ELAN PERTUMBUHAN

elan /élan/ n semangat perjuangan (hidup, daya cipta) yang menyala-nyala

ELAN

Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur baur dari mana dunia-dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.

Ke-Indonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam, atau tulang pelipis kami menjorok ke depan, tapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami. Kalau kami bicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai mengkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat.

Jakarta 18 Februari 1950, Surat Kepercayaan Gelanggang.

X

Defenisi Elan

Kekuatan apakah yang menginjeksi gerakan dinamis ke dalam sebuah kosmos yang beku. Kesatuan yang tak terpisahkan dari makhluk yang murni harus dibagi ke dalam beragam kategori berbeda sebelum menjadi kehidupan, dimulai dari pembedaan antara prinsip kehidupan (species) wanita yang pasif dan elemen energi aktif jantan.

Gagasan bahwa terdapat interaksi diakletis dari hal-hal yang bertentangan yang menghasilkan gerak progresif dalam banyak zaman dan masyarakat merupakan sebuah kunci untuk memahami penciptaan dan proses pertumbuhan segala makhluk hidup, terjadi perbenturan/percampuran sebelum menghasilkan sesuatu yang baru. Di Yunani kuno kekuatan-kekuatan tersebut diidentifikasikan sebagai cinta dan benci, Di Cina sebagai Yin dan Yang, dalam peradaban Barat modern disebut Tesis dan Antithesis.

Arnold Toynbe dalam A Study of History menyebutkan bahwa Asia Tenggara merupakan salah satu contoh peradaban satelit yang awalnya dipengaruhi oleh India, kemudian Indonesia dan Malaya (Malaysia) mengikuti peradaban Islam sampai di zaman penjajahan di pengaruhi peradaban Barat.

Dalam hal ini Indonesia setiap dipengaruhi oleh peradaban lain, ia tetap membawa nilai-nilai dari peradaban yang sebelumnya, bahkan peradaban awal yaitu dinamisme dan animisme. Dari segala kawin silang antar kebudayaan menjadikan Indonesia menjadi bangsa yang unik di dunia.

Jika hari ini kita melihat negeri ini dengan segala perbenturan yang memanas antar kebudayaan yang masih berakar di Indonesia, ada baiknya kita melihat ke belakang. Bahwa sesungguhnya di tahun 1930-an pernah terjadi polemik di kalangan cendekiawan Indonesia. Polemik ini bermula dari tulisan Sutan Takdir Alisjahbana “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru : Indonesia-Pra-Indonesia” (Majalah Pujangga Baru, 2 Agustus 1935). Ia membedakan “zaman pra-Indonesia” yang berlangsung sampai akhir abad ke-19 dan “zaman Indonesia” yang mulai pada awal abad ke-20. Ia menegaskan bahwa tentang lahirnya zaman Indonesia baru, yang bukan sekali-kali sambungan dari genarasi Mataram, Minangkabau atau Melayu. Karenanya tibalah waktunya mengarahkan mata kearah Barat.

Tulisan ini mendapat tanggapan dari Sanusi Pane dan Poerbatjaraka dalam tulisannya yang berjudul Persatuan Indonesia (Suara Umum, 4 September 1935), Sanusi Pane menulis. “Haluan yang sempurna ialah menyatukan Faust dan Arjuna, memesrakan materialism, intelektualisme, individualisme dengan spiritualisme, perasaan dan kolektivisme.” Dalam tulisannya yang berjudul “Sambungan Zaman”, Poerbatjaraka mengatakan, “Pada perasaan saya, yang menfaat buat tanah dan bangsa kita ini, ialah mengetahui jalan sejarah dari dulu-dulu sampai sekarang ini. Dengan pengetahuan ini kita seboleh-bolehnya berusahakan mengatur hari yang akan datang. Dengan pendek kata, janganlah mabuk kebudayaan kuno tetapi jangan mabuk kebaratan juga, ketahuilah dua-duanya itu supaya kelak bisa memakainya dengan selamat di dalam hari yang akan datang kelak”

Selanjutnya, terjadi polemik mengenai dunia pendidikan yang melibatkan sejumlah besar tokoh lain seperti Sutomo, Tjindarbumi, Adinegoro, M. Amin dan Ki Hajar Dewantara. Tulisan mereka inilah yang kemudian dihimpun Achdiat K. Mihardja dalam buku Polemik Kebudayaan yang terbit tahun 1948.

Sayangnya, di Indonesia setelah polemik kebudayaan tersebut sangat jarang terjadi perdebatan yang bermutu. Bahkan jika diukur sudah lebih delapan puluh tahun sejak saat itu, Indonesia telah berpolemik dalam kesusastraan, bahasa dan politik dengan cara tidak seelok di tahun 1930, dimana roda kekuasaan silih berganti berpihak pada mahzab kanan dan kiri dan muncul berbagai kelompok, dan altenatif yang menjadi kebisingan dalam ranah relasi hegemoni kekuasaan.

Sebuah peradaban yang berhasil adalah peradaban yang mampu mengatasi hambatan terberatnya, namun akankah kita bisa berubah menjadi sebuah kekuatan? Belum tentu, karena ada cukup banyak peradaban yang punah dari muka bumi ini. Mesopotamia, Assyria, Mesir Kuno, Aztec, Maya antara lain adalah contoh yang nyata.

Kita berharap, bahwa sebagai manusia, bangsa maupun peradaban kita memiliki elan pertumbuhan. Apakah itu? sebagaimana kita tahu kelahiran adalah sebuah aksi tunggal. Pergerakan dan respon menjadi rangkaian upaya mandiri berkelanjutan. Jika setiap respon bisa membangkitkan ketidakseimbangan menuntut penyesuain kreatif yang baru. Semangat dan gairah (elan) mengajak manusia berkembang terus-menerus.

X

Semangat itu pernah ditulis oleh Chairil Anwar di tahun 1945. Hoppla!! Dunia-terlebih-kita-yang kehilangan kemerdekaan dalam segala makna, menikmatkan kembali kelezatannya kemerdekaan. Hopplaa! Melompatlah! Nyalakan api murni! Marilah kawan-kawan seangkatan, kita pahat tugu pualam Indonesia sempurna.

Pada April 1949, sang “Binatang Jalang” menyerah. Ia pergi meninggalkan banyak kesan. Orang ingat tubuhnya kurus, matanya merah, tapi senantiasa riang dan gelisah. Ia urakan, liar, petualang kumuh, tapi seorang intelektual yang memiliki passion bagi kemerdekaan bangsanya, bangsa yang hidup dalam menantang dan merespon setiap perubahan zaman.

X

elan /élan/ n semangat perjuangan (hidup, daya cipta) yang menyala-nyala

Berbagai Opini lain:

  1. Melanjutkan Perjuangan; 4 Agustus 2008
  2. Jomblo Bukan Berarti Homo; 12 Agustus 2008
  3. Lebih Menggetarkan Dibanding Asmara; 22 Agustus 2008
  4. Manajemen Kritik; 18 September 2008
  5. Temukan Mentor Rahasiamu; 23 September 2008
  6. Sang Tiran; 15 Oktober 2008
  7. Yang Muda Yang Berguna; 22 Oktober 2008
  8. Lughat; 28 November 2008;
  9. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  10. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  11. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  12. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  13. Hantu; 20 Februari 2009;
  14. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  15. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

DI MANA ADA CINTA, DI SANA TUHAN ADA

Hidup terlalu singkat untuk tidak hidup.

DI MANA ADA CINTA, DI SANA TUHAN ADA

Kehidupan ini terdapat unsur kebetulan yang mungkin dilewatkan orang biasa, maka kebijaksanaan harus memperhitungkan hal yang tak terduga.

Hal mengasyikkan dari memiliki ingatan adalah kita bisa memutar-mutar kejadian masa lampau, seperti menjelang tidur. Kala kantuk datang, dan mata tak hendak pula terpejam. Seperti semua orang di muka bumi ini, pada satu titik dari hidup mereka memiliki hal-hal besar berhubungan dengan perasaan mereka. Hari-hari dimana hati terasa kecil untuk menangani besarnya perasaanmu. Mungkin seperti ini salah satunya. Memikirkan emosi bagaikan sebuah fenomena yang unik dan bersifat pribadi, dimana orang lain tak merasakan apa yang kita rasakan.

Aku selalu tertawa, jika mengingat ini. Ingatan terdalam yang masih ada. Waktu itu, aku perkirakan umurku masih dua tahun. Ayah kedatangan seorang tamu, teman kantor mungkin. Biasanya setelah mandi dan berbedak, ayah selalu menciumku. Tapi, kali ini tidak. Ayah asyik dengan temannya, aku berpikir dan mencari cara menarik perhatian ayah. Tebak bagaimana? Aku sengaja pipis di celana. Sesegera mungkin perhatian ayah teralih kepadaku. Aku merasa juara, menurutku itu adalah piala pertamaku di dunia.

Aku adalah orang kebanyakan. Sewaktu masa sekolah, seorang anak yang selalu bertengkar dengan tukang parkir, meributkan uang seratus. Orang seperti ini sering duduk di pasar menjajakan sayur. Dagangannya penuh dengan lalat. Dan jika pernah menonton TVRI, kalian biasa melihat orang sepertiku meloncat-loncat di belakang presiden agar tampak kamera.

Aku tak pernah kelihatan lebih muda sekaligus lebih tua dari rekan-rekan seumur. Segera setelah bekerja, tali pinggang lemak mengelilingi perutku. Aku adalah pegawai biasa-biasa saja, yang biasa kalian temui disetiap perkantoran. Dimana dalam setiap rapat-rapat penting selalu hadir, namun bukan peserta, tapi yang menjalankan power point.

Boleh jadi aku memiliki kebanggaan sedikit. Bila mana ada pertemuan-pertemuan berskala nasional dapat hadir, rata-rata orang merasa pernah merasa akrab, nyaman atau setidaknya pernah melihat. Biasanya aku menjawab, mungkin kalian pernah melihat aku di televisi.

Tentunya, aku tak akan dicap sombong bila bercerita bagaimana duduk perkaranya. Sekitar dua belas tahun yang lalu, tsunami menghantam Aceh. Hampir semua orang mengungsi, tapi aku tidak. Lha, mau mengungsi kemana?

Lalu apakah aku menjadi seorang reporter sebuah televisi? Atau setidaknya seorang tokoh lokal? Jika itu harapanmu teman-teman maka turunkan sedikit. Aku hanya duduk di depan televisi, memantau liputan khusus tsunami dari semua saluran siaran. Jika ada siaran live di wilayah Banda Aceh dan sekitarnya, maka aku akan mengengkol Astria Grand 93 menuju lokasi sesegera mungkin.

Maka jika kalian mengenal Desy Anwar, Tommy Tjokro, Chantal Dela Contessa, Meutya Hafidz, Prita Laura dkk. Perhatikan dengan seksama jika kalian masih mendapatkan rekamannya. Ada orang bermotor berbolak-balik dibelakangnya olah pelintas jalan seraya memberikan senyuman termanis kepada kamera, ketahuilah orang itu aku.

Di lapangan terbuka beda cerita, kalau ada orang yang memungut sampah di belakang reporter. Segera zoom gambar itu saudara-saudara! Itu aku yang berupaya sekuat tenaga memberikan senyum pepsodent kepada seluruh pemirsa se-Indonesia Raya.

Yang paling konyol, dan membuat terkekeh kalau diingat sekarang, adalah ketika aku dengan gaya theatrical tersandung kabel mic yang dipakai Max Sapucua. Sampai dengan hari ini, aku masih bisa mengingat jelas kata-katanya, “hati-hati dik” dengan pelan. Jika kalian penikmat siaran langsung Sea Games, pasti mengetahui betapa legendarisnya orang tersebut.

Bukannya sombong, tapi aku memang pernah tampil sebagai cameo di beberapa event nasional di Aceh. Muktamar Muhammadiyah 1995 (sebagai pembawa tikar), serta Hari Olah Raga Nasional 1997 (sebagai pengangkat karton koreo) adalah yang masih bisa aku ingat.

X

Sebagaimana kawan-kawan telah tahu. Aku ini, paling tidak menurutku sendiri, adalah lelaki yang berikhtiar berbuat kebaikan. Jika hidup merupakan banyak pilihan, aku akan berupaya memilih yang terbaik, walau kadang-kadang tidak mengenakkan. Misalnya ketika menemukan uang, atau Handphone di jalan, aku akan berupaya mengembalikan, sampai dapat. Aku juga patuh pada petuah orang tua, menempatkan setiap kata ayah-bunda di atas nampan, membungkusnya dengan kain serta menciuminya dengan khidmat.

Dan ternyata, Tuhan menerapkan dalil tetap untukku dan orang sepertiku, yakni orang-orang seperti kami pada umumnya jarang diganjar ujian yang oleh orang-orang sering disebut cobaan nan tak tertanggungkan.

Oleh karena itu, seumpama di koran tersiar tentang berita seseorang sedang bersepeda di hari yang cerah di depan pegunungan, sekonyong-konyong jatuh ke dalam jurang, tak tahu kemana tertungging ke dalam lembah angker dan gelap gulita. Ia meminta tolong tiga hari tiga malam sampai habis suaranya. Akhirnya ia meminta tolong dengan kliningan sepedanya. Kring, kring, lemah menyedihkan. Naudzubillah, tragedi semacam itu biasanya menimpa orang lain, bukan lelaki sepertiku. Paling-paling Tuhan hanya memberiku cobaan terkunci di kamar mandi kantor, kamar mandi bus, kamar mandi pesawat atau yang terakhir di lift. Itupun tak pernah lebih dari lima belas menit. Jika mengingat itu, aku merasa betapa aku adalah orang yang beruntung.

Atau, seandainya hujan lebat. Seseorang sedang minum kopi dan pisang goreng dengan asoy. Tiba-tiba masuk perampok dengan golok terhunus mengambil televisi hitam putih, sampai sendok dan garpu pun disikat. Orang tersebut diikat di pohon depan rumah sampai diketemukan warga besok hari. Rambut, kumis, alis dan kulit mengkerut sepanjang malam dalam hujan. Dapat dipastikan, lelaki sial itu bukan aku. Aku paling kececeran dompet berisi KTP, STNK, SIM dan beberapa lembar uang.

Atau lagi, misalnya merebak berita soal seorang lelaki montok dilarikan ke rumah sakit, ambulans meraung-raung, tergopoh-gopoh menuju ruang tanggap darurat, sebab pria itu ketika sedang bermotor terlalu melihat kiri dan kanan sehingga tidak sadar di depannya ada tembok pagar yang celakanya berkawat pula. Sehingga ia tersengal-sengal sampai nyaris lunas nyawanya. Lelaki itu bisa saja absurd dan montok, tapi dia bukan aku. Aku paling hanya akan bermotor sambil melamun dan jatuh ke dalam sawah yang penuh air. Tersenyum kepada orang-orang kampung untuk memastikan aku baik-baik saja.

Dalam hidup aku telah merasakan banyak ke-Rahmanan dan ke-Rahiman. Ketika umur Sembilan berenang ke sungai dan terbawa arus, aku sudah mengucapkan syahadat tapi ada yang menolong dan selamat. Ketika hanyut di laut karena berenang dengan ban, aku diselamatkan oleh seorang perenang dan selamat. Ketika tsunami, aku rencana lari pagi ke arah daerah yang parah tsunami, dan syukurnya aku tak terbangun pagi. Berbagai hal di dunia ini, membuat aku percaya bahwa Tuhan menyukai orang-orang baik, atau setidaknya berusaha untuk menjadi baik.

XX

Di dunia ini, siklus alam sangat kuat, hari-hari berganti. Sebentar-bentar sudah senin lagi. Siang di telan malam, malam di telan siang. Dalam segala keterbatasan, kita belajar untuk mencari-cari kebahagiaan sendiri. Sebab, mengharapkan pemerintah memberi kita kebahagiaan agak riskan. Sudah cukup banyak hal-hal yang diurus oleh pemerintah.

Terhadap hal-hal yang kita sangat inginkan, namun Tuhan belum memberikan. Maka janganlah berputus asa kepada Rahman dan Rahim-Nya. Manusia memang terbatas daya tangkap otaknya akan terhadap segala sesuatu, tapi tuhan mencatat dan Tuhan akan membalas. Seperti kata Leo Tolstoy : Tuhan tahu, tapi Tuhan menunggu.

Nyatanya, Dia maha mengetahui. Baik itu rezeki bagi seluruh makhluk di muka bumi, lembaran daun mana yang jatuh berguguran, segala perbuatan baik yang dilakukan terang-terangan maupun tersembunyi, ataupun tiap angan dan isi hati, baik yang diungkapkan maupun dipendam dalam. Namun, Dia juga Maha Menghitung. Kita manusia sama sekali tidak punya pengetahuan tentang bagaimana Dia bekerja, akan tetapi berdasarkan nama julukanNya, mungkin Dia menunggu saat semua variable telah berada pada kondisi yang tepat.

Sebaliknya, hidup beriak-riak kecil, berombak karena karma-karma adalah lumrah. Sesekali gagal dan lupa, atau bahkan terkena sial tak mengapa. Tapi bayangkanlah, jika semua perbuatan dosa / salah mendapatkan balasan seketika, kira-kira berapa banyak penduduk bumi yang masih hidup tanpa rasa hina, dan kita patut bersyukur apabila sebelum mati telah bertaubat kepada-Nya.

Manusia diciptakan sebagai makhluk yang mencintai, karena Tuhan sendiri adalah pribadi yang penuh akan cinta. Dimana ada cinta, di sana Tuhan ada. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR Bukhari)

Rasullullah saw bersabda : “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam AL-Kabir li Ath-Thabrani juz 11 halaman 84)

Hidup (jika) untuk memberi (kebaikan), mempesona layaknya cinta, seperti mengubah kata menjadi puisi.

X

Simak juga Kisah-kisah si Abu yang lain 

Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

ISMAIL

Domba Kurban

Domba Kurban

ISMAIL

Kita mencintai Ismail, ia berkata kepada sang ayah, Ibrahim. “Bila ayah baringkan aku untuk menjadi kurban, telungkupkan wajahku, jangan ayah letakkan miring ke samping, sebab aku khawatir, bila ayah melihat wajahku, rasa belas kasihan akan merasuki ayah, dan ayah akan batal melaksanakan perintah Allah.”

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sesembelihan yang besar (QS Ash Shaaffaat 106-107)

Kita mengingat Ismail, di saat itulah ketika wajah seseorang yang nyaris menjadi kurban, kembali menjadi wajah seorang bocah, seorang manusia. Seorang Ismail adalah jawaban doa dari Ibrahim.

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh (QS Ash Shaaffaat 100)

Doa adalah bentuk dari syair, bahkan dalam pernyataannya yang tersuram, adalah rasa hampa sekaligus bersyukur. Bahwa di gurun pasir yang tak sepenuhnya dikalahkan, tabir hidup selalu kembali seperti kabut. Manusia bisa tersesat, tapi sejarah menunjukkan iman selalu hidup, ketika tuhan memberikan hidup tak terang benderang.

Tiap doa mengandung harapan juga rasa takut, di situ ada ketegangan. Doa bergerak antara ekspresi berlimpah dan sikap diam, antara hasrat ingin dimengerti dan juga rasa takjub yang takzim, di hadapan ilahi, Yang Maha Tak-Tersamai, sujud atau tidak lidah tak bisa bertingkah.

Di jalan hidup yang rancu, dari sana kita bisa mengakui kekalahan tapi tanpa patah harap.

Iman lebih kaya daripada kemurnian, merupakan pemandangan lanskap sesak. Manusia bukan cetakan tunggal murni dari sang Adam, yang lahir tanpa sejarah serta langsung di anugerahi oleh Allah ilmu pengetahuan.

Manusia dalam pencarian harus bergulat dalam syukur atau cemas, di bawah sinar terang pagi hari atau kelamnya malam. Meskipun ia sering tak berani.

Maka kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (QS Ash Shaaffaat 101)

KATALOG HIKMAH

  1. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  2. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  3. Menyerahkan Nasib Pada Takdir; 3 September 2009;
  4. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  5. Andalusia Sayup-Sayup Suaramu Sampai; 23 September 2010;
  6. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  7. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  8. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  9. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  10. Momentum; 18 Mei 2015;
  11. Ramadhan Dan Relativitas; 27 Juni 2015;
  12. Khusyuk; 14 Juli 2015;
  13. Ibrahim; 20 September 2015;
  14. Hijrah; 14 Oktober 2015;
  15. Tsunami; 26 Desember 2015;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

HOKI

Ronaldo Menjemput Martunis di Kamp pengungsi (2005)

HOKI

Barang siapa yang meragukan adanya keajaiban, boleh belajar dari Portugal.

Tidak pernah menang di babak penyisihan grup, Portugal diuntungkan dengan penambahan peserta di Euro 2016 sehingga lolos ke babak perdelapan final. Jalan Portugal menuju final bagai tertatih, hebatnya setiap kali mereka hendak terjatuh mereka selalu dapat bangkit.

Menjelang Final Euro 2016, Perancis lebih diunggulkan untuk menjadi juara terutama setelah menyingkirkan Juara Piala Dunia 2014, Jerman secara meyakinkan di babak semifinal. Terlebih mereka berlaga di negera sendiri, di bawah tatapan langsung rakyat Perancis. Di atas kertas Portugal lebih lemah, tapi sepakbola itu ditentukan di lapangan hijau.

Cristiano Ronaldo menangis usai kekalahan melawan Yunani (2004)

Cristiano Ronaldo menangis usai kekalahan melawan Yunani (2004)

Skuad Portugal sendiri tak semewah tahun 2004, dimana mereka menjadi tuan rumah dan masuk final. Luis Figo, Rui Costa, Deco dkk sudah pensiun.

Lisbon, 4 Juli 2004. Tuan rumah Portugal secara mengejutkan kalah (lagi) dari Yunani. Cristiano Ronaldo yang saat itu berumur 19 tahun tampil selama 90 menit penuh, di akhir pertandingan ia menangis, lebih dari sekedar terisak-isak. Waktu itu generasi emas Portugal gagal.

Paris, 10 Juli 2016. Ronaldo kembali ke final, ia telah menjadi laki-laki dewasa, dengan ban kapten. Ia adalah protagonis Portugal, bukan lagi sekedar pemain muda berbakat. Stade de France, menit 25. Ronaldo termangu, tatapan matanya kosong. Syahdu, orang ini tahu dirinya takkan bisa melanjutkan pertandingan. Ketika ia ditandu keluar, sepertinya nasib Portugal sudah habis.

Memento, Final Piala 1998  vs Brazil (Luiz Nazario “Ronaldo” De Lima tergeletak dihajar Fabian Barthez dan Laurent Blanc) dan Final Piala Eropa 2000 vs Italia (hidung Fransesco Toldo berdarah diterjang David Trezeguet) seolah bakal terulang. Jalan Perancis menjadi juara seolah sudah terbuka lebar. Tapi, rencana boleh menjadi konstanta, namun dalam realisasi ada faktor hoki. Dan itu tak terduga.

Gempuran demi gempuran terus dilancarkan Perancis, Pelatih Fernano Santos sampai terkulai di bangku cadangan. Waktu terus berjalan, 45 menit pertama Portugal masih bisa bertahan, 45 menit kedua Portugal masih bernyawa. 15 menit pertama, Portugal mulai melakukan serangan-serangan sporadis, dan menit ke 109 pemain penganti Eder membobol gawang Perancis yang dikawal Hugo Lloris melalui tendangan dari luar kotak penalti. Sampai Mark Clattenburg meniup pluit berakhirnya pertandingan tidak ada gol yang tercipta. Sahlah, Portugal menjadi juara Eropa 2016.

Urutan tiga terbaik Euro 2016

Urutan tiga terbaik Euro 2016

Jika anda menyaksikan Euro 2016 sedari awal, pasti tahu betapa tebalnya hoki Portugal.

Kembali ke tahun 2004. Hari itu minggu pagi, 26 Desember. Martunis (7 tahun) berencana bermain sepakbola bersama teman-temannya di lapangan sepakbola kampung. Ia bahkan sudah memakai kostum tim nasional Portugal bajakan (Nomor 10 Rui Costa) yang dibeli di pasar kota Banda Aceh. Tiba-tiba datang gelombang tsunami. Ia bersama ibu, kakak laki-laki Nurul A’la (12 tahun), dan adiknya Annisa (2 tahun) berupaya menyelamatkan diri dengan menumpang pick up tetangganya.

Saat digulung tsunami, pick up pun tenggelam. Martunis, ibu dan dua saudaranya tenggelam. Ibu, kakak dan adiknya pun hilang terseret arus tsunami, berpisah selamanya. Martunis selamat setelah meraih sepotong kayu, lalu terapung-apung. Kemudian ia berpindah ke Kasur yang melintas, yang naas tenggelam. Lalu ia memanjat sebatang pohon untuk bertahan hidup. Ia terseret kembali arus ke laut dan terdampar di kawasan rawa-rawa dekat makam Syiah Kuala. Setelah 21 hari bertahan, penduduk menemukan Martunis pada 15 Januari 2005. Warga menyerahkan dia ke awak televisi Inggris yang kebetulan sedang meliput di wilayah itu. Dalam sekejap wajah Martunis yang masih mengenakan kaus timnas Portugal, beredar di stasiun televisi Eropa.

Martunis dan Ronaldo

Martunis dan Ronaldo

Ia menarik simpati bintang top sepakbola Portugal seperti Luis Figo, Nuno Gomes,  Cristiano Ronaldo. Akhirnya Federasi Sepakbola Portugal mengundang secara resmi Martunis ke negaranya. Cristiano Ronaldo sendiri secara khusus datang ke Aceh, ia mengajak Martunis menyaksikan langsung laga pra-kualifikasi Piala Dunia 2006 Portugal vs Slowakia (2-0) 4 Juni 2005 di Estadio da Luz, Lisbon.

Tak berhenti sampai di situ, Cristiano Ronaldo pun menjadikan Martunis sebagai anak angkat. Kini Martunis bocah telah menjelma sebagi remaja, ia berada di akademi Sporting Lisbon, klub yang sempat dibela Ronaldo. Ketika Final Euro 2016 berlangsung, Martunis sendiri telah berada di Banda Aceh, dalam rangka liburan. Bertepatan dengan suasana Ramadhan dan Idul Fitri 1437 Hijriah.

Ada kekuatan dalam memberi. Semakin banyak memberi maka semakin berlimpah rezeki yang dibalaskan Allah S.W.T. Kita bisa melihat pelukan Cristiano Ronaldo ke Martunis sebegitu tulus, terlepas dari segala kekurangan yang ia miliki. Cristiano Ronaldo memiliki kecenderungan simpati kepada mereka yang “teraniaya”, seperti yang ia tunjukkan kepada Martunis, kepada Palestina. Itu semua menunjukkan bahwa ia memiliki hati yang lembut. Hati mereka yang pernah diabaikan, direnggut dan dikalahkan oleh dunia.

Portugal Juara Piala Eropa 2016

Portugal Juara Piala Eropa 2016

Kembali ke final Euro 2016. Kisah malam itu, layaknya perjuangan Martunis untuk selamat dari tsunami. Bahwa hidup dan harapan layak dipertahankan sampai titik darah terakhir.

Ketika ditinggal Ronaldo, jagoan nomor 1 mereka, justru Portugal bermain sebagai sebuah kesatuan. Pragmatis dan tidak menghibur. Tertekan sepanjang pertandingan, bahkan harus menunggu hingga menit ke-80 untuk dapat melakukan shoot on target ke gawang Perancis. Ajaibnya, efektif berhasil menghadirkan trofi Internasional pertama bagi Portugal.

Hoki Portugal malam itu, mungkin karena doa Martunis.

Posted in Asal Usil, Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , | 3 Comments

MEMBAKAR BUKU MEMBUNUH INTELEKTUAL

Penaklukkan Mongol senantiasa meninggalkan bukit-bukit tengkorak

Penaklukkan Mongol senantiasa meninggalkan bukit-bukit tengkorak

MEMBAKAR BUKU MEMBUNUH INTELEKTUAL

Hari itu, 10 Februari 1258. Hulagu Khan cucu Jenghis Khan, pimpinan sayap militer Kekaisaran Mongol, Ilkhanate dibantu oleh Kerajaan Georgia, dan Kepangeranan Antioch (Crusaders) merangsek masuk dalam ke kota Baghdad. Pasukan Kekhalifahan Abbasiyah yang hanya dibantu oleh Dinasti Ayubbiah telah hancur total. Kota itu sendiri dijarah dan dibakar, mayoritas penduduknya, termasuk keluarga Khalifah al-Musta’sim, dibantai habis. Bau busuk yang dari mayat-mayat yang tidak dikubur dan bergeletakkan di jalanan.

Perpustakaan-perpustakaan di Baghdad, termasuk Bait al-Hikmah, tak luput dari serangan pasukan ilkhanate, yang menghancurkan perpustakaan, membakar dan membuang buku-bukunya yang berharga ke sungai Tigris. Sungai yang melintasi kota Baghdad itu berwarna merah darah bercampur hitam.

Invasi Mongol membuat pusat-pusat kebudayaan Islam Timur hampir disapu bersih. Yang tersisa adalah gurun-gurun telanjang atau puing-puing berantakan bekas istana kenegaraan dan perpustakaan. Masjid-masjid yang termasyur sebagai pusat ibadah dan pengetahuan, dijadikan kandang kuda oleh pasukan Mongol.

Ibn al-Atsir, yang menyaksikan, merasa ngeri dan berharap seandainya ibunya tak pernah melahirkannya untuk menyaksikan horor Mongol. Akibat dari penghancuran ini, Baghdad menjadi reruntuhan, penduduknya tersisa sedikit selama beberapa abad, seluruh buku-buku hasil intelektual berabad-abad lamanya, tak bersisa. Dan peristiwa ini oleh banyak peneliti disebut sebagai akhir zaman keemasan Islam.

Sejarah, adalah sekumpulan tulisan. Dalam hal ini saya meskipun berlinang air mata mengenang penghancuran Baghdad, saya mencoba tidak mendendam pada Mongol dan sekutunya. Akan tetapi sebagaimana buku-buku yang telah menjadi abu. Sebuah bangsa telah kehilangan sebagian besar ingatannya. Oleh karena itu, sebagaimana saya meyakini tidak ada satu orang manusia layak untuk dibunuh, saya meyakini tak ada satu buku pun yang layak dibakar (dimusnahkan).

Pembakaran buku adalah pembunuhan intelektual

Pembakaran buku adalah pembunuhan intelektual

Buku adalah tempat kita merawat ingatan. Dimana ada kitab-kitab yang dibakar, disana ada manusia yang dibungkam, gema dari yang tertindas dan tak diizinkan bersuara. Tak ada percakapan yang berlanjut dan tak harus mufakat. Menyisakan negeri berbau wangi, dan penuh suara fanatik.

Maka alangkah lucunya, ketika di negeri dengan minat baca yang sebegitu rendah, ada buku-buku yang dinyatakan terlarang. Harusnya kita menyadari bahwa kemampuan membaca itu sebuah rahmat, kegemaran membaca jika dimiliki anak-anak negeri adalah sebuah kebahagiaan. Membaca buku membawa dimensi lain, kita mengenal trauma dari mereka yang dicakar sejarah, dan tahu benar bagaimana menerima kedasyatan dan keterbatasan yang bernama manusia. Barangkali?

Oleh karena itu, saya selaku manusia menentang dengan sangat pemusnahan buku-buku apapun itu, entah kiri, kanan, depan atau belakang.

Saya tak pernah antipati terhadap buku kiri. Entahlah, mungkin karena saya sudah membaca buku-buku kiri sedari remaja. Seperti Das Capital dan tak mengerti isinya. Marx dan Engels terlalu kolektif, bahkan yang telah disederhanakan dalam bentuk komik sekalipun bagi saya seperti lelucon yang tragis. Ketidakpahaman saya sejalan dengan kebingungan saya bagaimana gerombolan komunis sebegitu tega terhadap seorang Tengku Amir hamzah dalam revolusi sosial Sumatera Timur tahun 1946. Sang Penyair yang sebegitu lembut itu tak pernah terbukti menyakiti orang lain itu disiksa kemudian dibunuh di kawasan Kuala Begumit oleh  mandor Lyang Wijaya yang tak lain adalah pelatih kesenian silat kuntau Istana Langkat.

Kita kehilangan seorang penyair yang belum memiliki banding sampai sekarang, Ia dengan berani menghadapi ajal dengan mata terbuka setelah meminta waktu untuk shalat sebelum hukuman tembak dijatuhkan. Pahlawan itu direnggut paksa dari negeri ini, ketika Republik ini masih balita. Tapi, meskipun begitu saya juga tak menyetujui ketika kaum komunis dilenyapkan bagai cacing tanah di tahun enam puluhan.

Orang boleh bilang betapa hebatnya, Pramoedya Ananta Toer, tapi saya merasa bosan dengan bukunya Manusia Bumi. Saya mengakhiri membaca di bab dua. Bingung dengan kemarahan tak tentu arah pak tua tersebut.

Ia dan Lekra ketika diatas angin mempromosikan kemajuan sosial dan mencerminkan realitas sosial, bukan mengeksplorasi jiwa manusia dan emosi. Mereka menyerang Hamka, H.B Jassin, anggota Manifes Kebudayaan yang tidak sejalan dengan Manipol. Sikap vokal Lekra terhadap penulis berhaluan non-kiri, mirip dengan mencemarkan nama baik orang lain yang menyebabkan permusuhan abadi antara penulis kiri dan kanan.

Tapi saya juga merasa, tak layak buku-buku Pramodya Ananta Toer dilarang, ada dimensi dalam tulisannya yang tak saya pahami, tapi saya tak benci. Karena kebencian terhadap sesuatu hal yang ganjil, berbeda adalah gejala awal tirani.

Akan tetapi, saya mengakui ada satu buku kiri yang “menganggu” pikiran. Adalah Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika) buah karya Tan Malaka. Saya harus mengakui ini adalah buah kejeniusan seorang anak manusia, yang terlunta-lunta dan penuh penderitaan demi negeri yang ia cintai, Indonesia. Ia yang tak berpustaka, bukunya cerai berai dalam pelarian di Eropa, Tiongkok, Lautan Hindia, Singapura dan Indonesia mampu menyusun sebuah buku dalam bentuk dari paham yang bertahun-tahun dalam pikirannya, dalam sebuah kehidupan yang bergelora. Ditafsirkan dengan mekanis dan empiris.

Ia memiliki prakarsa menggabungkan kekuatan Komunisme Internasional dengan Pan Islamisme, dan keluar dari garis partai. Meski pun begitu saya meyakini dia adalah seorang komunis tulen ketika menulis buku itu, Ia mengakui mengagumi Nabi Muhammad S.A.W tapi di satu sisi ia menggugat tuhan dan api neraka. Dalam bab VI Logika, halaman 245 Tan Malaka menulis, “Kalau satu detik saja, satu manusia DIA biarkan dimakan api neraka yang Maha Panas itu, Tuhan tidak lagi Maha Kasih. Jangankan lagi kalau sekiranya Dia membiarkan juta-jutaan manusia dibakar yang berabad-abad!”

Saya tak merasa buku Tan Malaka tersebut itu layak dilarang, setiap anak-anak muslim yang membaca kutipan tersebut memiliki hak menantang Tan Malaka, berdasarkan apa yang di dapat dari kehidupan, orang tua, para Tengku dan guru-guru agama. Saya berempati pada penderitaan Tan, mengagumi semangat, kejeniusannya tapi tak ragu melawannya dalam pertempuran pemikiran satu lawan satu. Begitupun yang saya harapkan dari anak-anak negeri ini.

Menurut saya Tan Malaka terlalu materill, wajar ia dalam perjalanan hidup yang penuh kesusahan itu belum memiliki kesempatan mempelajari hakikat. Sebagaimana dikatakan Jalaluddin Rumi dalam Fihi Ma Fihi, bahwa sebenarnya Surga dan Neraka bukanlah tujuan, Allah S.W.T adalah gagasan tertinggi dari semua pemikiran, semua dibingkai dalam pemaknaan pada Tuhan, tujuan utama. Tujuan akhir dari semua pengembaraan jiwa. Puncak kedamaian dan akhir semua cerita, saat manusia telah sampai pada tujuan sempurna.

Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kepada kita, umat Islam, untuk memulai seluruh aktivitas dengan membaca bismillahirahmanirrahim, yang mengisyaratkan agar umat Islam tidak memiliki niat dan amalan selain menyebarkan kasih sayang di muka bumi.

Kasih sayang yang menyebabkan kita, memaafkan orang sebengis Hulagu Khan sekalipun. Saya merasa kasihan kepada Tan Malaka, dan berharap ia mencapai Khusnul Khatimah diakhir hidupnya, sebelum dieksekusi mati yang menurut penelitian Harry A Poeze dilakukan oleh Brigade Sikatan atas perintah letkol Soerachmad, di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri pada tanggal 21 Februari 1949.

Jangankan buku kiri, saya berpendapat bahwa buku-buku roman picisan ditulis oleh Freddy S, yang meyakini bahwa mesum adalah bagian alami manusia, dimana secara alami orang suka hal-hal yang eksotik dan sedikit buka-bukaan. Menurut saya, semua yang ia karang itu aneh. Akan tetapi tetap ia merupakan sebuah karya yang tak boleh dihancurkan. Karena diakui atau tidak, setiap buku adalah penanda zamannya.

Maka selaku manusia, saya menantang pembunuhan buku. Karena didalam ini belum melupakan sepenuhnya perasaan seorang anak kecil itu, yang belasan tahun lalu menganggap buku adalah pesawat ajaib. Kantong cekak, dan hanya televisi hitam putih yang hanya menayangkan TVRI. Dengan buku-buku yang saya peroleh di perpustakaan, saya memperoleh penghiburan, memasuki dunia yang sebenarnya tak tertembus. Tiap kali, tiap buku, dunia itu berubah, berbeda, berkembang dan terasa akrab.

Di tiap pembakaran buku, di situ pemakaman intelektual terjadi.

X

Tuhan, apapun karuniaMU

Untukku di dunia, hibahkan pada musuh-musuhMU

Dan apapun karuniaMU untukku di akhirat

Persembahkan pada sahabat-sahabatMU

Oh, bagiku cukuplah engkau

Bila sujudku padaMU karena takut neraka, bakar aku dengan apinya

Bila sujudku padaMU karena damba surga, tutup untukku surga itu

Namun bila sujudku, demi ENGKAU semata

Jangan palingkan wajahMU

Aku rindu menatap keindahanMU

(Diyakini oleh masyarakat sebagai syair yang digubah Hamzah Fansuri, sepeninggalnya ia buku-bukunya diperintahkan bakar atas fatwa Nuruddin Ar-Raniry. Atas usaha Syeh Abdul Rauf Syiah Kuala dikemudian hari beberapa kitabnya dapat diselamatkan, dan tercapai konsensus).

XX

 

Posted in Buku, Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 19 Comments

GLUTTONOUS

You is not exactly blessed with a towering intellect, gluttony, or “gula” is deadly sin and lack positive effects.

You is not exactly blessed with a towering intellect, gluttony, or “gula” is deadly sin and lack positive effects.

GLUTTONOUS

Pelan pelan, tahun demi tahun berjalan. Bulan silih berganti datang, manusia digerus waktu. Di setiap hari, pada jalan-jalan sama, perasaan yang tak pernah berubah. Adakah yang salah?

Orang bijak berkata, bertahun-tahun dalam perang yang panjang, kita kehilangan sebegitu banyak orang pintar, berprinsip, dan setia. Menyisakan mereka yang bermuka dua. Namun dalam sebenarnya dalam kedamaian, kita kehilangan sikap, kedisplinan serta kemarahan yang membuat hidup lebih bergairah.

Dalam renungan, aku mencoba mengingat masa-masa lalu yang penuh tak kepastian, semangat berjuang yang membuatmu tak mudah menyerah. Ada waktu kau tak merasa raksasa, bukan siapa-siapa. Terbuka untuk menjadi apa saja, dan menyerap segalanya.

Sebelum kau menjadi terlalu pemarah, sebelum kau serakah, sebelum kau “merasa” perkasa. Dalam ketakutan dan sengsara, kau belajar memahami perasaan mereka yang kalah. Yang tersingkir, dan menangis untuk mereka yang teraniaya. Bahwa bersenang bersama memang menyenangkan, tapi akan lebih menyenangkan, ketika dalam keadaan sulit tetap mempedulikan. Sadarkah kau ketika merasa unggul dan lebih hebat dari orang lain, disitulah awal sebuah kekalahan.

Aku berbicara tentang kau! Bukan para pemimpin negeri, bukan para koruptor di televisi. Aku berbicara tentang kau, yang terlihat jelas di depan cermin. Seseorang yang di waktu kecil mempunyai impian besar, dan ketika besar hanya punya kenyataan kecil.

Aku merindukan masa-masa di mana masalah terbesar dalam hidup, hanyalah sebatas nilai ulangan jelek, dan takut dimarahi mama karena ketahuan merokok. Sekarang, aku melihat gambar babi, dan aku (kau) di cermin dengan pandangan berulang, sampai titik dimana aku tak mampu membedakan satu sama lain.

Dan ketika Ramadhan datang, kuharap engkau suci (fitrah) kembali.

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , | 4 Comments

ODA SEBATANG POHON

Sebatang Pohon (Lukisan Koleksi)

Sebatang Pohon (Lukisan Koleksi Pribadi)

ODA SEBATANG POHON

Sebatang kurma berdiri di tengah Rusafa,
lahir di Barat, jauh dari negeri kurma.
Kataku: Sungguh kau sepertiku, jauh di pengasingan,
terpisah lama dari kawan dan keluarga. 
Kau tumbuh dari tanah yang asing bagimu;
Dan aku, sepertimu, jauh pula dari rumah.

Abdul Rahman I dari Kordoba

Beberapa puisi terdahulu:

  1. Monolog Bulan; 4 Juni 2012;
  2. Ode Seekor Harimau; 18 Agustus 2012;
  3. Al-Muwasysyah; 23 Mei 2013;
  4. Surga; 17 Juni 2013;
  5. Direbut Kabut Kelam; 10 Agustus 2013;
  6. Musim Hujan; 11 September 2013;
  7. Untukku; 17 November 2013;
  8. Cincin; 15 Maret 2014;
  9. Kenangan Ayahanda; 24 Maret 2014;
  10. Panton Hana Utak; 1 April 2014;
  11. Menikahi Putri Anda; 14 Mei 2014;
  12. Yang Tercinta Malahayati; 2 Oktober 2014;
  13. Nun; 3 Desember 2014;
  14. Setitik Noktah Di Dalam Noktah; 25 Februari 2015;
  15. Hujan; 12 November 2015;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

BAJAK LAUT PEMBERONTAK ATAU PEROMPAK

Tidak ada film berlatar bajak laut sesukses Pirates of Caribbean. Dibuat sejak tahun 2003, The Curse of The Black Pearl, sudah tiga sekuel dibuat : Dead Man’s Chest (2006), At World’s End (2007), dan On Strager Tides (2011). Bahkan kelanjutannya Dead Men Tell No Tides direncanakan beredar tahun 2016 ini. Para pendukung film ini, seperti Johnny Deep, Geoffrey Rush, dan Orlando Bloom, nyaris tak ada perubahan, yang ada hanyalah penambahan peran pendukung. Sutradara yang menangani film ini pun selalu berubah-ubah. Lebih menarik lagi, semua film ini menjadi Box Office yang menghasilkan laba sekitar 915.000.000 dollar AS. Tak sedikit pula penghargaan yang diterima film ini.


Para pendukung film ini, seperti Johnny Deep, Geoffrey Rush, dan Orlando Bloom, nyaris tak ada perubahan, yang ada hanyalah penambahan peran pendukung. Sutradara yang menangani film ini pun selalu berubah-ubah. Lebih menarik lagi, semua film ini menjadi Box Office yang menghasilkan laba sekitar 915.000.000 dollar AS. Tak sedikit pula penghargaan yang diterima film ini.

APAKAH BAJAK LAUT PEMBERONTAK ATAU PEROMPAK

Film yang menceritakan bajak laut selalu menarik untuk disimak, identik dengan keberanian dan kegagahan. Pirates of Caribbean adalah filem bajak laut tersukses. Dibuat sejak tahun 2003, The Curse of The Black Pearl, sudah tiga sekuel dibuat : Dead Man’s Chest (2006), At World’s End (2007), dan On Strager Tides (2011). Bahkan kelanjutannya Dead Men Tell No Tides beredar tahun 2016.

Sejarah Bajak Laut Dunia

Sejarahnya, bajak laut ada ketika ada pelayaran yang bersifat perdagangan. Bajak laut yang lazim disebut pirate itu, pada dasarnya merupakan aksi perompakan yang dilakukan satu kapal terhadap kapal lainnya. Barang dipindahkan ke kapal perompak dengan ancaman senjata.

Setiap kapal bajak laut dipimpin oleh seorang Kapten, ia memiliki sejumlah kemampuan, seperti memahami navigasi laut, cerdas, ahli memilih sasaran, mahir menggunakan senjata. Banyak di antara mereka merupakan militer disersi. Memilih menjadi bajak laut demi kebebasan dan kekayaan, mereka menggunakan kabin utama kapal, yang juga ruang komando. Biasanya didampingi sejumlah pelaut senior yang mahir bertempur.

Ancaman bajak laut terus terjadi hingga abad ke-3 S.M dan sangat merugikan Kekaisaran Romawi. Perlu waktu ratusan tahun bagi Kekaisaran Romawi untuk memerangi bajak laut.

Ancaman bajak laut terus terjadi hingga abad ke-3 S.M dan sangat merugikan Kekaisaran Romawi. Perlu waktu ratusan tahun bagi Kekaisaran Romawi untuk memerangi bajak laut.

Tercatat, pada zaman Kekaisaran Romawi dan masa Yunani kuno (14 S.M), kapal-kapal dagang yang melintasi laut Mediterania dan Aegean dibajak, barang-barang di kapal, seperti minyak zaitun, dirampas, penumpangnya ditawan dan dijual sebagai budak. Kekaisaran Romawi berupaya memerangi bajak laut dan perang terus berlanjut sampai abad I Masehi.

Bajak laut Viking gemar menggunakan perahu layar berukuran ramping dan panjang dikenal mahir bertempur, buas, dan ditakuti di berbagai negara

Bajak laut Viking gemar menggunakan perahu layar berukuran ramping dan panjang dikenal mahir bertempur, buas, dan ditakuti di berbagai negara

Setelah Kekaisaran Romawi jatuh, serangan bajak laut kembali marak. Komplotan yang paling popular adalah bajak laut Viking. Sebagai bajak laut bangsa Viking tidak hanya memiliki kawanan bajak laut yang ditakuti, tetapi juga memiliki penjelajah samudera yang menemukan Amerika Utara 500 tahun sebelum Columbus menemukan benua Amerika di tahun 1492.

Memasuki abad IX, bajak laut yang beroperasi di Laut Mediterania dipengaruhi perang salib. Bajak laut Kristen yang berasal dari Catalonia menjadi ancaman serius bagi kapal-kapal dagang di Laut Mediterania, pada era itu juga diwarnai kelompok bajak laut Tunisia (muslim) yang dikenal sebagai corsair, pelaut atau perompak dalam bahasa Perancis. Dalam skala besar mereka bisa mendirikan Negara perompak (Barbary State).

Menurut pakar sejarah Islam, Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya, “Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah”, Dampak dari pengusiran massal kaum muslimin dari Andalusia ke Afrika Utara adalah munculnya masalah sosial. Karena sebagian besar dari orang-orang yang meninggalkan Andalusia berasal dari pelaut, beberapa faktor yang menyebabkan mereka melakukan perlawanan terhadap kekuatan-kekuatan Eropa Barat di Laut Tengah. Faktor utama adalah disebabkan konflik agama setelah diusirnya kaum muslimin dari Andalusia, ditambah faktor pengejaran yang dilakukan oleh armada Portugis dan Spanyol terhadap kaum muslimin di Afrika Utara.

Awalnya ia adalah seorang pelaut biasa yang biasa berlayar di wilayah perairan Yunani dan Turki. Suatu hari kapalnya diserang kapal militer St. John of Jerusalem atau biasa disebut sebagai Knight of Rhodes, kejadian ini membuat adik bungsunya terbunuh. Khairuddin dan ‘Aruj melakukan aksi bajak laut kepada semua kapal-kapal militer Kristen. Aksi ini sangat menggemparkan dan sangat ditakuti militer Kristen, dikenal sebagai bajak laut Barbarossa Brothers karena keduanya berjanggut merah.

Awalnya ia adalah seorang pelaut biasa yang biasa berlayar di wilayah perairan Yunani dan Turki. Suatu hari kapalnya diserang kapal militer St. John of Jerusalem atau biasa disebut sebagai Knight of Rhodes, kejadian ini membuat adik bungsunya terbunuh. Khairuddin dan ‘Aruj melakukan aksi bajak laut kepada semua kapal-kapal militer Kristen. Aksi ini sangat menggemparkan dan sangat ditakuti militer Kristen, dikenal sebagai bajak laut Barbarossa Brothers karena keduanya berjanggut merah.

Sebelumnya perlawanan dilakukan secara sporadis, hingga munculnya dua orang bersaudara Khairuddin Barbarossa dan ‘Aruj Barbarossa, keduanya berhasil menghimpun kekuatan di Aljazair, sekaligus menggalang tindakan bersama mencegah kekuatan Eropa Barat melakukan ekspansi dipelabuhan-pelabuhan dan kota-kota yang berada di Afrika Utara.

Mereka menggunakan taktik perang hit and run dalam pertempuran di laut, taktik ini dilakukan karena minimnya kekuatan mereka melawan kekuatan multinasional, Spanyol, Portugis dan Kardinal Johannes. Sejarawan Eropa berusaha menanamkan keraguan tentang mereka dan menyifati ini dengan sebutan perompak. Mereka juga berusaha menanamkan keraguan tentang asal muasal dua bersaudara Khairuddin Barbarossa dan ‘Aruj Barbarossa.

Selama Khairuddin Barbarossa hidup, ‘Aruj meninggal 1518 M. Aljazair mampu memenangkan setiap pertempuran yang saat itu dibawah kekuasaan pemerintah Turki Ustmani. Sayang, ditahun 1552 M pemerintah Turki Utsmani mencopot Hasan bin Khairuddin Barbarossa dan mengangkat Saleh Rayis. Ia seorang yang baik namun tak secakap Hasan (Anak Khairuddin) sehingga dominasi Ustmaniyah di Laut Tengah lambat laun kian pudar.

Dan sejarah terus bergulir, dan kejayaan bajak laut mencapai puncaknya pada akhir abad XVII dan memasuki abad XIX, dikenal sebagai Golden Age of Piracy, di Karibia. Sepak terjang bajak laut Karibia merajalela hingga lautan Atlantik dan Pasifik, memiliki kekuatan 2500 orang. Menguasai wilayah yang amat luas mulai dari Teluk Meksiko sampai Panama. Mereka sulit ditaklukkan sebab amat susah dikejar. Mereka bersembunyi di begitu banyak celah pulau-pulau terpencil yang membentang dari Granada, Costa Rica, sampai Puerto Riko. Kekuasaan mereka meliputi perairan puluhan Negara, termasuk Jamaica, Haiti, Dominika, sampai ke Kepulauan Bahamas. Bahkan mereka sering dilaporkan beroperasi di pantai-pantai Miami. Mereka tak hanya menjarah kapal dagang, tetapi melawan angkatan laut Spanyol dan Inggris yang terkenal.  Raja Spanyol Charles II mencanangkan operasi besar-besaran, dan Negara-negara Eropa lain berdamai usai konflik dan mengerahkan tentara ke Karibia.

Kekuatan laut yang paling berperan membasmi bajak laut Karibia adalah AL Inggris, yang bisa mengerahkan kapal perang lebih dari 200 unit. Bajak laut Karibia secara tak sengaja telah membangkitkan operasi gabungan kekuatan laut dari berbagai Negara dan langsung menunjukkan hasilnya. Memasuki tahun 1830, bajak laut Karibia sudah lumpuh akibat serangan Negara-negara Eropa Barat dan Negara-negara koloni di Amerika. Apalagi di era itu kapal-kapal dagang tidak lagi berlayar dengan layar, tapi baling-baling yang digerakkan mesin uap. Berkat penemuan teknologi mesin kapal laut, ancaman dari para perompak, khususnya di perairan Karibia pun semakin memudar.

Bajak Laut atau Lanun di Nusantara (Indonesia)

Bajak laut memiliki padanan kata “Lanun” dalam bahasa Indonesia. Berasal dari bahasa Mangindanao, “I-lanao-en”, yang mempunya arti orang dari danau. Awalnya, lanun berada di pedalaman, tapi kemudian mereka menyebar ke pantai. Terutama karena letusan gunung api tahun 1765. Mangindanao sendiri merupakan suku di pulau Mangindanao (Negara Filipina sekarang).

Belanda melabelkan bajak laut terhadap pelaut Sulawesi, masyarakat asli pribumi mengenalnya sebagai lanun. Mereka muncul berkelompok sejak zaman Belanda. Awalnya timbul dari pemberontakan-pemberontakan pelaut lokal, yang akhirnya membentuk kelompok perompak di wilayah Laut Sulawesi, misinya adalah merampok, membunuh, dan meneror pelaut yang melintasi wilayahnya, semata-mata harta benda sebagai tujuan.

Kapal-kapal VOC, tak lain merupakan bajak laut putih yang memproklamirkan misi membawa peradaban kepada bangsa-bangsa di Nusantara. Padahal di belakangnya jelas tujuan mereka datang ke Nusantara adakah untuk

Kapal-kapal VOC, tak lain merupakan bajak laut putih yang memproklamirkan misi membawa peradaban kepada bangsa-bangsa di Nusantara. Padahal di belakangnya jelas tujuan mereka datang ke Nusantara adakah untuk “menjajah” kaum pribumi.

Di sisi lain, berperang melawan penguasa asing (Belanda) yang telah menduduki wilayah laut Sulawesi secara sewenang-wenang berimbas dendam yang panjang. Bajak laut berkelompok ini tidak memiliki wilayah kekuasaan yang tetap. Posisi kekuasaannya bisa tergeser oleh kelompok bajak laut lain.

Penyebaran bajak laut di Indonesia waktu itu hampir merata, namun yang paling banyak terdapat di Laut Sulawesi dan Lingga Riau. Bajak laut yang terkenal antara lain, bajak laut Balangingi, Lanun, Mangindanau, dan di Papua bajak laut Tobelo.

Dalam catatan Virginia Matheson yang bersumber dari Tuhfat al Nafish dikatakan bahwa Kesultanan Melayu Johor bisa mempertahankan eksistensi mereka karena bantuan bajak laut dari suku Bugis dan Makassar. Dalam hikayat ini diceritakan adanya penguasa Bugis menjadi sultan di Johor.

Hang Tuah. Pahlawan Legendaris Melayu.

Hang Tuah. Pahlawan Legendaris Melayu.

Berdasarkan dari beberapa kajian ilmiah (versi Belanda), bahwa selama Sembilan abad (V-XIV) diketahui bahwa bajak laut yang wilayah aksinya berpusat di Selat Malaka bertemperamen keras dan jahat. Sebaliknya dalam catatan disertasi Adrian B. Lapian, kisah bajak laut justru berbeda. Aksinya turut melakukan peperangan gerilya bahari dalam merebut kemerdekaan Indonesia.

Menurut Lapian, sejak abad XV, bajak laut adalah orang Eropa. Kelicikan bajak laut kulit putih (Belanda) adalah memproklamasikan ekspansinya sebagai misi untuk membawa peradaban kepada bangsa-bangsa Asia dan Afrika.

