PLEDOI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

BATMAN ABL

Perjuangan kita adalah perjuangan menegakkan kebenaran, perjuangan untuk menjaga kemurnian iman perjuangan.

PLEDOI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Dunia hanya menjanjikan dua kepastian. Hal yang pertama adalah mati, dan hal yang kedua adalah tua. Dikatakan tua sendiri tak berarti harus menjadi kakek atau nenek, karena setiap penambahan umur baik sehari, sejam bahkan sedetik pun adalah proses penuaan. Waktu sejatinya adalah gerak tiada henti. Segala cara telah dilakukan manusia untuk menghentikan waktu, pergantian milenium tetap tak terhenti.

Organisasi tanpa plakat, Assosiasi Budjang Lapok mengalami pergantian zaman yang begitu cepat, sebetapapun legendaris mereka. Kurang lebih dapat dipastikan akan ditinggalkan hampir sebagian besar anggota di tahun depan. Semua anggota telah berpunya rencana, kecuali Barbarossa, Penyair dan Tabib Pong. Dan itu semua wajar, karena tiap generasi memiliki waktunya tersendiri. Orang-orang lama digantikan orang baru, jamak dalam hukum alam. Akan tetapi setiap orang tua memiliki penyakitnya sendiri. Kumpulan sikap sensitif, merasa hebat, ketakutan tak beralasan hingga hal-hal remeh-temeh yang didiagnosis sebagai penyakit tua.

Cerita bermula ketika Barbarossa dan Mister Big mengikuti Konfrensi Organisasi Warlords, sebuah organisasi kumpulan jenderal perang, begitulah mereka menyebut diri. Apa dan bagaimana bentuk organisasi itu sendiri tidak ada yang mengetahui, kecuali para anggotanya. Dan itu dilindungi dengan seperangkat kode etik yang keras. Desas-desus yang beredar di Bandar, organisasi ini tak lebih dari perkumpulan pencinta sejarah yang perangkat organisasi disamakan dengan struktur militer Kerajaan Bandar. Sepengetahuan masyarakat Bandar, organisasi ini dikomandoi oleh Abusyik dan Wali, masing-masing memiliki fungsi misterius, bahkan Barbarossa dan Mister Big sendiri selaku anggota organisasi WarLords tidak pernah membicarakan ini dengan anggota ABL lain, yang juga tidak pernah menanyakan.

Ini bermula ketika Abusyik bertanya, “Apakah ada korelasi antara penyuka sejarah dengan orang yang susah move on?”

“Menurut saya tiada.” Wali menjawab.

“Mungkin saja, untuk itu masa muda janganlah di sia-siakan.” Barbarossa punya pendapat.

“Tanda kesia-siaan waktu muda adalah bujang lapok.”

“Kalau lapok berarti tua Wali.”

“Betul Barbarossa, bujang sampai tua berarti dari muda tetap bujang. Jika sudah menikah namun bubar berarti bukan bujang.”

Sebenarnya tidak ada yang salah apa yang dikatakan Wali, Barbarossa tertawa masam di Konfrensi Warlords, apalagi Mister Big sempat berbisik pelan sambil tersenyum malu-malu. “Eksistensi ABL digugat Wali secara halus.”

Dengan gigi rapat Barbarossa membalas, “biar Penyair yang menyusun gugatan balik.”

X

“Apa pula beta malam-malam diganggu tidur sama dua burung hantu ini.” Penyair menggosok-gosokkan mata, turun tangga rumah dengan kesal. Hampir setengah jam Barbarossa dan Mister Big memangil-mangil. Menjelang akhir tahun pasar makin ramai, petugas pemungut cukai pasar pun mendapat tambahan jam kerja. Pergi sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari tenggelam. Akhir-akhir ini Penyair jarang bergabung dilepau nasi karena kelelahan.

“Hey, Penyair eksistensi kita sedang digugat!”

“Digugat pengadilan maksud kau Barbarossa?”

“Bukan pengadilan, jelaskan Mister!”

“Begini, sewaktu konfrensi Warlords tadi barusan. Wali mengatakan bahwa kita, ABL adalah grup sia-sia, tidak ada guna, penyakit masyarakat, pokoknya yang jelek-jelek.

“Iya kalau ABL memang jelek, kenapa memangnya? Lagian konfrensi Warlords itu kan urusan kalian berdua, beta apa hubungannya?”

“Gugat baliklah Penyair, setidaknya bantahlah.”

“Tidak mau beta! Kalian menyuruh beta menggugat Wali sama dengan misi bunuh diri. Wali itu sudah merantau kemana-mana, belajar ke negeri atas angin. Siapa Penyair?” Penyair menunjuk hidung. “Beta cuma penjaga pasar yang kebetulan menyukai syair.” Sambil mengangkat bahu.

“Ya, setidaknya punya kemampuanlah. Balaslah”

“Beta, sekali bilang tidak tetap tidak!”

“Tak usah terlalu kau bujuk dia Mister, mungkin memang si Penyair ini tipenya senang melihat kawan susah, malu mengakui berkawan dengan kita yang hina ini.”

“Kata-kata itu siapa yang mengajarkan Barbarossa! Jangan bilang nama beta Penyair kalau itu kejadiannya.”

“Jadi?”

“Beta susun sekarang! Kalian pulanglah, besok beta beri!”

XX

Selepas dhuhur, tiba-tiba Penyair datang ke gudang beras, Barbarossa dan Mister Big sedang tidur-tiduran, “Beta tak tidur semalam menyusun ini, ambillah!”

Barbarossa melonggokkan kepala, mengambil daun lontar dari Penyair.

“Duduklah dulu Penyair, ada banyak kueh dan kopi disini.” Kata Mister Big dari samping.

“Tapi waktunya kurang tepat. Beta harus kembali ke pasar.”

“Sudahlah Penyair, tak lama itunya.” Barbarossa membuka gulungan lontar dan membacanya. Penyair duduk, menunggu.

PLEDOI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK, PERJUANGAN KITA

Perjuangan kita adalah perjuangan menegakkan kebenaran, perjuangan untuk menjaga kemurnian iman perjuangan. Perjuangan kita jangan sampai dicemari oleh niat ketidakikhlasan, niat untuk menerima pujian.

Perjuangan kita bukanlah perjuangan membela yang lemah namun perjuangan yang membela keadilan, dimana setiap orang memperoleh haknya sesuai dengan kewajibannya.

Perjuangan kita bukanlah perjuangan yang bergantung pada seorang perorang, namun bergantung pada kontuinitas organisasi perjuangan.

Perjuangan kita, bukanlah perjuangan untuk menipu dengan kata-kata dimana orang sering terperdaya karenanya namun perjuangan kita adalah perjuangan dengan tindakan yang nyata.

Perjuangan kita tidak menginginkan “persatuan” yang dipaksakan karena hanya akan melahirkan “anak banci” namun perjuangan ini menginginkan persatuan dengan keikhlasan dan tulus hati demi apa yang kita sebut persamaan tujuan yang azali.

Terakhir, tujuan perjuangan kita adalah menjaga kedisiplinan diri kita melanjutkan perjuangan dikehidupan nyata.

Selesai membaca kening Barbarossa berkerut, “Terus ini mau diapakan? Diserahkan ke Wali?”

Penyair tertawa keras. “Terserah kalian berdua, mau ditempelkan di markas WarLords juga boleh.”

“Apakah ini tidak terlalu aneh?” Tanya Mister Big.

Penyair memakai kasut dan berkata, “akuilah kita semua memang aneh, makanya kita bergabung dalam ABL. Beta permisi.” Barbarossa dan Mister Big saling pandang. Penyair pergi dengan cepat, ia memacu kuda, debu naik ke angkasa.

“Mister, tidakkah kau merasa bahwa Penyair itu memiliki logika pikir yang aneh?”

“Ente juga aneh Barbarossa.”

“Tapi belum seaneh Mas Jaimkan?”

Mister Big tersenyum, “Mari kita tempelkan ke markas Warlords?”

“Ayo.”

“Tapi bagaimana dengan gudang beras ini? Siapa yang menjaga?”

“Aduh Mister Big.” Barbarossa terdiam sekejap. “Alah peduli setan, gudang ini tidak akan kemana-mana.”

XXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 41 Comments

CURSE OF HATRED

I retreated from the battlefield, for reasons which even now I can not explain, I found myself crying, but maybe because I was too tired.

CURSE OF HATRED

While I believe have done whatever I could do, and when it has felt unable to do anything else, I’m at peace with my destiny, and I do not fight it anymore. That’s what I call wisdom, even (perhaps) some people will say this is a weakness.

Those who do not know how long I was able to defy fate, to then end up being ash or dust. Though in existence for a while, I tried to choose wisely, walked slowly. Try, to try not to repeat the same mistake, again. And if you say, I did not try hard. Maybe you should learn to realize that I’m not as tough as it was.

Someone bolder, tougher than me. Will attack, in circumstances that make me surrender. I admit today, maybe because I already understand myself a bit more than before, that in this wide world, there are people wiser, more experienced than I am.

I was when I looked in the mirror. Is someone who never felt the situation of life and death, never when I say confession and surrender, given the opportunity to live a second time. In the evening, I remembered, all worldly pleasures are ephemeral and constantly changing.

All the joy and goodness that can be acquired by humans get from HIM, these words would be more meaningful to them, who had the opportunity to live more than once, it will swallow all verbal, curse of hatred in the mind at the same time

I retreated from the battlefield, for reasons which even now I can not explain, I found myself crying, but maybe because I was too tired. If I do not want to be something I hate, so I’d better go. I felt tired and wanted to own.

=maledicto odium=

Posted in International, Literature, Poetry | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

TRAGEDI

Akhir mengenaskan sang harimau akar, atau macan tutul itu mengi’tibarkan bahwa tragedi pahit tak selalu terceritakan.

TRAGEDI

Babah Nipah, 15 Nopember 2012

Ada yang menyakitkan menyaksikan macan akar tewas pada aspal hitam ditengah hari menuju puncak, aroma laut naik perlahan menuju langit. Salah satu tercantik Spesies Panthera Pardus menjemput ajal ketika “hanya” ingin menyeberang jalan, tergilas oleh roda kenderaan beberapa jam sebelumnya tergeletak, kondisi kepala remuk, satu dua lalat mendatangi darah beku disekitar. Akhir mengenaskan sang harimau akar, atau macan tutul itu mengi’tibarkan bahwa tragedi pahit tak selalu terceritakan. Peristiwa tercuri, tak berarti untuk dirindukan.

Jalan keberhasilan memang tidak mudah, sebegitu banyak aral melintang, panjang dan penuh tantangan. Terkadang sakit penuh penderitaan, dibutuhkan banyak nasib mujur karena sebutir kerikil mampu menjungkalkan. Sebaliknya, jalan kehancuran itu sebegitu mudah. Seperti si macan dahan, satu kelalaian langsung mengakibatkan kematian.

Macan tutul adalah hewan penyendiri dengan saling menghindari satu sama lain, lebih aktif di malam hari tentu berbeda dengan manusia yang secara naluriah adalah makhluk sosial. Manusia akan merasakan secangkir kopi pahit akan lebih pahit jika sendiri. Pepatah China klasik bahkan mengambarkan dengan lebih keras lagi, lelaki sejati akan selalu dapat mengenali satu sama lain, dan bahwa jalan yang ditempuh mereka akan selalu bersinggungan.

Jelaslah kita manusia tak dapat diperbandingkan dengan macan atau bahkan hewan lainnya, dan kita diberi kesedihan. Dikaruniakan nikmat berupa empati. Ada sebegitu banyak tragedi dunia, nun jauh disana kita bersedih untuk mereka yang menderita di Gaza. Namun tak pula kita boleh (sengaja) melupakan, bahwa di negeri ini ada manusia yang dibakar. Apakah kita sudah melupakan? Sejahat apapun seorang manusia, seberat apapun kesalahannya tidak boleh kita mengahzab dengan membakar. Sama sekali bukan hak manusia membakar! Manusia hanya boleh dibakar di neraka oleh Allah S.W.T. Apakah kita merasa lebih tinggi daripada tuhan sehingga membakar sesama manusia? Satu orang manusia adalah seluruh dunia, bagi mereka yang mencintainya.

Ada sedih, ada empati di Babah Nipah, di Peulimbang, di Palestina. Hendaklah kita meresapkan sejumlah tamsil dan sesekali mengingat getarnya, oh betapa bahasa bisa sangat ahli menyembunyikan kebenaran.

XXXXXXXXXXX

Posted in Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , | 5 Comments

TAKUT

Hidup adalah perjalanan tiada henti, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Sungguh aku tidak tahu, aku takut. Aku siap, setidaknya mencoba mempersiapkan diri menghadapi kecamuk kebetulan-kebetulan.

TAKUT

Sebuah perjalanan sebetapapun tidak puitisnya ialah cerita tentang melatih diri seraya berbagi sebegitu banyak. Ada getar yang membingungkan, yang mengelak dari hasrat di gunung yang harus kudaki sendiri, antara takut dan tidak. Yang satu tak bisa disebut tanpa yang lainnya, tak bisa tanpa yang satunya.

Padaku, ada sifat yang menolak dimasuki yang memintamu berpaling. Terselip gentar amat sangat pada bayang-bayang yang setiap kali diusir, muncul menari-nari di tempat lain. Sejenis kutukan dan hal-hal aneh bersembunyi ditempat-tempat gelap. Ketika batinku berkata, “jangan kehilangan nyali sekarang! Sementara kau telah berjalan sejauh ini.” Aku, mengasihani diriku sendiri.

Selalu ada keadaaan tak tergali. Ketakutan ini adalah hal-hal yang tak terungkapkan, berada diluar pemahaman. Gelisah ini memintaku berlari dan terus berlari setiap memiliki kesempatan, mengingat bayangan itu mencekikku pada malam-malam yang dingin, memuntahkan segala perisai keberanian terserak acak.

Hidup adalah perjalanan tiada henti, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Sungguh aku tidak tahu, aku takut. Aku siap, setidaknya mencoba mempersiapkan diri menghadapi kecamuk kebetulan-kebetulan. Ketakutan itu memiliki kejujurannya sendiri. Seperti halnya apa yang kubenci bertahun lalu menyelamatkan aku hari ini, masih beranikah aku memiliki kebencian.

Ini aku lakukan bukan karena aku luar biasa pemberani, bukan hikayat yang patut dikenang sepanjang masa, biasa saja. Bukan pula karena aku takut tak mampu menyembunyikan rasa takutku lagi. Tapi karena kami adalah sepasang musuh yang tak pernah bertemu (lagi), dimana aku gentar padanya, terhukum untuk cinta yang sama.

Jika saya harus pergi, (maka) saya akan pergi.

XXXXXXXXXXX

Posted in Cerita, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

TAHU

Kuburan Massal Korban Tsunami Aceh

TAHU

Apakah sesuatu “tahu” itu bisa bersifat mutlak? Ataukah “tahu” boleh bersifat praduga? Tiada yang menjawab. bertanya kepada siapa? Sebongkah batu gunung berkata, keduanya ilmu. “tahu” sama dengan teori, bisa sama dengan praktek. Seperti halnya tahu cara makan tapi tidak bisa karena sakit gigi. Dalam hal lapar, namun tiada keinginan makan (mungkin) terjawab, atau (mungkin) ini hanya praduga yang bisa salah. Toh, selalu ada hal-hal yang tertangkap indera.

Sebenarnya, hidup ini adalah sebuah tragedi. Kita tahu apa yang kita hadapi kemarin, namun kita tidak tahu pasti akan yang akan terjadi hari ini, apalagi besok dengan pasti. Kita bisa menyelamatkan hidup seseorang hari ini, tapi apabila suatu waktu orang itu harus memilih antara kita dan saudara mereka yang berseberangan dengan kita, kau tahu siapa yang mereka pilih. Meski ia punya pandangan yang sama dengan kita. Meskipun ia tahu, kita yang benar.

Tapi bagaimanapun kita harus tahu, atau setidaknya mencoba untuk tahu. Karena siapa tahu, kebodohan bisa sangat menakutkan. Yang terlihat bisa jadi sebuah fatamorgana, sepertinya kebenaran belum tentu bersama khalayak ramai, dibeberapa waktu ia hanya berada disedikit orang. Beberapa tindakan paling keji diambil dari dasar pikir setengah tahu. Maka cobalah kita meresapkan sejumlah tamsil, dan sesekali mengingat getarnya.

Ada banyak tali sejarah yang mengikat sesuatu yang lebih tua, sesuatu yang lebih dahulu hadir mengajarkan kita banyak hal, sebenarnya manusia selalu merasakan dirinya paling menderita didunia, oleh karena itu manusia secara tidak sadar senang melihat penderitaan orang lain, beberapa merasa senang karena ada yang lebih menderita, beberapa belajar bersyukur.

Maka berbahagialah mereka yang ikhlas, mereka yang mengetahui bahwa perannya di dunia tidak sia-sia. Karena jika sebenar-benarnya tahu, tidak ada yang sia-sia di dunia ini.

XXXXXXXXXXX

Posted in Mari Berpikir, Puisiku | Tagged , , , , , | 2 Comments

LINGKARAN ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Setiap perubahan belum tentu berbuah kebaikan, akan tetapi tidak akan ada perbaikan tanpa perubahan.

LINGKARAN ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Setiap perubahan belum tentu berbuah kebaikan, akan tetapi tidak akan ada perbaikan tanpa perubahan. Musim hujan mendatangi kerajaan Bandar bersama sumrigah, hujan adalah pembawa kesuburan, pergantian musim berjalan bersama waktu. Akan tetapi sebuah lingkaran hanya akan berulang pada dirinya, sebuah keabadian yang tak abadi. Di situ, pada waktu yang bergerak Assosiasi Budjang Lapok ada. Di lepau nasi mereka ber-repetisi, tokoh-tokoh yang hadir masih dengan langgam yang sama.

Tahun ini merupakan tahun terburuk, dari yang paling terburuk dari Barbarossa, setelah Santiago sang pelaut menikah, satu persatu sahabat Assosiasi menunjukkan gejala melakukan gerak menjauh. Amish Khan akan segera menikah pada pergantian bulan, pada pergantian tahun Laksamana Chen, Mister Big, Professor Gahul akan segera mengikuti jejak Santiago dan Abuyan. Pada gerak melingkar memang masih ada Tabib Pong, namun apa guna jika sang Tabib jauh di Selatan Bandar, memang masih ada Tuan Takur tapi apa guna jika sang Pangeran “suasana hati” ini semakin jarang menunjukkan batang hidung, tinggallah Penyair yang damai, tapi apa yang bisa diharap pada pencinta kitab yang cenderung asosial? Bahkan jika dunia kiamat sekalipun, si Penyair akan lelap dalam tidur.

Entah praduga atau nyata, Barbarossa ini terjengkang. Sakit parah, butuh waktu seminggu bagi Pemimpin Faksi ABL untuk sembuh kembali. Satu persatu anggota Assosiasi membezuk, namun uniknya dalam daftar hadir tidak satu pun hadir nama seorang perempuan, apalagi anak dara. Terbukti dan pasti, derajat kegaulan menurun drastis. Dalam masa istirahat, dalam masa melihat cicak-cicak di dinding itu terbesitlah sebuah idea, agar Assosiasi bergerak. Dalam gerak yang salah di mata penyair, biasanya penyair nyaris selalu se-idea dengan Barbarossa. Akan tetapi ide Barbarossa untuk memperluas keanggotaan Assosiasi tidak dapat diterima Penyair, ide Assosiasi ini tidak dapat diternakkan. ABL tidak untuk diregenerasikan, Assosiasi hanya dinikmati dalam kelucuan. Begitu pendapat Penyair, akan ada masa melingkar ini berakhir, cukup. Bukan Barbarossa, jika ia kehabisan akal. Sengaja datang lebih awal ke lepau nasi, menyeleksi calon anggota baru ABL, Mas Jaim.

mBoten, mboten napa-napa Barbarossa.”

“Serius Mas Jaim, kau tidak apa-apa ditolak masuk sebagai anggota?”

“Lha, ya, saya kan Cuma ngunandika, Barbarossa. Kalau bisa saya sokur-sokur diterima sebagai anggota assosiasi. Kadang-kadang saya suka bingung sendiri, teman-teman saya sudah tidak mengingat lagi. Entah kemana mereka. Begini, setiap hari hanya kalian yang saya lihat. Sepertinya Assosiasi ini elok tenan. mBok ya, saya boleh bergabung.”

Masalahnya Penyair, Barbarossa menggerutu dalam hati. Mengambil kaleng tembakau, melinting dan menghembuskan asapnya ke langit-langit. Tiba-tiba, tanpa aba-aba Penyair sudah duduk di depan meja Barbarossa.

“Oh, Barbarossa. Kau masih mempertimbangkan menerima Mas Jaim sebagai anggota Assosiasi ya? Bukankah sudah beta katakan, tidak boleh ada yang namanya perekrutan. Apa kata dunia jika kita mengumpulkan segenap bujang di seluruh penjuru Bandar!”

Mas Jaim menunduk, Barbarossa berkilah.

“Kau enak penyair berteman kitab kuno. Aku? Apa jadinya jika satu persatu teman kita sudah tidak memiliki waktu untuk bersantai-santai bersama di lepau nasi. Lihatlah sekarang sobat? Mereka sudah jarang muncul. Dunia ini penyair, tidaklah sama dengan kitab-kitab yang kau baca.”

“Sadarkah kau Barbarossa, hari ini Mas Jaim, besok Bang Tegab, besoknya entah siapa lagi. Tahukan kau, jika kita  bisa dikenakan qanun. Karena menghambat orang-orang menikah di Bandar!”

“Ya bukan. Ning Barbarossa sudah seperti sedulur to, apakah sampeyan tidak ingin bersaudara dengan saya?”

Penyair memandang Mas Jaim dengan ekspresi terheran-heran. Mungkin tidak menyana mendapat pertanyaan begitu dari Mas Jaim.

“Bagaimana Penyair?”

Lubang hidung Penyair kembang-kempis. Membuang muka, entah malu atau terharu. Tetapi tunggu dulu! Terlihat olehnya Amish Khan mampir ke lepau nasi ditemani calon adik iparnya membeli nasi. Penyair melambaikan tangan memanggil, mereka mendekat.

“Barbarossa, Penyair masih begini-begini saja kalian?” Amish Khan tertawa melihat kedua sobatnya, kemudian tersenyum kepada Mas Jaim.

“Kalau beta memang sedari dulu begini, tapi sepertinya Barbarossa mulai kesepian. Dik, cobalah kau carikan jodoh buat abang itu.” Penyair mengajak bicara calon adik ipar Amish Khan seraya menunjuk Barbarossa. Bocah lelaki belasan tahun itu menatap Barbarossa, terkejut.

“Teman saya tidak ada yang mau dengan om-om. Bagaimana dengan ibu kantin sekolah saja.”

Amish Khan dan Barbarossa serentak tertawa dengan irama berbeda, Amish Khan dengan langgam ceria, sedang Barbarossa dengan irama getir. Akan tetapi kata-kata bocah itu bagaikan halilintar ditelinga Penyair. Mas Jaim menunduk, entah mengerti atau tidak.

“Apa kubilang, kalian sudah tua. Saatnya sadar.” Amish Khan tertawa terbahak dan pergi.

“Setua itukah kita, Barbarossa?”

“Iya.”

“Tidakkah kau mengingat ketika sekolah Barbarossa, setua apa itu Ibu kantin? Bukankah calon adik ipar si Amish Khan itu bersekolah sama dengan kita yang dulu?”

“Iya.”

Penyair berpikir, kemudian menatap Mas Jaim.

“Kalau begitu saya terima Mas Jaim sebagai anggota, selanjutnya kita buka pendaftaran Assosiasi kepada siapapun yang mendaftar.  Assosiasi baiknya sebagai organisasi terbuka saja.”

“Terima kasih Penyair, semoga Panjenengan tambah pangestu, tambah mudah rezeki. Karena membela wong cilik seperti saya.” Mata Mas Jaim bersinar senang, berbahagia.

“Mas Jaim, bukan karena itu kau diterima sebagai anggota oleh Penyair. Bukan itu, itu karena dia sudah sadar karena bahwa dia sudah tua juga seperti aku. Bukankah umur dia sendiri lebih tua setahun dari aku.”

Barbarossa tertawa terbahak dengan kekuatan frekuensi penuh, Penyair mencomot kaleng tembakau dari tangan Barbarossa, melinting dengan penuh emosi, menghirup tembakau dengan mata kesal kemudian menghembuskannya ke langit-langit.

Endak mudeng saya.”

“Penyair, kamu suruh dicarikan calon istri juga dengan adiknya Amish Khan?” Goda Barbarossa.

“Tidak perlu! Beta banyak saudara!” Penyair sewot di-touche sejawat.

Barbarossa semakin terbahak, Mas Jaim hanya senyam senyum. Lebaran haji mendekat, beberapa orang masih dalam gerak melingkar.

XXXXXXXXX

Selamat Ulang Tahun ke-27 kepada Tabib Pong. Sahabat kami, kebanggaan kami, assosiasi kami nun jauh di Selatan Bandar.

Tertanda : Barbarossa, Laksamana Chen, Mister Big, Penyair, Professor Gahul, Tuan Takur, Amish Khan, Santiago Si Pelaut, Abuyan, Mas Jaim, Bang Tegab beserta segenap kru Assosiasi Budjang Lapok.

XXXXXXXXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 37 Comments

BUKAN MANUSIA ZAMAN INI

Setiap manusia, atau jika boleh dispesifikkan kepada laki-laki akan tetap kanak-kanak seberapapun umur. (Mungkin) itulah alasan mengapa lebih banyak laki-laki baku hantam antara sesama laki-laki dibandingkan kaum perempuan.

BUKAN MANUSIA ZAMAN INI

Zaman ini, adalah zaman para motivator. Seberapakah pentingnya mereka? Ketika kau merasakan kegagalan yang pahit sekalipun. Apa perlunya mereka? Mungkin ada, tapi tak lebih dari sedikit. Hanyalah pengobat sementara tanpa solusi paripurna, pernahkah kita berpikir bahwa kebijaksanaan dari pola pikir sendiri akan lebih baik. Sesuatu yang lebih dalam, lebih terpadu, lebih berkesimbungan dilahirkan dari sebuah pemikiran filosofis, mungkin muncul dari diri, mungkin dicerahkan oleh para bijak.

Lhokseumawe. Dua puluh dua tahun, disebuah masjid dikala isya’. Abu terlambat dan masbuk di jajaran belakang, seingat Abu sudah raka’at keempat. Imam telah salam, disamping Abu ada seorang tua juga masbuk. Mungkin Abu tidak khusyu’ sehingga terkesima dengan kekhuyu’an orang tua tersebut, meski sama-sama masbuk Abu memutuskan untuk mengikuti gerakan shalat orang tersebut. Selesai salam, orang tua tersebut memandang wajah Abu dengan sebuah keusilan atau mungkin keingintahuan.

“Kamu pura-pura bodoh atau memang bodoh?”

“Abu tidak tahu.”

Ia tersenyum puas, dan disitulah pertama kali kami berkenalan. Dan orang tua tersebut adalah Tengku Salek Pungo.

Banda Aceh. Dua puluh delapan tahun. Beberapa orang bijak memang tak terganti, meski kita pernah berusaha keras mencari, meski kita membangun sebuah perpustakaan sekalipun, tak pernah ada yang mampu menyamai. Tempat bertanya yang paling baik adalah tempat bertanya yang membiarkan pikir kita sendiri menemukan jawaban.

Sekarang, saat ini. Abu mencoba mengingat dialog-dialog ringan pada masa itu. Sebaik-baik pembelajaran adalah melalui dialog. Dialog mempertajam, merangkumkan dan memberi contoh tepat guna, jika kita berpikir.

“Abu, dunia itu bulat atau hampa?”

“Jelas bulat tengku.”

“Kamu yakin?”

“Tengku curang!”

“Persepsi Abu.”

Segala sesuatu memiliki persepsi tersendiri, seorang lawan (mungkin) akan melihat musuh kita sebagai kawan. Akan tetapi kawan kita (mungkin) tidak melihat musuh kita sebagai lawan.

“Abu, tahun ini bagaimana usiamu?”

“Bertambah tengku.”

“Bukannya berkurang?”

“Tengku terlalu filosofis.”

“Abu yang terlalu curiga.”

“Tengku kanak-kanak.”

Setiap manusia, atau jika boleh dispesifikkan kepada laki-laki akan tetap kanak-kanak seberapapun umur. (Mungkin) itulah alasan mengapa lebih banyak laki-laki baku hantam antara sesama laki-laki dibandingkan kaum perempuan. (Mungkin) itu pula alasan mengapa laki-laki lebih suka bermain dan berolahraga. (Mungkin) pula itu alasan mengapa laki-laki, lebih ….

“Saya telah sarjana tengku.”

“Terus, apakah kamu menjadi lebih pintar?”

“Tidak tahu tengku.”

“Katanya sarjana, kok tidak tahu?”

“Sampai Profesor pun saya bukan tandingan tengku.”

“Saya SR tak tamat Abu.”

Bumi beserta isi adalah bagian kecil dari alam semesta. Bagi manusia ternyata bumi yang bergaris cakrawala ini ternyata sangat luas. Ada banyak hal yang masih misteri bagi insan. Maka jangankan pengetahuan langit yang dituliskan pada kitab suci, manusia pun bahkan tak mengerti siapa dirinya.

“Abu, kamu terlalu banyak membaca buku Barat.”

“Apa salahnya Tengku? Jangan penjarakan imajinasi saya!”

“Tidak salah. Tidak salah lagi Abu, kamu murid saya paling bodoh.”

“Tak apalah saya murid paling bodoh, asal Tengku mengakui saya sebagai murid.”

“Tahukah Abu, kamu adalah murid yang paling saya sayangi.”

“Kenapa bisa begitu Tengku?”

“Karena kamu adalah yang paling bodoh.”

Menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban, tindak tanduk yang harus dilakukan dengan sepenuh tekad dan kerendahan hati. Karena ilmu diibaratkan pedang, sebuah pedang harus terus diasah disepanjang usia. Berhenti menuntut ilmu diibaratkan sebuah pedang yang menunggu kematian, menumpul dan menjadi rongsokan. Ilmu adalah pedang.

“Abu, siapakah pemegang pedang terbaik?’

“Yang mahir dan ahli.”

“Kemahiran dan keahlian tidak menjadi baik tanpa keadilan.”

“Saya paham, maksud Tengku keadilan adalah yang terbaik.”

“Pemegang pedang yang adil baik, tapi yang terbaik adalah yang penyayang.”

Dunia ini dapat berjalan karena kasih sayang, sebaik-baiknya keputusan adalah yang dimana ada unsur kasih sayang di dalamnya, sebaik-baiknya hubungan adalah yang berkasih sayang, sebaik-baiknya manusia adalah yang berkasih sayang. Dunia ini terbentuk karena kasih sayang.

Lhokseumawe, dua puluh tujuh tahun. Abu dipanggil pulang ke Banda Aceh, selesai masa bakti di kota petrodollar Aceh, sebuah kepulangan sementara ke kampung halaman, Banda Aceh. Kelak, pasti akan diperintahkan pergi (lagi). Abu pamit.

“Tengku, dapatkan saya tanpa guru?”

“Saya tidak tahu Abu.”

“Tengku, dapatkah kita bertemu kembali?”

“Saya tidak tahu Abu.”

“Maukah tengku menggunakan Handphone?”

“Tekhnologi membunuh insting Abu, kamu tahu prinsip saya.”

“Tengku keras kepala!”

“Itu adalah hal yang paling saya tidak tahu.”

Ketidaktahuan adalah muasal dari segala ilmu pengetahuan, jika kita berpikir. Dengan mengaku tidak tahu, manusia mencari tahu akan segala sesuatu. Dan semenjak hari dimana Tengku Salek Pungo mengaku tidak tahu itu, Abu belum pernah bertemu lagi beliau. Memang, ada beberapa kali Abu ke kota Lhokseumawe, namun langkah belum mempertemukan kami sejak itu.

Medan, hari ini. Dua puluh delapan tahun. Sebenarnya, ada banyak hal yang Abu akui tidak Abu tahu. Ada sangat banyak tentang kehidupan di mana dasar keputusan tidak ada. Beberapa orang menganggap Abu telah bijak sehingga timbul jumawa, beberapa orang menganggap Abu naïf, sehingga timbul rasa ketersinggungan, beberapa orang menganggap Abu emosional sehingga memacu sikap pemarah, hal ini memunculkan sebuah kerinduan kehadiran beliau. Semoga Allah memberikan umur yang panjang dan berkah kepada beliau.

Tengku Salek Pungo adalah seorang yang dekat dengan masa lalu, kerap dilupakan namun sebenarnya menyimpan sejuta pelajaran kepada kita di masa sekarang, seorang radikal di zaman yang menolak radikalisme. Karena ia, adalah bukan manusia zaman sekarang.

Teruntuk orang tua yang bangga disebut bangka,

Teruntuk tengku yang mengaku “salek pungo”,

Teruntuk kepala yang terbuat dari batu,

Teruntuk bagi seorang guru yang penyayang,

Rindu hadir dan salam rindu padamu.

Medan, Senin dini hari, 15 Oktober 2012

 

“Apa kau mengingat kejadian saat usiamu dua puluh dua? Ada setengah lusin almanak berganti. Disana ada jarak, lembar-lembar kelender silih berganti adalah tanda, waktu berjalan. Apa yang akan kau lakukan saat gagal mewujudkan impian? Menjadi lemah dan beralasakah? Padahal mungkin keadaan tak seburuk yang dipikirkan. Masa depan jelas tak dapat diperkirakan, sebuah hukum mutlak yang perlu dingatkan pada segala zaman. Sekuat apapun engkau mencoba, kau tak akan mampu kembali kemasa lalu. Maka hadapilah masa kini, dengan gagah berani.”

XXII-XXIII-XXIV-XXV-XXVI-XXVII-XXVIII

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

SEPULUH NATIJAH

Sepuluh Natijah

SEPULUH NATIJAH

Pasti ada hikmah akan segala sesuatu, kejadian dan makhluk di dunia. Kadang-kadang teka-teki adalah kebenaran, dan betapa bahasa bisa sangat ahli menyembunyikan kebenaran.

“ini adalah gunung yang harus ku daki sendiri.”

Adalah jawaban pertanyaan, “aku ingin menanyakan kebaikan hati tuan.”

Pada saat lalu, masih dimusim kemarau ini.

I

“Aku hanya ingin sedikit mengenang kesenangan dunia. Aku tak meminta apa-apa, dan juga tak bisa memberi apa-apa.”

“Jangan kehilangan nyali sekarang, sementara kita telah berjalan sejauh ini.”

Apalah waktu selain gerakan? Apalah gerakan selain panas? Dan bukankah energi dan panas adalah nama yang berbeda untuk hal yang sama.

II

“Aku lemah, jadi beralasan. Kalau sendirian tak bisa apa-apa dan aku benci itu.”

“Kita mungkin gagal. Meski demikian, tetap ada yang berharga yang kita perkelahikan.”

Tak aneh jika banyak orang duduk, terhenyak, melihat kini bukan sebagai kini, melainkan sebagai masa silam yang cacat.

III

Sekuat apapun aku berniat berjuang, diriku sendirilah yang menarikku.”

Aku pun pernah merasakan kehilangan sesuatu yang berharga karena ketidakmampuan diri sendiri.”

“Aku sebenarnya tak tahu, muka mana dari takdir yang akan muncul dan apa yang menyebabkannya. Kupilih besok, tapi aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti dengan sisa hidupku. Aku tak tahu, tapi aku tak takut. Aku siap.”

Bukankah kalau jika saling memahami satu sama lain maka jalannya akan terbuka dengan sendirinya.

IV

Perasaan kecil pun tak dapat ku jaga.”

“Mengapa segalanya begitu sulit?”

“Rasanya sunguh salah jika begitu banyak orang menderita demi tujuan yang tak akan tercapai.”

Bayangan sulit ditangani, apabila ia diusir, ditempat lain ia muncul menari-nari. Betapa sebuah keheningan bisa memekakkan telinga.

V

Demi  orang yang ingin kulindungi, aku akan berusaha mati-matian. Jika harus kehilangan nyawa, itu sesuai harapanku. Meski dengan membuang segalanya, bahkan sampai tubuh ini terbakar habis.”

Jiwa itu sudah lama pergi, sudah lama meninggalkannya, aku tidak tahu. Mungkin jiwa itu tidak pernah benar-benar berada disana. Mungkin, aku hanya mengharapkannya atau mengkhayalkannya. Pada saat itu, aku sedang menatap mayat, tapi menolak untuk mempercayai kematiannya.

VI

“Tapi bukankah dongeng yang kita sukai bisa bercerita tentang hasrat dan cemas kita yang tersembunyi?”

Kata tapi mengugurkan kalimat sebelumnya, namun apa yang hendak dibatalkan bila tiada kalimat sebelum kata tapi. Tiada dongeng, tidak disini.

Aku sudah mati. Aku sudah mati di dalam hati, tetapi aku akan menyelesaikan apa yang harus aku lakukan.”

VII

“Sungguh aku tak mengenal benci atau dendam.”

Apakah ia hendak mengatakan dirinya manusia suci yang tak mengatakan rasa benci atau dendam.

Kurasa ia ingin mengatasi dirinya sendiri.

VIII

Senjata yang dipegang untuk melukai musuh ini suatu saat juga dapat melukai tangan yang menggengamnya.

“Langit malam. Apa yang kucari? Apa bisa menemukannya? Dimana?  Bukankah itu sesuatu yang penting?”

Memiliki kekuatan, keberuntungankah? Ataukah sebuah kemalangan.

IX

Maka senyuman mereka terbungkus kenangan dan kerinduan ironis yang tak terucapkan

Titik dimana lupa menyiapkan kekosongan, di antara kerlip dan hilang.

“Ini bukan saatnya melihat, di depan gelap gulita.”

Ia ingat sejuk tadi pagi, setelah malam yang gerah. Ia ingat burung. Ia ingat kembang anggrek. Ia merasakan sesuatu yang mengguncangkan hatinya. Bukankah malam tergelap adalah sebelum fajar?

“Ini saat bersunyi-sunyi.”

Luka separah apapun mampu disembuhkan, tapi tidak sepatutnya menyebabkan orang tertawa.

X

Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

GUGATAN KAMI

South Vietnamese National Police Chief Brig Gen. Nguyen Ngoc Loan executes a Viet Cong prisoner with a single pistol shot in the head in Saigon Feb. 1, 1968. Nguyen died Wednesday, July 15, 1998, at his home in Burke, a suburb of Washington, D.C., after a battle with cancer, said his daughter, Nguyen Anh. He was 67. This photo of Nguyen aiming a pistol point-blank at the grimacing prisoner’s head became a memorable image of the Vietnam War. The photograph, by Eddie Adams, won a Pulitzer prize for The Associated Press.

GUGATAN KAMI

Kita harus belajar dari pada kasus Putri, 16 tahun. Bagaimana kecerobohan menempatkan standar moral menjadi hukum berdasarkan praduga, membuat seorang memilih mengakhiri hidup karena malu dituduh menjual diri. Negara dalam keikutcampuran dalam susila secara tidak langsung telah membunuh seorang anak manusia, seorang manusia berarti keseluruhan dunia bagi orang-orang yang menyayanginya. Sudah hilangkah rasa kasih sayang diantara kita? Menerapkan etik dengan dingin, memberi label, mengumumkan kepada khalayak tanpa rasa bersalah, sedikitpun.

Ketika perjanjian Hudaibiyah sedang disusun, ada kepingan peristiwa menarik. Saat itu Rasulullah S.A.W mendiktekan ketentuan-ketentuan dari perjanjian tersebut kepada Ali bin Abi Thalib. Beliau memerintahkan Ali untuk menulis: “Atas nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.” Wakil dari pihak Quraisy, Suhail bin Amr, mengatakan bahwa ia tidak mengerti apa arti kata “Maha Pengasih” (Ar-Rahman) itu. Ia berkata, “Tulis saja Dalam namaMu ya Allah, seperti kebiasaan kita.” Awalnya Ali segan untuk menyetujui permintan Suhail itu, namun Rasulullah S.A.W memerintahkan Ali untuk menulis sesuai dengan keinginan Suhail. Menariknya disini, meski Nabi menyetujui permintaan Suhail, adalah selain perbedaan tauhid antara muslim yang menyembah Allah S.W.T yang Esa dengan Quraisy yang meyakini ada anak-anak Allah seperti Latta, Uzza, Hubal dan sebagainya, ada perbedaan pola pandang melihat Allah S.W.T. Allah yang kita sembah adalah IA Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Oleh karena itu kita selalu mengucapkan Bismillahirahmanirrahim, sebelum melakukan sesuatu. Hari itu, di Hudaibiyah Nabi menyetujui permintaan Suhail demi menegakkan perdamaian, selayaknya kita hari ini mengambil hikmah dari kejadian tersebut.

Sebuah kisah menjelaskan. Ketika Aisyah dan rombongan Rasulullah S.A.W dalam perjalanan menuju Madinah dan Aisyah tertinggal di perjalanan karena beliau mengambil kalungnya yang tertinggal, saat itu Aisyah r.a naik ke dalam tandu sehingga tidak terlihat berada di dalam atau tidak. Selang waktu, muncul Shafwan ibn Al-Mu’athal yang tertinggal dari rombingan. Ia mengenali Aisyah dan mengantar pulang Aisyah dengan menuntun untanya agar dinaiki. Tetapi di Madinah, Abdullah ibn Ubay, menyebarkan fitnah tentang Shafwan dan Aisyah. Kabar itu tersebar ketika Aisyah jatuh sakit. Aisyah tidak diberitahu oleh ibunya karena takut menjadi terguncang. Kabar bohong sangat menusuk Rasulullah S.A.W . Suatu hari, Rasulullah mendatangi Aisyah ke rumah Abu Bakar memintanya mengaku dan bertaubat. Bagaimana bisa Aisyah diminta mengakui perbuatan yang tidak ia lakukan, beliau menangis seraya menjawab, “Kesabaran yang indah, Allah sungguh akan menolong dari apa-apa yang kalian sifatkan.” Surat Yusuf ayat 18. Setelah kejadian itu Rasulullah tidak pernah keluar rumah. Beberapa hari kemudian turunlah wahyu Surat An-Nur 11-22.

Allah S.W.T membela harkat dan derajat kaum perempuan, Surat An-Nur ayat 11-22 merupakan konsep moral luhur Islam berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang datang membawa berita bohong itu adalah golongan kamu juga. Janganlah kamu kata bahwa perbuatan mereka itu membawa akibat buruk bagi kamu, bahkan itu adalah mem­baikkan. Setiap orang akan men­dapat hukuman dari sebab dosa yang dibuatnya itu. Dan orang yang mengambil bagian terbesar akan mendapat siksaan yang besar pula. Mengapa setelah mendengar berita-berita bohong itu orang­-orang yang beriman, baik laki laki ataupun perempuan, tidak meletakkan sangka yang baik terhadap dirinya, mengapa tidak mereka katakan bahwa berita itu adalah bohong belaka? Mengapa mereka menuduh tetapi tidak mengemukakan empat orang saksi; kalau mereka tidak mengemukakan saksi-saksi itu, mereka adalah pembohong belaka dalam pandangan Allah. Kalau bukanlah kemurahan Tuhan Allah dan kasih rahmat­Nya kepada kamu di atas dunia ini dan di akhirat kelak, niscaya kamu akan ditimpa oleh azab yang amat besar karena berita yang kamu siarkan itu. Ketika kamu sambut berita itu dari lidah ke lidah, kamu katakan dengan mulutmu perkara yang samasekali tidak kamu ketahui; kamu sangka bahwa cakap­cakap demikian perkara kecil saja, padahal dia adalah perkara besar pada pandangan Allah. Alangkah baiknya ketika kamu mendengar berita itu kamu kata­kan saja: Tidak sepatutnya kami membicarakan berita bohong ini. Amat Suci Engkau ya Tuhan, berita ini adalah bohong besar belaka ! Tuhan memberi pengajaran bagi kamu, supaya jangan meng­ulangi lagi perbuatan seperti itu buat selama-selamanya. Kalau betul kamu mengakui beriman. Dan telah dijelaskan oleh Tuhan ayat-ayatNya kepada kamu! Dan Tuhan Allah adalah Maha Me­ngetahui dan Maha Bijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang suka sekali supaya tersebar berita-berita keji dalam kalangan orang-orang yang beriman, me­reka akan mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Allahlah yang Maha Tahu dan kamu semua tidaklah menge­tahui. Dan sekiranya tidaklah karena Kumia Tuhan Allah atas kamu beserta rahmatNya, dan kalau sekiranya tidaklah Tuhan Allah itu Penyantun dan Penyayang (binasalah kamu). Wahai orang-orang yang ber­iman, janganlah engkau turuti jejak langkah syaitan, karena syaitan hanya menyuruhmu berbuat kejelekan dan kemungkaran. Kalau bukanlah Kurnia Allah kepada kamu dan rahmat­Nya, tidak seorang jua pun di antara kamu yang bersih (dari dosa), tetapi Tuhan Allah mem­bersihkan siapa yang dikehen­dakiNya. Dan Allah Maha Men­dengar dan Mengetahui. Dan janganiah bersumpah kaum yang mampu dan berkelapangan, bahwa mereka tidak akan membantu lagi kaum kerabat yang hampir dan yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Tetapi hendaklah mereka memberi maaf dan ulurkan tangan. Tidak­kah kamu suka jika Allah mem­beri ampun kepada kamu? Dan Allah adalah Maha Pemberi Ampun dan Maha Penyayang. Sungguh Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Surat An-Nur ayat 11-22 memberi peringatan, tidak boleh menuduh seorang perempuan tanpa ada empat orang saksi, apalagi hanya berdasarkan praduga belaka? Maka sungguh zalim, ketika kita manusia menjatuhkan vonis hanya berdasarkan praduga belaka. Tidakkah ada rasa kasih sayang di hati kita, sehingga dengan mudah mencemarkan nama baik seseorang? Harus diingat bahwa apabila nama seseorang cemar sekali, maka cemarlah selamanya. Pembunuhan karakter sebagai akibat fitnah adalah lebih kejam dibandingkan pembunuhan sesungguhnya, kasus Putri telah menampar kita dengan telak, jangan sampai terulang.

Mungkin kita lupa, atau memang pura-pura lupa. Bahwa Rasulluah S.A.W melakukan hukuman rajam, hanya sebanyak tiga kali. Itu pun, atas permohonan sendiri. Orang-orang tersebut telah diminta bertaubat, ia bertaubat dan mendapatkan ampunan. Ketika orang-orang tersebut bersikeras tetap untuk dijatuhkan hukuman kepada mereka, barulah hukuman rajam dilakukan atas diri mereka. Betapa Rasulullah S.A.W sangat berkasih sayang. Mengapa itu hilang di diri kita? Beberapa orang berkata, kita tidak hidup sezaman dengan Rasulullah S.A.W. Orang-orang sekarang berbeda dengan zaman Madinah, apakah kita juga sudah lupa? Bahwa pada zaman itu sedang bertransformasi dari masyarakat Jahiliyah menjadi masyarakat Madinah. Sekarang memang bukan zaman yang sepenuhnya Madinah, akan tetapi tidak pula sepenuhnya Jahiliyah.

Disegala zaman, sebaik-baiknya adalah keputusan yang memiliki unsur kasih sayang didalamnya. Kesalahan kita yang paling utama adalah tidak mampu menangkap essensi daripadanya. Padahal orang-orang terbaik di zaman lalu telah memberikan teladan. Tidak hanya kepada sesama muslim, akan tetapi melingkupi seluruh manusia. Siapakah yang tidak mengenang Shalahuddin Al-Ayubi yang namanya masyur di Timur dan Barat? Ketika merebut kembali Yerussalem dari tangan pasukan Salib, Salahuddin menampilkan kebijakan dan sikap adil. Masjid Al-Aqsa dan Masjid Umar ibn Khattab dibersihkan tetapi Gereja Makam Suci tetap dibuka serta kaum Kristiani diberikan kebebasan untuk beribadah di dalamnya. Salahuddin berkata, “muslim yang baik harus memuliakan tempat ibadah agama lain.” Sangat kontras dengan yang dilakukan pasukan salib di awal penaklukkan kota Yerussalem, sejarah mencatat kota tersebut digenangi darah dan mayat dari penduduk muslim yang dibantai. Sikap Salahuddin yang pemaaf dan murah hati disertai ketegasan dan contoh kebaikan bagi seluruh alam yang diperintahkan ajaran Islam. Padahal tidak ada pasukan yang lebih kejam dari Pasukan Salib, padahal saudara perempuan Salahuddin dibantai dalam perjalanan haji dari Damaskus menuju Mekkah oleh pasukan Reginald de Chattilon. Jadi mengapa kita tega menghakimi seorang anak manusia yang masih berumur 16 tahun, kemana rasa bersalah ketika kita semua sepakat untuk berdiam diri? Tidakkah kita mengingat bahwa perasaan seorang itu sama, baik dia adalah seorang raja maupun rakyat jelata? Seseorang harus berbicara sebelum ini lalu bersama angin, ada yang salah disini dalam menerjemahkan hukum. Ketika hukum meninggalkan keadilan, itu harus diluruskan!

Baik oknum Wilayatul Hisbah maupun oknum wartawan harus mendapat hukuman yang setimpal. Atau aturan penerapan Syariat Islam di Aceh hanya menjadi olok-olok semata. Apakah kita juga sudah melupakan kasus lain beberapa tahun lalu? Ketika tiga oknum Wilayatul Hisbah memerkosa seorang perempuan yang mereka tangkap. Lucunya, sampai sekarang pelaku utama belum tertangkap. Betapa institusi ini tidak bercermin dari masa lalu. Jika ingin dipertahankan maka institusi ini harus dibersihkan, dibina dengan sebaik-baiknya pembinaan. Jika tidak, maka bubarkan saja, hentikan campur tangan Negara dalam kesusilaan! Dari pada harus melihat kesewenang-wenangan oknum seperti ini. Salah satu prinsip keadilan adalah lebih baik membebaskan pelaku yang bersalah, dibanding harus menghukum orang yang tidak bersalah. Cukup Putri menjadi korban terakhir, jangan sampai ada lagi.

XXXXXXXXX

Posted in Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

PASRAH

Sebab dalam cermin, manusia seperti melihat sosok lain yang memiliki posisi sebaliknya

PASRAH

Ketika Aku meyakini telah melakukan apa pun yang bisa aku lakukan, dan ketika telah merasa tidak bisa melakukan apa-apa lagi, aku telah berdamai dengan takdirku, dan aku tidak melawannya lagi tanpa guna. Itulah yang aku namakan kebijaksanaan, meski (mungkin) beberapa orang akan mengatakan ini sebuah kelemahan.

Mereka yang tidak tahu berapa lama aku mampu menantang takdir, untuk kemudian berakhir. Menjadi abu atau debu. Padahal dalam keberadaan yang sejenak, aku berusaha memilih dengan bijak, melangkah perlahan. Mencoba, untuk berusaha agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, berkali. Dan jika engkau berkata, aku tak berusaha dengan sungguh. Mungkin, kau harus belajar menyadari, bahwa aku tidak setangguh itu.

Seseorang yang lebih berani, lebih tangguh dariku. Akan menyerang, dalam kondisi yang membuatku pasrah. Aku mengakui hari ini, mungkin karena aku sudah mengerti diriku sedikit lebih dari sebelumnya, bahwa di dunia yang luas ini, ada orang lebih bijaksana, lebih berpengalaman dibandingkan aku.

Aku, ketika aku menatap kecermin. Adalah seseorang yang pernah merasakan situasi antara hidup dan mati, pernah ketika aku mengucapkan syahadat pasrah, diberi kesempatan untuk menjalani hidup untuk kedua kali. Di malam ini, aku teringat bahwa sungguh segala kesenangan dunia adalah fana dan senantiasa berganti-ganti.

Semua kesenangan dan kebaikan yang dapat diperoleh oleh seorang anak manusia kuperoleh dari-Nya, kata-kata ini akan lebih bermakna bagi mereka, yang pernah diberikan kesempatan hidup lebih dari sekali, untuk itu, akan kutelan segala caci, kutuk sekaligus benci dalam benak pasrah.

Aku mundur dari medan pertempuran, untuk alasan-alasan yang sekarang pun tak mampu kusarikan dalam kata-kata, aku mendapati diriku menangis, tetapi mungkin karena aku terlalu lelah. Kalau aku tidak ingin menjadi sesuatu yang kubenci, maka lebih baik aku pergi. Aku merasa letih dan ingin sendiri.

XXXXX-XXXXXXX-XXXXX

Katalog Oase:

  1. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  2. Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
  3. Cerita Tentang Masa Lalu; 1 Juli 2009;
  4. Salam Rindu Selalu; 9 Juli 2009;
  5. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
  6. Angin; 19 Februari 2010;
  7. Manusia; 18 Maret 2010;
  8. Kekuatan Hati; 27 Maret 2010;
  9. Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
  10. Memoar Romantik; 15 Juni 2010;
  11. Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;
  12. Bermain Dengan Waktu; 21 Mei 2011;
  13. Mengapa Harus Berkata; 3 Februari 2012;
  14. Tentang Aku, Kamu Dan Kita; 10 Februari 2012;
  15. Pada Akhirnya Kita (Juga) Tak Paham; 19 Februari 2012;
Posted in Cerita, Kolom, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment