TAKTIK ISTANA KOSONG IEYASU TOKUGAWA

Istana Kosong

Kastil Jepang Abad ke-16

TAKTIK ISTANA KOSONG IEYASU TOKUGAWA

Menjelang pertengahan abad keenam belas, ketika keshogunan Ashikaga ambruk, Jepang menyerupai medan pertempuran raksasa. Panglima-panglima perang memperebutkan kekuasaan, tapi dari tengah-tengah mereka tiga sosok besar muncul, seperti meteor melintas di langit malam. Ketiga laki-laki itu sama-sama bercita-cita untuk menguasai dan mempersatukan Jepang, namun sifat mereka mencolok satu sama lain : Nobunaga, gegabah, tegas, brutal ; Hideyoshi, sederhana, halus, cerdik, kompleks ; Ieyasu, tenang, sabar penuh perhitungan. Falsafah-falsafah mereka yang berlainan itu sejak dulu diabadikan oleh orang Jepang dalam sebuah sajak.

Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau?

Nobunaga menjawab, “Bunuh saja!”

Hideyoshi menjawab, “Buat burung itu ingin berkicau.”

Ieyasu menjawab, “Tunggu.”

Kisah ini merupakan kisah tentang laki-laki yang “menunggu” burung berkicau.

X

Tokugawa Ieyasu

Tokugawa Ieyasu

Ieyasu Tokugawa (Mikawa) vs Takeda Shingen (Kai)

Ieyasu kini berusia tiga puluh tahun dan sedang pada masa kejayaannya. Provinsinya dipenuhi harapan akan kemakmuran serta keinginan untuk memperluas wilayah, demikian hebatnya, sehingga para pengikut, baik tua maupun muda, para petani, para penduduk kota amat bersemangat. Mikawa (Provinsi Ieyasu Tokugawa) mungkin bukan tandingan Kai (Provinsi Takeda Shingen) dalam hal kekayaan namun dalam hal tekad, provinsi itu tak kalah sedikit pun.

Shingen “Si Kaki Panjang” kemarin masih bertempur melawan marga Uesugi penguasa Provinsi Echigo di perbatasan utara Kai, hari ini ia mengancam Mikawa. Ketika perbatasan Kai dan Echigo tertutup salju, pasukannya yang berkekuatan 30.000 didesak untuk segera mewujudkan cita-citanya memasuki ibu kota. Jalan paling mudah adalah menggilas Mikawa.

Ketika ancaman kian mendekat. Sekutu keluarga Tokugawa, kepala keluarga Oda mengirimkan surat kepada Ieyasu :

“Rasanya lebih baik jika Tuan tidak melakukan konfrontasi frontal dengan pasukan Kai. Aku berharap Tuan tetap tabah jika situasi menjadi genting dan Tuan terpaksa mundur dari Hamamatsu ke Okazaki. Kalaupun kita harus menunggu hari lain, aku yakin hari itu tak lama lagi.”

Ieyasu menjawab, “sebelum meninggalkan benteng Hamamatsu, lebih baik kita patahkan busur kita dan keluar dari golongan samurai!” Menerima balasan kurir Oda Nobunaga dan sang penasehat Toyotomi Hideyoshi bergumam mengenai kekeraskepalaan Ieyasu. Satu di antara tiga sekawan yang tidak terpahami. Dalam pandangan Nobunaga maupun Hideyoshi, provinsi Ieyasu adalah merupakan wilayah garis pertahanan. Ia dapat direbut kembali dikemudian hari, atau bertualang mencoba meraih wilayah baru. Tapi bagi Ieyasu, Mikawa adalah rumah. Perkara rumah adalah masalah hati, dan hati itu, terutama hati Ieyasu tidak bisa diubah semudah mewarnai ulang kain. Ieyasu menantang! Meski aliansi tak sepaham, Ieyasu tidak mengharapkan bantuan, tak perlu belas kasihan bahkan oleh sahabat sekalipun!

Ieyasu meneruskan persiapan dan berangkat menuju medan pertempuran, tanpa sokongan garis belakang. “Kadang-kadang aku merasa terlalu keras pada diriku, untuk menghilangkan perasaan bersalah atas apa yang aku lakukan. Dan ini adalah yang paling menyedihkan dari kisah ini.” Pikir Ieyasu.

Satu per satu, seperti sisir dipatahkan, laporan tentang kekalahan berdatangan. Shingen telah menyerang Totomi, saat bersamaan benteng-benteng di Tadaki dan Lida tidak mempunyai pilihan selain menyerah, di garis depan pertempuran, tak ada sejengkal tanah yang tidak diinjak-injak oleh pasukan Kai. Keadaan menjadi lebih buruk, ketika pasukan bantuan Ieyasu dibawah pimpinan Heihachiro Honda dipergoki oleh pihak musuh di sekitar sungai Sernyu, pasukan Tokugawa mengalami kekalahan total dan di paksa mundur ke Hamamatsu. Laporan yang membuat pucat semua orang di benteng, namun tidak Tokugawa. Di dera kemalangan dan penderitaan di usia muda, ia menjadi laki-laki yang tak membesar-besarkan kekalahan sepele, (bahkan) menganggap hal itu tidak ada apa-apanya.

Ieyasu memimpin pasukan keluar benteng Hamamatsu, maju sampai ke desa Kanmashi di tepi sungai Ternyu, dan menemukan perkemahan pasukan Kai. Setiap posisi berhubungan dengan markas besar Shingen, seperti jari-jari mengelilingi naf. Ieyasu pun berdiri di bukit dengan tangan terlipat dan melepaskan desahan kagum.Biarpun dari kejauhan, panji-panji di perkemahan utama Shingen terlihat jelas, kata-kata ucapan Sun Tzu yang tersohor, dikenal kawan maupun lawan.

“Cepat bagaikan angin, hening bagaikan hutan, bergairah seperti api, diam seperti gunung”

Diam seperti gunung, baik Shingen maupun Ieyasu tidak mengambil tindakan selama beberapa hari. Dengan sungai Ternyu di antara kedua perkemahan, musim dingin bulan dua belas semakin dingin.

XX

Ieyasu bukan lawan yang ringan, meski ia bermaksud memperlihatkan begitu. Tapi dalam pertempuran berikut, segenap kekuatan marga Takeda akan berhadapan dengan segenap kekuatan marga Tokugawa, mereka saling menggempur dalam satu pertempuran yang menentukan seluruh perang. Bayangan mengenai pertempuran itu justru memacu semangat tempur orang-orang Kai, begitulah watak mereka. Shingen memerintahkan putranya, Katsuyori menggerakkan pasukan mereka melawan Benteng Futamata (seberang sungai Ternyu) dengan perintah tegas tidak membuang-buang waktu. Ieyasu sendiri membawahi barisan belakang, tapi pasukan Takeda yang selalu berubah formasi kembali membentuk susunan baru dan mulai mendesak dari segala sisi. Sepertinya, sekali saja Ieyasu mengambil langkah keliru, ia terputus dari markas besarnya di Hamamatsu.

Salah satu prajurit Takeda mengibarkan cercaan, pasukan Tokugawa dikalahkan dan kocar-kacir. Benteng Futasama jatuh, pasukan Tokugawa dipimpin Honda Haihachiro mundur. Setelah itu pasukan utama Shingen melintasi dataran Lidani dan mulai memasuki bagian timur Mikawa.

“Ke Lidani!” Demikian bunyi perintah yang menimbulkan perbedaan pendapat di antara

Takeda Shingen

Takeda Shingen

jenderal-jenderal Shingen. Beberapa merasa was-was karena pasukan Oda telah tiba di Hamamatsu, dan tidak ada seorang pun mengetahui jumlah mereka. Shingen duduk di tengah para Jenderal. Matanya terpejam, ia mengangguk-angguk ketika mendengar pendapat anak buahnya, lalu berkata hati-hati, “semua ucapan kalian masuk akal. Tapi aku yakin bala bantuan marga Oda tak akan lebih besar dari empat ribu orang. Kalaupun sebagian besar pasukan Oda menuju Hamamatsu, orang-orang Asai dan Asakura yang telah aku hubungi sebelumnya akan menyerang Nobunaga dari belakang. Selain itu, sang Shogun di Kyoto mengirimkan pesan kepada biksu-prajurit, mendesak mereka untuk segera angkat senjata. Orang-orang Oda bukan ancaman bagi kita.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan tenang, “Sejak semula keinginanku adalah memasuki Kyoto. Tapi kalau aku melewati Ieyasu begitu saja sekarang, pada waktu kita berpaling ke Gifu, Ieyasu akan membantu orang-orang Oda dengan menghadang kita di belakang kita. Bukankah paling baik kalau Ieyasu dihancurkan di benteng Hamamatsu, sebelum orang-orang Oda sempat mengirimkan bala bantuan memadai?”

Pada malam hari, laporan mengenai pergantian arah pasukan Kai sampai di benteng Hamamatsu. Tepat seperti perkiraan Shingen, hanya ada tiga ribu orang di bawah Takigawa Kazumasu dan Sakuma Nobumori bala bantuan dari Nobunaga.

“Jumlah yang tak ada artinya,” komentar kecewa para Jenderal Tokugawa, Ieyasu tidak memperlihatkan kegembiraan maupun ketidakpuasan, ketika laporan demi laporan berdatangan, sebuah rapat perang dimulai. Tidak sedikit Jenderal Ieyasu yang manganjurkan untuk mundur sementara ke Okazaki, dan mereka mendapat dukungan para komandan Oda.

Hanya Ieyasu yang tak tergerak, tetap keras untuk bertempur. “Apakah kita mundur tanpa melepaskan satu anak panah pun, sementara musuh menghina provinsiku?” Ieyasu cukup paham bahwa ia tidak mungkin mengantungkan diri selalu pada sekutu, ia hanya boleh mempertaruhkan segala nasib pada kekuatan sendiri, bukan orang lain.

XXX

Di daerah Hamamatsu ada sebuah daratan yang lebih tinggi daripada daerah sekitarnya, lebarnya lebih dari dua mil, sedang panjangnya tiga mil-Mitagahara. Menjelang fajar pasukan Ieyasu meninggalkan Hamamatsu dan mengambil posisi di sebelah Utara, sebuah tebing terjal. Disanalah mereka menanti pasukan Takeda.

Pasukan Tokugawa membentuk formasi sayap bangau, sepintas mereka tampak seperti pasukan besar, tapi sesungguhnya garis kedua dan ketiga tidak memiliki kekuatan. Ieyasu dikawal oleh segelintir prajurit yang nyaris tak berarti apa-apa. Resimen mereka terlihat kacau balau, ditambah terlihat jelas bala bantuan Oda tak ingin bertempur. Lawan mengatahui hal itu! Suara Shingen menggemuruh, tak terperdaya oleh gertakan Tokugawa ia membentuk formasi seperti ikan, dan bergerak maju kearah pasukan Tokugawa, diiringi genderang perang.

Ieyasu terpesona menyaksikan gerakan pasukan Shingen, dan bagaimana pasukan itu bereaksi atas setiap perkataan yang diberikan, dikondisi terjepit ia berujar, “jika aku sempat mencapai usia setua Shingen, aku berharap mampu menggerakkan pasukan besar setrampil dia biarpun hanya sekali. Setelah melihat bakatnya sebagai pemimpin pasukan, aku enggan melihatnya terbunuh, walaupun ada yang menawarkan untuk meracun dia.”

Sekigahara Battle

Debu yang diterbangkan oleh musuh dan orang-orang mereka mencapai langit. Hanya pantulan matahari pada ujung-ujung tombak yang terlihat.

Debu yang diterbangkan oleh musuh dan orang-orang mereka mencapai langit. Hanya pantulan matahari pada ujung-ujung tombak yang terlihat. Pasukan Mikawa dan Kai telah saling maju, berhadapan. Pertempuran pecah dan suasana kacau balau. Dalam menit saja garis pertahanan Sakai Tadatsugu musnah ditangan pasukan Kai. Dengan bangga pasukan Kai melepaskan teriakan-teriakan kemenangan. Ieyasu berdiri di atas bukit, mengamati pasukannya. Kita kalah, ia menyadari kekalahan yang telak.

“Sakuma Nobumori dari marga Oda digulung habis. Takigawa Kazumazu terpaksa mundur sambil kocar-kacir, dan Hirate Kazumasa terluka. Tinggal Sakai Tadatsugu yang masih bertempur gagah berani. Takeda Katsuyori menggabungkan pasukannya dengan korps Yamagata dan mengepung sayap kiri kita. Ishikawa Kazumasa terluka dan Nakane Masateru serta Aoki Hirotsugu tewas. Matsudaira Yasuzumi memacu kudanya ke tengah-tengah musuh dan menemui ajal disana. Pasukan Honda Tadamasa dan Naruse Masayoshi mengincar pengikut Shingen dan berhasil menembus jauh ke dalam barisan musuh. Tapi kemudian mereka dikepung oleh beberapa ribu prajurit, dan tak seorang dari mereka kembali dalam keadaan hidup.”

Tiba-tiba Tadaihiro meraih lengan Ieyasu, dan dengan bantuan jenderal-jenderal lain, menaikkannya ke atas kuda. “Pergi dari sini,” setelah Ieyasu duduk di pelana dan kuda berlari menjauh, Tadahiro dan para pengikut lain menaiki kuda masing-masing, lalu mengikuti junjungan mereka. Hujan salju mulai turun mempersulit gerak mundur pasukan. Pasukan Kai membidik prajurit-prajurit musuh yang melarikan diri, melepaskan tembakan ditengah-tengah salju yang jatuh. Bagaikan gelombang pasang, pasukan Tokugawa mundur ke Utara. Tapi karena kehilangan arah, korban pihak mereka kembali berjatuhan. Akhirnya semua orang mulai mendesak ke satu arah, ke Selatan.

Ieyasu, yang baru lolos dari mara bahaya menoleh ke belakang, dan tiba-tiba menghentikan kuda. “Kibarkan panji-panji. Kibarkan panji-panji dan kumpulkan orang-orang,” ia memerintahkan. Malam mulai dekat, dan hujan salju semakin lebat. Para pengikut Ieyasu berkerumun di sekelilingnya , dan membunyikan sangkakala. Sambil melambai-lambai, perlahan para prajurit kalah itu mulai berkumpul.

Namun korps di bawah Baba Nobufusa dan Obata Kazusa dari Kai mengetahui pasukan utama musuh berada disana, lalu mendesak dengan panah disatu sisi dan senapan disisi lain. Mereka hendak memotong jalur mundur Ieyasu.

“Tempat ini berbahaya, tuanku. Sebaiknya tuan segera mundur,” Mizuno Sakon mendesak Ieyasu, kemudian berpaling kepada orang-orang, ia memerintahkan, “lindungi yang mulia, Aku akan menyerang musuh. Siapa saja yang ingin mengorbankan nyawa bagi yang mulia, ikuti aku.”

Sakon langsung menerjang kearah musuh, tanpa menoleh. Sekitar tiga puluh orang prajurit menyusul, memacu kuda masing-masing untuk menantang maut. Hampir seketika ratapan, teriakan, benturan pedang dan tombak bercampur dengan deru angin yang menerbangkan salju, membentuk pusaran raksasa.

“Sakon tidak boleh mati!” Teriak Ieyasu. Sikapnya tak seperti biasanya. Para pengikut berusaha mencegahnya dan meraih kekang kudanya, tapi ia menepiskan mereka dan waktu mereka bangkit, Ieyasu telah terjun ke tengah pusaran. Penampilannya menyerupai setan.

XXXX

Sambil memikul beban kekalahan, pasukan Ieyasu berbaris dan kembali ke kota benteng yang diselimuti salju. Satu penunggang kuda masuk, di susul satu lagi, kemudian berikut dan orang kedelapan Ieyasu sendiri. Ketika junjungan mereka terlihat pasukan di dalam benteng melompat-lompat kegirangan lupa diri.

Ieyasu  darah menempel di pipinya, dan rambutnya acak-acakan. Ia memerintahkan dayang menyiapkan makanan, setelah makanan tersaji ia segera meraih sumpit, tapi tidak segera makan malah berkata, “Bukalah semua pintu ke serambi.” Setelah ruangan dibuka, samar-samar terlihat sosok-sosok prajurit yang sedang melepas lelah diserambi, begitu Ieyasu selesai ia memerintahkan Amano Yasukage dan Uemura Masakatsu untuk bersiap-siap menghadapi serangan musuh. Komandan-komandan lain mulai gerbang utama sampai pintu utama ke ruang duduk, pikiran Ieyasu bercabang. Ia kurang pengalaman menghadapi Shingen, juga kekuatan. Biasanya ia mengatasi keterbatasannya dengan membuat konspirasi. Dan Shingen, adalah jenderal matang, tidak akan mempan.

Bendera Tokugawa

Bendera Tokugawa

Diambang kematian Ieyasu mengingat sejak berusia lima tahun, Ieyasu tinggal bersama marga Oda, lalu dengan orang-orang Imagawa, berpindah-pindah dalam pengasingan di provinsi-provinsi musuh. Sebagai sandera, saat itu ia tak pernah mengenal kebebasan. Mata, telinga, dan jiwa sandera tertutup, dan jika ia tidak berusaha sendiri, tak ada yang menegur maupun memberi semangat padanya. Walaupun demikian, atau justru karena terkungkung sejak kanak-kanak, Ieyasu menjadi sangat ambisius. Ia tak memahami perasaan kasih sayang yang sering dibicarakan orang lain. Ia mencoba mencari perasaan dihatinya, dan hanya mendapati perasaan itu bukan hanya sedikit, melainkan benar-benar tipis. Ketika Oda Nobunaga mengalahkan Yoshimoto Imagawa, ia merasa saat itu telah datang. Melepaskan diri dari Imagawa dan bersekutu dengan Oda, ternyata hari ini Takeda Shingen datang, ia tak sanggup mengungsi lagi, tak ingin ia mengulangi perjalanan hidup yang getir dan mengalami kesengsaraan seperti dahulu. Tapi bagaimana? “Jika aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan, maka lebih baik aku tidak memiliki apapun.”

Ieyasu keluar, para komandan walaupun dengan suara bernada tegang berusaha menenangkan Ieyasu dan membesarkan hatinya. Ia memahami dan mengangguk-anguk penuh semangat. Tapi ketika hendak bergegas kembali ke pos masing-masing, ia memanggil mereka, “biarlah semua pintu mulai dari gerbang utama sampai ruang duduk dalam keadaan terbuka.”

Strategi nekat macam apa ini? Perintah itu bertentangan dengan prinsip-prinsip pertahanan paling mendasar, pintu-pintu besi di semua gerbang telah di tutup rapat. Pasukan musuh telah mendekati kota benteng, mendesak maju untuk menghancurkan mereka. Ieyasu menambahkan seraya tertawa, “dan aku tidak sekedar ingin pintu gerbang benteng dibuka. Aku ingin lima atau enam api ungun dinyalakan di depan gerbang. Selain itu, api unggun juga harus berkobar di dalam tembok. Tapi pastikan kita tetap siaga sepenuhnya. Jangan bersuara dan amati gerak maju musuh.”

Mereka menjalankan perintah itu sesuai keinginan Ieyasu. Setelah mengamati pemandangan itu, Ieyasu kembali kedalam.

XXXXX

Tak lama kemudian, pasukan Kai dibawah pimpinan Baba Nobufusa dan Yamagata Masakage tiba di dekat selokan pertahanan, siap melancarkan serangan malam. Yamagata tampak terheran-heran. Baba pun merasa curiga dan menatap kearah gerbang musuh. Di sana, di kejauhan, ia melihat nyala api unggun, baik di dalam maupun di luar. Dan semua gerbang terbuka lebar. Mereka menghadapi gerbang tanpa gerbang. Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengusik.

Yamagata berkata. “Sebaiknya kita habisi saja mereka. Musuh begitu bingung, sehingga mereka tidak sempat menutup gerbang.”

“Jangan, tunggu,” Baba memotong. “Ieyasu adalah seorang penuh siasat, tentunya ia menunggu kita menyerang dengan tergesa-gesa. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada benteng ini, dan dia yakin akan kemenangannya. Ia memang masih muda, kurang pengalaman, tapi dia Tokugawa Ieyasu. Lebih baik kita jangan bertindak gegabah, agar tidak membawa aib bagi marga Takeda dan malah menjadi bahan tertawaan di kemudian hari.”

Mereka telah mendesak sedemikian jauh, tapi akhirnya kedua jenderal itu menarik mundur pasukan mereka.

Di dalam benteng, mimpi Ieyasu dibuyarkan oleh salah seorang pembantunya. Ia segera berdiri. “Aku tidak mati!” Ia berseru dan melompat gembira. Seketika ia mengirimkan pasukan untuk mengejar musuh. Tapi, sesuai dengan reputasi mereka, Yamagata dan Baba tetap menguasai diri di tengah kekacauan. Mereka mengadakan perlawanan, menyulut kebakaran di sekitar Naguri, dan menjalankan sejumlah maneuver brilian.

Orang-orang Tokugawa mengalami kekalahan besar, tapi tidak salah kalau dikatakan bahwa mereka telah memperlihatkan keberanian. Bukan itu saja, mereka berhasil menggagalkan rencana Shingen maju ke ibu kota, dan memaksanya mundur ke Kai. Banyak yang menjadi korban. Dibandingkan keempat ratus korban jiwa di pihak Takeda, pasukan Tokugawa kehilangan jauh lebih banyak prajurit. Korban di pihak mereka berjumlah seribu seratus delapan puluh jiwa.

Orang bijak yang memupuk kebijaksanaan dapat tenggelam di dalamnya. Memiliki banyak jejak (akan) lebih mudah diserang dibanding yang memiliki banyak kelemahan, jejak berserak akan terpetakan, dirunut ulang. Padahal si pembuat jejak besar kemungkinan telah melupakan apa yang ditinggalkan. Mendesak sedemikian jauh, tapi pada akhirnya (terpaksa) menarik mundur segalanya. Gerbang tanpa gerbang.

XXXXXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 52 Comments

MEMORI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Assosiasi Budjang Lapok, Pada Masa Puncak Kejayaan Organisasi.

MEMORI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Satu masa telah terlewati, benci dan rindu (pernah) merasuk di kalbu. Apa yang terjadi di masa lalu? Pasti ada banyak cerita, bukankah setiap orang memiliki satu dua cerita yang tak akan di bagi dengan orang lain.

Ada Apa Dengan Cinta Tembang legendaris

Ada Apa Dengan Cinta
Tembang legendaris

Ketika lagu-lagu popular di masa sekolah (dulu) menjadi tembang lawas (sekarang) dapat dipastikan perjalanan waktu seperti singa. Dulu (kita) merasa waktu adalah musuh orang muda, sekarang (kita) juga merasa tak terlalu dekat padanya. Selalu hidup merupakan repetisi, berjalan pelan dari hari ke hari. Manusia ditakdirkan untuk hidup, termasuk menjumpai diri dimasa lalu. mengingat setiap langkah dan keputusan yang pernah dilakukan dimasa lalu. Terkenang akan segala kebodohan yang pernah dilakukan, sesuatu yang membuat menangis sepuluh lalu, (akan) membuat tertawa di hari ini.

Ini adalah cerita ketika mereka bukanlah mereka yang sekarang, Assosiasi Budjang Lapok (mereka) lebih dari satu dekade lalu. Para pemuda tanggung yang duduk di bangku sekolah, belum saling akrab satu sama lain sebagai kesatuan. Salah! Jika membayangkan mereka tercipta dengan karakter sekarang, benih-benih (mungkin) ada, tetapi itu masih merupakan jalan panjang ke depan. Misteri yang para pelaku sendiri tidak tahu.

KOMPLOTAN

Pemeran :

Barbarossa

Amish (Khan)

(Tabib) Pong

Bertahun-tahun lalu (satu dekade plus satu), menjelang jam istirahat sekolah. Matahari bersinar terang, debu naik ke angkasa, siang yang gerah. Disebuah lorong sekolah yang membatasi perpustakaan dengan kakus. Tiga sosok anak manusia mengendap-endap melihat kiri kanan, situasi aman lalu berselonjoran di lantai, asal. Aljabar selalu membosankan bagi mereka, daripada menghabiskan waktu di kelas lebih baik menyegarkan pikiran sejenak. Begitulah kelakuan Amish, Barbarossa dan Pong (belum menjadi tabib).

Reza Rahardian sebagai Barbarossa

Reza Rahardian sebagai Barbarossa

“Aku selalu kesal melihat si abang Gahul dari kelas inti itu!” Barbarossa memainkan jarinya.

“Mengapa begitu bos?” Tanya Pong.

“Wajahnya yang sok, rambut panjang yang disisir rapi. Dan kalau berjalan, seolah-olah sekolah ini miliknya.” jawab Barbarossa.

“Lalu hubungannya dengan kita apa best?” Amish bingung dengan jalan pikiran teman sekomplotan, tidak ada yang salah dengan abang Gahul itu, asal tidak melaporkan ke guru tindakan mereka cabut pelajaran, maka tidak menjadi masalah bagi mereka.

Ksatria Baja Hitam Tontonan wajib belia sembilan puluhan

Ksatria Baja Hitam
Tontonan wajib belia sembilan puluhan

Sontoloyo kalian!” Maki Barbarossa. “Venus teman-teman! bukankah itu yang sangat aku inginkan! Aku merasakan bahwa pesona palsu abang Gahul telah menarik dia, menjauhkan Venus melihat ketampanan sejati milikku. Apakah kalian ingin melihat teman kalian ini menderita dengan sebuah cinta tak berbalas? Aku tidak menyangka kalian setega itu.” Tubuh Barbarossa bergetar ketika menyebutkan kata Venus.

Pong dan Amish saling memandang, sejatinya diantara mereka tidak ada bos. Jika Barbarossa dipanggil “bos” karena ia senang dipanggil begitu, jika saja mereka telah sedikit dewasa maka mereka akan menertawai betapa “hiperbola” teman mereka tersebut. Tapi tunggu dulu, saat ini mereka masih remaja tanggung, kepala mereka masih disesaki ide-ide tentang kesetiakawanan, entah itu baik atau buruk.

MTV Selalu diikuti Barbarossa

MTV
Selalu diikuti Barbarossa

“Abang Gahul masih sangat hijau dan tolol, hahaha.” Barbarossa tertawa. “Yang kita butuhkan hanya ancaman. Amish!” Panggil Barbarossa dengan gaya.

“Siap bos!” Jawab Amish tapi lidahnya dijulurkan, mengejek.

“Tolong sampaikan pada pesanku pada abang Gahul.”

“Kenapa harus aku? Kenapa bukan si Pong?”

“Goblok, diantara kita bertiga kamu yang paling preman! Ancamlah dia supaya jangan melirik-lirik Venus.”

“Kalau aku preman, pasti kepalamu yang aku pecahkan pertama. Karena mengatai aku goblok, dasar goblok!” Balas Amish.

“Lebih goblok lagi kamu! Prinsip nomor satu yaitu jangan pernah sekalipun meninggalkan teman, apalagi berniat memecahkan kepala teman.” Barbarossa mengaruk-garuk kepala karena kesal.” Barbarossa kesal. “Tolonglah Amish” Kemudian suara Barbarossa melembut.

“Selalu aku, selalu aku. Iya aku lakukan.” Roman Amish kesal, tapi menuruti.

Tora Sudiro sebagai Tabib Pong

Tora Sudiro sebagai Tabib Pong

“Aduh kalian, tak bisakah kita sedikit beradab? Mengancam itu tindakan barbar!” Tanya Pong.

Lonceng tanda istirahat berbunyi.

“Pong, Amish kalian tidak tahu betapa berartinya Venus untukku, “tolong laksanakan saja!” Barbarossa menatap halus menyuruh Amish pergi.

Amish beranjak pergi, tinggallah Barbarossa dan Pong.

“Tunggu saja Pong sesaat lagi kita akan berjaya, begitu aku mendapatkan cinta Venus. Kalian akan berkenalan dengan teman-temannya yang cantik. Dan kau Pong bisa melepaskan diri dari Hera yang possesif, cari pacar baru.” Barbarossa menarik nafas panjang. Ayo kita ke kantin Pong!” Ajak Barbarossa tiba-tiba.

“Kenapa tidak menunggu Amish dulu?”

“Memang kamu sanggup berlama-lama disini?” Ares balik bertanya. “Bulu hidungku sudah keriting disini mencium bau tak sedap.”

“Kau sendiri mengajak rapat rahasia di dekat kakus sekolah, ya pasti bau.” Pong tertawa.

Barbarossa pun tertawa ngakak, mereka berangkat ke kantin meninggalkan Amish yang melaksanakan permohonannya. Pong pun mengangguk, mereka pergi. Dan lupa dengan prinsip-prinsip kesetiakawanan yang tadi indah dibicarakan.

XI

Fauzi Baadila sebagai Amish Khan

Fauzi Baadila sebagai Amish Khan

Sebuah penyakit dari pikiran, Amish pikir dia seorang pemberani. Dan dimana penyakit muncul, dikuti hal-hal buruk. Catatan hidupnya penuh dengan tindakan-tindakan berani dalam anggapannya, demi kesetiakawanan. Ia rela menerjang siapa saja, siapa saja. Kali ini tugasnya adalah “melenyapkan” abang Gahul. Namun, ia beruntung hari itu. Abang Gahul tidak ada di kelas, keluar kata teman-temannya, segera bergegas ia kembali ke lorong tadi. Ia tidak menemukan dua sahabatnya, pasti ke kantin pikirnya. Dan benar saja, dua sahabatnya sedang makan mie, amboy enaknya. Baru hendak duduk dan melaporkan kepada Barbarossa, Pong bangun dan mengajak pergi. “Best Friend, aku belum makan.” Keluhnya.

“Ayo cepat kita bergegas, sebelum Hera menemukanku disini.” Pong buru-buru. Ia takut ditemukan oleh pacarnya yang possesif. Jika ia sudah “ditemukan” maka dapat dipastikan ia akan dikuasai dan terpisahkan dari komplotan ini.

Tamiya (Mobil) Mainan (Tabib) Pong dari waktu ke waktu

Tamiya (Mobil)
Mainan (Tabib) Pong dari waktu ke waktu

Pikiran Barbarossa terbelah, ia ingin mendengarkan hasil “pekerjaan” Amish. Tapi ia iba dengan Pong. Kasihan pikirnya, tidak ada yang lebih malang dari Pong diantara mereka, memiliki kekasih yang selalu ingin menempel padanya, untung mereka tidak sekelas. Pacar teman mereka yang satu ini tidak memiliki rupa yang elok, bahkan menurutnya Pong bisa mendapatkan yang jauh lebih baik, celakanya itu disadari juga oleh Hera. Kecemburuan dan rasa takut kehilangan membuatnya selalu mengawasi kemana pun sang “kumbang” pergi, dan itu mengesalkan! Hera memiliki kelakuan ratu, mampu mengusir semua lalat penganggu dari Pangeran Pong. Itu tidak masalah, tapi jika dipisahkan juga dengan teman se-partai Pong malas. Grup ini terlalu asyik. Ia selalu berlari setiap memiliki kesempatan, padahal Amish dan Barbarossa berulang kali menyarankan Pong untuk memutuskan Hera, tapi dasar Pong berhati lembut. Ia tak sanggup. Saran-saran beracun dari Amish dan Barbarossa juga yang membuat Hera membenci mereka berdua.

Akhirnya Barbarossa memilih Pong, dan berbisik. “Amish selesai makan kami tunggu di tempat biasa ya.”

“Sama nenek sihir takut. Itu ngaku preman? Oh ya, abang Gahul tidak ada dikelas tadi.” Amish kesal dan mengejek.

“Besok kan bisa.” Timpa Pong sementara wajah Barbarossa kecewa.

“Tidak ada besok kalau kalian tidak menemaniku makan sekarang.” Amish menunjuk dengan garpu.

Barbarossa gamang, tapi Pong menarik tangannya, mereka bergegas. Amish Khan meracau sendirian, tapi tak lama kemudian Hera datang. Matanya mencari-cari Pong, ia melihat Amish menundukkan wajah, pura-pura khusyuk makan, sampai Hera beranjak pergi. Ia menarik nafas panjang, mengusir kesal ia mengeluarkan kaleng tembakau. Melinting dan menghisap dalam-dalam di kantin sekolah, hanya Amish Khan yang berani.

PREMANISME

Pemeran :

(Mas) Jaim

Amish (Khan)

Geng Hitam dan Figuran lainnya

Aku laki-laki yang memiliki banyak kelemahan, pikirnya. Telinganya tak mendengarkan suaranya sendiri. Ia agaknya mendengarkan suara ribut orang-orang di kantin. Memesan ini dan itu, ia merasakan suaranya terlalu kecil sehingga diabaikan. Biasanya ia tak mengindahkan jangkauan suaranya serta tak ambil pusing dengan notasi. Hanya kali ini ia merasa mengkhianati harmoni. Namun kala kesialan menimpa ia merasa terhibur melihat seorang dengan kancing atas terbuka, memperlihatkan singlet cap bangau. Menghirup dalam lintingan tembakau di tengah kantin. Benar-benar seorang yang tak bermasa depan, berpotensi menjadi seorang tukang nasi bebek kelak. Tak peduli apapun. Orang tersebut merasa terperhatikan, tersenyum kemudian datang padanya.

“Amish.” Katanya seraya mengulurkan tangan.

Idris Sardi sebagai Mas Jaim

Idris Sardi sebagai Mas Jaim

Dengan terbata ia menjawab, “teman-teman memanggilku, Jaim.” Baru kemudian ia sadar belum memberikan tangan, mereka bersalaman. Amish memperhatikan Jaim sebentar, merasa tak menarik ia kembali ke sudut kantin melanjutkan sebatang tembakau lagi.

Ketika mengalihkan pandangan, saat itu ia merasa jarum detik seluruh jam yang ada di dunia berhenti berdetak. Ia melihat geng hitam, kelompok yang ia benci. Memeras dan memukuli siapa yang mereka anggap layak. Aliran darah disekujur tubuh menjadi dingin, jantung terasa berhenti berdetak ketika sang ketua tersenyum melihatnya, dan menuju ke arahnya.

Hallo Jaim, sudahkah kamu membayar upeti hari ini?” Seringai jahat dari ketua geng hitam diikuti tawa enam orang pengiringnya.

“Ah. Aku tidak punya uang.” Keluh Jaim.

Sepuluh tahun lalu, nilai Rp.500 lima kali dari nilai sekarang.

Sepuluh tahun lalu, nilai Rp.500 lima kali dari nilai sekarang.

Sang ketua menendang Jaim hingga tersungkur, suasana kantin mendadak sepi. Ia merangkak mencoba untuk bangkit. Sang ketua menarik rambut Jaim yang harga dirinya berserakan di lantai. Orang-orang hanya diam saja menyaksikan kejadian tersebut, dalam hati Jaim merasa terluka amat sangat.

“Haiyaaaaa… Haiyaaaa…” Sang ketua menikmati menindas Jaim.

“Tidak ada kebahagian yang dijaga dengan menginjak-injak kehormatan orang lain.” Tiba-tiba Amis sudah di depan mereka, menendangi enam penjaga ketua. Meludahi mereka satu persatu dan telah berhadapan dengan ketua geng hitam. Mata mereka bersiborok. Amish tak pernah berpikir panjang, maka segera ia menjotos muka ketua geng hitam, tak ayal ia tersungkur. Segera Amish meludahinya, memberikan tanda keramat di wajah orang tersebut.

Terhina, ketua geng hitam bangkit. Ketika seolah akan membalas, ia berbalik melarikan diri. Gerombolannya mengikuti di belakang. “Kelak segala penghinaan ini akan kami balas berlipat.” Mereka masih sempat melontarkan ancaman.

“Banyak orang hanya bisa berbicara, tanpa pernah berbuat.” Amish tertawa terkekeh sambil memegangi perut.

“Terima kasih.” Suara Jaim pelan.

“Santai best. Kita teman.” Amish memukul bahu Jaim.

Jaim tersenyum. Dalam pukulan keras itu ia merasakan uluran tangan yang di sodorkan dengan tulus, yang tak pernah ia rasakan sampai saat itu. Sebuah persahabatan, sebuah kepercayaan kerap tak terduga menyelesaikan hal yang tak terduga.

PERPUSTAKAAN

Pemeran :

(Tuan) Takur

Penyair

(Profesor) Gahul

Beberapa orang menyebutnya orang bijak, pujangga, kakek, dan ada juga yang menambahkan kakek-segala-tahu. Seorang anak muda dengan kualitas orang tua, namun sekuat tenaga menyembunyikan itu semua agar tak menjadi olok-olok. Namun sayangnya bakat muncul seperti alergi, ia otomatis timbul  seperti jerawat di wajah orang tersebut. Di siang yang menggelegak ini, di salah satu sudut paling sepi sekolah ini, perpustakaan. Takur (belum bergelar “Tuan”) mencari orang tersebut, pikirannya  dipenuhi dengan ketidakmampuan mengatasi masalah. Ia perlu pendapat seorang ahli, dan reputasi orang tersebut telah mendahului sehingga tidak dapat tidak (pasti) mampu memberi solusi padanya. Masuk ke dalam perpustakaan ia melihat hanya ada satu orang, ia terlihat membaca kitab, membolak-balik seolah memperlakukan harta. Pipi tirus dan wajah dipenuhi jerawat, tidak salah lagi. Ini adalah orang kondang yang sering menjadi puja dan puji para guru. Takur mendekat, namun orang tersebut berpaling, mengisyaratkan penolakan. Ia tidak suka diganggu ketika di dalam dunianya. Sungguh lucu bila Takur bersikap defensive dan menyerah, itu bukan tipe karakternya.

“Apakah kamu orang bijak yang memiliki banyak nama?” Ia menantang khas, sebuah sikap yang kelak masih ditemui ketika ia sudah dewasa.

