THE MOVEMENT OF UNIVERSE

Human has the likeness to the universe. Born, alive, aged and then dead.

THE MOVEMENT OF UNIVERSE

Have we ever noticed when staring at the stars in the sky? That actually they have exploded millions of years ago. Their light is still there.

Venus is the most shining star, humans call it by the morning star. Why does Venus shine in the night sky look bigger and brighter than any other planet? Is it because it is a large planet and emits its own light.

Sun, more than 99.9% of the mass of the Milky Way is in the Sun. He is called a star capable of expelling its own light. The sun melts the hydrogen particles and turns them into helium. Then, release large amounts of energy.

The Universe

The Milky Way itself is circling in the middle of space. Initially a pile of gas and dust, that’s what makes the sun. The shards around it from there form the Earth and Venus. Then there is a celestial body crashing into the earth, it looks like that shards are forming the rings of Saturn. The shard forms the moon.

When? How? Why? That is a series of questions that people often ask themselves, every time faced with a situation. Occurrences at different times of their manifestation, depending on the place of events. In the outside world, the event was a shift from one place to another.

When you look at the sky, remember that each star keeps a story. Just like humans who have their own story.

Every choice, movement, the slightest breath that humans create, in which His share is present affect the universe. And do not be surprised if a small decision that you do instantly affect the future, your whole life.

Translate From: Manusia Semesta

Posted in International, Literature, Opinion, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

MOHAMMAD VAN MOEKIM XXII, PEMIMPIN ACEH IDAMAN

Mohammad van Moekim XII, Sang Pemimpin Aceh idaman

MOHAMMAD VAN MOEKIM XXII, PEMIMPIN ACEH IDAMAN

Menjadi pemimpin hakikatnya adalah baik, menjadi pedagang ma’rifatnya juga baik. Namun menjadi tidak baik ketika pemimpin menjadi pedagang pada saat bersamaan. Orang-orang berkata, bukankah Rasullullah awalnya sebelum pemimpin adalah seorang pedagang. Jikalah terbuka pikir kita, dengan kata “awalnya” tentulah kita mengingat bacaan sirah nabawiyah bahwa ketika Rasullullah ketika mulai berdakwah telah meninggalkan segala kegiatan dagang. Jelaslah jika pemimpin yang sekaligus berdagang dengan mendasarkan kepada Rasulullah adalah mengada-ada, jikalah kita tak tega berkata mereka adalah pembohong durjana.

Pemimpin itu yang terbaik adalah jelas asal-usulnya. Paling baik kita tilik dari masa-masa penuh kebaikan, bukan masa setelah Belanda menjajah. Pada masa Kesultanan Aceh dapatlah kita ketahui bahwa Aceh Inti (Acheh Proper) terdiri dari inti, yaitu tanah Kesultanan, dibawah itu daerah merdeka yaitu Lhong Bata, dan disekeliling itu terletaklah Sagoe XXVI, Sagoe XXII dan Sagoe XXV.

Didalam masing-masing Sagoe ada beberapa wilayah Uleebalang. Kita jumlahkan banyak jumlahnya. Sagi yang terletak di sebelah Timur ibukota dan Lhong Bata dinamakan Sagoe XXVI Moekim, atau diringkas Sagoe XXVI. Maka Sagoe yang ada disebelah Selatan ialah Sagoe XXII dan disebelah Barat Sagoe XXV.

Mohammad van Moekim XII adalah seseorang yang memangku kebesaran secara turun-temurun, daerahnya terletak disebelah Selatan terdiri dari pegunungan-pegunungan serta rimba raya, oleh karena itu daerah itu mempunyai alat-alat pertahanan yang kokoh pemberian dari alam. Pada masa peperangan melawan Belanda daerah ini merupakan penghasil pasukan terbesar bagi pihak Aceh. Moekim XXII sendiri dikalahkan oleh Belanda dengan cara curang yaitu membakar seluruh kampung yang terletak disitu; Seuneulop, Montasik, Cot Gli diratakan dengan tanah oleh Belanda sehingga penduduk disitu harus melarikan diri ke gunung dan tak pernah takluk oleh Belanda pada masa peperangan. Maka mereka yang di Moekim XXII bukanlah mereka yang bisa bermanis muka pada kuasa penjajah.

Sungguh sulit menemukan karakter pemimpin sesuai dengan Mohammad van Moekim XXII. Sebagaimana kita ketahui, Aceh terkenal dengan khazanah budaya, adat-istiadat, warisan kebudayaan Islam serta Sumber Daya Alam yang cukup melimpah. Namun pemimpin yang memimpin selama ini kerap melupakan pembangunan Sumber Daya Manusia, prasarana serta energi. Padahal itulah semestinya yang harus menjadi program utama pemimpin. Sebagai sebuah provinsi yang berada dalam “jalan buntu” transportasi (Aceh bukan persimpangan jalan ekonomi yang terletak di ujung Barat Indonesia), maka jika ingin menjadi sebuah provinsi yang mumpuni harus mampu mengurusi diri sendiri. (Tidak tergantung akses kelistrikan dan pelabuhan dari Sumatera Utara), sehingga dapat memberi manfaat kepada daerah lainnya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mengapa Aceh hanya sibuk dengan politik anggaran? Berapa lama lagi “tuah” otonomi khusus (otsus) dapat dinikmati? Sesungguhnya jika kita jeli melihat betapa kocak pemimpin Aceh hari ini dalam perdebatan sengit akan angka-angka di APBA, tapi pembangunan hanya angka-angka semata. Bocor dimana-mana akibat syahwat belaka. Itu terjadi karena pemimpin memimpin hanya untuk waktu luang semata, tugas yang dijunjung sebenarnya adalah pedagang. Jual sini dan jual sana. Tentu Mohammad van Moekim XXII tidak akan berlaku seperti itu, tidak ada jiwa dagang dalam tubuhnya. Ia “cekang” membela rakyat, lebih baik anak istri di rumah kelaparan, daripada rakyat yang kelaparan. Begitu pengakuan istri beliau.

Ingat, pemimpin bukan untuk mencari waktu luang. Bukan pula untuk mempersiapkan kerajaan bisnis di luar Aceh. Bukan pula memamerkan gelar akademis, kealiman serta pengalaman yang tak ada hubungannya dengan kemampuan untuk hidup dan mengelola budaya, adat-istiadat, serta kekayaan alam di Aceh. Pemimpin itu bukan untuk sekedar menambah istri apalagi untuk sekedar menambah kendaraan (darat, laut dan udara). Jika itu pemimpin Aceh maka musibah melanda kita semua.

Paling penting adalah mengelola Sumber Daya Manusia, sebagaimana yang kita ketahui para indatu kita telah banyak yang gugur ketika perang dengan Belanda. Wikipedia berkata 70.000 tentara dan 100.000 penduduk sipil dibantai oleh Belanda yang mengaku membawa peradaban ke Nusantara, termasuk agama mereka. Bukan jumlah yang sedikit terutama jika dikonversi dengan penduduk Aceh hari ini yang “hanya” 5 jutaan. Yang selamat adalah kerak-kerak orang Aceh yang takut dengan Belanda.

Tapi jangan marah dulu! Menurut teori evolusi Darwin yang selamat adalah mereka-mereka yang beradaptasi sehingga tetap terus hidup. Kecerdasan mereka yang selamat tentu melebihi “kecoak” yang mampu beradaptasi dari zaman Dinosaurus sampai sekarang. Mohammad van Moekim XXII ingin membangkitkan kejayaan masa lalu dengan heroisme lama dengan memanggil dan membangkitkan jiwa-jiwa patriot guna membangun Aceh.

Mohammad van Moekim XII siap menemani para pengusaha lokal, rela berkorban tidak memakai baju rapi dan menyingsingkan lengan baju serta tidak tidur untuk memastikan Aceh tetap memilki pengusaha dan saudagar handal di masa yang akan datang. Sebagaimana di masa lalu Aceh maju karena perdagangan lada, mereka para pengusaha mikro, kecil, menengah adalah pahlawan di era globalisasi. Tentu Mohammad van Moekim XXII tidak ada kepentingan lain, selain memajukan mereka. Dia tidak bisa berdagang, tidak bisa main proyek jadi tidak ada konflik kepentingan.

Karena Mohammad van Moekim XXII tidak buta. Ia sadar Aceh merupakan jalan buntu, perlu membuka akses perdagangan yaitu pelabuhan Sabang sehingga berbagai hasil karya dan jerih payah rakyat Aceh dapat dipasarkan dengan biaya angkut murah dan tidak harus melalui cukong-cukong di Belawan. Entah kenapa pemimpin Aceh dibelakang hari juling sehingga rakyat Aceh jika membeli sesuatu mendapatkan harga termahal (menanggung ongkos sepanjang Sumatera) tapi ketika menjual juga mendapat laba terkecil (lagi-lagi menanggung ongkos sepanjang Sumatera). Ah, mungkin jiwa dagang mereka yang membuat juling tapi dapat dipastikan Mohammad van Moekim XXII tidak akan begitu.

Iya. Jalan, jembatan, pelabuhan, Bandar udara, pasar, sanitasi, kereta api dan semua intrastruktur wajib dibangun, dimanfaatkan oleh pengusaha, petani, nelayan. Yang tentunya akan mendorong sektor jasa, produksi dan industri. Kenapa? Lha, dengan daya beli masyarakat pedesaan yang kuat maka mereka tidak meminjam pada rintenir serta meningkatkan pendapatan perkapita. Jadi masyarakat tidak terjerat makelar, tengkulak apalagi mengharap bantuan dari calo proyek.

Ia jujur sehingga tidak akan berjanji membagi uang per Kepala Keluarga, tidak berjanji naik haji gratis. Juga tidak berjanji membeli kapal pesiar. Sasarannya adalah mengelola uang rakyat untuk memastikan masa depan yang lebih baik, yaitu energi yang terbarukan. Panas bumi di Seulawah layak dikelola menjadi pembangkit listrik yang menghidupkan Aceh secara keseluruhan dan tidak tergantung lagi pada Sumatera Utara. Hal ini akan menggiatkan banyak hal. Investasi dan industri akan bersemangat, dan wisatawan akan melihat Aceh sebagai daerah yang layak dikunjungi. Ketersedian energi sangat penting.

Mohammad van Moekim XXII siap membawa Aceh kedepan, memegang erat tangan anak-anak Aceh, melangkah dan Aceh akan kembali megah.

*) Bagi yang terlalu serius membaca tulisan ini, penulis mengingatkan bahwa ini hanyalah “satire” dan jika anda tidak tahu apa itu “satire” silahkan buka Kamus Besar Bahasa Indonesia. Atau masih malas mencari, Klik disini.

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

EID MUBARAK AND PASCAL LAW

Hospitality is a tool to expand sustenance and extend our life. The larger the cross-sectional area and the greater the contents, the greater the pressure that can be faced.

EID MUBARAK AND PASCAL LAW

If the pressure is a force (push) that remains perpendicular to the unit area. Then the smaller the sectional area of the force the greater the pressure produced and vice versa. If F is the push force (impetus) acting on the surface of the cross-section A, then the pressure P is formulated as follows: P = F / A

In the SI system, the force is measured in Newton and the area is measured in m2. Thus, the unit of pressure is N / m2 also referred to as the Pascal or Pa unit, in honor of the French physicist Blaise Pascal (1623-1662).

Here’s an example of applying the concept of stress to everyday events:

  • In the truck, most of the vehicle’s weight pressure is centered on the rear axle so that the rear wheels are mounted double to prevent the tires from collapsing and the roads become damaged;
  • The foundation of the tall building is made as wide as possible so as not to collapse due to the enormous pressure from the building;
  • All cutting tools such as knives, machetes, and axes are sharply shaped at the cutting edge so that the cross-sectional area is reduced and the resulting pressure increases.

Celebrating Eid with the ordinance that covers and encompasses the necessities of life as a whole, both spiritual and physical. In Southeast Asia especially Indonesia Idul Fitri themed friendship, on this day we met with relatives and friends. Describes unity as a symbol of brotherhood.

If before this we as a human walk alone, the relationship is tenuous and only cooperate in incidental circumstances, especially when each has felt pressed, squeezed and thrown. Let us strengthen our brotherhood.

So on this holy day, we ask the prayer to Allah Almighty, hopefully, the God pointed at the hearts of the Muslims, especially the leaders, in order to mobilize the unity and unity of people who can raise the degree of the Muslims to a more perfect level and better than the past year.

Therefore, let us simultaneously utter the words “Minal ‘Aidin Wal Faizin” a spark of a soul filled with hope and optimism, hopefully, God makes us belong to the group of people who return (from the struggle) with a victory.

Translate from IDUL FITRI AND HUKUM TEKANAN PASCAL

Posted in International, Literature, Opinion, Story | Tagged , , , , , , , , | 6 Comments

IDUL FITRI DAN HUKUM TEKANAN PASCAL

Silaturahmi adalah alat untuk memperluas rezeki dan memperpanjang umur kita. Semakin luas penampang dan solid isinya maka semakin besar tekanan yang mampu dihadapi.

IDUL FITRI DAN HUKUM TEKANAN PASCAL

Jika tekanan adalah gaya (dorongan) yang tetap tegak lurus pada satuan luas. Maka semakin kecil luas penampang yang dikenai gaya semakin besar tekanan yang dihasilkan dan sebaliknya. Jika F adalah gaya tekan (dorongan) yang bekerja pada permukaan dengan luas penampang A, maka besar tekanan P dirumuskan sebagai berikut : P=F/A

Dalam system SI, gaya diukur dalam newton dan luas diukur dalam m2. Dengan demikian, satuan tekanan adalah N/m2 disebut juga sebagai satuan Pascal atau Pa, untuk menghormati fisikawan Perancis, Blaise Pascal (1623-1662).

Berikut contoh penerapan konsep tekanan pada peristiwa sehari-hari :

  • Pada truk, sebagian besar berat tekanan kenderaan berpusat pada as belakang sehingga roda belakang dipasang ganda untuk mencegah ban amblas dan jalan menjadi rusak;
  • Pondasi bangunan tinggi dibuat selebar mungkin agar tidak amblas akibat tekanan sangat besar dari bangunan tersebut;
  • Semua alat pemotong seperti pisau, golok, dan kapak dibuat tajam pada ujung pemotongnya agar luas penampangnya berkurang dan tekanan yang dihasilkan bertambah.

Merayakan Idul Fitri dengan tata cara yang mencakup dan melingkupi kebutuhan hidup kebutuhan manusia secara keseluruhan, baik yang bersifat rohaniah maupun jasmaniah. Di Asia Tenggara terutama Indonesia Idul Fitri bertemakan silaturahmi, pada hari ini kita bertemu dengan sanak saudara dan handai tolan.  Melukiskan tentang kesatuan dan persatuan serta menjadi lambang persaudaraan.

Jika sebelum ini kita selaku manusia berjalan sendiri-sendiri, hubungan yang renggang serta hanya bekerja sama dalam keadaan insidentil, terutama apabila masing-masing sudah merasa terdesak, terpepet dan terdepak. Mari kita perkuat ukhuwah kita.

Ini semua memperkuat “penampang” kita sebagaimana telah dijelaskan oleh Pascal melalui hukum tekanan. Silaturahmi adalah alat untuk memperluas rezeki dan memperpanjang umur kita. Semakin luas penampang dan solid isinya maka semakin besar tekanan yang mampu dihadapi.

Maka di hari raya yang suci ini kita mohonkan doa kepada Allah Azza wa jalla, mudah-mudahan DIA menunjuki hati kaum muslimin, terutama pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemukanya, supaya menggalang kesatuan dan persatuan umat yang dapat mengangkat derajat kaum muslimin ketingkat yang lebih sempurna dan lebih baik daripada tahun yang lampau.

Oleh karena itu, mari kita serentak mengucapkan kata-kata “Minal ‘Aidin Wal Faizin” sebuah cetusan jiwa yang diliputi pengharapan dan optimism, mudah-mudahan Tuhan menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang kembali (dari perjuangan) dengan membawa kemenangan.

Posted in Asal Usil, Data dan Fakta, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , | 6 Comments

THE MOMENT OF HAPPINESS

Humans may try and may fail. But there is a blessing behind that failure. I guess I just do not understand that yet.

THE MOMENT OF HAPPINESS

Inside we have a labyrinth. There we crash and keep going through it. Strangled, and uncertain. But, if we get through it, we will feel happier.

The butterfly effect is a sensitive dependence on the initial conditions in which small changes in one creature from the deterministic nonlinear system can lead to substantial differences in later states.

The whole incident in the universe is a series of random events, according to research by Edward Norton Lorenz in 1961. Using the help of computer simulations. Lorenz predicted the weather, initially, he rounded the number obtained into the number 0.506. But when he entered the more complete decimal number is 0.506127. Lorenz got a completely different result, which then surprised Lorenz, in fact, the figure is in practice equivalent to a flutter of butterfly wings.

The simulation shows that the flutter of butterfly wings can cause or prevent a tornado storm, it is amazing. Lorentz’s findings are further named the butterfly effect. Since the calculations used by Lorentz are based on random events, many experts try to interpret the phenomenon of the butterfly effect in human life.

So many events can happen to someone from other possibilities. All possible combinations of events that a person may experience are random but interconnected phenomena.

Any events that occur can open or close opportunities for the occurrence of other larger events. Because the possibilities experienced by a person also affect and be influenced by the possibilities experienced by others.

Life must be lived as play (Plato)

So all the people in this world seem to be in an infinite space with a combination of limited possibilities. The funny thing is that we, as human beings, can only mobilize themselves, perhaps what humans can do is a butterfly’s flutter. However, a simple movement, a momentum still provides an opportunity for the creation of important events in our lives.

Perhaps because of that also, in religion, the intention is very important. If thought carefully it may also be the cause that God’s good intentions have been counted rewarded. The Almighty God who is able to read the movements in the deepest hearts of His creatures.

The Most Gracious and Most Merciful has promised. For the sake of time. Surely we humans are in a loss. Except those who are advised in kindness and patience. So all my friends, we move in motion, the universe will tremble because of our movement.

Translate from MOMENTUM

Posted in International, Literature, Opinion, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

KISAH SEORANG PENGGALI SUMUR

Kebahagiaan terbesar seorang penggali sumur adalah ketika menemukan air

KISAH SEORANG PENGGALI SUMUR

Ketika hidup semakin kering dan kerontang akan hikmah, betapa Abu selalu mengingat Tengku Salek Pungo. Sekitar 6 tahun lalu ketika Abu berangkat meninggalkan beliau di Lhokseumawe dia berpesan kepada Abu. “Dalam bekerja kita jangan terlalu melihat keatas nanti kita menjadi pengiri dengki, dan juga jangan terlalu melihat ke bawah nanti menjadi sombong akan tetapi lihatlah ke depan untuk memacu diri lebih berkembang”

Jauh hari sebelumnya, sekitar tahun 2006 diawal perjumpaan kami, Tengku Salek Pungo pernah bertanya kepada Abu.  Pekerjaan apa yang paling dia segani di dunia ini? Yang orang-orang yang mengerjakan pekerjaan itu paling dikagumi oleh Tengku Salek Pungo. Abu tidak tahu, tapi tidak salah dengan berusaha sok tahu. Abu mengajukan bermacam profesi seperti dokter, bidan, perawat, pilot, guru, PNS, ilmuwan, ulama, sampai presiden dan kesemuanya itu ditolak oleh Tengku Salek pungo.

Akhirnya Abu menyerah dan bertanya sebenarnya apa profesi yang paling dikagumi oleh Tengku Salek Pungo. Ia tersenyum dan menjawab penggali sumur. Sudah pasti Abu menanyakan apa sebabnya akan tetapi Tengku Salek Pungo menggeleng dan mengatakan bahwa Abu harus mencari sendiri jawabannya. Hari ini Abu teringat, dan Tengku Salek Pungo sudah sekota dengan Abu lagi, maka hari ini Abu merasa harus mencari tahu maksud pertanyaan Tengku Salek Pungo.

Kebetulan Abu belum lama ini bertemu dengan bang Mur seorang “freelance” penggali sumur. Suatu profesi yang sudah semakin langka di zaman ini, mengingat begitu kencangnya arus pemasangan sumur bor dan semakin terpercayanya PDAM. Bang Mur menurut profile yang ia ceritakan berprofesi sebagai seorang pekerja “seraburan” yang professional. Oleh karena pekerjaan menggali sumur sering liburnya dari pada bekerjanya. Maka Abu dengan gaya reportase amatir mencoba mewawancarai bang Mur. Kita lewatkan sesi basa-basinya, Abu langsung menceritakan cerita pokoknya.

Abu (A). “Sudah berapa lama bang Mur menjadi seorang freelancer penggali sumur?

Bang Mur (B). “Sudah lama bu, semenjak Abang SMP, terkadang kalau tidak ada proyek gali sumur. Abang juga mengerjakan “proyek gali lobang tutup lobang.”

Abu (A). “Bisa tidak bang Mur menceritakan suka duka sebagai seorang penggali sumur?

Bang Mur (B). “Lebih banyak suka dari pada dukanya Abu, terutama begitu menemukan air, rasanya bahagia sekali.”

Abu (A). “Apa yang bang Mur lakukan selama mengali sumur?”

Bang Mur (B). “Lakukan apa? Ya menggali ke bawah tanah terus kalau kalau sudah selesai ya naik keatas.”

Menarik ini, Abu teringat pesan Tengku Salek Pungo, “dalam bekerja kita jangan terlalu melihat keatas nanti kita menjadi pengiri dengki, dan juga jangan terlalu melihat ke bawah nanti menjadi sombong akan tetapi lihatlah ke depan untuk memacu diri lebih berkembang”

Abu (A). “Bagaimana jika bang Mur dalam bekerja jika melihat kedepan?”

Bang Mur (B). “Melihat kedepan? Yang kelihatan hanya dinding sumur, ya kapan kerjanya? ada-ada aja Abu Nawas ini, hehehe.” (bang Mur tertawa riang).

Abu (A). “Berarti abang dalam bekerja tidak bisa melihat ke depan?”

Bang Mur (B). “Ya bisalah, tapi untuk apa? Nanti pekerjaan abang tidak selesai-selesai.” (Menarik ini, ternyata konsep Tengku Salek Pungo tidak berlaku kepada bang Mur).

Dan ketika Abu Nawas sedang mewawancara bang Mur , seorang anak datang sambil menanggis, ada apa ini pikir Abu.

Anak (C). “Ayah, adik bulan ini belum bayar uang sekolah. Kata ayah kemarin hari ini mau bayar uang sekolah.”

Bang Mur (B). “Oh, Iya sekarang ayah akan kesekolah untuk membayar SPP kamu. Abu Abang pamit dulu ya, biasa ngurus anak dulu.”

Abu Nawas pun pamit dari tempat bang Mur, hanya setelah dipikir-pikir Abu Nawas heran anak bang Mur sekolah, dan ini Ramadhan dimana seluruh sekolah libur. Jadi kalau bang Mur pergi ke sekolah untuk membayar SPP memangnya sekolah masih buka apa tidak ya? Atau zaman sekarang dengan segala dana BOS apakah SPP masih ada? Dan setelah Abu Nawas pikir-pikir lagi, ternyata inilah sebabnya Tengku Salek Pungo mengagumi penggali sumur, oleh karena konsepnya yaitu Atas, bawah, depan. Tidak bisa diterapkan kepada seorang penggali sumur.

Tiba-tiba Abu merasa rindu dengan Tengku Salek Pungo, kira-kira beliau di Lhokseumawe sana sehat-sehat saja tidak ya? Sekilas terbersit dalam hati Abu, apakah beliau masih hidup? Sudah lama Abu tidak bertemu dengan beliau. Sudah lama sekali, kami tidak saling mengirim kabar berita. Entahlah, semoga beliau disana baik-baik saja.

Simak juga Petualangan Abu lainnya

Posted in Asal Usil, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , | 1 Comment

SOLEMN

This world, time, like a stream of water, is sometimes deflected by a piece of rubble, by a gentle breeze.

SOLEMN

Let time be a circle, which surrounds itself. Thus, the world repeats itself, precisely, forever.

Usually, people do not know that they will live their lives again. Merchants do not know that they will bid and bid again. Politicians will not know that they will shout from the pulpit to the pulpit over and over in the course of time. Parents enjoy their children’s first laugh as if they will not hear back. A newlywed couple who first made love shyly dressed, gawked by the smooth thighs, the soft nipples.

How do they know that every secret leap, every touch will be repeated endlessly, just like before?

A city, a universe, so it happens. How do workers know that each sheet of money, each bundle of money, each stamp, every damage occurring on the way back to their pockets?

At night, the workers went home or stopped at the coffee shop, shouting joyfully with friends, caressing each of those precious moments as caressing the temporary emeralds.

How did they know that nothing was temporary, that everything could come back? Exactly an ant that circles the thread of a Crystal lamp, knowing that it will return to its starting point.

In a world where time is a circle, every handshake, every kiss, every birth, every word will repeat exactly. So is the case when two friends stop being friends. When the family breaks down. When the rotten words come out of the mouth of the arguing husband and wife. When the chance of reconciliation becomes vanishing with jealous fire, or the revealed sin when the promise is not fulfilled.

And because things will repeat themselves in the future, then what happens today has also happened millions of times before. Some people in every city, in their dreams, vaguely realize that everything they dream has happened in the past. They are people whose lives are unhappy. They feel that their wrong judgments, wrong actions, and misfortune have taken place in the previous rounds of time.

In a quiet night, he wrestled with a blanket, unable to sleep, banged on the knowledge that they could not change a single action, not even one gesture. The mistakes they have made will be repeated exactly in this life, as in previous lives.

In fact, if he thinks. Human is God’s creation, part of the universe. The universe created with the same energy when it is destroyed, then blessed are solemn. “And seek help through patience and prayer, and indeed, it is difficult except for the humbly submissive [to Allah ]. Who are certain that they will meet their Lord and that they will return to Him.” Surah Al-Baqarah [2:45-46] – Al-Qur’an al-Kareem

This world, time, like a stream of water, is sometimes deflected by a piece of rubble, by a gentle breeze. Either now or later, the cosmic movement will cause the creek to turn from the mainstream to the previous stream, but eventually, to the upper reaches, it will lead to.

Translate from Khusyuk

Posted in International, Literature, Opinion, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

DONNARUMMA THE TRAITOR

Milan will go forward, Milan will definitely forward! By removing the poisonous snake from the team. No doubt Donnarumma (may) have a glorious career in the future, but he will never be the same again in the eyes of the people, whoever he is.

DONNARUMMA THE TRAITOR

When asked if greed is good? Usually, greedy people will be good at putting up sentences. The human desire for something better and human ambition has many good things in the world. Leave the comfort zone is part of greed, we will never know to what extent the desire will be satisfied if the prevailing is “greed is good.”

A few weeks ago we witnessed a beauty when Francesco Totti ended his lifelong career with Roma. Today we remember how difficult it is to do in the world of football. Moreover, when Gianluigi Donnarumma refused to extend contact with Milan. The loyalty we have seen to Paolo Maldini, Franco Baresi, even Javier Zanetti has faded seemingly in Serie-A. Is this all a sign of greed?

What’s wrong with Milan’s management efforts? Nothing. He was deployed in the first team at the age of 16, became a star and can strengthen the Italian national team at the age of 18 years. He was offered a contract of 5 million euros per year for 5 years. Which is him, Donnarumma will be the third highest paid goalkeeper in the world, just under Manuel Nuer (Bayern Muenchen) and David De Gea (Manchester United). Imagine as an 18-year-old teenager he would have been paid over Italian legend Gianluigi Buffon. If anyone can not be blamed for this failure, that is Milan’s management ranks.

It’s easy to blame the agent Mino Raiola. He is an unpleasant figure and is already part of his character. That’s why he became one of the top agents, protecting and safeguarding his client’s rights. it includes a hold on all the attacks directly to Donnarumma. Donnarumma is now 18 years old, he is mature and thoughtful. So do not pretend that Raiola has been brainwashed. Donnarumma should know what he did, a few weeks ago he kissed the Milan jersey badge, today he betrayed Milan.

Football is business, but what Donnarumma does is completely wrong. He sends Riola to do the dirty work, refusing to confirm directly with Milan’s management. He remained silent as fans pleaded, then pretended to care about Milan’s uniform more than anything. Then go when Milan has had a strong investor.

When things are very optimistic is very painful for Milan (and Milanisti), when it has strengthened all the lines. Starting from Defender (Matteo Mussasio and Riccardo Rodriguez), midfielder (Franck Kessie) and striker (Andrea Silva), and will add more players who join, just the goalkeeper who felt safe even defected. The search for a new player is forced to take a step back, Milan must immediately look for another goalkeeper. This is not only betrayal but also a sabotage.

Actually, what does he want? Madrid? It’s foolish to believe in a traitor’s bullshit. Crazy people also know that Madrid does not need him, they will not pay young boys like Milan (5 Million Pounds Sterling per year). An 18-year-old Italian youth in Spain is too risky to immediately become the first team for UEFA Champions League winners 2016/2017. Madrid, it’s a bad diversion of issues.

Anyone who understands football knows which clubs need heirs for their legendary goalkeeper who retires in 2018. Evil clubs that like to steal competing stars, who else if not “the thief.” Any club Donnarumma will join later is the real mastermind of this event and will be the target of Milanisti hatred of all time.

How great is he? Almost no team in the world builds their power base based on goalkeeping power. Donnarumma is yet to be the best goalkeeper, weak in the ball with his legs. But he has a suitable posture, a good reflex, as well as the most important high confidence that is very rare in his age.

We have to move forward and Milan will move forward! By removing the poisonous snake from the team. No doubt Donnarumma (may) have a glorious career in the future, but he will never be the same again in the eyes of the people, whoever he is.

It is the player’s right not to renew the contract, the Bosman rules are clearly set. But the club’s right is also not to play him throughout the season, as well as the right fans to insult him. Want to protest or bring a lawyer, we are not afraid. We have to move forward and Milan will move forward! Donnarumma is no bigger than Milan. For us (Milanisti) he is nothing more than a traitor.

“We can forget the defeat, but we can not forget the betrayal.” Herbert Kilpin co-founder of AC Milan.

Posted in International, Opinion, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , | 5 Comments

DONNARUMMA SI PENGKHIANAT

“Kami bisa melupakan kekalahan, tapi kami tidak bisa melupakan pengkhianatan.” Herbert Kilpin salah seorang pendiri AC Milan.

DONNARUMMA SI PENGKHIANAT

Bila ditanya apakah serakah itu baik? Biasanya orang serakah akan pandai memasang kalimat. Keinginan manusia meraih sesuatu yang lebih baik dan ambisi manusia telah banyak hal baik di dunia. Tinggalkan zona nyaman adalah bagian dari keserakahan, kita tak akan pernah tahu sampai batas kapan hasrat akan terpuaskan, jika yang berlaku adalah “serakah itu baik.”

Beberapa minggu lalu kita menjadi saksi dari sebuah keindahan, ketika Francesco Totti mengakhiri perjalanan karir seumur hidup bersama AS Roma. Hari ini kita teringat betapa hal itu sulit dilakukan dalam dunia sepakbola. Apalagi, ketika Gianluigi Donnarumma menolak memperpanjang kontak dengan Milan. Loyalitas yang pernah kita saksikan pada Paolo Maldini, Franco Baresi, bahkan Javier Zanetti telah pudar tampaknya di serie-A. Apakah ini semua tanda keserakahan?

Apa yang salah dari usaha Milan? Tidak ada. Dia diturunkan di tim inti pada usia 16 tahun, menjadi seorang bintang dan bisa memperkuat tim nasional Italia di umur 18 tahun. Ia ditawarkan kontrak 5 Juta Euro pertahun untuk 5 tahun. Yang mana dia akan menjadi penjaga gawang nomor 3 bergaji tertinggi di dunia, hanya dibawah Manuel Nuer (Bayern Muenchen) dan David De Gea (Manchester United). Bayangkan di umur 18 tahun dia sudah akan dibayar di atas legenda Italia Gianluigi Buffon. Jika ada yang tidak bisa disalahkan atas kegagalan ini, itu adalah jajaran manajemen Milan.

Sangat mudah memang menyalahkan Mino Raiola sang agen. Riola adalah sosok tidak menyenangkan dan sudah merupakan bagian dari karakternya. Itulah mengapa dia menjadi salah seorang agen top, melindungi dan menjaga hak kliennya, itu termasuk pasang badan terhadap semua serangan. Donnarumma sekarang berusia 18 tahun, dia cukup dewasa dan memiliki pemikiran sendiri. Jadi, jangan berpura-pura seolah telah dicuci otak oleh Raiola. Donnarumma harusnya tahu apa yang dilakukan, beberapa minggu lalu ia mencium badge jersey Milan, hari ini ia mengkhianatinya.

Sepakbola adalah bisnis, tapi apa yang dilakukan oleh Donnarumma itu sepenuhnya salah. Dia mengirim Riola untuk melakukan pekerjaan kotor, menolak mengkonfirmasi secara langsung dengan manajemen Milan. Dia tetap diam ketika fans memohon, lalu berpura-pura peduli akan seragam Milan lebih dari apapun. Kemudian pergi ketika Milan telah memiliki investor yang kuat.

Ketika keadaan sedang sangat optimis adalah sangat menyakitkan bagi Milan (dan Milanisti), ketika telah memperkuat semua lini dari belakang (Matteo Mussasio dan Riccardo Rodriguez), tengah (Franck Kessie) dan depan (Andrea Silva), serta akan bertambah lagi, justru bagian penjaga gawang yang dirasa aman malah membelot. Proyek pencarian pemain baru terpaksa mundur selangkah, Milan harus segera mencari penjaga gawang lain. Ini tidak hanya pengkhianatan tapi juga sebuah sabotase.

Sebenarnya apa yang diincarnya? Madrid? Tolol sekali kita jika percaya bualan si pengkhianat. Orang gila juga tahu bahwa Madrid tidak butuh dirinya, mereka tidak akan membayar anak muda belia selayaknya Milan (5 Juta Poundsterling pertahun). Seorang anak muda Italia 18 tahun di Spanyol terlalu beresiko untuk langsung menjadi tim inti bagi pemenang Liga Champions 2016/2017. Madrid itu adalah pengalihan isu yang buruk, siapapun yang paham sepakbola tahu klub mana yang membutuhkan pewaris untuk penjaga gawang legenda mereka yang pensiun di 2018. Klub jahat yang suka mencuri bintang-bintang pesaingnya, siapa lagi kalau bukan “si pencuri.”

Klub manapun yang menampung Donnarumma kelak adalah dalang sesungguhnya peristiwa ini, dan akan menjadi sasaran kebencian Milanisti sepanjang masa.

Sehebat apa memang dia? Hampir tidak ada tim di dunia membangun basis kekuatan mereka berdasarkan kekuatan penjaga gawang. Lagi pula Donnaruma belum menjadi penjaga gawang terbaik, dia lemah dalam mengoper bola dengan kaki. Tapi dia memiliki postur yang cocok, refleks yang baik, serta yang paling penting kepercayaan diri tinggi yang sangat jarang di usianya.

Milan akan maju, Milan pasti maju! Dengan menyingkirkan ular berbisa dari tim. Tidak diragukan Donnarumma (mungkin) memiliki karir gemilang di masa depan, tapi dia tidak akan pernah sama lagi di mata orang-orang, siapapun dia.

Adalah hak pemain untuk tidak memperpanjang kontrak, aturan Bosman mengatur secara jelas. Tapi hak klub juga untuk mencadangkan sepanjang musim, serta hak fans untuk merendahkan. Silahkan protes atau membawa pengacara sekalian, kami tidak takut. Milan akan maju dan Milan pasti maju! Donnarumma tidak lebih besar dari Milan. Bagi kami (Milanisti) dia tak lebih dari rendang basi yang tak tahu diri.

“Kami bisa melupakan kekalahan, tapi kami tidak bisa melupakan pengkhianatan.” Herbert Kilpin salah seorang pendiri AC Milan.

Posted in Asal Usil, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , | 6 Comments

CONQUEST OF CULTURE

The Mongol conquest always left the mountains of human skulls

CONQUEST OF CULTURE

Ibn Khaldun said, “Losing cultures will follow the winning culture”. And of course, the conquest of the Mongols / Tartars was forced to be excluded from this theory. We can see how the Mongol / Tartar conquerors who devastated Baghdad eventually embraced Islam through Takudar or Muhammad Khan and elsewhere the grandson of the conqueror “Genghis Khan” Kublai Khan chose to follow Chinese culture and founded the Yuan Dynasty.

The Book of Mukkadimah written by Ibn Khaldun

But Ibn Khaldun’s theory proves to be valid, for example when Germany, Japan, and Italy (the Axis block) were conquered in World War II. So the system of Fascism disappeared from the face of the earth replaced by the system of Capitalism / Liberal and Communist who became the winner and the most obvious is when Germany separated into two parts of West Germany and East Germany.

The pattern of re-emerging occurred when Communism collapsed in the late 1980s, in which Eastern European countries ran away from the Communist system to replace it with a more open and “more democratic” economic system. Even now China and Vietnam, while still embracing Communism but being “forced” Should liberalize the country’s system of international “globalization pressures” of the world.

Practically in the present era, the so-called Liberal Democracy is at its heyday after Fascism is buried and Communism is conquered. What is in the name of Democracy under the banner of the American West and its allies is the absolute truth that must be followed by another country, in full or by modification.

US President George W. Bush once boasted at the end of 2005 confidently saying that “Every nation that exists in the world today should stop all efforts to compete with Western culture.” Although the next day the Russian President, it is possible to maintain prestige. Vladimir Putin replied, “We are not the same, and we are not with you”. But we have to admit that Western dominance is really strong in today’s world.

Automatically and very clearly put forward by Samuel Huntington in Clash of Civilization that the threat to Western culture is Islam. And the difference becomes clear when the values continue to clash. Many examples are happening and the author thinks no need to be written again because we all already know.

The question is Dare we say “Your values are different from our values and do not force us to follow you.” Courageous in actions, words, and intentions. And hopefully, the courage is not fading away from our self.

“Throught history many nations have suffered a physical defeat, but has never marked the end of a nation. But when a nation has become the victim of a phychological defeat, then that marks the end of a nation” – Ibnu Khaldun

Translate from Penaklukkan Kebudayaan

Posted in History, International, Literature, Opinion, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 11 Comments