PARA PENYEBAR KEBOHONGAN

Binatang buas yang mengancam dunia adalah kepercayaan diri tanpa tanggungjawab.

PARA PENYEBAR KEBOHONGAN

Tulisan ini didedikasikan teruntuk para penyebar kebohongan (yang menyadari atau tidak), serta mereka yang terganggu karenanya, atau bagi mereka yang tak peduli sekalipun.

Seorang anak gembala mengembalakan dombanya di dekat hutan, awalnya ia merasa murung karena harus sendirian menunggui domba-domba, jauh dari perkampungan. Dia merasa terhibur  dengan memikirkan berbagai macam rencana. Akan terlihat lucu, apabila dia berpura-pura melihat serigala dan berteriak memanggil orang-orang desa datang untuk membantunya.

Ia pun berlari ke arah desa dan berteriak sekeras-kerasnya, “Serigala, serigala! Tolong, ada serigala.” Terik anak gembala tersebut. Seperti yang diduga orang-orang desa meninggalkan pekerjaan mereka dan berlari kearah gembala tersebut untuk membantunya.

Tetapi yang mereka temukan adalah anak gembala yang tertawa terbahak-bahak karena berhasil menipu orang-orang desa itu. Beberapa hari kemudian, anak gembala itu kembali berteriak, “Serigala, serigala!” Kembali orang-orang desa datang menolongnya, tetapi mereka hanya menemukan anak gembala yang terbahak-bahak kembali.

Sampai suatu hari, gerombolan serigala benar-benar datang dan menyambar domba-domba. Dalam ketakutannya, ia berlari ke arah desa dan berteriak, “Serigala! Serigala!” Tetapi walaupun orang-orang desa mendengarnya berteriak, mereka tidak datang membantunya. “Dia tidak akan bisa menipu kita lagi,” kata orang-orang desa itu.

Binatang buas yang mengancam dunia adalah kepercayaan diri tanpa tanggungjawab.

Ketika para serigala itu akhirnya menerkam dan memakan domba-domba, lalu mereka kembali ke dalam hutan, sedang si anak gembala hanya dapat duduk dan menangis dengan penuh sesal. Ini adalah dongeng Jerman, tentang dampak buruk berbohong. Tampaknya, di Jerman dimana negera memiliki ingatan kolektif yang kuat, kisah seperti ini dapat dijadikan pelajaran.

Lain pula di negeri ini, masa orde baru. Ada sebuah cara melembagakan bohong, seorang tahanan mati disiksa, dan aparat akan mengumumkan, si tahanan tewas jatuh tergelincir sabun. Seorang lain yang terbunuh dalam sel disiksa interogator, dan maklumat resmi disiarkan akan mengatakan si mati karena sesal yang besar selama di penjara, telah loncat lewat jendela dari tingkat atas dan terjerembab di pelataran.

Orang yang membaca koran tahu bahwa pengumuman itu tak dapat dipercaya, juga para petugas itu sendiri. Tapi, mereka juga tahu tak seorang pun akan menentang kebohongan itu. Orang yang menentang tak punya tempat menyatakan pendapat. Para pembangkang berada dalam bui atau gelisah di negeri asing.

Vrouw van Teukoe Panglima Polim te Sigli

Vrouw van Teukoe Panglima Polim te Sigli (1903)

Ketika zaman sensor berlalu, kita menghadapi kecanggihan teknologi. Berita dengan mudah menyebar dan diterima masyarakat. Namun kemudahan akses ini kerap disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab untuk menyebarkan berita hoax atau palsu demi kepentingan pribadi atau tujuan tertentu. Sementara itu, mereka yang menyokong dan menikmati kebohongan itu terus makan, bersetubuh, bekerja, main bola, piknik, tanpa peduli benar.

Beberapa waktu lalu beredar foto yang menyatakan Cut Nyak Dien sebenarnya berjilbab, namun foto yang digunakan adalah foto istri Panglima Polim yang diambil oleh Belanda beliau menyerah kepada Belanda ditahun 1903.

Kenyataan yang sebenarnya, Belanda tidak memiliki foto Cut Nyak Dien ketika muda, satu-satunya foto yang sempat di dokumentasikan adalah ketika beliau tua, buta dan kalah. Saat beliau menangis dikhianati, diringkus oleh Belanda. Bisa jadi Cut Nyak Dien aslinya adalah mirip pakaiannya dengan istri Panglima Polem, namun menggunakan foto orang lain sebagai propaganda adalah penipuan sejarah. Apapun itu, segala jenis penipuan meski ditujukan dengan tujuan baik adalah SALAH.

Foto setelah penangkapan Cut Nyak Dien (1904)

Foto setelah penangkapan Cut Nyak Dien (1904)

Ironisnya, berbondong-bondonglah orang menjadi corong kebohongan, para penyebar kebohongan ini, sayangnya adalah mereka yang berpendidikan (Guru, dosen, sahabat dll). Tanpa pikir panjang, langsung berbagi. Ada banyak kasus lain, mereka membagikan dengan bangga. Oleh yang mengetahui, mereka ditertawakan, direndahkan. Namun mereka tak peduli, merasa ada di jalan kebenaran. Dapat kita simpulkan mereka yang membagikan file yang salah tersebut adalah, JAHAT (mengetahui kebenaran), atau TOLOL (ditipu).

Binatang buas yang mengancam dunia adalah kepercayaan diri tanpa tanggungjawab.

Kini dusta dan manipulasi dilakukan tanpa peduli itu. Faktor yang baru dalam komunikasi politik yang sarat dusta kini adalah kecepatan. Teknologi, dengan Internet, membuat informasi dan disinformasi bertabrakan dengan langsung, dalam jumlah yang nyaris tak terhitung, menjangkau pendengar dan pembaca di ruang dan waktu yang nyaris tak terbatas. Bagaimana untuk membantah? Bagaimana memverifikasi?

Pernah zaman ini mengharap Internet akan membawa pencerahan. Informasi makin sulit dimonopoli. Ketertutupan akan bocor. Dialog akan berlangsung seru. Yang salah diperhitungkan ialah bahwa media sosial yang hiruk-pikuk kini akhirnya hanya mempertemukan opini-opini yang saling mendukung. Yang salah diperkirakan ialah bahwa dalam banjir bandang informasi kini orang mudah bingung dan dengan cemas cenderung berpegang pada yang sudah siap: dogma, purbasangka yang menetap, dan takhayul modern, yaitu “teori” tentang adanya komplotan di balik semua kejadian.

Tak ada lagi Hakim dan Juri yang memutuskan dengan berwibawa mana yang benar dan yang tidak, mana yang fakta dan mana yang fantasi. Media, komunitas ilmu, peradilan: semua ikut kehilangan otoritas, semua layak diduga terlibat dalam orkestrasi dusta yang luas kini.

Berbeda dengan politik di zaman yang terdahulu. Dulu kebohongan juga disebar dan dikomunikasikan, namun dengan argumen yang mengacu pada kebenaran, meskipun kebenaran yang lemah dan hanya lamat-lamat. Dulu diam-diam masih ada pengharapan bahwa dusta yang diucapkan itu, melalui waktu dan adu pendapat, akhirnya akan bisa diterima siapa saja. Ketika para propagandis Nazi berpedoman bahwa “kebohongan yang terus-menerus diulang akan jadi kebenaran”, orang-orang Hitler itu sebenarnya masih mempedulikan kebenaran, meskipun dengan sikap kurang ajar dan sinis.

Dan agama? Yang tak disadari kini: agama telah mengalami sekularisasi, ketika Tuhan jadi alat antagonisme politik, bukan lagi yang Mahasuci yang tak dapat dijangkau nalar dan kepentingan sepihak. Maka yang dapat kita lakukan hanyalah, bersedih tak lebih.

Seorang manusia (baik) tak dapat menghalalkan tindakannya menyeleweng dengan alasan lawan-lawannya juga berlebih-lebihan. Merupakan tugasnya untuk memasang ukuran moral, untuk membangun jembatan kearah lawan-lawannya.

XXX

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  12. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  13. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  14. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  15. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  16. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  17. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  18. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  19. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  20. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  21. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  22. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  23. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  24. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  25. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  26. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  27. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  28. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  29. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  30. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  31. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  32. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  33. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  34. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  35. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  36. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  37. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  38. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  39. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  40. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 129 Comments

KAKI GAJAH

Para gajah yang tak berdaya menghadapi gencarnya corporasi/konglomerasi menggerus habitat mereka, menjadi ladang-ladang perkebunan sawit/karet dan lain-lain, atau pemburu ganas yang mengincar gading mereka, demi mengejar keuntungan ekonomi.

Para gajah yang tak berdaya menghadapi gencarnya corporasi/konglomerasi menggerus habitat mereka, menjadi ladang-ladang perkebunan sawit/karet dan lain-lain, atau pemburu ganas yang mengincar gading mereka, demi mengejar keuntungan ekonomi.

KAKI GAJAH

Menulis kenangan berupa memoir punya kelemahan, dimana ingatan telah dipengaruhi sejarah dan kronologi yang terjadi sesudahnya. Dimana perasaan, pengetahuan dan penalaran  anak berumur 6 tahun tentu berbeda ketika ia berumur 32 tahun, namun sekali-kali ada perlunya ketika akhirnya harus bercerita tentang masa silam yang tak lagi tertengok, sebagai nostalgia sekaligus pengingat mereka yang tiada lagi.

Kabong, liburan sekolah, 1991

“Nek!” Panggil Abu, sambil mengejar Nek Juz yang berjalan cepat. Ia menoleh, adalah adik terakhir nenek Abu masih remaja, dari ayah yang berbeda. Ia memiliki tenaga yang kuat, layaknya laki-laki, Nek Juz ahli memanjat batang kelapa, tenaga kuda kata mama Abu.

“Abu kamu lihat pohon itu?” Ia berhenti sambil menunjuk. “Sepuluh orang kampung pernah mencoba melingkarinya sambil memeluk, tapi tak sampai. Mungkin pohon itu sudah tumbuh sejak zaman Belanda.” Ia tertawa dalam perjalanan kami menuju sawah.

Kalau Abu mengingat betapa besar lingkar pohon tersebut, jangankan Belanda. Mungkin pohon tersebut sudah ada bahkan sebelum Kesultanan Aceh berdiri di abad ke-13 lalu.

Kabong, sekitar 9 kilometer dari Calang. Tahun itu merupakan lanskap yang tak akan berulang, foto-foto keadaan serupa mungkin hanya ditemukan disitus Belanda www.kitlv.nl/ tentang keadaan Aceh pada masa-masa colonial, Hindia nan moelek, ketika itu Republik Indonesia sudah merdeka 45 tahun, tapi baru setahun pesisir Barat Aceh dibebaskan oleh gubernur Aceh saat itu, Ibrahim Hasan dari rakit.

Amboy, telah berdiri jembatan disetiap sungai sepanjang jalan dari Banda Aceh ke Meulaboh, perjalanan yang sebelum tahun 1990 menghabiskan waktu seminggu, dipangkas menjadi hanya setengah hari. Terima kasih Pak Ibrahim Hasan!

Pesisir Barat mungkin tertinggal (ketika itu), tapi gembira. Di bayang-bayang pepohonan yang lindap, beberapa kilometer dari jalan hitam (aspal) ada kesejukan datang bersama terpaan angin berhembus. Pagi itu, berguguran di atas jalan kecil butiran embun berupa titik-titik hitam. Sementara itu, dahan-dahan pohon seakan gemetar oleh suara gaung suara yang mengigilkan jantung Abu, dengus suara yang terdengar begitu menakutkan itu keluar dari sekawanan kerbau hitam, berpasasan dengan kami. Abu, 6 tahun anak kota Banda Aceh yang sedang berlibur di kampung itu, ketakutan bersembunyi di belakang Nek Juz.

“Nek, mengapa kerbau sangat besar?” Abu belum pernah melihat makhluk sebesar itu. Sekumpulan monster ganas dengan tanduk-tanduk setajam tombak.

“Entahlah Abu, mungkin mereka sepupu Dinosaurus. Kamu bahkan belum bertemu gajah Abu, mereka lebih besar, kuat dan perkasa!” Nek Juz tertawa, ditatapnya Abu dengan mata sinar gembira.

“Benarkah nek?” Bayangan Abu tentang gajah, adalah Bona si belalai panjang, sahabat Rong-Rong yang rutin Abu baca di majalah Bobo.

“Kalau ada manusia yang jahat, niscaya gajah akan menginjaknya, kaki mereka sangat besar.” Nek Juz tertawa lepas. Tahun 1991 merupakan penghujung abad ke-20, Nek Juz lebih dekat ke masa lalu, masa-masa abad ke-19. Masa-masa kuno dan penuh aura mistis, yang mungkin sulit ditemukan lagi di abad ke-21 ini, sekarang bentuknya seperti patung es yang telah mencair. Tak terbayang (lagi), namun berbekas.

Kami berjalan terus, dibalik hutan gelap itu bertebaran hamparan kuning padi menyelimuti bumi, menyerupai sebuah tumpukan selimut yang tampak bergelombang dan menari-nari bersama angin. Di jambo (pondok kecil) telah menanti Nek Nyang, ibu dari Nek Juz dan nenek Abu, nenek kuadrad (pangkat 2). Ia melambai, seraya tangan masih memegang tali yang menghubungkan dengan orang-orangan sawah, jika di tarik kaleng-kaleng bekas susu kental manis yang digantungkan pada orang-orangan sawah akan berbunyi mengusir burung-burung pipit yang mencoba memakan padi.

Di belakang persawahan jauh memandang terlihat gunung-gunung hijau tinggi perkasa. Serombongan orang berbaju gamis putih berjalan cepat di pematang sawah. Menuju arah pegunungan, dunia macam apa yang ada disana. Fantasi Abu tak menjawab.

“Untuk apa mereka kesana nek nyang?”

“Menuntut ilmu pada nenek.” Kata Nek Nyang, dan Abu bingung.

“Abu, yang dimaksud Nek Nyang, nenek itu harimau.” Sambung Nek Juz.

Abu terdiam, sebelum pulang kampung, guru mengaji Abu pertama, ayah yang tidak ikut sudah mengingatkan. “Abu nanti di kampung mama, mereka mempercayai mistik, dalam hal ini kamu harus menampik.”

Ayah kelahiran Anuek Galong (Aceh Besar), anak dari seorang ulama PUSA. Keluarga ayah lebih ketat dalam hal-hal yang dianggap musyrik. Sebaliknya mama kelahiran Krueng Sabee (Aceh Barat, sekarang Aceh Jaya), merupakan keluarga muslim yang lebih dekat dengan tradisi-tradisi lama. Ketika dua orang berbeda pendapat bertemu dan disatukan oleh Allah S.W.T, Abu berpikir inilah misteri kekuatan cinta yang sumbernya dari IA yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Tapi  (hampir) semua orang- orang miskin yang bekerja membanting tulang cenderung  sangat percaya pada tahayul. Dalam hal ideologi Abu lebih (berusaha) dekat ke ayah, namun Abu kecil ketika menatap pegunungan itu sering berkhayal, dunia macam apa yang ada di balik pegunungan.

Mungkinkah ada pertapa sakti, manusia setengah harimau seperti yang diceritakan. Di balik kungkungan awan, berlapis-lapis gunung terjal, di sambung lagi dengan gunung terjal lainnya. Di bawahnya, seorang maha guru sakti seperti Arya Kamandanu, tinggal di dunia damai, bersama lembah hijau bersama rumah kayunya. Sebagai manusia mix culture, Abu tak berkuasa penuh menampik.

Ingat, Abu masih 6 tahun. Hal yang rumit ini hanya sesaat menjadi perhatian. Abu kemudian berlari-lari di pematang sawah, mengejar lebah, kupu-kupu,(terutama) belalang serta apapun yang ada disitu, ketika Nek Nyang meminta Abu mengusir burung-burung pipit di sawah. Abu berteriak keras, “burung pergi, jangan makan padi kami, padi tetangga kami, kami perlu padi!” Burung-burung tak peduli, tetap makan mendengar teriakan.

“Boleh juga makan burung, tapi jangan banyak-banyak ya.” Abu menyerah sekaligus tertawa, Nek Nyang dan Nek Juz tertawa, tetangga-tetangga di jambo (pondok) lain juga tertawa. Kami bergembira. Hari ini, dua puluh lima tahun kemudian, mengingat hari itu, mata Abu berkaca-kaca.

Ironi, humor, celah-celah yang menyela ditengah kedapnya keyakinan dan angkuhnya agenda besar.

Hari sudah siang, Abu dipanggil makan. Abu balik sebentar minta disuap lalu berlari, kemudian balik mengambil sesuap untuk lari lagi. Ibarat mesin, jangan ragukan baterai yang dimiliki anak-anak, mereka sanggup berlari sepanjang hari. Tiba-tiba dari jambo (pondok) lain dalam sirkuit pematang sawah, Abu dipanggil. Ternyata disana Nek Nyang dan seorang temannya, nenek-nenek juga.

“Abu makan jangan sambil berdiri, apalagi berlari,”

“Kenapa?”

Nek Nyang menatap temannya. “Kalau Abu makan sambil berdiri nanti kaki Abu akan besar, seperti kaki gajah, seperti nenek ini.”

Teman Nek Nyang menyingkap sarung dan mengeluarkan sebelah kakinya, sebesar paha. Abu masih tidak percaya dan bertanya, “betul nek?”

Nenek itu mengangguk. Abu diam, ia menatap Abu. Mata beliau tak akan pernah Abu melupakan. Pandangan yang penuh harga diri namun terluka, pandangan dari mereka yang dikalahkan di dunia, seperti tatapan gajah sebelum dieksekusi pemburu, berkali-kali. Abu selalu terenyuh pada mereka-mereka yang kalah dan disingkirkan, langsung duduk dan memegang kaki nenek itu,

Ia terkejut, atas ketidakjijikan Abu. “Ini namanya penyakit kaki gajah, ini karena nenek waktu muda suka makan sambil berdiri.” Abu sebenarnya tidak percaya karena merasa yakin pernah membaca tentang penyakit ini, ini karena kurang makan garam, namanya gondok.

Kelak di kemudian hari Abu baru tahu bahwa penyakit itu memang bernama kaki gajah. Dengan penyebab berbeda dari yang Nek Nyang ceritakan, tentu itu agar Abu tak makan sambil berlari. Tentang gondok, saat itu Abu berumur 6 tahun, sudah bisa membaca saja sudah hebat. Tentunya harus di maklumi jika (saat itu) Abu salah mengingat apa yang dibaca saudara-saudara se-Nusantara.

“Berarti nenek hebat, kalau ada yang ganggu nenek injak saja dengan jurus kaki gajah!” Kehidupan tanpa humor sangat melelahkan. Sebagaimana keceriaan itu palsu tanpa lelucon, tapi humor terbagus di keadaan mana pun akan datang dari bawah. Lelucon paling tidak lucu adalah menertawakan mereka yang tak punya, cacat dan lemah

Ia tersenyum dan membelai kepala Abu, seraya membaca mantra, doa Arab dan kata-kata berbahasa Aceh bercampurbaur dengan kata-kata kuno yang tidak Abu pahami.

Abu ingat ayah, “tampik!” Bukannya tidak menghormati ayah yang mengajarkan agama. Tapi tak tega, akhirnya Abu membiarkan saja. Perjalanan hidup kemudian membuat Abu mempelajari tauhid, science, sastra, sejarah dan apapun (meskipun sedikit-sedikit). Tampaknya, dari hari itu Abu belajar bahwa yang paling penting bukan keunggulan diri, manusia memperumit dirinya jika ia merasa memonopoli kebenaran, apa yang Abu teorikan belum tentu menjadi jawaban terakhir, apa yang menjadi tahayul tidak serta-merta Abu salahkan sebagai keterbelakangan. Abu menolak merasa menjadi orang yang paling benar, sebagai produk kebudayaan mungkin Abu lemah, mudah dipengaruhi oleh apapun. Satu-satunya keberanian Abu hanyalah rasa ingin tahu.

Di zaman modern mungkin ini naif, gagap menghadapi perubahan zaman, seperti para gajah yang tak berdaya menghadapi gencarnya corporasi/konglomerasi menggerus habitat mereka, menjadi ladang-ladang perkebunan sawit/karet dan lain-lain, atau pemburu ganas yang mengincar gading mereka, demi mengejar keuntungan ekonomi. Tapi apakah hidup harus selalu tentang kemenangan ekonomi?

Biarlah para dewasa mengejar apa yang ingin mereka kejar. Abu lebih ingin mencintai keasyikan ilmu pengetahuan, ilmu yang dimulai dengan sifat seorang anak yang takjub, menyatakan betapa ia, bak seorang anak, terkesima melihat belalang. Belalang adalah “keajaiban di tiap petak sawah.” Siapa yang tak mengenalnya maka “telah” melewatkan sumber kesenangan dan keasyikan yang tak pernah pudar.

Pepatah lama : Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama : Seorang manusia terutama diingat jasa-jasanya atau kesalahan-kesalahannya. Perbuatan ini, baik maupun buruk akan tetap dikenal meskipun seseorang sudah tiada lagi.

(Bersambung)

Posted in Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

MEMOAR HATTA TENTANG PIAGAM JAKARTA

Mohammad Hatta Memoir; Penerbit Tinta Mas Jakarta; Cetakan-1; 1979

Mohammad Hatta Memoir; Penerbit Tinta Mas Jakarta; Cetakan-1; 1979

KESAKSIAN HATTA TENTANG BERUBAHNYA PIAGAM JAKARTA MENJADI PANCASILA

17 Agustus 1945. Hari sudah sore, Muhammad Hatta mendapat telepon dari Nishijama, pembantu Admiral Maeda, yang menanyakan apakah ia (Hatta) mau bertemu seorang opsir. Hatta mempersilakan, opsir tersebut memberitahu bahwa wakil Protestan dan Katolik, berkeberatan terhadap bagian kalimat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar, yang berbunyi: “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Mereka mengakui bahwa kalimat itu tidak mengikat mereka, hanya yang beragama Islam, tetapi tercantum kalimat tersebut dalam dasar yang menjadi pokok UUD berarti mengadakan diskriminasi terhadap golongan minoritas, dan jika itu ditetapkan, mereka lebih suka berdiri di luar Republik Indonesia.

Hatta menjelaskan, bahwa itu bukan diskriminasi. Sewaktu menetapkan Pembukaan UUD itu, Mr. Maramis (wakil Kristen) ikut dalam panitia Sembilan, tidak mempunyai keberatan apa-apa dan pada tanggal 22 Juni 1945 ikut menandatangani. Waktu itu Mr. A.A Maramis cuma memikirkan, bahwa kalimat itu hanya untuk rakyat Islam dan tidak mengikat agama lain. Karena opsir tersebut berkeras. Hatta terbayang, apakah Indonesia merdeka yang baru saja dibentuk akan pecah kembali? Maka ia berjanji, besok hari dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan akan mengemukakan masalah yang penting tersebut.

Hatta, mengangap ini merupakan masalah serius. Esok paginya tanggal 18 Agustus 1945, sebelum sidang bermula. Ia mengajak wakil-wakil Islam dalam PPKI. Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo dan Mr. Teuku Muhammad Hasan mengadakan suatu rapat pendahuluan untuk membicarakan masalah itu. Supaya bangsa Indonesia tidak pecah. Dalam Memoir Mohammad Hatta yang diterbitkan PT. Tintamas Indonesia tahun 1979 (Halaman 458-461) Hatta tidak merinci detil percakapan mereka, namun mereka sepakat menghilangkan bagian kalimat yang menusuk hati kaum Kristen itu dan mengantinya dengan “Ke Tuhanan Yang Maha Esa”. Perubahan yang disetujui kelima orang tadi, yang disebut Hatta sebagai “Toleransi pemimpin-pemimpin Islam” disetujui secara bulat oleh sidang lengkap PPKI. Sesudah itu dilanjutkan dengan pembahasan UUD seluruhnya dengan mengadakan sedikit perubahan di sana-sini yang tidak prinsipil. Yang prinsipil hanyalah perubahan dalam Pembukaan yang tersebut tadi, yang diterima dengan suara bulat.

Dan sejarah Republik Indonesia pun berlanjut.

Sumber Mohammad Hatta Memoir; Penerbit Tinta Mas Jakarta; Cetakan-1; 1979

Toleransi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah n (noun) pada point 1 sifat atau sikap toleran : dua kelompok yang berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dengan penuh -2 batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan ; -3 Penyimpangan yang masih diperbolehkan.

SEJARAH INDONESIA

  1. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  2. Generasi Yang Hilang; 17 April 2011;
  3. Mengenang Bung Hatta Seorang Pemimpin Teladan; 16 Agustus 2013;
  4. Fatwa MUI Tentang Perayaan Natal Bersama Tahun 1981; 18 Desember 2014;
  5. Nasihat Sam Ratulangie Kepada Pemerintah Kolonial Belanda Terkait Serikat Islam; 16 November 2016;
  6. Riwayat Sarung; 9 Januari 2017;
  7. Nasihat-Nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda (1889-1936); 14 Agustus 2017;
  8. Sejarah Jong Islamieten Bond; 24 Oktober 2017;
  9. Pemberontakan Kaum Republik Kasus Darul Islam Aceh; 17 November 2017;
  10. Kebijakan Politik Islam Oleh Snouck Hurgronje Sebagai Saran Kepada Pemerintah Hindia Belanda Untuk Menghancurkan Kekuatan Islam Di Indonesia; 25 Juni 2018;
  11. Edisi Khusus Seri Pahlawan Nasional Prangko 100 Tahun Cut Nyak Dhien; 8 Agustus 2018;
  12. Watak Berperang Bangsa Indonesia Berbagai-Bagai Daerah Suatu Perbandingan; 10 September 2018;
  13. Teuku Nyak Arief Seorang yang Tulen Berani dan Lurus sebagai Rencong Aceh di Volksraad; 17 Oktober 2018;
  14. Catatan Sejarah Rantai Babi atau Rante Bui dalam Tulisan yang Disusun Kolonial Belanda; 26 Oktober 2018;
  15. Penemuan Arca Kepala Alalokiteswara Sebagai Jejak Keberadaaan Peradaban Agama Budha di Aceh; 18 November 2018;
Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

PUISI

di puncak-puncak berhembus suasana damai

di puncak-puncak berhembus suasana damai

PUISI

di bawah langit yang luas dan penuh bintang

akankah makam membiarkan aku berbaring

sebagaimana hidup sebagaimana kematian

akankan aku berbaring dengan kenang-kenangan

 

aku kadang-kadang membayangkan tidak akan merah

sebagaimana para syuhada yang dimakamkan berdarah-darah

hanya bunga air, yang ada di semua taman

ditaburkan pelan, indah lalu layu

 

yang gagal, kemudian menemukan kenangan manis

yang pernah tersandung, berjalan berhati-hati

yang tahu dimana harus menangis tanpa diketahui

yang mencoba tidak salah melangkah

 

meski jasad tertidur, jiwa terjaga

ikhtiar belajar dari pola-pola kesalahan lampau

kebenaran tak pernah menjadi anugerah tanpa

kesedihan dan kesalahan jiwa

 

sungguh aneh aku melihat aku

menjadikan malam ini menjadi sendu

lebih ganjil lagi aku merasa hidup ini

memiliki hutang untuk dibayarkan

 

layaknya samudera di pasir pantai

mengisi air dengan telapak tangan, seribu kali

dan kemudian air semua tumpah

pasir pantai kering, lautan terisi

 

ada banyak hal indah di langit

dan bumi van

melebihi mimpi-mimpimu, dan

atau filsafatmu

 

di puncak-puncak berhembus suasana damai

 

Bait Al-Hikmah,

8 Safar 1438 Hijriah bertepatan 8 November 2016

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

BENGKEL SASTRA

Bahwa kita bisa melihat segala sesuatunya dengan lebih baik setelah lewat waktunya. Semakin lama waktu yang lewat, semakin jelas segalanya terlihat. Kita dapat melihat setiap kejadian pada tempatnya.

BENGKEL SASTRA

Syair adalah seni berpikir, bukan kekuatan atau bahasa, kita sudah tahu bahwa kosa kata yang terbatas bukan halangan untuk menggunakan syair. Setiap kata, setiap kalimat lebih dahulu lahir dibandingkan syair. Seperti segala hal lain yang bisa dikuasai, syair mengandalkan intelektual yang berdisiplin.

Tahun 2000-an. Suatu siang di SMU Negeri 3 (Sekarang SMA Negeri 3) Banda Aceh. Pak Yahya, seorang guru Bahasa Indonesia kebingungan. Sekolah itu mendapat undangan mengikuti pelatihan “Bengkel Sastra” yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Taman Budaya Banda Aceh. SMU Negeri 3 Banda Aceh harus mengirimkan siswa sebagai wakil hajatan tersebut, masalahnya di antara 1500-an siswa  sekolah tersebut, dimanakah mencari bibit pujangga? Sungguh terlalu jika salah satu sekolah favorit di Banda Aceh mengirimkan wakil yang biasa-biasa saja, pada masa itu SMU Modal Bangsa dan SMU Negeri 1 merupakan kompetitor yang ganas. Tentunya Pak Yahya tak ingin seri, apalagi kalah!

Pak Yahya bertanya kiri dan kanan, sementara hasilnya ex nihilo. Indak ado, kata orang Minang. Hana pat mita, kata orang Aceh. Di tengah kebingungan Pak Yahya berjalan ke perpustakaan sekolah. Ia bertemu dengan ibu guru perpustakaan dan berkeluh kesah, dan sang librarian punya saran brilyan. “Kita kirimkan siswa yang paling banyak meminjam buku di perpustakaan saja?”

Pak Yahya tersenyum girang, siapapun yang punya hasrat membaca besar pasti memahami sastra. Tak sulit menemukan siapa yang paling banyak meminjam buku di perpustakaan SMU Negeri 3 Banda Aceh saat itu, Ada satu siswa yang memiliki rataan peminjaman buku, 50 sebulan. Terlalu menonjol untuk disembunyikan, dan tebak orang itu siapa? Iya orang tersebut adalah Abu sendiri.

Waktu itu Abu memang sedang garang-garangnya membaca, sejarah, budaya, novel Abu sikat. Saat itu Abu sedang tertarik mempelajari tafsir, terutama tafsir Al-Azhar maha karya ulama besar HAMKA yang berjilid-jilid itu. Jika kelak Abu sedikit fasih berbicara agama, maka selain kitab-kitab Fiqih milik kakek di Aneuk Galong, Tafsir Al-Azhar merupakan referensi Abu. Kekaguman Abu terhadap HAMKA kelak menginspirasi mencari dan membeli, namun akibat keterbatasan ruang dan waktu, baru sedikit yang bisa Abu kumpulkan.

Jika kalian menganggap Abu sebagai yang tekun, memang iya. Sedari Madrasah Ibtidaiyah, SMP Abu memang hantu pustaka, jam istirahat nge-PAM disana. Tapi masa-masa itu (SMA) adalah masa-masa kegemilangan Abu membaca. Semua itu ada asbabul nuzul, asal mula kejadian. Jadi begini (sedikit malu menceritakannya), waktu itu Abu “menembak” seorang adik kelas, dan ditolak (itu sih biasa, namanya juga lelaki), tapi celakanya dia melakukan di depan orang banyak, kalau tidak salah sehabis upacara, mungkin sekitar 500-an orang yang melihat (akh, lebay). Bisa dibayangkan betapa malunya Abu, seorang tampan dan terpelajar seperti Abu ini “dinistakan” reputasinya di depan orang banyak, bahkan ada yang menciptakan lagu tentang kejadian itu (Anda bisa bayangkan betapa kreatifnya pemuda zaman itu, terutama untuk mengejek). Dengan penuh malu, dan tak tahu sembunyikan wajah dimana. Abu mengasingkan diri (semoga istri tercinta tidak membaca tulisan ini, dan jika ia membaca, ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang lembutkanlah hati istri hamba, yang paling cantik jelita di dunia itu, kepada suaminya yang penuh khilaf ini). Tabiat manusia, apabila dia terdesak, maka akan kembali kepada jatidirinya. Syukur, Allah SWT menggariskan Abu sebagai pembaca dan kutu buku saja. Ok skip that story.

Siang itu terik, Pak Yahya datang ke kelas. “Adakah siswa yang bernama Abu?” Abu mengacungkan jari gentar, beliau selain guru Bahasa Indonesia juga Wakil Kepala Sekolah, terkenal kejam pada murid yang berandal. Abu takut, soalnya bersama Hatta setiap pulang sekolah di halte DAMRI kami kerap berbagi rokok Starmild (milik Hatta, sumpah!!!) Mati aku! Sepertinya ketahuan, padahal Abu kalau merokok sepulang sekolah kerap merondok di belakang halte supaya tidak ketahuan.

Abu ke pintu kelas menghadap beliau, “besok kamu tidak usah masuk sekolah.” Katanya.

Apa kata Ayah-Mama, anaknya memalukan, pikir Abu ketakutan dan keringat dingin. “Kamu besok jam 9 langsung ke Taman Budaya mewakili SMU Negeri 3 ikut Bengkel Sastra.” Sambung Pak Yahya.

Hati Abu sejuk sekali, tenyata bukan kejadian kemarin di halte. Tapi binatang apa itu Bengkel Sastra? Dan mengapa Abu yang hina dina ini yang mewakili SMU Negeri 3 Banda Aceh? (Kelak di hari terakhir Bengkel Sastra, Pak Yahya menjelaskan mengapa Abu terpilih).

Besok harinya Abu ke Taman Budaya, dengan meminjam kemeja terbaik punya almarhum ayah (waktu itu Abu belum punya kemeja yang bagus). I love you ayah. Di Bengkel Sastra kami disambut oleh Maskirbi (Abu masih ingat topi seniman ala Tino Sidin-nya), hari pertama kami membahas puisi, cukup banyak yang dibahas, termasuk puisi Maskirbi, tapi Abu paling ingat puisi Fikar W. Eda yang berjudul, Rencong.

Siapa saja yang datang / kami sambut dengan tarian / dan syair perjamuan / peranda kemuliaan / siapa saja yang datang / kami kalungi bunga / salam sepuluh jari / menjadi sebelas dengan kepala / siapa saja yang datang / kami hadiahi gelar / sebagai saudara / dan penghormatan / berbilah-bilah rencong / dengan sarung dan tangkai mengkilap / tak lupa kami selipkan / pertanda martabat / dan keagungan / betapa pedih hati kami / dari Jakarta / kalian hujamkan mata rencong itu / tepat di jantung kami / Fikar W. Eda Jakarta 1998.

Waktu itu Aceh sedang masa konflik, ada rasa tidak puas kepada pemerintah Jakarta. Abu juga tidak puas, dua minggu sebelumnya Abu naik motor  Astrea Grand 1993, keluar halaman sekolah bersama sahabat setia Rahmat Saleh, belum memakai helm. Ada brimob berjaga di depan pintu pagar sekolah, Abu dipanggil, lalu kepala Abu dipukul. Sakitnya tak seberapa, tapi harga diri Abu terkoyak-koyak. Memang sih salah Abu, tapi tidak segitunya kali. Abu kan hanya pelajar, kok main pukul. Rasanya mau menangis, kalau saja tidak ramai kawan sekolah melihat. Abu benci sekali, waktu itu. Jadi puisi itu masuk sekali ke dalam jiwa Abu.

Maskirbi adalah seniman sederhana, ia kelahiran Tapanuli Utara dengan nama asli Mazhar. Lelaki bertopi ala Tino Sidin ini selain menulis puisi juga drama, Abu terkagum-kagum dengan beliau, idealismenya, kecintaannya kepada kebenaran membuat Abu tertarik. Tahun 2010 Abu mengetahui bahwa beliau meninggal akibat tragedi tsunami tahun 2004, waktu itu Abu sudah lulus STAN dan bertugas di KPP Pratama Lhokseumawe. Abu menangis, beliau orang baik. Semoga Allah SWT menerima segala ibadah beliau, dan mengampuni segala dosa-dosa beliau.

Pada hari pertama Maskirbi menjadi pemateri tunggal, tapi ada yang aneh. Sekolah lain mengirimkan dua wakil, SMU Negeri 3 cuma satu. Pak Yahya kesusahan, memanggil Abu dan berbisik, “besok kamu ajak teman satu lagi.”

Abu mengangguk, lagian sendirian itu tidak enak seperti The Lone Rangers. Maka sorenya, Abu menelpon (era telepon rumahan, belum era Handphone) Aulia. Besok ke Taman Budaya ya.

Hari kedua, membahas cerpen. Pematerinya masih muda bang Azahari, kelahiran 1981 waktu itu 19 tahun. Abu rasa dia murid Maskirbi, karena dari yang Abu lihat dia sangat menghormati Maskirbi yang mendampingi, ia melihat Maskirbi dengan tatapan seorang murid yang kagum dengan gurunya.

Beruntung Abu mengajak Aulia adalah dia seorang yang supel, mudah bergaul. Jika kalian mengenal Abu sekarang, mungkin tak percaya bahwa Abu sulit bergaul dengan orang-orang baru. Tapi dulu, Abu begitu orangnya. Hari pertama Abu habiskan dengan mencatat dan mendengar, di hari kedua si Aulia dengan cepat berkenalan dengan kontigen sekolah lain seperti SMU Modal Bangsa, SMU Negeri 1 Banda Aceh, SMU Negeri 5 Banda Aceh. Karena kedekatan kultural, kami (Aulia sebenarnya sih) lebih dekat ke siswa SMU Negeri 1 yang kalau tidak salah diwakili oleh Indah Ria dan Cut Dira Miralda.

Kami minta oleh bang Azahari membuat cerpen dengan tema Merdeka. Temanya tentang sorang anak yang diminta mendeklamasikan puisi kemerdekaan Republik Indonesia, pada upacara 17 Agustus. Ia meminta diajarkan oleh ayahnya yang kebetulan seorang guru Bahasa Indonesia, pada malam hari. Malangnya, ketika dia dan ayahnya belajar mendeklamasikan puisi merdeka tersebut, ada cuak (mata-mata) yang melaporkan bapak si anak ke pos TNI terdekat, dan menuduh sang ayah terlibat GAM (Gerakan Aceh Merdeka), esok harinya sang ayah dijemput TNI dan tak pernah kembali. Di masa-masa konflik banyak terjadi korban salah tangkap akibat cuak tersebut, mereka atas dasar kepentingan pribadi, misalnya harta menfitnah sesorang terlibat GAM, padahal tidak.

Orang yang banyak membaca hanya punya satu keunggulan dari mereka yang tidak membaca, mengetahui informasi terlebih dahulu. Selebihnya tidak ada keunggulan apa-apa. Abu mengumpulkan cerpen dengan penuh percaya diri, pasti nilainya bagus. Lha, banyak membaca. Ternyata tidak, ketika hasil dibagikan Abu masuk papan bawah. Aulia mendapat nilai lebih bagus, bahkan Indah dan Cut Dira yang “sedikit” Abu sepelekan malah mendapat nilai lebih banyak. Cerpen tersebut, yang Abu tulis di kertas folio masih Abu simpan sampai sekarang, penuh coretan bang Azahari. Kata dia, kesalahan paling mendasar Abu di cerpen tersebut adalah tidak memuat motif penangkapan ayah anak tersebut.

Abu belajar dari situ, jangan pernah menyepelekan orang lain. Tokh, belum tentu pengetahuan yang kita baca membuat lebih unggul daripada orang lain. Jangan lupa Nabi Muhammad SAW manusia terjenius yang pernah dilahirkan di muka bumi adalah seorang ummi (tidak bisa baca tulis).

Mei tahun 2014, Abu pernah berjumpa bang Azahari. Ia aktif di komunitas Tikar Pandan, yang baru pindah dari Ulee Kareng ke lorong Tgk Menara VIII Dusun Melati Geuceu Garot, sebelah lorong Abu yaitu lorong Tgk Menara VII. Menjelang menikah Abu rajin jogging keliling komplek, Komunitas Tikar Pandan memiliki toko buku Dokarim (sekarang sudah tutup). Abu mampir, melihat dan membeli beberapa buku. Kebetulan bang Azahari ada disitu, dia tidak mengingat Abu lagi. Wajar sih waktu SMA Abu kerempeng, setelah kerja sedikit “montok”. Tapi Abu ingat dia, walaupun waktu itu ia (mungkin sudah sekitar) 33 tahun, seorang guru boleh lupa murid, tapi murid wajib mengingat guru, bukan begitu?

Hari ketiga tentang musikalisasi puisi, Abu kurang paham musik (sampai sekarang) jadi hanya sebagai pemukul rebana. Hari keempat drama, waktu disuruh membuat drama tentang penindasan (Abu pikir ini karena Maskirbi bergaul erat dengan W.S Rendra, ia terpengaruh oleh tema-tema yang dibawakan pujangga yang dijuluki sang merak tersebut), Abu diminta kawan-kawan jadi penulis naskah drama, harusnya tragis tapi jadinya malah komedi. Lebih-lebih Abu yang berperan sebagai penguasa bengis yang mencangkuli masyarakat (diperankan Aulia) tidak bisa memasang wajah garang, malah batuk-batuk menahan tawa. Aulia sebagai korban pun jadi cekikikan, akhirnya drama kami kacau balau. Semua pemeran ketawa-ketiwi, penonton dan juri juga. Apalagi Pak Yahya sampai memegang-megang perut. Selesai pentas beliau berbisik, “gata lucu that” (kamu lucu sekali).

Akhirnya Bengkel Sastra selesai, kami mendapat sertifikat dan sebuah amplop. Abu mendapat Rp. 50.000,- yang langsung Abu beli buku pelajaran. Pak Yahya sangat bangga dengan Abu dan Aulia, di mata beliau kami sangat memuaskan, dan Bengkel Sastra tersebut ternyata tidak merangking pesertanya, Alhamdulillah.

Abu tidak tahu apakah sekarang kegiatan seperti bengkel sastra itu masih ada atau tidak. Tapi menurut pemikiran Abu kegiatan itu sangat baik. Untuk memicu kecintaan anak-anak sekolah terhadap sastra, kelak selepas dari situ Abu beberapa kali mengirimkan puisi ke harian Serambi Indonesia (Koran beroplah terbesar di Aceh), dua kali dimuat. Jangankan Abu, guru-guru, teman-teman sekelas, ayah-mama, tetangga, sampai saudara di kampung bangga semua. Dan memang akhirnya hanya itu karir Abu sebagai penyair, dimuat dua kali 2000 dan 2001.

Memang Abu kerap menulis diblog, namun Abu cukup tahu diri mengaku amatir. Mungkin diantara kami, Abu (Pajak), Aulia (Kejaksaan), Indah (Kalau tidak salah dokter), Cut Dira (Abu tidak tahu) dan teman-teman lain yang mengikuti belum ada yang mengikuti jejak (alm) Maskirbi atau bang Azahari sebagai sastrawan. Namun paling tidak, terutama Abu sendiri selalu menyediakan waktu untuk membaca karya-karya sastra. Bukankah karya sastra itu disamping pencipta juga harus memiliki penikmat. Maka, disitulah Abu mengambil posisi.

Sebagai pembaca budiman, Abu punya satu kisah membanggakan. Menjelang lulus SMA, pertengahan 2002 Abu dipanggil menghadap ibu pustaka. Ia minta Abu diwawancarai oleh guru-guru PPL di depan perpustakaan SMA Negeri 3, direkam dengan handycam (Tahun 2002 handycam itu langka saudara-saudara). Intinya, mengapa Abu bisa sangat gemar membaca, dan pesan-pesan kepada adik-adik kelas agar mereka memiliki minat baca. Sayang perpustakaan SMA Negeri 3 Banda Aceh sebagaimana banyak perpustakaan di Aceh hancur akibat tsunami. Jika saja rekaman itu selamat, betapa Abu sangat ingin mendengar jawaban-jawaban culun Abu waktu itu. Ketika berbalik ke kelas, sayup-sayup Abu mendengar kata-kata ibu pustaka (yang sayang Abu lupa namanya) berkata kepada guru-guru PPL, “sampai dua puluh tahun ke depan, saya ragu akan menemukan murid seperti dia lagi.”

Jika Abu berhadapan dengan siapapun tidak pernah merasa inferior, bahkan (mungkin) kepercayaan diri berlebihan (istri sering mengatakan, abang lebay) itu karena Abu mengingat kata-kata ibu pustaka tersebut.

Pak Yahya sendiri sudah meninggal dunia, Abu mendapat kabar beliau menjadi kepala Sekolah SMA Negeri 8 Banda Aceh dan kemudian meninggal dunia. Waktu itu Abu juga sedang bertugas di KPP Pratama Lhokseumawe dan tidak bisa menghadiri takziah. Abu hanya dapat mengirimkan doa kepada beliau. Semoga Allah SWT menerima segala ibadah beliau, dan mengampuni segala dosa-dosa beliau.

Pada kesempatan ini Abu ingin mengucapkan terima kasih kepada (alm) Pak Yahya, (alm) Maskirbi dan Bang Azahari yang telah memberikan momen-momen tak terlupakan pada Bengkel Sastra, apa yang pernah Abu ikuti bersama orang-orang terhormat tersebut begitu membekas, sebuah kejadian yang hanya berlangsung sekejap namun memberi pengaruh selamanya. Terima Kasih.

Banyak-banyaklah membaca buku, karena buku adalah jendela dunia. Dan ikatlah ilmu dengan menulis.

Posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

SURAT TENGKU CHIK DI TIRO

Cover buku dwi bahasa PERANG KOLONIAL BELANDA DI ACEH / THE DUTCH COLONIAL WAR IN ACEH cetakan ke-2 1990 oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh

Cover buku dwi bahasa PERANG KOLONIAL BELANDA DI ACEH / THE DUTCH COLONIAL WAR IN ACEH cetakan ke-2 1990 oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh

SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885

Tahun 1885. Tengku Syech Saman (Tengku Chik Di Tiro) mengirimkan surat kepada Residen Van Langen di Kutaraja (Banda Aceh sekarang) , isinya tak lain adalah ultimatum. Ia menawarkan perdamaian, asal orang-orang Belanda menganut agama Islam, terlebih dahulu pemerintah. Berikut terjemahan transkipsi asli yang tersimpan pada perpustakaan Universitas Kerajaan Belanda di Leiden, Cod Or. 7321; duplikatnya tersimpan pada Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh di Banda Aceh.

Bahwa inilah alamat kami Teungku di Tiro barangkali disampaikan ke hadapan/majelis Seri Paduka Residen tinggal sekarang di Kutaraja di tanah Aceh besar adanya.

Syahdan adalah dahulu masa kami dalam dua puluh enam pada tahun yang dahulu antara Tuan. Surat bersurat atas jalan bersaleh-saleh serta kami telah jawab surat dengan terang syarat Tuan Besar itu masuk Islam mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketika itu boleh kami bersaleh-saleh maka dalam itu. Tiadalah datang dari Tuan jawaban surat kami hingga sekarang juga boleh Tuan-Tuan masuk agama Islam dan menurut syariat Nabi itulah yang lebih baik atas Tuan-Tuan sejahtera dunia dengan tiada terbunuh di mana-mana dan tiada aib keji lari pontang-panting tiap-tiap sawah dan serokan hutan dan jalan dan barangkali dengan kuasa Tuhan seru sekalian alam keluar kompeni dalam negeri Aceh serta ambil b.k alif.s.n dan harta itulah yang sehabis keji dengan orang muslimin Aceh yang dhaif lagi miskin dan terlebih jahat lagi itu siksa api di dalam neraka jahanam dengan hukum Tuhan yang amat kuasa.

Maka jika Tuan-Tuan mau masuk ke dalam Islam sama-sama orang Aceh, maka kami harap pada Tuhan seru sekalian alam terpelihara daripada nyawa dan darah dan harta dan mencegah dan terpelihara daripada aib keji tangkap dibawa kemana-mana atau terbunuh dengan kehinaan barangkali jika Tuan-Tuan dengar dan nurut seperti nasehat kami ia dapat untung yang baik dapat kemegahan.

Jadi Tuan-Tuan akan kepada kami dan dapat harta seperti  yang telah lari-lari kepada kami telah dapat banyak harta dan duduk berjalanpun enak-enak tiada dihukum seseorang atasnya dan tidur makanpun sedap tiada seorang yang tegah dan tempelak seperti burung dalam hutan di atas pohon dan seperti ikan yang di dalam air hingga berapa dapat perempuan yang baik yang tiada campuran orang dengan dirinya tiada mengaku daripada hukum Islam setengahnya yang telah lari kepada kami sudah dapat anak-anak.

Maka yang terlebih baik dari itu sejahtera akhirat dengan baik kembali ke dalam syurga yang banyak nikmatnya kekal selama-lamanya tiada mati lagi bertambah-tambah nikmat dan lezat berlain-lain tiap-tiap yang hawa nafsunya daripada makanan dan minuman dan perempuan dan buah-buahanpun segeralah hasil. Dan pakaian jenis sekurang-kurangnya martabat isi syurga itu lapan puluh ribu khadam kulah qamar permata intan yang satu biji daripadanya itu terlebih daripada dunia dan barang-barang di dalamnya dan tujuh puluh bidadari perempuan yang menurut.

Akan kita dapat kheurajeun yang  terlebih daripada sepuluh kali kheurajeun dunia sekalian itulah halnya akan Tuan. Yang boleh masuk Islam barangkali dengan rahmat Tuhan Allah syahid Tuan pada perang dengan kafir, maka itupun berganda-ganda nikmat tujuh ratus ribu ganda karena apa Tuan-Tuan tiada pikir yang kemenangan dunia dan akhirat setelah Tuan datang azab daripada Allah ta’ala dunia dan akhirat wassalam ala manit taba’al huda.

Fizil Hijriah 16-1302

(Cap dengan tulisan Syeh Saman di Tiro)

Di dalam surat Kabinet Belanda bertanggal 15 Agustus 1888 huruf X no.52 Menteri a.l meminta Gubernur Jenderal mengenai tuntutan ulama Tiro tersebut sebagai berikut :

“Tuntutan yang tidak wajar agar kita menganut agama Islam tentulah diketahui oleh Teungku Di tiro maksud ayat ke 257 surat kedua di dalam Quran yang berbunyi : Tidak ada paksaan dalam agama : barangsiapa mengingkari Tagut dan beriman kepada Tuhan, maka ia memegang tongkat yang tidak akan patah.”

Kutipan Al-quran yang dipergunakan sebagai jawaban Menteri tersebut telah dikebiri karena lengkapnya berbunyi : “Tidak ada paksaan dalam agama. Kebenaran jelas berbeda dengan kesesatan. Karenanya barangsiapa yang kufur kepada Tagut (=Kufur kepada apa-apa yang melewati batas) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia berpegang kepada tali yang amat teguh, yang tidak putus. Dan Allah Maha mendengar, Maha mengetahui.”

Pemerintah Kolonial Belanda menyitir/mengkebiri ayat Al-quran dengan pesan bahwa peperangan di Aceh bukanlah perang agama, semata-mata hanya untuk membawa peradaban. Kelak terjadi perubahan situasi di Aceh di mana kubu kemerdekaan (Keluarga Tiro) seperti dinukilkan sejarah menuju kehancuran (hampir semua keturunan beliau dibunuh) sebagai kenangan-kenangan buruk.

H.C Zentgraff seorang Kopral Artileri yang turut Perang Aceh, kelak wartawan perang yang ulung menulis, “Dan adakah suatu bangsa di bumi ini yang tidak menulis tentang gugurnya para tokoh heroik dengan rasa penghargaan yang sedemikian tingginya di dalam buku sejarahnya?”

XXX

Biografi Singkat Teungku Chik di Tiro

Profil Tengku Chik di Tiro

Tengku Muhammad Saman adalah putra dari Tengku Syekh Ubaidillah. Sedangkan ibunya bernama Siti Aisyah, putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro. Ia lahir pada tahun 1836, bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, daerah Pidie, Aceh. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang kuat.

Silsilah, geneaologi atau nasab dari Tengku Chik Di Tiro.

Silsilah, geneaologi atau nasab dari Tengku Chik Di Tiro.

Ketika ia menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu agamanya. Selain itu tidak lupa ia menjumpai pimpinan-pimpinan Islam yang ada di sana, sehingga ia mulai tahu tentang perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme. Sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya, Muhammad Saman sanggup berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa. Keyakinan ini dibuktikan dengan kehidupan nyata, yang kemudian lebih dikenal dengan Perang Sabil.

Teungku Chik di Tiro Memimpin Perjuangan Rakyat Aceh melawan Kolonial Belanda

Dengan perang sabil, satu persatu benteng Belanda dapat direbut. Begitu pula wilayah-wilayah yang selama ini diduduki Belanda jatuh ke tangan pasukannya. Pada bulan Mei tahun 1881, pasukan Muhammad Saman dapat merebut benteng Belanda Lam Baro, Aneuk Galong dan lain-lain. Belanda akhirnya terjepit di sekitar kota Banda Aceh dengan mempergunakan taktik lini konsentrasi (concentratie stelsel) yaitu membuat benteng yang mengelilingi wilayah yang masih dikuasainya.

Teungku Chik di Tiro adalah tokoh yang kembali menggelorakan Perang Aceh pada tahun 1881 setelah menurunnya kegiatan penyerangan terhadap Belanda. Selama ia memimpin peperangan terjadi 4 kali pergantian gubernur Belanda yaitu:

Belanda akhirnya memakai siasat lain dengan cara meracunnya. Muhammad Saman akhirnya meninggal pada bulan Januari 1891 di benteng Aneuk Galong.

Emisi serial pahlawan Republik Indonesia; Tengku Tjhik Di Tiro keluaran 1961-1962

Informasi Lain

Salah satu cucunya adalah Hasan di Tiro, pendiri dan pemimpin Gerakan Aceh Merdeka.

XXX

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  11. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  12. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  13. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  14. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  15. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  16. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  17. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  18. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  19. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  20. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  21. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  22. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  23. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  24. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  25. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  26. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  27. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  28. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  29. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  30. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  31. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  32. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  33. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  34. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  35. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  36. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  37. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  38. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  39. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  40. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Literature | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 95 Comments

HARLEQUIN DAN POHON HARAPAN

Halequin dan Pohon Harapan

Harlequin dan Pohon Harapan

HARLEQUIN DAN POHON HARAPAN

Aku tahu dia pernah berkelana ke tempat-tempat aneh di dunia ini, miskin seperti tikus, angkuh seperti Lucifer. Lukisannya secara abstrak menggambarkan dua pohon coklat dengan sapuan warna-warna hijau yang tajam. Persawahan yang tak mirip sawah. Apakah sebegitu gampang menjadi seniman di zaman ini? Tidak ada usaha meniru sesuatu, ia tinggal menyapukan cat-cat itu.

Ketika aku menyampaikan kritikku, ia membantah, “Ini karya yang lumayan, Harlequin dan pohon harapan!”

Seorang lelaki zaman dulu yang berotot tapi penuh kasih sayang. Halequin, adalah karakter hamba dari komik Dell’arte Commedia (Komedi Kerajinan –Terjemahan Bebas) Italia, secara tradisional telah diperkenalkan oleh Zan Ganassa pada akhir abad ke-16.

Harlequin ditandai dengan kostum kotak-kotak (merah hitam). Perannya adalah sebagai hamba baik hati, gesit dan cerdik, sering bertindak untuk menggagalkan rencana tuannya, dan mengejar cintanya, Columbina. Dengan kecerdasan dan akal, sering bersaing secara tegas sekaligus melankolis. Harlequin mewarisi kelincahan fisik dan kualitas penipu, serta namanya, berasal dari karakter nakal, setan dalam drama abad pertengahan.

Di Inggris pada abad ke-17 Harlequin tampil dipanggung sandiwara yang bercerita tentang kebodohan. Ia secara rutin ditampilkan sebagai karakter badut. Badut yang nakal dan kasar menjadi lebih romantis.

“Kenapa kau menggambarkannya menggunakan topeng?

Ia tersenyum, sedikit nakal. “Begitulah aku melihatnya.”

“Bukannya, karena kau tidak punya kemampuan melukis wajah dengan sempurna?”

Ia tertawa, keras sekali mendengar kata-kataku.

Harlequin

Harlequin

Nama Harlequin diambil dari seorang “iblis” nakal atau “setan” dalam cerita rakyat Perancis. Istilah Perancis kuno, Hallequin, pertama kali muncul di abad ke-11, oleh penulis sejarah Orderic Vitalis, yang menceritakan seorang pendeta yang dikejar oleh pasukan setan ketika berkeliaran di pantai Normandia pada malam hari. Para setan dikenal sebagai Familia Hallequin. Menurut versi Perancis abad pertengahan Hallequin digambarkan sebagai utusan iblis, berwajah hitam menjelajahi pedesaan dengan sekelompok setan untuk mengejar jiwa terkutuk dari orang jahat ke neraka. Penampilan fisik ini menjelaskan warna tradisional topeng merah hitam Harlequin. Penampilan panggung pertama Hellequin tercatat tahun 1262, sebagai setan bertopeng dan berkerudung dalam Jeu da la Feuilliere oleh Adam de la Halle. Nama ini juga muncul sebagai setan, seperti Alichino dalam karya Dante, Inferno. Kelak karakter Hallequin ini, diinterpretasi ulang oleh Zan Ganassa sehingga menjadi tokoh Harlequin yang kita kenal seperti sekarang.

Harlequin digambarkan lincah secara fisik, gesit dan melakukan acrobat yang sangat dinantikan oleh penonton. Di Inggris awal abad ke-17 menjadi inspirasi drama pantonim, bahkan Harlequin pada abad ke-20 berpengaruh menginspirasi komedi “slapstick.”

“Maaf, lukisan mu seperti sampah. Aku mengharapkan yang lebih baik dari ini, tidakkah kau bisa meniru Leornardo da Vinci?”

“Lukisan tentang keindahan, bersinar, dan halus di bagian luarnya. Anda pernah menghadapi hidup dengan berani, tapi anda sekarang di atas. Mungkin anda sudah lupa, ada orang-orang dari kalangan bawah yang melihat bagian dalam dari segala sesuatunya. Dan inilah yang menarik.” Bantahnya.

“Begitukah kau melihatnya?”

“Kadang ada barang-barang indah dalam tumpukan sampah, bunga yang indah tumbuh di antara sampah. Tidakkah kau sadar Arlecchino?”

Harlequin sebagai karakter dalam Commedia dell’arte (Komedi Kerajinan), yang dikenal juga sebagai Arlecchino.

Aku memperhatikan wajah di depanku. Tidak terlalu asing. Akh, aku tahu sekarang! Itu wajahku sebelum kehidupan membuatku makmur. Bersemangat, penuh petualangan. Wajah seorang pemuda, wajah seorang kekasih yang dijauhkan dari kekasihnya, oleh keadaan.

Ia menggeleng, “Bukan begitu sahabat, aku adalah kau yang sekarang. Sedang kau adalah masa depan. Aku adalah Harlequin, sedang kau adalah (pohon) harapan. Kita ada dalam lukisan, sebuah katalis.”

Katalis, suatu reaksi kimia yang keberhasilannya tergantung pada suatu jenis zat tertentu, di mana zat itu tidak mengalami perubahan.

Aku terdiam, Aku merasakan resonansi. Titik alami, bahwa titik suatu kekuatan bertemu dengan titik alami itu. Merasa dapat memahami perasaannya, perasaan seorang seniman terhadap seniman lainnya, seseorang sentimental terhadap seorang kekasih sejati, seseorang biasa terhadap seorang jenius. Ia melukis dengan perasaan rindu, pada sosok kekasih yang jauh, terlihat sosok siluet Columbine berbentuk awan, sedang memeluk bulan. Di mataku lukisan itu terlihat (begitu) indah.

Aku menjadi dirinya, Harlequin. Ketika menonggak ia, si pria merah hitam itu, (telah) hilang.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  39. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  40. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  49. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  50. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 54 Comments

KESUCIAN

Ada keajaiban dari mencoba, entah bagaimana ceritanya suasana di kelas berjalan lancar.

KESUCIAN

Menjawab, kebanyakan tidak ada hubungannya dengan bakat. Ia, biasanya terkait dengan pengetahuan. Memecahkan persoalan memang membutuhkan kepandaian, namun membuat “pertanyaan” adalah bakat yang paling penting. Pertanyaan yang bagus bisa dipecahkan dengan berbagai macam cara.

Abu merasa sebal. Hari itu betul-betul sial, dari awal terlambat bangun, bermotor ke kantor kehujanan, ketinggalan rombongan menuju sekolah. Dan daun-daun yang telah digunting istri untuk pohon harapan (bahan mengajar) pada malam hari jatuh entah dimana. Abu tampak seperti seekor burung yang kusut ke SDIT Al-Azhar tempat menjadi relawan Kementerian Keuangan Mengajar 2016. Terlambat, menyaksikan pembukaan acara di halaman sekolah. Untunglah, koordinator melihat Abu dari kejauhan dan memanggil, sehingga bergabung dengan seluruh relawan lain di depan.

Sehari sebelumnya, yang lebih cerah tentunya. AC Milan menggasak Juventus 1-0. Setelah 9 partai berurutan sejak 2012 selalu kalah. Abu tersenyum mengenang Manuel Locatelli menjebol gawang Gianlugi Buffon, memegang mic dan memperkenalkan diri di lapangan. “Adik-adik tahu Italia? Perkenalkan saya….” Hujan rintik-rintik, dan suasana mencair.

Tidak semua pengetahuan yang kita miliki menolong disaat dibutuhkan, diperlukan kearifan mengambil hikmah dari setiap ketidaktahuan guna memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik, dan “memungut” hikmah itu diperlukan kerendahan hati, bukankah sebuah gelas yang belum terisi penuh lebih mudah diisi tanpa harus tumpah, untuk itu kita selaku manusia harus berusaha memperbesar wadah jiwa kita.

Setelah seremonial di lapangan selesai, kami para relawan dipersilahkan masuk ke kelas untuk mengajar. Masalahnya adalah sehebat apapun Abu bercerita di warung kopi, sekuat apapun Abu berargumen di kantin. Abu belum pernah mengajar sekalipun! (Dengan mengecualikan beberapa kali menjadi guru bantu TPA yang tentunya sudah memiliki kurikulum yang jelas).

Sulit menjelaskan Kementerian Keuangan, khususan Direktorat Jenderal Pajak pada murid-murid SD kelas 3. Metode apa yang harus digunakan? Ada jurang yang besar antara beratnya materi (perpajakan) dengan pengetahuan pendengar. Seseorang datang ke sebuah kelas, katakanlah untuk mengajar, tanpa pengalaman. Abu gentar, berangin dan gugup.

Ada keajaiban dari mencoba, entah bagaimana ceritanya suasana di kelas berjalan lancar. “Di mana kita membayar pajak?” dijawab, “di Tax Amnesty.” Pertanyaan-pertanyaan mereka yang sederhana terasa menggelitik, “dimana abang tinggal?” Ketika dijawab di Banda Aceh, mereka malah kecewa. “Alah, kirain di Jakarta.”

Abu berpikir terlalu muluk jika harus mengajarkan sesuatu yang rumit kepada mereka, selebihnya Abu bergembira saja, bukankah perilaku positif secara mental akan menciptakan banyak keajaiban melebihi segala ramuan ajaib. Sesi mengajar 1, 2 dan 3 akhirnya bisa Abu lewati.

Kemenkeu Mengajar, melalui gerakan ini,  para relawan yang merupakan pegawai aktif Kemenkeu akan memperkenalkan peran Kemenkeu, berbagai profesi yang ada di dalamnya, dan bagaimana negeri ini mengelola perekonomian. Selain itu, dalam kegiatan ini, para relawan juga akan mengajarkan nilai-nilai dan semangat yang dimiliki oleh Kemenkeu di hadapan siswa-siswi SD di enam kota (Jakarta, Banda Aceh, Denpasar, Balikpapan, Makassar dan Sorong) tersebut.

Mengusung semangat kesukarelaan, panitia tidak memungut biaya apapun dari pihak sekolah. Selain itu, kegiatan ini juga bersifat non-Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal ini berarti, setiap biaya yang ditimbulkan dari penyelenggaraan kegiatan ini, sama sekali tidak dibebankan pada APBN. Pun demikian dengan setiap pegawai yang menjadi relawan Kemenkeu Mengajar, tidak akan mendapatkan pembayaran apapun, baik dalam bentuk honorarium maupun Surat Perjalanan Dinas (SPD).

Gerakan ini diharapkan mampu menularkan semangat kerelawanan para pegawai Kemenkeu dalam berkontribusi terhadap negeri. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat mengajarkan nilai-nilai kebaikan, serta memberi semangat pada generasi penerus bangsa agar lebih mencintai negeri, sehingga kelak dapat turut berperan dalam mendukung pembangunan.

Begitulah menurut versi resmi yang dirilis oleh Kementerian Keuangan. Sedangkan menurut Abu, justru kami para pegawai yang bekerja di Kementerian Keuangan yang belajar dari semangat anak-anak SD dari seluruh Indonesia. Belajar menyukai pagi dengan gerimis atau sinar matahari, ada sisa harum kemuning yang mekar semalam dan bau daun-daun yang lumat di rumput becek.

Anak dan masa kanak-kanak menjadi nostalgia diri sekaligus menjadi potret perbandingan masa kini. Pada masa itulah, segala laku, rasa dan asa menjadi kisah yang berwarna-warni. Imajinasi kanak-kanak menjadi deskripsi yang selalu bertautan dengan sosial kultural sekaligus kehidupan. Mengingatkan kita, selaku manusia yang tampaknya tiba-tiba menjadi dewasa, dalam segala hal, dibandingkan orang-orang yang dulu ada di masa lampau. Dimana kita memiliki hati yang muda.

Hormat dan tabik kepada pendidikan Indonesia.

Hormat dan tabik kepada pendidikan Indonesia.

Anak-anak identik dengan kesucian, mengingatkan kita selaku pegawai kementerian keuangan, atau profesi apapun tentang ketulusan niat. Bahwa kita berjuang untuk negeri ini, untuk mereka masa depan bangsa kita. Anak-anak ini melalui kepolosan mereka, merasuk kedalam sanubari yang mudah-mudahan tak akan lekang. Mengajarkan hikmah yaitu mencintai kebijaksanaan dan kebenaran yang bisa datang dari siapapun. Abu pulang ke kantor dengan semangat dan jiwa yang baru. Hormat dan tabik kepada dunia pendidikan Indonesia.

Semua orang dewasa dulu juga anak-anak, tapi hanya sedikit yang ingat itu.

NB : Jika akhirnya sebelum tulisan ini dikeluarkan, Milan dibantai Genoa 0-3. Ya, sudahlah.

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 9 Comments

SETELAH REVOLUSI SELESAI

Secangkir Kopi Sanger Robusta Aceh

SETELAH REVOLUSI SELESAI

“Dalam perang yang panjang, semua orang baik, orang pintar, kritis, dan punya pendirian, semuanya mati. Mati dibunuh. Yang tinggal hanyalah orang-orang berkepala dua!” Otto Syamsuddin Ishak.

X

Saat masih muda, aku merasa berbeda. Aku mencari kebijaksanaan. Merasakan hubungan dengan jiwa-jiwa yang ingin aku lindungi. Dalam perjalanan, aku bertemu orang-orang kuat dan mulia. Kajian-kajian dalam ruang kelas berdebu, menumpang baca di perpustakaan orang besar. Keluar masuk hutan demi cita yang tak pasti, kelaparan dan digigit nyamuk bersama orang-orang yang sebagian besar telah tiada.

Kekerasan kepada penduduk sipil Aceh oleh militer Indonesia pada Konfik Aceh 1976-2005.

Itu belasan tahun yang lalu, sekarang lihatlah aku, bersiborok dengan segelas kopi disebuah warung. Sendirian mencoba mengenang masa-masa itu. Dalam pandangan 360 derajat, dalam sebuah ruang bersama para gamer, penyedot wifi gratis sampai para kontraktor yang masih meriuhkan proyek-proyek ekonomi. Tak habis-habis membicarakan harapan-harapan akan Gold, Gospel dan Glory.

Dan beberapa tahun yang lalu betapa aku terpana menyaksikan sejauh mata memandang, warung kopi berderet tak putus-putus. Kehadirannya disambut dengan gembira itu pertanda bahwa konflik telah selesai tak lama setelah tsunami melanda Aceh. Kami siap memasuki era modern.

Kalau ada kriteria dentitas warung kopi, yakni jumlah warung kopi dalam ukuran wilayah tertentu, dapat kupastikan kota kami masuk rekor dunia. Pun jika ada penghitungan jumlah orang ke warung kopi perhari pemenangnya pastilah laki-laki yang tinggal di kota ini. Saban pagi, segerombolan pria, seperti migrasi di padang masyar, dari wilayah sekitar, berbondong-bondong ke warung demi segelas kopi. Lalu, mereka bekerja. Siang hari selepas makan siang dengan sambal daun ubi sekalipun mereka meneguk segelas kopi. Sore mereka kembali ke warung, dan pulang lagi. Adakalanya malam hari, pukul 10 setelah istri dan anak-anak tidur, mereka ke warung lagi. Semuanya demi segelas kopi.

Kopi adalah minuman ajaib, setidaknya bagi lidah Aceh (dan atau yang terpengaruh), karena rasanya dapat berubah berdasarkan tempat. Rumor beredar dikalangan para istri soal suami yang tak mau minum kopi di rumah, padahal bubuk kopinya sama dengan di warung adalah terbukti valid. Bagaikan status quo alasan kaum suami kompak, bahwa kopi yang ada di rumah tak seenak di warung kopi.

Semakin dalam aku berkubang di dalam warung kopi, semakin ajaib temuan-temuanku. Kopi bagi orang Aceh tak sekedar air gula berwarna hitam, tapi pelarian dan kegembiraan. Segelas kopi bak dua belas teguk kisah hidup. Bubuk hitam yang larut disiram air mendidih pelan-pelan menguapkan rahasia nasib.

Mereka yang menghirup kopi pahit umumnya bernasib sepahit kopinya. Makin pahit kopinya, makin berlika-liku petualangannya, hidup mereka penuh dengan kekecewaan. Pemimpin yang mereka puja terus menambah istri dua, tiga, empat dan lima sedang mereka betul-betul berharap janji sang pemimpin menyantuni mereka satu juta perbulan setelah kemenangan telah diingkari. Bisnis? Mereka kena tipu. Namun, mereka tetap berusaha, berharap dan berdoa. Mereka, grup fatalis.

Mereka yang takaran gula, kopi, dan susunya proporsional umumnya adalah pekerja kantoran yang bekerja rutin dan berirama hidup itu-itu saja. Kelompok ini melingkupi diri dengan selimut dan tidur nyaman di dalam zona nyaman. Proporsi gula, kopi dan susu mencerminkan kepribadian mereka yang sungkan mengambil resiko. Tanpa mereka sadari, kenyamanan itu membuat waktu, detik demi detik, menelikung mereka. Kaum ini disebut dengan kelompok qana’ah.

Ada pula kaum yang berciri kopi kental, tapi ditambah gula setengah sendok teh saja. Orang-orang ini merupakan pegawai yang ahli dibidangnya, bermain proyek kecil-kecilan seperti pengadaan ATK, baterai jam. Pemborong dan kontraktor juga masuk dalam kaum ini, mereka ambisius dalam mengejar proyek-proyek pemerintah. Takaran kopi semacam itu membuat mereka merasakan pahit diujung lidah, namun terbersit sedikit manis diujung lidah. Mereka merasa sexy dengan tekad naik kelas, atau sudah naik kelas. Bagi mereka golongan pendaki, ekonomi itu ambisi!

Mereka yang minum kopi dan hanya minta sedikit gula, lalu setelah diberi gula, mengatakan terlalu manis atau kurang manis, merupakan orang-orang yang gampang menghasut sekaligus terhasut. Merekalah pengacau yang sering membaca berita hoax di internet, lalu kemudian menyebarkan tanpa memikirkan akibatnya di media sosial. Mereka adalah kaum yang plin-plan, lucunya mereka semua seragam memiliki emosi tinggi, mudah marah tak jelas. Suka membawakan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dipenggal isi, maksud dan artinya, tapi ketika disuruh membaca tafsir atau tabayyun suka merenggut. Setelah revolusi selesai, merekalah perusak tatanan masyarakat, tapi merasa diri pahlawan. Iya, mereka termasuk kelompok pahlawan kesiangan.

Mereka yang memerlukan susu lebih banyak umumnya bermasalah dalam kehidupan sosial. Beberapa adalah penyedot wifi yang tekun, atau gamer online yang tenang. Dalam keadaan yang ekstrem, ada yang berteriak-teriak seraya bermain counter srike, call of duty. Tapi yang paling menyebalkan adalah makhluk dengan headset dikepala berkaroke ria melalui laptop, ia merasa penguasa dunia, sayangnya lagunya selalu bertemakan patah hati. Kelompok ini tak peduli meski seluruh warung mempelototi mereka. Mereka di sebut kelompok polusi darat, air dan udara.

Mereka yang minum air panas dan susu saja, tanpa gula dan kopi adalah orang-orang yang melamun di warung kopi. Merokok tak putus-putus paling kurang dari dua bungkus dengan rasa yang berbeda. Tak tahu apa yang berkecamuk di dalam kepala mereka. Mereka termasuk golongan langka, aneh dan terpencil. Makanya disebut kelompok sufi gila.

Yang cukup kopi saja, tanpa air, gula dan susu adalah luwak. Adapun mereka yang sama sekali tidak minum kopi adalah penyia-yia hidup ini.

Setelah revolusi selesai, warung kopi adalah sejenis surga yang ada di bumi.

Setelah revolusi selesai, warung kopi adalah sejenis surga yang ada di bumi. Duduk disini adalah cara kami melupakan hutan-hutan telah ditebang dengan alibi perkebunan karet. Cagar alam beralih fungsi menjadi kotak-kotak perkebunan sawit. Atau semakin beratnya harga SPP (TK, SD, SMP, SMA, Sarjana) melambung tinggi, bahkan untuk menafikan seliweran mobil fortuner bolak balik ke Medan oleh segelintir elit nan pelit, foya-foya disana.

Revolusi telah selesai, damai telah terkembang. Tengku telah tiada, kami rindu kepadamu yang pernah bepesan, “Selamatkan hutan Aceh, sebab hutan adalah salah satu pusaka dari leluhur yang akan kita pulangkan kepada anak cucu di masa yang akan datang”. Tapi tak dipedulikan oleh begundal-begundal yang mengaku penerusmu.

Iya, mereka juga adalah (mungkin) saudara-saudara, sahabat-sahabat dan pemimpin kami, tapi mereka tak seperti Tengku. Mereka serakah dan lalai dengan sejarah sendiri, dan sibuk mengeruk koin-koin dari aspal, jembatan sampai ATK negeri ini. Tak ada lagi yang rela mengorbankan segalanya bagi kami, cinta penuh seluruh tlah bersalin keserakahan.

Di warung kopi, lewat tengah malam, segelas kopi yang nyaris kosong. Bersama derai-derai angin bulan Oktober, betapa aku mengingat engkau laksana mutiara, yang lahir di tengah-tengah sahara, tak terulang.

NB : Oh ya Tengku, simbol dua singa berdiri milikmu tak pernah terlihat lagi, dengar-dengar sekarang sudah berganti dengan dua babi yang sedang makan taik sendiri.

X

Tak ada berkah lebih besar yang dimiliki sebuah kota, daripada seorang Raja yang rela korbankan nyawa demi rakyatnya-Warcratf-

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  39. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 58 Comments

MENCOBA MENAFSIR MAKNA MIMPI BURUK

Ketika malam datang, setan dan mimpi buruk mencari mangsa

Ketika malam datang, setan dan mimpi buruk mencari mangsa

MENCOBA MENAFSIR MAKNA MIMPI BURUK

Berbahagialah bila anda tidak pernah bermimpi buruk. Ada orang yang sering bangun ketakutan, sebenarnya tidur itu bukan suatu peristiwa yang gaib, pada tubuh manusia yang senantiasa tidak tidur, dan bagian inilah yang di dalam tidur bersikap dan berkedudukan di luar dugaan kita. Bagian ini adalah rohani.

Mimpi sendiri timbul pada seseorang yang sedang tidur. Menurut ilmu jiwa, mimpi itu peristiwa jiwa yang sederhana di luar kesadaran, yang tidak menimbulkan ingatan atau menimbulkan ingatan, akan tetapi tidak lengkap. Mimpi itu timbul pada keadaan setengah tidur atau apabila tidur tidak nyenyak. Tidur tidak mengizinkan adanya peristiwa jiwa yang sulit. Peristiwa disertai dengan perasaan mengejutkan, menakutkan atau menyedihkan, dinamai affecten, biasanya sukar lenyap dari pikiran kita, bahkan biasanya juga masih teringat di dalam waktu tidur. Karena sederhananya peristiwa ini, maka biasanya sedikit sekali atau sama sekali tidak ingat apa yang kita mimpikan.

X

Mengapa saya berbicara mimpi buruk? Beberapa malam belakangan (mungkin seminggu), saya (sering) terjaga di antara deras hujan menjelang shubuh dengan ketakutan, deras-deras hujan serta angin yang masuk dari sela-sela jendela memberikan ingatan sekilas, bahwa saya baru bertarung dengan sesuatu yang tak jelas. Entah menang atau kalah, samar-samar itu sangat tidak mengenakkan, bisa kitakan buruk.

Sebagai seseorang yang terlalu cepat membaca tulisan Sidmud Freud (Masa-masa SMP), wajar saya merasa kecewa pada diri sendiri (mungkin karena saya dulunya suka menertawakan orang yang bermimpi buruk dan menilainya sebagai kekalahan/ketertekanan mental), sebagaimana Freud mempergunakan isi impian-impian dari orang-orang yang diperiksa olehnya sebagai alat untuk mengetahui isi jiwa orang-orang tersebut, terutama isi dari pada gabungan pikirannya yang tertekan. Tapi saya sedang merasa tidak tertekan.

Saya mencari-cari, dan menemukan catatan-catatan yang pernah saya tuliskan di masa sekolah (syukur saya masih memiliki buku-buku catatan dari SMP sampai SMA), entah dari mana saya mengutip saya menulis, “kehebatan karakter seseorang tidak ditentukan ketika ia menang, akan tetapi di saat dia kalah.” Tokh, saya menulis itu ketika (mungkin) baru mengalami “kekalahan besar” yang pertama kali. Tersenyum, saya dulu lucu sekali ya. Dan juga sangat kurus!

Tapi hidup tidak berhenti disitu, di umur tiga puluh dua, saya membawa sejarah banyak kemenangan dan kekalahan besar dan kecil, hidup tidak sesederhana ketika berumur enam belas tahun. Hidup telah memperjumpai dengan berbagai pertentangan/kejadian berupa tesis dan antithesis yang menghasilkan sintesis berulang. Itu mempengaruhi rohani.

Ada apa dengan rohani? Menurut R. Paryana Suryadipura (Pemimpin Rumah-Sakit Semarang) dalam bukunya Alam Pikiran cetakan ke-2 tahun 1961. Rohani  terdiri dari kelompok bion-bion yang menjelmakan hasil penginderaan, pikiran dan amal perbuatan, maka pekerjaan rohani di dalam tidur itu terpengaruh oleh pikiran-pikiran dan hasil tangkapan pancaindera yang paling akhir, sebelum jasmani tidur. Pikiran-pikiran ini mencari jalan mengadakan atau untuk dijadikan amal perbuatan. Oleh karena jasmani tidak dapat digerakan dalam tidur, maka kelompok bion-bion yang bergerak kian-kemari ini, mengadakan amal perbuatan di alam yang abstrak, yang dinamai mimpi.

Saya percaya (sekarang) bahwa rohani bertumbuh, meski lewat menang, seri atau kalah sekalipun. Tergantung manusia memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkaya jiwanya. Apabila kita mengingat hakekat rohani menurut hipotesis serbatenaga, sebagai susunan bion-bion, maka kita dapat mengerti, bahwa bagian ini tidak perlu makan dan tidur, akan tetapi dapat hidup abadi. Secara simpel pikiran yang timbul antara kita tidur dan bangun itulah pikiran yang dapat mempengaruhi rohani kita.

Terus terang saya tidak menyukai bermimpi buruk. Pertama, itu menganggu tidur (tapi ini bukan sebab utama). Kedua (merujuk kepada Freud dkk) katanya orang yang secara teratur mimpi buruk adalah orang yang peka, cepat tersinggung dan banyak merasakan ketidakcocokan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka sulit bergaul dengan orang “normal”. Tapi katanya juga, mereka yang memilih pekerjaan kreatif sering bermimpi buruk. Apa macam.

Namun penelitian di zaman modern justru menafikan itu semua, penelitian lanjutan (setelah saya membongkar buku-buku saya yang terbatas, saya menemukan di bundel Majalah Sigma tahun 1987) bahwa tidak selamanya dugaan Freud benar (berarti kadang-kadang benar dong). Orang artistik memang suka bermimpi buruk, tetapi tidak semua artistik bermimpi buruk. Jadi jika anda (atau saya) bermimpi buruk, itu (mungkin) bukan pertanda apa-apa.

X

Maafkan jika saya meracau akibat mimpi buruk, yang mengakibatkan terbangun dari tidur. Tapi ada hal yang sukai dari mimpi-mimpi buruk ini. Ia kerap terjadi di kala hujan yang turun menjelang Shubuh, hujan dengan segala keromatisannya adalah hal yang tak bisa ditebak. Ia meruntuhkan kesombongan manusia yang mencoba memetakkannya, dengan ramalan cuacakah, atau prediksi bulan turunnya. Mungkin hujan itu, sebagaimana mimpi buruk ini, sengaja dikirimkan Tuhan untuk melunturkan kesombongan manusia, dan itu (bisa) jadi saya.

(Dasar!) Sok Bijak lu!!! Hahaha,.

X

Posted in Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , | 7 Comments