Nicholas Saputra sebagai Penyair

Nicholas Saputra sebagai Penyair

Tanpa memalingkan wajah dari kitab yang ditekuni ia menjawab, “beta menyukai syair. Dan bercita-cita menjadi Penyair, karena kata adalah doa. Engkau boleh menyebut beta dengan sebutan Penyair.”

“Takur.” Ia menarik tangan kanan Penyair dan menjabatnya. Suasana tegang, jantung Takur berdegub kencang dan Penyair diam misterius. Dan inilah detik-detik kebenaran.

“Aku memiliki masalah. Menurut teman-teman yang lain kamu adalah orang bijak, dan mungkin kamu bisa menjadi menemukan solusi untukku.” Langsung pada tujuan, khas Takur. Penyair tersentak kaget karena sebuah cerita mendadak. Ia menutup kitab, mendengarkan.

Okan Cornelius sebagai Tuan Takur

Okan Cornelius sebagai Tuan Takur

“Beberapa hari lalu, Venus meminta aku menemuinya di belakang sekolah ketika pelajaran usai. Aku menemuinya, di sana ia menyatakan cinta kepadaku. Aku diam, persis kamu sekarang.” Takur memegang kepala menunduk. “Aku pikir, aku ini siapa? Aku bukan siapa-siapa. Lihatlah dia! Dia adalah yang tercantik di sekolah kita! Rasanya aku tidak percaya, tentu ada banyak lelaki lain yang menyukainya. Tiba-tiba, aku merasa tidak sepadan dengannya. Kemudian aku menolaknya.” Kata-kata Takur seperti bel meraung-raung kemudian diam.

“Terus.”

“Aku menyesal. Aku terburu-buru mengambil pilihan. Siapa yang tidak menyukai Venus? Bahkan kamu sendiri pasti tidak akan menolak perempuan secantik dia.”

“Dia bukan tipe beta,” Penyair menyiratkan wajah tersinggung. “Lalu apa urusan beta dengan masalah engkau?”

“Aku ingin kamu memberi saran, agar aku bisa merebut hatinya kembali. Harga dirinya terluka, dalam beberapa hari ini aku berusaha menemuinya untuk meminta maaf. Ia menghindariku. Bantu aku.” Pada hari yang paling frustasi Takur menjumpai, dan berkenalan dengan Penyair.

“Beta tidak mengerti perempuan. Tidak paham tentang cinta.” Bahkan Penyair membuang wajah kearah jendela.

“Tapi orang-orang bilang kamu tahu segalanya, bahkan kamu sampai dijuluki kakek-segala-tahu. Kenapa masalah seperti ini tidak tahu!” Takur terperanjat, emosinya mengelegak dan memukul meja.

Bahasa Indonesia Kitab (Pertama) dari Penyair

Bahasa Indonesia
Kitab (Pertama) dari Penyair

Sekali lagi Penyair miris mendengar penjelasan itu, jika saja masalah cinta semudah itu maka Takur tentu tidak susah payah untuk menemuinya, ingin ia membalas keras. Namun keibaan menahan kuat keinginannya. “Julukan adalah sekedar julukan teman, beta tidak mengetahui segalanya.”

Suasana hening, ternyata ada yang memperhatikan percakapan mereka berdua sedari tadi dari pintu perpustakaan. Ketika ia mendekat terdengar suara langkah yang bergema dalam kesepian ruangan. Ia tersenyum, wajahnya tenang, bersisir rapi. Ia memperkenalkan diri santun, nama terkenalnya adalah abang Gahul.

“Ini adalah kasus cinta yang ekstrem.” Abang Gahul dengan suara berat, itu seakan ikut merasakan penderitaan Takur, sekaligus bersimpati pada Penyair. “Tiga tahun aku mendalami masalah cinta, baru kali ini aku menjumpai hal semacam ini.”

Takur dan Penyair saling berpandangan. Satu bingung sedang satu lagi dongkol dilibatkan dalam masalah orang lain.

“Tapi jangan khawatir. Besok, sepulang sekolah aku mengadakan kursus cinta. Mungkin tidak sepenuhnya bisa mengatasi masalah kalian, namun bisa sedikit memberikan pencerahan.” Ia merogoh kantung, mengeluarkan dua lembar kertas diberikan kepada mereka.

Undangan Kursus Cinta oleh abang Gahul ; Demi kebaikan dan kebesaran sekolah. Aku, abang Gahul mengadakan kursus cinta. Merupakan kelas terbuka bagi mereka yang berkromosom XY. (Kelas kromosom XX menyusul). Tertanda abang Gahul.

Penyair terperangah seperti penonton awam tersesat dalam teori relativitas, sedang Takur girang bukan kepalang, rasanya ia ingin meloncat dari tempat duduk dan berdiri di atas meja mahoni kuno berusia puluhan tahun milik perpustakaan sekolah dan berteriak kencang, “Ini dia solusi yang aku cari!” Ia menyalami abang Gahul, menepuk-nepuk punggungnya. Dan hari itu adalah awal persahabatan antara Tuan Takur dan Profesor Gahul di kemudian hari.

KURSUS CINTA

Pemeran :

(Profesor) Gahul

(Tuan) Takur

Penyair

Barbarossa

Amish (Khan)

(Tabib) Pong

Ketua Osis dan Figuran lain

Pada waktu yang ditentukan, selepas pulang sekolah. Tampak Ketua OSIS,  Takur, Komplotan Barbarossa, Amish, Pong yang entah dari mana mendapat kabar tentang kursus cinta. Penyair juga hadir! Dan sekelompok anak kelas lain. Mungkin mereka penasaran dengan kursusnya abang Gahul, atau mungkin mereka menganggap cinta itu merupakan hal penting untuk diikuti kursusnya. Satu hal yang pasti aku semakin menyukai kelompok ini, menjadi sangat cinta karena mau menampung ide-ide gila seperti ini pikir abang Gahul. Sebagai Event Organizer, Takur adalah orang yang dipercaya mengelola acara. Setelah perkenalan mengesankan kemarin, mereka langsung akrab. Ya promosi (tambahan), ya mengatur set bangku termasuk menjadi moderator bahkan merangkap notulen.

Rizky Hanggono sebagai Professor Gahul

Rizky Hanggono sebagai Professor Gahul

Kelas dimulai ketika abang Gahul memasuki ruangan dengan langkah anggun, kemudian ia berkata, “Tidak boleh ada peserta tambahan setelah aku memulai materi, dan aku tidak menerima interupsi!” Katanya tegas. Dengan mengeluarkan sejumlah catatan abang Gahul mulai memasang aksi, ia mulai bereaksi didepan sedang Takur sebagai notulen disampingnya.

Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh, terima kasih saya ucapkan atas kesedian teman-teman mengikuti kursus yang mungkin hanya sekali ini. Maaf membuang waktu kalian yang amat berharga tapi yakinlah ini semua akan berharga bagi kalian,” seperti semua acara formal pasti harus diawali basa-basi yang membosankan.

“Apa itu ilmu Cinta?” Abang Gahul memandang peserta dengan gayanya yang khas sambil memandang kearah para peserta.

“Ilmu untuk bercinta,” seperti biasa Barbarossa sok tahu.

“Cinta ya cinta,” Amish menerka.

“Ssttt!” Menarik telunjuk kebibirnya, “sudah kukatakan sebelumnya, tanpa interupsi!” Abang Gahul mengingatkan.

“Tapi itukan berbentuk pertanyaan Don?” Protes Pong.

“Pertanyaan yang hanya aku yang boleh menjawabnya, mulai sekarang kunci mulut kalian semua!” Perintah pak dosen mata kuliah ilmu cinta.

“Kalau ada yang keberatan silahkan tinggalkan ruangan ini, atau aku yang pergi!” Tegas abang Gahul, ia ternyata tidak main-main.

Ketua OSIS mengeleng-gelengkan kepala tanda tunduk pada peraturannya, sedang yang lain tersenyum tanda setuju.

Album Bintang Lima Dewa. Lagu Terbaik, Risalah Hati.

Album Bintang Lima Dewa.
Lagu Terbaik, Risalah Hati.

“Ilmu cinta adalah cara untuk melupakan seseorang yang kita sukai apabila ia memang bukan jodoh kita.” Hadirin termasuk Takur kecewa dengan pernyataan abang Gahul, katanya kursus cinta mengapa sekarang disuruh melupakan? Aneh bin Ajaib. Penyair mulai bosan, diam-diam mengeluarkan kitab dari dalam tas, dan mulai membaca sejarah negeri-negeri di atas angin sejak zaman kegelapan sampai kebangkitan.

“Sedang untuk menarik perhatian lawan jenis yang diperlukan adalah pengalaman bercinta,” demi menjaga ritme abang Gahul terpaksa mengendurkan tekanan.

“Yaitu bagaimana melihat tingkah laku seseorang perempuan akibat tindakan dan usaha yang telah kita lakukan!” Wajah peserta kembali antusias.

“Perempuan adalah makhluk pemalu mereka tidak akan mengatakan terus terang menyukai kita, untuk itu kita sebagai laki-laki harus membaca tanda-tanda tersebut.”  Katanya memandang ke depan.

Kali ini dahi Takur yang berkerut, sepertinya teori abang Gahul tidak cocok dengan kondisinya. Barbarossa dan Amish tertawa terbahak dan menunjuk-nunjuk Pong, mengingat kasusnya (dengan Hera).

“Itu semua ada ilmunya, itu semua ada prosesnya.” Tambahnya, sekaligus memprotes hadirin yang riuh.

“Itu semua adalah inti orang bercinta dan atau dimabuk cinta,” abang Gahul tersenyum girang, hadirin fokus kembali.

“Menurut pengalaman bercinta orang-orang yang aku teliti, selama perempuan tidak pernah melanggar janjinya berarti bagi kita laki-laki selalu masih ada harapan,” semangat abang Gahul berkobar-kobar!

“Walaupun ia berkata ketus, walaupun seolah ia tidak memperhatikan kita. Tataplah matanya teman karena perempuan menilai laki-laki dari kekuatan  matanya,” abang Gahul membuat tanda V diwajahnya.

“Dan apabila kita sudah berusaha maksimal, tapi gagal juga maka yakinkan diri kalian bahwa dunia ini tidak selebar piring atau selebar kertas buku segi empat,” benar-benar perumpamaan terburuk yang pernah didengar, bahkan Amish yang paling barbar sekalipun merasa aneh.

“Paling tidak disaat kita tua, kita tidak menyesal karena pernah berusaha mendapatkan perempuan yang kita harapkan berada disisi kita saat itu.” Abang Gahul menutup materinya dengan bangga dan melirik kearah Takur, gilirannya menjadi moderator.

“Baiklah teman-teman sekarang waktunya sesi tanya jawab. Karena waktu sudah terlalu siang dan saya sudah mulai lapar. Maka pertanyaan dibatasi hanya satu saja, kepada panelis silahkan menujuk tangan!”

Beberapa orang menunjuk tangan, mata abang Gahul tertuju kepada Pong, seorang bangsawan seperti dirinya, pasti memiliki pendapat brilyan.

“Silahkan saudara!”

“Jadi apa maksud kursus cinta ini?” Wajah Pong memendam kejengkelan terhadap kursus cinta yang dianggap sudah membuang waktunya.

Maka bukan abang Gahul, kalau tidak bisa menguasai keadaan.

“Pertanyaan yang bagus saudara,” ia tersenyum. “Untuk menjawabnya saya akan menggunakan perumpamaan pohon pisang.” Seperti lagu Nia Lavenia saja, lihatlah pohon pisang jika berbuah hanya sekali.

“Kumohon abang Gahul jangan memakai perumpaan jadul itu. Itu sudah sangat zaman dulu, bahkan pada satu dekade sebelum hari ini.” Pikir Pong, ia terjangkit kemalasan kembali. Tak ingin menimpali (lagi).

“Pohon pisang bila ditebas dengan parang tumpul maka ia akan roboh, luarnya sehat tapi didalamnya hancur,” ia menarik nafas.

“Itulah yang dinamakan kematian roh!” Kata-kata abang Gahul menggelegar seperti filem horor.

Nokia Seri Awal Gadget mutakhir milik Profesor Gahul (Pada zaman dahulu)

Nokia Seri Awal
Gadget mutakhir milik Profesor Gahul (Pada zaman dahulu)

“Karena ia tidak akan bisa bangkit kembali, bandingkan apabila ia tertebas habis?” abang Gahul kembali mengajukan pertanyaan yang hanya boleh ia jawab. “Mungkin ia akan buntung, tapi disisa tubuhnya akan muncul tunas baru yang akan besar kembali.” Suara abang Gahul begitu syahdu.

“Maksud kursus cinta adalah sebagai laki-laki kita harus mengejar perempuan yang kita cintai dengan sekuat tenaga namun bila gagal jangan layu seperti pohon pisang mati roh. Bangkitlah!” Hari ini abang Gahul adalah bintang podium.

Wajah Pong tersenyum mengejek, para panelis terlihat tidak puas. Semua, kecuali Takur. Dilihat dari track record adalah suatu keberanian bagi abang Gahul untuk membuka kursus cinta. Walau ini hanya sekali dan tidak mungkin terulang untuk kedua kalinya, sungguh beruntung aku hari ini bisa mengikuti petuah empu Gahul. Pikiran Takur menari-nari dalam kursus singkat ini.

“Sudah kau catat semua ini sahabatku?” Tanya sang superstar kepada notula.

Celaka! Aku lupa! Keasyikan mengikuti materi membuat aku lupa menunaikan kewajibanku yang utama, dengan berat hati Takur menggelengkan kepala.

Alien Workshop Kostum resmi Tuan Takur

Alien Workshop
Kostum resmi Tuan Takur

“Tak mengapa sahabat,” abang Gahul memegang bahu sahabatnya tersebut.

“Sudah kuduga kursus ini terlalu istimewa sehingga semua orang terpana, besok berikan laporan tertulis padaku dan tolong wawancarai peserta tentang hasil materi hari ini. Kelas bubar!” Perintahnya.

Satu persatu peserta keluar, sembari keluar Barbarossa berbisik kepada Amish. “Bro, lupakan permintaanku untuk mengancam orang ini. Ternyata ia cacat mental.” Amish cekikikan, sedang Pong hanya bersenandung, “lalalala.”

Keesokan harinya, Takur mencoba mewawancarai seluruh peserta. Tidak ada yang mau berkomentar, kecuali penyair yang menulis pada secarik kertas. “Sejarah selalu berulang.” Nah lo, bahkan sampai satu dekade berikut. Baik (Profesor) Gahul maupun (Tuan) Takur tak kunjung paham maksud Penyair.

EKSTRA

Pemeran :

(Laksamana) Chen

(Mas) Jaim

(Mister) Big

Keharuman pasir dan laut lebih menyegarkan daripada tidur panjang. Tapi, angin Barat, angin paling ganas, berhembus dengan kecepatan maksimum. Bila ia mengamuk menjadi monster puting beliung. Permukaan air laut naik, dan suhu menjadi panas. Itulah kira-kira isi kepala pemimpi yang hampir gila karena frustasi. Seharusnya aku tidak terlalu cepat lulus sekolah, dan terjebak di sini tanpa arah yang jelas. Tahun lalu ia lulus, dan celakanya tidak lulus dalam ujian sekolah tinggi kerajaan. Menghabiskan banyak waktu di tempat tidur, ia bangun terlalu siang. Si bungsu merasa menjadi sasaran uji coba nasehat semua sanak keluarga. Ia bosan, dan memutuskan untuk mengikuti les ujian kerajaan. Bersama mereka yang juga tidak lulus ujian kerajaan tahun sebelumnya, dan juga mereka yang masih bersekolah namun sudah  mempersiapkan diri mengikuti ujian sekolah tinggi kerajaan.

Daniel Mananta sebagai Laksamana Chen

Daniel Mananta sebagai Laksamana Chen

“Untuk apa terlalu cepat menamatkan bangku sekolah, jika selepas itu kita tidak tahu hendak kemana.” Dalam hal ini Barbarossa kampret, tetangganya benar. Namun menjadi tidak benar ketika ia termakan bujuk rayu Barbarossa, “tenang Chen. Nanti sepulang sekolah kita bersama-sama ikut les, tokh aku tahun ini aku juga akan lulus.” Pada awal kesempatan memang mereka berdua mengikuti les, tapi cepat dan tepat Barbarossa mulai mangkir, meninggalkan dirinya sendiri dalam ruang empat kali empat ini. Sialan! Disinilah ia sekarang, mengikuti jam pertama les. Mata pelajaran Aljabar, dan merasakan ahli pada bidang ini. Setidaknya itu adalah penghiburan sedikit bagi jiwa yang sedang kusam ini. Tapi tak dinyana, dalam berjalannya waktu berlalu, rupanya kepala kalengnya cepat juga menangkap ilmu.

Spica (Nintendo) mainan wajib (Laksamana) Chen

Spica (Nintendo)
mainan wajib (Laksamana) Chen

Justru pria beraut manis manja yang duduk di depannya dan berpenampilan layaknya orang pintar serta selalu mengangguk-angguk kalau menerima pelajaran, ternyata lemot bukan main, namanya Jaim. Dia masih sekolah, mereka sudah berkenalan beberapa hari yang lalu. Jaim muncul ketika Barbarossa sudah tidak mengikuti les lagi, setidaknya ia memiliki teman baru. Jaim ini sangat naïf dan tak peduli seperti jalak kerbau. Jika kita menipu dan mengatakan kiamat besok, ia pasti akan bergegas pulang untuk menjual satu-satunya ayam yang ia miliki, bahkan meskipun sang ayam sedang mengeram. Dunia baginya hitam dan putih adalah sekeping jembatan papan lurus yang harus diteliti. Namun meskipun begitu, hatinya baik luar biasa. Ia penolong yang ramah. Pernah seorang ibu menangis kehilangan anaknya, Jaim menemani membantu mencari dan meninggalkan kegiatan yang sedang ia lakukan, segera tanpa pikir panjang.

“Aku mau pulang, kepala aku pusing. Aku mengantuk dan ingin tidur.” Ketika tentor Aljabar keluar, menjelang Ashar. Waktu istirahat, ia mempersiapkan diri pulang.

“Masih ada mata pelajaran bahasa asing. Jangan pulang dulu Jaim.” Chen merasa bosan jika Jaim terlalu cepat pulang, tapi Jaim bergegas. Mengucapkan salam, mengulang kata capek, pusing dan tidur lalu pergi. Bimbang, Chen memutuskan  tidak mengikuti pelajaran bahasa asing. Ia tidak ingin pulang dulu, tiba-tiba ia mengingat laut. Apa salahnya melihat matahari tenggelam, dan disitulah Chen menghabiskan hari, menatap bayang-bayang merah di angkasa sembari bernyanyi kecil.

Kejadian itu bertahun-tahun lalu (satu dekade plus satu).

Cristian Sugiono sebagai Mister Big

Cristian Sugiono sebagai Mister Big

Pada hari yang sama sebuah kapal berlabuh di pelabuhan Bandar. Seorang pemuda tanggung turun dari geladak, ia tersenyum. Seolah-olah ada sumur yang dalam di balik matanya, terisi berabad-abad ingatan dan pikiran yang lambat, panjang dan tenang. Tapi permukaannya bersinar-sinar dengan masa kini, seperti matahari yang bercahaya di atas daun-daun paling luar sebuah pohon besar, atau riak-riak telaga yang sangat dalam. Entah ya, tapi rasanya seakan-akan sesuatu tumbuh di tanah. Bisa dikatakan tertidur, atau merasakan dirinya sendiri, sebagai sesuatu di antara ujung akar dan ujung daun, di antara ada dan tiada. Hari ini Big pulang ke Bandar, setahun lalu ia menyelesaikan sekolah di negeri Tulang Bawang. Ia berencana mendapatkan penghidupan yang lebih baik disini, kepingan terakhir telah hadir.

Sejak hari itu, perlahan dan pasti masing-masing individu yang memiliki latar belakang berbeda berkumpul membentuk pola teratur yang berantakan, kelak dinamakan Assosiasi Budjang Lapok.

MEMORI

Pemeran :

Assosiasi Budjang Lapok (ABL)

Sekarang, di lepau nasi kota Bandar. Setiap hari ada pemandangan yang sama, ABL hadir dan berkelakar namun waktu yang menjadikannya berbeda. Ketika mereka berkumpul bersama-sama tanpa memikirkan kejadian buruk yang (mungkin) bisa saja menimpa, seolah itu akan meracuni kebahagian yang sudah ada ditangan mereka. Namun ada sesuatu yang menggusarkan mereka, baru-baru ini kekhalifahan mengumumkan bahwa tingkat kelulusan di Kerajaan Bandar adalah yang paling rendah di antara 33 Federasi Kerajaan, itu adalah tamparan keras bagi mereka yang pernah mengecap nikmat bangku sekolah di Bandar. Kerajaan Bandar, juara satu tapi dari bawah.

“Tahun ini adalah sepuluh tahun kita menyelesaikan sekolah, sepertinya asyik jika kita mengingat kejadian lalu. Sedang apa kita saat itu.” Kata Penyair.

“Setuju.” Mister Big tersenyum.

“Sebelas tahun bukan? Tahun kemarin iya sepuluh tahun.” Barbarossa masih acuh.

“Aduh.” Tabib Pong memegang kepala. “Sudah sebelas tahun ya.”

“Iya sudah sebelas tahun. Waktu itu kita semua belum terlalu saling kenal. Kira-kira dulu siapa yang paling di gilai wanita ya.” Penyair bersemangat sekali, mengingat ia tak terlalu mengenal para anggota ABL saat-saat itu.

“Barbarossa.” Tabib Pong. “Pertanyaan selanjutnya.”

“Siapa yang paling gigih mengejar wanita?” Penyair nyengir.

“Itu aku.” Jawab Pong tenang.

“Yang paling digilai wanita itu Pong, aku mana ada.” Barbarossa membantah.

“Aku sendirian kalau begitu, siapa kenal aku nun jauh disana.” Mister Big.

“Aku polos dan cupu yang kerjanya sekolah dan belajar.” Barbarossa.

Laksamana Chen menguap.

“Ya, kan benar Laksamana. Aku paling rajin sekolah.” Barbarossa.

“Iyalah lain apa mau bilang.” Laksamana Chen mendelik nakal.

“Aku baik, polos, penurut dan disiplin.” Barbarossa semakin tidak tahu diri.

“Barbarossa hanya berbicara tentang diri sendiri. Yang sudah jelas kita semua tahu bagaimana dia waktu sekolah.” Bantah Tuan Takur.

“Amish Khan yang paling preman. Di eranya, ia paling ganas, tanya Professsor Gahul kalau tidak percaya, dia saksinya.” Mas Jaim buka suara.

“Bukannya Mas Jaim yang pernah menjadi saksi keberingasan Amish?” Profesor Gahul membalikkan pertanyaan Mas Jaim.

Mereka tertawa terbahak bersama.

“Apa banyak tertawa semua. Pong kamu ingat Hera? Sekarang dia sudah punya dua orang anak.” Amish Khan membuka cerita lama.

Barbarossa merasa dia yang tahu kejadian di masa lalu memegang perut seraya menunjuk wajah Tabib Pong yang masam. “Kamu masih ingat Amish, dulu dia selalu lari melihat Hera. Untunglah sekarang ia selamat.” Tambahnya.

“Apa banyak omong best? Venus sekarang sudah punya anak satu. Ingat itu!” Amish menjulurkan lidah kepada Barbarossa.

Sekejap wajah Barbarossa memerah, Tabib Pong tertawa girang. Diam-diam Penyair melirik Tuan Takur yang hanya diam, hanya saja wajahnya menghijau.

“Sebuah generasi sudah berlalu, dan tidak lama lagi giliran kami yang mengirimkan anak-anak kami ke sekolah untuk sekolah. Barbarossa, Penyair dan Tabib Pong apa lagi?” Laksamana Chen kumat sifat bijaknya.

“Apa memangnya?” Tanya Penyair.

“Ya kawinlah! Bodoh kok dipelihara?” Amish Khan diatas angin.

“Kenapa cuma kami bertiga? Kenapa Profesor Gahul dan Mas Jaim tidak disebut?” Bantah Barbarossa.

“Kalau Profesor sudah punya calon. Tidak lama lagi.” Laksamana Chen mengkode Profesor Gahul yang tersenyum senang. “Kalau Mas Jaim, maafkan saya lupa.” Ia mememegangi mulut tertawa, kemudian menyalami Mas Jaim.

“Permohonan maaf diterima.” Jawab Mas Jaim diplomatis.

Sekali lagi, mereka tertawa bersama, hari yang gembira.

Sudah sebelas tahun, keadaan kota ini berubah sedikit. Jadi ini tempatnya. Sudah sebelas tahun berlalu, dan disini suasananya sama sekali tidak berubah.  Padahal banyak sekali yang kita alami kalau kita menenggok ke belakang

XI

Mungkin manusia menjadi dewasa ketika mampu mengatasi dirinya sendiri. Bahwa hidup adalah sebuah jawaban yang akan menimbulkan pertanyaan baru, seolah tidak akan pernah habis. Bahwa selalu ia memiliki hasrat, namun membendung dengan akal sehat. Ketika memilih, tak tahu apa yang akan terjadi disisa hidup. Mungkin dihinggapi gentar dan bimbang, namun siap. Sebuah pengakuan bahwa dalam hidup berkecamuk betul ketidak-betulan yang tak jelas arahnya, absurd.

Hormatilah masa lalu, kau tidak pernah mengetahui bagaimana masa lalu mempengaruhi dirimu.

XI

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 30 Comments

PENYEBAB KEMUNDURAN PERADABAN ISLAM

Ilmuwan Islam sedang mempelajari geometri

PENYEBAB KEMUNDURAN PERADABAN ISLAM

Apakah penyebab kemunduran peradaban Islam? Pelajaran moral selalu ditemukan dalam akibat dan hasil akhir. Namun, dalam masalah pembaruan, apa yang ditegaskan oleh sejarah adalah awal suatu dinasti, pembaruan itu berlangsung singkat, tertatih-tatih, dan segera di sapu bersih oleh angin tirani dan keinginan-keinginan pribadi.

Apa yang dikukuhkan oleh sejarah tentang era perang dan kekuasaan adalah setiap perluasan kekuasaan itu biasanya diikuti dengan pembantaian yang terkadang bisa menimbulkan keretakan dalam kekuasaan itu sendiri.

“Kamu mencari solusi? Padahal solusi itu lebih dekat dari urat nadimu sendiri.” Apa yang dimaksud solusi adalah kembali ke zaman dulu dan al-Khulafa ar-Rasyidun. Disini kita harus mempelajari dengan cukup hati-hati kemudian mengambil pelajaran memadai. Pengambilan sejarah sebagai model menuntut kita membuat perbedaan yang jelas antara bentuk Islam murni atau Islam sektarian yang sekarang tersebar luas. Islam pertama merupakan angin puyuh sejarah yang sebenarnya, yang menyalahi hukum-hukum alam dan aturan-aturan sejarah empiris. Kekuatan Islam awal pada dasarnya diambil dari doktrin kebenaran dan kemukjizatan Al-Quran. Hanya saja, Islam awal ini hanya bertahan satu dekade, Setelah itu Dinasti Umayyah berdiri.

Perpecahan umat Islam

Faktor pengendali agama pun menghilang, dan muncullah Islam lain dengan karakteristiknya tersendiri, terpecah-pecah, dan didominasi oleh berbagai kepentingan mahzab, golongan, dan kepentingan berbeda. Islam memasuki fase sejarah. “kerajaaan menggigit.”

Ketika menemukan perbedaan yang menyedihkan tersebut dalam kehidupan Islam, baiknya kita menahan diri melemparkan kesalahan terhadap orang-orang yang bertangungjawab (Dinasti Umayyah) maupun penerusnya belakangan. Memimpikan kembalinya bentuk Islam awal yang murni, dan kemudian menyadari amat mustahil diraih. Kita harus berusaha keras untuk memahami realita yang sulit diabaikan dan memahami perubahan terjadi dengan logika sejarah. Karena itu, ketika menghadapi persoalan khilafah yang rumit dan sensitif, lebih baik mengantungkan penilaian dengan memperhatikan setiap pilihan dari sudut pandang kebenaran yang dimilikinya. Itu didasari atas penglihatan terhadap perasaan dan keinginan sebagai dua kekuatan vital yang menyebabkan benturan dalam politik dan sejarah.

Pendek kata, sebagaimana yang tercatat, ketika periode agama awal menghilang dengan menghilangnya kemukjizatan-kemukjizatannya dan dengan meninggalnya para sahabat yang menyaksikan kemukjizatan tersebut, maka kualitas yang dimiliki oleh agama awal itu sedikit demi sedikit akan berubah, kemukjizatan lenyap, dan sistem pemerintahan akan biasa seperti sebelumnya (Pra-Islam).

Pernyataan di atas berdasarkan pada kenyataan. Untuk menghilangkan semua bentuk semua bentuk ketidakjelasan dan kerancuan, saya menegaskan bahwa dalam masalah ibadah, agama umat ini masih tetap Islam yang benar. Dalam masalah-masalah perdata, waris, dan wakaf, hukum tetap saja bersumber dari agama dan ajaran agama. Hanya saja, dalam cabang-cabang ini dan cabang-cabang yang lain, ijtihad yang mengontrol proses pengambilan keputusan, seraya memperhatikan kebutuhan dan kepentingan pada saat itu dan melaksanakan pendapat tokoh penting dalam hukum Islam dan Imam mahzab. Ini adalah fenomena hebat dan bijak, dan alangkah hebat dan bermakna.

Berbagai rezim mengatasnamakan Islam

Namun ketika muncul para ahli yang ingin menggabungkan antara Islam dan kekuasaan maka kita patut curiga. Pertama, seluruh dinasti Islam, baik Arab, Persia, Turki, Barbar, Mamluk, maupun Mongol (dimasa lalu) berlomba-lomba mengklaim mempertahankan esensi Islam dan mengikuti petunjuk-petunjuknya dengan benar. Meskipun demikian, klaim-klaim tersebut tidak menghindarkan dinasti-dinasti tersebut dari menimbulkan berbagai kesusahan dan menumpuk kesalahan dan kesulitan (Berbeda dengan era Rasulullah). Kedua, Islam yang benar hanya mendapatkan kesulitan bila dijalankan dalam koridor kekuasaan dan sebagai bagian dari politik professional. Di sanalah ditemukan benturan keinginan, harapan, dan nafsu, yang semuanya saling bertentangan. Dalam benturan seperti inilah al-Khulafa ar-Rasyidun terbunuh, kecuali khalifah yang pertama, Abu Bakar, yang meninggal secara alami. Ketiga, api Islam murni hanya dapat terus menyala di kalangan masyarakat. Kita menjadikannya argumen menghadapi para pemegang otoritas keputusan dan pengontrol pena, senjata dan harta. Kita menjadikannya sebagai dasar dalam menyadarkan nurani dan memperkuat kesadaran manusia atas nilai dan hak-haknya.

Politik adalah masalah amanat dan mandat. Wilayahnya terbatas antara permintaan tanggung jawab dan penjelasan. Orang tidak berhak menggunakan basis-basis politik untuk menjadi seorang penguasa dengan mengatasnamakan penunjukan tuhan atau sejenisnya. Jika itu terjadi, maka buku-buku sejarah akan terbuka bagi kisah-kisah rezim-rezim otoriter, yang sangat bertentangan dengan hukum-hukum nalar dan nash. Lihatlah zaman ini! Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan. Ini adalah gambaran yang jelas dan detil, sebuah topik sensitif. Jika dipahami dengan seksama.

Sejarah harus memiliki benih yang lebih baik dan berkualitas agar dapat mengubah kulit dan arah perkembangannya. Bila tidak, maka tidak ada fungsinya mengambil pelajaran dari sejarah. Kemajuan juga tidak bisa diharapkan dari pergantian sejarah. Kelemahan fundamental sebuah rezim pun terlihat sejelas siang, sehingga ia pun dihancurkan oleh kelompok baru, yang kemudian mendirikan rezim baru yang hanya memiliki peran mengulang kembali lingkaran bencana dan fase yang sama meskipun jangka waktu dan bentuknya berbeda.

Kitab Mukkadimah Ibnu Khaldun

Mengingat semua ini, kita hanya mengulang kata-kata Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah, “bahwa ketika kegeniusan berhenti, ambisi tidak ada, dan keingintahuan berkurang, maka cahaya akan pudar, harapan sirna, dan orang-orang mati memerintah yang hidup.”

Islam adalah solusi?

Kita tentu harus bersandar pada Allah untuk menghilangkan kesusahan ini, semoga umat yang bercirikan musyawarah ini, suatu hari memiliki pemerintahan yang didasarkan pada neraca keadilan yang tepat, dan dikontrol akhlak dalam semua aspek perilaku dan interaksi (bukan politik munafik). Semua ini adalah konsep-konsep  yang dibangun secara kuat (dari keluarga), memberikan bimbingan yang tepat tanpa harus dipaksa dengan prinsip-prinsip kesewenang-wenangan, dan (apalagi) kerakusan nafsu angkara yang (hanya) sekedar berkedok agama. Bukankah sebaik-baiknya pemegang pedang (kekuasaan) adalah mereka yang penyayang.

XXXXX

Beberapa opini lain:

  1. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  2. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  3. Apa Yang Machiavelli Lakukan; 1 Juni 2011;
  4. Sejarah Syahdu Sebuah Negeri; 16 Agustus 2011;
  5. Filosofi Gob; 10 Oktober 2011;
  6. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
  7. Mencoba Menafsir Makna Mimpi Buruk; 30 September 2016;
  8. Para Penyebar Kebohongan; 13 November 2016;
  9. Pengulangan Sejarah; 23 Mei 2017;
  10. Bom Bunuh Diri Untuk Kemenangan Siapa; 25 Mei 2017;
  11. Syariat Islam Siapa Takut; 9 Juni 2017;
  12. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
  13. Komunisme Dalam Perspektif Muslim; 30 September 2017;
  14. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
  15. Mampukah Puisi Mengubah Dunia: 4 April 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

MASA-MASA KEMUNDURAN ISLAM

Pertempuran Yarmuk (Arab: معركة اليرموك) pada Agustus tahun 636 menandakan gelombang besar pertama penaklukan muslim ke luar Arab

ORANG SAKIT DARI TIMUR

Pelajaran moral selalu ditemukan dalam akibat dan hasil akhir. Namun, dalam masalah pembaruan, apa yang ditegaskan oleh sejarah adalah awal suatu dinasti, pembaruan itu berlangsung singkat, tertatih-tatih, dan segera di sapu bersih oleh angin tirani dan keinginan-keinginan pribadi.

Apa yang dikukuhkan oleh sejarah tentang era perang dan kekuasaan adalah setiap perluasan kekuasaan itu biasanya diikuti dengan pembantaian yang terkadang bisa menimbulkan keretakan dalam kekuasaan itu sendiri.

“Kamu mencari solusi? Padahal solusi itu lebih dekat dari urat nadimu sendiri.” Apa yang dimaksud solusi adalah kembali ke zaman dulu dan al-Khulafa ar-Rasyidun. Disini kita harus mempelajari dengan cukup hati-hati kemudian mengambil pelajaran memadai. Pengambilan sejarah sebagai model menuntut kita membuat perbedaan yang jelas antara bentuk Islam murni atau Islam sektarian yang sekarang tersebar luas. Islam pertama merupakan angin puyuh sejarah yang sebenarnya, yang menyalahi hukum-hukum alam dan aturan-aturan sejarah empiris. Kekuatan Islam awal pada dasarnya diambil dari doktrin kebenaran dan kemukjizatan Al-Quran. Hanya saja, Islam awal ini hanya bertahan satu dekade, Setelah itu Dinasti Umayyah berdiri.

Masa-Masa Kemunduran Islam

Faktor pengendali agama pun menghilang, dan muncullah Islam lain dengan karakteristiknya tersendiri, terpecah-pecah, dan didominasi oleh berbagai kepentingan mahzab, golongan, dan kepentingan berbeda. Islam memasuki fase sejarah. “kerajaaan menggigit.”

Ketika menemukan perbedaan yang menyedihkan tersebut dalam kehidupan Islam, baiknya kita menahan diri melemparkan kesalahan terhadap orang-orang yang bertangungjawab (Dinasti Umayyah) maupun penerusnya belakangan. Memimpikan kembalinya bentuk Islam awal yang murni, dan kemudian menyadari amat mustahil diraih. Kita harus berusaha keras untuk memahami realita yang sulit diabaikan dan memahami perubahan terjadi dengan logika sejarah. Karena itu, ketika menghadapi persoalan khilafah yang rumit dan sensitif, lebih baik mengantungkan penilaian dengan memperhatikan setiap pilihan dari sudut pandang kebenaran yang dimilikinya. Itu didasari atas penglihatan terhadap perasaan dan keinginan sebagai dua kekuatan vital yang menyebabkan benturan dalam politik dan sejarah.

Pendek kata, sebagaimana yang tercatat, ketika periode agama awal menghilang dengan menghilangnya kemukjizatan-kemukjizatannya dan dengan meninggalnya para sahabat yang menyaksikan kemukjizatan tersebut, maka kualitas yang dimiliki oleh agama awal itu sedikit demi sedikit akan berubah, kemukjizatan lenyap, dan sistem pemerintahan akan biasa seperti sebelumnya (Pra-Islam).

Pernyataan di atas berdasarkan pada kenyataan. Untuk menghilangkan semua bentuk semua bentuk ketidakjelasan dan kerancuan, saya menegaskan bahwa dalam masalah ibadah, agama umat ini masih tetap Islam yang benar. Dalam masalah-masalah perdata, waris, dan wakaf, hukum tetap saja bersumber dari agama dan ajaran agama. Hanya saja, dalam cabang-cabang ini dan cabang-cabang yang lain, ijtihad yang mengontrol proses pengambilan keputusan, seraya memperhatikan kebutuhan dan kepentingan pada saat itu dan melaksanakan pendapat tokoh penting dalam hukum Islam dan Imam mahzab. Ini adalah fenomena hebat dan bijak, dan alangkah hebat dan bermakna.

Perang Shiffin (Arab وقعة صفين ) (Mei-Juli 657 Masehi) Menandai berakhirnya era al-Khulafa ar-Rasyidun

Perang Shiffin (Arab وقعة صفين ) (Mei-Juli 657 Masehi) Menandai berakhirnya era al-Khulafa ar-Rasyidun

Namun ketika muncul para ahli yang ingin menggabungkan antara Islam dan kekuasaan maka kita patut curiga. Pertama, seluruh dinasti Islam, baik Arab, Persia, Turki, Barbar, Mamluk, maupun Mongol (dimasa lalu) berlomba-lomba mengklaim mempertahankan esensi Islam dan mengikuti petunjuk-petunjuknya dengan benar. Meskipun demikian, klaim-klaim tersebut tidak menghindarkan dinasti-dinasti tersebut dari menimbulkan berbagai kesusahan dan menumpuk kesalahan dan kesulitan (Berbeda dengan era Rasulullah). Kedua, Islam yang benar hanya mendapatkan kesulitan bila dijalankan dalam koridor kekuasaan dan sebagai bagian dari politik professional. Di sanalah ditemukan benturan keinginan, harapan, dan nafsu, yang semuanya saling bertentangan. Dalam benturan seperti inilah al-Khulafa ar-Rasyidun terbunuh, kecuali khalifah yang pertama, Abu Bakar, yang meninggal secara alami. Ketiga, api Islam murni hanya dapat terus menyala di kalangan masyarakat. Kita menjadikannya argumen menghadapi para pemegang otoritas keputusan dan pengontrol pena, senjata dan harta. Kita menjadikannya sebagai dasar dalam menyadarkan nurani dan memperkuat kesadaran manusia atas nilai dan hak-haknya.

Politik adalah masalah amanat dan mandat. Wilayahnya terbatas antara permintaan tanggung jawab dan penjelasan. Orang tidak berhak menggunakan basis-basis politik untuk menjadi seorang penguasa dengan mengatasnamakan penunjukan tuhan atau sejenisnya. Jika itu terjadi, maka buku-buku sejarah akan terbuka bagi kisah-kisah rezim-rezim otoriter, yang sangat bertentangan dengan hukum-hukum nalar dan nash. Lihatlah zaman ini! Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan. Ini adalah gambaran yang jelas dan detil, sebuah topik sensitif. Jika dipahami dengan seksama.

Perang Saudara Suriah 15 Maret 2011 - sedang berlangsung sebuah konflik kekerasan internal yang sedang berlangsung di Suriah

Perang Saudara Suriah 15 Maret 2011 – sedang berlangsung sebuah konflik kekerasan internal yang sedang berlangsung di Suriah

Sejarah harus memiliki benih yang lebih baik dan berkualitas agar dapat mengubah kulit dan arah perkembangannya. Bila tidak, maka tidak ada fungsinya mengambil pelajaran dari sejarah. Kemajuan juga tidak bisa diharapkan dari pergantian sejarah. Kelemahan fundamental sebuah rezim pun terlihat sejelas siang, sehingga ia pun dihancurkan oleh kelompok baru, yang kemudian mendirikan rezim baru yang hanya memiliki peran mengulang kembali lingkaran bencana dan fase yang sama meskipun jangka waktu dan bentuknya berbeda.

Mengingat semua ini, kita hanya mengulang kata-kata Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah, “bahwa ketika kegeniusan berhenti, ambisi tidak ada, dan keingintahuan berkurang, maka cahaya akan pudar, harapan sirna, dan orang-orang mati memerintah yang hidup.”

Dilarang Ngangkang di Lhokseumawe, Aceh, Indonesia

Dilarang Ngangkang di Lhokseumawe, Aceh, Indonesia

Kita tentu harus bersandar pada Allah untuk menghilangkan kesusahan ini, semoga umat yang bercirikan musyawarah ini, suatu hari memiliki pemerintahan yang didasarkan pada neraca keadilan yang tepat, dan dikontrol akhlak dalam semua aspek perilaku dan interaksi (bukan politik munafik). Semua ini adalah konsep-konsep  yang dibangun secara kuat (dari keluarga), memberikan bimbingan yang tepat tanpa harus dipaksa dengan prinsip-prinsip kesewenang-wenangan, dan (apalagi) kerakusan nafsu angkara yang (hanya) sekedar berkedok agama. Bukankah sebaik-baiknya pemegang pedang (kekuasaan) adalah mereka yang penyayang.

XXXXX

Katalog Sejarah Islam:

  1. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 20 Desember 2008;
  2. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  3. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  4. Menelusuri Sejarah Salib; 30 April 2010;
  5. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  6. Politik Abu Nawas; 24 Juli 2012;
  7. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  8. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  9. Sultan Abu Nawas; 1 November 2013:
  10. Misi Mencari Abu Nawas; 7 Maret 2016;
  11. Tragedi Barbastro; 3 April 2017;
  12. Ketika Ibnu Battuta Melawat Samudera Pasai; 16 April 2018;
  13. Kebijakan Politik Islam Oleh Snouck Hurgronje Sebagai Saran Kepada Pemerintah Hindia Belanda Untuk Menghancurkan Kekuatan Islam Di Indonesia; 25 Juni 2018;
  14. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  15. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

AL-MUWASYSYAH

Kau memilih pagi, tapi cintaku kuberikan kepada malam. Dan firasatku mengatakan bahwa tak lama lagi malam akan pergi untuk selamanya.

Kau memilih pagi, tapi cintaku kuberikan kepada malam. Dan firasatku mengatakan bahwa tak lama lagi malam akan pergi untuk selamanya.

AL-MUWASYSYAH

di malam-malam yang membungkus rahasia cinta dalam kegelapan

jika bukan karena matahari-matahari yang menyilaukan

bintang gelas anggur condong, lalu tenggelam,

dengan jalannya yang lurus dan jejaknya yang tepat

saat tidur membuat kita senang atau seperti sinar pagi serang kita

laiknya serangan penjaga malam, meteor-meteor membawa kita turun

atau barangkali mata-mata bunga bakung membekas pada kita

 

catatlah pada suatu hari aku bermimpi melihat firdaus di tepi pegunungan hijau

aku masuk ke dalam kota melalui salah satu dindingnya

aku tidak berteriak dari atas atau menjatuhkan diri agar tak lenyap di dalam kota selamanya

sebaliknya aku menyebut zat yang memiliki nama terbaik (al-asma al-husna),

dan berunding dengan penjaganya yang gagah berani agar membolehkanku berkeliling

mereka menerima dengan syarat bahwa setelah aku meninggalkan kota itu,

mereka akan membuatku melupakan yang telah kusaksikan di dalam sana

 

demikianlah yang terjadi

aku melihat kota itu penuh dengan keajaiban dan hal-hal mengagumkan, yang tak terhitung.

aku melihat keindahan dan keadilan yang tak terlintas oleh mata,

tak terdengar oleh telinga, dan terlintas di hati manusia

jangan bertanya kepadaku detil apa yang kusaksikan

semua terhapus dari ingatanku

yang tersisa hanyalah kenangan aromanya yang semerbak dan murni

 

Bait Al Hikmah, 14 Rajab 1434 H (bersamaan 23 Mei 2013)

 

Secara etimologis, Al-Muwasysyah merupakan derivasi dari kata al-wusyah yang berarti kalung dari permata dan mutiara yang masing-masing dirangkai dan dihubungkan sedemikian rupa serta dipakai oleh wanita.

Posted in Cerita, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 11 Comments

ALIANSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Assosiasi Budjang Lapok, Pada Masa Puncak Kejayaan Organisasi.

ALIANSI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Kesialan akan mendatangi orang-orang yang menunggunya. Cara mengatasinya adalah menemukan kebahagiaan di sela-sela sempit antara bencana

Everybody changing, but old friends still same

Everybody changing, but old friends still same

Belum jalan sampai pertengahan tahun, Assosiasi telah kehilangan sebahagian besar anggota di lepau nasi. Mau-tidak-mau itu semua adalah hukum alam. Tepat disaat ketika ABL sedang menanjak ke puncak. Kemasyuran organisasi ini berdampak adalah dampak dari beredarnya selebaran tentang mereka, itu tidak bisa dikatakan baik seluruhnya. Dan untuk itu yang menanggungnya adalah mereka tersisa.

Nicholas Saputra sebagai Penyair

Nicholas Saputra sebagai Penyair

Mereka tersisa mau-tidak-mau semakin mengkerucut. Yang pertama adalah Penyair, dalam setiap organisasi sasaran tembak adalah pemegang pena. Seorang seniman kerap memiliki pemikiran aneh, tampilan lembut. Kata kata dari dekade terdahulu, memiliki reputasi baik. Jangan tertipu oleh penampilannya, dia memiliki kelebihan (atau kekejaman) yang tak disadari dan ia sendiri tak (mau) menyadarinya. Banyak mereka telah salah menilai bebatuan disini dan itu menjerumuskan dalam pikiran picik dan secara tidak sadar terjerumus dalam malapetaka. Seorang Penyair ber-mantra lebih berbahaya daripada seribu penyihir. Pemilik pertahanan terkuat.

Tora Sudiro sebagai Tabib Pong

Tora Sudiro sebagai Tabib Pong

Kedua, adalah seorang terlahir sebagai pangeran. Menolak mengakuinya namun diam-diam menikmati privilege tersebut. Seorang yang penuh rahasia, seorang cerdik pandai yang (kerap) mengaku pandir, ahli tipu-tipu. Dia memiliki jiwa yang lembut, dan itu adalah hal yang baik, seperti semua kejahatan memiliki pijakan. Ia yang tampan namun berwajah tak bersahabat, tipe seseorang yang telah mengalami pergulatan pikiran berat dan telah mengambil keputusan. Penyerang terbaik dari Assosiasi.

Reza Rahardian sebagai Barbarossa

Reza Rahardian sebagai Barbarossa

Ketiga, sang masterplan. Perancang skenario Assosiasi, pemilik wajah kebaikan dan kejahatan sekaligus. Seseorang yang tak memiliki satu karakter menonjol pada satu bidang, kecuali berbicara namun mengetahui secara umum (general) hampir keseluruhan ilmu. Seseorang yang memiliki tawa menyebalkan dengan gelombang longitudinal. Jangan tertipu gaya berbicara, terkadang pervert terkadang patriarch, ini orang tidak ragu mengorbankan siapapun demi kepentingannya. Licin sekaligus filosofis. Kapten dari Assosiasi.

Idris Sardi sebagai Mas Jaim

Idris Sardi sebagai Mas Jaim

Keempat, Mas Jaim. Memiliki senyum menawan, tak terduga dan humor aneh. Adalah seseorang yang tidak terukur kedalaman pikiran. Tidak pernah ingin menjadi pejuang, tidak pernah memimpikan darah dan perkelahian brutal. Baginya apa yang dilakukan untuk memperoleh rezeki itu yang dianggap penting, dan juga (tentu) keluarga. Dan demi itu semua, Mas Jaim adalah seorang pejuang, dan telah berkali-kali berjuang.

Rizky Hanggono sebagai Professor Gahul

Rizky Hanggono sebagai Professor Gahul

Kelima, seseorang yang paling banyak menghirup ilmu pengetahuan, namun selalu menahan diri mengungkapkannya. Seorang petualang dari Barat yang telah pulang, membawa cerita-cerita mencengangkan dari negeri nun jauh disana, dibalik kata-kata serampangan yang ia letupkan ada sesuatu yang dalam antara kebenaran, keyakinan dan cita-cita. Ditambah lagi, merupakan anggota ABL yang paling cerewet. Dialah, sang Professor Gahul.

Urutan satu sampai tiga tersisa adalah yang paling berbahaya, semakin berbahaya disetiap saatnya ketika mereka bersama. Mungkin karena usia, atau mungkin karena jumlah semakin susut. Belakangan ini percakapan semakin padat berisi, secara sadar ataupun tidak mereka melakukan tindakan illegal, re-group ABL menjadi Aliansi, dan itu adalah tindakan berbahaya!

X

Matahari petang memetakan bayang-bayang panjang dan sempit pada perbukitan rendah dan jauh di Barat menerangi permukaan bumi sehingga cakrawala seperti bayangan emas bergelombang.

“Dunia tak akan pernah lagi sama!” Keluh Professor Gahul mendapati hanya ada Barbarossa, Mas Jaim, Penyair dan Tabib Pong berhadir di lepau nasi menyambut kepulangannya dari Barat. Padahal ada banyak kerinduan kepada seluruh anggota ABL. Akan tetapi itu tidak menghalanginya bercerita banyak kisah dalam perjalanan panjang selama lima bulan, yang mendengar hanya menatap kagum cerita Professor Gahul, seperti ingin meninggalkan Bandar dan segera mengarungi dunia dibawah langit.

Kemudian Mister Big hadir selesai menyelesaikan menghitung karung beras dari gudang kerajaan, matanya mendelik kepada Barbarossa yang kabur dari tugas. Ia duduk, ia sangat letih telah bekerja sepanjang hari. Tak lama kemudian Tuan Takur juga datang, kali ini dengan wajah segar. Tuan Takur adalah yang paling dekat dengan Professor Gahul terus bertanya tanpa henti tentang petualangan Professor Gahul.

Sayang pertemuan itu tidak lama, ketika keremangan senja kian menggelap Mister Big dan Tuan Takur mohon diri, mereka telah (dan baru) menikah, tak baik pagi pengantin baru di Bandar menghabiskan Maghrib di luar rumah. Tentu saja beberapa anggota ABL terutama Grup Aliansi merasa kecewa,  ada ejekan disini.

Mendapat serangan bertubi, sebelum pergi Mister Big sempat melengguh, “Aliansi memiliki mulut yang tajam dan lancip ya.” Ia mendelik kepada Barbarossa, Penyair dan Tabib Pong. Kritik langsung pada ketidaknyamanan yang ia alami selama ini. Tuan Takur sendiri yang tak paham masalah berlalu riang.

Selepas Maghrib, Professor Gahul dan Mas Jaim juga ingin menyelesaikan beberapa urusan. Akhirnya yang tersisa adalah aliansi, Barbarossa, Penyair dan Tabib Pong. Disinilah inti cerita di mulai.

XX

“Tidakkah kalian merasa bahwa kita terlalu kejam terhadap mereka?” Tanya Tabib Pong. “Dan ini gila!”

“Apanya yang kejam?” Balas Barbarossa.

“Dasar tidak berperasaan! Tidakkah kamu merasa segala ejekan kita kepada anggota ABL yang telah menikah itu menyakitkan hati. Setiap bertemu Amish Khan, Tuan Takur dan Mister Big kita selalu mengejek. Syukur Laksamana Chen semakin jarang bergabung, kalau tidak dia akan kena juga.” Tabib Pong terlepas dari segala kelakuan adalah yang memiliki hati terlembut diantara kedua lawan bicara di depan.

Penyair tak ingin terlalu disalahkan sediri tadi hanya menyimak, kemudian bersuara. “mungkin kita merindukan mereka.”

“Memang!” Kata Tabib Pong. “Mungkin. Mister Big contohnya. Setelah menikah dia sudah lebih matang, atau semacamnya. Dia bisa lebih ramah, tapi juga mengagetkan, lebih bergembira, tapi juga lebih serius daripada dulu. Dia telah berubah, tapi kita belum punya kesempatan banyak untuk melihatnya.”

Agak terkejut dengan apa yang dikeluarkan oleh teman-temannya. “Well, kalau ada perubahan dalam diri mereka, perubahan itu semakin kentara karena kita jarang berbual bersama di lepau nasi seperti dahulu. Itu saja.” Sebuah semi-bantahan dari Barbarossa.

Mereka hening sementara dunia menggelinding berlalu di bawah kaki dengan hembusan angin semilir.

Mencoba mengusir gusar, Penyair berseloroh. “Inilah kita,  orang-orang akan berkata, ayo dengarkan kisah Barbarossa dan Assosiasi Budjang Lapok. Orang lainnya berkata, ia itu adalah salah satu dongeng favoritku. Barbarossa gagah berani, bukan begitu? Dibalas lagi oleh orang pertama bicara tadi, dia paling termasyur, dan itu artinya besar sekali.” Penyair berkata kemudian tertawa terbahak.

“Itu berlebihan,” Tabib Pong tertawa, tawa jernih panjang dari dalam hatinya. Suara semacam itu belum pernah terdengar lagi sejak lama. Seluruh lepau nasi sekonyong-konyong memperhatikan mereka bertiga.

Barbarossa menghiraukan seluruh pandangan, ia juga tertawa dan menambahkan. “Wah Penyair.” Katanya, “mendengar omonganmu entah kenapa membuatku gembira, seolah cerita itu sudah ditulis. Tapi kau melupakan salah satu tokoh utama : Penyair yang berhati teguh. Orang-orang akan berkata, aku ingin mendengarkan lebih banyak tentang Penyair. Mengapa mereka tidak memuat lebih banyak tentang omongannya yang sedikit kuno? Itu justru yang kusukai membuatku tertawa. Dan ABL tak mungkin lengkap tanpa dirinya.

“Nah, Barbarossa,” Kata Tabib Pong, “seharusnya kau tidak membalas kelakar Penyair, situasi kita serius!”

“Begitu juga aku melihatnya Tabib Pong,” Kata Barbarossa, “dan memang begitu. Kita bergerak terlalu lamban. Kau, aku dan Penyair masih terjebak di salah satu bagian terburuk di dalam cerita ini, dan sangat mungkin seseorang akan berkata pada titik ini, hentikan ceritanya. Aku tidak ingin membaca atau mendengarnya lagi.”

“Mungkin,” Kata Penyair, “tapi bukan beta yang akan bicara begitu. Peristiwa yang sudah berlalu dan dijadikan bagian dari cerita memang berbeda.”

Wajah kelakar hilang pada mereka bertiga, “kita mengenal teman-teman kita dengan cukup baik.” Seloroh Barbarossa.

“Cukup baik, sehingga kita merindukan mereka.” Tambah Penyair.

“Jika digabungkan kekuatan kita bersepuluh, tidak ada yang mampu mengalahkan kita, bahkan Warlords sekalipun.” Tabib Pong tersenyum sendiri setelah berbicara kemudian melanjutkan, “Kadang-kadang aku berharap tidak pernah dipertemukan dengan kalian, aku mengalami banyak hal yang belum pernah aku rasakan, aku banyak tertawa dan bertengkar dengan kalian. Dan keparatnya, aku merasa senang sekali. Padahal apa yang aku alami bersama kalian biasa-biasa saja, tapi aku tidak bisa menemukan kelompok yang lebih baik dibandingkan kalian. Dan lepau nasi sialan ini! Aku benci jika harus memasukinya tanpa kalian! Seandainya aku tidak pernah bertemu kalian semua, pasti hidupku lebih baik.” Tabib Pong berkata seolah-olah membenci yang ia katakan.

“Kalau Tuan Tabib mau mendengarkan saran beta,” kata Penyair setengah berbisik, “Tuan Tabib sudah saatnya mencari pendamping yang layak.”

“Bagaimana bisa! Sedang aku harus melanjutkan pendidikan Tabib yang lebih tinggi dahulu, dan itu makan waktu! Kamu sendiri Penyair?” Tabib Pong balik bertanya.

“Perjalanan beta menuju kearah itu masih panjang, masih ada cita-cita tertinggal.” Jawab Penyair lugas. “Bagaimana dengan dirimu?” Ia melirik Barbarossa. “Apakah jalanan pernah berujung bagimu?”

Tawa hambar terlontar dari sela bibir Barbarossa, “Aku melihatnya datang, tapi tidak dalam waktu dekat.” Ia memadamkan pipa, “Tabib Pong jangan resah, kau bisa mempercayai kami untuk mendampingi semua kesulitan sampai akhir yang pahit. Dan bisa mempercayai kami untuk menyimpan rahasia manapun, lebih rapat daripada engkau menyimpannya. Tapi kau tak bisa menyuruh kami membiarkanmu menghadapi masalahmu sendirian, dan pergi tanpa kabar. Kami adalah sahabat-sahabatmu. Bagaimanapun, begitulah. Kami sudah tahu sebagian besar dari apa yang kau khawatirkan. Kami juga sangat takut, tapi kami akan mendampingimu atau mengikutimu seperti anjing pemburu.”

“Hati-hatilah memilih pendamping! Dan hati-hatilah dengan ucapanmu, meski pada sahabat-sahabat terdekat! Musuh memiliki banyak mata-mata dan banyak cara menguping.” Penyair membenarkan sekaligus membantah pernyataan Barbarossa.

“Kalian berdua adalah bajingan penipu!” Kata Tabib Pong pada yang lain. “Tapi terpujilah kalian!” Ia bangkit dan mengibaskan tangan, memasang wajah gusar kemudian tertawa.

XXX

Tiap orang sebenarnya sadar, meski sedang bermimpi karena mimpi mereka bukan sekedar bayangan semu dan ketika terjaga mereka tak akan merasakan kesedihan karena tak ada lagi yang mereka ingat. Jadi mimpi itu bukanlah sesuatu yang kosong

XXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 30 Comments

BUSUK

Syair bukanlah hanya kata-kata akan tapi kedisiplinan hidup

Syair bukanlah hanya kata-kata akan tapi kedisiplinan hidup

BUSUK

Seorang busuk dari sekumpulan terbusuk tak akan pernah bicara tentang kemurnian ide, dimana ia bagaikan emas. Seorang busuk hanyalah pencuri yang hati-hati dan mengenakan topeng senyuman penuh kasih. Dan jika memang kata-kataku manis percayalah ini semua adalah topeng angkara yang kukenakan.

Apa yang kuberikan tak akan pernah menjadi kenyataan semua bualan semata yang kan membuatmu terpedaya, dan percayalah jika kau masih bisa untuk percaya bahwa ku ahli padanya. Jika seolah kebaikan dalam kata-kataku maka dibaliknya kebusukan semata.

Jika engkau mengenalku sebaik-baiknya maka engkau menemukan seseorang hina yang ahli berkata-kata, sayangnya tak ada orang di dunia yang mengenalku sebaik diriku. Dan amanlahku mengacaukan segalanya, meniupkan segala tipu daya kepada siapa saja.

Dan bila kuberbicara bukan karena kerendahan hati melainkan kebanggaan amat sangat pada diriku sendiri, akan nafas khayali yang kutiupkan pada mata dan telingamu. Itu akan membutakan matamu dan mengacuhkan kata-kataku, yakin akan kelicikanku. Dan ku sungguh angkuh akan kelicinanku.

Jika engkau bersikeras membantah kata-kataku ini maka terpuaskanlah hasratku. Dengannya jerat yang terpasang berdayaguna. Dan bila engkau tak paham maksud kata-kataku ini maka tertawalahku akan keahlianku memperdaya. Aku!!! Adalah yang terbusuk diantara yang paling busuk.

XXXXXXXXXXXXX

Beberapa Artikel Lain:

  1. Menulis Haruskah Pintar; 26 Oktober 2009;
  2. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  3. Batas; 22 Februari 2010;
  4. Manusia; 18 Maret 2010;
  5. Teori Kemungkinan; 14 Februari 2011;
  6. Generasi Yang Hilang; 17 April 2011;
  7. Sejarah Syahdu Sebuah Negeri; 16 Agustus 2011;
  8. Filosofi Gob; 10 Oktober 2011;
  9. Makna Puisi Yang Hilang; 5 Januari 2011
  10. Heil Ceasar; 15 Maret 2012;
  11. Manifesto Politik; 27 Maret 2012;
  12. Ketika Sekolah Usai; 6 Mei 2012;
  13. Politik Abu Nawas; 24 Juli 2012;
  14. Gugatan Kami; 23 September 2012;
  15. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

CONTOH PUISI CINTA BAHASA BELANDA (MIJN HART BETEKENT VOOR JOU)

Dag en nacht stel je altijd voor
Stel je je gezicht voor

MIJN HART BETEKENT VOOR JOU

ik wil vragen
Omdat bloemen een lust voor het oog zijn
Beantwoord mijn vraag a.u.b.
Heeft de bloem een ​​eigenaar?

Omdat liefde in het hart verscheen
Omdat de waarheid niet altijd opduikt
Zodat de bloemen niet vervagen
Mag ik om een ​​takje vragen?

Wat maakt mijn hart zich zorgen
Je zult, oh droom
Ik zie een charmant gezicht
Zo word ik gevangen gehouden

Als u akkoord gaat
Laten we naar het hoofd stijgen
Om al het verlangen te genezen
Dag en nacht kunnen samen zijn

Ik zie een hemel vol sterren
Het licht is ver weg
Dag en nacht stel je altijd voor
Stel je je gezicht voor

Glimlach schat
Glimlach diamant
Om dit hart gelukkig te houden
Als ik je gezicht zie

Lokseumave, 29 maart 2007

vertaald uit poëzie “Maksud Hatiku Padamu”

Posted in Poetry | Tagged , , , | 38 Comments

HIKAYAT NARSIS YANG BERBEDA

Narsissus putra Cephissus

Narsissus putra Cephissus

LEGENDA NARSIS YANG BERBEDA

Akar lama telah berlalu kerap menghilang ketika sejarah tidak menceritakan semua, sangat (mungkin) terjadi sebuah legenda menjadi hikayat terkutuk. Mungkin belum diketahui, dan sudah saatnya diketahui. Ini dimulai zaman dahulu di Selatan Yunani, negeri yang tak akan dijumpai dimasa kini, melainkan hanya puing-puing. Pasar yang luas, terkenal dengan hasil sutra. Diberkati dengan air dari sungai dan anak sungai, penuh dengan karunia hasil bumi yang baik, damai dan sejahtera. Dibangun di daerah pegunungan, Kota yang sangat megah itu bernama Thebes, kota ini berdiri digerbang Yunani. Tapi tahun-tahun perdamaian dan kemakmuran itu tak berlangsung lama.

Invasi Persia ke Yunani (480–479 SM)

Invasi Persia ke Yunani (480–479 SM)

Perang Yunani vs Persia

Kota Athena ikut campur terhadap kekuasaan Persia di Asia Kecil, akibatnya terjadilah perang antara Kekaisaran Persia dipimpin oleh Darius I melawan negara kota Athena yang kecil. Secara luar biasa, pasukan Athena berhasil memenangkan pertempuran yang menentukan di Marathon pada 490 SM. Sepuluh tahun kemudian, Xerxes, putra Darius, berniat membalas kekalahan ayahnya. Xerxes memimpin pasukan besar menuju Yunani. Pada 480 SM, raja Sparta Leonidas bersama sekelompok prajurit menahan pasukan Persia di celah sempit Thermopilai, di Thessalia, selama tiga hari sebelum akhirnya pasukan Sparta pun dikalahkan. Ini memberi waktu bagi Athena untuk mengevakuasi rakyatnya ke pulau Salamis dan Peloponnesos. Persia memaksa orang Thessalia dan Boiotia (termasuk Thebes) untuk menjadi prajurit Persia. Kota Athena pada akhirnya dengan mudah ditaklukan namun kota itu sudah kosong karena sebagian besar penduduknya sudah melarikan diri.

Perang Yunani - Persia di teluk Salamis

Perang Yunani – Persia di teluk Salamis

Di bawah pemimpinan jenderal Themistokles dari Athena, pasukan Athena beserta Sparta dan sekutu mereka berusaha menghadapi armada Persia di Salamis. Pertempuran laut yang luar biasa, terjadi di Teluk Saronik, di sana armada Yunani berhasil menghancurkan dan menenggelamkan banyak sekali kapal Persia. Setelah kalah, Xerxes membawa sisa-sisa armada laut meninggalkan Yunani. Beberapa jenderal bersama sepasukan prajurit ditinggalkan di Yunani untuk berhadapan dengan pasukan Yunani di darat. Pasukan Yunani sendiri dipimpin oleh jenderal Pausanias dari Sparta. Pada 479 SM, sisa-sisa pasukan Persia diluluhlantakan di Plataia, dan jenderal terbaik Xerxes, Mardonius, terbunuh dalam pertempuran.

Kemenangan di Plataia menyelamatkan kemerdekaan Kota-Kota di Yunani dari penjajahan Persia, akan tetapi baik Athena maupun Sparta tidak akan pernah lupa akan pengkhianatan Thebes, meskipun terpaksa memihak Persia hukuman segera ditetapkan. Jenderal Pausanias dari Sparta menuntut setiap anak laki-laki Thebes yang dilahirkan pada tahun-tahun perang Persia harus dibunuh, kubu Athena tidak membantah. Dan ketika hukuman dijatuhkan, jerit para ibu membahana ketika bayi-bayi Thebes dilempar ke dinding benteng, yang sudah agak dewasa ditombak diluar benteng bersama pilu para bapak.

Kelahiran dan ramalan buruk Narcissus

Adalah ia putra Cephissus memiliki paras sangat rupawan diantara semua anak laki-laki Thebes, sehingga Jenderal Themistokles dari Athena merasa iba memohon pengecualian kepada sekutu Sparta. Jenderal Pausanias sudah terlalu lelah berperang menyetujui. Maka terampunilah ia satu-satunya putra Thebes generasi itu, Narcissus. Segala sesuatu memiliki sebab akibat, jiwa para orang tua yang menyesali kematian putra-putra mereka, membentuk kebencian pada dunia, pada Persia, pada Sparta dan pada Athena. Sebuah penyakit berawal dari pikiran, Bangsa yang dulunya perkasa tidak berdaya dan berkecil hati. Ketika mereka yang dibenci terlalu kuat ia pun beralih, membentuk api kepada satu-satunya anak yang selamat dari tragedi, Narcissus. Dan disinilah legenda ini bermula.

Tak seorang pun menyangka, bahwa ini adalah awal dari pertunjukkan tragis yang terjadi belasan tahun kemudian. Akan tetapi dunia selalu menyisakan pengecualian, Liriope ibu Narsisus merasa khawatir, terlalu banyak kemalangan menimpa Narcissus kecil. Mulai dari jatuh ke dalam sungai, racun yang disajikan dalam makanan semua seolah dilakukan dengan sengaja. Siapa dan apa? Terkadang kedengkian tak memiliki wujud, akan tetapi terasakan. Sesuatu yang tidak terlihat bukan berarti tiada. Meskipun Narsisus terus selamat, akan ada masa keberuntungan itu habis. Saat itu di kota Thebes hiduplah seorang nujum ternama, Tiberias. Liriope datang padanya membawa Narsisus bertanya, “Apakah anakku dapat hidup sampai tua?”

Nujum itu memandang Narsisus menjawab, “Bisa, asal dia tak mengenal dirinya sendiri.” Awalnya kelegaan pada Liriope mendengar jawaban Tiresias kemudian kebingungan akan tafsir kata-kata sang nujum, sejak hari itu Narsisus seolah tidak melihat, mendengar apapun dan tidak mengatakan apapun. Sampai lama sekali ramalan itu seakan-akan tidak mempunyai arti apapun.

Tahun demi tahun berjalan, orang datang dan pergi di Thebes. Kota yang dulu sempat lenggang kembali ramai, perlahan orang-orang mulai melupakan tragedi Thebes. Ketika Narsisus berumur enam belas tahun semakin terlihat jelas keelokan rupa putra Cephissus ini. Ia disukai oleh banyak anak muda dan dicintai oleh banyak gadis, akan tetapi Narsisus mengacuhkan mereka. Penduduk Thebes berkata, ia terlalu sombong, tidak mau memperhatikan orang lain. Apa yang dialami di masa kecil membentuk ia tidak mempercayai apapun, ia menyukai berjalan-jalan di dalam rimba, sendirian.

X

Cinta Echo tak bersambut

Matahari petang memetakan bayang-bayang panjang dan sempit pada perbukitan rendah dan jauh di Barat menerangi permukaan sungai sehingga cakrawala tampak seperti bayangan emas bergelombang. Sambil menunduk di bawah pohon yang tumbuh di sana-sini rimba, Narcissus menegadah menatap ke sela daun, melihat bintang senja yang menghiasi langit bagai permata.

“Narcissus.”

Echo seorang peri hutan

Echo seorang peri hutan

Sambil mengerutkan kening, Narcissus bergeser ke samping. Ia terguncang melihat sumber suara itu. Echo!!! Kenapa aku harus bertemu dengannya pikirnya. Ada ketakutan di lubuk hatinya, ia menahan untuk memperlihatkan itu dan menjawab, “Iya Echo.”

“Aku senang akhirnya kamu menjawab panggilanku. Tahukah kamu? Selama ini aku selalu menunggu kamu membalas perkataanku selama ini.” Echo adalah seorang peri hutan, memiliki paras lonjong. Terkenal sebagai peri paling cantik di rimba tepi Thebes tempat Narcissus biasa bersunyi diri, Echo adalah kesayangan dari Dewi Athena.

“Aku sudah tua Echo. Tidak selamanya aku menghindarimu.” Narcissus terganggu, ia menyipit menentang wajah Echo yang selama ini ia hindari. Bagaimanapun seorang peri adalah seorang peri, mereka dikarunia paras mendekati sempurna. Pertemuan pertama mereka ketika Narcissus menyelamatkan Echo secara tidak sengaja dari panah seorang pemburu. Ia mengusir pemburu itu ketika hendak menangkap Echo, dan sejak itu ia selalu diikuti peri hutan tersebut apabila memasuki rimba.

Echo mendekat cepat, Narcissus mundur perlahan sampai jarak mereka sangat dekat, “Apakah kamu membalas cintaku?” Ia terkejut, di Yunani cinta adalah merupakan hal suci, ia berwujud kepercayaan tertinggi seseorang kepada seseorang lainnya, ia terkesima. Bagaimana mungkin itu semua diserahkan Echo bulat-bulat kepadanya, meski sudah mengaku tua Narcissus saat itu masih berumur enam belas tahun.

Narcissus tertarik, kemudian kedua matanya tiba-tiba melihat wujud sejati Echo. Ia ketakutan melihat dalam sepersekian detik dari mulut Echo keluar taring-taring besar. Peri adalah makhluk kuno, mereka berusia jauh lebih panjang dari manusia sejenis makhluk sihir yang diciptakan khusus melayani para Dewa-Dewi. “Tidak!” Narcissus tidak ramah, bagaimanapun ada selisih usia cukup jauh diantara mereka dan Narcissus tidak cukup gila untuk menerima cinta dari perempuan yang lebih tua, bahkan melebihi usia kakek neneknya.

“Tidak ada yang pernah menolakku!” Echo marah kemudian membujuk, “terimalah cintaku Narcissus, kelak kau akan diberikan keabadian. Aku adalah kesayangan Athena, apapun keinginanku akan dikabulkan olehnya.”

Dewa-Dewi Yunani, Narcissus membenci mereka. Kemana mereka ketika bangsa Persia menyerbu? Hanya bersembunyi di liang terdalam Olympus, setelah Yunani merdeka atas usaha sendiri mereka menuntut pengorbanan setiap tahun. Narcissus berpikir, mungkin mereka tak terlalu berkuasa. Hanya berumur lebih tua dengan pengetahuan purba, membuat mereka mampu memaksakan keinginan pada manusia, akan tetapi tak lebih. Kelak mereka juga akan mati, membusuk ditanah. “Aku tidak tertarik, yang aku inginkan adalah jauhi aku!” Tidakkah Echo berpikir, bahwa berumur panjang bukan berarti bernasib baik. Menyaksikan orang-orang yang kita cintai tua dan mati, setiap dekade harus membangun hubungan dengan manusia lain. Itu menyakitkan.

Echo mendengus, berkacak pinggang, “Sungguh kau manusia sombong! Bagaimana  caranya engkau hidup kelak menanggung kemurkaan Athena? Aku tawarkan sekali lagi kebaikan hatiku padamu.” Suara Echo melembut diujung.

Zeus, Athena, Apollo, Ares atau Dewa-Dewi lain selalu mendapatkan keinginan mereka. Membujuk, mengancam, mengutuk itulah terjadi sepanjang zaman. Narcissus muak dan berkata lantang, “Tidak!”

“Hati-hati Narcissus!” Echo memperingatkan menangis seunggukan berbalik tanpa melihat kebelakang. Betapa cinta seorang perempuan bisa sangat membahayakan.

Narcissus menjatuhkan diri, “apa yang telah aku lakukan?” Menantang peri kesayangan Athena, Dewi terkuat Olympus sama saja dengan mengundang malapetaka. Malam memperlihatkan bintang-bintang menghiasai langit bagai beludru. Dilubuk hati paling dalam, Narcissus merasakan ketakutan kuat menderat jantung.

XXX

Cinta yang terlarang

Bukan jenis kecantikan yang dipuja-puja penyair. Gadis ini lebih penting daripada wanita biasa, membuatnya menjadi objek misteri, kekaguman dan memikat. “Aku belum pernah bertemu seseorang sepertimu.” Keheningan yang terasa menekan menyelimuti rimba, Narcissus bisa mendengar detak jantungnya. Bahkan tak terdengar lagi suara burung pagi itu. Seorang perempuan menyandang busur diikuti seekor rusa jantan bernyanyi riang seraya berlari kecil dipinggir sungai. Seorang wanita muda yang cantik, pakaian yang dipakainya hanya sepanjang lutut, baju tersebut bordiran dibagian lututnya, dan baju yang pendek membuat ia mudah berlarian. Narcissus mendekati perlahan, hasrat yang dimiliki mengalahkan segala rasa takut. Perempuan tersebut menghentikan nyanyian melihat Narcisus. Terhenyak dan kepala dimiringkan, Narcissus memandang perempuan yang memiliki tubuh tinggi dengan pinggul dan payudara kecil tersebut. Dahinya yang tinggi menunjukkan dirinya adalah seorang Dewi yang angkuh. Ia mencondongkan tubuh kearah perempuan tersebut, mencoba mengingat, ia berbisik, sangat lirih, “Artemis?” Dalam kebudayaan Yunani Artemis adalah Dewi perburuan, alam liar, alam liar, perawan, dan perbukitan.

Artemis adalah dewi perburuan, liar, perawan, dan perbukitan.

Ketika Narcissus memanggil, spontan Artemis mengangguk. Kemudian ia memucat, dan mulutnya terbuka disusul tangannya menutup. Ia takjub sekaligus takut, mengoncang tubuh seakan baru terjaga dari mimpi buruk, “Siapa kamu? Mengapa kamu serupa diriku?” Sebelum Narcissus menjawab, Artemis menggerakkan kaki-kakinya yang panjang dan berlari. Narcissus bimbang kemudian berharap Artemis menoleh sekali ke belakang. Sebelum menghilang dibalik pohon, Artemis berhenti, berbalik dan tersenyum kepada Narcissus. Kemudian menghilang, Narcissus tersenyum bahagia, “Kita akan bertemu kembali.”

Ia tahu cintanya berbalas.

Peringatan Dewi Cinta

“Berhati-hatilah pada siapa kau jatuh cinta, karena takdir memiliki ketertarikan aneh terhadap keluarga kami.” Narcisuss berbalik, ia melihat seorang perempuan lain yang tak kalah cantik dari Artemis. Bahkan mungkin melebihi, namun kecantikan yang dipancarkan perempuan tersebut terlihat begitu dewasa. Narcissus terdiam, ia merasakan dibalik keanggunan menyeluruh dari wanita tersebut luka mendalam akibat pengkhianatan, tipu daya dan intrik. Ia menundukkan kepala, kecantikan perempuan tersebut akan menarik seluruh pria bahkan Dewa Yunani saling baku hantam tersebut malah membuat Narcissus takut, bukan sejenis rasa takut kepada yang mengerikan akan tetapi lebih kepada rasa takut pada kelam. Seumur hidup, hanya kali ini ia merasa inferior terhadap seseorang.

Afrodit adalah Dewi cinta, kecantikan dalam kebudayaan Yunani

Entah bagaimana perempuan tersebut sudah memegang pipi Narcisusus sementara tangan yang satu lagi menyibak rambut pirang anak tersebut, ia tersenyum merasakan ketakutan didasar diri pemuda Thebes tersebut, “jangan takut Narcissus karena aku Afrodit datang untuk menyelamatkanmu.” Afrodit adalah Dewi cinta, kecantikan dalam kebudayaan Yunani. “Putraku Eros berkata padaku, bahwa seluruh kuilku di seantero Yunani dipenuhi oleh para dara yang mendamba untuk kau persunting, saranku pilihlah salah satu diantara mereka. Maka kau akan mendapatkan kebahagiaan.”

Narcissus menjilat bibir, permintaan tersebut membuat ia gelisah, “Dewi, aku memutuskan untuk menolak, baik apakah ini sebuah saran ataukah paksaan”

Afrodit tertawa renyah seperti menggoda, “Narcissus engkau masih muda, kamu tidak mengetahui bahwa betapa keelokan rupa itu sungguh berbahaya. Karena kamu, para dewa takut akan menimbulkan perpecahan di antara para manusia, bahkan para Dewa. Narcissus, kau percaya pada Dewa-dewa?”

“Dewa yang mana? Kalian begitu banyak?”

“Yang mana saja. Semuanya. Apakah kau percaya ada kekuatan yang hebat daripada kehendak manusia?”

Narcissus berpikir sejenak, keberanian terurapkan sedikit demi sedikit. “Barangkali kalian memang ada, aku pernah melihat Artemis dan anda hari ini. Tapi jika memang kalian pantas disebut Dewa, aku tidak menghormati kalian karena membiarkan Persia menjajah Yunani.”

“Pada akhirnya Yunani mengalahkan Persia. Dan itu mungkin adalah instrument para Dewa, apakah engkau tidak memikirkan itu?”

Narcissus tertawa, “Kurasa bisa saja, tapi bagaimanapun pastinya mereka tidak peduli apakah kami hidup atau mati. Tentu saja tidak, untuk apa? Kalian Dewa.”

Afrodit tampak cemas, ia menarik diri. “Jadi engkau tidak menganggap dirimu bertanggung jawab kepada siapapun kecuali dirimu sendiri?” Afrodit menatap Narcissus selama beberapa detik, “Keelokanmu mengundang petaka, dan pikiranmu membawa malapetaka suatu hari. Dan pada hari itu aku sekalipun tak dapat menolongmu.”

“Afrodit, apakah aku orang yang jahat?”

Afrodit menggeleng, dan menghilang.

XXXX

Permufakatan jahat para Dewa

Aula Olympus. Malam itu, Ares gelisah. Mustahil baginya benar-benar rileks, mengetahui beberapa jam lagi Apollo akan kembali. Mengetahui pentingnya Artemis bagi saudara kembarnya. Menggunakan Artemis untuk kepentingannya akan mengundang pertempuran dengan Dewa Matahari seperti yang pernah dialaminya sebelum ini. Sekaligus ia berharap segera menyingkirkan Narcissus yang menjengkelkan, ia cemburu karena Afrodit selalu menyebut nama anak muda tersebut. Kedua pikiran itu menyebabkan ketegangan dari kepala sampai pangkal tulang ekornya. Semenit berlalu, semenit lagi. “Kuharap Apollo tidak segera kembali.”

Ares adalah Dewa Perang

“Ah, disitu rupanya,” sebuah suara berkata dibelakangnya, ia berbalik dan melihat Athena masuk. Athena adalah Dewi Kebijaksanaan, Perang dan kerajinan. Seorang wanita yang mengenakan baju perang, lengkap dengan perisai. Pada namanya kota paling makmur di Yunani dinisbatkan. Salah satu Dewi paling berpengaruh di Olympus sekaligus saingan paling dibenci oleh Ares.

Athena adalah Dewi Kebijaksanaan, Perang dan kerajinan

“Dasar licik, meninggalkanku untuk menunggu kepulangan Apollo dan membiarkanku kelak akan menahan murkanya.” Lelaki itu mengenakan celana hitam dan jaket berkancing satin merah gelap bertepi jahitan emas. Rambutnya yang panjang tertutup Helm perang membuat tampak sangat tampan bahkan mulia.

“Ada apa Ares? Seorang Dewa Perang takut kepada Apollo.” Athena menggeleng nakal, matanya menggoda. “Kita tidak menunggu Apollo melainkan Artemis.”

“Jika ia pulang?”

“Ia tidak akan pulang dalam waktu dekat, Echo mengatur kereta matahari milik Apollo tergelincir di Afrika, dan tentunya akan membakar kulit mereka. Bagusnya itu akan membuat Apollo kerepotan dan tidak bisa kembali cepat ke Olympus.”

Untuk pertama kali, Ares tampak terkejut. Kemudian sebelah bibirnya tertarik keatas. “Tentu saja seharusnya aku sudah tahu. Kamu begitu berbahaya, dan aku bersyukur tidak menjadi musuhmu saat ini.”

Lebih dari seperempat jam berlalu sebelum pintu terbuka. Artemis menyelinap masuk, kaki-kakinya yang bertelapak lembut tidak menimbulkan suara. Ia melangkah melewati Ares dan Athena, dia melompat ke sofa dan duduk disana. Ia mulai dengan mengambil apel dan mengigit manja. Masih tidak menatap ia berkata, “Aku bukan pesuruh yang datang dan pergi atas panggilan kalian. Dan aku sudah memutuskan tidak ikut dalam rencana kalian. Aku akui tertarik padanya, ia memiliki ketampanan tidak biasa. Bahkan melebihi Dionysus Dewa Anggur.”

Mmh. Suara gesekan lidah Ares semakin nyaring ketika ia berkosentrasi. Ia murka namun menahan diri.

“Aku tidak pernah menganggap begitu duhai Artemis. Kami hanya memohon bantuan darimu sedikit.” Kemudian Athena tersenyum manis, “baiklah jika engkau tidak membantu kami lebih lanjut, Artemis engkau adalah Dewi perkasa malah kami berterima kasih kamu telah merepotkan diri untuk masalah yang tidak penting ini.” Cuping Artemis kembang kempis, senang dengan pujian Athena.

“Yang ingin aku ketahui, apakah ia tertarik padamu?”

Artemis geram sekaligus geli. “Tentu saja, apakah kalian meragukan aku? Dia tertarik padaku seperti aku tertarik padanya. Kupikir aku jatuh cinta kepadanya, rambut, mata, tubuhnya mengingatkan aku pada diriku sendiri. Kami memiliki banyak kemiripan meskipun ia lelaki,” Artemis terdiam sesaat, “dan aku adalah seorang Dewi. Aku berpikir akan meminta Zeus menikahkan aku dengan Narcissus.” Matanya berbinar senang.

Ares mengenyit, ia mencengkram bangku. Athena tersenyum, “baik sekali Dewi pilihanmu, aku yakin Zeus akan menyetujui. Sayang saat ini ia sedang berada di Mesir, sepulangnya nanti engkau boleh mengajukan hal tersebut. Dan kupastikan akan mendukungmu.” Kalau saja yang berbicara bukan Athena, maka Ares akan mengamuk. Sudah cukup kecemburuannya karena Afrodit selalu membicarakan Narcissus, ditambah lagi ia akan dibawa ke Olympus, menjadi suami Artemis. Artemis yang belum memilih suami sampai saat ini. Tapi Athena selalu memiliki rencana. Mata Artemis berbinar-binar senang, ia bangkit dan menciumi Athena.

“Sebaiknya aku tidur sekarang, terima kasih kakak.” Ia melambaikan tangan dan masuk ke kamar, melewati Ares yang bermuka masam.

“Lihatlah Athena! Sekarang keadaan semakin kacau!”

“Tidak Ares, semua terkendali. Yang kita lakukan hanyalah segera melenyapkan Narcissus dan memanipulasi berita kematiannya sehingga tidak ada seorangpun yang tahu.”

“Kalau saja kau mendengarkan saranku dulu, bunuh saja! Apa sulitnya, ia hanya manusia biasa.”

Athena menatap Ares keheranan, “itu sangat tidak elegan.” Ia menggelengkan kepala, “percayalah kepadaku. Sekarang aku akan mencari Echo, ia adalah kepingan terakhir dari rencana hebat milikku.”

Ketika Athena beranjak pergi, Ares berkata, “kau hendak apa?”

XXXXX

Indahnya cinta pertama

Hal yang pertama disadari Narcissus adalah perbedaan pada warna-warna. Sejak ia jatuh cinta kepada Artemis. Bongkah-bongkah batu di langit tampak semakin bagus dari sebelumnya. Detil-detil rimba yang tadinya tertutup dari matanya sekarang tampak tajam dan jelas sementara yang tadinya menonjol tampak meredup. Setiap hari ia merasa senang berkeliling rimba dan berharap segera bertemu dengan Artemis. Di suatu hari ia keluar dari rumah dan bernyanyi riang. Suasana tiba-tiba hening didalam rimba, ia merasa ada yang tak biasa. Ia memutar tubuhnya, ia melihat Artemis disebelahnya, “Kamu cantik dan aku suka.” Narcissus merayu.

Pipi Artemis bersemu dadu, “Sekarang kau menggodaku.” Artemis mengeluarkan gelak kecil.

“Barangkali aku harus memanggilmu Putri saja, Putri Artemis.” Narcissus mengucapkan lagi, menikmati rasa kata-kata itu dilidahnya.

“Kau tidak bisa memanggilku seperti itu,” kata Artemis, lebih serius. “Aku bukan seorang putri.”

“Kenapa tidak? Ayahmu Zeus. Bagaimana mungkin kau tidak jadi putri? Gelarnya adalah Raja Para Dewa, sudah pasti kau bisa disebut putri.”

“Bukan berarti ‘putri’.” Sela Artemis. “Tidak ada persamaan antara putri manusia dan putri dewa.”

“Bukankah sama saja?” Tanya Narcissus.

“Tidak sesederhana itu.” Artemis tampak tidak ingin menjelaskan lebih lanjut, mengundang kekecewaan di wajah Narcissus.

“Sebuah perbedaan kecil saja sulit ditemukan jalan keluar, bagaimana bisa kita menikah?”

Artemis terkejut, “Berani sekali kamu Narcissus! Kita baru bertemu dua kali sudah mengajak menikah. Kamu manusia dan aku dewi, jelas perbedaan antara kita, kamu bahkan belum menjadi kekasihku.” Artemis tersenyum nakal melihat wajah Narcissus.

“Oh, sama sekali tidak mungkin ya?”

Dan Artemis tertawa lagi, “mungkin saja, namun pasti syaratnya berat. Sebagai Dewa tertinggi, ayahku pasti menolak seorang menantu yang tidak layak. Untuk itu kau harus membuktikan diri.” Narcissus tercengang, harapan yang tadi meredup hidup kembali.

“Apa syaratnya?”

Artemis mendekatkan bibir pada telinga Narcissus, membisikkan sesuatu. Setelah selesai Narcissus menaikkan alis dan menatapnya dengan ekpresi merenung. Rasa ngeri yang dingin menusuk Narcissus.

XXXXXX

Kutukan cinta Narcissus

“Kekuatan para Dewa dan Dewi Olympus bersandar pada sihir, dengan pengetahuan itu mereka dapat hidup lebih panjang daripada manusia. Selama mereka tidak sakit atau ada yang membunuh maka mereka bisa hidup sampai ribuan tahun. Zeus selaku Dewa terkuat bisa menerima manusia biasa masuk grup elit ini, apabila manusia tersebut membuktikan diri. Sihir terkuat adalah memanggil spirit, sebenarnya tidak sulit asalkan memiliki tekad yang kuat. Maka dengan mantra yang kuajarkan ini panggilah spirit yang hidup di sungai perbatasan Thebes dengan rimba. Jika orang-orang bergunjing maka nafikan, rahasiakan hal ini. Dengan kemampuan pikiran yang engkau miliki pasti akan berhasil. Dan tentunya Zeus pasti senang menerima dirimu sebagai menantu.”

Cinta bisa saja menjadi kutukan yang sangat mengerikan. Membuat buta akan kesalahan terbesar sekalipun dalam sifat seseorang. Keesokan harinya, Narcissus memanggil spirit di sungai. Tak lama kemudian, ia menjadi bahan pergunjingan. Narcissus gila, ia mencintai dirinya sendiri dengan memanggil pantulan bayangan sendiri. Orang-orang Thebes berkumpul disekeliling Narcissus mengingatkan, tapi ia tak terpengaruh. Ia tak puas-puasnya memandang ke dalam air, kemudian saat ia membungkukkan badan untuk membisikkan mantra yang diajarkan oleh Artemis. Ia terus mengulang hal yang sama, berulang kali.

Kematian Narcissus

Ketika petang menjelang penduduk Thebes kesal dan putus asa membujuk Narcissus dan pulang satu persatu. Narcissus masih saja setia memanggil-manggil. Memanggil spirit adalah sihir terkutuk yang dihindari oleh Penyihir manapun, spirit adalah sebuah kehendak yang  memiliki wajah kejahatan sekaligus kebaikan. Namun Narcissus tak pernah tahu. Menjelang malam, tiba-tiba spirit merasa kesal. Sebuah tangan muncul dari dalam sungai, Narsissus tersenyum ia mencari Artemis disekeliling. Artemis muncul dari balik pohon mendekati Narsissus, semakin dekat wajahnya semakin pudar berubah menjadi Echo! Ia dijebak!

Narcissus terkejut, menjadi lebih terkejut lagi ketika tangan tersebut menarik dirinya kedalam sungai. Semua yang ia lihat sembari meluncur ke dalam sungai, dalam detik yang singkat ia tersadar bahwa momentum melarikan diri adalah berenang sekuat mungkin ketepi sungai. Ia mencoba sekuat tenaga menembus lingkaran spirit yang memeluk tubuhnya di dalam air. Tapi ia melemah, putus asa dan kehabisan tenaga. Ia melayang-layang didalam air, perasaan terakhirnya adalah penyesalan, dan pikiran terakhirnya adalah Artemis. Selang satu jam kemudian, sungai melemparkan tubuh dengan wajahnya yang pucat membayang dipermukaan air yang tenang.

Kematian Narsissus

Kematian Narsissus

Ketika Afrodit tiba, semua peri hutan meratap sedih mendapati Narsissus tak bernyawa lagi. Yang paling berduka adalah Echo, ia tak menyadari rencana Athena adalah untuk membunuh Narcissus. Ia duduk disamping Narsissus dan tak henti-hentinya menangis sampai tertidur.

“Sudah aku katakan sebelumnya Narsissus, betapa keelokkan rupa akan mengundang petaka.” Sedih, ia mengucapkan sepatah dua patah kata. Tubuh Narsissus tidak terlihat lagi, ditempatnya sekarang tumbuh sekuntum bunga yang berbau harum. Kemudian hari bunga ini disebut dengan Nama bunga Narsis (Latin; Amarylidaceae). Afrodit pun menghilang.

Nama bunga Narsis (Latin; Amarylidaceae)

Nama bunga Narsis (Latin; Amarylidaceae)

Keesokkan harinya, Echo terjaga dan mendapati bunga tersebut. Ia tak dapat menahan kepedihan hatinya, ia dijanjikan oleh Athena apabila Narcissus dapat memanggil spirit, maka spirit tersebut akan mengubah Narsissus menjadi peri bukan membunuhnya. Kecewa, terkhianati sekaligus mengkhianati ia berjalan tak tentu arah ke dalam rimba dan akhirnya meninggal karena duka cita mendalam. Orang-orang Yunani kuno mempercayai bahwa suara Echo masih dapat didengar, apabila berjalan ke dalam hutan atau pengunungan. Bila berteriak, suara peri cantik itu akan mengulangi kata terakhir dari kalimat yang diucapkan.

Berhati-hatilah pada siapa kau jatuh cinta, karena takdir memiliki ketertarikan aneh terhadap kita.

XXXXXX

Narcisuss adalah subyek yang sangat popular dalam seni Romantik. Dalam psikiatri Freudian dan psikoanalisis, terminologi narsisisme merujuk pada tingkat self-esteem yang berlebihan, suatu kondisi yang biasanya adalah bentuk dari ketidakmatangan emosional.

Afrodit dianggap sebagai Dewi yang menghukum Narsissus, Eros atas perintah ibunya melepaskan anak panah cinta ketika Narcissus membungkuk untuk minum, ia melihat bayangan wajahnya sendiri dan jatuh cinta. Menyebabkan kematian Narsissus.

Artemis, saudara kembar Apollo. Dewi Olympus yang diketahui tidak menikah sampai peradaban Yunani kuno berakhir.

Athena dan Ares, selamanya menjadi musuh dalam kebudayaan Yunani kuno.

XXXXXXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 43 Comments

ENIGMA ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Adalah Enigma, teka-teki yang tak seorang pun mengetahui secara pasti cara memecahkannya.

“Enigma”, sebuah teka-teki yang tak seorang pun mengetahui secara pasti cara memecahkannya.

ENIGMA ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Mereka adalah orang-orang berbahaya, sering berdiri sebagai lawan dengan tujuan masing-masing. Bukan jenis persahabatan yang lazim, bukan pula persaudaraan cengeng mengikat. Akan tetapi lebih menyerupai rekan seperjuangan dengan harga diri. Itu, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya bisa dimengerti para ksatria yang telah melewati pertarungan bersama. Masing-masing memiliki senjata mematikan. Maka bayangkanlah jika mereka tidak pernah bersatu?

Assosiasi Budjang Lapok, terbentuk secara tidak di sengaja. Ketika cerita itu disajikan, waktu melambat perlahan. Di suatu malam penuh bintang di sebuah lepau nasi, seorang lelaki jalan berlengak-lengok menggunakan sebuah syal. Bayangkan menggunakan syal di negeri tropis! dan di lepau nasi! Bayangkan betapa kuat kepercayaan diri orang ini. Seseorang tertawa mengejek, Laksamana Chen. Pemuda dengan syal menantang mendatangi, beberapa orang merapat. Terjadi dialog, diakhiri dengan jabat tangan. Pemuda bersyal itu kelak dikenal sebagai Tuan Takur, dan sekeliling mereka satu persatu adalah Barbarossa, Mister Big, Tabib Pong, Santiago, Penyair, Profesor Gahul dan Amish Khan. Mas Jaim kelak bergabung belakangan. Embrio pun dientaskan, mungkin diantara mereka sebelumnya sudah bertemu dipersimpangan sejarah kehidupan akan tetapi itulah awal cikal-bakal Assosiasi Budjang Lapok sebagai organisasi terbentuk. Dan itu dua tahun yang lalu.

Okan Cornelius sebagai Tuan Takur

Okan Cornelius sebagai Tuan Takur

Tuan Takur adalah paling berjiwa muda di antara anggota ABL. Tanpa disadari  memiliki sifat semurni seorang remaja.  Seorang anak dapat bersikap kepala batu, dan batu itu alangkah keras. Jikalau sekali-kali dipukul akan terasa kekuatannya. Dan ia tidak menyadari kalau terkadang itu bisa sangat menjengkelkan. Tuan Takur terkadang tanpa sadar suka menyombongkan diri, menikmati hal-hal kecil seperti menceritakan diri sendiri. Akan tetapi Tuan Takur memiliki kualitas terbaik seorang sahabat yaitu memiliki kesetiakawanan tinggi, berhati lembut, pemaaf. Kali ini Tuan Takur terlibat pula dalam kampanye datang dan pergi bagaikan badai di kota Bandar. Sekali datang berhembus dasyat membawa lesus berwarna hijau di Januari, kemudian ekor puting beliung yang berwarna kuning di Maret, kemudian prahara berwarna merah pada awal April. Setiap ekor panjang berwarna dahsyat itu mengeluarkan suara gemuruh bagaikan Guntur tak mau berhenti. Iya, Tuan Takur segera menikah.

X

Awal tahun ini. Gundukan rendah bara berdenyut bagaikan jantung hewan raksasa. Sesekali percikan api keemasan menjilat keluar dan mengalir cepat pada permukaan kayu sebelum lenyap ke dalam celah-celah putih panas. Sisa-sisa api unggun yang dibuat Amish Khan dan Laksamana Chen untuk memanggang ayam memancarkan cahaya remang disekeliling area, menampakkan tanah berbatu, beberapa semak kelabu bagaikan timah, dan sekumpulan cemara di kejauhan, kemudian kegelapan. Barbarossa duduk, kaki diselonjorkan kearah gundukan bara. Mata Mister Big terlihat mengantuk bercakap dengan Professor Gahul. Di seberangnya Mas Jaim merajang bawang. Tuan Takur menarik dalam-dalam tembakau linting, sementara Penyair di buai alam mimpi sarungan diatas papan. Sudah lewat tengah malam, ayam belum juga matang. Suasana hening sesaat. Pohon berderit nyaring, membuat Tuan Takur ingin menggaruk telinga. Assosiasi sedang berkemah di kaki gunung, setelah suara nyaring tersebut sisa-sisa pohon itu tidak bersuara. Bahkan bara pun terbakar dalam kesunyian. Tiba-tiba Tuan Takur meloncat, “Mereka tidak akan menganggu kita.” Ia menunjuk kearah pohon yang tadi bersuara nyaring.

“Memang siapa mereka?” Tanya Mister Big.

“Mereka ada disekeliling kita.” Tuan Takur kembali duduk menarik nafas.

Kelewang "Amish Khan"

Kelewang “Amish Khan”

Amish Khan menaikkan alis, “Berat kawan kita, nanti kita beri siraman rohani.”

Assosiasi tertawa terbahak, suasana sepi terhapus. Penyair terbangun menggosokkan mata.

“Mari kita makan, ayam sudah matang.”

XX

Pedang "Tuan Takur"

Pedang “Tuan Takur”

Tuan Takur adalah keturunan pandai besi terkemuka di Bandar, akan tetapi ayahnya berhasil menjadi regent di sebuah kenegerian di Barat Daya Bandar atas usaha sendiri. Menjadi kalangan bangsawan terkemuka. Namun terlepas dari segala gelar yang diraih, ia berusaha setidaknya menunjukkan kepada dunia bahwa ia adalah seorang santun, rendah hati dan tidak memanfaatkan kedudukan yang dimiliki. Hasilnya kadang berhasil, kadang gagal. Memiliki dua kepribadian bertolakbelakang dalam satu jiwa membuat Tuan Takur memiliki kemampuan berubah-ubah setiap saat. Akan tetapi terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki ia tetap menjunjung nilai-nilai prinsip kehormatan. Sejujurnya, dia lebih layak di posisi tersebut dibandingkan kebanyakan lingkaran para regent lain di Bandar, berpakaian mewah namun berkelakuan seperti Babi. Ketika Raja Bandar berganti, para regent juga berganti. Ayah Tuan Takur mengundurkan diri secara terhormat, namun bagi Tuan Takur sendiri dunia tak akan pernah sama. ABL sendiri selalu menganggap Tuan Takur sebagai anggota penting secara disini semua orang sederajat. Bergabunglah maka anda akan dibantai dengan kata-kata berbisa, semakin keras pukulan maka semakin kuat kasih sayang yang ada. Namun  ada sikap-sikap unik muncul tanpa Tuan Takur sadari muncul pada dirinya, bermacam sikap tersebut dianalisis oleh Tabib Pong sebagai Post Power Sydrome.

XXX

Sebuah pikiran yang tak terbantahkan bahwa menyusun kepingan memori tidak lebih mudah di bandingkan membangun sebuah cerita. Tentu apapun itu, tiada kemampuan penuh menyeluruh menghindarkan dari ketidaksukaan padanya, apalagi sebuah kisah tentang mereka. Ada hal-hal yang tak terpahamkan disini, mengugah emosi para penikmat dan mengundang kecaman dari para kritikus.

XXXX

Tuan Takur terkenal dengan gerobak. Sebenarnya itu adalah sebuah kereta kukuh ditarik oleh kuda-kuda terbaik dari Arabia. Membuat kereta kuda itu dinamakan gerobak oleh Amish Khan adalah karena dibelakang terdapat bak terbuka yang dapat mengangkut hasil bumi dari perkebunan ayah Tuan Takur, unik dan tiada dua bahkan Laksamana Chen menyebut sepatu roda. Kita patut memahami pemikiran Tuan Takur senior dalam mendidik junior, agar menjadi pribadi kuat dan tahan banting sebagai pengganti kelak. Maka, itulah mengapa Tuan Takur sangat mengidolakan ayahnya. Semakin tinggi sebuah pohon maka semakin kencang pula angin berhembus, itu hukum alam. Pada saat Tuan Takur senior menjabat sebagai regent sebagai seseorang yang naik kelas, maka segera pula memancing ketidaksukaan banyak pihak, hati manusia memiliki banyak cabang. Cabang terbusuk adalah Iri dan dengki. Tuan Takur terkena imbas. Desas-desus beredar di Bandar, Tuan Takur adalah seorang playboy. Entah penghitungan dari langit, kabar burung menyebutkan bahwa ia memiliki 69 kekasih. Perangai berubah setiap saat ditambah reputasi buruk membuat Tuan Takur terkucilkan. Keberuntungan Tuan Takur adalah menemukan ABL, sebuah Assosiasi dimana setiap anggota sangat mencintai diri masing-masing tidak mampu ditipu dengan selentingan kabar tak jelas. Setiap orang di ABL memiliki masalah masing-masing, tak ada waktu memikirkan catatan buruk Tuan Takur tersebut. Waktu kelak membuktikan bahwa Tuan Takur lebih banyak menghabiskan waktu bermain-main bersama ABL sehingga dapat dipastikan kabar tersebut tak lebih dari fitnah belaka.

Sudahkan disebut bahwa Tuan Takur ini seorang pemberani? Jika belum ingatkan. Mungkin para pembaca belum mengetahui bahwa setiap anggota ABL adalah seorang pendekar, masing-masing memiliki ilmu silat mumpuni. Satu-satunya orang yang pernah menantang seluruh ABL seorang diri adalah dia, “kalian semua lawan aku!” Hasilnya Tuan Takur babak belur. Semangat dan keberanian itu patut diacungi jempol. Seusai laga biasanya Tuan Takur hanya bergumam, “kalian beraninya cuma main keroyokan.” Biasanya pula ABL malah menertawakan Tuan Takur.

Sewaktu ayah Tuan Takur mengundurkan diri sebagai regent, dalam sehari ada beberapa kali Tuan Takur menantang seluruh anggota ABL, saat itu Tuan Takur bersedih dimana kata-kata penghiburan tiada berguna. Dalam hal ini Laksamana Chen paling bersemangat, Tuan Takur dihajar habis-habisan. Pada duel terakhir, Tuan Takur berbicara pada diri sendiri, “Mereka semua baik ya, padahal aku masih luka tapi ia menghajarku tanpa ampun.” Setelah hari itu, Tuan Takur menemukan ketenangan melebihi penghiburan seribu kata.

XXXXX

Semua akan pergi memilih jalan masing-masing untuk menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Begitu juga teman yang lain. Bukan berpisah tapi memulai perjalanan baru. Bukan berakhir, tapi mengawali sesuatu yang baru. Memang mendengar itu rasanya kita akan kesepian, tapi begitulah kenyataannya.

XXXXXX

Palu "Mister Big"

Palu “Mister Big”

Pada hari yang berbahagia tersebut seperti telah disepakati sebelumnya Barbarossa menjadi pendamping Tuan Takur pada acara akad nikah. Amish Khan, Laksamana Chen dan Mister Big terlihat dikeramaian. Astaga, ceramah Tuan Kadi hari itu sangat panjang. Menjelang akad nikah dilaksanakan tidak ada anggota ABL lagi yang hadir. Tabib Pong, Penyair dan Mas Jaim sama sekali tidak terlihat batang hidungnya,  raut kekecewaan terlihat jelas di wajah Tuan Takur. Meski begitu putra kebanggaan ayah itu maju dengan gagah berani menghadap pak penghulu. Lafadz akad nikah yang diucapkan merupakan yang paling jelas, lantang dan paling penuh keyakinan di antara semua anggota Assosiasi yang telah menikah. Tuan Takur Senior menitikkan air mata bahagia, “anak ayah memang selalu membanggakan.”

Cambuk "Prof.Gahul"

Cambuk “Prof.Gahul”

Tuan Takur dikelilingi oleh Amish Khan, Barbarossa, Laksamana Chen serta Mister Big pun duduk disudut masjid ketika para undangan sudah berangsur pergi. Mereka membuka surat dari Professor Gahul. “Tuan Takur, kamu adalah seorang lelaki sejati. Saya bangga kepadamu. Salam Professor Gahul.” Hari ini adalah hari yang cerah, akan tetapi wajah Tuan Takur terlihat sedikit hambar. Mengapa yang lain tidak datang?  Apakah inti kami sedang diguncang?

XXXXXXX

Perisai "Tabib Pong"

Perisai “Tabib Pong”

Pada sebuah tempat di kota Bandar. Tabib Pong tertidur sangat pulas, ketika matahari mengenai wajahnya ia menggosokkan mata. Sayup-sayup terdengar azan Dhuhur, terkejut ia terbangun. Celaka! Ia memukul dahinya keras, melewatkan pernikahan sahabat bukanlah hal terburuk yang pernah ia lakukan. Tabib Pong merasa sangat bersalah, ia mengutuki kelalaian ini. Semalam ia mengobati seorang pasien yang terinjak kuda, luka orang tersebut sangat memilukan. Tabib Pong mengobati pasien tersebut hingga azan Shubuh. Kelelahan ia tertidur. Takdir Tabib Pong tidak bertemu dengan Tuan Takur.

Katana "Mas Jaim"

Katana “Mas Jaim”

Sedikit lebih pagi, Mas Jaim memacu kuda menuju tempat acara akad nikah Tuan Takur. Kudanya berpacu dengan waktu, ia baru bekerja sebagai kurir pada perkebunan dipinggir kota Bandar. Selesai melaksanakan tugas ia bersegera. Semua berjalan lancar, sampai tiba-tiba sebuah gerobak buah muncul memotong. Tak ayal, kuda Mas Jaim menghantam gerobak tersebut. Dengan sigap ia melompat ke arah rerumputan di samping namun nahas bagi Mas Jaim. Ketika mencoba berdiri, kepalanya berkunang-kunang dan tak lama kemudian ia pun jatuh pingsan.

Busur "Penyair"

Busur “Penyair”

Sehari sebelumnya di lain tempat, Penyair  mengendarai kuda poni pelan kearah Kerajaan Bandar. Ia dalam perjalanan pulang dari tugas mengantarkan hasil cukai pasar ke ibu kota Kekhalifahan. Saat ini musim hujan sedang menyirami seluruh negeri, meski begitu hujan deras disertai petir menyambar tidak menghalangi ia untuk tetap maju. Sayang, segala keteguhan hati itu ternyata harus berhadapan kenyataan bahwa jembatan putus di perbatasan negeri Bandar akibat arus air terlalu keras dari arah gunung. Kuda poni milik Penyair memang tidak dapat berlari kencang, tapi memiliki ketangguhan melewati sungai. Namun tetap saja ia harus menunggu sampai aliran  sungai tersebut berkurang, jika memaksakan Penyair dan kudanya akan terseret ke lautan. Sambil memaki sekali dua kali, ia mundur mencari penginapan terdekat, seraya berharap dapat gemuruh air segera berakhir. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Penyair baru memasuki Bandar setelah Ashar. Akad nikah Tuan Takur telah berakhir.

XXXXXXXX

Keris "Barbarossa"

Keris “Barbarossa”

Malam hari di kota Bandar. Barbarossa gusar terhadap kelakuan teman-teman yang tidak dapat berhadir pada akad nikah Tuan Takur, “Kalian harus meminta maaf! Tidakkah kalian menyadari bahwa kalian bertiga telah melanggar tradisi. Apapun alasannya kalian telah mengecewakan kami dan Tuan Takur!” Bagaimana bisa, ia menjadi satu-satunya anggota ABL yang belum menikah hadir dalam acara Tuan Takur. Ada kemungkinan ia menikah berikutnya, maka saat itu ia cemas tiada pendamping bagi dirinya. Laksamana Chen hanya menggelengkan kepala, sedang disisi lain Tabib Pong, Penyair dan Mas Jaim menunduk meringkuk di lepau nasi.

“Tolong sampaikan permohonan maaf kami kepada Tuan Takur.” Mas Jaim membuka suara.

“Beta memang tidak bisa, beta sudah berusaha tapi jembatan putus.” Sahut Penyair.

“Dalam hal ini, akulah yang paling bersalah.” Aku Tabib Pong.

“Sudahlah, kita ini sudah seperti saudara. Sesama saudara harus saling memaafkan, yang penting kalian harus menjelaskan ketidakhadiran kalian langsung ke Tuan Takur. Jangan sampai kalian dicap sengaja memboikot pernikahan dia.” Laksamana Chen mencoba bijak.

“Tentu tidak Laksamana Chen, beta rasa Tuan Takur cukup memahami bahwa kami yang tidak hadir bukan karena disengaja. Sekarang dia sudah menikah, jelas ia sudah dewasa.” Suasana hening di lepau nasi itu. Ketika dirasakan seolah malaikat lewat, beberapa remaja berkuda berkonvoi menggunakan sambil berteriak-teriak girang. Ujian Sekolah Kekhalifahan baru saja berakhir, generasi baru telah hadir. Penyair menatap rombongan itu dan berkata, “lihatlah anak-anak itu! Masihkah mengingat bahwa kita pernah seperti mereka, hari ini kita mengatakan mereka terlihat dungu. Akan tetapi siapa tahu? Kelak mereka semua akan mengalahkan kita.” Anak-anak tumbuh sangat cepat, mereka tumbuh besar setiap hari. Setiap menit dan setiap detik

Sekali lagi sepi menguasai mereka. “Mereka tidak datang?” Tanya Tabib Pong. Amish Khan, Mister Big dan Tuan Takur malam ini tidak hadir ke lapau nasi.

“Buat apa hadir ke lepau nasi kalau sudah ada yang memasakkan Pong?” Bukan menjawab Mas Jaim malah meracau. Semua yang rutin sekarang mulai berganti.

“Atau sekarang mereka menjadi suami-suami takut istri?” Praduga kejam Barbarossa.

Tombak "Laksamana Chen"

Tombak “Laksamana Chen”

Laksamana Chen tersenyum melengos. Mulutnya diruncingkan ke atas. Sebuah gaya khas meragukan kata-kata Barbarossa. Kemudian ia cekakan. “Ya sudahlah tidak usah dipikirkan terlalu! Kita makan nasi ini saja sebelum dingin. Tokh semua orang memiliki urusan masing-masing yang tak perlu orang lain tahu. Ingat itu!” Dunia tak akan pernah berubah jika kita tak bergerak, dunia selalu berganti setiap hari begitupun manusia.

Mereka tertawa, dan keheningan yang biasanya timbul ditengah percakapan kembali menyerang mereka, celah yang terbentuk akibat keletihan, keakraban, dan kebalikannya akibat sekian banyak pertentangan yang telah diberikan mereka yang sebelum ini telah menjadi kehidupan seiring sejalan tanpa pertentangan.

XXXXXXXXX

Maka ABL telah siap menyambut kesendiriannya selaku organisasi, dan kedamaian yang dialaminya sekarang justru ketika satu demi satu punggawa meninggalkan mereka. Ketidakhadiran suara-suara anggotanya, saling sahut menyahut termasuk suara mereka sendiri. Menjadi alunan nina bobo yang selama sementara bisa menghapus rasa takut menghadapi masa depan. Ya, masa depan! Adalah Enigma, teka-teki yang tak seorang pun mengetahui secara pasti cara memecahkannya. Hari ini Assosiasi mengabaikan masa depan dan minum secangkir teh serta bersuka ria selagi mereka memiliki kesempatan untuk menikmati dunia ini, (selagi bisa) bersama-sama.

XXXXXXXXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 32 Comments