INDAH BUNGA

Flowers that are beautiful

INDAH BUNGA

Yang terindah dari sekuntum bunga
Bukanlah tatkala mekar di musim semi
Jumlah tak terhitung
Mewarnai sisi-sisi dunia

Yang kutahu akan gugur
Dan tak satupun bertahan
Semuanya layu, tiada bersisa
Seiring musim semi berakhir

Yang terindah dari sekuntum bunga
Disaat jatuh tertiup angin
menyebar kesuburan di dalam tanah
Indah bunga pada kematiannya

Banda Aceh, 8 Maret 2005

Beberapa syair syahdu lain:

  1. Maksud Hatiku Padamu; 1 Agustus 2008;
  2. Dinda Dimanakah Engkau Berada; 1 Agustus 2008;
  3. Elegi Puisi Kematian Cinta; 3 Agustus 2008;
  4. Dalam Jubah Sufiku; 3 Agustus 2008;
  5. Dipersimpang Jalan; 3 Agustus 2008;
  6. Puisi Terindah; 3 Agustus 2008;
  7. Maghribi dan East; 3 Agustus 2008;
  8. Surat Kepada Sepotong Masa Lalu; 3 Agustus 2008;
  9. Tahukah Engkau Cinta; 4 Agustus 2008;
  10. Dua Puluh Empat Setengah Tahun; 6 Agustus 2008;
  11. Elegi Pagi Hari, Sebuah Puisi; 7 Agustus 2008;
  12. Cryptogram; 4 September 2008;
  13. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  14. Kita Yang Tak Akan Bertemu Kembali; 9 September 2008;
  15. Benci diatas Cinta; 13 September 2008;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 17 Comments

TAFSIR SANG PENAFSIR

Seorang penafsir tidak lahir dari ruang hampa, ia makhluk sejarah.

TAFSIR SANG PENAFSIR

Di sepetak ruang, di sudut lorong-lorong gelap, berkelok, tak tahu di mana ujungnya. Ruangan tak kalah gelap itu. Hanya cahaya dari balik jendela kecil di atas sana yang lariknya menembus, membelai debu-debu beterbangan, menyapa lembaran kertas menumpuk, berteman kertas, berikut tinta dan pena, tempat menorah. Ada tangis berlapis senyum bahagia. Sungguh tak ada penjara disana. Tiada gentar sama sekali, adalah surga.

Menjalani daif, kesalahan. Siapakah yang memastikan sepanjang jalan kehidupan dalam hari-hari mengalir, ataukah pernah dia menumbuhkan cinta, menetapkan hati. Benarkah ia? Tak ada dendam disana, tak ada rasa ingin membalas, menuntut, atau melakukan tindakan membela diri. Ataukah bebaskah ia? Dari rasa dengki menjadi-jadi. Apakah dengan senyum dan tenang, ia jalani lika-liku kehidupan.

Tidak! Seorang penafsir tidak lahir dari ruang hampa, ia makhluk sejarah.

Karena tafsir selalu berkembang bersama ruang dan waktu, itulah mengapa tidak ada tafsir baku yang tetap sepanjang waktu. Kita tahu setiap tulisan dan tafsir dikemukakan dalam bahasa, dan bahasa dalam keniscayaaannya membentuk sejarah.

Sebuah tafsir, adalah samudera makna yang bergerak, ia bukanlah bendungan makna. Pergerakannya nyaris tak bertepi, sehingga tak bisa pun dikendalikan secara penuh oleh penggubah.

Karena ada saja orang yang terjerat rayuan, tak jarang pula jatuh cinta karena tulisan. Ini semua hanyalah kata-kata. Ada kalanya tanpa disadari, kata adalah jembatan kecil yang bias dijajaki untuk menelusuri ada apa diujung sana.

Karena pembaca yang menentukan. Tiap kali ia bisa berupa makna yang berlapis-lapis. Sehingga menjadi pergulatan yang tak pernah selesai. Seorang Penyair (sering) menyuarakan kebenaran, namun kita tak bisa berharap dunia berubah hanya karena kata-kata semata.

Beberapa renungan:
  1. Raja Hati Vs Perdana Menteri Otak; 3 Agustus 2008
  2. Hari yang Indah; 4 Agustus 2008
  3. Bidadari Fakta atau Fiksi; 12 September 2008
  4. Pahamilah Apakah Hidup Dalam Diri Manusia; 22 September 2008
  5. Topeng; 9 Oktober 2008
  6. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  7. Terima Kasih Telah Menolakku Kemarin; 24 November 2008;
  8. Melebihi Keangkuhan Iblis; 5 Desember 2008;
  9. Malam Yang Tertaklukkan; 10 Desember 2008;
  10. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  11. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  12. Kehidupan Yang Terkadang Paradoks; 30 Januari 2009;
  13. Hantu; 20 Februari 2009;
  14. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  15. Wajah Iblis Sang Malaikat; 12 Maret 2009;
  16. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  17. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  18. Duhai Diriku Mengapa Engkau Bersedih; 13 Mei 2009;
  19. Selamat Kembali Pulang Sahabat; 25 Mei 2009;
  20. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 20 Comments

MANAJEMEN KRITIK

Manajemen Kritik

MANAJEMEN KRITIK

Seseorang yang berhenti mendengarkan kritik dan belajar walau sehebat apapun dia tak akan menjadi lebih baik. Dalam berbagai kasus, kritik telah menghancurkan mental banyak orang. Sehingga mereka terpuruk dan tak dapat kembali lagi.

Tidak sedikit pula, orang-orang yang membalikkan keadaan. Justru kritik membuat mereka menjadi lebih baik, kritik justru menempa batin dan jiwa mereka.

Namun terlalu mendengar kritik juga tidak terlalu baik, sering maju mundur karena terlalu mendengar kritik, sehingga segala perencanaan dan keinginan justru hancur sebelum dimulai.

Tak sedikit pula yang menulikan telinga mereka menghadapi kritik, menurut pengamatan penulis orang-orang yang tidak mau mendengar kritik justru memiliki karakter yang mapan, artinya sikap dan mental sudah mencapai final sehingga tidak mungkin mengubahnya kembali.

Secara umum ada 3 reaksi dalam menerima kritik :Menerima, menolak dan terakhir bernegoisasi. Bagaimana dengan pilihan anda sendiri dalam menerima kritik? Segalanya terserah kepada anda. Tetap keukeuh dengan pendirian walau dibilang sebagai kepala batu namun kelebihannya memiliki dasar karakter yang kuat. Atau menuruti kritik tersebut dengan resiko dianggap terombang-ambing namun kelebihan dari pilihan ini kita selalu masih ingin belajar.

Apapun pilihan anda, saran penulis jangan berlebihan.

Beberapa Pemikiran Lain:

  1. Bersatulah Bangsaku; 1 Agustus 2008
  2. Berpikir dan Bertindak; 3 Agustus 2008
  3. Kenaikan BBM, Sikapi Dengan Harga diri; 3 Agustus 2008
  4. Melanjutkan Perjuangan; 4 Agustus 2008
  5. Perempuan Aceh Full Power; 4 Agustus 2008
  6. Jomblo Bukan Berarti Homo; 12 Agustus 2008
  7. Lebih Menggetarkan Dibanding Asmara; 22 Agustus 2008
  8. Temukan Mentor Rahasiamu; 23 September 2008
  9. Sang Tiran; 15 Oktober 2008
  10. Yang Muda Yang Berguna; 22 Oktober 2008
  11. Lughat; 28 November 2008;
  12. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  13. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  14. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  15. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
Posted in Asal Usil, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 16 Comments

BENCI DI ATAS CINTA

Menjauhlah dariku karena aku tak akan pernah akan membiarkan engkau menyentuhku.

BENCI DI ATAS CINTA

Yah, nona akhirnya engkau menemukanku disini. Dipersembunyian yang amat kurahasiakan darimu, sebagai liang pencurahan hati dan pikiran bebas lepas. Engkau yang berkata menitikkan air mata membacanya. Maka ketahuilah bahwa aku tak percaya pada kata-katamu lagi meski engkau mengatakan siang itu terang, dan malam itu gelap.

Wahai nona yang berkata tak berani mendengarkan suara dan menatap wajahku, ketahuilah bahwa aku telah mengubur masa lalu bersamaan rambut yang kucukur habis. Engkau pasti tahu bagaimana aku mencintai mahkotaku, bagiku dia sudah tak ada sama denganmu. Segera sejak hari itu, aku berusaha melepaskan diri dari jerat harapan perempuan yang kuberi julukan wanita laba-laba.

Dan bila engkau ingin kembali ke masa lalu, itu bukan bagianku untuk memikirkannya. Seperti halnya gerak majuku ke masa depan bukanlah pertanggungan bagimu. Aku dan kamu adalah insan merdeka yang bebas berkehendak dan bertindak bagi kemaslahatan diri sendiri.

Nona, jangan berkata masih menyimpan cinta untukku apalagi berjanji akan menjaga selamanya. Karena bagianmu di hati telah kubuang ke laut lepas, bersama desiran ombak selat Malaka. Nona jangan bermain licik dengan memilih satu hati dan tetap memperhatikan hati yang satunya lagi. Engkau telah memilih dia dan menyingkirkanku, teguhlah pada keputusanmu. Sifat ambigumu hanya akan menyakiti kami berdua.

Mungkin aku pernah berlaku terlalu lembut, sehingga engkau menganggap diriku sebagai pecundang. Janganlah mengucapkan kata maaf berkali-kali, engkau merendahkan kemampuanku akan bahasa. Aku bukan orang dungu yang tak paham, hakku tiada menjawab. Mengapa engkau selalu memaksakan keinginanmu padaku? Denganku kamu terlalu percaya diri, selalu hanya denganku.

Padahal kemarin aku sudah melupakanmu, mengapa engkau datang dengan sebuah pesan? Cinta, harapan, janji jika ia pernah ada maka anggaplah ia sekarang tiada. Menjauhlah dariku karena aku tak akan pernah akan membiarkan engkau menyentuhku. Aku sudah membuang semua gambarmu, bahkan ingatanku sudah tak mengingat wajahmu lagi. Ketika menulis aku hanya membayangkan wajah seekor laba-laba betina. Pergilah atau jika tidak aku lebih akan sangat membencimu.

“Seumur hidup tiada pernah berada disebuah titik kebencian, jijik, muak dan marah seperti ketika membaca pesanmu lewat tengah malam itu. Sebegitu hebatnya sehingga merasa malu pada diri sendiri, mengapa memiliki amarah kepada seseorang dengan tingkat seperti itu. Tuhan, ampuni hamba.”

Beberapa kisah cintaku:
  1. Inikah Cinta; 1 Agustus 2008;
  2. Catatan Seorang Pecundang; 1 Agustus 2008;
  3. Maksud Hatiku Padamu; 1 Agustus 2008;
  4. Dinda Dimanakah Engkau Berada; 1 Agustus 2008;
  5. Elegi Puisi Kematian Cinta; 3 Agustus 2008;
  6. Dalam Jubah Sufiku; 3 Agustus 2008;
  7. Puisi Terindah; 3 Agustus 2008;
  8. Surat Kepada Sepotong Masa Lalu; 3 Agustus 2008;
  9. Tahukah Engkau Cinta; 4 Agustus 2008;
  10. Cryptogram; 4 September 2008;
  11. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  12. Kita Yang Tak Akan Bertemu Kembali; 9 September 2008;
  13. Indah Bunga; 20 September 2008;
  14. Padamu Perempuanku; 25 September 2008;
  15. Hikayat Sang Pengembara; 6 Oktober 2008;
  16. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  17. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  18. Kalah Perang; 5 November 2008;
  19. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  20. Terima Kasih Telah Menolakku Kemarin; 24 November 2008;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 19 Comments

BIDADARI FAKTA ATAU FIKSI

Bagi sebagian orang sosok bidadari tersebut terlihat sangat nyata.

BIDADARI FAKTA ATAU FIKSI

Ditempat ini, tiada pula cintaku bersisa. Oh tidak, karena cintaku akan selalu ada, kemana pun jiwaku mengembara. Apakah yang membedakan inspirasi dan imajinasi? Dalam mengarang inspirasi bersumber dari pengalaman atau kejadian yang kita lihat. Sedang imajinasi adalah sesuatu yang berasal dari pemikiran. Seorang penulis yang baik adalah seseorang yang mampu mengkombinasikan keduanya, dan jika harus memilih salah satu adalah lebih baik jika bersandar pada imajinasi, karena ia tak berbatas berbeda dengan inspirasi tidak selalu datang setiap saat.

Aku telah bersepakat dengan diriku sendiri bahwa akan mengubur apa yang dinamakan cinta. Aku tak membenci akan adanya cinta, namun cinta telah melukai diriku sehingga cinta yang membuatku menjauhinya. Cinta itu sendiri yang membimbingku untuk menghindarinya. Cinta telah menodai keyakinanku pada cinta itu sendiri. Apakah salah jika aku menolak cinta? Munafikkah jika aku menafikan adanya cinta dalam hatiku? Cinta hanya menjadikan manusia sebagai budak belaka. Cinta telah membuatku dewasa untuk mengerti, sekaligus memaafkan kelakuanku. Butuh waktu untuk memahami bahwa cinta adalah keindahan memerlukan penafsiran yang utuh dan menyeluruh, saat ini cinta bagiku hanyalah luka yang membawa pada sebuah pilihan, membentengi diri dari pesonanya sekuat mungkin, sekukuh yang kubisa. Cinta, jasad, jiwa dan segala sesuatu di diri ini maafkan aku yang belum siap menerimamu kembali

Adakah hal diatas adalah fakta (inspirasi) atau fiksi (imajinasi)? Sebenarnya sebagai penulis sangat tidak baik membuka rahasia. Namun banyak kritik membuat penulis harus berbicara.

Penulis dalam menulis puisi, sesuai text book lebih bergantung pada imajinasi. Tanpa bermaksud mengharu biru, tanpa bermaksud menolak datangnya cinta hanya menulis apa yang ada didalam isi kepala. Salahkah ia? Akan menjadi salah jika ia seolah menjadi menipu kepada banyak orang, namun dari segi kesusastraan ia benar, bebas. Segenap kritik dari banyak teman membuat penulis membuka jati diri sumber penulisan ini. Bahwa perempuan yang penulis sering ceritakan adalah sosok unreal, ia hanya bayangan yang penulis susun berdasarkan sebuah puisi bertahun lalu.

Angin laut bernyanyi sepi
Burung di awang terbang rendah
Saksikan riwayat hidup bergulir
Alam selalu menyimpan misteri
Kembalilah kesini wahai sertakan selendang indahmu
Hadirkan mimpi abadi sepanjang masa
Tak terlukiskan, tak terbayangkan
Kala siang takluk akan malam
Aku masih bermohon padamu
Menembus awan ‘tuk turun kebumi
Dalam sempurnanya ciptaan Tuhan

Banda Aceh, 20 Agustus 2001

Bagi sebagian orang sosok bidadari tersebut terlihat sangat nyata. Apakah itu karena penulis mampu mengaduk perasaan banyak orang melalui imajinasi tanpa batas ataukah memang berbakat menjadi seorang penipu ulung. Untuk berbagai kesalahpahaman penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Sesungguh pun ketika jiwa ragaku terpenjara, pikiranku bebas mengembara. Mengunjungi negeri-negeri nun jauh. Berperang disamping para Sultan, berunding dengan para Emir, menunggangi kuda terbaik dipadang stepa Mongol, membelah rimba raksasa Afrika, memandangi selat Bophorus, atau hanya bercengkrama ditaman-taman kota Sevilla.

XXX

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 9 Comments

KITA YANG TAK AKAN BERTEMU KEMBALI

Kita yang tak akan bertemu kembali

KITA YANG TAK AKAN BERTEMU KEMBALI

Dinda bahagiakah engkau disana
Sekian lama tiada berjumpa
Tlah lama tak mendengar kabarmu
Hilang dalam ruang dan waktu
Pernah kita merasa bahagia
Membaui hujan menjejak tanah
Luruhnya debu membersihkan kalbu
Memandang bias-bias pelangi
Pernah juga kita menangis bersama
Tiada pernah kuingkari
Tegar menghadang tempaan
Memandang senyummu itu
Dinda, kita yang takkan bertemu kembali
Ku ingin tiada lagi air matamu untukku
Dinda dimanapun engkau berada
Kuharap engkau bahagia disana

Lhokseumawe, 26 Maret 2006

Beberapa puisi romatik:

  1. Selamanya; 14 Desember 2008;
  2. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  3. Puisi Tentang Gerimis; 22 Desember 2008;
  4. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  5. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  6. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  7. Orang Asing Yang Terasing; 3 Februari 2009;
  8. Anak-Anak Bermain Bola; 26 Februari 2009;
  9. Dua Puluh Lima Tahun Seperempat Abad Sudah; 2 Maret 2009;
  10. Wajah Iblis Sang Malaikat; 12 Maret 2009;
  11. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  12. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  13. Mencumbui Kematian Sebuah Elegi; 16 Mei 2009;
  14. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  15. Berakhir Disini; 16 Juli 2009;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 16 Comments

KEINDAHAN SANG REMBULAN

“Apakah menurutmu bulan itu indah? Tolong beritahu aku keindahan bulan hingga kau memandanginya sambil berbaring.”

KEINDAHAN SANG REMBULAN

Percakapan Apollo dan Artemis

“Apakah menurutmu bulan itu indah? Tolong beritahu aku keindahan bulan hingga kau memandanginya sambil berbaring.” Tanya Artemis pada Apollo.

“Bulan dalam kesendiriannya, menahan gempuran segala meteroid menghantam hanya untuk memantulkan cahaya matahari ke bumi. Membuatku merasa tak sendiri disaat paling sepi sekalipun.” Mata Apollo masih memandangi cahaya bulan redup diangkasa.

“Aku yang tak paham tentang makna kesepian, kesedihan dan ingin jadi milik siapa diriku ini. Terlebih aku hanya ingin hidup demi diriku sendiri didunia ini.” Kegamangan adalah penyulusup yang menusuk siapapun ia, termasuk Apollo.

“Haruskah aku bersumpah atas nama bulan untuk meyakinkanmu saudaraku, bahwa aku tidak pernah akan meninggalkanmu.” Tanya Artemis pada kembarannya tersebut.

“Jangan pernah bersumpah atas nama bulan adikku. Karena bulan bergantung pada matahari, ia kerap hilang ditelan cuaca. Walau ia mampu menguasai arus pasang dilautan namun itu hanya sementara dan tak pernah selamanya.” Apollo mengelengkan kepala.

Artemis tersenyum, sungguh ia tak menyangka kembarannya yang perkasa. Terlalu menyilaukan dari jauh, merupakan perwujudan kesempurnaan baginya sebegitu lunak, bagaikan sebuah kerang yang melindungi diri dengan cangkangnya. “Aku harus berbuat apa?”

“Bersyukurlah engkau dianugerahkan nikmat air mata dimana dirimu tenggelam didalamnya namun ia mampu menahan beban seberat gunung tertinggi didunia, ia mampu membendung derita melebihi samudera.” Apollo menarik nafas panjang, hidungnya berair.

Artemis diam. Kecerdasan mengalahkan keinginan sang putri bulan untuk banyak berbicara.

“Saudariku, bulan dan matahari sudah ditakdirkan jauh jaraknya. Seperti kepergianmu kelak dari sisi kami, namun yakinlah sejauh apapun matahari dari bulan ia akan tetap mengirimkan sebentuk sinaran yang akan membuat bulan tetap bercahaya. Dan apabila aku merasa sepi dengan kepergianmu nanti maka abangmu ini akan menatap bulan dan bercakap-cakap dengannya.”

Apollo mengakhiri percakapan, bangun dan beranjak pergi. Adakah sesuatu yang lebih kental dari darah? Berikan aku jawabannya.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  4. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  5. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  6. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  7. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  8. Selamanya; 14 Desember 2008;
  9. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  10. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  11. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  12. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  13. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  14. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  15. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  16. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  17. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  18. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  19. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  20. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  21. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  22. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  23. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  24. Ashura; 13 Februari 2013;
  25. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  26. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  27. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 73 Comments

CRYPTOGRAM

Gadis Maghribi

CRYPTOGRAM (RAHASIA CINTA)

“Betapa angin membawa kabar tentang segala sesuatu mudah berubah. Warna-warni bunga menegaskan kenyataan bahwa apa pun yang berkembang dengan indah akan membusuk kemudian hari. Seperti halnya kebangaan hanya bertahan sejenak, bagai mimpi di musim penghujan. Dalam waktu singkat, kedigdayaan akan surut, dan segalanya akan menjadi debu yang tertiup angin. Namun cintaku padamu akan kujaga selamanya”

Sesuatu yang tersimpan didalam pemikiran dinamakan sifat, sedang yang terlihat dalam bentuk sikap adalah perilaku. Gabungan dua komponen tersebut dinamakan karakter. Merupakan pembentuk seseorang anak manusia dalam menunjukkan konsistensi, sebagai pembeda dengan orang lain, menunjukkan perilaku dalam berinteraksi dengan situasi berbeda hingga akhirnya menjadi tolak ukur dalam pengukuran kepribadian tunggal.

Ada banyak teori dan study tentang prilaku tentang manusia, adalah makhluk yang dinamis dan menyesuaikan diri dengan apapun. Dalam kehidupan pergaulan sisi karakter itu penting, menempatkan diri sebagai orang yang mempengaruhi atau terpengaruh oleh lingkungan.

Maka jika ada yang berkata tentang aku tak setia, berkata berubah, berkata tak baik, berkata tak peduli. Maka jangan dengarkan. Karena aku tak pernah memperlihatkan siapa diriku, karena aku tak pernah membiarkan pikiranku diketahui.

Aku cinta padamu. Titik!!! Dan bila aku tak pernah mengatakan dengan terbuka dan menunjukkan terlalu maka mohon maafkan. Hidupku telah mengajarkan agar selalu menahan diri. Aku yang hidup dalam retorika dan teori yang kaku, yang menahanku bahkan untuk menulis sebait puisi untukmu.

Hari ini tanpa pertanda, tanpa kode dan rahasia. Kukatakan padamu. Aku mencintaimu!!! Semua ini agar engkau mengetahui, betapa aku menyayangimu.

Pesisir Utara Aceh, circa 2000-an awal.

XXX

Apa itu Cryptogram? bisa bermakna tulisan rahasia atau tulisan dalam bentuk kode, sebagaimana dan salah satu contohnya adalah hieroglyph dalam kebudayaan Mesir Kuno.

XXX

Beberapa puisi pilihan:

  1. Inikah Cinta; 1 Agustus 2008;
  2. Catatan Seorang Pecundang; 1 Agustus 2008;
  3. Maksud Hatiku Padamu; 1 Agustus 2008;
  4. Dinda Dimanakah Engkau Berada; 1 Agustus 2008;
  5. Elegi Puisi Kematian Cinta; 3 Agustus 2008;
  6. Dalam Jubah Sufiku; 3 Agustus 2008;
  7. Dipersimpang Jalan; 3 Agustus 2008;
  8. Puisi Terindah; 3 Agustus 2008;
  9. Maghribi dan East; 3 Agustus 2008;
  10. Surat Kepada Sepotong Masa Lalu; 3 Agustus 2008;
  11. Tahukah Engkau Cinta; 4 Agustus 2008;
  12. Dua Puluh Empat Setengah Tahun; 6 Agustus 2008;
  13. Elegi Pagi Hari, Sebuah Puisi; 7 Agustus 2008;
  14. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  15. Kita Yang Tak Akan Bertemu Kembali; 9 September 2008;
Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 13 Comments

SEBUAH INTEGRITAS

I am INDONESIAN

SEBUAH INTEGRITAS

Kemana gerangan Tengku Salek Pungo seminggu belakangan ini? Tak terlihat selama seminggu belakangan ini. Selidik punya selidik rupanya TSP mendapat undangan Tour dari Tengku Puteh untuk melakukan tour ke Singgapura-Malaysia-Pattani (Thailand Selatan) dalam rangka silaturrahmi dengan sesama trah Melayu yang terbagi dalam 3 negara besar di Asia Tenggara tersebut.

Banyak cerita yang beliau bawa dari sana . Termasuk kegagalan TSP dkk masuk ke Pattani karena pemerintah Bangkok sedang berperang dengan etnis Melayu di propinsi paling Selatan Muangthai tersebut. Di perbatasan negara bagian Perlis TSP dkk disuruh kembali oleh Militer Siam .

“Indon” adalah sebutan warga Malaysia untuk masyarakat Indonesia , kerap kali TSP harus memasang muka cemberut dan dengan lantang mengucapkan “ INDONESIA !!!” Darah mantan pejuang beliau tidak menerima dipanggil dengan sebutan tersebut. Menurut survey random TSP ucapan tersebut adalah permainan media dan ironisnya masyarakat sana mengutipnya karena menganggap sahih seperti masyarakat kita pada masa orde baru yang menelan mentah-mentah sesuatu yang berasal koran dan sebagainya.

Ada sebuah cerita unik dari TSP ketika berada di sebuah kereta. Ketika itu TSP duduk disamping seorang pelancong dari negeri Arab. Entah bermaksud untuk berbasa-basi atau tertarik dengan penampilan eksentrik orang Arab tersebut menegur dengan bahasa Inggris seadanya.

“Are you Malaysian?” Tanyanya dan menampilkan ironi dunia bahwa dua orang muslim harus berkomunikasi dengan bahasa yang tidak memiliki akar secara religi dan asing bagi keduanya.

“No I am INDONESIAN.” Entah mengapa ketika jauh dari naungan burung Garuda TSP lebih lantang melafalkan kata Indonesia .

Demi mendengar kata Indonesia , yang di negaranya banyak menjadi pekerja kasar (TKI/TKW). Orang Arab tersebut mulai menjaga jarak, belum lagi reputasi orang kita di Malaysia yang terkenal sebagai kriminal. Namun bukan TSP namanya kalau tidak bisa membaca pertanda ketidaknyamanan tersebut, maka dengan suara sengaja dikeraskan beliau berkata.

Hai son of dessert, you know I am Tsunami Victim and you must respect me!” Katanya garang.

Sekonyong-konyong pelancong Arab tersebut terkejut.

“You from Aceh?” Tanyanya

“Yes, Aceh in Indonesia.” Kata TSP mengangguk-anggukkan kepala.

“I am very sad look at TV, because so many moslem died that moment” sambungnya.

Selepas tersebut orang Arab tersebut merasa bersalah dan menawarkan segala macam kue yang menjadi bekalnya. Dan dengan penuh opurtunitas dimanfaatkan oleh TSP, selanjutnya komunikasi berjalan lancar walau menggunakan bahasa Tarzan karena keduanya juga tidak terlalu mengerti apa yang lawan bicara ucapkan.

“Jadi apa hikmah perjalanan tadi Tengku?” Tanya Abu yang menyimak cerita TSP sedari tadi.

“Mana logikamu Abu? Bukankah sudah ane ajarkan berpikir sistematis?” TSP lagaknya seperti seorang Profesor mempertanya tesis mahasiswanya.

Abu yang tidak siap berperang kata-kata dengan beliau lebih memilih mengalah, diam tanpa kata.

“Intinya, orang tidak akan menghormati diri kita jika kita tidak menghormati diri kita sendiri, camkanlah itu Abu!” Katanya berapi-api, azan Ashar pun berkumandang beliau pun beranjak, sedang Abu masih termangu.

“Ayo Abu sudah azan itu, jangan seperti kerbaulah harus ditarik.” Semburnya dari jauh.

Dalam perjalanan tersebut, Abu merenungi kata-kata TSP. “Jika ingin dihormati orang lain, maka terlebih dahulu kita harus menghormati diri kita sendiri.” Itulah Integritas pikir Abu.

XXX

Simak kisah: Petualangan Abu lainnya

Posted in Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

LEBIH MENGGETARKAN DIBANDING ASMARA

Asmara, siapakah yang mampu menghalau getarannya?

LEBIH MENGGETARKAN DIBANDING ASMARA

Asmara adalah sesuatu hal yang tak lekang ditelan zaman. Dari zaman Nabi Adam dan Siti Hawa hingga saat ini ia tak pernah habis menjadi bahan cerita maupun bacaan. Ia menggetarkan kehidupan siapapun yang terbuai oleh pesona kemolekkan daya tarik miliknya. Boleh tanya siapapun, ia adalah sebuah kenikmatan hidup impian setiap anak manusia walau ia diacuhkan, ditangkal atau bahkan diinjak-injak.

Namun apakah sesuatu hal yang lebih menggetarkan dibanding asmara? Mungkin setiap pribadi memiliki jawaban berbeda, tergantung latar belakang dan karakter seseorang. Jika anda bertanya kepada seseorang Muhammad Hatta sebelum tahun 1945 ia akan menjawab kemerdekaan, bisa saja ini merupakan ungkapan hati seseorang yang pernah bersumpah tidak akan menikah sebelum Indonesia Merdeka. jika anda bertanya kepada seorang Tan Malaka, seseorang yang hidupnya lebih dahsyat dibanding fiksi, mungkin ia akan menjawab petualangan! Demi meraih kemerdekaan orang ini dari Bukittinggi mengarungi luas cakrawala dunia dengan menjejakkan kaki dari Manila sampai Rusia. Setiap orang boleh berhak untuk berbeda pendapat.

Jika pertanyaan yang sama diajukan pada diri saya, maka jawabannya adalah MENULIS. Sensasi yang dihasilkan olehnya sungguh luar biasa, membuat ketagihan serta menjerat kuat. Tidak percaya? Tanyakan saja pada Homerus, Zaid bin Tsabit, Imam Bukhari, Empu Prapanca atau siapa saja yang namanya abadi karena sesuatu yang ia tinggalkan dalam bentuk tulisan. Awalnya malu-malu selanjutnya tak peduli yang penting MENULIS dan terus pada setiap kesempatan.

Untunglah ada media untuk berbagi disini, untuk mengungkapkan sesuatu hal yang mungkin sepele bagi orang lain. Atau sekedar melepaskan kelelahan setelah berkutat dalam angka-angka, sebagaimana hidup masa kini yang penuh dengan perhitungan dimana logika selalu menenggelamkan bahagian otak kanan. Akhir kalam, seperti Chairil Anwar ingin berteriak, “Aku ingin menulis seribu tahun lagi dan ketika tiba waktuku tak ingin seorangpun menganggu.”

XXX

Simak Kisah: Petualangan Abu lainnya

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments