahagialah mereka yang khusyuk. “Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya hal itu memang amat berat. Kecuali, atas orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang sungguh percaya, bahwasanya mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka, dan bahwasanya mereka akan kembali kepada-Nya” (Q.S Al-Baqarah ayat 45-46).

Dunia ini, waktu, seperti aliran air, kadang-kadang terbelokkan oleh secuil puing, oleh tiupan angin sepoi-sepoi. Entah kini atau nanti, gerakan kosmis akan menyebabkan anak sungai berbelok dari aliran utama menuju aliran sebelumnya, namun akhirnya ke hulu jua ia akan bermuara.

Posted in Cerita, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 13 Comments

RAMADHAN DAN RELATIVITAS

Ramadhan dan Relativitas

Apa yang membedakan Ramadhan dengan bulan lain? Pengalaman akan pengorbanan. Sesungguhnya kebijaksanaan manusia itu teruji oleh berbagai hal. Lapar, lemas, marah. Tidak ada yang mampu menandingi nilai pengorbanan, tidak pengetahuan dan tidak pula pengalaman.

RAMADHAN DAN RELATIVITAS

Orang bijak berkata, “Tuhan memberikan semua masalah yang mudah kepada fisikawan”,menjelaskan secara tidak langsung bahwa ilmu di luar fisika tepatnya yang mempelajari manusia itu sangat rumit.

Rasanya konyol mempertanyakan hal yang bekerja sangat baik. Seperti Elektromagnetis misalnya. Elektromagnetis membingungkan, setidaknya membingungkan Albert Einstein. Ia membayangkan dua orang (Misalnya Penyair dan Barbarossa) membawa kompas magnetik, muatan listrik lewat. Penyair berdiri diam, sementara Barbarossa terbang bersama muatan-muatan itu dengan kecepatan yang sama.

Electromagnetism is confusing, at least confusing Albert Einstein. He envisions two people carrying a magnetic compass, electric charge passes by. one stood still, while another flew along at the same speed.

Jarum kompas Penyair melenceng, tapi jarum kompas Barbarossa tidak! Dari sudut pandangnya muatan-muatan listrik itu tidak bergerak. Atau, Barbarossa terbang dengan memegang sepasang muatan. Ia hanya melihat medan listrik mereka. Namun Penyair (diam) juga melihat medan magnet karena pergerakan itu. Kedua pengamat tidak sepakat mengenai medan yang ada. Pengukuran kita tidak cocok!

Semakin aneh saja, Bila Barbarossa melepaskan kedua muatan tersebut, keduanya saling menjauhi. Namun Penyair melihat keduanya memisah secara lebih lambat daripada Barbarossa, akibat daya tarik magnet. Kedua pengamat itu mengukur kecepatan secara berbeda. Semakin aneh.

Einstein menerbitkan analisis ganjilnya mengenai keganjilan itu pada 1905. Kedua pengamat mengukur kecepatan berbeda, ia berkata sebab dari sudut pandang Penyair, waktu melambat bagi Barbarossa. Benar, bila Barbarossa membawa arloji, Penyair melihat  arloji itu berjalan lebih lambat dari yang dilihat ditangannya sendiri.

Pada kecepatan rendah, arloji hanya melambat sedikit, sehingga tak cukup untuk diukur dengan cara biasa. Namun seiring peningkatan kecepatan Barbarossa mendekati kecepatan cahaya, Penyair melihat arlojinya makin melambat, sampai betul-betul berhenti.

Agar tambah pusing, Einstein juga menunjukkan bahwa benda bergerak bertambah pendek (seturut arah gerakan) dan massa bertambah, seiring semakin dekat kecepatan benda dengan c, panjang menyusut ke nol, dan massa meningkat tanpa batas. Rentetan pemikiran aneh ini, didukung oleh perhitungan yang mantap, dikenal sebagai Teori Relativitas.

Beberapa bulan kemudian, Einstein menerbitkan makalah pendek mengenai massa yang bertambah itu. Sewaktu kita menambahkan energi ke benda bergerak (misalnya mendorong), kecepatan bertambah, lantas massa juga bertambah dalam cara relativitas yang janggal.

E=MC2

Entah bagaimana, sebagian energi yang ditambahkan diubah menjadi massa. Ketika Einstein menurunkan rumus yang menghubungkan massa (m) dengan energi (e) ternyata rumus itu sederhana sekaligus meresahkan : E=MC2. Meresahkan karena c, kecepatan cahaya adalah 300.000 km/detik, maka c2 adalah 90.000.000.000 km2/detik2. Angka yang luar biasa besar, massa yang sangat sedikit berpotensi melepaskan energi jumlah dasyat.

Secara singkatnya, analisis statistika atas gerak atom untuk pertama kalinya bahwa atom dan molekul merupakan benda fisik nyata. Dan ia menjelaskan efek foto elektrik dengan memperlakukan cahaya sebagai aliran partikel (bukan gelombang). Satu lagi gagasan revolusioner memusingkan yang membantu meletakkan landasan mekanika kuantum.

Bagi yang bertanya-tanya apa hubungan antara Teori Relativitas yang melibatkan waktu, massa dan energi dengan terciptanya bom atom mudah-mudahan ini menjawab sedikit pertanyaan.

Ramadhan identik dengan puasa. Puasa terkait dengan waktu. Sebulan dalam setahun, umat muslim yang merasa diri beriman dan berkeinginan menjadi orang yang bertakwa berpuasa. Puasa yaitu menahan diri dari segala yang membatalkannya (seringnya hanya diassosiasikan makan dan minum saja) dari terbitnya fajar sampai tenggelam matahari, dari shubuh ke maghrib.

Apa yang menarik disini? Waktu. Seperti kata Einstein, waktu itu relatif. Maka berdiam diri menunggu waktu berbuka dengan berkegiatan dalam menghadapinya akan berbeda. Manusia juga memiliki massa, dan energi. Oleh karena itu waktu di bulan Ramadhan itu baiknya diisi dengan serangkaian kegiatan kebaikan.

Jika hanya kebaikan, waktu, massa dan energi. Apa yang membedakan Ramadhan dengan bulan lain? Pengalaman akan pengorbanan. Sesungguhnya kebijaksanaan manusia itu teruji oleh berbagai hal. Lapar, lemas, marah. Tidak ada yang mampu menandingi nilai pengorbanan, tidak pengetahuan dan tidak pula pengalaman.

Oh, satu lagi keistimewaan ramadhan. Bom Atom bernama “Lailatul Qadar”. Relativitas waktu yang ajaib dimana semalam menjadi seribu bulan. Di mana seorang anak manusia tercerahkan pada satu malam.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah : 183)

Allah SWT memerintahkan puasa kepada orang-orang yang memiliki iman. Kenapa bukan orang Islam? Karena iman di dalam hati. Berbeda dengan ibadah lainnya, puasa itu tidak bisa dinilai oleh orang lain. Shalat, zakat dan haji terlihat oleh orang lain. Tapi puasa hanya Allah dan orang yang bersangkutan yang mengetahui kebenarannya.

Jadi jika ada orang Islam pada bulan Ramadhan yang tidak berpuasa (diluar mereka yang diringankan), mungkin dia baru ber-Islam belum ber-Iman. Apakah juga dengan berpuasa manusia dapat menjadi manusia bertakwa? Belum tentu, semua tergantung dari kualitas dirinya dalam menjalani ibadah puasa.

Shalat Taraweh selama bulan Ramadhan di Masjid Istiqlal – Jakarta

Ramadhan adalah bulan etika. Ketika manusia menjadi pribadi lebih baik. Kenapa etika? Etika berada diatas hukum yang secara harfiah menilai baik buruk, Ramadhan lebih dari itu. Ramadhan seharusnya membimbing seorang beriman menjadi ideal (takwa). Patokannya adalah ketika seseorang menjadi pribadi yang lebih baik maka ia menjalani Ramadhan dengan sukses.

Apakah saya benar? Entahlah, karena ini semua lebih rumit dari Fisika. Selamat menjalankan ibadah puasa, dan semoga kita semua menjadi orang bertakwa.

X

Kategori Hikmah:

  1. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  2. Orang Asing Yang Terasing; 3 Februari 2009;
  3. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  4. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  5. Menyerahkan Nasib Pada Takdir; 3 September 2009;
  6. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  7. Menelusuri Sejarah Perang Salib; 30 April 2010;
  8. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  9. Pahit; 8 Maret 2012;
  10. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  11. Nun; 3 Desember 2014;
  12. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  13. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  14. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  15. Momentum; 18 Mei 2015;
Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 9 Comments

GAYA ABADI

Energy can neither be created nor destroyed; rather, it transforms from one form to another.

GAYA ABADI

You need chaos in your soul to give birth to a dancing star (Friedrich Nietzsche)

Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat berubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain. Itulah dalil yang menjadi dasar hukum kekekalan energi yang dicetuskan oleh Fisikawan Inggris, James Preseett Joule.

Sudah lama terbukti bahwa mesin yang bisa berjalan sendiri (perpetuum mobile) akan tetap merupakan impian indah. Namun perpetuum mobile, yaitu mesin yang sekali bergerak akan melakukan gerakan abadi, hanyalah mimpi yang indah.

Pada setiap gerakan selalu ada gaya penghambat (misalnya gesekan) sehingga energi gerak akan berubah menjadi panas. Panas tidak bisa dikembalikan secara utuh menjadi gerak lagi.

Bahkan di ruang angkasa yang vakum, tidak mungkin ada perpetuum mobile. Memang bisa timbul gerak abadi. Astronout hanya perlu memutar roda sekali dan roda terus berputar. Namun, menurut istilah energi keadaan itu adalah keadaan istirahat. Tidak ada tambahan energi dan tidak ada energi yang berkurang, roda berputar pada kecepatan sama. Kalau roda yang diputar dihentikan, maka yang diperlukan energi yang sama ketika menggerakkan roda tersebut.

Fisikawan legendaris, Albert Einstein menyebut. Salah satu konsep dari teori relativitas, bahwa benda memiliki kecepatan konstan, sejatinya merupakan benda yang relatif diam. Hal ini merujuk pada tulisan Einstein yang tersohor dengan judul asli Zur Elektrodynamik betwegter Kopter terbitan tahun 1905.

Aneh memang, namun masuk akal. Bagi Einstein, benda yang bergerak bukanlah benda yang memiliki kecepatan, tapi benda yang mengalami percepatan, atau kita lebih familiar dengan kata akselerasi.

Dari logika tersebut, kondisi bergerak adalah ketika sebuah benda mengalami peningkatan atau penurunan kecepatan. Bukan pergerakan dari satu titik ke titik lain, melainkan pergerakan dari satu kecepatan ke kecepatan berbeda. Dan perlu diingat, percepatan bukan hanya soal dari kondisi diam ke kondisi bergerak, tapi juga dari posisi bergerak ke posisi diam.

Marilah kita melihat contoh, saat Filipo Inzaghi masih aktif bermain, cobalah jujur pada diri sendiri (meski pun ada seorang Milanisti), apakah anda pernah punya penilaian yang sama dengan seorang Johan Cruyff mengenai mantan pemain Milan dan tim nasional Italia ini?

Super Pippo

“Lihatlah Inzaghi, dia benar-benar tidak bisa bermain sepak bola sama sekali. Dia hanya selalu berada di posisi yang tepat.”

Dengan logika normal, pemain dengan kualitas fisik dan tekhnik seperti Filipo Inzaghi sejatinya ia tidak akan mampu menjadi penyerang papan atas. Bagaimana bisa kagum? Pemain yang lahir dan besar di kota Piacenza ini bukanlah seorang pemain yang bisa mudah dikagumi hanya dengan catatan gol yang fantastis. Ia tidak bisa mengocek satu dua pemain seperti Ronaldo, tidak bisa elastic ala Ronaldinho, tidak biasa free kick macam Beckham, tidak punya keeping ball ciamik layaknya Bergkamp, apalagi punya sihir seperti Messi. Tekniknya adalah salah satu yang terburuk dari semua pemain dunia.

