Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Beberapa orang hanya bisa melihat tanpa bisa mengerti, mendengar tanpa bisa memahami, menghakimi tanpa bisa mengetahui

MEMBELI KEBIJAKSANAAN

Indonesia sedang menikmati media sosial booming, percakapan yang paling panas justru terjadi disana. Masyarakat kini cenderung merujuk media sosial untuk mengetahui isu terkini dan perkembangan sebuah peristiwa. Kecenderungan ini otomatis mengubah cara kerja banyak profesi, termasuk wartawan dan aparat pemerintah.

Perkembangan teknologi internet telah mengantarkan media sosial sebagai media penting untuk sumber berita, setiap orang mampu memberikan perspektif dan bercerita tentang opininya terhadap suatu kejadian. Ditambah konten melalui media sosial adalah jangkauan berita menjadi semakin luas.

Sayangnya, hasrat membaca besar-besaran tersebut hanya terbatas pada membaca judul saja tanpa keinginan untuk menganalisis lebih mendalam. Cukup sering kita melihat sebuah konten dibesar-besarkan tanpa terlalu menilik kualitas editorial dari tulisan tersebut.

Tentu itu adalah sinyalemen yang menyedihkan, ketika dunia maya saat itu memberikan cukup banyak peluang menangguk keuntungan melalui iklan, Google Adsence misalnya. Berbagai bualan dibesarkan, siasat retorika dilakukan untuk membuat orang penasaran. Sedikit menyesatkan tak apa, asal tujuan tercapai. Kita bersedih ketika berita bohong dan fitnah diviralkan.

Kita hidup pada sebuah zaman ketika benci bisa jadi diiklankan. Teriakan muak, geram, dan tak sabar dengan teriakan yang cukup keras maka akan menarik perhatian orang ramai, bahkan mendapat dukungan. Sebaliknya, di dunia yang kian mencemaskan ini. Dunia dan manusia gampang salah dan marah. Himbauan kebaikan kerap kali dipandang dengan curiga, ada maksud dibelakangnya. Pandangan seperti ini juga tidak lahir secara instan, ada kejadian dibelakangnya. (Mungkin) fenomena ini lahir dari banyak kecenderungan orang-orang munafik yang memamerkan kesalehan guna menutupi kesalahan.

Padahal kita, manusia sebagaimana dikatakan oleh Allah S.W.T adalah “Khalifah”-Nya di muka bumi. Makhluk yang ditugaskan untuk memimpin, minimal dirinya sendiri namun apakah kita selaku manusia mampu melaksanakan tugas yang berat itu dengan bijaksana? Kebijaksanaan tidak serta merta diwariskan oleh seorang ayah kepada seorang anak, kebijaksanaan juga tak selalu melekat pada tingginya tingkat pendidikan.

Manusia diberikan akal oleh tuhan untuk mempelajari apapun dari siapapun, untuk mengambil kebaikan bahkan dari tahi sekalipun, dengan diolah menjadi pupuk. Di samping itu dalam setiap meja kopi, dalam setiap majelis, manusia harus berpikir dan menganalisa tiap-tiap berita atau pun kejadian. Mengambil kesimpulan berdasarkan manfaat dan mudharat.

Logika adalah alat terbaik untuk mengambil keputusan, namun kita juga dibekali nurani sebagai alat guna mendapatkan kebijaksanaan. Nurani melahirkan kebaikan, dan kebaikan yang tulus itu tak akan pernah seperti api membakar kayu, ia tak akan pernah habis.

Apa guna kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian manusia sehingga makin sanggup memahami orang lain – Emha Ainun Najib

Sayangnya kebijaksanaan itu tidak semata-mata lahir karena tingkat pendidikan, keuangan yang berlebih, atau bahkan kesengsaraan yang mendalam sekalipun. Ia sering lahir dari sebuah hati dan fikir yang peka dan peduli. Ia bisa muncul pada siapa saja, tak mesti disinggasana raja atau gubuk derita. Sebagaimana Nabi Musa belajar dari Nabi Khaidir tentang kebijaksanaan.

Kita dapat berusaha membeli kebijaksanaan, dengan mengatasi keterbatasan diri justru ketika merasa, disaat-saat apapun juga, bahwa diluar Tuhan di dunia ini, ada yang lebih perkasa dari kita dan tak malu untuk belajar dari mereka. Selebihnya, saya dan kamu adalah manusia. Kita hanyalah makhluk-Nya yang senantiasa bisa saja lalai, oleh lupa dan tidur.

Advertisements
Advertisements

Leave a Reply

%d bloggers like this: