WORDADS BUKAN SOLUSI MENGHASILKAN UANG

Read. see and feel it. Fill your logic as best you can.

WORDADS BUKAN SOLUSI MENGHASILKAN UANG

Bagaimana menghasilkan uang dari wordpress?

Sebagai seorang blogger yang menjalankan blog di platform wordpress, mungkin ada sebuah pertanyaan bagaimana cara menghasilkan uang dari blog anda? Ada keinginan untuk memperoleh penghasilan lebih atau minimal untuk menutupi biaya hosting. Menulis sebuah blog tentu adalah sebuah hobi, namun alangkah baiknya jika dari hobi tersebut kita memperoleh penghasilan tambahan.

Jika di hati anda terbersit pertanyaan diatas maka saya akan berusaha memberikan panduan untuk menghasilkan uang dari blog wordpress terutama bagi siapapun yang baru memulai dunia blogging dan belum familiar tentang cara memperoleh penghasilan di sini.

Ada dua variasi berbeda dari platform wordpress yaitu antara wordpress.org dan wordpress.com.

Memperoleh penghasilan dari Google Adsense.

Jenis platform wordpress.org dikenal juga dengan self hosted (artinya kita menyewa hosting sendiri di tempat lain). Sebuah blog yang mendaftar di wordpress.org menyimpan data dan isi blog di server sendiri. Ketika memilih menyimpan sendiri dibutuhkan pengetahuan teknis tentang membuat website.

Keuntungan dari self hosted adalah tidak memiliki batasan buat blog anda setelah menginstall wordpress sendiri secara gratis dan yang paling utama memiliki kontrol penuh pada website anda, dapat menghasilkan uang sendiri dengan menggunakan iklan sendiri atau bahkan dapat mendaftar di Google Adsense suatu kelebihan yang tidak anda dapatkan jika memilih menggunakan wordpress.com.

Cara memperoleh penghasilan dari wordpress.com

Jenis platform wordpress.com ada beberapa macam jika anda ingin memperoleh penghasilan yaitu:

  1. WordPress.com gratis. Artinya anda bebas menggunakan hosting situs wordpress secara gratis, namun blog anda harus menggunakan ekstensi wordpress.com sebagai contoh: tengkuputeh.wordpress.com dan file yang tersedia sampai dengan 3 GB. Ketika anda menggunakan ini wordpress akan menempatkan iklan disana tanpa membayar sepeserpun kepada anda;
  2. WordPress.com dengan Personal Plan dengan seharga $4 perbulan ditagih setiap tahun artinya $48, anda dapat menggunakan nama website secara penuh sebagai contoh: tengkuputeh.com. Dengan plan ini anda belum dapat memperoleh penghasilan.
  3. WordPress.com dengan Premium Plan seharga $8 perbulan ditagih $96 pertahun. Dengan plan ini anda dapat memperoleh penghasilan hanya mendaftar melalui WordAds;

    Harga hosting WordPress.com jenis Plan Personal dan Plan Premium (Update Oktober 2020)

  4. WordPress.com dengan Business Plan seharga $27 perbulan ditagih $300 pertahun. Dengan plan ini anda dapat memperoleh penghasilan melalui Wordads serta dapat juga mendaftar di Google Adsense. Tapi karena hosted di wordpress.com maka banyak fitur yang dibatasi.
  5. WordPress.com dengan eCommerce Plan. seharga $45 perbulan ditagih $540 pertahun. Plan ini khusus untuk website yang bergerak pada penjualan online.

    Harga hosting WordPress.com jenis Plan Business dan Plan e-commerce (Update Oktober 2020)

WordAds sebagai sarana memperoleh penghasilan

WordAds sebagai solusi iklan bagi pengguna WordPress.com terutama bagi yang menggunakan Premium Plan. Berbeda dengan Google Adsense yang berdasarkan klik, Word Ads membayar anda berdasarkan impression, jadi semakin banyak lalu lintas ke situs anda maka semakin anda mendapatkan uang banyak.

Untuk mencairkan uang dari WordAds anda harus mendapatkan minimal $100 kemudian dicairkan melalui Paypal

Pengalaman menggunakan WordAds di WordPress.com

Saya diblog ini menggunakan Premium Plan yang mana satu-satunya cara memperoleh penghasilan adalah melalui WordAds. Awalnya saya berharap dengan lalu lintas ke situs ini dapat memperoleh penghasilan yang lumayan, minimal menutupi biaya hosting di WordPress.com.

Grafik Penerimaan situs tengkuputeh.com dari Word Ads (Update Oktober 2020)

Meskipun lalu lintas di situs ini mencapai iklan ratusan ribu (Update sampai Oktober 2020 adalah 906.167 impresi) dalam setahun namun penghasilan yang diperoleh “hanya” beberapa dollar (Update sampai Oktober 2020 adalah 4.43). Keadaan seperti ini jangankan mendapatkan penghasilan lebih untuk menutupi biaya hosting sebesar $96 pertahun saja tidak cukup. Sebagai catatan blog tengkuputeh.com upgrade dari tengkuputeh.wordpress.com (terdaftar 15 Februari 2008) pada bulan April tahun 2017.

WordAds tidak menghasilkan uang bagi situs berbahasa Indonesia.

Berdasarkan pengalaman yang saya alami maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: WordAds bukan solusi menghasilkan uang dari WordPress terutama bagi situs berbahasa Indonesia karena pembayaran perseribu lalu lintas hanya “dihargai” $0.01. Artinya setiap Satu juta iklan hanya mendapatkan penghasilan $10, ngenes.

Saran saya bagi blogger pemula jika ingin memperoleh penghasilan dapat memilih Jenis platform wordpress.org dikenal juga dengan self hosted sehingga dapat mendaftarkan diri pada Google Adsense yang memiliki penghasilan yang lebih baik.

Penghasilan tengkuputeh.com dari WordAds (Periode Januari-Oktober 2020).

Namun Jenis platform wordpress.com bukan berarti tanpa keunggulan sama sekali. Ada satu kelebihan yaitu dari segi keamanan lebih kuat karena dilindungi oleh WordPress langsung.

Terakhir apapun pilihan anda saya serahkan kembali kepada anda, ditimbang baik dan buruknya sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat untuk diri anda. Sekian dan terima kasih.

Posted in Asal Usil, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

HOW TO INHERIT THE GREATNESS

“Alexander fighting King Darius III of Persia”, Alexander Mosaic, Naples National Archaeological Museum

HOW TO INHERIT THE GREATNESS

How many great people in the history of the world? When we open the pages of history then pretty we find the characters with extraordinary glory but how much they leave the people who will continue their brilliance, unfortunately only a few of them are aware.

Take a look at The Great Alexander of Macedon which conquered two-thirds of the world’s known world at that time. But what happens when he dies? His followers fought each other over conquered territories, and the Macedonian Empire sunk forever. Just beginning in the 1990s, Macedonia, whose capital Skopje emerged as a new state after independence from Yugoslavia. Now it has just become a small country.

In Indonesia, the most obvious example is how powerful, virtuous, and emphatic the mighty Sultan Agung of Mataram is and see how weak his son Sultan Amangkurat I is, which led to the release of one by one territory of the Sultanate of Mataram to the hands of the VOC.

That is why I was amazed when I read the story of the founder of the Tokugawa Shogunate in Japan at the beginning of the 17th century named Ieyasu Tokugawa to educate his son Hidetada Tokugawa as a potential successor, thus succeeding in his father’s struggle to unite Japan.

But that’s all nothing compared to a process we call the education of the Prophet. Men such as Abu Bakr, Umar ibn al-Khattab, Uthman ibn Affan, Ali ibn Abi Talib, Saad ibn Abi Waqqash and many other companions were not people who emerged on their own accord to the stage of history. They are those who are forged by the Messenger of Allah (SAW) to become ready-made people, then able to continue his struggle.

So it is only natural that a non-Muslim scholar Michael H Hart places the Prophet Muhammad at the highest peak of the 100 most influential people in the world to this day. He is not only a religious and state leader but also a teacher who is able to create the best generation in the history of mankind.

From the various experiences above we can take the lesson that we will not live forever. All sorts of expectations, and hope do not necessarily come true while we are alive and when it is achieved we really need the people who keep it on track otherwise it will all be just a one-man show. For that, it is important to train the next generation, to face the challenges that will always be new.

There is a phrase that is very attached to my head while reading La Tahzan’s book, the phrase is something like “Learn from the experience of others because the person grabs it with an expensive sacrifice while you get it for free.”

May we all be people who want to learn

Translate from MELANJUTKAN PERJUANGAN

Thinking:

  1. PIRATE, REBEL OR EVIL; 4 April 2017;
  2. THE HISTORY OF INDONESIAN POETRY; 6 April 2017;
  3. CIVILIZATION WITHOUT WRITING; 13 April 2017;
  4. PERPETUUM MOBILE; 17 April 2017;
  5. AGAINST TRADITION IS ACTUALLY VERY OLD TRADITION; 8 May 2017;
  6. WHAT IS THE PURPOSE OF THE SUICIDE BOMBING; 25 May 2017;
  7. RAMADAN AND RELATIVITY; 26 May 2017;
  8. HOW TO PREVENT HOAX, A SCIENTIFIC JOURNAL; 6 June 2017;
  9. ISLAMIC SHARIAH WHO IS AFRAID, A CASE STUDY IN ACEH; 13 June 2017;
  10. ACEH WOMEN FULL POWER; 13 June 2017;
  11. CONQUEST OF CULTURE; 15 June 2017;
  12. DONNARUMMA THE TRAITOR; 18 June 2017;
  13. EID MUBARAK AND PASCAL LAW; 25 June 2017;
  14. CIRCLE OF HATRED; 14 July 2017;
  15. HISTORICAL REPETITION; 15 July 2017;
Posted in History, International, Opinion | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

GOLD, INFIDELS, AND DEATH

Aceh gilded dagger

GOLD, INFIDELS, AND DEATH

A Brief Record of the Experience of Two Frenchmen in West Aceh in the End of the XIX Century

In the 19th century, Westerners continued their exploration of various parts of Asia to exploit the riches of the so-called colored peoples. In this endeavor, they face various reactions of the local community to which they come.

The ancient map of the Aceh Sultanate

At the beginning of 1877, during a war between the Sultanate of Aceh and the Kingdom of the Netherlands, a French L. Wallon1 came to the land of Teunom and Woyla, which lies on the west coast of Aceh. Wallon, conducting scientific research and intending to do golden seed business in the uplands of Teunom and Woyla2. The king in the Teunom lands and the conquest of Panga at that time was Teuku Imum Muda3, while the king of Woyla was Teuku in Blang. With this Woyla king, he had failed to reach agreement in this golden venture, because the king of Woyla asked for a quarter of the proceeds, while Wallon was only willing to give one-fifth4.

Three years later, in March 1880, Wallon returned to Teunom, this time with his compatriot Guillaume5. His journey from Padang (West Sumatra) to Teunom on a boat belonging to Nyak Din’s captain, took more or less two months because they dug out places and small islands to conduct research6.

The events of March 11, 1880

Wallon’s request to go upriver is not permitted by Teuku Imum, because of there according to him there are bad people. The King objected Wallon away without him, for he feared the Wallon would be beaten by the Dutch enemies, and finally it was he who had to take care of everything. Then the two Frenchmen participated with Teuku Imum Muda by road to Kuala Woyla, while their belongings with the help of the king were lifted by sea by boat. Teuku Imum Muda hands over the safety responsibility of these two Frenchmen to the king of Woyla, Teuku in Blang but he refuses to accept them. Once again it was stated that the destination was not safe enough, and the two Frenchmen returned to Teunom with Teuku Imum Muda.

The day after arriving at Teunom, the two Frenchmen asked permission to go upriver Teunom, but the king advised them not to go there if they were not with him. They ignore this advice and declare that the king should not worry because of they as white people know exactly the business to be executed. They only asked the king’s help to find a guide, a cook, and a peddler7. After fulfilling their request, Teuku Imum left for Panga and the two Frenchmen headed for the Teunom headwaters. Thus the points we find in the letter of King Teunom addressed to the Assistant Resident of West Aceh in Meulaboh, dated March 10, 18808.

After two days of boarding the boat back and forth to the river Teunom, the two Frenchmen arrived on March 11, 1880, at four o’clock in Tuwi Perya9. Suddenly from the bush came two Acehnese, Panglima Lam Ara, and Po Imum Alue Leuhob, with approximately 40 followers10. Commander Lam Ara shouted to Teuku Din why came there with infidels. Teuku Din replied that they were asked by Teuku Imum Muda, Sayed Hasan, Teuku Padang and these two masters were not Dutch, but France intends to conduct an investigation in search of gold. Commander Lam Ara replied he did not care command earlier leaders because the people who live on the water-front everything has become an infidel.

Commander Lam Ara and Po Imum Alue Leuhob immediately approached the boat and immediately finished the history of the two Frenchmen with their swords. Because the attack was so sudden, they did not have time to defend themselves, the Acehnese also wanted to spend the five native people who were in the boat, but all of them had jumped into the water and tried to escape. One of them came from Bogor named Aripan, was caught11. He asks forgiveness not to be beheaded because he is a Muslim. They do not just want to believe it before proving it. Then opened the Aripan pants and after it was known that he had been circumcised, he was released. The bodies of the two white men dumped them into the river and may have fallen prey to the crocodile, because when Teuku Imum searched for the bodies it was not found again, even with four boats.

The efforts of King Teunom

After King Teunom got word that the two Frenchmen were murdered, he mobilized an investigation and three days later he got word that the news was true. The messenger returned with Aripan with Teuku Din and Black and they told him all about it12. Immediately he sent fifty men to the ill-fated place by directing all attempts to commit the murder to be captured alive or dead and ordering the guilty to be found anywhere in his area, pursued and captured. He also asked the Dutch Assistant Resident in Meulaboh to immediately inform him whether the goods belonging to the Frenchmen were immediately sent to Meulaboh and if so he would do so immediately13.

The evil threat of the invaders

The Dutch Governor of Aceh Van Der Heyden ordered a Dutch local officer, Van Swieten, to leave for West Aceh by Siak fire on March 31, 1880, carrying a letter from the Governor to King Teunom14. He also wanted to send two infantry and cannon troops as necessary to the country of Teunom, but then postponed it until Van Swieten returned with the ship and again he himself intended to go to Teunom. In the letter of the Governor above to King Teunom, the discovery of his grief over the killing of the innocent people let alone the citizens of the friendly nations with the Dutch East Indies. He also appreciated the efforts of King Teunom to capture the murderers and also the safety of the goods left by the two victims praised. Even so, he was not satisfied anymore. In exchange for blood that has been shed, Van Der Heyden demanded to King Teunom and his people handed the killers of Wallon and Guillaume, while for the execution only given four days to the king. And if the killers were no longer in the territory controlled by King Teunom, and could not possibly arrest him, the Dutch asked the Teunom people to pay 2,000 rixdollars in the four-day period, the threat goes on to state that when his time is up and the demands of the king- The Dutch demands were not met, then King Teunom with his subjects would bear the consequences15.

Customs and traps that failed

Teuku Imum Muda, Raja Teunom (Tengah)

King Teunom tried to summon Commander Lam Ara and Po Imum Alue Leuhob with all his followers, intending to arrest him. Approximately 14 days later they arrived with more or less 40 followers carrying the goods belonging to the two Frenchmen consisting of three guns, a tent, twenty rix-dollars and 50 pieces of gold and handed it to Teuku Banda to be forwarded to King Teunom. In addition, they brought with a buffalo, a number of coconut and sugar cane to be delivered to the custom of asking the mercy of the king16.

Van Der Hayden

Teuku Imum Muda sent Teuku Banda and another Teuku Mut went to see Commander Lam Ara and Po Imum Alue Leuhob asked the two to face, but their followers just to wait before crossing the Panga river. But both of them refused the proposal if not allowed to come along with their followers. Then Teuku Imum searched his mind and sent a boat across the river to where the Commander was in order to surround them. When the boat looks out to the opposite Commander Lam Ara with his followers immediately fled. Then Teuku Imum told about 500 people to search for Commander Lam Ara and his friends through the fields of the fields and he himself with more than 1,000 people folk take the coastal road to go upstream to Tuwi Perya. Arriving there they did not reach the man, except rice, pepper and empty houses only. Teuku Imum ordered to burn the field house Commander Lam Ara and Po Imum, all of them 6 location17.

After the Dutch were convinced that Teuku Imum was apparently not involved in attempting to kill the two Frenchmen, then Governor Van Der Heyden declared in a letter from the deck of the ship “zeemeeuw” April 9, 1880, that he was willing to surrender the 2,000 ringgit deposit that would have been paid Teuku Imum to the Netherlands, into the hands of Teuku Imum himself for the cost of continuing the search for and arrest Commander Lam Ara and Po Imum Alue Leuhob18.

Epilogue

Taking experience from the event, the Dutch Governor of Aceh requested the Governor-General of the Dutch East Indies in Betawi for the foreseeable future, an inland visit as the Frenchmen did, for the sake of salvation must be with Dutch permission and the head of native. Apparently, the Dutch did not like Wallon and his colleagues who did not ask permission first. On 18 February 1887, the Dutch Governor of Aceh issued permission to Mathieu Baron Von Hedenstrom, 28 years old, born in Odessa (Russia) and domiciled in Paris. He intends to continue investigations that have been done by Wallon and Guillaume in West Aceh. The letter states that the license only applies solely to the needs of a scientific inquiry and if wishing to visit places outside Meulaboh, he shall not visit, prohibited by the Dutch licensee assigned there for safety reasons.

The Dutch governor in Aceh declared that the cause of the crime and the killing was a loot, especially of the rough and uncivilized people of Aceh. Is there a statement that the governor can be accepted after proven Commander Lam Ara and his colleagues have returned the treasures of the two French including their ringgit and gold money? It can not be expected the colonist to understand the actions of others based on the different view of them. Nor can it be expected, in an atmosphere of war against the Dutch, Commander Lam Ara who hurt that the unbelieving European is about to corrupt his religion and his people will do other than what he has done. The clash of values allowed by different circumstances has happened there.

Footnote :

  1. The travel record is contained in Annales de I ‘Extreme Orient, August 1789, and translated by D.F.A. Hervey with the title “Klouwang and its Caves, West Coast of Atchin”, Journal of the Straits Branch, Royal Asiatic Society, (Singapore), vol 8, (December 1881), ms. 153-8.
  2. Aceh, since before Sultan Iskandar Muda (1607-1636), has been famous for its gold. A. Hamilton in his travels to the archipelago, 1688-1723, mentions the following: “Atcheen affords nothing of its own product for export, Its being 2% better than Andraghiry sic Pahaung sic gold, and is equal in touch to our guinea “A New Account of the East Indies, Volume II, Edinburg, 1727, ms 108.
  3. When the Aceh War began against the Dutch in 1873, Teuku Imum Muda as a young Uleebalang (hulubalang) went to the Aceh-Inti (Acheh Proper) neheri in 1874 to take part in the war against the Dutch that was considered infidel by the people of Aceh at that time. Since many of his people were martyred and wounded he was forced to return to West Aceh, after he vowed not to surrender to the Dutch. But in 1876 through his scribe, he expressed his wish by a surrender letter with a condition not obliged to meet the Dutch or commander of a Dutch warship. The Dutch ignored him and continued to blockade the export of his pepper, and in 1877 the terms were withdrawn and he went to Kutaraja and signed 18 articles of deed submission to the Netherlands. One of them contained the provision that part of the income of the people that should have been dedicated to the Sultan of Aceh would fall to the Government of the Netherlands East Indies. See “Mededeelingen betreffende de Atjehsche Onderhoorig-heden“, Bijdragen tot de Taal-en Volkenkunde van Nederlands Indie, (The Hague), IX, 1910, m.s. 153.
  4. Reports of West Aceh Resident Assistant, Van Langen, 6 April 1880, dossier no. 9186, Arkib Am Kingdom, Schaarebergen, Holland.
  5. King Teunom gave permission to Wallon to keep the goods in the king’s shop in Bubon Bay. See Teuku Imum Muda’s letter to Assistant Dutch Resident in West Aceh, March 18, 1880, ibid
  6. Aripan’s report, this second French payroll, to Dutch officials in Kutaraja, 7 April 1880, in Van Der Heyden’s Political Report, (15 Jan-30 Oct. 1880), ibid.
  7. Who was the guide, Teuku Din, the cook’s helper named Black and two other peddlers accompanying the journey? Report of West Aceh Resident Assistant, 6 April 1880, ibid.
  8. King Teunom’s Letter to Assistant Resident of West Aceh, ibid
  9. Regarding the reconstruction of the events of March 11, 1880, see Teuku Imum Muda letter, April 3, 1880; Recognition of Aripan, 7 April 1880 Political Report Van Der Heyden, 5 Jan.-30 October 1880, ibid.
  10. Commander Lam Ara from Pedir (Pidie) originally lived upstream in Woyla, because of a dispute with the king of Woyla, he was driven from there, Then he settled upstream Teunom, Tuwi Perya, opened the ground by planting pepper. The followers of this Commander also Po Imum Alue Lehob are Pedir guys. Van Langen’s report, 6 April 1880, ibid.
  11. Aripan, 23, has worked in Bali. After his master named Rouseline moved to Saigon, he was about to return to Bogor, but in Singapura, he met Wallon, Guillaume, and Courret. Eventually Aripan willing to work on them. With the latter two, he went to Betawi and then to Padang (West Sumatra) / See Aripan’s confession, April 7, 1880 in Van Der Heyden’s Political Report, Jan. 5-80 October 1880. Ibid.
  12. Letter Teuku Imum Muda, 18 March 1818, ibid.
  13. Ibid
  14. Letter to the Governor of the Netherlands in Aceh to the Governor-General of the Dutch East Indies in Batavia. 612 / P.Z., 4 April 1880. Ibid
  15. Ibid
  16. Letter Teuku Imum Muda, 3 April 1818, ibid.
  17. After three days the Raha returned to Panga and it was learned that the son of Panglima Lam Ara’s brother had died immersed in the river of Teunom while fleeing the pursuit of the King of Teunom, and the four Commander-in-Chiefs were also lost in the river when they resigned. Ibid
  18. Ibid
  19. Letter no. 690 / P.Z. 18 April 1880. Ibid

Reference :

Gold, Infidel, and Death; T. Ibrahim Alfian; Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Aceh; Darussalam – Banda Aceh; 1976.

Translate from: EMAS, KAFIR DAN MAUT

About Aceh:

  1. CUMBOK WAR, A SOCIAL REVOLUTION IN ACEH (1946-1947); 8 April 2017;
  2. CIVILIZATION WITHOUT WRITING; 13 April 2017;
  3. ACEH THE FIRST SOVEREIGN COUNTRY TO RECOGNIZING THE INDEPENDENCE OF THE NETHERLANDS; 27 April 2017;
  4. VISITING THE EXHIBITION ACEH TOMBSTONE AS AN ISLAMIC CULTURAL HERITAGE IN SOUTH-EAST ASIA; 16 May 2017;
  5. DUTCH RAID OPERATION AGAINST CUT MEUTIA (1910); 20 May 2017;
  6. SAMUDERA PASAI AS THE FIRST ISLAMIC KINGDOM IN SOUTHEAST ASIA; 6 June 2017;
  7. ISLAMIC SHARIAH WHO IS AFRAID, A CASE STUDY IN ACEH; 13 June 2017;
  8. ACEH WOMEN FULL POWER; 13 June 2017;
  9. DUSK IN MALACCA; 4 July 2017;
  10. GOLD, INFIDELS, AND DEATH; 10 July 2017;
  11. MANTE THE LOST PYGMY TRIBE; 13 July 2017;
  12. HOW TO TELL HISTORY; 14 August 2017;
  13. THE ORIGIN OF THE COFFEE CULTURE IN ACEH; 19 August 2017;
  14. THE UNTOLD STORY ABOUT HISTORY OF THE COMMUNIST PARTY OF INDONESIA IN ACEH PROVINCE; 28 September 2017;
  15. WHEN CRITICISM IS FORBIDDEN; 14 October 2017;
  16. EXPLOITATION OF NATURAL RESOURCES, WHAT IS IT GOOD FOR ACEH; 5 November 2017;
  17. PEUCUT KHERKOFF, ACEH-DUTCH WAR MONUMENT; 12 November 2017;
  18. THE PRICE OF FREEDOM; 5 December 2017;
  19. ACEH CRAZY OR ACEH PUNGO; 25 February 2018;
Posted in History, International, Literature, Reportase, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 30 Comments

MEMUTUS LINGKARAN KEBENCIAN

Lingkaran kebencian adalah api yang membakar diri sendiri dan orang lain

MEMUTUS LINGKARAN KEBENCIAN

Orang yang penakut pada saat OSPEK ternyata (sering) menjadi sangat garang ketika menjadi mentor, orang yang sangat tersiksa oleh suatu keadaan ternyata kerap menjadi penguasa yang menindas lebih keras dari pendahulunya. Jika seorang untuk mendapat pekerjaan menyogok 100 juta, maka ketika pegang kuasa akan meminta sogokan 200 juta, dan terus berlanjut. Terus membesar menjadi bola salju dari masa ke masa, tidak akan pernah selesai dan akhirnya menjadi lingkaran Kebencian (setan).

Ternyata manusia memiliki kecenderungan meniru apa yang ia benci, terkadang sifat meniru itu malah menjadikannya “lebih menjadi-jadi” dan lebih “ganas”. Tiap penindasan sebagaimana penjajahan adalah buruk. Hanya orang yang kotor isi kepalanya yang menganggap penjajahan mememiliki sisi baik dan buruk. Pemikiran bahwa penjajahan adalah memiliki sisi baik pernah ditanam di Indonesia melalui Belanda, kedatangan mereka adalah untuk membawa peradaban kepada penduduk Nusantara itu palsu!

Sejarah copy paste kebencian

Sejarah adalah ilmu yang menakjubkan, tiap-tiap kejadian di masa lalu tentu tak akan sama persis dengan hari ini, tapi ia memiliki pola dan jika kita berpikir dan mengkajinya dapat menjadi pembelajaran.

Kejadian yang menimpa kaum muslimin di Barbastro sesungguhnya ujian terbesar, jika bukan yang paling besar. Karena peristiwa yang terjadi di sana jauh lebih hebat dari yang digambarkan.

Kejadian yang menimpa kaum muslimin di Barbastro sesungguhnya ujian terbesar, jika bukan yang paling besar. Karena peristiwa yang terjadi di sana jauh lebih hebat dari yang digambarkan.

Ketika kekuasaan Islam di Cordova jatuh ke tangan Fernando de Castilla (1236), Portugal oleh Alfonso II (1249), dan daerah terakhir di Semenanjung Iberia di Granada jatuh ke tangan Raja Ferdinand (Arragon) dan Isabella (Castille) pada 1492. Segera pembalasan dendam dilakukan, pemaksaan kembali ke agama Kristen pun dilakukan. Padahal ketika berkuasa penguasa Islam yaitu Dinasti Ummayyah dan penerusnya tidak pernah melakukan pemaksaan agama kepada penduduk negeri yang ditaklukkan. Kita mengetahui bahwa selama 800 tahun Andalusia (Meliputi Spanyol, Portugal dan Perancis Selatan) merupakan pusat peradaban Islam, dalam rentang itu bangsawan Moor-Islam dan Spanyol-Kristen sudah melakukan kawin campur.

Pada 1492 Ferdinand dan Isabella mengeluarkan Dekret Alhambra yang memerintahkan seluruh Yahudi untuk meninggalkan Spanyol. Umat Islam di Spanyol juga mendapat perintah serupa. Banyak di antara mereka yang pindah ke agama Kristen daripada harus meninggalkan Spanyol, dan mereka ini disebut dengan istilah conversos. Para conversos ini dicurigai tidak pindah agama dengan jujur dan tulus.

Orang-orang Islam di Spanyol, Mudéjars atau yang sudah pindah ke Katolik, disebut Moriscos, tak luput dari penganiayaan yang dilakukan oleh Inkuisisi Spanyol. Menurut Perjanjian Granada (1491), umat Islam dijanjikan kebebasan beragama, namun perjanjian ini tidak berumur panjang. Pada 1502, umat Muslim diberikan ultimatum untuk masuk Kristen atau meninggalkan Spanyol. Mayoritas mereka pindah agama, namun hanya di luar saja, karena mereka masih berpakaian dan berbicara sebagaimana sebelumnya, beribadah menurut agama Islam secara sembunyi-sembunyi, dan menggunakan tulisan Aljamiado. Hal ini menyebabkan Kardinal Cisneros untuk menerapkan peraturan yang lebih keras dan memaksa, sehingga memicu sebuah pemberontakan. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan (1502), dan pihak Spanyol menggunakan pemberontakan ini sebagai alasan untuk membatalkan Perjanjian Granada. Pada 1508, pakaian bernuansa Islam dilarang. Pada 1526 dan 1527, peraturan yang lebih keras lagi dikeluarkan. Pada 1567, Raja Felipe II mengeluarkan baru yang melarang penggunaan nama berbau Islam, pakaian Islam, serta larangan berbahasa Arab. Bahkan orang-orang Islam diberitahu anak-anak mereka nantinya harus diserahkan untuk dididik para pendeta Kristen. Seluruh 300.000 moriscos akhirnya diusir dari Spanyol pada 16091614, oleh Raja Felipe III.

Mengapa pembalasan dendam itu terjadi? Mungkin karena mereka merasa tidak ada keadilan dalam penjajahan. Pembalasan berlanjut, setelah menemukan Tanjung Harapan, Vasco da Gama menaklukkan kerajaan Islam Goa di India dan menjadikan koloni kerajaan Portugal. Alfonso de Albuquerqe menaklukkan kekuatan Islam di Malaka dan membuka jalan ke Nusantara. Afrika, India dan Indo-Cina, kolonialisme Barat menghancurkan kekuatan Islam. Rute kematian dan darah tersebut dibuka dengan semboyan “gold”, “gospel”, dan “glory”. Penemuan jalur laut membuat kekuatan Barat dengan gemilang “melompati” Turki sebagai kekuatan besar Islam yang menjadi palang pintu ke timur, laut menjadi jalan tol dan bebas hambatan (berarti). Hasilnya? Pemusnahan suatu bangsa oleh bangsa lain, semua itu dipicu oleh kebencian.

Pengusiran Muslim Valencia (1609 M)

Pengusiran Muslim Catalonia (1613 M)

Pengusiran Muslim Murcia (1614 M)

Penindasan itu melebar ke Eropa

Spanyol juga menjajah Belanda. Penindasan terus-menerus oleh Spanyol kepada Belanda menyebabkan terjadinya Perang Delapan Puluh Tahun atau Pemberontakan Belanda (1566-1648), adalah pemberontakan Tujuh Belas Provinsi di Belanda terhadap raja Spanyol. Awalnya, Spanyol berhasil meredam pemberontakan ini, tetapi tahun 1572 pihak pemberontak berhasil menguasai Brielle, dan pemberontak akhirnya menang dan memperoleh kemerdekaan melalui Perdamaian Munster(1648).

Setelah merdeka Belanda mereka mengikuti jejak penjajah mereka, Spanyol. Mereka membangun imperium kolonial seberang lautan. Hal ini didukung oleh ketrampilan Belanda dalam bidang pelayaran dan perdagangan, tapi Belanda mempelajari kelemahan Spanyol yaitu ketidakmampuan pemanfaatan kapital, jadi Belanda mendirikan jajahan dengan model Negara kapitalis tidak langsung yang pengelolaannya diserahkan kepada perusahaan-perusahaan kolonial, salah satunya VOC yang menaklukkan sebagian besar kerajaan di Indonesia.

Penjajahan adalah kejahatan yang disertai penindasan. Siapa yang hendak membantah?

Meskipun satu ras dan satu agama, Belgia dan Belanda yang tadinya satu berpisah pada tahun 1830. Belgia memerdekakan diri. Mengapa? Karena Belgia merasa dijajah. Padahal orang-orang Belanda tidak pernah memaksa orang-orang Belgia menanam cengkeh atau pala seperti yang dialami orang-orang Maluku dan tidak ada pembakaran kampung dan pembunuhan masal seperti yang dilakukan oleh Belanda di Aceh dan Gayo.

Mutilasi orang-orang Kongo oleh Leopold II

Belgia sendiri ternyata menjadi penjajah yang lebih kejam dari Belanda. Raja Leopold II dari Belgia (1835-1909) yang memerintah dari 17 Desember 1865 sampai 1909. Ketika Belgia menjajah Kongo, Leopold II menyulap negeri yang sebelumnya damai menjadi Negara yang 100 persen menjadi budak. Dibawah panjinya, Leopold II memaksa orang-orang Kongo untuk mengais sumber daya mereka sendiri dan memenuhi kantong-kantong harta Leopold II. Awalnya dengan pengumpulan gading, dan setelah harga karet naik pada tahun 1890-an, ia memaksa penduduk asli mengumpulkan getah karet. Leopold II begitu kejam kepada orang-orang kongo, lewat tangan para prajuritnya, ia membantai dan memutilasi orang-orang yang tak mau bekerja. Setidaknya 10 juta orang Kongo tewas semasa penjajahan Belgia, melebihi kematian 6 juta Yahudi oleh Hitler yang menguncang dunia. Lucunya, Leopold II seolah tak ingin bertanggungjawab terhadap hal tersebut setelah diketahui membantai 10 juta orang. Ia memberikan kuasanya kepada parlemen, membuat ia harus turun tahta. Tapi Leopold II masih bisa menikmati hidupnya dengan segala harta yang dimilikinya, diatas penderitaan orang lain.

Penjajahan di Indonesia

VOC ships, the pirates white, proclaimed the civilizing mission to the nations in the archipelago. Though clearly the purpose behind them came to the archipelago is there to “colonize” the natives.

Di Indonesia sendiri setelah VOC bangkrut dan dibubarkan pada 31 Desember 1799, pemerintah Belanda mengambil alih wilayah jajahannya di Hindia Belanda, Pada awal abad ke-19 hanya pulau Jawa yang secara keseluruhan milik Belanda, lalu pada tahun-tahun selanjutnya semua daerah lain di Nusantara (Indonesia) ditaklukkan atau “dipasifikasikan”. Penguasaan atas koloni ini menjadi penyumbang terbesar pada pengaruh global kekuatan Belanda, terutama dalam perdagangan rempah dan komoditas perkebunan lainnya. Puncaknya pada tahun 1942, Hindia Belanda meliputi semua daerah Indonesia saat ini.

Operasi Pasukan Marsose di Mukim XXII (Perang Aceh 1873-1904) Salah satu perlawanan tergigih dan terlama terhadap kolonisasi Belanda di Indonesia

Situasi berubah ketika Jepang datang, tentara Jepang datang berpura-pura menjadi “saudara tua” bagi orang-orang Indonesia mengalahkan penjajah Belanda. Pada Maret 1942, pemerintah Belanda secara resmi menyatakan kalah kepada tentara Jepang dan menandatangani perjanjian Kalijati.

Jika pada awal kedatangannya, Jepang berjanji untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda maka tak lama kemudian Jepang segera menunjukkan watak aslinya, ingin menjajah Indonesia, tapi masa pendudukan Jepang di Indonesia tidak lama. Jepang menyerah kepada sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat.

Evolution of the Dutch East Indies

Ketika pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengumumkan kemerdekaan diproklamasikan di Jakarta. Belanda menentang dan memerangi para pejuang kemerdekaan. Baru pada tanggal 27 Desember 1949, kedaulatan Indonesia diakui. Papua Bagian Barat masih dikuasai Belanda sampai tahun 1961. Ternyata setelah merdeka Indonesia juga meniru sikap buruk penjajah yaitu Belanda dengan korupsinya dan Jepang dengan sikap birokrasi yang kaku dan cenderung militeristik. Padahal dua hal tersebut telah ditanggalkan oleh kedua penjajah kita tersebut.

Penjajahan Indonesia kepada Timor Leste

Pada tahun 1975, Timor Portugis ditelantarkan Portugal yang dilanda Revolusi Anyelir. Maka segera Timor Portugis diinvasi oleh Indonesia, dibantu oleh Australia, Inggris dan Amerika Karena ditakutkan menjadi negara komunis.

Namun PBB tidak menyetujui tindakan Indonesia. Pada tanggal 30 Agustus 1999, dalam sebuah referendum yang disponsori PBB, mayoritas rakyat Timor Timur memilih merdeka dari Indonesia. Segera setelah referendum, milisi anti kemerdekaan yang diorganisir oleh militer dan memulai kampanye bumi hangus. Menurut Wikipedia, milisi membunuh 1400 rakyat Timor Timur dan dengan paksa mendorong 300.000 rakyat mengungsi ke Timor Barat (Wilayah Republik Indonesia). Pada tanggal 20 September 1999, Angkatan Udara Internasional untuk Timor Timur (INTERFET) dikirim ke Timor Timur untuk mengakhiri kekerasan. Pemusnahan massal ini mengakibatkan Indonesia tidak memiliki warisan kebudayaan disana, suatu hal yang tidak dilakukan oleh dua penjajah kita yaitu Belanda dan Jepang. Bahkan ketika Timor Timur diakui sebagai Negara dan secara resmi merdeka dari Indonesia pada tanggal 20 Mei 2002 ketika menjadi anggota PBB, mereka memutuskan memakai nama Portugis “Timor Leste” sebagai nama resmi.

Puing-puing insfrastruktur Indonesia di Timor Leste

Nasib Timor Leste setelah merdeka tidak lebih baik ketika masih menjadi provinsi ke-27 Indonesia, perekonomian diklasifikasikan dengan pendapatan menegah ke bawah oleh Bank Dunia, berada di peringkat 158 dalam daftar HD. 20 persen penduduk menganggur, 52,9 persen hidup dengan kurang dari US 1,25 perhari. Walaupun telah merdeka masih bergantung pasokan barang-barang dari Indonesia mulai dari makanan pokok sampai bahan bakar minyak, secara politik sangat bergantung pada mantan penjajah Portugal, dan tidak memiliki mata uang sendiri sehingga mengadopsi mata uang Dollar Amerika Serikat. Dan entah kejelekan apa yang ditiru Timor Leste dari Indonesia sehingga kehidupan mereka menjadi lebih parah dari ketika bergabung dalam Republik Indonesia.

Bagaimana nasib kita?

Sungguh gawat nasib kita selama ini akibat kebencian terus menerus, kronis dan menjadi residu dalam darah. Para birokrat semakin beringas mencuri dari Negara ini, para senior semakin kejam kepada junior. Individu-individu semakin kejam dan beringas. Apakah ini harus kita biarkan?

Akhiri lingkaran setan ini!

Dunia ini, waktu, seperti aliran air, kadang-kadang terbelokkan oleh secuil puing, oleh tiupan angin sepoi-sepoi.

Entah mengapa dunia bekerja seperti ini? Kita tidak bisa membayangkan mengapa ini semua bergerak kearah yang semakin bengis. Ketika Romawi belum memeluk agama Kristen ada istilah “Homo Homini Lupus” yaitu “Manusia yang menjadi serigala bagi manusia lainnya.” Apa jadinya jika agama tidak turun ke muka bumi, tentu manusia menjadi lebih bengis.

Sebenarnya mengakhiri lingkaran kebencian ini sangat mudah, jika kita memiliki contoh yang benar. Ketika Nabi Muhammad S.A.W menaklukkan kota Makkah, penduduk Makkah yang pernah terang-terangan memusuhinya, dan pernah berkomplot membunuhnya, telah menyiksa para sahabatnya, dan telah memeranginya di Badar, di Uhud, dan sebagainya bertanya tentang nasib mereka.

Kata beliau, “Sekarang kamu boleh pulang, kamu semua saya bebaskan.” Dengan ucapan Rasulullah sepatah ini segenap bangsa Quraisy, dan segenap penduduk Mekkah dibebaskan dan dimaafkan dari semua dosa dan kesalahan yang mereka perbuat bertahun-tahun atas diri Nabi Muhammad S.A.W dan diri kaum muslimin. Muhammad, utusan Allah telah menang dan berkuasa tapi kemenangan dan kekuasaannya itu tidak dipergunakan untuk melepaskan dendam dan menuntut balas, tapi digunakan untuk menjadi saluran guna mengalirkan cinta kasih dan untuk menurunkan ampunan dan maaf.

Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)

Ketika kita manusia mampu keluar dari mimpi buruk, dan menemukan perdamaian dengan sama lalu serta mampu memaafkan seluruh penderitaan yang terjadi di masa lalu maka selesailah rantai kebencian itu. Mungkin dunia tidak serta merta berubah, mungkin kita akan kalah. Tapi apakah hidup ini hanya semata di dunia?

Allah SWT berfirman : “Demi masa! Sesungguhnya manusia itu adalah di dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan beramal shalih dan berpesan-pesanan dengan kebenaran dan berpesan-pesanan dengan kesabaran.” (QS Surat Al-Ashr 1-3)

Ketika manusia berkata dalam kebaikan dan kesabaran, maka ia memberi arti bagai mengubah kata menjadi puisi, dari situ hidupnya menjadi sinar penerang yang memancarkan cahaya menjadi rahmatullilalamin (Rahmat kepada alam semesta). Apakah bisa? Semoga Allah meridhai kita semua. Amin ya Allah ya rabbalalamin.

Referensi :

  1. Lintasan Sejarah Islam di Zaman Rasulullah saw; H Rus’an; Departemen Agama; Tahun 1982/1983;
  2. http://www.lindachristanty.com/index.php/blog/post/penjajahan-yang-buruk-dan-perdamaian-dengan-masa-lalu-oleh-linda-christanty; akses 8 Juli 2017;
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Delapan_Puluh_Tahun; akses 8 Juli 2017;
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/L%C3%A9opold_II_dari_Belgia; akses 8 Juli 2017;
  5. https://id.wikipedia.org/wiki/Hindia_Belanda; akses 8 Juli 2017;
  6. https://id.wikipedia.org/wiki/Timor_Leste; akses 8 Juli 2017;

XXX

Beberapa Kisah Lain: 

  1. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  2. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  3. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  4. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  5. Menelusuri Sejarah Perang Salib; 30 April 2010
  6. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
  7. Kebenaran Yang Samar; 28 Februari 2013;
  8. Orang Sakit Dari Timur; 26 Mei 2013;
  9. Membakar Buku Membunuh Inteletual; 6 Juni 2016;
  10. Tragedi Barbastro; 3 April 2017
  11. Bom Bunuh Diri Untuk Kemenangan Siapa; 25 Mei 2017;
  12. Idul Fitri Dan Hukum Tekanan Pascal; 25 Juni 2017;
  13. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  14. Sepak Terjang Partai Komunis Indonesia Di Aceh; 21 September 2017;
  15. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 16 Comments

THE INTERPRETER

An interpreter is not born from nothing, he is a creature of history.

THE INTERPRETER

In a patch of space, in a corner of dark alleys, twisting, not knowing where the ends are. The room is no less dark. Only the light from behind the small window up there that the line penetrated, stroked the dust flying, greeting paper sheets piled, paper friends, the ink and pen, the place to write stories. There was a happy smile. There is no prison there. No fear at all is heaven.

He has suffered defeat and error. Who makes sure all the way of life in the days flows, or has he ever cultivated love, set the heart. Is it true? There is no grudge there, no sense of reprisal, demand, or self-defense. Or is it free? From envy to being. With a smile and calm, he lived the twists and turns of life.

An interpreter is not born from nothing, he is a creature of history.

Because interpretation is always evolving with space and time, that’s why there is no fixed standard interpretation all the time. We know every writing and commentary is put forward in the language, and the language in its belief forms history.

An interpretation is a moving ocean of meaning, it is not a limit of meaning. The movement is almost endless so it can not be fully controlled by the creator.

Because there are people who are entrapped in seduction, not infrequently also fall in love because of writing. These are just words. Sometimes unconsciously, words are small bridges that can be explored to search for what is there.

Because of the decisive reader. Each time it can be a multi-layered meaning. So it becomes a never-ending struggle. A Poet (often) speaks the truth, but we can not expect the world to change just because of words alone.

Translate from: TAFSIR SANG PENAFSIR

Similar articles:

  1. POETRY OF THEBES; 13 March 2012;
  2. CURSE OF HATRED; 25 November 2012;
  3. ODE OF A HERMIT; 17 January 2013;
  4. COSMOLOGY UNIVERSE; 2 April 2014;
  5. FATE; 15 April 2014;
  6. MESSAGE FROM THE MIRROR; 26 April 2017;
  7. POOR OLD MAN BALLADS; 27 April 2017;
  8. PLEASE, DO NOT LET ME LOVE HER; 2 May 2017;
  9. MONOLOGUE OF THE MOON; 3 May 2017;
  10. THE FALL OF ICARUS, WHEN A MAN TRIES TO REACH THE SUN; 14 May 2017;
  11. THE CLOAK OF FATE; 16 May 2017;
  12. GLUTTONY; 29 May 2017;
  13. SOLEMN; 19 June 2017;
  14. THE MOMENT OF HAPPINESS; 23 June 2017;
  15. THE MOVEMENT OF UNIVERSE; 1 July 2017;
Posted in International, Literature, Opinion, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , | 2 Comments

HIKAYAT SUKU MANTE

Seorang noni Belanda dan pelayannya di Benteng Indra Patra Lamuri tahun 1930 Belanda tidak tahu benteng apa ini KITLV menyebutnya sebagai benteng Portugis yang direbut Aceh

Seorang noni Belanda dan pelayannya di Benteng Indra Patra Lamuri tahun 1930 Belanda tidak tahu benteng apa ini KITLV menyebutnya sebagai benteng Portugis yang direbut Aceh

HIKAYAT SUKU MANTE

Sungai Krueng Sabee sekitar tiga kilometer selatan kota Calang (ibu kota Kabupaten Aceh Jaya) memiliki kekhasan berpasir, menyerupai pasir laut. Kadang-kadang jika musim kemarau aliran sungai menjadi dangkal menimbulkan gundukan pasir selayaknya pantai ditengah sungai. Pada awal abad ke-20 aliran sungai sebagaimana diceritakan oleh para orang tua kampung masih jernih, disekitar sungai masih ditumbuhi oleh hutan perawan yang tersambung ke pengunungan Seulawah di Utara sampai Leuser di Selatan, bahkan jika ditarik sambung menyambung sampai ujung Selatan Sumatera meliputi seluruh gugusan bukit barisan. Pada gundukan tersebut jika tersangkut sampah berupa ranting dan dedaunan jika diangkat terdapat udang segar, ataupun ikan. Alam memberikan segalanya waktu itu.

Nekmi menceritakan kembali sebagaimana diceritakan oleh Neknyang (nenek buyut) bahwa pada suatu pagi, beberapa anak kampung Mon Mata berkeinginan melihat “Aneuk Lacoe” yang mungkin padanan bahasa kita sekarang adalah kurcaci atau hobbit. Mereka menjalin rotan menjadi gelang, lalu mereka melempar gelang-gelang tersebut pada pantai pasir ditengah sungai lalu bersembunyi kearah yang lebih jauh. Lama mereka bersembunyi sampai hampir jengah, tiba-tiba dari kejauhan muncul beberapa kurcaci yang hanya bercawat, mereka bersenang-senang dengan gelang tersebut. Memasukkan ke tangan kemudian ke kaki. Mereka bergembira sekali dengan mainan tersebut.

“Aneuk Lacoe” adalah pemandangan yang gaib, sekaligus menakjubkan bagi anak-anak kampung Mon Mata tersebut, mereka dipercaya memiliki sihir dan kemampuan berbicara dengan hewan di hutan raya. Namun tidak seperti suku-suku lain di Aceh mereka tidak berbaur dan memilih menghindari peradaban. Ukuran “Aneuk Lacoe” itu menurut penuturan saksi mata tidak pernah ada yang mencapai satu meter, kebanyakan hanyalah setinggi balita berusia lima tahun. Namun jangan pertanyakan kegesitan mereka, begitu mendengar suara langkah kaki atau ranting patah terinjak mereka akan segera melarikan diri ke dalam hutan. Mereka hanya bisa memandangi dari jauh tanpa pernah bisa mendekati.

Jembatan Krueng Sabee

Ada pepatah di daerah Krueng Sabee dan sekitarnya jika ada anak kecil atau orang yang tidak berpakaian maka akan disebut sebagai “aneuk lacoe”. Kemunculan kurcaci atau Hobbit itu tidak hanya terjadi di daerah Krueng Sabee, kearah Selatan di mana ada sungai-sungai besar lain seperti Sungai Krueng Teunom, Krueng Woyla, Krueng Seunagan serta banyak sungai yang berbatu lainnya, oleh penduduk sekitar pada tahun-tahun tersebut. Penduduk kearah Selatan menyebut mereka dengan sebutan Orang Bante. Merekalah yang disebut dengan sebutan orang Mante.

Ditahun 1940-an orang-orang Mante tidak terlihat lagi turun ke sungai-sungai di pesisir Barat Aceh.

Asal usul suku Mante.

H.M. Zainuddin seorang pujangga (pengarang roman Jeumpa Aceh) sekaligus seorang sejarawan dalam bukunya yang monumental “Tarikh Aceh dan Nusantara” yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1961 menyebutkan bahwa bangsa Aceh termasuk ke dalam lingkungan bangsa Melayu, yaitu bangsa-bangsa : Mante (Bante), Lanun, Sakai Jakun, Semang (orang laut), Sanun dan lain-lain. Kesemua bangsa tersebut secara etnologi, memiliki hubungan dengan bangsa Phonesia di Babylonia dan bangsa Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga.

Pegunungan Jalin di Jantho Aceh Besar

Pegunungan Jalin di Jantho Aceh Besar

Ia menambahkan keterangan bangsa Mante, terutama adalah penduduk Aceh Besar. Menurut cerita orang-orang tua (mythe), tempat kedudukannya di kampung Seumileuk yang disebut kampung Rumoh Dua Blah (Kampung Rumah Dua Belas), letaknya di atas Seulimeum antara kampung Jantho dengan Tangse. Seumileuk artinya daratan yang luas. Bangsa Mante inilah yang berkembang biak keseluruh lembah Aceh tiga segi dan kemudian berpindah ke lain-lain tempat.

Adapun lembah Aceh Besar itu (Aceh tiga segi) tatkala itu lautnya Indrapuri dan Tanoh Abee menjadi tempat kediaman orang Hindu. Blang Bintang, Ulee Kareng, Lam Baro, Lam Ateuk, Lam Nyong, Tungkop, Lam Nga, Tibang dan lain-lain merupakan laut yang luas. Dan menurut mythe tersebut, kalau orang hendak berhaji maka pelabuhannya di Aneuk Glee, Montasik. Ialah perigi tempat pelaut-pelaut singah mengambil air. Letak kampung Montasik sekarang adalah tepi laut, sedangkan Kampung Ateuk yang berasal dari kata “Gateuk” sebangsa ketam tanah yang hidup di air asin (payau) yang berdekatan dengan laut. Pasar yang terbesar disekitar Kuta Masah di atas Indrapuri. Menurut keterangan tersebut dapat meyakinkan kita bahwa sampai abad ke-8 Masehi pantai atau tepi laut Aceh Besar sampai dekat Indrapuri dan Tanoh Abee di dekat kaki bukit barisan, dan merupakan satu teluk yang indah pemandangannya. Jika hari ini letak geografis telah berubah disebabkan pergeseran bumi sendiri. Sampai saat ini penghidupan bangsa Aceh dahulu kala mengembara belum dapat dijelaskan oleh H.M. Zainuddin.

Sejarah Suku Mante

Catatan sejarah tentang suku Mante yang paling lengkap adalah yang disusun oleh Dada Meuraksa berjuduk “Ungkapan Sejarah Aceh” pada tahun 1975. Sebagaimana pengakuan beliau, ia melanjutkan karya dari ayahnya yaitu Tuanku Raja Keumala yang meninggal dunia di tahun 1930. Menurut Dada Meuraksa, dinasti Mante adalah dinasti tertua yang diketahui. Kerajaan Mante berpusat di Seumileuk, yaitu pedalaman Seulimeum antara Jantho, masih dalam daerah sagi XXII mukim. Kata-kata Mante berasal dari Mantenia atau Mantinea yaitu suatu kota di Yunani, dimana penduduknya disebut Mantinean. Pada abad ke 14 Sebelum Masehi (dan seterusnya selama kurang lebih 3 abad) mereka melakukan perpindahan penduduk kedaerah panas di Selatan. Mereka datang ke Yunani semula mereka mendiami pulau Kreta bagian Selatan yaitu Thessalia, menamakan suku mereka Achaea. Pada abad ke 12 Sebelum Masehi mereka diusir oleh suku Doris, lalu mereka berpindah, sebagian kedaerah Peloponnesus Utara, sebagian ke Asia Kecil (Turki), dan sebagian yang lain ke Asia tengah (lembah Kaukasus)

Mereka yang pindah ke lembah Kaukasus itu kemudian mengembara kearah Timur melalui Chaibar Pas (jurang antara dua gunung diperbatasan Afganistan dan India) mereka sampai di India Utara, dan berasimilasi dengan penduduk disana. Kemudian mereka meneruskan pengembaraan kearah Timur sampai ke Tennosering diperbatasan Burma dengan Siam, mereka berasimilasi lagi dengan bangsa Man Khemer, yaitu leluhur bangsa Kamboja dan Campa.

Kemudian mereka meneruskan pengembaraan ke Selatan dengan menyebrangi Selat Malaka. Mereka sampai ke Pulau Perca (Sumatera), dan membuat kerajaan Mante dengan berpusat di Seumileuk. Yaitu suatu tempat yang strategis untuk mendapatkan sumber emas di kaki Gunung Emas yang terletak pada satu pucuk sungai yang bercabang tiga ( di Tangse) yaitu : Sungai Krueng Aceh, Krueng Woyla (Tutut) dan Krueng Keumala. Seumileuk itu termasuk lembah Krueng Aceh, dan kemungkinan nama lembah Aceh (Aceh Raya), Krueng Aceh dan bangsa Aceh berasal dari nama suku mereka Achaia.

Adapun raja-raja dari dinasti Mante yang menjadi penguasa dan memerintah di lembah Aceh Besar itu tidak seluruhnya diketahui. Menurut catatan yang masih ada kita mengenal raja yang bernama “Maharaja Po Tuah Meuri”. Adapun raja-raja sebelumnya tidak dapat diketahui. Setelah Maharaja Po Tuan Meuri memerintah anak cucunya menurut garis lurus sambung menyambung yaitu : Maharaja Ok Meugumbak, Maharaja Jagat, Maharaja Dumet, Maharani Putro Budian. Sampai disini berakhirlah dinasti Mante tersebut. Dan sejarah berhenti mencatat dinasti suku Mante.

Maharani Putro Budian menikah dengan Maharaja Po Liang, yaitu seorang bangsawan Campa dari Indocina yang datang ke Aceh bersama rombongannya karena negerinya diserang musuh yang lebih kuat. Beliau mencari tanah air sambil mengembangkan agama Budha mazhab Hinayana sekte Mantrayana. Setelah menikahi Ratu Mante itu beliau berhasil membudhakan Aceh, dan akhirnya beliau diangkat sebagai Raja Lamuri yang pertama.

Adapun dinasti Po Liang yang memerintah kerajaan Aceh Lamuri itu menurut catatan Dada Meuraksa adalah sebagai berikut :

  1. Maharaja Po Liang. Raja Lamuri Budha I.
  2. Maharaja Beuransah. Raja Lamuri Budha II. (Anak nomor 1).
  3. Maharaja Beureuman. Raja Lamuri Budha III. (Anak nomor 2).
  4. Maharaja Binsih. Raja Lamuri Budha IV. (Anak nomor 3).
  5. Maharaja Lam Teuba, Raja Lamuri Islam I, mahzab syi’ah. Beliau adalah raja yang termasyur karena keberaniannya, keadilannya, kecerdasannya, dan terutama karena menyambut Islam yang dibawa dan didakwahkan kepadanya oleh seorang Sayid keturunan Rasulullah s.a.w. (754 M).
  6. Maharaja Gading. Islam Syiah ke II (786 M). Anak no.5 dan cucu no.4.
  7. Maharaja Banda Chairullah. Islam Syiah ke III (822 M). Anak no.6.
  8. Maharaja Cut Samah. Islam Syiah ke IV (870 M). Anak no.7.
  9. Maharaja Cut Madin. Islam Syiah ke V (916 M). Anak no.8.
  10. Maharaja Cut Malim. Islam Syiah ke VI (963 M). Anak no.9.
  11. Maharaja Cut Seudang. Islam Syiah ke VII (1034 M). Anak no.10.
  12. Maharaja Cut Samlako. Islam Syiah ke VIII (1082 M). Anak no.11.
  13. Maharaja Cut Ujo. Islam Syiah ke IX (1113 M). Anak no.12.
  14. Maharaja Cut Wali. Islam Syiah ke X (1144 M). Anak no.13.
  15. Maharaja Cut Ubit. Islam Syiah ke XI (1171 M). Anak no.13 dan adik no.14.
  16. Maharaja Cut Dhiet. Islam Syiah ke XII (1185 M). Anak no.15.
  17. Maharaja Cut Umbak. Islam Syiah ke XIII (1201 M). Anak no.16.
  18. Maharani Putro Ti Seuno. Islam Syiah ke XIV (1235 M). Anak no.17.

Suku Mante menghilang dari peradaban

Sampai disini berakhirlah kerajaan Lamuri dinasti Po Liang, Maharani Putro Ti Seuno menikah dengan Johan Syah, yang kemudian menjadi Sultan Alaidin Johan Syah, Raja Lamuri Islam Ahlussunnah Wal Jamaah ke I (1205-1235 M). Nama raja-raja dinasti Mante dan dinasti Po Liang ini diperoleh Dada Meuraksa dari salinan manuskrip T. Raja Muluk Attahasi, seorang keturunan pembesar Aceh di zaman dahulu, demikian pula juga angka-angka tahunnya. Dengan demikian mulailah dinasti Alaidin memimpin tampuk kerajaan Aceh yang kemudia diubah dari Lamuri menjadi Aceh Darussalam.

Perkiraan wajah Aneuk Lacoe atau Suku Mante menyerupai manusia purba Homo Naledi

Perkiraan wajah Aneuk Lacoe atau Suku Mante menyerupai manusia purba Homo Naledi

Menghilangnya suku Mante dari pusat kosmopolitan Aceh masih misterius, diduga sebagian dari mereka memilih mengembara kepedalaman hutan belantara ketika Aceh mulai memeluk agama Budha pada awal masa dinasti Po Liang.

Harga Diri Suku Mante

Berdasarkan cerita hikayat, suku Mante pernah ditangkap pada masa Sultan Alaidin Ali Mughayat Syah (1514-1530). Dua orang Mante ditangkap saat itu, diduga adalah sepasang suami istri. Setelah ditangkap mereka tidak mau bicara atau makan dan memilih mati kelaparan. Sultan Ali Mughayat Syah menyesal dan menangisi kematian dua Mante ini dan mengeluarkan maklumat kepada rakyat Aceh untuk tidak menganggu mereka apabila bertemu.

Apakah Suku Mante sebangsa Hobbit seperti Gollum?

Apakah Suku Mante sebangsa Hobbit seperti Gollum?

Keberadaan suku Mante di pedalaman Aceh menjadi perdebatan banyak pihak, ada yang percaya atau pun tidak. Mungkin ada yang sinis dan menganggap itu sebagai dongeng belaka. Bagi masyarakat Aceh, keberadaan mereka bagai sebuah legenda ataupun mitos, karena memang sedikit yang pernah bertemu dengan mereka. Suku Mante sendiri termasuk dalam suku Proto Melayu (Melayu Tua), yang diperkirakan sudah punah.

Penemuan kembali suku Mante?

Dalam bukunya, De Atjehers. Snouck Hurgronye mencatat meskipun ia sendiri mengaku belum pernah bertemu dengan suku tersebut. Beberapa saksi mengaku pernah melihat Mante, dan mengatakan bahwa suku ini sering ditemui di pedalaman Lokop Aceh Timur dan di pedalaman Tangse Pidie. Snouck Hurgronye sendiri mengartikan Mante sebagai istilah untuk tingkah kebodoh-bodohan dan kekanak-kanakan.

Selamatkan Hutan, Selamatkan Alam

Suku Mante telah memilih meninggalkan peradaban ke hutan. Jikalah kita mengingat pesan Sultan Alaidin Ali Mughayat Syah apa untungnya menganggu mereka? Zaman modern mungkin kejam, nasib suku Mante sama seperti berbagai flora dan fauna dalam hutan, mereka tak berdaya menghadapi gencarnya korporasi dan konglemerasi menggerus habitat mereka. Perkebunan sawit, karet bahkan yang paling menjijikan adalah penebangan hutan oleh perusahaan besar, apalagi dengan kedok perkebunan sawit dan karet. Penambangan emas, gas, dan eksplorasi hutan secara besar-besaran telah mendesak mereka. Para orang-orang serakah yang mengincar keuntungan demi mengejar keuntungan ekonomi. Tapi apakah hidup adalah semata-mata tentang kekayaan dan keserakahan?

Ketika pemimpin-pemimpin di Aceh yang lahir dari demokrasi menutup mata demi fee belaka, suku Mante pasti akan punah! Dan betapa kita merindukan seorang Alaidin Ali Mughayat Syah.

Nekmi bercerita, suatu hari Nek Nyang bercerita dengan mata berbinar, bahwa ketika erangan para suku Mante tertawa bahagia dengan gelang rotan mereka. Suara keras mereka sangat aneh sehingga para anak-anak kampung Mon Mata yang mengintip dari kejauhan bergerak mundur dan menahan nafas. Mereka bahagia untuk kebahagiaan dari mereka yang berbeda. Sebuah pemandangan yang menakjubkan, dan aliran sungai Krueng Sabee yang pelan dan berbuih-buih itu bergemericik menuju lautan. Betapa indahnya.

Daftar Pustaka

  1. Manuskrip T. Raja Muluk Attahasi
  2. Hikayat Aceh;
  3. Aceh di mata kolonialis oleh Snouck Hurgronje;
  4. Hikayat Merong Mahawangsa (Negeri Kedah);
  5. Tarikh Aceh dan Nusantara oleh H.M. Zainuddin;

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  22. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  23. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  24. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  25. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  26. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  27. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  28. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  29. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  30. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  31. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  32. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  33. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  34. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  35. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  36. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  37. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  38. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  39. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  40. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 127 Comments

DUSK IN MALACCA

Turning faintly of the ocean, I transformed into a line of names.

DUSK IN MALACCA

In the year 1620-1630. The Portuguese in Malacca were confronted by Aceh Darussalam and Johor. Dutch in Batavia in the face by Mataram and Banten, while the Spanish in the Philippines faced by Ternate and Tidore. The Western foreign powers, the Portuguese, the Spanish, the English and French interchanged with each other, but the powers of the archipelago themselves were unable to mobilize unity of the struggle to confront it, even to each other. This is a story about the situation before the Dutch came out as the sole winner in the oceans and the archipelago. A story about the attack on Aceh to the Portuguese-controlled Malacca.

X

His Majesty Sultan Iskandar Muda handled the preparations for the Malacca invasion. As a soldier, I look at what is being prepared. Yes, I was really amazed to see the fleet of the Sultanate of Aceh Darussalam, which the king described as an “unbeatable” fleet. Our ship will depart from Bandar Aceh is very much, not to mention who will join from other ports on the east coast of Aceh.

Finally, according to the calculations of the fleet, we set out, consisting of ships war and ships carrying land-soldiers. I was on one of the boats. Not too big, but incredibly lively, because of the number and the oarsmen of choice. From this ship I can witness the largest ship where the Majesty Sultan Iskandar Muda is located, The Portuguese named her Espanto del Mundo. To the ship, the Sultan gave her name Cakradonya. How not! The length of 100 meters, erect three mast stands that Look like coconut trunks only. At a glance, I counted there were about 50 different types of cannon guns on each stomach. Yes, I can not imagine what it would be if all the guns were fired. In the middle of a voyage to Malacca, I mused.

Throughout the voyage. I imagined Sultan King Iskandar Muda must be smiling. We believe that Malacca will fall into the hands of Aceh. As our dream as another son of Aceh is to seize Malacca. Expel Portugal forever from Southeast Asia.

Malacca Attack (Portuguese) by the Sultanate of Aceh Darussalam in 1629

The year 1629. The hundred-ship shipwreck finally arrived. The cannon shells from the Malacca fortress can be offset by gun shots from Aceh’s fleet ships. Troops have been landed. The city of Malacca has been occupied and remains the fortress of Malacca.

However, we were surprised by the arrival of the Portuguese fleet from the West, from Goa (India). The balance of forces at sea has changed completely. Even from the land, we were surprised by the Johor army came to help the Portuguese fort from the land. Traitor! The balance of troops on land has also changed completely.

For the first time, I felt, maybe I would die in this battle. The battle of the sea grew horribly, the ships burned, falling apart, and drowning around the Great Ship of Cakradonya. It looks like we’re going to lose. Sultan Iskandar Muda has ordered the ship to turn.

I ordered our ship to protect Cakradonya backward movement. Yes, I Ahmad determined to be part of the history of the Sultanate of Aceh Darussalam expel the Portuguese from the earth and the waters of the archipelago. And if we had to lose today, then there would be another day. Sultan must be saved, to build strength again. I’m willing to die today. Allah is the Greatest!

The attack from the rear by the Portuguese fleet had overwhelmed us, coupled with the betrayal of Johor who was more willing to cooperate with the kafir. There appeared to be hundreds of bodies of soldiers from our side and the opponents floating on the reddish Strait of Malacca.

My tears dripped to see the fresh blood bands of comrades flowing from the shattered bodies of the ship, accompanied by the cries of shouting cries, the terrifying screams of the shoot-out soldiers, and the grievous moans of the severely wounded.

“Forward Aceh!” I yelled. Twoaaar !!! It felt like I felt some bullets pierce my chest. I fell into the sea, then twisted, and turned upside down. There was a faint sound that his Cakradonya had escaped from the siege.

I smiled, see you, Sultan. Having finished my devotion in the world, it is time for me to account for all my actions in the world to the God. My chest tightened by bullets and seawater filled the cavities in my lungs. For the last time, before death picked me up I recited. “Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah.” I testify that there is no god but Allah and I bear witness that Muhammad is the messenger of Allah.

Turning faintly of the ocean, I transformed into a line of names.

X

hi The extent of Aceh Sultanate during the reign of Iskandar Muda, 1608–1637. Source Wikipedia

The attack on the Sultanate of Aceh Darussalam to Malacca (Portuguese) in 1629 failed miserably. According to Portuguese sources, the entire Aceh fleet was destroyed by the loss of 19,000 troops. After the defeat, Sultan Iskandar Muda sent two other great sea expeditions. In 1630-1631 and 1634, to crush the rebellion in Pahang. During the time of Sultan Iskandar Muda, the Sultanate of Aceh Darussalam controlled the entire northern part of Sumatra Island and the northern region of the Malay Peninsula.

Translate from SENJA DI MALAKA

About Aceh:

  1. CUMBOK WAR, A SOCIAL REVOLUTION IN ACEH (1946-1947); 8 April 2017;
  2. CIVILIZATION WITHOUT WRITING; 13 April 2017;
  3. ACEH THE FIRST SOVEREIGN COUNTRY TO RECOGNIZING THE INDEPENDENCE OF THE NETHERLANDS; 27 April 2017;
  4. VISITING THE EXHIBITION ACEH TOMBSTONE AS AN ISLAMIC CULTURAL HERITAGE IN SOUTH-EAST ASIA; 16 May 2017;
  5. DUTCH RAID OPERATION AGAINST CUT MEUTIA (1910); 20 May 2017;
  6. SAMUDERA PASAI AS THE FIRST ISLAMIC KINGDOM IN SOUTHEAST ASIA; 6 June 2017;
  7. ISLAMIC SHARIAH WHO IS AFRAID, A CASE STUDY IN ACEH; 13 June 2017;
  8. ACEH WOMEN FULL POWER; 13 June 2017;
  9. DUSK IN MALACCA; 4 July 2017;
  10. GOLD, INFIDELS, AND DEATH; 10 July 2017;
  11. MANTE THE LOST PYGMY TRIBE; 13 July 2017;
  12. HOW TO TELL HISTORY; 14 August 2017;
  13. THE ORIGIN OF THE COFFEE CULTURE IN ACEH; 19 August 2017;
  14. THE UNTOLD STORY ABOUT HISTORY OF THE COMMUNIST PARTY OF INDONESIA IN ACEH PROVINCE; 28 September 2017;
  15. WHEN CRITICISM IS FORBIDDEN; 14 October 2017;
  16. EXPLOITATION OF NATURAL RESOURCES, WHAT IS IT GOOD FOR ACEH; 5 November 2017;
  17. PEUCUT KHERKOFF, ACEH-DUTCH WAR MONUMENT; 12 November 2017;
  18. THE PRICE OF FREEDOM; 5 December 2017;
  19. ACEH CRAZY OR ACEH PUNGO; 25 February 2018;
Posted in Fiction, History, International, Literature, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 35 Comments

KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA

Lukisan Sultan Iskandar Muda

KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA

Baru-baru ini Abu membaca sebuah pesan dari seorang budayawan, ia menuliskan dengan penuh rasa ingin tahu sekaligus mengharapkan sebuah jawaban dari Abu mengenai sebuah fenomena yang “menganggu” dirinya.

“Saya selalu heran dengan Aceh. Ketika mereka, tua dan muda, yang masih penuh kebanggaan, berbicara tentang kedasyatan Iskandar Muda Yang Agung yang telah membangun suatu kerajaan yang kuat dan makmur, tentang kehebatan generasi nenek dan buyut mereka mempertahankan Aceh sebagai wilayah terakhir dari Republik Indonesia. Suatu kebanggaan dan kerinduan yang wajar dan dapat dimengerti karena itu semua dicatat dalam buku besar sejarah kita. Tetapi ketika mereka diingatkan bahwa semua raja besar Nusantara ini, termasuk Sultan Iskandar Muda dan Sultan Agung, adalah raja-raja yang absolut kekuasaannya, mestinya, juga sewenang-wenang, kok banyak dari mereka naik ampernya. Juga waktu diingatkan bahwa pengorbanan rakyat Aceh mengumpulkan dana lewat obligasi nasional dan sekarang “selewengkan” oleh pemerintah pusat sebaiknya diikhlaskan sebagai salah satu dari sekian banyak rentetan tumbal kemerdekaan. Seperti tumbal rakyat Jawa Barat yang dibunuhi DI, rakyat Jawa Timur yang dibunuhi PKI, rakyat Sulawesi Selatan yang dibunuh Westerling. Kok mereka jadi terheran-heran mendengar argumentasi “tumbal” itu?

Saya juga terheran-heran kalau sejawat saya berkata, “Prinpun, pak. Saya matur Jowo itu masih lebih unggul dari siapapun saja di nuswantoro ini!” Bikin malu komunitas inteletual saja. Lantas saya ingat berbagai perjalanan saya di hampir seluruh kawasan Nusantara. Wah, kalau semangat uber alles daerah itu masih kuat betul, lho. Apalagi dengan kehadiran orang Jawa di mana-mana. Kayaknya semangat uber alles itu semakin menggebu-gebu seperti pernah jelas terlihat di Aceh ketika saya di sana.

Eh, Abu. Salahkah jika saya mengatakan. Yang uber alles itu Cuma Indonesia! Nggak ada uber alles Jowo, uber alles Aceh, uber alles Minangkabau, uber alles Makassar!”

Membaca tulisan itu, Abu juga bingung kenapa dipilih sebagai orang yang diajukan pertanyaan. Sejarawan bukan, budayawan bukan, intelektual jelas bukan. Abu hanya menarik nafas panjang. Mungkin kurang tepat jikalau ia merasa Abu mampu menjawab segala pertanyaan dari kerisauan tersebut. Mungkin lebih banyak orang pintar yang mampu menjelaskan. Kapasitas Abu hanyalah sebagai, Abu pun bingung disini sebagai apa? Tapi Abu merasa kerisauan dan kemurungan beliau kurang tepat. Menurut Abu malahan sekarang generasi muda di Aceh sudah lupa dengan sejarah kebesaran Sultan Iskandar Muda. Paling ya, hanya tahu namanya yang ditabalkan sebagai nama Kodam dan sebuah Universitas swasta. Selebihnya hanya segelintir penikmat sejarah yang jumlahnya sangat kecil. Tidak pernah ada kajian-kajian sejarah yang benar-benar bermutu di Aceh. Entahlah, apa Abu yang benar atau beliau.

Ketika mulai menulis balasan, Abu menulis. “Lho Pak. Yang menguber-uber tales itu sebenarnya itu siapa?”

Simak juga Petualangan Abu lainnya

XXX

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  21. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  22. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  23. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  24. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  25. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  26. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  27. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  28. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  29. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  30. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  31. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  32. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  33. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  34. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  35. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  36. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  37. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  38. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  39. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  40. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Opini, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 119 Comments

THE MOVEMENT OF UNIVERSE

Human has the likeness to the universe. Born, alive, aged and then dead.

THE MOVEMENT OF UNIVERSE

Have we ever noticed when staring at the stars in the sky? That actually they have exploded millions of years ago. Their light is still there.

Venus is the most shining star, humans call it by the morning star. Why does Venus shine in the night sky look bigger and brighter than any other planet? Is it because it is a large planet and emits its own light.

Sun, more than 99.9% of the mass of the Milky Way is in the Sun. He is called a star capable of expelling its own light. The sun melts the hydrogen particles and turns them into helium. Then, release large amounts of energy.

The Universe

The Milky Way itself is circling in the middle of space. Initially a pile of gas and dust, that’s what makes the sun. The shards around it from there form the Earth and Venus. Then there is a celestial body crashing into the earth, it looks like that shards are forming the rings of Saturn. The shard forms the moon.

When? How? Why? That is a series of questions that people often ask themselves, every time faced with a situation. Occurrences at different times of their manifestation, depending on the place of events. In the outside world, the event was a shift from one place to another.

When you look at the sky, remember that each star keeps a story. Just like humans who have their own story.

Every choice, movement, the slightest breath that humans create, in which His share is present affect the universe. And do not be surprised if a small decision that you do instantly affect the future, your whole life.

Translate From: Manusia Semesta

Posted in International, Literature, Opinion, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

MOHAMMAD VAN MOEKIM XXII, PEMIMPIN ACEH IDAMAN

Mohammad van Moekim XII, Sang Pemimpin Aceh idaman

MOHAMMAD VAN MOEKIM XXII, PEMIMPIN ACEH IDAMAN

Menjadi pemimpin hakikatnya adalah baik, menjadi pedagang ma’rifatnya juga baik. Namun menjadi tidak baik ketika pemimpin menjadi pedagang pada saat bersamaan. Orang-orang berkata, bukankah Rasullullah awalnya sebelum pemimpin adalah seorang pedagang. Jikalah terbuka pikir kita, dengan kata “awalnya” tentulah kita mengingat bacaan sirah nabawiyah bahwa ketika Rasullullah ketika mulai berdakwah telah meninggalkan segala kegiatan dagang. Jelaslah jika pemimpin yang sekaligus berdagang dengan mendasarkan kepada Rasulullah adalah mengada-ada, jikalah kita tak tega berkata mereka adalah pembohong durjana.

Pemimpin itu yang terbaik adalah jelas asal-usulnya. Paling baik kita tilik dari masa-masa penuh kebaikan, bukan masa setelah Belanda menjajah. Pada masa Kesultanan Aceh dapatlah kita ketahui bahwa Aceh Inti (Acheh Proper) terdiri dari inti, yaitu tanah Kesultanan, dibawah itu daerah merdeka yaitu Lhong Bata, dan disekeliling itu terletaklah Sagoe XXVI, Sagoe XXII dan Sagoe XXV.

Didalam masing-masing Sagoe ada beberapa wilayah Uleebalang. Kita jumlahkan banyak jumlahnya. Sagi yang terletak di sebelah Timur ibukota dan Lhong Bata dinamakan Sagoe XXVI Moekim, atau diringkas Sagoe XXVI. Maka Sagoe yang ada disebelah Selatan ialah Sagoe XXII dan disebelah Barat Sagoe XXV.

Mohammad van Moekim XII adalah seseorang yang memangku kebesaran secara turun-temurun, daerahnya terletak disebelah Selatan terdiri dari pegunungan-pegunungan serta rimba raya, oleh karena itu daerah itu mempunyai alat-alat pertahanan yang kokoh pemberian dari alam. Pada masa peperangan melawan Belanda daerah ini merupakan penghasil pasukan terbesar bagi pihak Aceh. Moekim XXII sendiri dikalahkan oleh Belanda dengan cara curang yaitu membakar seluruh kampung yang terletak disitu; Seuneulop, Montasik, Cot Gli diratakan dengan tanah oleh Belanda sehingga penduduk disitu harus melarikan diri ke gunung dan tak pernah takluk oleh Belanda pada masa peperangan. Maka mereka yang di Moekim XXII bukanlah mereka yang bisa bermanis muka pada kuasa penjajah.

Sungguh sulit menemukan karakter pemimpin sesuai dengan Mohammad van Moekim XXII. Sebagaimana kita ketahui, Aceh terkenal dengan khazanah budaya, adat-istiadat, warisan kebudayaan Islam serta Sumber Daya Alam yang cukup melimpah. Namun pemimpin yang memimpin selama ini kerap melupakan pembangunan Sumber Daya Manusia, prasarana serta energi. Padahal itulah semestinya yang harus menjadi program utama pemimpin. Sebagai sebuah provinsi yang berada dalam “jalan buntu” transportasi (Aceh bukan persimpangan jalan ekonomi yang terletak di ujung Barat Indonesia), maka jika ingin menjadi sebuah provinsi yang mumpuni harus mampu mengurusi diri sendiri. (Tidak tergantung akses kelistrikan dan pelabuhan dari Sumatera Utara), sehingga dapat memberi manfaat kepada daerah lainnya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mengapa Aceh hanya sibuk dengan politik anggaran? Berapa lama lagi “tuah” otonomi khusus (otsus) dapat dinikmati? Sesungguhnya jika kita jeli melihat betapa kocak pemimpin Aceh hari ini dalam perdebatan sengit akan angka-angka di APBA, tapi pembangunan hanya angka-angka semata. Bocor dimana-mana akibat syahwat belaka. Itu terjadi karena pemimpin memimpin hanya untuk waktu luang semata, tugas yang dijunjung sebenarnya adalah pedagang. Jual sini dan jual sana. Tentu Mohammad van Moekim XXII tidak akan berlaku seperti itu, tidak ada jiwa dagang dalam tubuhnya. Ia “cekang” membela rakyat, lebih baik anak istri di rumah kelaparan, daripada rakyat yang kelaparan. Begitu pengakuan istri beliau.

Ingat, pemimpin bukan untuk mencari waktu luang. Bukan pula untuk mempersiapkan kerajaan bisnis di luar Aceh. Bukan pula memamerkan gelar akademis, kealiman serta pengalaman yang tak ada hubungannya dengan kemampuan untuk hidup dan mengelola budaya, adat-istiadat, serta kekayaan alam di Aceh. Pemimpin itu bukan untuk sekedar menambah istri apalagi untuk sekedar menambah kendaraan (darat, laut dan udara). Jika itu pemimpin Aceh maka musibah melanda kita semua.

Paling penting adalah mengelola Sumber Daya Manusia, sebagaimana yang kita ketahui para indatu kita telah banyak yang gugur ketika perang dengan Belanda. Wikipedia berkata 70.000 tentara dan 100.000 penduduk sipil dibantai oleh Belanda yang mengaku membawa peradaban ke Nusantara, termasuk agama mereka. Bukan jumlah yang sedikit terutama jika dikonversi dengan penduduk Aceh hari ini yang “hanya” 5 jutaan. Yang selamat adalah kerak-kerak orang Aceh yang takut dengan Belanda.

Tapi jangan marah dulu! Menurut teori evolusi Darwin yang selamat adalah mereka-mereka yang beradaptasi sehingga tetap terus hidup. Kecerdasan mereka yang selamat tentu melebihi “kecoak” yang mampu beradaptasi dari zaman Dinosaurus sampai sekarang. Mohammad van Moekim XXII ingin membangkitkan kejayaan masa lalu dengan heroisme lama dengan memanggil dan membangkitkan jiwa-jiwa patriot guna membangun Aceh.

Mohammad van Moekim XII siap menemani para pengusaha lokal, rela berkorban tidak memakai baju rapi dan menyingsingkan lengan baju serta tidak tidur untuk memastikan Aceh tetap memilki pengusaha dan saudagar handal di masa yang akan datang. Sebagaimana di masa lalu Aceh maju karena perdagangan lada, mereka para pengusaha mikro, kecil, menengah adalah pahlawan di era globalisasi. Tentu Mohammad van Moekim XXII tidak ada kepentingan lain, selain memajukan mereka. Dia tidak bisa berdagang, tidak bisa main proyek jadi tidak ada konflik kepentingan.

Karena Mohammad van Moekim XXII tidak buta. Ia sadar Aceh merupakan jalan buntu, perlu membuka akses perdagangan yaitu pelabuhan Sabang sehingga berbagai hasil karya dan jerih payah rakyat Aceh dapat dipasarkan dengan biaya angkut murah dan tidak harus melalui cukong-cukong di Belawan. Entah kenapa pemimpin Aceh dibelakang hari juling sehingga rakyat Aceh jika membeli sesuatu mendapatkan harga termahal (menanggung ongkos sepanjang Sumatera) tapi ketika menjual juga mendapat laba terkecil (lagi-lagi menanggung ongkos sepanjang Sumatera). Ah, mungkin jiwa dagang mereka yang membuat juling tapi dapat dipastikan Mohammad van Moekim XXII tidak akan begitu.

Iya. Jalan, jembatan, pelabuhan, Bandar udara, pasar, sanitasi, kereta api dan semua intrastruktur wajib dibangun, dimanfaatkan oleh pengusaha, petani, nelayan. Yang tentunya akan mendorong sektor jasa, produksi dan industri. Kenapa? Lha, dengan daya beli masyarakat pedesaan yang kuat maka mereka tidak meminjam pada rintenir serta meningkatkan pendapatan perkapita. Jadi masyarakat tidak terjerat makelar, tengkulak apalagi mengharap bantuan dari calo proyek.

Ia jujur sehingga tidak akan berjanji membagi uang per Kepala Keluarga, tidak berjanji naik haji gratis. Juga tidak berjanji membeli kapal pesiar. Sasarannya adalah mengelola uang rakyat untuk memastikan masa depan yang lebih baik, yaitu energi yang terbarukan. Panas bumi di Seulawah layak dikelola menjadi pembangkit listrik yang menghidupkan Aceh secara keseluruhan dan tidak tergantung lagi pada Sumatera Utara. Hal ini akan menggiatkan banyak hal. Investasi dan industri akan bersemangat, dan wisatawan akan melihat Aceh sebagai daerah yang layak dikunjungi. Ketersedian energi sangat penting.

Mohammad van Moekim XXII siap membawa Aceh kedepan, memegang erat tangan anak-anak Aceh, melangkah dan Aceh akan kembali megah.

*) Bagi yang terlalu serius membaca tulisan ini, penulis mengingatkan bahwa ini hanyalah “satire” dan jika anda tidak tahu apa itu “satire” silahkan buka Kamus Besar Bahasa Indonesia. Atau masih malas mencari, Klik disini.

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment