MENEGAKKAN KEADILAN

Raja Persia di atas singgasana.

MENEGAKKAN KEADILAN

Konon, seorang Kisra dari Persia yang bernama Anusyirwan semasa hidupnya terkenal akan keadilannya. Ribuan tahun kemudian ketika Khalifah Al Makmun berkuasa di Baghdad, berhasil menemukan makam Kisra Anusyirwan didalamnya terdapat harta berlimpah tetapi ada suatu hal yang membuat mereka kagum yaitu jasad dari Kisra Anusyirwan tersebut masih utuh!

Ketika Khalifah Al-Makmun mengetahui hal tersebut beliau berkata, “Maha suci Allah SWT yang menlindungi penguasa yang adil meskipun dia adalah orang yang kafir (pemeluk agama Majusi), sekarang tutup dan sembunyikan kembali makam ini sesungguhnya aku tidak mau dalam sejarah nanti orang mengatakan bahwa Al-Makmun putra Harun Al-Rasyid adalah seorang penjarah makam.”

Dan kemudian makam Anusyirwan tersebut ditutup kembali dan sampai sekarang makam tersebut masih tersembunyi. Itu semua menjadi teladan bagi diri kita.

Apakah perbedaan dari seorang Fir’aun dengan seorang Anusyirwan? Keduanya merupakan penguasa yang jelas-jelas kafir. Keduanya sudah meninggal ribuan tahun yang lalu, akan tetapi seorang dibenci dan satu orang lagi dicintai oleh rakyatnya.

Kerinduan akan keadilan, sudah ada mulai menusia ada di bumi ini, akan tetapi literatur ilmiah pertama yang diakui oleh dunia adalah pendapat Aristoteles.

Menurut Aristoteles, keadilan terbagi kepada dua macam :

  1. Keadilan Normatif, Yaitu keadilan dimana setiap orang memiliki kedudukan yang sama sebagai manusia, contohnya setiap orang sama kedudukannya dimata hukum.
  2. Keadilan Substantif, Yaitu keadilan yang mengukur kadar tiap-tiap orang. Sebagai contoh gaji seorang kepala tentu berbeda dengan pelaksana dikarenakan tanggung jawab yang lebih besar.

Setiap rakyat pasti merindukan penguasa yang adil, setiap anak pasti merindukan orang tua yang adil. Ketika keadilan ditegakkan maka tidak perlu pasukan yang kuat, harta yang melimpah akan tetapi dengan keadilan lebih bisa menjaga dan membahagiakan lebih dari itu semua.

Rasulullah Saw ketika ditanyakan oleh seorang sahabat “Ya Rasulullah, apakah adil itu?” Rasullullah Saw menjawab “Keadilan adalah memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya.” Ucapan beliau tersebut konon di gantung diatas Mahkamah Internasional di Den Haag Belanda.

Semoga kita dapat memperoleh pembelajaran dari ini semua.

Mari berpikir:

  1. Temukan Mentor Rahasiamu; 23 September 2008
  2. Sang Tiran; 15 Oktober 2008
  3. Yang Muda Yang Berguna; 22 Oktober 2008
  4. Lughat; 28 November 2008;
  5. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  6. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  7. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  8. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  9. Hantu; 20 Februari 2009;
  10. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  11. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  12. Apalah Artinya Sebuah Nama; 13 Juli 2009;
  13. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  14. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
  15. Menulis Haruskah Pintar; 26 Oktober 2009;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 33 Comments

MENULIS HARUSKAH PINTAR

Kemampuan menulis biasanya diawali oleh hasrat membaca yang kuat.

MENULIS HARUSKAH PINTAR

Menjadi penulis haruskah pintar? Tentu tidak! Dari fungsi otak yang digunakan. Menulis lebih menekankan penggunaan otak kanan, kemampuan berbahasa. Membedakannya dengan otak kiri yang berguna sebagai kemampuan berlogika.

Apakah yang diperlukan? Jika ditanyakan kepada penulis maka jawabannya adalah keberanian. Keberanian yaitu kemauan untuk memaksimalkan setiap kata, memberinya makna sehingga dapat dinikmati oleh pembaca.

Sangat baik memiliki pengetahuan, itu menjadikan tulisan menjadi lebih kaya. Tidak teralihkan oleh ilusi karena menguasai kronologi waktu. Namun jangan terlalu angkuh sehingga membuat yang membaca terintimidasi dan kehilangan kenyamanan. Kepintaran sebagai kekuatan bisa menjadi kelemahan apabila disalah artikan apalagi jika tidak dipahami oleh pembaca. Jangan lupakan tanda baca! Titik dan koma itu penting! Jangan menyiksa orang lain dengan kalimat panjang.

Terakhir, duduk dan lakukan! Jangan terlalu banyak berpikir! Kenapa? Jika terlalu banyak menimbang baik dan buruknya akan membuat segala ide hilang. Tak perlu mengadakan riset mendalam, tak harus memiliki resensi bermutu, hanya duduk dan lakukan!

Menulis itu tak perlu pintar. Jadi kenapa segan untuk mencoba? Ayo kita melakukannya, seraya belajar. Penulis sendiri bukan orang pintar, bahkan banyak penulis ternama bukan orang pintar. Disini yang dibutuhkan hanya keberanian, sedikit saja. Selanjutnya kematangan akan membimbing anda dengan sendirinya.

“Sesungguh ketika raga terpenjara, pikiranku bebas mengembara. Mengunjungi negeri-negeri asing. Berperang disamping para Sultan, berunding dengan para kaisar, menunggangi kuda dipadang stepa Mongol, membelah rimba raksasa Afrika, dan memandangi selat Bophorus, atau bercengkrama ditaman kota Sevilla”.

Milvan Murtadha. Lhokseumawe, 25 Oktober 2009.

Artikel lainnya:
  1. Manajemen Kritik; 18 September 2008
  2. Temukan Mentor Rahasiamu; 23 September 2008
  3. Sang Tiran; 15 Oktober 2008
  4. Yang Muda Yang Berguna; 22 Oktober 2008
  5. Lughat; 28 November 2008;
  6. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  7. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  8. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  9. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  10. Hantu; 20 Februari 2009;
  11. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  12. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  13. Apalah Artinya Sebuah Nama; 13 Juli 2009;
  14. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  15. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
Posted in Asal Usil, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 14 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA

menyalakan samar hampar lautan, aku menjelma menjadi sebaris nama

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TIGA

Bandar Aceh Darussalam, Oktober 1872. Aku bermain-main dengan pikiranku. Inikah yang disebut rumah? Jika engkau sudah mengembara melintasi Malaka, Batavia, Jepun, Liverpool, Venezia bahkan Istanbul selama dua puluh tahun pelayaran. Disusun dari kayu rumbia beratap daun kelapa, masih sama seperti dahulu hanya semakin rapuh. Tidak ini bukan rumah! Ini dinamakan surga, yang menjadi mimpi jiwa yang dahaga untuk berpulang. Tempatku dilahirkan dan dibesarkan.

Daun pintu terbuka mengangga. Siapakah didalam, Masihkah ibu hidup? Aku masuk melintasi waktu seolah hanya pulang setelah bermain sebentar. Diatas anyaman nipah, sesosok tergolek dengan mata terbuka. Ibu? Ibuku masih hidup. Ia terbangun. “Siapa itu?” Matanya sudah biru, termakan oleh usia mencari-cari sumber suara. Beliau buta. Air mataku menetes, tak mampuku menahan isak dan pecahlah ia dalam rasa yang tak kutahu entah bahagia atau sedih.

“Ibu! Ibu!” rintihku pelan seraya menjatuhkan diri dikakinya.

Cinta kadang dalam bentuk kata, kadang pula tanpa kata. Tapi bagi setiap anak manusia, cinta ibu adalah yang paling berarti. Mata beliau kosong ketika menjambak keras rambutku, menampar-nampar pipiku keras dan semakin pelan. “Anak durhaka! Kemana saja kau selama ini?” Kemudian beliau mendekapku mesra, seperti bayi. Bayi yang baru dilahirkan dan dibuai dalam kasih sayangnya. Begitu tulus sehingga kutaktahu harus berkata apa lagi.

Bagi kami yang dilahirkan di tanah ini, ketika berhadapan dengan musuh diajarkan untuk menyingkirkan nurani. Kami adalah kaum yang tega meludahi, mencincang, bahkan mengencingi lawan sambil tertawa. Belanda menyebut kami sebagai bangsa perompak tua yang harus diberantas. Tapi dihadapan ibu kami tak lebih dari seorang kanak-kanak, berapapun usia kami. Putroe Phang1) menyadari hal ini, dua ratus tahun lalu mendesak suaminya Sultan Iskandar Muda2) menerbitkan Qanun3) yang berisi bahwa setiap anak laki-laki Aceh yang menikah diharuskan tinggal dirumah pihak perempuan, atau membuat rumah sendiri. Sebagai Permaisuri beliau pun risih jika harus tinggal serumah dengan mertua, dengan suami yang manja, sangat manja dengan ibu mereka.

Aku tidur dipangkuan ibu, kapten perompak yang pernah menahkodai bintang hitam. Disegani Navy Inggris, ditakuti skuadron Portugis, diburu armada Perancis dan mimpi buruk Flying Duchman4) takluk tanpa syarat. Dan ketika beliau bercerita aku pun hanya bisa terdiam, atas usahanya bertahan hidup untuk menjaga warisan untukku, agar tak dibagi oleh Karong5). Padahal hanya sepetak tanah ditepi krueng Aceh6). Apalah artinya dibanding pundi emas jarahan yang kubawa. Sifatku ingin membantah, tapi mulutku terkunci diam tanpa kata.

Ibu semakin menua, lebih tua dariku yang sudah tua. Beliau tak pernah kemana-mana. Beliau yang percaya bahwa Aceh Darussalam masih perkasa. Membenci kaphe7) sangat disatu sisi, namun disisi lain meyakini tanah Gayo 8) adalah khayangan. Lucu penuh pertentangan. Tapi beliau adalah ibuku, seseorang yang paling kucintai dalam hidupku. Tiba-tibaku sadar kepulanganku ini bukanlah semuluk yang kusangka, bukan menyelamatkan Aceh Darussalam yang mewakili kedaulatan Nusantara terakhir dari masa-masa gelap sejarah. Bukan melindungi ibu pertiwi dari penjajahan. Hanya pulang dan mendapati ibuku masih hidup, ya sesederhana itu. Tak lebih, dan hari ini kenyataan melebihi anggapanku. Ternyata dunia tak seburuk dugaanku.

“Sudah akan azan jumat, pergilah ke Masjid Baiturrahman9)!” Perintah ibu seraya membelai kepalaku. Keningku berkerut, sudah berapa lama aku tidak shalat dan aku sudah ragu bagaimana caranya. “Ayo cepat!” Perintah ibu lagi. “Jumat depan.” Jawabku ragu. Kembali memukul kepalaku, “Berapa lama kamu pergi? Kamu sudah menjadi.” Suara beliau hilang sesaat dan menyambungnya dengan, “Durjana!” Aku tersenyum, ya itulah julukanku. Sang Durjana, tapi biarlah ibu tak pernah tahu apa yang kulakukan sampai dengan kemarin. Aku memejamkan mata, tertidur dan tak tahu apa-apa lagi. Rasa damai ini sungguh menyejukkan.

XXX

1. Tengku Kamaliah, seorang Putri dari Kesultanan Pahang. Putri ini dikenal dengan nama Putroe Phang. Istri Sultan Iskandar Muda. Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan dengan istrinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali (Taman Istana) sebagai tanda cinta. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampung halamannya yang berbukit-bukit. Oleh karena itu Sultan membangun Gunongan untuk mengobati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan masih dapat disaksikan dan dikunjungi.


2. Sultan Iskandar Muda (Aceh, 1593 atau 1590 – 27 Desember 1636) merupakan sultan yang paling besar dalam masa Kesultanan Aceh, yang berkuasa dari tahun 1607 sampai 1636. Aceh mencapai kejayaannya pada masa kepemimpinan Iskandar Muda, dimana daerah kekuasaannya yang semakin besar dan reputasi internasional sebagai pusat dari perdagangan dan pembelajaran tentang Islam.


3. Qanun = Perangkat Undang-undang.


4. Flying Duchman = Julukan pelaut Belanda.


5. Karong = Sistem perwalian secara adat di Aceh.


6. Krueng Aceh = Sungai Aceh yang membelah ibu kota Bandar Aceh Darussalam.


7. Kaphe = Julukan kaum putih, penjajah yang umumnya beragama Nasrani. Berasal dari kata Arab kafir.


8. Tanah Gayo = Tanah dataran tinggi pegunungan ditengah Aceh, didalam sistem administrasi Republik Indonesia sekarang pada Provinsi Aceh meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues.


9. Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid yang berada di pusat Kota Bandar Aceh Darussalam. Sewaktu Belanda menyerang pada tahun 1873, masjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah masjid sebagai penggantinya. Mesjid ini berkubah tunggal dan dapat diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959-1968). Masjid ini merupakan salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas.

XXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 49 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA

Risalah Sang Durjana tampak samping

Risalah Sang Durjana tampak samping

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA

Ulee Lheu. Oktober 1872, Pantai ini sudah terkena pendangkalan parah. Bintang hitam tak bisa merapat, sebuah sekoci merangkak pelan ke Pantai Cermin. Sang Durjana pulang dari petualangan. Jantungku berdetak kencang, rasa rindu semakin berarti jika sudah di dekat rumah. Akhirnya kumenjejakkan kaki didaratan.

Dua puluh tahun, tidak ada perubahan. Beginikah nasib Aceh Darussalam, jalan setapaknya masih sama. Orang-orang lama semakin tua, dan orang-orang baru tak lebih baik. Untuk apa kepulanganku ini? Kadang-kadang kubertanya pada diriku sendiri sehingga benar-benar meyakini bahwa kepulanganku adalah untuk membela bangsaku sendiri.

Melayu Sumatera telah takluk baru-baru ini ditangan Belanda, dan diberi nama Keresidenan Riau. Deli sudah lama jatuh. Tiku, Barus dan Pariaman sudah lama hilang dipeta Aceh Darussalam. Diakhir abad XIX diseantero Nusantara hanya Aceh Darussalam dan Tanah Batak yang masih merdeka. Dan kedaulatan keduanya terancam oleh Traktat Sumatera sebuah persesengkolan tingkat tinggi antara Inggris dan Belanda, tapi apa yang mereka lakukan? Hanya bersantai saja di kedai seolah pasrah akan takdir yang akan menuntun pada kemenangan.

“Durjana!” Dari lepau nasi suara tak asing memanggil.

“Bang Baka?” Terdengar tawa yang khas.

“Begini rupanya wajah lanun yang diburu oleh seluruh Negara. Waktu seolah berhenti untukmu wajahmu masih sama ketika kita bertemu terakhir kali” Tembaknya.

Aku tersenyum dan datang padanya. “Sekarang aku bukan lagi kepala lanun. Kapal Bintang Hitam sudah kulepaskan, didepan abang sekarang hanyalah Ahmad. Abang sendiri bagaimana kabarnya sekarang?” Ya, kini aku sendiri dan para kelasi sudah kubebas tugaskan ditengah lautan. Hari ini aku memulai hidup sebagai orang baru, bukan lagi sebagai kepala perompak hanya seorang anak manusia biasa.

“Aku sekarang saudagar, memasukkan beras dari Jawa.” Ia berkata.

“Bukankah kampung Bang Baka di Meuredu sana penghasil beras untuk kesultanan?” tanyaku heran.

“Durjana, sudah terlalu lama kamu pergi dan tak tahu kabar negeri lagi. Kaum bangsawan meringkuk ketakutan di istana Darul Kamal, sedang para Uleebalang sibuk bertikai, negeri kita tak terurus.” Bang Baka menggerutu pelan.

“Ceritakan padaku bang.” Pintaku, mengambil kursi dan duduk. Dari mulut bang Baka kuketahui bahwa banyak raja-raja lokal kecil yang gelari Ulee Balang tak mengindahkan lagi kewibawaan sultan yang berketurunan Bugis. Daerah Peurelak menjadi sarang penyamun membajak kapal-kapal niaga Inggris dan Belanda, harta jarahan dari para kafir. Sultan Mahmud Syah tak mampu mencegahnya, padahal ini disuatu hari akan dijadikan alasan oleh Belanda untuk menyerang ibu kota Bandar Aceh Darussalam. Raja Meulaboh dan Raja Teunom berselisih, mengakibatkan darah terbuang sia-sia. Nasib negeri ini diujung tanduk namun tak seorang pun yang berupaya untuk mencegahnya, tragis. Mereka terlalu percaya akan kehebatan masa lalu, pada kemampuan mengusir Portugis padahal sudah lebih dua ratus tahun berlalu. Pada kemampuan armada laut menguasai Selat Malaka dan pantai Barat Sumatera dulu. Nafasku sesak.

“Jadi apa yang akan kau kerjakan pada kepulanganmu ini Durjana?” Bang Baka memiliki karakter khas saudagar yang berasal dari Tanah Pidie, penuh harapan.

“Tak tahulah bang, mungkin aku akan pulang ke rumah.” Mataku menerawang jauh menatap lautan biru bersama mega-mega di langit. Dulu kami menguasai laut, sekarang bahkan kami tak berdaya didaratan.

“Hanya begitu, reputasimu sebagai lanun bahkan menjadi legenda. Aku bahkan mengetahui kehebatanmu ketika berlabuh di Semarang, Orang-orang Belanda menakuti anak-anak mereka yang nakal dengan namamu.” Cerita lisan cepat berkembang, dari mulut ke mulut. Setiap mulut menambah bumbu sehingga sampai ditelinga terakhir menjadi sangat menakutkan.

“Jadi sekarang apa yang akan kau lakukan?” Bang Baka mengulangi pertanyaan yang sama seraya memainkan matanya, berharap mendapat jawaban dariku. Jelas sekali ia hendak menularkan semangatnya padaku. Tapi aku, dalam pengembaraan selama ini terlalu banyak melihat kejatuhan berbagai negeri pada kekuasaan orang-orang putih, sehingga padaku tak ada harapan yang sama.

Untuk pertama kalinya, aku tak tahu harus berkata apa. Mulutku kelu. “Aku sudah tua, empat puluh tahun. Mungkin aku akan pulang dan mengasah kelewang dan menanti kapan perang kita dengan Belanda atau Inggris terjadi.” Aku berjalan dan tak melihat kebelakang lagi, saat ini aku hanya ingin menemukan rumah untuk tidur. Dalam buaian ibu pertiwi setelah dua puluh tahun pergi.

XX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 55 Comments

TAK ADA APA APA

Sudahlah, mata sendumu itu tak lagi bisa memanggilku. Ku hanya bisa berbisik dalam hati, selamat tinggal masa lalu.

TAK ADA APA APA

Ini kali kita bertemu, tak sengaja. Tidak ada apa-apa. Benci tiada, segalanya telah menguap. Biasa saja. Kata-kata tiada. Dan jika akhirnya bibirku tersenyum karena aku berbahagia. Sangat senang menjadi seorang yang tak lagi kau kenali. Sangat senang karena aku telah berhasil menjadi seseorang yang aku inginkan.

Dulu, kau katakan bersama waktu aku akan melupakanmu. Dan hari ini aku terkejut betapa kata-katamu itu tak lain dan tak bukan melainkan kebenaran. Kata-kata harimau yang engkau keluarkan ternyata hari ini menerkammu. Sungguh tak ingin kutertawa pada merana yang kau rasakan, maka menjauhlah.

Engkau tahu aku selalu menepati janji, maka janganlah kecewa jika hari ini aku menunaikan janjiku. Meski engkau merana, aku tak akan melihatmu lagi dengan perasaan yang sama. Aku yang tak pernah memiliki rasa takut sedari dulu, jadi mengapa hari ini aku harus ketakutan jika berhadapan langsung denganmu lagi.

Sudahlah, mata sendumu itu tak lagi bisa memanggilku. Ku hanya bisa berbisik dalam hati, selamat tinggal masa lalu. Kini ku memiliki masa depan yang harus kurengkuh. Satu kalimatku untukmu, janganlah terjerat masa lalu.

“Ada orang pernah bilang akar permasalahan dari seorang adalah memori, tanpa ingatan ia akan selalu menemukan hal baru disepanjang hidup tapi orang yang lain lagi juga bilang, kenangan itu adalah kotak harta yang bisa dibuka kapan saja. Bahkan disaat merasa tak memiliki apapun jua.”

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  18. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  19. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  20. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  21. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  22. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  23. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  24. Ashura; 13 Februari 2013;
  25. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  26. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  27. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;

 

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 70 Comments

SEJARAH KEHIDUPAN

Sejarah itu berjalan bersama kehidupan. Tak peduli jalan apa yang telah ditempuh maju kedepan jangan takut, jangan mundur, jangan bersembunyi. Ketika suatu hari nanti tersadar, kita akan melihat jalan terbaik telah dilalui.

SEJARAH KEHIDUPAN

Sejarah itu berjalan bersama kehidupan. Tak peduli jalan apa yang telah ditempuh maju kedepan jangan takut, jangan mundur, jangan bersembunyi. Ketika suatu hari nanti tersadar, kita akan melihat jalan terbaik telah dilalui.

Waktu berjalan seperti singa, ia melumat segalanya. Dua belas tahun sudah meunasah Al-Munawarah berdiri. Ini adalah Ramadhan kali keduabelas. Sejak Meunasah ini didirikan Abu sudah menjadi bagian dari sejarahnya namun sudah tiga tahun Abu absen tadarusan disini, sudah lama juga sehingga kerinduan itu merasuk dan akhirnya membezuk.

Zaman sekolah sudah berlalu, dan ketika manusia semakin tua. Ia disibukkan dengan hal yang bersifat dunia dan menuntut untuk meninggalkan kampung halaman. Tidak ada yang berubah dari dekorasi meunasah ini, kecuali arah kiblat yang sudah dimiringkan disesuaikan dengan ketentuan baru yang ditemukan dikemudian hari. Abu datang pada kepulangan sesaat dikampung halaman.

Seperti ada yang hilang, dimana kaum muda. Tinggallah para orang tua, padahal dulu ramadhan disini selalu semarak oleh para pemuda. Dulu ada acara bakar jagung, ada acara memasak ayam ditengah malam menyelingi tadarusan. Sekarang sepi, dan Abu merasa asing.

“Abu kapan pulang?” Suara yang familiar menyapa ketika berwudhu. Bang Regar rupanya, diantara sejawat hanya dia yang masih bertahan. “Abu sudah tiga hari di Banda bang, mana teman yang lain?” Abu balas bertanya. Bang Regar tersenyum lalu mengangkat bahu.

Selesai wudhu, kami duduk di balai samping meunasah. “Orang-orang bertambah banyak, bagai bermunculan dari perut bumi. Tapi mengapa meunasah kita semakin sepi?” Bang Regar menatap wajah Abu datar. Sebuah pertanyaan yang Abu rasakan tidak untuk dijawab, hanya didengarkan. Membesarkan hati bang Regar, Abu berkata. “Tapi abang masih ada disinikan?”

“Tahun depan aku berencana menikah, mungkin aku nantinya tidak tinggal dikampung ini lagi.” Abu hanya tersenyum mendengar pernyataan bang Regar. Sesaat kemudian kami berbicara tentang masa lalu, tentang hari-hari yang telah kami lalui setelah beberapa lama tak bertemu. Ada banyak cerita yang kami bagi dalam waktu singkat. Dalam tawa dan senda persahabatan.

“Ayo bang kita tadarus sekarang, besok malam Abu harus kembali ke Lhokseumawe. Tugas Abu disini sudah berakhir.” Ajak Abu. “Tapi kamu akan kembalikan? Menjelang hari raya nanti.” Tanya bang Regar. “Pasti bang, ini kan kampung Abu. Kita nikmati malam ini dulu dengan bertadarus, besok adalah urusan nanti.” Ajak Abu sekali lagi. Bang Regar masih belum puas, “Besokkan hari Sabtu mengapa kamu terlalu cepat kembali ke Lhokseumawe, masih ada satu hari lagi? Abu hanya tersenyum. Kening bang Regar berkerut lalu tertawa, “Sudah lama waktu berlalu, tapi kamu masih saja begitu. Menjawab pertanyaan yang tidak mau dijawab dengan senyuman.”

“Ini karena bentuk bibir Abu yang selalu terlihat tersenyum bang. Ayo kita masuk.” Abu menarik bang Regar masuk ke meunasah dengan mengandeng. “Norak kamu Abu! Masih juga suka mengandeng.” Bang Regar menepis tangan Abu, kemudian tertawa. Kami pun masuk ke dalam meunasah, merajut malam dengan menggajikan kitab suci dengan nyanyian yang sama, sama seperti dulu.

Meunasah (bahasa Aceh) = Surau, Langgar, Mushalla.

XXX

Posted in Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 13 Comments

MENYERAHKAN NASIB PADA TAKDIR

Hidup adalah perjalanan ruang dan waktu.

MENYERAHKAN NASIB PADA TAKDIR

Hari ini, kupasrahkan diriku pada takdir. Ya, pada takdir. Seperti aliran sungai pelan mengarah pada lautan luas. Aku yang selalu berupaya dan percaya bahwa manusia mampu mengubah aliran takdir. dihari ini mengakui bahwa segenap daya dan upaya tak akan berguna tanpa restu-MU.

Aku telah menunggu, semua orang menunggu jua waktunya. Pada sebuah masa depan, pada sesuatu yang telah tertulis dilangit. Akan perjalanan hidup, maupun akan akhir hidup. Dan sungguh jalan berkelok serta jurang menjadi sangat menakutkan jika harapan akan kehidupan semakin membesar. Memiliki harapan berakibat memiliki ketakutan pada kegagalan. Pada kecerobohan yang kelak disesali. Pada kemungkinan untuk gagal. Tiba-tiba segala kecerdikanku lenyap dan tak tahu berbuat apa.

Tuhan, dini hari ini ketika aku terjaga. Pada-MU kubersandar. Segala simpuh menjura pada-MU. Hamba yang hina ini memohon, dengan penuh harap. Tuhan, apapun yang terjadi nanti. Mohon lindungi dia, jangan biarkan ia tersakiti oleh cintaku. Cintaku yang segarang singa. Sebegitu menakutkan sehingga kupasrah. Dan menyerahkan nasib pada takdir-MU.

Lhokseumawe, dini hari 3 September 2009.

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , | 11 Comments

PERJALANAN INI

Hidup adalah perjalanan ruang dan waktu.

PERJALANAN INI

“Perjalanan ini terasa lebih meletihkan, tanpa kau disisiku.”

Che Guevara mengelilingi Amerika latin untuk mewujudkan cita-cita revolusionernya, mengorbankan masa depan sebagai seorang calon dokter muda menjadi pejuang di Kuba dan akhirnya tewas di ujung peluru tentara pemerintah Bolivia.

Mohamdas Karamdas Gandhi atau yang lebih kita kenal sebagai Mahatma Gandhi menjelajahi negerinya untuk melihat nasib bangsanya, sebuah perjalanan yang dimulai dari seorang pengacara muda di Afrika Selatan yang mengurusi nasib orang India disana ia pulang ke India untuk memperjuangkan bangsanya dengan perlawanan ahimsa (a=tanpa/tidak, himsa=kekerasan) terhadap penjajahan Inggris.

Rasulullah di usia yang masih belasan melakukan perjalanan niaga ke negeri Syam, pada saat wahyu telah diturunkan kepada beliau Rasulullah juga mecoba berdakwah ke Thaif dan puncaknya ketika Rasullullah berhijrah dari Mekkah ke Madinah untuk melebarkan wilayah dakwah dan akhirnya menjadi awal dari kebangkitan Islam di Jazirah Arabia dan kemuliaan Islam di dunia. Pentingnyanya proses Hijrah ini membuat khalifah Umar bin Khattab menetapkan bahwa awal penaggalan tahun Islam dimulai dari Hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah dan dikenal dengan sebutan Tahun Hijriah.

Apa yang dapat kita petik dari pelajaran tersebut? Terkadang kita perlu membuka mata terhadap dunia, apa yang terjadi disekeliling kita. Orang yang berpergian ibarat air yang mengalir meskipun ia kotor maka alirannya yang akan membersihkannya, orang yang hanya diam ditempatnya ibarat air yang tergenang meskipun ia bersih lama kelamaan ia akan kotor jua adanya.

Berkaca dari kesuksesan orang-orang terdahulu, sebenarnya hikmah perjalanan itu sebenarnya adalah sangat-sangat besar, terbayang tidak seandainya Rasulullah tidak pernah Hijrah ke Madinah bagaimana dengan agama Islam saat ini? Atau dia disini bisa berwujud Che Guevara, Mahatma Gandhi, Sukarno, Chistoper Columbus, Snouk hurgronye, Thariq bin Ziyad atau siapapun dia.

Bagi penulis pribadi perjalanan ini mungkin banyak membawa hikmah antara lain mempertemukan kita dengan orang-orang yang terbaik yang mungkin tidak akan kita kenal atau bahkan kita temui kalau kita tetap di kampung halaman kita. Terkadang melihat hal-hal yang baru juga membuka cakrawala berpikir kita dan meningkatkan kualitas diri kita.

Lhokseumawe-Lhoksukon, renungan perjalanan tiga puluh kilometer, 17 Agustus 2009. Jalanan padat, dipenuhi sorak-sorai karnaval memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-64. Milvan Murtadha

Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 24 Comments

JANGAN MELUPAKAN SEJARAH

Kita semua adalah budak sejarah. Ia adalah sungai yang tak bisa diganggu siapapun. Kita juga tak bisa berenang melawan kekuatannya. Bahkan kita akan tenggelam ke dalam arusnya.

JANGAN MELUPAKAN SEJARAH

“Now, The borders have moved in over the centuries, but this nostalgia, so in contradiction to reality, is all because of the history.”

Segala sesuatu memiliki asal mula, perjalanannya dinamakan sejarah dalam bahasa awam disebut masa lalu. Manusia sebagai individu pelaku sepatutnya belajar dari segala hal yang telah terjadi, karena sejarah dapat berulang, dengan berbagai pola. Namun kita, manusia tidak bisa kembali kemasa lalu.

Dulu sewaktu duduk di bangku SMU. Seorang teman pernah berkata kepada penulis, “bahwa Tidak ada yang lebih banyak di dalamnya kebohongan melebihi Sejarah”. Teman tadi yang duduk sebangku dengan penulis memang tak terlalu menyukai pelajaran Sejarah.

Sikap apatis seperti itu terhadap sejarah khususnya kepada pelajarannya tak pelak sudah penulis alami semenjak SMP, pernah suatu ketika dalam satu kelas hanya sekitar dua orang murid laki-laki yang mengikuti pelajaran sedang yang lain pada tertidur, dan bagaimana dengan murid yang perempuan? Mungkin sudah menjadi fitrah bahwa murid-murid perempuan tidak “se-Texas” murid-murid laki-laki, walaupun ogah-ogahan tapi paling tidak mereka mencoba memperlihatkan wajah ingin tahu walaupun saat itu penulis harus mengatakan bahwa akting mereka sangat sangat buruk.

Berbeda lagi disaat penulis duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), saat itu penulis dan teman-teman didasari rasa ingin tahu yang besar? Benar-benar bersemangat mengikuti pelajaran ini. Setiap kali belajar merupakan plesir ke masa lalu di mana kami menemui hal-hal baru tentang geografi, kebudayaan, agama yang membuka mata kami semua terhadap dunia.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa ketika sudah mengetahui sedikit, orang-orang tersebut berbalik tidak menyukai sejarah? Orhan Parmuk seorang novelis Turki dalam novelnya Kar (dalam versi bahasa Inggrisnya Snow) sambil melihat potret kota Istanbul ia menulis, “Terpukau keindahan kota ini dan selat Bosphorus, orang akan diingatkan akan perbedaan hidupnya sendiri yang papa di hari ini dengan kejayaan yang membahagiakan di masa lampau,” dan masa itu tak bisa di ulangi.

Bingo! Itulah jawaban yang penulis temukan, kenapa banyak orang menjadi apatis mengikuti sejarah adalah takut tersilaukan oleh kejayaan masa lalu dan menjadi seorang pesakitan memandang dirinya sekarang. Disamping banyak faktor lain yang juga mempengaruhi, penulis menghipotesiskan analisa ini mendekati kebenaran.

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah” atau Jasmerah!!! Begitu tutur bung Karno untuk meningkatkan semangat bangsa Indonesia yang telah sekian lama terjajah oleh Kolonialis di mana rasa percaya diri bangsa kita telah ditekan dengan dasyatnya sehingga pada masa itu ada pepatah yang dipopulerkan Belanda kepada rakyat Indonesia. “Bahwa gunung-gunung bisa yang tinggi bisa tercabut dari akarnya akan tetapi bangsa ini tidak akan bisa mengalahkan Belanda”. Begitulah dangan sangat culasnya Kolonialis memanipulasi bangsa kita. Dengan mencoba mengingatkan kembali kejayaan masa lampau bung Karno dan tokoh-tokoh pergerakan saat itu mendongkrak rasa kepercayaan bangsa ini yang tengah berada pada titik nadir.

Penulis percaya bahwa siapa diri kita hari ini adalah hasil dari masa lalu kita, dan jika ingin mengubah masa depan kita harus memulainya dari sekarang. Mungkin sangat pedih untuk membuka lembaran hidup kita ke belakang di mana kita terlalu banyak melakukan kesalahan tapi tanpa usaha untuk memperbaikinya maka diri kita tidak akan menjadi lebih baik. Pendeknya, jika kita masih saja sesuatu hal yang sama maka janganlah mengharapkan hasilnya akan berbeda.

Kembali kepada teman penulis tadi, mungkin benar apa yang dia katakan bahwa mungkin dalam sejarah terdapat banyak kebohongan, bahwa sejarah mungkin ditulis menurut selera dari penulisnya. Akan tetapi disitulah kita dapat memetik hikmah dari kesalahan dan kebaikan yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu untuk mencoba memperbaiki diri kita untuk menjadi lebih baik.

Penulis sangat mengena akan tulisan yang ditulis oleh Ibn Khaldun berabad-abad lampau dalam kitab Mukaddimah, “Bahwa kebenaran itu akan terlihat jelas apabila peristiwa telah berlalu dan kita sudah tidak memiliki kepentinggan yang bersinggungan langsung dengan peristiwa tersebut.”

Terakhir mengutip Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi dalam bukunya Bangkitnya dan Runtuhnya Khalifah Ustmaniyah yang penulis sangat tersentuh membacanya, sebuah pepatah Arab yang berbunyi, “Pelajari Sejarah! Karena suatu kaum yang melupakan sejarahnya seperti anak pungut yang tidak mengetahui nasabnya. Atau seperti orang yang hilang ingatan sehingga ia tidak ingat masa lalunya.”

Apapun yang terjadi, jangan melupakan sejarah!!!

“Kita memerlukan pijakan kukuh dari masa lalu untuk dapat melompat maju ke depan.”

Lhokseumawe; pagi dini hari, Milvan Murtadha.

Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , | 34 Comments

MENCANDU ILMU

Kehidupan adalah paradoks. Sebuah buku (mungkin) tak meyakinkan sejarah. tentu, tapi setidaknya buku mengisi jam-jam kita yang kosong dengan percakapan yang mungkin tak pernah selesai.

MENCANDU ILMU

Salah satu keunggulan semangat membaca adalah ia memberikan kita pengetahuan. Menjadi sumber kreasi yang dapat digunakan pada saat dibutuhkan. Kecerdasan lebih utama dibanding kepintaran, mengapa? Karena orang cerdas selalu dapat mengalahkan orang yang pintar dalam mencari kemungkinan menyelesaikan masalah. Itu karena orang yang “merasa” pintar hanya terpaku pada satu jalan keluar, sehingga mudah ditaklukkan apabila polanya ditemukan.

Senin libur Isra’ Mi’raj, ditambah sabtu dan minggu berarti libur tiga hari. Ingin rasanya pulang ke Banda Aceh tapi sabtu-minggu ini empat mata kuliah ujian final di Unimal. Jadi, lebih baik Abu di Lhokseumawe. Mengejar sesuatu, kehilangan sesuatu. Diantara dua pilihan, maka salah satu harus dikorbankan. Malam Senin, ujian telah terlewati. Tinggal dua mata kuliah lagi di semester empat ini, untuk minggu depan. Teman sekontrakan Samba ke Medan, Jojo pulang ke Lhoksukon. Tinggallah Abu sendiri dirumah menonton TV yang penuh dengan acara pengeboman Hotel Marriot dan Rizt Carlton. Telepon juga tidak berbunyi, mungkin karena selama dua malam sebelum ujian Abu mematikan HP secara total, bosan juga begini.

Aha!!! Lebih baik ke rumah Tengku Salek Pungo, membalas kunjungan dua minggu sebelumnya. Abu kan tidak tahan udara malam? Tenang, bulan lalu ketika liburan ke Jakarta Abu sempat membeli dua sweater di Tanah Abang. Tidak selamanya kita lemah terhadap sesuatu bukan? Manusia sebagai makhluk yang berpikir harus berinovasi untuk mengembangkan diri, hal yang menyebabkan hari ini makhluk yang bernama manusia mendominasi dunia, mendesak ke pinggir hewan-hewan terkuat, terganas dan paling mematikan sekalipun. Nanti, pelan-pelan Abu akan menantang udara malam tanpa jaket maupun sweater, lihat saja nanti Abu berjanji. Pukul setengah Sembilan malam, sudah selesai Isya. C’mon My Lovely Blue Shogun 125 The next destination, Tengku Salek Pungo House’s!!!

Sesampainya disana, didepan rumah TSP ada truknya bang Sawan. Ternyata diteras TSP dan Bang Sawan sedang berbicara serius. Mereka membahas masalah tingkat tinggi,pengaruh pengeboman di Jakarta terhadap perekomomian di Indonesia. Bang Sawan berbicara dengan analisis yang luar biasa mengalahkan para dosen Abu di Unimal bahkan pengamat ekonomi tercanggih di TV, sedang TSP memberikan pandangan secara Fiqh, saling tukar pendapat para pakar. Tanpa menyela Abu mengambil tempat disudut, dan berusaha menyerap itu semua dengan otak sederhana ini. Luar biasa, Abu benar-benar beruntung bisa hadir disini.

Dengan takzim Abu menyimak, sampai akhirnya mereka sadar akan kehadiran Abu. “Eh, Abu sudah lama?” Tanya TSP, ternyata perbicangan mereka sebegitu seriusnya sehingga baru sadar akan “adanya” Abu disitu. “Lumayan tengku.” Jawab Abu sambil tersenyum. “Eh, ada abang wajah semi artis.” Sapa bang Sawan seraya tertawa, Abu pun tersenyum kepada beliau.

Namun suasana dialog sudah mencair, feelnya sudah hilang dengan kehadiran Abu. Adu jurus para Maha Guru terganggu akan kehadiran seorang Casis. Tidak enak juga, “Bang Sawan ternyata jago juga ya tentang ekonomi?” Beliau tersenyum. “Bukan abang sombong, tapi untuk masalah ini pengetahuan abang imbang-imbang dengan menteri sekarang.” TSP tertawa, sedang Abu menganguk bloon.

“Begini bang Sawan, Abu punya tugas analisis ekonomi. Sepertinya susah sekali, apa abang bersedia membantu?” Tanya Abu malu-malu. “Silahkan bang Pasya, jangan sungkan-sungkan!” Jawab Bang Sawan, Abu kena batunya!!! Sering memberikan julukan kepada orang lain, dan hari ini Bang Sawan tanpa pikir panjang memberikan julukan pada Abu. Senjata makan tuan.

Abu memejam mata mengingat, soalnya tidak membawa catatan. “Begini bang, seandainya di kota New York sebuah grup Kartel memproduksi 500 kilo obat bius setiap bulan, dengan harga $500 per-ons. Bulan ini DEA melakukan operasi besar-besaran dan menangkap 50 persen kapasitas kartel tersebut. Bagaimanakah pengaruh penangkapan tersebut terhadap permintaan dan penawaran obat bius di kota New York?” Susah payah Abu mengatakannya.

Bang Sawan terdiam, menarik nafas lalu berkata. “Karena Allah dalam Quran menggunakan banyak perumpamaan. Maka Abang akan pakai perumpamaan untuk kamu, Afgan.” Abu menepuk jidat, bang Sawan lebih parah tingkat memberi julukannya kepada orang lain. “Untuk memahani persoalan ini kamu harus menjadi seorang pengedar ganja.” Tunjuk Bang Sawan. “Nah loh masak Abu harus menjadi pengedar ganja?” Protes Abu, keras.

“Maksud Abang, kamu harus berpikir seolah-olah kamu adalah pengedar ganja. Begitu maksudnya abang wajah semi artis. Coba bayangkan jika setengah pengiriman ganja ke Sumatera Utara ditangkap polisi diperbatasan. Apa akibatnya?” Tunjuk bang Sawan. Abu menggeleng tidak tahu. “Yang jelas harga ganja di Medan pasti naik! Dan yang beli ganja disana pasti turun, tapi tidak banyak. Tahu kenapa? Karena mereka sudah kecanduan.”

“Analisis angkanya bang?” Tanya Abu lagi. “Kamu pikirkan sendiri, kamu kan sudah diajarkan rumusnya. Masalah tekhnis itu urusanmulah bang Pasya.” Abu memejamkan mata lagi, mengingat kurva hukum permintaan dan penawaran. Mengingat rumus elastisitas. Kena!!! Ya benar kata Bang Sawan, luar biasa orang ini.

“Abu masih ada tugas lainnya bang, bagaimana pengaruh pembatasan mobil Toyota masuk ke Amerika terhadap penjualan mobil Ford disana?” Asyik, masih banyak tugas Abu. Mumpung sedang ada masternya, kesempatan ini tidak akan Abu lewatkan. “Abang malam ini jatah mengunjungi isteri kedua jadi tidak bisa berlama-lama. Bayangkan saja bang Afgan, pembatasan masuknya tomat Medan yang besar dan segar ke Aceh terhadap tomat Aceh yang kurus dan sayu!” Bang Sawan bangkit, menyalami TSP dan berbalik pergi. “Apa hubungannya bang?” Teriak Abu. Bang Sawan sudah naik ke dalam truk ia menutup pintu. Abu kecewa, tapi kemudian ia menurunkan kaca jendela. “Tomat kita laku lebih banyak!” Bang Sawan tertawa, kemudian menjalankan truknya dengan sangat-sangat elegant.

Abu terpekur, sekali lagi superb. Indonesia ini ternyata banyak melahirkan jenius. Bang Sawan yang notabene seorang supir truk ternyata mampu menyelesaikan masalah yang Abu sebagai mahasiswa merasakan sulit menghadapinya. Ada berapa banyak orang seperti ini di dunia? Memiliki potensi tersembunyi dibalik profesinya. Ngomong-ngomong bicara mengenai profesi, mengapa supir truk selalu memiliki istri lebih dari satu ya? Di setiap pemberhentian punya satu, seperti bang Sawan. Abu tertawa ngakak. Bagaimanapun terima kasih bang Sawan.

“Abu!” Bisik TSP pelan. Abu terkejut, oh iya TSP masih disini. “Iya tengku.” Jawab Abu pelan. “Mengapa mulut kamu itu kalau sedang mendengarkan sesuatu yang berkaitan dengan ilmu hanya mempunyai dua pose. Pertama, tersenyum. Keren tapi yang kedua itu.” TSP tersenyum. “Kenapa dengan yang kedua tengku?” Tanya Abu. “Membuka dengan lebar, seperti gua.” TSP cekikikan senang seperti anak SMA diterima cinta. Abu menggaruk-garuk kepala, “bukannya tengku yang mengajarkan bahwa menerima ilmu itu harus dengan keikhlasan, dan mungkin itulah ekpresi tulus yang dapat Abu tampilkan.” Abu mengangkat bahu. TSP tersenyum lebar, “gurumu yang pertama pasti orang yang hebat.” Sambil menepuk bahu Abu.

Abu terdiam, selain orang tua. Orang yang pertama mengajar Abu sebelum masuk sekolah adalah almarhum Tengku Syams. Kata-kata beliau yang masih sampai sekarang Abu ingat adalah. “Ucapkan terima kasih kepada siapapun yang memberikanmu pelajaran. Meski ia adalah seorang musuh yang mengalahkanmu dengan teruk. Jangan hanya diam, tapi pelajarilah! Kemudian pada pertemuan selanjutnya kejutkan ia bagaimana kamu belajar dengan cepat.” Waktu itu Abu membantah, “Tengku, kami tidak ingin mencari musuh.” Tengku Syams mendekati lalu mengusap rambut Abu. “Anakku, tidak seorang pun diantara kalian semua yang aku ajarkan untuk mencari musuh. Namun ketika mereka datang, hadapilah dengan tenang meski kekalahan menantimu disana. Tapi jangan lupa belajar.” Abu masih membantah, kali ini dengan suara yang lembut. “Tapi saya tidak ingin mempunyai musuh.” Tengku Syams memegangi dagunya, lalu berkata pelan namun tegas. “Jalani hidup anakku, kelak engkau akan mengerti.”

Abu tersentak, kembali kemasa kini. Saatnya pamit pulang, entah mengapa ketika menyalami TSP Abu menaruh tangannya dikening, sebuah tanda penghormatan. Padahal biasanya Abu paling benci adegan feodal seperti ini. TSP terdiam, mungkin terkejut karena ia tak pernah mengajarkan hal seperti ini. Tapi ia akhirnya mendiamkan saja. Pasrah.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, sejenak berpikir betapa sebenarnya hidup Abu ini penuh dengan keberuntungan. Bahwa Allah telah sangat memudahkan jalan takdir Abu. Orang tua penuh kasih sayang, adik-adik mencerahkan, guru luar biasa seperti; Tengku Syams, TSP dan banyak lagi termasuk bang Sawan, sahabat-sahabat yang hangat termasuk Mr.Popo bermulut pedas namun selalu jujur, kerjaan menantang. Sampai beberapa musuh yang tak dapat Abu hindari, tapi memberikan pelajaran dan pengalaman berarti. Abu menjadi malu sendiri jika sudah begini, wahai diriku nikmat tuhanmu manakah lagi yang engkau dustakan.

Sebelum tidur Abu membuka buku ACEH PUNGO tulisan Taufik Al Mubarak yang tadi sore sepulang kuliah dibeli di Arun Post. Senin libur, jadi saatnya memperkuat referensi diluar kuliah, diluar pekerjaan. Hanya membaca seharian penuh. Yummy.

“Siapapun kau, ketahuilah kau tidak sendirian. Kau cuma menutup dirimu dengan kulit kerang. Begitu kau pecahkan kulit kerang itu. Kau akan melihat dirimu ada ditengah teman-teman yang baik.”

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , | 13 Comments