KESADARAN LITERASI

Segala perdebatan hanya akan berakhir sia-sia dan melahirkan manusia keras kepala, jika kita semua tidak bertekad memperbaiki diri.

KESADARAN LITERASI

Sebenarnya ada berapa banyakkah remaja di Indonesia yang tidak sempat menulis? Mungkin beberapa sibuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka, memperoleh makanan atau pendidikan saja mereka harus berjuang. Atau ada juga masih menghabiskan waktu mereka untuk sebanyak-banyaknya untuk membaca sebanyak mungkin, untuk sekedar lulus ujian atau lebih dalam untuk kebahagiaan batin. Banyak pula di antara mereka mencoba menulis di media sosial, sekedar pengungkapan ekspresi, pendapat atau pemikiran mereka. Salahkah? Mungkin tidak, setiap orang dewasa yang pernah remaja bukankah sebaiknya menyadari, mengingat bahwa mereka pernah melalui itu. Dengan terantuk, jatuh dan bangun kita semua tahu bahwa masa remaja adalah masa paling bergejolak dalam hidup, jika memang hidup sebagai manusia bukan robot.

Waktu itu, jati diri belum menyeluruh terbentuk dengan seluruh. Tapi siapa yang mampu membentuk jati dirinya secara utuh dan menyeluruh sepanjang hidupnya? Abu yang berusia 33 tahun sampai sekarang bahkan (mungkin) belum juga. Hidup adalah tentang mencari, Rasullullah S.A.W bersabda dalam sebuah hadist, “tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat.” Akan tetapi masa remaja adalah saat ketika pondasi karakter diletakkan, apa yang kau alami pada masa remaja akan berkembang berbagai bentuk ketika kau dewasa.

Orang-orang dewasa. Mungkin kini banyak orang-orang dewasa yang semasa remaja belum banyak membaca, tapi sekarang suka membaca status/twit dari media sosial atau bahkan blog maupun website lalu menganggapnya sebagai ilmu. Praktis orang-orang membaca dari penulis-penulis media sosial, dan dengan cepat mengaguminya atau malah memilih menghakimi.

Contoh paling dekat dan sedang popular adalah dek Afi. Perlu kita semua orang dewasa pahami dia bukanlah robot yang terbuat dari besi. Besi itu kuat, tapi hanya berisi udara semata oleh karena itu ia mudah dilumerkan. Dek Afi adalah manusia yang lembut, tapi manusia itu memiliki semangat dan keinginan yang lebih kuat dari besi. Ia tak akan mudah dihancurkan atau dilumerkan. Akan tetapi ada dua cara untuk “membesikan” Dek Afi. Pertama ciptakan pengalaman menyakitkan yang tak terlupakan pada dirinya. Atau kedua, ciptakan kesetiaan tanpa harus dipertanyakan terhadap dirinya. Dan hari ini telah dilakukan oleh kedua pihak yang ingin membawa Dek Afi kedalam pertempuran dimana ia tak seharusnya hadir, perang antar orang dewasa.

Sebagai seorang penikmat sejarah yang tekun, Abu tak sepaham dengan Dek Afi. 500 tahun azan berkumandang di kota Madrid tapi sekarang hilang, agama itu bukan warisan semata. Ia adalah jalan hidup yang harus diperjuangkan, diyakini dan dilaksanakan. Itulah yang membuat manusia berharga. Tapi itu tak serta merta bahwa Dek Afi harus dipermalukan, dan dicaci maki atas pendapatnya. Setiap impian anak remaja yang dihancurkan, dikasari itu tidak baik. Memang benar Dek Afi sudah berumur 19 tahun yang sudah aqil baliq, akan tetapi kita tidak hidup di abad pertengahan dimana di usia 16 sudah menikah, dan diumur 27 sudah memiliki 10 orang anak. Kita hidup diabad 21. Ya, abad yang lucu dimana orang-orangnya diusia 30 tahun masih gamang untuk pindah dari rumah orang tua, apalagi menikah. Orang zaman ini belum mencapai tahap kedewasaan yang sama dengan orang-orang seabad atau dua abad lalu.

Tentang literasi, ini sebenarnya sulit. Di satu sisi memang Dek Afi mengakui dia meniru. Itu salah dan memang plagiasi. Tapi sekali lagi harus diingat, apa yang dituliskan oleh Dek Afi tersebut terjadi di ranah sosial media bukan jurnal ilmiah. Di satu sisi menerapkan kaidah-kaidah ilmiah secara rigid kepada sebuah status Facebook adalah konyol. Mengapa sekejam itu? Mengapa sekaku itu? Tidak bisakah kita lebih pemaaf, lebih membuka diri. Sejatinya tulisan di media sosial, blog bahkan website tidak bisa dinilai dengan standar ilmiah. Lucu ketika setiap penulisan ilmiah menolak mengambil referensi dari media sosial akan tetapi menghukumi layaknya pembimbing kepada seorang peneliti.

Bukan rahasia bahwa (banyak) para akademisi tidak menyenangi fenomena media sosial. Kenapa? Penelitian membutuhkan tenaga dan waktu yang panjang, standar serta birokrasi rumit dan melelahkan. Sedang media sosial dengan cepat menjadi viral, dan seolah langsung memberikan solusi. Mungkin itu bisa jadi benar. Banyak penelitian, jurnal bahkan hak cipta malah berakhir di arsip belaka (nasib paling buruk, tong sampah) yang tak tertenggok. Ketika hasil penelitian dipublikasikan masalah (sosial) yang dihadapi sudah selesai, dunia akademisi kerap terlambat.

Dipihak lain, ada upaya membenturkan kesadaran literasi, kesadaran berketuhanan (beragama), dan kesadaran berbangsa. Mengapa justru dianggap saling menghilangkan? Pengagum Dek Afi yang seolah menujukkan kesetiaan buta itu justru berlindung di balik sosok Dek Afi. Sebuah pembenaran membabi-buta dengan menonjolkan Dek Afi sebagai korban dan memposisikan lawannya sebagai “evil” dengan asumsi memang ketiga hal tersebut tidak boleh saling melekat. Padahal tidak! Menggunakan Dek Afi sebagai senjata untuk menghantam pihak lain pun tak kalah kejam, ketika pertempuran usai yang tersisa adalah seorang remaja yang terluka jiwanya. Maka tak bisakah kita mencari jalan tengah?

Bagi Abu pribadi pesannya jelas, “Perbaiki kesadaran literasi!” Tak ada sepakat boleh saja, tapi jika boleh seorang mister nobody ini menyimpulkan. Segala perdebatan hanya akan berakhir sia-sia dan melahirkan manusia keras kepala, jika kita semua tidak bertekad memperbaiki diri.

Tulisan ini tidak diniatkan menyaingi jurnal dan menjadi (terlalu) ilmiah, Abu menyadari bahwa ini hanyalah sebuah pendapat yang dituliskan dengan niat tulus. Mungkin bahkan hanya dibaca belasan orang, suara kecil yang tak diniatkan untuk mengubah dunia secara seluruh. Berangkat dari kesadaran bahwa setiap orang berhak banyak-banyak membaca, karena membaca adalah jendela dunia. Dan setiap orang berhak mengikat ilmu yang dimilikinya dengan menulis.

Mungkin kejadian ini memberi banyak hikmah. Sudah saatnya para akademisi menurunkan kadar arogansi, sudah saatnya para penggiat media sosial (termasuk Abu) memperbaiki kesadaran berliterasi. Atau pada pertempuran yang berbeda, sudah saatnya menghentikan tekanan besar kepada Dek Afi sedang pihak lawannya berhenti berlindung di balik remaja itu. Biarkan Dek Afi dengan ekspresinya, bisa jadi ia menjadi kembang wangi yang mengharumi negeri ini suatu hari, mohon jangan gilas dengan pertempuran kalian. Silahkan berperang secara pemikiran secara terbuka, perwira. Lanjutkan diskusi-diskusi sarat keilmuan, tanpa kebencian. Tak selamanya lawan adalah lawan, kita adalah manusia bukan perkakas perang.

Simak juga Petualangan Abu lainnya

Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Asal Usil, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s