Di Asia Tenggara. Inggris, Belanda dan Spanyol berusaha keras menjadikan laut sebagai daerah yang aman bagi perdagangan maritim Barat. Kehadiran kekuatan asing dengan kelengkapan persenjataan dan fasilitas kapal berteknologi tinggi (mesin uap) sejak pertengahan abad XIX melumpuhkan perlawanan pribumi, baik bajak laut yang berbentuk Kerajaan (Sulu) maupun berkelompok (Laut Sulawesi, Selat Malaka). Abad ini menjadi abad kemenangan pemerintah Kolonial.

Dalam khazanah Melayu. Salah satunya berjudul “Moestika Semenandjoeng”. Lanun adalah inspirasi bagi mereka yang terlahir untuk senang menantang dirinya sendiri, yang berjiwa pemberontak, yang terhinadinakan dan terbuang. Kami sering main sandiwara pertempuran sengit lanun melawan kumpeni, di sekolah, di masjid bahkan di sungai. Lanun adalah kekuatan penganggu kekuatan kolonial, setelah satu persatu Kesultanan di Nusantara takluk. Sebuah dunia dimana kanak-kanak yang tertarik akan misteri, mara bahaya sekaligus pesona tak berujung.

Terlihat ada perbedaan antara lanun zaman dahulu dan sekarang. Dulu mereka bahu membahu dengan pribumi dan kerajaan-kerajaan di Nusantara mengusir kekuatan asing. Para lanun klasik bukanlah pembunuh, mereka merompak sebagai pajak melintasi Selat Malaka yang dianggap sebagai milik leluhur, ulayat. Para nelayan bahkan bersahabat dengan mereka karena melindungi wilayah tangkap ikan dari serbuan nelayan-nelayan jiran. Jangan lupa tokoh legendaris Melayu, Hang Tuah diriwayatkan juga menentang penjajahan Belanda dan Inggris melalui kapal-kapal lanun.

Tabiat lanun kuno amat berbeda dengan lanun selat Malaka sekarang. Mereka adalah jagal laut. Jika merompak kapal, tak ada yang tersisa, bahkan nyawa bisa melayang.

Andrea Hirata, dalam “Maryamah Karpov”. Keluarga lanun kuno terakhir ditangkapi tahun 1959, dijebloskan ke penjara Karimun, dua belas anak beranak. Sekarang tak tahu rimbanya. Dan setelah tahun 1959 sering ditemukan mayat-mayat tanpa kepala terdampar di pesisir Anambas, Lingga, dan Singkep. Sejak itu Selat Malaka menjadi neraka.

Kian hari lanun kian ganas. Tak hanya merompak, tapi juga menyeludupkan timah dan manusia ke negeri-negeri jiran. Mereka memungut pajak sekehendak hati dari orang-orang pulau yang hendak melintas batas ke Singapura dan Malaysia. Jika tak ada mufakat, nyawa melayang. Jika ada mayat-mayat dihanyutkan sampai ke pesisir, pastilah korban lanun Selat Malaka.

Bajak Laut Dunia Modern

Kapal laut, atau tanker dan sejenisnya adalah sarana transportasi termurah. Maka aksi pembajakan atau perompakan kapal tidak akan hilang selama faktor keamanan lalu lintas lautan tidak terjamin.

Somalia adalah salah satu wilayah laut paling berbahaya di dunia. Perompakan telah mendarah daging dalam masyarakat dengan garis pantai 1.880 mil ini. Perang saudara berkepanjangan telah menghancurkan sendi-sendi perekonomian Negara itu. Puncaknya ketika pemerintah Somalia membubarkan angkatan bersenjata, termasuk Angkatan Laut. Akibatnya pantai Somalia praktis tanpa penjaga, disinyalir kapal-kapal asing bebas melakukan pencurian ikan dan aktivitas pencemaran dengan membuang limbah di laut, limbah beracun yang membuat para nelayan kehilangan pendapatan.

Kemudian nelayan Somalia memberontak. Mereka melakukan perlawanan dengan melakukan perompakan, sebuah tindakan balas dendam serta berdalih melakukan pengamanan perairan laut Negara. Tercermin dari nama kelompok yang mereka pilih, seperti National Volunteer Coast Guard.

Kapal KMV Sinar kudus yang bermuatan 8.300 ton nikel milik PT. Aneka Tambang senilai 1,535 Trilyun Rupiah dibajak pada medio 2011, komplotan pembajak mengancam akan membunuh satu per satu ABK asal Indonesia jika pemilik kapal PT Samudera Indonesia tidak memenuhi tebusan 77 Milyar Rupiah.

Kisah One Piece karya Eiichiro Oda ini merupakan manga terlaris sepanjang sejarah Jepang. Tokoh sentralnya adalah Monkey D. Luffy, seorang remaja yang digambarkan memakan buah Gomu-Gomu (Buah Iblis), yang membuat tubuhnya bisa menjadi seperti karet.

Kisah One Piece karya Eichiro Oda ini merupakan manga terlaris sepanjang sejarah Jepang. Tokoh sentralnya adalah Monkey D. Luffy, seorang remaja yang digambarkan memakan buah Gomu-Gomu (Buah Iblis), yang membuat tubuhnya bisa menjadi seperti karet.

Kisah bajak laut dalam kehidupan ternyata sangat rumit, kebanyakan mereka adalah manusia yang tersingkirkan, kalah dan marah. Akhirnya memberontak dengan cara merompak. Kisah bajak laut tak semanis mangga One Piece karya Eichiro Oda, tak seindah kisah hidup Monkey D. Luffy.

Pernah di suatu masa, pada satu tempat bajak laut adalah tindakan heroik yang memberontak kepada kekuatan-kekuatan Kolonialis Eropa Barat yang menjajah Negara-negara di Asia dan Afrika. Namun pelan-pelan itu bergeser, yang pada akhirnya kembali kepada motif ekonomi.

Manusia lewat, pergi dan tiba, tak peduli tapal batas, Negara dan keimanan. Mereka lebih sadar akan kebutuhan akan perkapalan dan niaga, susah payahnya peperangan, dan pembajakan, dan kesempatan untuk bersekutu dan berkhianat dibukakan oleh keadaan.

*Teruntuk putera-puteri Nusantara pencinta kisah-kisah “Bajak Laut”

English Version

Artikel Sejarah Dunia:

  1. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  2. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  3. Apa Yang Machiavelli Lakukan; 1 Juni 2011;
  4. Mereka Yang Bangkit (Kembali); 18 Desember 2013;
  5. Bajak Laut Pemberontak Atau Perompak; 17 Maret 2016;
  6. Membakar Buku Membunuh Intelektual; 6 Juni 2016;
  7. Menentang Tradisi Memang Tradisi; 5 April 2017;
  8. Kopi Dalam Lintasan Sejarah Dunia; 1 Mei 2017;
  9. Gula Dan Sejarah Penindasan; 4 Mei 2017;
  10. Pengulangan Sejarah; 23 Mei 2017;
  11. Bom Bunuh Diri Untuk Kemenangan Siapa; 25 Mei 2017;
  12. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
  13. Mengapa Kita Merasa Senasib Dengan Palestina; 23 Juli 2017;
  14. Kopi, Legenda dan Mitos; 20 Februari 2018;
  15. Ketika Ibnu Battuta Melawat Samudera Pasai; 16 April 2018;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

MISI MENCARI ABU NAWAS

Untuk membuat orang menertawakan kebenaran, untuk membuat kebenaran tertawa.

Untuk membuat orang menertawakan kebenaran, untuk membuat kebenaran tertawa.

MISI MENCARI ABU NAWAS

DICARI !!! Abu Nuwas atau kerap dipanggil Abu Nawas, Lahir 747 M di wilayah Daulah Abbasiyah. Pekerjaan Penyair. Terakhir terlihat Baghdad abad IX. Peradaban rindu dengan sosok sederhana, membuat kita meyakini bahwa tidak ada yang lebih indah dari pada jalan-jalan di hari yang cerah.

Siapakah Abu Nawas? Pada masa-masa kita kecil, kita mengenalnya sebagai tokoh lucu, atau orang pintar yang melepaskan diri dari teka-teki sukar. Kita memandangnya dengan tak serius, badut yang dibutuhkan untuk ditertawakan, atau menertawakan di zaman Harun Al-Rasyid.

Entah bagaimana, kemasyuran Abu Nawas, sang penyair dari Baghdad itu, melintasi ruang dan waktu yang amat panjang. Ia yang lahir di Ahaz, Iran, di abad VIII dan meninggal di Baghdad, abad IX. Waktu itu, bahkan Kesultanan Pasai, kerajaan Islam pertama di Indonesia bahkan belum berdiri. Nenek moyang kita masih menganut animisme, dan atau dinamisme.

Mungkin kita rindu dengan pengalaman-pengalaman yang mengesankan, kisah-kisah hikmah berbungkus humor segar, lekat dengan masyarakat. Karena hidup yang ceria tanpa humor akan terasa sangat melelahkan, dan semanis-manisnya lelucon adalah yang datang dari bawah, dari mereka yang tertindas dan tak terpedulikan. Sedang humor yang paling tak lucu adalah menertawakan mereka yang lemah, cacat dan tak berdaya.

Kocak? Pandir? Jenaka? Bisa jadi. Dalam susunan masyarakat kita disini, seorang penyair seperti Abu Nawas jika diseriusi mungkin menggelikan. Abu Nawas bisa menampilkan kesan seperti itu, bagi yang menganggap hidup hanyalah ketertiban, kepatuhan, keselarasan. Abu Nawas membuka jalan baru, dengan sajak-sajak yang mabuk anggur dengan kebebasan bahasanya, ironi dan humornya, dengan pandangannya yang mencemooh.

Memang ada kekurangajaran di situ. Mungkin sekali ia ingin menguncang apa yang tampak rapi dan tertib. Mengatakan hal yang dienggani oleh mereka yang terlihat sopan dan saleh. Mungkin bukan kebetulan, bila orang menyebut bahwa Abu Nawas adalah penyair sufi. Mereka yang melagukan nikmatnya “anggur” dalam “mabuk cinta” dengan Tuhan.

Kemabukan, baik harfiah maupun sebagai kiasan, adalah menentang hukum. Abu Nawas menyimpang disana, mungkin sebab itulah Abu Nawas di negeri kita yang jauh sering dihubungan dengan tokoh lucu, sesuatu yang “aneh”.

Abu Nawas membawa ironi, humor, celah-celah yang menyela ditengah kedapnya keyakinan dan angkuhnya sebuah agenda besar. Dengan pakaian kepandiran ia menyusup ke dalam masyarakat, hidup, menangkis dan bernyanyi dengan cara mereka. Itulah sebabnya Abu Nawas lekat dengan kita, setiap orang yang merasa dirinya bukan siapa-siapa.

Fantasi, cerita memang berubah seiring zaman. Namun terlepas dari itu semua, masyarakat lebih menyukai orang pintar yang merendahkan diri, pandir serta mencari bersama mereka. Itulah mungkin sebabnya kaset ceramah dai kondang Alm. Zainuddin MZ masih terasa asyik didengar, bahkan ketika berjongging di sore hari, sekarang.

Yang layak dipikirkan, jika memang Abu Nawas benar-benar menyimpang, mengapa ia tidak dibungkam? Padahal ia hidup di Baghdad abad IX, masa kekhalifahan Abbasiyah. Bisa jadi, Baghdad zaman itu adalah kota dengan penuh kepercayaan diri, terbuka untuk hampir setiap pikiran dan eksperimen, untuk pertanyaan dan pencarian baru.  Abu Nawas mungkin mencerminkan penguasa saat itu Harun Al-Rasyid, berani untuk terbuka. Mengejek dan menertawakan diri sendiri.

Abu Nawas dan Harun Al Rasyid adalah anomali. Kursi kekuasaan itu biasanya, akan mengubah seseorang. Bisa jadi pelawak akan berubah 180 derajat menjadi mumpuni ketika memegang kekuasaan, atau bisa jadi alim ulama menjadi rakus setelah duduk, bisa jadi orang pintar menjadi dungu.

Mereka yang terbiasa dengan kekuasaan dan aturan memang umumnya sulit memahami puisi dan humor benda ajaib yang lahir dengan tak terduga dari hati. Abu Nawas mungkin dicerminkan oleh khalifah Harun Al Rasyid sendiri yang berani. Berani untuk terbuka, tertawa dan bergumul dengan jelata.

Dan hari ini kita tahu betapa beruntungnya dapat menemukan keindahan sebuah karya dan kearifan masa lalu, yang tak berulang pada masa kini, setelah masa-masa kejayaan itu berlalu.

XXX

Beberapa pemikiran yang diejawantahkan:

  1. Melanjutkan Perjuangan; 4 Agustus 2008;
  2. Manajemen Kritik; 18 September 2008;
  3. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  4. Menulis Haruskah Pintar; 26 Oktober 2009;
  5. Sejarah Syahdu Sebuah Negeri; 16 Agustus 2011;
  6. Ketika Sekolah Usai; 6 Mei 2012;
  7. Politik Abu Nawas; 24 Juli 2012;
  8. Orang Sakit Dari Timur; 26 Mei 2013;
  9. Sultan Abu Nawas; 1 November 2013;
  10. Seorang Pangeran; 4 November 2013;
  11. Bajak Laut : Pemberontak Atau Perompak; 17 Maret 2016;
  12. Membakar Buku Membunuh Inteletual; 6 Juni 2016;
  13. Gula Dan Sejarah Penindasan; 4 Mei 2017;
  14. Mencari Jurus Penangkal Fitnah Sebuah Jurnal Ilmiah; 11 Mei 2017;
  15. Syariat Islam Siapa Takut; 9 Juni 2017;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 12 Comments

TANDA PEDANG YANG (AKAN) PATAH

Tahun adalah cermin, guratan umur makin keras. Jangka hidup tak akan lama lagi. Tanda pedang yang patah

Tahun adalah cermin, guratan umur makin keras. Jangka hidup tak akan lama lagi. Tanda pedang yang patah

TANDA PEDANG YANG (AKAN) PATAH

Setiap tahun adalah cermin, ini kali di depannya ada 29 Februari, tiba sebuah pengulangan yang hanya muncul 4 tahun sekali. Dan di cemin itu saya melihat guratan umur makin keras. Keriput makin banyak. Pori-pori kulit membesar, rambut rontok dan menipis.

Waktu kembali menjadi angka. Hari ini, tahun ini, saya memperingati ulang tahun ke-32, merasakan hanya dalam sehari melompati jarak 4 tahun.  Saya tahu jangka waktu hidup yang sama tak akan tercapai lagi. Ujung jalan itu sudah tampak.

Vieri has not made much of an impact at AC Milan

Vieri has not made much of an impact at AC Milan

Saya teringat Cristian Vieri, seorang pemain sepakbola asal Italia. Vieri  dilahirkan di Italia, ia dibesarkan di Sidney Australia cukup sukses secara prestasi, ia memperkuat Italia pada Piala Dunia 1998, 2002 dan Piala Eropa 2004. Ia berposisi sebagai penyerang. Di tahun 2005 pada umur 32 ia bergabung dengan klub sepakbola A.C Milan. Setelah sebelumnya ia bergabung dengan beberapa klub sepakbola, di antaranya Juventus (1996-1997), Atletico Madrid (1997-1998), Lazio (1998-1999), Internazionale (1999-2005).

Ternyata ia telah melewati masa-masa tersuksesnya sebagai penyerang. Hanya bermain 8 pertandingan dengan 1 gol pada Serie A musim kompetisi 2005-2006, ia kemudian hijrah ke AS Monaco karena ketatnya persaingan di A.C Milan, selanjutnya karirnya meredup seiring usia. Pedang itu telah patah. Dan hari ini, saya seusia dengan Cristian Vieri waktu itu.

Bilangan usia atau tahun tak hanya ibarat cermin tempat kita berkaca melihat proses keuzuran. Meski tahun adalah juga tanda waktu yang tak sempurna. Setiap bilangan tahun yang berlalu, arti masa depan jadi lebih tertentu, bahwa hidup ini kelak akan berakhir.

Saya tidak akan menyaksikan pohon asam yang ditanam tahun lalu menjadi pohon yang tumbuh tinggi, seperti deretan pohon asam di tepi jalan yang saya punggut buahnya setiap pulang sekolah dulu. Saya tidak akan melihat pendaratan manusia pertama kali di Mars, penjelajahan antar galaksi. Ya, banyak sekali pasti yang tak akan saya alami.

Tapi siapa yang dapat mengatakan, hal-hal indah itulah yang terjadi. Bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika kelak perang nuklir terjadi, negara-negara hancur. Bagaimana jika bentrokan berdarah yang tak henti-hentinya, karena masyarakat menjadi timpang dan sumber daya alam telah terkikis habis.

Saya seperti anda, tak tahu jawabannya. Orang mampu membuat statistik, membuat prediksi, memperkirakan probabilitas. Tapi kita tahu hidup tak dapat distatistikkan, karena itu tak lazim terjadi

Waktu yang “copot” memang terasa mencemaskan, namun saya mencoba optimis bahwa rasa cemas itu tidak akan melumpuhkan manusia. Dalam waktu sebagai perantara, manusia seakan-akan terlontar. Ia mengalami kebebasan hukum sebab akibat, tapi dengan itu ia masuk dalam momen “kejadian”. Seperti nada B minor masuk ke dalam harmoni, peristiwa tak terduga yang membawa pemahaman bahwa hidup ini tak bisa selamanya dalam harmoni.

Bermacam nada, termasuk sumbang pun bisa masuk. Ada kejadian-kejadian dalam hidup berjalan tidak sebagaimana yang direncanakan, ketika rencana tidak sesuai harapan maka tak sepatutnya kita terlalu bersedih. Karena mungkin “kejadian” itu justru membuka ruang yang lain.

Ini terjadi karena rahmat Allah S.W.T tak akan pernah putus kepada kita, suatu hal yang saya sadari sekarang. “Fa bi ayyi rabbikuma tukazziban” Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? Mendengar lantunan surat Ar-Rahman ini, mata saya berkaca-kaca.

Hidup ini adalah sebuah polifoni, bergerak, memencar, multidimensi, lipatan yang tak henti-henti. Kematian hanyalah salah satu momen di dalamnya. Haruskah kita sesali jika itu terjadi? Kita harusnya sadar bahwa yang terbaik dari dunia ini bukanlah keabadian, melainkan kefanaan. Yang abadi tak akan ada disini.

Di depan cermin tetap akan tampak rambut rontok yang kian tipis serta kulit kian keriput, juga fisik telah menurun. Seperti halnya Vieri selaku penyerang (pernah) tajam, pelan-pelan ia menumpul seiring usia. Tanda-tanda keretakan pedang itu telah terlihat, ia menuju patah. Itu pasti.

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , | 3 Comments