KENANGAN AKAN GERIMIS

Adakah engkau mengingat, kala gerimis membasahi bumi. Kita berjalan pelan mengharumi aroma hujan.

KENANGAN AKAN GERIMIS

Adakah engkau masih mengingat

Kala gerimis membasahi bumi

Kita pernah berjalan pelan

Mengharumi aroma hujan berdua

 

Ketika gerimis turun

Segala keindahan turun ke bumi

Sebagai tanda rahmat dari sang Pencipta

Bahkan pada insan yang durhaka

 

Ketika itu kita masih muda

Penuh cita dan cinta

Menantang kejam dunia dengan rasa

Dan sekejap saja kita telah menua

 

Tahun demi tahun telah berlalu

Dengarlah suara kematian yang semakin dekat di setiap detiknya

Titik-titik hujan itu jatuh pelan

Aku berpulang dengan perasaan enggan

 

Tahun ini apa yang telah aku lakukan

Tetesan hujan dipunggungku semua tertelan gemuruh dilangit

Sebenarnya aku tak tahu apa yang aku inginkan sekarang

Hanya satu malam saja akan berakhir

 

Pernah merasa jalannya waktu terlalu pelan

Pernah merasa jalannya waktu terlalu cepat

Pernah rasanya ingin mengulang ke belakang

Tapi akhirnya aku tak kembali

 

15 Puisi terakhir

  1. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  2. Orang Asing Yang Terasing; 3 Februari 2009;
  3. Anak-Anak Bermain Bola; 26 Februari 2009;
  4. Dua Puluh Lima Tahun Seperempat Abad Sudah; 2 Maret 2009;
  5. Wajah Iblis Sang Malaikat; 12 Maret 2009;
  6. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  7. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  8. Mencumbui Kematian Sebuah Elegi; 16 Mei 2009;
  9. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  10. Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
  11. Berakhir Disini; 16 Juli 2009;
  12. Cerita Sebuah Gudang; 14 Januari 2010;
  13. Selamat Ulang Tahun Mama; 1 Februari 2010;
  14. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  15. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;

Posted in Cerita, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 11 Comments

TENTANG AKU, KAMU DAN KITA

Sebaik apapun seorang lelaki (atau perempuan), tetap saja ada kebusukkan dan keburukkan didalamnya (begitupun sebaliknya). Maka jangan menganggap bahwa selamanya madu adalah manis, bisa saja ia menjadi racun yang membunuh.

Sebaik apapun seorang lelaki (atau perempuan), tetap saja ada kebusukkan dan keburukkan didalamnya (begitupun sebaliknya). Maka jangan menganggap bahwa selamanya madu adalah manis, bisa saja ia menjadi racun yang membunuh.

TENTANG AKU, KAMU DAN KITA

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya. Hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Sebagai makhluk manusia sangat likuid. Perubahan emosi mampu dengan sekejab memecah “kita” menjadi “kami” bahkan menjadi “aku”. “Aku” dalam bahasa latin berarti “ego”. Maka penyakit “keakuan” diberi nama egoisme.Pada dasarnya manusia adalah “zoon politicon” yang berarti makhluk sosial. Dalam arti manusia tak dapat hidup sendiri. Manusia memerlukan orang lain karena pada dasarnya manusia tidak tahan bila menghadapi kesepian.

Dan “aku” pun bukanlah hal yang statis. “Aku” yang berusia setahun tentu berbeda dengan “aku” yang berusia lima tahun dan begitu seterusnya. “Aku” bahkan tergantung ruang dan waktu, suasana hati dan lingkungan. Manusia dalam sekejap mampu berubah menjadi serigala kapan saja. Dan malaikat disaat tak terduga.

Filsafat adalah ilmu tentang fantasi. Fantasi manusia tentang dirinya, atau lingkungan sekitar. Dalam fantasi terdapat kesempurnaan. Namun kehidupan bukanlah merupakan fantasi karena ia adalah realita. Maka janganlah mengharapkan kesempurnaan pada diri manusia, karena akan kecewa. Fitrah manusia adalah lupa dan lalai. Untuk itulah selama ini nabi turun dikalangan manusia untuk mengingatkan kealphaannya.

Terkadang meski telah dewasa, “aku” pun harus belajar mengenal dirinya lagi. Agar “kamu” tak tersakiti. Agar “kami” menjadi “kita”. Agar kita hidup dalam dunia yang toleran. Agar tak ada yang tersakiti. Sekali lagi karena manusia ketika ia merasa terancam maka ia tak ragu menjadi serigala kepada manusia lainnya. Siapapun lawannya.

