UNDANGAN ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Undangan kepada Assosiasi Budjang Lapok

UNDANGAN ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Hanya ada satu manusia di bumi yang luas ini, berani melemparkan sebuah undangan sekurang ajar ini!!! Ia yang penuh senyum jahil. Seseorang dengan kualitas brutal dengan gaya anggun, terlihat layaknya pandir, pemikiran pandita dilengkapi lidah berandalan. Dialah Santiago, membawa suara risau, suara yang menganggu perasaaan, seperti sembilu, halus, tajam, khas pasar. Bagi khalayak awam suara ini terkesan sebagai sebuah angkuh, tapi bagi para sahabat, ia (selalu) menjangkau khalayak, tanpa menjadi sumbang.

X

Selepas Isya, seorang dengan seragam pelaut Kekhalifah masuk kelepau nasi depan pelabuhan, melihat kekiri dan kekanan, tanpa banyak bicara ia menuju kesebuah meja. Tanpa basa-basi ia menyerahkan sesuatu kepada seseorang diantaranya. Dan orang yang menerima itu ternyata adalah si Penyair, adalah sebuah undangan, pernikahan antara Santiago dengan puteri kerajaan sebelah Bandar. Tujuan tertulis untuk Anggota Assosiasi Budjang Lapok di-tempat, Penyair menyerahkan kepada Barbarossa untuk dibaca. Kemudian mengedarkan lagi kepada Laksamana Chen, Mister Big dan terakhir Amish Khan. Mereka semua bingung, dalam kebingungan sekaligus keterkejutan mereka baru menyadari bahwa pelaut tadi sudah menghilang.

XX

Sebuah undangan yang dikirimkan atas nama Assosiasi adalah dokumen resmi pertama bagi ABL sepanjang sejarah, adalah undangan Pernikahan Santiago. Ia yang bertualang kemana-mana dan jarang pulang ke Bandar menikah di kerajaan sebelah Bandar, dengan jarak tempuh setengah hari berkuda dari ibu kota Kerajaan Bandar. Assosiasi Budjang Lapok (ABL) sebagai sebuah organisasi tidak pernah resmi, dan tidak pernah diresmikan. Barbarossa sang ketua Klub, ditambah Laksamana Chen as. Sekretaris Jenderal, Penyair sebagai Notulen, Mister Big, Amish Khan dan lain-lain, termasuk Santiago seperti pada kolom-kolom sesudah tak lebih hanya sebuah keluarga besar. Sesuatu (Undangan itu) yang dengan penuh kebingungan disikapi bersama oleh Assosiasi, apalagi terselip tulisan daun lontar yang usil.

“Para sahabat bergembiralah! Dan ketahuilah bahwa itik buluk ini,  telah berubah menjadi angsa. Undangan ini, mewakili peran aku di dunia ini, adalah mengingatkan kalian agar segera menikah. Salam hangat, Santiago Sang Pelaut.”

“Ini sudah pasti untuk Barbarossa dan Panyair, aku sudah punya calon jadi tidak masuk kategori! Tuan Takur sudah aman, Mister Big sudah punya cinta, Laksamana Chen memiliki surga. Jelas kami tidak masuk kategori Budjang Lapok.”

Amish Khan memperlihatkan kejengkelan. Barbarossa menunjukkan ketidaksiapan ketika Amish Khan memplenokan undangan tersebut. Memang ada konvensi dalam ABL untuk boleh memplenokan sesuatu yang bersifat darurat.

“Aku tidak ikut, kalian  lanjutkan sendiri ya!” Amish Khan melempar koin kemudian pergi.

“Dasar Amish!” Penyair menggerutu.

“Bukan begitu Penyair, Amish Khan bukan kesal karena undangan itu. Tapi ia kesal, hari pernikahan Santiago sama dengan hari ia harus mengikuti tes masuk Dinas Cacah Jiwa kerajaan Bandar. Dia kan pernah cerita. Sebagai seorang yang punya hati, ia kesal karena harus memilih pekerjaan atau sahabat. Biarkan saja dia dulu. Amish Khan seorang setia kawan sejati, Cuma caranya menunjukkan saja yang berbeda dengan kita.”

Barbarossa tertawa mendengarkan penalaran Laksamana Chen.

“Kami, saya, Laksamana Chen dan Mister Big pasti bisa berangkat Kamis sore ke Kerajaan Sebelah Bandar, agar dapat mengikuti akad nikah Santiago Jum’at pagi. Kamu bagaimana Penyair?”

“Begini Barbarossa, beta sebagai pemungut cukai adalah orang terakhir yang boleh meninggalkan pasar Kerajaan Bandar. Kalian tahu sendiri, bahwa pasar tutup Jum’at sore. Sampaikan salam kepada Santiago pada saat akad, beta akan hadir hari sabtu ketika resepsi. Beta pasti pergi, untuk sahabat kita itu, walau harus sendiri, walaupun harus menaiki burung besi.”

“Memang September adalah bulannya Santiago, ia menikah ketika emas seharga 526 ribu Rupiyem per-gramnya. Tertinggi untuk tahun ini.” Mister Big akhirnya berkata-kata, Laksamana Chen menyalami Mister Big dan berkata, “walau cekak tetap harus gerak.”

“Penyair, sepertinya dalam waktu yang tak akan lama lagi, kita akan menerima undangan dari Mister Big dan Laksamana Chen, mereka sudah memantau harga emas, apalagi kalau bukan untuk emas kawin?” Barbarossa tertawa sambil memukul meja.

Penyair menempelkan telunjuk kemulut, “pelankan suara duhai Barbarossa, ketika berbicara tentang koin. Mari kita mendekat dan berbicara berbisik, membicarakan perjalanan sehemat mungkin. Jangan sampai orang mengetahui betapa sedikitnya jumlah koin yang kita miliki.” Penyair memajukan kursi, begitupun Barbarossa dan Mister Big, Laksamana Chen mengeluarkan cipoa. Mereka berdiskusi serius sekali, diselingi tawa dan bunyi cipoa.

XXX

Malam semakin larut suasana lepau nasi pinggiran Kota Bandar lenggang ketika Anggota Assosiasi selesai berdiskusi.

“Tidakkah kalian terpikir bahwa undangan ini, mungkin palsu? Lalu kita datang ke Kekerajaan Sebelah untuk terjebak? Mungkinkah seorang Santiago, yang kita dulu terpikir yang terakhir menikah, mendahului kita? Dengan salah satu puteri Kerajaan Sebelah Bandar pula, apakah ini tidak seperti dongeng? Bisa saja ada yang tidak menyukai ABL dan menjebak kita?”

“Hidup Santiago memang seperti dongeng kawan, tanyakan kepada Penyair kalau tidak percaya Mister Big. Lagian tidak ada, tidak ada orang yang bisa menuliskan tulisan sekurang ajar itu dengan indah selain si Santiago.”

“Benar apa yang dikatakan Barbarossa itu. Begini Mister Big, itulah jeniusnya si filosof setengah-jadi bernama Santiago itu. Tulisan daun lontar itu adalah penanda hadirnya ia dalam hidup kita. Aksi yang khas penuh harap untuk dibalas dengan reaksi khas pula. Pasti kita balas tentunya pada hari yang berbahagia itu, kita harus membisikkan padanya, bahwa Santiago ini, meski ia telah berubah menjadi angsa, janganlah pernah melupakan bahwa ia dulunya berasal dari sekumpulan itik, itik buruk rupa. Agar ia tidak melupakan sejarahnya.”

Penyair tersenyum, Mister Big mengangguk-angguk dan Barbarossa tertawa. Laksamana Chen memasukkan Cipoa ke dalam tas, ia terlihat mengantuk, “pulang kita?”

XXXX

Selamat menempuh bahtera kehidupan baru, sahabat (kami) Santiago. Kami turut berbahagia untukmu, ingatlah selalu ada syukur berlebih dan tafakur, setelah sebuah penantian panjang. Kami berdoa untukmu, semoga bahagia bagimu di dunia dan di akhirat.

XXXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 37 Comments

SEBUAH PUSAKA UNTUKMU ANAKKU

Suatu hari di Meulaboh tahun 1988

SEBUAH PUSAKA UNTUKMU ANAKKU

Telah tiba hari, dimana timbul pertanyaan. Apa?  Dan Mengapa? Apa yang membuatku bertahan? Dan mengapa harus dilakukan? Pada syair, pada cerita, pada hikayat ini. Akankah semua yang kulakukan ini hanya akan menguap ke langit? Sebuah bekas tersia-sia, tanpa (pernah) memberi arti. Dan ketika, aku tak mampu memahami lagi, sekuat apapun menggali jawaban pertanyaan ini. Selalu ada hal mustahil yang membuat (kita) memilih berbuat.

Adalah engkau, anakku alasan itu. Ada yang terindukan ketika aku menyebut namamu. Disitu pula ada gentar yang getar. Apakah ini mendahului takdir-Nya, dan keyakinanku bahwa IA maha pengasih lagi maha penyayang, membuatku berazzam melanjutkan menulis untukmu bersama pasrah sekaligus gairah.

(Memang) anakku, tulisan ini didasarkan rindu menggebu, tak hanya padamu. Tapi juga pada ayahku tercinta. Bahwa dilubuk hatiku yang terdalam ini, entah sadar ataupun tidak, ketika menangis seorang diri betapa aku ingin bertemu dengannya, walau didalam mimpi. Sebuah catatan dari ia (pun) tak aku miliki, tulisan adalah sejarah. Ia mempertautkan mereka yang mati dengan mereka yang hidup. Kehilangan ini, sendu ini tak ingin aku, jika engkau harus merasakan hal yang sama. Meski hidup tak cuma suara kata-kata dalam bahasa, di setiap saat, yang diam, yang bisu, selalu bermakna. Namun aku meyakini dengan segala jerih payah, aksara (mampu) menjadi sumber kekuatan tersendiri. Sebagai pengobat rindu, pengganti hadir.

Dicatatan ini anakku, jika engkau mengikuti (kelak) runut seksama. Ada ketegangan antara amarah dan cita-cita, kemungkinan dan komedi, ketergusuran, (meski) baik dan buruk, nostagia sekaligus sulitnya harapan. Segenap tulisan tereksripsi ini demi kamu, walau aku harus lelah dan letih, karena aku pasti (akan) mati. Bahkan ketika (nanti) aku mati, aku ingin menemani dihidupmu. Segenap tulisan ini adalah pusakamu.

Anakku, ketika aku berkata padamu ini adalah pusaka. Bukan berarti ia merupakan hal yang suci. Aku yang (mungkin) kelak menjadi ayahmu, bukanlah cetakan murni seorang Adam di muka bumi, diciptakan langsung oleh tangan-Nya. Dari ketiadaan tanpa sejarah. Aku (saat ini) tak lebih, tak lebih dari sekumpulan daging yang bisa bersedih, bisa tertawa. Kadang berbuat kesalahan, hanya mampu berusaha untuk tidak melakukannya lagi, tanpa tahu bagaimana hasilnya.

Duhai anakku, ketahuilah, bahwa sesungguhnya engkau adalah harapan, harapan yang membuatku memutuskan untuk berjuang disini, dijalan ini. Selama aku mampu, akan terus menuliskan terus pusaka untukmu. Kamu, yang kurindukan perjumpaanku denganmu.

XXXXXXXXX

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

YANG MEMUKAU TAK SELAMANYA MEMUKAU

Disuatu senja ketika Matahari dan Bulan bertemu, menjaga jarak dan malu-malu.

YANG MEMUKAU TAK SELAMANYA MEMUKAU

Disuatu senja ketika Matahari dan Bulan bertemu, menjaga jarak dan malu-malu. Ini semua mengingatkan bahwa sebuah tubuh bisa gentar, ketika ia ditinggalkan segala kembang pemuas dahaga rohani. Segala seolah menjadi pahit, ironis dan kehilangan gairah di dunia yang tak mau mengalah.

Ingin mengatakan bahwa sekarang tak ingin lebih buruk dari masa lalu, karena masa lalu yang sangat buruk. Ketika masa lalu mengelak, ketika (kita) tak merasa terkait dengan petilasan tua, disitulah harapan hadir. Harapan atas keyakinan berjuang untuk setia pada mimpi, adalah kegilaan yang memberi harga pada manusia.

Dan (terkadang) kita harus pasrah menerima nasib buruk ini sebagai takdir. Ketika terhenyak merasakan perasaaan, perasaan yang sudah lama tak pernah datang. Dan (mungkin) tak ada tafsir kata yang akan tepat berbicara, ketika lidah seolah menolak berkata-kata padahal banyak yang ingin diungkapkan. Dan (ternyata) derita jiwa tak menumpul seiring bertambah usia. Perasaan terkalahkan ini, padahal kita sudah bertemu di sejarah yang lain. Tapi (memang) hidup manusia dilecut waktu. Yang memukau tak selamanya memukau.

Dan (mungkin) hanya dalam sengsara dan mengenal kesengsaraan kebesaran jiwa bukan sebuah kesombongan. Dan (selalu) sebuah pagi setelah hujan akan sangat menyegarkan.

XXXXXXXXXX

Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

CIDUK ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Lepau Nasi tempat Assosiasi bercengkrama tiap harinya.

CIDUK ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Peristiwa adalah sebuah karya seni manusia, akan menghasilkan hasil berbeda, tak sebangun, persis, sama meski  si pelaku adalah orang yang sama. Selalu ada hubungan hal ihwal tak terulang, tak terduga dalam tiap kejadian. Kala manusia mampu berganti wajah dengan mudah, sebenarnya sifat itu tetap, tetapi karakter selalu berkembang. Sehingga menghasilkan perilaku acak pada kondisi berbeda.

Di Bandar, kota yang berjejal, kita melihat ke dalam sebuah lepau nasi yang terselip di dinding teater imajiner, teater dunia. Matahari sepenggalah, hari pertama bekerja setelah libur lebaran. Amish Khan, seseorang dengan kualitas kebaikan besar duduk menyantap nasi. Ia, yang bekerja pada lintah darat, kian hari terlihat makin pucat. Terkadang periuk nasi memaksa seseorang baik bekerja pada pihak yang salah. Disampingnya, Penyair mengelus-elus kumis tipis dan janggut baru terbentuk. Si Penyair ini sebegitu kecewa karena pada acara berbuka puasa di bulan Ramadhan lalu, bertemu dengan teman-teman sekolah, tak banyak yang mengenalinya lagi. Sepuluh tahun selepas masa sekolah merantau membuat Penyair merasa diri terlalu klimis dan lembut. Padahal dulu ketika bersekolah, Penyair miliki kumis dan janggut yang tebal. Sebuah paradoks dunia, seharusnya setiap pengembaraan membuat seseorang semakin garang, bukan semakin dandy. Disisi lain Barbarossa dan Mister Big, para penjaga gudang beras kerajaan ini tampak bergembira, dan memang mereka berdua selalu berbahagia. Pekerjaan mudah, gaji bagus dan sejawat yang kompak, klop sudah.

“Sudahlah Penyair, bukan masalah kumis atau jenggot itu. Siapa pula yang mengenal manusia yang menghabiskan waktu sekolah di perpustakaan membaca manuskrip? Baik dia berbulu atau tidak!” Barbarossa tertawa terbahak, Mister Big juga tertawa namun citranya yang kuat membuatnya hanya cekikikan sambil menutup mulut.

Amish Khan dengan nasi penuh dimulut melihat ke depan, tepat kearah Barbarossa kemudian berpaling kepada Penyair, “Aku pun sebenarnya, kalau tidak dikenalkan oleh Barbarossa setahun lalu, juga tidak mengenalmu Penyair, terlepas kita pernah satu sekolah.”

“Beta juga tidak mengenal dikau sebelumnya, Amish Khan! Kalau Barbarossa sudah lama beta kenal waktu sekolah.” Penyair sewot.

“Aduss, kalian ini. Penyair bertampang garang sewaktu sekolah tapi jadi kutu buku. Lha, Amish Khan ini, tampang cupu tapi bergaul dengan berandal.” Barbarossa mengeleng-gelengkan kepala. “Contohlah aku, bisa bergaul dengan siapa saja. Hahahahaha.”

“Aku pun, meski tidak satu sekolahan dengan kalian. Tapi tidak ada teman sekolahku yang tidak mengenaliku.” Mister Big menaikkan tangan, kebiasaan alamiah menunjukkan otot-otot lengan, jika secara tak sadar ingin menyombongkan diri.

“Mungkin itu, mungkin itu alasan kita berkerja ditempat yang sama. Kitakan anak gaul.”

Barbarossa dan Mister Big diatas angin. Tertawa bahagia, dengan gaya masing-masing. Amish Khan terlihat lebih kesal daripada Penyair. Seekor kuda masuk kepelataran lepau nasi, segera Laksamana Chen masuk tergopoh-gopoh.

“Cepat kabur! Kabur! Ada pencidukan!”

Kerajaan Bandar kerap melakukan pencidukan pada hari pertama bekerja setelah Lebaran, sebuah tindakan guna meningkatkan  kedisiplinan pegawai kerajaan, dan sasaran utama adalah lepau nasi, tempat dimana kerap segenap punggawa kerajaan bermalas-malasan. Pasti tim penciduk melewati kedai obat Laksamana Chen, sehingga ia dengan penuh khawatir datang memperingatkan rekan se-assosiasi. Ia menduga masih berbual-bual di lepau nasi dan benar.

“Beta tak berseragam, karena beta penarik cukai. Lagi pula beta adalah pegawai kekhalifahan, tak ada hak Kerajaan Bandar menciduk beta.”

Kerajaan Bandar dan tiga puluh kerajaan lain membentuk sebuah Kekhalifahan, dan pegawai cukai langsung tunduk kepada Khalifah, tidak pada Sultan Bandar. Sehingga amanlah si Penyair. Amish Khan bekerja pada lintah darat partikelir, aman juga. Pandangan beralih kepada Barbarossa dan Mister Big, berseragam lengkap Kerajaan Bandar, berkanji rapi dan kasut berkilat. Merekalah sasaran pencidukkan.

“Mengapa melamun, sebentar lagi mereka tiba. Kabur terus!” Perintah Laksamana Chen terengah-engah. Segera, tanpa kata-kata lagi. Barbarossa dan Mister Big mengambil langkah seribu. Orang-orang lain di Lepau nasi memandang bingung.

Jiaaaaah, katanya gaul kok takut.” Teriak Amish Khan.

Tak lama kemudian tim pencidukan tiba, mereka sempat melihat seragam Barbarossa dan Mister Big sebelum masuk ke semak-semak. Mereka berteriak memerintahkan menyerah dan mencoba mengejar, namun dua jagoan kita keburu menghilang dan selamatlah mereka.

“Kalian lihat itu Mister Big berlari seperti tikus, dan Barbarossa. Barbarossa seperti Babi.” Amish Khan tertawa keras seraya memegang perut.

Laksamana Chen dan Penyair ikut tertawa, sebuah peristiwa menggelikan tersaji di depan mata. Belum kering ludah Barbarossa dan Mister Big ditampilkan demikian hebat, dengan sedikit perubahan peristiwa, kisah mereka menjadi parodi. Namun bukankah setiap parodi itu menyehatkan. Ada yang menyentuh, mengejutkan dan mempesona disana.

XXXXXXXXXX

Segenap aktor cerita serial Assosiasi Budjang Lapok (ABL) dengan ini mengucapkan : “SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. SEMOGA KITA SEMUA MENJADI PRIBADI YANG FITRI KEMBALI”

XXXXXXXXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 43 Comments

EFEK KUPU-KUPU

Ketahuilah bahwa kita hidup tidak bersendirian meski sedang bersendiri, ada malaikat di sisi sekaligus Iblis di sisi yang lain.

EFEK KUPU-KUPU

Duhai kesayangan yang berwarna merah, kelak engkau akan menjadi dewasa dengan menyadari banyak hal. Sebelum itu terjadikan padamu, Theos (Paman-Yunani-Penulis) akan memberimu etik. Etik yang diberi nama Efek kupu-kupu. Karena engkau sangat kami cintai, dan sudah menjadi kelaziman di dunia bahwa mereka yang di cintai dengan terlalu sering salah langkah. Karena ia yang dicintai dengan terlalu, sering tak paham segera kebaikan dan kebusukan dunia.

Etik ini dituturkan kepadamu, tidak untuk mengatakan ia yang berkata suci. Tidak pula ia merupakan manusia yang terbebas dari rasa iri atau pun dendam. Hanya, ingin mengatakan. Kita tidak akan (pernah) memahami surga sebelum mengenal apa yang dinamakan neraka. Dan di dunia yang fana ini (di luar surga)  manusia harus siap kecewa. Akan tetapi di dunia yang fana ini jua, manusia memiliki surga sekaligus neraka. Dan surga manusia memiliki bentuk berbeda-beda, dimana surga seseorang mampu menjadi neraka bagi yang lain. Maka, berbahagialah mereka yang berbahagia dengan surga manusia yang lain, karena secara tidak langsung ia telah menemukan serpihan surga. Serpihan dari surga yang sesungguhnya.

Ketahuilah bahwa kita hidup tidak bersendirian meski sedang bersendiri, ada malaikat di sisi sekaligus Iblis di sisi yang lain. Engkau si batu merah berhati-hatilah sekaligus jangan terlalu berhati-hati. Jikalah mungkin, tantanglah sang matahari. Milikilah kemarahan yang membara.  Gagallah berkali-kali, jatuhlah dengan teruk. Karena dengan jatuh, engkau belajar untuk bangkit. Disitu ada pembelajaran, sikap mental itu dibentuk dari beragam kegagalan. Sikap  mental yang pantang menyerah dan selalu ingin mengambil pembelajaran. Jika itu engkau miliki maka yakinlah, engkau telah memiliki kualitas manusia terbaik.

Disaat engkau melakukan upaya yang terbaik, maka hidupmu akan tenang. Batinmu akan bahagia, karena hidup yang paling tenang adalah sebuah hidup tanpa penyesalan. Sayangku, ada banyak cerita. Ada banyak hal sayangku. Namun sebelum itu menjadilah dewasa dengan perlahan-lahan. Nikmatilah dengan seksama periode kepompong sebelum menjadi kupu-kupu. Dan itulah yang terbaik untukmu.

 

XXXXXXXX

 

Posted in Cerita, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

ODE SEEKOR HARIMAU

Duhai Harimau, bagaimana perasaanmu? Akan kakimu yang dirantai?

ODE SEEKOR HARIMAU

Betapa banyak penempaan hati yang dialami seorang manusia membuat dirinya berubah. Sehingga ia yang memiliki kecerdasan yang pedas, merasakan kekosongan. Wahai harimau di dalam jeruji, jawablah. Dibawah langit kemarau ini. Apa yang kucari? Apa bisa menemukannya? Dimana? Bukankah itu sesuatu yang penting.

Harimau, mungkin ketika aku dan kamu berdialog menunjukkan sebuah kegilaan. Tapi mungkin Tuhan mencintai mereka yang gila, lihatlah betapa banyak IA menciptakan mereka. Jika mungkin bisa maka tertawalah, karena tawa adalah hal yang paling indah di dunia, karena sebuah tawa makhluk memahami estetika.

Duhai Harimau, bagaimana perasaanmu? Akan kakimu yang dirantai? Engkau bisu. Dada membusung itu kini tiada. Mungkinkah engkau sudah lupa akan harumnya tanah basah dipegunungan yang bertaut pada perdu durian. Pada lezatnya pepaya matang, pada manis landak hutan. Matamu tak mengenal air mata bukan? Tetapi mengapa bagiku terlihat sebegitu pilu.

Mereka yang memperdayaimu dengan tenangnya, mereka memang licik dan rendah. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa memahamimu. Bukankah jikalau kita saling memahami satu sama lain maka jalannya akan terbuka dengan sendirinya. Mungkin karena kita senasib, mereka yang senasib memiliki ketertarikan alamiah. Aku pun pernah merasakan kehilangan sesuatu yang berharga karena ketidakmampuan diri sendiri. Dan hari ini, aku mengutuk kepengecutanku yang tak mampu melepaskan engkau dari belenggu jeruji besi ini.

Duhai harimau, sekejap aku merasakan illusi, aku mendengar suara tangisanmu melintasi pegunungan, dan sepertinya melayang jauh diatas pepohonan hijau disana. Sebelum ini menjadi delusi bagiku, maka ketahuilah engkau tidak bersedih bersendirian. Mungkin sesekali kita perlu bertanya, bagaimana dengan milik dan bukan-milik manusia bisa bertaut. ketika saat terlalu sempit untuk memaki atau menangisi nasib. Ketika semua begitu mudah cemar maka pemahaman akan tragedi ini sama sekali tidak akan terpahami lagi.

Meskipun engkau tidak mengerti dan tidak tahu artinya, sudikah engkau mendengarnya. Ketika bibir ini berbisik pelan, selamat hari lahir Harimau. Meskipun engkau tidak dilahirkan pada hari ini. Sebuah ode berisikan semangat pujaan dalam nada agung. Sebuah ode tentang seekor Harimau.

XXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Ada Banyak Cinta; 15 Maret 2011;
  24. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  25. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  26. Ashura; 13 Februari 2013;
  27. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  28. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  29. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  30. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  31. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  32. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  33. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  34. Perjalanan; 29 November 2013;
  35. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  36. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  37. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  38. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  39. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  40. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  41. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  42. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  43. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  44. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017
  45. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  46. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  47. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  48. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  49. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  50. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;

 

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 14 Comments

LALAI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Cover Buku Assosiasi Budjang Lapok

LALAI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Dapatkan seorang (atau sekelompok) lelaki bertambah tua hanya dalam beberapa hari? Atau apakah itu karena dia sudah tua, tetapi tertutup oleh gairah yang menyembunyikan betapa tuanya ia. Sebuah cermin hanya akan selalu menyajikan kejujuran tanpa syarat, dan itu bersifat mutlak hingga akhir zaman. Menjelaskan dengan rinci bahwa mengurung diri dalam keadaan nyaman sebagai kanak-kanak adalah sangat berbahaya. Enggan melepaskan diri dari itu merupakan kelalaian. Dan sebagaimana  kita tahu bahwa setiap petaka selalu berawal dari sebuah kelalaian.

Sayangnya Assosiasi Budjang Lapok telah kehilangan banyak waktu, Betapa sekumpulan orang diusia yang sama berkumpul selalu bersama bisa menjadi presensi naif. Aktor-aktor seperti Barbarossa, Laksamana Chen, Mister Big, Penyair, Amish Khan, Tuan Takur, bahkan Professor Gahul sekalipun jika berkumpul bersama tidak akan melihat satu sama lain menua, karena apa yang mereka lihat adalah sebuah ruang hampa, yang berhenti dititik waktu yang sudah lama berlalu.

Hal ini baru dirasakan ketika tepatnya Mister Big memperingati usia yang kedua puluh sembilan, tahun terakhir dikepala dua, sebelum menuju tiga. Tahu-tahu segenap punggawa ABL sudah penghujung era duapuluhan.

“Merayakan kepala dua yang terakhir, semoga sisanya berkah dan bermanfaat. Amin.” Mister Big berucap sendiri. Suasana lepau nasi sesudah ulang tarawih menjadi hening, Barbarossa membolak-balik kaleng tembakau, Penyair mencongkel-congkel hidup dengan alasan kemasukan nyamuk dan Laksamana Chen hanya memainkan alis.

“Selamat Mister, setelah Laksamana Chen kau adalah orang kedua yang menjejakkan kaki diangka dua puluh sembilan.” Barbarossa tertawa dengan gaya yang khas.

“Takdir ini tidak bisa didiamkan.” Sambung Laksamana Chen.

Penyair mencoba menjadi bijak, “Tapi bukankah dongeng yang kita sukai bisa bercerita tentang hasrat dan cemas kita yang tersembunyi.”

“Aduss Penyair, usiamu baru dua puluh delapan. Tapi gaya bicaramu seolah sudah hidup seabad. Pantas saja kamu tak laku-laku.” Sentil Barbarossa.

“Macam kamu sudah saja sobat, kalau itu kejadiannya tak disini kita.”

“Orang-orang disini sudah pada tua-tua, tapi kelakuan masih saja sepert kanak-kanak! Hadew!” Laksamana Chen memegang rambutnya. “Santiago bulan sembilan ini menikah, Amish Khan bulan sebelas ini, Professor Gahul tahun depan. Apakah kita begini terus?” tambah Laksamana Chen memainkan jarinya.

“Kenapa harus panik? Masih ada Tuan Takur, dan masih ada Tabib Pong. Santai sajalah menyikapi hidup.” Lagi-lagi Penyair mengelak.

“Beta pikir, engkaulah yang paling bijak Penyair diantara Assosiasi kita ternyata masih kanak-kanak juga. Tidakkah kau melihat rambutku dan juga rambutmu sudah menipis, lihatlah cermin! Sebuah lukisan bisa menipumu, tapi cermin itu selalu jujur. Jujur bahwa kita sedang memasuki paruh baya.” Tumben ketua Assosiasi, Barbarossa berkata gusar.

“Sudah-sudah. Daripada bertengkar tak tentu arah. Besok aku mengundang kalian semua untuk berbuka puasa bersama memperingati hari ulang tahun ku yang ke dua puluh sembilan.” Sungguh bila dipikirkan maka ada banyak sengketa yang berakhir di meja makan, sebuah kearifan kuno yang dipahami leluhur, dan diberi nama kenduri.

“Begitu baru enak, besok jangan di lepau nasi tapi rumah makan.”

“Sadar wajah om Barbarossa.” Sentil Laksamana Chen.

“Usia boleh bertambah, tapi jiwa harus tetap muda dong.” Balas Barbarossa.

“Asal jangan umur bertambah tua, tapi jiwa masih kanak-kanak.” Fatwa Penyair.

“Sedari tadi berdebat tak tentu arah, jadi tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun buatku.” Semua terdiam, tertawa dan menyalami Mister Big. Selamat Ulang Tahun Mahaguru-nya Barbarossa, Kakekguru-nya Penyair dan Ulimate man-nya Laksamana Chen. The Almighty Mister Big. Akankah tahun depan kita akan bertemu pada tanggal yang sama ini, dengan situasi yang sama. Semoga kita tidak termasuk kepada kaum yang lalai. Amin.

XXIX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR

 

Posted in Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 38 Comments

REPETISI

Seminggu setelah tsunami Aceh (2004)

REPETISI

Orang dewasa tak sedewasa yang dipikirkan  anak-anak. Paham kehidupan pun tidak, apalagi menemukan jawaban. Tapi, orang-orang disekitar tak bisa menerima jika bersikap polos seperti anak-anak. Hanya karena umurnya bertambah dan lebih berpengalaman dibandingkan anak-anak dapat bertingkah seperti anak-anak. Mungkin orang dewasa curang, semain buruk sifatnya semakin berpura-pura bahkan (mungkin) dirinya sendiri dibohongi.

Dan ketika memejamkan mata, mengingat manusia ditakdirkan untuk hidup. Termasuk menjumpai diri dimasa lalu. Akan teringat setiap langkah dan keputusan yang pernah dilakukan dimasa sebelum hari ini. Terkenang akan segala kebodohan yang pernah dilakukan, percayalah sesuatu hal yang membuatmu menangis sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, akan membuatmu tertawa di hari ini.

Waktu seperti singa, ia melumat segalanya. Seperti sebuah lagu yang popular dimasa sekolah saat ini mungkin menjadi sebuah tembang lawas, seperti minyak rambut yang kau kenakan menjadi langka dipasaran, atau bahkan seperti semakin banyak kerut yang timbul diwajah. Tentunya ada banyak hal yang terjadi yang menyebabkan seorang berubah. Zaman berubah, begitupun orang-orangnya. Tak aneh jika banyak orang duduk, terhenyak, melihat kini bukan sebagai kini, melainkan sebagai masa silam yang cacat. Entah Keberuntungankah? Atau kemalangan. Itu tak terbeli.

Selalu hidup merupakan repetisi, berjalan pelan dari hari ke hari. Semua orang mengetahui repetisi adalah pengulangan. Ia ingat sejuk tadi pagi, setelah malam yang gerah. Ia ingat burung. Ia ingat pemandangan pegunungan di sore hari. Ia merasakan sesuatu yang mengguncangkan hatinya. Tapi sengajakah Tuhan membuat keadaan begitu muram hingga selingan seperti kisah kemalangan orang lain jadi sangat berarti? Bila demikian apakah kehendak-Nya?

Mungkin manusia menjadi dewasa ketika mampu mengatasi dirinya sendiri. Bahwa hidup adalah sebuah jawaban yang akan menimbulkan pertanyaan baru, seolah tidak akan pernah habis. Bahwa selalu ia memiliki hasrat, namun membendung dengan akal sehat. Ketika memilih, tak tahu apa yang akan terjadi disisa hidup. Mungkin dihinggapi gentar dan bimbang, namun siap. Sebuah pengakuan bahwa dalam hidup berkecamuk betul ketidak-betulan yang tak jelas arahnya, absurd.

Dan ketika menanam sebuah pohon, kita diingatkan bahwa butuh waktu bertahun menjadikannya kukuh. Dan diingatkan bahwa tidak bisa melihatnya tegak besar. Dan sungguh sebuah pohon akan mempertautkan antara yang mati, dengan mereka yang hidup. Seperti humus, bermanfaat dan dilupakan.

Dan mungkin, besar peluang dalam hidup kami gagal. Namun selalu ada hal berharga yang pernah diperjuangkan.

XXXXXXXX

Posted in Cerita, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

POLITIK ABU NAWAS

Abu Nawas versi tahun 1920-an

POLITIK ABU NAWAS

Sebuah lelucon akan lebih terasa dekat, ia memanggil rasa haru, bangga dan bahagia secara akrab disaat waktu terlalu sempit untuk memaki atau menangisi nasib. Mungkin, karena itulah Abu Nawas terasa begitu akrab. Tiap kali seorang tokoh ditampilkan dengan perkasa, tercipta jarak. Jarak untuk kagum dari jauh, berusaha paham dengan arif. Dan untuk itu Abu Nawas hadir menampilkan ironi, membuka pintu menuju arif. Tak heran ia menjangkau siapa saja.

Dalam kisahnya kita belajar kebijaksanaan dengan riang, bahwa hati dengan ringan kita mengetahui bahwa yang suci tak sebegitu menggetarkan, bahwa yang berkuasa perlu mendengarkan si pandir. Lelucon menemukan sesuatu yang luhur bukan sekedar kotoran yang terserak, setidaknya ia memberi arti.

Abu Nawas lahir dari sejarah bukan dari ketiadaan. Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang). Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Khalifah Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Hidup dimasa gemilang pemerintahan Harun Al-Rasyid, dengan cara kacau balau mampu menolong atau sekaligus mengalahkan Khalifah dalam setiap masalah.

Saat itu zaman keemasan dimana emas diucapkan lebih banyak dibandingkan gandum, membongkar kebiasaan lama memandang kekayaan dan milik, melimpahnya emas juga merupakan sesuatu yang salah, ketika demand dan supply tidak berjalan dengan semestinya, pada akhirnya disebuah kota besar, dalam pasar yang ramai, tak banyak yang tahu. Di balik kekuasaan seorang Sultan itu ada apa? Dan ada siapa? Mengingatkan bahwa seorang Khalifah paling gemilang sekalipun membutuhkan masukan dari seorang pandir yang nakal.

Alangkah malang jika sebuah negeri dipimpin oleh mereka yang suka berpura-pura, lain dimulut lain dihati. Namun kemalangan yang melebihi hal itu adalah kesediaan masyarakatnya menerima penipuan itu dengan ikhlas. Maka kemalangan apa yang mampu melebihi hal ini.

Karena itu sosok Abu Nawas akan selalu kita kenang, ketika kita lelah dengan omong kosong politik. Ketika cerdik pandai duduk, diam, terhenyak, melihat masa kini bagai masa kini, melainkan masa silam yang cacat. Bersama Abu Nawas kita mengetahui bahwa pemegang kuasa tak lebih manusia biasa yang bisa salah, dan kekuasaan itu ternyata tidak terlalu membuat gentar asal kita menanggapi dengan humor, karena manusia siapapun ia sanggup menerima yang asyik, dengan bersahaja karena hampir tak ada satu pun menjauhi yang asyik, lucu, nakal dan tak terduga.

Politik Abu Nawas bukanlah hal yang luar biasa akbar, ia memberi nasehat bukanlah fatwa hukum, disitulah lahir kedalaman kearifan. Sebuah politik kehidupan berupa repetisi yang berulang tiap kali di seluruh hari, menunjukkan hidup ini bagai sebuah kebetulan yang tak jelas arahnya dan seolah absurd. Namun didalamnya tersimpan sesuatu yang arif, bahwa politik, sebagai panggilan, sebenarnya adalah panggilan yang muram, sedih dan dalam kesedihan itu seharusnya kita bertugas. Dalam lelucon dan senyuman, paradoks. Karena tertawa adalah hal yang paling terindah di dunia, jika kita paham akan estetika.

Mungkin, Ketika itu yang agung sebenarnya tak teramat menggetarkan dan tak teramat berarti lagi. Humor dan ironi lebih menyelamatkan dibanding impian akan kekuasaan dan kejayaan semata. Di mana manusia menemukan luhur dalam hidup, membebaskan akal praktis dari untung-rugi semata.

XXXXX

Berbagai Opini Lain Yang Terserak:

  1. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  2. Apa Yang Machiavelli Lakukan; 1 Juni 2011;
  3. Sultan Abu Nawas; 1 November 2013;
  4. Jangan Golput; 22 Maret 2014;
  5. Misi Mencari Abu Nawas; 7 Maret 2016;
  6. Bajak Laut : Pemberontak Atau Perompak; 17 Maret 2016;
  7. Membakar Buku Membunuh Inteletual; 6 Juni 2016;
  8. Riwayat Sarung; 9 Januari 2017;
  9. Tragedi Barbastro; 3 April 2017;
  10. Menentang Tradisi Memang Tradisi; 5 April 2017;
  11. Pengulangan Sejarah; 23 Mei 2017;
  12. Bom Bunuh Diri Untuk Kemenangan Siapa; 25 Mei 2017;
  13. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  14. Asal Muasal Budaya Kopi Di Aceh; 1 Agustus 2017;
  15. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 13 Comments

BERAI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Poster Pilem Assosiasi Budjang Lapok

BERAI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Hanya mereka yang kuatlah mampu berdiri sendiri, akan tetapi ada sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan sendirian di bawah langit yang luas ini. Takdir bahwa ditempat yang dinaungi cahaya juga memiliki tempat yang curam, dan terbuka kemungkinan akan rasa pahit. Akan tetapi hidup ini adalah parodi, dimana segala sesuatu yang asik meskipun menyedihkan akan membawa banyak tawa dibandingkan air mata.

Belakangan ini, Assosiasi Budjang Lapok sudah jarang berbual-bual dalam lepau nasi. Jarang sudah berassosiasi. Dalam keanggotaan penuh, mungkin sulit. setidaknya mencapai kourum pun tidak mampu, hanya Barbarossa dan Mister Big saja yang ada, pastinya sangat sepi. Walaupun sesekali Amish Khan dan Tuan Takur datang namun terasa kurang jika Laksamana Chen dan Penyair tidak berhadir. Seperti sayur tanpa garam. Top Five ABL sedang dalam keadaan berai !!!

Isu yang beredar Laksamana Chen dan Penyair setelah lebaran haji akan menikah, dan ini tentunya membuat ketua Assosiasi kebakaran jenggot. Bersama Mister Big, ia merencanakan sesuatu, mulai dengan menyurati dan mengecam, sampai menyebut Laksamana Chen dan Penyair sudah menua, dan memerintahkan keduanya untuk tidak menuakan diri. Apa jadinya ABL bila ditinggalkan dirigen (Laksamana Chen) dan Wiracarita (Penyair). Cerai berailah ABL.

Jumat malam, Barbarossa, Mister Big, Amish Khan dan Tuan Takur menikmati hidangan nasi di Lepau dekat pelabuhan sambil mencicipi teh tarik hangat. Kelihatan muka mereka cemberut, ini adalah malam libur mengapa Laksamana Chen dan Penyair tidak datang. Mister Big adalah yang paling runyam wajahnya, kecewa berat dengan kelakuan para sahabat yang dianggap mbalelo.

“Apa kau harap Mister Big, mereka sudah tua! Sudah tidak main lagi.” Barbarossa paling mengerti hati sejawat penjaga gudang beras kerajaan yang terkenal akan kegalauan itu

“Tua itu pasti, yang jelas beta kecewa mereka menuakan diri. Harusnya selamanya muda.” Mister Big lebih kecewa kepada Penyair dibandingkan Laksamana Chen, kalau Laksamana memang terkadang kumat kemalasannya, namun penyair biasanya bersemangat. Namun belakangan ini sering absen dengan alasan sakit. Malam tidak pernah keluar, mengapa bisa sakit. Sepertinya ada yang mencurigakan disini.

“Tidak baik memikirkan mereka, lebih baik kita bersenandung saja.” Potong Tuan Takur, ia tidak pernah tahu atau mau tahu essensi. Nikmati hari ini, peduli apa masa lalu dan masa depan. Sayangnya pilihan jalan pikiranya sering tidak dipedulikan anggota ABL lainnya.

“Sik, asikk. Sik, asikk. Sik, asikk.” Amish Khan menggoyang-goyangkan kepala.

“Kamu itu Inlander yang senang melihat kehancuran ABL. Dan kamu itu Inlander yang suka bergembira setiap saat.” Tunjuk Barbarossa kepada Tuan Takur dan Amish Khan. “Penyair pun satu, sudah aku minta untuk meneruskan serial ABL tapi malah sibuk bersyair tidak jelas, kemudian sakit pula. Sama seperti Laksamana Chen yang tua! Apa jadinya kalau nanti kita hanya makan nasi berdua Mister Big!” ABL terkesima. Tak sari-sarinya Top Leader ABL jadi begitu sewot dan berkobar semangat kebujangannya.

“Sebelum ABL berai, malam besok undang mereka. Aku mau bicara, penting!”

“Ada apa? Mau menikah ya Barbarossa?” Amish Khan mencoba mendinginkan suasana.

“Besok malam pukul sepuluh disini! di lepau nasi depan pelabuhan, aku bilang!” Barbarosa pergi dengan raut wajah kesal. Berbeda dengan anggota ABL lainnya, Barbarossa, Laksamana Chen dan Penyair adalah teman sedari kanak-kanak. Wajar jika Barbarossa gusar, ketika mereka tiba-tiba berai. Teman masa kecil tak terbeli oleh waktu.

XXXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 44 Comments