SUNYI

Seorang tahanan Aceh oleh Belanda (1900) sumber: KITLV.nl

Seorang tahanan Aceh oleh Belanda (1900) sumber: KITLV.nl

SUNYI

Tidak harus mengetahui istilah Zoon Politicon yang dirumuskan oleh filsuf Yunani Aristoteles yang menyebutkan manusia adalah makhluk sosial. Dalam pendapat ini Aristoteles menerangkan bahwa manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Memang, dalam ribuan tahun sejarah manusia yang sempat tercatat telah memberikan pemandangan bahwa sebagai individu, manusia telah belajar menukar “ke-aku-an” menjadi “ke-kami-an” sampai akhirnya mewujudkan rasa “ke-kita-an”, sebagai makhluk komunal, pada umumnya manusia tak sanggup hidup sendirian.

Ternyata pengucilan (ekskomunikasi) adalah hukuman terberat yang dijatuhkan Gereja (katolik) kepada umatnya yang dianggap melakukan pelanggaran berat, anggota yang dikenai ekskomunikasi dilarang mengikuti perjamuan kudus dan (komuni) sampai dia bersedia menunjukkan penyesalan dengan cara bertobat. Tujuannya untuk menyembuhkan, pelanggar diharapkan memeriksa diri, instropeksi dan bertobat melalui sakramen rekonsiliasi yang dilayankan oleh otoritas gereja yang berwenang.

Kesendirian membuat kita berpikir, dan berpikir adalah proses menuju keimanan. Sebagaimana Allah S.W.T berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, maka dengan air itu Dia hidupkan sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (Surat Al-Baqarah ayat 164).

Dalam keterasingan manusia melihat angin di langit bergolak, hujan mulai jatuh satu-satu memukuli hati. Sepi, sepi sekali menyaksikan matahari turun pelan-pelan. Semburat merahnya menyebar berganti kuning keemasan, lalu kelabu menyusup dan gelap menjelajah. Di langit barat keindahan dan keajaiban tentang perubahan warna tadi bisa kita nikmati, meski hanya sekejap. Apa yang kita lihat, perubahan siang dan malam, sungguh diluar kemampuan kita selaku manusia.

Nalar dan pikiran diuji menjadi lebih terang, ternyata kita tak harus kagum semata pada hal-hal yang dahsyat yang tidak mampu kita jangkau, dan ternyata kita juga tak harus malu untuk kagum pada hal-hal keseharian, yang terlewatkan selama ini. Dan ternyata mukjizat itu bukan hanyalah menyaksikan laut terbelah oleh tongkat Nabi Musa saja, bahwa sebenarnya bumi ini sebagai ciptaan Allah S.W.T adalah sesuatu yang maha ajaib. Bahwa keseharian kita selaku makhluk, seperti bernafas, detik demi detiknya adalah bukti kekuasaan Allah S.W.T.

Adakalanya kita harus menarik diri dari keramaian, menjaga jarak sosial. Untuk sekejap merehatkan rohani, untuk tidak takabur, menciptakan harapan untuk diri sendiri di hadapan ketidakpastian, bagaikan sahara kelam yang panjang menyembunyikan gemuruh. Sementara bayangan sang maut melayang-layang di langit bagaikan sekawanan burung pemakan bangkai.

Kesepian itu menyakitkan, kesunyian masing-masing seakan berdiri sendiri, tak bersentuhan tangan, yang kini tak bertaut dengan yang dulu bahkan nyaris asing. Sebuah malam yang sunyi tanpa suara kita memanggil tuhan dalam sentuhan rindu, dan berharap tangan-Nya merangkul, mengharap yang suci hadir, sebagaimana Nabi Muhammad di gua Hira’.

Malam kelam kian menikam

Naungi makhluk dari lelah yang menekan

Nyanyian hati menggema di jiwa mengalun syahdu

Terseret langkah semu tertatih

Dalam keheningan lukisan terindah

Mencari hakikat yang terbelenggu

Akan gelap dan keterasingan

Temukan sunyi dalam malam

Banda Aceh, Senin 14 Januari 2002

Beberapa tulisan lain:

  1. Pohon Kekekalan; 4 November 2017;
  2. Renungan Malam; 19 November 2017;
  3. Manusia Semesta; 21 November 2017;
  4. Sebuah Kotak Hitam; 21 November 2017;
  5. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  6. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  7. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  8. Agar Hidup Lebih Terasa Hidup; 18 Oktober 2018;
  9. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  10. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  11. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  12. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  13. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  14. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  15. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
Posted in Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 10 Comments

DIMANA LETAK ISTANA KERAJAAN ACEH DARUD DONYA

Peta Kraton Aceh versi Belanda 1874

Peta Kraton Aceh versi Belanda tahun 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA KERAJAAN ACEH DARUDDONYA

Pada tanggal 24 Januari 1874, Setelah pertempuran besar-besaran antara 12.000 serdadu KNIL dengan persenjataan yang unggul menghadapi asykar Aceh (jumlah tidak tercatat) di depan istana kesultanan Aceh, Belanda melakukan gerakan mengitari lewat belakang atas nasihat Teuku Nek Meraksa (Uleebalang Meraxa) dan akhirnya menduduki istana, yang oleh orang Aceh disebut dengan nama “Dalam”. Ternyata dengan jatuhnya Istana tidak menyebabkan perlawanan rakyat Aceh runtuh dan menyebabkan Belanda sangat murka. Istana Daruddonya sejak hari itu mulai dihancurkan untuk menghapuskan sejarah kesultanan Aceh yang panjang.

Baca juga: Lokasi Istana Kerajaan Aceh Dulu dan Sekarang;

Sebelum dihancurkan Belanda sempat mengabadikan beberapa foto sebagaimana berikut:

Dalam Sultan Aceh (1874) Sisi Depan Barat; arsip KITLV;

Dalam Sultan Aceh (1876) Sisi Depan Utara; arsip KITLV;

Medan depan Dalam Sultan Aceh; arsip KITLV;

Meriam Besar dekat gerbang “Dalam” Sultan Aceh (1874); arsip KITLV;

Pemakaman dekat “Dalam” Sultan Aceh (1874); arsip KITLV;

Pemandangan di gerbang utama Dalam Sultan Aceh (1874); arsip KITLV;

Puing Tembok Istana Sultan Aceh 24 Januari 1874; arsip KITLV;

Tempat kediaman Gubernur Belanda di Kutaraja (1874); arsip KITLV;

Tentara Belanda pada ekspedisi II di Dalam “Kraton” Sultan Aceh. Jenderal Van Swieten (kiri di atas meriam) dan Jenderal G.M. Verspijck (Kanan di atas meriam); arsip KITLV;

Sebenarnya sebelum diluluhlantak oleh pasukan Belanda Istana Daruddonya telah mengalami kemerosotan baik dari segi bentuk dan kemewahan dibandingkan pada masa puncak kejayaan pada abad ke-17 Masehi sebagaimana dicatat oleh para petualang asing. Ketika itu armada laut Aceh memiliki kekuatan dan kewibawaan, perniagaan berkembang dan akhirnya membuat kebudayaan sangat agung, istana Daruddonya menjadi pusat perayaan, pusat segala kebudayaan.

Meriam Besar Milik Kesultanan Aceh yang dirampas Belanda saat Perang Aceh sekarang ada di Bronbeek Museum Arnhem Belanda.

Melalui penghancuran Istana Daruddonya Belanda ingin menghapus identitas orang Aceh, menjadi manusia baru yang tidak kenal siapa nenek moyangnya, tidak kenal asal usulnya dan merasa rendah diri dihadapan mereka. Salah satunya adalah penghancuran makam Sultan Iskandar Muda (Sultan terbesar Aceh) dan mendirikan sebuah bangunan yang kokoh diatasnya sehingga seolah-oleh Sultan Iskandar Muda hanyalah legenda semata, sebagaimana yang mereka lakukan juga kepada Panembahan Senopati (Pendiri Mataram Islam). Tapi Belanda bukanlah satu-satunya bangsa asing yang pernah berhubungan dengan kesultanan Aceh ada banyak bangsa lain yang mencatat kegemilangan kerajaan Aceh.

Sebagai bangsa yang jumawa, Belanda sempat mengabadikan beberapa foto. Bahkan untuk keperluan perang mereka sempat membuat peta, tanpa mereka sadari ini membantu ketika kita ingin merekonstruksi kembali letak istana Daroddonya.

Perbandingan peta Belanda (1874) yang diletakkan di atas peta Google (2020)

Berdasarkan peta yang dibuat oleh Belanda dengan membandingkan dengan peta Google (tahun 2020), kawasan istana Daroddonya diperkirakan memiliki batas berikut:

  • Sebelah Utara bahagian kanan merupakan pertemuan antara Krueng Daroy dan Krueng Aceh;
  • Sebelah Utara bahagian kiri adalah Taman Bustanussalatin (Taman Sari) atau sudut bangunan Bharata sekarang;
  • Sebelah Barat dibatasi dinding melintasi museum Aceh sampai Kandang Meuh dulunya, sekarang kompleks Baperis;
  • Sebelah Timur diperkirakan halaman Gunongan dan Pinto Khob sampai taman Bustanussalatin (Taman Sari) mendekati pintu Masjid Raya Baiturrahman sekarang;
  • Sebelah Selatan adalah meliputi lapangan Neusu sampai pada bahagian ini yang juga terdapat pendopo gubernur Aceh saat ini;

Rekonstruksi kembali letak istana Daroddonya mungkin tidak akan selesai dengan penelitian sederhana ini, dibutuhkan penggalian arkeologis yang lebih mendalam oleh para ahli. Penulis hanya berusaha memberi kunci untuk membukanya. Karena bagaimana pun sejarah adalah sebuah menara pengalaman yang hebat, yang mana waktu ditempatkan di tengah-tengah lahan yang tak berujung dari zaman-zaman yang telah berlalu. Bukan tugas mudah untuk menggapai puncak menara tersebut, dibutuhkan kaki-kaki muda yang kuat sehingga ini dapat dilakukan.

Peta Istana atau Kraton Aceh tahun 1873 arsip Universitas Leiden

Peta Istana atau Kraton Aceh tahun 1873 arsip Universitas Leiden

Satu generasi mungkin telah dan akan berakhir. Ketika kalian nantinya dapat merekonstruksi kembali dengan tepat, maka kalian akan mengerti dan memahami alasan penulis untuk antusias. Daroddonya adalah salah satu mahakarya leluhur kita, jangan lupakan itu, jangan pernah!

Index/Daftar Keputakaan :

  1. Sir R.O. Winstedt; History of Malaya;Singgapura; 1962.
  2. Denys Lombard; Le sultanat d’Atjeh au temps d’Iskandar Muda (1607-1636); Paris; 1967.
  3. Davis (Jhon); A biefe Relation of Master Jhon Davis, chiefe pilot to the Zelanders in their East India Voyage, departing from Middleborough the fifteenth of March, Anno 1598; London; 1625.
  4. Beaulieu (Augustin de); Relation de I’estat present du commerce des Hollandais at des Portugais dans les Indes Orientales; memoires du voyage aux Indes Orientales du General de Beaulieu; Paris; 1664-1666.
  5. Zhang Xie, Dong xi yang kao; Taiwan; 1962.
  6. Mundy (Peter); The Travels of Peter Mundy in England, Western India, Achen, Macao, and The Canton Province, 1634-1637; London; 1919.
  7. Best (Thomas); The Voyage of Best to the East Indies 1612-1614; London; 1934.
  8. Lancaster (Sir James); The Voyage of Sir James Lancaster to Brazil and the East Indies, 1591-1603; London; 1940.
  9. Paul Van ‘T Veer; De Atjeh-Oorlog; Amsterdam; 1979.
  10. Muhammad Said; Aceh Sepanjang Abad; Medan; 1961.
  11. Foto bersumber dari situs kitlv.nl dan nederlandsekrijgsnacht.nl

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  2. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  3. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  4. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  5. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  6. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  7. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  8. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  9. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  10. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  11. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  12. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  13. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  14. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  15. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  16. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  17. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  18. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  19. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  20. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  21. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  22. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  23. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  24. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  25. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  26. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  27. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  28. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  29. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  30. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  31. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  32. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  33. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  34. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  35. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  36. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  37. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  38. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  39. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  40. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  41. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  42. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  43. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  44. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  45. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  46. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  47. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  48. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  49. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  50. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  51. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  52. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  53. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  54. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  55. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  56. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  57. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  58. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  59. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
Posted in Cuplikan Sejarah, History, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

PERBANDINGAN LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG

Lokasi Istana Kerajaan Aceh Dulu dan Sekarang; Peta yang dibuat Belanda tahun 1874 (kiri) dan kondisi peta Google tahun 2020 (kanan); yang dilingkari merah pada peta Google adalah perkiraan lokasi Istana Kerajaan Aceh Dulunya.

PERBANDINGAN LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG

Hari ini adalah lanjutan dari kemarin, ungkapan ini memberi pengertian antara lain bahwa sejarah masa lalu tidak berdiri sendiri, merupakan mata rantai peristiwa yang bersambung terus menerus yang akan bersambung terus.

Sejarah membuat kita mengembara ke masa lampau, ke hari-hari, tahun-tahun yang telah berlalu, mempunyai kegunaan yang sangat bermanfaat karena di satu pihak memperkenalkan manusia di zamannya, dan di pihak lain ia memberi arah kepada manusia yang hidup hari ini.

Salah satu yang mendorong penulis membuat penelitian sederhana ini karena setiap kali melangkah pada wilayah yang pernah memiliki kerajaan-kerajaan kuno pasti memiliki petilasan. Terutama adanya istana di mana kerajaan itu pernah berdiri.

Menurut catatan-catatan asing Kesultanan Aceh Darussalam dahulu memiliki istana yang sangat gemilang, Daruddonya yang kemasyhurannya tercatat dalam tinta emas. Namun sekarang istana tersebut seolah tidak memiliki jejak sama sekali hari ini. Dimanakah Istana itu dahulu pernah berdiri?

ISTANA KESULTANAN ACEH MENURUT CATATAN PETUALANG SEBELUM ABAD KE-19

Istana Kesultanan Aceh pada masa puncak kejayaan abad -XVII

Dahulu kala kita mengetahui betapa Kesultanan Aceh Darussalam memiliki kekuatan dan kewibawaan di mata bangsa-bangsa asing. Ekspedisi armada lautnya diatur dengan kebijaksanaan terpadu, perniagaan berkembang. Pada paruh pertama abad ke-17 perkembangan budaya sangat besar.

Istana diperindah, kemewahan pengiring raja besar jumlahnya, kesusastraan berkembang pesat1). Istana yang dalam Hikayat Aceh disebut dengan nama “Dalam Daruddonya” adalah pusat perayaan, pusat segala kebudayaan.

Bagian dari tembok di sisi selatan kraton kondisi tahun 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Kota Goenoengan dilihat dari Kraton; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Kita baru menyadari betapa hebatnya dan betapa mewahnya Dalam itu jika membaca kisah-kisah abad ke-17. Saat ini sudah tidak ada apa-apa lagi. Pada akhir abad ke-19 pun, sebelum kehancuran akibat Perang Aceh, istana sudah banyak kehilangan kebesarannya dahulu. Sesudah kemenangan Belanda, istana dihancurkan, habislah riwayatnya. Bangunan-bangunan yang tersisa ditempatkan pasukan militer dan Dalam lama dijadikan tangsi KNIL. Nama Dalam itu pun nama sebenarnya yang digunakan oleh orang-orang Aceh diganti pada peta-peta dan dokumen-dokumen resmi dengan nama “Kraton” kata yang sebelumnya tak dikenal di bagian utara Sumatera.

Peta Kraton Aceh versi Belanda 1874

Peta Kraton Aceh versi Belanda tahun 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Salah satu peta yang dibuat oleh orang Belanda untuk kepentingan ekspedisi mereka hanya memungkinkan kita melihat bahwa Dalam itu letaknya di sebelah barat daya tempat pemukiman sekarang, dan bahwa arahnya kira-kira utara-selatan2). Dari bangunan-bangunan dahulu hanya Gunongan dan pinto Khob yang masih ada, ditambah makam-makam raja untuk sebagian masih asli.

Pada zaman Snouck Hurgronje, Dalam itu tempatnya di tengah-tengah kota, menjadi inti daerah yang dikenal dengan nama “Banda Aceh”, yang dikelilingi gampong-gampong lainnya. Pada awal abad ke-17, Dalam itu letaknya masih jauh dari tempat pemukiman yang sedikit demi sedikit meluas ke selatan dan pada akhirnya mengelilinginya. Davis pada tahun 1599 menulis : “His court is from the citie halfe a mile upon the river.” Satu setengah abad kemudian ditemukan petunjuk bahwa Dalam raja terletak di tengah-tengahnya benar.3)

Petualang Perancis, Beaulieu memiliki peluang untuk mengunjungi bagian Dalam yang boleh didatangi umum memberikan gambaran dari tempat-tempat masuk ke Dalam dan pertahanannya sebagai berikut: “Kelilingnya lebih dari setengah mil, bentuknya hampir bulat bujur, dan sekelilingnya ada parit yang dalamnya 25 sampai 30 kaki (10 Meter) dan sama lebarnya, agar sukar dilalui karena terjal dan penuh semak. Tanah galiannya dibuang kearah istana sehingga merupakan tembol, diatasnya ditanami bambu, buluh besar yang tumbuh setinggi pohon frene dan tegak dan tebalnya sedemikian rupa sehingga tak tertembus pemandangan, bambu itu selalu hijau dan tak termakan api.”4)

Dilarang keras mengintip dari benteng itu atau menerobosinya. Barang siapa berani “memangkas sebagian dari dalam atau dari luar” dihukum mati, Beaulieu menceritakan kesialan salah seorang utusan dari Aceh ke negeri Belanda pada tahun 1602 dan yang karena lupa kebiasaan negerinya, mematahkan sebuah batang dari bambu itu, raja seketika itu menyuruh menggoroknya.

Tanah berbenteng itu bisa dimasuki dari sejumlah pintu, enam buah menurut Dong xi yang kao5), empat menurut Beaulieu. Pintu utama yang menurut peta sekarang mestinya pintu utara yang menghadap ke kota, di atasnya ada “tembok kecil dari batu setinggi 10 sampai 12 kaki (sekitar 3,5 meter) untuk menyangga serambi dengan dua pucuk meriam perunggu pada kedua belah pintu yang diarahkan kepada orang yang hendak masuk.” Pintu-pintu tersebut tidak terbuat dari papan, tetapi dari balok susun setinggi temboknya, terbuat dari kayu yang cukup kuat dan ditutup dari dalam selain dengan gerendel juga dengan dua palang melintang besar yang masuk ke dalam tembok dan ditutup dari dengan menggunakan kunci.

Setiap pagi dan malam, waktu-waktu tertentu pintu istana dibuka, raja menyuruh bunyikan meriam. Itulah hak istimewa yang dianggapnya haknya seorang raja, masih dapat dipertahankan sampai akhir abad ke-19. Ketika Peter Mundy singgah di Aceh pada tahun 1637, dilihatnya bahwa salah satu dari meriam yang ditempatkan di pintu masuk itu adalah hadiah “Raja James” dahulu.6)

Melalui pintu masuk yang besar inilah orang asing masuk ke dalam istana, apabila mereka diundang ke Dalam, suatu hal yang tidak selalu terjadi. Di bagian dalam, pelataran-pelataran dan bagunan-bangunan diatur pada kedua tepi sungai kecil yang “turun dari pengunungan” dan yang airnya “yang dingin dan jernih sekali” memeriahkan berbagai bagian Dalam itu. Di atas peta kota sekarag pun masih mudah dapat dilihat lintasang Krueng Daroy itu yang datang dari selatan, membelah keluasam Dalam menurut panjangnya lalu bermuara ke Sungai Aceh. Dahulu sungai kecil yang bergulung-gulung itu mengalir lebih ke sebelah barat. Sultan Iskandar Muda yang memerintahkan membendung airnya, memindahkan aliran ke hulu sehingga melintasi Dalam yang pada waktu itu sedang diperbaiki. Kejadian itu terjadi pada tahun 1613 karena menurut Best pekerjaannya berlangsung selama 20 hari sewaktu ia tinggal di Aceh. Tepi-tepinya atas perintah raja dipasang baik-baik: “dan dibuat berundak-undak sehingga orang dapat turun sampai ke bawah untuk mandi.”7)

Peta Aceh untuk keperluan militer; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Selain catatan petualang Eropa, kisah pengerukan sungai sehingga membentengi istana (Dalam) juga masih diingat oleh orang Aceh melalui tradisi oral, kawasan yang dikeruk tersebut dicoret di peta oleh Sultan Iskandar Muda. Daerah-daerah yang dicoret tersebut dikenal dengan kawasan “Geuceu” yang dalam bahasa melayu berarti “dicoret”.

Hanya sedikit keterangan yang diberikan oleh para petualang Eropa mengenai ruang-ruang yang dimaksudkan untuk kehidupan umum dan yang letaknya pada ujung-ujung pelataran ketiga tadi. Mereka mengatakan ada “pintu yang berlapis bilah-bilah perak”, “ruang besar” pertama “tempat mereka meninggalkan sepatu mereka”, akhirnya balai penghadapan besar “yang jauh lebih tinggi” dan “yang dinding-dindingnya dilapis kain emas, beludru dan kain damas”8) Di tempat itulah Sultan menerima pemberian-pemberian mereka, lalu menjamu mereka dengan hidangan makan yang mewah, disambung dengan tontonan tarian.

Taman Putroe Phang tahun 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Kediaman-kediaman pribadi tidak bisa diketahui kembali letak sebenarnya. Di situ terdapat balai larangan kediaman putri-putri, di sana pula barangkali terdapat harta karun yang diceritakan oleh Beaulieu tapi tanpa memberikan lokasinya yang tepat, ruang-ruang tersebut banyak sekali yang kalau dikunjungi dengan teliti, akan makan “enam hari berturut-turut” isinya senjata yang halus pekerjaannya, baju bersulam emas, peniti dari emas juga batu-batu permata yang nilainya tiga intan yang boleh jadi masing-masing 15 sampai 20 karat, dua batu delima besar sekali dan sebuah zamrud yang batu-batu ini diperoleh sewaktu penaklukkan Perak, salah satu batu yang paling indah yang saya (Beaulieu) kira dapat ditemukan di dunia.4)

LEBURNYA ISTANA KERAJAAN ACEH

Sejak 7 Januari 1874, Belanda mengepung Dalam. Tak bisa dibayangkan bagaimana kesanggupan orang Aceh menghadapi 12.000 serdadu dengan perlengkapan senjata yang unggul sampai akhirnya 24 Januari 1874, Belanda mengepung dan menyerang habis-habisan sebelum merebut Istana.

Baca: Leburnya Keraton Aceh

Atas nasihat Teuku Nek Meraksa dilakukan gerakan mengitari, dan akhirnya menduduki istana. Panglima tertinggi Van Swieten memerintahkan musik staf memainkan Wien Neerlands Bloed (Siapa berdarah Belanda). Perintah harian kepada pasukannya disusun dalam gaya militer terbaik, “Kraton telah kita kuasai, dan rakyat Aceh yang angkuh terpaksa menyerah kalah terhadap kegagah beranian dan keahlian perang kita.”9)

Peta Banda Aceh dan sekitar zaman Belanda; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Tentara Belanda (KNIL) di gudang mesiu dan rumah sultan di dalam Kraton; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Belanda menyangka sukses merebut Dalam merupakan kemenangan gemilang, setelah sedemikian banyak jatuh korban. Segera ia mengirim telegram ke Batavia “24 Januari Kraton is ons stop koning en vaderland gelukgewenscht met onze overwinning.” (24 Januari keraton adalah milik kita titik raja dan tanah air diucapkan selamat kepada kemenangan).

Proklamasi Kemenangan Belanda oleh pemimpin ekspedisi Perang Aceh Letnan Jenderal Van Swieten pada 28 Januari 1874; Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Pada tanggal 28 Januari 1874, Van Swieten membuat proklamasi. Maklumat ini antara lain menyatakan bahwa Belanda telah berhasil merebut Dalam dan karena itu dengan hak menang perang, seluruh Aceh dibawah kedaulatan Belanda. Seluruh harta benda Sultan dan para kerabatnya menjadi milik Belanda (tentara KNIL). Itulah sebabnya jika kita melihat asrama tentara (sekarang) di Koetaradja (Banda Aceh) awalnya adalah tanah milik Sultan/kerabatnya dulu.

Waktu itu para pejuang Aceh telah mengosongkan Dalam secara besar-besaran, pertama karena wabah kolera dan kedua dengan tujuan mengepung guna segera menyerang balik musuh dari semua jurusan.10)

Ketika menyadari perlawanan Aceh belum padam, Van Swieten melaporkan kembali ke Batavia melalui telegram: “Panglima Polim en Sultan schijnen den strijd te willen voortzetten” (Panglima Polim dan sultan nampaknya berniat meneruskan perlawanan).

Perang Aceh pun berlanjut puluhan tahun ke depan, dan sejak saat jatuhnya Dalam ke tangan Belanda proses penghancuran istana telah dilaksanakan, sehingga saat ini sulit ditemukan jejaknya lagi oleh kita.

Peta Istana atau Kraton Aceh tahun 1873 arsip Universitas Leiden

Peta Istana atau Kraton Aceh tahun 1873 arsip Universitas Leiden

Index/Daftar Keputakaan :

  1. Sir R.O. Winstedt; History of Malaya;Singgapura; 1962.
  2. Denys Lombard; Le sultanat d’Atjeh au temps d’Iskandar Muda (1607-1636); Paris; 1967.
  3. Davis (Jhon); A biefe Relation of Master Jhon Davis, chiefe pilot to the Zelanders in their East India Voyage, departing from Middleborough the fifteenth of March, Anno 1598; London; 1625.
  4. Beaulieu (Augustin de); Relation de I’estat present du commerce des Hollandais at des Portugais dans les Indes Orientales; memoires du voyage aux Indes Orientales du General de Beaulieu; Paris; 1664-1666.
  5. Zhang Xie, Dong xi yang kao; Taiwan; 1962.
  6. Mundy (Peter); The Travels of Peter Mundy in England, Western India, Achen, Macao, and The Canton Province, 1634-1637; London; 1919.
  7. Best (Thomas); The Voyage of Best to the East Indies 1612-1614; London; 1934.
  8. Lancaster (Sir James); The Voyage of Sir James Lancaster to Brazil and the East Indies, 1591-1603; London; 1940.
  9. Paul Van ‘T Veer; De Atjeh-Oorlog; Amsterdam; 1979.
  10. Muhammad Said; Aceh Sepanjang Abad; Medan; 1961.
  11. Foto bersumber dari situs nederlandsekrijgsnacht.nl

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  2. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  3. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  4. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  5. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  6. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  7. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  8. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  9. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  10. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  11. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  12. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  13. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  14. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  15. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  16. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  17. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  18. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  19. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  20. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  21. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  22. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  23. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  24. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  25. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  26. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  27. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  28. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  29. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  30. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  31. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  32. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  33. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  34. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  35. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  36. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  37. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  38. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  39. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  40. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  41. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  42. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  43. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  44. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  45. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  46. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  47. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  48. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  49. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  50. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  51. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  52. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  53. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  54. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  55. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  56. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  57. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  58. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  59. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 32 Comments

WAKTU ADALAH KEHIDUPAN

Suatu hari kita akan menziarahi jasad sendiri, sesampai di jalan kecil ini, sebuah pusara di sebuah lapangan terbuka batang-batang kamboja, jarak, dan angin. Rindu yang membuat kita merasa kenangan pernah ada.

WAKTU ADALAH KEHIDUPAN

Tiap kali kita tercenung di depan kalender yang hampir habis, pergantian tanggal sudah berjalan bertahun-tahun dalam hidup. Millenium dan abad dalam sosok yang tak terjangkau, tapi keduanya adalah fenomena yang bersamaan. Seribu tahun, seratus tahun menyadarkan kita bahwa orang per orang masing-masing akan tiada, tapi kita tak pernah sendirian. Generasi demi generasi sebelumnya bersambungan, bermacam orang berada dalam ruas waktu yang sama, meski tak saling kenal, dan tak saling berpapasan. Sementara di langit tetap, satu, sama seperti dulu.

Sementara seribu tahun, ratusan ribu tahun dalam waktu, hitungan yang membuat kita kecut, umur rata-rata manusia tak pernah mencapai selaksa itu. Waktu adalah matematika, angka berbaris-baris dalam deret ukur, deret waktu. Sebuah teori mengatakan bahwa usia waktu adalah 40 Milyar tahun. Selama itu waktu berkelana, memberikan kesempatan kepada setiap harapan, menarik batas atas setiap kehidupan.

Sahabat Abu, Jhon Slow, teman makan siang, teman futsal, teman jogging, rekan sekantor, seorang rekan yang tangguh untuk membahas berbagai omong kosong, seperti halnya beda pengucapan huruf “e” dalam apel (buah) dan apel (upacara), mengatakan bahwa ia tahun ini sudah bertugas 6 tahun di Aceh dan telah berhak mengajukan pindah ke kampung halamannya. Ya, akhirnya perpisahan itu semakin dekat.

Manusia adalah makhluk ruang dan waktu. Setiap pertemuan, setiap gerak, setiap papasan di dunia yang kita kenal saat ini memiliki tiga dimensi ruang yaitu panjang, lebar dan tinggi (gabungan ketiganya biasa disebut volume), bila ditambahkan dengan dimensi waktu, akan muncul keempat yaitu waktu kosong. Disitulah kenangan hadir, sebagaimana kalian sendiri pasti juga punya kenangan indah, sedih atau apapun rasa apapun namanya dengan orang-orang yang tidak akan pernah kita jumpai (lagi) di dunia ini.

Itulah hidup adalah cerita tentang kedatangan dan kepergian, kita dan segenap yang dicintai di dunia ini adalah kefanaan semata. Saran Abu kepada Jhon Slow adalah menjalani waktu-waktu persahabatan ini dengan sebaik-baiknya kesabaran dan kebaikan, menikmati segalanya karena (mungkin) kelak apa yang kami tertawakan, obrolkan atau kesalkan akan menjadi kenangan semata. Luasnya penugasan di Republik Indonesia ini, dalam perjalanan waktu berjalan, (mungkin) kami tak akan pernah lagi berada dalam dimensi ruang yang sama lagi.

Sebagaimana ada kemungkinan kiamat itu memang sudah terjadi, dan kita semua hari ini di hari penghakiman itu sedang menonton layar, dengan mata kita sebagai kameranya. Apa-apa yang telah kita lakukan semasa hidup. Karena di hari itu waktu telah musnah, dan peristiwa telah berakhir, disitu kita baru menyadari bahwa waktu pernah memberikan pemahaman, kebingungan, kegembiraan, penyesalan. Waktu membangun, menumbuhkan, memelihara, merengkuh menyekap, membinasakan serta meninggalkan jejak.

Maka di hari itu, jangan sampai ada penyesalan, harusnya adalah kelegaan bahwa kita telah hidup sebaik-baiknya, mengambil keputusan setepat-tepatnya dalam keadaan tersulit sekali pun. Ingatlah bahwa kesabaran adalah akar dari semua ketenangan selamanya. Untuk apa memandang murka musuh-musuh, jika hanya tahu untuk menaklukkan. Untuk mengerti kenapa harus kalah, adalah menemukan kesalahan diri sendiri ketimbang orang lain.

Suatu hari kita akan menziarahi jasad sendiri, sesampai di jalan kecil ini, sebuah pusara di sebuah lapangan terbuka batang-batang kamboja, jarak, dan angin. Rindu yang membuat kita merasa kenangan pernah ada.

Apa yang telah terjadi, apa yang telah berlaku, adalah sebaik-baik pilihan, sebaik-baiknya keadaan. Jika itu yang berlaku dalam perasaan maka tidak ada yang akan disesali lagi, malah (mungkin) kita mampu menghidu syukur dan tafakur dengan khidmat.

Waktu menantang pertempuran yang tak akan pernah kita (manusia) menangkan, karena waktu adalah hukum pertama kehidupan. Bahkan Tuhan bersumpah demi waktu. Maka biarkanlah waktu musnah bersama ruang nantinya, usah risaukan ketika kehidupan usai. Harapan kita adalah berada di sisi-Nya, di hari disaat sangkakala ditiupkan.

Selamat ulang tahun, Abu. Hiduplah sebagai manusia, walaupun pada akhirnya akan menemui kematian.

Jangan dilewatkan KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH

Sebuah pelaminan pernikahan sebagai salah satu bagian adat istiadat orang Aceh.

BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH

Bahasa-bahasa di Aceh seperti bahasa-bahasa lain di Indonesia termasuk rumpun bahasa Austronesia. Daerah Aceh dikenal beberapa bahasa dari suku bangsa yang sama jumlahnya dengan adat-istiadat.

Di daerah kita ini mengenal bahasa-bahasa antara lain:

  1. Bahasa Aceh, yaitu bahasa yang paling banyak penuturnya di daerah Aceh, yaitu sebagian daerah Kota Banda Aceh, Sabang, Lhokseumawe, Langsa. Kabupaten Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Jaya, sebagian Aceh Barat Daya, Nagan Raya, dan sebagian Aceh Selatan dan Aceh Tamiang; Bahasa ini dianggap dekat dengan bahasa Champa masuk dalam rumpun Chamic (daerah di Kamboja dan Vietnam), hal ini diduga karena terdapat kosakata bahasa Aceh yang sama artinya dalam bahasa Champa. Namun belum ada penelitian yang membuktikannya secara akademis;
  2. Bahasa Gayo adalah bahasa yang didukung oleh penduduk Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Luwes dan sebagian Aceh Tenggara, di satu kecamatan Aceh Timur; Merupakan bahasa dengan jumlah penutur kedua terbanyak di Aceh. Meskipun belum ada penelitian sahih tentang kekerabatan bahasa ini namun terdapat warna Batak dan Aceh dalam kebudayaannya;
  3. Bahasa Alas adalah bahasa yang penuturnya ialah orang Alas di Aceh Tenggara; Bahasa ini memiliki pertalian dengan bahasa Batak menurut SIL Internasional*;
  4. Bahasa Singkil digunakan oleh sebagian besar penduduk Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam. Menurut SIL International bahasa ini berkerabat dengan bahasa Karo. Bahasa ini memiliki nama lain yaitu bahasa Julu, Boang dan Kade-Kade.
  5. Bahasa Tamiang (Melayu) adalah bahasa yang diucapkan oleh orang Melayu di Aceh Tamiang meliputi kecamatan Bendahara, Karang Baru, Tamiang Hulu, Seruway dan sebagian kecamatan Kuala Simpang; Bahasa ini mirip dengan dialek Melayu Deli dan Melayu Riau;
  6. Bahasa Aneuk Jamee, penduduknya adalah sebagian dari penduduk Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya; Terbanyak penuturnya di Kecamatan Labuhan Haji, Labuhan Haji Timur, dan Sama dua. Bahasa ini juga digunakan di Kecamatan Kaway IX dan sebagian Mereubo di Kabupaten Aceh Barat. Kecamatan Susoh di Kabupaten Aceh Barat Daya, di sebagian Kota Subulussalam, Singkil dan sebagian Kota Sinabang di Kabupaten Simeuleu. Bahasa ini asalnya adalah bahasa Minangkabau yang dibawa bersamaan dengan hijrahnya sebagian orang Aceh yang berkeluarga dengan orang Minang semasa Kesultanan Aceh Darussalam Berjaya. mereka disebut sebagai jamee atau tamu, yang dalam budaya Aceh harus dimuliakan. Di kemudian hari terjadilah migrasi orang Minang ke pantai Barat Selatan Aceh untuk mencari kehidupan yang lebih layak di negeri baru.
  7. Bahasa Kluet yaitu bahasa yang diucapkan oleh orang Kluet di Aceh Selatan yaitu di Kecamatan Kluet Utara, Kluet Selatan, Kluet Timur dan Kluet Tengah. Menurut SIL International juga berkerabat dengan bahasa Batak. Klaim tersebut agak meragukan sehingga diperluan penelitian mendalam baik secara sinkronil maupun diakronik;
  8. Bahasa Devayan atau disebut juga Simalur digunakan di Pulau Simeulue bagian Timur dan sekitarnya. Bahasa ini mendapat pengaruh dari bahasa Nias;
  9. Bahasa Sigulai digunakan di Pulau Simueleu bagian Barat dan sekitarnya. Bahasa ini mendapat pengaruh dari bahasa Nias; Bahasa Sigulai dan bahasa Devayan di Pulau Simeuleu memiliki sejumlah kata yang sama, tapi dianggap sebagai bahasa yang berbeda;
  10. Bahasa Haloban dituturkan oleh beberapa ribu orang di Desa Haloban dan Asantola di Kecamatan Pulau Banyak Barat. Bahasa ini diduga dipengaruhi oleh bahasa Nias. Bahasa ini diambang kepunahan seiring dengan menyusutnya jumlah penuturnya.

Pakaian Adat Aceh untuk laki-laki

Pengaruh bahasa Aceh amat besar ke dalam bahasa-bahasa lainnya dan hal ini terdengar dari pada ucapan mereka sehari-hari. Besarnya pengaruh bahasa Aceh ke dalam bahasa-bahasa lain di daerah ini diperlukan suatu penelitian khusus di bidang bahasa.

Bahasa Aceh yang jumlah pemakaiannya paling banyak di daerah Aceh, dan terdiri atas beberapa dialek. Sering terdengar dialek lokal seperti dialek Aceh Rayeuk (Aceh Besar), dialek Pidie, dengan dialek Aceh Utara. Dialek-dialeknya ini tidak memberikan kesukaran dalam berkomunikasi diantara mereka yang memakai dialek Aceh tertentu.

Di antara sepuluh bahasa tersebut ada yang diturukan oleh banyak penutur yaitu bahasa Aceh dan bahasa Gayo dan ada yang dituturkan oleh sedikit penutur yaitu bahasa Haloban dan bahasa Kluet. Kekayaan budaya Aceh dari segi bahasa perlu mendapat perhatian serius karena perkembangannya stagnan bahkan bahasa Haloban berada diambang kepunahan.

MENJAGA BAHASA DAERAH DARI KEPUNAHAN

Bahasa daerah adalah identitas diri. Ada hal-hal berupa peribahasa, majas ataupun yang hanya diungkapkan dengan bahasa aslinya, sulit diterjemahkan ke bahasa lain. Logika berpikir seseorang ditentukan oleh bagaimana otaknya memproses kata-kata. Sebagaimana terangkum dalam pribahasa klasik, bahasa menunjukkan bangsa.

Maka perlu ditumbuhkan kesadaran para pemilik bahasa agar senantiasa menuturkan dalam keluarga. Ketika bahasa tidak lagi digunakan di lingkungan keluarga maka itu adalah awal kepunahan bahasa.

TULISAN YANG DIGUNAKAN DI ACEH PADA MASA LAMPAU

Naskah tulisan Gayo-Linge. Diduga masuk kategori Melayu Tua.

Cap Reje Linge menggunakan aksara Arab.

Di daerah Aceh, secara umum sistem huruf yang khas tidak dikenal sejak dahulu. Tulisan-tulisan yang dipakai dalam bahasa-bahasa Aceh, Alas, Tamiang, Aneuk Jamee, Simeulu, dan Kluet adalah tulisan Arab-Melayu. Huruf ini dikenal setelah datangnya agama Islam di Aceh dan merupakan huruf-huruf yang banyak dijumpai pada batu nisan raja dan hikayat-hikayat. Meskipun Gayo memiliki huruf-huruf yang didapatkan dari kebudayaan Gayo-Linge yang diduga berasal dari kebudayaan Melayu Tua namun belum terlalu digali. Sampai saat ini tulisan-tulisan ini telah terdesak oleh pemakaian tulisan latin.

Catatan Kaki:

*SIL Internasional (awalnya bernama Summer Institute of Linguistic) adalah sebuah organisasi ilmiah Kristen nirlaba yang bertujuan mempelajari, mengembangkan dan mendokumentasikan bahasa-bahasa yang kurang dikenal dalam upaya memperluas pengetahuan linguistik, menyebarkan kemampuan baca tulis di dunia dan membantu pengembangan bahasa minoritas.

Buku Adat Istiadat Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh; Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah 1977/1978;

Daftar Pustaka

  1. Buku Adat Istiadat Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh; Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah 1977/1978;
  2. Laman; Wikipedia artikel kategori Bahasa di Aceh;
  3. Artikel; Revitalisasi Bahasa Daerah oleh Dr. Mohd Harun M.Pd | Kepala Pusat Studi Bahasa Daerah Aceh Universitas Syiah Kuala ditebitkan Aceh Tribun 19 Desember 2017;

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  2. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  3. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  4. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  5. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  6. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  7. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  8. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  9. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  10. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  11. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  12. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  13. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  14. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  15. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  16. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  17. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  18. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  19. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  20. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  21. ATJEH MENDAKWA,SEBUAH BUKU YANG MENJADI SAKSI SEPAK TERJANG PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  22. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  23. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  24. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  25. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  26. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  27. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  28. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  29. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  30. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  31. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  32. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  33. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  34. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  35. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  36. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  37. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  38. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  39. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  40. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  41. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  42. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  43. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  44. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  45. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  46. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  47. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  48. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  49. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  50. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  51. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  52. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  53. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  54. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  55. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  56. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  57. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  58. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  59. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 29 Comments

KAPSUL WAKTU

Sebuah potret ternyata bisa menjadi kapsul waktu untuk membangkitkan kenangan.

KAPSUL WAKTU

Penanggalan adalah temuan yang sangat berguna. Manusia modern tidak dapat hidup tanpa tangal-tanggal, sebuah satuan waktu. Tanggal bisa memperdayai kita kemaren bisa jadi tahun lalu, padahal hanya berlalu satu hari. Padahal setiap hari adalah sama, matahari terbit di timur dan tenggelam di barat.

Penanggalan menyatukan waktu dalam bilangan yang kukuh dan berwibawa. Rentang waktu yang sangat diukur dengan mudah. Padahal sangat sulit untuk memahami orang-orang di masa silam. Kakek kita sendiri adalah misterius yang hidup dalam ide, dia yang semasa hidupnya (mungkin) pernah kita temui ternyata memiliki pakaian, dan tingkah laku yang berbeda (jauh) dengan kita. Maka bayangkanlah kisah kakek kita dua puluh generasi sebelumnya. Sepanjang waktu dan dalam semua bersamaan, ide-ide dari generasi yang satu mengantikan yang lain saling berkejaran satu sama lain.

Tahun 2020 ini bukanlah sebagaimana yang Abu bayangkan di tahun 1995. Dua puluh lima tahun ketika berusia 9 tahun, Abu membayangkan bahwa mobil tidak lagi menggunakan roda melainkan sudah berjalan di udara, betapa naifnya. Tapi Abu juga tidak membayangkan waktu itu bahwa telepon sudah bermetamorfosis sedemikian jauh menjadi smartphone seperti sekarang. Tahun-tahun ini betapa Abu takjub untuk pertama kali melihat mesin fax yang bisa mengirimkan tulisan dari jarak yang jauh, oh betapa jauh tahun 1995 dengan 2020.

Tahun 1995 Abu pulang jalan kaki dari madrasah ke rumah dengan jarak tempuh 1 kilometer, pembangunan jalan sudah mulai dilakukan, tapi sepanjang jalan masih dipenuhi pohon asam, yang buahnya menjadi incaran kami. Dulu disekitar rumah Abu dipenuhi sawah, ada banyak rumah yang mulai dibangun. Rumah-rumah kosong belum selesai dibangun di atas lahan, Abu dan teman-teman suka sekali bertualang di rumah-rumah kosong itu, membayangkan diri sebagai detektif yang mencari penjahat.

Tahun-tahun berjalan, 2005-2011 Abu merantau ke Lhokseumawe. Ada banyak kenangan, romansa bahkan teman-teman disana yang Abu tinggalkan. Bahkan sudah 9 tahun yang lalu Abu meninggalkan kota tersebut kembali ke Banda Aceh. Pernah ada masa-masa Abu merasa bodoh, tidak mengerti apa-apa dan melupakan banyak hal. Bodohnya lagi Abu pernah mendapatkan banyak hal yang berharga, tapi malah tidak ingat.

Seiring dengan bertambahnya umur, seharusnya kita semakin bijaksana. Harus mampu mereduksi kesalahan-kesalahan masa lalu. Beban yang berat terutama untuk tidak menceritakan khilaf, cacat bahkan ketololan masa lalu. Dan itu menyebalkan, ketika tidak bisa menuliskannya ketika ingat karena sekarang sudah “merasa” terlalu tinggi untuk itu.

Padahal masa muda tak mesti hanya kesalahan semata. Ada ingatan tentang tubuh yang lebih ramping, rambut yang lebih banyak serta optimis yang lebih menyala. Harus diakui ketika semakin dewasa kita cenderung semakin sinis.

Sesaat Abu berpikir akankah tiba saatnya melupakan segalanya. Waktu yang menghilang dalam sekejap mata. Kini satu-satunya harta yang mampu menghentikan saat itu bukanlah benda kenangan yang tersimpan dalam kotak harta melainkan kenangan yang tersimpan di dalam hatiku. Sebuah kapsul waktu.

Abu tersenyum kita membayangkan nasehat dulu yang kurang lebih isinya. Saat waktumu telah tiba, menjadi dewasa, memiliki sebuah keluarga. Kau akan belajar bahwa kau harus membuat pemikiranmu sendiri tentang segala sesuatu. Kau harus ikuti jalan hidupmu sendiri. Pilihan yang dibuat mungkin sifatnya rumit. Tapi ingatlah untuk melakukan hal yang benar, kadang kau harus bergantung pada hal yang kau pikir salah.

Abu menikah tahun 2014, lima tahun yang lalu. Ibarat mengarungi samudera sebagaimana seorang nahkoda harus tahu apa yang diingin dicapai dan bagaimana cara mewujudkannya. Jika sang nahloda mampu maka awak kapal pasti melakukan apapun demi melaksanakan perintahnya untuk mencapai tujuan.

Setelah bertahun-tahun hidup, Abu merasakan ada pemandangan yang tak akan bisa Abu lihat lagi, dan juga orang-orang yang tidak akan pernah Abu temui lagi. Ada lanskap yang telah musnah, manusia telah punah. Setelah banyak hal terjadi Abu bisa lupa detil-detil bagaimana sampai hari ini. Sisa-sisa kecil coba Abu kumpulkan dalam kapsul waktu, memori yang bisa luntur kapan saja.

Abu takut menjadi dewasa, karena menurut Abu sepertinya orang dewasa cenderung merasa lebih dewasa dari anak-anak. Padalah sesungguhnya mereka lebih terlatih untuk menyembunyikan betapa bahagianya atau mungkin tidak bahagianya mereka.

Ketika Abu menceritakan hal tersebut kepada sahabat Abu, Jon Slow. Dia tersenyum dan berkata, “tenang Abu. Kamu tidak dewasa seperti itu!”

Abu menaikkan alis, “kok bisa!”

“Karena Abu tidak bisa menyembunyikan perasaan. Baik itu senang, sedih, takut bahkan lapar sekalipun! Abu masih berjiwa anak-anak.”

“Bagus sekali.” Abu memegang janggut.

“Tapi ada satu sifat Abu yang sangat khas dan mirip anak-anak.” Katanya sambil menunjuk.

“Apa itu?” Kata Abu penasaran.

“Merajuk!” Katanya mengejek.

“Sial!” Kata Abu.

Mungkin apa yang dikatakan oleh Jon Slow benar atau salah.

Ketika Abu mengingat masa lalu adalah tersimpan rasa jengkel menemukan betapa manusiawinya seorang Abu. Dan sebuah fakta bahwa yang Abu ingat bukan lagi sebagai manusia. Itu mungkin saja terjadi karena itulah memang kenangan, sebuah benda berupa kapsul waktu, dia bukan lagi seorang manusia.

Simak cerita lainnya di KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA

Pakaian Adat Aceh untuk laki-laki

PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA

Dalam mempelajari atau membaca bacaan dalam bahasa Aceh, perlu kita perhatikan bahwa dalam bahasa Aceh terdapat beberapa bunyi vokal yang tidak kita temui dalam tata bunyi bahasa Indonesia. Namun demikian bunyi-bunyi vokal itu bersamaan atau hampir bersamaan dengan bunyi vokal yang terdapat dalam bahasa lain. Bunyi-bunyi vokal dimaksud adalah sebagai berikut :

A. Perbandingan pengucapan Vokal Tunggal Bahasa Aceh dengan Bahasa lain:

  1. ö – Seperti dalam kata: böh (mengisi, memasang) gadöh (lalai) dan lain-lain. Dalam bahasa Indonesia bunyi vokal seperti ini hanya dapat disamakan dengan vokal o yang terdapat dalam kata: julo-julo, apolo. Sedangkan tanda diakritik tidak digunakan pada vokal o bahasa Indonesia.
  2. o – Seperti dalam kata: boh (membuang), gadoh (hilang) dan lain-lain. Bunyi vokal ini pun tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi sama dengan bunyi ö dalam kata: rengo (mendengar), wor (terbang) dalam bahasa Jawa Kuno. Bunyi vocal ini hampir sama pula dengan bunyi vokal ö dalam kata: schon (cantik), horen (mendengar) dalam bahasa Jerman.
  3. ‘o – Seperti dalam kata: kh’ob (bau busuk), sy’ob (getik). Bunyi vocal ini juga tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi sama bunyinya dengan bunyi vokal o dalam kata: maison (rumah) dalam bahasa Perancis.
  4. ‘è – Seperti dalam kata: ‘èt (pendek), pa’è (tokek). Bunyi vocal ini tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Tetapi sama dengan vokal i dalam kata: pain (roti) dalam bahasa Perancis.
  5. ‘a – Seperti dalam kata: ‘ab (suap), s’ah (bisik) dan lain-lain. Bunyi ini juga tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi hampir sama dengan bunyi konsonan sengau ain dalam kata: ‘alamun (dunia) dalam bahasa Arab.
  6. ‘i – Seperti dalam kata: meu’i’i (suara tangis), Ita-‘lt’o (bekerja lambat). Bunyi vokal ini dalam bentuk tulisan tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi hampir sama ucapannya dengan bunyi ain dalam kata: ‘isyaun (sore) dalam bahasa Arab.
  7. ‘u – Seperti dalam kata: on’u (belarak), ‘am’um (bunyi bertumbangan) dan lain-lain. Dalam bahasa Indonesia bunyi ini pun tidak kita dapati, tetapi bunyi ini hampir sama dengan bunyi konsonan: ‘u dalam kata: ‘umron (umur) dalam bahasa Arab.
  8. eu – Seperti dalam kata: peukan (pasar), areuta (harta) dan lainlain. Vokal ini pun tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi sama dengan bunyi vokal eu dalam kata: baheula’ (dahulu) dalam bahasa Sunda.
  9. è – Seperti dalam kata: gulè (gulai, sayuran), pèh (pukul) dan lain-lain. Dalam bahasa Indonesia bunyi vokal seperti ini hanya dapat disamakan dengan vokal e yang terdapat kata: elok, Sedangkan tanda diakritik tidak digunaan pada vokai e bahasa Indonesia.
  10. é – Seperti dalam kata: gulé (menggulingkan), pén (menggelek, menggiling). Dalam bahasa Indonesia bunyi vokal ini dapat disamakan dengan vokal e yang terdapat dalam kata: geser, Sedangkan tanda diakritik seperti disebutkan di atas, tidak digunakan pada vokal e bahasa Indonesia.

B. Perbandingan pengucapan Vokal Rangkap Bahasa Aceh dengan Bahasa Indonesia

  1. èe – Seperti dalam kata: teubèe (tebu), kayèe (kayu) dan lain-lain. Bunyi vokal rangkap seperti ini tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi e pada èe bertugas sebagai perpanjangan dan diucapkan hampn sama dengan
  2. eue- Seperti dalam kata: eue (lapang, mandul), keubeue (kerbau) dan lain-lain. Bunyi vokal ini pun tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi e kedua pada eue berfungsi atau bertugas sebagai perpanjangan dan diucapkan hampir sama dengan
  3. ie – Seperti dalam kata: ie (air), mie (kucing) dan lain-lain. Vokal rangkap ini juga tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi e pada ie berfungsi sama dengan bunyi e tersebut di atas yaitu diucapkan seperti bunyi
  4. ue – Seperti dalam kata: yue (suruh), sue (ampas), Bunyi ini pun tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi e berfungsi sebagai perpanjangan dan diucapkan seperti bunyi konsonan Bunyi ini hampir sama ucapannya dengan bunyi u dalam kata: poor (miskin) dalam bahasa Inggens.
  5. ui – Seperti dalam kata: bui (babi), phui (ringan). Bunyi bahasa ini tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi i diucapkan seperti: Bunyi bahasa ini sama ucapannya dengan uy dalam kata: tuluy (menembus), tamuy (tamu) dalam bahasa Jawa Kuno.
  6. ói – Seperti dalam kata: bhói (kue bolu), tumpoi (tumpul) dan bunyi bahasa ini pun tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Tetapi bunyi i sesudah ö hampir sama ucapannya dengan y.
  7. oe – Seperti dalam kata: baroe (kemarin), sagoe (sudut) dan lain-lain. Bunyi bahasa ini tidak terdapat juga dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi e berfungsi sebagai perpanjangan vocal o dan pada akhir kata diucapkan seperti bunyi
  8. ‘ai – Seperti dalam kata: meuh’ai (mahal). Bunyi bahasa ini tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi i berfungsi sebagai perpanjangan setelah vokal sengau ‘a dan pada akhir kata bunyi i diucapkan sebagai bunyi y.
  9. ‘ue – Seperti dalam kata: ‘uet (telan), neuk’uet (mengutip). –Bunyi bahasa ini pun tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Tetapi bunyi e berfungsi sebagai perpanjangan setelah vokal ‘u dan pada akhir kata diucapkan seperti bunyi konsonan w.
  10. ‘eue Seperti dalam kata: ‘eue (merangkak). Bunyi vokal rangkap ini juga tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi e berfungsi sebagai perpanjangan setelah vokal sengau ‘eu dan pada akhir kata diucapkan sama dengan konsonan y yang disertai sengau.
  11. ‘ee – Seperti dalam kata: ‘eerat (aurat), peuna’ee (cari ulah). Vokal rangkap ini pun tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi e berfungsi sebagai perpanjangan suara setelah vocal sengau ‘e dan pada akhir kata diucapkan seperti y.
  12. ‘ie – Seperti dalam kata: p’ieb (hirup), ‘iek (kencing), reuh’ieb (peot, rusak). Vokal rangkap ini pun tidak terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi bunyi e berfungsi sebagai perpanjangan suara setelah vokal ‘i dan pada akhir kata diucapkan hampir sama dengan bunyi y yang disertai sengau.

Adapun tanda diakritik yang terdapat pada huruf e dan huruf o adalah berfungsi membedakan bunyi ucapannya. Perbedaan ucapan itu akan menyebabkan perbedaan arti sesuatu kata. Hal inilah yang menyebabkan maka dalam ejaan bahasa Aceh kita dapati tanda aksen aigu dan aksen grave untuk huruf e dan trema (“) untuk huruf o. Selain dari itu ialah untuk membedakan tekanan suara yang rendah dengan tekanan suara yang tinggi yang terdapat pada huruf o, yang juga berfungsi membedakan arti sesuatu kata.

Apabila kita perhatikan contoh-contoh tersebut di atas. kiranya tidak akan timbul kekeliruan dalam pengucapan atau penulisan tanda-tanda tersebut, yakni sering bertukarnya tanda aksen aigu dan aksen grave.

Perbedaan Bunyi Bahasa Aceh dengan Bunyi Bahasa Indonesia

Jika bunyi bahasa bahasa Aceh kita bandingkan dengan bunyi bahasa Indonesia maka terdapatlah perbedaan-perbedaan bunyi bahasa sebagai berikut :

  1. Vokal rangkap èe dalam bahasa Aceh, kadang-kadang menggantikan bunyi u dalam bahasa Indonesia, misalnya :
  • tahu – tahèe, thèe, tu
  • kutu – gutèe
  • pangku – pangkèe
  • guru – gurèe
  • tentu – teuntèe
  • kayu – kayèe
  • batu – batèe
  • baju – bajèe
  • malu – malèe
  • palu – palèe
  • asu – asèe
  • bulu – bulèe
  • jamu – jamèe
  • ribu – ribèe, dan lain-lain.
  1. Bunyi oe bahasa Aceh kadang-kadang menggantikan bunyi i bahasa Indonesia misalnya :
  • puteri – putroe
  • kemudi – keumudoe
  • negeri – nanggroe
  • hari – uroe
  • kami – kamoe
  • jari – jaroe
  • puji – pujoe
  • kati – katoe
  • tuli – tuloe
  • laki – lakoe
  • ganti – gantoe, dan lain-lain.
  1. Bunyi eue bahasa Aceh kadang-kadang menggantikan bunyi a pada suku kedua yang mendahului konsonan penutup bahasa Indonesia, misalnya:
  • bulan – buleuen
  • hutan – uteuen
  • layar – layeue
  • sandar – sadeue
  • salam – saleuem
  • atas – ateueh
  • orang – ureueng
  • alas – aleue
  • udang – udeueng
  • lintang – linteueng
  • cabang – cabeueng, dan lain-lain.
  1. Bunyi r pada akhir kata bahasa Indonesia, biasanya menjadi hilang dalam bahasa Aceh, misalnya:
  • ular – uleue
  • kapur – gapu
  • sekadar- seukada
  • akar – ukheue
  • ukur – uko
  • layar – layeue
  • sabar – saba
  • ajar – aja
  • alur – alue
  • dengar – deungö
  • bayar – bayeue. dan lain-lain.
  1. Bunyi s pada akhir kata bahasa Indonesia, biasanya berubah menjadi bunyi h dalam bahasa Aceh, misalnya:
  • habis – abeh
  • hangus – angoh
  • tipis – lipeh
  • gelas – glah
  • kapas – gapeueh
  • ramas – ramah
  • ibus – iböh
  • kipas – kipah
  • mas – meuh
  • beras – breueh
  • putus – putóh
  • tikus – tiköh
  • peras – prah
  • nafas – nafah
  • balas – balah
  • halus – haloh
  • keras – kreueh
  • harus – haroh
  • Kamis – Hameh
  • tawas – tawah, dan lain-lain.
  1. Bunyi d dan t disuarakan dengan menggerakkan ujung lidah pada langit-langit dekat akar gigi atas.
  2. Bunyi d yang terdapat pada akhir kata bahasa Indonesia menjadi bunyi t dalam bahasa Aceh, misalnya: Ahad menjadi Aleuhat (hari Minggu) dalam bahasa Aceh.
  3. Bunyi p tidak pernah terdapat pada akhir kata, sehingga bunyi p yang terdapat pada akhir kata bahasa Indonesia menjadi b dalam bahasa Aceh, hadap, asap dan lain-lain, menjadi hadab, asab dalam bahasa Aceh.
  4. Di dalam bahasa Aceh terdapat konsonan gabung (cluster) baik pada Suku pertama maupun pada suku kedua, misalnya :

Pada suku pertama :

  • dhoe = dahi
  • kha = berani
  • broh = sampah
  • glang = cacing
  • pha = paha
  • cheue = teduh, dan lain-lain.

Pada Suku kedua :

  • atra = harta
  • jakhab = terkam
  • geundrang = genderang
  • ablak = sejenis hiasan
  • subra = riuh rendah
  • gancheb = kuncikan, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Himpunan Hadih Maja oleh Hasyim M.K. Cs. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh di Banda Aceh pada tahun 1969;
  2. Peribahasa Aceh disusun oleh Hasyim M.K. Cs. Diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Istimewa Aceh di Banda Aceh pada tahun 1977;
  3. BAHASA ACEH ditulis oleh Drs. Budiman Sulaiman diterbitkan oleh Pustaka Faraby di Banda Aceh pada tahun 1978.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. MENGUNJUNGI PAMERAN BATU NISAN ACEH SEBAGAI WARISAN BUDAYA ISLAM DI ASIA TENGGARA 15 MEI 2017;
  2. KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602 18 MEI 2017;
  3. SYARIAT ISLAM SIAPA TAKUT 6 JUNI 2017;
  4. SENJA DI MALAKA 14 JUNI 2017;
  5. KRITIK KEPADA SULTAN ISKANDAR MUDA 4 JULI 2017;
  6. HIKAYAT SUKU MANTE 5 JULI 2017;
  7. TEUKU NYAK MAKAM, PAHLAWAN ACEH TANPA KEPALA 30 JULI 2017;
  8. ASAL MUASAL BUDAYA KOPI DI ACEH 1 AGUSTUS 2017;
  9. MUSIBAH TENGGELAMNYA KMP GURITA 6 AGUSTUS 2017;
  10. PERANG ACEH, KISAH KEGAGALAN SNOUCK HURGRONJE 7 AGUSTUS 2017;
  11. ACEH DI MATA KOLONIALIS 8 AGUSTUS 2017;
  12. MELUKIS SEJARAH 10 AGUSTUS 2017;
  13. NASIHAT-NASIHAT C. SNOUCK HURGRONJE SEMASA KEPEGAWAIANNYA KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA 1889-1936 14 AGUSTUS 2017;
  14. ACEH SEPANJANG ABAD 16 AGUSTUS 2017;
  15. PERANG DI JALAN ALLAH 30 AGUSTUS 2017;
  16. ACEH DAERAH MODAL 7 SEPTEMBER 2017;
  17. 59 TAHUN ACEH MERDEKA DI BAWAH PEMERINTAHAN RATU 12 SEPTEMBER 2017;
  18. KERAJAAN ACEH PADA JAMAN SULTAN ISKANDAR MUDA (1609-1636) 13 SEPTEMBER 2017;
  19. PERISTIWA KEMERDEKAAN DI ACEH 14 SEPTEMBER 2017;
  20. PASAI DALAM PERJALANAN SEJARAH 17 SEPTEMBER 2017;
  21. MATA UANG EMAS KERAJAAN-KERAJAAN DI ACEH 19 SEPTEMBER 2017;
  22. ACEH MENDAKWA 21 SEPTEMBER 2017;
  23. SEJARAH PARTAI KOMUNIS INDONESIA DI ACEH 21 SEPTEMBER 2017;
  24. MISI MENCARI MAKAM PARA SULTANAH ACEH 6 OKTOBER 2017;
  25. BERZIARAH KE MAKAM SULTANAH MALIKAH NAHRASYIYAH 8 OKTOBER 2017;
  26. EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM APAKAH BAGUS UNTUK ACEH 15 OKTOBER 2017;
  27. AROMA MEMIKAT DARI DAPUR ACEH 16 OKTOBER 2017;
  28. TARIKH ACEH DAN NUSANTARA 29 OKTOBER 2017;
  29. PEKUBURAN SERDADU BELANDA PEUCUT KHERKHOF DI BANDA ACEH SEBAGAI SAKSI KEDAHSYATAN PERANG ACEH 11 NOVEMBER 2017;
  30. PEMBERONTAKAN KAUM REPUBLIK KASUS DARUL ISLAM ACEH 17 NOVEMBER 2017;
  31. TUANKU HASYIM WALI NANGGROE YANG DILUPAKAN SEJARAH 19 NOVEMBER 2017;
  32. KOPRS MARSOSE SERDADU PRIBUMI PELAYAN RATU BELANDA 8 DESEMBER 2017;
  33. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  34. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  35. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  36. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  37. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  38. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  39. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  40. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  41. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  42. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  43. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  44. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  45. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  46. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  47. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  48. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  49. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  50. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  51. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  52. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  53. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  54. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBESMIAN PENKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  55. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  56. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  57. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  58. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  59. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
Posted in Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 14 Comments

PERJALANAN YANG LUAR BIASA

Lapangan Basket di Blang Padang Banda Aceh

Seorang yang tafakur akan selalu zikir tahu bahwa kerendahan hatinya bisa pergi kapan saja.

PERJALANAN YANG LUAR BIASA

Kehidupan ini dalam perjalanannya, terdapat unsur yang kebetulan, mungkin saja dilewatkan orang biasa, maka dibutuhkan kebijaksanaan untuk memperhitungkan hal yang tak terduga. Kehidupan menjadi perjalanan yang luar biasa karenanya.

Di alam semesta yang terbentang sangat luas ini. Apakah ada kehidupan cerdas lainnya selain manusia di bumi? Tahun 1974, melalui Obserbatorium Arecibo di Puerto Riko menyiarkan pesan gambar ke luar angkasa terdiri dari 1679 bit data, 73 baris dan 23 karakter tiap barisnya ditampilkan dalam sistem biner untuk membantu alien memecahkan kode pesan tersebut. 73 x 23 = 1679 adalah bilangan prima yang merupakan bilangan yang hanya habis jika dibagi dengan dirinya sendiri. Mengapa bilangan prima? Karena kemunculan bilangan prima pada urutan angka memiliki pola yang sama dengan teori chaos alam semesta.

Bilangan prima adalah hal yang sulit ditebak kemunculannya, sebagaimana tampaknya manusia sudah lebih sadar tentang kerumitannya sendiri, sedikit. Ada banyak tempat kumuh di dunia, tapi sebenarnya jika dipikirkan lagi kita semua tinggal di tempat yang sama, selokan kumuh di angkasa.

Pesan Arecibo diarahkan ke luar angkasa satu kali melalui gelombang radio pada tanggal 16 November 1974. Pesan ini meliputi 1679 bit, berukuran sekitar 210 byte, ditransmisikan dengan frekuensi 2380 MHz. Seluruh transmisi berlangsung selama 1679 detik. Pesan ini ditujukan ke kluster bintang M13.  (Sumber: Wikipedia)

Sebenarnya kita manusia sadar akan keterbatasannya, kecil dan kerdil di alam semesta yang luas dan tak terbatas. Dalam keterpukauan dan antusiasmenya ini, manusia fana mengalami dirinya sebagai bagian kekuasaan illahiyat yang memanifestasikan dirinya dalam keindahan dan “ketiada-ujung” alam semesta. Lambat laun semakin jelas, jika kita berpikir maka akan menemukan sekelumit dari kebesaran yang tak terhingga dan terharu karenanya. Tiap-tiap orang akan melahirkan pengalaman pribadinya atau pandangannya terhadap apa yang (telah) diketahui, dialami dengan suatu pertautan antara kenyataan dengan nisbat kenyataan.

Tetapi siapa yang tahu jika di alam semesta tak terbatas ini, bahwa hanya tak terbatas fisik. Bukan tak terbatas dalam artian tidak mematuhi hukum kebenaran. Nalar dan keadilan mencengkram bintang itu terlihat seperti safir? Kita dapat membayangkan botani atau geologi apa pun. Bayangkan hutan yang dipenuhi dengan dedaunan indah. Bayangkan bulan adalah bulan biru, sebuah safir angkasa. Tapi, jangan harap semua astronomi itu mampu mempengaruhi nalar dan keadilan perilaku. Jika di hamparan bumi ini, bukan tanah menyelimuti tapi mutiara yang telah di asah, kita (masih) menemukan papan pengumuman, “janganlah kau mencuri!

Di dalam DNA manusia terdapat formula gula dan basa nukleotida. Hampir 99% dari masa tubuh manusia tersusun dari enam unsur yaitu: oksigen, karbon, hidrogen, kalsium dan fosfor. Hanya sekitar 0,85% yang disusun oleh lima unsur lainnya yaitu: kalium, belerang, natrium, klorin, dan magnesium. Sebelas unsur tersebut dibutuhkan manusia untuk hidup. Sisanya adalah unsur renik yang rata-rata dimiliki tiap manusia kurang dari 10 gram. Uniknya keseluruhan unsur dalam manusia terdapat juga pada tanah. Manusia adalah manifestasi bumi, tempat ia diciptakan. Oleh karena itu jika alien itu ada maka mereka terbentuk dari planet di mana mereka dilahirkan, tentu mereka berbeda dengan manusia.

Legenda mengatakan, manusia terbentuk dari tanah lokasi di mana dia dilahirkan. Tapi tokh identitas manusia tak kunjung akan rampung dalam defenisi. Sebagaimana 1679 = 23 x 73, hasil perkalian itu yang diubah menjadi gelombang dalam bentuk kotak-kotak kecil belum kunjung mendapat balasan dari alien. Setidaknya kita sepaham bahwa manusia seperti apapun dia, siapapun ia, pasti akan selalu berpijak pada tanah, dia tidak akan dapat menghindar dari daya tarik bumi, setidaknya ketika dia masih di bumi. Alamnya, habitatnya.

Anak-anak berkembang menjadi dewasa dengan menyadari banyak hal. Melalui kesalahan kita menjadi dewasa, kunci katanya adalah “melalui” berarti kita tak terperosok di sana, dalam liang dosa. Itulah benih harapan, rasa bersalah menyebabkan kerendahan hati, tanah subur di mana akan tumbuh nilai tentang apa yang baik dan buruk. Tanpa itu, kita hidup (dan berkuasa) bagaikan hewan buas. Manusia yang memangsa sesama manusia.

Manusia yang nyata-nyata berasal dari tanah itu, hanya (mampu) menjadi jelek dan berdosa, jika ia tak mampu mengatasi kecenderungan keji dirinya sendiri. Seorang yang tafakur akan selalu zikir, ia tahu bahwa kerendahan hatinya bisa pergi kapan saja. Manusia bersyukur justru dengan berendah hati, sebab kita tahu tetap ada yang tersembunyi, ada hal-hal tersirat yang menjadi misterius yang tak mungkin dianggap sebagai problem untuk kecerdasannya. Bah, bahkan selain Tuhan pun manusia seharusnya menyadari ada hal-hal yang lebih kuat dan berkuasa melebihi dirinya.

Dalam hidup yang merupakan perjalanan yang luar bisa ini, pasti sulit menjadi seseorang terhormat, bahkan jika dipikir-pikir mungkin hampir sama sulitnya dengan menjadi seorang pelayan. Tapi ingatlah, kita semua berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah.

OASE KEHIDUPAN

  1. Pohon Kekekalan; 4 November 2017;
  2. Renungan Malam; 19 November 2017;
  3. Manusia Semesta; 21 November 2017;
  4. Sebuah Kotak Hitam; 21 November 2017;
  5. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  6. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  7. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  8. Agar Hidup Lebih Terasa Hidup; 18 Oktober 2018;
  9. Telatah Yang Patah-Patah Menuju Makrifat; 11 Desember 2018;
  10. Laut Dan Senja; 10 Januari 2019;
  11. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  12. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  13. Syair Perahu oleh Hamzah Fansuri; 3 April 2019;
  14. Seorang Tanpa Nama Tanpa Gelar; 15 Mei 2019;
  15. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
Posted in Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 19 Comments

KAYA TANPA HARTA

Masjid Saree Aceh Besar November 2019. Di sana dalam jam-jam tenang dan sejuk sebelum fajar bus merapat sejenak. Bulan sudah lama turun, bintang-bintang gemerlap diatas mereka, cahaya fajar pertama belum lagi muncul dari balik bukit-bukit gelap di belakang.

KAYA TANPA HARTA

Setiap manusia, setiap orang, tiap individu punya pandangan, persepsi tentang dirinya. Cara pandang itu dipengaruhi oleh subjektivitas manusia itu sendiri. Ketika seseorang bergabung dalam kumpulan maka diperlukan potret, untuk mengukur dirinya ketika disandingkan dengan yang lain.

Sebuah gambaran yang telihat oleh mata terkadang tak membuat kita mengerti, memahami atau bahkan mengetahui. Saat ini konsep kebahagian yang ditawarkan oleh media adalah kemewahan, pengaruh, populer dan kesehatan. Apakah itu benar? Haruskan kita menelan mentah-mentah konsep itu? Mereka yang tidak pernah berpikir maka tidak akan tahu apa kebahagiaan yang sebenarnya. Berpikir membuat kita mampu untuk melihat kebenaran tanpa tertipu.

Kemewahan, pengaruh, populer dan kesehatan menurut pandangan umum dapat diperoleh dengan kekayaan. Uang menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang hari ini, semakin kaya seseorang maka semakin ia dihargai. Tidak dapat kita pungkiri saat ini uang merupakan hal yang penting, tapi juga bukan yang paling penting.

Jika menghasilkan uang adalah hal yang paling penting. Maka tak mengapa apapun cara untuk mendapatkannya. Bisa dibayangkan jika di tengah masyarakat yang menganut nilai ini muncul orang-orang yang memiliki prinsip ini. Para dokter memberikan resep yang salah, petugas pajak menilap kas negara, pejabat pengadaan menerima suap, sampai kontraktor demi mengejar uang membangun jembatan yang tidak layak.

Betapa berbahayanya jika seseorang, sebuah perkumpulan, yang hidup di lingkungan seperti ini akan membuat pembenaran atas keserakahannya dengan mengatakan. “Aku tergoda berbuat jahat akibat pengaruh masyarakat yang menilai seseorang dari uang!” Sisi gelap dari kehidupan bermasyarat seperti ini (mungkin) ada, sebagaimana kegelapan ini pasti ada. Tapi alangkah baiknya jika kita bisa bertahan supaya tidak terseret ke dalamnya.

Ini adalah tantangan bagi kita yang hidup di sebuah dunia yang mana spirit zamannya sudah dihuni oleh roh-roh kapitalisme-konsumerialisme-pragmatisme. Mungkin terasa sulit bagi kita untuk terlalu dalam mempelajari spirit idealisme filosofis yang berpihak kepada proyek sejati kemanusiaan yaitu “memanusiakan manusia.”

SURONO DANU SEORANG IDEALIS

Hidup penuh dengan keajaiban, mungkin kita telah melupakan keajaiban. Bahwa hidup kita biasa saja tapi (pasti) ada seseorang di luar sana yang sangat luar biasa yang mungkin bisa menginspirasi kita. Salah satunya adalah Surono Danu.

Ia dicemooh karena menyebarkan virus di mana-mana supaya punya sikap. Agar orang-orang berpikir tentang kedaulatan pangan. Meskipun menemukan bibit padi Sertani, Surono Danu menampik telah menemukan bibit padi tersebut, ia mengaku hanya melahirkan buah pikiran. Kritiknya bahwa selama ini sarjana dicetak, seperti ubin, tidak berkembang. Tapi sebuah buah pikir yang dilahirkan dengan sendirinya akan berkembang. Sumbangsih kepada bangsanya, tidak dijual meskipun telah ditawar oleh bangsa asing. Ia menolak, materi tidak memikatnya.

Ia berpendapat bahwa ketika dilahirkan telah dianugerahkan tuhan otak dan nurani. Dari rahim ibunya ia lahir tidak dibekali uang. Keyakinan pada Allah adalah modalnya, begitu pula kecintaannya kepada para petani.

Sekali seorang peneliti menemukan sesuatu yang berharga, dia tidak akan pernah mau meninggalkan tempat itu. Tidak terbeli, Suruno Danu adalah orang yang paling kaya.

BERPIKIR ADALAH KEKAYAAN

Keadaan dunia saat ini adalah terlalu banyak motivator, sedangkan filosof semakin sedikit. Zaman ini lebih suka mengurusi hal-hal yang lebih praktis untuk memenuhi waktu senggang dengan kenikmatan, senikmat mungkin seolah hidup hanya sekali. Para pemikir telah mengalami kemunduran, sebagaimana kritik Marx terhadap filsuf yang katanya manusia yang bisanya hanya menafsirkan dunia saja, tapi tak becus mengubahnya. Padahal tujuan filsafat sungguh mulia yaitu menjadikan manusia sebagai pencinta kebenaran. Dengan segala idealismenya, dengan segala romantismenya.

Mungkin sekarang zaman etik dan bajik seperti merangkai ilusi, adakala menjadi ia menjadi delusi kotor yang menuntut kemurnian sejati, padahal dunia ini fana, tiada sempurna.

Cara pandang manusia dipengaruhi oleh subjektivitas manusia itu sendiri, dengan cara pandang seperti itu jikalah kita melihat bulan di langit malam, masing-masing orang melihatnya berbeda, bisa terlihat lebih besar dan bisa lebih kecil. Jika mata telah mampu membuka selubung kebenaran bahkan pada hari yang terang kita bisa melihat bulan.

Menjadi kaya tanpa harta apakah bisa? Bisa! Sebab, ada masa orang hidup dengan gairah mencapai keagungan, dan ada masanya orang hidup dengan gairah memperoleh kekayaan. Mereka yang saleh tahu, keduanya nafsu.

Ketika hidup untuk memberi, mempesona, seperti mengubah kata menjadi puisi.

Beberapa Opini lain:

  1. Asal Muasal Budaya Kopi Di Aceh; 1 Agustus 2017;
  2. Melukis Sejarah; 10 Agustus 2017;
  3. Sepak Terjang Partai Komunis Indonesia Di Aceh; 21 September 2017;
  4. Komunisme Dalam Perspektif Muslim; 30 September 2017;
  5. Dimanakah Makam Para Ratu Yang Pernah Memerintah Aceh Selama 59 Tahun; 6 Oktober 2017;
  6. Ketika Kritis Itu Haram; 9 Oktober 2017;
  7. Eksploitasi Sumber Daya Alam Apakah Bagus Untuk Aceh; 15 Oktober 2017;
  8. Perlukah Kita Menjaga Makam-Makam Warisan Penjajah Kolonial Belanda di Kherkoff Peucut Banda Aceh; 11 November 2017;
  9. Mampukah Puisi Mengubah Dunia: 4 April 2018;
  10. Menyingkap Makna Syair Kutindhieng Selaku Mantra Sihir Aceh Kuno; 15 Mei 2018;
  11. Kejatuhan Sang (Mantan) Pejuang; 6 Juli 2018;
  12. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  13. Menafsir Alam Membaca Masa Depan; 14 Maret 2019;
  14. Nilai Seorang Manusia; 8 Juli 2019;
  15. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
Posted in Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 10 Comments

LAWAN PERUNDUNGAN

Bukankah tiap-tiap manusia merdeka menentukan dalam kalbu sanubarinya sendiri?

LAWAN PERUNDUNGAN

Berdayakah seorang manusia menghadapi sejarah? Ingatan bisa dikembalikan, luka bisa dibuka kembali. Jalan yang (pernah) kita lalui memiliki noda dibelakangnya. Semua pilihan yang pernah kamu buat, semua jalan yang pernah kamu pilih menjadikan jati dirimu hari ini.

Entah berapa lama Abu tertidur, tidur yang nyenyak dan panjang menjadi tidur yang menyembuhkan. Minggu yang berat akibat perpustakaan Abu diserang rayap, frustasi dengan hancurnya beberapa buku favorit dan harus mengeluarkan yang selamat berserakan di lantai membuat jiwa Abu lelah.

“Ngopi?” Sebuah pesan masuk.

Menguap dan memperhatikan sekeliling kamar yang berantakan Abu membalas, “Sekarang?”

“Nanti malam saja.”

“OK.” Jawab Abu. Hari itu kemudian Abu habiskan dengan membersihkan sisa-sisa pasir yang dibawa oleh rayap pada buku, lemari dan tangga kayu.

Malamnya Abu keluar ke warung kopi terdekat. Kawan Abu sudah hadir dia berkata, “sudah dua bulan kita tak berjumpa.”

“Oya, mungkin belakangan ini aku sedang banyak masalah jadi jarang keluar.” Abu tertawa.

Kami berbincang-bincang santai saja. Menit berjalan pelan.

“Sudah nonton pilem Joker?” Tanyanya.

“Sudah, pilemnya biasa saja. Aku pikir alur pilemnya terlalu lambat, dan aku pikir ceritanya tidak realistis. Mana ada orang yang dirundung oleh semua orang. Di Indonesia ini, setidaknya adalah orang yang baik, minimal orang tuanya.” Jawab Abu tertawa.

“Aku belum nonton seluruhnya, tapi pernah kamu pikir bahwa bullying itu sangat berbahaya dan membawa luka batin bagi korbannya?” Dia bertanya.

Abu terdiam, bahasan yang rumit di malam hari. Terlepas dari suasana yang muram dalam film tersebut dan beberapa kali menampilkan kekerasan brutal, memang ada pesan penting tentang perundungan di film ini.

Bullying terlahir dari nurani yang sakit sehingga melahirkan jiwa yang rusak. Ya, aku paling benci tindakan seperti itu.” Jawab Abu.”Sejenis kumpulan pengecut yang berani jika ramai.”

“Tapi jika dibungkus dengan humor seolah hanya lelucon.” Kata kawan Abu.

Abu tersenyum teringat bacaan dari salah satu buku yang telah diserang rayap, “Humor terbagus dimanapun selalu datang dari bawah, atau menertawakan diri sendiri. Lelucon paling tidak lucu adalah menertawakan mereka yang tak punya, cacat dan lemah.”

“Terima kasih Abu, dulu kamu pernah membela aku ketika menjadi korban perundungan. Pernah ada saat harga diriku dilukai, dan rasa kecewa yang tidak diakui, pernah membuat nalar dan pemikiran rasionalku menjadi tertutup. Hanya dendam, sakit hati, sumpek, dan perasaan gelisah yang tak bisa disalurkan kemana-mana.”

“Sudahlah, masa-masa itu sudah berlalu. Hey, tapi bukankan waktu itu kau bilang aku terlalu bereaksi berlebihan ketika membelamu.” Abu tertawa.

“Waktu itu aku belum menonton pilem Joker. Tapi aku sekarang kasihan kepada para perundung, pada jiwa mereka.” Katanya.

Abu angkat bahu, “akh itu bukan urusan kita lagi. Hidup terus berlanjut ya kan.”

“Sebelum kita tak bertemu lagi dua atau tiga bulan lagi. Aku punya satu pertanyaan Abu. Untuk apa kamu membelaku? Kamu tak harus melakukannya, dan mungkin kamu bahkan tak punya pengetahuan tentang hal itu.”

Abu tertawa tertawa terbahak. “Kamu mau mengatakan aku bukan orang yang cukup pintar ya? Bisa jadi. Tapi percayalah kawan, yang paling merdeka dalam setiap diri manusia, dan menjadi penjaga dalam diri manusia adalah nurani.”

Malam semakin larut dan kami harus berpisah. Sebelum tertidur di peraduan Abu mencoba mengingat-ingat, bukan satu atau dua kali Abu harus bermasalah karena membela kawan-kawan Abu dari perundungan, dampak sosialnya adalah beberapa kali Abu harus bertikai dengan orang-orang yang seharusnya tidak memiliki persoalan dengannya. Tapi akhirnya Abu berpikir biarlah, barangkali Abu seorang yang dungu, dalam arti tidak memikirkan akibatnya bagi nasib sendiri ketika harus mendengarkan nurani yang berdegup keras-keras.

Bukankah tiap-tiap manusia merdeka menentukan dalam kalbu sanubarinya sendiri?

Baca juga kisah lainnya di KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment