VOC ships, the pirates white, proclaimed the civilizing mission to the nations in the archipelago. Though clearly, the purpose behind them came to the archipelago is there to “colonize” the natives.
LAUTAN YANG TERSIA-SIAKAN
Indonesia adalah negara maritim, dengan jumlah pulau lebih dari pada 17.000. Indonesia tercatat sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada. Terlepas dari 5 pulau utama seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian, hampir seluruh wilayah Indonesia dikelilingi oleh laut.
Sayangnya hanya sedikit dari anak bangsa ini mau memanfaatkan potensi laut yang tersedia di bumi Indonesia, setelah Gajah Mada dari Majapahit, Iskandar Muda dari Aceh, Hasanuddin dari Goa-Tallo dan terakhir mantan Perdana Menteri Indonesia Djuanda praktis tak ada anak bangsa yang menaruh perhatian lebih pada potensi laut.
Keacuhan kita terhadap laut, sudah dimulai sejak lama. Kapal-kapal VOC yang dijuluki “Flying Duchman” dengan leluasa masuk, berdagang di perairan Nusantara hingga akhirnya menjajah Indonesia. Hingga hari ini betapa kita tak berdaya menghadapi nelayan asing yang mencuri ikan diperairan kita.
Lihatlah Kerajaan Inggris, dengan semboyan “Britania Rules The Waves” pada masa jayanya dimana Angkatan Laut menguasai Tujuh Samudera, sebegitu luasnya wilayah jajahan Inggris meliputi Negara-negara yang sekarang bernama Mesir, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Kanada, India, Pakistan, Afganistan, Banglades, Irak, Yordania, Palestina, Malaysia, Singgapura, Brunai Darussalam, Hongkong, Australia, Selandia Baru. Tak heran jika Kerajaan Inggris pernah mengklaim bahwa “Matahari tidak pernah tenggelam di wilayahnya” Angkatan laut Inggris begitu disegani di lautan, ketika Perancis dengan Nopeleon menguasai hampir seluruh daratan Eropa mereka tak mampu melawan hegemoni navy Inggris yang dipimpin Laksamana Nelson di lautan.
Dalam sejarah Islam tercatat Muawiyah bin Abi Sufyan (kelak pendiri dinasti Umayyah) gubernur Suriah pada masa Khalifah Ustman Bin Affan memimpin armada Islam menyerbu Konstantinopel, Romawi Timur. Kemudian Kisah Kepahlawanan Thariq Bin Ziyad menaklukkan Andalusia tahun 711 M.
Initially he was an ordinary seaman ordinary sailing in the territorial waters of Greece and Turkey. One day his ship was attacked a military ship St. John of Jerusalem or commonly known as the Knights of Rhodes, the incident made his youngest brother was killed. Heyreddin and ‘Aruj pirate action to all military vessels Christian. This action is very shocking and very feared Christian army, they are known as the pirate Barbarossa Brothers as both a red beard.
Kekhalifahan Turki Ustmani pada masa kejayaannya menguasai perairan utara Afrika dan Selatan Eropa di bawah pimpinan Laksamana Khairuddin Barbarossa, seiring dengan memudarnya kekuatan Sultan di laut, terutama setelah Perang Lepanto maka melemah pula kejayaan Turki Ustmani.
Laut sendiri menyimpan misteri, ia memberikan sumber daya yang tiada habis seperti ikan yang sejak zaman dahulu menjadi konsumsi kita, ia juga menyimpan amarah yang tak segan melumat anak manusia. Tak heran laut terkadang melambangkan harapan dan juga melambang keputus asaan. Namun sayangnya kita lebih sering menepikan harapan dan memilih menyerah.
Melihat debur ombak menyapu bibir pantai, riak-riak gelombang ditengah lautan yang selalu berulang sejak ribuan tahun yang lalu menyadarkan kita, betapa kita kecilnya diri kita dalam alam semesta yang luas ini.
Terkadang, berbicara itu memang lebih mudah dari pada berbuat.
Mimpi bertemu Nabi, justru kita perlu bermimpi, karena mimpi itu yang menentukan perjalanan. Mimpi itu yang mengubah manusia.
Menghadapi kehidupan yang terkadang keras dan lembut. Abu adalah seseorang yang berusaha untuk Spartan. Dalam arti ingin mengejar berbagai hal sekaligus. Tekanan mengejar banyak hal ini membuat Abu harus mengakui bahwa diri ini terlalu keras bahkan untuk diri sendiri. Fisik seorang Abu tidak terbuat dari baja, sehingga otak Abu pun bisa melepuh dan itu berakibat kepada kegelisahan tak tentu. Waktu tidur yang minimalis menyebabkan kantung hitam menebal dibawah mata Abu. Hanya dalam tidurlah Abu dapat mengistirahatkan sel-sel otak yang berpacu memburu waktu. Disaat kegundahan menyergap disaat itu pula datang sebuah hiburan yang tak terduga berupa mimpi yang menyejukkan.
Dalam mimpi tersebut Abu bermimpi,
Disebuah tempat terdapat rel kereta api yang tidak digunakan lagi, Abu menyelusuri jalan rel tersebut dengan pelan namun tiba-tiba Abu melihat segerombolan orang menganggu seorang perempuan (jangan tanyakan siapa dia, Abu tidak mampu mengingatnya). Bahkan dalam mimpi sekalipun Abu tidak dapat melihat seseorang menginjak-injak perasaan orang lain. Entah bagaimana prosesnya Abu berkelahi dengan mereka, kadang Abu memukul kadang mereka memukul. Karena situasi tidak seimbang, dalam hal ini Abu hanya seseorang diri (perempuan itu tiba-tiba menghilang) maka Abu memutuskan untuk melarikan diri.
Abu pun berlari menyelusuri rel kereta api, sehingga akhirnya tiba disuatu tempat yang disekeliling jalan tersebut ditumbuhi oleh pohon-pohon besar, di depan Abu melihat seseorang berjalan. Abu yang masih waspada terhadap orang yang mengejar dibelakang memutuskan untuk bergabung dengan orang tersebut. Berdua lebih baik daripada sendiri begitu logika Abu.
Dengan terengah-engah Abu menyusul orang tersebut, melihat Abu yang masih ngos-ngosan, orang tersebut menanyakan penyebab berlari seperti orang kesurupan dan Abu menjelaskan duduk perkaranya.
Orang tersebut lalu menasehati Abu tentang banyak hal. Abupun hanya mendengarnya dengan takzim, setelah beliau selesai menasehati. Didorong rasa penasaran Abu bertanya siapakah beliau yang begitu bijaksana. Jawaban beliau masih membekas di otak Abu, ketika beliau mengatakan. “Nama saya Muhammad bin Abdullah.” Seketika Abu yang sedari tadi tertunduk menatap wajah beliau yang dipenuhi cahaya. Alam bawah sadar Abu langsung menyadari bahwa saat itu sedang bermimpi, disisa-sisa mimpi tersebut Abu mencoba tetap berkomunikasi dengan beliau.
“Ya Nabi, hamba ini memiliki banyak dosa” kata Abu. “Doakan supaya umatmu ini yang telah banyak berbuat dosa bisa meninggal dalam keadaan syahid” Sambung Abu.
Yang Abu ingat, beliau hanya tersenyum dan mengangguk pelan seketika Abupun terjaga dari tidur.
Kemana lagi Abu hendak bertanya, selain kepada guru Abu di Lhokseumawe selain Tengku Salek Pungo. Menurut penuturan beliau, Nabi Muhammad Saw adalah sosok agung dalam sejarah peradaban manusia. Bermimpi bertemu dengan Rasullullah S.A.W adalah suatu anugerah karena wujud beliau begitu sempurna karena tiada suatu makhlukpun yang bisa menirunya.
Mengomentari mimpi Abu, Tengku Salek Pungo tersenyum. Tafsir mimpi ini menurut beliau, kalau kita mimpi bertemu Nabi dalam sebuah jalan itu menandakan bahwa jiwa Abu masih gamang dan perlu ditingkatkan lagi. Mendengar tafsiran Tengku Salek Pungo, yang beberapa kali pertemuan sebelumnya menyindir Abu telah dilalaikan oleh dunia dan tidak pernah lagi terlihat dipengajian di masjid membuat sosok Abu hanya terpekur terdiam merenunginya hingga saat ini.
Detik waktu telah banyak berlalu, berbagai kitab telah terkaji, banyak pengalaman yang telah kuhadapi diberbagai negeri. Semakin banyak kuresapi. Namun saat ini masih mendapati diriku masihlah seorang pandir yang terjerat keangkuhan yang sama, sama seperti dulu. Tak kunjung berilmu.
Ya Allah, pada-Mu segala harapku, jagalah hati hamba-Mu yang tertawan ini.
TUHAN IZINKAN HAMBA UNTUK TIDAK JATUH CINTA
Tuhan, seandainya Engkau memberikan izin kepada hamba-Mu ini. Perkenankan hamba tidak merasakan jatuh cinta. Hamba melihat para pencinta besar dizamannya adalah orang yang merana hati dan jiwanya, namun cinta adalah salah satu ciptaan-Mu paling indah yang menjalankan dunia dan tak kuasa satupun makhluk-Mu mampu menolaknya.
Wahai diri ini yang mengaku sederhana, bagaimana bisa engkau terpana pada pupur bedak setebal salju dipengunungan Alpen serta bibir semerah apel Australia dibalut gintu dari negeri sang naga.
Wahai hamba bertekad teguh akan janji, mengapa engkau mengingkari perkataanmu sendiri untuk menjaga pandangan hingga harinya tiba.
Padahal kemarin diri ini masih berkata, “untuk saat ini mereka adalah penghalang cita-cita dan penjegal mimpi.”
Padahal kemarin diri ini dengan bangga berucap dan bersepakat, “hati maka jadilah batu hingga mimpi kita terlaksana.”
Tapi hari ini mengapa otak dan hati tidak sejalan, mengapa salju antartika berbaur dengan uap sahara. sungguh tak mampu raga ini menopang pertempuran dua raksasa jiwa.
Tapi hari ini mengapa andrenalin serasa menggelegak membakar fikir yang menjadi benteng yang tak pernah tertaklukkan selama ini.
Berubah alam karena perilaku manusia, berubah tubuh karena hati.
Ya Allah, pada-Mu segala harapku, jagalah hati hamba-Mu yang tertawan ini. Dalam sujud kuluruhkan segala gundah ini.
Sepuluh tahun sudah kaki ini tak menjejak daratan. Buih-buih lautan telah menawanku sejauh ini bukan karena keterpaksaan namun lebih pada rasa enggan. Racun yang menyelusup ditubuhku mengelanjut manja membunuh segala hasrat untuk berlabuh. Bukannya aku tak rindu dengan lembutnya dataran menghampar, tapi mereka pernah menolakku dengan sengaja. Dalam pelayaranku dua pelabuhan telah menarikku berlabuh.
Negeri pertama, tak jauh-jauh dari kampungku. Sebuah pelabuhan digugusan tropis tepat di pusat administrasi Hindia Belanda yang mereka namakan Batavia1). Namun syahbandar congkak mengusirku, ia berkata dermaga itu bukan untukku. Kapal dagang Maskapai Belanda telah memborong tempat tersisa dan memaksaku berlayar ke Timur.
Sekian tahun berlalu, lima tahun kemudian tepatnya hingga aku tergoda oleh lampu-lampu kota di negeri bersalju. Setelah menembus terusan Panama dan tiba di negeri yang berjuluk Skandinavia. Syahbandar yang telah mengundang Bahtera Bintang Kejora yang kunahkodai berbalik dengan senyum licik dari Galleonnya. Pelabuhan ini bukan untuk pedagang sepertiku. Hanya kapal-kapal perompak Vikinglah yang berhak! Mengangkat sauh hatiku hancur, kutahan amarahku. Satu hal yang pasti bahwa pengalaman ini telah mengubahku menjadi Lanun.
Menjadi Kapten Perompak bukan pilihanku. Sejatinya aku adalah keturunan petani. Sejak kecil almarhum ayah mengajarkan menanam. Kita memberi kehidupan anakku kata beliau, walau hasil dari tangannya yang kapalan akibat mencangkul itu menjadi santapan empuk para tengkulak. Beliau yang berulangkali dikhianati telah membuat hatiku meringgis. Para Ulee Balang2) tak lebih dari sekumpulan penjilat yang korup, kharaj3) yang mereka kenakan sangat tinggi bahkan jika Sultan mengetahui akan terkejut akan kezaliman mereka. Tapi tak pernah ada yang melaporkan hal ini pada Po Teumeuruhom4) karena mulut kami terkunci. Aku menahan air mata ketika tubuh rapuhnya menyerah pada kematian. Aku tak mau menjadi petani sumpahku ketika itu, aku ingin menjadi pedagang besar dengan Kapal lintas benua. Aku meninggalkan negeri itu, tempat aku dan nenek moyangku dilahirkan. Pelayaran setelah menelan kekecewaan tak terampunkan di negeri sendiri. Bertahun aku bertahan dalam mimpi yang sama hingga pengalamanku di Skandinavia telah merenggut cita-citaku. Bahkan kembali aku telah dikhianati seperti halnya ayahku dulu. Dunia membuka mataku sekali lagi bahwa tak ada tempat bagi orang jujur dan naif. Aku benci negeriku dan aku pergi tidak untuk kembali.
Kapten lanun haruslah kejam, Durjana itulah julukanku. Paling tidak harus menampakkan kebengisan. Senyum diwajahku ketika memancung kepala Kapten pelaut Belanda. Menghancurkan skuadron bermeriam berbendera Portugis. Bahkan Kapal perang kerajaan Inggris sekalipun tak membuatku gentar. Pelaut Viking kuperlakukan dengan sangat kejam yang tak pernah terbayangkan oleh mereka bahkan dalam mimpinya yang paling buruk. Kuhindari merompak kapal-kapal kaum muslimin. Bahkan aku yang sudah bejat ini tak mampu mengangkat pedang kepada sesama muslim. Kuhindari bentrokan dengan para Pasya Utsmaniyah dan tabikku untuk Phinisi para pendekar Bugis.
Kelewangku penuh darah, Bintang Kejora telah berubah menjadi Bintang Hitam yang berarti kematian. Perjalanan damai melintasi selat malaka, laut jawa, Laut Arafuru dan Samudera Pasific berubah menjadi pelayaran hitam di Samudera Atlantik, Laut Hitam, Laut Merah dan sekarang di Samudera Hindia. Ketika para awak kapal dengan sekoci menuju Gujarat menuju rumah bordir terbaik. Aku masih setia dengan Bintang Hitam dialah kekasihku dalam sunyi bersama bintang-bintang dilangit yang menjadi penghiburan hatiku selama ini. Aku masih tetap orang naif yang merasa dirinya suci walau bergelimang darah. Tubuhku terlalu agung untuk disentuh pelacur-pelacur dari belahan dunia manapun, termasuk tubuh molek Bengali yang termasyur diantara para Pelaut. Aku hanya boleh dimiliki oleh seseorang dan pastinya ia bukanlah perempuan biasa, karena ia adalah istriku kelak tempat sosok tanpa cinta sepertiku menyerahkan segenap cinta manusia hanya kepadanya.
Dari mulut kelasi yang kembali, aku tahu. Inggris keparat dan Belanda Penjilat telah membatalkan Traktat London berangka 1824. Negeriku dalam bahaya! Aku harus pulang kepertautan Samudera Hindia dan Selat Malaka. Aceh Darussalam terancam oleh invasi Kumpeni Belanda. Traktat Sumatera telah memberi celah Belanda menguasai Sumatera paling Utara. Apakabar Meureuhom Daya? Apakabar Pedir? Apakabar Tanah Gayo? Apakabar Pasai? Apakabar Tamiang? Apakabar Meurebo Jaya? Apakabar Teunom? Apakabar Meureudu? Apakabar Peureulak? Apakabar Manggeng? Apakabar Peusangan? Apakabar Singkel? Apakabar Samalanga? Apakah masih menjadi bagian Federasi Aceh Darussalam? Sudah lama aku pergi. Masihkan Sultan Mansur Syah5) berkuasa? Masihkan Tuanku Nanta Setia6) hidup? Hampir seluruh dunia kuarungi ternyata masih ada cintaku untuk Nusantara.
Tahun ini 1872, usiaku empat puluh tahun. Puncak seorang laki-laki, tanpa cinta. Bintang Hitam harus segera berlayar kembali menuju Bandar Aceh Darussalam. Cepat atau lambat, Belanda bangsa tak tahu balas budi! Yang kemerdekaannya dari Spanyol pertama kali diakui oleh Kesultanan kami itu akan menyerang, air susu dibalas dengan tuba. Bahkan William Van Orange akan malu akan polah anak cucunya. Pusara Duta Besar pertama Nusantara untuk Belanda, Tuanku Abdul Hamid di Holland sana akan mengutuki polah bejat bangsa pedagang pelit ini.
Saat ini Aceh Darussalam tak setangguh dulu seperti masih memegang monopoli lada. Ia keropos dan tinggal nama besar saja. Sekarat menunggu kematian. Para Ulee Balang telah melarung kuasa Sultan sejak era Sultanah Safiatuddin7) Segenap negeri yang kukunjungi telah terinjak-injak oleh kulit putih dan aku tahu hampir tak ada kemungkinan bagi Aceh bersegi tiga untuk menang melawan Barat yang lebih modern. Lebih rapi, lebih licik dan lebih terpelajar. Kami akan kalah dan itu akurasinya sembilan puluh sembilan persen kemungkinannya. Hanya Allah S.W.T yang mampu menolong, dan sudah sekian lama aku tak berdoa. Tanganku menengadah ke langit air mataku menitik untuk pertama kali sejak almarhum ayah meninggal
Aku memimpikan pelabuhan Ulee Lheu8), karang-karangnya yang menggoda, hamparan pasir putih bersih. Tepat disana nanti para kelasi akan kubebastugaskan. Tak bisa sekarang kukatakan karena mereka pasti akan desersi. Aku merindukan menyemai bibit cabe ditepi Krueng Aceh9). Tanganku sudah terlalu lembut untuk mencangkul kembali. Rindu telah memaksa mengingkari sumpahku untuk tidak menjadi petani lagi.
James Loudon10) pasti akan menyatakan maklumat perang, cepat atau lambat. Darul Kamal11) terancam menggelegakkan darahku yang telah kotor dengan harta jarahan. Bahkan perompak, lanun, bajak laut yang dicari-cari oleh Navy inggris, tentara Spanyol, armada Belanda, pelaut-pelaut Viking dan begundal-begundal tenggik Portugis ini mendamba syahid. Aku yang telah meninggalkan syariat sekian lama merindukan tanah leluhur. Aku yang tak pernah lagi menyentuh daratan selama sepuluh tahun masih berkeinginan menjejak bumi. Mengharapkan cinta dari Sang Pengasih dan Sang Pengampun untuk menebus segala dosa-dosaku yang telah menggunung ini. Sang durjana kan pulang. Wahai negeriku sambutlah putramu yang durhaka untuk membelamu sampai titik darah penghabisan, ibu pertiwi.
Ditempat ini, dikapal ini tiada pula cintaku tersisa.
Tidak, cintaku akan selalu kubawa, kemana saja jiwaku berlayar
X
Batavia1) = Jakarta sekarang
Para Ulee Balang2) = Raja-raja kecil dilingkungan Kesultanan Aceh Darussalam, kelak ketika Belanda berkuasa kebanyakan dari mereka dan keturunannya diberi gelar Teuku dan Cut.
kharaj3)= Pajak Tanah
Po Teumeuruhom4) = Sebutan adat kepada Sultan Aceh Darussalam.
Sultan Mansur Syah5) = Sultan Aceh Darussalam (1857-1870), Ketika Belanda menyerbu Sultan yang berkuasa adalah Sultan Mahmud Syah yang kemudian wafat 19 Januari 1874, tiga belas hari setelah Masjid Raya Baiturrahman jatuh kedalam kekuasaan pasukan Belanda.
Tuanku Nanta Setia6) = Uleebalang VI Mukim, bagian dari wilayah Sagi XXV. adalah keturunan Sultan Aceh yang pada permulaan abad ke-17 merupakan wakil Ratu Tajjul Alam di Sumatra Barat. Kelak tewas dalam pertempuran menahan pendaratan pasukan Belanda di Kuala Alue pada pertempuran Kuala Gigieng tahun 9 Desember 1873. Ayah dari Cut Nyak Dien.
Sultanah Safiatuddin7)=RatuPerempuan pertama dari tiga Sultanah Aceh memerintah (1641-1675).
Ulee Lheu8) =Pelabuhan Kesultanan Aceh Darussalam.
Krueng Aceh9)= Sungai Aceh yang membelah Bandar Aceh Darussalam, ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam.
James Loudon10)=Gubernur Jenderal Hindia Belandake-54, memerintah 1872-1875. Loudon adalah putra seorang Inggris yang datang ke Hindia-Belanda semasa diperintah oleh Raffles.
Darul Kamal11) = Istana Kesultanan Aceh Darussalam, menjadi Rumah Residen Aceh, sekarang pendopo Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam
Ditulis mengenang Tanggal 6 Januari 1874, 135 Tahun lalu. Ketika Masjid Raya Baiturrahman direbut Belanda dari Pejuang Aceh.
Tiba-tiba aku merasa malu pada ambisiku, pada cita-citaku, pada harapanku untuk diriku sendiri. Terlalu tinggi expetasiku untukku sendiri. Kutarik nafas panjang. Menahan tubuhku yang terbakar habis. Mencoba menahan beban berat melebihi puncak gunung tertinggi sekalipun. Demi menjaga sebuah tahta yang ingin kuhindari sejak aku bisa berdiri.
Nenekku mengajarkan geografi. Tentang batas-batas demakrasi. Dibatasi oleh gunung, sungai, laut ataupun kebudayaan. Tentang Sejarah Kepangeranan kami sudah tak bergigi. Ia sudah dibabat habis oleh sistem feodal baru ciptaan si Putih, bangsamu, dalam Perang Rusia-Persia ini. Namun beberapa Kepangeranan di Azerbayzan, termasuk negeriku Kekhanan Shirvansyah masih hidup, bernafas. Walau hanya sebatas tradisi.
Aku tak minta dilahirkan sebagai Putra Mahkota. Ini adalah takdir yang harus kuterima dengan takzim. Sebagaimana aku tak pernah menyesal telah jatuh cinta. Termasuk denganmu. Dan lucunya aku tak pernah mengucapkan itu.
Ada sekumpulan kebiasaan yang mengurat mengakar kemudian ia menjadi tradisi. Sebuah konvensi menurut hukum tata negara memaksaku memilih, kamu atau mahkota. Sungguh, tahta ini tak pernah berarti bagiku dibanding senyumanmu. Aku ingin berlari. Tapi aku hanyalah satu-satunya pewaris, tanggungjawab pada para leluhur telah membelenggu kakiku.
Kamu tak bisa menjadi ratuku. Ada dua belas pasal qanun yang menjegal. Mengejarmu berarti menjadikan Kepangeranan kami bubar. Aku tak bisa. Aku tak tahu perasaanmu, mungkin lebih tepatnya aku tak pernah mau tahu. Yang pasti aku kecewa pada diriku. Kejam katamu. Ludahi aku karena itu memang layak. Benci aku. Itu lebih baik. Masa depanku telah ditentukan dan itu tidak bersamamu.
Sungguh menyesakkan untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku tak bisa mengatakan walau ingin. Sebab, “Selamat tinggal” adalah kata-kata yang menyedihkan yang akan menusuk perasaan bersama. Tapi lebih sedih lagi kalau pergi tanpa mengucapkan apapun! Aku pergi!
Aku tak ingin melihatmu lagi. Itu akan melemahkanku. Sebagai putra mahkota aku harus tangguh seperti singa. Aku adalah lelaki bertopeng besi. Yang tak tertaklukkan. Untukmu jadilah orang hebat dimasa depan. Tidak ada manusia berdarah biru. Semua merah kehitaman. Semua merah darah. Jika engkau masih mendapati kertas ini basah, ini karena air minumku terpercik. Bukan karena air mataku, karena seorang calon raja tak pernah menangis. Kami dibentuk seperti baja, kuulangi seperti baja. Seperti dua belas silsilah ke atas.
Kara. January 1, 1809 Signed Prince of Shirvansyah Khanate, Ahmad III to Tamar Lisa, Voldigrad
Aku ingin meraihmu, mengengammu seperti rantai aku hanya ingin mencintaimu.
Tapi begitu melihatmu rantai lain di kakiku membelenggu.
Kara1). 1 Januari 1809
Tertanda
Yang Dipertuan Agung Muda Khanate Shirvansyah2), Ahmad III
Kepada Lisa, Voldigrad3)
Kara1) = ibukota Shirvansyah
Kepangeranan Shirvansyah2) = Terletak diKaukasus perbatasan Kerajaan Persia dan Kekaisaran Rusia
Voldigrad3) = Sebuah kota di Rusia era Tzar
Cerita ini fiksi, nama tokoh, tempat, waktu adalah seratus persen rekaan*)
Sejak ekspedisi gemilang Thariq bin Ziyad tahun 711 M hingga jatuhnya pijakan terakhir umat Islam di Andalusia (sekarang Spanyol) Kesultanan Granada tahun 1492 M oleh tentara gabungan dua kerajaan Castila dan Aragon pimpinan Ratu Isabela dan Raja Ferdinand, Andalusia merupakan mutiara dunia yang merupakan pusat peradaban dimana ikmu pengetahuan serta peradaban berkembang dengan pesat.
Sebegitu cemerlangnya ilmu pengetahuan di Andalusia saat itu sehingga diperkirakan seandainya saja ia tidak ditaklukkan maka umat Islam pada abad ke-18 diperkirakan sudah mampu mendarat di bulan. Tanah Andalusia pernah memunculkan seorang Ibn Rushd dengan bukunya Tahafut Al-Tahafut (Ruwetnya keruwetan) menyerang Tahafut Al-Falasifah (Keruwetan para filosof) karangan Al-Ghazali, sebuah hantaman terhadap pemikiran Ibnu Sina dan Al-Farabi seabad sebelumnya. Menurut Ibn Rushd, filsafat dan agama ibarat dua anak yang disatukan oleh seorang ibu penyusu, dan mana mereka akan tumbuh sehat.
Pada masa kejayaannya Cordoba, sebua kota di Andalusia didatangi oleh berbondong-bondong pelajar Eropa Kristen yang haus akan ilmu pengetahuan dan tidak puas dengan apa yang mereka raih di Eropa sendiri, termasuk diantaranya Thomas Aquinas kelak penulis Summa Teologia yang merupakan doktrin dasar agama Katolik dan Gebert yang nantinya menjadi Paus. Gaung pemikiran Ibn Rusyd (di dunia barat dikenal dengan nama Averroes) bahkan menjadi dasar Reneisance di Eropa, sebuah era baru yang menandakan kelahiran kembali Eropa meninggalkan masa-masa kelam (The Dark Ages) hingga dikemudian hari menjadi kiblat peradaban dunia baru.
Yang menjadi pertanyaannya adalah? Mengapa Andalusia bisa jatuh? Pada contoh yang sama dalam sejarah bukankah Baghdad juga jatuh diserang oleh Mongol pimpinan Hulagu. Bagaimanapun masa-masa itu merupakan bagian kelam dari sejarah Islam dimana kehancuran itu benar-benar dasyat dan umat Islam setelah masa-masa itu tidak pernah bisa benar-benar pulih dan bangkit hingga saat ini.
Pengusiran Muslim Valencia (1609 M)
Pengusiran Muslim Catalonia (1613 M)
Pengusiran Muslim Murcia (1614 M)
Mengapa? Secara Sosiologis tidak pernah ada penyatuan antara orang Arab Muslim dengan Eropa Muslim di Andalusia serta telah terjadi pemaksaan hukum yang kaku terhadap penduduk sedangkan penguasa malah mengenakan topeng, disatu sisi menerapkan hukum yang ketat kepada penduduk sedang disisi lain malah melanggarnya, sehingga pada saat pasukan Kristen datang maka mereka disambut seolah-olah teman lama yang datang kembali, walaupun akhirnya mereka menyesalinya tapi nasi sudah menjadi bubur, patut diingat bahwa pengadilan iman (Inquista) baru dilakukan oleh Gereja disaat tidak ada lagi Kesultanan yang berdiri lagi di bumi Andalusia. Kasus perbedaan suku (Ashabiyah) ini juga terjadi pada akhir Daulah Abbassiyah menjelang kejatuhannya antara orang Arab dan orang Persia, antara Sunni dan Syiah.
Sangatlah tidak mungkin Andalusia, ataupun Abbassiyah ataupun Turki Ustmani atau siapapun dapat terpuruk jatuh dengan sedemikian mudah kecuali dia sudah bobrok dari dalam. Pada contoh kasus di Andalusia, serangan dari pasukan Castila dan Aragon hanyalah mempercepat kematiannya yang sudah sekarat.
Penulis pernah bertanya kepada seorang teman, mengapa jika seseorang membawa nama Islam jika ia gagal maka yang disalahkan adalah sistem Islam, sedangkan jika orang lain membawa panji yang lain dan gagal maka yang disalahkan adalah orangnya bukan sistemnya. Teman saya menjawab bahwa agama Islam adalah sempurna, sudah sejalan dan sebanding dalam otak dan hati orang tersebut dan jika gagal orang akan melihat bahwa sistemnya yang gagal. Berbeda jika seseorang Kristen Ortodoks misalnya membawa paham Komunis dimana otak dan hati orang tersebut tidak sejalan, maka jika gagal yang disalahkan adalah orangnya bukan sistemnya.
Maka siapapun yang membawa nama Islam, sudah sepatutnya dia berhati-hati karena seribu mata memandang, tidak peduli bahwa anda tidak bernama Islam. Sedikit saja berbuat kesalahan maka yang buruk citranya secara pribadi melainkan Islam secara keseluruhan. Maka waspadalah!
Kala gerimis membasahi bumi
Dengarlah suara kematian yang semakin dekat di setiap detiknya
Titik-titik hujan itu pelan
Aku berpulang dengan perasaan enggan
Tahun ini apa yang telah aku lakukan
Tetesan hujan dipunggungku semua tertelan gemuruh dilangit
Sebenarnya aku tak tahu apa yang aku inginkan sekarang
Hanya satu malam saja akan berakhir
Pernah merasa jalannya waktu terlalu pelan
Pernah merasa jalannya waktu terlalu cepat
Pernah rasanya ingin mengulang ke belakang
Rasanya tak ingin kembali
They have a smell about them, like nothing else. Old paper and leather, an aromatic scent only a book lover can enjoy.
MEMBANGUN TRADISI BARU
Benarkah orang Indonesia tidak memiliki tradisi menulis? Kalau dipikir ada benarnya juga. Sewaktu duduk dibangku sekolah adakah pelajaran untuk menulis? Saya tidak tahu didaerah lainnya akan tetapi didaerah saya sewaktu sekolah hampir-hampir tidak ada pelajaran menulis dan kalaupun ada hanya segelintir guru yang memberi tugas tersebut dan efeknya guru tersebut otomatis dibenci oleh murid-muridnya dan akibatnya pelajaran menjadi tidak efektif.
Akibatnya didalam perjalanan hidup saya ini saya banyak menjumpai orang-orang yang bisa dikatakan memiliki otak yang cemerlang dan brilyan akan tetapi tidak mampu menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan, akibatnya pikiran dan pengetahuan mereka tidak mampu ditranfer kepada orang lain dengan optimal sehingga hanya dapat dimiliki oleh mereka sendiri atau paling baik hanya dapat diketahui dari perkataan mereka semata.
Mengapa membangun sebuah tradisi menulis itu penting? Jelas penting karena tulisan lebih bisa bertahan lama daripada orang-orang itu sendiri, kita dapat melihat orang-orang seperti Aristoteles, Sun Tzu, Al-Ghazaly, Ibn Khaldun, Snouk Hugronyoe, bahkan Karl Marx tetap abadi walaupun mereka telah meninggal puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.
Dan apa pula kendala untuk bisa menulis itu sendiri? Di level pemula menulis itu merupakan hal yang menakutkan. Kenapa menulis bisa menjadi suatu yang menakutkan? Belajar dari pengalaman pribadi ada banyak hal yang bisa membuat hal itu terjadi, mulai dari ketiadaan fasilitas seperti komputer atau bahkan ketidak mampuan untuk mengoperasikannya, mahalnya biaya rental dan printernya sekalian, malu dan takut salah dalam menulis serta keterbatasan lainnya. Hal-hal tersebut mau tak mau memberatkan walaupun kalau dipandang sekilas terlihat sangat sepele.
Para guru dan dosen sudah sangat mengerti hal-hal tersebut dan itu pula sebabnya mereka tidak terlalu banyak memberikan tugas untuk menulis atau semacamnya ditambah lagi keterbatasan pengetahuan, referensi serta para murid belum lagi keterbatasan waktu dan kemampuan mereka sendiri untuk menilai tulisan itu sendiri membuat semuanya menjadi klop.
Menulis juga memiliki resiko bagi kita seperti dari kurangnya apresiasi masyarakat kepada tulisan, coba kita lihat berapa banyak orang pergi ke perpustakaan dan toko buku dan coba bandingkan dengan pengunjung bioskop, jauh. Ditambah lagi kita tidak mempunyai tradisi menulis yang kuat, coba lihat legenda atau cerita daerah di Indonesia hampir semuanya merupakan tradisi lisan dari mulut ke mulut. Bandingkan dengan sesama negara Asia, China misalnya mereka sudah memiliki tradisi menulis yang sudah lama, legenda-legenda mereka banyak yang sudah dibukukan dalam waktu berabad-abad yang lampau seperti Kisah Tiga Kerajaan, Batas Air dan sebagainya.
Jadi apa solusinya? Ya, terpulang kepada diri kita apakah punya semangat untuk menulis dan mengaktualisasikan diri kita. Berani mengungkapkan pikiran melalui tulisan, tak usah yang terlalu rumit cukup mulai dari hal yang sepele dan kecil saja seperti catatan kecil yang ringan. Cuma, masalahnya adakah kemauan kita untuk mencoba??
Tak ada bahasa yang mampu mengungkapkan ode seorang bujang. Rindu remuk mengharap menjadi raja sekaligus hamba.
ODE SEORANG BUJANG
Dahulu tak pernah terpikir akan sendiri dimana teman-teman selalu mengelilingi, semendung apapun dunia persahabatan selalu tertawa. Dahulu tak pernah terbayang akan merasa sepi karena keluarga selalu dekat dimata walau tanpa suara seolah memenuhi isi dunia. Ruang dan waktu ada dan tiada menyadarkan disetiap paginya bahwa diri merasa sepi. Bahwa hidup akan dijalani sendiri bahkan nanti di alam berzakh.
Menjadi bujang baru terasa ketika para sahabat telah pergi menempuh hidupnya sendiri. Menjadi abang baru terasa sepi ketika adik telah dilamar orang. Menjadi manusia terasa sendiri ketika hujan lebat namun tak ada teman bicara atau sekedar tertawa. Menjadi makhluk baru merasa rendah apabila sedang bersimpuh di atas sajadah.
Malam ini ketika hujan membasahi bumi, luntur sudah semua angkuh dihati. Bahwa hidup akan ditempuh sendiri saja, bahwa perjuangan ini adalah perjuangan hanya seorang anak manusia. Hidup terkadang lembut terkadang keras ini terasa terasa hambar apabila tiada teman tuk berbagi. Sekedar berbagi gembira dan kesal untuk dinikmati berdua.
Esok hari kuyakin ada matahari yang cerah menyambut. Namun apa guna cinta yang memenuhi seluruh dunia apabila hanya terpendam dihati seorang sahaja. Tiada wadah untuk mencurahkan segala kasih sayang hingga meredup ditiup angin dan menghilang. Bersama batang usia yang terus meninggi menjulang.
Tak ada bahasa yang mampu mengungkapkan ode seorang bujang. Rindu remuk mengharap menjadi raja sekaligus hamba. Oh, Tuhan hanya engkaulah yang mampu mengetahui gejolak jiwa segenap makhluk-Mu, termasuk hamba yang berada dipenghujung masa muda ini. Sekarat tanpa cinta manusia dan hanya kasih dan sayang-Mu yang menghidupi diriku.
Dasar orang udik! Dasar anak kampung! Pernah mendengarkan kalimat tersebut? Atau pernah mengucapkan? Tidak salah memang. Saat ini zaman kota , segala yang bernama udik, kampung identik dengan keterbelakangan.
Disekolah kita diajarkan bahwa orang kota lebih berpendidikan, berkecukupan namun kecendrungan induvidualistis sedangkan orang yang tinggal di desa memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah, hidup sederhana namun memiliki rasa sosial yang tinggi. Mungkin benar, namun tidak mutlak.
Walau begitu saat ini semakin banyak orang dari desa yang mencari penghidupan di kota , persepsinya adalah kota menjanjikan peluang. Cerita-cerita kegagalan para perantau tertutup oleh keberhasilan segelintir orang.
Adakah kota lebih baik dari desa? Kota menjanjikan kenyamanan dalam hidup, semuanya tersedia asal punya uang. Mottonya “ Ada uang ada barang”. Namun kota juga memiliki penyakit, yaitu kekotaannya itu sendiri.
Belajar dari masa lalu, lihatlah bagaimana bangsa Indo German menghancurkan Romawi Barat, bangsa Arab menghapuskan Kerajaan Persia yang berusia ribuan tahun, Mongol/Tatar membumihanguskan Baghdad ibukota kekhalifahan Abbassiyah, bangsa Turki mengalahkan Kekaisaran Byantium dan menduduki ibukotanya Konstantinopel dan menganti namanya menjadi Istanbul.
Keberhasilan orang-orang dengan tingkat kebudayaan yang “dibawah rata-rata” itu sendiri disebabkan kedinamisan kebudayaan tersebut menyerap segala kebaikan yang ada pada kebudayaan yang lebih tinggi. Sebaliknya kebudayaan yang sudah merasa tinggi akan mengalami kemandegan dalam kemajuan hingga akhirnya mengalami pembusukan dari dalam.
Lihatlah bagaimana dengan cepat Kesultanan Turki Usmani meniru dengan cepat segala keburukan Kekaisaran Byzantium, hingga akhirnya memggerogotinya hingga lumpuh sedikit demi sedikit. Ataupun Khalifah Abbasiyah meniru gaya Metropolis dengan segala penyakitnya kisra Persia hingga akhirnya mereka diluluhlantakkan oleh Pasukan Tatar (Mongol).
Kota dan Desa adalah dua sisi mata uang, keduanya memiliki sisi baik dan sisi buruk, keduanya melengkapi satu sama lain. Namun mengapa kita sering kali hanya mengikuti segala sesuatunya berdasarkan sisi buruknya saja?