THE MOST BEAUTIFUL OF A FLOWER

Bungong Jeumpa

Bungong Jeumpa

THE MOST BEAUTIFUL OF A FLOWER

The most beautiful of a flower

It is not when blooms in spring

Innumerable

Coloring the sides of the world

All I know is going to fall

And none of them survive

Everything faded, no residual

As spring ends

The most beautiful of a flower

While falling in the wind

spread in soil fertility

Beautiful flowers at her death

Posted in International, Literature, Poetry | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 7 Comments

PENGELANA ILMU

Hidup adalah perjalanan ruang dan waktu.

PENGELANA ILMU

Apa yang kita miliki, apa yang kita capai, dan apa yang ingin kita raih taklah selamanya. Diri adalah pengejewantahan sekumpulan fisik dan sejarah, sebuah mikrokosmos yang bergabung dalam skala yang lebih besar. Makrokosmos.

“Berdasarkan undang-undang, peraturan-peraturan dan kelaziman-kelaziman yang berlaku dalam lingkungan Pendidikan Tinggi di Indonesia, maka kepada saudara diberikan hak dan wewenang penuh untuk memakai gelar Sarjana Ekonomi dengan singkatan “SE” Mulai saat ini secara sah Saudara dapat membubuhkan gelar “SE” di belakang nama saudara.

Tengku Salek Pungo menatap mata Abu, “sudah saya bilang, setiap gelar akademis maupun nilainya tidak akan menaikkan kapasitas seseorang, masihkah kamu meyakininya Abu?”

Abu mengangguk pelan.

“Lalu untuk apa kamu menunjukkan kertas ini pada saya? Apakah kamu sekarang merasa lebih pintar dari sebelumnya?” TSP melemparkan sertifikat yudisium kepada Abu tanpa rasa hormat.

Takzim Abu memungut sertifikat yudisium itu, “Saya hari ini tidak pernah merasa lebih pintar dari sebelum menerima kertas ini. Malah Tengku saya merasa sedih, tempat yang selama ini saya menuntut ilmu padanya, telah mengusir Abu dengan selembar surat. Dan surat itu yang saya tunjukkan kepada tengku.” Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada diusir dari tempat yang disukai, walaupun dengan sebuah sertifikat yang penuh puja dan puji. Semua tidak akan pernah sama, tak pernah sama.

“Jadi apa maksudmu memperlihatkan kertas itu pada saya?” Tanya Tengku Salek Pungo dengan penuh curiga.

“Tengku, saya hanya ingin mengatakan. Sampai kapan pun, jangan pernah mengusir saya dari perguruan Salek Pungo seperti yang dilakukan Universitas hari ini, sampai kapan pun!”

Tengku Salek Pungo tertawa terbahak, sampai harus menutup mulutnya. “Kamu orang yang aneh Abu!”

“Mungkin orang didunia ini yang sepertimu, yang memiliki ketololan seperti ini. Tapi saya suka, dan itulah karenanya kita dapat belajar bersama. Sebagai pengelana ilmu.” Tengku Salek Pungo mengelus janggutnya.

“Jadi permintaan saya, tengku kabulkan.” Abu tersenyum senang.

“Kamu selalu terlambat untuk membaca pertanda Abu, pertanda yang tersirat.” Kali ini Tengku Salek Pungo tertawa lebih keras lagi dari sebelumnya.

Bumi beserta isinya adalah bagian yang sangat kecil dari alam semesta. Bagi manusia ternyata bumi bergaris cakrawala ini sangatlah luas. Ada banyak hal yang masih menjadi misteri bagi insan. Jangankan pengetahuan langit yang dituliskan dalam kitab suci, manusia pun bahkan tidak mengerti siapa dirinya.

Ada banyak ilmu dimana saja dan oleh siapa saja.

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , | 11 Comments

THE COURT OF SATAN

The Court of Satan

THE COURT OF SATAN

I do not know where the devil got into you until you threatening me? That looks stupid I did not know. I just feel no need to know will be the doings behind me. There are other things more important to save my brain capacity. That’s not what concerns me.

If all this time I did not mean I’m submissive, maybe you are born a queen that is free to act with all my ladies in waiting. Which can easily control the pawns of the courtier? But I’m not them.

With how the way I say it again if my tongue reluctant to remove the hate speech. And today when I finally speak, it’s because the discomfort was ambushed my body.

Even when I’m devastated, it was not as easy as you conquer me. Thankfully you do not know. And even if one day you realize this then read my statement. Who are you? How dare me. You think you who? I’m not a slave, I am a free man.

Tell the devil that controls you, the threat was not thrilling me. Your hands could never touch me. Know why? Because I was the one who did not have hope. And people who do not have a hope also has no fear.

If you are brave, try the face-to-eye. And repeat the words.


Posted in International, Literature, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 12 Comments

DEVIL FACE OF AN ANGEL

DEVIL FACE OF AN ANGEL

DEVIL FACE OF AN ANGEL

My friends, do you know what I believe. Until that day, I never doubted you. Until I found all your words are lies. Do you know it’s best friend was stabbed in the back? The pain stabbed more than a thousand swords. The wound stung more than poisoned darts.

And when the day you say, “If this is a matter of pride then forget!” How come? If the fire that burns my face still felt hot. The story could end, but memories can not be lost and the grief it belongs to anyone.

You know, the friendship we had in the last conversation that I was not a vindictive. But Would not you know too that I was not a forgiving? So I will not apologize for having refused to meet again for many since the incident.

My heart was torn with our friendship ends when you have made me a fighter without a sword fall. I will not see you as before, as you know my principles nevertheless, a person is considered lost if you can not keep his dignity. Because it is not going to let that sneaky wait my ignorance, let alone a second time.

When you say it, “the devil is more realistic ambition, because of the ugly reality.” I still remember clearly the reason. Shows clearly that the trust was destroyed by greed. The darkest side of us, human.

And maybe I’m facing life full of suffering as a loser but now different. Right now I’m not going to look backward again. I’ll stare straight ahead, just ahead.

I know you regret it because in your life will never again see a friend like me. Instead of life has to lead me to know people better than you. Live your life do not wallow in regret. I’m too proud to punish you. Do not ever miss me, because I never even remember you. Among the face rejection and this is the devil that you’ve never seen before.

“As good as any one man (or woman), there is still a bad side and evil side in it (and vice versa). So do not assume that forever honey is sweet, he could be a poison that kills ”

XXXXXXXXXXXXXXX

Posted in Fiction, International, Literature, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 13 Comments

I WANT TO SAY NOT ENDED

Youngblood fiery spirit

I WANT TO SAY NOT ENDED

Underlined the uphill time tread the sky

Standing tall over day and night

Space is full of colors

Everything that ever passed and to is achieved

Youngblood fiery spirit

Reaching the peak of the highest mountains

Too high and too ill fall back

In a proper breath in mind

Want to say this is not over

All want to achieve dream

Continuing the fight and continue to

Destroy the fortress of fear

This Day expects no later regret

That there is struggle that did not mean it

That there are businesses that are not too hard

Just to conquer and run

From one defeat to another defeat

Maintaining the dream of nothing else

Is there any misfortune that may exceed

A person who lost the ideals of his young age.

XXXXXXXXXX

Posted in International, Literature, Poetry | Tagged , , , , , , , , , , , , | 10 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DELAPAN

menyalakan samar hampar lautan, aku menjelma menjadi sebaris nama

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DELAPAN

“Apa kamu syaitan?” Tanya seorang diantara mereka antara takut dan penasaran. Dimana ini? Kugosok-gosokkan mata lalu memandang sekeliling. Orang-orang menggerubutiku. Penampilan mereka aneh, seperti orang dari dusun yang sangat pelosok. Muka mereka hitam semua, seperti tidak pernah mandi menggunakan sabun, kaki mereka tidak menggunakan sandal. Tatapan mereka penuh selidik sama sepertiku, sepertinya aku juga dipandang aneh oleh mereka.

Aku menggeleng, menelan ludah. Pertanyaan apa ini? Benar-benar pertanyaan yang mengecewakan buatku yang sedang kebingungan, betapa dunia yang kacau namun setidaknya kami berbicara dalam bahasa yang sama.

Aku gamang. Gerombolan ini pun riuh, tempat macam apa ini ketika aku mendengar usul salah satu diantara mereka untuk membunuhku, dan usul lain untuk membuiku.

“Apakah kamu muslim?” Dipagi yang hangat ini aku mendapatkan pertanyaan tentang keimanan. Aku hanya mengangguk tersenyum.

“Mungkin dia orang Turki, Panggil Durjana! Dia pernah kesana setidaknya dia bisa berbicara dalam bahasa mereka.” Suasana hening, aku melihat langit hatiku merasa kosong. Mengapa aku tiba-tiba ada disini.

Tak lama kemudian menyeruak seorang paruh baya, dia berjongkok kemudian berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti. Aku hanya menatap bingung, tidak tahu harus berkata apa. Hingga dia bertanya, “What is your name?”

Aku tersenyum, pelajaran bahasa Inggrisku buruk, malas mempelajarinya, tapi setidaknya aku tidak terlalu bodoh untuk tahu arti pertanyaan ini.

“Namaku Milvan Murtadha.” Untuk pertama kalinya aku mengeluarkan kata-kata.

Orang ini terkejut, secepat itu menangkan diri kemudian mengangguk pelan, “nama yang lazim untuk orang Turki, terutama yang berasal dari Balkan. Tapi anak muda kenapa tadi kamu tidak menjawab dalam bahasa Turki? Darimana kamu berasal?”

Aku menarik nafas panjang, syukurlah. “Sama dengan kalian, hanya aku berasal dari kota.” Jawabku sekenanya, bagaimanapun penampilan mereka semua seperti berasal dari kampung yang terisolasi.

Orang yang disebut dengan nama Durjana menatapku heran, menoleh kebelakang. Kerumunan itu pun terdiam, mengangkat bahu. Tampaknya mereka kurang suka dengan kata-kataku yang memvonis mereka sebagai orang kampung, jangan-jangan mereka tersinggung.

“Anak muda, oh Milvan. Sekarang kamu berada di ibu kota.”

“Ibu kota apa? Kecamatan apa?” Aku tersenyum, aha tidak mungkin ibu kota Kabupaten. Para lelaki berpakaian petani berkumpul mengelilingiku ini berbahasa yang dapat ku mengerti hanya agak sedikit ketinggalan zaman. Gaya bahasa kuno yang jarang kutemui.

“Selamat datang di Bandar Aceh Darussalam, ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam. Anak kota.” Durjana tersenyum, ia dan mereka saling tak berucap sepatah kata selain membiarkan kebisuan menemani sekaligus menunggu jawaban dariku.

Tiba-tiba aku tersadar suara-suara ringkik kuda bersahut-sahutan. Seharusnya aku sedari tadi sadar bahwa dengung orang berbicara sedari tadi bukan hal yang lazim. Aku berharap ini hanya mimpi, kupukul pipiku pelan. Tidak! Sial aku terjebak disini.

“Tahun berapa sekarang tuan?” Tanyaku putus asa.

Durjana tersenyum samar, “Seribu Delapan Ratus Tujuh Puluh Dua dalam Masehi.”

Dua kali lipat sial! Aku menyukai sejarah, walau hanya sebatas amatir. Ini adalah tahun dimana aku tidak ingin terlibat didalamnya. Tahun depan Belanda akan menyerbu kesultanan Aceh Darussalam. Tahun ini, baik Sukarno maupun Hatta belum lahir. 17 Agustus 1945 masih terlalu lama. Singkatnya aku masuk dalam gerbang kematian. Kenapa aku bisa berada disini? Rasa takut menguasaiku, sehingga aku merasakan wajahku tak mengalirkan darah lagi.

Aku tidak tahu harus berkata apa, air mata deras turun. Kututupi wajahku dengan tangan seraya menangis pilu. Malang benar nasibku, siapa yang mau percaya bahwa aku berasal dari masa depan. Bahkan orang paling dungu sekalipun akan menertawakanku.

“Anak muda, sebaiknya kamu ke rumahku. Mungkin nanti kita bisa bicara banyak.” Ulur tangan orang ini. “Teman-teman, mulai sekarang ia adalah tamuku.” Dia menarikku menjauhi kerumunan orang-orang.

Sepanjang perjalanan semua orang menatapku aneh, “setibanya dirumah, pertama-tama kamu harus berganti pakaian. Pakaianmu sangat aneh, aku yang sudah berkeliling dunia belum pernah menemukan satu bangsa pun yang mirip denganmu, tidak Turki, tidak Peringgi, tidak juga Arab.”

Tentu saja teman, hatiku berbicara. Karena aku tidak berasal dari zaman ini.

“Kemudian kita boleh saling bercerita.”

Dengan enggan aku mengiyakan perkataannya, mengikuti langkah-langkah cepatnya dengan susah payah. Jika ini adalah mimpi, aku berharap untuk terjaga sekarang juga.

XXXXXXXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 48 Comments

ANDALUSIA SAYUP SAYUP SUARAMU SAMPAI

Pengepungan Benteng terakhir muslim Granada (1492 M)

ANDALUSIA SAYUP SAYUP SUARAMU SAMPAI

Wahai lautan tahukah kamu perasaan Thariq. Pilu dan sendu memandang Gibraltar, belum lama kita bertemu namun perpisahan datang begitu cepat. Andalusia adakah kamu akan mengingatku? Tiada perlu biarlah Spanyol kini mengejekku dengan Taric el Tuerto (Taric yang memiliki satu mata).

Andalusia sayup-sayup suaramu sampai. Thariq yang tunduk dilarang membenci. Ya Thariq seorang budak berber yang dimerdekakan. Ya, seorang hamba yang tiada boleh memendam kebencian apalagi benci dengan sebenarnya benci. Maka biarlah ia berlalu seperti angin, angin sore yang hilang ketika malam.

Pengusiran Muslim Valencia (1609 M)

Pengusiran Muslim Valencia (1609 M)

Pengusiran Muslim Catalonia (1613 M)

Pengusiran Muslim Catalonia (1613 M)

Pengusiran Muslim Murcia (1614 M)

Pengusiran Muslim Murcia (1614 M)

Barbarossa Hayreddin (Laksamana Laut Turki di Afrika Utara) Penolong Pengungsi dari Andalusia

Barbarossa Hayreddin (Laksamana Laut Turki di Afrika Utara)
Penolong Pengungsi dari Andalusia

Tiada lagi kini mutiara dunia. Hilang dari pandangan mata, maka biarlah pula telinga tak lagi mendengarnya pula. Dan tak pula secarik tulisan tak sudi lagi mendengar pembelaan darinya. Sebuah intrik keji dan munafik telah tersaji maka Thariq sisakan akal dan budi untuk merdeka. Sebuah tanda bahwa dirimu menjadi insan merdeka. Tidak oleh mereka dijazirah Iberia atau para penguasa di Damaskus.

Thariq adakah engkau mendengar panggilan sayup-sayup suara dari Andalusia. Meski kini ia berganti nama. Walau Daulah Umayyah telah lama binasa. “Jangan membenciku!” katanya. Andalusia yang lemah dan tak berdaya, tiada kuasa dan akhirnya memilih berkhianat. Ia yang berkata, “Tidak Thariq, aku tidak sekuat itu!” Tambahnya lagi. Thariq jawablah panggilannya, jangan engkau diam membisu. Membatu dalam pusaramu.

XXXXX

Tariq ibn Ziyad "Penakluk Andalusia" 711 M

Tariq ibn Ziyad
“Penakluk Andalusia”
711 M

Pada tanggal 29 April 711, pasukan tariq mendarat di Gibraltar (nama Gibraltar berasal dari bahasa Arab, Jabal Tariq yang artinya gunung Tariq). Setelah pendaratan, ia memerintahkan untuk membakar semua kapal dan berbicara di depan anak buahnya untuk membangkitkan semangat mereka. “Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian: Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran.

Pasukan Tariq menyerbu wilayah Andalusia dan di musim panas tahun 711 berhasil meraih kemenangan yang menentukan atas kerajaan Visigothic, dimana rajanya, Roderic  terbunuh pada tanggal 19 Juli 711 dalam pertempuran Guadalete. Setelah itu, Tariq menjadi Gubernur Umayyah di Wilayah Andalusia sebelum akhirnya dipanggil pulang ke Damaskus oleh Khalifah Walid bin Abdul Malik. 1492 Andalusia direbut kembali oleh pasukan gabungan Castilla dan Aragon (Cikal bakal Kerajaan Spanyol).

XXXXX

Lhokseumawe, dini hari 22 September 2010.

Sejarah Islam:

  1. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 20 Desember 2008;
  2. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  3. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  4. Menelusuri Sejarah Salib; 30 April 2010;
  5. Politik Abu Nawas; 24 Juli 2012;
  6. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  7. Orang Sakit Dari Timur; 26 Mei 2013;
  8. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  9. Sultan Abu Nawas; 1 November 2013:
  10. Misi Mencari Abu Nawas; 7 Maret 2016;
  11. Tragedi Barbastro; 3 April 2017;
  12. Komunisme Dalam Perspektif Muslim; 30 September 2017;
  13. Ketika Ibnu Battuta Melawat Samudera Pasai; 16 April 2018;
  14. Kebijakan Politik Islam Oleh Snouck Hurgronje Sebagai Saran Kepada Pemerintah Hindia Belanda Untuk Menghancurkan Kekuatan Islam Di Indonesia; 25 Juni 2018;
  15. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  16. Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agressi Belanda; 17 Oktober 2019;
  17. Hamzah Fansuri Perintis Sastra Melayu; 4 Juli 2020;
  18. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
  19. Ketika Aceh Minta Menjadi Vasal Turki Ustmani; 21 September 2020;
  20. Bustanus Salatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh; 27 September 2020;
Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 18 Comments

PETUALANGAN CHAN (2) : KEKACAUAN DI INDIA, MENUJU BIRMA

Petualangan Chan

PETUALANGAN CHAN (2) : KEKACAUAN DI INDIA, MENUJU BIRMA

Kuhirup dalam-dalam sup hangat, akhirnya aku bisa menemukan makanan lain selain kari. Kedai milik Po Lin Shi. Lumayan, cita rasanya sudah disesuaikan dengan selera setempat tapi sudahlah, setidaknya bisa mengobati kerinduan terhadap kampung halaman di Tibet sana. Aku sudah terlalu jauh ke Selatan, aku kehilangan arah menuju Indocina dan akhirnya berputar-putar di India. Begitu mereka menyebut tempat ini.

Orang-orang keling suka bernyanyi, suara mereka sangat berisik. Berkumpul bersama minum tuak dikedai. Sangat tidak bercita rasa dan sangat mengganggu bagiku. Walau mereka tak bisa kungfu, dan hanya mengandalkan otot saja sebaiknya aku diam saja. Bagaimana ini bukan negeriku, bahkan aku juga sendiri. Sabar Chan, tahan dirimu.

“Namaku Amoy, boleh kita berkenalan?” Nama dan wajah tak sesuai, bagaimana bisa gadis keling bernama Amoy, jelas hanya untuk menarik perhatianku. Mataku menatap orang didepanku, pelacur keling dengan logat benggali ini memuakkan. Tatapan mataku mencoba mengusir, tapi dia berkeras. Mencoba untuk duduk dibangku depanku.

“Maaf nona Amoy, saya sedang ingin sendiri.” Usirku halus. “Masa tidak boleh berkenalan saja tuan.” Hatiku berkata, kenapa tidak kau kenalan dengan kaummu saja disana, disana dan disana. Orang Keling ya layaknya dengan orang keling. “Tidak! Aku tidak ingin berkenalan denganmu!” Suaraku mengeras dan mengalihkan pandangan sekitar pada kami berdua. Sadar menjadi pusat perhatian, Amoy palsu itu berbalik pergi setelah menghentakkan kaki dengan keras. Pergi kau ke neraka batinku.

Aku menyeruput teh panas dengan pelan, teh ini terlalu banyak gula. “Tuan perkenalkan saya Neelam. Kakek saya sakit, apakah tuan tahu tentang obat-obatan Tiongkok?” Datang lagi satu dengan gaya yang lebih elegan, namun ketika berbicara ia mengoyang-goyangkan dadanya. Sama murahannya dengan tadi. “Maaf nona saya bukan tabib.” Jawabku sekenanya.

“oh begitu ya, tuan dari Tiongkok ya?” Ia langsung duduk dikursiku disamping. Kali ini sangat kurang ajar. Aku bangun dan berjalan menuju pelayan membayar. “Dimana tuan menginap malam ini?” Ia mengikuti aku, sangat menjengkelkan. Kenapa sekarang banyak sekali perempuan murahan. “Jangan ikuti aku pelacur!” Emosiku meledak. Matanya menatapku dendam, peduli setan. Aku keluar.

Ternyata ada lagi yang mengikutiku dari belakang. “Mata sipit, kamu terlalu sombong!” Kali ini suara laki-laki. Aku bergegas, tak baik bergaduh didalam warung. Didepan aku menunggu, delapan orang keling berbadan kekar rupanya. Emosiku sedang tidak stabil, ingin rasanya menghajar beberapa orang. Ini mungkin bisa melampiaskan kekesalanku.

Aroma tuak disekeliling mereka, mabuk. Tabiat orang keling yang paling umum adalah mabuk, kadang mereka aku lihat tidur dijalan karena teler. Jangan pernah membuat marah orang mabuk adalah pepatah umum disini, tapi aku bukan berasal dari sini. Mereka memaki-maki, dan aku tak peduli. Jari telunjukku menantang mereka. Mereka mencabut pisau, yah sudah mengeroyok pakai pisau lagi betapa pengecutnya mereka. Layak diganjar kematian.

Cakar Peremuk Tulang. Orang pertama maju sambil berteriak menyebut nama Dewa mereka. Tanpa kuda-kuda dan sembrono dengan cepat kucengkram lehernya. Mati kau! Ia menggelepar-gelepar. Seharusnya yang lain takut, tapi dasar pemabuk. Satu persatu mereka mengantar nyawa. Pertama kalinya aku membunuh, tiba-tiba kurasakan kepuasan amat sangat. Menghilangkan nyawa musuh itu ternyata nikmat. Kupandangi maha karyaku, delapan pemabuk mati. Hindustan, aku menyingkirkan sedikit masalah kalian, aku tersenyum dan tertawa terbahak. Mampus kalian, siapa suruh menantang Chan. Chan yang tak ingin diganggu. Orang-orang yang menonton terdiam dan takut, seperti baru melihat setan. Aku menantang kerumunan, tapi semua diam dan menunduk.

Aku pergi dengan tenang, dua blok ke depan aku merasa ada yang mengikuti. Siapa lagi? Aku pura-pura tidak tahu. Disebuah sudut kutunggu. “Siapa kamu?” Kucengkram leher orang itu. “Ampun tuan, saya Vikar suruhan Tuan Po Lin Shi. Beliau ingin bertemu tuan.” Pemilik kedai, ada apa? Bisa jadi jebakan. Tapi aku sedang tidak memiliki rasa takut.

Vikar mengantar aku menuju sebuah gudang, aku masuk dengan tenang. Disana ada dua orang menunggu. “Perkenalkan tuan nama saya Po Lin Shi, tuan?” Seorang laki-laki tua bungkuk berkaca mata bulat memperkenalkan diri. “Nama saya Chan.”

“Tuan Chan perkenalkan ini Tuan Aungsan Rewin.” Tuan Po memperkenalkan pada tamu disebelahnya. Orang ini berpakaian rapi dengan cincin giok hijau, jelas dia adalah kaum berada. Dia bukan orang Tiongkok, karena kulitnya lebih gelap namun tidak sehitam orang keling. Aku berjabat tangan dengannya.

“Tuan saya lihat mahir silat?” Tanyanya basa-basi. “Akh, hanya sedikit.”Jawabku.

“Langsung ke pokok pembicaraan.” Tuan Po memotong. “Tuan Aungsan berencana mengirimkan paket, barang yang sangat berharga ke tempat yang sangat jauh, beliau menggunakan jasa biro pengantaran barang Po Lin Shi. Tuan Aungsan khawatir dengan keamanan dan membutuhkan seorang pendekar untuk menjaganya.” Ternyata Tuan Po ini juga memiliki jasa biro pengantaran barang.

Aku tidak tertarik, Indocina adalah tujuanku saat ini. Namun aku penasaran dan bertanya, “kemana?”

“Birma, sebuah negeri di Timur. Medannya sangat berat, namun kami bersedia membayar mahal untuk jasa dari tuan Chan.” Tuan Po mengeluarkan sampoanya.

Hidungku kembang-kempis. Keberuntunganku sedang bersinar. Namun jangan terlalu mudah memperlihatkan antusias, tahan sedikit Chan. “Birma? Saya tak pernah mendengar negeri itu. Pastinya sangat jauh.”

“Tuan Chan akan mengawal bersama anggota biro lainnya, tugas tuan Chan hanyalah menghalau bandit-bandit yang menyerang dalam perjalanan.” Aungsan ini sepertinya sangat butuh paketnya dikirim segera dan aman, pasti barang berharga. Jujur aku tak peduli, aku menemukan penunjuk jalan.

“Baiklah, tentunya dengan bayaran yang pantas.” Jawabku.

“Mari kita bersulang.” Tuan Po tertawa bahagia dan wajah Aungsan terlihat lega. “Besok pagi, tuan Chan berangkat.” Begitu aku menyatakan setuju Po tua ini langsung memerintahku. Pura-pura terkejut, aku tersenyum. Lebih cepat menuju Birma, lebih baik pak tua. Dalam hati aku tertawa.

XXXXXXXXXXXXXXXXXX

Posted in Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

PETUALANGAN CHAN

Petualangan Chan

PETUALANGAN CHAN

“Tidak ada satupun yang dapat menolongmu kecuali dirimu sendiri.”

Suara senyap, bahkan suara burung sedari tadi berbunyi seolah sirna sekejap, aku hanya menundukkan kepala takzim.

“Chan, berapa umurmu sekarang?”

“Delapan belas tahun guru.”

“Sudah dua belas musim semi, ya sejak aku menemukanmu dulu. Melatihmu sehingga sekarang engkau sudah menguasai jurus cakar peremuk tulang.”

Ya, dua belas tahun ketika aku bertemu guru. Kata beliau aku ditemukan dijurang, aku bahkan tak mengingat siapa diriku. Satu-satunya identitas adalah kalung yang dengan perak pipih bermata bertuliskan, Chan. Dan selama ini banyak yang kupelajari dari guru, satu-satunya orang yang kukenal didunia. Dan selama itu guru tidak bertambah tua, wajahnya masih sama tidak berubah sama sekali. Guru pernah bercerita, bahwa ia pernah memakan ginseng terkutuk untuk mencegah dirinya menua. Sesuatu hal yang disesali olehnya.

“Sudah saatnya kamu pergi.”

Aku terkejut diantara tidak terkejut. Sebelumnya guru pernah berkata aku harus melihat dunia kalau sudah menguasai jurus Cakar Peremuk Tulang. Namun aku belum siap pergi sekarang, “guru mengusirku.” Aku belum mau turun dari gunung Shian. Aku suka disini. Aku memiliki satu-satu orang didunia yang menjadi kerabatku, guruku.

“Bergeraklah anakku.” Belum pernah guru memanggilku dengan sebutan itu, biasanya hanya Chan.

Lelaki tidak boleh menangis itu yang diajarkan oleh guru, aku tak pernah pergi jauh. Aku takut, aku sedih, aku tidak mau! “Kemana aku harus pergi guru? Tanpa guru aku hidup sebatang kara.” Aku memelas.

“Chan. Tinggalkan Tibet. Pergilah ke Selatan kamu akan menjumpai orang-orang keling di Hindustan. Lalu berjalanlah ke Timur melewati Burma menuju Indocina temui saudaraku Dragon disana.” Datar, guru selalu tanpa emosi dalam berkata-kata. “Tolong sampaikan suratku ini padanya.”

Aku ingin menolak, ingin sekali.

“Chan, Dragon dan aku adalah saudara sedarah. Sampaikan salamku padanya, dari Tiger.”

Seumur-umur aku tak tahu nama guru, hanya guru panggilanku. Tak pernah kubayangkan bahwa guru adalah sebuah entitas yang memiliki saudara bahkan nama, bagiku guru adalah segalanya. Kadang-kadang aku melihatnya bahkan sebagai Dewa. Dewa Guru.

Aku mengambil gulungan surat itu. Hari sudah sore. “Baik guru, aku akan berangkat sekarang.” Tekadku belum bulat, tapi aku harus yakin dengan diriku.

Mata guru kosong melihat aku bergegas membereskan pakaian. Aku tahu guru pasti bersedih, melebihi diriku sendiri. Kami saling mengerti. kami berbagi cerita, makanan, dan segalanya. Pasti sulit kehilangan sesuatu yang menjadi bagian dari hidup, sesuatu hal yang terbiasa dan menjadi kebiasaan.

“Chan bawalah ini sebagai bekal.” Guru menyerahkan sekantung uang. Kubuka, tail emas! Darimana guru memiliki ini? “Sedikit simpanan dari masa lalu.” Ia tersenyum melihat keterkejutanku.

Salju tiba-tiba turun, perpisahan memang selalu pahit. “Guru, kalau nanti aku sudah pergi. Menikahlah.”

Guru ingin membantah, tapi aku berbalik. Aku tak ingin membuat suasana tambah melankolis, biarkan ini berlalu dengan datar. Lebih baik tanpa kesan terlalu mendalam, karena suatu hari pasti aku akan kembali.

Aku berjalan dan tak lagi menoleh kebelakang, sungguh aku ingin. Tapi aku tak bisa, tak bisa memperlihatkan air mataku pada guru. Dan lebih lagi, aku tak ingin melihat guruku, panutanku, dewaku itu meneteskan air mata. Karena aku tahu sedari tadi ia menahan diri. Kepergianku ini pasti memiliki tujuan penting, aku kenal pak tua berwajah muda itu. Dia memang keras namun dibalik itu pasti ada rahasia yang ia siapkan untukku dan dirinya.

Selamat tinggal guru, selamat tinggal Tibet. Suatu hari Chan akan kembali. Menuruni gunung shian ditengah salju pertama turun, tapi dadaku terasa hangat. Hindustan di Selatan.

XXXXXXXXXXXXXXXX

Posted in Cerita | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

KISAH SEBELUM SANG PANGERAN SELESAI

KISAH SEBELUM SANG PANGERAN SELESAI

Tahun 1512, Santandrea, diluar kota Firenze.

North and Central Italy in Machiavelli's times

North and Central Italy in
Machiavelli’s times

Hari menjelang malam dimana langit menghitam. Aroma basah memenuhi udara, ukh padahal Milan masih jauh haruskah tertahan disini. Tempat yang sepi dimanakah kami harus bermalam? Tidak ada pemukiman dipinggiran hutan ini. Guruh mulai menggelegar pertanda badai akan tiba.

“Yang mulia. Disana ada sebuah rumah!” Tunjuk Vicenzo. Setitik cahaya terpendar dari rumah, bukan namun sebuah gubuk pencari kayu. Mengingat cuaca tidak mendukung tidak ada salahnya memohon keramahan sang pemilik untuk sesaat berteduh. “Baiklah, kita mohon izin berteduh sebentar kepada pemiliknya.”

“Silahkan masuk tuan.” Rumah ini ternyata milik mandor tukang kayu. “Silakan dicicipi sup hangat ini.” Orang ini masih separuh baya, memiliki wajah tirus. Sup hangat dicampur kentang tumbuk ini lumayan juga mengingat mandor ini tinggal sendiri, sepertinya ia seorang duda yang sangat mencintai istrinya sehingga memilih hidup sendiri. Disini, dipinggir hutan. Adalah sesuatu hal yang janggal. Namun tak apalah setidaknya kami punya tempat berteduh ditengah badai ini.

“Mengapa tuan tinggal jauh dari tempat ramai?” Vicenzo tak dapat menahan rasa ingin tahunya. Orang ini menerawang kemudian tersenyum getir. “Aku adalah seorang tak berguna, mencintai Firenze dan ingin mengabdi pada Italia.” Pada titik ini, aku merasa orang ini adalah orang yang memiliki angan-angan tinggi.

“Dulu ketika Firenze masih Republik, sebelum keluarga Medici memperoleh kekuasaannya lagi aku adalah abdi sipil dibawah pemerintahan Presiden Sodelini. Aku dipecat! Setelah aku dikeluarkan dari kantor pemerintahan, banyak kejadian terjadi. Aku dijebloskan ke penjara karena tuduhan kudeta. Ketika Kardinal Giovanni diangkat menjadi Paus baru, aku dibebaskan dari penjara. Memang aku senang dibebaskan tapi aku punya catatan Kriminal, walau sebenarnya aku tidak bersalah sehingga aku tak bisa bekerja di pemerintahan Firenze selamanya.” Orang ini mengetuk mangkok supnya kesal.

Sekilas kulihat Vicenzo ingin mencabut pedang, namun tatapanku menghentikannya. Giovanni adalah kakakku, Giovanni Medici atau sekarang bernama Paus Leo X. Giovanni yang cerdik dengan bantuan tentara Spanyol merebut kembali Firenze. Kakakku yang paling tua Piero yang lemah melarikan diri secara pengecut ketika digertak Perancis dulu, meyebabkan Firenze menjadi Republik dan menghilangkan pengaruh ayah kami tercinta Lorenzo.

Giuliano de' Medici (1453 – April 26, 1478) was the second son of Piero de' Medici (the Gouty) and Lucrezia Tornabuoni. As co-ruler of Florence, with his brother Lorenzo the Magnificent, he complemented his brother's image as the

Giuliano de’ Medici (1453 – April 26, 1478) was the second son of Piero de’ Medici (the Gouty) and Lucrezia Tornabuoni. As co-ruler of Florence, with his brother Lorenzo the Magnificent, he complemented his brother’s image as the “patron of the arts” with his own image as the handsome, sporting, “golden boy.”

“Mandor, tahukah kamu siapa kami?” Tanya Vicenzo. “Aku tak punya keinginan untuk tahu.” Geleng orang ini. “Beliau adalah yang mulia Juliano.” Tunjuk Vicenzo. Bahkan ia hanya tersenyum.

“Tuan Juliano, Juliano yang ramah. Putra ketiga keluarga Medici.” Matanya justru bersemangat. Aku hanya tersenyum. “Tuan harus membeli pengetahuanku yang kudapat saat menjadi abdi sipil.”

“Apa yang dapat kubeli dari musuh keluargaku?”

“Ilmu menjadi pemimpin. Pemimpin  dimasa kekacauan tidak cocok berlaku ramah seperti tuan. Dia harus berlaku kejam pada bawahannya. Akan kuberikan apa yang pernah aku lihat, dan apa yang diajarkan oleh sejarah. Terimalah aku sebagai abdimu sehingga aku bisa berguna lagi bagi Firenze, bagi Italia.” Suasana hening, badai sudah berlalu.

“Mandor, badai sudah berlalu. Tiba saat kami harus pamit, perjalanan menuju Milan masih panjang dan kami harus segera berangkat.” Aku hanya berdua dengan Vicenzo, terlalu berisiko untuk menunda perjalanan ditengah zaman kacau seperti ini.

“Aku mohon tuanku, terimalah aku sebagai abdimu.” Suara orang itu bergetar dan kemudian bersujud dikakiku. Ia membenturkan kepalanya ke lantai untuk menunjukkan kesungguhannya.

The cover page of the 1550 edition of Machiavelli's The Prince and The Life of Castruccio Castracani of Lucca.

The cover page of the 1550 edition of Machiavelli’s The Prince and The Life of Castruccio Castracani of Lucca.

Hatiku tersentuh, “Mandor. Kami dalam perjalanan penting dan tak mungkin menambah anggota lagi. Baiklah aku akan memberikan kesempatan kepadamu. Sebuah ilmu akan berguna apabila ia tersusun secara sistematis dalam bentuk tulisan. Tulislah pengetahuanmu dan kirimkan kepadaku. Kakakku Giovanni berencana membantuku membentuk sebuah Negara baru diwilayah Emilia, mungkin kelak kamu akan lebih berguna disana.”

“Terima kasih tuanku.” Ia menciumi tanganku dan matanya seperti menemukan harapan baru.

Vicenzo mendekat dan berbisik, “apa tidak sebaiknya kita bunuh saja orang ini.” Aku mengeleng. “Mandor sedari tadi kami belum tahu siapa namamu?”

“Machiavelli. Niccolo Machiavelli.” Hidup orang ini pasti sangat pahit, teramat menyakitkan. Kata-katanya lebih menyerupai doa. Atau harapan, ya pengharapan kepada sejarah untuk mencatat. Ia mengucapkan dengan penuh kebanggaan.

XXXXXXXXXXXX

Niccolò di Bernardo dei Machiavelli (3 May 1469 – 21 June 1527) was an Italian historian, politician, diplomat, philosopher, humanist and writer based in Florence during the Renaissance.

Niccolò di Bernardo dei Machiavelli (3 May 1469 – 21 June 1527) was an Italian historian, politician, diplomat, philosopher, humanist and writer based in Florence during the Renaissance.

Machiavelli pun menulis dan menyelesaikannya. Namun karyanya tidak sampai ke tangan keluarga Medici karena Juliano keburu meninggal. Dan Machiavelli meninggal diusia 58 tahun 1527 membawa cita-citanya untuk kembali ke pemerintahan. Karyanya  dianggap sebagai terori terlarang dan tak pernah disebarluaskan. Disebut sebagai buku yang sesat, kitab yang miliki kekuatan mempengaruhi orang. Pada abad pertengahan sangat terkenal nama jeleknya. The Prince. Sampai abad ke-18 dianggap sebagai buku setan. Machiavelism adalah istilah yang dipakai untuk orang yang mau melakukan segala cara untuk mencapai tujuan. Tujuan itulah yang membenarkan cara mencapainya. Didalamnya terdapat kata-kata Machiavelli yang memikirkan dengan serius sifat dasar manusia yang melebihi kejahatan ataupun kebaikan.

XXXXXXXXXXXX

Edisi Internasional: BEHIND THE SCENES MACHIAVELLI WROTE THE PRINCE

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  36. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  37. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  38. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  39. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  40. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  41. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  42. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  43. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  44. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  45. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  46. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  47. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  48. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
Posted in Buku, Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Literature | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 68 Comments