RADIKALISME YANG TAK AKAN PERNAH MATI

Kemurnian niat, ketika membantu orang. Itu adalah harta berharga bagi Indonesia. Itulah Radikalisme yang sesungguhnya, membantu tanpa mengharapkan materi.

RADIKALISME YANG TAK AKAN PERNAH MATI

“Sebutkan 32 cara membunuh menggunakan pensil?”

Abu tersentak, waktu itu lewat jam 2 pagi ketika mentor bertanya. Di antara kantuk dan kesal Abu menjawab sekenanya, seraya mencoba melucu. “Tusuk duburnya!” Abu tertawa, teman-teman lain tertawa juga. Suasana mengantuk berubah menjadi ceria.

“Breet…” Tiba-tiba muka Abu dipenuhi bubur kacang hijau. Sang Mentor marah dan kesal. Materi dihentikan. Kami dibubarkan dan disuruh tidur, 2 jam lagi sahur.

Seminggu sebelumnya.

Banda Aceh tahun 2000. Adalah tahun yang indah dikenang, namun pahit untuk diulang. Saat itu Abu masih kelas 2 SMU (Sekarang SMA). Aceh sedang bergolak panas, setiap anak muda Aceh yang menghabiskan masa remaja di tahun-tahun itu pasti paham, cukup sulit menjadi remaja waktu itu. Baru dua tahun, Paduka Yang Mulia Soeharto turun tahta setelah berkuasa 32 tahun lamanya. Setahun sebelumnya, 1999 Timor Timur melepaskan diri dari Indonesia. Gus Dur naik menjadi presiden, ada secercah harapan, namun harapan tinggal harapan belaka. Aceh tak kunjung damai.

Bulan Ramadhan tahun 2000 diawali dengan datangnya banjir besar. PLN seperti biasa memadamkan listrik total sekota. Disela-sela menguras lumpur dari rumah, Abu mendapat telepon (untung Telkom tidak mematikan jaringan) dari teman sebangku, Aulia Black.

“Abu, bagaimana kalau kamu mengikuti LBT (Leadership Basic Training) PII (Pelajar Islam Indonesia.” Tanyanya.

Abu tidak tertarik, apa pula PII? Abu pikir sejenis pesantren kilat yang kerap dibuat sekolah untuk mengisi waktu libur Ramadhan. Apa menariknya?

“Ayolah Abu, PII itu terkenal dengan anggota perempuannya yang cantik-cantik, tambahnya.”

Abu terkesiap, daripada menguras lumpur terus di rumah, dan PLN yang baik hati mematikan listrik terus, tak kunjung tampak hilalnya kapan menyalakan. Atau disuruh memetik cabe di kebun Sibreh, atau disuruh menjual kacang panjang di Pasar Inspres Ketapang (Yang mana Abu memakai caping besar, supaya tidak terlihat oleh teman-teman sekolah, malu coy). Lebih baik Abu kabur dari rumah dengan alasan mengikuti PII. Apalagi kata si Black, anggotanya cantik-cantik. Tolong Tuan dan Nyonya, mohon jangan salahkan libido masa muda Abu.

Maka bergabunglah Abu bersama 30-an peserta LBT PII lainnya, di MTsN 1 (Sekarang MTsN Model) Banda Aceh. Benar saja, siangnya dipenuhi dengan kajian Tauhid, Fiqh, Quran Hadist. Daripada menguras lumpur di rumah, disini lebih baik. Dan ternyata si Black benar, anggota perempuan yang mengikuti cantik-cantik.

Abu pikir setelah shalat Tarawih berjamaah, saatnya untuk tidur. Rupanya tidak, ada materi yang lebih dalam lagi, ideologi. Belajar disambung sampai menjelang sahur, waktu tidur yang diberikan hanya sebentar. Kampret kutuk Abu.

Setelah mengikuti acara PII tersebut Abu baru sadar, ini bukan sekedar pesantren kilat.  Dari sisi kelompok Islam, tahun 2000 adalah tahun penuh kewaspadaan. Wacana Gus Dur menghapus pelarangan Komunisme menimbulkan kecurigaan besar kepada beliau. Belum lagi PII waktu itu memiliki lawan yang secara ideologis kiri, PRD dan Forkot.

PII sendiri adalah organisasi yang dibubarkan oleh Paduka Yang Mulia Soeharto tahun 1984, dengan alasan menolak azas tunggal Pancasila. PII bertahan di bawah tanah, menyuarakan diskriminasi rezim tersebut terhadap umat islam. Terutama pelarangan menggunakan jilbab di sekolah, sehubungan saat itu Aceh masih bernama Daerah Istimewa Aceh yang mana pelarangan itu tidak berlaku, wajar kami tidak tahu.

Menurut Abu, terlalu lama berada di gerakan bawah tanah membuat organisasi ini waspada. Sekaligus mudah disusupi oleh mereka yang bermuka manis. HMI adalah yang paling kentara, beberapa mentornya secara transparan menyarankan bergabung dengan HMI kelak dikemudian hari, yang “katanya” lebih halus.

“Bang Akbar Tanjung kirim salam” beberapa kali terdengar.

Atau yang paling sering adalah, “dari Yordania Bapak Prabowo kirim salam, beliau prihatin dengan kondisi umat Islam Indonesia.” Jujur Abu katakan, apa yang diteriakkan oleh tim sukses Prabowo di pemilu presiden tahun 2014 lalu, adalah sama dengan yang Abu dengar tahun 2000.

Logika Abu tumpang tindih, bukannya Akbar Tanjung itu ketua Golkar (waktu itu) yang bukannya mesin politik Soeharto. Atau Prabowo adalah menantunya. Ada yang bermain dibelakang smiling Jenderal, tapi apa urusan. Abu malas ribut.

Tapi tak selamanya Abu hanya diam. Ketika idola Abu, Muhammad Hatta disalahkan atas tidak berlakunya Piagam Jakarta, Abu protes keras. Itulah pertama kali Abu bentrok argument dengan mentor. Kedepan Abu memolakan, bahwa mentor yang membawa nama organisasi lain, atau golongan pemuda lainnya adalah bangsat! Tapi Abu respek kepada mentor yang murni lahir dan berakar dari PII sendiri. Lha, organisasi ini tidak punya pilihan, digencet Soeharto bagaikan tikus got. Setiap uluran tangan sangat berharga. Abu beri kode, setiap tokoh masyarakat atau pemuda yang mengaku anggota PII ketika ada perlunya, dan lebih mempopuler baju yang dikenakannya (organisasi lain) adalah penipu. Contohnya, seperti…, akh sudahlah tak usah disebut.

Karena tidak bisa menjaga mulut, maka terkenallah Abu sebagai pemimpin pemberontak. Di hari-hari awal waktu berbuka puasa kami hanya di beri nasi dengan kuah bening. Mungkin sahur lebih baik pikir Abu awalnya, ternyata sama juga. Tidurpun dibatasi, diatas meja sekolah. Beberapa kawan berencana memesan makanan sahur yang lebih baik. Dengan memesan mie pada ibu kantin yang selama Ramadhan berjualan panganan untuk berbuka. Abu diajak juga, tabiat Abu yang sedikit nakal, cekikikan, dan mengatakan, “aku ikut!” Malangnya kami ketahuan! Dan Abu didakwa sebagai pimpinan, maka  sial, Abu disidang paling keras. Lebih tolol lagi, Abu tidak tahu siapa pimpinannya (Lha, siapa), sikap Abu yang sepele malah membuat Abu menjadi pesakitan disitu.

Allah Maha bijaksana dalam menentukan takdir. Karena Abu “dianggap” sebagai pimpinan pemberontakan, kemudian Abu lebih dihormati mentor. Dan oleh kawan-kawan seperjuangan “pesan mie” Abu dianggap sebagai seorang gentleman yang menjaga rahasia teman-teman, dan rela menanggung semuanya, maka Abu dianggap bagai saudara dekat. Padahal itu semua lahir dari ketololan Abu!

Setelah LBT PII selesai. Dalam sebuah rapat PII, Abu diminta bicara untuk merencanakan LBT berikutnya. Bermaksud melucu, Abu berbicara dengan gaya mengejek panitia sebelumnya. Maksud Abu bercanda, tapi candaan Abu berbuah kursi pimpinan panitia LBT PII. Ya Allah, dalam kondisi apapun, betapa berbahayanya ketika Abu berbicara di forum. Kejadian ini berulang ketika pemilihan ketua ITSAR (Ikatan Alumni STAN) di Lhokseumawe. Lagi-lagi Abu menjadi ketua. Huff.

Mungkin Allah SWT menganugerahkan kepercayaan diri yang berlebihan kepada Abu, ketika akhirnya Abu berkata, “kita buat LBT yang lebih baik!” Ternyata ketika Abu menjabat baru sadar betapa sulit menjadi Ketua. Apalagi di sebuah organisasi yang tidak menganut struktur baku seperti aparat Negara. Kita tidak menggaji orang, jadi dalam menyuruh orang tidak boleh sekeras bos kantor. Acara LBT PII berikut sukses, tapi Abu kecapekan, seminggu bergadang di bulan puasa. Ternyata memang mengkritik lebih mudah daripada melaksanakan.

Akhir-akhir ini, pihak Islam diserang, terutama media asing sebagai sarang radikalisme. Sebenarnya menurut Abu sebagai orang yang pernah hidup di alam tersebut itu tidak memiliki alasan yang cukup logis. Ingat terorisme masuk Indonesia melalui dokter Azahari, yang notabene warga Malaysia.

Tahun 2001, terjadi demonstrasi besar di SMUN 3 (sekarang SMAN 3) Banda Aceh, menolak kenaikan SPP (Uang sekolah) dari Rp. 6.000,- menjadi Rp. 12.000,- perbulan. Waktu awal mula inisiasi demo Abu diundang, dan secara tegas menolak. Abu adalah seorang anak guru, tahu betapa sulitnya anggaran pendidikan tahun-tahun itu. Kenaikan uang sekolah itu ditujukan bagi kesejahteraan guru, uang makan dan les. Bagi Abu yang waktu itu berjajan Rp. 3.000,- perhari kenaikan itu tidak masalah. Ada kutuk sebagai pendukung rezim zalim, atau pengecut pada Abu, tapi Abu tak bergeming. Allah yang berhak menilai niat Abu, apalah dia manusia.

Dan demo terjadi, beberapa kader PII terlibat, bahkan pentolan. Guru-guru merasa terhina, dan membalas balik, itu wajar. Abu tidak tahu kenapa dipanggil ke ruang wakil kepala sekolah untuk mempertanggungjawabkan tindakan demo tersebut, secara organisasi Abu bukan pemimpin PK (Pengurus Komisariat) tingkat sekolah, mungkin karena organisasi ini bersifat underground maka tidak diketahui pasti siapa ketuanya.

Abu kembali di sidang. Bodohnya Abu, tidak ingat siapa Ketua PK PII waktu itu. Menjelang UAN dan SPMB Abu sibuk sendiri, atau diwaktu senggang main ludo. Jadi tidak bisa menunjuk nama ketua sebenarnya, yang kemudian Abu ketahui juga sebenarnya tidak terlibat dalam demo tersebut.

Maka Abu pasrah ketika diminta menandatangani beberapa lembar dokumen, apa jadinya kalau dikeluarkan dari sekolah dengan UAN yang hitungan minggu. Abu terlalu takut untuk membaca langsung tanda tangan. Jadi Abu tidak pernah tahu apa yang telah ditandatangani. Tapi Abu selamat, tidak dikeluarkan dari sekolah. Pimpinan demo telah diketahui oleh guru, dia yang dikeluarkan.

Beberapa teman sekelas Abu yang juga anggota PII menganggu Abu, mereka bilang dokumen yang Abu tandatangani adalah pembubaran PII PK SMUN 3 Banda Aceh, karena terlalu malu sampai hari ini Abu tidak pernah mengeceknya. Setelah itu Abu menarik diri dan lebih memilih berkiprah di tingkat kampung. Dengan melibatkan diri dengan remaja masjid, atau TPA saja.

Abu berterima kasih kepada PII, karena pelatihan LBT PII selama seminggu telah mengajarkan banyak hal, terutama public speaking. Kemampuan menguasai podium serta tidak merasa inferior jika berhadapan dengan siapapun. Itu adalah hal-hal yang Abu bawa sepanjang hidup hasil dari pembelajaran bersama PII. Ada banyak hal baik jika bergabung dengan organisasi Islam, paling utama adalah kami-kami diajarkan kemurnian niat, ketika membantu orang. Itu adalah harta berharga bagi Indonesia. Itulah Radikalisme yang sesungguhnya, membantu tanpa mengharapkan materi.

Mungkin organisasi Islam terlihat bengal, terutama bagi yang tak mengenal. Tapi perlu diselami pola pikir dasar kami. Selama masa penjajahan Belanda, tidak ada organisasi yang lebih digencet selain Islam. Snouck Hurgronye menyarankan dalam Islamie Politie kepada pemerintah Hindia Belanda, matikan Islam sebagai politik. Sayangnya, disadari (atau tidak) Orde Lama dan Orde Baru juga melakukan hal yang sama.

Abu penah berbicara dengan seorang petinggi Hizbut Tahrir Indonesia di Aceh, dimana kami berbicara dari hati ke hati. Meskipun Abu tidak setuju dengan sikap mereka menolak demokrasi, Abu menghargai pilihan mereka. Tidak ada niat untuk makar, tidak ada niat untuk meninggalkan Indonesia, dan tidak ada niat untuk menjadikan Indonesia menjadi Arab Saudi. Mereka adalah orang-orang yang mencintai negeri ini dengan cara berbeda, dengan pandangan berbeda. Mereka adalah orang-orang baik teman-teman Abu lainnya.

Abu menyesalkan pembubaran HTI, selaku teman dalam Islam. Terlepas segala rewel dan nyinyirnya mereka, perlu kita sadari mereka adalah bagian dari bangsa yang besar ini, Indonesia. Saya mohon kepada pemerintah di era reformasi, tinggalkan cara berpikir pemerintah kolonial Belanda, atau turunannya Orde Lama dan Orde Baru. Rangkul mereka, selaku kaum yang termarjinal. Selaku pribadi Abu dalam banyak hal tidak sepaham dengan HTI, bukan membela mereka. Tapi selaku bagian dari komunitas besar umat Islam Indonesia, ketika sebuah organisasi Islam dibubarkan, ada perasaan sakit. Perasaannya sama seperti melihat teman yang bandel sewaktu sekolah, dikeluarkan. Ada simpati mendalam disana.

Islam sendiri adalah rumah yang ramah, yang hijau. Ketika ketika memiliki masalah yang tak terselesaikan, kemanakah kita hendak mengadu? Kemanakah kita menuntut keadilan yang mungkin sulit dicapai di dunia ini. Hanya kepada Allah S.W.T semata.

Posted in Asal Usil, Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

AGAINST TRADITION IS ACTUALLY VERY OLD TRADITION

War is a Papuan tradition

AGAINST TRADITION IS ACTUALLY VERY OLD TRADITION

People often say that tradition hinders progress. Actually, the human is wrong. No one can escape the past. If young people oppose it, it is also part of the tradition.

People who are firm in tradition are called conservatives, reactionaries or rightists. Tradition is “ancient”. Traditional discomfort, according to the sociologist Edward Shils (United States), is caused by the opinions of people trapped in the rules, and the pattern of roles prescribed by society, can not develop. In other words, everyone must break free of tradition and find oneself. Sounds good but it’s not possible. No one can break free from tradition, which is a hereditary, including norms, attitudes and language, knowledge, music, fashion and even monuments, buildings and landscapes, machines and so on. Tradition does not need to be old, although in general young traditions, for example, appear in school.

The difference between developed and developing countries is that in certain tribes, tradition is part of the world. People who do not live according to tradition will disrupt society. Others are the case with developed countries. Most people there regard tradition as a brake for progress. This opinion is often true.

That is what happened until the 16th century. The writings in the holy book and the work of Greek and Roman scientists are regarded as absolute truth. No one is trying to research it. Perhaps it is due to the teachings of Aristotle (384-322 BC). According to Aristotle, people will not get smarter by doing experiments. One can know the secrets of nature by philosophizing.

In the field of medicine, the most famous Greek scholar is Hippocrates (4th century BC). His theory was developed by another Greek philosopher, Galenus (2nd century AD) who lived in Rome. According to Hippocrates, in a healthy body, there is a balance between four body fluids namely black and white bile, mucus and blood. People get sick if the fluid balance is disturbed. That’s where the habit of shedding the blood of sick people.

Tradition and progress

Ignaz Semmelweis (1818-1865) had to fight hard to end the unsterile state of medicine in the 19th century

Tradition hampers progress. This is evident, among other things, when the obstetrician, Semmelweis, was opposed all out. Ignaz Semmelweis (1818-1865) worked the Vienna hospital. He is very worried about the women who died after giving birth. The amount is quite a lot. He understands that the cause is cleanliness. Because the doctors who just check the corpse, immediately work in the midwifery without washing hands. Semmelweis ordered that everyone who worked in the previous section should disinfect his hands. The regulation decreased the presentation of his clinical death from 12.24 to 1.27. The idea of Semmelweis is opposed. Probably because it is envy or against tradition. The regulation was generally accepted twenty-five years after Semmelweis died.

The struggle in the field of astronomy was even more difficult. In Europe, people once clung to the scriptures. People who dare to say that the Earth around the Sun will be punished as infidels. According to tradition, Earth is the center of the universe.

The art of sculpture in Egypt was made in the same form for at least ten centuries.

The culmination of attachment to ancient traditions is ancient Egypt. For thousands of years, Egypt has not changed. The basis of Egyptian culture has been laid down since the time of the pre-postal period ie before the pharaohs. (3200 BC). Household goods, sculptures, swords, buildings, and paintings show style equations, making them easily recognizable.

Nazi image art (Germany) mimics a folklore symbol characterized by well-built and blond people, typical of ancient times.

There is also a culture that looks back, in Roman times, people wanted to return to the violence and purity of the Republic. While the Italian humanists of the 15th century consider the ancient Greeks as the ideal society.

In the science-fiction films depicts the state far ahead. Generally, there are always elements of Roman, Greek or Egyptian. For example clothing. Movie stores generally wear Roman toga and helmets like Tutankamon’s headgear.

The first car made by Karl Benz resembles a horse-drawn carriage

We can be anti-traditions, even laugh at the traditional ones. But in fact, the 19th-century car is similar to a horse-drawn carriage, because its maker is a carriage maker who can not break away from tradition. Even the most revolutionary developments in engineering can not escape from tradition, that is, knowledge and research gained before.

But if we stick to tradition and do not make changes, then our progress will be too late. It is not the fault of tradition, but our own stiffness. Sticking to tradition or mocking traditions, as well as very old traditions.

Terjemahan Bahasa Indonesia

Posted in History, International, Literature, Opinion, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

KRONOLOGI GUGURNYA CUT MUTIA

Lukisan Cut Mutia, Desa Beuringen Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara.

OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA

Boleh tidak kita melupakan sejenak kontroversi penerbitan uang pecahan Rp. 1.000,- dengan gambar Pahlawan Nasional Cut Meutia berhijab atau tidak? Patut diingat bahwa kita tidak memiliki foto otentik Cut Meutia, bahkan lukisan beliau yang ada di (replikasi) rumah beliau di jalan Desa Beuringen Pirak, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara, adalah berdasarkan ingatan keluarga. Mungkin para pembaca perlu tahu, bahwa pada masa penjajahan Belanda hampir semua perempuan Aceh menolak di foto. Adapun beberapa foto perempuan yang berhasil diabadikan oleh Belanda adalah mereka yang dalam keadaan tertangkap atau tertawan. Dan Cut Meutia lebih dahulu wafat dalam perjuangannya sebelum sempat difoto oleh Belanda.

Penjelasan BI gambar Cut Meutia di uang pecahan Rp.1000,-

Kepahlawanan Cut Meutia diperoleh dengan harga yang mahal, nyawa beliau. Ada kisah tragis yang mungkin kita belum lihat kembali, sebuah kisah dimana selaku anak bangsa ini, meneteskan air mata ketika membacanya. Kisah terbunuhnya Cut Meutia di tangan Belanda pada 25 Oktober 1910 di Pucok Krueng Keureuto, Aceh Utara.

Rute pengejaran pasukan Belanda terhadap Cut Meutia

Berikut laporan Sersan Mosselman, seorang pemimpin brigade terkenal dalam perang gerilya, sejak tanggal 22 Oktober 1910 ditugaskan membuntuti jejak sebuah pasukan kawanan yang disinyalir di Lhok Reuhat dan pada hari ketiga ia menemukan sebuah jejak yang masih baru di anak sungai Krueng Peutoe, sungguh pihak lawan telah berusaha melenyapkannya.

“… Semakin jauh ke hulu, dasar sungai semakin melebar, keadaannya semakin berat dan agung. Gundukan batu-batu gunung semakin bertambah-tambah dan lebih banyak dijumpai air-air terjunkecil setinggi beberapa meter, batu-batu selicin kaca tempat air mengalir terus dinaiki dengan menyandang karaben dan peralatan-peralatan lainnya. Sesudah mendaki sejurus lamanya dan sambil menunggu teman-teman sepasukan dengan mengamati seluruh keadaan disekitarnya, maka kira-kira jam 4 sore, tidak jauh di depan saya, terlihatlah oleh saya kepulan asap bergulung-gulung di udara di antara pohon-pohon kayu. Lagi-lagi bulu kudukku berdiri, suatu tanda yang dialami manusia, jika ia sedang mengalami bahaya.

Saya berusaha mempertahankan semangat anak-anak buahku dan maju terus ke muka. Apa yang tertinggal padaku adalah anggota-anggota pilihan. Akan tetapi sunggu sukar untuk memperoleh suatu prestasi kekuatan seperti demikian. Hanya marsose Manado Mahamit, nrp 68750 dan marsose Jawa Tarmin, nrp 71065, seorang anak buahku dari Malang yang sangat gesit sajalah yang bersembunyi di balik batu besar, lalu memutar badanku dan setiap anggota marsose yang mendaki dapat melihat isyarat yang kuberikan.

Mereka yang berbahaya, pasukan Marsose. Kebanggaan Belanda, mereka adalah bawahan yang mumpuni.

Setelah kami berkumpul saya perintahkan anggota-anggota pasukan untuk melepaskan ransel mereka. Ketika saya hendak merayap ke dalam hutan untuk dapat melihat medan denga lebih jelas sehingga dapat mengambil jalan terbaik jika hendak melakukan pengintaian atau penyergapan, tiba-tiba seorang anggota pasukanku berseeru: “Di situ!” Pada arah yang disebut kira-kira 200 meter dari kami terlihat orang Aceh sedang berlari-lari ke sebuah alur. Kami tidak mungkin untuk melakukan penyergapan dan hanya kecepatan sajalah yang dapat memberikan suaru sukses. “Serbu…!” Dalam waktu secepat kilat berlarilah ke tujuh kami ke depan, ke sebuah alur tempat orang tadi melarikan diri. Walaupun jatuh bangun di atas batu-batu namun kami terus juga maju ke muka dan baru berhenti pada sebuah anak alur. Pada jarak lebih kurang 150 meter dari muara sebuah alur kami temui sebuah pondok yang sedang diperbuat dalam keadaaan ditinggalkan beserta perbekalan-perbekalannya. Saya meraung-raung, namun tidak diperoleh yang mampu mengikuti aku. Sama-sama kami tiba di pondok dan bertiga menyerbu ke dalamnya. Sesudah berlari sejauh 200 meter sampailah kami pada sebuah pengkolaj alur yang tajam dan berhadapan dengan beberapa orang lawan, kira-kira 30 meter yang sedang berusahan menyeberangi alur. Mamahit yang berada di depan sesekali menunjuk kepada seorang tua yang dipapah oleh tiga orang hendak melarikan diri ke dalam hutan. Ia melepaskan tembakan kearah orang tua itu yang tepat mengenai sasaranya lalu roboh.

Segera berkecamuk tembak-menembak. Kami bertiga ditembaki dengan gencar dari arah yang dekat sekali, dari tepi alur, dari hutan, dari segenap penjuru. Seketika pandangan kami bertiga bertemu, sungguh gila, bahwa pada saat-saat seperti itu kami sama-sama perlu memandang satu sama lain. Aku berpikir, (kemudian berkata juga Tarmin dan Mamahit apa yang mereka pikirkan itu), bahwa saat terakhir sudah tiba bagi kami. Ternyata betul-betul kami memperoleh sukses besar. Aku melompat ke dalam air di pengkolan alur, sedang di belakang kami terbentang dinding bukit yang curam. Kami berdiri di dalam air sampai ke perut atau secara harfiah, dengan punggung kami bersandar pada dinding.

Kami betul-betul sudah kepayahan dan melepaskan tembakan seperti semburan air ikan paus. Hampir-hampir kami tidak dapat menembak. Peluru lawan bertaburan di depan kami dalam air yang menciut-ciut mengenai dinding bukit di belakang kami, semuanya meleset, tetapi tembakan kami pun demikian juga. Dalam keadaan terengah-engah tidaklah mungkin untuk melepaskan tembakan yang tepat. Pendeknya kami harus tenang dulu, untuk melakukan penyerbuan pun tidak mungkin karena saya tahu benar, bahwa kami kini berada ditengah-tengah pasukan lawan. Karenanya kami harus berusaha di tempat ini, jika kami terkena peluru lawan, untuk menjual nyawa kami dengan harga semahal-mahalnya.

Pihak lawan tampaknya masih panik. Kami merasa beruntung karena sudah dapat menenangkan diri sebelum mereka sempat menyerbu kami.

Isyarat menyerbu diberikan oleh seorang wanita bertubuh ramping, berwajah putih kuning dengan rambut terurai mengayunkan kelewangnya seraya berteriak-teriak yang secara tiba-tiba menyerbu dari hutan. Ia tersungkur ke bawah seperti halnya beberapa orang pemuda lainnya yang mengikuti jejaknya akibat tembakan yang mengenai kepalanya ketika ia menyerbu sampai beberapa meter di depan kami.

Bunyi tembakan bergemuruh lagi, bahkan lebih dasyat dari semula. Aku merasakan, bahwa pihak lawan bertambah dekat dengan kami. Sungguh suatu hal yang kritis sama sekali sedang aku masih belum melihat salah satu anggota pasukan kami. Kemudian mereka menyangsikan tempat kejadian yang sebenarnya, walaupun terdengar bunyi tembakan dengan begitu riuhnya! Ketika mula-mula terdengar bunyi tembakan yang dasyat ke punggung penembak-penembak lawan. Itu adalah taktik! Dan sungguh, sekiranya mereka muncul seperti tetesan air, satu-satu di alur, tentulah kurang menarik perhatian, maka sudah dapat dipastikan kejadiaannya, bahwa kami semua tinggal nama saja.

Kami bertiga memaki-maki dalam tiga bahasa. Mahamit merepet-repet dengan logat Manadonya. Dari mulut Tarmin di antara bahasa Jawa yang “medok” itu berkali-kali saya mendengar perkataan “asu” dan “celeng” pada setiap meletus tembakan. Bunyi tembakan menyerupai musik gemuruh di telinga kami dan tiba-tiba, agak serong di depan kami, di celah-celah letusan tembakan itu, terdengarlah terikan orang : “Maju, hantam marsose!” Pihak lawan menyangka, bahwa mereka telah dikepung. Bukankah tidak masuk akal, bahwa kumpeni mengirimkan tiga orang marsose jauh ke pedalaman.

Letusan tembakan agak terhenti kedengarannya. Zikir “Allah il Allah” lambat-lambat terdengar lesu dan tiba-tiba kami berlima bersama Wakary dan Sinkey yang melompat dari tepi alur yang ditumbuhi semak belukar ke dasar alur, menyerbu ke dalam hutan di depan kami yang saya duga tempat lawan bersembunyi.

Di hadapan kami terbaring seorang laki-laki tua yang tadinya dipapah teman-temannya terkena peluru kami. Dari balik batu-batu besar melompatlah dua orang pemuda gesit ke depan. Masing-masing mereka melindungi tubuh laki-laki tua itu dengan badan mereka sambil menghunus kelewang dan rencong di tangan. Kedua mereka terpaksa di bacok dengan kelewang. Ketika saya melangkahinya saya melihat, bahwa lelaki tua itu telah meninggal. Ia terbaring di tanah dalam keadaan tak bergerak tanpa memperdulikan hal-hal yang yang terjadi terhadap dirinya. Sesaat saya melihat senjatanya yang disalut emas, senjata “bawar” yang seterkenal itu dan tiba-tiba terlintas di kepalaku, bahwa tentulah ia seorang keramat. Hal ini dibuktikan oleh pengorbanan kedua orang pemuda itu yang benar-benar menghadapi maut secara pahlawan.

Kami belum waktunya untuk beristirahat dan terus melakukan penyerbuan ke dalam hutan. Penembak-penembak lawan pasti tidak akan menunggu kami. Hanya seseorang telah merekam kami dengan kelewang dari balik batang kayu. Saya melihat sebuah tahi lalat besar dekat hidungnya, perasaan ngeri timbul padaku ketika kelewang saya melayang ke lehernya.

W.J Mosselman

Selagi saya menceritakan kejadian ini sekarang saya merasakan seolah-olah itu baru kemarin saya alami kendatipun sudah berlalu 27 tahun yang lampau. Saya masih melihat rupa wanita putih kuning itu dengan wajahnya yang cerdas, didorong oleh perasaannya yang menyala-nyala untuk tewas sebagai seorang syahid. Dengan mata yang liar dan rambut terurai di kepalanya, yang mengayunkan kelewang menyerbu kami. Apakah ia sudah jemu dari pelariannya? Apakah tindakannya itu, demikian terpikir oleh saya kemudian ketika mengetahui siapa dia, demi membela puteranya? Kami sama sekali tidak melihat puteranya, pemuda-pemuda yang mengusung orang tua keramat tadi dengan matanya yang tidak bersinar lagi (Ulama tersebut kemudian teridentifikasi sebagai Tengku Seupot Mata) adalah anggota-anggota lawan termuda.

Untuk seseorang mungkin sesekali tidak ada batas penderitaan yang dapat ditanggungnya, tetapi ada penderitaan yang mau ditanggungnya. Suaminya yang kedua telah dihukum mati, yang ketiga (Pang Nanggroe) tertembak pula, pengejaran yang tak henti-hentinya ditujukan kepadanya, suatu penderitaan yang dasyat sekali dalam kehidupannya, terus menerus melarikan diri, mungkin sekali oleh karena nasibnya membuntutinya, terlintas dalam pikirannya : “Sudah ditakdirkan Allah” Segala puja dan puji bagiNya, yang telah menentukan masaNya dan dengan izinNya pula telah menjadikan saya sebagai penyebab syahidnya itu.

Oleh karena itu bukanlah suatu kepastian, bahwa wanita itu membeli matinya dengan keyakinan akan bertemu dengan mereka yang telah mendahuluinya? Baik dia maupun Pang Nanggroe adalah orang-orang yang tidak kenal, apa yang dikatakan kemudian, “mel” (=Melapor)! Mereka yang muda-muda akan bercerita kemudian di meunasah-meunasah, bahwa mereka telah syahid tahun 1910…”

Laporan W.J Mosselman ini (tahun 1937) tercatat pada buku Aceh (1938), H.C Zentgraff yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Aboe Bakar (1983) Halaman 227-231.

Gugurnya Cut Meutia dan ulama Tengku Seupot Mata hanya merupakan sebuah masa istirahat dalam babak peperangan. Pihak pemerintah kolonial Belanda menyadari akan tetap ada perlawanan dari masyarakat Aceh terhadap pemerintah kolonial, walaupun setelah Cut Meutia perlawanan Aceh hanyalah bersifat sporadis dan kecil. Belanda tidak pernah tenang berkuasa di Aceh bahkan sampai mereka angkat kaki selama-lamanya dari bumi Serambi Mekkah di tahun 1942.

XXX

Tulisan terkait MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA

Saksikan kedatangan tim tengkuputeh traveler ke rumah Cut Meutia pada video ini

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
  16. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  17. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  18. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  19. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  20. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  21. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  22. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  23. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  24. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  25. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  26. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  27. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  28. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  29. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  30. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  31. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  32. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  33. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  34. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  35. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  36. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  37. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  38. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  39. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  40. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 101 Comments

MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN

Papan nama jalan Pocut Baren dari arah Peunayong

MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN

Di kota Banda Aceh, ada sebuah jalan yang menghubungkan Peunayong dengan Jambotape. Terkenal sebagai pusat perdagangan komputer / elektronik. Jalan Pocut Baren. Siapakah dia? Mungkin kita tidak menemukan namanya dalam daftar pahlawan nasional Republik Indonesia, sehingga sedikit merasa asing. Mengapa namanya ditabalkan menjadi nama sebuah jalan?

Peta Google Jalan Pocut Baren di Kota Banda Aceh

Sejarah Aceh sendiri mengenal “wanita-wanita agung” yang telah memainkan peranan besar dalam politik dan peperangan, kadangkala seorang ratu ataupun istri uleebalang yang berpengaruh. Salah satunya adalah Pocut Baren yang sangat terkenal (pengakuan Belanda). Berikut kesaksian H.C. Zentgraaff seorang pelaku pentas perang kolonial Belanda di Aceh dan pensiun selaku juru tulis. Ia mengalami perang tersebut, kelak ia menjadi redaktur beberapa surat kabar.

Pocut Baren.

Di pantai Barat Aceh terdapat tidak banyak wanita yang telah memainkan peranan istimewa seperti yang telah dilakukan oleh Pocut Baren. Dewasa ini (Sekitar tahun 1930-an) yang memberi kemungkinan orang pergi kemana-mana menggunakan mobil, letak daerah itu tidak seberapa jauh, akan tetapi tiga puluh tahun lalu, letak Tungkop itu benar-benar jauh di pedalaman, di daerah Woyla hulu. Ia merupakan sebagian dari Federasi Kawai XII yang didalamnya termasuk juga Pameu, Geumpang, Tangse, Anoe dan Ara dari nama-namanya orang segera dapat mengetahui, bahwa tempat-tempat itu terletak di pusat pegunungan.

Pocut Baren seorang Uleebalang (Raja Kecil) Tungkop. Merupakan bagian dari federasi Kawai XVI terletak di pedalaman Woyla hulu. Memimpin perjuangan melawan pemerintah Kolonial Belanda periode 1903-1910. 
Sumber Foto : Aceh; H.C Zentgraff; Penerbit Beuna Jakarta; Cetakan ke-1; 1983.

Pocut Baren adalah puteri Teuku Cut Amat, keluarganya sudah sekian lama turun-temurun menjadi uleebalang di Tungkop dan sudah meninggal suaminya yang diikutinya dalam peperangan (melawan Belanda), maka dialah yang berhak menjadi Uleebalang Keujreun Gume.

Demikianlah ia hidup bertahun-tahun lamanya dalam peperangan, silih berganti dengan masa-masa damai yang tak pernah lama di daerah pedalaman yang pada waktu itu belum lagi didatangi Kumpeni. Baginya permainan perang-perangan itu tetap merupakan hal yang menyenangkan yang sewaktu-waktu dapat dihentikannya jika ia merasa jemu karenanya.

Masa baik itu berakhir ketika marsose memulai pembersihan di pantai Barat Aceh yang merupakan pekerjaan yang sungguh-sungguh tidak menyenangkan dengan penjatuhan hukuman-hukuman serta penyerbuan-penyerbuan. Namun Pocut Baren menerima resikonya dan ia melakukan perlawanan sebagaimana mestinya, selayaknya seorang pria yang kuat.

Ia seorang wanita yang selalu diiringi oleh pengawal, terdiri dari lebih kurang tiga puluh orang. Ia selalu memakai peudeng tajam (=pedang tajam), sejenis kelewang bengkok, mirip pedang Turki yang sangat terkenal di pantai Barat Aceh.

Pada suatu hari sebuah patroli di Kuala Bhee yang pimpin oleh Letnan Hoogers mengetahui tempat persembunyiaannya di gunung, pada kesempatan itu Pocut memperoleh tembakan pada bahagian kakinya. Ia masih hidup, tetapi disebabkan kurangnya perawatan, kakinya lambat laut membusuk sehingga mematahkan semangat tempurnya, akhirnya ia berdamai. Dengan segera ia diberikan perawatan medis, tapi infeksinya sudah parah sehingga harus dilakukan amputasi yang untungnya berhasil dengan baik.

Pada masa itulah berubah semangatnya, dendamnya terhadap Kompeni berubah menjadi terima kasih yang diperlihatkannya secara terang-terangan. Sebagai seorang wanita “jantan” ia tak ingin menyembunyikan perasaannya itu. Kepada Veltman ia berkata : “Kalaulah saya mengenal tuan lebih dahulu, tentulah saya tidak kehilangan kakiku”

Veltman menghormati wataknya yang bijaksana itu, ia berhasil mengadakan usaha-usaha sehingga wanita itu dapat diangkat sebagai Uleebalang Tungkop. Ia bukanlah wanita pertama yang memerintah di Aceh, sebelumnya berabad-abad lalu telah ada ratu-ratu yang mengendalikan pemerintahan, dan tak kalah hebatnya dengan pria dan Pocut Baren merupakan pengganti pria.

Veltman menyediakan lagi sebuah hadiah yang amat menggembirakan wanita itu. Pada suatu hari tibalah di Meulaboh sebuah kiriman barang dari negeri Belanda yang berisikan kaki kayu untuk Pocut. Ia dibalut dengan kulit untuk “mencegah gangguan cacing” seperti yang dikatakan oleh para perwira. Para pembaca tentulah dapat membayangkan betapa senangnya hatinya ketika pertama kali ia memakainya. Kadang-kadang ia memakai pada upacara-upacara resmi, Pocut menganggap sebagai suatu kewajiban pula Kompeni yang telah menembak kaki seseorang untuk menggantikannya kaki yang lain.

Ia tak selalu memakain kaki kayunya itu, karena agak menyakiti lututnya. Sebab itu ia didukung oleh salah satu pegawainya. Pemakaian kaki kayunya yang setepat-tepatnya mungkin sekali pada saat ia memukul seorang laki-laki di kampungnya yang berlaku tidak pantas kepadanya. Begitulah Pocut Baren menampakkan dirinya di kampung-kampung. Ia memperhatikan setiap rakyatnya yang malas dan para pencuri takut kepadanya.

Kehadirannya dalam suatu kampung secara tidak disangka-sangka oleh penduduknya, kadang-kadang merupakan bom yang berbahaya. Ia memerintahkan rakyatnya supaya mengerjakan sawah-sawah mereka dengan baik, tetapi di samping itu ia memarahi setiap orang malas dan setiap laki-laki menaruh hormat kepadanya tak kurang dari kepada seorang uleebalang pria.

Sewaktu Scheurleer, memegang komando dan menjalankan pemerintahan sipil di bivak Tanoh Merah, Pocut telah melaksanakan segala daya upayanya untuk menciptakan ketentraman di dalam wilayahnya. Karena Woyla Hulu termasuk salah satu wilayah yang masih sulit keadaannya.

Jika ia berada di rumahnya dan memikirkan hal-hal pada masa-masa lalu dan masa sekarang dalam penghidupannya yang lincah itu, maka kadang-kadang mengalirlah darah pujangganya lebih cepat dari pada arus sungai Woyla, pantun-pantunya yang popular dan mengesankan belum dilupakan orang.

 

“Ie Krueng Woya ceukot likat

Engkot jilumpat jisangka ie tuba

Seungap di yub, sengap di rambat

Meuruboh Barat buka suara

 

Bukon sayang itek di kapai

Jitimoh bulee ka sion sapeue

Bukon sayang biliek kutinggai

Teumpat kutido siang dan malam”

 

Yang berarti kira-kira :

 

“Air sungai Woyla keruh pekat

Ikan melompat sangkanya air tuba

Di luar senyap, di bilik pun senyap

Dapatlah kita berkata-kata

 

Sungguh sayang itik di kapal

Aneka ragam warna bulunya

Sungguh sayang kutinggalkan bilikku

Tempat kutidur siang dan malam”

Bertahun-tahun lamanya ia hidup secara satria, dengan atau tanpa kaki kayunya. Akhirnya ia kawin lagi dengan seorang laki-laki biasa dalam daerahnya. Laki-laki itu masih hidup sampai sekarang (1938) dengan gelar Teuku Muda Rasyib (sebelum kawin dengan Pocut ia bernama Rasyib saja). Saya (H.C Zentgraff) pernah melihatnya sebentar di Pantai Barat Aceh, akan tetapi tidak memiliki waktu untuk menanyakan tentang kaki kayu istrinya itu.

Lelaki itu tampaknya tak berarti sama sekali dengan sikapnya yang tunduk dan bungkuk serta tertawa hormat, seolah-olah isyarat pernyataan maaf yang hendak diberikannya atas kehadirannya itu. Saya dapat membayangkan bagaimana kira-kira keadaannya jika Pocut marah bila suaminya itu sempat melihat kearah kaki kayunya.

Wanita itu meninggal tahun 1933 (Menurut laporan politik Gubernur Aceh O.M Goedhart selama pertengahan 1928. Pocut Baren meninggal tanggal 12 Maret 1928. Zentgraff keliru mencatat tahun 1933) Nama wanita itu meninggalkan kenangan bagi seorang wanita di pantai Barat Aceh yang paling cakap dan penuh vitalitas dari semua wanita yang ada di daerah itu.

Referensi :

Aceh; H.C Zentgraff; Penerbit Beuna Jakarta; Cetakan ke-1; 1983.

XXX

Artikel lain tentang sejarah Aceh:

  1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
  2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
  3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
  4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
  5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
  6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
  7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
  8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
  9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
  10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
  11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
  12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
  13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
  14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
  15. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
  16. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  17. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  18. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  19. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  20. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  21. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  22. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  23. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  24. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  25. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  26. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  27. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  28. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  29. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  30. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  31. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  32. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  33. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  34. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  35. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  36. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  37. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  38. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  39. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  40. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
Posted in Asal Usil, Buku, Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Opinion, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 117 Comments

GULA DAN SEJARAH PENINDASAN

Gula merupakan satu-satunya produk yang produksi dan konsumsinya naik terus selama 10.000 tahun terakhir.

GULA DAN SEJARAH PENINDASAN

Ini hanya perkiraan orang-orang. Namun gara-gara gula, orang Eropa mencari koloni untuk menanam gula. Penjelajahan dunia baru dimulai, penjajahan diikuti penindasan pun terjadi.

Gula ada pada setiap makanan : kecap, makanan bayi, sari buah, es krim dan obat-obatan. Orang harus pantang gula tidak memiliki banyak pilihan. Gula dianggap sebagai bahan yang membuat orang kecanduan. Sekitar tahun 1700an konsumsi rata-rata orang Belanda hanya 2 kilogram setahun. Pada tahun 1750 terdapat 120 pabrik pemurnian gula yang beroperasi di Britania dengan hanya menghasilkan 30.000 ton per tahun. Pada tahap ini gula masih merupakan sesuatu yang mewah dan memberi keuntungan yang sangat besar sehingga gula dijuluki “emas putih”. Keadaan ini juga berlaku di negara-negara Eropa Barat lainnya. Para pemerintah menyadari keuntungan besar yang didapat dari gula dan oleh karenanya mengenakan pajak yang tinggi. Akibatnya gula tetap merupakan sebuah barang mewah. Keadaan ini terus bertahan sampai dengan akhir abad ke-19 ketika kebanyakan pemerintahan mengurangi atau menghapus pajak dan menjadikan harga gula terjangkau untuk warga biasa.

Konsumsi gula per tahun saat ini berkisar 120 juta ton dan terus bertambah pada laju sekitar 2 juta ton per tahun. Uni-Eropa, Brazil dan India adalah tiga produsen terbesar dan gabungan dari ketiganya menyumbang sekitar 40% produksi per tahun. Namun demikian kebanyakan gula dikonsumsi di negara penghasil dan hanya sekitar 25% yang diperdagangkan secara internasional. Tebu dibudidayakan di lebih dari 100 negara dan gula yang dihasilkan dari tebu berkisar 6 kali lebih besar dari pada gula bit.

Kenaikan produksi itu sudah bertahan selama 10.000 tahun. Orang menduga gula tebu ditanam di Papua dan di Jawa 8.000 tahun sebelum Masehi. Dari situ Saccarum Officinarum meluas ke Barat India, baru pada abad pertama orang Romawi berkenalan dengan gula India atau gula Persia lewat Yunani.

Rahasia tanaman tebu akhirnya terbongkar setelah terjadi ekspansi besar-besaran oleh orang-orang Arab pada abad ketujuh sebelum sesudah masehi. Ketika mereka menguasai Persia pada tahun 642 mereka menemukan tanaman tebu yang sedang tumbuh dan kemudian mempelajari cara pembuatan gula. Selama ekspansi berlanjut mereka mendirikan pengolahan-pengolahan gula di berbagai daratan lain yang mereka kuasai, termasuk di Afrika Utara dan Spanyol. Mereka membuat ladang tebu di Sisilia, Siprus, Malta, Maroko dan Spanyol. Gula merupakan barang mahal yang disejajarkan dengan mutiara dan sutera dari Cina.

Gula dikenal secara luas oleh orang-orang barat Eropa sebagai hasil dari Perang Salib pada abad ke-11. Para prajurit yang pulang menceritakan keberadaan “rempah baru” yang enak ini. Gula pertama diketahui tercatat di Inggris pada tahun 1099. Abad-abad berikutnya merupakan periode ekspansi besar-besaran perdagangan barat Eropa dengan dunia timur, termasuk di dalamnya adalah impor gula. Sebagai contoh, dalam sebuah catatan pada tahun 1319 harga gula di London sebesar “dua shilling tiap pound”. Nilai ini setara dengan beberapa bulan upah buruh rata-rata, sehingga dapat dikatakan gula sangatlah mewah pada waktu itu.

Orang-orang kaya menyukai pembuatan patung-patung dari gula sebagai penghias meja-meja mereka. Ketika Henry III dari Perancis mengunjungi Venice, sebuah pesta diadakan untuk menghormatinya dengan menampilkan piring-piring, barang-barang perak, dan kain linen yang semuanya terbuat dari gula.

Karena merupakan barang mahal, gula seringkali dianggap sebagai obat. Banyak petunjuk kesehatan dari abad ke-13 hingga 15 yang merekomendasikan pemberian gula kepada orang-orang cacat untuk memperkokoh kekuatan mereka. Spanyol dan Portugal membuat perkebunan tebu di Sao Tome, Kepulauan Canary dan Madeira. Itulah untuk pertama kali dalam sejarah tebu ditanam dalam jumlah besar sehingga para anggota kerajaan Spanyol bisa makan gula dengan teratur, bahkan bisa mengirimkan gula kasar ke Antwerpen untuk dimurnikan yang kini menjadi dasar industri gula.

Pada abad ke-15, pemurnian gula Eropa umumnya dilakukan di Venice. Venice tidak bisa lagi melakukan monopoli ketika Vasco da Gama berlayar ke India pada tahun 1498 dan mendirikan perdagangan di sana. Meskipun demikian, penemuan orang-orang Amerika lah yang telah mengubah konsumsi gula di dunia.

Para Budak Bekerja di perkebunan gula di Karibia

Dalam salah satu perjalanan pertamanya, Columbus membawa tanaman tebu untuk ditanam di kawasan Karibia. Iklim yang sangat menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman tebu menyebabkan berdirinya sebuah industri dengan cepat. Kebutuhan terhadap gula yang besar bagi Eropa menyebabkan banyak kawasan hutan di kepulauan Karibia menjadi hampir seluruhnya hilang digantikan perkebunan tebu, seperti misalnya di Barbados, Antigua dan separuh dari Tobago. Tanaman tebu dibudidayakan secara massal. Jutaan orang dikirim dari Afrika dan India untuk bekerja di penggilingan tebu. Oleh karenanya, produksi gula sangat erat kaitannya dengan perdagangan budak di dunia barat.

Operasi Pasukan Marsose di Mukim XX (Perang Aceh 1873-1904) Salah satu perlawanan tergigih dan terlama terhadap kolonisasi Belanda di Indonesia

Secara ekonomi gula sangatlah penting sehingga seluruh kekuatan Eropa membangun atau berusaha membangun jajahan di pulau-pulau kecil Karibia dan berbagai pertempuran terjadi untuk menguasai pulau-pulau tersebut. Selanjutnya tanaman tebu dibudidayakan di berbagai perkebunan besar di kawasan-kawasan lain di dunia (India, Indonesia, Filipina dan kawasan Pasifik) untuk memenuhi kebutuhan pasar Eropa dan lokal.

“Berkat VOC”

Gula adalah salah satu komoditi yang memicu penjajahan Belanda di Indonesia

Orang Belanda, Inggris dan Perancis berhasil membuat gula menjadi barang biasa. Mereka mengusir orang Spanyol dan Portugal dari koloni di Indonesia dan gula jawa masuk pasar Amsterdam. Perusahaan multinasional seperti VOC (Perusahaan Terbatas pertama di dunia) dan East India Company dari Inggris menganggap gula menguntungkan. Mereka menanam modal di perkebunan tebu, hasilnya mengalir ke Eropa. Gula membuat VOC menjadi kekuatan dunia.

Dari kemewahan ekslusif gula menjadi symbol status. Sepertu raja-raja membanggakan alat emas, orang kaya memamerkan gula. Gula menjadi hasil karya seni indah untuk hadiah atau dipamerkan di meja pesta. Memasak dengan gula, makanan bergula menjadi mode bagi yang bisa membayarnya.

Roti teh gula untuk orang miskin

Inggris memunculkan minuman yang memacu pemakaian gula, teh. Sebelum teh, kopi dan coklat mengubah kebiasaan orang Barat, mereka meminum bir, anggur, cognac dan jenever, kadang-kadang susu asam dan kalau terpaksa air.

Mode minum teh mulai dari istana. Kebanyakan orang minum teh dengan gula, sehingga pemakaian gula meningkat. Inggris hidup dari teh secara harfiah. Menu utama para pekerja dan orang-orang miskin adalah roti dengan teh gula. Makanan tidak bergizi itu cocok dengan keadaan miskin selama revolusi industry. Seluruh anggota keluarga buruh harus bekerja, tetapi hasilnya tetap tidak cocok untuk menghidangkan makanan yang pantas. Mereka sudah senang kalau ada roti dan teh manis panas.

Para ahli sejarah berpendapat bahwa yang mendorong Inggris menjadi Negara industri bukan uap tetapi energi hidrat arang (gula dan roti). Makanan manis itu menjadi amat penting di Eropa sampai Kaisar Napoleon dari Perancis memulai industri gula bit di Eropa ketika terjadi blokade Inggris.

Gula bit pertama kali diketahui sebagai sumber gula pada tahun 1747. Tidak diragukan lagi, tanaman ini tidak begitu menarik perhatian dan hanya sekedar keingintahuan beberapa negara Eropa karena kepentingan nasional dan ekonomi lebih tertuju pada perkebunan tebu. Keadaan ini bertahan sampai dengan perang-perang Napoleon pada awal abad ke-19 ketika Britania menblokade impor gula ke benua Eropa. Pada tahun 1880 gula bit menggantikan gula tebu sebagai sumber utama gula di benua Eropa. Masuknya gula bit ke Inggris tertunda sampai dengan Perang dunia Pertama ketika impor gula Britain terancam. Sebelumnya Britain mengimpor gula tebu dari jajahannya di kawasan tropis.

Barang Eropa ditukar dengan manusia

Hubungan gula dan perbudakan sangat erat. Panen dan pengerjaan tebu memerlukan tenaga kerja yang disiplin, karena tebu (juga gula bit) dipanen kalau kadar gulanya paling tinggi. Transpor dan pengerjaan harus dilakukan secepat mungkin, penangguhan menyebabkan kadar gula turun. Penebangan tebu harus disesuaikan dengan kapasitas pabrik.

Pabrik gula jaman Belanda

Produksi yang monoton, berat dan terburu-buru itu hanya bisa dilakukan oleh budak yang bekerja paksa. Ketika daerah Karibia dan Amerika Selatan cocok untuk ditanami tebu, diperlukan impor tenaga kerja. Orang Indian terlalu malas. Produk Eropa ditukar di Afrika dengan manusia yang diekspor ke dunia baru, tempat mereka harus memproduksi gula yang dijual dangan laba besar kepada kekuatan Eropa.

Antara tahun 1701 dan 1810 diekspor 252.000 budak gula ke Barbados, sebuah pulau kecil. Dalam periode yang sama Jamaica mengimpor 662.000 tenaga kerja paksa. Selama sekitar seabad, setiap minggu dikirim 160 budak dikirim ke dua pulau yang relatif kecil itu. Ketika perbudakan dilarang (budak gula Kuba dibebaskan sekitar dua abad lalu), perkebunan tebu mengalami kesulitan. Mereka mendatangkan tenaga kerja kontrak dari India, Cina dan Indonesia. Akibatnya budak yang dibebaskan tidak menemukan pekerjaan dalam profesinya yang lama.

Sejarah gula sebetul tidak lebih keji daripada kebanyakan produk tropis lainnya. Anehnya, haus gula bersifat universal. Dan gula satu-satunya produk yang produksi dan konsumsinya naik terus selama 10.000 tahun terakhir.

Katalog Sejarah Dunia:

  1. Melanjutkan Perjuangan; 4 Agustus 2008;
  2. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  3. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  4. Apa Yang Machiavelli Lakukan; 1 Juni 2011;
  5. Kisah Sebelum Sang Pangeran Selesai; 5 Juli 2010;
  6. Heil Ceasar; 15 Maret 2012;
  7. Manifesto Politik; 27 Maret 2012;
  8. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
  9. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  10. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  11. Mereka Yang Bangkit (Kembali); 18 Desember 2013;
  12. Bajak Laut Pemberontak Atau Perompak; 17 Maret 2016;
  13. Membakar Buku Membunuh Intelektual; 6 Juni 2016;
  14. Menentang Tradisi Memang Tradisi; 5 April 2017;
  15. Kopi Dalam Lintasan Sejarah Dunia; 1 Mei 2017;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Opini, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

MONOLOGUE OF THE MOON

“Do you think the moon is beautiful? Please tell me the beauty of the moon until you look at it while lying down.”

MONOLOGUE OF THE MOON

There may be a reason for everything. Attached to jackfruit seedlings, mango shrubs, cashew fall, mountain winds and sky color: things that are not grandiose, impermanent but beautiful. Give them meaning. We do not want them dead.

Perhaps words will not be able to explain life as a whole. That language can not be fully represented is just a sentence, every moment, silent, moving, or always waiting. Change events after event, silent and do not want to go just like that.

Perhaps until now not yet unthinkable, any hide a desire will separate the wholesome. That reason, conscience, virtue, and feeling ever worked. With all due respect will never be regretted, although space and time seemed to be in vain.

Maybe the longing never dies. Longing for many times, not left to die. Every time a great longing is buried, it is called again, rubbed again, and changed, changing times. Maybe it does not need to have a real face. There are touching, surprising and fascinating there.

Maybe life will die many times in intuition. That there is always a thrill in the memories. There is always a thrill in the story of a struggle that is not up to, but worth it. A story that is hidden and impossible to tell, because he lost. Wasted, vanity in the winner, the champions.

Probably, I do not expect to be worthy of forgiveness. Maybe I just want to say to myself, someone can show that gratitude and patience can come in a quiet listening. Sweet little song to life. That there arise after nothing. So truly life is actually floating above nothing.

Terjemahan Bahasa Indonesia

Posted in International, Literature, Opinion, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

PLEASE, DO NOT LET ME LOVE HER

O God, in you of my wishes, guard your servant’s, heart. In prostration, I shall have all these troubling things.

PLEASE, DO NOT LET ME LOVE HER

Lord, if You give me permission. Let me not feel in love. I see the great lovers of every age are those who languish their hearts and souls, but love is one of the most beautiful creations of God, who run the world and no power of any creature can resist it.

Oh this self, who claims to be simple, how can you be amazed at the powdered snow-powder fur in the Alps and the lips of apple Australia wrapped in lipstick from the land of the dragon.

O myself, I am determined to promise, why do you deny your own words to guard your view until the day comes.

Yet yesterday this self is still saying, “for now they are a dream barrier and dreamer.”

Yesterday, this self proudly said and agreed, “heart then be stone until our dream is done”

But today why the brain and heart are not aligned, why the snow of Antarctica mingles with the steam of Sahara. Really not capable of this body sustains the battle of two giant souls.

But today why is adrenaline bubbling up to the thought of being a fortress that has never been conquered so far.

Changed nature due to human behavior, changed body by the heart.

O God, in you of my wishes, guard your servant’s, heart. In prostration, I shall have all these troubling things.

Terjemahan Bahasa Indonesia

Posted in Fiction, International, Literature, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , | 14 Comments

LINTASAN SEJARAH KOPI DUNIA

Untuk sampai ke hadapan kita, Kopi memiliki sejarah yang panjang

KOPI DALAM LINTASAN SEJARAH DUNIA

Perkenalan antara Kebudayaan Eropa dengan Kopi

Sampai abad ke-17, pengetahuan “orang-orang Barat’ perihal kopi boleh dibilang minim. Kronik sekitar tahun 1600, yang berisi sekelompok pemuka gereja mendatangi Paus Clement VIII untuk memintanya memfatwa haram kopi, menggambarkan betapa asingnya mereka terhadap kopi. Catatan Sir George Sandys, penyair asal Inggris, pada 1610 masih menunjukkan hal yang sama. Dia menulis, orang-orang Turki bisa ngobrol hampir sepanjang hari sambil menyeruput minuman yang digambarkan sebagai “sehitam jelaga, dan rasanya tak biasa”. Sandys juga mengatakan bahwa minuman ini, “sebagaimana mereka (orang-orang Turki) bilang, membuat pencernaan lancar dan menyegarkan tubuh.”

Baru pada 1615 orang-orang Eropa secara formal berkenalan dengan kopi. Saat itu para pedagang dari Venezia, Italia, membawa pulang kopi dari daerah Levant, yang kini dikenal sebagai area Timur Tengah, meliputi Israel, Yordania, Libanon, dan Syiria. Setahun kemudian, sebagaimana ditulis pemilik situs gallacoffee.co.uk, James Grierson, dalam artikel “History of Coffee: Part III – Colonisation of Coffee”, giliran orang Belanda yang membawa kopi dari daerah Adan, Yaman, lalu membudidayakannya, dari Ceylon (sekarang Sri Lanka) hingga ke Nusantara. Belanda akhirnya memetik hasil. Mereka memonopoli industri kopi dunia, bahkan bisa menentukan harga. Puncaknya, pada 1700-an, kopi produksi Jawa bersaing dengan kopi asal Mocha,Yaman, sebagai produk kopi paling populer di dunia.

Awalnya orang-orang Eropa memperlakukan kopi sebagai bahan medis yang memberikan efek positif buat tubuh. Harganya mahal. Umumnya dikonsumsi masyarakat kelas atas. Pada 1650-an, ketika penjaja minuman lemon di Italia mengikutsertakan kopi sebagai barang jualannya, sementara kedai-kedai kopi di Inggris bermunculan, minuman ini mulai menemukan dimensi sosialnya; dikonsumsi sembari berbincang-bincang.

Saat kopi mulai menyebar ke negara-negara besar Eropa, cerita lama berulang kembali. Muncul pihak-pihak yang menentangnya. Menurut Linda Civitello dalam Cuisine and Culture: A History of Food and People, pada 1679, dokter-dokter dari Prancis membuat catatan buruk tentang kopi. Dikatakannya, “…dengan penuh kengerian bahwa kopi membuat orang tak lagi doyan wine.” Serangan ini disusul oleh seorang dokter muda yang menganggap kopi bisa mengakibatkan keletihan, menimbulkan hal-hal buruk pada otak manusia, menggerogoti fungsi tubuh, serta biang keladi impotensi.

Pihak yang membela pun segera bersuara. Seorang dokter, juga asal Prancis, Philippe Sylvestre Dufour, menerbitkan buku yang menilai positif minuman eksotik ini. Lalu pada 1696, seorang dokter Prancis juga mengatakan kopi baik untuk tubuh dan menyegarkan kulit. Namun, sebagaimana akan kita lihat nanti, oposisi terhadap kopi tak berhenti sampai di sini.

Ketika mulai menemukan dimensi sosialnya, kopi tak lagi sekadar minuman yang rutin dikonsumsi, tapi juga terlibat dalam banyak perubahan sosial-politik di Eropa. Linda Civitello mengatakan, untuk kali pertama orang (Eropa) memiliki alasan untuk berkumpul di ruang publik tanpa melibatkan alkohol. Kegiatan ini pun berkembang menjadi rutinitas sosial yang bersifat politis. Sebagaimana ditulis situs The Economist pada 7 Juli 2011, “Back to the coffee house”, pada era tersebut konsep media massa belum lagi dikenal. Berita tersebar dari mulut-ke mulut di kedai-kedai kopi, melalui proses dialogis.

Para penguasa yang deg-degan, karena khawatir hal-hal politik dibincangkan orang di kedai-kedai kopi, mulai ambil kuda-kuda. Kekhawatiran itu tak berlebihan. Sejarawan Prancis, Michelet, dikutip Mark Pendergrast dalamUncommon Grounds: The History of Coffee and How it Transformed Our World, menggambarkan penemuan kopi sebagai revolusi yang menguntungkan dan mampu memunculkan kebiasaan-kebiasaan baru, bahkan memodifikasi temperamen manusia. Ide-ide yang beredar dalam diskusi di kedai-kedai kopi pada akhirnya terakumulasi dalam peristiwa Revolusi Prancis.

Di Jerman, popularitas kopi mengganggu penguasanya, Frederick the Great. Pada 1777, dia mengeluarkan manifesto yang mendukung minuman tradisional Jerman, bir: “Menjijikkan melihat meningkatnya kuantitas kopi yang dikonsumsi rakyatku, dan implikasinya, jumlah uang yang keluar dari negara kita. Rakyatku harus minum bir. Sejak nenek moyang, kemuliaan kita dibesarkan oleh bir.” Hal serupa sempat terjadi di Prancis ketika kopi mulai menyaingi wine. Sementara di Inggris, King George II memusuhi kopi lantaran orang-orang yang berkumpul di kedai-kedai kopi kerap mengolok-olok dirinya.

Namun tak ada perlawanan paling keras terhadap eksistensi kedai kopi di London ketimbang Women’s Petition tahun 1674, yang memrotes terbuangnya waktu para lelaki di kedai kopi, serta tak memungkinkannya perempuan berkunjung ke kedai kopi, sebagaimana di Prancis. Lalu, pada 29 Desember 1675 Raja Inggris Charles II mengeluarkan pernyataan tentang Pelarangan Kedai Kopi, dengan alasan membuat orang mengabaikan tanggungjawab sosial serta mengganggu stabilitas kerajaan. Suara-suara protes pun bermunculan di London. Klimaksnya, dua hari sebelum aturan itu berlaku, raja mengundurkan diri.

Pengepungan Wina oleh Turki bisa dikatakan sebagai titik tolak bangsa-bangsa Eropa mengenal kopi

Di bagian lain Eropa, yakni Wina, Austria, perkenalan negeri ini dengan kopi seperti mengulang kisah klasik yang pernah terjadi di tempat lain. Juli 1683, pasukan Turki yang dipukul mundur meninggalkan beragam barang, termasuk lima ratus karung besar berisi kacang aneh, yang dianggap para tentara sebagai makanan unta. Karena ternyata unta-unta tak doyan, mereka lemparkan ratusan karung tersebut ke api. Kolschitzky, seorang tentara yang pernah tinggal di Jazirah Arab, terbangun oleh aroma kopi terbakar tersebut.

“Demi Maria Yang Suci!” teriak Kolschitzky. “Yang kalian bakar itu kopi! Kalau kalian tak tahu gunanya, berikan padaku.” Maka dengan bekal tersebut ia membuka kedai kopi yang termasuk generasi awal di Wina. Beberapa dekade kemudian, kopi mewarnai kehidupan intelektual di kota tersebut.

Namun gambaran kedai kopi tak melulu didominasi catatan positif. Begitu terbukanya tempat-tempat seperti ini membuat orang dari berbagai latar belakang kelas sosial dan karakter, bertemu bersamaan. Karenanya, seperti digambarkan sebuah catatatan yang dikutip Mark Pendergrast, di kedai kopi orang membaca, mengobrol; lalu-lalang orang, para perokok, dan beragam aroma bercampur jadi satu, tak ubahnya kabin tongkang.

Negara-negara lain di Eropa mulai mengenal kopi sekitar periode yang sama. Sementara negara-negara Skandinavia, yang paling buncit berkenalan dengan kopi, sebagaimana data tahun 2002 yang tertera di nationmaster.com, kini malah menjadi wilayah yang konsumsi kopi perkapitanya tertinggi di dunia.

Sejarah awal buah kopi, mulai dari asal-usul tanaman hingga perdagangan biji kopi.

Pelabuhan Mocha di Yaman merupakan pelabuhan penting dalam penyebaran kopi pertama kali

Sejarah kopi mencatat asal muasal tanaman kopi dari Abyssinia, suatu daerah di Afrika yang saat ini mencakup wilayah negara Etiopia dan Eritrea. Kopi menjadi komoditas komersial setelah dibawa oleh para pedagang Arab ke Yaman. Di jazirah Arab kopi popular sebagai minuman penyegar. Di masa-masa awal bangsa Arab memonopoli perdagangan biji kopi. Mereka mengendalikan perdagangan lewat Mocha, sebuah kota pelabuhan yang terletak di Yaman. Saat itu Mocha menjadi satu-satunya gerbang lalu-lintas perdagangan biji kopi. Saking pentingnya arti pelabuhan tersebut, orang-orang Eropa terkadang menyebut kopi dengan nama Mocha. Memasuki abad ke-17 orang-orang Eropa mulai mengembangkan perkebunan kopi sendiri. Mereka membudidayakan tanaman kopi di daerah jajahannya yang tersebar di berbagai penjuru bumi. Salah satunya di Pulau Jawa yang dikembangkan oleh bangsa Belanda. Untuk masa tertentu kopi dari Jawa sempat mendominasi pasar kopi dunia. Saat itu secangkir kopi lebih popular dengan sebutan “cup of java”, secara harfiah artinya “secangkir jawa”.

Etimologi istilah kopi

Sebelum lebih jauh menelusuri sejarah kopi ada baiknya kita mulai dengan etimologi kata “kopi” itu sendiri. Menurut Wiliam H. Ukers dalam bukunya All About Coffe (1922) kata “kopi” mulai masuk ke dalam bahasa-bahasa Eropa sekitar tahun 1600-an. Kata tersebut diadaptasi dari bahasa Arab “qahwa”. Atau mungkin tidak langsung dari istilah Arab tetapi melalui istilah Turki “kahveh”. Di Arab istilah “qahwa” tidak ditujukan untuk nama tanaman tetapi merujuk pada nama minuman. Malahan ada beberapa catatan yang menyebutkan istilah tersebut awalnya merujuk pada salah satu jenis minuman dari anggur (wine). Tidak ada keterangan yang jelas sejak kapan mulai digunakan untuk menyebut minuman kopi. Tapi para ahli meyakini kata “qahwa” memang digunakan untuk menyebut minuman yang terbuat dari biji yang diseduh dengan air panas.

Saat ini budaya minum kopi merupakan budaya post-modern di dunia.

Masih menurut Ukers, asal-usul kata “kopi” secara ilmiah mulai dibicarakan dalam Symposium on The Etymology of The Word Coffee pada tahun 1909. Dalam simposium ini secara umum kata “kopi” diyakini merujuk pada istilah dalam bahasa arab “qahwa”, yang mengandung arti “kuat”.

Ada juga pihak yang menyangkal istilah kopi diambil dari bahasa Arab. Menurut mereka istilah kopi berasal dari bahasa tempat tanaman kopi berasal yakni Abyssinia. Diadaptasi dari kata “kaffa” nama sebuah kota di daerah Shoa, di Selatan Barat Daya Abissynia. Namun anggapan ini terbantahkan karena tidak didukung bukti kuat. Bukti lain menunjukkan di kota tersebut buah kopi disebut dengan nama lain yakni “bun”. Dalam catatan-catatan Arab “bun” atau “bunn” digunakan untuk menyebut biji kopi bukan minuman.

Dari bahasa Arab istilah “qahwa” diadaptasi ke dalam bahasa lainnya seperti seperti bahasa Turki “kahve”, bahasa Belanda “koffie”, bahasa Perancis “café”, bahasa Italia “caffè”, bahasa Inggris “coffee”, bahasa Cina “kia-fey”, bahasa Jepang “kehi”, dan bahasa melayu “kawa”. Pada faktanya hampir semua istilah untuk kopi di berbagai bahasa memiliki kesamaan bunyi dengan istilah Arab.

Khusus untuk kasus Indonesia, besar kemungkinan kata “kopi” diadaptasi dari istilah Arab melalui bahasa Belanda “koffie”. Dugaan yang logis karena Belanda yang pertama kali membuka perkebunan kopi di Indonesia. Tapi tidak menutup kemungkinan kata tersebut diadaptasi langsung dari bahasa Arab atau Turki. Mengingat banyak pihak di Indonesia yang memiliki hubungan dengan bangsa Arab sebelum orang-orang Eropa datang.

Legenda dan mitos

Siapapun yang mencoba menelusuri asal-usul kopi mungkin akan menemukan dua legenda yang sangat terkenal. Yakni cerita “Si Kaldi dan kambingnya” dan cerita “Ali bin Omar al Shadhili”. Kedua legenda ini menceritakan awal manusia mengolah buah kopi.

Si Kaldi dan kambingnya

Kaldi dan Kambingnya yang menari

Cerita ini diambil dari legenda yang berkembang di Etiopia. Syahdan terdapat seorang pemilik kambing bernama Kaldi. Pada suatu hari si Kaldi mendapati kambingnya hiperaktif, melompat ke sana kemari seperti sedang menari. Setelah diselidiki ternyata kambingnya telah memakan buah beri merah dari pohon yang belum dikenali. Dengan rasa penasaran si Kaldi mencoba buah tersebut. Setelah memakannya ia mendapati dirinya berperilaku seperti kambingnya.

Si Kaldi melaporkan kejadian ini ke seorang biarawan. Si biarawan tertarik dengan cerita si Kaldi dan ia pun mencoba buah tersebut. Efeknya si biarawan merasa seperti mendapat tenaga ekstra, ia bisa terjaga di malam hari tanpa mengantuk untuk berdo’a. Karena rasa buah ini sedikit pahit, biarawan lain mulai mengolahnya dengan memanggang dan menyeduh buah tersebut. Sejak itu kopi dikenal menjadi minuman yang bisa memberikan kekuatan ekstra dan mengusir kantuk.

Ali bin Omar al Sadhili

Kisah Ali bin Umar penemu kopi

Konon di kota Mocha, Yaman, hidup seorang tabib sekaligus sufi yang taat beribadah, namanya Ali bin Omar al Shadhili. Omar terkenal sebagai tabib handal yang bisa menyembuhkan penyakit dengan memadukan tindakan medis dan do’a. Namun sepak terjang Omar tidak disukai oleh penguasa lokal. Dengan berbagai intrik Omar digosipkan bersekutu dengan setan untuk menyembuhkan pasiennya. Akhirnya masyarakat kota Mocha mengusir Omar ke luar kota.

Setelah terusir dari kota, Omar berlindung di sebuah gua yang ia temukan dalam perjalanan. Ia mulai kelaparan dan menemukan buah beri berwarna merah. Omar memakan buah itu untuk mengusir rasa laparnya. Karena rasanya pahit, ia mulai mengolah buah itu dengan cara memanggang dan merebusnya.

Namun biji kopi yang telah diolah Omar tetap tidak bisa dimakan. Ia pun hanya bisa meminum airnya. Tak disangka air yang ia minum memberikan kekuatan ekstra. Singkat cerita, air seduhan yang dibuat Omar mulai terkenal. Banyak orang yang memintanya kepada Omar. Hingga fenomena terdengar penguasa kota. Kemudian Omar dipanggil kembali untuk tinggal di kota. Obat mujarab berupa cairan hitam tersebut disebut dengan nama Mocha.

Budaya minum kopi di masa awal

Ar Razi menyembuhkan penyakit dengan kopi

Dokumen tertulis yang paling tua tentang kopi ditemukan dalam catatan Al Razi (850-922) seorang ilmuwan muslim yang juga ahli kedokteran. Dia menyebut suatu minuman yang ciri-cirinya mirip kopi dengan sebutan bunshum. Catatan ini diperkuat oleh seorang ahli kedokteran setelahnya, Ibnu Sina (980-1037 ), yang menggambarkan sesuatu biji yang bisa diseduh dan berkhasiat menyembuhkan salah satu penyakit perut. Semua keterangan yang diberikan Ibnu Sina merujuk pada ciri-ciri kopi yang kita kenal saat ini. Dia menyebut minuman tersebut bunshum dan bijinya dengan nama bun. Kopi menjadi komoditas ekonomi penting di dunia islam. Minuman kopi sangat populer di kalangan para peziarah di kota Mekah, meskipun pernah beberapa kali dinyatakan sebagai minuman terlarang. Para peziarah meminum kopi untuk tetap terjaga ketika beribadah di malam hari.

Popularitas kopi semakin meluas di masa kekhalifahan Turki Ustmani. Di ceritakan minuman kopi menjadi sajian utama di setiap perayaan di Istanbul. Di masa ini juga kopi mulai disukai orang-orang Eropa. Di awal tahun 1600-an para pedagang di Venesia membeli kopi dari pelabuhan Mocha di Yaman. Dari tempat ini menyebar ke daerah Eropa lainnya. Kemudian pada tahun 1668 kopi mulai menyeberang samudera Atlantik dan tiba di New York, kala itu masih menjadi koloni Belanda.

Budidaya massal tanaman kopi

Bangsa Arab diyakini menemukan cara meminum kopi dari bangsa Ethiopia

Hampir semua literatur yang membahas sejarah kopi menyetujui asal mula tanaman kopi dari Abyssinia, suatu wilayah di Afrika yang dahulu ada di bawah Kekaisaran Etiopia. Saat ini wilayah tersebut mencakup teritori negara Etiopia dan Eritrea. Di masa awal semua tanaman kopi yang dibudidayakan merupakan jenis kopi arabika (Coffea arabica).

Dari Abyssinia tanaman kopi dibawa dan dibudidayakan di Yaman. Diperkirakan tanaman kopi mulai dibudidayakan di Yaman pada tahun 575. Pada masa ini perkembangan budidaya kopi berjalan lambat. Biji kopi hanya diperdagangkan ke luar Arab lewat pelabuhan Mocha di Yaman.

Para pedagang Arab mencoba melindungi eksklusifitas tersebut dengan mewajibkan merebus biji kopi terlebih dahulu. Dengan harapan biji kopi tersebut tidak bisa ditumbuh menjadi tanaman.

Penyebaran ke Asia Selatan dan Asia Tenggara

Upaya untuk mengisolasi biji kopi oleh para pedagang Arab tidak berhasil. Pada tahun 1616 orang Belanda berhasil membawa tanaman kopi dari pelabuhan Mocha ke Holand, Belanda. Tahun 1658 bangsa Belanda mulai mencoba membudidayakan tanaman kopi di Srilangka. Tidak ada laporan budidaya tanaman ini menuai sukses besar. Diketahui juga orang-orang Eropa pernah mencoba membudidayakan tanaman kopi di Dijon, Perancis. Namun upaya ini gagal total, kopi tidak bisa tumbuh di tanah Eropa. Selain lewat pelabuhan ternyata banyak pintu masuk lain yang memungkinkan lalu lintas perdagangan biji kopi. Salah satunya lewat perjalanan para peziarah yang ingin berhaji ke Mekah dan Madinah. Pada tahun 1695 Baba Budan, seorang peziarah dari India, berhasil membawa biji kopi produktif ke luar Arab. Ia membudidayakan tanaman kopi di Chikmagalur, India bagian Selatan.

Pada tahun 1696 Belanda mendatangkan kopi dari Malabar, India, ke Pulau Jawa. Tanaman kopi tersebut berasal dari biji yang di bawa dari Yaman ke Malabar. Tanaman kopi yang tersebut ditanam di Kadawung, namun upaya ini gagal karena banjir.

Tiga tahun kemudian Belanda mendatangkan kembali stek kopi dari Malabar. Upaya kali ini menuai sukses. Kopi tumbuh dengan baik di perkebunan-perkebunan di Jawa. Hasil produksinya menggeser dominasi kopi Yaman. Bahkan saat itu Belanda menjadi pengekspor kopi terbesar di dunia.

Penyebaran ke Amerika dan kepulauan sekitarnya

Kopi didatangkan ke wilayah Amerika dan kepulauan di sekitarnya lewat dua pintu. Di mulai pada tahun 1706 ketika Belanda membawa tanaman kopi dari Jawa ke kebun raya di Amsterdam. Dari Amsterdam tanaman kopi di bawa ke Suriname. Sebagian lain diberikan sebagai hadiah kepada Raja Louis XIV di Paris. Pada tahun 1720 tanaman kopi dari Paris dibawa untuk ditanam di koloni Perancis di Kepulauan Karibia. Kisah perjalanan tanaman kopi sangat populer. Diceritakan sebuah pohon kopi yang di bawa dengan kapal Perancis bisa tetap hidup karena disirami dengan air minum milik petugas pembawanya. Semua tanaman kopi yang berasal dari sumber di Amsterdam ini dikenal dengan kultivar Typica.

Jalan lain tanaman kopi masuk ke Amerika lewat Pulau Bourbon, sekarang La Reunion. Tanaman berasal dari biji yang diberikan oleh utusan Sultan Yaman kepada Raja Louis XIV pada trahun 1715. Perancis menerima 60 butir benih kopi di Bourbon. Kemudian benih ini menyebar ke daerah jajahan Perancis di Amerika dan daerah lainnya. Tanaman kopi ini dikenal dengan kultivar Bourbon. Kedua kultivar kopi arabika, yakni Typica dan Bourbon dipercaya menjadi sumber tanaman kopi yang saat ini dikembangkan di berbagai perkebunan.

Sejarah kopi di Indonesia

Sejarah kopi di Indonesia dimulai pada tahun 1696 ketika Belanda membawa kopi dari Malabar, India, ke Jawa. Mereka membudidayakan tanaman kopi tersebut di Kedawung, sebuah perkebunan yang terletak dekat Batavia. Namun upaya ini gagal kerena tanaman tersebut rusak oleh gempa bumi dan banjir. Upaya kedua dilakukan pada tahun 1699 dengan mendatangkan stek pohon kopi dari Malabar. Pada tahun 1706 sampel kopi yang dihasilkan dari tanaman di Jawa dikirim ke negeri Belanda untuk diteliti di Kebun Raya Amsterdam. Hasilnya sukses besar, kopi yang dihasilkan memiliki kualitas yang sangat baik. Selanjutnya tanaman kopi ini dijadikan bibit bagi seluruh perkebunan yang dikembangkan di Indonesia. Belanda pun memperluas areal budidaya kopi ke Sumatera, Sulawesi, Bali, Timor dan pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Belanda memperkenalkan cara budidaya kopi kepada bangsa Indonesia

Pada tahun 1878 terjadi tragedi yang memilukan. Hampir seluruh perkebunan kopi yang ada di Indonesia terutama di dataran rendah rusak terserang penyakit karat daun atau Hemileia vastatrix (HV). Kala itu semua tanaman kopi yang ada di Indonesia merupakan jenis Arabika (Coffea arabica). Untuk menanggulanginya, Belanda mendatangkan spesies kopi liberika (Coffea liberica) yang diperkirakan lebih tahan terhadap penyakit karat daun. Sampai beberapa tahun lamanya, kopi liberika menggantikan kopi arabika di perkebunan dataran rendah. Di pasar Eropa kopi liberika saat itu dihargai sama dengan arabika. Namun rupanya tanaman kopi liberika juga mengalami hal yang sama, rusak terserang karat daun. Kemudian pada tahun 1907 Belanda mendatangkan spesies lain yakni kopi robusta (Coffea canephora). Usaha kali ini berhasil, hingga saat ini perkebunan-perkebunan kopi robusta yang ada di dataran rendah bisa bertahan. Pasca kemerdekaan Indonesia tahun 1945, seluruh perkebunan kopi Belanda yang ada di Indonesia di nasionalisasi. Sejak itu Belanda tidak lagi menjadi pemasok kopi dunia.

Perdagangan biji kopi

Berdasarkan catatan International Coffee Organization (ICO), terdapat 4 jenis kopi yang diperdagangkan secara global yakni kopi arabikakopi robustakopi liberika dan kopi excelsa. Keempat jenis kopi tersebut berasal dari 3 spesies tanaman kopi. Arabica dihasilkan oleh tanaman Coffea arabica. Robusta dihasilkan tanaman Coffea canephora. Sedangkan liberika dan excelsa dihasilkan oleh tanaman Coffea liberica, persisnya Coffea liberica var. Liberica untuk kopi liberika dan Coffea liberica var. Dewevrei untuk kopi excelsa.

Era awal

Di masa awal kopi hanya dikenal di masyarakat islam di jazirah Arab. Di awal abad ke-17 kopi mulai diperdagangkan ke luar Arab lewat pelabuhan Mocha di Yaman. Para pedagang Arab memonopoli komoditas ini untuk jangka waktu yang lama Menginjak abad ke-18, bangsa Eropa mulai memproduksi kopi di luar Arab. Hingga pada tahun 1720 Belanda menggeser Yaman sebagai eksportir kopi dunia. Produk Belanda didapatkan dari perkebunan-perkebunan kopi di Jawa dan pulau-pulau sekitarnya, saat ini menjadi wilayah Indonesia. Indonesia menjadi produsen kopi terbesar dunia hampir satu abad lamanya. Pada tahun 1830 posisi Indonesia sebagai produsen kopi terbesar digeser Brasil. Hingga saat Brasil tercatat sebagai penghasil kopi terbesar dunia.

Era modern

Saat ini yang mendominasi pasar dunia adalah kopi yang berasal dari Brazil

Dewasa ini kopi ditanam di lebih dari 50 negara di dunia. Brasil, Vietnam, Kolombia, Indonesia dan Etiopia merupakan negara-negara penghasil kopi paling terbesar. Brasil merupakan penghasil kopi paling dominan. Jumlah produksi kopi kopi berhasil sekitar sepertiga dari total produksi kopi dunia. Pada tahun 2015 Brasil menghasilkan sekitar 2,5 juta ton biji kopi. Produksi kopi di Brasil didominasi oleh jenis arabika sekitar 80%, sisanya robusta. Kopi arabika dinilai lebih baik dan dihargai lebih tinggi dibanding jenis kopi lainnya. Sementara itu, pada tahun 2015 Indonesia menempati posisi ke-empat negara penghasil kopi. Menurut Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI), sekitar 83% produksi kopi Indonesia dari jenis robusta dan 17% arabika. Indonesia juga menghasilkan kopi jenis liberika dan excelsa namun jumlahnya tidak signifikan bila dibandingkan arabika dan robusta.

Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

POOR OLD MAN BALLADS

Life is a series of coincidences, incidentally is a fate in disguise.

POOR OLD MAN BALLADS

Who would have thought it would be here? I have not counted how old I am. There is so much we experience when we are backward. Behind us stands a monument called fate, there has been written the roll that we will live. Though how we circumvent that provision in that fate, it can not but must obey his command.

The concept of time is raised to the level of human mind. Not physical. Cells are not familiar with the concept of time. It’s just renewing itself, continuously without having to do with seconds. We (humans) are themselves who hold the concept of linear time and agree to follow it. The concept of time is born from the fundamental human desire to have control over life, including self. The present, the future and now only one single movement. Now, more important than the past and the future. Because now is the moment where the potential is manifested. Only now, we are able to feel the past and realize the future. The moment is capable of renewing itself indefinitely, man can be anything.

A man like anything will always be ground on the ground, he will not be able to avoid the attraction of the earth. I have felt the loss of something precious because of my own inadequacy. It is impossible to live unharmed life. Or refuse to get hurt. The wounds we collect signify our mistakes and successes. But humans can still choose, not to be jealous, or not to envy. That is human value.

I owe a lot of forgiveness from everyone I have hurt. Top sharp words, over cold hearts, over loud action. For every what I have done let forgiveness come. I am lucky to get the warm friendship of everyone. For what I sometimes feel, does not deserve it. Someone who is cold-hearted never imagined getting this much sincerity.

Who am I? Was he someone wearing the same face for years, or was he someone who could change quickly? Or was he the one who had reached its last concave, now lungs, punching, with a layer that had been exposed, to what appeared to be a non-face. I am just a poor old man. Desiring to be rich, and the true wealth is to receive the various sides without fear. Everything is possible.

Life is a series of coincidences, incidentally is a fate in disguise.

Maybe I have failed, maybe I have lost, but I am still alive. Indeed I have changed a lot, in time.

Posted in Fiction, International, Literature, Poetry, Story | Tagged , , , , , | 7 Comments

ACEH WAS FIRST NATION TO RECOGNIZE NETHERLAND’S INDEPENDENCE

Tuanku Abdul Hamid from Aceh. The first ambassador of the kingdom in Southeast Asia to the Europeans.

ACEH WAS THE FIRST NATION TO RECOGNIZE NETHERLAND’S INDEPENDENCE

Why was Aceh the first nation to recognize Netherlands’ independence?

Provinciealse Zeeuwse Courant, published in Middelburg (The Netherlands) on October 25, 1978, recounts the ceremonial event of a monument established in the town of Middelburg, in memory of the Ambassador of the Sultanate of Aceh Darussalam, Tengku Abdul Hamid, who died in the Netherlands on 10 August 1602.

Prince Bernhard on behalf of the Kingdom of the Netherlands inaugurated the Memory Monument to the Ambassador of Aceh Darussalam Sultan Abdul Hamid. The image above Prince Bernhard just finished opening the curtains covering the words on the marble on the monument; Behind Drs. Garnawan Dharmaputera Charge d’Affaires representing the Ambassador of the Republic of Indonesia in the Netherlands

According to the newspaper, the inauguration ceremony of the monument to the Sultanate Ambassador took place solemnly. Attended by civilian and military authorities. Ambassador of the Republic of Indonesia in the Netherlands represented by Charge d’Affair Drs. Garnawan Dharmaputera, while Aceh province represented by Drs. Teuku Iskandar, Abubakar, and Doctor Teuku Hasan Ubit.

Among the important guests present, namely Prince Bernhard (husband of Queen Juliana), Drs. A.J. Piekaar, Lieutenant General F van der Veen (Chairman of Stichting Peutjut Fond), Commissioner van de koningin dr. C. Boetien and Middleburg Mayor Drs. P.A. Wolters.

The establishment of memorial memories of Abdul Hamid in the Netherlands must be viewed in terms of the history of the greatness of the Indonesian nation as the first chain of genealogies forming Indonesian representation abroad, especially in Europe.

Prince Maurice’s letter to the Sultan of Aceh

Maurice of Orange. Portrait by Michiel Jansz. van Mierevelt, 1607.

From the end of the 16th century until the early seventeenth century the Dutch freed themselves from Spanish colonialism, and Prince Maurice proclaimed the establishment of an independent and sovereign Republic of the Netherlands. As a result, the Dutch people made a long war against the power of Spain as the largest imperialist state at the time.

At that time, countries in Europe have not dared to recognize the independence of the Netherlands, for fear of the power of Spain. So Prince Maurice as the newly established chairman of the Republic of the Netherlands is making friends and support to other parts of the world, including Asia.

The Republic of the Netherlands took a decision to establish diplomatic relations with the Sultanate of Aceh Darussalam. To implement the decision Prince Maurice sent a delegation led by State Commissioner Gerard de Roy and Admiral Laurens Bicker, with four ships, Zeelandia, Middelburg, Langhe Bracke, and de Sonne. They left for Aceh on 29 January 1601 and arrived on 23 August 1601.

The delegation of Gerald de Roy brought a letter from the Head of the Dutch Republic Prince Maurice, which meant that the new Republic of the Netherlands wanted to be friendly with the Sultanate of Aceh Darussalam. Here’s the letter:

“In the new year passed, 1598 AD, on the order of two ships from this country, with the intention of holding trade in the East Indies, which ship had arrived there on August 15 of that year.

It has been reported to me how kindly the greeting given to them by the Sultan and how meticulous the ministry was given to them when they arrived in the kingdom of Aceh, besides that, they also received news that by fulfilling the rules and with all honesty they have carried out the trade intentions.

But when the Portuguese who became citizens of the Kingdom of Spain, our enemies, got word that they were getting protection and assistance promised by Sultan, they then told the lies, to mislead the Sultan, among them said that the merchants The Dutch were pirates, and that their arrival was to usurp the kingdom of Aceh.

The result of the deception, Sultan had caught the arrest of Frederick de Houtman, the captain of one of the vessels, along with some of the crew, and detained them, which resulted in their suffering.

With confidence in the mercy of Sultan to them, I want to convey my hope that the Sultan should give them good care, as well as to every citizen who visits the kingdom of Aceh, who is free to return, may the prisoners who are now in the country of Aceh can get their freedom back.

It is also reported to me that the Portuguese had waged war against the kingdom of Aceh on the orders of the King of Spain, with the aim of seizing the land and making its citizens servants severely, as they have done for more than 30 years in our country. But the Almighty God has never wanted to do so, and instead we have taken up arms against the occupation and will do it until it succeeds.

It was for this reason that I pleaded with the Sultan not to trust the Portuguese, and that Sultan should not suspect any more to the citizens who came from my country and to have the opportunity to trade, so I assigned some of my representatives to this letter, composed of delegates plenipotentiary. Four captains, namely Cornelis Bastiaanse, Jan. Tonneman, Matthys Antonisse and Cornelis Adriaanse, along with several commissioners (zaakgelastigden), Namely Geradl de Roy, Laurens Begger, Jan Jacobs and Nicolas van der Lee, all of whom set out with four ships on my behalf, held talks with Sultan, to discuss what help was wanted to crush the enemies.

Likewise to them I have given permission to give the usual gifts to the Sultan as proof of my desire to make friendship with Sultan. I beg that the gifts sent to be received. And with this I pray to God for Sultan and kingdom of Aceh to expand in accordance with his wishes.”

It was published in Den Haag, Netherlands, on December 11, 1600

Hand kissed by his servant

Signed Maurice de Nassau

The Delegation of Tengku Abdul Hamid From Sultanate of Aceh

The contents of Prince Maurice’s letter to the Sultan of Aceh, at that time the Sultan Alaidin Riayat Syah Saidil Mukammil (997-1011 Hijri / 1589-1604 AD) was discussed by the Sultan in the Council of the Kingdom, then decided among other things:

  1. Accept both the wishes of Prince Maurice as the Head of the Dutch Republic to establish diplomatic and economic relations with the Netherlands;
  2. Acknowledging the Republic of the Netherlands as an independent and sovereign State;
  3. Sends a delegation to the Netherlands, in return for a visit.

The Sultanate of Aceh delegation was led by Tengku Abdul Hamid, a prominent cleric and statesman, Admiral Sri Muhammad, an experienced high-ranking Marine officer, Mir Hasan a diplomat and statesman to Wizarah Badlul Muluk (Foreign Ministry), Leonard Werner a.k.a Pusque Camis, descendants of Luxemburg Interpreters and a number of officers and Navy soldiers.

On the way to Holland, a Dutch ship carrying a The Sultanate of Aceh delegation was intercepted by a Portuguese “San Jabo” ship, resulting in a sea battle, in which soldiers and Acehnese officers were involved in this battle. The ship “San Jabo” can be defeated and the goods in it are seized and taken to the Netherlands. On July 20, 1602, Dutch Ships arrived safely at Zeeland.

Church of Saint Peter, where Tengku Abdul Hamid is buried.

When the Sultanate of Aceh delegation arrived in the Netherlands, Prince Maurice was at his war headquarters in a village called Grave. According to Dr. Wap in his book Het Gezantschap van den Sultan of Aceh, on 10 August 1602 due to air exchange, was interred on August 11, 1602, in St. Pieter in the town of Middelburg. Abdul Hamid’s death before meeting with Prince Maurice, Admiral Sri Muhammad replaced him later as Chairman of the Delegation. On the gravestone Abdul Hamid inscribed:

Hic Situs Est

Abdul Zamat Princeps Legationis

A Rege Tabrobanae Seu Sumatrae

Sultan Alcien Raietza Lillo Lahe

Felalam Ad Illustriss Princip

Mauritium

Missae

Cum Duap. Navi. Zeeland Quae

In Dedit. Acceper.

Liburnicum Lusitanam

Vixit An. LXXI Obiit Anno CI]I] II

H.M.P.C

Here is buried

Abdulhamid, Head of Delegation of

Sultan Alaiddin Riayat Shah

Messenger to meet

The Honorable Prince Maurice with

The ship Zeeuw, which has been robbed

Portuguese Warship

Close to the age of 71 years, died

In 1602

The East India Company made a mark

Submit a Letter of Trust and a Letter of Recognition to The Republic of the Netherlands

After the mourning period over the death of Tengku Abdul Hamid, on 1 September 1602, the Aceh delegation under the leadership of Admiral Sri Muhammad faces Prince Maurice at his headquarters

Meeting of Aceh Delegation with Prince Maurits van Orange (1602)

On the occasion, the Head of Delegation of Aceh handed a letter to Prince Maurice, Credentials and Recognition of Sultanate of Aceh to the Republic of Netherlands, also submitted with solemn gifts from Sultan Alaiddin Riayat Syah Saidil Mukammil.

Anno 1602. Visitation of the envoys of Atjeh. Painted by Charles Rochussen in 1854. Tropenmuseum Amsterdam collection.

The Sultanate of Aceh Delegation acceptance ceremony is held with solemn and festive. Completed formal talks with Prince Maurice, to the Sultanate of Aceh Delegation showed the results of the war against Spain, and also reviewed the towns and villages in the Netherlands. According to historical records, Aceh is the first sovereign state in the world to recognize de facto and de jure Dutch independence.

Honey is repaid with poison

In 1872, when the Dutch made preparations to attack the Sultanate of Aceh Darussalam, in letters to the King of the Netherlands, Multatuli once recalled the events of Aceh’s recognition to the Dutch Republic, even Multatuli spoke at a meeting in Wiesbaden: “When the Dutch struggled for independence from Spain, The Kingdom of Aceh was the first to recognize the Netherlands as an independent nation.”

Apparently, honey is rewarded with poison!

Nevertheless, in 1978 the good and greatness of the soul was once again shown to the Dutch when the Governor of Aceh A. Muzakkir Walad on behalf of the people of Aceh requested the Dutch Ambassador to order the corpse of Major General Kohler whose grave was evicted in Jakarta brought to Aceh and buried again in Peucut Aceh.

For those who do not live the life of the Acehnese, it may not be understood why Major General Kohler, who led the first assault on Aceh as “Commander-in-Chief” and died while leading the burning of the Baiturrahman Great Mosque, after Jakarta displaced his grave, Peucut in Banda Aceh willing to accept his main enemy.

Those who do not deepen the soul of Aceh, may not understand why Major General Kohler, who led the first assault on Aceh as “Commander of Aggressors” and died while leading the burning of Baiturrahman Great Mosque, after Jakarta displace his grave, Peucut in Banda Aceh willing to accept the main enemy.

Peucut Cemetery is a place for the planting of so many high-ranking officers and middle-ranking officers and Dutch soldiers who died in decades of fierce warfare between the Netherlands and Aceh.

In these graves have been buried more than 2,200 Dutch soldiers killed during the Aceh-Dutch War.

Peucut Cemetery is a place for the planting of so many high-ranking officers and middle-ranking officers and Dutch soldiers who died in decades of fierce warfare between the Netherlands and Aceh.

To organize and restore Peucut cemetery, the Netherlands was formed a foundation named “Stichting Peucut Fonds” (Foundation Peucut Fund), which was established and led by retired Dutch officers who had once been in Aceh, such as Lt. Gen. F. van Der Veen, Colonel JHJ Brendgen and others.

In order not to say “honey returned poison” Stichting Peucut Fonds took the initiative to establish a monument for Tengku Abdul Hamid, Chairman of the Delegation of the Kingdom of Aceh Darussalam who died in the town of Middelburg on 10 August 1602.

Stichting Peucut Fonds succeeded in mobilizing the Dutch government and society to correct past mistakes, among others by establishing a monument which on October 24, 1978, was inaugurated by Prince Bernhard (husband of Queen Juliana) in the name of the Kingdom of the Netherlands. In marble stones attached to the recorded monuments of writing as follows:

Ter Nagadachtenis Aan

Abdoel Hamid Hoffd van het Atjehse Gezantsechap

Door

Sultan Alaoeddin Riajat Syah Lillahi Fil Alam

Afgefaardigd

Naar Prins Maurits Met de Zeeuwse Sechepen

De Zeelandia en de Langhe Barcke

Hij Was Oud Een-en-zeventig Jaar Overleed in 1602

En Werd Bigezet In de Oude Kerk te Middulburg

De Stichting Peutjut Fonds Heeft Dese Dedenkplaat

Doen Plaatsen 24 Oktober 1978.

 

Memories to Abdulhamid

Chairman of the Aceh Mission who was sent

By Sultan Alauddin Riayat Shah Lillahi Fil Alam

To Prince Maurits who departed with ships

Zeeland de Zeelandia and Langhe Barcke

He died at the age of 71 years

Buried in an old church in Middelburg

The Peucut Foundation makes this monument

On October 24, 1978.

The Meaning of Tengku Abdul Hamid Monument, Aceh the first nation to recognize the Netherland’s independence

In the first bit of history, it is clear that the Memory Monument to Tengku Abdul Hamid, Chairman of the Sultanate of Aceh Darussalam, as the Ambassador of Indonesia, has a very important historical understanding in the history of our nation’s diplomatic relations.

The memorial monument of the Sultanate of Aceh Darussalam, Tengku Abdul Hamid in Middelburg, The Netherlands

As quoted in the speech of the Ambassador of the Republic of Indonesia to the Netherlands, represented by Drs. Garnawan Dharmaputera in his speech said, “For the Indonesian nation is certainly considered very important, because Tengku Abdul Hamid is the Ambassador of Indonesia who first lead the diplomatic mission in the Netherlands, so he and other members of the mission. Is a pioneer in the formation of representatives of the Republic of Indonesia today in the Netherlands.”

It is also certain for the Dutch people that the event is considered very important and historic too, so the inauguration was done by Prince Bernhard himself, not for example by the Mayor of Middelburg.

Today, the inauguration of the monument Abdul Hamid, which took place on October 24, 1978, in Middelburg we are revealed again to be known to all Indonesian and Dutch people, as well as citizens of the world.

Reference:

  1. Ali Hasjmy; Aceh The First Sovereign Country to Recognize the Independence of the Netherlands; Sinar Darussalam No. 10 May / June 1979 edition.
  2. Provinciealse Zeeuwse Courant Newspaper published in Middelburg (The Netherlands) on October 25, 1978.
  3. Mohammad Said; Aceh Throughout the Ages; Page 128-129.
  4. Wap; Het Gezantsschap van den Sultan Aceh.

Translation in Indonesian

About Aceh:

  1. CUMBOK WAR, A SOCIAL REVOLUTION IN ACEH (1946-1947); 8 April 2017;
  2. CIVILIZATION WITHOUT WRITING; 13 April 2017;
  3. ACEH THE FIRST SOVEREIGN COUNTRY TO RECOGNIZING THE INDEPENDENCE OF THE NETHERLANDS; 27 April 2017;
  4. VISITING THE EXHIBITION ACEH TOMBSTONE AS AN ISLAMIC CULTURAL HERITAGE IN SOUTH-EAST ASIA; 16 May 2017;
  5. DUTCH RAID OPERATION AGAINST CUT MEUTIA (1910); 20 May 2017;
  6. SAMUDERA PASAI AS THE FIRST ISLAMIC KINGDOM IN SOUTHEAST ASIA; 6 June 2017;
  7. ISLAMIC SHARIAH WHO IS AFRAID, A CASE STUDY IN ACEH; 13 June 2017;
  8. ACEH WOMEN FULL POWER; 13 June 2017;
  9. DUSK IN MALACCA; 4 July 2017;
  10. GOLD, INFIDELS, AND DEATH; 10 July 2017;
  11. MANTE THE LOST PYGMY TRIBE; 13 July 2017;
  12. HOW TO TELL HISTORY; 14 August 2017;
  13. THE ORIGIN OF THE COFFEE CULTURE IN ACEH; 19 August 2017;
  14. THE UNTOLD STORY ABOUT HISTORY OF THE COMMUNIST PARTY OF INDONESIA IN ACEH PROVINCE; 28 September 2017;
  15. WHEN CRITICISM IS FORBIDDEN; 14 October 2017;
  16. EXPLOITATION OF NATURAL RESOURCES, WHAT IS IT GOOD FOR ACEH; 5 November 2017;
  17. PEUCUT KHERKOFF, ACEH-DUTCH WAR MONUMENT; 12 November 2017;
  18. THE PRICE OF FREEDOM; 5 December 2017;
  19. ACEH CRAZY OR ACEH PUNGO; 25 February 2018;
  20. MARSOSE CORPS, THE DUTCH SPECIAL ARMY DURING ACEH WAR; 19 March 2018;
Posted in History, International, Literature, Opinion, Reportase, Review, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 21 Comments