Tugu Peringatan Tenggelamnya KMP Gurita di Pelabuhan Balohan Sabang. (2017)
MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA (1996)
Kota Sabang merupakan sebuah tempat destinasi yang popular bagi wisatawan domestik dan mancanegara. Kota ini merupakan kepulauan di seberang utara pulau Sumatera, dengan Pulau Weh sebagai pulau terluar. Dari segi geografis Indonesia, wilayah Kota Sabang berada pada 95°13’02”-95°22’36” BT, dan 05°46’28”-05°54′-28″ LU, merupakan wilayah administratif paling utara, dan berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Malaysia, Thailand, dan India.
Tugu Peringatan tenggelamnya KMP Gurita
Di tengah lilir mudik wisatawan, pernahkah kita memperhatikan sebuah tugu yang berada di Pelabuhan Balohan (Selatan Pulau Weh), sebuah tugu yang kusam dan tak terawat lagi tersebut dibangun pada tahun 1997 atas sumbangan Wang Sungtee seorang warganegara Taiwan untuk mengenang tenggelamnya Kapal KMP Gurita.
Tugu Peringatan Tenggelamnya KMP Gurita di Pelabuhan Balohan Sabang (Tampak Depan ditahun 2017).
Tugu tersebut berdiri terabaikan dan tak tertenggok lagi, ibarat sebuah kenangan yang telah usang dan ditinggalkan diantara sibuknya pelabuhan yang menghubungkan Kota Sabang dengan Kota Banda Aceh. Dan hari ini dapatlah kita mengenang kejadian tersebut, sebuah musibah terbesar di Aceh sebelum terjadi Tsunami (2004)
Musibah tenggelamnya KMP Gurita terjadi pada tahun 1996 di Teluk Balohan, Sabang. Kapal Motor Penumpang (KMP) Gurita yang mengangkut 378 penumpang, tenggelam ke dasar laut. Dari jumlah penumpang itu, 40 orang dapat diselamatkan, 54 ditemukan tewas dan 284 orang di nyatakan hilang bersama-sama dengan KMP Gurita yang tidak berhasil di angkat dari dasar laut.
KMP Gurita merupakan alat transportasi utama yang menghubungkan pelabuhan Malahayati, Banda Aceh dan pulau Sabang. Penyebab kapal feri itu tenggelam karena kelebihan muatan. Kapasitas angkutnya hanya untuk sekitar 210 orang. Namun yang diangkut sebanyak 378 orang.
KMP itu semakin sarat muatan, karena barang yang diangkut juga melebihi kapasitas. Di perkirakan mencapai 50 ton, diantaranya 10 ton semen, 8 ton bahan bakar, 15 ton tiang beton listrik, bahan sandang-pangan kebutuhan masyarakat Sabang serta 12 kendaraan roda empat dan 16 roda dua.
Peta Visit Sabang yang menunjukkan letak destinasi wisata di Kota Sabang.
Kapal Motor Penumpang (KMP) Gurita tidak laik
Sebenarnya, sejak beberapa tahun sebelum 1996 masyarakat di Aceh, khususnya di pulau Sabang, sudah memperkirakan bakal terjadi musibah atas KMP Gurita. Perkiraan itu setelah melihat kondisi feri penyeberangan tersebut yang sering batuk-batuk dan tak laik laut lagi. Namun, karena terbatasnya armada angkutan, Ditjen Perhubungan Darat dalam hal ini PT ASDP (Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan) terus mengoperasikan secara reguler kapal tua yang dibuat tahun 1970 di galangan kapal Bina Simpaku, Tokyo, Jepang tersebut.
Gurita memang termasuk KMP yang tergolong uzur. Feri tipe Ro-Ro berukuran 32,45 meter, lebar 7,82 meter, dalam 2,30 meter dengan berat 196,08 ton itu, selama mengisi jalur pelayaran Malahayati-Sabang dikabarkan sering mengalami kerusakan. Kisahnya, dua hari sebelum terjadi musibah, yakni pada hari rabu (17/1/96) pukul 14:00 WIB, Gurita mengalami kerusakan, sehingga tak dapat mengangkut penumpang dari Sabang ke Pelabuhan Malahayati. Kapal kemudian diperbaiki di pelabuhan Basis Lanal TNI-Al Sabang. Perbaikan di bagian rampdoor itu memakan waktu tiga hari.
Sampai hari kamis (18/1/96), kerusakan pada kapal tersebut belum juga rampung diperbaiki. Karena banyak penumpang yang akan bepergian ke Banda Aceh, maka keesokan harinya (jumat,19/1/96) KMP Gurita dioperasikan. Pengoperasian KMP Gurita memang sangat mendesak karena masyarakat di Aceh yang mayoritas umat Islam akan memasuki bulan puasa Ramadhan. Saatnya bagi masyarakat di Aceh untuk berkumpul dengan sanak keluarga, karena akan meugang menjelang bulan Ramadhan. Meugang dilakukan Sabtu dan Minggu, karena pemerintah telah menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada hari Senin (22/1/96). Sudah barang tentu, KMP Gurita hari itu penuh dengan penumpang.
Ini dapat dimaklumi, selain feri tersebut satu-satunya alat angkutan yang menghubungan sabang-Malahayati pulang-pergi (PP), juga pada hari itu merupakan waktu yang tepat pulang ke Sabang, berkumpul dengan keluarga menghadapi bulan Ramadhan. Ternyata, ketika meninggalkan pelabuhan Malahayati, Gurita melebihi kapasitas. Saksi mata melihat bagaimana KMP Gurita tersebut sarat dengan penumpang. Belum termasuk barang-barang yang diperkirakan merupakan beban terberat dari KMP Gurita. Dalam kondisi seperti itu, KMP Gurita tetap diberangkatkan dan meninggalkan pelabuhan Malahayati pada pukul 18:45 WIB, Jumat (19/1/1996) malam.
Permohonan pengantian kapal pengganti KMP Gurita
Walikota Sabang saat itu, Kol. (inf) Bustari Mansyur mengatakan, Pemda Kota Madya Sabang dan Pemda tingkat I Aceh sejak beberapa tahun lalu sudah mengusulkan kepada Menteri Perhubungan agar KMP Gurita segera diganti dengan yang lebih baru. “Pak Gubernur Syamsuddin Mahmud (Gubernur Aceh saat itu) telah membuat surat kepada Menhub, memohon agar feri itu diganti, karena dikhawatirkan akan mengalami kecelakaan,” ujarnya. Walikota Sabang sebelumnya, Kol (Inf) Sulaiman Ibrahim, juga sudah mengajukan permohonan pergantian KMP Gurita itu.
Foto Kapal Motor Penumpang (KMP) Gurita tahun 1996
Pada dasarnya alasannya sama, karena kondisi KMP Gurita sudah tak laik laut. Pergantian itu sangat mendesak dilakukan, karena perairan Aceh terkenal ganas dengan gelombang ombak yang tinggi. Setelah Bustari Mansyur menjadi Walikota Sabang, surat yang sama juga pernah disampaikannya kepada Menhub, yang isinya meminta perhatian agar KMP Gurita segera digantikan dengan feri yang baru. surat Walikota itu dikirimkan pada tanggal 24 november 1995, dengan tembusan ke berbagai pihak. Sebelum menerima jawaban dari menteri, walikota kemudian mengirim surat senada kepada Direktur utama PT ASDP di jakarta tanggal 18 Desember 1995.
Dua surat yang dilayangkan ke pihak penentu di Jakarta itu sampai saat musibah terjadi, belum mendapat jawaban. Akhirnya, Gubernur Aceh pun membuat dengan isi yang sama. Namun belum sempat surat gubernur itu dikirim ke Dephub di Jakarta, KMP Gurita sudah keburu tenggelam. Bahkan tragisnya, dua hari menjelang kecelakaan, Walikota Bustari Masyur berangkat ke Jakarta. Keberangkatan pak Walikota khusus mempertanyakan tindak lanjut dua surat yang dikirim sebelumnya, baik kepada PT ASDP maupun kejajaran Dephub. “Tak ada jawaban yang pasti”. Semuanya mengambang,” katanya menirukan jawaban yang diterima pak Walikota. Apa yang dikeluhkan masyarakat dan pemda tentang kondisi kapal penyeberangan itu,menurut HT Darwin, perlu segera menjadi perhatian pimpinan tertinggi di Dephub.
“Menteri Perhubungan diharapkan segera mengirimkan kapal penyeberangan yang lebih baik ke Sabang. Ini penting,karena feri merupakan angkutan yang sangat vital bagi daerah itu,” ujar HT Darwin, ketua FKP DPRD Tingkat I Aceh.
Masyarakat aceh khususnya di sabang menanti dengan penuh harap, kapan permohonan mereka menjadi kenyataan.perjuangan dengan menggunakan berbagai jalur telah dilakukan. Namun belum berhasil. Kapal telah tenggelam dua hari setelah pak wali kota bertemu dengan pejabat penting di jajaran Dephub membicarakan kondisi kapal yang sudah tua renta itu.
KMP Gurita berlayar dalam keadaan cuaca buruk
Musibah yang cukup mengejutkan itu terjadi sekitar 5 – 6 mil mendekati pelabuhan, yakni ketika hendak memasuki teluk Balohan. Di kegelapan malam yang mencekam itu, KMP Gurita mengalami gangguan cuaca dan angin kencang dari arah timur. Terjadinya gangguan, ditambah muatan yang melebihi kapasitas, mengakibatkan kapal tersebut menjadi oleng. Nahkoda tak dapat menguasai kapal yang oleng ke kiri dan ke kanan.
Saksi mata mengatakan pada pukul 20:15 WIB, kapal penyeberangan itu masih terlihat dari pelabuhan Balohan. Sanak keluarga yang datang menjemput tak memperkirakan kapal tersebut sedang mengalami gangguan dan tengah berjuang melawan badai. Lampu masih terlihat jelas dari KMP Gurita. Namun sekitar pukul 20:30 WIB, kapal penyeberangan itu sudah tidak terlihat lagi. Sampai saat itu, belum ada satu pun pejabat di pelabuhan Sabang yang menyatakan kapal mengalami musibah.
Pencarian terus dilakukan. hubungan dengan kapal terputus. Tak ada tanda-tanda apa pun yang bisa diterima dari kapal feri itu. Kepastian musibah baru diketahui empat jam setelah kejadian, yakni pada saat salah seorang penduduk Balohan, Syahril penumpang KMP Gurita mampu berenang mengarungi lautan dengan ombak yang ganas dan terdampar di Teluk Keunake.
Kabar yang di bawa syahril itulah yang memastikan bahwa KMP Gurita tenggelam di dekat teluk Balohan. sejak saat itu, masyarakat di Pelabuhan Sabang, menjadi gelisah. Sebagian masih tetap tabah menanti kedatangan keluarganya, tetapi sebagian lagi mulai mencari daftar penumpang.
KMP Gurita berlayar dengan kapasitas yang melebihi batas
Saksi mata yang tak jadi berangkat dengan KMP Gurita karena melihat kondisi kapal yang sarat penumpang mengakui, pada saat meninggalkan Pelabuhan Malahayati, kapal yang naas tersebut sarat penumpang dan barang.
“Saya takut melihat kapal tersebut, jadi saya turun dan membatalkan untuk berangkat,” ujar Daud Breok, penduduk Sabang yang membatalkan niatnya menumpang KMP Gurita pada malam itu. sebagai seorang pedagang yang terbiasa menumpang KMP Gurita, Daud mengkakui, pada malam keberangkatan dari pelabuhan Malahayati, rasa takutnya tak ketolongan. Ia gelisah. Ada bisikan hati yang melarang Daud berangkat malam itu. “Bisikan itu yang membuat saya selamat,” katanya.
Wisatawan yang berkunjung ke titik nol Indonesia di Pulau Weh Sabang
Kisah lainya juga bernada sama, di ungkapkan oleh Buchari, pemuda yang dikenal sebagai guru komputer di Sabang. Dia menceritakan, pada malam itu ia tak jadi pulang ke Sabang, karena ada “sesuatu” yang melarang. Padahal, nama Buchari sudah tercantum sebagai penumpang nomor satu pada manifest. “Saya selamat, karena mengurungkan niat pulang malam itu,” ujar Buchari.
Seorang pengawai Pemerintah Kota Madya Sabang juga mengakui, kapal yang merupakan angkutan vital di perairan itu pada saat berangkat melebihi kapasitas. “kalau ada yang menyebut penumpangnya hanya 210 orang, itu tidak benar,” katanya.
Banyak penyimpangan terungkap, setelah KMP Gurita tenggelam. Di antaranya yang paling fatal adalah menyangkut daftar penumpang. Dalam manifest disebut hanya 210 orang. Tapi nyatanya, banyak penumpang yang tidak terdaftar. Diantaranya Kapolres Sabang, Letkol Rachmad beserta istrinya. “Banyaknya nama penumpang yang tidak terdaftar merupakan kealpaan dari oknum PT ASDP yang harus dipertanggungjawabkan,” ujar HT Darwin, ketua Fraksi Karya Pembangunan DPRD Tingkat I Aceh, seraya menambahkan, pihaknya mendesak agar oknum petugas di Syahbandar Malahayati dan petugas PT ASDP di pelabuhan itu diusut.
Belajar dari pengalaman tenggelamnya KMP Gurita
Tulisan pada Tugu Peringatan Tenggelamnya KMP Gurita. (Tahun 2017).
Mungkin musibah yang menimpa KMP Gurita tak terlepas dari kealpaan sejumlah pejabat perhubungan di Aceh maupun Pusat. Tapi bukankah hidup bukanlah proses untuk mencari siapa yang salah semata, melainkan untuk menghadapi kesalahan, dan mengatasinya. Setelah kita belajar dari pengalaman tenggelamnya KMP Gurita, maka kita semua berharap semoga saja duka yang mendalam seperti ini tidak akan pernah terulang kembali.
Dia yang selalu memberiku semangat sekaligus kebanggaan Aku rindu dia.
RINDU
Mungkin aku merindukannya.
Apakah seperti ini juga rasanya bagi ia, selama ini ia menyemangati aku untuk mencapai tujuan, meyakinkan kami untuk terus berjuang bahkan jika kami tidak bisa melihat jalan terang.
Aku yang berusaha berdamai dengan keterbatasanku. Menerima bahwa tak mungkin aku sanggup melindungi semua orang yang kucinta. Aku yang bukanlah pejuang dan bukanlah seorang pahlawan.
Mungkin aku sangat merindukannya.
Setiap kali melihat matanya berbinar-binar seperti anak kecil, aku merasa sebagai pria terbaik.
Ya, memang aku terlalu merindukan dia.
Dia yang selalu memberiku semangat sekaligus kebanggaan
Aku rindu dia.
Bait al-Hikmah, 11 Zulqaidah 1438 (Bertepatan 4 Agustus 2017)
Bagi orang-orang Aceh, kedai kopi merupakan tempat berkumpul, bertemu dan membicarakan segala topik.
ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH
Apakah kopi merupakan tradisi budaya yang berakar lama di Aceh?
Budaya kopi tidak ditemukan di Aceh sampai dengan menjelang akhir Abad ke-19. Seorang orientalis yang menjadi peneliti sosial budaya, Snouck Hurgronye menulis pada buku Aceh Di Mata Kolonialis (Jilid I), pada masa ia meneliti orang-orang Aceh, “Bagi kebanyakan orang biasa di Aceh, air putih adalah hampir satu-satunya minuman, dari waktu ke waktu (sesekali) ia akan minum air tebu, diperas dari batangnya hanya dengan alat yang masih sangat primitif. Dari keadaan inilah mungkin datangnya istilah “ngon bloe ie teubee” artinya kurang lebih : “uang pembeli air tebu” apabila dimaksudkan adalah memberi upah atau imbalan.
Prasasti pada pintu menuju kompleks pemakaman Teuku Umar.
11 Februari 1899 Teuku Umar bersama pasukannya telah berada di pinggiran kota Meulaboh. Pejuang Aceh sempat terkejut ketika mengetahui pasukan Van Heutsz telah mencegatnya. Posisi pasukannya sudah tidak menguntungkan dan tidak mungkin lagi untuk mundur. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pasukannya adalah bertempur. Dalam pertempuran itu Teuku Umar gugur terkena peluru musuh yang menembus dadanya. “Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid” artinya besok pagi kita akan minum kopi di kota Meulaboh atau aku akan syahid, itulah serangkaian kata singkat Teuku Umar yang tertera pada Prasasti di Desa Mugoe, Meulaboh di akhir perjuangannya. Berdasarkan kata-kata Teuku Umar tersebut dipastikan kopi sudah beredar di Aceh ketika itu namun masih merupakan barang impor yang mahal. Kejadian terbunuhnya Teuku Umar terjadi 26 tahun setelah Perang Aceh berlangsung dan 5 tahun setelah buku Snouck Hurgronje diterbitkan (1893-1894).
Kapan kopi masuk ke Aceh?
Aceh merupakan produsen lada terbesar dunia pada abad ke-19
Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam, tanaman lada merupakan mata pencaharian utama sebagaimana padi. Tome Pires (1512-1515) mencatat, pelabuhan Pidie dan Pasai ketika itu memperdagangkan lada sebanyak 16.000 bahar atau sekitar 2.718 ton pertahun. Bahkan sampai menjelang akhir abad ke-19 sebelum Belanda menyerang, Aceh merupakan produsen lada utama di dunia. Pada tanggal 26 Maret 1873 Belanda menyatakan perang kepada Kesultanan Aceh, perang tersebut berlanjut sampai 1904. Sultan Muhammad Daudsyah ditangkap oleh Belanda pada Januari 1904, perang besar berakhir tapi perlawanan rakyat Aceh dengan perang gerilya terus berlanjut sampai Belanda angkat kaki dari Aceh selama-lamanya di tahun 1942. Perang dengan Belanda telah membuat kejayaan lada Aceh tinggal kenangan.
Tanaman kopi awalnya dibawa Belanda pada abad XVII melalui Batavia (sekarang Jakarta) untuk ditanam di Aceh tahun 1908. Kopi yang pertama sekali diperkenalkan adalah kopi jenis Arabica pertama sekali dibudidayakan di Utara Danau Lut Tawar. Di dunia, kopi bisa dibedakan menjadi 2 kelompok berdasarkan jenisnya, yaitu kopi Arabica dan kopi Robusta. Di Aceh kedua jenis kopi ini dibudidayakan oleh masyarakat setempat. Kopi jenis Arabica umumnya dibudidayakan di wilayah dataran tinggi Tanah Gayo, termasuk Takengon, Aceh Tenggara, dan Gayo Lues. Sedangkan di Kabupaten Pidie (terutama wilayah Tangse dan Geumpang) dan Aceh Barat, masyarakat mengembangkan kopi jenis Robusta. Belanda memerintahkan masyarakat sendiri pada saat itu mereka menyuruh konsumsi kopi jenis Robusta, sedangkan Arabica untuk dikonsumsi sendiri (Belanda) dan untuk di ekspor.
Kopi Gayo merupakan komoditas kopi premium yang diakui dunia
Di Aceh Belanda menemukan sebuah dataran tinggi luas yang dikenal dengan nama Tanah Gayo terletak di jantung wilayah ini, yang berdasarkan riset yang mereka lakukan ternyata sangat cocok untuk ditanami Kopi. Dan dari sinilah keajaiban itu bermula. Di Tanah Gayo, Belanda membangun basis pemerintahannya di Takengon yang terletak tepat di tepi danau Lut Tawar yang permukaannya ada di ketinggian 1250 Mdpl. Belakangan kota ini berkembang menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan dan menjadi kota terbesar di Tanah Gayo. Perkebunan kopi pertama yang dikembangkan Belanda di daerah yang bernama Belang yang terletak tidak jauh dari Kota ini. Sampai hari ini, daerah ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Tanoh Gayo. Dari Belang Gele, Kopi tersebar ke segala penjuru Tanah Gayo yang berhawa dingin.
Di tahun 1924 Belanda dan investor Eropa telah memulai menjadikan lahan didominasi tanaman kopi, teh dan sayuran (John R Bowen, Sumatran Politics and Poetics, Gayo History 1900-1989, halaman 76). Kemudian, pada Tahun 1933, di Takengon, 13.000 hektar lahan sudah ditanami kopi yang disebut Belanda sebagai komoditas “Product for future”. Masyarakat gayo, tulis John R Bowen, sangat cepat menerima (mengadopsi) tanaman baru dan menanaminya di lahan-lahan terbatas warga. Perkampungan baru di era tersebut, terutama di sepanjang jalan dibersihkan untuk ditanami kopi kualitas ekspor.
Sejarah Kopi Arabica Gayo
Setelah Perang Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1949), Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan Republik Indonesia melalui Perjanjian Meja Bundar (KMB). Seperti yang terjadi di pulau Jawa, segala aset mereka termasuk perkebunan kopi tinggal di Gayo. Tapi berbeda dengan di Jawa yang operasional perkebunannya dilanjutkan oleh perusahaan pemerintah dan pekerjanya tetap dipekerjakan di Jawa. Di Gayo, yang terjadi berbeda. Setelah Belanda hengkang, kebun-kebun kopi yang tertinggal dibagi-bagikan kepada masyarakat setempat, terutama yang sebelumnya bekerja di sana.
lyas Leubee (kanan) sedang berbincang bincang dengan Daud Beureueh (kiri) di Beureunun pada tahun 1958
Pemerintah Republik Indonesia menghadiahkan segala perkebunan kopi di tanah Gayo kepada seorang perwira militer asal Gayo bernama Ilyas Leubee yang di masa revolusi fisik menyabung nyawa di medan perang Medan Area. Ilyas Leubee tidak mengambil hadiah itu untuk dirinya sendiri. membagikannya kepada masyarakat sekitar dan tidak melanjutkan pengelolaan kebun itu, sehingga pabrik peninggalan Belanda itupun terbengkalai dan menjadi besi tua sampai sekarang. Mendapati bahwa ternyata tanaman Kopi sangat menguntungkan. Para petani yang tidak kebagian kebun kopi pun, mulai menanami lahan-lahan kosong di sekitarnya dengan tanaman kopi, sehingga saat ini terdapat sedikitnya 90 ribu hektare perkebunan kopi di dataran tinggi Gayo yang sekarang dipisahkan menjadi tiga kabupaten (Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Luwes). Ini menjadikan dataran tinggi Gayo sebagai produsen kopi Arabica terbesar tidak hanya di Indonesia, tapi juga Asia. Karena kebun kopi di Gayo dikelola oleh petani individual dengan rata-rata kepemilikan lahan maksimum 2 hektare.
Peta Kesultanan Aceh (Akhir abad ke-19)
Kondisi alam Aceh yang subur, dipadu cuaca yang mendukung, menjadikan tanaman kopi Aceh berkembang menjadi komoditas yang bermutu tinggi dan menguntungkan. Indonesia merupakan pengekspor biji kopi terbesar keempat di dunia, dan Aceh adalah salah satu penghasil kopi terbesarnya yang mampu menghasilkan sekitar 40% biji kopi jenis Arabica tingkat premium dari total panen kopi di Indonesia.
Fenomena ini terjadi karena Aceh memang memiliki kebun kopi yang luas membentang di antara pegunungan bukit barisan meliputi wilayah kabupaten Aceh Tengah yang memiliki luas 48.500 hektare kebun kopi, Bener meriah 39.000 Hektare dan gayo luwes seluas 7.000 hektar. Total kebun kopi daratan tinggi gayo sekitar 94.5000 hektare yang kebanyakan ditanami jenis kopi arabica dengan hasil produksinya mencapai 50.774 ton pertahun.
Dengan luasnya perkebunan yang dimiliki aceh, wajar bila Aceh termasuk sebagai salah satu pemasok terbesar kebutuhan kopi arabika di dunia dan penghasil kopi terbesar di Asia. Jenis kopi arabica yang dikembangkan petani di daratan tinggi gayo memiliki tekstur yang halus dan bercita rasa paling berat serta kompleks.
Sayangnya saat ini merk Kopi Gayo terdaftar dalam undang-undang Belanda atas nama Holland Coffee yang secara terang-terangan melarang orang lain menggunakan kata Gayo pada merek kopinya. Padahal Gayo sendiri merupakan sebuah wilayah geografis yang dimiliki oleh Indonesia bukan Belanda.
Sejarah Kopi Robusta Aceh
Biji kopi Robusta dihasilkan dari biji kopi pilihan berkualitas yang berasal dari Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Biji-biji kopi tersebut diproduksi oleh usaha-usaha kecil menengah. Oleh penduduk setempat, bubuk kopi yang berkualitas tinggi ini kemudian diproses secara unik, sejak dari penggilingan hingga disaring menjadi secangkir minuman dengan cara yang tersendiri. Inilah sebabnya kopi Aceh, terutama kopi Ulee Kareng ini kemudian menjelma menjadi ikon Aceh itu sendiri. Kedahsyatan aroma kopi Aceh ini sudah sejak lama melegenda di Indonesia, dan saat ini sudah pula mendunia berkat banyaknya penikmat kopi dari kalangan pekerja internasional yang datang dan tinggal di Aceh selama bertahun-tahun untuk merekonstruksi Aceh pasca tsunami.
Untuk mendapatkan kualitas dan cita rasa dahsyat yang unik itu, biji kopi Aceh melalui proses yang panjang. Pertama sekali, biasanya, biji kopi dioven selama 4 jam penuh. Setelah mencapai kematangan 80%, biji kopi itu dicampur dengan gula dan mentega dengan takaran tertentu. Kemudian biji kopi yang telah masak digiling sampai halus. Proses ini membangkitkan aroma kopi yang kuat, cita rasa bersih serta tidak asam.
Segelas Kopi Robusta Khas Aceh
Yang membuat kopi Aceh menjadi lebih menarik adalah cara penyajiannya yang khas yang berbeda dengan cara penyajian kopi di manapun di seluruh dunia. Kopi diseduh dengan air yang dijaga tetap dalam keadaan mendidih. Seduhan kopi disaring berulang kali dengan saringan terbuat dari kain, lalu dituangkan dari satu ceret ke ceret yang lain. Hasilnya adalah kopi yang sangat pekat, harum, dan bersih tanpa mengandung bubuk kopi.
Booming budaya kopi di Aceh
Salah satu keajaiban waktu adalah kemampuannya mengubah manusia. Begitu pula dengan kebiasaan masyarakat dengan segala aktifitasnya pasti berubah mengikuti perkembangan zaman. Jika di abad ke-19 masyarakat Aceh sama sekali tidak mengenal kopi, maka sampai akhir abad ke-20 Aceh masih sebatas produsen utama Kopi maka di abad ke-21 budaya kopi telah menjadi bagian dari tradisi orang-orang Aceh.
Tahun 2004, tsunami menghantam Indonesia. Aceh merupakan daerah yang paling besar terkana dampak bencana, maka berbondong-bondonglah berbagai orang dari seluruh suku bangsa datang ke Aceh untuk memberikan bantuan. Saat itu dunia sudah mulai mengandrungi kopi maka para pendatang itu membawa kebudayaan baru yaitu menikmati kopi.
Sebelumnya, memang masyarakat Aceh sudah mengenal kopi. Sebagai daerah yang menjadi produsen kopi ada banyak kedai kopi ditemukan di Aceh, namun masih terbatas pada kaum lelaki dewasa (minimal mahasiswa) dan lebih banyak di daerah perkampungan. Selepas tahun 2004 budaya kopi dunia semakin “booming” di Aceh, baik siang maupun malam, berbagai lapisan masyarakat Aceh mengisi kedai-kedai kopi (di desa dan di kota) untuk bersantai minum kopi. Tidak terbatas dari yang tua hingga yang muda, lelaki maupun perempuan, miskin ataupun kaya, semua berbaur tanpa sekat-sekat pembatas.
Saat ini budaya minum kopi merupakan budaya post-modern di Aceh.
Jika ada kriteria jumlah warung kopi dalam ukuran wilayah tertentu maka dapat dipastikan Banda Aceh (Ibu Kota Provinsi Aceh) akan masuk rekor dunia (mengalahkan Paris sekalipun). Pun jika ada perhitungan jumlah orang ke warung kopi perhari pemenangnya pastilah orang Aceh (mengalahkan Italia pastinya). Selepas Tsunami, konfik Aceh berakhir dengan perundingan damai menyebabkan orang leluasa kembali setelah dicekam konflik selama bertahun-tahun.
Kopi adalah minuman ajaib, setidaknya bagi lidah Aceh (dan atau yang terpengaruh), karena rasanya dapat berubah berdasarkan tempat. Rumor beredar dikalangan para istri soal suami yang tak mau minum kopi di rumah, padahal bubuk kopinya sama dengan di warung adalah terbukti valid. Bagaikan status quo alasan kaum suami kompak, bahwa kopi yang ada di rumah tak seenak di warung kopi.
Dulu orang hanya tahu kopi hitam, kalaupun ada campuran biasanya hanya susu atau gula. Cara penyajiannya pun sederhana, masyarakat urban tidak hanya menganggap kopi sebagai kebutuhan semata, tapi juga disertai dengan gaya hidup. Bahkan, sekarang di Aceh sudah menjamur berbagai warung kopi premium.
Meskipun begitu kata orang, menikmati kopi Aceh bukan hanya menikmati rasanya, tetapi juga tradisi budaya. Di Aceh, kedai kopi merupakan tempat berkumpul, bertemu dan membicarakan segala topik. Bagi orang-orang Aceh, mengunjungi kedai kopi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari aktifitas sehari-hari. Di situ mereka bersosialisasi dan menjalin silaturahmi sambil menikmati kopi. Mereka datang untuk menikmati kopi, sebagai tempat untuk bertemu teman atau rekanan bisnis, ataupun hanya sekedar melepas lelah. “Semua masalah pasti bisa selesai di warung kopi”, begitu peribahasa yang popular di Aceh.
Mungkin awalnya kopi diperkenalkan dan ditanam oleh Belanda pada masa kolonial, namun dikemudian hari kopi berkembang dan menyatu dalam kebudayaan Aceh sehingga saat ini menjadi bahagian dari cara dan tata hidup masyarakat yang hidup di Aceh.
Di Kota Banda Aceh, ada sebuah jalan yang membelah kawasan Lampineung, terkenal sebagai pusat perdagangan kuliner terutama warung kopi, hotel terbesar di Banda Aceh yaitu Hermes Palace terletak di jalan itu juga. Jalan Panglima Teuku Nyak Makam. Siapakah dia? Mungkin kita tidak menemukan namanya dalam daftar pahlawan nasional Republik Indonesia. Kita merasa asing, mengapa Panglima Teuku Nyak Makam ditabalkan namanya menjadi sebuah jalan?
Panglima Teuku Nyak Makam dari kecil sampai remaja
Teuku Nyak Makam adalah salah seorang panglima perang Kerajaan Aceh yang dikenal gigih melawan Belanda. Teuku Nyak Makam dilahirkan di Lamnga, Kabupaten Aceh Besar pada tahun 1838. lahir di desa Lamnga mukim XXVI Aceh Besar sekitar tahun 1838 M, ayahnya bernama Teuku Abbas gelar Ujong Aron bin Teuku Chik Lambaro, bin Imam Mansur, bin Imam Manyak bin Teuku Chik Mesjid, secara turun temurun pada zamannya menjadi Uleebalang dari mukim daerah Bibueh (Bebas) berstatus langsung di bawah Sultan Aceh, juga terdapat kekuasaannya suatu mukim Ie Meulee Sabang dengan 6 perkampungan yang luas. Ayahnya sendiri Abang kandungnya Teuku Ibrahim Ujong Aron, dan saudara sepupunya Teuku Chik Ibrahim suami Cut Nyak Dien Sejak usia 6 tahun Teuku Nyak Makam telah diserahkan menuntut ilmu di Pesantren Ulama Teuku Chik Abbas (adik ipar orang tuanya) di Lamnga, kemudian melanjutkannya pendidikan ke Lambada Gigieng pada pesantren Tgk.Lambada, di samping pelajaran agama, ia juga belajar pencak silat, Ilmu Sosial dan taktis gerilya pada Panglima Paduka Sinara, dan juga pembinaan Tuanku Hasyim Banta Muda. Pada usia 16 tahun Teuku Nyak Makam pergi ke Penang (Malaysia) menjumpai Teuku Paya (Ketua Panitia Delapan) sebagai keluarga ayahnya dan di Pulau Penang beliau telah dapat belajar bahasa Inggris, kemudian kembali ke Aceh.
Konfik Aceh dan Belanda di Sumatera Timur
The ancient map of the Aceh Sultanate
Sultan Ibrahim Mansyursyah (1838-1870), merupakan Sultan Aceh terbesar di abad ke XIX, pada saat itu Sultan dan para pembesar-pembesarnya telah mengetahui maksud dan tujuan Belanda yang sedang berupaya untuk menguasai wilayah-wilayah kerajaan Aceh seluruhnya. Belanda pada saat itu hanya sedang menanti kesempatan yang baik dan waktu yang tepat untuk mewujudkan niat jahatnya untuk menguasai Kerajaan Aceh. Karena menurut Belanda selama kerajaan Aceh masih berdiri, Belanda tidak akan bisa leluasa menguasai sendiri perairan Selat Malaka. Oleh sebab itu mereka harus segera menduduki wilayah dan pusat kerajaan Aceh tersebut.
Menurut pendapat Belanda, mereka akan didahului oleh bangsa Eropa lainya yang menjadi saingan, seperti Inggris, Prancis, Italia, dan yang paling mereka khawatirkan adalah Amerika. Untuk itu Belanda harus bertindak cepat menguasai kerajaan Aceh sebelum Bangsa lain mendahuluinya. Karena itulah makanya Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyursyah dalam tahun 1854 telah memerintahkan kemanakannya Tuanku Pangeran Husain dengan mempergunakan 200 buah perahu pukat berikut sekitar 1000 orang prajurit Aceh untuk berangkat ke Sumatera Timur, guna mengadakan konsolidasi dan meyakinkan Raja-raja setempat (Asahan, Kota Pinang, Serdang, Deli, Langkat dan sebagainya), bahwa wilayah mereka adalah bahagian dari kerajaan Aceh, dan Belanda suatu ketika pasti akan mencaplok wilayah tersebut untuk dimasukan ke dalam jajahannya, dan sejak semula harus disadari bahwa Belanda itu adalah musuh Agama, musuh bangsa dan musuh setiap insan yang cinta merdeka.
Berkat penerangan dari Tuanku Pangeran Husein, akhinya Raja-raja setempat pun menyadari bahwa berhasilnya nenek moyang mereka menjadi raja dan orang besar di tempat tersebut adalah karena diangkat dan dibesarkan oleh Sultan Aceh, bukan oleh yang lainnya, dan merekapun mengakui bahwa dirinya adalah petugas dari Sultan Aceh. Untuk mengukuhkan kedudukan, Sultan Alaidin Ibrahim Mansyursyah memberikan kepada mereka sarakata pengangkatan yang baru, masing-masing dengan gelar, hak dan kekuasaan dan batas-batas daerah, serta diiringi dengan tanda-tanda kebesaran dan sebagainya.
Dalam tahun 1857, rupanya Belanda telah berhasil memaksa Raja Siak Seri Indrapura untuk menanda tangani sebuah surat pengakuan bahwa negerinya termasuk segala rantau dan jajahan takluknya, di mana dimasukkannya juga wilayah Asahan, Deli Serdang dan Langkat serta Tamiang ke dalamya untuk berada di bawah kedaulatan Belanda dan sebagian dari jajahan Belanda.
Karena apa yang diperkirakan sebelumnya telah benar-benar terbukti, maka Sultan Aceh Alaiddin Ibrahim Mansyursyah, pada awal tahun 1858 telah menunjuk dan mengangkat Tuanku Hasyim Banta Muda menjadi Timbalan (Viceroy) Sultan Aceh untuk wilayah-wilayah Aceh Timur, Langkat, Deli Serdang, di mana Tuanku Hasyim boleh memilih sendiri staf-stafnya. Kemudian Tuanku Hasyim segera berangkat ke tempat tugasnya, guna menghadapi, mematahkan, menggagalkan atau sekurang-kurangnya menghalangi niat busuk Belanda yang ingin menggeranyangi wilayah kerajaan Aceh yang jauh dari Ibu Kota, terutama wilayah subur di Sumatera Timur, padahal sebelumnya baik Inggris bahkan Belanda dari dulunya mengakui bahwa daerah itu adalah sah termasuk dalam kedaulatan Aceh Darussalam, malah menurut pengakuan Sultan Aceh sendiri wilayahnya sampai ke Tanah Putih Ayam Denak di Riau.
Untuk melaksanakan tugas yang dibebankan Sulthan, dan melihat Panglima Teuku Nyak Makam seorang yang berbakat serta cerdas, Tuanku Hasyim mengangkat Teuku Nyak Makam sebagai asisten dan pembantunya. Walaupun akhirnya seluruh daerah Sumatera Timur itu dapat dikuasai juga oleh Belanda, tetapi bukanlah berarti Tuanku Hasyim tidak sukses dalam tugasnya. Ini terbukti, kecuali Langkat sendiri yang didorong oleh ambisi dan kepentingan pribadinya yang terang-terangan menjemput Belanda ke Bengkalis, maka raja-raja yang lain sewaktu Residen Netscher dari Bengkalis mengadakan pemeriksaan ke Deli Serdang dan Asahan tidak ada satupun yang mengaku bahwa Siak berkuasa atas negeri mereka.
Tegasnya mereka menolak kedaulatan Belanda baik langsung maupun tidak langsung, apalagi melalui Siak atas negerinya. Kesimpulannya baik karena faktor Tuanku Hasyim atau faktor kesetiaan kepada Aceh dari Raja Deli, sehingga menyebabkan rencana Belanda untuk menguasai Sumatera Timur di tahun 1862 itu telah gagal sama sekali, dan Belanda terpaksa pulang ke Bengkalis dengan tangan hampa.
Dalam tahun 1863 Tuanku Hasyim telah mendapat bantuan tenaga dari pusat dengan didatangkannya Laksamana Teuku Cut Lateh Raja Muda Meureudu, di mana Raja Muda Meureudu tersebut menyinggahi pula kedudukan raja demi raja di Sumatera Timur itu sampai ke Asahan. Kecuali Langkat sendiri, maka Deli apalagi Serdang, lebih lebih lagi Asahan segera menyambut baik kedatangan Panglima Aceh tersebut dengan perasaan gembira dan bangga.
Sebaliknya karena adanya Tuanku Hasyim Banta Muda yang telah menjadi menantu pangeran, Musa Langkat yang merupakan mertuanya yang sengaja memasukkan Belanda menjadi gagal untuk menandatangani surat penyerahan Langkat kepada Belanda. Untuk menghadapi kemungkinan serangan mendadak dan besar-besaran dari Belanda, maka Tuanku Hasyim bersama Teuku Mudah Cut Lateh, Tuanku Hitam (adik Hasyim) dan Panglima Nyak Makam membuat kubu-kubu pertahanan di Teluk Ham, Pulau Kampai, Pulau Sembilan, Kuala Gebang, Pangkalan Siantar, Bogak, Tualang Cut dan tempat-tempat strategis lainnya.
Buku: Panglima Nyak Makam Pahlawan Dua Pusara
Saat itu Panglima Teuku Nyak Makam ditugaskan untuk mempertahankan Benteng Pulau Sembilan yang berseberangan dengan Pulau Kampai, sehingga sewaktu Residen Netscher mencoba menggempur benteng Aceh di tempat tersebut dengan mudah saja prajurit-prajurit Aceh memuntahkan pelurunya dari dua jurusan ke kapal perang Belanda tersebut, sehingga Netscher tersebut terpaksa lari ikut pulang ke pangkalannya.
Pada tahun berikutnya Belanda mencoba lagi menyerang pertahanan Aceh di Teluk Ham Pulau Kampai dan Pulau Sembilan, tetapi hasilnya buat Belanda ialah tewasnya beberapa orang serdadu lautnya. Sejak itu buat sementara Belanda telah mengalihkan perhatiannya ke Asahan dan Serdang yang dianggap Belanda keras kepala, karena setia kepada Aceh dan tak mau menyerahkan kedaulatan negerinya kepada Belanda. Pada tanggal 23 Mei 1863 Residen Netscher dari Bengkalis mengirimkan surat ancamannya kepada kedua Raja tersebut. Teuku Sultan Basyaruddin Syaiful Alamsyah Serdang menolak mentah-mentah untuk sekedar menerima surat tersebut, malah mengusir si pembawanya untuk segera berangkat dari hadapannya.
Sebaliknya Sultan Ahmad Syah Asahan, telah membalas dengan pedas surat Netscher itu dan mengatakan kepada pembawanya: “Saya sama sekali tidak mengerti kenapa Belanda begitu hebohnya kepada Asahan, kenapa mereka tidak berani langsung menyerang dan menaklukkan Aceh kalau mereka berkuasa“.
Dengan keputusan pemerintah Hindia Belanda tertanggal 25 Agustus 1865, tanggal 20 Agustus 1865 berangkatlah enam buah kapal perang Belanda dengan memuat 1000 orang serdadunya di bawah pimpinan Kapten P.A.van Rees, angkatan daratnya dipimpin oleh Mayor W.E.F.van Hemskreeck dan pimpinan politiknya langsung dipegang oleh Residen Riau Netscher. Tanggal 12 September 1865 mereka tiba di Asahan dan Residen Netscher langsung menyampaikan ultimatum perang kepada Sultan Asahan, yang ditulis di atas kapal Jambi tertanggal 12 September 1865. Isinya antara lain meminta kepada Sultan supaya memilih dua kemungkinan, yaitu menyerahkan kedaulatan negeri Asahan atau perang. Sulthan Asahan sedikitpun tidak menggubris dan menghiraukan ultimatum itu.
Akibatnya Belanda menggempur Asahan dari dua jurusan, sebagian mendarat di kampung Bogak Batubara menuju Asahan dan sepasukan lagi baru tanggal 17 September 1865 berhasil mendaratkan tentaranya di kampung Rawa. Setelah mengorbankan puluhan nyawa serdadu dan perwira-perwiranya dalam menghadapi perlawanan seru dari Sulthan dan rakyat Asahan, baru Belanda berhasil menduduki Asahan. Kemudian Sultan Ahmadsyah yang perkasa itu dan kedua adiknya dibuang Belanda ke Tanjung Pinang. Tapi atas desakan rakyat, Belanda terpaksa mendudukkan beliau kembali ke tahta. Setelah terlebih dahulu menaklukkan Asahan dari kedaulataan Aceh, maka pada tanggal 8 Oktober 1865 Residen Netsher dengan pasukan lengkap yang diangkut oleh beberapa kapal perang telah menggempur benteng-benteng Aceh di sekitar pulau Sembilan dan pulau Kampai, dan berlabuh di tengah laut sekedar melihat bendera Aceh yang berkibar dengan megahnya.
Raja Burhanuddin diutus ke darat untuk menjumpai Tuanku Hasyim, di situlah Belanda baru tahu bahwa Hasyim dengan sebagian prajurit-prajuritnya tidak ada di pulau Kampai karena telah berangkat ke Ibu Kota. Pertahanan di pulau Kampai dan sekitarya hanya dipercayakan kepada adiknya Tuanku Hitam. Tuanku Hitam diajak Raja Burhanuddin (yang juga dikenal sebagai Teuku Komando, pegawai setia Belanda di Betawi) untuk menjumpai Netscher ke kapal. Tuanku Hitam menolaknya. Walaupun dengan separuh lagi dari pasukan Aceh yang masih bertahan, namun demikian Belanda belum berani mendarat, dan mereka terpaksa kembali dulu ke Bengkalis.
Demikianlah, pada tanggal 8 Oktober 1865, Residen Netscher dengan pasukan lengkap yang diangkut oleh beberapa kapal perangnya, di mana turut juga Pangeran Musa dan prajurit-prajuritnya, telah menggempur benteng-benteng Aceh di sekitar pulau Kampai itu. Setelah menggempur mati-matian selama beberapa hari, pada tanggal 14 Oktober 1865 terpaksalah Tuanku Hitam, berikut Teuku Muda Cut Lateh Meureudu dan Panglima Teuku Nyak Makam mengundurkan diri ke Manyak Paet.
Pada tanggal 14 Oktober 1865 itu juga pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Cattenberg komandan pasukan infanteri Belanda dengan dibantu oleh Letnan Laut van Thiel, juga Pangeran Musa Langkat, telah berhasil masuk ke sungai Temiang melalui sungai Kuruk, untuk mengantarkan Teungku Sulung Laut guna dirajakan di Seuruwey, sebagai Vice Roy Langkat dan boneka Belanda.
Sejak tanggal 18 Oktober 1865 itulah mulai berkibarnya bendera Belanda di salah satu sudut di Aceh, yaitu di pulau Seuruwey. Walaupun telah berhasil menguasai Seuruwey, namun Belanda hingga sekian puluh tahun belum berani menyerang daerah-daerah Aceh lainnya, sampai meletusnya perang resmi di bulan April 1873.
Setelah jatuhnya Seuruwey ke tangan Belanda, Panglima Teuku Nyak Makam mula-mula mundur ke Telaga Meuku, kemudian ke Peureulak di mana banyak terdapat kaum keluarga dan orang-orang sekampungnya. Beberapa hari di Peureulak dan berdiskusi dengan Teuku Chik Peureulak tentang situasi, kemudian melanjutkan perjalanan ke Simpang Ulim. Di sana beliau menemui Teuku Johan Lam Pase juga menyampaikan hal yang sama, dari Simpang Ulim beliau pergi ke pulau Penang, dari Pulau Penang pulang ke Lamnga, Aceh Besar.
Tetapi sewaktu pasukan Belanda mencoba memasuki sungai Yu, mereka telah dibantu oleh pasukan Maharaja Lubuk (Uleebalang Sungai Yu), malah sebuah bargas (kapal perang kecil dari besi) Belanda, berhasil ditenggelamkan oleh Datuk Panglima Muda, dengan hanya memuntahkan beberapa peluru meriam yang mengenai sasarannya. Seluruh personilnya turut tenggelam ke dasar sungai bersama dengan kapal-kapalnya.
Terhitung sejak tanggal 14 Oktober 1865, berakhirlah kekuasaan Aceh di Sumatera Timur, dan sejak tanggal 14 Oktober 1865 itu juga mulailah berkibar bendera Belanda. Sejak saat itu pula bertambah berkobarlah kebencian Panglima Teuku Nyak Makam kepada Belanda yang telah mulai di hadapinya sejak tahun 1862, yaitu 11 tahun sebelum perang resmi antara kerajaan Aceh Versus kerajaan Belanda, yaitu pada tahun 1873.
Perang Aceh di Sumatera Timur
Setelah Sultan memperhatikan prestasi demi prestasi yang telah berhasil dicapai baik dalam berpolitik, strategi militer dan kepemimpinan yang dimiliki oleh PanglimaTeuku Nyak Makam sejak mudanya, maka atas keputusan Sultan Muhammad Daud Syah di Markas Keumala Pidie (Lembah Pidie), pada tahun 1885 yang dihadiri Panglima Polem, Panglima Besar Tuanku Hasyim Banta Muda dan staf kerajaan lainnya diangkat lah Panglima Teuku Nyak Makam dengan resmi diangkat menjadi “Mudabbirusyarqiah” yakni penegak kedaulatan Aceh di bahagian Timur dan sekaligus sebagai panglima Mandala Kerajaan Aceh di Sumatera Timur dan Aceh Timur dengan wakilnya Teuku Nyak Muhammad (Nyak Mamad) dari Peureulak.
Peta Jalan Panglima Teuku Nyak Makam
Panglima Teuku Nyak Makam di samping bertugas sebagai pemimpin pasukan gerak cepat dengan senjata lengkap, yang bertugas mengkoordinir barisan-barisan pejuang Aceh yang dipimpin oleh Uleebalang / Raja-raja setempat dari Sungai Jambo Ayee di Simpang Ulim hingga ke Deli Hulu dan Serdang Hulu. Adapun pasukan gerak cepat yang dipimpin langsung Teuku Nyak Makam dengan di dampingi oleh wakilnya Teuku Panglima Nyak Mamat itu, baik taktis atau administratisinya dibagi atas beberapa pasukan, di antara komandan-komandan pasukannya yang dapat diketahui antara lain, Panglima Perang Ben, Nyak Muhammad alias Teuku Tapa, Nyak Ali, Said Abdurrahman, Haji Abdullah, Teuku Muda Sulaiman, Panglima Perang Umar, Panglima Prang Ulim dan Teuku Mad Dia, Sultan Ulim dan lain-lain.
Adapun kesatuan-kesatuan pejuang lokal dalam bidang dan strategi langsung dikomandoi Teuku Nyak Makam sendiri sedangkan administratifnya di panglimai sendiri oleh ulee balang-ulee balang setempat antara lain, Teuku Panglima Perang Hakim Julok Cut, Teuku Bentara Peukan Juluk Rayeuk, Teuku Usuh Ulee Gajah Bagok, Teuku Panglima Perang Nyak Bugam dan kemanakannya, Teuku Syamsareh Idi Cut, Teuku Bukit Pala dan Teuku Nyak Bahrum Idi, Teuku Panglima Kaum Lam Baet dan Teuku Abu Peudawa Rayeuk, Teuku Tibang Muhammad Husin dan anaknya Teuku Nyak Gam dari Lintang Peureulak, Teuku Meurah Din dan Teuku Meudagu dari Peureulak, Nyak Umar dari Alur Nireh, Teuku Daud dari Lhok, Panglima Perang Beuni dari Bayeuen, Teuku Chik Bintara dan Teuku Panglima Meudeuhak dari Langsa, Tuanku Ibrahim (Putra Tuanku Hasyim Banta Muda Hasyim ) dan menantunya Said Ali ( Habib Rayeuk ) Manyak Paet, Teuku Banta Ahmad dan Datuk Panglima Dalam Muhammad Saleh Set Yu, Teuku Ujung Rimba Bendahara, Panglima Ibrahim di Kejuruan Muda, Teuku Ben Raja dan Teuku Raja Silang di Kejuruan Karam, Panglima Abdul Manaf di Serba Jadi, Datuk Sri Pahlawan di Damar Condong/Air Masin, Teuku Nyak Hasan di Pulau Kampai, Teungku Abdul Rahman dan adiknya Wan Muntok di Bahorok Langkat Hulu, Datuk Kecil, Datuk Jalil dan Datuk Sulung Barat di Sunggal dan puluhan panglima-panglima lainnya hingga sampai ke tanah Karo, Deli Hulu dan Serdang Hulu.
Sebagai gerak pertama setelah pengangkatannya menjadi Panglima Mandala kerajaan Aceh di Sumatera Timur dan Aceh bagian Timur, pada bulan November 1885 Panglima Teuku Nyak Makan dengan 140 orang anak buahnya yang terlatih rapi itu muncul di Tamiang untuk memulai operasinya, dalam operasinya tersebut telah menimbulkan kepanikan bagi seluruh pembesar sipil dan meliter Belanda apalagi bagi pengusaha-pengusahanya. Pada tanggal 18 Desember 1885 dengan kekuatan 50 orang prajurit Panglima Teuku Nyak Makam yang dipimpin oleh Nyak Ulim telah menggempur Tangsi Belanda di Seuruwey setelah berhasil dipancing keluar dari kandangnya. Dalam penyerangan tersebut seluruh kolonial itu telah dijadikan bulan-bulanan umpan peluru dari para pejuang.
Kemudian pada tanggal 28 malam 29 Desember 1885, pejuang Aceh yang dipimpin langsung oleh Teuku Nyak Makam sendiri telah menggempur Seuruwey yang dipertahankan oleh lebih kurang 300 serdadu Belanda yang lengkap dengan kaveleri, arteleri termasuk pasukan-pasukan marinir. Panglima Teuku Nyak Makam berhasil mengobrak-abrik rumah penjara di Seuruwey, selain kepala penjaranya sendiri beberapa orang serdadu Belanda tewas dalam pertempuran tersebut.
Dari Seuruwey Panglima Teuku Nyak Makam terus maju dengan pasukan gerak cepat guna menggempur kedudukan Belanda di Pulau Kampai dan berhasil merampas seluruh senjata yang ada pada Polisi dan Pabean tanpa ada kesempatan untuk memberikan perlawanan. Dengan berhasil menggempur kedudukan Belanda pada tanggal 2 Januari 1886 dari Pulau Kampai Nyak Makam kembali lagi kejurusan Temiang dan menggempur benteng-benteng Belanda di Seuruwey, untuk penggempuran ini pasukan gerak cepat Nyak Makam telah dibantu oleh raja Ma’an Raja Kejeruan Muda/Tamiang Hulu, dengan menggunakan pasukan khususnya.
Setelah menderita berbagai kerugian terutama kematian serdadunya, terpaksalah pertahanan Belanda di Seuruwey mendatangkan pasukan tambahan sebanyak 124 orang serdadu Mobiel Brigade termasuk tiga orang perwira disamping satu Peleton infanterinya. Dari Seuruwey PanglimaTeukuNyak Makam berangkat ke Besitang, mendengar bahwa pasukan Nyak Makam akan menyerang, mereka mengundurkan diri ke Pangkalan Siata, maka Nyak Makam dengan sebagian besar anak buahnya terus masuk ke sekitar Langkat Hilir dan di sana beliau mengganyang perkebunan-perkebunan Belanda di Glen Bervi (Paloh Muradi), Gerbang, Serapuh, Tamaran, Tarau dan Perkebunan lain di sekitar Langkat Hilir. Kejadian ini terjadi dalam bulan Februari 1886.
Sebahagian pasukan gerak cepat Nyak Makam di bawah pimpinan Nyak Ali, dikerahkan untuk menghantam perkebunan di Teluk Rubiah (sekarang termasuk kepenghuluan Pangkalan Siata Kecamatan Pangkalan Susu). Dalam penyerangan itu siapa saja yang berani melawan maka akan menjadi makanan santapan pasukan yang dikenal tanpa takut itu. Dari sini penyerangan diteruskan ke perkebunan Tungkam dan Sungai Dua. Setelah perkebunan di sungai Dua itu dibinasakan, para pejuang terus bergerak ke sungai Satu. Akibat dari penyerangan-penyerangan tersebut, perkebunan di Teluk Rubiah, Tungkam, Sungai Dua dan Sungai Satu terpaksa ditutup. Kejadian ini terjadi di bulan Februari hingga tanggal 11 dan 12 Maret 1886.
Dari Sungai Dua dan Sungai Satu pasukan Aceh yang dipimpin oleh Nyak Ali menggabungkan dirinya kembali dengan induk pasukan yang dipimpin langsung oleh Panglima Teuku Nyak Makam dan dibantu oleh Tuanku Ibrahim (Putra Tuanku Hasyim Banta Muda), kemudian mereka meneruskan perjalanannya ke Bahorok untuk bertemu dengan Teuku Abdurrahman guna melantik Kejreun Bahorok yang telah turun temurun itu menjadi panglima barisan sabilillah untuk wilayah Langkat Hulu dan mengadakan kerja sama untuk memerangi Belanda.
Dalam waktu yang relatif singkat Tgk. Aburrahman Raja Bahorok itu segera merealisir dan melaksanakan tugasnya dengan dibantu oleh adiknya Wan Mentok. Beliau terus menghubungi kepala-kepala daerah di Langkat Hulu itu agar turut berjuang mengusir Belanda yang telah menodai tanah Langkat yang mulai mencekamkan kukunya sejak tahun 1864.
Hasilnya sebagai akibat dari kerja sama Panglima Teuku Nyak Makam bersama pasukan gerak cepatnya dari Aceh dengan Teuku Abdurrahman Kejreun Bahorok, Belanda terpaksa menempatkan Garnizun militernya di Binjai, kemudian perkebunan Bekiun dan sekitarnya terpaksa dikosongkan. Belanda juga harus membayar ganti rugi sebanyak F.75.000,- (Tujuh puluh lima ribu gulden) kepada maskapai Harizon (Inggris) akibat tak sanggupnya Belanda menjaga keamanan di daerah yang katanya telah dikuasai mereka sepenuhnya. Kemudian serdadu mereka juga banyak yang mati.
Di saat-saat Belanda sibuk menghadapi pertempuran dengan pejuang-pejuang Aceh/Langkat di daerah Langkat Hulu itu dalam bulan April 1886 itu juga Panglima Teuku Nyak Makam telah menyerang perkebunan Belanda di Serapuh, yang letaknya persis di bawah hidung Belanda sendiri dan hanya beberapa kilometer saja dari Tanjung Pura. Setelah sempat beberapa puluh orang bangsa dan serdadunya mati, barulah Belanda teringat untuk memperkuat pertahanan dan menambah serdadunya di Tanjung Pura itu.
Dalam bulan mai 1886, di kala Belanda telah mulai tenang kembali, tiba-tiba Nyak Makam telah mengganyang perkebunan Belanda di sungai Sedapan (ke Hilir Besitang) yang baru saja dibuka. Akibatnya pengusaha Belanda terpaksa ambil langkah seribu, tak berani lagi menampakan dirinya lagi ke tempat semula dan menghentikan sama sekali rencananya.
Setelah lenyap dari daerah Besitang itu, tiba-tiba pasukan Nyak Makam di awal bulan Juni 1886 telah muncul kembali untuk menghadapi Belanda yang bermarkas di Tanjung Pura, di mana Nyak Makam telah menyerang perkebunan Tamaran yang terletak kurang lebih 3 Km di timur Tanjung Pura). Dalam pertempuran itu banyak sekali serdadu Belanda yang tewas, termasuk dua orang asisten kebunnya sendiri. Di kala serdadu Belanda ingin menyerang kembali ke tempat tersebut, Nyak Makam tidak mereka jumpai lagi.
Demikianlah, dalam masa 14 bulan itu (Maret 1885 s/d Juni 1886) menurut pengakuan Belanda sendiri di daerah Langkat Hilir dan Teluk Haru itu tidak kurang dari 25 kali pasukan sabilillah Nyak Makam mengadakan penyerangan, yang terpaksa mereka hadapi dengan pengorbanan yang tidak alang kepalang.
Sesudah menggemparkan dan mengejutkan Belanda selama 14 bulan itu, maka dalam bulan Juni 1886, Panglima Teuku Nyak Makam kembali pulang ke kampungnya Lamnga Aceh Besar untuk beristirahat di samping untuk bertemu dengan Sultan Alaiddin Muhammadsyah, Tuanku Hasyim Banta Muda dan Teuku Panglima Polem Ibrahim Muda Kuala, yang telah memindahkan kembali markas besarnya ke wilayah XXII mukim Aceh Besar.
Selanjutnya dalam bulan Juni 1886 itu juga Panglima Teuku Nyak Makam dengan diam-diam kembali ke markasnya beserta membawa 25 orang prajuritnya ahli gerilya yang dipimpin oleh Pang Abu. Hasil-hasil nyata yang telah diperoleh selama gerakan pertama Panglima Teuku Nyak Makam itu di daerah Langkat dan Aceh Timur, walaupun Panglima Teuku Nyak Makam tidak berhasil menguasai derah khusus di daerah Langkat, tetapi belasan onderming yang sedang membangun terpaksa gulung tikar dibuatnya, di mana tempat-tempat tersebut yang telah diterlantarkan oleh Belanda/raja Langkat menjadi hutan kembali sehingga tempat itu dapat dijadikan basis untuk gerakan Nyak Makam selanjutnya.
Sebaliknya di wilayah Tamiang, akibat munculnya Nyak Makam, Belanda yang telah menempatkan serdadunya sejak tahun 1865 di Seuruwey tidak berani memperluas daerahnya. Dalam arti kata mereka tetap terpulau di dalam tangsinya di dalam Peukan Seuruwey itu saja, sedangkan selebihnya seperti di daerah Kejuruan Muda, Bendahara, apalagi Kejreun Karang dan Sungai Yu, masih tetap di bawah kekuasaan Aceh sepenuhnya.
Teuku Nyak Makam kembali ke Aceh Besar
Setelah meninggalkan wilayah Tamiang, dalam perjalanan pulang, Panglima Teuku Nyak Makam tidak langsung pulang ke kampungnya di Lamnga, tetapi sambil berobat beliau menyempatkan diri singgah di tempat-tempat yang telah beliau tempatkan komandan-komandan pasukan sejak dari Peureulak, Idi, Keureuto, Nisam, Samalanga, Meureudu dan Pidie untuk berjumpa degan Sultan Panglima Polem, terutama bekas gurunya Tuanku Hasyim Banta Muda di Padang Tiji. Kemudian setelah mengadakan kontak dengan mertuanya Teuku Umar Meulaboh, barulah beliau pulang ke kampung halamannya di Lam Nga.
Lamnga, Kabupaten Aceh Besar kampung halaman Teuku Nyak Makam
Karena menderita sakit Teuku Nyak Makam merencanakan untuk pulang ke kampung halamannya di Lamnga Aceh Besar dan perlawanan terhadap Belanda di wilayah timur selanjutnya di percayakan pada wakilnya Nyak Muhammad. Setelah itu Panglima Teuku Nyak Makam langsung berangkat menuju ke Aceh Besar. Banyak biaya yang dihamburkan Belanda untuk mata-mata, ketika mendengar kabar kepergiannya ke kampung halaman. Belanda mengharapkan bahwa dari pengkhianatan akan diperoleh informasi tentang keberadaan Panglima Teuku Nyak Makam supaya bisa dicegat. Tapi Panglima Teuku Nyak Makam selalu berhasil mempermainkan Belanda, karena Panglima Teuku Nyak Makam mengenal siapa pengkhianat itu, maka mudahlah baginya melangsir berita palsu mengenai di mana dia berada.
Sebuah berita “Aceh Courant” tanggal 14 Januari 1893 mengatakan bahwa Panglima Teuku Nyak Makam sudah berada di Aceh Besar, sementara sebuah berita “Deli Courant” disekitar masa itu mengatakan bahwa Panglima Teuku Nyak Makam berada di Peureulak. Lalu pasukan Belanda di berangkatkan ke Peureulak, tapi Panglima Teuku Nyak Makam masih berada di Tamiang, dan menghantam pasukan Belanda di bagian ini ketika Belanda memalingkan perhatiannya ke Peureulak.
Keberangkatan Panglima Teuku Nyak Makam ke Aceh Besar sebetulnya berlangsung pada minggu kedua bulan April 1893, tidak lama setelah serah terima jabatan Panglima Teuku Nyak Makam kepada Teuku Nyak Mamad mengenai pimpinan tugas perlawanan di Aceh Timur dan Langkat, Panglima Teuku Nyak Makam sebetulnya adalah teman akrab dengan Teuku Umar, dikaitkan lagi dengan Cut Nyak Dhien isteri abang sepupunya Teuku Chik Ibrahim yang gugur tanggal 29 Juni 1878, di samping pernah serumah di Lamnga juga Cut Nyak Dhien adalah sewali dengan Teuku Umar.
Teuku Umar simpati kepada Panglima Teuku Nyak Makam karena ketangkasannya berperang. Ada alasan untuk percaya bahwa Panglima Teuku Nyak Makam pergi ke Aceh Besar bukanlah karena kegagalan melawan Belanda di Aceh Timur, melainkan karena dipanggil oleh Teuku Umar sendiri ataupun karena ingin menambah bala bantuan atau untuk memperunding lebih jauh mengenai koordinasi dan strategi perlawanan semesta terhadap Belanda.
Sebagai fakta bahwa perlawanan di Aceh Timur tidak gagal dapat disaksikan dari kegiatan perang menghadapi Belanda pimpinan Teuku Nyak Muhammad. Suatu pertempuran yang mematahkan kekuatan Belanda di Bukit Kubu telah berlangsung pada tanggal 24 Mai 1893 ketika Teuku Nyak Muhammad dan pasukannya mengadakan serangan hebat. Perlawanan yang berarti sekitar masa itu berlangsung terus di antaranya di Upak, Tanjung, Seumanto dan Manyak Paet (Maja Pahit). Perlawanan, selanjutnya di bagian ini berlanjut hingga bertahun-tahun, bahkan pada memakan waktu yang lama dan semakin meningkat hebat tatkala pejuang-pejuang di bagian ini mendengar bahwa Teuku Umar telah balik lagi ke pangkuan Aceh.
Tahun-tahun berikutnya Teuku Nyak Muhammad mengaktifkan perlawanan gerilya di samping perlawanan yang masyhur dari Teuku pejuang Gayo dari Telong. Belanda yang sengaja telah melepaskan mata-mata untuk mengikuti langkah Panglima Teuku Nyak Makam, yang terkenal licin dan boleh disebut seorang intelligent yang terulung yang paling ditakuti oleh Belanda.
Dalam bulan November 1893 Panglima Teuku Nyak Makam masih berada di wilayah Pidie. Belanda sama sekali tidak berhasil walaupun telah menghabiskan dana yang besar untuk mengetahui di mana Panglima Teuku Nyak Makam berada, sehingga seperti orang yang ling-lung demikian lah tamsilan untuk Belanda ketika diberitahukan secara resmi oleh Teuku Umar bahwa Panglima Teuku Nyak Makam telah berada di Kula Gigieng. Teuku Umar ketika itu sudah menjadi Panglima Perang Besar Belanda dan dia mengatakan bahwa Panglima Teuku Nyak Makam telah diangkat menjadi pembantunya untuk me melihara keamanan di bagian XXVI mukim.
Demikianlah semenjak itu Panglima Teuku Nyak Makam telah berada ditempat asalnya di Lamnga, termasuk di XIII Mukim Tungkop. Panglima Teuku Nyak Makam tidak bisa diambil tindakan apa-apa oleh Belanda karena dilindungi oleh Teuku Umar. Belanda terpaksa menyimpan kemarahannya. Sebaliknya Kolonel A.H. Van de Poll yang berada di Medan hanya bisa mengurut dada untuk menahan kemarahannya.
Dendam Belanda kepada Teuku Nyak Makam
Demikianlah kejadian dalam penghujung tahun 1893, Komandan Militer Belanda di Medan amat kecewa terhadap Gubernur Militer di Aceh, Jenderal Deijkerhoff yang bersikap lunak terhadap musuh-musuh Belanda yang paling berbahaya seperti Panglima Teuku Nyak Makam itu. Padahal ia telah banyak menewaskan Belanda. Dia adalah penyerang yang sangat tangkas, orang yang ditakuti oleh administratur kebun, karena jiwa mereka senantiasa terancam, setiap saat dapat saja membakar dan mengadakan sabotase di perkebunan. Di mana sedang giat-giatnya Belanda membuka Perkebunan dan Tambang, maka disitulah Panglima Teuku Nyak Makam giat mengadakan sabotase dan penyerangan gerilya.
Menghadapi kenyataan ini Belanda tidak dapat berbuat apa-apa, tuntutan Belanda di Sumatera Timur supaya Panglima Teuku Nyak Makam di tangkap tidak diacuhkan sama sekali, sebab Belanda masa itu masih sangat mengharapkan bantuan Teuku Umar. Tapi dendam kusumat Belanda terhadap Panglima Teuku Nyak Makam tidak bisa hilang begitu saja. Dendam kesumat itu segera menonjol begitu Teuku Umar dalam bulan Maret 1896 balik arah untuk melawan Belanda.
Sebagai seorang kesatria yang tak mungkin dapat menahan diri dari berjuang, baru sembuh sedikit Panglima Teuku Nyak Makam telah menggabungkan dirinya dengan kesatuan yang dipimpin oleh Sultan, namun karena penyakitnya beliau hanya mampu bertindak sebagai penasihat saja.
Demikianlah, di triwulan pertama tahun 1896, karena penyakitnya semakin parah terpaksalah Panglima Teuku Nyak Makam kembali untuk beristirahat ke kampungnya di Lamnga, sesampai di sana ia sudah tidak sanggup bangun-bangun lagi, sehingga beliau tidak tahu bahwa Teuku Umar yang melindunginya telah kembali berjuang di pihak pembela bangsanya lagi.
Sebaliknya karena sangat tergesa-gesa Teuku Umar pun tak sempat pula memberitahukan mengenai kembalinya kepada menantunya yang sedang sakit itu. Lagi pula berdasarkan pengalaman terdahulu kampung Lamnga itu sepeninggal Panglima Teuku Nyak Makam dulu, hampir tidak pernah diserang atau dimasuki oleh serdadu Belanda terkutuk itu. Ternyata keadaan di mana bergabungnya kembali Teuku Umar kepada bangsanya sungguh tidak menguntungkan Panglima Teuku Nyak Makam. Dia sendiri dalam keadaan sakit, tidak dapat bergerak dari pembaringan sejak beberapa lamanya.
Kematian Teuku Nyak Makam
Demikianlah pada tanggal 21 Juli 1896 seorang cecunguk Belanda datang melaporkan kepada Belanda di Kutaradja (Banda Aceh sekarang) bahwa Panglima Teuku Nyak Makam yang sekian lama dibuntuti oleh Belanda itu kini sedang berada dalam keadaan sakit berat di Lam Nga dan jika diserang pasti dapat dihancurkan. Tanpa membuang waktu Belanda mengarahkan sejumlah besar tentaranya. Belanda sadar siapa lawannya, pengalaman pasukan Kolonel Van de Poll ketika berhadapan dengannya di Tamiang dulu telah meyakinkan Belanda bahwa Panglima Teuku Nyak Makam harus dihadapi dengan pasukan yang luar biasa besar.
Setelah mendengar berita tersebut jenderal J.W.Stemfoort Gubernur Sipil dan militer Belanda di Aceh terus saja memerintahkan bawahannya Letnan Kolonel G.F.Soeters mengerahkan serdadunya untuk menghancur leburkan Panglima Teuku Nyak Makam yang merupakan musuh utamanya.
Demikianlah di malam kelam yang gelap gulita, yaitu tepat pada Senin malam Selasa tanggal 21 menjelang 22 Juli 1896 M bertepatan dengan 9 jalan 10 safar 1314 H, berangkatlah Belanda ke kampung Lamnga di bawah pimpinan Letnan Kolonel G.F. Soeters. Pasukan ini terdiri dari berbagai gabungan Korps Marsose, satu batalyon Infantri ke tiga sebanyak 3 kompi dari batalyon infantri ke 6 sebanyak satu batalyon ke 12 sebanyak satu pasukan Kafeleri dengan 45 orang dari pasukan Zeni, pasukan ini didatangkan dengan mengatur kepungan serentak dan berkombinasi dengan satu detasemen dari batalyon yang ditempatkan (garnizun) di Kuala Gigieng yang berjumlah kurang lebih 2000 orang serdadu seluruhnya.
Dengan kekuatan sedemikian dahsyat itulah Belanda baru sanggup dan berani menghadapi seorang insan Aceh yang sedang sakit parah, tetapi Belanda mengerti berdasarkan pengalamannya bahwa setiap orang Aceh bernilai sama dengan 100 orang serdadu Belanda. Tapi terhadap diri Panglima Teuku Nyak Makam musuh utama dan yang paling ditakuti oleh Belanda ini, bernilai 10 kali lipat lagi, seorang baru sebanding dengan beliau sebanyak 1000 orang Belanda dan andai kata ada pengawalnya 10 orang, maka mereka harus diahadapi oleh 1000 orang Belanda yang lain lagi. Penilaian seperti ini pasti tidak pernah dicetuskan mereka melalui lidahnya, konon pula untuk menuliskan dalam buku-bukunya, tetapi fakta sejarah demikianlah kenyataannya.
Demikianlah, kampung Lamnga yang sunyi sepi yang tak ada nilainya dari sudut strategi militer, terus dikepung rapat dengan ketat dan disekat dengan tiba-tiba, sehingga penduduknya yang rata-rata adalah kaum wanita, ditambah kakek-kakek yang telah tua renta dan bocah-bocah yang masih ingusan pastilah tak sanggup dan tidak ada kesempatan lagi melakukan sesuatu menghadapi sergapan mendadak dari serdadu Belanda. Konon pula untuk mengungsikan Panglima Teuku Nyak Makam yang sedang sakit parah dan tergeletak di pembaringannya.
Sedangkan Panglima Teuku Nyak Makam sendiri dalam keadaan seperti itu, apalagi di luar dugaannya pastilah pula tak ada kesempatan lagi berbuat sesuatu, apalagi dia sendiri tidak berdaya sedikitpun. Andaikata beliau masih sanggup bergerak pastilah beliau akan meluluhlantakkan beberapa orang Belanda sebelum beliau dapat disekap dan ditawan mereka. Karena itu sama sekali tidak mungkin lagi, maka selanjutnya dia serahkan dirinya kepada Allah dengan tulus tekad sepenuh hati. beliau rela berjuang dengan mempertaruhkan tubuhnya untuk menyambut seruan dan panggilan Tuhannya, Allah Robbul ‘izzati.
Penyerangan terhadap kediaman Panglima Teuku Nyak Makam berlangsung secara mengejutkan sebab tidak ada yang mengetahui dan mendengarnya. Yang ditemui oleh Belanda adalah Panglima Teuku Nyak Makam yang sedang sakit parah di pembaringan.Walaupun demikian cara Belanda yang betul-betul pengecut menawan Nyak Makam yang telah pucat pasi dan kurus kering dan betul-betul tanpa daya, persis laksana sekawanan besar monyet menyergap seekor ular besar yang kekenyangan sehabis menelan mangsanya.
Dengan serba kebengisan, Panglima Teuku Nyak Makam lalu ditangkap kemudian diangkat dan dinaikkan ke tandu, kemudian isteri serta seisi rumahnya digiring dengan sangkur terhunus kebadan mereka masing-masing. Teuku Nyak Makam dan isterinya digotong ke kampung Gigieng, di tempat Letnan Kolonel Soeter sedang menunggu dengan harap-harap cemas.
Prasati Kepahlawanan Teuku Nyak Makam
Melihat wajah Panglima Teuku Nyak Makam yang telah pucat pasi, kurus kering hanya tinggal kulit pembalut tulang tiba-tiba secara mendadak G.F.Soeters kehilangan akal. Diapun terus memancung putus kepala Panglima Teuku Nyak Makam dalam keadaan terikat dan terbaring di atas tandu. Selanjutnya tanpa tunggu perintah lagi, batang tubuh beliau dicincang-cincang lumat hingga hancur secara berebut-rebutan oleh serdadu-serdadu Belanda yang 2000 orang jumlahnya, masing-masing seakan takut tak dapat bagiannya. Peristiwa tersebut terjadi di hadapan mata dan disaksikan anak isteri dan penduduk Lam Nga yang sengaja digiring ke Kuala Gigieng itu agar mereka tahu betapa dan bagaimana biadab, kejam dan sadisnya Belanda yang tak malu-malu mengaku diri bangsa tersopan di dunia.
Kebiadaban Penjajah Belanda terhadap Nyak Makam
Setelah melumatkan tubuh Panglima Teuku Nyak Makam, kepala beliaupun dijadikan bulan-bulanan tentara Belanda seperti bola sebagai tanda kemenangan. Selanjutnya, saat malam tiba kepala syuhada agung Aceh itu mereka angkut secara demonstrasi dengan bersorak-sorai kegirangan diiringi rasa bangga untuk mempersembahkan kepada Gubernur Jenderal J.W.Steemfoort di Kutaraja (Banda Aceh sekarang).
Besok paginya Selasa tanggal 22 juli 1896 kepala Panglima Teuku Nyak Makam itu, terus diarak untuk dipawaikan, diperagakan dan didemonstrasikan oleh suatu iringan-iringan besar serdadu Belanda, dengan melintasi seluruh jalan-jalan dan gang-gang penting di Kutaraja, dengan bertempik sorak tanda kesenangan karena mereka telah mengalahkan musuh bebuyutannya yang paling mereka takuti dan yang telah menewaskan ribuan serdadu bangsa mereka.
Letak Makam Teuku Nyak Makam perkarangan Mesjid Lamnga Aceh Besar 15 km dari Banda Aceh, jalan Banda Aceh-Malahayati Krueng Kala tepat di samping Mesjid di sebelah kiri.
Tidak beberapa lama kemudian, kepalanya yang sudah terpisah dari tubuhnya yang sebelumnya telah dibalsem, lalu dikirim ke Batavia kepada Tuan Besar Gubernur Jendral, Panglima Besar (Leger Comandant) dan pembesar-pembesar Hindia Belanda yang berada di sana. Dari Batavia diteruskan ke Nederland untuk dipersembahkan kepada Sri Baginda Maharaja Ratu, para Menteri dan pembesar-pembesar mereka di Den Haag. Konon menurut sumber yang lain kepala Nyak Makam dikirimkan kembali ke Cimahi setelah dibalsem dalam toples. Dan pada tahun 1942 baru kemudian dikebumikan atas perintah angkatan perang Jepang untuk Indonesia. Sebelumnya Kepala yang di awetkan dalam botol besar dan di pamerkan di koridor rumah sakit militer Belanda di Kuta Alam (Kesdam sekarang) dan sebelum di kuburkan kepalanya tersimpan di Meseum Aceh-Belanda di negeri Belanda.
Ingatlah selalu sejarah!!!
Panglima Teuku Nyak Makamlah satu-satunya pejuang Aceh yang badannya bermakam di Serambi Mekkah tetapi kepalanya (pernah) dihinakan, dan dijadikan piala oleh Belanda. Itulah kebuasan, suatu kejahatan kemanusiaan yang tidak ada taranya. Hasil kemenangan yang dikecap oleh Belanda terhadap seorang orang tua yang sakit dan lemah. Sebagaimana penjajahan, atau penindasan manusia atas manusia lainnya tidak layak ada di dunia.
Tulisan pada nisan Teuku Nyak Makam
Seorang Pahlawan hanya mati sekali, tak bisa diulang, dan tak sepatutnya diulang. Sebab repetisi dan kebosanan akan membasmi sebuah drama. Tapi sejarah harus dituliskan karena ada orang-orang yang diharapkan untuk mengingat, mengingat menjadi penting karena waktu berjalan dan manusia terbatas. Sejarah diceritakan karena akan ada generasi selanjutnya yang tak boleh lupa akan cerita-cerita keberanian di masa lalu.
DAFTAR PUSTAKA
Aceh Sepanjang Abad Jilid Kedua; Mengungkapkan dari eskpedisi Belanda kedua ke Aceh sampai keadaan tahun 1945; Penulis H. Mohammad Said; Dicetak oleh P.T. Percetakan Prakarsa Abadi Press; Diterbitkan oleh P.T Harian Waspada; Medan.
Perang Aceh dan Kegagalan Snouck Hurgronje; Penulis : Paul van ‘t Veer; Terjemahan dari judul asli De Atjeh-Oorlog ; Diterbitkan oleh Uitgeverij De Arbeiderspers/Wetenschappelijke Uitgeverij; @Erven Paul van ‘t Veer, 1979; Penerbit PT Grafiti Pers; Pusat Perdagangan Senen Blok II, Lantai III; Jakarta 101410; Anggota IKAPI; Cetakan Pertama 1985; Percetakan PT Temprint, Jakarta.
When I wake up in the morning, I do not know where I am. Time has made me realize I’m no longer a child. Today I remember myself as a seven-year-old boy. As the first time saw the sun sink, many have passed.
And today I find no one will understand, and no one cares and time will not come back. Along with dreams and beliefs will not give up. Remembering the oath of loyalty to friends who have gone.
Thinking how my life came back after this road without thinking to escape from destiny until help arrived. Dreams and expectations have not been done. How difficult it is to carry out the dreams of an adult world kid, how the perfection of ideas bumps into reality.
And I think it’s time for me to return, without having to endure another night. If your eyes are closed then all will be lost. Eighty-five years of my life as has been the case for centuries. Where this old body lasted so long only because of the power of dreams.
I will go home, and if any old ideals are not reached. So I can rejoice in this return. Go home as a free man. Human freedom, oh how that is so difficult.
After the revolution is over, the coffee shop is a kind of heaven on earth.
AFTER THE REVOLUTION ENDED
In the long war, all good people, smart, critical, and principled people, all dead, killed. All that remained was the two-headed people!
XXX
Coffee is a miraculous drink
When I was young, I felt different. I seek wisdom. Feel the connection with the souls I want to protect. On the way, I meet strong and noble people. Studies in dusty classrooms, riding in the library of great men. Come out into the forest for an uncertain sake, starved and bitten by mosquitoes with people who are now mostly dead.
That was a dozen years ago, now look at me, with a cup of coffee in the tavern. Alone to try to remember those moments. In 360-degree view, in the common room of games, free wi-fi suckers until contractors are still pursuing economic project profits. Inexhaustible talk about the hope of The Gospel, Gold, and Glory.
Violence against the Acehnese civilian population was perpetrated by the Indonesian military during the 1976-2005 Aceh Conflict.
And a few years ago how amazed I was to see as far as the eye could see, the coffee shop was lined up constantly. This presence was greeted with joy, a sign that the conflict was over as soon as the tsunami struck Aceh. We are ready to enter the modern era.
If there is a criteria ratio coffee shop, the number of coffee shops in the size of certain areas, I can make sure our city entered the world record. Even if there is a count of the number of people to the coffee shop per day the winner must be people who live in this city. Every morning, the crowd, like the migration in the desert, from the surrounding area, flocked to a kiosk for a cup of coffee. Then they work. The afternoon after lunch with yams even though they sipped a glass of coffee. In the afternoon they returned to the shop and went back home. Sometimes at night, at 10 o’clock after the wife and children sleep, they go to the stall again. All for a glass of coffee.
Coffee is a miraculous drink, at least for the tongue of Aceh (and or affected), because it can change according to place. Rumors are circulating among wives about husbands who do not want to drink coffee at home, even though coffee seeds just like in a stall prove to be valid. As the status quo, the reason for the compact husband, the coffee that is in the house is not as good as in the coffee shop.
The deeper I wallowed inside the coffee shop, the more magical my discoveries were. Coffee for the Acehnese does not dissolve the black sugar air, but the escape and excitement. A cup of coffee contains twelve-story stories of life. Dissolved black powder drenched with boiling water slowly vaporizes the secret of destiny.
Those who sip bitter coffee generally end up with a little coffee. The more bitter the coffee, the more adventurous it is, their lives are filled with disappointment. The leaders they worship continue to add wives two, three, four, and five. While they really expect the leader’s promise to save them, by giving a million dollars a month after the victory is rejected. They are stuck on a false promise. Business? They are often deceived. However, they keep trying, hoping, and praying. They are a fatalist group.
Those who measure sugar, coffee, and milk are generally proportional office workers who work routine and rhythmic life-that’s all. The group covers themselves with blankets and sleeps comfortably inside the comfort zone. The proportion of sugar, coffee, and milk reflects their risky personality. Without them knowing it, the comfort makes time, moment by moment, to twist them. These people are called the group satisfied with the situation.
There are also people who have thick coffee, but sugar plus half a teaspoon. These people are skilled employees, playing small projects like procurement, for example, watch batteries. Traders and contractors also belong to these people, they are ambitious in pursuing government projects. Such doses of coffee make them feel bitter at the tip of the tongue, but a little bit sweet at the tip the tongue. They feel sexy with a determination to go upstairs or have gone to class. For those climbers, the economy is an ambition!
Those who drank coffee and only asked for a little sugar, then after being given sugar, saying too sweet or less sweet, were the ones who were easily incited and instigated. They are vandals who often read hoax news on the internet, then turned off without a thought as a result of social media. They are selfish folk, and funny they all have high emotions and irritability. They bring the holy verses of the Qur’an drinks contents, meaning, and meaning, but when told to read Tafseer or tabayyun like the grunt. After the revolution is over, they are the destroyers of the public order but feel themselves, heroes. Yes, they belong to the group of lost heroes.
They carry holy verses of the contents of the Qur’an. Those who need more milk are generally problematic in social life. Some are sophisticated wifi sweepers or quiet online gamers. In extreme circumstances, there is a scream while playing counter strike, call of duty. But the most annoying is the creature with headsets headed. He is singing through the laptop, he felt the ruler of the world, unfortunately, the song is always themed on heartbreak. This group does not care even though all the stalls glare at them. They are called groups of lovers of land, water, and air.
Those who drink hot water and milk, without sugar and coffee are the people who daydream in the coffee shop. Smoking is not interrupted for at least two different packets of flavor. Do not know what’s going on inside their heads. They are among the rare, strange, and lonely. It’s called a crazy Sufi group.
At the coffee shop, past midnight, a nearly empty cup of coffee.
After the revolution is over, the coffee shop is a kind of heaven on earth. Sitting here is the way we eat forests have been felled with rubber plant alibi. The nature reserve switches function into palm plantation boxes. Or weighing the price of tuition (kindergarten, elementary, junior high, high school, bachelor) soared, even to deny Fortier car whitewash to Medan by a handful of elite stingy, spree there.
Revolution has been completed, and peace has been developed. Mister is gone, we miss you whoever ordered, “Save the forests of Aceh because the forest is one of the heritage of ancestors that will be repatriated to our children and grandchildren in the future”. But do not be bothered by the thugs who claim your successor.
Yes, they are (probably) our brothers, our friends, and leaders, but they are not like Mis. They are greedy and neglectful with their own history and are busy dredging coins from asphalt, bridge to K this country. No one else is willing to sacrifice everything for us, the full love of the whole labor of greed.
At the coffee shop, past midnight, a nearly empty cup of coffee. Together with the breeze of October, how I remember you like a pearl, born in the middle of the Sahara, is not repeated. They are greedy and neglectful with their own history and are busy dredging coins from asphalt, and bridge, to the office equipment of this country.
No one else is willing to sacrifice everything for us, the whole full love has turned into greed. At the coffee shop, past midnight, a nearly empty cup of coffee. Together with the breeze of October, how I remember you like a pearl, born in the middle of the Sahara, is not repeated.
NB: Look, the symbol of the two lions standing by yours has never been seen again, now hear has changed with two pigs who are eating shit own. There is no greater blessing than a city has than a King who is willing to sacrifice his life for the sake of his people.
NB: Look, the symbol of the two lions standing by your pigs who are eating shit own. There is no greater blessing that a city has than a King who is willing to sacrifice his life for the sake of his people.
Palestine is sad. Stories of people deprived of independence, lands seized and people persecuted.
WHY PALESTINE IS OUR SADNESS
In front of the Israeli parliament building (Knesset) still stands the writing on which Israel’s political foundation, “The total area of Israel is from the river Euphrates (Iraq) to the Nile (Egypt).” While it is still the basis of the State of Israel it seems that the possibility of peace in the Middle East is very small. Israel itself as a State-supported by the United States is a great power that has everything, a tough military, strong financial resources, control of the media, and advanced industries.
So, Palestine is sad. A couple of broken stories about people who lost independence, lands seized and people persecuted. This Palestinian echo is so often forgotten. During the Israeli security crackdown that left 3 people dead and more than 100 wounded in the Al-Aqsa Mosque compound, an act of violence and human rights abuses, such as the killing of people attempting to exercise their right to worship at Al-Aqsa Mosque. The world feels painful. “Look!” Israel seems to assert that, “Palestinians can have their own government, but it’s only on paper!”
History is a pattern with multiple repetitions.
On July 11, 1948, the Israeli army, assisted by a Moshe Dayan-led battalion complete with an armored vehicle fitted with a cannon raided al-Ludd, accompanied by war-trained young men from Ben Shemen. The city attempted to defend Arab militias. But within 47 minutes, dozens of Arabs were killed, including women, parents, and children. On the side of Israel, nine people died.
That same night key positions in the city center were seized. Palestinian residents, in the thousands, were forced into the main mosque. When some Arabs tried to fight by shooting at Israeli soldiers from near a small mosque, the reply came unmitigated.
Grenades are thrown into homes. The small mosque was shot with anti-tank bullets. “In 30 minutes, two hundred and fifty Palestinians were killed,” writes Ari Shavit in his book My Promised Land: The Triumph and Tragedy of Israel. “Zionism has committed a massacre in al-Ludd.”
And that’s not the end of the story. After the city was occupied, Yitzhak Rabin, the operations officer, passed Ben-Gurion’s decision in written instruction: “The residents of al-Ludd should be expelled as soon as possible, regardless of age.”
By nightfall, some 35,000 Palestinian Arabs flocked from their hometown in a long line to the east. Never able to return.
Ari Shavit wrote the scene with a sad tone. He knew that cruelty had been committed against innocent and defenseless Palestinians who were expelled in the twentieth century, as the Jewish people, in the 6th century BC.
But he did not condemn. The Haaretz daily reporter was unable to condemn Israeli leaders who ordered the arbitrariness of al-Ludd. “Without them,” he wrote, “I will never be born. They do such a vile work that allows my people, my people, my children, and myself to live.”
Shavit was born in Rehovot, 20 kilometers from Tel Aviv, nine years after the State of Israel was founded. Some are honest in his statement: he claims to be powerless amidst difficult moral choices.
Israel has everything to win the war against the Palestinians. Their fighter planes are roaring in the sky, while the Palestinians have what? Maybe they can only say we have a body that can explode. Imagine a body that can explode. Palestine is not just a “land of blood” in the literal sense, but also people who are forever plunged in pain and constantly beheaded.
Conditions in Palestine, the people there worship with escorted by Israeli soldiers. Photo Reuters / Ammar Awad
We do not know how long the Palestinians can live in the tyranny of Israel, but we all know that Palestine will always live as a desired. The days there are full of tension, between anger and ideals to be achieved, possibilities of life or death, displaced as well as heroism, nostalgia and the difficulty of hope. Palestine may be the only time we should speak because Palestine is not just a territory, but a struggle for independence.
It seems rather difficult to imagine, Israel as a State that overshadows the Jews who brought trauma to the history of the extermination of most of the Jews by the Nazis, now do the cruelty they once experienced. Israel is Israel because it felt that they had been the victims of the Holocaust actually made them feel the right to a more cruel holocaust of Hitler. A circle of endless hatred.
Israel, feeling besieged from birth, attacked and occupied the territory of its people from the first stand. Israel is not just a country, Israel is a combat troop. He is constantly alert and generally never loses.
History never promises a happy ending for everyone, nor (maybe) that ends forever. History is also made up of incessantly defiant acts, demanding, in other words, arbitrariness, should never happen again. So in all our limitations, let us pray for them in Palestine. Because Palestine is us.
Why are we Palestinians? Palestine is not just a territory, nor are people of a particular ethnicity. Palestine is sad, facing the forces associated with knowledge and technology, facing sophisticated weapons, the power of money, a very conquering force. Why do we feel the same fate with Palestine? Because we know it feels sad because our hearts feel the same with Palestine. Ever felt how captured, defeated, and silenced in the world.
Palestina adalah kesedihan. Sepatah dua patah cerita tentang orang-orang yang kehilangan kemerdekaan, tanah yang dirampas dan orang-orang teraniaya.
MENGAPA KITA MERASA SENASIB DENGAN PALESTINA
Di depan gedung parlemen Israel (Knesset) masih berdiri tulisan yang menjadi landasan politik Israel, bahwa “Luas wilayah Israel adalah dari sungai Eufrat (Irak) sampai ke sungai Nil (Mesir).” Selagi itu masih dijadikan dasar Negara Israel tampaknya kemungkinan damai di Timur Tengah sangat kecil. Israel sendiri sebagai sebuah Negara yang disokong oleh Amerika Serikat merupakan kekuatan besar yang memiliki segalanya, militer tangguh, keuangan persejataan yang kuat, menguasai media serta industri yang maju.
Maka, Palestina adalah kesedihan. Sepatah dua patah cerita tentang orang-orang yang kehilangan kemerdekaan, tanah yang dirampas dan orang-orang teraniaya. Gema Palestina ini sedemikian sering terlupakan. Ketika tindakan kekerasan pihak keamanan Israel yang menyebabkan 3 orang Jemaah tewas dan lebih dari 100 luka-luka di kompleks Masjid Al-Aqsa, sebuah aksi kekerasan dan pelanggaran hak azazi manusia, seperti pembunuhan terhadap orang yang berupaya menjalankan haknya melakukan ibadah di Masjid Al-Aqsa. Dunia terasa sembilu. “Lihatlah!” Israel seakan menegaskan bahwa, “Orang Palestina boleh memiliki pemerintahan sendiri, tapi itu hanya diatas kertas!”
Sejarah adalah sebuah pola dengan beberapa pengulangan.
Pada 11 Juli 1948, tentara Israel, dengan dibantu batalion yang dipimpin Moshe Dayan lengkap dengan sebuah kendaraan berlapis baja yang dipasangi meriam menyerbu al-Ludd, disertai para pemuda yang telah dilatih perang dari Ben Shemen. Kota itu dicoba dipertahankan para milisi Arab. Tapi dalam 47 menit, belasan orang Arab tewas, termasuk perempuan, orang tua, dan anak-anak. Di pihak Israel, sembilan orang mati.
Malam itu juga posisi-posisi kunci di pusat kota direbut. Penduduk Palestina, dalam jumlah ribuan, dipaksa masuk ke masjid utama. Ketika beberapa orang Arab mencoba melawan dengan menembaki tentara Israel dari dekat sebuah masjid kecil, balasan datang tak tanggung-tanggung.
Granat dilontarkan ke rumah-rumah. Masjid kecil itu ditembak dengan peluru antitank. “Dalam 30 menit, dua ratus lima puluh orang Palestina tewas,” tulis Ari Shavit dalam bukunya My Promised Land: The Triumph and Tragedy of Israel. “Zionisme telah melakukan pembantaian di al-Ludd.”
Dan itu bukan akhir cerita. Setelah kota diduduki, Yitzhak Rabin, perwira operasi, meneruskan keputusan Ben-Gurion dalam sebuah instruksi tertulis: “Penduduk al-Ludd harus diusir secepatnya, tanpa memandang umur.”
Menjelang malam, sekitar 35 ribu orang Arab Palestina berduyun-duyun meninggalkan kota kelahiran merekadalam barisan yang amat panjang menuju timur. Tak pernah bisa kembali.
Ari Shavit menuliskan adegan itu dengan nada sedih. Ia tahu kekejaman telah terjadi terhadap orang Palestina yang tak berdosa dan tak berdaya ituorang-orang usiran abad ke-20, seperti bangsa Yahudi, orang-orang usiran abad ke-6 sebelum Masehi. Tapi ia tak mengutuk. Wartawan harian Haaretz itu tak sanggup mengutuk para pemimpin Israel yang memerintahkan kesewenang-wenangan di al-Ludd. “Tanpa mereka,” tulisnya, “aku tak akan pernah dilahirkan. Mereka melakukan kerja yang keji itu yang memungkinkan bangsaku, rakyatku, anak-anakku, dan diriku hidup.”
Shavit lahir di Rehovot, 20 kilometer dari Tel Aviv, sembilan tahun setelah Negara Israel berdiri. Ada yang jujur dalam pernyataannya: ia mengaku tak berdaya di tengah pilihan-pilihan moral yang sulit.
Israel memiliki segalanya untuk memenangkan perang melawan Palestina. Pesawat-pesawat tempur mereka mengaum di angkasa, sedang orang Palestina punya apa? Mungkin mereka hanya bisa mengatakan kami punya tubuh yang bisa meledak. Bayangkan tubuh yang bisa meledak. Palestina bukan hanya “tanah tumpah darah” dalam arti harfiah, tapi juga orang-orang yang selamanya dijerumuskan dalam rasa sakit dan terus menerus dipenggal.
Kondisi di Palestina, masyarakat disana beribadah dengan dikawal Tentara Israel. Foto Reuters / Ammar Awad
Kita tidak tahu sampai kapan bisa Palestina hidup dalam kezaliman Israel, tapi kita semua tahu bahwa Palestina akan selalu hidup sebagai sebuah hasrat. Hari-hari disana penuh ketegangan, antara marah dan cita-cita, kemungkinan hidup atau mati, ketergusuran sekaligus kepahlawanan, nostalgia serta sulitnya harapan.
Palestina mungkin saat ini adalah satu-satunya yang harus kita suarakan, sebab Palestina bukan hanya sebuah wilayah, tapi sebuah perjuangan akan kemerdekaan. Sebagaimana yang dituliskan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. “Bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa.”
Rasanya agak sulit dibayangkan, Israel sebagai sebuah Negara yang menaungi bangsa Yahudi yang membawa trauma sejarah pemusnahan sebagian besar kaum Yahudi oleh Nazi, kini justru melakukan kekejaman selayaknya mereka dulu diperlakukan. Israel adalah Israel, karena merasa pernah menjadi korban holocaust justru menjadikan mereka merasa berhak menjadi pelaku holocaust selanjutnya, yang lebih kejam dari Hitler. Sebuah lingkaran kebencian yang tak akan pernah berujung.
Israel, merasa terkepung sejak lahir, menyerang dan menduduki wilayah orang sejak pertama berdiri. Israel bukan hanya sebuah negeri, Israel adalah sebuah pasukan tempur. Dia siaga terus menerus dan umumnya tak pernah kalah.
Sejarah memang tak pernah menjanjikan penutup yang bahagia bagi semua orang, juga (mungkin) tak ada “happy ending” yang jadi akhir selama-lamanya. Tapi sejarah juga terdiri atas tindakan yang tak henti-hentinya membangkang, menuntut, dengan kata lain dari kesewenang-wenangan, tak boleh terjadi lagi. Maka dalam segala keterbatasan kita, marilah kita berdoa untuk mereka di Palestina. Karena Palestina adalah kita.
Mengapa kita adalah Palestina? Palestina bukanlah hanya sebuah wilayah, bukanlah sekumpulan orang-orang dari etnis tertentu. Palestina adalah kesedihan, menghadapi kekuatan yang bertaut dengan pengetahuan dan teknologi, menghadapi senjata-senjata yang canggih, kekuatan uang yang begitu perkasa serta menaklukkan. Mengapa kita merasa senasib dengan Palestina? Karena kita tahu rasanya bersedih, karena hati kita merasa senasib dengan Palestina. Pernah merasakan bagaimana diringkus, diringkas dan dibungkam didunia.
Actually, he was nothing more than a rotten man with a grandiose dream. Someone with pride and self-centeredness, thinking that the world is created for him alone. He is nothing more than a slacker and defeated in the battle of life. Disturbed by his dreams, his own aspirations and plans and then fall and create the world that he can only understand. It is very difficult to live with him. He always knows when is the right time for him to make me cry and laugh cruelly.
But his words are very sweet. Though insulting and not always adoring. It was so easy he made me forget that not a minute ago he made me cry. His smile was innocent. And the most remarkable poem he created has a strong and deep-rooted feeling to the earth. Somehow a man full of contradictions, individualistic and cold can make the word as his slave.
Really I can never understand why I was caught by him. One word of it can stir up my feelings, it’s been hundreds of years I know the rancid bastard. He who has taught me how to hate, burning on him. “That is a woman if her wishes are not met it will be threatening or crying.” It is the words of a man who believes that women are weak creatures. He will never know a woman’s revenge will move the whole world with him, shrink a man then destroy him without mercy.
Right now my hatred is burning. Why? Ask a weak man with a steel grip that stole my youth. My lips smile at him but really want to trample on the bastard’s head. It was enough of him humiliation to have no love for him now. From a girl who once fell in love, the most burning love of all loves ever, the most deserving love of all love. Love that once reached the soul and body. And now there’s nothing left. Human feelings are incomprehensible.