KAPSUL WAKTU

Sebuah potret ternyata bisa menjadi kapsul waktu untuk membangkitkan kenangan.

KAPSUL WAKTU

Penanggalan adalah temuan yang sangat berguna. Manusia modern tidak dapat hidup tanpa tangal-tanggal, sebuah satuan waktu. Tanggal bisa memperdayai kita kemaren bisa jadi tahun lalu, padahal hanya berlalu satu hari. Padahal setiap hari adalah sama, matahari terbit di timur dan tenggelam di barat.

Penanggalan menyatukan waktu dalam bilangan yang kukuh dan berwibawa. Rentang waktu yang sangat diukur dengan mudah. Padahal sangat sulit untuk memahami orang-orang di masa silam. Kakek kita sendiri adalah misterius yang hidup dalam ide, dia yang semasa hidupnya (mungkin) pernah kita temui ternyata memiliki pakaian, dan tingkah laku dengan kita. Maka bayangkanlah kisah kakek kita dua puluh generasi sebelumnya. Sepanjang waktu dan dalam semua bersamaan, ide-ide dari generasi yang satu mengantikan yang lain saling berkejaran satu sama lain.

Tahun 2020 ini bukanlah sebagaimana yang Abu bayangkan di tahun 1995. Dua puluh lima tahun ketika berusia 9 tahun, Abu membayangkan bahwa mobil tidak lagi menggunakan roda melainkan sudah berjalan di udara, betapa naifnya. Tapi Abu juga tidak membayangkan waktu itu bahwa telepon sudah bermetamorfosis sedemikian jauh menjadi smartphone seperti sekarang. Tahun-tahun ini betapa Abu takjub untuk pertama kali melihat mesin fax yang bisa mengirimkan tulisan dari jarak yang jauh, oh betapa jauh tahun 1995 dengan 2020.

Tahun 1995 Abu pulang jalan kaki dari madrasah ke rumah dengan jarak tempuh 1 kilometer, pembangunan jalan sudah mulai dilakukan, tapi sepanjang jalan masih dipenuhi pohon asam, yang buahnya menjadi incaran kami. Dulu disekitar rumah Abu dipenuhi sawah, ada banyak rumah yang mulai dibangun. Rumah-rumah kosong belum selesai dibangun di atas lahan, Abu dan teman-teman suka sekali bertualang di rumah-rumah kosong itu, membayangkan diri sebagai detektif yang mencari penjahat.

Tahun-tahun berjalan, 2005-2011 Abu merantau ke Lhokseumawe. Ada banyak kenangan, romansa bahkan teman-teman disana yang Abu tinggalkan. Bahkan sudah 9 tahun yang lalu Abu meninggalkan kota tersebut kembali ke Banda Aceh. Pernah ada masa-masa Abu merasa bodoh, tidak mengerti apa-apa dan melupakan banyak hal. Bodohnya lagi Abu pernah mendapatkan banyak hal yang berharga, tapi malah tidak ingat.

Seiring dengan bertambahnya umur, seharusnya kita semakin bijaksana. Harus mampu mereduksi kesalahan-kesalahan masa lalu. Beban yang berat terutama untuk tidak menceritakan khilaf, cacat bahkan ketololan masa lalu. Dan itu menyebalkan, ketika tidak bisa menuliskannya ketika ingat karena sekarang sudah “merasa” terlalu tinggi untuk itu.

Padahal masa muda tak mesti hanya kesalahan semata. Ada ingatan tentang tubuh yang lebih ramping, rambut yang lebih banyak serta optimis yang lebih menyala. Harus diakui ketika semakin dewasa kita cenderung semakin sinis.

Sesaat Abu berpikir akankah tiba saatnya melupakan segalanya. Waktu yang menghilang dalam sekejap mata. Kini satu-satunya harta yang mampu menghentikan saat itu bukanlah benda kenangan yang tersimpan dalam kotak harta melainkan kenangan yang tersimpan di dalam hatiku. Sebuah kapsul waktu.

Abu tersenyum kita membayangkan nasehat dulu yang kurang lebih isinya. Saat waktumu telah tiba, menjadi dewasa, memiliki sebuah keluarga. Kau akan belajar bahwa kau harus membuat pemikiranmu sendiri tentang segala sesuatu. Kau harus ikuti jalan hidupmu sendiri. Pilihan yang dibuat mungkin sifatnya rumit. Tapi ingatlah untuk melakukan hal yang benar, kadang kau harus bergantung pada hal yang kau pikir salah.

Abu menikah tahun 2014, lima tahun yang lalu. Ibarat mengarungi samudera sebagaimana seorang nahkoda harus tahu apa yang diingin dicapai dan bagaimana cara mewujudkannya. Jika sang nahloda mampu maka awak kapal pasti melakukan apapun demi melaksanakan perintahnya untuk mencapai tujuan.

Setelah bertahun-tahun hidup, Abu merasakan ada pemandangan yang tak akan bisa Abu lihat lagi, dan juga orang-orang yang tidak akan pernah Abu temui lagi. Ada lanskap yang telah musnah, manusia telah punah. Setelah banyak hal terjadi Abu bisa lupa detil-detil bagaimana sampai hari ini. Sisa-sisa kecil coba Abu kumpulkan dalam kapsul waktu, memori yang bisa luntur kapan saja.

Abu takut menjadi dewasa, karena menurut Abu sepertinya orang dewasa cenderung merasa lebih dewasa dari anak-anak. Padalah sesungguhnya mereka lebih terlatih untuk menyembunyikan betapa bahagianya atau mungkin tidak bahagianya mereka.

Ketika Abu menceritakan hal tersebut kepada sahabat Abu, Jon Slow. Dia tersenyum dan berkata, “tenang Abu. Kamu tidak dewasa seperti itu!”

Abu menaikkan alis, “kok bisa!”

“Karena Abu tidak bisa menyembunyikan perasaan. Baik itu senang, sedih, takut bahkan lapar sekalipun! Abu masih berjiwa anak-anak.”

“Bagus sekali.” Abu memegang janggut.

“Tapi ada satu sifat Abu yang sangat khas dan mirip anak-anak.” Katanya sambil menunjuk.

“Apa itu?” Kata Abu penasaran.

“Merajuk!” Katanya mengejek.

“Sial!” Kata Abu.

Mungkin apa yang dikatakan oleh Jon Slow benar atau salah.

Ketika Abu mengingat masa lalu adalah tersimpan rasa jengkel menemukan betapa manusiawinya seorang Abu. Dan sebuah fakta bahwa yang Abu ingat bukan lagi sebagai manusia. Itu mungkin saja terjadi karena itulah memang kenangan, sebuah benda berupa kapsul waktu, dia bukan lagi seorang manusia.

Simak cerita lainnya di KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.