JANGAN MELUPAKAN SEJARAH

Kita semua adalah budak sejarah. Ia adalah sungai yang tak bisa diganggu siapapun. Kita juga tak bisa berenang melawan kekuatannya. Bahkan kita akan tenggelam ke dalam arusnya.

JANGAN MELUPAKAN SEJARAH

“Now, The borders have moved in over the centuries, but this nostalgia, so in contradiction to reality, is all because of the history.”

Segala sesuatu memiliki asal mula, perjalanannya dinamakan sejarah dalam bahasa awam disebut masa lalu. Manusia sebagai individu pelaku sepatutnya belajar dari segala hal yang telah terjadi, karena sejarah dapat berulang, dengan berbagai pola. Namun kita, manusia tidak bisa kembali kemasa lalu.

Dulu sewaktu duduk di bangku SMU. Seorang teman pernah berkata kepada penulis, “bahwa Tidak ada yang lebih banyak di dalamnya kebohongan melebihi Sejarah”. Teman tadi yang duduk sebangku dengan penulis memang tak terlalu menyukai pelajaran Sejarah.

Sikap apatis seperti itu terhadap sejarah khususnya kepada pelajarannya tak pelak sudah penulis alami semenjak SMP, pernah suatu ketika dalam satu kelas hanya sekitar dua orang murid laki-laki yang mengikuti pelajaran sedang yang lain pada tertidur, dan bagaimana dengan murid yang perempuan? Mungkin sudah menjadi fitrah bahwa murid-murid perempuan tidak “se-Texas” murid-murid laki-laki, walaupun ogah-ogahan tapi paling tidak mereka mencoba memperlihatkan wajah ingin tahu walaupun saat itu penulis harus mengatakan bahwa akting mereka sangat sangat buruk.

Berbeda lagi disaat penulis duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), saat itu penulis dan teman-teman didasari rasa ingin tahu yang besar? Benar-benar bersemangat mengikuti pelajaran ini. Setiap kali belajar merupakan plesir ke masa lalu di mana kami menemui hal-hal baru tentang geografi, kebudayaan, agama yang membuka mata kami semua terhadap dunia.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa ketika sudah mengetahui sedikit, orang-orang tersebut berbalik tidak menyukai sejarah? Orhan Parmuk seorang novelis Turki dalam novelnya Kar (dalam versi bahasa Inggrisnya Snow) sambil melihat potret kota Istanbul ia menulis, “Terpukau keindahan kota ini dan selat Bosphorus, orang akan diingatkan akan perbedaan hidupnya sendiri yang papa di hari ini dengan kejayaan yang membahagiakan di masa lampau,” dan masa itu tak bisa di ulangi.

Bingo! Itulah jawaban yang penulis temukan, kenapa banyak orang menjadi apatis mengikuti sejarah adalah takut tersilaukan oleh kejayaan masa lalu dan menjadi seorang pesakitan memandang dirinya sekarang. Disamping banyak faktor lain yang juga mempengaruhi, penulis menghipotesiskan analisa ini mendekati kebenaran.

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah” atau Jasmerah!!! Begitu tutur bung Karno untuk meningkatkan semangat bangsa Indonesia yang telah sekian lama terjajah oleh Kolonialis di mana rasa percaya diri bangsa kita telah ditekan dengan dasyatnya sehingga pada masa itu ada pepatah yang dipopulerkan Belanda kepada rakyat Indonesia. “Bahwa gunung-gunung bisa yang tinggi bisa tercabut dari akarnya akan tetapi bangsa ini tidak akan bisa mengalahkan Belanda”. Begitulah dangan sangat culasnya Kolonialis memanipulasi bangsa kita. Dengan mencoba mengingatkan kembali kejayaan masa lampau bung Karno dan tokoh-tokoh pergerakan saat itu mendongkrak rasa kepercayaan bangsa ini yang tengah berada pada titik nadir.

Penulis percaya bahwa siapa diri kita hari ini adalah hasil dari masa lalu kita, dan jika ingin mengubah masa depan kita harus memulainya dari sekarang. Mungkin sangat pedih untuk membuka lembaran hidup kita ke belakang di mana kita terlalu banyak melakukan kesalahan tapi tanpa usaha untuk memperbaikinya maka diri kita tidak akan menjadi lebih baik. Pendeknya, jika kita masih saja sesuatu hal yang sama maka janganlah mengharapkan hasilnya akan berbeda.

Kembali kepada teman penulis tadi, mungkin benar apa yang dia katakan bahwa mungkin dalam sejarah terdapat banyak kebohongan, bahwa sejarah mungkin ditulis menurut selera dari penulisnya. Akan tetapi disitulah kita dapat memetik hikmah dari kesalahan dan kebaikan yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu untuk mencoba memperbaiki diri kita untuk menjadi lebih baik.

Penulis sangat mengena akan tulisan yang ditulis oleh Ibn Khaldun berabad-abad lampau dalam kitab Mukaddimah, “Bahwa kebenaran itu akan terlihat jelas apabila peristiwa telah berlalu dan kita sudah tidak memiliki kepentinggan yang bersinggungan langsung dengan peristiwa tersebut.”

Terakhir mengutip Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi dalam bukunya Bangkitnya dan Runtuhnya Khalifah Ustmaniyah yang penulis sangat tersentuh membacanya, sebuah pepatah Arab yang berbunyi, “Pelajari Sejarah! Karena suatu kaum yang melupakan sejarahnya seperti anak pungut yang tidak mengetahui nasabnya. Atau seperti orang yang hilang ingatan sehingga ia tidak ingat masa lalunya.”

Apapun yang terjadi, jangan melupakan sejarah!!!

“Kita memerlukan pijakan kukuh dari masa lalu untuk dapat melompat maju ke depan.”

Lhokseumawe; pagi dini hari, Milvan Murtadha.

Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , | 34 Comments

MENCANDU ILMU

Kehidupan adalah paradoks. Sebuah buku (mungkin) tak meyakinkan sejarah. tentu, tapi setidaknya buku mengisi jam-jam kita yang kosong dengan percakapan yang mungkin tak pernah selesai.

MENCANDU ILMU

Salah satu keunggulan semangat membaca adalah ia memberikan kita pengetahuan. Menjadi sumber kreasi yang dapat digunakan pada saat dibutuhkan. Kecerdasan lebih utama dibanding kepintaran, mengapa? Karena orang cerdas selalu dapat mengalahkan orang yang pintar dalam mencari kemungkinan menyelesaikan masalah. Itu karena orang yang “merasa” pintar hanya terpaku pada satu jalan keluar, sehingga mudah ditaklukkan apabila polanya ditemukan.

Senin libur Isra’ Mi’raj, ditambah sabtu dan minggu berarti libur tiga hari. Ingin rasanya pulang ke Banda Aceh tapi sabtu-minggu ini empat mata kuliah ujian final di Unimal. Jadi, lebih baik Abu di Lhokseumawe. Mengejar sesuatu, kehilangan sesuatu. Diantara dua pilihan, maka salah satu harus dikorbankan. Malam Senin, ujian telah terlewati. Tinggal dua mata kuliah lagi di semester empat ini, untuk minggu depan. Teman sekontrakan Samba ke Medan, Jojo pulang ke Lhoksukon. Tinggallah Abu sendiri dirumah menonton TV yang penuh dengan acara pengeboman Hotel Marriot dan Rizt Carlton. Telepon juga tidak berbunyi, mungkin karena selama dua malam sebelum ujian Abu mematikan HP secara total, bosan juga begini.

Aha!!! Lebih baik ke rumah Tengku Salek Pungo, membalas kunjungan dua minggu sebelumnya. Abu kan tidak tahan udara malam? Tenang, bulan lalu ketika liburan ke Jakarta Abu sempat membeli dua sweater di Tanah Abang. Tidak selamanya kita lemah terhadap sesuatu bukan? Manusia sebagai makhluk yang berpikir harus berinovasi untuk mengembangkan diri, hal yang menyebabkan hari ini makhluk yang bernama manusia mendominasi dunia, mendesak ke pinggir hewan-hewan terkuat, terganas dan paling mematikan sekalipun. Nanti, pelan-pelan Abu akan menantang udara malam tanpa jaket maupun sweater, lihat saja nanti Abu berjanji. Pukul setengah Sembilan malam, sudah selesai Isya. C’mon My Lovely Blue Shogun 125 The next destination, Tengku Salek Pungo House’s!!!

Sesampainya disana, didepan rumah TSP ada truknya bang Sawan. Ternyata diteras TSP dan Bang Sawan sedang berbicara serius. Mereka membahas masalah tingkat tinggi,pengaruh pengeboman di Jakarta terhadap perekomomian di Indonesia. Bang Sawan berbicara dengan analisis yang luar biasa mengalahkan para dosen Abu di Unimal bahkan pengamat ekonomi tercanggih di TV, sedang TSP memberikan pandangan secara Fiqh, saling tukar pendapat para pakar. Tanpa menyela Abu mengambil tempat disudut, dan berusaha menyerap itu semua dengan otak sederhana ini. Luar biasa, Abu benar-benar beruntung bisa hadir disini.

Dengan takzim Abu menyimak, sampai akhirnya mereka sadar akan kehadiran Abu. “Eh, Abu sudah lama?” Tanya TSP, ternyata perbicangan mereka sebegitu seriusnya sehingga baru sadar akan “adanya” Abu disitu. “Lumayan tengku.” Jawab Abu sambil tersenyum. “Eh, ada abang wajah semi artis.” Sapa bang Sawan seraya tertawa, Abu pun tersenyum kepada beliau.

Namun suasana dialog sudah mencair, feelnya sudah hilang dengan kehadiran Abu. Adu jurus para Maha Guru terganggu akan kehadiran seorang Casis. Tidak enak juga, “Bang Sawan ternyata jago juga ya tentang ekonomi?” Beliau tersenyum. “Bukan abang sombong, tapi untuk masalah ini pengetahuan abang imbang-imbang dengan menteri sekarang.” TSP tertawa, sedang Abu menganguk bloon.

“Begini bang Sawan, Abu punya tugas analisis ekonomi. Sepertinya susah sekali, apa abang bersedia membantu?” Tanya Abu malu-malu. “Silahkan bang Pasya, jangan sungkan-sungkan!” Jawab Bang Sawan, Abu kena batunya!!! Sering memberikan julukan kepada orang lain, dan hari ini Bang Sawan tanpa pikir panjang memberikan julukan pada Abu. Senjata makan tuan.

Abu memejam mata mengingat, soalnya tidak membawa catatan. “Begini bang, seandainya di kota New York sebuah grup Kartel memproduksi 500 kilo obat bius setiap bulan, dengan harga $500 per-ons. Bulan ini DEA melakukan operasi besar-besaran dan menangkap 50 persen kapasitas kartel tersebut. Bagaimanakah pengaruh penangkapan tersebut terhadap permintaan dan penawaran obat bius di kota New York?” Susah payah Abu mengatakannya.

Bang Sawan terdiam, menarik nafas lalu berkata. “Karena Allah dalam Quran menggunakan banyak perumpamaan. Maka Abang akan pakai perumpamaan untuk kamu, Afgan.” Abu menepuk jidat, bang Sawan lebih parah tingkat memberi julukannya kepada orang lain. “Untuk memahani persoalan ini kamu harus menjadi seorang pengedar ganja.” Tunjuk Bang Sawan. “Nah loh masak Abu harus menjadi pengedar ganja?” Protes Abu, keras.

“Maksud Abang, kamu harus berpikir seolah-olah kamu adalah pengedar ganja. Begitu maksudnya abang wajah semi artis. Coba bayangkan jika setengah pengiriman ganja ke Sumatera Utara ditangkap polisi diperbatasan. Apa akibatnya?” Tunjuk bang Sawan. Abu menggeleng tidak tahu. “Yang jelas harga ganja di Medan pasti naik! Dan yang beli ganja disana pasti turun, tapi tidak banyak. Tahu kenapa? Karena mereka sudah kecanduan.”

“Analisis angkanya bang?” Tanya Abu lagi. “Kamu pikirkan sendiri, kamu kan sudah diajarkan rumusnya. Masalah tekhnis itu urusanmulah bang Pasya.” Abu memejamkan mata lagi, mengingat kurva hukum permintaan dan penawaran. Mengingat rumus elastisitas. Kena!!! Ya benar kata Bang Sawan, luar biasa orang ini.

“Abu masih ada tugas lainnya bang, bagaimana pengaruh pembatasan mobil Toyota masuk ke Amerika terhadap penjualan mobil Ford disana?” Asyik, masih banyak tugas Abu. Mumpung sedang ada masternya, kesempatan ini tidak akan Abu lewatkan. “Abang malam ini jatah mengunjungi isteri kedua jadi tidak bisa berlama-lama. Bayangkan saja bang Afgan, pembatasan masuknya tomat Medan yang besar dan segar ke Aceh terhadap tomat Aceh yang kurus dan sayu!” Bang Sawan bangkit, menyalami TSP dan berbalik pergi. “Apa hubungannya bang?” Teriak Abu. Bang Sawan sudah naik ke dalam truk ia menutup pintu. Abu kecewa, tapi kemudian ia menurunkan kaca jendela. “Tomat kita laku lebih banyak!” Bang Sawan tertawa, kemudian menjalankan truknya dengan sangat-sangat elegant.

Abu terpekur, sekali lagi superb. Indonesia ini ternyata banyak melahirkan jenius. Bang Sawan yang notabene seorang supir truk ternyata mampu menyelesaikan masalah yang Abu sebagai mahasiswa merasakan sulit menghadapinya. Ada berapa banyak orang seperti ini di dunia? Memiliki potensi tersembunyi dibalik profesinya. Ngomong-ngomong bicara mengenai profesi, mengapa supir truk selalu memiliki istri lebih dari satu ya? Di setiap pemberhentian punya satu, seperti bang Sawan. Abu tertawa ngakak. Bagaimanapun terima kasih bang Sawan.

“Abu!” Bisik TSP pelan. Abu terkejut, oh iya TSP masih disini. “Iya tengku.” Jawab Abu pelan. “Mengapa mulut kamu itu kalau sedang mendengarkan sesuatu yang berkaitan dengan ilmu hanya mempunyai dua pose. Pertama, tersenyum. Keren tapi yang kedua itu.” TSP tersenyum. “Kenapa dengan yang kedua tengku?” Tanya Abu. “Membuka dengan lebar, seperti gua.” TSP cekikikan senang seperti anak SMA diterima cinta. Abu menggaruk-garuk kepala, “bukannya tengku yang mengajarkan bahwa menerima ilmu itu harus dengan keikhlasan, dan mungkin itulah ekpresi tulus yang dapat Abu tampilkan.” Abu mengangkat bahu. TSP tersenyum lebar, “gurumu yang pertama pasti orang yang hebat.” Sambil menepuk bahu Abu.

Abu terdiam, selain orang tua. Orang yang pertama mengajar Abu sebelum masuk sekolah adalah almarhum Tengku Syams. Kata-kata beliau yang masih sampai sekarang Abu ingat adalah. “Ucapkan terima kasih kepada siapapun yang memberikanmu pelajaran. Meski ia adalah seorang musuh yang mengalahkanmu dengan teruk. Jangan hanya diam, tapi pelajarilah! Kemudian pada pertemuan selanjutnya kejutkan ia bagaimana kamu belajar dengan cepat.” Waktu itu Abu membantah, “Tengku, kami tidak ingin mencari musuh.” Tengku Syams mendekati lalu mengusap rambut Abu. “Anakku, tidak seorang pun diantara kalian semua yang aku ajarkan untuk mencari musuh. Namun ketika mereka datang, hadapilah dengan tenang meski kekalahan menantimu disana. Tapi jangan lupa belajar.” Abu masih membantah, kali ini dengan suara yang lembut. “Tapi saya tidak ingin mempunyai musuh.” Tengku Syams memegangi dagunya, lalu berkata pelan namun tegas. “Jalani hidup anakku, kelak engkau akan mengerti.”

Abu tersentak, kembali kemasa kini. Saatnya pamit pulang, entah mengapa ketika menyalami TSP Abu menaruh tangannya dikening, sebuah tanda penghormatan. Padahal biasanya Abu paling benci adegan feodal seperti ini. TSP terdiam, mungkin terkejut karena ia tak pernah mengajarkan hal seperti ini. Tapi ia akhirnya mendiamkan saja. Pasrah.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, sejenak berpikir betapa sebenarnya hidup Abu ini penuh dengan keberuntungan. Bahwa Allah telah sangat memudahkan jalan takdir Abu. Orang tua penuh kasih sayang, adik-adik mencerahkan, guru luar biasa seperti; Tengku Syams, TSP dan banyak lagi termasuk bang Sawan, sahabat-sahabat yang hangat termasuk Mr.Popo bermulut pedas namun selalu jujur, kerjaan menantang. Sampai beberapa musuh yang tak dapat Abu hindari, tapi memberikan pelajaran dan pengalaman berarti. Abu menjadi malu sendiri jika sudah begini, wahai diriku nikmat tuhanmu manakah lagi yang engkau dustakan.

Sebelum tidur Abu membuka buku ACEH PUNGO tulisan Taufik Al Mubarak yang tadi sore sepulang kuliah dibeli di Arun Post. Senin libur, jadi saatnya memperkuat referensi diluar kuliah, diluar pekerjaan. Hanya membaca seharian penuh. Yummy.

“Siapapun kau, ketahuilah kau tidak sendirian. Kau cuma menutup dirimu dengan kulit kerang. Begitu kau pecahkan kulit kerang itu. Kau akan melihat dirimu ada ditengah teman-teman yang baik.”

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , | 13 Comments

BERAKHIR DISINI

Ia menceritakan sesuatu, sebuah keadaan, sebuah peristiwa, dari keadaan yang kadang-kadang tidak dia lihat, alami. Sebab bahan penyusunan sejarah sesungguhnya bagaikan kanvas ingatan

BERAKHIR DISINI

Seharusnya ini berakhir disini. Diangka tiga lima. Tiga ditambah lima sama dengan delapan. Angka kesukaanku menandakan paradoks seperti hidupku yang penuh pertentangan. Delapan angka yang sukar dan janggal, merupakan kelipatan empat. Berkaitan dengan kesedihan namun juga berarti keberhasilan.

Bayangkan tiga puluh lima kali, diusiaku dua puluh lima, seperempat abad. Apa yang salah? Sekuat diri ini memperlihatkan sisi dingin ternyata aku tak mampu menyembunyikan pada diriku perasaan kuat dan mendalam ini, perasaan bersalah jika harus menolak lagi untuk ke tiga puluh lima.

Padahal tak ada yang istimewa disini, bahkan keras kepala, individualis dan tak pernah mau peduli. Entah bagaimana selalu saja pemikiranku selalu disalahartikan. Padahal sudah kukatakan bahwa hanya bertindak berdasarkan keyakinan bukan atas dorongan naluri, sehingga tak pernah ku cerdik maupun bijak. Hanya mencoba bertindak layak dalam bergaul, tindakanku berdasarkan normatif tak lebih.

Ketiga puluh lima, haruskah aku menerimanya. Sedang diriku tak memiliki gairah padanya. Sedang diriku tidak terpengaruh padanya. Sedang keinginanku yang dengan gigih kupertahankan belum tercapai. Harus kuakui bahwa perasaanku pernah hangat, namun itu hanya jika keyakinan bersamaku.

Aku pun pernah merasakan sakit menahan gelora didalam jiwa, dan bekasnya masih tersimpan di dada. Meski memperlihatkan keteduhan pegunungan diwajahku, meski wajahku seolah sehangat matahari pagi. Jasadku saat ini menanggung kemarahan amat sangat. Biarlah tubuhku hangus dan terbakar sendiri, ku tak ingin engkau menjadi pengalihan dendam nantinya. Tidak dirimu dan tidak siapapun. Karena ku meyakini hidupku untuk melindungi bukan untuk menyakiti. Dan aku tak akan keluar dari gua sufiku sampai mampu mengendalikan diriku lagi.

Maka aku tak akan tega berkata keras lagi padamu yang ketiga puluh lima, sekejam pada tiga puluh empat sebelumnya yang terluka oleh kata-kataku, setajam belati beracun. Yang pernah dengan dingin berkata, “Berani sekali anda jatuh cinta padaku!” Mohon biarkanku sendiri, mencari keteduhan dalam perenunganku, dipersembunyianku yang sejati yang bernama hening.

Ya, aku sudah berubah. Berusaha menyingkirkan keangkuhan iblis dihatiku. Namun maafkan aku yang tak dapat menempatkan dirimu pada puncak dahaga rinduku. Engkau tak mengenalku terlalu, engkau belum mengetahui kelemahanku. Sosok sempurna tanpa cela yang kau puja itu tak ada. Mungkin ada, tapi ia bukanlah diriku. Pasti ada lelaki lebih baik disana yang akan menyambut cintamu dengan tangan terbuka.

Tiga puluh lima, kuharap bilangan angka berakhir disini. Tak ingin ada yang ke tiga puluh enam lagi. Saatnya ku merevitalisasi diri, mengenakan jubah sufi ini dengan lebih erat lagi. Dan tetap melindungi ragaku agar tak tersentuh lebih rapat lagi. Lebih tertutup dan tanpa celah. Sakit rasanya harus mengatakan tidak berulang kali, meskiku berusaha untuk terlihat tak terpengaruh namun itu menyisakan lubang dihati, tidak hanya padamu tapi padaku jua.

Bukan, bukannya aku membenci dirimu. Kebencian tak pernah kupelajari. Jika ada yang kubenci hanyalah kebohongan. Dimana setiap kebohongan kecil akan semakin membesar diikuti kebohongan lainnya. Akhirnya menjadi bola salju. Kebohongan juga mengakibatkan hilangnya sesuatu paling berharga didunia, kepercayaan. Terkutuklah para pembohong! Aku tidak bisa membohongi kamu dan diriku sendiri. Maafkan hidupku yang kaku, terbagi hanya antara dua pilihan. Ya atau tidak.

Aku akan jujur padamu, karena hanya itulah yang kupunyai. Bahwaku pernah merindukan rumah, dan kecewa mendapati diriku belum saatnya untuk pulang. Aku bersedih mendapati harapan itu hancur. Maka aku juga tak akan berpura-pura bisa memahami perasaanmu. Saat ini biarkanku mengembara dan bahagia dalam pencarian ilmu, itulah hasratku kini. Mohon ikhlaskan.

Posted in Cerita, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 16 Comments

APALAH ARTINYA SEBUAH NAMA

sebuah nama

APALAH ARTINYA SEBUAH NAMA

What is a name?” Apalah artinya sebuah nama. Begitulah pertanyaan legendaries yang ditanyakan oleh seorang Shakespiere. Seolah pertanyaaan itu mempertanyakan mengapa nama itu sedemikian penting. Nama merupakan identitas yang mewakili citra dari yang dinamainya. Bagi seorang anak manusia dalam nama terdapat doa, harapan dari seorang orang tua untuk anaknya. Untuk karena itu jangan coba mengatakan bahwa nama seorang anak jelek apalagi di depan orang tuanya.

Tahukah anda? Bahwa salah satu kunci sukses adalah mengingat nama orang lain. Dengan mengingat nama orang lain maka orang tersebut akan merasa masih diingat dan dihargai. Oleh karena itu jangan pernah mengatakan bahwa anda lupa dengan nama orang lain, andaipun lupa usahakan untuk segera mengingatnya atau dalam kemungkinan yang paling buruk setidak-tidaknya cukup mengaku tahu saja dan menanyakan kabarnya sekarang.

Sejarah mancatat bahwa seorang Napoleon Bonaparte adalah salah seorang yang brilyan, salah satu kunci kesuksesannya adalah ia dapat dengan seksama manghafalkan nama-nama pasukannya, sesekali ia menanyakan kabar anak dan ibu dari pasukannya untuk menunjukkan perhatiannya baik itu seorang Jenderal maupun seorang prajurit biasa. Bayangkan, Perancis sebagai sebuah Negara dikeroyok oleh seluruh Eropa dan memenangkan banyak pertempuran. Walaupun akhirnya Napoleon kalah dan sempat dibuang ke pulau Elba di Selatan Perancis “dijemput kembali” oleh mantan anak buahnya untuk sekali lagi mengibarkan revolusi di Eropa dan walaupun sekali lagi ia terkalahkan kembali pada pertempuran pamungkas di Waterloo yang mengakibatkan sekali lagi ia dibuang ke pulau Saint Helena yang letaknya sangat jauh dari Eropa, rakyat Perancis sangat bangga dengan dirinya.

Memori otak kita bahkan memiliki keterbatasan, seorang Einstein pun memiliki batas. Ada cara untuk mengatasinya, lakukan pencatatan. Kita tak pernah tahu betapa bergunanya sebuah catatan kecil. Penulis sendiri melengkapi diri dengan catatan, untuk mengingat orang-orang, untuk mengingat berbagai peristiwa. Untuk belajar dari kesalahan-kesalahan tolol yang dilakukan guna berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Siapa tahu catatan itu berguna di masa depan.

Terkadang keberhasilan datang dari hal yang sederhana. Untuk itu kita harus belajar, dan semoga kita termasuk diantara orang-orang yang selalu berkeinginan untuk belajar.

XXX

Posted in Cuplikan Sejarah, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , | 21 Comments

SALAM RINDU SELALU

Latih tanding dengan Milzan

Cinta kita adalah cinta yang sederhana tanpa kata-kata.

SALAM RINDU SELALU

Adinda tercinta, diantara kita berlima engkaulah yang paling belia. Tempat dimana segala kasih sayang kami curahkan sepenuh hati. Tahukah engkau adinda tercinta? Engkaulah kebanggaan kami. Pada kesederhanaan, pada kecerdasan, pada keceriaan, pada kebijaksanaan yang jauh melebihi usiamu yang belum genap empat belas tahun.

Adinda, diantara kita berlima engkaulah yang paling merasakan kehilangan ayahanda di umur delapan tahun. Membuat dirimu memiliki kenangan paling sedikit tentang beliau di memorimu. Terkadang jika melihatmu bermain dan tertawa, hati ini terasa sangat teriris mengingat engkau dewasa sebelum waktunya.

Sekuat apapun kanda berusaha mengantikan peran ayahanda, semampu mungkin kanda memberikan tauladan, selembut apapun kanda menguraikan nasehat, atau sebaik mungkin kanda mencoba menceritakan benang merah sejarah. Tetaplah kanda memiliki banyak kekurangan. Kanda belum sebijak ayahanda semasa hidupnya. Membuat kanda malu hati akan ketakziman dirimu menerima semua dengan lapang dada. Itu sangat membanggakan, sungguh.

Adinda, betapa bahagia melihat tumbuh besar. Betapa menikmati wajahmu yang terlelap cukuplah itu melebihi segala nikmat dunia. Betapa menciumimu adalah ritual penting pada setiap kepulangan ke kampung halaman. Segala letih luntur ketika memandangi wajah bagai purnama milikmu.

Cinta kita adalah cinta yang sederhana tanpa kata-kata. Kita saling mengerti bahasa kalbu, bersama telah lalui kita tawa dan air mata. Walau diri ini tiada pernah berusaha keras menunjukkannya. Dan sungguh tiada dapat kanda menyanggah setiap detik pertemuan melekat erat dalam kenangan. Ada banyak cerita, dan itu semua tak mungkin tertuang semua disini.

Ini hari ketika engkau harus meninggalkan kami sepertinya sangat sulit berpisah denganmu, namun adinda pergilah. Meski betapa kanda selalu merindu menciumi hangatnya kening adinda tercinta. Tak mengapa, kukuhkanlah hatimu. Pengembaraan akan mensucikan jiwamu yang jernih.

Tiga tahun atau mungkin lebih itu tak akan lama, kentalnya darah yang mengaliri tubuh kita tak akan lekang oleh waktu. Kita diajarkan nilai-nilai yang sama, dan menjunjung panji kehormatan yang sama pula. Adinda, ketahuilah kami akan selalu menyayangimu. Jika kanda kehilangan kata-kata, bukan bersedih melainkan terharu akan masa depan gemilang yang sudah menantimu disana.

Selamat jalan adinda Milzan Murtadha, engkaulah sumber inspirasi kanda. Dan segala doa panjang kanda setiap malam akan menyertaimu, selalu dan selamanya. Percayalah adinda kemanapun kakimu melangkah salam rindu untukmu selalu.

“Tahun ke tahun berlalu dengan mudahnya. Mimpi berputar-putar. Hidup adalah mimpi berkelanjutan. Sampai mentari mengecupmu.”

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , | 11 Comments

RINDU YANG MALU-MALU

Manusia perlu diuji dengan berbagai kehilangan. Untuk menyadari bahwa hal yang terasa biasa saat dia sisi kita namun sangat berarti jika ia tak lagi dalam jangkauan.

RINDU YANG MALU-MALU

“Bila engkau rindu dengan sebenar-benarnya rindu. Tataplah bintang di angkasa kelak engkau kan mengerti. Ada sebentuk keindahan yang hanya mampu dipandang tanpa kemampuan jemari menjangkaunya”

Manusia perlu diuji dengan berbagai kehilangan. Untuk menyadari bahwa hal yang terasa biasa saat dia sisi kita namun sangat berarti jika ia tak lagi dalam jangkauan. Sebagai makhluk fana sepatutnya manusia juga harus menyadari bahwa kehilangan adalah persiapan dari kehilangan yang lebih besar. Tokh di dunia ini tak ada yang abadi, semua kelak pergi.

Hujan mengguyur kota Lhokseumawe jumat sore, baru saja reda. Abu baru saja ingin memulai membuat tugas Study Kelayakan Bisnis untuk kuliah besok pagi. Pintu diketuk, siapa lagi? Begitu Abu membuka pintu betapa terkejut bahwa yang datang adalah The Legendary Tengku Salek Pungo.

“Seperti rumah perampok!” Belum-belum sudah melancarkan kritik pada Abu yang tak siap pada kunjungan ini. “Kita boleh menjadi orang lajang, tapi rapilah sedikit!” Tengku Salek Pungo menunjuk tata ruang minimalis desain Abu, plus guling dan bantal yang asal-asalan tergolek di depan TV. Terus dengan kejam menertawakan Laptop Acer yang Abu pasang keyboard. “Abu, harus saya akui seleramu buruk!”

Setelah Abu menyapu bagian yang akan diduduki, akhirnya TSP duduk. “Ilmu itu dicari bukan mencari.” Sebuah petuah Abu Hanifah ketika kepada Khalifah Harun Al-Rasyid ketika meminta dirinya datang mengajar ke istana Abbasiyah untuk anaknya Al-Amin dan Al-Makmun. Mengisyaratkan bahwa seorang muridlah yang harus mendatangi guru bukan sebaliknya. Sekaligus menyindir Abu yang sudah lama tak berkunjung ke tempat beliau. Biasanya kami akan berdebat panjang, namun Abu sedang tidak berselera. “Entah mengapa Tengku, beberapa bulan ini Abu kehilangan antusias.”

TSP menatap Abu lama, kemudian bertanya. “Sudah berapa lama kita tak bertemu?” Abu menghitung, sejak pindah kontrakan. “Setidaknya empat bulan.” Aroma sinis hilang dari wajah beliau, sambil menonton Mulan 2 di GlobalTV kami pun berbicara, tentang banyak hal. Tentang kehidupan, ilmu dan hal-hal pribadi antara seorang guru dan murid.

“Hal seperti rindu tidak seharusnya disimpan didalam hati, hal sama yang membuat saya datang kemari.” Closing statement dari TSP. Menanggapinya Abu hanya tersenyum, walaupun TSP adalah guru Abu, beliau tidak mengetahui konsep Abu untuk membunuh rindu. Yaitu jangan memikirkannya, biarkan ia berlalu ke ruang hampa.

“Sekarang saya pulang.” TSP bangkit.

“Abu antar Tengku?”

“Tidak usah.”

Abu mengantar TSP sampai ke pintu. Pelan dan pasti TSP berjalan, kemudian berbalik. “Abu tidakkah bisa kamu memaksa mengantar saya pulang? Apakah kamu selalu seperti ini? Hanya sekali menawarkan, payah kamu!” Sambil tertawa menyengir. Abu ikutan tertawa, dengan sigap mengeluarkan Shogun 125 dari kandangnya. Dalam perjalanan pulang, TSP nyelutuk. “Kamu memang harus selalu dipaksa ya?” Abu hanya diam.

Lhokseumawe. Sudah empat tahun tiga bulan. Tidak mungkin selamanya, cepat atau lambat Abu akan meninggalkan kota ini. Kelak jika waktunya tiba, TSP sang guru yang bagi Abu tidak hanya menjadi pemberi ilmu namun lebih dari itu. Beliau telah mentransfer nilai-nilai kehidupan dalam pengembangan karakter. Ada banyak kenangan disini, Abu akan sangat merindukannya.

“Ditempat ini, tiada pula cintaku tersisa. Tidak, cintaku akan selalu kubawa, kemana pun jiwaku mengembara”

XXX

Posted in Asal Usil, Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , | 7 Comments

CERITA TENTANG MASA LALU

Masa lalu tak pernah berdiri sendiri. Andai ia berdiri sendiri, ia tak akan pernah ada.

CERITA TENTANG MASA LALU

Mengapa harus malu ketika menanyakan masa laluku. Sejakku menginjakkan kaki untuk pertama kali bertahun lalu sampai hari ini tak ada yang berani bertanya tentang ini padaku, jujur kuterkejut. Aku kan bercerita padamu, pada perasaan hangat ini yang dinamakan persahabatan. Sebagaimana jika boleh memilih maka sekalipun ku tak ingin menjadi musuhmu.

Baiklah masa lalu, kenapa aku bisa lupa, aku yang selalu berlagak dan berpura-pura. Padahal sebenarnya kenapa aku selalu berusaha. Dan kenapa aku melakukan semua. Pada dasarnya karena aku ingin menjadi seseorang. Bingung? Hey, aku hanya bercanda.

Padahal banyak sekali cerita lama, padahal banyak sekali yang ingin kusampaikan tapi aku tidak bisa mengeluarkannya, karena semua itu tak bisa kewujudkan dalam bentuk kata-kata. Baiklah, aku memang harus dipaksa ya?

Aku telah bertemu dengan banyak orang. Sampai sekarang dan waktu dulu juga, aku harus selalu ditolong orang lain. Banyak hal yang telah kulalui. Sampai bertemu kembali sejak pertama bertemu. Aku enggan bercerita mungkin, dan kalau pun aku ingin bercerita aku tak pandai bercerita, baiklah aku akan bercerita.

Hanya untukmu, dan hanya malam ini. Biarlah kita berbincang sampai pagi menjelang. Sudikah engkau mendengarkannya tanpa menyela. Beginilah ceritanya.

“Sejarah bisa berulang, tapi manusia tak bisa kembali ke masa lalu”

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , | 15 Comments

PLEDOI IBLIS

Pledoi Iblis

Pledoi Iblis

PLEDOI IBLIS

Entah syaithan mana yang merasukimu hingga engkau mengancamku? Aku yang terlihat tolol ini bukan tak tahu. Aku hanya merasa tak perlu tahu akan tingkah polah dibelakangku. Ada hal lain yang lebih penting untuk disimpan bergiga kapasitas otakku. Bukan itu, yang menjadi perhatian bagiku.

Jika selama ini aku diam bukan berarti kutunduk, mungkin engkau memang terlahir sebagai ratu yang bebas bertindak dengan segenap dayang-dayangmu. Yang dengan mudah mengendalikan bidak para punggawa. Tapi aku bukan mereka.

Dengan bagaimana lagi caraku mengatakannya, jika lidahku enggan mengeluarkan kalimat kebencian. Dan hari ini ketika akhirnya aku bersuara, itu karena ketidaknyamanan sudah menyergap ragaku.

Bahkan disaat aku hancur, tidak semudah itu engkau menaklukkanku. Syukurlah engkau tidak tahu. Dan pun jikalau suatu hari engkau tahu maka bacalah pernyataanku ini. Siapa kamu? Berani sekali padaku. Kamu pikir kamu siapa? Aku bukan budak, aku adalah manusia merdeka.

Katakan pada iblis yang menguasaimu, ancaman itu tak menggetarkanku. Tangan-tanganmu tak akan pernah bisa menyentuhku. Tahu kenapa? Karena aku adalah orang yang tak memiliki harapan. Dan orang yang tak memiliki harapan juga tak memiliki ketakutan.

Jika engkau memang bernyali, coba tatap mataku. Dan ulangi kata-katamu.

XVIII

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 22 Comments

ODE SEEKOR ELANG

Organisasi bisa dibubarkan, orang bisa dibunuh namun ideologi tetap tinggal dalam otak manusia.

Organisasi bisa dibubarkan, orang bisa dibunuh namun ideologi tetap tinggal dalam otak manusia.

ODE SEEKOR ELANG

Matamu tajam, menembus angkasa. Sayapmu merapuh elang, dimana bulu-bulu itu?  Cakar-cakarmu menumpul bukan? Wahai elang, coba tatap mega-mega senja disana. Warna lembayungnya mengiriskan bagi sayapmu yang tak terkepak lagi.

Elang bagaimana perasaanmu, akan kakimu yang dirantai? Engkau bisu. Dada membusung itu tiada. Kini engkau hanyalah piasan para raja. Engkau telah lupa nikmatnya mengangkasa. Elang tahukah kamu? Di luar sana bangsamu terancam kepunahan.

Elang, raja para burung. Legendamu samar-samar sekarang. Harga dirimu telah dikoyak-koyak zaman. Membawamu pada sangkar ini. Paruhmu lupa darah segar mangsamu hidup-hidup. Kini, hanya belas kasih manusialah sumber penghidupanmu.

Duhai elang. Sudah berapa lama engkau disini. Dijauhkan dari habitat aslimu. Menikmati puncak rantai makanan dalam ekosistem pegunungan hijau. Elang, hidup ini adalah cerita tentang memangsa bukan?

Matamu itu tak mengenal air mata bukan? Tapi mengapa bagiku terlihat begitu pilu. Disetiap hari hanya mampu melihat ke atas tanpa bisa terbang. Sangat mengesalkan. Tentu menyedihkan menghabiskan waktu mengharapkan hari itu kembali.

Rindumu melayang bebas dibawah sinar matahari tak terungkapkan. Harapanmu tak lagi dimengerti oleh kebanyakan kami. Perasaan sedih yang kau miliki menanti ajal dalam kerangkeng. Izinkanku tuk menyampaikan kepada mereka semua. Dalam ode seekor elang.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  17. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  18. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  19. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  20. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  21. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  22. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  23. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  24. Ashura; 13 Februari 2013;
  25. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  26. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  27. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opinion, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 84 Comments

LEGENDA KAKI DEWA

Legenda Kaki Dewa

LEGENDA KAKI DEWA

Otak adalah satu perangkat yang dianugerahkah tuhan kepada manusia memiliki kemampuan khusus yaitu ingatan, kemampuan menahan dan mengenang kembali pengalaman masa lalu. Berhubung dalam minggu-minggu ini UNIMAL memasuki fase-fase Ujian Tengah semester, Abu banyak menghabiskan malam dengan membaca kembali catatan-catatan. Bertepatan dengan itu, tugas menyiapkan proposal skripsi membuat Abu harus tidur larut menelaah beberapa artikel dan jurnal ilmiah. Masih ada tiga semester lagi, tapi untuk persiapan dosen sudah mengintruksikan Abu untuk membuatnya. Tak apalah, lebih cepat lebih baik. Itulah tantangan kuliah sambil bekerja, sedikitpun tak ingin mengeluh, namun masalahnya ada pada mata Abu. Lingkaran hitam menebal muncul disana, banyak yang protes. Mengerikan katanya, dikritik terus-terusan Abu jengah. Saran seorang teman untuk menaruh timun disana, untuk mengurangi kadar hitam tersebut sebelum tidur, pukul lima sore sepulang kantor Jumat sore Shogun 125 meluncur ke pasar Lhokseumawe.

Pasar sayur dan buah buka pagi, jika sore sudah sepi yang tinggal adalah sisa. Tak apalah daripada tak ada. Masuk kedalam los-los pasar mencari buah timun. Disebuah los tiba-tiba ingatan Abu tersengat, sepertinya kenal dengan penjual ini. Kami pernah berjumpa di masa lalu, tapi kapan? Lalu siapa? Abu melihat ada buah timun disana, tak lagi segar. Abu bertanya dengan percakapan standar dipasar, ketika ia berdiri menimbang buah Abu memperhatikan dengan seksama dari ujung rambut sampai ujung kaki, sekejap Abu mengetahui siapa dia.

“Kaki Dewa?” Tunjuk Abu. Dia terdiam berpikir dan melahap wajah Abu dengan penasaran kemudian sumrigah dan bertanya, “Kamu? Saya sudah lupa siapa.” Ia menyerah, tak mengingat lagi. Tapi Abu tak akan pernah lupa, dia adalah Sang Legendaris Kaki Dewa. Pemain sepak bola tarkam termasyur dari Kampung Lamkawe yang pernah mengalahkan tim kami tiga kali. Menjelang akhir Sembilan puluhan, Banda Aceh dan Aceh Besar adalah surga permainan bola sepak antar kampung (tarkam) bagi anak-anak tanggung, Abu merasa bangga menjadi bagian dari itu.

Bersama dengan bang Regar, Abu mendirikan sebuah klub amatir bernama Menara United untuk mewakili kampung kami. Meski selalu bersemangat bermain bola namun Abu tak pernah berbakat dibidang ini, sampai hari ini tak kunjung mahir. Predikat sebagai salah satu The Founding father klub membuat Abu sulit untuk dicadangkan, seburuk apapun Abu. Tercatat tiga kali tim Desa Lamkawe menjegal langkah kami, Abu sangat berkeinginan menjajal kemampuan Kaki Dewa namun pendiri klub yang satunya lagi yaitu Bang Regar didukung mayoritas anggota tim selalu menahan Abu untuk melawan timnya Kaki Dewa, alasan mereka jika Abu bermain kesimbangan tim akan rusak. Bahasa halus dari, “kamu hanyalah pengganggu!” Saat itu Abu hanya diam, rasa takut para sejawat pada Kaki Dewa membuat mereka berkata seperti itu. Membuat Abu sampai hari ini membenci rasa takut dan sangat perasa dengan kata “menganggu”, padahal biasanya kalau Abu bermain Menara United hampir selalu menang. Apalagi yang lebih menyakitkan daripada melihat teman-teman seperjuangan kalah bertarung tanpa kehadiran kita.

Sebenarnya kemampuan Kaki Dewa tidaklah tergolong luar biasa dibandingkan dengan pemain professional namun tendangan kaki kirinya maut. Yang menjadikan hal tersebut lebih istimewa adalah karena kaki kirinya hanya hanya memiliki dua jari sejak dilahirkan. Hal yang membuat ia tak pernah menggunakan sepatu disisi kiri, hal yang sama juga yang membuat Abu memberikan julukan padanya Kaki Dewa. Dasar Abu, suka memberi julukan pada orang lain. Dan lucunya gelar tersebut melekat terus padanya. Sedari dulu Abu tak tahu siapa nama aslinya, kelak dikemudian hari Abu selalu mencantumkan nama lengkap seseorang di phone book HP bahkan nama adik sendiri didasari karena kekecewaan Abu tak mengetahui nama sang Rival.

“Nomor sepuluh Menara United, Turnamen Kampung Lamkawe Juli 1998 masih ingat?” Abu mengingatkan pertemuan tim kami terakhir, babak semifinal bertepatan dengan Piala Dunia 1998 juga libur kenaikan kelas tiga bagi Abu yang bersekolah di SMP 1 Banda Aceh. “Si kulit merah, Abu! Kamu banyak berubah.” Tunjuknya. Abu terkesima begitu cepat ia mengingat. Itulah hidup, kadang-kadang reputasi seseorang lebih termasyur dikalangan musuh, lebih spesial karena tak sekalipun Abu bertarung dengannya di lapangan. Mungkin karena Abu seorang pengatur strategi yang membuat tim dengan materi pas-pasan seperti Menara United membuat kejutan diberbagai ajang tarkam. “Masih ingat Kaki Dewa?” Abu tertawa senang.

“Saya tidak akan lupa.” Dia menggeleng. “Dengan satu-satunya orang yang berani mengancam kami tepat dikampung sendiri.” Iya, Abu ingat ketika tim kami kalah untuk ketiga kalinya di desa mereka melalui adu penalti. Abu berlari dari bangku cadangan dan berteriak, “Kaki Dewa, hari ini kami kalah! Tapi ingatlah suatu hari kami akan membalas rasa sakit akibat kekalahan ini tiga kali lipat!” Tunjuk Abu ketika itu. Membuat seluruh penonton terdiam, bahkan suporter mereka tak ada yang berani mencemooh dan membisu, suatu hal yang menjadi alasan pula para anggota Menara United pulang bersepeda sejauh lima kilometer dengan kepala tegak, dengan tekad suatu hari akan membalas kekalahan ini. Namun ancaman Abu tak pernah menjadi kenyataan, berikut aroma konflik menjalar di Aceh menghentikan segala tarkam. Sejak turnamen itu kami tak pernah bertemu lagi, hingga hari ini.

“Jadi marah?” Abu menggoda, dan ia menggeleng lagi. Itulah indahnya sepakbola hingga ia menjadi olah raga yang paling digemari di dunia. Nilai sportivitas di dalamnya, bercampur semangat kompetisi membuat Abu mengenang masa-masa remaja itu, sungguh menyenangkan. “Apa pula kejadian yang membawa kita dua putra Aceh Besar bertemu kembali di Negeri Pase?” Tanya Abu. “Saya menikah dengan orang sini, anak saya tiga sekarang.” Ada kebanggaan dalam nada suaranya. Abu mampir dan mendengarkan ia bercerita, tentang perjalanan hidupnya, tentang ketidakmauannya menyerah terhadap cacat di kakinya. Orang ini benar-benar menginspirasi, suatu hal yang membuat Abu datang lagi ke kampung Lamkawe menonton partai final. Lamkawe Vs Lampeunerut FC yang lebih metropolis, dan ketika hasilnya mereka kalah Abu turut bersedih. Meskipun ia seorang rival, meski rasa sakit akibat kekalahan itu belum hilang. Tak sekalipun Abu tak jujur pada diri sendiri bahwa menggangumi semangat sang legenda Kaki Dewa.

Menjelang Maghrib, Kaki Dewa berkemas dan Abu pun pamit. “Kaki Dewa jika kamu masih bernyali, setiap hari senin dan kamis sore kapanpun kamu punya waktu. Datanglah ke lapangan tenis KPP Pratama Lhokseumawe, Insya Allah Abu selalu ada untuk bermain Futsal. Kita lihat bagaimana penampilanmu sekarang!” Tantang Abu. Sekali dan terakhir kali Kaki Dewa menggeleng, ia telah merdeka dari masa lalu. Masa ketika ia menjadi legenda sepakbola yang tak tercatat sejarah. Hari ini ia hidup untuk masa depan, untuk menghidupi anak dan istrinya. The Best Man From The Great Aceh, Lelaki terbaik dari Aceh Besar itu membuat mengingatkan bahwa dalam hidup ada momen yang berlangsung singkat namun selamanya otak menahan memori itu. Kesan yang tak hilang, kenangan. Menstarter motor Shogun 125, Abu pulang. Aih, lagi-lagi Abu lupa bertanya siapa nama aslinya. Tapi biarlah, selamanya Abu akan mengingatnya sebagai “Sang Legenda Kaki Dewa”.

“Sesuatu yang dialami seseorang pada masa remaja akan tersirat dalam karakternya kelak, dalam berbagai bentuk, rupa dan warna.”

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , | 12 Comments