Sebaik apapun seorang lelaki (atau perempuan), tetap saja ada kebusukkan dan keburukkan didalamnya (begitupun sebaliknya). Maka jangan menganggap bahwa selamanya madu adalah manis, bisa saja ia menjadi racun yang membunuh

 

XXXXXXXXXX


Posted in Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

MENGAPA HARUS BERKATA

bahwa kita akan menjalani kehidupan yang kotor dan berdebu, meski ada kotoran dan debu di jalan. Kita harus hidup dengan melintasi jalan-jalan itu. Kita harus belajar untuk memilah mana deru dan mana debu.

MENGAPA HARUS BERKATA

Terpujilah para penyair, mereka yang memiliki kebebasan merangkai kata. Mereka yang memiliki kualitas melebihi para ilmuan terbaik disepanjang masa. Kata-kata berusia sama dengan manusia. Mengawali segala ilmu pengetahuan lainnya

Segengam pasir berhamburan

Menjadi saksi terbenamnya sebuah harapan

Langit merah yang berkobar-kobar

Mengiringi lagu amarah bergema

Kala laut lelah menyapu pantai

Terpaku ditiup angin meninggalkan kewajiban

Diantara celah kesempurnaan beku

Coba untuk teriakan getir yang menyala

Diantara bayang-bayang terbakar

Mencari tempat direlung jiwa

Temukan jawaban tuk hati yang terluka

Masih adakah sayang yang tersisa

Dalam kata manusia mencurakan rasa, menertawakan kepedihan dan menangisi kejayaan. Dengan kata manusia memberitahukan apa yang ia rasakan. Kata melahirkan kalimat yang akhirnya menyusun kebudayaan.

Posted in Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , | 6 Comments

POKER FACE

Poker Face

POKER FACE

Tidak semua pertanyaan menjadikan kita lebih pintar. Ketika semua seolah semakin menjauhi rencana. Pernahkan menyadari bahwa apa yang terjadi hari ini adalah dari rangkaian kejadian yang pernah dialami.

Sering, apa yang direncanakan berbeda dengan kenyataan. Hal-hal seperti apa dan akan jadi apa. Samar sebelum hal itu terjadi namun akan jelas apabila berlalu. Jalan kebaikan yang panjang dan melelahkan akan dihancurkan oleh kegagalan sesaat. Dengan jatuh kita memahami makna makna bangkit, dan hanya mereka yang tangguh mampu menghadapinya.

Pernahkah kita menyadari betapa rapuhnya sebuah kehidupan? Satu hantaman akan mengakhirinya. Apabila dibayangkan betapa sulitnya menjaganya bertahun-tahun hingga hari ini. Mungkin takdir, bahwa manusia hari ini menguasai bumi. Sosok makhluk yang tak sekuat ciptaan lainnya mampu menyingkirkan segenap hewan terbuas.

Paradoks, bertentangan dengan apa yang ada. Betapa semakin berkuasa maka manusia menjadi makin lemah. Tahun berganti dengan tahun, ada banyak pertanyaan dalam hidup. Hanya keikhlasan yang mampu mengalahkan segalanya. Ikhlas menjalani setiap kekalahan dan kemenangan. Ikhlas mendapati ada banyak pertanyaan yang belum terjawab meski usia terus bertambah.

Dan ketika merasa tak berdaya ternyata sekali lagi kita harus menyerahkan segalanya pada waktu. Ya aktu akan menyembuhkan luka dan mendewasakan kita, namun sayangnya waktu tak akan pernah kembali. Ia terus melaju dan kadang mengilasmu.

Perlu waktu lama untuk menjadi muda, perlu jiwa yang besar untuk menikmati hidup. Dan mereka yang memiliki Poker Face-lah yang biasanya beruntung. Atau setidaknya kita anggap begitu.

XXXXXXXXXXXXX

Posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , | 9 Comments

MAKNA PUISI YANG HILANG

Syair Hikayat Perang Sabi Koleksi Museum Aceh

Syair Hikayat Perang Sabi Koleksi Museum Aceh

MAKNA PUISI YANG HILANG

Puisi adalah seni tertulis dimana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya sebagai tambahan, atau selain sisi semantiknya. Puisi tidak sebagai jenis literature tapi perwujudan imajinasi manusia yang menjadi sumber segala kreativitas. Puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang akan membawa orang lain ke dalam hatinya. Puisi juga terkadang disebut syair berasal dari bahasa Arab Syu’ur yang bermakna perasaan.

Puisi hanya bertumpu akan kata tanpa alat bantu, disinilah kesulitan seorang penulis atau pembawa puisi untuk menyampaikan perasaan yang terdalam kepada penikmat. Berbeda dengan syair yang diringi oleh musik dan berkompilasi dalam bentuk lagu, menjadikan lagu sangat dinamis. Puisi cenderung statis tapi kita tak akan bisa melupakan bahwa dalam sejarah Indonesia terdapat seorang Chairil Anwar yang mampu mengharubirukan kita akan perasaannya ditahun 1945. Jejak rekam sang maestro tak lekang oleh waktu.

Masyarakat Arab di zaman kuno (jahiliyah) sangat menghormati seseorang jika ia memiliki dua keahlian, pertama bergulat dan kedua bersyair. Dapat dipastikan jika ada seorang yang menjadi jawara dibidang tersebut maka tak pelak ia akan menjadi kebanggaan kabilahnya. Intinya masyarakat di jazirah Arab saat itu menggangumi dua hal yang menjadi paradoks yaitu kekuatan dan kelembutan.

Sesudah agama Islam menyebar di gurun pasir tersebut, kekuatan para penyair pun tenggelam. Para penyair begitu terpesona dengan gaya bahasa Al-Quran sehingga tidak mampu menciptakan sebuah karya syair yang bermutu.

Berabad kemudian ketika Islam sudah menjadi kekuatan yang mapan di Timur dan Barat muncullah banyak sastrawan terkemuka. Formula ilmu Balaghah menjadi jalan perentas munculnya syair-syair bermutu dari zaman itu.

Setiap kebudayaan memiliki tradisi akan puisi, baik itu merupakan tradisi oral maupun tulisan. Dahulu kala semakin berkualitas sebuah kebudayaan semakin baik syair-syair yang dihasilkan. Begitu pula sejarah awal negeri ini memiliki Chairil Anwar, Hamka, H.B Jassin, Sitor Situmorang, Taufik Ismail hingga W.S Rendra. Bahkan seorang Soe Hok Gie berpuisi dieranya.

Berbicara dalam konteks kekinian, dapat dikatakan kita sangat kekurangan empu sastra yang menghasilkan puisi yang berkualitas tinggi. Apakah penyebabnya? Hidup adalah hukum sebab akibat, jika kita melihat dari awal pokok kejadian bisa jadi sistem yang ada menyebabkan seorang brilian muncul kepermukaan. Namun bisa jadi pula masyarakat kita tak mengapresiasi lagi dengan layak sebuah puisi. Di era modern mainset orang telah terkontaminasi dengan materialisme yang membuat jiwa semakin kering, seni menjadi hambar dan sebuah puisi menjadi kering.

Disiplin ilmu pasti telah membuai kita, tak salah memang. Namun apa indahnya Matematika bila sebuah puisi tak melengkapinya. Di zaman semua orang bisa berbicara sebebas-bebasnya bahkan seorang Iwan Fals menolak menciptakan kritik sosial melalui sebuah lagu, seperti dahulu. Terlalu banyak kritikan bising hanya akan membuat sebuah mahakarya menjadi suara sumbang. Kuat kemungkinan bahwa krisis multidimensi yang menimpa bangsa ini dikarenakan kita atau sebagian besar dari kita kehilangan makna akan puisi. Siapa tahu?

Setiap zaman memiliki fenomena, setiap masa memiliki permasalahannya sendiri. Namun ada yang selalu sama layaknya asmara. Asmara adalah sesuatu hal yang tak lekang ditelan zaman. Dari zaman Nabi Adam dan Siti Hawa hingga saat ini ia tak pernah habis menjadi bahan cerita maupun bacaan. Ia menggetarkan kehidupan siapapun yang terbuai oleh pesona kemolekkan daya tarik miliknya. Boleh tanya siapapun, ia adalah sebuah kenikmatan hidup impian setiap anak manusia walau ia diacuhkan, ditangkal atau bahkan diinjak-injak.

Namun apakah sesuatu hal yang lebih menggetarkan dibanding asmara? Mungkin setiap pribadi memiliki jawaban berbeda, tergantung latar belakang dan karakter seseorang. Jika anda bertanya kepada seseorang Muhammad Hatta sebelum tahun 1945 ia akan menjawab kemerdekaan, bisa saja ini merupakan ungkapan hati seseorang yang pernah bersumpah tidak akan menikah sebelum Indonesia Merdeka. jika anda bertanya kepada seorang Tan Malaka, seseorang yang hidupnya lebih dahsyat dibanding fiksi, mungkin ia akan menjawab petualangan! Demi meraih kemerdekaan orang dari Bukittinggi tersebut mengarungi luas cakrawala dunia dengan menjejakkan kaki dari Manila sampai Rusia. Setiap orang boleh berhak untuk berbeda pendapat. Namun apalah artinya semua itu apabila kita tak mampu mengejawantahkan dalam sebuah kisah yang penuh perasaan dalam sebuah syair.

Dalam sebuah puisi terdapat kearifan hidup, filosofi tentang ketabahan dan memahami rasa sakit maupun gembira sekaligus. Syair dan sains adalah dua hal yang berlawanan namun sesungguhnya saling melengkapi. Umar Kayyam seorang astronom ulung dizamannya sekarang ini lebih terkenal sebagai seorang sastrawan karena jejak yang ia tinggalkan.

“Bersyairlah karena ia melembutkan hati.” Dalam syair terdapat kekuatan tersembunyi, ia bisa melenakan namun ia juga memiliki kemampuan untuk membakar semangat. Jangan sampai kita kehilangan maknanya.

XXXXXXXXX

Artikel-artikel lain:

  1. Tafsir Sang Penafsir; 19 September 2008
  2. Selamanya; 14 Desember 2008;
  3. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  4. Memoar Romantik; 15 Juni 2010;
  5. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  6. Bermain Dengan Waktu; 21 Mei 2011;
  7. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  8. Sebuah Pusaka Untukmu Anakku; 2 September 2012;
  9. Mencari Belerang Merah; 25 Agustus 2013;
  10. Cinta Sebesar Cinta; 10 Mei 2014;
  11. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  12. Belajar; 19 November 2015;
  13. Dimana Ada Cinta Disana Tuhan Ada; 7 September 2016;
  14. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  15. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
Posted in Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 10 Comments

YOUNG AND PURE

Young and Pure

YOUNG AND PURE

children playing ball in the rain
the joy of togetherness

the kids play ball without the burden of misery
without a shadow of fear

children playing ball in the vastness of the universe
without the veil of hypocrisy

reality if the world like this
how beautiful

Year after year passed
and during that time has passed

the children were playing and keep playing
let’s make this world peace as their hearts

Stay young and pure in our souls
although we have been getting older

 

Posted in International, Literature, Poetry | Tagged , , , , , , , , , | 6 Comments

ADDIO LHOKSEUMAWE

Sahabat-sahabat di Lhokseumawe

ADDIO LHOKSEUMAWE

Hidup adalah cerita tentang datang dan pergi, seperti halnya seorang bayi yang pertama dilahirkan dimuka bumi, kelak apabila takdir menuntunnya dia akan melewati fase kanak-kanak, remaja, tua dan akhirnya meninggalkan dunia. Apa yang dibawa itulah yang akan dipertanggung jawabkan nanti, di hari akhir.

Hampir tujuh tahun, bukanlah periode yang pendek bagi Abu untuk bertugas di kota ini. Ya, Abu datang sebagai pemuda yang baru menginjak dua puluh satu tahun. Dan sekarang sudah hampir dua puluh delapan tahun. Ada banyak kesan dan pengalaman sudah terlewati disini, suka maupun duka.

Sebagai orang yang telah terhitung lama bertugas di kota ini, Abu telah banyak menghadiri perpisahan dengan orang-orang. Semua dengan cepat datang silih berganti hingga tiba saat kepada Abu untuk pergi. Dan menghadiri perpisahan untuk diri sendiri. Kepindahan Abu ke tempat yang baru adalah sebuah fitrah manusia sebagai makhluk yang senantiasa bergerak.

Lhokseumawe, sungguh Abu sudah merasa merupakan bagian dari kota ini. Disini Abu menemukan cinta, sahabat, dan segalanya. Sehingga sangat berat untuk meninggalkan kota ini. Sebuah perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dan hanya dapat diungkapkan dari hati ke hati.

Hari ini adalah hari terakhir Abu bekerja di kantor ini. Sebuah Surat Keputusan menempatkan Abu kembali ke kampung halaman, Banda Aceh sekitar 260 km. Tak jauh memang, namun Abu teringat bahwa kota ini selalu meninggalkan kerinduan yang mendalam bahkan ketika Abu belum meninggalkannya.

Kota ini telah mempertemukan Abu dengan orang-orang terbaik, yang mungkin tidak akan pernah Abu kenal atau bahkan temui jikalau tetap berada dikampung halaman. Sebuah hal yang membuka cakrawala berpikir dan meningkatkan kualitas diri.

Di kota ini Abu belajar menulis sepatah dua patah kata, menuntut ilmu, bertemu sahabat-sahabat dan akhirnya menemukan cinta. Di kota ini jua Abu merasa tumbuh sebagai seorang laki-laki dewasa, melewati fase remaja. Tentunya Abu bukanlah seorang tanpa cela, untuk itu dengan penuh kerendahan hati Abu memohon maaf atas segala kesalahan yang telah diperbuat.

Ke depan ditempat yang baru, tentunya tantangan akan semakin berat. Setiap perubahan belum tentu akan membawa perbaikan, namun perlu diingat pula bahwa tidak akan ada perbaikan tanpa perubahan. Apapun yang terjadi ke depannya Abu selalu merasa bahwa diri ini adalah bagian daripada kota ini.

Saat berpisah harus menyapa // Aku tak ingin meneteskan air mata // Aku tak ingin kau berduka // Karena hati kita tetap bersama // Salam hangat // Kita akan bertemu kembali dalam waktu yang lain dengan suasana keakraban yang sama //

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , | 1 Comment

SETIAP ORANG HINGGA KEMATIANNYA

Setiap orang hingga kematian

SETIAP ORANG HINGGA KEMATIANNYA

Setiap orang harus memilih antara kebaikan dan keburukan sepanjang hidupnya, namun kehidupan tidaklah berupa hitam dan putih yang terkadang memaksa kita memilih jalan yang tak selamanya putih ataupun hitam. Hidup adalah kondisi, dimana lingkungan terkadang menempatkan orang baik di sisi jahat dan orang jahat di posisi baik.

Kehidupan bukanlah berupa dongeng yang indah, dimana dalam sebuah pembebasan para tokoh Protagonis tak selamanya berhati murni dan memiliki akhlak mulia, terkadang kita harus melihat dengan mata kepala sosok-sosok oportunis dipuja sebagai pahlawan setelah revolusi selesai.

Abu selalu terpesona akan Idrus yang melalui romannya yang ternama, “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” menjadi tonggak karya pembaharuan prosa Indonesia. Idrus bersama Chairil Anwar menjadi pelopor sastrawan Angkatan ’45. Yang sayangnya terlupakan. Berbeda dengan Chairil Anwar yang berapi-api, Idrus lebih detil menyikapi revolusi Indonesia, ia melihat bahwa potensi bandit-bandit yang menyusup dalam perjuangan, dengan keberingasan khas yang kelak kita tuai akibatnya di era pembangunan. Dikarenakan karakter tulisan Idrus tersebut, mengundang tekanan politik dan sikap permusuhan yang dilancarkan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat, Idrus terpaksa meninggalkan tanah air.

“Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma,” mengingatkan Abu pada sebuah kisah semasa duduk dibangku sekolah menengah pertama, SLTPN 1 Banda Aceh. Ketika itu Kepala Perpustakaan, Nilawati S.pd panik karena inventaris roman “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” berkurang satu buku dari total dua buku. Dan Abu tercatat sebagai peminjam terakhir dari buku tersebut, segera melalui anak beliau yang kebetulan sekelas dengan Abu yaitu kelas 3-8 ditahun 1999, Danil Erlanda. Abu pun dipanggil menghadap untuk beraudiensi tentang hilangnya buku tersebut.

Adalah salah jika para pembaca menganggap Abu berhati suci, sebagai manusia tentunya tersimpan kebusukan dihati, mungkin tidak terlihat oleh siapapun. Namun Abu mengetahui isi hati sendiri. Ketika membaca roman tersebut, Abu sebegitu terpesonanya sehingga berniat mencurinya dengan tidak mengembalikan ke perpustakaan. Dan Abu memang sudah benar-benar berniat untuk itu, namun entah mengapa ditengah malam Abu terjaga. Begitu bagusnya Roman tersebut sehingga Abu tak tega merampas hak-hak generasi selanjutnya untuk membaca mahakarya Idrus tersebut. Dan Abu menyesali niat jahat Abu tersebut.

Dan Abu masih memiliki kejahilan lainnya, sebelum mengembalikan buku tersebut. Di halaman belakang Abu menuliskan sesuatu, sebuah rekomendasi untuk membaca buku tersebut kepada siapapun yang sedang membolak-balikkan buku “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma,” karena panjangnya rentang waktu kebelakang maka Abu kesulitan mengingat kata-kata apa yang tertulis dengan pulpen biru tersebut, yang jelas Abu menuliskan nama dan menandatanganinya.

Akhirnya keisengan tersebut menyelamatkan reputasi Abu, karena dengan jelas dan meyakinkan dapat membuktikan bahwa satu buku yang tersisa di inventaris adalah buku yang Abu pinjam. Tentunya ibu Nilawati S.pd berkerut kening membaca rekomendasi Abu, walau beliau memprotes keras kelakuan Abu yang menodai aset bersejarah tersebut.

Namun akhirnya tak ada yang tersisa, ketika gelombang Tsunami menghancurkan kota Banda Aceh, SLTPN 1 rata dengan tanah. Perpustakaan SLTPN 1 yang termasuk paling lengkap di Provinsi Aceh saat itu lenyap tak berbekas. Di tahun 2005, Abu sempat bertemu dengan Danil Erlanda di sebuah SPBU ketika hendak mengisi bensin motor dan menanyakan keadaan ibu beliau, dalam pertemuan singkat ia menceritakan bahwa ibu Nilawati S.pd adalah salah satu orang yang hilang ditelan ombak besar yang menyapu pesisir barat Sumatera di hari minggu 26 Desember 2004 tersebut. Abu mengingat beliau sebagai seorang Pustakawan yang gigih, cerewet dan detil. Namun beliau membebaskan murid-murid meminjam buku berapapun sekaligus dalam jangka waktu pengembalian seminggu. Tak selayaknya hasrat membaca dihalangi dengan jumlah buku, begitu filosofi beliau. Tak heran biasanya Abu meminjam 5 sampai 12 buku setiap harinya, kemudahan yang tidak pernah Abu jumpai dikemudian hari, di perpustakaan manapun.

Pertengahan Oktober 2011, dalam sebuah perjalanan dinas ke Jakarta. Garis takdir membuat Abu menemukan buku “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” di Thamrin City yang diklaim sebagai pusat buku ex kwitang. Salah satu dari beberapa buku buruan Abu sepanjang masa berhasil dimiliki. Sebuah buku, sebuah cerita dan sebuah obsesi sejarah. Seperti hidup ia begitu rapuh.

Orang bijak berkata, kehidupan seseorang layaknya sebuah buku. Bila ingin mengetahui segalanya kita tidak akan mampu bila hanya membaca satu halaman saja. Dan sebuah buku memiliki akhir, dan manusia tidak seperti makhluk lain yang hidup di muka bumi. Manusia menyadari bahwa suatu hari ia akan bertemu dengan sebuah fase yang dinamakan kematian. Abu juga seorang manusia, dan kelak akan menghadapi kematian sebagai makhluk fana. Dan sebuah kenangan akan menjaga manusia walau dia telah pergi, mungkin karena itu Abu gemar menulis, dulu di buku perpustakaan yang Abu anggap berkualitas, dibuku yang Abu miliki, sekarang dalam bentuk blog. Dan diam-diam dihati kecil Abu berharap suatu hari kelak dapat menghasilkan buku sendiri. Karena seorang manusia ingin diingat, bahkan setelah kematiannya.

“Saya ingin mencintai kematian selayaknya saya mencintai kehidupan”

XXXXXX

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

FILOSOFI GOB

 

Dalam budaya, setiap penjaga moral menjadikan “gob” sebagai “hantu” untuk menakuti orang yang dianggap melenceng dari norma yang berlaku umum

FILOSOFI GOB

Gob bisa berarti orang lain. Gob adalah anarsir diluar lingkungan yang mendengarkan, tidak termasuk kepada organ-organ formal dan informal. Gob adalah anarsir bebas yang tak terduga. Gob adalah sekumpulan individu dengan ragam latar belakang yang membentuk pola penjagaan terhadap norma.

Dalam budaya, peran Gob diluar pihak orang tua, tengku Imuem, Geuchik, Camat, Guru, Bupati maupun sekaligus. Gob merupakan gerombolan orang yang bisa jadi tidak mengenal satu sama lain sekalipun. Menguasai moral yaitu hal-hal baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak, budi pekerti dan susila. Gob mengambil tindakan ekstrim yang menghukum berbagai ragam cara, dan tidak selalu frontal tentunya.

Dalam budaya, setiap penjaga moral menjadikan Gob sebagai “hantu” untuk menakuti orang yang dianggap melenceng dari norma yang berlaku umum. Orang tua memperingatkan anaknya, guru menasehati muridnya, Tengku menegur muridnya. Gob dijadikan tameng pelindung untuk menjaga marwah dan wibawa mereka.

Ketika lembaga formal mulai bicara moral, merumuskan norma. Maka secara sistematik peran Gob terkikis. Ibarat senjata Gob menjadi ketinggalan zaman dan kurang terasa gaungnya. Akibatnya masyarakat menjadi permisif terhadap pelanggaran norma.

Gob lebih memahami norma dibandingkan lembaga formal. Pengejawantahan dari turutnya lembaga formal dalam mengatur norma adalah munculnya perangkat, baik itu berupa sumber daya manusia dan peraturan dan itu berlaku statis, disemua tempat dimana lembaga formal itu menaunginya. Dan itu tidak bisa, norma memiliki cakupan wilayah yang terbatas, dan corak yang beragam.

Pengkodifikasian norma malah menjadikannya sebagai hukum. Karena telah resmi dan dianggap mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa , pemerintah, atau otoritas melalui lembaga atau institusi hukum. Dan itu menghilangkan esensi norma yang sejatinya selalu berkembang seiring dengan kesepakatan-kesepakatan masyarakat.

Lembaga formal tidak akan pernah bisa mengontrol moral, menjadikan penjaga moral berseragam bukanlah solusi. Aparat tidak bisa menetukan nilai yang dipegang masyarakat yang merupakan salah satu elemen dalam pembentukan moral. Etika sebagai teori dan moral dalam bentuk aplikasi begitu dinamis. Dia bukanlah hukum yang jelas hitam dan putihnya. Dan ketidakmampuan menjalankan wewenang ini akan mengundang bencana.

Masalah yang pertama adalah, ketidakmampuan mengatur norma secara menyeluruh. Lembaga Formal memiliki keterbatasan dalam hukum tata acara dan bersifat kaku. Dalam hal ini suatu yang bersifat kepantasan atau wajar sangat sulit mengukurnya. Dan lembaga formal tak akan memahami apa yang Gob pahami. Dan jelas ini menurunkan kewibawaan Lembaga Formal dihadapan para pendukung penjagaan moral dan membuat apatis bagi yang menentang sistem ini. Intinya Lembaga Formal dalam posisi tersudut.

Masalah yang kedua, munculnya oknum dalam lembaga Formal. Berbeda dengan Gob yang merupakan anarsir bebas, lembaga Formal memiliki seragam atau setidaknya memiliki registrasi. Dan penyimpangan oknum akan lebih mudah terdeteksi, dan nyata-nyata akan membuat menilai lembaga Formal tersebut menjadi bahan olok-olokan dan yang tak terampunkan adalah citra pemerintah sendiri menjadi terpuruk.

Masalah yang ketiga, untuk menjaga citra dan menghindari sanksi akan terjadi kemunafikan massal. Semua pihak akan saling mengerti, bahwa melanggar itu sebuah kelumrahan. Penegakkan akan tetap dilakukan untuk menjaga citra, namun hanya dilakukan kepada mereka kaum kelas bawah. Peraturan hanya ditegakkan kepada yang tak memiliki akses kepada kekuasaan. Yang dengan pasrah menerima penghukuman.

Dan yang paling berbahaya adalah masalah keempat, yaitu munculnya lembaga swadaya pengawasan moral, mengatasnamakan agama ataupun lembaga pendidikan tertentu. Muncul akibat ketidakmampuan lembaga formal mengatasi masalah moral dan didorong kemuakkan atas kemunafikan yang merajalela. Organisasi swadaya ini merupakan sisi gelap Gob yang paling kelam. Organisasi tanpa bentuk dan struktur yang jelas. Cenderung anarkis dan bergerak atas nama panji-panji moral memberangus siapa saja dengan brutal. Namun selalu saja yang biasa menjadi korban adalah golongan kebawah.

Filosofi merupakan pemikiran yang selalu berkembang dari masa ke masa. Dia tidak statis mampu berkembang sesuai perkembangan zaman. Namun ia juga bisa tergerus oleh perkembangan zaman. Bukan hendak melihat kebelakang, namun alangkah baiknya jika kita mampu mengkaji kebijakan leluhur yang dirumuskan oleh para indatu. Dan mampu bertahan sampai berabad-abad lamanya.

Sejarah itu bukan hanya untuk dibanggakan atau dikenang semata, ia memilki nilai pembelajaran. Dimana setiap anak manusia bisa memetik nilai-nilai kebenaran yang tersimpan. Ketidakmampuan melihat secara jernih akan membodohkan, namun secara jernih dapat terlihat kebijaksanaan dari kisah-kisah yang dapat dipetik dari generasi lampau.

Setiap bangunan yang hancur dapat dibangun kembali dalam waktu singkat, namun adat istiadat yang rusak akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membangunnya kembali.

“MATEE ANUEK MUPAT JIRAT, MATEE ADAT HANA MUPAT MITA”

Dimuat pada Harian Serambi Indonesia Edisi 9 Oktober 2011.

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  5. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  6. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  7. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  8. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  9. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  10. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  11. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  12. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  13. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  14. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  15. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  16. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  17. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  18. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  19. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  20. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  21. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  22. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  23. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  24. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  25. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  26. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  27. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  28. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  29. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  30. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  31. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  32. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  33. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  34. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  35. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  36. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  37. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  38. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  39. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  40. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 114 Comments

SEJARAH SYAHDU SEBUAH NEGERI

Sejarah negeri ini dipenuhi dengan cerita romantik para heroik. Revolusi telah memanggil jiwa-jiwa anak bangsa menjadi syahdu dalam Indonesia Raya.

SEJARAH SYAHDU SEBUAH NEGERI

Sejarah negeri ini diawali dalam ruang pengap dan sempit, suatu hal yang memanggil adalah rasa kecintaan kepada negeri yang masih merupakan mimpi saat ini, yang dicita-citakan bernama Indonesia. Sejarah negeri ini dipenuhi dengan cerita romantik para heroik. Revolusi telah memanggil jiwa-jiwa anak bangsa menjadi syahdu dalam Indonesia Raya.

Itu dulu, alangkah celaka apabila masa lalu lebih baik dari pada sekarang. Para pendiri bangsa adalah orang-orang yang idealistis. Namun sekarang seolah tiada bekasnya. Penyakit di dunia ketiga yang paling kentara adalah ketika sebuah negeri yang mayoritas dihuni oleh orang-orang baik namun dipimpin oleh sekelompok orang yang berhati busuk.

Alangkah malang jika sebuah negeri diimpin oleh mereka yang suka berpura-pura, lain dimulut lain dihati. Namun kemalangan yang melebihi hal itu adalah kesediaan masyarakatnya menerima penipuan itu dengan ikhlas. Maka kemalangan apa yang mampu melebihi hal ini.

Negara kita pernah hanya menjadi cita-cita, dan akhirnya ketika terwujud ia selalu membawa harapan. Bahkan sampai hari ini. Yang kita rindukan adalah seorang pemimpin yang mampu membawa kita melalui ini semua. Sebaik-baiknya pemimpin adalah yang membawa harapan dan mampu mengejawantahkan dalam semangat menggebu.

Agustus ini, kita akan memperingati lahirnya sebuah bangsa. Sebuah Negara yang di bangun secara bersama oleh berbagai suku bangsa. Yang pernah terkoyak oleh berbagai konflik bahkan sejak sebelum berdiri. Kita adalah bangsa yang mengenal betul arti kata tumpah darah. Mengingat kemerdekaan di raih dengan banyaknya darah yang tumpah.

Agustus ini, jangan bicara tentang nasionalisme terutama dengan lantang. Karena kita sudah terbiasa melihat orang-orang berkata tentang nasionalisme dengan gegap gempita secepat angin berbalik arah mengkhianatinya. Mungkin, sebaiknya nasionalisme lebih baik dalam diam. Namun tulus.

Dirgahayu negeriku, Republik Indonesia.

XXXXXXXXXXXXX

Posted in Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments