TEMPAT TIADA KEMBALI

Inikah perempuan yang bertahun lalu mencuri hatiku.

TEMPAT TIADA KEMBALI

Inikah perempuan yang bertahun lalu mencuri hatiku.

Wajah itu memandangiku tersenyum, muka itu masih basah belum sepenuhnya bersih dari butiran air sehabis mandi tadi. Selendang yang ia kenakan masih belum rapi, sepertinya ia terburu-buru mempersiapkan diri sekarang. Padahal sudah empat puluh menit yang lalu aku menelpon dan berjanji akan datang ke rumah orang tuanya. Dasar perempuan! Selalu ingin tampil perfeksionis dan mengenakan topeng. Tak bisakah kau tampil apa adanya, rutukku dalam hati.

Inikah perempuan yang bertahun lalu mencuri hatiku. Memang senyumnya masih sama, tapi garis waktu telah menenggelamkan kemudaan darinya. Wajahnya sudah tertarik seperti lapangan bola, tubuh itu seolah tak kuasa menopang gumpalan lemak yang menggunung, kucuri pandang menembus selendang dan baju gamisnya dan maaf payudaranya telah jauh melebar. Dalam hati aku berkata, mampuslah kau! Hari ini aku menertawakan keangkuhanmu dulu. Waktu masih bersamaku namun tidak untukmu perempuan. Dendam sekaligus rindu menyelimutiku.

“Silahkan duduk bang, mau minum apa?” Tawarnya kepadaku dan sahabatku. Keadaan kalut tidak membuat ia menghilangkan keramahan merupakan sisa kebangsawanan kuno yang masih melekat didirinya. Sekuat mungkin aku membantah tapi hanya dalam hati akan pesonanya, ia perempuan yang mengaku tak pernah memahami apalagi mengerti keinginanku. Aku benci dia! Aku datang kemari hanya untuk meminta maaf bukan memaafkan, tak akan pernah! Dia tak harus tahu bagaimana kelicikan seorang lelaki.

Kami berbicara santai, seolah semuanya telah berlalu. Sejujurnya ia lebih banyak berbicara dengan sahabatku sedang aku masih tenggelam dalam lamunan, sesekali ikut berbicara namun selebihnya kuhabiskan waktu singkat ini dengan memandangi wajahnya. Aku yang berusaha menata hati ternyata kerap menunduk jika ia melihatku. Bagaimana ini? Mengapa aku masih lemah dihadapannya seolah seorang bocah yang takluk oleh guru. Karena kesal kutertawakan ia sewaktu salah bicara, wajahnya malu tapi kepuasan amat sangat menjalari tubuhku. Seorang lelaki dilahirkan sebagai penakluk hiburku bukan pencundang apalagi pesakitan.

Dialah yang harus bertanggungjawab atas hidupku yang penuh kontradiksi. Menjalani kesedihan walau selalu sukses dalam keduniawian. Mengapa aku harus harus mempunyai perasaan yang sebegitu kuat dan mendalam pada seorang yang telah menjadi nenek-nenek sebelum waktunya padahal seluruh dunia mengenalku sebagai laki-laki yang berkemauan keras, individulis dan selalu tampak dingin.

Lagi-lagi ia tersenyum padaku, hampir saja gletser dihatiku meleleh. Tolonglah jangan tersenyum lagi rintihku. Ini dia kelemahanku, senyumnya yang telah sekuat tenaga kuhapuskan dari seluruh memori diotakku. Sekali lagi waktu bersamaku, sejam sudah berlalu waktu. Walau sebagian kecil, oh tidak! Tapi bagian yang amat sangat kecil hatiku tak ingin beranjak pergi dari rumah orang tuanya yang selalu angker dimataku ini. Aku harus pergi, sehancur apapun hati seorang lelaki sangatlah tidak pantas ia menampakkannya apalagi didepan seorang perempuan yang dibenci walau sekaligus dicintainya.

Aku pergi tanpa kata rujuk, bersama sahabatku. Ketika ia mengantarkan ke gerbang, dalam sejam ini untuk pertama kali aku jujur dengan berkata bahwa kehadiranku hari ini hanya untuk melihat ia tersenyum. Ketika pipinya bersemu dadu, secepat itu aku sadar harus segera pergi. Mengambang, dan aku tak tahu perasaannya namun hatiku sakit teramat sangat ketika harus meninggalkannya saat itu tanpa kepastian akan masa depan. Aku harus kuat dan berjanji ini adalah kali terakhir aku menemuinya, cukuplah ini tak akan pernah lagi walau nanti ia meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Pergi bagai angin dan menghilang dari muka bumi khusus untuknya, itulah tugasku yang terakhir untuknya sebagai seorang laki-laki yang pernah ditaklukkan olehnya. Dia yang pertama dan terakhir, selanjutnya tak akan pernah ada.

Sebaik apapun seorang lelaki (atau perempuan), tetap saja ada kebusukkan dan keburukkan didalamnya (begitupun sebaliknya). Maka jangan menganggap bahwa selamanya madu adalah manis, bisa saja ia menjadi racun yang membunuh.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  6. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  7. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  8. Selamanya; 14 Desember 2008;
  9. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  10. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  11. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  12. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  13. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  14. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  15. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  16. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  17. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  18. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  19. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  20. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  21. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  22. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  23. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  24. Ashura; 13 Februari 2013;
  25. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  26. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  27. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | 57 Comments

BUMI, BULAT ATAU HAMPA

Mengajar

BUMI, BULAT ATAU HAMPA

Kisah percakapan imajinier seorang Bocah yang mempertanyakan bentuk bumi.

“Anak-anak ada yang tahu bentuk bumi?” Seorang guru melemparkan pertanyaan di kelas.

Seorang murid mengacungkan tangan “Bentuk bumi ini hampa bu.” Sambungnya percaya diri.

Guru IPA tersebut hanya bisa menggaruk-garuk kepala, “Menurut penelitian bumi itu bulat, dan telah dibuktikan secara ilmiah memangnya dari mana kamu dapat pelajaran bumi itu hampa?”

Jeh, Ibu ni! Ini perkataan ulama tidak mungkin salah! Karena ulama itu pewaris nabi bu.” Anak tersebut mantap.

“Siapa nama ulama yang mengatakan kepada kamu Hanafiah?” Tanya guru tersebut penasaran.

“Ibu boleh tidak percaya perkataan saya, tapi ini Tengku Salek Pungo yang bilang bu.” Hanafiah dengan penuh keyakinan

XXXX

“Saya tidak pernah berkata seperti itu!” Pernahkah teman-teman melihat wajah TSP gusar? Kalau belum bayangkanlah, ini saatnya karena wajah beliau sangat…….

“Saya cuma bilang bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara menuju akhirat, kenapa si Hanafiah malah menafsirkan bahwa dunia ini hampa.” TSP mengusap-usap janggut putihnya.

“Jadi saya harus bagaimana? Hanafiah itu baru kelas 3 SD umurnya saja baru 8 Tahun dan pasti dia tidak akan menerima penjelasan dari saya Tengku.” Ibu guru tersebut berkeluh kesah kepada TSP.

“Salah tafsir seperti ini tidak bisa dibiarkan.” TSP menggeleng-gelengkan kepala.

Raut muka TSP seperti layaknya Hamzah Fansuri Ar-Raniry yang merasa kecewa ketika perkataannya disalahartikan oleh murid-murid beliau di Abad 17 dulu, sehingga sempat memunculkan ajaran Wihdatul Wujud di Aceh Darussalam sebelum akhirnya ditumpas habis oleh Syeh Abdul Rauf Syiah Kuala selaku Kadli Malikul Adil.

Melihat hal itu Abu yang kebetulan berada disitu, meski sudah berusaha menahan tapi tidak bisa tidak keluar juga tertawa cekikikan. Namun segera menahan kembali demi melihat mata TSP.

“Ilmu alam itu bukan bagian Tengku, makanya kalau kurang ilmu jangan asal bicara.” Celutuk Abu asbun.

“Ana tidak asal bicara bu, cuma si Hanafiah saja yang salah mengartikan atau ……” Suara TSP terputus.

“Atau kamu Abu cukup ilmu untuk meluruskan ini semua” Mulut TSP tersenyum manis namun matanya memvonis Abu.

XXXX

“Mulut itu harus dijaga, inilah akibatnya, benar kata pepatah mulutmu harimaumu. Sekarang malah saya yang harus menyelesaikan masalah Tengku Salek Pungo, bagaimana pula caranya ini ya?” Abu ngomel dalam hati sambil berjalan kearah anak-anak SD yang sedang bermain bola sepak.

“Muhammad Hanafiah, kemari sebentar!” Jurus pertama, panggil dia dengan nama lengkap. Biasanya anak-anak suka dipanggil seperti itu, hehehe tawa Abu dalam hati.

Hanafiah segera menghentikan permainannya dan menuju ke arah Abu.

Salam lekom om Abu.” Hanafiah mengangkat tangan.

2-0! Pertama dia mengingatkan Abu untuk memberi salam, kedua Abu paling benci dipanggil oom.

“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Kali ini Abu tidak ingin salah langkah lagi, makanya menjawab dengan lengkap biar tidak kentara malunya.

“Ada apa om Abu? Hanafi sekarang sibuk.”

“Ini anak berkarakter, masih kelas 3 SD sudah bisa mengucapkan kata sibuk untuk permainan bolanya, ada kemungkinan dimasa depan bisa menjadi anggota Tim Nasional neh. Halah, bukan itu tujuan kamu kesini Abu!” Pikiran Abu kok malah jadi ngawur.

“Muhammad Hanafiah, saya dengar kamu ada problem ya disekolah.” Jurus kedua, pakai bahasa Inggris biar kelihatan intelek. Plus Abu menggunakan kata saya untuk menghindari pengucapan om.

“Yang mana? Oh yang itu mah bukan blem om Abu, Cuma perbedaan pendapat saja.”

“Perbedaan pendapat yang bagaimana?” Abu pura-pura tidak tahu.

“Ini guru Hanafi bilang bumi ini bentuknya bulat, sedang menurut yang Hanafi tahu dari Tengku Dalek dunia ini hampa. Biasalah orang tua tidak mau mendengar kebenaran dari orang muda.”

“Analisa dari mana ini? Anak seumur ini, bisa berpikir seperti itu. Jangan-jangan ini ulahnya TSP neh.” Gerutuk Abu dalam hati.

“Kapan Tengku Salek Pungo berkata seperti itu?” Tanya Abu.

“Pas pengajian abis isya malam selasa lalu, om Abu sih sok sibuk jadinya sering absen makanya tidak tahu perkembangan terbaru.”

3-0! Lagi-lagi sindirannya maut coy……

“Setahu saya, Tengku Salek punggo Cuma bilang bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan bukannya hampa.” Langkah ketiga, segera luruskan masalah, lelah juga berdebat dengan anak berumur 8 tahun.

“Itukan hanya permainan kata-kata, masakan om Abu tidak tahu.”

Lha, ini dia masalahnya penafsiran kata-kata sendiri oleh si Muhammad Hanafiah.

Ngomong-ngomong, si Muhammad Hanafiah jago juga ngeles, darimana lagi kalau bukan dari TSP anak ini mendapatkan ilmu bersilat lidah.

“Jelas beda dong, salah satu kata bisa besar akibatnya.” Abu mencoba meyakinkan salah satu kader TSP ini.

“Begitu ya? Tapi Bulat dan tempat persinggahan juga bedakan? Berarti saya benar dong.” Katanya.

Justifikasi dari mana ini? Abu hanya bisa menggaruk-garuk kepala.

“Begini Hanafiah.” Kali ini Abu harus merendahkan ego, berjongkok untuk melihat sosok Hanafiah bukannya hanya dari atas.

“Lihatlah diri Hanafiah, secara fisik seorang Muhammad Hanafiah memiliki wajah yang tampan seperti Hitrik Rosan, namun secara sifat Muhammad Hanafiah orangnya baik, sabar dan tekun.” Jurus keempat, sisipi kebenaran dengan pujian.

“Begitu juga Bumi yang kita tinggali ini, secara fisik ia bulat walaupun tidak sepenuhnya bulat. Secara sifat dia hanyalah tempat persinggahan sementara menuju tujuan akhir kita.” Mudah-mudahan ijtihad dadakan Abu ini benar, kalau salah bisa panjang ceritanya ini kebelakang.

“Yang benar om Abu.” Tanyanya, syukurlah esensi maksud Abu sudah mulai tertangkap dari matanya yang bercahaya.

“Untuk apa saya berbohong” Abu terpaksa bersilat lidah, karena merasa tidak terlalu yakin dengan perkataan sendiri.

“Yang benar saya mirip Hitrik Rosan?” Tanyanya tersenyum sambil memegang dagunya bergaya.

“Ya kira-kira begitulah Hanafiah, cuma bukan itu maksud saya yang utama melainkan bumi yang kita bicarakan tadi.” Abu kesal sekesalnya tapi mencoba untuk tetap sabar, lha logikanya anak-anak.

“Hahaha, apa yang om Abu katakan tadi masuk ke kepala saya kok tapi…” Suara Muhammad Hanafiah terputus karena ia menoleh kearah teman-teman sepermainannya yang memanggil untuk melanjutkan permainan.

“Tapi apa?” Abu tidak mau kehilangan momen jadi harus sedikit memaksa.

“Tapi om Abu bukan ulama, bukan pewaris nabi jadi Hanafi harus menanyakan lagi kepada Tengku Salek.” 4-0! Ini namanya pembantaian habis-habisan, Abu membayangkan Headline sebuah tabloid olah raga AbuNawas FC di cukur 0-4 oleh Hanafiah FC.

Namun Abu harus memunculkan wajah tenang

“Bagus, itulah yang saya harapkan dan kamu Muhammad Hanafiah harus melakukan itu, supaya tidak salah persepsi.” Ketika terdesak gunakan Jurus kelima bahasa tinggi.

“Kalau begitu, sekarang Hanafi mau sambung main bolanya om. Okey.” Ia pun berlari menghampiri teman-temannya kembali bermain bola sepak.

Huh, Abu menarik nafas lega. Jurus Terakhir, biar TSP yang menyelesaikannya. Penjelasan beliau nantinya akan lebih mudah diterima otak si Hanafiah daripada uraian Abu, TSP yang berbuat maka seharusnya beliau juga yang harus bertanggung jawab. Mudah-mudahan sedikit penerangan dari Abu kepada Hanafiah bisa membantu beliau dan bukannya malah membuat TSP tambah susah.

Ngomong-ngomong Abu penasaran bagaimana penjelasan TSP nantinya kepada Muhammad Hanafiah. Apa sebaiknya Abu tanya saja ya? Tapi nggak ah, Abu kapok dengan yang satu ini. Lebih baik diam saja akh….

XXX

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 9 Comments

KETIDAKAGUNGAN CINTA

Beg for your man to come back

Aku dikejar-kejar rasa bersalah lebih mengerikan daripada perasaanmu.

KETIDAKAGUNGAN CINTA

Lelaki: (Diam membisu, kaku seolah melihat ketakukan terbesar datang menghampiri).

Perempuan: (Menjatuhkan diri, memeluk kaki lelaki itu).

Lelaki: Layakkah dirimu, yang telah menolakku mendapatkan cintaku. Meski sebuah kerajaan engkau tawarkan padaku, sama saja. Ikatan itu telah pudar. Arang telah mencoreng keningku, hari ini menyambut uluran tanganmu dan membiarkan kelak aku akan menagihmu dengan piutang sakit hati. Aku tidak mau hal itu terjadi.

Perempuan: Aku datang bukan dengan impian menjadi ratu dihatimu lagi, memenangkan cintamu. Aku kemari untuk memulihkan kehormatan kembali padamu. Aku siap walau untuk itu harus hidup dalam murka siksamu.

Lelaki: Adakah aku menjumpai cintaku dulu. Tidak saat ini.

Perempuan: Tentu kekasihku. Dulu dan sekarang sama.

Lelaki: Tidak! Tidakkkah dahulu engkau memikirkan itu! Rasa malu yang dikarenakan olehmu membentang sepanjang hidupku dan membakar amarah seluruh keluargaku. Hari ini engkau menemuiku kembali pada kisah yang ingin kuhapus. Tahukah kamu sejak hari itu hingga hari ini, wajahmu telah menghilang dari ingatanku. Mengapa?

Perempuan: Aku dikejar-kejar rasa bersalah lebih mengerikan daripada perasaanmu. Sejak aku mengingkarimu hari itu, engkau tak berkata sepatah kata pun. Dan hari ini aku yang berkhianat memohon kata-katamu. Biarlah maafmu membakar dosa-dosaku atau setidaknya hukum aku dengan sebuah talak.

Lelaki: Engkau yang berlari dariku bukan sebaliknya. Betapa hatimu sebegitu mudah berbolak-balik. Datang dengan rujuk dan sekarang menuntut cerai. Wahai perempuan laknat mengapa engkau begitu?

Perempuan: Karena hukumanmu sungguh kejam. Mengapa diam seorang lelaki mampu mengacaukan segala kebalauan kehidupan perempuan, terkatung dan ditakdirkan untuk hancur.

Lelaki: Aku pernah mencintaimu tanpa bertanya, tanpa kebimbangan, jiwaku seolah menemukan sisi lain didirimu. Namun itu semua tak berarti padamu. Maka jangan salahkan aku jika tak mengetahui diamku menyiksamu. Mulutku membisu untukmu hingga hari ini hanyalah untuk menjaga kerapuhan hatiku.

Perempuan: Jadi keputusanmu?

Lelaki: Aku tidak pernah mengerti dirimu perempuan, apalagi keinginanmu. Jika engkau tanyakan keputusanku maka pergilah. Tinggalkan aku sekali lagi dengan tiada rasa kasihan dalam kepastian harapan untuk menunggu mati. Hanya kali ini talakku jatuh atasmu. Pergilah bagai burung dengan kepak sayap baru.

Perempuan: Engkau terlalu agung! Untuk mendapatkan cinta yang penuh hasrat menikam, baik olehku maupun perempuan lainnya. Jangan terlalu bijak, karena ia akan menenggelamkan dirimu.

Lelaki: Jangan takut! Aku tahu dengan pasti apa yang kubutuhkan. Meski hatiku semakin hancur dengan permintaan terakhirmu tadi, jiwaku penuh diliputi rasa damai tanpa pernah berputus apa dari rahmat Allah S.W.T.

Perempuan: Engkau terlalu baik, itulah alasan mengapa aku menafikanmu dulu.

Lelaki: (Tersenyum, sesuatu hal yang telah lama hilang diwajahnya. Semburat kepuasaan terpatri jelas dalam gurat keyakinannya. Tubuh perempuan yang pernah ia cintai sekaligus benci berubah menjadi sesosok bangkai menjijikkan).

Perempuan: (Terkejut. Lelaki yang dulu dengan mudah ia lucuti keperkasaannya itu sekejap berubah menjadi monster. Tiba-tiba ia disergap ketakutan yang amat sangat dan ia pun bergegas pergi).

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  5. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  6. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  7. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  8. Selamanya; 14 Desember 2008;
  9. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  10. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  11. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  12. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  13. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  14. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  15. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  16. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  17. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  18. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  19. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  20. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  21. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  22. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  23. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  24. Ashura; 13 Februari 2013;
  25. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  26. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  27. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | 60 Comments

TOPENG

Mungkinkah ia merupakan singkatan dari Tutup Bopeng? Tapi yang pasti Topeng adalah alat untuk menutup wajah.

TOPENG

Topeng! Bagaimana kita memaknai kata tersebut. Dalam banyak tulisan Topeng dimaknai buruk. Sebuah pertanda kemunafikan dimana seseorang tidak menjadi dirinya sendiri. Topeng darimana asal kata tersebut secara etimologi? Mungkinkah ia merupakan singkatan dari Tutup Bopeng? Tapi yang pasti Topeng adalah alat untuk menutup wajah.

Topeng? Samakah secara fungsi dengan cadar atau make-up atau juga bedak? Tak usah itu dipolemikkan karenakan akan menghasilkan sesuatu yang absurd. Topeng dalam arti ini juga digunakan dalam opera, kabuki, atau wayang orang.

Pernahkan kita bertanya mengapa para Super-Hero kecuali Fantastic Four mengenakan topeng. Batman, Spiderman, Gundala, Pahlawan Bertopeng, Ultraman, Power Rangers bahkan secara harfiah Superman mengunakan topeng? Apakah para pahlawan memiliki krisis kepercayaan diri harus menggunakan penyamar identitas. Dua kepribadian yang bertolak belakang menjadi senjata untuk mengaburkan siapa dirinya. Akankah ini dapat digolongkan tindakan hipokrit? Atau secara lebih lugas sebagai pengecut?

Apakah ini merupakan gejala universal bahwa manusia memiliki sisi lain yang disembunyikan, entah itu baik atau buruk. Apakah ini menambah kepalsuan dunia.

XXX

Beberapa Opini Lain:

  1. Jomblo Bukan Berarti Homo; 12 Agustus 2008
  2. Manajemen Kritik; 18 September 2008
  3. Temukan Mentor Rahasiamu; 23 September 2008
  4. Sang Tiran; 15 Oktober 2008
  5. Yang Muda Yang Berguna; 22 Oktober 2008
  6. Lughat; 28 November 2008;
  7. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  8. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  9. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  10. Hantu; 20 Februari 2009;
  11. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  12. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  13. Apalah Artinya Sebuah Nama; 13 Juli 2009;
  14. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  15. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
Posted in Asal Usil, Kolom, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 12 Comments

HIKAYAT SANG PENGEMBARA

Hikayat Sang Pengembara

HIKAYAT SANG PENGEMBARA

Aku yang telah mengembara sepanjang pesisir barat dan timur
Di tepi pantai yang sunyi ini, aku menyendiri dan bersaksi.
Aku cinta hidup ini, saat aku menangis ketika separuh negeri menjadi lautan.
Dan sampai hari ini, mendapati yang kukasihi sudah tiada lagi.
Kini aku hanya insan pengembara.
Aku tlah lelah berkelana terus.
Kuingin beristrirahat bersama para sahabat yang telah mendahuluiku.

Tempatku pulang, Banda Aceh lima Oktober dua ribu delapan

“Takdir bahkan telah mengejutkan seorang pria, dalam bilangan tahun yang singkat. Betapa kampung halaman yang sama terlihat begitu asing jika memandang dalam waktu berbeda, apalagi orang-orangnya.”

Beberapa Puisi lainnya:

  1. Dalam Jubah Sufiku; 3 Agustus 2008;
  2. Dipersimpang Jalan; 3 Agustus 2008;
  3. Puisi Terindah; 3 Agustus 2008;
  4. Maghribi dan East; 3 Agustus 2008;
  5. Surat Kepada Sepotong Masa Lalu; 3 Agustus 2008;
  6. Tahukah Engkau Cinta; 4 Agustus 2008;
  7. Dua Puluh Empat Setengah Tahun; 6 Agustus 2008;
  8. Elegi Pagi Hari, Sebuah Puisi; 7 Agustus 2008;
  9. Cryptogram; 4 September 2008;
  10. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  11. Kita Yang Tak Akan Bertemu Kembali; 9 September 2008;
  12. Benci diatas Cinta; 13 September 2008;
  13. Indah Bunga; 20 September 2008;
  14. Padamu Perempuanku; 25 September 2008;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 22 Comments

PADAMU PEREMPUANKU

Menikam hasrat yang kasmaran

PADAMU PEREMPUANKU

Senyum merekah bibir merah
Bagai mawar ditengah sepi
Menanti cinta musafir lalu
Luruh dan lusuh terenggut paksa
Lirikan mata yang sayu
Biru seperti pelangi
Menebar pesona merenda dosa
Menikam hasrat yang kasmaran
Dibawah cahaya bulan dan bayang-bayang
Seribu angan pun melayang
Bersama pikiran nakal bersemi
Mengundang senyum penuh arti

Banda Aceh, Jumat 27 Juli 2001

Beberapa syair cinta yang kasmaran:

  1. Surat Kepada Sepotong Masa Lalu; 3 Agustus 2008;
  2. Tahukah Engkau Cinta; 4 Agustus 2008;
  3. Dua Puluh Empat Setengah Tahun; 6 Agustus 2008;
  4. Elegi Pagi Hari, Sebuah Puisi; 7 Agustus 2008;
  5. Cryptogram; 4 September 2008;
  6. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  7. Kita Yang Tak Akan Bertemu Kembali; 9 September 2008;
  8. Benci diatas Cinta; 13 September 2008;
  9. Indah Bunga; 20 September 2008;
  10. Padamu Perempuanku; 25 September 2008;
  11. Hikayat Sang Pengembara; 6 Oktober 2008;
  12. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  13. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  14. Kalah Perang; 5 November 2008;
  15. Terima Kasih Telah Menolakku Kemarin; 24 November 2008;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 24 Comments

TEMUKAN MENTOR RAHASIAMU

Umar Kayam

TEMUKAN MENTOR RAHASIAMU

Jikalau anda membaca banyak tulisan dari berbagai penulis, kamu mungkin bisa menemukan seseorang yang paling cocok dengan dirimu. Mungkin penulis ini mengembangkan karakter yang mengingatkan akan dirimu, mengungkapkan hal yang ingin kamu ungkapkan, atau menjalin alur imajinatif yang menghanyutkanmu. Maka kamu dapat menjadikan penulis ini sebagai mentor rahasiamu. Tempat berpaling untuk menciptakan gagasan dan inspirasi.

Jika boleh jujur hampir semua guru terbaik saya tidak pernah bertemu dengan saya. Sejak kecil saya membaca roman Sutan Takdir Alisyahbana, mendapati diri saya belajar lebih banyak tentang apa yang ingin saya katakan dan bagaimana caranya. Saya belajar dari mentor-mentor yang lain seperti Umar Kayam, Ali Hasymi, Gunawan Muhammad dan banyak lagi. Kata-kata mereka membuat saya termotivasi, tertantang, terilhami, dan bergairah.

Mereka adalah ideal model bagi saya dalam menulis, mungkin secara pribadi akan ada banyak ide-ide mereka yang tidak terlalu sama dengan saya. Namun itu wajar karena tidak ada satu manusiapun yang diciptakan sama.

Bagaimana dengan dirimu? Sudahkah memiliki mentor rahasia? Saran saya “Jangan pernah ragu meniru penulis lain, seorang penulis yang tengah mengasah ketrampilannya membutuhkan seorang model. Pada akhirnya kamu akan menemukan dirimu sendiri yang lebih baik, yang lebih berkarakter.

Akhir kata, walaupun sebagai penulis saya belum mencapai karakter paripurna dan masih menggali potensi diri untuk berkembang, begitulah pengalaman saya semoga bermanfaat.

NB : Kepada para mentor, teruslah berkarya dan saya akan selalu membayangi.

Beberapa artikel lainnya:

  1. Yang Muda Yang Berguna; 22 Oktober 2008
  2. Lughat; 28 November 2008;
  3. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  4. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  5. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  6. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  7. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  8. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  9. Apalah Artinya Sebuah Nama; 13 Juli 2009;
  10. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  11. Menulis Haruskah Pintar; 26 Oktober 2009;
  12. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  13. Batas; 22 Februari 2010;
  14. Manusia; 18 Maret 2010;
  15. Teori Kemungkinan; 14 Februari 2011;
Posted in Asal Usil, Buku, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 16 Comments

PAHAMILAH APAKAH HIDUP DALAM DIRI MANUSIA

Semesta

PAHAMILAH APAKAH HIDUP DALAM DIRI MANUSIA

Pahamilah apakah hidup dalam diri manusia, sebagaimana aku memahami bahwa cinta yang tumbuh dalam hati manusia.

Pahamilah apakah yang tidak diberikan pada manusia, sebagaimana aku memahami apa yang tidak kuketahui, yang tak pernah diberitahu padaku. Apa yang sesungguhnya kubutuhkan dalam hidupku.

Pahamilah apakah yang menjadi bekal setiap manusia untuk hidup, sebagaimana aku memahaminya sebagai kemuliaan-Nya, kasih sayang-Nya, pengampunan-Nya. Dan itulah membuat hidup ini penuh makna.

Beberapa lamunan malam:

  1. Tafsir Sang Penafsir; 19 September 2008
  2. Topeng; 9 Oktober 2008
  3. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  4. Terima Kasih Telah Menolakku Kemarin; 24 November 2008;
  5. Melebihi Keangkuhan Iblis; 5 Desember 2008;
  6. Malam Yang Tertaklukkan; 10 Desember 2008;
  7. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  8. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  9. Kehidupan Yang Terkadang Paradoks; 30 Januari 2009;
  10. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  11. Wajah Iblis Sang Malaikat; 12 Maret 2009;
  12. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  13. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  14. Duhai Diriku Mengapa Engkau Bersedih; 13 Mei 2009;
  15. Selamat Kembali Pulang Sahabat; 25 Mei 2009;
Posted in Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 9 Comments

INDAH BUNGA

Flowers that are beautiful

INDAH BUNGA

Yang terindah dari sekuntum bunga
Bukanlah tatkala mekar di musim semi
Jumlah tak terhitung
Mewarnai sisi-sisi dunia

Yang kutahu akan gugur
Dan tak satupun bertahan
Semuanya layu, tiada bersisa
Seiring musim semi berakhir

Yang terindah dari sekuntum bunga
Disaat jatuh tertiup angin
menyebar kesuburan di dalam tanah
Indah bunga pada kematiannya

Banda Aceh, 8 Maret 2005

Beberapa syair syahdu lain:

  1. Maksud Hatiku Padamu; 1 Agustus 2008;
  2. Dinda Dimanakah Engkau Berada; 1 Agustus 2008;
  3. Elegi Puisi Kematian Cinta; 3 Agustus 2008;
  4. Dalam Jubah Sufiku; 3 Agustus 2008;
  5. Dipersimpang Jalan; 3 Agustus 2008;
  6. Puisi Terindah; 3 Agustus 2008;
  7. Maghribi dan East; 3 Agustus 2008;
  8. Surat Kepada Sepotong Masa Lalu; 3 Agustus 2008;
  9. Tahukah Engkau Cinta; 4 Agustus 2008;
  10. Dua Puluh Empat Setengah Tahun; 6 Agustus 2008;
  11. Elegi Pagi Hari, Sebuah Puisi; 7 Agustus 2008;
  12. Cryptogram; 4 September 2008;
  13. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  14. Kita Yang Tak Akan Bertemu Kembali; 9 September 2008;
  15. Benci diatas Cinta; 13 September 2008;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 17 Comments

TAFSIR SANG PENAFSIR

Seorang penafsir tidak lahir dari ruang hampa, ia makhluk sejarah.

TAFSIR SANG PENAFSIR

Di sepetak ruang, di sudut lorong-lorong gelap, berkelok, tak tahu di mana ujungnya. Ruangan tak kalah gelap itu. Hanya cahaya dari balik jendela kecil di atas sana yang lariknya menembus, membelai debu-debu beterbangan, menyapa lembaran kertas menumpuk, berteman kertas, berikut tinta dan pena, tempat menorah. Ada tangis berlapis senyum bahagia. Sungguh tak ada penjara disana. Tiada gentar sama sekali, adalah surga.

Menjalani daif, kesalahan. Siapakah yang memastikan sepanjang jalan kehidupan dalam hari-hari mengalir, ataukah pernah dia menumbuhkan cinta, menetapkan hati. Benarkah ia? Tak ada dendam disana, tak ada rasa ingin membalas, menuntut, atau melakukan tindakan membela diri. Ataukah bebaskah ia? Dari rasa dengki menjadi-jadi. Apakah dengan senyum dan tenang, ia jalani lika-liku kehidupan.

Tidak! Seorang penafsir tidak lahir dari ruang hampa, ia makhluk sejarah.

Karena tafsir selalu berkembang bersama ruang dan waktu, itulah mengapa tidak ada tafsir baku yang tetap sepanjang waktu. Kita tahu setiap tulisan dan tafsir dikemukakan dalam bahasa, dan bahasa dalam keniscayaaannya membentuk sejarah.

Sebuah tafsir, adalah samudera makna yang bergerak, ia bukanlah bendungan makna. Pergerakannya nyaris tak bertepi, sehingga tak bisa pun dikendalikan secara penuh oleh penggubah.

Karena ada saja orang yang terjerat rayuan, tak jarang pula jatuh cinta karena tulisan. Ini semua hanyalah kata-kata. Ada kalanya tanpa disadari, kata adalah jembatan kecil yang bias dijajaki untuk menelusuri ada apa diujung sana.

Karena pembaca yang menentukan. Tiap kali ia bisa berupa makna yang berlapis-lapis. Sehingga menjadi pergulatan yang tak pernah selesai. Seorang Penyair (sering) menyuarakan kebenaran, namun kita tak bisa berharap dunia berubah hanya karena kata-kata semata.

Beberapa renungan:
  1. Raja Hati Vs Perdana Menteri Otak; 3 Agustus 2008
  2. Hari yang Indah; 4 Agustus 2008
  3. Bidadari Fakta atau Fiksi; 12 September 2008
  4. Pahamilah Apakah Hidup Dalam Diri Manusia; 22 September 2008
  5. Topeng; 9 Oktober 2008
  6. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  7. Terima Kasih Telah Menolakku Kemarin; 24 November 2008;
  8. Melebihi Keangkuhan Iblis; 5 Desember 2008;
  9. Malam Yang Tertaklukkan; 10 Desember 2008;
  10. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  11. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  12. Kehidupan Yang Terkadang Paradoks; 30 Januari 2009;
  13. Hantu; 20 Februari 2009;
  14. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  15. Wajah Iblis Sang Malaikat; 12 Maret 2009;
  16. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  17. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  18. Duhai Diriku Mengapa Engkau Bersedih; 13 Mei 2009;
  19. Selamat Kembali Pulang Sahabat; 25 Mei 2009;
  20. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 20 Comments