RADIKALISME YANG TAK AKAN PERNAH MATI

Kemurnian niat, ketika membantu orang. Itu adalah harta berharga bagi Indonesia. Itulah Radikalisme yang sesungguhnya, membantu tanpa mengharapkan materi.

RADIKALISME YANG TAK AKAN PERNAH MATI

“Sebutkan 32 cara membunuh menggunakan pensil?”

Abu tersentak, waktu itu lewat jam 2 pagi ketika mentor bertanya. Di antara kantuk dan kesal Abu menjawab sekenanya, seraya mencoba melucu. “Tusuk duburnya!” Abu tertawa, teman-teman lain tertawa juga. Suasana mengantuk berubah menjadi ceria.

“Breet…” Tiba-tiba muka Abu dipenuhi bubur kacang hijau. Sang Mentor marah dan kesal. Materi dihentikan. Kami dibubarkan dan disuruh tidur, 2 jam lagi sahur.

Seminggu sebelumnya.

Banda Aceh tahun 2000. Adalah tahun yang indah dikenang, namun pahit untuk diulang. Saat itu Abu masih kelas 2 SMU (Sekarang SMA). Aceh sedang bergolak panas, setiap anak muda Aceh yang menghabiskan masa remaja di tahun-tahun itu pasti paham, cukup sulit menjadi remaja waktu itu. Baru dua tahun, Paduka Yang Mulia Soeharto turun tahta setelah berkuasa 32 tahun lamanya. Setahun sebelumnya, 1999 Timor Timur melepaskan diri dari Indonesia. Gus Dur naik menjadi presiden, ada secercah harapan, namun harapan tinggal harapan belaka. Aceh tak kunjung damai.

Bulan Ramadhan tahun 2000 diawali dengan datangnya banjir besar. PLN seperti biasa memadamkan listrik total sekota. Disela-sela menguras lumpur dari rumah, Abu mendapat telepon (untung Telkom tidak mematikan jaringan) dari teman sebangku, Aulia Black.

“Abu, bagaimana kalau kamu mengikuti LBT (Leadership Basic Training) PII (Pelajar Islam Indonesia.” Tanyanya.

Abu tidak tertarik, apa pula PII? Abu pikir sejenis pesantren kilat yang kerap dibuat sekolah untuk mengisi waktu libur Ramadhan. Apa menariknya?

“Ayolah Abu, PII itu terkenal dengan anggota perempuannya yang cantik-cantik, tambahnya.”

Abu terkesiap, daripada menguras lumpur terus di rumah, dan PLN yang baik hati mematikan listrik terus, tak kunjung tampak hilalnya kapan menyalakan. Atau disuruh memetik cabe di kebun Sibreh, atau disuruh menjual kacang panjang di Pasar Inspres Ketapang (Yang mana Abu memakai caping besar, supaya tidak terlihat oleh teman-teman sekolah, malu coy). Lebih baik Abu kabur dari rumah dengan alasan mengikuti PII. Apalagi kata si Black, anggotanya cantik-cantik. Tolong Tuan dan Nyonya, mohon jangan salahkan libido masa muda Abu.

Maka bergabunglah Abu bersama 30-an peserta LBT PII lainnya, di MTsN 1 (Sekarang MTsN Model) Banda Aceh. Benar saja, siangnya dipenuhi dengan kajian Tauhid, Fiqh, Quran Hadist. Daripada menguras lumpur di rumah, disini lebih baik. Dan ternyata si Black benar, anggota perempuan yang mengikuti cantik-cantik.

Abu pikir setelah shalat Tarawih berjamaah, saatnya untuk tidur. Rupanya tidak, ada materi yang lebih dalam lagi, ideologi. Belajar disambung sampai menjelang sahur, waktu tidur yang diberikan hanya sebentar. Kampret kutuk Abu.

Setelah mengikuti acara PII tersebut Abu baru sadar, ini bukan sekedar pesantren kilat.  Dari sisi kelompok Islam, tahun 2000 adalah tahun penuh kewaspadaan. Wacana Gus Dur menghapus pelarangan Komunisme menimbulkan kecurigaan besar kepada beliau. Belum lagi PII waktu itu memiliki lawan yang secara ideologis kiri, PRD dan Forkot.

PII sendiri adalah organisasi yang dibubarkan oleh Paduka Yang Mulia Soeharto tahun 1984, dengan alasan menolak azas tunggal Pancasila. PII bertahan di bawah tanah, menyuarakan diskriminasi rezim tersebut terhadap umat islam. Terutama pelarangan menggunakan jilbab di sekolah, sehubungan saat itu Aceh masih bernama Daerah Istimewa Aceh yang mana pelarangan itu tidak berlaku, wajar kami tidak tahu.

Menurut Abu, terlalu lama berada di gerakan bawah tanah membuat organisasi ini waspada. Sekaligus mudah disusupi oleh mereka yang bermuka manis. HMI adalah yang paling kentara, beberapa mentornya secara transparan menyarankan bergabung dengan HMI kelak dikemudian hari, yang “katanya” lebih halus.

“Bang Akbar Tanjung kirim salam” beberapa kali terdengar.

Atau yang paling sering adalah, “dari Yordania Bapak Prabowo kirim salam, beliau prihatin dengan kondisi umat Islam Indonesia.” Jujur Abu katakan, apa yang diteriakkan oleh tim sukses Prabowo di pemilu presiden tahun 2014 lalu, adalah sama dengan yang Abu dengar tahun 2000.

Logika Abu tumpang tindih, bukannya Akbar Tanjung itu ketua Golkar (waktu itu) yang bukannya mesin politik Soeharto. Atau Prabowo adalah menantunya. Ada yang bermain dibelakang smiling Jenderal, tapi apa urusan. Abu malas ribut.

Tapi tak selamanya Abu hanya diam. Ketika idola Abu, Muhammad Hatta disalahkan atas tidak berlakunya Piagam Jakarta, Abu protes keras. Itulah pertama kali Abu bentrok argument dengan mentor. Kedepan Abu memolakan, bahwa mentor yang membawa nama organisasi lain, atau golongan pemuda lainnya adalah bangsat! Tapi Abu respek kepada mentor yang murni lahir dan berakar dari PII sendiri. Lha, organisasi ini tidak punya pilihan, digencet Soeharto bagaikan tikus got. Setiap uluran tangan sangat berharga. Abu beri kode, setiap tokoh masyarakat atau pemuda yang mengaku anggota PII ketika ada perlunya, dan lebih mempopuler baju yang dikenakannya (organisasi lain) adalah penipu. Contohnya, seperti…, akh sudahlah tak usah disebut.

Karena tidak bisa menjaga mulut, maka terkenallah Abu sebagai pemimpin pemberontak. Di hari-hari awal waktu berbuka puasa kami hanya di beri nasi dengan kuah bening. Mungkin sahur lebih baik pikir Abu awalnya, ternyata sama juga. Tidurpun dibatasi, diatas meja sekolah. Beberapa kawan berencana memesan makanan sahur yang lebih baik. Dengan memesan mie pada ibu kantin yang selama Ramadhan berjualan panganan untuk berbuka. Abu diajak juga, tabiat Abu yang sedikit nakal, cekikikan, dan mengatakan, “aku ikut!” Malangnya kami ketahuan! Dan Abu didakwa sebagai pimpinan, maka  sial, Abu disidang paling keras. Lebih tolol lagi, Abu tidak tahu siapa pimpinannya (Lha, siapa), sikap Abu yang sepele malah membuat Abu menjadi pesakitan disitu.

Allah Maha bijaksana dalam menentukan takdir. Karena Abu “dianggap” sebagai pimpinan pemberontakan, kemudian Abu lebih dihormati mentor. Dan oleh kawan-kawan seperjuangan “pesan mie” Abu dianggap sebagai seorang gentleman yang menjaga rahasia teman-teman, dan rela menanggung semuanya, maka Abu dianggap bagai saudara dekat. Padahal itu semua lahir dari ketololan Abu!

Setelah LBT PII selesai. Dalam sebuah rapat PII, Abu diminta bicara untuk merencanakan LBT berikutnya. Bermaksud melucu, Abu berbicara dengan gaya mengejek panitia sebelumnya. Maksud Abu bercanda, tapi candaan Abu berbuah kursi pimpinan panitia LBT PII. Ya Allah, dalam kondisi apapun, betapa berbahayanya ketika Abu berbicara di forum. Kejadian ini berulang ketika pemilihan ketua ITSAR (Ikatan Alumni STAN) di Lhokseumawe. Lagi-lagi Abu menjadi ketua. Huff.

Mungkin Allah SWT menganugerahkan kepercayaan diri yang berlebihan kepada Abu, ketika akhirnya Abu berkata, “kita buat LBT yang lebih baik!” Ternyata ketika Abu menjabat baru sadar betapa sulit menjadi Ketua. Apalagi di sebuah organisasi yang tidak menganut struktur baku seperti aparat Negara. Kita tidak menggaji orang, jadi dalam menyuruh orang tidak boleh sekeras bos kantor. Acara LBT PII berikut sukses, tapi Abu kecapekan, seminggu bergadang di bulan puasa. Ternyata memang mengkritik lebih mudah daripada melaksanakan.

Akhir-akhir ini, pihak Islam diserang, terutama media asing sebagai sarang radikalisme. Sebenarnya menurut Abu sebagai orang yang pernah hidup di alam tersebut itu tidak memiliki alasan yang cukup logis. Ingat terorisme masuk Indonesia melalui dokter Azahari, yang notabene warga Malaysia.

Tahun 2001, terjadi demonstrasi besar di SMUN 3 (sekarang SMAN 3) Banda Aceh, menolak kenaikan SPP (Uang sekolah) dari Rp. 6.000,- menjadi Rp. 12.000,- perbulan. Waktu awal mula inisiasi demo Abu diundang, dan secara tegas menolak. Abu adalah seorang anak guru, tahu betapa sulitnya anggaran pendidikan tahun-tahun itu. Kenaikan uang sekolah itu ditujukan bagi kesejahteraan guru, uang makan dan les. Bagi Abu yang waktu itu berjajan Rp. 3.000,- perhari kenaikan itu tidak masalah. Ada kutuk sebagai pendukung rezim zalim, atau pengecut pada Abu, tapi Abu tak bergeming. Allah yang berhak menilai niat Abu, apalah dia manusia.

Dan demo terjadi, beberapa kader PII terlibat, bahkan pentolan. Guru-guru merasa terhina, dan membalas balik, itu wajar. Abu tidak tahu kenapa dipanggil ke ruang wakil kepala sekolah untuk mempertanggungjawabkan tindakan demo tersebut, secara organisasi Abu bukan pemimpin PK (Pengurus Komisariat) tingkat sekolah, mungkin karena organisasi ini bersifat underground maka tidak diketahui pasti siapa ketuanya.

Abu kembali di sidang. Bodohnya Abu, tidak ingat siapa Ketua PK PII waktu itu. Menjelang UAN dan SPMB Abu sibuk sendiri, atau diwaktu senggang main ludo. Jadi tidak bisa menunjuk nama ketua sebenarnya, yang kemudian Abu ketahui juga sebenarnya tidak terlibat dalam demo tersebut.

Maka Abu pasrah ketika diminta menandatangani beberapa lembar dokumen, apa jadinya kalau dikeluarkan dari sekolah dengan UAN yang hitungan minggu. Abu terlalu takut untuk membaca langsung tanda tangan. Jadi Abu tidak pernah tahu apa yang telah ditandatangani. Tapi Abu selamat, tidak dikeluarkan dari sekolah. Pimpinan demo telah diketahui oleh guru, dia yang dikeluarkan.

Beberapa teman sekelas Abu yang juga anggota PII menganggu Abu, mereka bilang dokumen yang Abu tandatangani adalah pembubaran PII PK SMUN 3 Banda Aceh, karena terlalu malu sampai hari ini Abu tidak pernah mengeceknya. Setelah itu Abu menarik diri dan lebih memilih berkiprah di tingkat kampung. Dengan melibatkan diri dengan remaja masjid, atau TPA saja.

Abu berterima kasih kepada PII, karena pelatihan LBT PII selama seminggu telah mengajarkan banyak hal, terutama public speaking. Kemampuan menguasai podium serta tidak merasa inferior jika berhadapan dengan siapapun. Itu adalah hal-hal yang Abu bawa sepanjang hidup hasil dari pembelajaran bersama PII. Ada banyak hal baik jika bergabung dengan organisasi Islam, paling utama adalah kami-kami diajarkan kemurnian niat, ketika membantu orang. Itu adalah harta berharga bagi Indonesia. Itulah Radikalisme yang sesungguhnya, membantu tanpa mengharapkan materi.

Mungkin organisasi Islam terlihat bengal, terutama bagi yang tak mengenal. Tapi perlu diselami pola pikir dasar kami. Selama masa penjajahan Belanda, tidak ada organisasi yang lebih digencet selain Islam. Snouck Hurgronye menyarankan dalam Islamie Politie kepada pemerintah Hindia Belanda, matikan Islam sebagai politik. Sayangnya, disadari (atau tidak) Orde Lama dan Orde Baru juga melakukan hal yang sama.

Abu penah berbicara dengan seorang petinggi Hizbut Tahrir Indonesia di Aceh, dimana kami berbicara dari hati ke hati. Meskipun Abu tidak setuju dengan sikap mereka menolak demokrasi, Abu menghargai pilihan mereka. Tidak ada niat untuk makar, tidak ada niat untuk meninggalkan Indonesia, dan tidak ada niat untuk menjadikan Indonesia menjadi Arab Saudi. Mereka adalah orang-orang yang mencintai negeri ini dengan cara berbeda, dengan pandangan berbeda. Mereka adalah orang-orang baik teman-teman Abu lainnya.

Abu menyesalkan pembubaran HTI, selaku teman dalam Islam. Terlepas segala rewel dan nyinyirnya mereka, perlu kita sadari mereka adalah bagian dari bangsa yang besar ini, Indonesia. Saya mohon kepada pemerintah di era reformasi, tinggalkan cara berpikir pemerintah kolonial Belanda, atau turunannya Orde Lama dan Orde Baru. Rangkul mereka, selaku kaum yang termarjinal. Selaku pribadi Abu dalam banyak hal tidak sepaham dengan HTI, bukan membela mereka. Tapi selaku bagian dari komunitas besar umat Islam Indonesia, ketika sebuah organisasi Islam dibubarkan, ada perasaan sakit. Perasaannya sama seperti melihat teman yang bandel sewaktu sekolah, dikeluarkan. Ada simpati mendalam disana.

Islam sendiri adalah rumah yang ramah, yang hijau. Ketika ketika memiliki masalah yang tak terselesaikan, kemanakah kita hendak mengadu? Kemanakah kita menuntut keadilan yang mungkin sulit dicapai di dunia ini. Hanya kepada Allah S.W.T semata.

Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Opini and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s