MENCUMBUI KEMATIAN, SEBUAH ELEGI

Yukimura Sanada disaat akan mencumbui kematian

MENCUMBUI KEMATIAN, SEBUAH ELEGI

 

tanpa suara mata menangis pilu

menoleh kebelakang, melihat lagi tanpa gairah

melihat pintu-pintu terbuka dan gerbang-gerbang tanpa perikatan

serambi-serambi kosong tanpa tirai atau penutup

mana para prajurit yang berjanji setia

 

para ksatria tlah bersalin rupa

bagaimana bisa memperjuangkan benteng terakhir

menjaga kisah keperkasaan leluhur

mempertahankan sendiri tanpa elang-elang

elang-elang tlah berganti bulu dan sang harimau moksa

 

takdir akan kuterima dengan mata terbuka

meski dera siksa menimpa

takkan menghiba

demi kehormatan para indatu

akan kucumbui kematian

Menggambarkan perasaan Toyotomi Hideyori, menjelang kejatuhan benteng Osaka pada pasukan Ieyasu Tokugawa. Setelah mendengar samurai paling perwira, Yukimura Sanada bertempur matian-matian menjemput maut di front terdepan. Sendirian untuk menjaga kehormatan tuannya.

Lhokseumawe, 16 Mei 2009

mencumbui kematian, sebuah elegi

Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 11 Comments

DUHAI DIRIKU MENGAPA ENGKAU BERSEDIH

Mengapa engkau bersedih?

DUHAI DIRIKU MENGAPA ENGKAU BERSEDIH

Inilah kisah seorang anak manusia bercita-cita hidup sederhana, berakhir tragis karena tidak bisa memutuskan dengan tegar.

Wahai diriku mengapa engkau bersedih? Jangan kau katakan tidak! Tiada guna membantah diriku yang setiap detik menemanimu. Aku adalah kamu, kamu adalah aku. Kita adalah satu jasad dengan dua karakter berbeda, merdeka. Duhai diriku yang tersenyum, sungguh engkau mampu menipu seluruh dunia dengan sebaris garis dibibirmu tapi bukan aku. Lekuk senyuman khas milikmu bukanlah perisai bagiku untuk mengetahui yang terdalam darimu.

Hari ini ketika engkau ragu, bukankah sudah kuingatkan dulu tuan. Bahaya mengancam di depan, dan bahkan ketika peluru tak menembus zirahmu. Engkau masih tetap membenci kekalahan yang katamu lebih buruk dari kematian. Bersyukurlah, akan kehidupan. Mungkin kamu dan juga aku sudah begitu rindu akan rumah, sehingga tak menyangka dan menduga akan menerima penghinaan ini, tertuduh pengkhianat. Bahkan lebih sakit dari kematian, lebih dari kekalahan, lebih dari segalanya.

Berdua, dalam satu kita pernah berjanji. Tak akan pernah lagi berjanji. Tak peduli bila kita harus terkucil sendiri. Tak peduli akan segalanya. Hingga kemarin. Salahku, tak tegas memperingatkan diriku. Padahal sudah kuduga ini akan terjadi, namun azzammu berkata tak bisa berbalik lagi. Sehingga engkau merangkak dan terhina, dan takdir membuatmu lebih pemalu dibandingku. Tapi engkau dan aku tahu kita tak bisa menangis karena ini. Deja vu, ingatkah dulu bahwa kita pernah mendapatkan siksa bara melebihi ini. Dan membuat kita dalam satu waktu itu berjanji. Satu-satunya janji yang pernah kita ingkari seumur hidup.

Aku dan kamu telah tertempa tak tergoda, oleh harta dan tahta. Tapi aku dan kamu tak teruji yang satunya lagi. Karena kita selalu bisa saling menjaga. Aku boleh berfirasat, namun selalu kamu yang menentukan bukan? Jangan bersedih, bukan hanya kamu terjebak. Aku juga, bersama kita tanggung aib ini. Jangan bersedih, aku juga bersalah. Nikmatilah pelajaran kehidupan. Lihatlah dengan jeli, kita terselamatkan dari jebakan maut lelaki dan perempuan. Meski terluka teruk.

Sekarang memang sakit, sekarang memang perih. Lama sudah kita tak terjatuh, hampir sewindu. Setidaknya darah dan tubuh ini belajar menawar racun, yang tak pernah terduga dihujamkan panah dari belakang, usah kau sesali kesalahan dirimu sendiri, aku tahu dalam hatimu bukanlah mereka yang bersalah. Kita yang naïf. Berhentilah bersedih. Aku dan kamu dilahirkan pada hari yang sama, dalam rupa yang satu. Hidup mati kita akan bersama. Kesedihanmu kesedihanku jua.

Tidak benar hanya ada dua gerbang : kesetiaan dan pengkhianatan

Jalan besar menembus lubuk hati

Terjaga dari mimpi dua puluh lima tahun

XXXXXX

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 16 Comments

KEBAHAGIAAN YANG SEDERHANA

“Bahagia itu, sederhana dan bukan kepura-puraan”

KEBAHAGIAAN YANG SEDERHANA

Boleh jadi ketika memandang wajah dicermin mendapati diri masih sama dengan bertahun lalu, kemudian tersenyum mendapati kerut-kerut diwajah ini tahun lalu tak ada. Boleh jadi merasa pintar berdasarkan pengalaman dan latar belakang akademisi sehingga tak menyadari diri bahwa sedang dipintari. Ada hal-hal yang tak diketahui, banyak misteri. Jangankan orang lain, kadang-kadang juga merasa asing dengan diri sendiri.

Banda Aceh, pukul lima pagi lewat. Geografi berkata kota ini terletak paling barat Indonesia. Menelurkan konsekuensi bahwa ia adalah kota dengan waktu shalat terakhir diantara semua ibukota provinsi. Abu turun dari bus Kurnia menatap mega-mega dilangit, bertepatan dengan adzan Shubuh sang pengembara menginjakkan kaki lagi disini. Suasananya berbeda, selalu jika berada disini. Seolah-olah mengaduk ikatan emosional dengan yang disebut kampung halaman. Kecuali sang legendaris Mr.Popo, tidak ada teman lain yang Abu beritahu. Waktu Abu terlalu singkat disini, tak mungkin untuk menjumpai semua konco. Adahal penting yang harus dilakukan.

Di rumah pukul sepuluh pagi, tiba-tiba Abu rindu dengan sesuatu, bakso Mas Nok. Ketika masih berseragam putih-putih khas Madrasah Ibtidaiyah beliau berjualan disamping sekolah. Tahun 1990, harga semangkuk masih lima puluh rupiah. Satu hal yang tak mungkin berulang mengingat betapa tajam laju inflasi merajam Rupiah tercinta. Rasanya sangat khas dilidah Abu, bahkan ketika sudah duduk dibangku sekolah menengah pertama dan atas, ada waktu-waktu dimana Abu merasa rindu dan mampir kemari. Menjelang EBTANAS SMP Bahkan lidah Abu pernah berucap, “asalkan bisa mencicipi bakso Mas Nok, Abu tak peduli kesedihan apapun yang melanda.” Ya, itulah pemikiran Abu sebagai anak tanggung.

Abu selalu datang sendiri, sudah delapan tahun sejak kunjungan terakhir tapi Abu masih dengan pola pikir lama. Pergi sendiri tanpa sepengetahuan orang lain. Untuk hal ini Abu sangat berahasia, tidak ada seorangpun yang pernah mengetahui kegemaran ini, muncul semenjak meninggalkan bangku MIN. Gerobak bakso Mas Nok masih sama sejak Sembilan belas tahun lalu, tidak ada perubahan sama sekali. Dia sudah tidak mengenali Abu, waktu telah melunturkan ingatan sang maestro. Menarik bangku tempel, Abu memesan satu porsi. Ketika bakso itu datang Abu menciumi aromanya sebagaimana kebiasaan, kenangan Abu datang.

Namun ketika mulai mengunyah, Abu terdiam. Tidak enak!!! Bila diperhatikan seksama bakso ini terlalu banyak diberi kanji sehingga rasa bawaan dagingnya hampir tidak terasa, Kaldunya tak berasa, saosnya terlalu encer, cabai hijaunya tak lagi segar dan yang paling parah bihunnya keras. Apakah Mas Nok telah menurunkan standar? Abu mengedarkan pandangan, mangkuknya masih sama. Dan anak-anak sekolahpun makan dengan lahap. Tidak mungkin! Jadi apa yang salah? Mungkinkah Abu sudah kehilangan cita rasa. Abu berpikir lama dan bermuara kecewa, ternyata Abu bukanlah Pak Kayam yang telah berkeliling dunia namun tak pernah kehilangan cita rasa pada penggeng ayam Pak Joyo (trilogi Mangan ora mangan kumpul). Lidah Abu kehilangan kesederhanaanya!!!

Abu menghibur diri sendiri, tak perlu terlalu kecewa tokh kepulangan Abu sebenarnya bukan untuk ini. Pastinya sekilas intermezzo tadi membawa sebuah perenungan. Sebaiknya memang Abu tidak terlalu menyalahkan sebuah perubahan, sebuah ketidakkonsistenan. Semuanya dapat berubah, bahkan tanpa disadari sesuatu hal yang paling Abu jaga juga berubah. Sungguh berbahagia orang-orang yang mampu berbahagia akan hal-hal sederhana, seperti anak-anak ini dan seperti Abu dahulu.

“Bahagia itu, sederhana dan bukan kepura-puraan”

xxxxx

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , | 18 Comments

MALAM INI BIARKAN AKU MENYENDIRI

di puncak-puncak berhembus suasana damai

MALAM INI BIARKAN AKU MENYENDIRI

Malam ini biarkan kusendiri, mengecup sepi. Menikmati kehidmatan menyelami tulisan tertera dari langit. Sungguhpun disaatku merasa gundah gulana. Saat air mata tumpah ketika mengeja kitab suci bukan berarti hidup ini penuh kesedihan. Aku hanya menikmati air mata membasahi pipi merasakan kekhusyukan nyata menghindari hiruk pikuk dunia. Melepaskan segala topeng.

Sungguh disaat-saat seperti ini aku mengenali diri sendiri dalam kenyamanan amat sangat. Mohon biarkanku tenggelam dalam hening. Desirmu angin tak bisa menyentuh kalbu. Walau tiada kesempatan menelaah segala kekurangan. Ketidaksempurnaan kita maka tuhan mengajarkan mengerti cinta, mensucikan jiwa.

Kala insan lelap dalam buaian ditengah sunyinya malam. Betapa kumerindu kitab suci dengan nyanyian sendu menyayat. Menghiraukan jalannya waktu menjelang, tawa riang dan canda tak ingin lagi. Merenungi hidup sebelum layar diturunkan. Tanpa sepengetahuan dengan penuh rahasia. Dan tak ingin terduga oleh siapapun jua.

Duhai, terlalu sering sudah kumenafikan uluran tangan sampai tiba saat dimana merasa tak nyaman untuk menolak lebih banyak lagi. Pada keramaian, pada sebentuk senyuman. Sampai merasa sudah melebihi keangkuhan iblis. Bukan, bukan itu maksudku. Ku hanyalah seorang penyendiri yang berazzam menikmati sunyi, mohon biarkan. Jangan kau ambil semua itu, malam ini.

Ketika ragaku merapuh, kuingin ketenangan dalam tidurku. Tak ingin seorang pun menganggu. Jasadku tlah mendinginkan semua penat, jangan percikkan api lagi. Cukup, cukup sudah biarkanku beristirahat dalam damai yang hanya ku mengerti, sendiri.

XXX

Puisi:

  1. Dalam Jubah Sufiku; 3 Agustus 2008;
  2. Kita Yang Tak Akan Bertemu Kembali; 9 September 2008;
  3. Padamu Perempuanku; 25 September 2008;
  4. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  5. Terima Kasih Telah Menolakku Kemarin; 24 November 2008;
  6. Selamanya; 14 Desember 2008;
  7. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  8. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  9. Selamat Ulang Tahun Mama; 1 Februari 2010;
  10. Kenangan Akan Gerimis; 11 Februari 2012;
  11. Direbut Kabut Kelam; 10 Agustus 2013;
  12. Setitik Noktah Di Dalam Noktah; 25 Februari 2015;
  13. Aku Mencintaimu Dengan Sederhana; 15 Mei 2017;
  14. Harap Damai; 14 September 2017;
  15. Renungan Malam; 19 November 2017;
Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 31 Comments

HANYALAH LELAKI BIASA

Ibu ketahuilah anakmu ini bukanlah putra mahkota dengan segala kebesarannya.

HANYALAH LELAKI BIASA

Ibu sadarlah anakmu ini bukanlah seorang pangeran yang memiliki pasukan berkuda walau ayah dari ibumu masih merindukan taman-taman kota sevilla saat mendengar cerita nenek moyangnya sebelum disuruh memilih menanggalkan akidah atau pergi dari semenanjung iberia oleh gabungan Castilla dan Arragon saat benteng terakhir di Andalusia, Granada tertaklukkan.

Ibu ketahuilah anakmu ini bukanlah putra mahkota dengan segala kebesarannya walaupun ayah dari ibumu masih terkenang mengingat singgasana kakeknya di Kuta Reh, tanah Gayo sebelum Gotfriend Coenraad Ernst Van Daaleen dengan bala pasukan Marechaussee meratakan segalanya.

Ibu sadarlah anakmu bukanlah lelaki tegar, anak dari suami yang amat kau cintai. Suami dimana kakek dari ibunya hanyalah seorang pasukan pejalan kaki dibawah Panglima Polem kepala sagi XXII dalam perjalanan panjang melawan kumpeni sebelum akhirnya kalah dan menyerah pada Gubernur Militer Johannes Benedictus Van Heutsz.

Ibu ketahuilah anakmu bukan lelaki perkasa, anak dari suami yang amat kau cintai. Suami dimana kakek dari ayahnya hanyalah seorang pengikut Sultan ketika Istana Darud Donya dinajiskan oleh kaphe Belanda, ia yang menitikkan airmata saat kampungnya dibakar oleh Jenderal Jan Van Swieten dan harus mengungsi ke Keumala bersama Yang Mulia Tuanku Muhammad Daudsyah yang masih belia.

Ibu adalah orang yang paling anakmu ini cintai dimuka bumi ini, senyummu adalah tawa bagiku, Air matamu adalah isak tangisku. Namun ibu janganlah engkau menetapkan syarat yang berat akan jodoh diri ini, akan keturunan, akan kemasyuran, akan keelokan rupa, sedang kesederhanaan cukup bagi anakmu ini.

Ibu adalah tempat dimana segala bakti anakmu ini dicurahkan, dengarkanlah kata-kata ini, pertimbangkanlah wahai ibu. Apapun keputusanmu akan anakmu terima segala takzim karena kebahagianmu adalah kebahagian diri ini jua adanya.

XXXXXXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  15. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  16. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  17. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  18. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  19. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  20. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  21. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  22. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  23. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  24. Ashura; 13 Februari 2013;
  25. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  26. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  27. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 68 Comments

PENGLIHATAN FATAMORGANA

Penglihatan Fatamorgana

PENGLIHATAN FATAMORGANA

Penampilan ternyata bisa membohongi, karena mata terkadang tak mampu mengungkapkan sesuatu yang tersirat. Bagai manusia di padang pasir yang kerap melihat fatamorgana begitulah yang penglihatan kerap terperdaya.

Karena manusia sebagai makhluk yang amat jauh dari kesempurnaan dan mudah terlena dengan apa yang telah dicapainya, hingga kehilangan kemampuan untuk melihat yang tersirat. ini berlaku kepada siapa saja tidak memandang pangkat, kekayaan maupun kemuliaan.

Sebuah kisah yang menyentak Abu, ketika pada suatu malam selepas pulang kerja, lembur. Tak terasa perut lapar dan Abu pun mampir disebuah warung untuk membeli makan malam.

Mencium aroma mie yang dimasak dengan bumbu-bumbu tradisional, perut Abu tambah tergelitik sehingga memesan sebungkus untuk dibawa pulang. Sembari menunggu Abu pun duduk dibangku yang disediakan.

Secara tak sadar Abu melihat, seseorang memandangi Abu. Orang tersebut memakai pakaian yang kotor bin compang-camping. Kakinya hanya memakai sandal jepit hanya disebelah kanan saja.

Karena miris akan kondisinya, Abu pun menuju kearahnya dan menyodorkan uang seribu rupiah. Namun ia berkata “ Saya bukan pengemis.” Entah karena tersinggung karena penolakannya Abu pun duduk kembali.

Dikala menanti menunggu mie tersebut dimasak, Abu pun merenung, dan tersentak! Bahwa Iblis terusir dari surga karena kesombongannya, ia yang merasa secara materi terbuat dari api merasa lebih hebat sehingga menolak tunduk kepada manusia yang terbuat dari tanah.

Apakah selama ini tanpa terasa benih-benih keangkuhan telah menjalar didiri sehingga membuat Abu melukai harga diri orang tersebut dengan menyodorkan uang kepadanya.

Tersadar dari lamunan, mata Abu pun mencari orang tersebut untuk meminta maaf kepadanya. Namun sayang orang tersebut tidak berada diwarung tersebut lagi dan pergi entah kemana.

Kejadian ini mengingatkan sebuah buku yang pernah Abu baca bertahun yang lalu yang sudah lupa judulnya, yang berkata “inti dari kemanusiaan itu adalah bagaimana memanusiakan manusia itu sendiri seutuhnya.” Dan hari itu Abu mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga.

Hatimu adalah tempat dimana segala bermuara atas ilham dan karunia dan segala yang datang dari tuhan, dan dimana Tuhan membisikkan setiap kebenaran didalamnya sebagai petunjuk atas segala keraguanmu terhadap sesuatu yang masih buram bagi penglihatan kasatmu, atau hatimu yang masih dikuasai ragu. Maka jujurlah kau padanya. Jangan lukai atau nodai kesuciannya

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , | 12 Comments

BUKAN ROMAN PICISAN

Roman Katak Hendak Jadi Lembu

BUKAN ROMAN PICISAN

Pernahkah anda membaca roman? Kisah-kisah legendaris Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat, Layar Terkembang, Salah Asuhan, Katak Ingin Menjadi Lembu, Anak Perawan Di Sarang Penyamun, Jeumpa Aceh, Atheis, Hulubalang Raja, Di Bawah lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dan masih banyak lagi yang lain.

Saat ini roman sudah hampir punah dari dunia sastra Indonesia, padahal Roman adalah salah satu bentuk sastra yang terbaik sepanjang sejarah Indonesia. Dalam roman para penulisnya meniupkan ruh perjuangan bangsa Indonesia pada masa penjajahan Belanda, walaupun dengan bentuk yang samar-samar.

Dalam Roman, bahasa Melayu yang nantinya berkembang menjadi bahasa Indonesia pada saat itu menemukan jati dirinya sebagai pemersatu seluruh Hindia Belanda saat itu. Disadari atau tidak sastra pada saat itu telah membentuk sebuah persatuan antara banyak suku di Indonesia pada saat itu.

Roman juga menyatukan kebudayaan Melayu yang telah disekat oleh Belanda-Inggris dalam batas demakrasi kolonialisme yang bernama Traktat Sumatera. Tahukah anda jika Roman-roman Anggatan Pujangga Baru masih menjadi bacaan wajib bagi siswa Sekolah Dasar di negeri jiran, Malaysia sebelum mereka merdeka sampai sekarang.

Yang menjadi pertanyaan apakah yang menjadi perbedaan antara roman dengan novel dan cerpen. Cerpen secara garis besar adalah sebuah cerita yang menceritakan sebuah peristiwa dalam hidup seseorang, Novel secara garis besar adalah sebuah cerita yang menceritakan sebagian kecil kisah kisah hidup seseorang, sedangkan yang terakhir Roman adalah sebuah cerita yang menceritakan tentang sebagian besar kisah hidup seseorang dan bentuk yang terbaik adalah yang menceritakan kisah hidup seseorang dari ia kecil sampai meninggal.

Berdasarkan kategori ini sebenarnya banyak juga novel yang dapat masuk dalam klasifikasi Roman, akan tetapi orang kebanyakan seolah-olah terpaku bahwa roman adalah kisah yang ditulis oleh Anggatan Pujangga Baru dan Anggatan sebelumnya.

Seorang guru juga pernah berkata memabaca roman sangat baik dalam pembangunan karakter, oleh karena dalam roman kita dapat melihat kesuksesan ataupun kegagalan perjalanan hidup seseorang, belajar dari pengalaman hidup seseorang untuk menjadi lebih baik.

Beberapa opini lain:

  1. Melanjutkan Perjuangan; 4 Agustus 2008
  2. Perempuan Aceh Full Power; 4 Agustus 2008
  3. Jomblo Bukan Berarti Homo; 12 Agustus 2008
  4. Lebih Menggetarkan Dibanding Asmara; 22 Agustus 2008
  5. Manajemen Kritik; 18 September 2008
  6. Temukan Mentor Rahasiamu; 23 September 2008
  7. Sang Tiran; 15 Oktober 2008
  8. Yang Muda Yang Berguna; 22 Oktober 2008
  9. Lughat; 28 November 2008;
  10. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  11. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  12. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  13. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  14. Hantu; 20 Februari 2009;
  15. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 34 Comments

WAJAH IBLIS SANG MALAIKAT

Devil Face A Angel

Sahabat tahukan kamu apa yang kuyakini, sampai dengan hari itu aku tak pernah meragukanmu. Sampai kutemukan semua kata-katamu adalah kebohongan. Sahabat tahukah engkau rasanya ditikam dari belakang? Sakitnya melebihi ditusuk seribu pedang. Lukanya menyengat melebihi panah beracun.

Dan ketika hari ini engkau berkata, “Jika ini masalah harga diri maka lupakan!” Bagaimana bisa? Jika api yang membakar mukaku masih terasa panas. Cerita bisa berakhir namun kenangan tak bisa hilang dan kesedihan itu milik siapa saja.

Engkau tahu, pada persahabatan kita dulu dalam obrolan lalu bahwa aku bukanlah seorang pendendam. Tapi bukankan engkau mengetahui jua bahwa aku bukanlah seorang pemaaf. Maka aku tak akan meminta maaf karena telah menolak menemuimu lagi bertahun sejak kejadian itu.

Hatiku telah terkoyak bersama persahabatan kita berakhir dimana engkau telah membuatku menjadi pejuang bermakam tanpa pedang. Aku tak akan bisa melihatmu seperti dahulu sebagaimana engkau mengetahui jua prinsipku, seseorang sudah dianggap kalah kalau tidak bisa menjaga harga dirinya. Karena itu tidak akan membiarkan orang licik menunggu kelengahanku, apalagi sampai kedua kali.

Ketika itu engkau berkata, “ambisi iblis lebih realistis, karena realita berwajah buruk.” Aku masih mengingat jelas alasanmu. Menunjukkan jelas bahwa kepercayaan dihancurkan oleh ketamakan. Sisi tergelap kita, manusia.

Dan mungkin aku menghadapi hidup penuh penderitaan sebagai seorang pecundang namun sekarang berbeda. Saat ini aku tak akan menengok kebelakang lagi. Aku akan menatap lurus kedepan, hanya kedepan.

Aku tahu engkau menyesal, karena didalam hidupmu tak akan lagi menemui teman sepertiku. Sebaliknya kehidupan telah mengantarkanku mengenal banyak orang yang lebih baik darimu. Jalani hidupmu jangan berkubang penyesalan. Aku terlalu angkuh untuk menghukummu. Jangan pernah rindukan aku, karena tak pernah sekalipunku mengingatmu. Sekian penolakanku dan inilah wajah iblisku yang tak pernah engkau saksikan sebelumnya.

“Sebaik apapun seorang lelaki (atau perempuan), tetap saja ada kebusukkan dan keburukkan didalamnya (begitupun sebaliknya). Maka jangan menganggap bahwa selamanya madu adalah manis, bisa saja ia menjadi racun yang membunuh”

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 21 Comments

KEKUATAN SYAIR

“Seorang pejuang yang hanya mengetahui satu sisi kekuatannya akan mudah dikalahkan, teguh dalam prinsip dan lembut dalam perasaan adalah sifat pejuang terbaik”

“Seorang pejuang yang hanya mengetahui satu sisi kekuatannya akan mudah dikalahkan, teguh dalam prinsip dan lembut dalam perasaan adalah sifat pejuang terbaik”

KEKUATAN SYAIR

Masyarakat Arab di zaman kuno (jahiliyah) sangat menghormati seseorang jika ia memiliki dua keahlian, pertama bergulat dan kedua bersyair. Dapat dipastikan jika ada seorang yang menjadi jawara dibidang tersebut maka tak pelak ia akan menjadi kebanggaan kabilahnya. Intinya masyarakat di jazirah Arab saat itu menggangumi dua hal yang menjadi paradoks yaitu kekuatan dan kelembutan.

Sesudah agama Islam menyebar di gurun pasir tersebut, kekuatan para penyair pun tenggelam. Para penyair begitu terpesona dengan gaya bahasa Al- Quran sehingga tidak mampu menciptakan sebuah karya syair yang bermutu.

Berabad kemudian ketika Islam sudah menjadi kekuatan yang mapan di Timur dan Barat muncullah banyak sastrawan terkemuka. Formula ilmu Balaghah menjadi jalan perentas munculnya syair-syair bermutu dari zaman itu.

Seorang Profesor bahasa Spanyol dan Portugis di Yale University bernama Maria Rosa Menocal dalam bukunya “Sepotong surga di Andalusia” yang menceritakan suatu masa lebih dari tujuh abad ketika Muslim, Yahudi dan Kristen hidup bersama dalam atmosfir toleransi. Andalusia (Spanyol dan Portugal sekarang) menjadi suatu tempat yang didalamnya literatur, sains, dan seni berkembang dengan pesat.

Ia menuliskan bahasa Arab melalui syair menjadi kekuatan yang menarik bagi komunitas lainnya di Andalusia. Mengutip suara hati Paul Alvarus, sorang tokoh vokal pada tahun 855 M di Kordoba tepatnya 144 tahun sesudah Thariq bin Ziyad mendarat di jazirah Iberia. “Orang-orang Kristen sangat senang membaca berbagai syair dan roman Arab. Mereka mempelajari para teolog dan filosof Arab, bukan untuk menolak pemikirannya, melainkan untuk mengetahui tata bahasa Arab yang benar dan indah…..”

Syair dan sains adalah dua hal yang berlawanan namun sesungguhnya saling melengkapi. Umar Kayyam seorang matematikawan ulung dizamannya sekarang ini lebih terkenal sebagai seorang sastarawan karena jejak yang ia tinggalkan.

“Bersyairlah karena ia melembutkan hati.”

