MENCARI JURUS PENANGKAL FITNAH, SEBUAH JURNAL ILMIAH

Lingkar Kepala Orangutan secara umum lebih besar daripada manusia kebanyakan? Apakah itu yang menyebabkan mereka tak pernah menyebarkan fitnah?

MENCARI JURUS PENANGKAL FITNAH, SEBUAH JURNAL ILMIAH

Latar Belakang

Orang-orang mengatakan bentuk kepala seseorang berpengaruh pada kepintaran. Apakah itu benar? Banyak yang mengira memiliki kepala besar memiliki otak pintar, dan kepala kecil memiliki otak yang kurang pintar. Kepala yang besar memiliki kapasitas besar untuk penyimpanan otak, sebaliknya otak yang kecil memiliki kapasitas yang kecil untuk tempat otak. Ketika otak memiliki banyak ruang maka daya kerjanya akan meningkat dan lebih mudah mencerna informasi yang didapat. Benarkah?

Sejatinya otak hanyalah sebuah alat, seperti halnya sebatang pensil. Ya, sebatang pensil bisa menjadi apa saja, ia bisa menjadi alat penyuluh kebaikan. Namun ia pula bisa menjadi alat propaganda, ataupun membunuh sekalipun. Itu semua tergantung si pengguna. Ada lebih dari 32 cara membunuh menggunakan pensil. Di urutan pertama bukanlah menusuk lawan pada mata, kuping atau dubur. Melainkan fitnah.

Sebatang pensil juga bisa menuliskan kebaikan yang dibaliknya adalah kebohongan. Sesuatu hal palsu ditinggi-tinggikan. Tentu ada alasan mengapa seseorang/sekelompok membela perampokan. Pemutarbalikkan fakta itu perlu intergritas, untuk menolak mengakuinya.

Permainan opini adalah hal yang lumrah, seperti halnya kita semua (pencinta sepakbola) menerima kenyataan bahwa offside adalah ilmu pasti. Sedangkan pelanggaran dan penalti adalah interpretasi. Tidak semua orang setuju. Tapi orang bisa “diarahkan” untuk setuju atau tidak.

Perumusan Masalah

Pernah zaman ini mengharap Internet akan membawa pencerahan. Informasi makin sulit dimonopoli. Ketertutupan akan bocor. Dialog akan berlangsung seru. Yang salah diperhitungkan ialah bahwa media sosial yang hiruk-pikuk kini akhirnya hanya mempertemukan opini-opini yang saling mendukung. Yang salah diperkirakan ialah bahwa dalam banjir bandang informasi kini orang mudah bingung dan dengan cemas cenderung berpegang pada yang sudah siap: dogma, purbasangka yang menetap, dan takhayul modern, yaitu “teori” tentang adanya komplotan di balik semua kejadian.

Kini dusta dan manipulasi dilakukan tanpa peduli itu. Faktor yang baru dalam komunikasi politik yang sarat dusta kini adalah kecepatan. Teknologi, dengan Internet, membuat informasi dan disinformasi bertabrakan dengan langsung, dalam jumlah yang nyaris tak terhitung, menjangkau pendengar dan pembaca di ruang dan waktu yang nyaris tak terbatas. Bagaimana untuk membantah? Bagaimana memverifikasi?

Tak ada lagi Hakim dan Juri yang memutuskan dengan berwibawa mana yang benar dan yang tidak, mana yang fakta dan mana yang fantasi. Media, komunitas ilmu, peradilan: semua ikut kehilangan otoritas, semua layak diduga terlibat dalam orkestrasi dusta yang luas kini.

Ironisnya, berbondong-bondonglah orang menjadi corong kebohongan, para penyebar kebohongan ini, sayangnya adalah mereka yang berpendidikan. Tanpa pikir panjang, langsung berbagi. Ada banyak kasus lain, mereka membagikan dengan bangga. Oleh yang mengetahui, mereka ditertawakan, direndahkan. Namun mereka tak peduli, merasa ada di jalan kebenaran.

Tujuan

Otak manusia, secara fungsi sesederhana sebatang pensil. Sebuah alat paling sederhana, mungkin sedikit muluk ketika kita mengharapkan ia melahirkan sesuatu yang besar. Namun tak ada salahnya mencoba, mungkin diluar dugaan kita, mungkin dia bisa melahirkan jurus-jurus yang mampu meredam fitnah.

Baca. lihat dan rasakan. Asahlah logikamu sebaik mungkin.

Tinjauan

Oke baik, kita study kasus.

Dalam bukunya, Alam Pikiran Yunani jilid dua.  Dr. Mohammad Hatta mengatakan tentang aliran Sofisme. Sofisme asalnya dari kata “sophos” yang artinya cerdik pandai. Mulanya gelaran Sofis ditujukan kepada segala orang pandai sebagai ahli bahasa, ahli filsafat, ahli politik dan lain-lainnya. Orang tersebut karena pengetahuan dan kebijaksanaannya digelari Sofis. Tetapi lama kelamaan kata itu berubah artinya. Sofis menjadi gelaran bagi tiap-tiap orang yang pandai memutar lidah, pandai bermain dan bersilat dengan kata-kata.

Pada umumnya filsafat mengarahkan pembahasan serta penyelidikan ilmiahnya kepada alam jagat raya atau kosmos, dengan lahirnya aliran sofisme maka filsafat dibelokkan pengarahannya kepada alam manusiawi, kepada kemauan, kepada cita-cita, kepada perasaan, dan kepada pengetahuan yang semestinya dimiliki tiap-tiap manusia. Dengan demikian maka dalam dunia filsafat lahir aliran tentang ethic kesusilaan.

Mohammad Hatta menilai secara kritis aliran sofisme, sungguh pun kaum Sofis selalu mempersoalkan sikap hidup namun mereka tak sanggup menetapkan dasar apa yang harus menjadi pegangan hidup. Mereka tidak dapat menemukan dasar umum yang harus berlaku bagi setiap orang, disebabkan karena tiap-tiap guru sofisme mengajarkan ukuran atau normanya sendiri-sendiri. Masing-masing mengemukakan pahamnya sendiri dengan tiada mau menimbang paham orang lain. Kecuali kalau tidak hendak membantah. Pahamnya sendiri tidak pula tetap, berubah-ubah dari waktu ke waktu. Tak ada yang tetap, kata mereka, semuanya senantiasa dalam perubahan. Sebab itu sikap manusia perlu pula berubah-ubah. Dengan pendirian semacam itu tiap-tiap perubahan pikiran tentang sesuatunya dapat dipertahankan dengan mengatakan bahwa keadaan telah berubah. Semua berubah, dan kita mengikuti.

Kaum Sofis tidak ada yang sama pendiriannya tentang sesuatu masalah. Mereka hanya sependirian dalam hal meniadakan, dalam pendirian yang negatif. Pokok ajarannya ialah bahwa “kebenaran yang sebenar-benarnya tidak tercapai”. Tiap-tiap guru Sofis mengemukakan ini sebagai pokok pendirian. Oleh karena kebenaran yang sebenar-benarnya tidak tercapai, maka tiap-tiap pendirian boleh benar dan boleh salah menurut pandangan manusia. Tiap guru Sofis mengajar orang menaruh syak akan buah pikiran orang lain. Sebaliknya pula ia mengajar orang mempertahankan tiap-tiap pendirian. Apa yang dipertahankan kemarin, sekarang boleh dibatalkan. Kebenaran hanya sementara. Oleh sebab “kebenaran yang sebenar-benarnya tidak tercapai”, maka tiap-tiap pendirian boleh dibenarkan. Buat sementara ia benar. Sebab itu pula tidak ada ukuran yang tetap tentang benar dan tidak benar, tentang baik dan buruk. Sebagai kelanjutan pendapat ini, hilanglah perbedaan antara benar dan salah, antara baik dan jahat.

Pemuda-pemuda Athena pada masa ini dipimpin oleh doktrin relatifisme dari kaum sophis Maka munculah Socrates. Seorang penganut moral yang absolut dan meyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filosof, yang berdasarkan idea-idea rasional dan keahlian dalam pengetahuan.

Socrates memulai filsafatnya dengan bertolak dari pengalaman sehari-hari akan tetapi, ada perbedaan yang sangat penting antara sophis dan Socrates. Socrates tidak menyetujui relafisme kaum sophis.

Menurut pendapat Socrates ada kebenaran obyektif yang tidak bergantung pada diri kita sendiri untuk membuktikan adanya kebenaran yang obyektif, Socrates menggunakan metode tertentu. Metode itu bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan dan menganalisis pendapat-pendapat

Bagi Socrates prinsip politik juga mendasarkan pada etika yang ia simpulkan kebijakan adalah pengetahuan.

Mengenai kontribusinya yang lain, Socrates mengajarkan bahwa terdapat prinsip-prinsip moralitas yang tidak berubah dan universal yang terdapat pada hukum-hukum dan tradisi-tradisi yang beragam di berbagai belahan dunia. Dia menegaskan bahwa norma-norma kebenaran itu bebas dari dan penting untuk opini individu. Ketika para Shopis menyatakan bahwa hukum tidak lain kecuali konvensi yang muncul demi kemaslahatan dan bahwa kebenaran adalah apa yang dianggap benar individu. Socrates menjawab bahwa terdapat kerajaan alam yang supra_manusiawi yang peraturannya mengikat seluruh rakyatnya. Socrates mendasarkan pada hukum tersebut pada akal, konsepsi ini secara formal menjadi bagian dari pemikiran filosofis

Doktrin politik Socrates bahwa “kebijakan adalah pengetahuan” merupakan dasar bagi pemikiran politiknya mengenai Negara. Inilah salah satu pandangan politik Socrates dan amat penting dan belakangan berpengaruh terhadap pandangan politik muridnya, Plato.

Meskipun Socrates tidak menuliskan banyak hal tentang yang berkaitan dengan pandangan-pandangan politiknya, tetapi kita dapat mendapatkan informasinya dari para muridnya dan lawan diskusinya.

Kita tahu bahwa dalam cerita ini Socrates adalah sang medioker (dipaksa minum racun), sedang kaum Sophis (yang memungut bayaran) adalah pemenang. Sejarah berhenti, dan opini dapat dibentuk, ketika itu. Akan tetapi, sejarah membuktikan bahwa Socrates adalah yang benar, bahwa sebatang pensil yang rapuh itu tetap menjadi suluh meskipun peradaban Yunani kuno sudah lama berakhir.

Pertanyaan kenapa? Mungkin karena Socrates menyuarakan suara kebenaran, yang meski kalah tapi tak sia-sia. Ia tak dapat dibeli.

Di zaman modern, tempat berita hoax terbesar adalah di Facebook. Tak hanya di Indonesia, di Negara lain, seperti halnya Amerika Serikat dan Inggris. Bahkan di Inggris, Facebook sampai harus menghapus sepuluh ribuan akun karena ditenggarai terlibat dalam kampanye penyebaran berita Hoax (Selasa, 9 Mei 2017). Menurut rilis yang dikeluarkan, Facebook tak tinggal diam melihatnya maraknya peredaran berita palsu. Raksasa media sosial ini pun mengambil langkah tegas. Belajar dari pengalaman, munculnya referendum “British Exit” dikatakan tak lepas dari kencangnya berita palsu ketika itu.

Mark Zuckerberg, CEO Facebook, bahkan telah mengumumkan kalau layanannya merekrut setidaknya 3 ribu orang yang akan khusus ditugaskan untuk menangani “sisi gelap” dari platform besutannya.

Apakah pabrikasi berita hoax diciptakan oleh orang bodoh? Tentu tidak itu semua diciptakan dan dikelola para jenius, namun disebarkan oleh mereka yang terperangkap dalam kebodohan. Hoax dikembangkan dan didistribusikan untuk meraih kekuatan Force Power (Kekuatan) yang di dalamnya terkait dengan upaya meraih Man Power (Pengikut Setia), Media Handling (Penguasaan Media) dan tentunya Money (Kemampuan Uang).

Secara umum Force Power (kekuatan) adalah penjumlahan dari Man Power (Pengikut Setia) + Media Handling (Penguasaan Media) + Money (Kemampuan Uang). Untuk menyederhanakan kita susun sebuah rumus sederhana : FP = MP+MH+M

Setiap penambahan variabel independen (MM, MH, M) maka akan memperkuat variabel dependen (FP). Ditinjau dari variabel independen lagi maka, semakin ke kiri adalah semakin kuat. Sebagai contoh Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama selalu mampu bertahan dalam setiap perkembangan zaman. Akan tetapi, variabel kanan lebih memiliki kemampuan untuk menarik variabel kiri. Uang mampu membangun media (secara instan), kemudian mempengaruhi orang banyak untuk menjadi pengikutnya. Tidak percaya? Lihatlah Harry Tanoe dan Surya Paloh yang membangun partai untuk meraih massa. Sebuah usaha yang bagus bukan?

Ternyata FP sendiri tidak benar-benar merupakan variabel dependen. Ia mampu menginjeksi MP, MH dan M. Tidak percaya? Coba bandingkan kekayaan Soeharto, Megawati dan SBY sebelum dan sesudah berkuasa, disitu ada peningkatan besar-besaran di bidang M. Soekarno menikmati peningkatan MP. Tapi dalam kasus Gus Dur dan Habibie tidak ada peningkatan signifikan apa-apa. Menarik, sangat menarik dikaji.

Kenapa menarik? Coba perhatikan ada satu variabel yang ternyata hanya menjadi katalisator yaitu MH. Dia tidak menjadi tujuan, melainkan hanyalah alat. Sebatang pensil, disitulah penelitian ini akan berfokus. “Kekuatan sebatang pensil” dimana pertempuran intelektual sebenar-benarnya terjadi.

Sebatang pensil itu adalah kita. Sepanjang hidup kita di atas bumi ini, kita semua mempunyai pilihan. Melakukan berbagai cara secara medioker, atau dengan cara yang diajarkan oleh Machiavelli.

Sulit menjadi seorang Machiavelli, tentu kita harus menjadi seorang politikus kawakan. Abaikan, pilihan 99% pembaca termasuk penulis adalah menjadi medioker. Kenapa? Gampang saja kita membiarkan dorongan-dorongan manusiawi membimbing kita. Secara garis besar kita malu pada kekuasaan dan kekuatan serta manipulasi. Jadilah kita sebagai pengikut saja.

Saya tidak berharap kita-kita menjadi martir seperti Socrates, seorang pahlawan. Malanglah sebuah bangsa yang membutuhkan pahlawan, bangsa besar digerakkan oleh orang-orang sederhana dan bersahaja, dengan langkah biasa-biasa saja.

Tapi bagaimana caranya? Baiklah, menurut ilmu yang terbatas yang dimiliki mencoba membagi jurus penangkal fitnah.

  1. Ketika menerima satu kabar, periksa dengan logika terlebih dahulu. Pastikan kebenarannya, jangan langsung dikabarkan. Tentu yang menyebarkan sesuatu yang ia dengar bukanlah pembohong. Ia berkata benar, mengatakan apa yang di dengarkan. Tapi ia hanya menjadi sejenis microphone, atau corong fitnah semata. Inilah kaum yang paling mudah diperalat tim think thank hoax;
  2. Ketika menerima kabar, setelah dipastikan kebenarannya. Jangan keburu disebarkan, bisa jadi itu adalah aib seseorang. Menyangkut pribadi dan memalukan. Anda akan menjadi penyebar kebenaran tapi dengan reputasi pemakan bangkai, menyebarkan aib orang lain;
  3. Metode paling kuno, reputasi. Ketika menerima pandapat dari dua sumber berbeda pastikan reputasi yang memberi kabar (Kalau bisa). Baru-baru ini seorang teman mengeluh dia telah berinvestasi bisnis dengan uang kepada sesorang sebesar 50 juta tapi tak dikembalikan. Walau telah 2 tahun lamanya. Ia merasa menyesal telah mengabaikan kata-kata seorang teman bereputasi baik yang telah mengingatkannya, alih-alih dia malas percaya rayuan pulau kelapa seorang yang tak jelas reputasinya. Jangan abaikan saran orang-orang baik.

Allah SWT melalui Al-Quran memberi kita manual book yang jelas, Al Hujarat : 6.  “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”

Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut desas-desus. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita yang dicuplikkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang terucapkan itu sesuai dengan fakta.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar desas-desus yang tidak jelas asal-usulnya. Kadang dari suatu peristiwa kecil, tetapi dalam pemberitaannya, peristiwa itu begitu besar atau sebaliknya. Terkadang juga berita itu menyangkut kehormatan seorang muslim. Bahkan tidak jarang, sebuah rumah tangga menjadi retak, hanya karena sebuah berita yang belum tentu benar. Bagaimanakah sikap kita terhadap berita yang bersumber dari orang yang belum kita ketahui kejujurannya?

Ingat dalam ayat tersebut tidak menyalahkan kefasikan lawan bicara, bukan. Tapi lebih daripada berita yang disampaikan. Itulah yang dinamakan Tabayyun. Memastikan kebenaran itu sendiri, dengan apa?

Sebenarnya apa alat mental paling penting apa yang bisa dimiliki seseorang? Apakah kebulatan tekad? Mungkin kebulatan tekad akan terbukti berguna dalam hidup manusia, tapi bukan. Tapi yang dimaksud alat apa yang diperlukan untuk memilih tindakan terbaik dalam situasi apapun. Kebulatan tekad umum dimiliki di antara orang-orang bodoh dan lambat, juga di antara mereka yang cerdas dan cemerlang. Jadi, bukan, kebulatan tekad bukanlah yang kita cari.

Apakah kebijaksanaan? Bukankah kebijaksanaan alat yang sangat berguna bila dimiliki seseorang. Kebijaksanaan cukup bagus, tapi bukan. Jawabannya adalah logika. Atau, dengan kata lain, kemampuan berpendapat secara analisis. Kalau diterapkan dengan benar, logika bisa mengatasi kurangnya kebijakan, yang hanya bisa diperoleh melalui usia dan pengalaman.

Tapi bukankah memiliki hati yang baik lebih penting daripada logika? Logika murni bisa menyebabkan saya bisa mendapatkan kesimpulan yang secara moral salah, sedang jika saya bermoral jujur, dipastikan saya tidak mengambil tindakan memalukan.

Jika kau memilih hati yang baik maka kau salah memahami permasalahannya. Yang ingin kita ketahui adalah alat yang paling berguna yang bisa dimiliki seseorang, terlepas dia baik atau jahat. Kita semua setuju memiliki sifat baik sangat penting, tapi penulis yakin jika kau harus memilih antara memberi penawaran mulia pada seseorang atau mengajari berpikir jernih. Maka kau akan lebih memilih mengajarinya berpikir jernih. Terlalu banyak masalah di dunia ini disebabkan orang-orang yang memiliki tujuan baik tapi dari benak yang salah.

Sejarah memberi kita puluhan contoh orang-orang yakin mereka benar dan melakukan kejahatan mengerikan karenanya. Ingatlah, muridku, bahwa tidak ada yang menganggap dirinya penjahat, dan hanya yang sedikit orang yang mengambil keputusan yang menurut mereka salah. Seseorang mungkin tidak menyukai pilihannya, tapi ia akan mempertahankannya karena, bahkan dalam kondisi terburuk, ia percaya itulah pilihan terbaik yang tersedia baginya waktu itu.

Kalau dianalisis secara terpisah, menjadi orang yang lebih baik bukanlah jaminan kau akan bertindak dengan baik, yang mengembalikan kita pada perlindungan yang kita miliki terhadap para penipu, siasat licik bahkan kesintingan orang banyak, dan pembimbing kita menjalani kehidupan yang tidak pasti, pikiran jelas dan beralasan. Logika tidak pernah mengecewakan dirimu, kecuali kau tidak menyadari, atau sengaja mengabaikan konsekuensi tindakanmu.

Tapi bukankah ketika semua orang logis, maka semua manusia pasti akan sepaham tentang tindakan yang harus diambil? Itu jarang, kenapa? Seperti setiap kelompok orang, kami mengikuti banyak sekali aturan yang bermacam-macam dan, akibatnya, kami sering mencapai kesimpulan yang bertentangan, bahkan dalam situasi yang sama. Kesimpulan, kalau boleh penulis tambahkan, yang masuk akal dari sudut pandang semua orang. Dan sekalipun penulis menginginkan yang sebaliknya, tidak semua guru melatih pikirannya dengan benar.

Maka bagaimana cara belajar logika yang terbaik? Jika banyak orang salah? Dengan metode paling tua dan efektif, bertanya. Bertanya disini tidak hanya pada manusia, tapi kepada buku, alam, dan mengamati. Observasi dan pembuktian ilmiah. Seperti ketika para atronom awal membuktikan bahwa bumi itu bulat kepada mereka yang percaya bahwa bumi itu datar.

Kesimpulan

  1. Meskipun tidak ada hubungannya antara lingkar otak dengan Asahlah logika dalam keadaan apa saja, tingkatkan pengetahuan dan pelajari sejarah. Lihat, dengar dan rasakan sebagai pengalaman sehingga menjadi pribadi yang lebih baik;
  2. Kritislah terhadap berita yang kita baca. Berita hoax biasanya diberi judul mentereng, dalam banyak kasus berita yang dibagi telah dipelintir sehingga berbeda maksud. Ingatlah, berita karangan biasanya dibuat untuk keuntungan pribadi seseorang atau golongan tertentu;
  3. Agama mengajarkan kita untuk bersikap adil, meskipun dalam keadaan marah. Asahlah ketenangan jiwa sehingga tidak teradu domba oleh mereka yang ingin mengambil keuntungan semata-mata.

Saran

  1. Ketika sekolah kita diajarkan hukum Newton, simak hukum ketiga : Untuk setiap aksi selalu ada reaksi yang besar dan berlawanan arah, atau gaya dari dua benda pada satu sama besar dan berlawanan arah. Di media sosial, aksi itu bahkan menjadi berlipat ganda dengan reaksi “berlebihan” Tahan diri sampai menemukan kebenaran;
  2. Jadilah pensil yang menyuarakan kebenaran, suluh dunia. Dengan beradab tentunya, dengan santun sekaligus Meski itu hanya lilin kecil yang rentan ditiup angin. Lupakan sejenak FP = MP+MH+M. Dan jadilah manusia merdeka namun bertanggungjawab.

Daftar Pustaka

Alam Pikiran Yunani; Mohammad Hatta; Penerbit Tinta Mas Jakarta; Cetakan pertama 1959.

Dragon Dialog; tengkuputeh.com

Para Penyebar Kebohongan; tengkuputeh.com

What Would Machiavelli Do? Tujuan Menghalalkan Segala Cara; Stanley Bing; PT Gramedia Penerbit Utama Jakarta; Cetakan kedua Desember 2004

Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Mari Berpikir, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s