YUKIMURA SANADA SAMURAI TERAKHIR

Sanada Yukimura (1567-1615); Nama Asli: Sanada Nobushige; Seorang samurai era Sengoku; Dikenal sebagai Panglima Perang dari keluarga Toyotomi ketika mempertahankan benteng Osaka dari serbuan pasukan Tokugawa.

YUKIMURA SANADA SAMURAI TERAKHIR

Angin pagi musim semi merayap pelan masuk dalam benteng Osaka. Pertahanan terakhir keluarga Toyotomi terlihat kusam diantara mekarnya bunga sakura. Wajah sang maut tersenyum menanti saat tepat menyapa membuat suasana gelap pada para penghuni.

Pasukan Tokugawa ada diluar sana, dipimpin seorang yang telaten bernama Ieyasu sang kepala klan. Segenap daimyo terbaik dibelakangnya. Matsume Date si mata satu mendukungnya. Hoichiro Honda berhelm bertanduk pun sudah bersiap diatas kuda siap mencabut nyawa setiap pendukung setia Hideyori.

Tokugawa mengkhianati perjanjian musim dingin. Perdamaian damai bersyarat dihancurkan benteng luar Osaka diingkari. Setiap orang didalam benteng mengutuki ketololan Hideyori sedang pasukan diluar benteng menertawakan kebodohan anak satu-satunya mendiang Hideyoshi sang Taiko yang membawa panji-panji labu emas dalam kebinasaan.

Yukimura dari keluarga Sanada, satu-satunya jenderal yang masih setia pada benteng Osaka memandang katana dengan mata keras. Namun penuh kepedihan. Hideyori bukan bapaknya Hideyoshi, padahal Osaka sudah hampir memenangkan pertempuran musim dingin ketika laskar Edo mengajukan damai. Lacur, Hideyori penakut menerima perjanjian penuh tipu daya. Seluruh negeri kehilangan kepercayaan pada Pasukan Barat.

Suara tatami bergeser pelan, Wakatabe Tenzo masuk membungkuk. Ninja ini sudah menua, alisnya sudah memutih. Ia sudah mengabdi sejak zaman Hideyoshi bahkan ketika mereka dipertuan Oda Nobunaga. “Tuan Sanada, pertempuran sudah pecah digerbang. Pasukan Edo datang dengan meriam Portugis untuk menghancurkan dinding dalam benteng.”

“Akhirnya Tenzo, tiba waktunya bagiku untuk bertempur.” Yukimura berdiri tegar. “Tuan Sanada, sebagai Jenderal baiknya tuan berada disisi Yang Mulia Hideyori.” Bantah Tenzo. Seorang ninja tak boleh membantah Jenderal, setiap prajurit mengetahui kode etik samurai.

Yukimura tersenyum, “Tenzo. Aku akan maju ke front terdepan. Langsung ke kemah Ieyasu, akan aku bawa pulang kepala keparat Mikawa itu sehingga kitalah yang memenangkan perang ini.” Mendengar perkataan tuannya, Tenzo membenturkan kepala ke lantai dan menangis. “Tuan jangan gegabah masih ada perang yang lain, saya mohon tuan pikirkanlah ini baik-baik. Tuan hanya akan menjemput maut, ada dua puluh ribu prajurit menjaga kemah Ieyasu.”

“Tenzo, aku adalah jenderal terakhir setelah semuanya pergi. Apakah mungkin kita menang melawan serbuan pasukan Timur yang datang bagai air bah. Bahkan bertahan saja sulit, perang ini sebenarnya sudah sudah berakhir lama. Bahkan sebelum Sekigahara terjadi. Siapkan kuda Tenzo!” Perintah Yukimura.

Matahari diubun-ubun ketika Yukimura menaiki kuda. Tenzo memegang kekang seraya menangis. “Tenzo, Yang Mulia Hideyori setuju dengan strategiku.” Yukimura meludah kesamping. “Berdoalah pada Hachiman. Akan aku bawa kepala Ieyasu Tokugawa pulang.” Tenzo semakin terisak dan ingusnya pun keluar, “Tuan bagaimana jika kita kalah?”

Yukimura melihat langit menantang matahari terik. “Jagalah kehormatanmu dan matilah dengan tersenyum.” Yukimura Sanada menarik tali kekang dan melaju dengan kekuatan penuh ke pertempuran.

Yukimura Sanada sendirian menembus kepungan pasukan Tokugawa, dengan tubuh penuh panah pasukan lawan. Hari menjelang senja ketika Yukimura Sanada mencapai kemah Tokugawa. Dan ketika ia sudah berhadapan dengan Ieyasu, maut menjemputnya. Tubuh itu pucat, setiap tetes darah sudah tidak menghuni tubuh itu lagi. Ia mati dengan senyuman.

Prinsip utama
Untuk menang dalam perang
Adalah membuat prajurit
Mati bahagia

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  19. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  20. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  21. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  22. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  23. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  24. Ashura; 13 Februari 2013;
  25. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  26. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  27. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 62 Comments

KEKUASAAN PLUIT

Kekuasaan Pluit

KEKUASAAN PLUIT

Wasit adalah seorang yang memiliki wewenang untuk mengatur jalannya suatu pertandingan olahraga. Ada bermacam-macam istilah wasit. Dalam bahasa Inggris dikenal referee, umpire, judge atau linesman. Untuk menjalankan fungsinya dengan baik, wasit dilengkapi dengan sebuah instrumen bernama Peluit. Peluit adalah sebuah alat berukuran kecil terbuat dari berbagai bahan seperti kayu atau plastik yang mengeluarkan suara nyaring ketika ditiup. Peluit umumnya berbentuk lonjong dengan lubang kecil di bagian atas untuk perputaran udara.

Menjadi wasit berarti menjadi hakim dalam sebuah pertandingan, ia adalah pejabat yang memimpin, memutuskan hukuman bagi para pihak. Seringkali wasit menjadi pihak yang paling dipersalahkan oleh keputusan-keputusannya yang dinilai tidak adil dan hanya menguntungkan satu pihak.

Sebagai seseorang yang pernah bermain sepak bola dalam pertandingan antar kampung. Abu adalah termasuk pemain yang bengal, dalam arti kata kerap melawan wasit. Wasit adalah pihak pertama yang Abu salahkan jika tim kami kalah dalam pertandingan, segala kesalahan serta caci maki sumpah serapah ditujukan hanya pada wasit. Satu hal yang jamak dalam kehidupan dunia olah raga kita. Abu pun termasuk didalamnya, menjadi salah satu bagian integral dari masyarakat kita. Sama hingga suatu hari mata Abu terbuka lebar.

Adalah turnamen Futsal yang diadakan oleh teman-teman sekantor. Pada suatu ketika, tidak ada yang ingin menjadi wasit karena akan menjadi pihak yang menerima teror dari penonton dan pemain-pemain dilapangan. Dasar Abu, bangsa mau. Sifat optimis Abu bergejolak dan mengajukan diri sebagai wasit. Hanya bermodal keberanian Abu mencoba.

Ternyata menjadi wasit yang adil itu sulit, meskipun berusaha untuk adil. Pasti ada yang terlewatkan. Sekejap saja hilang kosentrasi maka bisa berakibat fatal terhadap pertandingan. Apalagi jika pertandingan tersebut memiliki tensi emosi tingkat tinggi. Sebagai wasit, sikap fokus dan tegas harus mati-matian dipertahankan ditengah atmosfer keras. Untungkah, wasih dibekali sebuah instrumen kekuasaan bernama peluit yang menjadi pertanda kekuasaannya dilapangan. Dasar Abu, mendapat mainan baru malah keasikan meniup peluit yang malah diprotes oleh para pemain.

Abu baru pertama kalinya menjadi wasit, selalu ada kenikmatan tersendiri terhadap apapun yang kita lakukan pertama kali, itu pasti. Alangkah baiknya jika mengambil hikmah dari segala pengalaman yang kita alami. Ternyata sangat mudah untuk menilai seseorang jika kita dipinggir lapangan, sangat mudah menduga seseorang buruk dari kaca mata kita. Padahal kita tak pernah tahu, apa yang sesungguhnya terjadi. Kita tidak pernah mengkomunikasikan hal itu dengan santun. Dengan emosi dan berbalas emosi, atau yang paling buruk adalah dengan cara bergunjing, membicarakan dibelakang.

Setiap pengalaman menambah ilmu kita, maka Abu sangat senang menjadi wasit. Namun untuk pertandingan berikutnya Abu harus memberikan kesempatan kepada orang lain, bukan karena takut melainkan ternyata Abu telah memaksakan fisik untuk mencapai batasnya, dan sudah saatnya untuk istirahat.

” The optimist sees opportunity in every danger, the pessimist sees danger in every opportunity.”

Milvan Murtadha, 12 Nopember 2009…

 

 

 

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , | 11 Comments

MENEGAKKAN KEADILAN

Raja Persia di atas singgasana.

MENEGAKKAN KEADILAN

Konon, seorang Kisra dari Persia yang bernama Anusyirwan semasa hidupnya terkenal akan keadilannya. Ribuan tahun kemudian ketika Khalifah Al Makmun berkuasa di Baghdad, berhasil menemukan makam Kisra Anusyirwan didalamnya terdapat harta berlimpah tetapi ada suatu hal yang membuat mereka kagum yaitu jasad dari Kisra Anusyirwan tersebut masih utuh!

Ketika Khalifah Al-Makmun mengetahui hal tersebut beliau berkata, “Maha suci Allah SWT yang menlindungi penguasa yang adil meskipun dia adalah orang yang kafir (pemeluk agama Majusi), sekarang tutup dan sembunyikan kembali makam ini sesungguhnya aku tidak mau dalam sejarah nanti orang mengatakan bahwa Al-Makmun putra Harun Al-Rasyid adalah seorang penjarah makam.”

Dan kemudian makam Anusyirwan tersebut ditutup kembali dan sampai sekarang makam tersebut masih tersembunyi. Itu semua menjadi teladan bagi diri kita.

Apakah perbedaan dari seorang Fir’aun dengan seorang Anusyirwan? Keduanya merupakan penguasa yang jelas-jelas kafir. Keduanya sudah meninggal ribuan tahun yang lalu, akan tetapi seorang dibenci dan satu orang lagi dicintai oleh rakyatnya.

Kerinduan akan keadilan, sudah ada mulai menusia ada di bumi ini, akan tetapi literatur ilmiah pertama yang diakui oleh dunia adalah pendapat Aristoteles.

Menurut Aristoteles, keadilan terbagi kepada dua macam :

  1. Keadilan Normatif, Yaitu keadilan dimana setiap orang memiliki kedudukan yang sama sebagai manusia, contohnya setiap orang sama kedudukannya dimata hukum.
  2. Keadilan Substantif, Yaitu keadilan yang mengukur kadar tiap-tiap orang. Sebagai contoh gaji seorang kepala tentu berbeda dengan pelaksana dikarenakan tanggung jawab yang lebih besar.

Setiap rakyat pasti merindukan penguasa yang adil, setiap anak pasti merindukan orang tua yang adil. Ketika keadilan ditegakkan maka tidak perlu pasukan yang kuat, harta yang melimpah akan tetapi dengan keadilan lebih bisa menjaga dan membahagiakan lebih dari itu semua.

Rasulullah Saw ketika ditanyakan oleh seorang sahabat “Ya Rasulullah, apakah adil itu?” Rasullullah Saw menjawab “Keadilan adalah memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya.” Ucapan beliau tersebut konon di gantung diatas Mahkamah Internasional di Den Haag Belanda.

Semoga kita dapat memperoleh pembelajaran dari ini semua.

Mari berpikir:

  1. Temukan Mentor Rahasiamu; 23 September 2008
  2. Sang Tiran; 15 Oktober 2008
  3. Yang Muda Yang Berguna; 22 Oktober 2008
  4. Lughat; 28 November 2008;
  5. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  6. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  7. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  8. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  9. Hantu; 20 Februari 2009;
  10. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  11. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  12. Apalah Artinya Sebuah Nama; 13 Juli 2009;
  13. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  14. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
  15. Menulis Haruskah Pintar; 26 Oktober 2009;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 33 Comments

MENULIS HARUSKAH PINTAR

Kemampuan menulis biasanya diawali oleh hasrat membaca yang kuat.

MENULIS HARUSKAH PINTAR

Menjadi penulis haruskah pintar? Tentu tidak! Dari fungsi otak yang digunakan. Menulis lebih menekankan penggunaan otak kanan, kemampuan berbahasa. Membedakannya dengan otak kiri yang berguna sebagai kemampuan berlogika.

Apakah yang diperlukan? Jika ditanyakan kepada penulis maka jawabannya adalah keberanian. Keberanian yaitu kemauan untuk memaksimalkan setiap kata, memberinya makna sehingga dapat dinikmati oleh pembaca.

Sangat baik memiliki pengetahuan, itu menjadikan tulisan menjadi lebih kaya. Tidak teralihkan oleh ilusi karena menguasai kronologi waktu. Namun jangan terlalu angkuh sehingga membuat yang membaca terintimidasi dan kehilangan kenyamanan. Kepintaran sebagai kekuatan bisa menjadi kelemahan apabila disalah artikan apalagi jika tidak dipahami oleh pembaca. Jangan lupakan tanda baca! Titik dan koma itu penting! Jangan menyiksa orang lain dengan kalimat panjang.

Terakhir, duduk dan lakukan! Jangan terlalu banyak berpikir! Kenapa? Jika terlalu banyak menimbang baik dan buruknya akan membuat segala ide hilang. Tak perlu mengadakan riset mendalam, tak harus memiliki resensi bermutu, hanya duduk dan lakukan!

Menulis itu tak perlu pintar. Jadi kenapa segan untuk mencoba? Ayo kita melakukannya, seraya belajar. Penulis sendiri bukan orang pintar, bahkan banyak penulis ternama bukan orang pintar. Disini yang dibutuhkan hanya keberanian, sedikit saja. Selanjutnya kematangan akan membimbing anda dengan sendirinya.

“Sesungguh ketika raga terpenjara, pikiranku bebas mengembara. Mengunjungi negeri-negeri asing. Berperang disamping para Sultan, berunding dengan para kaisar, menunggangi kuda dipadang stepa Mongol, membelah rimba raksasa Afrika, dan memandangi selat Bophorus, atau bercengkrama ditaman kota Sevilla”.

Milvan Murtadha. Lhokseumawe, 25 Oktober 2009.

Artikel lainnya:
  1. Manajemen Kritik; 18 September 2008
  2. Temukan Mentor Rahasiamu; 23 September 2008
  3. Sang Tiran; 15 Oktober 2008
  4. Yang Muda Yang Berguna; 22 Oktober 2008
  5. Lughat; 28 November 2008;
  6. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  7. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  8. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  9. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  10. Hantu; 20 Februari 2009;
  11. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  12. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  13. Apalah Artinya Sebuah Nama; 13 Juli 2009;
  14. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  15. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
Posted in Asal Usil, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 14 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA

menyalakan samar hampar lautan, aku menjelma menjadi sebaris nama

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA

Bandar Aceh Darussalam, Oktober 1872. Aku bermain-main dengan pikiranku. Inikah yang disebut rumah? Jika engkau sudah mengembara melintasi Malaka, Batavia, Jepun, Liverpool, Venezia bahkan Istanbul selama dua puluh tahun pelayaran. Disusun dari kayu rumbia beratap daun kelapa, masih sama seperti dahulu hanya semakin rapuh. Tidak ini bukan rumah! Ini dinamakan surga, yang menjadi mimpi jiwa yang dahaga untuk berpulang. Tempatku dilahirkan dan dibesarkan.

Daun pintu terbuka mengangga. Siapakah didalam, Masihkah ibu hidup? Aku masuk melintasi waktu seolah hanya pulang setelah bermain sebentar. Diatas anyaman nipah, sesosok tergolek dengan mata terbuka. Ibu? Ibuku masih hidup. Ia terbangun. “Siapa itu?” Matanya sudah biru, termakan oleh usia mencari-cari sumber suara. Beliau buta. Air mataku menetes, tak mampuku menahan isak dan pecahlah ia dalam rasa yang tak kutahu entah bahagia atau sedih.

“Ibu! Ibu!” rintihku pelan seraya menjatuhkan diri dikakinya.

Cinta kadang dalam bentuk kata, kadang pula tanpa kata. Tapi bagi setiap anak manusia, cinta ibu adalah yang paling berarti. Mata beliau kosong ketika menjambak keras rambutku, menampar-nampar pipiku keras dan semakin pelan. “Anak durhaka! Kemana saja kau selama ini?” Kemudian beliau mendekapku mesra, seperti bayi. Bayi yang baru dilahirkan dan dibuai dalam kasih sayangnya. Begitu tulus sehingga kutaktahu harus berkata apa lagi.

Bagi kami yang dilahirkan di tanah ini, ketika berhadapan dengan musuh diajarkan untuk menyingkirkan nurani. Kami adalah kaum yang tega meludahi, mencincang, bahkan mengencingi lawan sambil tertawa. Belanda menyebut kami sebagai bangsa perompak tua yang harus diberantas. Tapi dihadapan ibu kami tak lebih dari seorang kanak-kanak, berapapun usia kami. Putroe Phang1) menyadari hal ini, dua ratus tahun lalu mendesak suaminya Sultan Iskandar Muda2) menerbitkan Qanun3) yang berisi bahwa setiap anak laki-laki Aceh yang menikah diharuskan tinggal dirumah pihak perempuan, atau membuat rumah sendiri. Sebagai Permaisuri beliau pun risih jika harus tinggal serumah dengan mertua, dengan suami yang manja, sangat manja dengan ibu mereka.

Aku tidur dipangkuan ibu, kapten perompak yang pernah menahkodai bintang hitam. Disegani Navy Inggris, ditakuti skuadron Portugis, diburu armada Perancis dan mimpi buruk Flying Duchman4) takluk tanpa syarat. Dan ketika beliau bercerita aku pun hanya bisa terdiam, atas usahanya bertahan hidup untuk menjaga warisan untukku, agar tak dibagi oleh Karong5). Padahal hanya sepetak tanah ditepi krueng Aceh6). Apalah artinya dibanding pundi emas jarahan yang kubawa. Sifatku ingin membantah, tapi mulutku terkunci diam tanpa kata.

Ibu semakin menua, lebih tua dariku yang sudah tua. Beliau tak pernah kemana-mana. Beliau yang percaya bahwa Aceh Darussalam masih perkasa. Membenci kaphe7) sangat disatu sisi, namun disisi lain meyakini tanah Gayo 8) adalah khayangan. Lucu penuh pertentangan. Tapi beliau adalah ibuku, seseorang yang paling kucintai dalam hidupku. Tiba-tibaku sadar kepulanganku ini bukanlah semuluk yang kusangka, bukan menyelamatkan Aceh Darussalam yang mewakili kedaulatan Nusantara terakhir dari masa-masa gelap sejarah. Bukan melindungi ibu pertiwi dari penjajahan. Hanya pulang dan mendapati ibuku masih hidup, ya sesederhana itu. Tak lebih, dan hari ini kenyataan melebihi anggapanku. Ternyata dunia tak seburuk dugaanku.

“Sudah akan azan jumat, pergilah ke Masjid Baiturrahman9)!” Perintah ibu seraya membelai kepalaku. Keningku berkerut, sudah berapa lama aku tidak shalat dan aku sudah ragu bagaimana caranya. “Ayo cepat!” Perintah ibu lagi. “Jumat depan.” Jawabku ragu. Kembali memukul kepalaku, “Berapa lama kamu pergi? Kamu sudah menjadi.” Suara beliau hilang sesaat dan menyambungnya dengan, “Durjana!” Aku tersenyum, ya itulah julukanku. Sang Durjana, tapi biarlah ibu tak pernah tahu apa yang kulakukan sampai dengan kemarin. Aku memejamkan mata, tertidur dan tak tahu apa-apa lagi. Rasa damai ini sungguh menyejukkan.

XXX

1. Tengku Kamaliah, seorang Putri dari Kesultanan Pahang. Putri ini dikenal dengan nama Putroe Phang. Istri Sultan Iskandar Muda. Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan istrinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Istana) sebagai tanda cinta. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampung halamannya yang berbukit-bukit. Oleh karena itu Sultan membangun Gunongan untuk mengobati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.


2. Sultan Iskandar Muda (Aceh, 1593 atau 1590 – 27 Desember 1636) merupakan sultan yang paling besar dalam masa Kesultanan Aceh, yang berkuasa dari tahun 1607 sampai 1636. Aceh mencapai kejayaannya pada masa kepemimpinan Iskandar Muda, dimana daerah kekuasaannya yang semakin besar dan reputasi internasional sebagai pusat dari perdagangan dan pembelajaran tentang Islam.


3. Qanun = Perangkat Undang-undang.


4. Flying Duchman = Julukan pelaut Belanda.


5. Karong = Sistem perwalian secara adat di Aceh.


6. Krueng Aceh = Sungai Aceh yang membelah ibu kota Bandar Aceh Darussalam.


7. Kaphe = Julukan kaum putih, penjajah yang umumnya beragama Nasrani. Berasal dari kata Arab kafir.


8. Tanah Gayo = Tanah dataran tinggi pegunungan ditengah Aceh, didalam sistem administrasi Republik Indonesia sekarang pada Provinsi Aceh meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues.


9. Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid yang berada di pusat Kota Bandar Aceh Darussalam. Sewaktu Belanda menyerang pada tahun 1873, masjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah masjid sebagai penggantinya. Mesjid ini berkubah tunggal dan dapat diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959-1968). Masjid ini merupakan salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas.

XXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 49 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA

Risalah Sang Durjana tampak samping

Risalah Sang Durjana tampak samping

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA

Ulee Lheu. Oktober 1872, Pantai ini sudah terkena pendangkalan parah. Bintang hitam tak bisa merapat, sebuah sekoci merangkak pelan ke Pantai Cermin. Sang Durjana pulang dari petualangan. Jantungku berdetak kencang, rasa rindu semakin berarti jika sudah di dekat rumah. Akhirnya kumenjejakkan kaki didaratan.

Dua puluh tahun, tidak ada perubahan. Beginikah nasib Aceh Darussalam, jalan setapaknya masih sama. Orang-orang lama semakin tua, dan orang-orang baru tak lebih baik. Untuk apa kepulanganku ini? Kadang-kadang kubertanya pada diriku sendiri sehingga benar-benar meyakini bahwa kepulanganku adalah untuk membela bangsaku sendiri.

Melayu Sumatera telah takluk baru-baru ini ditangan Belanda, dan diberi nama Keresidenan Riau. Deli sudah lama jatuh. Tiku, Barus dan Pariaman sudah lama hilang dipeta Aceh Darussalam. Diakhir abad XIX diseantero Nusantara hanya Aceh Darussalam dan Tanah Batak yang masih merdeka. Dan kedaulatan keduanya terancam oleh Traktat Sumatera sebuah persesengkolan tingkat tinggi antara Inggris dan Belanda, tapi apa yang mereka lakukan? Hanya bersantai saja di kedai seolah pasrah akan takdir yang akan menuntun pada kemenangan.

“Durjana!” Dari lepau nasi suara tak asing memanggil.

“Bang Baka?” Terdengar tawa yang khas.

“Begini rupanya wajah lanun yang diburu oleh seluruh Negara. Waktu seolah berhenti untukmu wajahmu masih sama ketika kita bertemu terakhir kali” Tembaknya.

Aku tersenyum dan datang padanya. “Sekarang aku bukan lagi kepala lanun. Kapal Bintang Hitam sudah kulepaskan, didepan abang sekarang hanyalah Ahmad. Abang sendiri bagaimana kabarnya sekarang?” Ya, kini aku sendiri dan para kelasi sudah kubebas tugaskan ditengah lautan. Hari ini aku memulai hidup sebagai orang baru, bukan lagi sebagai kepala perompak hanya seorang anak manusia biasa.

“Aku sekarang saudagar, memasukkan beras dari Jawa.” Ia berkata.

“Bukankah kampung Bang Baka di Meuredu sana penghasil beras untuk kesultanan?” tanyaku heran.

“Durjana, sudah terlalu lama kamu pergi dan tak tahu kabar negeri lagi. Kaum bangsawan meringkuk ketakutan di istana Darul Kamal, sedang para Uleebalang sibuk bertikai, negeri kita tak terurus.” Bang Baka menggerutu pelan.

“Ceritakan padaku bang.” Pintaku, mengambil kursi dan duduk. Dari mulut bang Baka kuketahui bahwa banyak raja-raja lokal kecil yang gelari Ulee Balang tak mengindahkan lagi kewibawaan sultan yang berketurunan Bugis. Daerah Peurelak menjadi sarang penyamun membajak kapal-kapal niaga Inggris dan Belanda, harta jarahan dari para kafir. Sultan Mahmud Syah tak mampu mencegahnya, padahal ini disuatu hari akan dijadikan alasan oleh Belanda untuk menyerang ibu kota Bandar Aceh Darussalam. Raja Meulaboh dan Raja Teunom berselisih, mengakibatkan darah terbuang sia-sia. Nasib negeri ini diujung tanduk namun tak seorang pun yang berupaya untuk mencegahnya, tragis. Mereka terlalu percaya akan kehebatan masa lalu, pada kemampuan mengusir Portugis padahal sudah lebih dua ratus tahun berlalu. Pada kemampuan armada laut menguasai Selat Malaka dan pantai Barat Sumatera dulu. Nafasku sesak.

“Jadi apa yang akan kau kerjakan pada kepulanganmu ini Durjana?” Bang Baka memiliki karakter khas saudagar yang berasal dari Tanah Pidie, penuh harapan.

“Tak tahulah bang, mungkin aku akan pulang ke rumah.” Mataku menerawang jauh menatap lautan biru bersama mega-mega di langit. Dulu kami menguasai laut, sekarang bahkan kami tak berdaya didaratan.

“Hanya begitu, reputasimu sebagai lanun bahkan menjadi legenda. Aku bahkan mengetahui kehebatanmu ketika berlabuh di Semarang, Orang-orang Belanda menakuti anak-anak mereka yang nakal dengan namamu.” Cerita lisan cepat berkembang, dari mulut ke mulut. Setiap mulut menambah bumbu sehingga sampai ditelinga terakhir menjadi sangat menakutkan.

“Jadi sekarang apa yang akan kau lakukan?” Bang Baka mengulangi pertanyaan yang sama seraya memainkan matanya, berharap mendapat jawaban dariku. Jelas sekali ia hendak menularkan semangatnya padaku. Tapi aku, dalam pengembaraan selama ini terlalu banyak melihat kejatuhan berbagai negeri pada kekuasaan orang-orang putih, sehingga padaku tak ada harapan yang sama.

Untuk pertama kalinya, aku tak tahu harus berkata apa. Mulutku kelu. “Aku sudah tua, empat puluh tahun. Mungkin aku akan pulang dan mengasah kelewang dan menanti kapan perang kita dengan Belanda atau Inggris terjadi.” Aku berjalan dan tak melihat kebelakang lagi, saat ini aku hanya ingin menemukan rumah untuk tidur. Dalam buaian ibu pertiwi setelah dua puluh tahun pergi.

XX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 55 Comments

TAK ADA APA APA

Sudahlah, mata sendumu itu tak lagi bisa memanggilku. Ku hanya bisa berbisik dalam hati, selamat tinggal masa lalu.

TAK ADA APA APA

Ini kali kita bertemu, tak sengaja. Tidak ada apa-apa. Benci tiada, segalanya telah menguap. Biasa saja. Kata-kata tiada. Dan jika akhirnya bibirku tersenyum karena aku berbahagia. Sangat senang menjadi seorang yang tak lagi kau kenali. Sangat senang karena aku telah berhasil menjadi seseorang yang aku inginkan.

Dulu, kau katakan bersama waktu aku akan melupakanmu. Dan hari ini aku terkejut betapa kata-katamu itu tak lain dan tak bukan melainkan kebenaran. Kata-kata harimau yang engkau keluarkan ternyata hari ini menerkammu. Sungguh tak ingin kutertawa pada merana yang kau rasakan, maka menjauhlah.

Engkau tahu aku selalu menepati janji, maka janganlah kecewa jika hari ini aku menunaikan janjiku. Meski engkau merana, aku tak akan melihatmu lagi dengan perasaan yang sama. Aku yang tak pernah memiliki rasa takut sedari dulu, jadi mengapa hari ini aku harus ketakutan jika berhadapan langsung denganmu lagi.

Sudahlah, mata sendumu itu tak lagi bisa memanggilku. Ku hanya bisa berbisik dalam hati, selamat tinggal masa lalu. Kini ku memiliki masa depan yang harus kurengkuh. Satu kalimatku untukmu, janganlah terjerat masa lalu.

“Ada orang pernah bilang akar permasalahan dari seorang adalah memori, tanpa ingatan ia akan selalu menemukan hal baru disepanjang hidup tapi orang yang lain lagi juga bilang, kenangan itu adalah kotak harta yang bisa dibuka kapan saja. Bahkan disaat merasa tak memiliki apapun jua.”

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  18. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  19. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  20. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  21. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  22. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  23. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  24. Ashura; 13 Februari 2013;
  25. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  26. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  27. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;

 

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 70 Comments

SEJARAH KEHIDUPAN

Sejarah itu berjalan bersama kehidupan. Tak peduli jalan apa yang telah ditempuh maju kedepan jangan takut, jangan mundur, jangan bersembunyi. Ketika suatu hari nanti tersadar, kita akan melihat jalan terbaik telah dilalui.

SEJARAH KEHIDUPAN

Sejarah itu berjalan bersama kehidupan. Tak peduli jalan apa yang telah ditempuh maju kedepan jangan takut, jangan mundur, jangan bersembunyi. Ketika suatu hari nanti tersadar, kita akan melihat jalan terbaik telah dilalui.

Waktu berjalan seperti singa, ia melumat segalanya. Dua belas tahun sudah meunasah Al-Munawarah berdiri. Ini adalah Ramadhan kali keduabelas. Sejak Meunasah ini didirikan Abu sudah menjadi bagian dari sejarahnya namun sudah tiga tahun Abu absen tadarusan disini, sudah lama juga sehingga kerinduan itu merasuk dan akhirnya membezuk.

Zaman sekolah sudah berlalu, dan ketika manusia semakin tua. Ia disibukkan dengan hal yang bersifat dunia dan menuntut untuk meninggalkan kampung halaman. Tidak ada yang berubah dari dekorasi meunasah ini, kecuali arah kiblat yang sudah dimiringkan disesuaikan dengan ketentuan baru yang ditemukan dikemudian hari. Abu datang pada kepulangan sesaat dikampung halaman.

Seperti ada yang hilang, dimana kaum muda. Tinggallah para orang tua, padahal dulu ramadhan disini selalu semarak oleh para pemuda. Dulu ada acara bakar jagung, ada acara memasak ayam ditengah malam menyelingi tadarusan. Sekarang sepi, dan Abu merasa asing.

“Abu kapan pulang?” Suara yang familiar menyapa ketika berwudhu. Bang Regar rupanya, diantara sejawat hanya dia yang masih bertahan. “Abu sudah tiga hari di Banda bang, mana teman yang lain?” Abu balas bertanya. Bang Regar tersenyum lalu mengangkat bahu.

Selesai wudhu, kami duduk di balai samping meunasah. “Orang-orang bertambah banyak, bagai bermunculan dari perut bumi. Tapi mengapa meunasah kita semakin sepi?” Bang Regar menatap wajah Abu datar. Sebuah pertanyaan yang Abu rasakan tidak untuk dijawab, hanya didengarkan. Membesarkan hati bang Regar, Abu berkata. “Tapi abang masih ada disinikan?”

“Tahun depan aku berencana menikah, mungkin aku nantinya tidak tinggal dikampung ini lagi.” Abu hanya tersenyum mendengar pernyataan bang Regar. Sesaat kemudian kami berbicara tentang masa lalu, tentang hari-hari yang telah kami lalui setelah beberapa lama tak bertemu. Ada banyak cerita yang kami bagi dalam waktu singkat. Dalam tawa dan senda persahabatan.

“Ayo bang kita tadarus sekarang, besok malam Abu harus kembali ke Lhokseumawe. Tugas Abu disini sudah berakhir.” Ajak Abu. “Tapi kamu akan kembalikan? Menjelang hari raya nanti.” Tanya bang Regar. “Pasti bang, ini kan kampung Abu. Kita nikmati malam ini dulu dengan bertadarus, besok adalah urusan nanti.” Ajak Abu sekali lagi. Bang Regar masih belum puas, “Besokkan hari Sabtu mengapa kamu terlalu cepat kembali ke Lhokseumawe, masih ada satu hari lagi? Abu hanya tersenyum. Kening bang Regar berkerut lalu tertawa, “Sudah lama waktu berlalu, tapi kamu masih saja begitu. Menjawab pertanyaan yang tidak mau dijawab dengan senyuman.”

“Ini karena bentuk bibir Abu yang selalu terlihat tersenyum bang. Ayo kita masuk.” Abu menarik bang Regar masuk ke meunasah dengan mengandeng. “Norak kamu Abu! Masih juga suka mengandeng.” Bang Regar menepis tangan Abu, kemudian tertawa. Kami pun masuk ke dalam meunasah, merajut malam dengan menggajikan kitab suci dengan nyanyian yang sama, sama seperti dulu.

Meunasah (bahasa Aceh) = Surau, Langgar, Mushalla.

XXX

Posted in Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 13 Comments

MENYERAHKAN NASIB PADA TAKDIR

Hidup adalah perjalanan ruang dan waktu.

MENYERAHKAN NASIB PADA TAKDIR

Hari ini, kupasrahkan diriku pada takdir. Ya, pada takdir. Seperti aliran sungai pelan mengarah pada lautan luas. Aku yang selalu berupaya dan percaya bahwa manusia mampu mengubah aliran takdir. dihari ini mengakui bahwa segenap daya dan upaya tak akan berguna tanpa restu-MU.

Aku telah menunggu, semua orang menunggu jua waktunya. Pada sebuah masa depan, pada sesuatu yang telah tertulis dilangit. Akan perjalanan hidup, maupun akan akhir hidup. Dan sungguh jalan berkelok serta jurang menjadi sangat menakutkan jika harapan akan kehidupan semakin membesar. Memiliki harapan berakibat memiliki ketakutan pada kegagalan. Pada kecerobohan yang kelak disesali. Pada kemungkinan untuk gagal. Tiba-tiba segala kecerdikanku lenyap dan tak tahu berbuat apa.

Tuhan, dini hari ini ketika aku terjaga. Pada-MU kubersandar. Segala simpuh menjura pada-MU. Hamba yang hina ini memohon, dengan penuh harap. Tuhan, apapun yang terjadi nanti. Mohon lindungi dia, jangan biarkan ia tersakiti oleh cintaku. Cintaku yang segarang singa. Sebegitu menakutkan sehingga kupasrah. Dan menyerahkan nasib pada takdir-MU.

Lhokseumawe, dini hari 3 September 2009.

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , | 11 Comments

PERJALANAN INI

Hidup adalah perjalanan ruang dan waktu.

PERJALANAN INI

“Perjalanan ini terasa lebih meletihkan, tanpa kau disisiku.”

Che Guevara mengelilingi Amerika latin untuk mewujudkan cita-cita revolusionernya, mengorbankan masa depan sebagai seorang calon dokter muda menjadi pejuang di Kuba dan akhirnya tewas di ujung peluru tentara pemerintah Bolivia.

Mohamdas Karamdas Gandhi atau yang lebih kita kenal sebagai Mahatma Gandhi menjelajahi negerinya untuk melihat nasib bangsanya, sebuah perjalanan yang dimulai dari seorang pengacara muda di Afrika Selatan yang mengurusi nasib orang India disana ia pulang ke India untuk memperjuangkan bangsanya dengan perlawanan ahimsa (a=tanpa/tidak, himsa=kekerasan) terhadap penjajahan Inggris.

Rasulullah di usia yang masih belasan melakukan perjalanan niaga ke negeri Syam, pada saat wahyu telah diturunkan kepada beliau Rasulullah juga mecoba berdakwah ke Thaif dan puncaknya ketika Rasullullah berhijrah dari Mekkah ke Madinah untuk melebarkan wilayah dakwah dan akhirnya menjadi awal dari kebangkitan Islam di Jazirah Arabia dan kemuliaan Islam di dunia. Pentingnyanya proses Hijrah ini membuat khalifah Umar bin Khattab menetapkan bahwa awal penaggalan tahun Islam dimulai dari Hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah dan dikenal dengan sebutan Tahun Hijriah.

Apa yang dapat kita petik dari pelajaran tersebut? Terkadang kita perlu membuka mata terhadap dunia, apa yang terjadi disekeliling kita. Orang yang berpergian ibarat air yang mengalir meskipun ia kotor maka alirannya yang akan membersihkannya, orang yang hanya diam ditempatnya ibarat air yang tergenang meskipun ia bersih lama kelamaan ia akan kotor jua adanya.

Berkaca dari kesuksesan orang-orang terdahulu, sebenarnya hikmah perjalanan itu sebenarnya adalah sangat-sangat besar, terbayang tidak seandainya Rasulullah tidak pernah Hijrah ke Madinah bagaimana dengan agama Islam saat ini? Atau dia disini bisa berwujud Che Guevara, Mahatma Gandhi, Sukarno, Chistoper Columbus, Snouk hurgronye, Thariq bin Ziyad atau siapapun dia.

Bagi penulis pribadi perjalanan ini mungkin banyak membawa hikmah antara lain mempertemukan kita dengan orang-orang yang terbaik yang mungkin tidak akan kita kenal atau bahkan kita temui kalau kita tetap di kampung halaman kita. Terkadang melihat hal-hal yang baru juga membuka cakrawala berpikir kita dan meningkatkan kualitas diri kita.

Lhokseumawe-Lhoksukon, renungan perjalanan tiga puluh kilometer, 17 Agustus 2009. Jalanan padat, dipenuhi sorak-sorai karnaval memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-64. Milvan Murtadha

Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 24 Comments