Dalam syair terdapat kekuatan tersembunyi, ia bisa melenakan namun ia juga memiliki kemampuan untuk membakar semangat.

sebatang palem tegak berdiri di tengah perkebunan Rusafa,
lahir di Barat, jauh dari tanah leluhurnya
ku berkata kepadanya : Betapa miripnya kau dan aku,
terpencil dan terbuang
terpisah jauh dari keluarga dan teman.
kau t’lah tumbuh di tanah terasing bagimu;
dan aku, sepertimu, jauh dari kampung halaman

Abdul Al-Rahman penerus dinasti Ummayyah di Andalusia di usianya yang lanjut menulis sebuah puisi yang indah dan singkat, tapi menyentuh hati, sebuah ode tentang pohon palem. Mengenang kehidupannya sebagai satu-satunya orang yang selamat dari pembantaian kejam seluruh keluarganya ketika kekuasaan Ummyyah terganti oleh Daulah Abbasiyyah. Meski Abdul Al-Rahman bukan penulis ahli namun warisannya sama penting dengan sejarah Andalusia itu sendiri untuk menyimpan kenang-kenangan dari para leluhur.

Dulunya ia seorang pemuda pemberani yang melarikan diri dari kejaran pendukung Daulah Abbasiyah secara maraton dari Damaskus menembus Afrika hingga mendarat di Andalusia. Ia menghabiskan tiga dasawarsa untuk mengubah sebuah kota kecil menjadi ibukota dari dunia yang berperadaban dan makmur. Kota ini bernama Kordoba bahkan hingga saat ini ketika ia tak lagi menjadi bagian dari Darul Islam.

“Seorang pejuang yang hanya mengetahui satu sisi kekuatannya akan mudah dikalahkan, teguh dalam prinsip dan lembut dalam perasaan adalah sifat pejuang terbaik”

matanya menangis pilu
ia menoleh kebelakang, melihat lagi pada mereka
ia melihat pintu-pintu terbuka dan gerbang-gerbang tanpa perikatan
serambi-serambi kosong tanpa tirai atau penutup
dan tanpa elang-elang, elang-elang tlah berganti bulu

XXX

Artikel lainnya:

  1. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  2. Menelusuri Sejarah Perang Salib; 30 April 2010;
  3. Makna Puisi Yang Hilang; 5 Januari 2011
  4. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
  5. Sultan Abu Nawas; 1 November 2013;
  6. Peradaban Tanpa Tulisan; 25 Februari 2016;
  7. Misi Mencari Abu Nawas; 7 Maret 2016;
  8. Membakar Buku Membunuh Inteletual; 6 Juni 2016;
  9. Riwayat Sarung; 9 Januari 2017;
  10. Tragedi Barbastro; 3 April 2017;
  11. Bom Bunuh Diri Untuk Kemenangan Siapa; 25 Mei 2017;
  12. Syariat Islam Siapa Takut; 9 Juni 2017;
  13. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
  14. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  15. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;

 

Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 44 Comments

DUA PULUH LIMA TAHUN, SEPEREMPAT ABAD SUDAH

“Setiap pemilik KTP Merah-Putih adalah orang-orang yang terbukti Pancasila.”

DUA PULUH LIMA TAHUN, SEPEREMPAT ABAD SUDAH

Dua puluh lima tahun, mengutip perkataan sahabat lama seperempat abad sudah. Tanpa ada penggulangan tanggal ditahun ini. Tersenyum mendapati diri sudah sejauh ini. Dua puluh lima tahun, menurut agama Islam adalah usia setiap manusia dibangkitkan kelak, seberapapun umur hidupnya.

Hidup di bawah langit

Seperempat abad

Kepada dunia

Apa yang telah diberi

Impian dan cita

Akan berakhir

Wahai tanah leluhur

Sudikah engkau menanti

Lelaki yang tak tahu

Kapan malam terakhir

Untuk kembali

Kepada-NYA

Krueng Sabee, 29 Pebruari 1984 pukul 14.00 WIB. Milvan Murtadha

Untuk sebuah tanggal yang menghilang dari kalender tahun 2009, Selamat Ulang Tahun.

Posted in Asal Usil, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , | 22 Comments