Inzaghi sering berlari-lari tidak jelas di kotak penalti lawan, suka memelas jika di sentuh lawan, terutama jika tidak diberi hadiah penalti. Namun anehnya, di beberapa situasi krusial, tiba-tiba dia mencetak gol, yang sering kali prosesnya begitu buruk, ia berselebrasi dengan begitu emosional seolah-olah baru mencetak gol sensional.

Ia menyebalkan bagi lawan, Roberto Carlos bek legendaris Real Madrid dan Spanyol menyampaikan, “setiap Milan berada dalam kesulitan, mereka mendapatkan jalan keluar dari Inzaghi.”

Kenyataannya Filipo Inzaghi, yang notabene pemain biasa-biasa saja meraih semua gelar bisa diraih pemain sepakbola secara tim. Piala Dunia, Liga Champions Eropa, Juara Liga, Piala Italia, Super Eropa sampai Piala Dunia Antar Klub.

Apa rahasianya? Karena Inzaghi selalu bergerak dalam chaos, dalam gerak tak tentu dan seolah tak berarti. Dengan sering bergerak, selain menciptakan ruang, ia menciptakan kecepatan yang konsisten sekaligus percepatan yang minim. Ia menjaga waktu, agar tak kembali ke titik nol kecepatan. Karena seseorang akan mendapatkan keuntungan karena bakal mampu beraksi lebih cepat dari lawan, apalagi ketika lawan dalam posisi diam.

Kenapa Inzaghi yang menjadi contoh? Bukankah lebih baik jika Bale, Ronaldo, Messi, Robben yang dijadikan contoh. Mereka kerap melakukan hal yang sama, namun kita lupa mereka adalah pemain luar biasa, bukan itu keunggulan mereka. Inzaghi adalah pemain biasa, dan dalam hal ini (hampir) semua manusia adalah makhluk yang biasa-biasa saja.

Bergerak dalam chaos, dalam gerak tak tentu. Yang seolah tak ada keuntungan professional sekalipun, sebenarnya jika dipikirkan dengan seksama adalah persiapan mendapatkan peluang. Dan ketika ia datang, kita berada pada kecepatan tertinggi dan ditambah dengan keberuntungan akan menghasilkan kesuksesan.

Sebagaimana kita tahu rumus kesuksesan adalah persiapan ditambah keberuntungan. Dari pembahasan itulah, menjadi wajar kiranya, jika kita sering mendengar bagaimana pelatih di seluruh dunia hampir selalu meminta pemain-pemainnya untuk bergerak secara dinamis.

Tidak hanya pelatih sepakbola, para filsuf pun menganjurkan begitu. Rasulullah s.a.w mengatakan tuntutlah ilmu dari ayunan sampai liang kubur. Belajar dari apapun, tak mesti dari bangku sekolah adalah proses bergerak menjaga kualitas manusia dalam kehidupan ini.

Sepakbola, kehidupan juga cinta punya filosofi yang sama. Suatu ketika istri saya bertanya, dapatkan mempertahankan cinta kami abadi. Saya bilang tidak! Istri terdiam, cemberut pasti. Karena saya pencinta sepakbola,tahu bahwa bertahan ini melelahkan, menghabiskan tenaga dalam diam.

Saya lebih menyukai menyerang! Dalam arti kata cinta itu harus dipupuk dan disirami dengan kasih sayang sehingga dia akan selalu bertambah dari waktu ke waktu. Rumah tangga mungkin akan mengalami masalahnya sendiri, bahkan tim paling menyerang sekalipun akan menghadapi situasi bertahan.

Akan tetapi, filosofinya adalah menyerang, bertambah, bertumbuh. Itu akan lebih mudah membuat kita mencapai gaya abadi, gerakan abadi (perpetuum mobile) dalam menjalani kehidupan. Ya, kehidupan sejatinya adalah ujian bertubi-tubi dan tanpa henti, semua itu hanya akan berhenti ketika kita mati. Maka, berkembanglah, bergeraklah menghadapinya. Mungkin ini adalah yang sangat mudah dikatakan namun sulit dilaksanakan, namun percayalah dunia ini tidak ada yang sia-sia. Energi itu abadi.

Posted in Asal Usil, Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , | 10 Comments

MOMENTUM

Manusia boleh berusaha, dan mungkin gagal. Tapi ada berkah di balik kegagalan itu. kurasa, aku hanya belum memahami itu

MOMENTUM

Life must be lived as play (Plato)

Di dalam diri kita pun ada labirin. Disana kita menabrak dan terus menyusurinya. Tercekik, dan tak tahu arah. Tapi, jika kita bisa melewatinya, kita akan merasa semakin bahagia.

Efek kupu-kupu adalah ketergantungan yang sensitif pada kondisi awal di mana perubahan kecil dalam satu makhluk dari sistem nonlinear deterministik dapat mengakibatkan perbedaan besar dalam keadaan kemudian

Efek kupu-kupu adalah ketergantungan yang sensitif pada kondisi awal di mana perubahan kecil dalam satu makhluk dari sistem nonlinear deterministik dapat mengakibatkan perbedaan besar dalam keadaan kemudian

Seluruh kejadian di alam semesta merupakan rangkaian kejadian random, menurut hasil penelitian Edward Norton Lorenz pada tahun 1961. Dengan menggunakan bantuan simulasi computer. Lorenz memprediksi keadaan cuaca, awalnya ia membulatkan angka yang diperoleh ke dalam bilangan angka 0.506. Tapi ketika dia memasukkan bilangan decimal yang lebih lengkap yaitu 0.506127. Lorenz mendapatkan hasil yang benar-benar berbeda, yang kemudian mengejutkan Lorenz ternyata angka tersebut dalam prakteknya setara dengan sebuah kepakan sayap kupu-kupu.

Simulasi tersebut menunjukkan bahwa kepakan sayap kupu-kupu pun bisa mengakibatkan atau mencegah badai tornado, sungguh mengagumkan. Hasil temuan Lorentz ini selanjutnya  diberi nama butterfly effect atau efek kupu-kupu. Karena perhitungan yang digunakan Lorentz didasari kejadian-kejadian yang sifatnya acak maka banyak ahli yang mencoba mengartikan fenomena efek kupu-kupu tersebut dalam kehidupan manusia.

Begitu banyak peristiwa yang bisa terjadi terhadap seseorang dari kemungkinan-kemungkinan lainnya. Semua kombinasi peristiwa yang mungkin dialami oleh seseorang merupakan fenomena yang bersifat acak namun saling terhubung satu sama lain.

Segala peristiwa yang terjadi bisa membuka atau menutup peluang terhadap terjadinya peristiwa lain yang lebih besar. Karena kemungkinan-kemungkinan yang dialami oleh seseorang juga mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kemungkinan-kemungkinan yang dialami oleh orang lain.

Maka seluruh manusia di dunia ini seolah-olah berada dalam ruang tanpa batas dengan kombinasi kemungkinan yang terbatas jumlahnya. Lucunya manusia, hanya bisa mengerakkan dirinya sendiri, mungkin yang bisa dilakukan manusia adalah sebuah kepakan kupu-kupu. Namun demikian, sebuah gerakan sederhana, sebuah momentum tetap memberikan peluang bagi terciptanya peristiwa-peristiwa penting dalam hidup kita.

Mungkin karena itu juga, dalam agama niat itu sangat penting. Jika dipikirkan dengan seksama mungkin itu pula yang menjadi penyebab bahwa niat baik oleh Allah sudah dihitung berpahala. Maha Kuasa IA yang mampu membaca gerak dalam hati terdalam makhluk-Nya.

Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang telah berjanji. Demi waktu. Sesungguhnya manusia ini dalam kerugian. Kecuali mereka yang saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Maka sahabat bergeraklah, niscaya alam semesta akan bergetar karenanya.

Posted in Cerita, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , | 14 Comments

ROBOTIK

Sometimes even the wisest of men and machines can be in error

ROBOTIK

Hanya mesin yang bisa “dikuasai” logika

Sebuah cerita bagus membandingkan otak manusia dengan computer. Contohnya ketika kau berjalan di tepi pantai dan sadar bahwa dompetmu hilang. Apa yang akan kau lakukan?

Dalam kondisi demikian, manusia akan menyusuri kembali jejak kakinya untuk mencari dompet. Dengan begitu dirinya akan memperoleh pengalaman.

Tapi computer akan menggunakan mesin pengeruk untuk mengeruk pantai tersebut. Dengan kemampuannya yang akurat. Ini adalah caranya untuk mencari sesuatu di tempat yang luas.

Tapi, dalam cara pikir computer ini ada satu kelemahan. Komputer hanya bisa memprediksi 15 langkah ke depan, selanjutnya dia tidak mungkin bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Karena tidak memiliki apa yang disebut pengalaman.

Perhitungan yang tidak tercapai itu, ibarat munculnya fajar.

Aku menghargai kepintaran dan keanehanmu. Tapi berusahalah supaya tidak berakhir hanya pada keanehan itu. Dan kau akan mampu melintasi cakrawala itu.

Posted in Asal Usil, Cerita, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , | 3 Comments

PESAN DALAM CERMIN

Sebab dalam cermin, manusia seperti melihat sosok lain yang memiliki posisi sebaliknya

PESAN DALAM CERMIN

Bagaimana bisa ia dianggap biasa. Padahal ia adalah keajaiban. Mungkin karena ia terlalu banyak, tak terlalu langka, ditemukan dimana saja. Ia terkalahkan oleh hukum kelangkaan.

Setiap kali matahari menyusuri jalan dari cakrawala ke cakrawala, dan setiap kali bulan mengikutinya, dan tentu saja hari bergulir tanpa peduli akan kehidupan yang mereka ukir di belakang, satu demi satu.

Saat berdiri di depan cermin, kenapa pantulan bagian kanan dan kiri berubah sebaliknya? Kenapa bukan menghadap ke atas dan bawah?

Dunia tempat kita hidup ini mengandung daya gravitasi yang membuat kita terbiasa dengan pemandangan bentuk lain dari “atas dan bawah” Jadi, kita percaya penuh bahwa dunia ini tidak mungkin terdiri dari bagian atas bawah. Karena mudah sekali memastikan bagian atas dan bawah suatu benda.

Itulah salah satu sumber ilusi salah paham tentang kenapa bagian kanan-kiri terlihat sebaliknya di depan cermin.

Ilusi? Berarti kebalikan dari kanan kiri itu sama dengan atas bawah?

Bukan. Sebenarnya, yang dipantulkan cermin juga kebalikan dari atas-bawah. Saat kita yakin dengan bayangan kanan-kiri. Sebenarnya yang terjadi adalah bayangan dalam cermin adalah kebalikan dari atas-bawah.

Karena orang selalu memutuskan bagian atas dan bawah, dengan mudah pantulan kanan-kiri di cermin menjadi terbalik. Tetapi, sebenarnya baik bayangan kanan-kiri dan atas-bawah pada cermin tidak terbalik.

Karena yang terpantul pada cermin adalah bagian depan dan belakang. Manusia lebih menganggap bagian depan-belakang dan atas-bawah sebagai kanan-kiri. Itulah kenapa timbul sangkaan bahwa pantulan cermin adalah kebalikan dari kanan-kiri

Meski berusaha keras, tidak ada makhluk yang bisa melarikan dari kematian selamanya. Ada akhir bagi semua. Sebuah pesan dalam cermin.

Katalog Hikmah:

  1. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  2. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  3. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  4. Orang Asing Yang Terasing; 3 Februari 2009;
  5. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  6. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  7. Menyerahkan Nasib Pada Takdir; 3 September 2009;
  8. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  9. Menelusuri Sejarah Perang Salib; 30 April 2010;
  10. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  11. Pahit; 8 Maret 2012;
  12. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  13. Nun; 3 Desember 2014;
  14. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  15. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
Posted in Asal Usil, Cerita, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments