Advertisements
Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Ada yang menyakitkan menyaksikan macan akar tewas pada aspal hitam ditengah hari menuju puncak, aroma laut naik perlahan menuju langit. Akhir mengenaskan sang harimau akar, atau macan tutul itu mengi’tibarkan bahwa tragedi pahit tak selalu terceritakan.

TRAGEDI

Babah Nipah, 15 Nopember 2012

Ada yang menyakitkan menyaksikan macan akar tewas pada aspal hitam ditengah hari menuju puncak, aroma laut naik perlahan menuju langit. Salah satu tercantik Spesies Panthera Pardus menjemput ajal ketika “hanya” ingin menyeberang jalan, tergilas oleh roda kenderaan beberapa jam sebelumnya tergeletak, kondisi kepala remuk, satu dua lalat mendatangi darah beku disekitar. Akhir mengenaskan sang harimau akar, atau macan tutul itu mengi’tibarkan bahwa tragedi pahit tak selalu terceritakan. Peristiwa tercuri, tak berarti untuk dirindukan.

Jalan keberhasilan memang tidak mudah, sebegitu banyak aral melintang, panjang dan penuh tantangan. Terkadang sakit penuh penderitaan, dibutuhkan banyak nasib mujur karena sebutir kerikil mampu menjungkalkan. Sebaliknya, jalan kehancuran itu sebegitu mudah. Seperti si macan dahan, satu kelalaian langsung mengakibatkan kematian.

Macan tutul adalah hewan penyendiri dengan saling menghindari satu sama lain, lebih aktif di malam hari tentu berbeda dengan manusia yang secara naluriah adalah makhluk sosial. Manusia akan merasakan secangkir kopi pahit akan lebih pahit jika sendiri. Pepatah China klasik bahkan mengambarkan dengan lebih keras lagi, lelaki sejati akan selalu dapat mengenali satu sama lain, dan bahwa jalan yang ditempuh mereka akan selalu bersinggungan.

Jelaslah kita manusia tak dapat diperbandingkan dengan macan atau bahkan hewan lainnya, dan kita diberi kesedihan. Dikaruniakan nikmat berupa empati. Ada sebegitu banyak tragedi dunia, nun jauh disana kita bersedih untuk mereka yang menderita di Gaza. Namun tak pula kita boleh (sengaja) melupakan, bahwa di negeri ini ada manusia yang dibakar. Apakah kita sudah melupakan? Sejahat apapun seorang manusia, seberat apapun kesalahannya tidak boleh kita mengahzab dengan membakar. Sama sekali bukan hak manusia membakar! Manusia hanya boleh dibakar di neraka oleh Allah S.W.T. Apakah kita merasa lebih tinggi daripada tuhan sehingga membakar sesama manusia? Satu orang manusia adalah seluruh dunia, bagi mereka yang mencintainya.

Ada sedih, ada empati di Babah Nipah, di Peulimbang, di Palestina. Hendaklah kita meresapkan sejumlah tamsil dan sesekali mengingat getarnya, oh betapa bahasa bisa sangat ahli menyembunyikan kebenaran.

XXXXXXXXXXX

Advertisements
Advertisements

4 thoughts on “TRAGEDI

  1. Sikap mereka itu tidak bisa dimasukkan dalam jajaran contoh perilaku Homo homini lupus, karena mereka berbuat mengabaikan sesama pada saat lingkungan masih sangat berpihak, masih cukup kondusif, tidak terlalu menekan, dan kalau mereka tidak melakukan itu mereka tidak akan mati. Justru sebaliknya, manusia-manusia tersebut seharusnya bisa sedikit berlapang dada untuk menggunakan rasa pedulinya, rasa kasihnya, dan rasa saling menjaganya kepada sesama, dan itulah yang aku sebut dengan perilaku berkarakter.

  2. Pingback: Homepage

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: