WHEN GREED IS GOOD

We never know to what extent desire will be fulfilled, if it is guided by “greed is good.”

WHEN GREED IS GOOD

Now many people defend greed. “Greed is good,” said Gekko, a character on Wall Street, in front of a shareholder meeting at the old Roosevelt Hotel in Manhattan. And when asked why greed is good, greedy people like Gekko will be good at putting up sentences. He, for example, will be able to quote Giambattista Vico from the 18th century Italy. It is precisely of cruelty, evil, and human ambition has born many good things in the world. Greed has also encouraged people to make tools. From there the technology was born, to get more and more results.

Greed also causes humans to sail through the oceans, and Columbus finds the American continent. Greed can even make people obedient worship, counting rewards, after living in the world for the sake of as much pleasure in the afterlife, in heaven.

Not surprisingly, people are not shy to show off wealth. Proudly wearing the finest clothes, choosing flashy cars, visiting the best restaurants, and forgetting that only a few years ago they were actually young people who once cried out to be beautifully modest lives.

We never know to what extent desire will be fulfilled, if it is guided by “greed is good.”

This is when the soap opera tells the lifestyle of “rich and famous” by displaying expensive cars and sophisticated gadgets. This is an example of how to enjoy life, businessmen, and officials to imitate it immediately. Luxury cars on the highway, expensive items stuck to the body, greedy it is good looking.

Some have managed to accumulate their wealth and extend their treasure list, still wanting to hide from the public eye. Maybe they know that around them there are still many poor people. Maybe feel that their fate is not necessarily sustainable.

But the habit of saving have another side, they soon lose the friendship. Loss of social relationships, when others feel overwhelmed by their expenses, such as taxes and social costs. The other side, stingy is ugly.

If they are conscious. Like only, the story of Qarun, in his desire to have a bucket of gold, then he wanted to get another bucket of gold. He will lose good counsel and honest warning because he feels because his wealth is the power that should give advice and not receive advice.

Not the scholars say, and millions of others. When we see the general benefit of being sucked by them. Project need not be held. Non-quality goods are sold to the government at high prices, damaged roads are never repaired, even existing roads are repaired over and over again. The rich get richer, and the poor get poorer. But do we know how to stop it, while greedy itself cannot be expected to stop their desires?

Of course in Oliver Stone’s film and Qarun’s story, it is basically a story about old morality. Gekko fell. The winner is not a greedy character. The winners are those who fought faithfully and with the weak.

In the story of Qarun, he with his wealth drowned. In the movie Wall Street, the law is there and he is on trial. Gekko can finally stop. But after that, the story is over, when we just awake. What can we do, we face reality.

Translate From: Serakah

Posted in Fiction, History, International, Literature, Opinion, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

KOMUNISME DALAM PERSPEKTIF MUSLIM

Iklan kampanye Pemilu di Indonesia tahun 1955. Saling serang antara Masyumi dengan PKI.
Sumber dari Mingguan Hikmah (Masyumi) dan Harian Rakjat (PKI).

KOMUNISME DALAM PERSPEKTIF MUSLIM

Awal Mula Kemunculan Sekulerisme

Sekulerisme datang dari Eropa, bangsa Indonesia sangat berhubungan erat dengan Barat selama berabad masa penjajahan. Sekarang setelah penjajahan berakhir kita tetap dibawah pengaruh Barat dari segi ilmu pengetahuan modern dan teknologi , ditambah dengan derasnya investasi asing serta penetrasi ekonomi, maka diinginkan atau tidak sekulerisme memiliki peluang besar untuk meresap dalam jiwa kita, baik sadar maupun tidak.

Landasan filosofis dari sekulerisme adalah keyakinan bahwa manusia semata-mata menggunakan akal dan pikirannya untuk mengatur masyarakat. Pikiran dan akal dianggap cukup menjadikan manusia dan masyarakat mencapai kebahagiaan di dunia. Segala sesuatu dapat diatur dan dicapai dengan perundang-undangan, yuridis atau administrasi dengan tidak memerlukan dasar rohaniah.

Sekularisme timbul awalnya di Eropa setelah Revolusi Perancis (1789), yang tahap-tahapnya terjadi bentrokan antara gereja pada abad pertengahan yang ingin menguasai bidang keduniawian dengan para pemimpin dan pemikir.

Penyerbuan Penjara Bastile oleh rakyat mengawali Revolusi Perancis (14 Juli 1789).

Ketika Kaisar Constantine memeluk agama Kristen (327), Eropa menjadi negara Kristen. Akan tetapi banyak ahli sejarah mengatakan justru pada saat itu pula agama Kristen mulai kehilangan kekuatannya, karena banyak para pembesar Romawi yang masuk agama Kristen sedangkan hati mereka benci dan tujuan mereka tak lain memelihara kedudukan mereka, sehingga agama Kristen dan Paganisme Romawi bercampur aduk.

John Stuart Mill (1806-1873) dalam bukunya On Liberty mengatakan : “Pada zaman Romawi tiap-tiap orang merasakan adanya kewajiban dalam bernegara, akan tetapi hal ini tidak terdapat dalam agama Kristen. Kata-kata, bahwa penguasa yang mengangkat seseorang dalam suatu jabatan, padahal ada orang yang lebih cakap dan jujur, maka penguasa itu telah berdosa terhadap Negara dan Tuhan. Kata-kata tersebut hanya terdapat pada Al-Quran (dan Hadist) dan bukan dalam perjanjian baru. Ajaran-ajaran etika tentang kewajiban terhadap umat datangnya dari filsafat Yunani, dan ajaran-ajaran Romawi, bukan ajaran Masehi. Begitu pula juga etika pribadi tentang keluhuran jiwa, ketinggian budi, ini semua datangnya dari pendidikan di luar Gereja, karena dalam Gereja yang ada hanya ajaran untuk tunduk dan menyerah.”

Revolusi Perancis ditandai dengan pemenggalan Raja, para bangsawan dan para agamawan dengan pisau Guillotine

Disamping itu, kehidupan para pembesar agama yang mengumpulkan harta benda dan kekayaan, tanah-tanah dan rumah-rumah telah dirasakan pedih oleh rakyat Eropa, sehingga kita mengetahui dalam sejarah dua slogan dalam revolusi. Revolusi Perancis: “Gantung Raja yang terakhir dengan usus pendeta terakhir.” Sedang dalam Revolusi Oktober (Rusia) Lenin maju dengan slogan:  “Agama adalah candu bagi rakyat.”

Akibatnya orang-orang Perancis khususnya Voltaire (1694-1778) memuja akal sebagai sesuatu yang mutlak, iman dan rasa keagamaan bertambah kosong dan suram sehingga menjadi seorang atheis menjadi sebuah kebanggaan.

Dalam alam pikiran, Eropa baru yang modern muncul seorang filosof Rene Descartes (1596-1650) di Perancis yang bersikap rasionalis dan Francis Bacon (1561-1626) di Inggris dengan metode eksperimental. Kedua orang itu mencoba menciptakan jalan kearah menciptakan kebahagiaan bagi rakyat. Puncak pengaruh dua pemikir tersebut muncullah August Compte (1778-1857) di Perancis dengan pemikiran positivisme yang menganggap periode teknik dalam sejarah manusia adalah periode tertinggi sedang tingkatan keagamaan merupakan tingkatan terendah dan tingkatan metafisik merupakan tingkatan kedua.

Pada abad ke-19, Barat semakin jauh dari agama. Ludwig Feurbach (1804-1872) murid Compte kemudian menjadi penghubung antara Hegel (1770-1831) dengan Karl Marx (1818-1883). Dalam perkembangan Eropa, terdapat tiga nama penting yaitu : Charles Darwin (1809-1882), Karl Marx (1818-1883) dan Sigmund Freud (1856-1939).

Darwin menggambarkan manusia berasal dari binatang rendah, berevolusi, berkembang menjadi manusia. Freud memberi tafsiran bahwa pendorong manusia berkembang dalam pikiran dan fisik adalah naluri sex. Dan Marx mengatakan bahwa tujuan manusia adalah berkembang dalam kepuasan material, ekonomi adalah dasar dari pikiran, kebudayaan dan moralitas.

Terakhir, munculnya pragmatism yang dikembangkan John Dewey di Amerika Serikat yang pokok pikirannya mengatakan bahwa yang paling berfaedah untuk kehidupan duniawi adalah materil.

Sejak abad ke-19 mungkin di Eropa dan Amerika, agama Kristen masih tetap berpengaruh di masyarakat. Beragam partai politik dengan nama Kristen protestan atau katolik seperti di Belanda, Belgia, Perancis, Italia dan Jerman. Juga organisasi misionaris yang menjadi penyebar agama Kristen keseluruh dunia dibekali keuangan berlimpah. Abul Hasan al Nadawy seorang pemikir dari India mengatakan: “Segala yang ada hanyalah sisa-sisa lembaga gereja dan bukan ajaran yang terdapat dalam perjanjian lama dan perjanjian baru.”

Jika kita selidiki sejarah benua Eropa maka menjadi jelas bagi kita bahwa dasar dari kebudayaan Barat adalah sekularisme, kepercayaan mutlak pada akal. Akibatnya adalah profanisasi berbagai bidang kehidupan, yang bersifat ekonomi, masyarakat, Negara atau keluarga. Manusia telah dijadikan sebagai yang menguasai segalanya. Orang-orang berbicara mengenai hak tapi tidak membicarakan kewajiban manusia. Dengan begitu timbullah individualis, yang kemudian terjadi kerap kepentingannya bentrok dengan masyarakat.

Ekonomi adalah untuk mencari keuntungan, apakah bertentangan dengan nilai-nilai moral adalah soal lain. Hubungan antara pria dan wanita dasarnya adalah rasa suka sama suka, tidak ada aturan tegas. Moral selalu dalam perkembangan, yang baik pada suatu masa menjadi tidak baik pada masa lain, begitupula sebaliknya.

Dalam bernegara, dianut secara praktek walau secara resmi tidak diakui adalah berpolitik ala Machiavelli (1469-1527), memecah belah agar berkuasa. Kekuasaan adalah tujuan tertinggi, agama adalah kebudayaan. Suatu kebudayaan adalah suatu hal yang timbul dalam tiap masyarakat seperti dikatakan Durkheim, tidak memiliki sifat mutlak atau ultima.

Sekulerisme dalam filsafat, kekosongan dalam kehidupan keagamaan disertai dengan kapitalisme ekonomi, sehingga muncul reaksi. Dalam bentuk Komunisme.

Kelahiran Komunisme

Kemunculan komunisme karena tidak ada keadilan dalam masyarakat yang diakibatkan kekejaman penguasa dan hartawan. Penganjurnya bukanlah kaum buruh, bodoh melainkan orang pandai serta pengusaha yang ingin keadilan dan membela kaum buruh, tetapi mereka tidak pernah menikmati cahaya Al-quran.

Eksploitasi Para Buruh oleh Para pemilik modal (Kapitalisme) melahirkan Komunisme

Marxisme terdiri dari 3 unsur :

  1. Filsafat Dialektik yang diambil dari Hegel akan tetapi dimodifikasi menjadi Dialektikal Materialisme, sehingga muncul apa yang dinamakan “Historical Materialism” atau Materialisme Sejarah;
  2. Sistem ekonomi tertentu, diantaranya bagian-bagian yang terpenting adalah gagasan nilai yang terdapat dalam kerja, dalam ekonomi liberal dinamakan nilai keuntungan (surplus value);
  3. Ketatanegaraan dan revolusi.

Unsur pertama adanya dialektik memang pada umumnya benar, walaupun contoh dialektik Hegel bahwa feodalisme dilawan oleh kapitalisme kemudian menjadi sosialisme adalah contoh yang arbitraire. Materialisme menjadi sangat penting dalam Marxisme, yang ada adalah yang nyata. Benda adalah wujud yang lebih dahulu, barulah pikiran kita terhadap benda tersebut.

Adapun mengenai Hictorical Materialism dapat dijelaskan dengan dua premis;

  1. Sebab-sebab ekonomi sangat penting dan fundamental;
  2. Sebab-sebab tersebut menjalankan peranannya menurut principle dialectic.

Marxisme menerangkan gagasan yang pertama dengan menyatakan faktor produksi serta hubungan sosial yang timbul sebagai akibatnya merupakan substructure (onder bow) yang pokok. Segala manifestasi jiwa manusia dalam beragama, bahkan kebudayaan hanya merupakan substructure nomor dua. Dengan kata lain, jiwa dan manifestasinya ditentukan oleh Faktor Ekonomi.

Dasar filsafat Marxisme tentu saja bertentangan dengan Islam, tapi telah menunjukkan suatu gejala yang riil. Bangsa yang lemah ekonominya membiarkan berbagai pengaruh kebudayaan, agama, memasukinya sehingga suatu waktu mendapat Negara tersebut kehilangan kekuatan batinnya. Adapun mengenai unsur ekonomi, nilai yang terdapat pada kerja, telah terbukti banyak kesalahannya hanya merupakan propaganda untuk mempengaruhi kaum buruh. Yang paling berbahaya adalah unsur ketiga yaitu teori tentang Negara dan revolusi. Kaum komunis adalah sebuah mesin bagi suatu lapisan masyarakat untuk menindas lapisan yang lain.

Untuk mencapai kekuasaan mereka memakai segala upaya termasuk kekerasan dan kekejaman. Memang Engels berkata ia menolak tiap-tiap dogma moral yang bersifat abadi (eternal), mutlak (ultimate), karena moral adalah suatu hasil dari tingkatan ekonomi pada suatu masa.

Pada masa perang dingin, liberalisme dan komunisme merupakan dua kekuatan besar yang berhadapan dan saling mencari kelemahan satu sama lain. Akan tetapi perbedaan mereka sebenarnya hanya terletak dalam dua hal :

  1. Sistem sekuler liberal menjalankan pemerintahan dengan demokratis disatu sisi sedang sistem komunis menekan kebebasan berbicara dan berpikir;
  2. Sistem sekuler liberal mencari keuntungan sebesar-besarnya dan sistem komunis untuk memenuhi hajat masyarakat dengan tidak peduli dengan keinginan perseorangan.

Komunisme telah runtuh dimana-mana, Uni Soviet sebagai pimpinan telah bubar. Sedang China sudah membuka diri dalam sstem ekonomi. Dan masyarakat tanpa kelas belum dan tak akan pernah tercapai. Disisi lain, sistem sekuler liberal dengan sistem demokratis yang kita hargai dan tiru untuk mengambil contoh kebaikan yang dimiliki dalam keadaan rohani, dan tata cara hidup sangat labil. Individualisme dan materialisme mendorong manusia untuk mengukur sesama dengan harta yang dimiliki. Semua itu menimbulkan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, yang berpunya dan tidak punya dan akhirnya terjadi adalah penimbunan kekayaan ditangan sebuah kelompok kecil.

Muslim Indonesia dalam perkembangan zaman

Kita bangsa Indonesia merasa sangat bahagia memiliki Islam, agama yang diturunkan Allah S.W.T kepada manusia sebagai pegangan hidup. Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad S.A.W tidak hanya mengatur hubungan manusia dan Allah semata (Vertikal), tetapi juga mengatur hubungan antar manusia bahkan antar bangsa (Horizontal).

Dalam bersikap kepada sesama manusia seorang muslim harus menjunjung akhlak mulia dengan saling menghargai, dalam hubungan ekonomi seorang muslim juga seharusnya menjadi pribadi yang tidak serakah. Zakat adalah sebuah revolusi sosial dengan memberikan sebahagian harta secara sukarela terhadap mereka yang tidak punya. Arti ibadah selain hubungan antara manusia dan Tuhan, tetapi juga terkait dengan ibadah yang juga ada sangkut paut dengan masyarakat.

Musyawarah dengan tujuan mencari kebenaran dan kemaslahatan bukan dengan paksaan atau tekanan atau cara-cara lain yang bertentangan dengan kemerdekan berpikir.

Dengan petunjuk Islam, kita membangun tanah air kita sebaik-baiknya, untuk kepentingan semua. Dengan agama kita dapat mempertahankan diri kita sebagai bangsa dan tanah air kita sebagai sebuah kediaman yang dianugerahkan Allah S.W.T kepada kita semua.

XXX

Baca juga: Sepak Terjang Partai Komunis Indonesia Di Aceh;

Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , | 16 Comments

BULAN DAN BINTANG

Tengelam dalam kemesraan sepanjang masa. Abadi selamanya.

BULAN DAN BINTANG

 

Setangkai mawar biaskan lembayung

Indah merekah harum mewangi

Seiring kenangan akan impian

Akan dirimu di sisiku

 

Kuingin rasa ini selamanya

Layaknya bulan dan bintang

Tengelam dalam kemesraan sepanjang masa

Abadi selamanya

 

                                                                              Banda Aceh, Februari 2001

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

THE UNTOLD STORY ABOUT HISTORY OF THE COMMUNIST PARTY OF INDONESIA IN ACEH PROVINCE

Thaib Adamy when answering questions from the judges at the Sigli District Court trial led by Judge Chudari in 1963.

THE UNTOLD STORY ABOUT HISTORY OF THE COMMUNIST PARTY OF INDONESIA IN ACEH PROVINCE

History of the Communist Party of Indonesia in Aceh

Currently, the existence of the Communist Party of Indonesia (PKI) in Aceh is no longer known by the people. Even if someone hears the story is only from living witnesses who mostly choose silence and do not want to tell stories. Apparently, in Aceh, there is a book written by Thaib Adamy who was then served as First Deputy Secretary in Committee PKI Aceh in the era of 1960s. A book entitled ‘Atjeh Mendakwa’ (Aceh Lawsuit) which tells of his defense in court at the Sigli District Court on 12 September 1963. Thaib Adamy was tried for his alleged involvement in all revolutionary activities in the PKI organization. The book was written directly by Thaib Adamy who was then posted in 1964 by the PKI Aceh Committee.

Some of the crowd who attended Thaib Adamy’s trial from outside the Sigli District Court building in 1963.

The accusations that made Thaib Adamy punished the law until criminalized due to his political speech that invites to fight for revolution in Indonesia. Thaib Adamy mentions the enemy of the poor is the ongoing system of capitalism in the State of Indonesia and also in the province of Aceh at that time.

It was Thaib Adamy who was the First Deputy Secretary of the PKI Aceh Committee. He was also a member of the Aceh Provincial People’s Legislative Assembly from the PKI faction, giving a political oration at the PKI general meeting on March 3, 1963, in Sigli. It was on this basis that the Sigli District Court accused Thaib Adamy of provocation and propaganda that led to riots.

Thaib Adamy who is the First Deputy Secretary of the PKI Aceh Committee. He is also a member of the House of Representatives (DPRGR) of Aceh Province from the fraction of the Indonesian Communist Party.

In his speech, the most familiar and widely quoted utterances by the media and other writers are: “If the PRRI leaders, Permesta and DI/TII who are already violating the Indonesian government with violence, destroying buildings and so on even resulted in the loss of tens of thousands of people’s lives are not punished, is it fair that I am blamed and punished for revolutionary activities, and the revolution reinforced the Manipol by wiping out capitalist counter-revolution, bureaucrats, and treachery of state property?” said he who was greeted with applause from the masses who attended the trial.

On September 16, 1963, the Sigli District Court, led by Chudari judge, sentenced him to two years in prison on Thaib Adamy who was still representing the PKI at the Aceh Provincial Parliament at that time.

This book is presented to provide accurate historical data, linked to the history of the PKI in Aceh where the entire library in Aceh is not found at all according to the author’s search.

Introduction to the Book ATJEH MENDAKWA (Aceh Lawsuit) by Muhammad Samikidin First Secretary of the PKI Aceh Committee / Member of Central Committee of the Communist Party of Indonesia)

Buku Atjeh Mendakwa

The Book ATJEH MENDAKWA (Aceh Lawsuit) by Thaib Adamy

There has never been a political case in Aceh that has received so much attention from the masses. Since the news of the arrest of Comrade Thaib Adamy was announced to the masses through the Statement of the PKI Aceh Committee of April 5, 1963 entitled: Go Ahead, with the Spirit of Vivere peri coloso extend all Challenges and the following statements that expose the arrest, until the case was heard by the Sigli District Court for 6 sessions, where each session was between 5,000 and 10,000 people, especially when Comrade Thaib Adamy read his five-and-a-half hour advocate (not allowed to drink) followed by the mass of the People. The publication of this brochure is in line with the demands of the period and furthermore greatly contributes to the development of the Party and the revolutionary movement in the Aceh region and further enhances the understanding of the People why the hypocrites and bureaucratic capitalists should be destroyed.

History of the Communist Party of Indonesia in Aceh

At the beginning of the independence of the Republic of Indonesia, PKI and Ulama (PUSA) had a common enemy: the uleebalangs (old nobles), though not all generalized. There are also uleebalangs who join in PUSA. It’s like a Samadikin speech that does not disguise the uleebalangs as their enemy. However, in general, they have a common interest: the overthrow of uleebalang power, The Cumbok War. History then records that momentum is the turning point for social status change in Aceh.

The relationship based on mutual interests then cracked when some of the ulama took up arms against the Indonesian government. At this stage, the PKI actually supported the army and the Indonesian government. Instead, PUSA is in a position to face the Indonesian army.

When Abu Beureueh and his friends decided to descend the mountain in 1962, three years before the eruption of the generals later called the G30S PKI, the relationship between the army and ulama began again. Military Commander in Aceh at that time was Colonel Mohammad Jasin who ordered the arrest of Thaib Adamy, began to build harmonious relations with PUSA leadership Abu Beureueh.

The destruction of the Communist Party in Aceh

The catastrophe for the PKI took place after the G30S. The clerics and the army agreed to muzzle the PKI. Ali Hasjmy in a book written, two months after the G30S, the scholars held a deliberation entitled Ulama Consultative Assembly as the Region of Aceh. The deliberation that took place in Banda Aceh was led by the great clerics Teungku Abdullah Ujong Rimba. The meeting gave birth to a fatwa forbidding communist teachings in Aceh. Mentioned: “The mobilizers, pioneers, and executors of G30S are the infidel evil that must be eradicated.”

The clerical council was not born by itself. Is Isaac Juarsa (the successor of Mohammad Jasin), Pangdam Iskandar Muda as War Ruler for Aceh Region who asked for an Islamic legal opinion on G30S.

The clerical council was not born by itself. Is Isaac Juarsa (the successor of Mohammad Jasin), as War Ruler for the Aceh Region who asked for an Islamic legal opinion on G30S. As a result, on December 17-18, 1965, 56 religious scholars gathered together in Aceh. It was the clerics who issued their legal appeal to dissolve the PKI and issue a martyr’s fatwa for those killed in the G30S crackdown. Got the legitimacy of ulama, the next day, on 19 December 1965, Commander of Kodam I Iskandarmuda announced the dissolution of the PKI in Aceh.

What happened next, a massacre that was too bitter to be remembered. If during the Cumbok War (the Civil War in Aceh against the old nobles in 1946) the PKI had the same interests as the clerics, in 1965 the history of recording the clerics and the army alienated the PKI. Thousands of lives flew back. Without the trial, without proof. And the PKI was destroyed to the roots of Aceh.

The fate of the Communist Party in Aceh after the G30S PKI

Since 5 October 1965 in Banda Aceh and other cities in Aceh there have been demonstrations from the Indonesian Nationalist Party (Haji Syamaun), students, mass organizations. By saying Allahu Akbar, they demanded the dissolution of the PKI. The PKI office was ransacked. The night was the kidnapping and murder of members and onderbouw PKI and Baperki.

On December 16, 1965, the Aceh Ulama Council held a fatwa of law communism, kafir, and haram (as mentioned above). By Pangdam I / Iskandar Muda as Pepelrada for Kodim 0101 / Territorial Military Command (Banda Aceh city and Aceh Besar regency at that time) as Kosekhan was ordered to form a Screening Team to research and process PKI members and mass organizations. The Screening team can determine whether or not they are involved in G 30 S. With this team, illegal actions by youth or CSOs can be avoided to make decisions on suspected PKI members and CBOs.

The Team Leader of Kosekhan 0101 was held by the Dandim (District Military Command), vice Captain Drs. M. Syah Asyik, members of Lieutenant T.M. Jalil, Lieutenant M. Daud Musa (CPM), Peltu Syamsuddin (CPM), Suherman, A. Mukti, Syamsuddin (from the Police), Sudarman from the State Prosecutor and Said Abubakar from the Political and Security Bureau. His office was in the building of Baperki (now Junior High School in Peunayong Banda Aceh), then moved to the Kodim 0101 office in Sultan Mahmudsyah street. In addition, members of the PKI and their mass organizations from Sabang Municipality were also taken to Banda Aceh to be selected or not involved.

Secretary and deputy secretary of the Central Committee of the PKI Aceh, Muhammad Samidikin and Thaib Adamy, as well as some members of the PKI and its mass organizations as well as those considered by the PKI, have been killed. Thaib Adamy when he was beheaded he asked to be greeted to Bung Karno and shouted Long Life Bung Karno. Chairman of Gerwani (PKI Feminist Organization), Chairman of Pemuda Rakyat (PKI Youth Organization), member of CGMI (PKI Student Organization), chairman of Baperki (Organization of Chinese descent in Indonesia, onderbow PKI) and others have been executed by youth mass. The special bureau of Nyak Amat is brought to justice. The family (wife and children of M. Samidikin) by Kosekhan (Team Screening) escorted by train was escorted safely to his village in Tanjungpura, North Sumatra. There were 1 children who were killed by the masses, like a 14-year-old son of Thaib Adamy. Likewise, Kasan Siregar, the former chairman of the PKI also died for execution. Whereas Kasan Siregar as keuchik (Village Head) Kampung Baru, Banda Aceh is a frequent prayer to the Baiturrahman Mosque of Banda Aceh. There were also PKI activists who fled outside Aceh such as Cut Husin, K. Ampio, and Lim Ka Kee.

Cleansing of PKI elements until 1966 continues to be done, but it turns out that in some agencies and services as well as the security forces themselves allegedly there are still elements of the PKI and its sympathizers. Seeing this the student activists of Syiah Kuala University again tried to hold a buzz. This time they did not fly through the leaflet, but they tried through an illegal radio transmitter. Some youths from the Indonesian Youth Action Union (KAPPI) and Indonesian Student Action Union (KAMI) such as Mansyur Amin, Nurdin AR (former Pidie Regent), Let Bugeh and T. Syarief Alamuddin requested that Tjut Sofyan lend his radio equipment. Then came the radio Hanura (People’s Conscience Heart) which airs above the deck of the former kingpin Baperki who has taken the masses, began to accuse one by one PKI elements who are still entrenched in the local government and the security forces. Finally, after a few weeks, the dark radio began broadcasting people and sympathizers in the security service and the security apparatus, even though the activists were being chased by the security apparatus.

From some informants, it can be seen that the executors of the PKI activists, their mass organizations, and those “considered” PKI among them are known from the “thugs” like in Banda Aceh known Rami Plang and Mr. Saleh. But in its development both executor is finally “removed” also by OTK (unknown person). The famous execution place around Banda Aceh at that time was Mon Bengal in Indrapuri area and Ie Seum area of Krueng Raya. For the area in Meulaboh (Capital of West Aceh Regency) a place well known as the execution site is Rantau Kepala Gajah, Kuala Trang.

The purge of PKI activists was not limited to Banda Aceh alone, but also elsewhere in Aceh. In Pidie District, as in other parts of Aceh, the population moves massively. They consist of political parties, ordinary people, youth students while the security apparatus controls just so as not to happen things that do not violate the law. The spontaneous movement of the Pidie community took place on 6 October 1965 after it was determined that the PKI was behind G 30 S. At that time, spearheaded the NU, PNI, PSII party with youth and students and the community, thousands of people gathered at the Grand Mosque of Sigli. From there it was the first time that the mass of the mob was moving to destroy the PKI headquarters in Kuala Pidie and Baperki’s office in the city of Sigli. The houses that were known to belong to the PKI in some places were ransacked by the masses so that they were destroyed.

In some other areas of Aceh, the cleansing movement of PKI activists also took place. In Meulaboh (West Aceh) the PKI office was ransacked by a mob of rampaging youth and many activists were executed. This PKI activist execution event is not a secret anymore if it happens in Aceh. Similar things happen in Southeast Aceh, Central Aceh, South Aceh, and East Aceh. In December 1965 Aceh was declared free from the influence of Communism.

Translate From: ATJEH MENDAKWA 

XXX

About Aceh:

  1. CUMBOK WAR, A SOCIAL REVOLUTION IN ACEH (1946-1947); 8 April 2017;
  2. CIVILIZATION WITHOUT WRITING; 13 April 2017;
  3. ACEH THE FIRST SOVEREIGN COUNTRY TO RECOGNIZING THE INDEPENDENCE OF THE NETHERLANDS; 27 April 2017;
  4. VISITING THE EXHIBITION ACEH TOMBSTONE AS AN ISLAMIC CULTURAL HERITAGE IN SOUTH-EAST ASIA; 16 May 2017;
  5. DUTCH RAID OPERATION AGAINST CUT MEUTIA (1910); 20 May 2017;
  6. SAMUDERA PASAI AS THE FIRST ISLAMIC KINGDOM IN SOUTHEAST ASIA; 6 June 2017;
  7. ISLAMIC SHARIAH WHO IS AFRAID, A CASE STUDY IN ACEH; 13 June 2017;
  8. ACEH WOMEN FULL POWER; 13 June 2017;
  9. DUSK IN MALACCA; 4 July 2017;
  10. GOLD, INFIDELS, AND DEATH; 10 July 2017;
  11. MANTE THE LOST PYGMY TRIBE; 13 July 2017;
  12. HOW TO TELL HISTORY; 14 August 2017;
  13. THE ORIGIN OF THE COFFEE CULTURE IN ACEH; 19 August 2017;
  14. WHEN CRITICISM IS FORBIDDEN; 14 October 2017;
  15. EXPLOITATION OF NATURAL RESOURCES, WHAT IS IT GOOD FOR ACEH; 5 November 2017;
  16. PEUCUT KHERKOFF, ACEH-DUTCH WAR MONUMENT; 12 November 2017;
  17. THE PRICE OF FREEDOM; 5 December 2017;
  18. ACEH CRAZY OR ACEH PUNGO; 25 February 2018;
  19. MARSOSE CORPS, THE DUTCH SPECIAL ARMY DURING ACEH WAR; 19 March 2018;
  20. ISLAMIC POLITICS BY SNOUCK HURGRONJE AS ADVICE TO DUTCH INDIES GOVERNMENT TO REDUCE ISLAM POWER IN INDONESIA; 9 July 2018;
Posted in History, International, Literature, Opinion, Reportase, Review, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 27 Comments

NASIB PARA PION

Pion adalah prajurit, dalam kisah apapun nasibnya tidak dituliskan. Sebagaimana sejarah sedikit menulis keberadaan orang-orang kecil.

NASIB PARA PION

Bidak berseragam hitam dan putih menantap laga dengan semangat membara. Dalam seluruh permainan mereka paling banyak, posisinya ditempatkan digaris depan, bisa hitam bisa putih. Maju selangkah demi selangkah menyongsong lawan. Dalam langkah pertama ia dapat maju 2 langkah dan tidak ada yang menghambat jalan ini. Selanjutnya adalah jalan terjal yang penuh bau anyir darah. Ia, yang tak bisa mundur, terus maju walau maut menanti. Tujuannya satu menjadi perwira, hasil sebuah perjuangan.

Didepan pertempuran tentu sulit, dalam langkah terbatas ia menyerang hanya dengan menyilang. Selebihnya menunggu mati, satu demi satu. Dalam pertarungan yang katanya adil namun juga sebenarnya tak adil. Ia sering kali dijadikan tameng atau korban dalam pertempuran.

Ia yang harus tahu diri, harus siap disekolahkan menjadi perwira menengah sekaligus melindungi raja atau membuka jalan bagi sekolah bidak yang lain. Ia bisa mendapat promosi bila mencapai kotak terakhir di sisi lawan, sesuatu yang harapannya terjangkau tapi hanya keajaiban mampu meraihnya. Ia bisa mengantikan para perwira yang terlebih dahulu dilumat lawan, kecuali raja. Dalam teori kemungkinan, kematian adalah sebuah keniscayaan daripada kemampuan menjadi perwira.

Maka harusnya ia bergiat tanpa pamrih, ditempa oleh banyak hal. Menjadi pionir bukan lagi soal rasa diri tapi hasil yang lebih besar, kemenangan. Maka hanya sebuah kepuasaan batin harusnya bagi dia lebih dari cukup. Bidak adalah daun-daun kering yang berguguran yang kematiannya memberi jalan bagi daun-daun muda segar dapat hidup.

Pion adalah prajurit, dalam kisah apapun nasibnya tidak dituliskan. Sebagaimana sejarah sedikit menulis keberadaan orang-orang kecil. Tapi mereka adalah jiwa permainan catur, dengan segala kemampuan terbatas, bidak sering menentukan sifat dan hasil permainan. Untuk kemudian dilupakan.

Katalog Oase:

  1. Raja Hati Vs Perdana Menteri Otak; 3 Agustus 2008
  2. Hari yang Indah; 4 Agustus 2008
  3. Bidadari Fakta atau Fiksi; 12 September 2008
  4. Tafsir Sang Penafsir; 19 September 2008
  5. Pahamilah Apakah Hidup Dalam Diri Manusia; 22 September 2008
  6. Topeng; 9 Oktober 2008
  7. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  8. Terima Kasih Telah Menolakku Kemarin; 34 November 2008;
  9. Melebihi Keangkuhan Iblis; 5 Desember 2008;
  10. Malam Yang Tertaklukkan; 10 Desember 2008;
  11. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  12. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  13. Kehidupan Yang Terkadang Paradoks; 30 Januari 2009;
  14. Hantu; 20 Februari 2009;
  15. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

HOPE FOR PEACE

Teachers and students “beg” peaceful settlement of the Aceh conflict to President Megawati as the Republic of Indonesia (2001)

HOPE FOR PEACE

 

This loneliness has no meaning

Enter into soul and languish

 

I do not know what will happen

Today, tomorrow and so on

I fell in loneliness and fear

 

Gunshots repeatedly occurred

Cries of children who lost their parents

All froze at heart

Has brought destruction

 

O God, in Your name

In this silence I prostrate

Expect Your hand stretched out

Touching all of us

 

Banda Aceh, Tuesday, June 15, 1999

A Poem was written when the Aceh conflict is at its peak. In every war that suffers most, the most miserable are weak and helpless.

Translate From: Harap Damai

    Posted in International, Poetry, Reportase, Review, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

    SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH

    Sebuah grafiti di sebuah tembok kota langsa Aceh medio 2000-an.
    Partai Komunis Indonesia sempat mengecap kejayaan di Aceh pada zaman Nasakom.

    SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH

    Latar Belakang Kondisi tahun 1960-an

    Saat ini keberadaan Partai Komunis Indonesia di Aceh tidak lagi diketahui oleh orang banyak. Kalaupun ada yang mendengar kisah dari mulut ke mulut hanyalah saksi hidup yang memilih bungkam dan tidak mau bercerita. Ternyata di Aceh ada sebuah buku yang dituliskan oleh Thaib Adamy yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Sekretaris Pertama di Comitte PKI Aceh pada era 1960-an. sebuah buku yang berjudul ‘Atjeh Mendakwa’ yang menceritakan tentang pembelaannya dalam persidangan di Pengadilan Negeri Sigli pada tanggal 12 September 1963. Thaib Adamy disidangkan atas tuduhan keterlibatannya dalam segala kegiatan revolusioner di organisasi PKI. Buku itu dituliskan langsung oleh Thaib Adamy yang kemudian dibukukan pada tahun 1964 oleh Komite PKI Aceh.

    Thaib Adamy ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan para hakim pada persidangan Pengadilan Negeri Sigli yang dipimpin oleh hakim Chudari tahun 1963.

    Tuduhan yang membuat Thaib Adamy dijerat hukum sampai dipidanakan akibat orasi politiknya yang mengajak untuk berjuang melakukan revolusi di Indonesia. Thaib Adamy menyebutkan musuh rakyat miskin adalah sistem kapitalisme yang sedang berlangsung di Negara Indonesia dan juga Aceh pada masa itu.

    Saat itu Thaib Adamy yang merupakan Wakil Sekretaris Pertama Comite PKI Aceh. Dia juga  anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) Aceh dari fraksi PKI, memberikan orasi politik dalam rapat umum PKI tanggal 3 Maret 1963 di Sigli. Atas dasar itulah Pengadilan Negeri Sigli menuduh Thaib Adamy melakukan provokasi dan propaganda yang menyebabkan terjadi kerusuhan.

    Dalam pledoinya, ucapan yang paling dikenal dan banyak dikutip oleh media dan penulis lainnya adalah: “Kalau pemimpin PRRI, Permesta dan DI/TII yang sudah terang melawan pemerintah RI dengan kekerasan, merusak bangunan-bangunan dan sebagainya bahkan sampai berakibat hilangnya puluhan ribu nyawa rakyat tidak dihukum, apakah adil kalau saya dipersalahkan dan dihukum karena melakukan aktivitas revolusioner, membela rakyat dan revolusi memperkuat Manipol dengan menggangjang kontra revolusi kapitalis, birokrat, pencoleng harta negara?” kata dia yang disambut dengan tepuk tangan massa yang menghadiri persidangan.

    Sebagian Massa yang mengikuti persidangan Thaib Adamy dari luar gedung Pengadilan Negeri Sigli tahun 1963.

    Tanggal 16 September 1963, Pengadilan Negeri Sigli yang dipimpin oleh hakim Chudari, menjatuhkan hukuman dua tahun penjara atas Thaib Adamy yang tercatat masih mewakili PKI di DPRD-GR Provinsi Daerah Istimewa Aceh pada waktu itu.

    Buku ini disajikan untuk memberikan data akurat sejarah, terkait dengan sejarah Partai Komunis Indonesia di Aceh dimana diseluruh perpustakaan yang ada di Aceh tidak ditemukan sama sekali menurut penelusuran penulis.

    Buku dapat diunduh : ATJEH MENDAKWA – THAIB ADAMY

    Sejarah Partai Komunis Indonesia di Aceh pada awal kemerdekaan

    Di awal kemerdekaan, PKI dan kaum ulama punya musuh bersama: kaum uleebalang, meski tak semua disamaratakan. Ada juga kaum uleebalang yang bergabung dalam PUSA. Ini sama seperti seperti pidato Samadikin yang tak menyamaratakan uleebalang sebagai musuh mereka. Namun, secara umum mereka punya kepentingan bersama: menjatuhkan kekuasaan uleebalang. Sejarah kemudian mencatat, momentum itulah yang menjadi titik balik perubahan status sosial di Aceh.

    Thaib Adamy, penulis buku “Atjeh Mendakwa” menjabat sebagai Wakil Sekretaris Pertama Committee PKI Aceh. Dia juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) Aceh dari fraksi PKI.

    Hubungan yang didasari kepentingan bersama itu kemudian retak ketika sebagian kaum ulama angkat senjata menentang pemerintah Indonesia. Pada tahap ini, PKI justru mendukung tentara dan pemerintah Indonesia. Sebaliknya, ulama PUSA berada pada posisi berhadap-hadapan dengan tentara Indonesia.

    Ketika Abu Beureueh dan kawan-kawan memutuskan turun gunung pada 1962, tiga tahun menjelang meletusnya penculikan para jenderal yang kelak disebut sebagai G30S PKI, hubungan tentara dan ulama mulai terjalin lagi. Pangdam saat itu Kolonel Jasin yang memerintahkan penangkapan Thaib Adamy, mulai membina hubungan harmonis dengan kaum ulama PUSA pimpinan Abu Beureueh.

    Artikel lain terkait : Komunisme Dalam Perspektif Muslim

    Kehancuran Partai Komunis Indonesia di Aceh

    Malapetaka bagi PKI terjadi setelah G30S. Kaum ulama dan tentara bersepakat memberangus PKI. Ali Hasjmy dalam sebuah bukunya menulis, dua bulan setelah G30S para ulama menggelar musyawarah yang bertajuk Musyawarah Alim Ulama se-Daerah Istimewa Aceh. Musyawarah yang berlangsung di Banda Aceh itu dipimpin ulama besar Teungku Abdullah Ujong Rimba. Pertemuan itu melahirkan fatwa mengharamkan ajaran komunis di Aceh. Disebutkan; “Penggerak, pelopor dan pelaksana G30S adalah kafir harbi yang wajib dibasmi.”

    Musyawarah kaum ulama itu tidak lahir dengan sendirinya. Adalah Ishak Juarsa, Pangdam Iskandar Muda selaku Penguasa Perang untuk Daerah Istimewa Aceh yang meminta pendapat hukum Islam mengenai G30S. Hasilnya, pada 17-18 Desember 1965 berkumpulah 56 alim ulama se-Aceh. Kaum ulama pulalah yang mengeluarkan seruan wajib hukumnya membubarkan PKI dan mengeluarkan fatwa mati syahid bagi mereka yang terbunuh dalam penumpasan G30S. Mendapat legitimasi ulama, besoknya, pada 19 Desember 1965, Panglima Kodam I Iskandar Muda mengumumkan pembubaran Partai Komunis Indonesia di Aceh.

    Yang terjadi berikutnya, pembantaian yang terlalu pahit untuk dikenang. Jika pada masa Perang Cumbok PKI punya kepentingan yang sama dengan kaum ulama, tahun 1965 sejarah mencatat kaum ulama dan tentara bersekutu mengganyang PKI. Ribuan nyawa kembali melayang. Tanpa pengadilan, tanpa pembuktian. Dan PKI pun musnah sampai ke akar-akarnya di Aceh.

    Nasib Partai Komunis Indonesia di Aceh setelah G30S PKI

    Sejak tanggal 5 Oktober 1965 di Banda Aceh dan kota lain di Aceh telah terjadi demonstrasi dari PNI (Haji Syamaun), para mahasiswa, organisasi massa. Dengan mengucapkan Allahu Akbar, mereka menuntut membubarkan PKI. Kantor PKI diobrak-abrik. Malamnya terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap anggota dan onderbouw PKI serta Baperki.

    Pada tanggal 16 Desember 1965 diadakan Musyawarah Ulama Aceh yang melahirkan fatwa komunisme hukumnya kufur dan haram (seperti telah disebutkan di atas). Oleh Pangdam I/Iskandar Muda selaku Pepelrada untuk Kodim 0101 (Kotamadya Banda Aceh dan Aceh Besar pada saat itu) selaku Kosekhan diperintahkan untuk membentuk Tim Secreening guna meneliti dan memproses para anggota PKI dan ormasnya. Tim Secreening dapat menentukan apakah mereka terlibat atau tidak dalam G 30 S. Dengan adanya tim ini telah dapat dihindarkan tindakan liar dari para pemuda atau Ormas untuk mengambil keputusan terhadap orang yang tersangka anggota PKI serta Ormasnya.

    Ketua Tim Secreening Kosekhan 0101 dipegang oleh Dandim sendiri, wakil Kapten Drs. M. Syah Asyik, anggota-anggota Letnan T.M. Jalil, Letnan M. Daud Musa (CPM), Peltu Syamsuddin (CPM), Suherman, A. Mukti, Syamsuddin (dari Kepolisian), Sudarman dari Kejaksaan Negeri dan Said Abubakar dari Biro Politik dan Keamanan. Kantornya berada di gedung Baperki (sekarang SMP 7 Peunayong Banda Aceh), kemudian dipindahkan ke kantor Kodim 0101 di Jalan Sultan Mahmudsyah. Selain itu, anggota PKI dan ormasnya dari Kotamadya Sabang juga dibawa ke Banda Aceh untuk diseleksi terlibat atau tidak.

    Sekretaris dan wakil sekretaris CC PKI Aceh, Muhammad Samidikin dan Thaib Adamy serta sejumlah anggota PKI dan ormas-ormasnya juga mereka yang diangggap PKI telah terbunuh. Thaib Adamy waktu akan dipancung dia minta disampaikan salam pada Bung Karno dan meneriakkan Hidup Bung Karno. Ketua Gerwani, Ketua Pemuda Rakyat, anggota CGMI, ketua Baperki dan lain-lainnya telah dieksekusi oleh massa pemuda. Biro khusus Nyak Amat diajukan ke pengadilan. Keluarga (istri dan anak-anak M. Samidikin) oleh Kosekhan (Tim Screening) dikawal melalui kereta api diantar dengan selamat ke kampungnya di Tanjungpura, Sumatra Utara. Ada 1 orang anak-anak yang dibunuh oleh massa, seperti anak dari Thaib Adamy yang berumur 14 tahun. Demikian juga Kasan Siregar, mantan ketua PKI juga menemui ajal karena dieksekusi. Padahal Kasan Siregar selaku keuchik Kampung Baru, Banda Aceh seorang yang sering shalat ke Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Terdapat juga aktivis PKI yang lari ke luar Aceh seperti Cut Husin, K. Ampio, dan Lim Ka Kee.

    Pembersihan-pembersihan terhadap anasir-anasir PKI hingga tahun 1966 terus dilakukan, tetapi ternyata di beberapa dinas dan jawatan serta ditubuh aparat keamanan sendiri disinyalir masih ada oknum PKI maupun simpatisannya. Melihat hal ini para aktivis mahasiswa Darussalam kembali mencoba mengadakan gebrakan. Kali ini gebrakan yang mereka lakukan bukan melalui selebaran, tetapi mereka coba melalui pemancar gelap. Beberapa pemuda dari kalangan Kesatuan Aksi Pemuda Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) seperti Mansyur Amin, Nurdin AR (mantan Bupati Pidie), Let Bugeh dan T. Syarief Alamuddin meminta agar Tjut Sofyan meminjamkan perangkat radio yang dimilikinya. Kemudian muncullah radio Hanura (Hati Nurani Rakyat) yang mengudara dan berstudio diatas dek rumah bekas gembong Baperki yang telah direbut massa, mulai menuding satu persatu oknum PKI yang masih bercokol di pemerintahan daerah dan ditubuh aparat keamanan. Akhirnya, setelah beberapa minggu radio gelap itu mengudara mulailah bercopotan oknum dan simpatisan di dinas dan jawatan serta aparat keamanan, meskipun para aktivis itu dikejar-kejar aparat keamanan.

    Dari beberapa informan dapat diketahui bahwa para eksekutor terhadap aktivis PKI, ormas-ormasnya, dan mereka “yang dianggap” PKI diantaranya ada yang dikenal dari kalangan “preman” seperti di Banda Aceh dikenal Rami Plang dan Tuan Saleh. Namun dalam perkembangannya kedua eksekutor ini pun akhirnya “disingkirkan” juga oleh OTK (orang tidak dikenal). Adapun tempat eksekusi yang terkenal di sekitar Banda Aceh pada waktu itu adalah Mon Benggali di daerah Indrapuri dan kawasan Ie Seum (air panas) Krueng Raya. Untuk daerah di Meulaboh (Aceh Barat) tempat yang cukup dikenal sebagai tempat eksekusi adalah Rantau kepala Gajah, Kuala Trang.

    Gerakan pembersihan aktivis-aktivis PKI tidak hanya terbatas di Banda Aceh saja, tetapi juga di daerah lain di Aceh. Di Kabupaten Pidie, seperti di daerah lain di Aceh, rakyat bergerak secara massa. Mereka terdiri dari partai politik, rakyat biasa, pemuda pelajar sedangkan aparat keamanan mengendalikan saja agar tidak terjadi hal-hal yang tidak melanggar hukum. Gerakan spontan dari masyarakat Pidie terjadi pada tanggal 6 Oktober 1965 setelah diketahui secara pasti bahwa PKI berada dibalik G 30 S. Saat itu, dipelopori partai NU, PNI, PSII bersama pemuda dan pelajar dan masyarakat, ribuan massa berkumpul di Mesjid Raya Sigli. Dari situlah pertama kalinya arus massa bergerak menghancurkan markas PKI di Kuala Pidie dan kantor Baperki di kota Sigli. Rumah-rumah yang dikenal kepunyaan tokoh PKI di beberapa tempat diobrak-abrik massa sehingga hancur lebur.

    Pada beberapa daerah lain di Aceh, gerakan pembersihan aktivis-aktivis PKI juga berlangsung. Di Meulaboh (Aceh Barat) kantor PKI diobrak-abrik oleh massa pemuda yang mengamuk dan para aktivisnya pun banyak yang dieksekusi. Peristiwa eksekusi aktivis PKI ini memang bukan rahasia lagi kalau terjadi di Aceh. Hal-hal serupa terjadi pula di Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Aceh Selatan, dan Aceh Timur. Pada bulan Desember 1965 Aceh dinyatakan bebas dari pengaruh Komunisme.

    XXX

    Artikel-artikel tentang Aceh:

    1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
    2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
    3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
    4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
    5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
    6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
    7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
    8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
    9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
    10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
    11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
    12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
    13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
    14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
    15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
    16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
    17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
    18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
    19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
    20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
    21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
    22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
    23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
    24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
    25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
    26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
    27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
    28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
    29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
    30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
    31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
    32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
    33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
    34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
    35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
    36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
    37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
    38. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
    39. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
    40. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
    41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
    42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
    43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
    44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
    45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
    46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
    47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
    48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
    49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
    50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
    51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
    52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
    53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
    54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
    55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
    56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
    57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
    58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
    59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
    Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Download, E-Book, Kolom, Opini, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 94 Comments

    ATJEH MENDAKWA SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS DI ACEH

    Buku Atjeh Mendakwa

    Buku Atjeh Mendakwa oleh Thaib Adamy. Sebagai Pidato pembelaan yang diucapkan didepan Pengadilan Negeri Sigli, 12 September 1963. Dibukukan dan diterbitkan oleh Comite PKI Atjeh tahun 1964.

    ATJEH MENDAKWA sebagai saksi sepak terjang Partai Komunis di Aceh

    ATJEH MENDAKWA (Pidato pembelaan yang diucapkan didepan Pengadilan Negeri Sigli, 12 September 1963) oleh Thaib Adamy; Penerbit Comite PKI Atjeh; tahun 1964.

    Free Download Buku ATJEH MENDAKWA oleh Thaib Adamy

    File pdf Buku Atjeh Mendakwa oleh Thaib Adamy dicetak oleh Comitee PKI Atjeh tahun 1964

    Latar Belakang buku ATJEH MENDAKWA (Pidato pembelaan yang diucapkan didepan Pengadilan Negeri Sigli, 12 September 1963) oleh Thaib Adamy

    Saat ini keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Aceh tidak lagi diketahui oleh orang banyak. Kalaupun ada yang mendengar kisah dari mulut ke mulut hanyalah saksi hidup yang memilih bungkam dan tidak mau bercerita. Ternyata di Aceh ada sebuah buku yang dituliskan oleh Thaib Adamy yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Sekretaris Pertama di Comitte PKI Aceh pada era 1960-an. sebuah buku yang berjudul ‘Atjeh Mendakwa’ yang menceritakan tentang pembelaannya dalam persidangan di Pengadilan Negeri Sigli pada tanggal 12 September 1963. Thaib Adamy disidangkan atas tuduhan keterlibatannya dalam segala kegiatan revolusioner di organisasi PKI. Buku itu dituliskan langsung oleh Thaib Adamy yang kemudian dibukukan pada tahun 1964 oleh Komite PKI Aceh.

    Tuduhan yang membuat Thaib Adamy dijerat hukum sampai dipidanakan akibat orasi politiknya yang mengajak untuk berjuang melakukan revolusi di Indonesia. Thaib Adamy menyebutkan musuh rakyat miskin adalah sistem kapitalisme yang sedang berlangsung di Negara Indonesia dan juga Aceh pada masa itu.

    Thaib Adamy ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan para hakim pada persidangan Pengadilan Negeri Sigli yang dipimpin oleh hakim Chudari tahun 1963.

    Saat itu Thaib Adamy yang merupakan Wakil Sekretaris Pertama Comite PKI Aceh. Dia juga  anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) Aceh dari fraksi PKI, memberikan orasi politik dalam rapat umum PKI tanggal 3 Maret 1963 di Sigli. Atas dasar itulah Pengadilan Negeri Sigli menuduh Thaib Adamy melakukan provokasi dan propaganda yang menyebabkan terjadi kerusuhan.

    Dalam pledoinya, ucapan yang paling dikenal dan banyak dikutip oleh media dan penulis lainnya adalah: “Kalau pemimpin PRRI, Permesta dan DI/TII yang sudah terang melawan pemerintah RI dengan kekerasan, merusak bangunan-bangunan dan sebagainya bahkan sampai berakibat hilangnya puluhan ribu nyawa rakyat tidak dihukum, apakah adil kalau saya dipersalahkan dan dihukum karena melakukan aktivitas revolusioner, membela rakyat dan revolusi memperkuat Manipol dengan menggangjang kontra revolusi kapitalis, birokrat, pencoleng harta negara?” kata dia yang disambut dengan tepuk tangan massa yang menghadiri persidangan.

    Sebagian Massa yang mengikuti persidangan Thaib Adamy dari luar gedung Pengadilan Negeri Sigli tahun 1963.

    Tanggal 16 September 1963, Pengadilan Negeri Sigli yang dipimpin oleh hakim Chudari, menjatuhkan hukuman dua tahun penjara atas Thaib Adamy yang tercatat masih mewakili PKI di DPRD-GR Provinsi Daerah Istimewa Aceh pada waktu itu.

    Buku ini disajikan untuk memberikan data akurat sejarah, terkait dengan sejarah PKI di Aceh dimana diseluruh perpustakaan yang ada di Aceh tidak ditemukan sama sekali menurut penelusuran penulis.

    Ringkasan Pengantar Buku “ATJEH MENDAKWA” oleh Muhammad Samikidin Sekretaris Pertama Comite PKI Aceh/Anggota CCPKI)

    Belum pernah perkara politik di Aceh yang mendapat perhatian begitu besarnya dari massa Rakyat. Sejak berita penangkapan Kawan Thaib Adamy diumumkan kepada massa Rakyat melalui Pernyataan Komite PKI Aceh tanggal 5 April 1963 jang berjudul: Madju Terus, dengan Semangat vivere peri coloso mengganjang segala Tantangan dan beberapa pernyataan berikut yang menelanjangi penangkapan itu, sampai kepada perkara ini disidangkan oleh Pengadilan Negeri Sigli sebanyak 6 kali Sidang, dimana tiap Sidang dihadiri antara 5.000 s/d 10.000 orang, teristimewa pada waktu Kawan Thaib Adamy membacakan pembelaanya selama 5 setengah jam (tidak dibenarkan minum air seteguk pun) diikuti dengan penuh perhatian oleh massa Rakyat. Diterbitkannya brosur ini adalah sesuai dengan tuntutan masa dan selanjutnya juga sangat membantu perkembangan Partai dan gerakan revolusioner didaerah Aceh serta lebih meningkatkan pengertian Rakyat mengapa kaum munafik dan kapitalis birokrat harus diganyang.

    Sejarah Partai Komunis Indonesia di Aceh

    Thaib Adamy, penulis buku “Atjeh Mendakwa” menjabat sebagai Wakil Sekretaris Pertama Committee PKI Aceh. Dia juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) Aceh dari fraksi PKI.

    Di awal kemerdekaan, PKI dan kaum ulama punya musuh bersama: kaum uleebalang, meski tak semua disamaratakan. Ada juga kaum uleebalang yang bergabung dalam PUSA. Ini sama seperti seperti pidato Samadikin yang tak menyamarakan uleebalang sebagai musuh mereka. Namun, secara umum mereka punya kepentingan bersama: menjatuhkan kekuasaan uleebalang. Sejarah kemudian mencatat, momentum itulah yang menjadi titik balik perubahan status sosial di Aceh.

    Hubungan yang didasari kepentingan bersama itu kemudian retak ketika sebagian kaum ulama angkat senjata menentang pemerintah Indonesia. Pada tahap ini, PKI justru mendukung tentara dan pemerintah Indonesia. Sebaliknya, ulama PUSA berada pada posisi berhadap-hadapan dengan tentara Indonesia.

    Ketika Abu Beureueh dan kawan-kawan memutuskan turun gunung pada 1962, tiga tahun menjelang meletusnya penculikan para jenderal yang kelak disebut sebagai G30S PKI, hubungan tentara dan ulama mulai terjalin lagi. Pangdam saat itu Kolonel Jasin yang memerintahkan penangkapan Thaib Adamy, mulai membina hubungan harmonis dengan kaum ulama PUSA pimpinan Abu Beureueh.

    Artikel lain terkait : Komunisme Dalam Perspektif Muslim

    Kehancuran Partai Komunis Indonesia di Aceh

    Sebuah grafiti di sebuah tembok kota langsa Aceh medio 2000-an.
    Partai Komunis Indonesia sempat mengecap kejayaan di Aceh pada zaman Nasakom.

    Malapetaka bagi PKI terjadi setelah G30S. Kaum ulama dan tentara bersepakat memberangus PKI. Ali Hasjmy dalam sebuah bukunya menulis, dua bulan setelah G30S para ulama menggelar musyawarah yang bertajuk Musyawarah Alim Ulama se-Daerah Istimewa Aceh. Musyawarah yang berlangsung di Banda Aceh itu dipimpin ulama besar Teungku Abdullah Ujong Rimba. Pertemuan itu melahirkan fatwa mengharamkan ajaran komunis di Aceh. Disebutkan; “Penggerak, pelopor dan pelaksana G30S adalah kafir harbi yang wajib dibasmi.”

    Musyawarah kaum ulama itu tidak lahir dengan sendirinya. Adalah Ishak Juarsa, Pangdam Iskandar Muda selaku Penguasa Perang untuk Daerah Istimewa Aceh yang meminta pendapat hukum Islam mengenai G30S. Hasilnya, pada 17-18 Desember 1965 berkumpulah 56 alim ulama se-Aceh. Kaum ulama pulalah yang mengeluarkan seruan wajib hukumnya membubarkan PKI dan mengeluarkan fatwa mati syahid bagi mereka yang terbunuh dalam penumpasan G30S. Mendapat legitimasi ulama, besoknya, pada 19 Desember 1965, Panglima Kodam I Iskandarmuda mengumumkan pembubaran PKI di Aceh.

    Yang terjadi berikutnya, pembantaian yang terlalu pahit untuk dikenang. Jika pada masa Perang Cumbok PKI punya kepentingan yang sama dengan kaum ulama, tahun 1965 sejarah mencatat kaum ulama dan tentara bersekutu mengganyang PKI. Ribuan nyawa kembali melayang. Tanpa pengadilan, tanpa pembuktian. Dan PKI pun musnah sampai ke akar-akarnya di Aceh.

    Nasib Partai Komunis Indonesia di Aceh setelah G30S PKI

    Sejak tanggal 5 Oktober 1965 di Banda Aceh dan kota lain di Aceh telah terjadi demonstrasi dari PNI (Haji Syamaun), para mahasiswa, organisasi massa. Dengan mengucapkan Allahu Akbar, mereka menuntut membubarkan PKI. Kantor PKI diobrak-abrik. Malamnya terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap anggota dan onderbouw PKI serta Baperki.

    Pada tanggal 16 Desember 1965 diadakan Musyawarah Ulama Aceh yang melahirkan fatwa komunisme hukumnya kufur dan haram (seperti telah disebutkan di atas). Oleh Pangdam I/Iskandar Muda selaku Pepelrada untuk Kodim 0101 (Kotamadya Banda Aceh dan Aceh Besar pada saat itu) selaku Kosekhan diperintahkan untuk membentuk Tim Secreening guna meneliti dan memproses para anggota PKI dan ormasnya. Tim Secreening dapat menentukan apakah mereka terlibat atau tidak dalam G 30 S. Dengan adanya tim ini telah dapat dihindarkan tindakan liar dari para pemuda atau Ormas untuk mengambil keputusan terhadap orang yang tersangka anggota PKI serta Ormasnya.

    Ketua Tim Secreening Kosekhan 0101 dipegang oleh Dandim sendiri, wakil Kapten Drs. M. Syah Asyik, anggota-anggota Letnan T.M. Jalil, Letnan M. Daud Musa (CPM), Peltu Syamsuddin (CPM), Suherman, A. Mukti, Syamsuddin (dari Kepolisian), Sudarman dari Kejaksaan Negeri dan Said Abubakar dari Biro Politik dan Keamanan. Kantornya berada di gedung Baperki (sekarang SMP 7 Peunayong Banda Aceh), kemudian dipindahkan ke kantor Kodim 0101 di Jalan Sultan Mahmudsyah. Selain itu, anggota PKI dan ormasnya dari Kotamadya Sabang juga dibawa ke Banda Aceh untuk diseleksi terlibat atau tidak.

    Sekretaris dan wakil sekretaris CC PKI Aceh, Muhammad Samidikin dan Thaib Adamy serta sejumlah anggota PKI dan ormas-ormasnya juga mereka yang diangggap PKI telah terbunuh. Thaib Adamy waktu akan dipancung dia minta disampaikan salam pada Bung Karno dan meneriakkan Hidup Bung Karno. Ketua Gerwani, Ketua Pemuda Rakyat, anggota CGMI, ketua Baperki dan lain-lainnya telah dieksekusi oleh massa pemuda. Biro khusus Nyak Amat diajukan ke pengadilan. Keluarga (istri dan anak-anak M. Samidikin) oleh Kosekhan (Tim Screening) dikawal melalui kereta api diantar dengan selamat ke kampungnya di Tanjungpura, Sumatra Utara. Ada 1 orang anak-anak yang dibunuh oleh massa, seperti anak dari Thaib Adamy yang berumur 14 tahun. Demikian juga Kasan Siregar, mantan ketua PKI juga menemui ajal karena dieksekusi. Padahal Kasan Siregar selaku keuchik Kampung Baru, Banda Aceh seorang yang sering shalat ke Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Terdapat juga aktivis PKI yang lari ke luar Aceh seperti Cut Husin, K. Ampio, dan Lim Ka Kee.

    Pembersihan-pembersihan terhadap anasir-anasir PKI hingga tahun 1966 terus dilakukan, tetapi ternyata di beberapa dinas dan jawatan serta ditubuh aparat keamanan sendiri disinyalir masih ada oknum PKI maupun simpatisannya. Melihat hal ini para aktivis mahasiswa Darussalam kembali mencoba mengadakan gebrakan. Kali ini gebrakan yang mereka lakukan bukan melalui selebaran, tetapi mereka coba melalui pemancar gelap. Beberapa pemuda dari kalangan Kesatuan Aksi Pemuda Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) seperti Mansyur Amin, Nurdin AR (mantan Bupati Pidie), Let Bugeh dan T. Syarief Alamuddin meminta agar Tjut Sofyan meminjamkan perangkat radio yang dimilikinya. Kemudian muncullah radio Hanura (Hati Nurani Rakyat) yang mengudara dan berstudio diatas dek rumah bekas gembong Baperki yang telah direbut massa, mulai menuding satu persatu oknum PKI yang masih bercokol di pemerintahan daerah dan ditubuh aparat keamanan. Akhirnya, setelah beberapa minggu radio gelap itu mengudara mulailah bercopotan oknum dan simpatisan di dinas dan jawatan serta aparat keamanan, meskipun para aktivis itu dikejar-kejar aparat keamanan.

    Dari beberapa informan dapat diketahui bahwa para eksekutor terhadap aktivis PKI, ormas-ormasnya, dan mereka “yang dianggap” PKI diantaranya ada yang dikenal dari kalangan “preman” seperti di Banda Aceh dikenal Rami Plang dan Tuan Saleh. Namun dalam perkembangannya kedua eksekutor ini pun akhirnya “disingkirkan” juga oleh OTK (orang tidak dikenal). Adapun tempat eksekusi yang terkenal di sekitar Banda Aceh pada waktu itu adalah Mon Benggali di daerah Indrapuri dan kawasan Ie Seum (air panas) Krueng Raya. Untuk daerah di Meulaboh (Aceh Barat) tempat yang cukup dikenal sebagai tempat eksekusi adalah Rantau kepala Gajah, Kuala Trang.

    Gerakan pembersihan aktivis-aktivis PKI tidak hanya terbatas di Banda Aceh saja, tetapi juga di daerah lain di Aceh. Di Kabupaten Pidie, seperti di daerah lain di Aceh, rakyat bergerak secara massa. Mereka terdiri dari partai politik, rakyat biasa, pemuda pelajar sedangkan aparat keamanan mengendalikan saja agar tidak terjadi hal-hal yang tidak melanggar hukum. Gerakan spontan dari masyarakat Pidie terjadi pada tanggal 6 Oktober 1965 setelah diketahui secara pasti bahwa PKI berada dibalik G 30 S. Saat itu, dipelopori partai NU, PNI, PSII bersama pemuda dan pelajar dan masyarakat, ribuan massa berkumpul di Mesjid Raya Sigli. Dari situlah pertama kalinya arus massa bergerak menghancurkan markas PKI di Kuala Pidie dan kantor Baperki di kota Sigli. Rumah-rumah yang dikenal kepunyaan tokoh PKI di beberapa tempat diobrak-abrik massa sehingga hancur lebur.

    Pada beberapa daerah lain di Aceh, gerakan pembersihan aktivis-aktivis PKI juga berlangsung. Di Meulaboh (Aceh Barat) kantor PKI diobrak-abrik oleh massa pemuda yang mengamuk dan para aktivisnya pun banyak yang dieksekusi. Peristiwa eksekusi aktivis PKI ini memang bukan rahasia lagi kalau terjadi di Aceh. Hal-hal serupa terjadi pula di Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Aceh Selatan, dan Aceh Timur. Pada bulan Desember 1965 Aceh dinyatakan bebas dari pengaruh Komunisme.

    XXX

    Artikel-artikel tentang Aceh:

    1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
    2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
    3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
    4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
    5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
    6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
    7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
    8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
    9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
    10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
    11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
    12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
    13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
    14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
    15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
    16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
    17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
    18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
    19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
    20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
    21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
    22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
    23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
    24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
    25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
    26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
    27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
    28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
    29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
    30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
    31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
    32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
    33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
    34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
    35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
    36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
    37. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
    38. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
    39. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
    40. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
    41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
    42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
    43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
    44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
    45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
    46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
    47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
    48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
    49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
    50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
    51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
    52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
    53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
    54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
    55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
    56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
    57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
    58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
    59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
    Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Download, E-Book, Kolom, Opini, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 125 Comments

    MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH

    MATA UANG EMAS Buku KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH; Oleh T. Ibrahim Alfian

    MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH

    MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH; Oleh T. Ibrahim Alfian; Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Daerah Istimewa Aceh; 1979.

    Free Download Buku MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH

    Mata Uang Emas Kerajaan Kerajaan di Aceh -T. Ibrahim Alfian -1979

    Review Buku MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH

    MATA UANG EMAS KERAJAAN ACEH DARUSSALAM

    Sejumlah mata uang emas dari kerajaan-kerajaan di Aceh yang lazim disebut Derham Aceh diketahui pernah menghiasi perjalanan sejarah negeri ini. Koleksi mata uang emas tersebut mempunyai nilai historis yang sangat tinggi sebagaimana telah dibuktikan oleh hasil penelitian H.K.J. Cowan, J. Hulshoff Pol dan lain-lain. Oleh karena itulah T. Ibrahim AIfian menyusun sebuah karangan mengenai numismatic (Koleksi mata uang) pada tahun 1979 untuk dapat menjadi pelajaran bagi kita dan generasi mendatang.

    Kerajaan Samudra Pasai, yang jejak-jejak peninggalannya masih ditemukan sekarang ini di Kecamatan Samudra Kabupaten Aceh Utara, merupakan kerajaan Islam pertama di kawasan ini yang mengeluarkan matauang emas. Dibawah Sultannya Muhammad Malik az-Zahir (1297 -1326) dikeluarkan mata uang emas yang sampai saat ini dianggap derham yang tertua. Kerajaan ini mulai berkembang sebagai pusat perdagangaan dan pusat pengembangan agama Islam di Selat Melaka pada akhir abad XIII M.

    Mata Uang Emas Kerajaan Samudera-Pasai Pada zaman Sultan Malik Az Zahir (1297-1326)

    Pada 1414 Parameswara, raja pertama Melaka mengadakan aliansi dengan Pasai, memeluk agama Islam dan menikahi puteri Pasai. Banyak pedagang-pedagang dari Pasai pergi ke Melaka dan bersamaan dengan itu memperkenalkan sistim penempaan mata uang emas ke Melaka.  Mata uang emas atau derham Pasai, garis tengahnya kurang lebih 10 mm, kecuali kepunyaan Sultan Zain al-Abidin (1383-1405) dan Sultan Abdullah (1500-1513), sedangkan derham kerajaan Aceh yang ditempa lebih dari dua abad sesudah dikeluarkannya mata uang emas Pasai, berkisar sekitar 12 sampai 14 mm.

    Ungkapan as-sultân al-Adil seperti yang terdapat pada bahagian belakang derham Pasai dipakai pula oleh sultan-sultan kerajaan Aceh Dar as-salam dari mulai Sultan Salah ad-Din (1405-1412) sampai dengan Sultan Ri’ayat Syah (1589-1604 M.), sedangkan sejak Sultan Iskandar Muda (1607 —1637 M.), kata-kata as-sultan al-Adil tidak lagi dipergunakan pada derham Aceh.

    Mata Uang Emas Kerajaan Aceh Darussalam zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636)

    Sangat menarik perhatian ungkapan raja yang adil itu terdapat juga pada mata uang di Semenanjung Tanah Melayu. Ungkapan as-sultân al-adil dapat dibaca pada mata uang Sultan Ahmad yang bertahta di Melaka pada 1510 dan baginda pulalah yang mempertahankan Melaka dari serangan Portugis. Pada bahagian belakang mata uang emas Kelantan-Patani, jenis-jenis kijang dan dinar matahari, terlukis kata-kata malik al-Adil yang juga bermakna raja yang adil. Demikian pula tulisan malik al-Adil ini dapat dilihat pada mata uang mas kerajaan Trengganu yang disebut pitis yang diketahui beredar pada 1838 di pesisir timur Semenanjung Tanah Melayu. Di Negeri Kedah pun pada mata uang Sultan Muhammad Jiwa Zainal Syah II (1710—1760) yang dinamakan kupang terdapat juga tulisan Adil Syah 1147, maksudnya raja yang adil, tahun 1734/5 M.

    Raja-raja di Pidie dan di Daya kemungkinan ada juga mengeluarkan mata uang emas. Apa lagi wilayah Pidie pernah menjadi tempat perdagangan yang ramai. Sayang bukti-bukti peninggalan berupa mata uang emas kerajaan Pidie belum lagi diperoleh.

    Artikel-artikel tentang Aceh:

    1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
    2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
    3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
    4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
    5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
    6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
    7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
    8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
    9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
    10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
    11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
    12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
    13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
    14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
    15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
    16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
    17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
    18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
    19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
    20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
    21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
    22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
    23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
    24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
    25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
    26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
    27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
    28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
    29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
    30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
    31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
    32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
    33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
    34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
    35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
    36. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
    37. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
    38. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
    39. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
    40. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
    41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
    42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
    43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
    44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
    45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
    46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
    47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
    48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
    49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
    50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
    51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
    52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
    53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
    54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
    55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
    56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
    57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
    58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
    59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
    Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Download, E-Book, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 109 Comments

    PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH

    PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH : Abad ke-13 Sampai Awal Abad ke-16; Oleh Muhammad Gade Ismail; Penyunting Susanto Zuhdi; Koreksi Sejarah Soejanto; Diterbitkan oleh Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional; Jakarta; 1993; Dicetak oleh CV. Manggala Bhakti.

    PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH : Abad ke-13 Sampai Awal Abad ke-16

    PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH : Abad ke-13 Sampai Awal Abad ke-16; Oleh Muhammad Gade Ismail; Penyunting Susanto Zuhdi; Koreksi Sejarah Soejanto; Diterbitkan oleh Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional; Jakarta; 1993; Dicetak oleh CV. Manggala Bhakti.

    Free Download Buku PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH : Abad ke-13 Sampai Awal Abad ke-16

    Pasai Dalam Perjalanan Sejarah – Awal abad ke-13 sampai ke-16 – Muhammad Gade Ismail -1993

    Review Buku PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH : Abad ke-13 Sampai Awal Abad ke-16

    Buku ini memuat uraian tentang Pasai pada awal abad ke-13 sampai awal abad ke-16 baik mengenai letak geografisnya, kedudukannya dalam jaringan perdagangan antarbangsa maupun peranannya sebagai pusat persebaran agama Islam di kawasan Selat Malaka.

    Lokasi Kerajaan Samudera Pasai di Pulau Sumatera

    Sebagai salah satu pusat persebaran agama Islam di Asia Tenggara, pembahasan Pasai dikaitkan dengan aktivitas perdagangan yang berlangsung di kawasan Selat Malaka. Dengan demikian zona kawasan Selat Malaka dipandang sebagai satu kesatuan, di mana Pasai berada dalam sistem tersebut.

    Kerajaan Pasai muncul pada akhir abad ke-13, ketika hegemoni Sriwijaya menjadi hancur. Perkembangan pusat-pusatpolitik di kawasan Selat Malaka berkaitan erat dengan faktor- faktor internal dan eksternal. Kondisi alam dan letak geografis memberikan andil besar dalam menentukan perkembangan sesuatu pusat politik itu. Di samping itu, faktor eksternal berupa kegiatan perdagangan yang berskala internasional dan keadaan pusat-pusat politik yang ada di sekitar kawasan Selat Malaka juga menentukan perkembangan sesuatu pusat politik.

    Dilihat pada faktor internal, Pasai memiliki potensi dasar bagi perkembangannya sebagai bandar perdagangan, pusat politik, dan pusat dakwah Islam di kawasan Asia Tenggara.

    Pasai yang berlokasi pada daerah subur di pesisir utara Pulau Sumatera, di lembah sungai merupakan pusat pemukiman penduduk yang cocok. Tanah yang subur memberikan hasil bahan makanan yang cukup. Hubungan ke pedalaman yang dimungkinkan oleh adanya sungai-sungai memberikan dinamika tersendiri dalam arti perdagangan dengan daerah pedalaman. Dalam keadaan demikian, Pasai yang berada pada muara sungai mempunyai potensi besar untuk berkembang sebagai Bandar perdagangan.

    Faktor internal yang disebutkan ditambah lagi oleh faktor eksternal yang berasal dari luar Pasai menyebabkan bandar itu dapat berkembang secara lebih luas. Ke dalam faktor eksternal ini, arus kedatangan para pedagang yang terlibat dalam perdagangan jarak jauh antara Arab dan Cina memberikan stimulus besar bagi perkembangan bandar itu selanjutnya.

    Jalur Sutera (laut dan Dararatan) sebagai alur perdagangan kuno antarbangsa

    Terdapat dua alasan Pasai terlibat dalam jaringan perdagangan antarbangsa. Pertama, karena letaknya pada jalur perdagangan internasional antara Arab dan Cina. Jarak pelayaran yang begitu jauh antara kedua tempat itu menjadikan Pasai sebagai tempat singgahan, apa lagi karena pengaruh angin musim yang mengharuskan mereka berdiam di Pasai untuk menunggu angin yang cocok untuk arah pelayaran.

    Baca juga : Ketika Ibnu Batutah Melawat Pasai

    Alasan kedua ialah karena Pasai menghasilkan komoditi yang dibutuhkan oleh permintaan pasar internasional pada waktu itu, terutama hasil lada. Selain hasil daerah itu sendiri beberapa jenis barang lainnya yang berasal dari Cina juga dapat dibeli oleh pedagang asing di bandar ini.

    Dari kegiatan perdagangan yang melibatkan Pasai dalam jaringan antarbangsa, menyebabkan bandar ini muncul sebagai pusat kekuasaan dan dakwah Islam di kawasan Asia Tenggara.

    Selat Malaka yang menjadi jalur perdagangan menjadi penting dikuasai oleh penguasa-penguasa yang tumbuh di kawasan itu, baik yang berada di pesisir sebelah barat maupun yang berada di pesisir timur selat itu. Jatuh-bangunnya pusat-pusat kekuasaan itu amat dipengaruhi oleh keberhasilan dominasi mereka terhadap lalu-lintas perdagangan. Keadaan ini juga mengakibatkan munculnya konflik yang berkepanjangan antara kekuatan-kekuatan itu.

    Kekuasaan dominasi politik di kawasan Selat Malaka pada akhir abad ke-13 karena runtuhnya kekuasaan Sriwijaya, memberikan peluang yang besar bagi Pasai untuk mengembangkan diri. Munculnya pusat politik dan perdagangan baru yaitu Malaka pada abad ke-15, adalah faktor yang menyebabkan Pasai mengalami kemunduran. Hancur dan hilangnya peranan Pasai dalam jaringan antarbangsa, ialah ketika suatu pusat kekuasaan baru muncul di ujung barat Sumatera yakni Kerajaan Aceh Darussalam pada awal abad ke-16. Pasai ditaklukkan dan dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughayat Syah.

    Tentara Belanda di makam para Sultan Pasai, dengan fotografer C.B. Nieuwenhuis sendiri (dengan kumis, dalam warna abu-abu, duduk di tengah) Foto tahun 1880.

    Dua makam kuno Kerajaan Aceh yang dipotret Belanda sebelum tahun 1937

    Makam Makam Sultanah Malikah Nahrasyiyah (kiri) dan ayah beliau Zainal Abidin (kanan) kondisi tahun 1937

    Makam Makam Sultanah Malikah Nahrasyiyah (kanan) dan ayah beliau Zainal Abidin (kiri) kondisi tahun 2017

    Selama masa kejayaannya, Kerajaan Pasai selain berfungsi sebagai bandar perdagangan, juga menjadi pusat dakwah Islam. Fungsi yang demikian juga berkaitan erat dengan kedudukan Pasai dalam jaringan antarbangsa. Dari kegiatan perdagangan, Kerajaan Islam menjadi kerajaan Islam di Indonesia, dan dari kegiatan perdagangan pula Kerajaan Pasai mengembangkan fungsinya sebagai pusat penyiaran agama Islam. Dengan cara ini ditambah juga dengan ikatan perkawinan, Pasai berpengaruh besar dalam proses islamisasi kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara.

    Kedudukan Pasai dalam suatu kesatuan di kawasan Selat Malaka menyebabkan pengaruh-pengaruh yang melanda kesatuan Selat Malaka juga berpengaruh terhadap bagian Kerajaan Pasai. Dari perjalanan sejarah Pasai antara akhir abad ke-13 sampai awal abad ke-16, memang menunjukkan bahwa muncul, berkembang, dan runtuhnya kekuatan Pasai amat berkaitan dengan perkembangan yang terjadi di luar Pasai, tetapi dalam kesatuan zona kawasan Selat Malaka.

    Sejak dahulu Pulau Sumatera dikenal juga sebagai Pulau Emas. Berikut Lokasi Daerah Emas di Pulau Sumatera sebagaimana dicatat oleh para pelancong dari berbagai bangsa yang pernah singgah di Pulau ini mulai dari abad ke-13.

    Artikel-artikel tentang Aceh:

    1. PEREMPUAN ACEH FULL POWER 4 AGUSTUS 2008;
    2. MENYUSURI JEJAK DARA PORTUGIS DI ACEH 6 DESEMBER 2008;
    3. TEUKU UMAR PAHLAWAN 11 FEBRUARI 2011;
    4. FILOSOFI GOB 10 OKTOBER 2011;
    5. KEBENARAN YANG SAMAR 28 FEBRUARI 2013;
    6. GAM CANTOI TIADA 30 MARET 2013;
    7. PERANG CUMBOK SEBUAH REVOLUSI SOSIAL DI ACEH (1946-1947) 18 JUNI 2013;
    8. TSUNAMI 26 DESEMBER 2015;
    9. PERADABAN TANPA TULISAN 25 FEBRUARI 2016;
    10. SURAT TENGKU CHIK DI TIRO KEPADA RESIDEN VAN LANGEN AGAR TERCAPAI PERDAMAIAN DALAM PERANG ACEH MAKA BELANDA HARUS MEMELUK AGAMA ISLAM DI TAHUN 1885 4 NOVEMBER 2016;
    11. PARA PENYEBAR KEBOHONGAN 13 NOVEMBER 2016;
    12. MENGUNJUNGI RUMAH PAHLAWAN NASIONAL CUT MEUTIA 17 APRIL 2017;
    13. SAMUDERA PASAI SEBAGAI TITIK TOLAK ISLAM DI ASIA TENGGARA, SEBUAH UPAYA MELAWAN PSEUDO SEJARAH 24 APRIL 2017;
    14. EMAS, KAFIR DAN MAUT 20 APRIL 2017;
    15. MENGENAL LEBIH DEKAT POCUT BAREN 5 MEI 2017;
    16. OPERASI PENYERGAPAN BELANDA TERHADAP CUT MEUTIA 7 MEI 2017;
    17. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
    18. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
    19. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
    20. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
    21. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
    22. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
    23. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
    24. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
    25. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
    26. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
    27. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
    28. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
    29. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
    30. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
    31. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
    32. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
    33. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
    34. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
    35. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
    36. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
    37. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
    38. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
    39. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
    40. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
    41. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
    42. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
    43. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
    44. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
    45. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
    46. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
    47. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
    48. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
    49. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
    50. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
    51. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
    52. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
    53. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
    54. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
    55. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
    56. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
    57. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
    58. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
    59. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
    Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Download, E-Book, Kolom, Opini, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 128 Comments