RISALAH SANG DURJANA BAGIAN EMPAT BELAS

Risalah Sang Durjana tampak samping

Risalah Sang Durjana tampak samping

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN EMPAT BELAS

Ada Tuhan yang mengilhami Anda

Wahai Raja Willem, raja kami

Suatu titik gemilang dalam hidup Anda

Menyematkan satu bintang lagi di dada

 

Bahwa Anda dalam rumah kecil, jauh dari benteng

Mendatangi seorang ayah tua berhati tabah

Menghiburi hatinya nan sedih menangisi

Putra tewas di depan benteng Aceh

(Sajak Gouverneur dalam Gerlach III halaman 118)

 X

Ini adalah suatu masa di mana Aceh memiliki penduduk yang kebanyakan namun dikelola oleh mereka yang memiliki pengetahuan yang baik, pemerintahan berdasarkan klaim sejarah yang benar dan bukan propaganda belaka. Saat-saat itu sudah tidak ada lagi sekarang. Untuk mengenang sekaligus bernostagia baiknya kita menyimak cerita ini.

Menjelang akhir abad ke-19, Aceh merupakan pengecualian dari semua daerah yang pernah diperangi oleh Belanda di Nusantara. Aceh bisa bertahan cukup makmur tanpa Belanda turun tangan. Aceh memiliki hubungan ekonomi dan politik internasional dan pada tahun 1873 paling tidak terdapat seorang pemimpin dengan kecerdasan pengetahuan dunia yang unggul, yaitu Perdana Menteri Habib Abdurrahman Zahir.

Perdagangan Aceh dengan luar negeri dalam hal ini ke Pulau Pinang terdiri dari ekspor tiap tahun 140.000 pikul merica, kira-kira sembilan ribu ton. Merupakan sebagian besar dari keseluruhan perdagangan dunia dalam hasil bumi merica. Taksiran kasar Aceh mempunyai setengah juta orang penduduk, sebagai perbandingan seluruh Jawa pada saat itu memiliki penduduk dua puluh juta.

XX

Bandar Aceh Darussalam tahun 1873

Krueng Daroi, mengalir dengan perlahan-lahan dengan seninya, melalui Istana Sultan Alaiddin Mahmud Sjah, membelah tanah Keraton Aceh, tempat prajurit-prajurit Serambi Mekkah berjaga-jaga. Tepi pantainya yang landai tempat puteri-puteri istana simbur menyimbur pagi petang, tempat gahara istana bercengkrama, tempat kembang-kembang mahligai melepaskan pandangannya arah pegunungan indah jelita itu suatu taman Puteri Iskandar Muda bercanda dan bersuka ria.

Petang kian lama kian menganjur surut perlahan-lahan, makin sesaat cahaya kekuning-kuningan yang dihaburkan oleh sang surya kian pudar. Lukisan keindahan bibir angkasa barat, aneka pelangi warnanya, puspa rupa coraknya.

Istana Kesultanan Aceh pada masa puncak kejayaan abad -XVII

Istana Kesultanan Aceh pada masa puncak kejayaan abad -XVII

Seekor kuda dengan tangkas memacu dengan lancar, orang tersebut turun menuju pendopo, pintu gerbang masuk ke istana Darud Donya. Sesudah ia menyatakan maksudnya kepada prajurit-prajurit pengawal di pendopo tersebut, maka ia diperbolehkan untuk menghadap Baginda Sultan. Baru saja ia duduk dihadapan Baginda dengan tangkas. Ia membawa berita keributan di laut kepada Baginda Sultan dengan sopannya, lalu ia berkata. “Ampun Duli Tuanku, patik ini bernama Ahmad, salah seorang pemimpin kapal pengawal Negara Aceh, atas perintah Tuanku Hasyim Bangta Muda, dari gabungan armada pengawal datang menghadap Duli Tuanku untuk menyembahkan warta keributan di laut sejak tadi siang tadi.”

“Keributan di laut? Dengan siapa gerangan?” Tanya Baginda

“Dengan Belanda tuanku.”

“Dengan Belanda? Ceritakan terus?”

“Kapal-kapal Belanda dengan cara membabi buta telas melepaskan tembakan-tembakannya sehingga banyak penduduk pantai yang tewas. Kami mencoba mengejarnya, berlangsung pertempuran, mereka melarikan diri, namun ada dua kapal Belanda yang terbakar dan..” Ia terdiam beberapa saat.

“Hamba menyampaikan laporan berupa surat dari Panglima Tuanku Hasyim Bangta Muda.”

Ahmad menyerahkan surat kepada Perdana Menteri Habib Abdurrahman Az Zahir. Setelah Perdana menteri membacanya dimana Panglima meminta keputusan apakah pertempuran diteruskan ataupun jangan. Keputusan itu musti dijawab oleh orang-orang besar yang turut di dalam ruangan istana, semua terhenyak, sedang Baginda Sultan merah pada mukanya, dalam keadaan itu Perdana Menteri bersabdalah, “Malam ini juga diadakan siding di Balairung sari!”

Ahmad hendak berbalik ketika Baginda Sultan memanggil, “Durjana kemari! Perdana Menteri juga, yang lain silahkan menuju balairung.”

Ia mendekat kepada Baginda Sultan.

Baginda berbisik pelan, “Durjana, kami mengetahui kehebatanmu di laut, sebagai Sultan aku ingin mengirimmu dalam satu misi, mengawal Perdana Menteri meminta bantuan Turki.”

Durjana terdiam, “mohon ampun paduka hamba tidak bisa.”

“Mengapa?” Baginda Sultan terlihat semakin marah.

“Masa lalu hamba tidak terlalu baik di Eropa tuanku, hamba menjadi incaran banyak tentara penjuru Eropa, kepergian hamba akan mempersulit tugas Perdana Menteri sendiri.”

Habib Abdurrahman memejamkan mata, kemudian mengangguk. Sedang Sultan masih terlihat tidak puas.

“Cepat atau lambat, Belanda akan menyerang kembali. Saya mohon Duli Tuanku mengizinkan hamba membantu Panglima Hasyim Bangta Muda mempersiapkan pertahanan, hamba merasa bahwa akan lebih berguna berada disini.”

Sultan terdiam lama, “Dalam keadaan damai kamu tidak akan hidup lama karena menolak permintaan Sultan, tapi sudahlah. Perdana Menteri coba kau bujuk dia, aku akan menuju balairung kamu menyusul.” Baginda Sultan beranjak keluar ditemani dua prajurit pengawal.

Dalam hati Ahmad berkata, “dalam keadaan damai, beta tak akan pulang ke negeri ini.”

Habib Abdurrahman Az Zahir menatap Ahmad alias Durjana, mencoba mengukur kedalaman hati sang durjana, ia terdiam lama. Sampai akhirnya ia merasa yakin.

“Meuraksa, Samalanga dan Pereulak berkhianat! Apa pendapatmu sang Durjana?”

“Hati adalah sesuatu yang berbolak balik tuanku, hamba hanya mendengar desas-desus. Tapi belum tentu benar. Belanda menaklukkan Nusantara dengan adu domba, dengan menanamkan keraguan terhadap kawan sekitar.”

“Mata-mata kita telah memastikan hal itu.”

“Mungkin benar Tuan Perdana Menteri, seperti yang anda ketahui beta hanya seorang prajurit bukan ahli strategi. Harapan hamba berita itu tidak benar.”

Perdana Menteri tertawa, “harapanmu sama seperti Baginda Sultan sendiri, kurang lebih.”

“Sekarang katakan kenapa kamu tidak ingin menemaniku ke Turki? Alasan yang sebenarnya.”

“Kurang lebih sama pula seperti yang beta katakan kepada Baginda Sultan.”

“Ada yang lain lagi?”

Durjana menarik nafas panjang. “Ada.”

“Katakan!”

“Hamba tidak percaya akan membantu kita.”

“Bagaimana bisa?”

Durjana menatap Habib Abdurrahman. “Di Eropa, Turki dijuluki orang sakit. Dan orang sakit tidak akan membantu kita apa-apa. Dulu ketika Bayazid II memerintah Turki kuat, tapi ia mengindahkan permohonan bantuan dari Andalusia dari pendudukan Spanyol. Apalagi sekarang?”

Habib Abdurrahman Az Zahir tersinggung, “Kamu meremehkan kekhalifahan Turki? Sebagai penjaga rumah daulah Islamiyah.”

“Bukan hanya Turki Tuan Perdana Menteri. Inggris, Amerika atau Italia tidak akan membantu kita sama sekali, kita mempertahankan kemerdekaan ini hanya dengan usaha sendiri, untuk itulah beta berada disini, berjuang melindungi apa yang beta cintai. Mohon jangan paksa beta pergi Tuanku.”

Perdana Menteri terlihat kecewa, “kemampuan navigasimu akan sangat membantu, sayang aku kecewa terhadap cara pandangmu.”

“Maka Tuanku, buktikanlah bahwa beta salah. Beta lebih senang bila begitu.”

Perdana Menteri tersenyum, “baiklah durjana, pertahankan negerimu sampai aku kembali.”

Habib Abdurrahman beranjak pergi menuju balairung, malam itu juga Ahmad kembali menuju pantai Gigieng, sebab disanalah terjadi pertempuran. Ia memacu kudanya dengan lancar. Setelah habis pertempuran tersebut Belanda mengirimkan nota kepada Gubernur Jenderal di Batavia. “TENTARA LAUT ACEH MEROMPAK DI SELAT MALAKA” Ada kalanya dalam pertempuran di kemudian hari Belanda di beri bantuan oleh kapal-kapal Inggris meskipun dengan menaikkan bendera Belanda di tiang kapalnya. Kekejian politik penjajahannya inilah membuat pasukan Aceh tetap mengambil kesimpulan, bahwa dalam waktu dekat Belanda akan mengadakan serangan besar-besaran ke Aceh untuk menduduki Kesultanan terakhir merdeka di Nusantara, Aceh Darussalam.

XXX

Habib Abdurrahman Az Zahir berhasil mencapai Turki, ia terus berusaha mengetuk pintu Turki Utsmaniyah walaupun dia tidak berhasil menghadap sultan, tindakannya hebat dan mengesankan Belanda sekalipun. Ada serangkaian tiga dokumen yang berkaitan yang di dalamnya menyatakan bahwa Sultan Aceh menyerahkan kerajaannya, kawulanya dan dirinya sendiri kepada khalif, dan memohonkan kepadanya agar menguasai harta miliknya serta mengangkat seorang Komisaris Pemerintah Turki di Aceh. Pendapatan kerajaan dari cukai lada yang dimiliki oleh Sultan Aceh dirinci dengan teliti. Segala-galanya dilengkapi menurut selayaknya dengan cap Sultan tujuh rangkap serta tiada diragukan keasliannya.

Namun Belanda, dibantu Rusia, Perancis, Jerman dan Inggris berhasil menekan Turki. Dan akhirnya Istambul lepas tangan terhadap nasib Aceh, mereka berkata, “Kami tidak ada urusan dengan bangsa barbar seperti itu.” Menjaga nama baik mereka mengeluarkan nota diplomatik pada bulan Agustus 1873. “Bahwa Belanda dibolehkan campur tangan yang menginginkan perdamaian dan bersifat kemanusiaan yang menguntungkan Aceh.” Belanda memperoleh kemenangan diplomatik penting, dan segera mengesampingkan nota tersebut.

Tidak semua impian Kekhalifan berakhir indah. Ketika Kekhalifahan Turki memilih tidak menolong Aceh, maka Kesultanan Aceh-lah yang dapat menolong dirinya sendiri. Habib Abdurrahman Az Zahir meninggalkan Istanbul dengan perasaan sangat jengkel terhadap hasil misinya.

Dan Belanda segera mempersiapkan serangan kedua.

XXXX

Khalifah Turki menjadi angkara

Mengatakan Aceh barbar belaka

Tinggal Aceh sebatang kara

Berharap pertolongan Allah semata

XXXXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 35 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA BELAS

Pasukan Aceh memberikan perlawanan yang gigih dengan membendung arus penyebrangan tentara Belanda. Tentara Belanda terus maju menerobos pertahanan Aceh dengan alatnya yang lengkap dan serba modern. Dalam terobosan-terobosan ini terjadilah perang tanding, seorang melawan seorang dimana prajurit Aceh maju dengan kelewang yang sukar bagi Belanda menghadapinya dalam jarak dekat. Namun dengan keunggulan persenjataan dan keahlian pasukan Belanda terus maju.

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA BELAS

Sejak saat pertama, Perang Aceh secara militer pun lain daripada semua perang terdahulu. Artileri orang Aceh pun lebih baik daripada yang pernah mereka hadapi. Pada hari pertama Citadel van Antwerpen terkena dua belas tembakan meriam. (De Atjeh-Oorlog, Paul van’t Veer)

Pantai Ceureumen, 6 April 1873

Alam, pantai Aceh yang berawa-rawa dengan pepohonan tinggi menjulang dibelakangnya tidak memungkinkan melakukan pengamatan visual yang agak mendetil. Akhirnya, delapan kapal hitam maju menuju daratan Aceh.

Citadel Van Antwerpen Pantai Ceureumen, 6 April 1873

Citadel Van Antwerpen Pantai Ceureumen

Saat-saat yang dinanti tibalah. Belanda mendaratkan pasukannya dan terus menyerbu Meuraksa dengan lindungan meriamnya. Maka terjadilah perang laut yang seru dan saling tembak-menembak. Pasukan Aceh memberikan perlawanan yang gigih dengan membendung arus penyebrangan tentara Belanda. Tentara Belanda terus maju menerobos pertahanan Aceh dengan alatnya yang lengkap dan serba modern. Dalam terobosan-terobosan ini terjadilah perang tanding, seorang melawan seorang dimana prajurit Aceh maju dengan kelewang yang sukar bagi Belanda menghadapinya dalam jarak dekat. Namun dengan keunggulan persenjataan dan keahlian pasukan Belanda terus maju.

Mayor Jenderal J.H.R Kohler, Panglima tertinggi militer ekspedisi terhadap Aceh berkacak pinggang dengan geram, sebagai komandan teritorial Sumatera Barat ia belum pernah mengalami pertempuran gila seperti ini, ia memanggil komandan kedua, Kolonel E.C van Daalen dan berkata, “seharusnya pendaratan pasukan yang begitu besar di Nusantara seperti yang kita lakukan dihadapi dengan penarikan mundur musuh yang terorganisasi secara umum, apa yang dipikirkan Aceh gila ini sehingga mereka maju?”

Kolonel van Daalen tersenyum, “ini bukan perang biasa, kita menghadapi bangsa perompak yang tua. Tapi seperti biasa, NIL (Tentara Belanda) pasti akan menang.”

Kohler menarik nafas, kemudian tersenyum.

Tentara Belanda terus maju merangsek, mereka memegang kendali peperangan. Tapi masalahnya di mana tepatnya letak keraton, tidak ada yang tahu. Bagaimana amat miskinnya informasi mereka, ternyata dari buku saku ekspedisi Aceh, yang diberikan kepada para perwira disertakan sebuah gambaran bagain figuratif Afdeling utama Aceh, dengan menggunakan gambar-gambar perlambang, yang sebenarnya sangat tidak figuratif kelihatannya. Kuala sungai di situ sudah sama saja salah letaknya seperti keratonnya sendiri, desa-desa pesisir bergeser, jalan-jalan semuanya tidak cocok dengan yang digambarkan. Keterangan beberapa orang mata-mata yang turut serta dibawa ternyata tidak ada harganya.

X

Ketika mencari keraton, pada tanggal 11 April ditemukan  sebuah benteng yang diduga adalah keraton, ruang yang dikelilingi tembok dengan beberapa bangunan di dalamnya. Ternyata bukan keraton, tetapi sebuah masjid, yang mati-matian dipertahankan bagaikan sultan sendiri yang bersemayam disini. Masjid itu ditembaki hingga terbakar dan dapat direbut dengan mengalami kerugian berat. Tetapu pada hari itu juga Kohler menyuruh meninggalkan benteng itu, karena menurut dia pasukan terlalu letih untuk bertahan dalam posisi yang begitu terancam. Segera pula orang Aceh menduduki masjid itu dengan sorak kemenangan. Pekikan perangnya terdengar menyeramkan, terutama pada malam hari. Menyadari kekeliruan strateginya, Kohler memerintahkan merebut kembali kompleks bangunan itu dengan menderita kerugian berat.

Kohler sendiri, merupakan korban dalam kekeliruan ini. Ketika berdiri dalam kubu itu pada tanggal 14 April sebutir peluru menembus dadanya dan menewaskannya. Saat itu seluruh ekspedisi kehilangan semangat.

Komandan kedua, Kolonel Van Daalen tidak ditinggali suatu rencana perang apapun. Dalam keadaan yang tidak menguntungkan barisan maju lagi menuju keraton. Garis hubungan denga bivak pantai, yang hanya beberapa kilometer dari masjid letaknya, senantiasa terancam oleh pasukan-pasukan gerilya, yang pejuang-pejuangnya memakai baju putih tanpa takut mati, ya, bahkan ingin mati, menyerbu batalyon-batalyon serdadu Hindia itu. Tengah malam terjadi sergapan dan penembakan. Pada tanggal 16 April dua dari tiga batalyon itu menyerang keraton. Mereka dipukul mundur dengan korban seratus orang mati dan luka.

Malam hari itu Van Daalen melakukan sidang dewan perang di medan. Para Kolonel umumnya berpendapat harus mengundurkan diri, Menurut para perwira, “ternyata musuh gigih yang melawan lebih besar kekuatannya”.  Komandan Angkatan Laut berpendapat bahwa musim barat telah tiba dengan turunnya hujan-hujan pertama, yang menjadikan perkemahan tergenang air. Baik keamanan kapal-kapak maupun ‘hubungan tanpa gangguan antara pelabuhan dan darat’ tidak terjamin, sehingga pengiriman bala bantuan yang telah diputuskan oleh Batavia pun tidak akan ada artinya lagi.

Nieuwenhuyzen, Komisaris Pemerintah Belanda yang berlindung di atas kapal Citadel van Antwerpen minta diberi kuasa untuk memerintahkan ekspedisi kembali dan ini diperolehnya pada tanggal 23 April. Dua hari kemudian pasukan masuk kapal. Kekuatan inti tetap tujuh belas hari berada di darat. Dari tiga ribu anggota, 4 orang perwira dan 52 orang bawahan tewas, 27 orang perwira dan 41 bawahan luka. Jadi, hampir lima ratus dari tiga ribu, itulah kerugian akibat perang Aceh pertama, yang ulang alik perjalanannya belum sampai memakan waktu enam minggu.

Kolonel van Daalen  menulis, “Kami ingin meyakinkan akan bahwa sifat kebinatangan mereka dan tindakan-tindakan mereka yang tidak berperikemanusiaan, mereka tidak berhak lagi mengharapkan sikap menenggang dari kita.”

XX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 33 Comments

SETITIK NOKTAH DI DALAM NOKTAH

Kecil, tak berarti, titik disemesta. Setitik noktah di dalam noktah, dalam luasnya semesta raya.

Kecil, tak berarti, titik disemesta. Setitik noktah di dalam noktah, dalam luasnya semesta raya.

SETITIK NOKTAH DI DALAM NOKTAH

Betapa hidup ini seperti mimpi, melihat ke langit penuh bintang-bintang yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan pasir di bumi kita. Mimpi yang (bisa) menjadi mimpi tak berguna.

Benar, hidup selalu berubah, bahkan hingga hari ini. Terlalu banyak, sampai aku tidak tahu pasti mana mimpi yang benar-benar aku kejar, mana yang hanya menghiasi tidur malam.

(Mungkin) justru kita perlu bermimpi, karena mimpi itu yang menentukan perjalanan, mimpi mengubah manusia. Justru karena masih ada mimpi, kita punya alasan untuk terus berjuang, terus berjalan, terus mengejar. Tanpa mimpi sama sekali, apa arti hidup.

Walau, dalam mimpi sekalipun, aku tak mampu rehat dari pertempuran. Haruskah aku mereguk hidup hingga tandas? Sampai ampas, bersama waktu yang berjalan.

Padahal senikmat-nikmatnya pertarungan, hanya akan melukai, lebih baik aku bersama yang ku cinta atau saat aku menemani diri sendiri.

Kubayangkan di landai pantai, butir-butir pasir berhamburan, menyalakan samar hampar lautan, aku menjelma menjadi sebaris nama. Kecil, tak berarti, titik disemesta. Setitik noktah di dalam noktah, dalam luasnya semesta raya.

Bait Al-Hikmah, 6 Jumadil Awwal 1436 Hijriah (bertepatan dengan 25 Februari 2015)

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 7 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA BELAS

Citadel Van Antwerpen Pantai Ceureumen, 6 April 1873

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA BELAS

… seluruh suku Aceh menunggu kedatangan kita dengan kebencian dan permusuhan sengit. Hanya beberapa penghuni pantai, terutama para kepala Meuraksa, yang mengerti bahwa merekalah yang dalam tiap serangan harus menerima pukulan-pukulan yang pertama. Mereka mengerti juga bahwa menurut kebiasaan di Aceh mereka selalu baru akan diberi bantuan dari luar daerahnya bila sudah terlambat. Kepala-kepala ini cenderung takluk, asal mereka dapat betul-betul memperoleh bantuan menghadapi pembalasan-pembalasan yang pasti dapat diduga. (Nasihat-Nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936)

Ia tumbuh layaknya bangsawan muda pada zaman itu. Pada usia tiga belas, untuk pertama kalinya ia turut berburu rusa sebagai penunggang kuda. Ayahnya, memberikan seekor kuda yang jinak, selalu di dekatnya. Segera menjadi nyata bahwa T. Nek tidak banyak memerlukan pengawasan, dan dalam waktu setahun ia menonjol di antara anak-anak sebayanya karena sifatnya yang nekat dan sanggup cepat mengambil keputusan dalam hal-hal kejantanan.

Ia adalah seorang uleebalang di wilayah Meuraksa yang penguasai pantai Ceureuman, Ulee Lheu. Namun, belakangan ini  ia merasa sakit hati, ketika Sultan memberikan wilayah kehulubalangan kepada Tuanku Nanta di Lampadang atas jasanya terhadap jasanya terdahulu kepada Sultan. Padahal awalnya, wilayah tersebut adalah miliknya. Akibatnya, wilayahnya semakin mengecil dan hanya kebagian wilayah di Ulee Lheue, Pekan Bada, Blang Oi dan sekitarnya. Ia merasa marah.

Layaknya cinta yang merupakan energi dasar. Tunggal. Kebencian pun berasal dari energi yang sama, hanya ia mengalami proses saturisasi, dan semua pemilihan katagori cinta sesungguhnya adalah satu zat sama dengan kadar polusi berbeda-beda. Dan pemerintah Kolonial Belanda mengatahui itu.

Perairan Selat Malaka. Circa, 1872

Setelah dua setengah hari, mereka menatap perairan Malaka, lempengan hijau air yang lebih luas dari Krueng Aceh. Di tepi baratnya berdiri Kesultanan Deli, yang belum pernah dikunjungi T. Nek, ia menganguk-anguk di air di atas kapal nelayan panjang bertiang tunggal.

Kapal Belanda merapat, kapal hitam. Ia tidak pernah melihatnya, bahkan jika ia mengenali mimpi-mimpi terdalamnya, di satu sisi perasaan tidak mampu menolak takdir membebaninya, haruskah? Ketika ia menatap kapal tersebut. Kapten Roura melambai, mereka sudah sangat dekat.

Ini memang sudah seharusnya terjadi, pikirnya.

“Lihatlah T. Nek,” Kapten Roura berkata, “Tanganmu disini, nasib semua orang Aceh ditentukan.”

Sesaat jantung T. Nek berhenti, kemudian ia mendengarkan kembali suara Kapten Roura. “Aku menyaksikan, T. Nek betapa besar kekuatan orang Eropa, segelintir orang Belanda dengan beberapa ribu serdadu, dan apa yang mereka kehendaki terwujudlah. Aku sudah berkeliling Jawa dan orang Belanda menguasai semua, mereka memerintah. Ada raja berkuasa di Jawa tetapi kekuasaan sebenarnya berada di tangan Tuan Besar di Bogor dan kalau para raja itu tidak patuh, mereka tahu harus menyingkir untuk yang lain, yang mau patuh. Karena akhirnya akan ada serdadu kompeni. Mereka selalu ada. Mereka yang lama tidak melihat serdadu kompeni kadang-kadang mengira serdadu itu tidak ada lagi. Tapi kalau diperlukan mereka selalu ada.”

T.Nek diam, hujan turun. Sewaktu-waktu hembusan angin menerpa lambung kapal dan kemudian nyala lampu pelita bergetaran.

“Sekarang dengarkan baik-baik,” Kapten Roura melanjutkan. “Aku berbicara tentang para raja, tentang kaum bangsawan di negerimu. Mereka itu tidak punya otak untuk digunakan, mereka pikir mampu menghadang ini semua.”

“Ketahuilah bahwa Pemerintah Hindia Belanda pasti akan memenangkan perang di depan mata, terserah kalian mau berperang atau tidak. Kami pasti menang! Kami hanya mencari sekutu untuk kelak membimbing kami untuk membangun negeri kalian. Untuk itu kami memilih kau, T. Nek. Pertanyaannya adalah, apakah kau bersedia?”

T.Nek mendengarkan, kepalanya tertunduk. Untuk apa utusan Pemerintah Hindia Belanda menemuinya? Apa yang inginkan? Haruskah ia memimpin pasukan Hindia Belanda memerangi bangsanya sendiri.

“Bayangkan jika kau bekerja sama, pemerintah Hindia Belanda sangat senang. Mereka akan mengadiahimu berbagai hadiah, anak keturunanmu akan mendapatkan kemuliaan yang tidak didapatkan oleh orang-orang Aceh lain. Kami menjanjikan kepada kau, T. Nek, akan memperoleh kembali daerah VI Mukim yang direbut oleh T. Nanta.”

“Permintaan kami tidak banyak, sangat mudah yaitu apakah kau dan pasukanmu akan membantu kami dalam pendaratan ke Aceh, di wilayahmu Ulee Lheu?’ Tanya Kapten Roura.

Ekspedisi Belanda pertama ke Aceh (1873)

Ekspedisi Belanda pertama ke Aceh (1873)

Jika ia melawan maka, daerahnyalah yang pertama mendapat hantaman gelombang serangan Belanda, sedang bantuan dari kenegerian lain pasti datang terlambat.  Jantung T. Nek berdebar liar, pelan-pelan ia menarik tangan. Kapten Roura menangkap tangan itu dan berkata, “tanganmu gemetar? Tidak, tanganmu tidak gemetar. Itu tidak boleh. Tangan ini harus mantap.”

“Bayangkan kemasyuran yang akan engkau raih, keturunanmu akan memerintah negeri-negeri kecil di Aceh, tentu dengan bantuan pemerintah Hindia Belanda, dengan pengaruh, kekuasaan dan harta yang tak akan habis berabad-abad. Sahabatku, sahabat Pemerintah Hindia Belanda. Karena kaulah Aceh dan Belanda menjadi satu ikatan yang kuat, memberangus raja-raja lalim di Aceh dan mengusahakan kita menjadi tuan di negeri sendiri.”

“Bagaimana dengan pembalasan dendam dari mereka yang fanatik?” Terutama kepada anak keturunanku?” tanya T. Nek.

“Oh tentu, kaummu akan mendapatkan bantuan dalam menghadapi pembalasan-pembalasan yang pasti dapat diduga. Kelak, dalam pemerintahan baru mereka semua melupakan apa yang telah kau lakukan, tapi Pemerintah Hindia Belanda tidak akan pernah lupa jasamu, karena kami mencatatnya.” Kapten Roura tersenyum.

Tanpa sengaja T. Nek mengangkat mukanya, dan tanpa sengaja Kapten Roura memandang matanya, tulus. Sesaat mulutnya berkedut oleh senyum sekilas. Matanya tidak tersenyum, namun Kapten Roura sangat puas.

Perjanjian telah terjadi. T. Nek tersenyum, waktu cepat sekali. Ia telah tiba persis di kapal nelayan yang akan membawanya pulang, ia memegang surat penjanjian dari Kapten Roura, ia membaca beberapa kali. Kapal Belanda telah menjauh,  Ia menunggu sampai matahari pertama muncul di langit, kemudia membangunkan nahkoda dan memberitahukan mereka akan pulang.

“Perdagangan yang bagus tuanku? Tanya seorang.

“Buruk Ahmad, Belanda menolak membeli lada dengan harga yang kita tentukan. Memang mereka bangsa yang pelit dan licik. Seharusnya aku mendengarkan saranmu untuk tidak berhubungan dengan mereka. Ingatkan aku ketika berniat akan kembali berdagang dengan mereka.” Jawab T. Nek lugas, kemudian kapal mereka menuju Barat kembali ke Bandar Aceh Darussalam, ia tidak memberi tahu siapa-siapa tentang rencana yang ia susun bersama Kapten Roura.

X

Ekspedisi Belanda pertama tahun 1873 gagal total, kemudian baru berhasil pada percobaan kedua tahun 1874. Ketika Belanda berkuasa dengan segera T. Nek dikecewakan oleh muluknya janji Pemerintah Hindia Belanda. Namun ia percaya bahwa kekuasaan Belanda akan selalu membantunya. Lalu ia menghisap dan memeras anak buahnya, lebih dari uleebalang manapun, didukung Kompeuni yang kuat didaerahnya dan ditakuti oleh penduduk.

XX

tiba waktu topeng terbuka

wajah penuh tipu daya

Menabur janji sia-sia

pengkhianat bersorban raja

meski zaman berganti

darah merajalela

dan semua kemuliaan

jangan kau tuding telunjukmu

seakan tak cela

tanyakan pada nurani

XXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 39 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN SEBELAS

menyalakan samar hampar lautan, aku menjelma menjadi sebaris nama

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN SEBELAS

“… kita hanya seorang miskin dan muda, dan kita sebagaimana juga Gubernemen Hindia Belanda, berada di bawah perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa…”

Surat penolakan  pernyataan perang dari Sultan Alaidin Mahmud Syah bertanggal 1 April 1873. Sejak ia dimahkotai tahun 1870 hubungan Aceh Darussalam dengan Belanda semakin tegang, Belanda secara massive mengadakan tekanan agar Aceh tunduk. Kapal-kapal Belanda meneror perairan Selat Malaka, menaklukkan Riau dan mengancam langsung. Akan tetapi, Aceh membalas melakukan perampokan terhadap kapal dagang Belanda yang lalu lalang. Suasana kian meruncing sehingga Komisaris Pemerintah Belanda, Niewenhuijzen yang berlindung di atas kapal Citadel van Antwerpen pada tanggal 26 Maret 1873 memaklumatkan perang kepada Kesultanan Aceh Darussalam, surat yang dibuka;

“Dengan ini, atas dasar wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh Pemerintah Hindia Belanda, ia atas nama pemerintah, menyatakan perang kepada Sultan Aceh…”

X

Bandar Aceh Darussalam, circa 1873

“Jangan ada suara ketika aku sedang berbicara, karena aku akan menguncang cakradonya!”

“Belanda kaphe biadab telah menyatakan perang kepada kita! Bangsa kudisan tak tahu diri itu menyatakan akan membawa peradaban dengan mengalahkan kita. Betapa sombongnya! Ketahuilah kaum muslimin sekalian, mereka datang untuk merampas hak-hak kita sebagai bangsa merdeka!”

“Mereka datang untuk membawa ajaran dan perilaku mereka!”

“Mereka datang untuk mengkristenkan kita. Menjadikan anak-anak kita kufur. Mereka datang untuk menjadikan anak-anak kita durhaka, menjadi anak-anak haram di Nusantara. Memasukkan kita seperti mereka, najis!”

“Apakah kalian bisa menerima? Aku ulangi, apakah kalian bisa menerima mereka membawa agama mereka dalam kehidupan kita?”

“Tidak” Teriak semua yang hadir.

“Kalau begitu angkat senjata kalian menghadapi mereka! Usir kaphe-kaphe yang ingin menginjak tanah leluhur kita! Hidup mulia atau mati syahid, Allahu Akbar!”

“Allahu Akbar!” Seru yang hadir.

Orang tersebut tak pelak dikemudian hari, adalah orang yang paling dicari, dibenci oleh Belanda. Imuem Lueng Bata. Ia telah memimpin ikrar sumpah yang diserukan bersama secara mengguntur, sebuah pernyataan Wajib Sabil pada jalan Allah untuk mengusir kafir Belanda.

XX

“Tidakkah tuanku berkata terlalu keras?”

“Lalu?” Tanya Imuem Lueng Bata, memberi isyarat kepadaku untuk mendekat.

“Tuanku mengatakan bahwa Kaphe Belanda menyerang kita murni semata-mata karena semangat keagamaan, menurutku bisa jadi ini hanya didasarkan keserakahan semata, bisa jadi mereka yang akan menyerbu tidak bertuhan.”

Imuem Lueng Bata tersenyum, “kamu terlalu naif Ahmad. Tidak ada orang tak bertuhan, semua pasti memiliki tuhan. Entah,itu berwujud agama, materi atau bahkan diri mereka sendiri!”

“Aku dengar, tidak semua orang Kristen itu buruk.”

“Iya, mungkin. Tapi agama apa yang dibawa seluruh penjajah di Nusantara ini selain itu?”

Aku terdiam, di dunia terlalu banyak orang yang lebih cerdas dariku, termasuk Imuem Lueng Bata. Aku tidak bisa membahasakan dengan baik ketidaksetujuanku, ya akhirnya aku diam.

“Apakah kamu ragu mengangkat senjata Ahmad?” Tanya Imuem penuh selidik.

“Tidak tuanku. Namun jika aku harus mengangkat senjata melawan Belanda, aku hanya ingin dasarnya adalah cinta bukan kebencian.”

Imuem Lueng Bata menepuk pundakku. “Jadikan cinta agama sebagai dasar perjuanganmu.” Ia tersenyum.

Andai, orang ini adalah orang yang bisa disuap, atau memperturutkan syahwat seperti para pejabat Kesultanan lain, tentu aku akan membantah. Tapi beliau begitu lurus, begitu alim. Bahkan Belanda pernah mencoba menyogok ia, hasilnya tidak berhasil.

“Durjana Pulanglah! Asahlah kelewangmu! Kemulian atau syurga menanti kita.”

Imuem Lueng Bata menyeringai kecil, ia membasuk rencongnya dengan baju. Matahari terasa hangat dikepala dan bahunya. Dia begitu bergembira menyadari kemenangan ada di pihaknya kelak. Dia menyamankan diri dengan menghirup udara dalam-dalam.

Sedang aku tidak yakin dengan kemenangan akan perang yang didepan mata. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda begitu kuat, kekuatan Kesultanan Aceh Darussalam sebegitu terbatas. Sebagaimana disebut Sultan Alaidin Mahmud Syah, “kita hanya orang miskin.” Sebagai manusia, aku takut akan kekalahan, aku takut menyongsong kematian. Aku disebut kaumku durjana, hanyalah hamba yang lemah.

Aku pulang seraya menyeret baris-baris kalimat bersyair.

aku tak mampu rehat dari pertempuran

haruskah aku mereguk hidup hingga tandas

sampai ampas, bersama waktu yang berjalan

senikmat-nikmatnya perang, hanya akan melukai

lebih baik aku bersama yang ku cinta

atau saat aku menemani diri sendiri

di landai pantai, butir-butir timah berhamburan

menyalakan samar hampar lautan, aku menjelma menjadi sebaris nama

kecil, tak berarti, titik disemesta

XXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 38 Comments

PESAN KEPADA PENGUASA

Aku ingin mengatakan kepada baginda, bagaimana pedihnya, perasaan teraniaya, supaya baginda jangan menganiaya rakyat yang tak bersalah setelah baginda berkuasa

PESAN KEPADA PENGUASA

Alkisah pada zaman dahulu kala, hidup di negeri Persi, seorang Kisra bernama Anusyirwan. Ketika masa kecilnya Anusyirwan, diserahkan oleh ayah bunda kepada guru untuk mempelajari adab dan akhlak yang tangguh untuk dapat mempunyai ilmu yang diperlukan guna melanjutkan kehidupan yang diwariskan orang tuannya nanti, menjadi raja.

Suatu kali guru memukulnya, tanpa ada kesalahan. Pukulan itu terasa sakit oleh Anusyirwan, dan dia mendendam, karena ia merasa tak bersalah. Setelah bertanya, apa sebab gurunya memukulnya, yang dirasakan sangat sakit. Dia mengatakan pukulan itu terasa lebih sakit lagi karena ia tidak melakukan kesalahan apa-apa.

Guru itu menjawab dengan tenang, “aku lihat tuanku, sangat berminat pada ilmu-ilmu itu. Aku berharap, supaya baginda menjadi raja pula, menganti ayahanda baginda. Aku ingin mengatakan kepada baginda, bagaimana pedihnya, perasaan teraniaya, supaya baginda jangan menganiaya rakyat yang tak bersalah setelah baginda berkuasa.”

Kisra Anusyirwan muda menjawab dengan hormat, “benar-benar tuan guru.”

Konon,  Anusyirwan semasa hidupnya terkenal akan keadilannya. Takkala Khalifah Al Makmun berkuasa di Baghdad , berhasil menemukan makam Kisra Anusyirwan didalamnya terdapat harta berlimpah tetapi ada suatu hal yang membuat mereka kagum yaitu jasad dari Kisra Anusyirwan tersebut masih utuh!

Ketika Khalifah Al-Makmun mengetahui hal tersebut beliau berkata “Maha suci Allah SWT yang melindungi penguasa yang adil meskipun dia adalah orang yang kafir (pemeluk agama Majusi), sekarang tutup dan sembunyikan kembali makam ini sesungguhnya aku tidak mau dalam sejarah nanti orang mengatakan bahwa Al-Makmun putra Harun Al-Rasyid adalah seorang penjarah makam.”

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari ini semua.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 59 Comments

PENGEMBARAAN

Pengembaraan adalah pengembalaan diri.

Pengembaraan adalah pengembalaan diri.

PENGEMBARAAN

Planet berasal dari bahasa Yunani, yang berarti pengembara.

Tiap kelahiran jika dipikirkan dengan seksama, hanyalah suatu kebetulan. Dengan ratusan juta sperma yang berenang dengan buta dalam kegelapan, sungguh amat kecil kemungkinan seseorang bisa menjadi apa adanya kini. Dari semua yang berjejalan di alam semesta, berapa banyak yang memang direncanakan? Dia bertanya-tanya, merasa melayang karena kecapekan mendapati dirinya merenungkan kebetulan-kebetulan yang telah menjadikan mereka ada.

Begitu pula kehidupan, mungkin hidup adalah pengembaraan yang melelahkan, padang yang luas, yang mencemaskan, bila angin samun datang, gunung pasir yang berpindah-pindah itu, dan terbentanglah padang yang luas di hadapan. Dalam perjalanan yang luas, kerap diserang dahaga dan membayangkan fatamorgana, akh ini semua khayal belaka sedang dahaga kosong dan sirna.

Dan bila tiba pada oase, dikira itulah surga. Hendak menikmati dan memuaskan di surga itu. Tapi ternyata itu pun fana, dan hanyalah tempat singgah semata sementara manusia hanyalah pandai menguras, kemudian berangkat lagi menempuh padang pasir, mencari yang lain. Tanpa tujuan dan arah.

Selalu badewi atau nomaden. Dipermainkan olah alam berkeliling, oleh angan-angan yang tak berkesudahan dalam warna-warni yang tak tercapai. Lesu dan letih, menurutkan sayap angan-angan tak tentu arah. Di antara rayuan-rayuan dunia, ia harus menjaga kemuliaan. Bukan hanya budak belaka, budak segala bunga yang lekas layu. Terpujilah mereka yang tak terpesona dengan warna-warni awan gemawan, yang dibawa angin mengembara angkasa luas.

Pengembaraan adalah pengembalaan diri. Mereka yang tegak dengan dua kaki, mereka yang melihat semua yang mengelilinginya dengan Nur Illahi dan mencipta sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Mereka yang membangun taman-taman bunga, dalam mengabdi pada Sang Khaliq. Pengembaraan, sinarilah jiwa dengan Nur Illahi, taat, penenang hati, membina bakti dan penenang jiwa.

Bait Al-Hikmah, 20 Rabbiul Awwal 1436 H (Bertepatan 11 Januari 2015)

Beberapa Renungan Malam:

  1. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  2. Duhai Diriku Mengapa Engkau Bersedih; 13 Mei 2009;
  3. Selamat Kembali Pulang Sahabat; 25 Mei 2009;
  4. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  5. Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
  6. Cerita Tentang Masa Lalu; 1 Juli 2009;
  7. Salam Rindu Selalu; 9 Juli 2009;
  8. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
  9. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  10. Angin; 19 Februari 2010;
  11. Manusia; 18 Maret 2010;
  12. Kekuatan Hati; 27 Maret 2010;
  13. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  14. Memoar Romantik; 15 Juni 2010;
  15. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

PERSAHABATAN KAMBING DAN SERIGALA

Maka, berhati-hatilah terhadap setiap tingkah laku orang-orang yang nyata bertentangan prinsip hidupnya.

Maka, berhati-hatilah terhadap setiap tingkah laku orang-orang yang nyata bertentangan prinsip hidupnya.

PERSAHABATAN KAMBING DAN SERIGALA

Dahulu kala hiduplah seorang petani bernama Mansyur. Dia juga memelihara kambing. Dia sangat gembira, ketika kambingnya melahirkan seekor anak betina. Pertanda yang baik, karena dalam beberapa lama, tentunya kambing-kambing tersebut akan berkembang.

Suatu hari ketika Mansyur masuk hutan mencari kayu, ditemuinya di bawah sebatang pohon seekor anak serigala. Dia kasihan, karena anak itu sudah kurus, mungkin induknya mati, ditembak pemburu. Anak serigala itu dibawanya pulang, dan dia susukan kepada kambingnya. Demikianlah setelah beberapa lama anak serigala itu sehat, kelihatanlah antara anak serigala dan anak kambing itu, telah bermain bersama, seperti anak kembar layaknya.

Mansyur berpikir, rupanya antara serigala dan kambing dapat dipersaudarakan. Mungkin karena pada tubuh anak serigala itu, telah mengalir darah kambing karena mendapat susu dari induk kambingnya. Demikianlah beberapa lama, kedua anak binatang itu makin besar dan pergaulannya tetap baik.

Suatu kali Mansyur dan istrinya pergi ke pasar, menjual hasil tani. Induk kambing diikatkan pada sebatang pohon di depan rumahnya. Sorenya Mansyur kembali. Didengarnya induk kambing meronta-ronta memanggil anaknya. Anak kambing dan anak serigala itu, tidak terlihat lagi, entah kemana perginya.

Segera Mansyur mencari ke hutan di belakang rumah. Alangkah terkejutnya dia, setelah ditemui anak kambing itu, mati terbaring berlumuran darah, dan dilehernya ada bekas terkaman. Jelaslah yang menerkam itu sahabat sesusunya yakni anak serigala yang ketika itu telah menghilang ke dalam hutan belantara..

Dengan perasaan menyesal dan kesal, dibawanya mayat anak kambing ke rumah untuk dikuburkan, dan dalam hati Mansyur timbul kesan. “Bahwa bagaimanapun, ada jasa baik kepada orang yang berlainan jiwa dan semangat, maka orang yang bermusuh itu senantiasa mencari kesempatan untuk membunuh kawannya.”

Maka, berhati-hatilah terhadap setiap tingkah laku orang-orang yang nyata bertentangan prinsip hidupnya.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 63 Comments

FATWA MUI TENTANG PERAYAAN NATAL BERSAMA TAHUN 1981

Suasana semarak menyambut Hari Natal di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta.

Suasana semarak menyambut Hari Natal di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta.

FATWA MUI TENTANG PERAYAAN NATAL BERSAMA TAHUN 1981

Banyak di antara kita belum lahir di tahun 1981, banyak pula yang sudah lahir tapi tidak mengingat dengan tepat mengapa dan apa Fatwa MUI tahun 1981 itu, sehingga mengutip dengan sembarangan dan menyebarkan dengan penuh prasangka dalam kehidupan sosial dengan mengutip berbagai sumber yang belum jelas tanpa pernah membaca bagaimana Fatwa itu berbunyi.

Maka bacalah! Pikirkan! Serta ambil I’tibar dari fatwa berikut ini.

Detil Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Perayaan Natal Bersama tahun 1981

X

FATWA

Majelis Ulama Indonesia

TENTANG

PERAYAAN NATAL BERSAMA

 

Memperhatikan :

Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini disalah-artikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka sama dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad saw.

Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan duduk dalam kepanitiaan Natal.

Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah.

Menimbang:

Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama.

Ummat islam agar tidak mencampur-adukkan Aqidah dan ibadahnya dengan Aqidah dan ibadah agama lain.

Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan Taqwanya kepada Allah SWT.

Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar Ummat Beragama di Indonesia.

Meneliti kembali: Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:

Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas:

Al ~ Qur’an surat Al – Hujarat (49): 13

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Kami menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa (kepada Allah), sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

Al ~ Qur’an surat Lukman (31): 15

“Dan jika kedua orang tuamu memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang kamu tidak ada pengetahuan tentang ini, maka janganlah kamu mengikutinya, dan pergaulilah keduanya di dunia ini dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada Ku-lah kembalimu, maka akan Ku-beritakan kepada-mu apa yang telah kamu kerjakan”.

Al ~ Qur’an surat Mumtahanah (60): 8

“Allah tidak melarang kamu (ummat Islam) untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (beragama lain) yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.

Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain berdasarkan:

Al ~ Qur’an surat Al – Kafirun (109): 1 – 6

  1. “Katakanlah hai orang-orang kafir,
  2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
  3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
  4. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.
  5. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
  6. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.

Al ~ Qur’an surat Al – Baqarah (2): 42

“Janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedangkan kamu mengetahuinya”.

Bahwa ummat Islam harus mengaruku ke-Nabian dan ke-Rasulan Isa Almasih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi dan Rasul yang lain, berdasarkan atas:

Al ~ Qur’an surat Maryam (19): 30 – 32:

  1. “Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberikan Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.
  2. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi dimana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup
  3. (Dan Dia memerintahkan aku) berbakti kepada ibuku (Maryam) dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”

Al ~ Qur’an surat Al – Baqarah (2): 285

“Rasul (Muhammad) telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya (Mereka mengatakan): Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari Rasul-rasul-Nya dan mereka mengatakan: Kami mendengar dan kami taat. (Mereka berdoa) Ampunilah Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.

Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih dari satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Almasih itu anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan atas:

Al ~ Qur’an surat Al – Maidah (5): 72 – 73

  1. “Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah itu ialah Almasih putera Maryam. Pada hal Almasih sendiri berkata: Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya sorga dan tempatnya ialah neraka, tidak adalah bagi orang zalim itu seorang penolong pun”.
  2. “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Bahwa Allah itu adalah salah satu dari yang tiga (Tuhan itu ada tiga), pada hal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang kafir itu akan disentuh siksaan yang pedih”.

Al ~ Qur’an surat At – Taubah (9): 30

“Orang-orang Yahudi berkata” Uzair itu anak Allah, dan orang-orang Nasrani berkata Almasih itu anak Allah. Demikian itulah ucapan dengan mulut mereka, mereka meniru ucapan/perkataan orang-orang kafir yang terdahulu, dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling”.

Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya agar mereka mengakui Isa dan Ibunya (Maryam) sebagai Tuha. Isa menjawab: Tidak. Hal itu berdasarskan atas Al ~ Quran surat Al – Maidah (5): 116 – 118:

  1. “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia (kaummu): Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah? Isa menjawab: Maha Suci Engkau (Allah), tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya tentu Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib.
  2. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya), yaitu: Sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Tetapi setelah Engkau wafatkan aku. Engkau sendirilah yang menjadi pengawas mereka. Engkaulah pengawas dan saksi atas segala sesuatu.
  3. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu dan jika Engka mengampunkan mereka, maka sesungguhnya Engkau Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Islam mengajarkan bahwa Allah SWT itu hanya satu, berdasarkan atas Al ~ Qur’an surat Al – Ikhlas ((112): 1 – 5

  1. “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.
  2. Allah adalah Tuhan yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya.
  3. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
  4. Dan tidak seorang pun/sesuatu pun yang setara dengan Dia”.

Islam mengajarkan ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah SWT serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan, berdasarkan atas:

Hadits Nabi dari Nu’man bin Basyir:

“Sesungguhnya apa-apa yang halal itu telah jelas dan apa-apa yang haram pun telah jelas, akan tetapi di antara keduanya itu banyak yang syubhat (sebagian halal, sebagian haram), kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barangsiapa yang memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah agamanya dan kehormatannya, tetapi barangsiapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, misalnya semacam orang yang menggembalakan binatang di sekitar daerah larangan maka mungkin sekalin binatang makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkan-Nya (oleh karena itu yang haram jangan didekati)”.

Kaidah Ushul Fikih

“Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasidnya yang diperoleh, sedangkan mushalihnya tidak dihasilkan)”.

Majelis Ulama Indonesia memfatwakan:

Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa as, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.

Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.

Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan perayaan Natal.

Jakarta, …… 1981

KOMISI FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua

( K.H. SYUKRI GHOZALI )

Sekretaris

( DRS. H. MAS’UDI )

XX

Fatwa tersebut mengatakan umat muslim Indonesia tidak boleh menghadiri acara ritual Natal. Hanya boleh hadir saat perayaan seremonial saja, dan di fatwa tersebut tidak mengatakan sesuatu yang dipelintir oleh banyak orang tentang haram hukumnya seorang muslim mengucapkan “Selamat Natal” kepada teman-teman kristiani, setiap tahunnya. Anehnya, banyak artikel bertebaran seringkali membawa-bawa nama MUI padahal pernah mengeluarkan statement melarang.

Umat muslim shalat di Istiqlal

“Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, prinsip toleransi kehidupan beragama adalah nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Perbedaan agama tidak menjadi alasan untuk tidak berbuat baik antar sesama, apalagi menjadi pemicu permusuhan dan pertentangan.” 

Jika MUI secara kelembagaan belum pernah mengeluarkan fatwa boleh tidaknya seorang muslim mengucapkan “Selamat Natal” lantas apa yang perlu diributkan?

XXX

Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

NUN

Nun, demi kalam dan apa yang tertulis

Nun, demi kalam dan apa yang tertulis

NUN

Nun, demi kalam dan apa yang tertulis, Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas.

Beberapa tulisan lain:

  1. Kenangan Akan Gerimis; 11 Februari 2012;
  2. Ada Setelah Tiada; 26 Februari 2012;
  3. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  4. Monolog Bulan; 4 Juni 2012;
  5. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
  6. Al-Muwasysyah; 23 Mei 2013;
  7. Surga; 17 Juni 2013;
  8. Direbut Kabut Kelam; 10 Agustus 2013;
  9. Musim Hujan; 11 September 2013;
  10. Untukku; 17 November 2013;
  11. Cincin; 15 Maret 2013;
  12. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  13. Panton Hana Utak; 1 April 2014;
  14. Menikahi Putri Anda; 14 Mei 2014;
  15. Yang Tercinta Malahayati; 2 Oktober 2014;
Posted in Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 13 Comments