SANG MAHA DURJANA

Untuk membuat orang menertawakan kebenaran, untuk membuat kebenaran tertawa.

SANG MAHA DURJANA

Dan kenanglah saat-saat dimana kaki-kaki kecilmu berlari dipematang sawah mengembala kambing, dan tersenyumlah mengingat kesedihan ketika kesayanganmu menghilang. Kamu bukanlah seorang gembala baik, namun bagaimanapun sejarahmu tetap membanggakanku. Dan ingatlah ketika tangan-tangan kecilmu menjamah kuburan Cina tanpa rasa takut, ya tanpa rasa takut demi sekerat apel busuk. Sesaji borjuis adalah makanan Proletar, sisa begitu nikmat bersama peluh, ya peluh dan kegembiraan.

Sang Maha Durjana, kamu bukanlah sosok itu lagi. Kamu adalah kamu, namun waktu telah menjebakmu. Sejarahmu tak membentukmu menjadi bijak, entah angkara apa yang merasukimu. Ya, waktu telah mengubah segalanya. Ketika kamu menjadikan dirimu orang yang paling kamu benci, dahulu. Tak sangka itu dirimu sendiri.

Ya, kamu bukanlah anak bertubuh ceking itu. Yang bergetar membaca buku Godaan Iblis di perpustakaan sekolah ketika Iblis menciumi keping uang logam pertama, dan ketika Iblis bersumpah bahwa sang Raja Syaitan Ridha dan ikhlas jika keping uang logam itu lebih di tuhankan dibandingkan dirinya demi menyesatkan manusia.

Kamu adalah kamu yang sekarang, yang manipulatif. Kulitmu melembut bersama wajahmu yang semakin berisi. Materi betapa kamu berkata itu tiada guna, namun betapa dengan culasnya kamu menggunakan kuasanya untuk membuatmu digjaya.

Ya, Sang Maha Durjana. Bahkan kamu belum sekaya Karun. Namun ternyata dirimu memiliki keangkuhan yang sana. Kitab-kitab Fiqih yang kau baca dahulu mempermanis bibirmu namun bukan hatimu. Ahli sufi cita-citamu dulu, sekarang terlalu naïf untukmu yang sekarang.

Kesombongan itu dari mana? Ketika engkau berkata terlambat untuk berubah. Layaknya Iblis yang menolak datang pada pintu taubat walau itu selamanya ada hingga kiamat. Ketahuilah itu semua tak akan meninggikan derajatmu, hanya kamuflase dimana sebenarnya kamu adalah manusia hina dina.

Ingin kukatakan padamu, semuanya belum terlambat. Mengingat hidungmu menghirup debu seraya mengepakkan sayap. Belum terlambat untuk melahirkan dirimu yang baru, yang putih bersih dan polos seperti dahalu. Tersenyum aku mengingat kamu memiliki kuasa atas dirimu tak terikat benda, menjadi manusia merdeka. Belum terlambat kawan, sahabat, teman seperjuangan dan juga diriku sendiri. Belum terlambat, sama sekali belum bahkan ketika mendapati dirimu terhina, bukan oleh orang lain tapi oleh kelakuanmu sendiri.

Takdir telah mengejutkan seseorang lelaki, betapa banyak perubahan dalam waktu singkat. Tempat yang sama bahkan terlihat berbeda jika memandang dalam waktu singkat. Namun garis takdir akan lebih mengejutkan seorang lelaki ketika mendapati dirinya berubah menjadi sosok yang sangat dibenci olehnya dahulu dalam waktu yang singkat.

Posted in Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 22 Comments

MEMOAR ROMANTIK

Après l'amour, le repentir.

Après l’amour, le repentir.

MEMOAR ROMANTIK

Adakala ketika terjaga dipagi hari, ku tak tahu berada dimana. Aliran kehidupan seperti sungai. Detak waktu telah membuat sadar bahwa diri tak lagi merupakan kanak-kanak. Hari ini kumengingat diri sebagai seorang bocah berumur tujuh tahun. Seperti pertama kali melihat matahari tenggelam, sudah banyak yang terlewati.

Dan hari ini ku mendapati tak akan ada yang mengerti, dan tak ada yang peduli dan tak akan pulang kembali. Bersama impian dan keyakinan tak akan menyerah. Mengingat sumpah setia bersama teman-teman yang telah pergi.

Berpikir bagaimana kehidupanku kembali setelah menjalani jalan ini tanpa berpikir lari dari takdir hingga pertolongan tiba. Mimpi dan cita belum terlaksana semuanya. Betapa sulit melaksanakan impian seorang bocah dunia dewasa, betapa kesempurnaan ide terbentur dengan realita.

Dan kumerasa sudah saatnya ku kembali, tanpa harus menahan satu malam lagi. Jika engkau mendapati mataku terpejam maka semua sudah tak ada. Delapan puluh lima tahun hidupku seperti sudah berlangsung berabad-abad. Dimana tubuh renta ini bertahan sekian lama hanya karena kekuatan cita.

Aku pulang, dan jika pun semua cita-cita lama tak tercapai. Maka, aku bisa bergembira dalam kepulangan ini. Pulang sebagai manusia merdeka. Manusia merdeka, oh betapa itupun sebegitu sulitnya.

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 14 Comments

YANG TAK AKAN KEMBALI

Tariq ibn Ziyad
“Penakluk Andalusia”
711 M

YANG TAK AKAN KEMBALI

 

Wadi Al-Kabir, Jazirah Iberia. 1468 M.

Kuda Arab ini sudah lelah berjalan. Mendaki bukit membelah malam menuju tempat pertemuan. Hari ini aku Abdurrahman mewakili keemiran Granada, satu-satunya daulah Islam yang tersisa di Andalusia. Pedih hatiku menghadapi hari ini dimana harus menghadiri perlehatan ulang tahun puteri Castila. Setelah Cordoba dan Sevilla takluk aku tak punya pilihan lain selain takzim pada undangan dari Henry IV, Raja Castila yang punya hajatan untuk menyenangkan anaknya Juana. Negeri Maghrib disekat oleh Samudera Atlantik, Turki Ustmaniyah masih sibuk berperang dengan Byzantium, Baghdad sudah lewat seratus tahun dilantak bangsa Ya’juj Ma’juj. Tinggallah Granada sendirian disini, di Eropa Selatan dikepung oleh Castila, Aragon dan Navarre ditambah Kerajaan Portugis. Kekuasaan sejengkal membuatku harus merelakan diri kemari. Wadi Al-Kabir menyambut para panglima merayakan pesta ditempat cahaya Islam pernah bersinar.

“Jangan pergi anakku, bisa jadi ini adalah jebakan.” Kata ibuku. Tapi ibu nasib Granada ditentukan hari ini dan aku tidak bisa menolak. Raja Portugal bisa saja menolak mengirimkan utusan karena masih marah dengan kegagalan perjodohan dengan Isabella adik raja Castilla tapi aku tidak. Nasib Granada di ujung tanduk. Sevilla, Cordova sudah jatuh. Tiada taifah muslim merdeka lagi di Andalusia kecuali keemiran Granada. Ini adalah masa dimana harga diri tiada bernilai lagi.

“Selamat datang Boabdil. Akhirnya emir Granada mau merendahkan hatinya dan menepati janjinya untuk hadir.” Jabat Ferdiand pangeran Arragon.

Negeri Maghrib, Afrika Utara. 1497 M.

“Sejarah tidak pernah memihak mereka yang menepati janji.” Kata-kata Ferdinand yang diulangi segenap pengungsi dari Andalusia terngiang ditelingaku, apa daya Granada sudah takluk. Aku harus meninggalkan tanah yang kucintai, Andalusia. Baru lima tahun yang lalu dan inkuisisi pun dimulai.

Castila dan Arragon mengkhianati perjanjian Guadalope. Setiap muslim yang tersisa di jazirah Iberia hanya tiga pilihan, pergi, mati, meninggalkan akidah. Ingkar atas perjanjian toleransi beragama yang telah kuusahakan dengan sekuat tenaga. Sebagai upaya terakhirku menjaga agar tidak banyak darah muslim yang tumpah setelah perang menghadapi tentara gabungan Castilla, Arragon dan Portugis. Lima tahun yang lalu, aku meninggalkan Andalusia. Sebuah syarat perjanjian yang harus kutepati demi perdamaian.

Oleh karena waktu, kini aku dapat melihat jelas kebodohanku. Ya, kesalahanku adalah sangat mencintai jazirah Iberia. Aku rindu setiap batang pohonnya, aku menyukai aliran sungainya dan orang-orang yang hidup dalam naungannya. Kota-kota yang memiliki jalan keras berlampu. Bahkan London di Utara masih berjalan lumpur. Aku merasa memiliki semuanya, padahal tidak! Dan itu semua melemahkanku, sungguh tak patut seorang putra gurun memiliki hati yang lemah.

Aku malu akan ketololanku, sungguhku telah mempermalukan para leluhur. Sungguhku telah menyiakan usaha Thariq bin Ziad tujuh ratus tahun yang lalu. Dan aku pasrah jika kelak Abdurrahman dikenang sebagai pejuang dan pemimpin muslim terburuk, sepanjang masa. Selamat tinggal Andalusia tanah yang kucintai dan tak akan pernah kupandangi lagi.

Aku menangis seunggukan, “Abdurrahman dari Granada mengapa engkau menangis seperti perempuan? Sedang engkau tak bertempur sebagaimana lelaki sejati?” Ibu menghardikku. Beliau kesal mengingat betapa aku menghindari perang total dengan menyerah disuatu hari ditahun 1492. Sejarah itu memiliki kemampuan untuk berulang, namun manusia tak punya kuasa kembali ke masa lalu.

Dan realita barang kali hanyalah persepsi.

Orang bilang masa lalu selalu tetap ditempatnya, dan hanyalah kenangan yang terdistorsi yang selalu terbawa kemana kaki melangkah. Waktu melahap segalanya termasuk kenangan namun tak menyadari, persepsi membungkus, menyimpan dalam liang ingatan, menyajikan dengan bumbu-bumbu nostalgia. Hingga penggal kenangan terasa lebih manis atau lebih pahit dari semestinya. Saat kita berusaha mencicipinya lagi, kita kecewa dan tak jarang marah.

Barangkali kenyataan memang sudah berubah. Waktu memupus ketangguhannya untuk bertahan. Barangkali kita sendiri yang telah pergi jauh dari masa lalu. Hingga terlalu kompleks dan dan terlalu tinggi. Kemudian rindu dan menggorek kenangan dari timbunan kenyataan. Lalu yang kita jumpai sesuatu yang tak mampu kita cerna.

Mungkin kesalahan atau lebih tepat ketololan kita adalah menggunakan persepsi masa kini, untuk sebuah ekspetasi dari masa lalu Atau bahkan terbalik? Siapa tahu?

XXXXXXXXXXXXXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  39. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  40. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  41. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  42. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  43. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  44. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  45. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  46. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  47. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  48. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | 55 Comments

RENUNGAN MAJNUN SEORANG PENARIK CUKAI

Bendera Kekhalifahan Abbasiyah berwarna hitam

RENUNGAN MAJNUN SEORANG PENARIK CUKAI

Jalanan Kufah menyerupai Baghdad, tapi tak akan pernah menyamai keriuhannya. Ya Baghdad yang kucintai. Dengan pemandian-pemandian terelok diseluruh dunia, kedai-kedai kopi terbaik yang menyediakan perasan air Mawar. Hanya Bahgdad yang terbaik diseluruh dunia. Melebihi wilayah kekuasaan Amirul Mukminin. Cordova mencoba menyaingi, meski melalui sisa-sisa kekuatannya rezim Umayyah(1) mencoba sekuat tenaga. Bahkan Kaisar Rum, awak Byzantin boleh iri dengan kemegahan dunia yang dimiliki Baghdad. Pusat dunia.

Tapi aku disini, terpasung di Kufah. Seorang putra kota Baghdad dibuang. Semua dikarenakan kekalahan Al-Amin dalam perang saudara melawan Al-Makmun. Ya, kedua putra yang mulia Harun Al-Rasyid dari ibu yang berbeda berperang memperebutkan kursi kekhalifahan. Jabatan sebagai pelindung segenap kaum muslimin diseluruh dunia. Tanggung jawab besar didunia dan akhirat. Namun menumpahkan darah sesama saudara untuk meraihnya.

Aku tak menyesali darahku, Arab. Tak akan pernah. Meski karenanya aku harus dibuang ke kota ini. Al-Makmun beribu Persia mengalahkan Al-Amin beribu Arab. Dan sang pemenang segala hal yang berbau pecundang. Dan berakhirlah karirku dipemerintahan disini, di pasar Kufah memegang jabatan yang paling dibenci seluruh kekhalifahan. Sebagai penarik cukai pasar.

Lima tahun yang lalu, “Murtadha! Engkau memiliki nama yang lazim dikalangan Persia. Tak kusangka engkau berdarah Arab. Seharusnya engkau berbohong dan mengaku Persia bukan Arab. Kau yang ku perkirakan akan menjadi Ja’far Al-Barmaki(2)  selanjutnya akan dibuang oleh orang-orang kekhalifahan.” Kepala Madrasah Darul Hikmah(3)  menatapku nanar.

“Guru.” Kataku pelan. Kucium tangannya pertanda takzim seorang murid. “Guru tak pernah mengajarkan kebohongan. Guru, aku tak sampai hati mengingkari darahku, apabila itu terjadi aku merasa akan mengecewakan guru dua kali lipat.” Itulah dialog terakhir sebelum surat penunjukkan ke Kufah dikeluarkan.

Sungguh aku tak membenci khalifah, aku tak berani menanggung azab dunia dan akhirat untuk menantang penjaga keharmonisan dunia. Tapi aku benci kota ini, benci akan kebanggaan mereka pada Dinasti Sasanid(4) , benci tutur kata mereka dalam bahasa Persia yang halus dan licik. Kebencian yang sama pada kaum Syiah yang merobek baju dan memukuli badan sendiri ketika hari Asyura tiba. Namun aku menemukan cinta disini, kecintaanku pada kitab-kitab menggerus rasa terbuang dari kampung halaman. Tabikku pada Al-Muwatta.

Dan sudah empat tahun lamanya aku menekuni ini semua dengan harapan kelak berguna apabila diriku kembali. Dan sungguh empat tahun itu berjalan dengan sesuai rencana, bahkan masih berjalan sesuai rencana ketika bertemu dengannya hampir setahun yang lalu. Hanum namanya, berasal dari bahasa ibuku Arab yang berarti lembut. Putri kelahiran kota Kufah dan tak pernah jauh daripadanya. Dan Kufah, sedikit demi sedikit aku mulai menyukai kota ini. Kota yang menghasilkan sebuah kerajinan topi yang unik, dan diberi nama Kufiah sebagai penghormatan bagi kota yang menghasilkannya. Tidak terlalu buruk.

Semua berjalan mulus hingga akhir-akhir ini kebijaksanaanku menguap, padanya hanya padanya. Saat ini bahkan aku tak peduli lagi dengan paham Mu’takzilah(5) yang dijadikan dasar Negara dan membawa kekhalifahan berciri Yunani dan meninggalkan ciri khas padang pasir, terlalu kota dan logika tanpa rasa. Telah tiba disuatu masa ketika apa yang aku baca dan alami tiada berguna. Kami bangsa Arab mengartikan kegilaan dengan majnun, sebegitupula dengan kecintaan. Dan itu mengerikan sekaligus menggairahkan.

Ini adalah cerita yang tidak jelas, setidakjelas hatiku ketika menuliskannya. Dan ini adalah cerita yang belum selesai, dan aku tak mau menyelesaikannya di cerita ini. Satu hal yang pasti, aku meyakini ini sebagai cobaan sebagaimana ketika aku dibuang oleh Al-Makmun dan mampu mengatasinya. Dan untuk hal ini, satu-satunya pengecualian dimana aku akan mempercayai hatiku, untuk menghadapi apapun yang terjadi dikemudian hari kelak.

Hatimu adalah tempat dimana segala bermuara atas ilham dan karunia dan segala yang datang dari tuhan, dan dimana Tuhan membisikkan setiap kebenaran didalamnya sebagai petunjuk atas segala keraguanmu terhadap sesuatu yang masih buram bagi penglihatan kasatmu, atau hatimu yang masih dikuasai ragu. Maka jujurlah kau padanya. Jangan lukai atau nodai kesuciannya.

XXXXXXXX

(1) Daulah Umayyah = Didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan yang mengakihiri masa demokratis Khulafaur Rasyidin. Daulah ini berpusat di Damaskus. Digulingkan oleh keturunan Abbas yang mendirikan Daulah Abbasiyah yang memindahkan ibu kota ke Baghdad. Namun Abdurrahman Al-Grifari satu-satunya penerus yang selamat melarikan diri ke Andalusia (Spanyol dan Portugal sekarang) dan mendirikan keemiran Ummayyah dengan Cordova sebagai ibu kota.

(2) Ja’far Al-Barmaki = Wazir/Perdana Menteri tangan kanan Khalifah Harun Al-Rasyid. Terkenal karena kebijaksanaan dan kedermawanannya. Kelak mati disalib karena dianggap merongrong kewibaan kekhalifahan Abbasiyah.

(3) Darul Hikmah = Rumah Hikmah, perpustakaan sekaligus madrasah terbesar pada era kekahlifahan Abbasiyah. Hancur dibakar ketika penyerbuan Mongol diabad ke-13. Abu sisa pembakarannya membuat sungai Efrat dan Tigris yang membelah kota Baghdad menjadi hitam.

(4) Dinasti Sasanid = Penguasa Persia terakhir sebelum ditaklukkan oleh kaum Muslimin dibawah pimpinan Saad bin Abi Waqqash, paman Nabi dari pihak ibu. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

(5) Mu’takzilah = Paham keagamaan yang sudah punah. Berkembang di Baghdad pada abad pertengahan dan dijadikan dasar Negara oleh Al-Mak’mun. Perbedaan yang paling mendasar adalah dimana kaum ini menganggap Al-Qur’an sebagai makhluk. Sedang Ahlussunnah wal Jamaah mengganggap Al-Qur’an sebagai Kalam Allah S.W.T. Abu Hanifah atau yang kelak lebih dikenal dunia sebagai Imam Hanafi dijebloskan ke penjara pada umur 70 tahun dimana beliau menghabiskan umurnya, karena menolak mengakui Al-Qur’an sebagai makhluk.

XXXXXXXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  39. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  40. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  41. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  42. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  43. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  44. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  45. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  46. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  47. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  48. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  49. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  50. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 61 Comments

HIKMAH DARI NEGERI DI AWAN

KKN Universitas Malikussaleh Lhokseumawe 2010 di Sawang, Negeri di Awan

HIKMAH DARI NEGERI DI AWAN

Tidak semua pengetahuan yang kita miliki menolong disaat dibutuhkan, di saat itulah diperlukan kearifan untuk mengambil hikmah dari setiap ketidaktahuan guna memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik. Dan dalam memungut nikmat itu diperlukan kerendahan hati, bukankah sebuah gelas yang belum terisi penuh lebih mudah untuk diisi tanpa harus tumpah, untuk itulah kita selaku manusia harus berusaha memperbesar wadah jiwa kita.

Sabtu pagi, Abu dijemput Andri. Teman lama satu Madrasah hampir dua dekade kebelakang di Banda Aceh untuk mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Malikussaleh Lhokseumawe. Garis takdir tak dapat diduga menyebabkan kami bertemu lagi sekarang di kota ini sebagai pencari rezeki di kota ini. Garis takdir yang begitu panjang, dan lebih panjang dari perjalanan satu setengah jam perjalanan dari Kota Lhokseumawe menuju ke Ibu Kota Kecamatan Sawang, bahkan lebih panjang walaupun jika ditambah setengah jam perjalanan lagi menuju Dusun Lhok Drien dimana kelompok kami yaitu kelompok 25 melaksanakan salah satu kegiatan Tri Dharma Pendidikan. Sebelum berangkat Abu berdoa, “Ya Allah semoga perjalanan ini memberi hikmah.”

Memasang pagar dan mengecat meunasah (langgar-Bahasa Indonesia), membuat palmfet lorong dusun adalah kegiatan hari ini. Adegan lucu terjadi ketika Abu kebingungan mengikat kawat dengan mengunakan tang, sangat canggung. “Kebiasaan memegang mouse ya Abu.” Sentil Andri terhadap gaya Abu yang terlalu priyayi.

Menjelang siang, sekolah SD di dekat Meunasah pun bubar. Tak lama kemudian grup kami pun dikelilingi oleh anak-anak SD yang penasaran dengan kegiatan yang kami lakukan. Kebetulan saat itu hanya Abu yang sedang duduk beristirahat. Lalu beberapa anak datang ketempat Abu yang kebetulan berada di tempat teduh.

Anak-anak kampung selalu berani, dan anak-anak SD Negeri di awan yang terletak diatas pegunungan ini diwarisi semangat yang sama. Salah satu anak SD itu maju dan berbicara dengan Abu dengan bahasa yang seolah tidak pernah Abu dengar. Dia terus mengulangi kata-kata itu. Abu memasang telinga dengan seksama.

“What is?” Dalam bahasa Inggris bercampur logat Aceh yang kental sambil menunjuk Abu. “What is your name?” Abu mencoba menerka sekaligus bertanya.

“Muna.” Jawabnya sambil menunjuk Abu. “My Name is Abu.” Jawab Abu sekenanya. Kemudian dalam bahasa Aceh anak tersebut bertanya, “Abang bisa berbahasa Inggris?”

“Bisalah.” Jawab Abu. “Kalau bisa sapu apa bahasa Inggrisnya?” Tanya anak itu masih dalam bahasa daerah. Otak Abu memerlukan loading untuk mengartikan pertanyaan tersebut dari Aceh ke Indonesia kemudian ke Inggris. Abu berpikir dan akhirnya menyadari bahwa sapu tidak ada dalam memory vocabulary Abu. Kacau! Bagaimana bisa, Abu yang kerap setiap malam berdiskusi dengan Jojo teman serumah yang berkuliah di keguruan bahasa Inggris tentang English tidak tahu tentang arti sapu.

“Abang tidak ingat.” Abu menyerah. Teman-teman Muna mendekat, tersenyum karena Abu tak terlalu angker. Mereka memperkenalkan diri sebagai Muklis, Syahkubat, Amin dan beberapa lagi. Masih penasaran balik Abu bertanya apa arti sapu. “Broom.” Kata mereka serempak. Kemudian mereka bertanya tentang rol, papan tulis dan kapur. Kalau bagian ini Abu ingat. Mereka jelas menikmati proses ini dan tambah senang ketika Abu menyodorkan kue kepada mereka.

Sore, kami pun kembali ke ibukota kecamatan. Setelah shalat Asar Abu dan Andri kembali pulang ke Lhokseumawe. Kejadian bersama anak SD tadi benar-benar berkesan pada Abu. Selepas Maghrib Abu berdiskusi dengan Jojo dan bercerita tentang kejadian di Sawang tadi. Bukan Abu namanya jika tidak menanyakan pendapat para ahli dan kali ini Abu meminta analisa dari seorang calon pengajar bahasa Inggris.

“Kecenderungan orang Indonesia menguasai perbendaharaan kata bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja, dan cenderung kurang menguasai atau menyepelekan kata benda dan bahkan kata sifat. Kenapa? Karena kita sebagai orang Indonesia dalam speaking English cenderung lebih banyak menggunakan kata kerja dalam Conversation.” Begitu ulas Jojo.

“Broom.” Abu akan (selalu) berusaha mengingat kata ini. Sebagaimana Abu mengingat bahwa disebuah negeri di awan. Oleh anak-anak SD yang bahkan bersekolah tidak menggunakan sepatu. Sebuah kosa kata merasuk kedalam otak Abu, mudah-mudahan tak akan lekang. Mengajarkan hikmah yang memiliki makna mencintai kebijaksanaan dan kebenaran yang bisa datang dari siapapun. Hormat dan tabik kepada dunia pendidikan Indonesia.

XXXXXX

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

PLEDOI IBLIS JILID DUA

Lawan bukanlah musuh, dan manusia, makhluk yang bermain, tak usah malu untuk tak senantiasa bersungguh-sungguh.

PLEDOI IBLIS JILID DUA

Entah syaithan mana yang merasukimu hingga engkau mengancamku? Aku yang terlihat tolol ini bukan tak tahu. Aku hanya merasa tak perlu tahu akan tingkah polah dibelakangku. Ada hal lain yang lebih penting untuk disimpan bermega terra kapasitas otakku. Bukan itu, yang menjadi perhatian bagiku.

Kuberitahu sebuah rahasia. Tiada Iblis yang bertaubat walau tuhan dengan Maha Pengasih dan Maha Penyayang membuka pintu itu sampai hari penghakiman. Namun seorang penghulu malaikat bernama Kana’an pernah berkhianat dan memilih menjadi Iblis.

Dan tahukah kamu? Ada banyak malaikat yang diciptakan, mulai dari Jibril hingga Mikail. Namun ketahuilah satu hal pasti hanya ada satu iblis. Maka apa urusan kau harus menggetarkanku dengan ancaman yang belum berusia ribuan tahun, bahkan yang terkuat di semesta kubantah.

Meminjam kalam, satu hal yang ingin kukatakan dalam pledoi ini, Katakan pada yang menguasaimu, ancaman itu tak menggetarkanku. Tangan-tanganmu tak akan pernah bisa menyentuhku. Tahu kenapa? Karena aku tak memiliki harapan. Dan sesuatu yang tak memiliki harapan juga tak memiliki ketakutan.

Jika engkau memang bernyali, coba tatap mataku. Dan ulangi kata-katamu.

xxxxx

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 19 Comments

MELANCHOLIC RHAPSODY

MELANCHOLIC RHAPSODY

Udara panas ini mengingatkan akan Baghdad, kelembaban udara dan aroma parfum nir-alkohol yang semerbak di jumat siang. Ya Baghdad dengan debu yang mencapai langit. Andai Abu pernah kesana. Jumat sudah selesai dan jamaah kembali pada kegiatannya, mengejar apa yang harus dikejar.

Barangsiapa yang ingin berjaya, tentu harus berani memulainya. Setiap diri tentu perlu mengatasi segala masalah-masalah sendiri dahulu.

Sudahkah Abu mengatakan panasnya hari ini? Karena sangat panas. Menunggu sangat membosankan, apalagi di cuaca terik. Akhirnya beliau keluar juga, berbaju tipis hasil pencucian ribuan kali, peci hitam yang sudah kecoklatan, dan tongkat dari rotan bengkok. Tengku Salek Pungo keluar dari masjid.

“Abu!” Ia tersenyum. “Hampir setahun kita tidak bertemu!” Dengan antusias menjulurkan tangan kepada Abu. Abu membalas dengan tawa, “Setahun itu tidak terlalu lama tengku.” Kemudian kami tertawa dengan irama yang sama, ya sebenarnya hampir setahun itu sudah lama.

“Tengku, apakah benar Abu adalah orang yang serius?” Tanya Abu. “Saya tahu, Abu bertemu saya kalau ada maunya.” Sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Seseorang yang Abu anggap penting mengatakan itu kepada Abu. Apakah Abu orang yang membosankan tengku?” Tanya Abu lagi.

“Duduklah dulu Abu, kita baru saja selesai Jumat.” TSP berbalik dan duduk lantai masjid dan menyuruh Abu duduk disampingnya. “Kamu Abu. Analitis, tekun, filosofis dan puitis, menyukai keindahan, idealis, bertindak sesuai dorongan hati, perasa, suka mengajukan tuntutan yang tidak realistis kepada orang lain, seperti sekarang.” TSP Tertawa sebentar kemudian melanjutkan, “pengkritik, pendendam, tidak ramah dan teoritis. Dan dalam hal ini abu bukan orang serius tapi sangat serius.”

Abu mencoba tertawa tapi garing, “sebegitu membosankan Abu?”

“Menjadi serius tidak buruk Abu. Setidaknya Abu memiliki sedikit garis kharismatik. Saya malah rindu dengan Abu setelah sekian lama tidak bertemu. Kemana saja selama ini?”

Abu tersenyum, melirik jam. Sudah setengah dua. “Adakalanya kita harus santai Abu, apalagi dengan orang yang kamu anggap penting. Tidak semua orang nyaman dengan penjelasan yang terlalu detil. Setiap orang punya irama tersendiri.” Tambah TSP.

“Terima kasih tengku atas penjelasannya sekarang saya harus kembali.” Abu membersihkan celana dan bangkit. Dan menyalami TSP.

“Kamu ini pergi dan datang tak bisa dicegah ya. Kemana lagi? Kembali ke kantor?”

“Jam tidur siang tengku.” Jawab Abu.

TSP tertawa terbahak hingga gusinya kelihatan. “Masih suka tidur siang sampai sekarang? Saya harap di lain waktu kita bisa bertemu lagi.”

“Abu juga berharap seperti itu.”

Meski ada yang mengatakan kehidupan ini seperti cermin, namun tidak sepenuhnya begitu adanya. Kadangkala kita membutuhkan mata orang lain untuk melihat hal yang tidak terlihat didiri kita. Meski seumur hidup menjalani. Karena kehidupan ini memiliki gema, dan sudut pandang setiap orang berbeda.

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

MENELUSURI SEJARAH PERANG SALIB

Shalahuddin Al Ayubbi Pahlawan Islam

MENELUSURI SEJARAH PERANG SALIB

Saat perang Salib, tentara Kristen, Jerman, Yahudi membantai orang Islam di jalan-jalan. Berbalik 180 derajat dengan perlakuan pasukan Islam terhadap pasukan Kristen. Simak akhlak Salahuddin al-Ayyubi.

Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala, tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini dinyanyikan kembali. Di sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan dibelenggu lehernya.

Kisah di atas bukan skenario film yang fiktif, tapi sungguh-sungguh pernah terjadi. Itu adalah pengakuan seseorang bernama Raymond, salah satu serdadu Perang Salib. Pengakuan ini didokumentasikan oleh August C Krey, penulis buku The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses and Praticipants (Princeton & London: 1991).

Bagi kaum Muslimin, Perang Salib I memang menyesakkan. Menurut catatan Krey, hanya dalam tempo dua hari, 40.000 kaum Muslimin dan Yahudi di sekitar Palestina, baik pria maupun wanita, dibantai secara massal dengan cara tak berperikemanusiaan. Cara pembantaiannya tergambar dalam pengakuan Raymond.

Sepak Terjang Tentara Salib

Sampai abad ke-11 M, di bawah pemerintahan kaum Muslimin, Palestina merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Kondisi ini tercipta sejak masa Khalifah Umar bin Khattab (638 M) yang berhasil merebut daerah ini dari kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Namun kedamaian itu seolah lenyap ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan invasi.

Ceritanya bermula ketika orang-orang kekhalifahan Turki Utsmani merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki) dari kekuasaan Alexius I. Petinggi kaum Kristen itu segera minta tolong kepada Paus Urbanus II, guna merebut kembali wilayah itu dari cengkeraman kaum yang mereka sebut “orang kafir”.

Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran yang ambisius (27 November 1095).

Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan ekspedisi besar-besaran yang ambisius (27 November 1095). Tekad itu makin membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakim yang menguasai Palestina saat itu menaikkan pajak ziarah ke Palestina bagi orang-orang Kristen Eropa. “Ini perampokan! Oleh karena itu, tanah suci Palestina harus direbut kembali.” kata Paus.

Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi pada tahun 1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja di seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan, kesejahteraan, emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para ksatria yang mau berperang.

Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis Selatan terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat sipil untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa yang bertikai segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci Palestina. Hadirin menjawab dengan antusias, Deus Vult! (Tuhan menghendakinya!)

Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa mereka akan pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan ekspedisi ini sebagai “Perang Demi Salib” untuk merebut tanah suci.

Mobilisasi massa Paus menghasilkan sekitar 100.000 serdadu siap tempur. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin memenuhi panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter memimpin kaum miskin dan petani. Namun mereka dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di medan pertempuran Anatolia ketika perjalanan menuju Baitul Maqdis (Yerusalem).

Tentara Salib yang utama berasal dari Prancis, Jerman, dan Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Godfrey dan Raymond (dari Prancis), Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), dan Robert Baldwin dari Flanders (Belgia). Pasukan ini berhasil menaklukkan kaum Muslimin di medan perang Antakiyah (Syria) pada tanggal 3 Juni 1098.

Pasukan Salib I dan Pasukan Templar

Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib membantai orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi. Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099. Mereka langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan pembantaian. Sekitar lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099, mereka berhasil merebut Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah.

Teladan Shalahuddin Al-Ayyubi

Pada tahun 1145-1147 pecah Perang Salib II. Namun perang besar-besaran terjadi pada Perang Salib III. Di pihak Kristen dipimpin Phillip Augustus dari Prancis dan Richard “Si Hati Singa” dari Inggris, sementara kaum Muslimin dipimpin Shalahuddin Al-Ayyubi.

Pada masa itu, Kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, yaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo (bermazhab Syiah) dan Dinasti Seljuk yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni). Kondisi ini membuat Shalahuddin prihatin. Menurutnya, Islam harus bersatu untuk melawan Eropa-Kristen yang juga bahu-membahu.

Pasukan Islam dibawah pimpinan Salahuddin Al- Ayyubi

Pria keturunan kurdi ini kebetulan mempunyai paman yang menjadi petinggi Dinasti Fathimiyyah. Melalui serangkaian lobi, akhirnya Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil menyatukan kedua kubu dengan damai.

Pekerjaan pertama selesai. Shalahuddin kini dihadapkan pada perilaku kaum Muslimin yang tampak loyo dan tak punya semangat jihad. Mereka dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Spirit perjuangan yang pernah dimiliki tokoh-tokoh terdahulu tak lagi membekas di hati.

Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan) sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad.

Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut. Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran.

Pertempuran Hattin

Salahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri atas para pemuda dari berbagai negeri Islam. Pasukan ini kemudian berperang melawan Pasukan Salib di Hattin (dekat Acre, kini dikuasai Israel). Orang-orang Kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul Maqdis. Kaum Muslimin meraih kemenangan (1187).

Dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari Chatillon (Prancis) dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Salahuddin. Reynald akhirnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti memimpin pembantaian yang sangat keji kepada orang-orang Islam. Namun Raja Guy dibebaskan karena tidak melakukan kekejaman yang serupa.

Tiga bulan setelah pertempuran Hattin, pada hari yang tepat sama ketika Nabi Muhammad diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem dalam Isra’ Mi’raj, Salahuddin memasuki Baitul Maqdis. Kawasan ini akhirnya bisa direbut kembali setelah 88 tahun berada dalam cengkeraman musuh.

Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan, pada tanggal 2 Oktober 1187 itu, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia. Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”

Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: “Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193).

Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin bahkan menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan, meskipun menyebabkan keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga sedih melihat penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara mereka dan membebaskannya saat itu juga.

Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain, dan bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya selama perjalanan ke Tyre (Libanon).

Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin (Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks–bukan bagian dari Tentara Salib?tetap dibiarkan tinggal dan beribadah di kawasan itu.

Kaum Salib segera mendatangkan bala bantuan dari Eropa. Datanglah pasukan besar di bawah komando Phillip Augustus dan Richard “Si Hati Singa”.

Pada tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil Acre. Meskipun orang-orang Islam menyaksikan kekejaman ini, mereka tidak pernah memilih cara yang sama.

Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu, Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh.

Pasukan Salahuddin bertemu Richard

Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu, Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal mereka datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya, Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin.

Perang Salib Lanjutan

Perang Salib IV berlangsung tahun 1204. Bukan antara Islam dan Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan Takhta Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul, Turki).

Pada Perang Salib V berlangsung tahun 1218-1221. Orang-orang Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang merupakan pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total.

Kaisar Jerman, Frederick II (1194-1250), mengobarkan Perang Salib VI, tapi tanpa pertempuran yang berarti. Ia lebih memilih berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan Shalahuddin. Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim, tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa ?alaihis-salaam) dan Nazareth (kota tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen.

Dua Perang Salib terakhir (VII dan VIII) dikobarkan oleh Raja Prancis, Louis IX (1215-1270). Tahun 1248 Louis menyerbu Mesir tapi gagal dan ia menjadi tawanan. Prancis perlu menebus dengan emas yang sangat banyak untuk membebaskannya.

Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan Dinasti Mamaluk, Bibars. Louis meninggal di medan perang.

Sampai di sini periode Perang Salib berakhir. Namun, beberapa sejarawan Katholik menganggap bahwa penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki (1453) juga sebagai Perang Salib. Penaklukan Islam oleh Ratu Spanyol, Isabella (1492), juga dianggap Perang Salib.

SEJARAH ISLAM

  1. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 20 Desember 2008;
  2. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  3. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  4. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  5. Politik Abu Nawas; 24 Juli 2012;
  6. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  7. Orang Sakit Dari Timur; 26 Mei 2013;
  8. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  9. Sultan Abu Nawas; 1 November 2013:
  10. Misi Mencari Abu Nawas; 7 Maret 2016;
  11. Tragedi Barbastro; 3 April 2017;
  12. Komunisme Dalam Perspektif Muslim; 30 September 2017;
  13. Ketika Ibnu Battuta Melawat Samudera Pasai; 16 April 2018;
  14. Kebijakan Politik Islam Oleh Snouck Hurgronje Sebagai Saran Kepada Pemerintah Hindia Belanda Untuk Menghancurkan Kekuatan Islam Di Indonesia; 25 Juni 2018;
  15. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  16. Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agressi Belanda; 17 Oktober 2019;
  17. Hamzah Fansuri Perintis Sastra Melayu; 4 Juli 2020;
  18. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
  19. Ketika Aceh Minta Menjadi Vasal Turki Ustmani; 21 September 2020;
  20. Bustanus Salatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh; 27 September 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 18 Comments

KEKUATAN HATI

Kehidupan adalah paradoks. Sebuah buku (mungkin) tak meyakinkan sejarah. tentu, tapi setidaknya buku mengisi jam-jam kita yang kosong dengan percakapan yang mungkin tak pernah selesai.

KEKUATAN HATI

Guru, sudah lama kita tak bertemu dalam pertemuan mesra. Entah mengapa malam ini aku rindu padamu. Bau apak khas buku, keharuman yang hanya bisa ku mengerti. Ketika indera penciuman mengenalinya dan menyampaikan stimulusnya ke otak. Bulu romaku berdiri. Sudah lama ya guru.

Guru, engkau menyampaikan Decartes berkata, “Aku berpikir karena itu aku ada.” Engkau menjelaskan Newton tentang aksi dan reaksi dengan sederhana. Einstein, tanpamu aku tak mengerti relativitas, bahkan mungkin juga aku sampai saat ini aku tak kunjung menguasai. Setidaknya dengan bantuanmu aku sedikit memahami.

Kubuka kembali lemari buku ini, tempatmu bersemayam. Naifnya aku menamakan tempat ini perpustakaan pribadi. Sudah hampir lima tahun di kota ini, aku membangun impian lama ini. Belum sehebat yang pertama, di Banda Aceh sana dalam rentang waktu yang hampir sama aku pernah membangun idealisme yang sama dengan hasil tiga kali lebih baik.

Guru, kehidupan itu bukanlah suatu hal yang harus disesali. Bukan begitu guru? Meski dulu aku tidak memiliki kekuatan. Meski dulu garis takdir tak pernah mengantarkan kakiku melangkah keberbagai kota untuk mengejarmu. Saat dimana aku belum terikat hukum harta dan benda. Mungkin ada yang hilang didiriku guru, aku menamakannya kekuatan hati.

Guru, aku mengenalmu dalam banyak perwujudan. Yang bernama buku. Gudang ilmu. Ada masa dahulu dimana aku tak bisa makan lahap tanpamu, ada masa-masa dimana aku terlelap dengan dirimu dipelukanku. Tujuh tahun itu belum terlalu lama guru, ketika pertama kali aku pergi melangkah keluar dari kampung itu. Pertama kali keluar dari kepompong dalam proses metamorfosa. Belum selesai guru.

Guru, aku bersedih mengingatmu. Mengingat perpustakaan yang pertama. Yang berakhir dalam kardus-kardus yang tak segan direnggut tikus. Terlantar disana dikotaku. Yang kutinggalkan disana tidak memiliki militansi yang sama untukmu. Aku tidak marah, hanya sedih. Tuhan memberi kekuatan. Dan juga ia menganugerahkan kelemahan. Semangat yang kuat terhalang oleh hidungku guru, ia tak mampu memfilter debu dengan sempurna. Dalam setiap kepulanganku, aku tak mampu mengadministrasikan dirimu dengan baik.

Guru mungkin aku adalah orang yang angkuh. Padahal dulu sekali ketika aku masih sangat kecil. Kakek pernah menganjurkanku bergaul dengan karib padamu. “Bacalah buku sebanyak mungkin niscaya kamu akan menjadi bijaksana.” Belum dilevel itu guru, masih jauh. Namun setidaknya aku masih memiliki impian kesana. Tanpa maksud dan niat memberhalakanmu. Terima kasih guru, untuk segala ilmumu. Untuk semua yang kau ajarkan padaku selama ini.

“Sesungguh ketika raga terpenjara, pikiranku bebas mengembara. Mengunjungi negeri-negeri asing. Berperang disamping para Sultan, berunding dengan para kaisar, menunggangi kuda dipadang stepa Mongol, membelah rimba Afrika, dan memandangi selat Bophorus, atau bercengkrama ditaman kota Sevilla”

XXXXX

Posted in Buku, Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

TINGKAH LAKU MANUSIA

Manusia, ditengah suasana murung yang tak terhindarkan tak semuanya patah. Dalam kesulitan selalu terbit harapan. Mungkin kita perlu menghangatkan tekad untuk berjuang mengatasi segala kekurangan.

Manusia, ditengah suasana murung yang tak terhindarkan tak semuanya patah. Dalam kesulitan selalu terbit harapan. Mungkin kita perlu menghangatkan tekad untuk berjuang mengatasi segala kekurangan.

TINGKAH LAKU MANUSIA

Sepotong catatan Leonardo da Vinci, di akhir abad ke-15

“…manusia, yang dengan rasa ingin tahu yang riang berharap mendapatkan musim semi baru, musim panas baru dan bulan-bulan yang baru selamanya… tak tahu bahwa dalam kerinduannya itulah terbawa kuman kematiannya sendiri.”

Sepanjang sejarah dunia siapakah yang paling mendominasi bumi? Manusia. Ya, kita tiba di zaman manusia menguasai segalanya. Manusia mendesak binatang-binatang terkuat ke hutan, memberi lebel binatang langka demi kepuasan hasrat. Manusia mengacuhkan keberadaan makhluk gaib. Ada apa dengan manusia?

Manusia dianugerahi kecerdasan oleh tuhan. Kecerdasan yang bisa mengatasi keterbatasan, seraya menyadari keterbatasan kecerdasan itu sendiri. Manusia dengan kemampuan ini ditunjuk tuhan untuk menjadi khalifah (pemimpin) dimuka bumi.

Manusia menulis sejarah, menulis ilmu pengetahuan demi kepentingan bersama. Iqra! Bacalah adalah perintah pertama dalam agama. Belajar, itulah kelebihan manusia dibanding makhluk lainnya. Andaikan ada seekor kambing yang berumur panjang dihutan bebas, selamat dari kejaran singa selama tiga puluh tahun. Maka dia akan menjadi legenda. Namun legenda itu tak akan pernah dapat dipelajari oleh kambing generasi berikutnya, sederhana saja. Suku bangsa kambing tak mengenal tulisan.

Namun manusia adalah adalah mahkluk yang bisa meleset dalam memperkirakan, manusia bukan peran yang pasif. Dia aktif dan berkemauan. Manusia berkemampuan sesat dijalan. Sesat dengan keangkuhan bahwa dirinya adalah segalanya. Memaklumkan diri sebagai penguasa mutlak alam semesta. Luar biasa.

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang menciptakan topeng. Awalnya untuk tidak diterkam oleh harimau dari belakang. Segera setelah itu manusia sadar, kelebihan topeng. Manusia mampu menyerupakan diri dengan apa saja. Dan manusia menjadi sosok yang bukan dirinya. Hidup dalam masyarakat sosial berat kawan. Tak ada singa yang malu mengakui kerakusannya, namun manusia perlu menyembunyikan keserakahannya. Perlu meski semua orang tahu.

Demi mencapai tujuan, manusia berkemauan merendahkan dirinya. Dengan memohon makhluk yang seharusnya ia pimpin. Jin dan syeitan menjadi sarana. Namun uanglah yang telah menjadi berhala terbesar dizaman ini. Itulah yang terjadi apabila manusia telah menjadi hamba, sahaya dari nafsu angkara.

Kehidupan ini, berada dijalan yang lurus. Mudah sekaligus susah. Mudah ketika kita mengikuti alur yang lurus tanpa melihat kiri dan kanan. Menjadi sulit apabila terlalu kekiri dan kekanan. Ada lidah api yang siap menyambar. Kehidupan ini, persis Siratul Mustaqim (Jalan yang lurus).

Manusia, ditengah suasana murung yang tak terhindarkan tak semuanya patah. Dalam kesulitan selalu terbit harapan. Mungkin kita perlu menghangatkan tekad untuk berjuang mengatasi segala kekurangan. Manusia tak terlahir sempurna, namun ia harus belajar dari segalanya. Dan itu semua harus diawali oleh manusia, ya diri ini sendiri.

XXXXXXXX

Oase perenungan:

  1. Topeng; 9 Oktober 2008
  2. Hantu; 20 Februari 2009;
  3. Angin; 19 Februari 2010;
  4. Pahit; 8 Maret 2012;
  5. Sahabat; 1 April 2012;
  6. Repetisi; 2 Agustus 2012;
  7. Musafir; 9 September 2012;
  8. Benak; 16 September 2012;
  9. Pasrah; 22 September 2012;
  10. Tahu; 10 November 2012;
  11. Takut; 15 November 2012;
  12. Tragedi; 20 November 2012;
  13. Busuk; 8 Mei 2013;
  14. Nisbi; 13 Desember 2013;
  15. Akhlak; 13 Agustus 2015;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 14 Comments