Advertisements
Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Kami adalah sepasang musuh yang tak pernah bertemu (lagi), dimana aku gentar padanya, terhukum untuk cinta yang sama.

TAKUT

Sebuah perjalanan sebetapapun tidak puitisnya ialah cerita tentang melatih diri seraya berbagi sebegitu banyak. Ada getar yang membingungkan, yang mengelak dari hasrat di gunung yang harus kudaki sendiri, antara takut dan tidak. Yang satu tak bisa disebut tanpa yang lainnya, tak bisa tanpa yang satunya.

Padaku, ada sifat yang menolak dimasuki yang memintamu berpaling. Terselip gentar amat sangat pada bayang-bayang yang setiap kali diusir, muncul menari-nari di tempat lain. Sejenis kutukan dan hal-hal aneh bersembunyi ditempat-tempat gelap. Ketika batinku berkata, “jangan kehilangan nyali sekarang! Sementara kau telah berjalan sejauh ini.” Aku, mengasihani diriku sendiri.

Selalu ada keadaaan tak tergali. Ketakutan ini adalah hal-hal yang tak terungkapkan, berada diluar pemahaman. Gelisah ini memintaku berlari dan terus berlari setiap memiliki kesempatan, mengingat bayangan itu mencekikku pada malam-malam yang dingin, memuntahkan segala perisai keberanian terserak acak.

Hidup adalah perjalanan tiada henti, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Sungguh aku tidak tahu, aku takut. Aku siap, setidaknya mencoba mempersiapkan diri menghadapi kecamuk kebetulan-kebetulan. Ketakutan itu memiliki kejujurannya sendiri. Seperti halnya apa yang kubenci bertahun lalu menyelamatkan aku hari ini, masih beranikah aku memiliki kebencian.

Ini aku lakukan bukan karena aku luar biasa pemberani, bukan hikayat yang patut dikenang sepanjang masa, biasa saja. Bukan pula karena aku takut tak mampu menyembunyikan rasa takutku lagi. Tapi karena kami adalah sepasang musuh yang tak pernah bertemu (lagi), dimana aku gentar padanya, terhukum untuk cinta yang sama.

Jika aku harus pergi, (maka) aku akan pergi.

XXXXXXXXXXX

Advertisements
Advertisements

4 thoughts on “TAKUT

  1. Teman saya itu kemudian melanjutkan, “Memangnya kenapa dengan saya yang masih gadis diusia segini? Apa dia merasa lebih baik karena telah memiliki pasangan hidup, dikaruniai anak, dan sudah memiliki rumah sendiri? Apakah karena saya jadi lebih rendah dan harus dikasihani? Saya jadi bingung dengan orang-orang di sekitar saya, terutama menjelang pernikahan adik. Mereka seolah memandang saya dengan tatapan iba, sementara saya sendiri telah berhasil mengatasi perasaan dan menjalin hubungan baik dengan calon ipar saya tersebut. Look at me: I’m single and very happy,” ungkapnya berapi-api.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: