MAUT

Maut menjemput sang macan akar

MAUT

Waktu itu tahun 1999, angka 1999 adalah misteri dimana bilangan akan menuju ke angka 2000. Milenium baru. Sekarang memang biasa namun ditahun itu percayalah sangat luar biasa. Apalagi bagi seorang anak SMP. Abu baru menerima rapor catur wulan dua kelas tiga saat itu. Seorang anak menyapa kelas sebelah, “Wandes mana?” tanyanya, Abu memicingkan mata. Sepanjang sekolah baru kali itu kami berbicara. Putra nama anak itu, Abu mengenalnya, meski kami bukanlah anak popular tapi kami saling mengenal. Pengalaman ini sebenarnya biasa saja, tanpa kesan. Ketika ia menanyakan tetangga Abu yang kebetulan sekelas dengannya, yang sebenarnya Abu tahu bahwa si Wandes ini bolos hari itu. Menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa ketika sorenya selesai bermain bola dilapangan kampung Jeumpet, Saipul seorang teman Abu memberitakan bahwa Putra meninggal. Hanyut ketika memandikan kambing disungai. Waktu itulah Abu mengenal wajah maut. Sesuatu hal yang membuat Abu sangat ketakutan dan menangis di Langgar selesai shalat Maghrib. Dan teman-teman Abu yang lain hanya mengkerubuti tak mengerti.

Sebelum itu maut adalah hal yang riang, setiap ada tahlilan di kampung Abu bebas berlari-lari. Bermain dengan anak-anak lain, karena hari itu segala pantangan dicabut. Semenjak kejadian ditahun 1999 itu setiap mendengar kata maut, Abu mengaktifkan otak pada suatu hal yang mengerikan. Empat April Dua Ribu Empat, disebuah kamar kos-kosan di Medan. Abu sedang makan mie tiauw, ketika Ibu Abu mengabarkan melalui telepon bahwa di Banda Aceh, ayah meninggal dunia. Trauma. Sampai dengan hari ini, Abu tak pernah menyentuh Mie tiauw lagi. Benci. Dan Empat April adalah hari dimana Abu merasa gelisah, mengingat bahwa ditanggal yang sama ditahun Seribu Sembilan Ratus Sembilan Puluh Dua, Kakek Abu dijemput maut.

Maut, tetap bukanlah hal yang biasa. Meski dibilangan 26 Desember 2004 tsunami datang sebagai duta. Dengan mata takjub sekaligus tak tahu apa yang terjadi Abu melihat sendiri betapa kehidupan ini sangat rapuh. Maut adalah sebuah alat, agar manusia waspada akan kehidupan. Agar manusia berbuat baik sepanjang hidupnya. Agama mengajarkan kepada kita, bahwa maut adalah sebuah pintu untuk menuju ke fase selanjutnya. Maut adalah juga sebuah kecemasan, karena tidak pernah ada manusia yang kembali setelah dijemput olehnya. Tidak ada manusia yang pernah bercerita bagaimana pengalamannya disana. Alhasil maut adalah sebuah misteri yang tak pernah diuji oleh dalil-dalil ilmiah. Alhasil maut menggentarkan seluruh manusia, siapapun dia.

Maut bisa begitu akrab, sehingga Abu bertanya kepada ibu. “Mengapa sekarang dikeluarga kita lebih banyak mendengar kabar kematian dibanding kehidupan(kelahiran). Ibu Abu menjawab, “segala sesuatu memiliki masanya. Kelak dikeluarga ini akan banyak kabar kelahiran jua.” Sederhana, namun Abu selalu kagum dengan jawaban ibu. Dengan sungguh-sungguh ibu bercerita, bahwa ayah tak gentar akan maut. Bahkan beliau tersenyum menyambut kedatangannya. Mengingat itu semua ada kebanggaan. Namun dibalik itu semua, tersirat perasaan malu. Apakah diri ini memiliki keberanian yang sama menghadapi kematian jika saatnya tlah tiba.

Maut, hari ini ketika Abu mendapat kabar seorang kerabat dijemput maut. Abu berangan-angan. Tidak bisakah kita sebagai manusia membayangkannya dengan wajah yang ramah? Sosok berbaju putih bersih dan senyum. Dengan tangannya ia merangkul kita yang terpaku dalam gelap, lalu membawa kita dalam cahaya. Maut, entahlah.

XXXXX

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 9 Comments

JANGAN MELEWATI BATAS

Illustrasi Teuku Umar

JANGAN MELEWATI BATAS

Syahdan, Teuku Umar  disuruh tidur di lantai kapal dalam perjalanan oleh kelasi Belanda. Padahal ia baru saja berhasil merebut Kapal Inggris yang ditawan oleh Raja Teunom, ia membantu Belanda  yang ditekan Inggris untuk menghadapi saingannya di wilayah Barat Aceh, Imeum Muda. Seorang bangsawan dan atau lebih tepatnya seorang manusia telah dihinakan, maka tak heran kelak dikemudian hari Teuku Umar tercatat sejarah sebagai satu-satunya pahlawan Indonesia masa perjuangan tradisional yang berhasil mengakali Belanda. Bangsa angkuh yang secara tersirat berkata berhasil menjajah Nusantara lebih dengan tipu daya.

Batas – Limit. Jenderal Akechi Mitsuhide menahan ludah dalam-dalam ketika Oda Nubunaga sang junjungan membenturkan kepalanya ke lantai. Dia dianggap gagal dalam menjamu makan sekutu dari Mikawa, Ieyasu Tokugawa dalam sebuah pesta. Batas telah dilanggar oleh sang penguasa, maka Akechi bergerak. Nobunaga yang sedang bersantai di Kuil Honno pada kunjungan kemenangan ke Kyoto tak menduga akan pembalasan dan Nobunaga mati dalam api yang melalap setengah ibukota Kekaisaran Jepang saat itu. Ketika batas dilanggar, Akechi siap menderima cap penghianat dan secara sadar membawa keluarga Mitsuhide menuju kepunahan, ketika dendam dikumandangkan.

Border – Batas. ketika tank-tank Jerman menembus perbatasan Polandia tahun 1939. Mata dunia terbuka akan bahaya facisme setelah sekian lama pura-pura tidak melihat. Perang Dunia II dimulai ketika demakrasi dilanggar. Jepang boleh dengan tenang menyerbu Korea dan Manchuria. Liga Bangsa-Bangsa menutup mata. Beda ceritanya ketika Pearl Harbour dibom 1941. Amerika Serikat bergeming. Marah dan menyatakan perang terhadap Jepang. Balas dendam adalah cerita berikutnya, adalah fakta bahwa Jepang adalah satu-satunya lawan yang dibom atom oleh Amerika Serikat. Tak ada kompromi ketika batas dilanggar.

“Janganlah kamu menjadi kaum yang melampaui batas!” Nabi sendiri sudah mengingatkan kita. Azab hanya diturunkan oleh tuhan pada kaum yang melampaui batas. Menjadi saksi bilangan 1945, 1966, 1998. Adalah tahun-tahun bersejarah di negeri ini. Seluruh negeri bergerak ketika sejumlah besar masyarakat menanamkan keyakinan di hati mereka, cukup!!!

Bahasa Indonesia menerjemahkan sebagai batas. Dengan banyak ragam variasi. Dalam sebuah hubungan yang tak tertata hukum, yang diatur oleh norma dan etika. Batas sulit didefinisikan secara baku. Dan ketika batas telah dilanggar, ketika genderang perang telah ditabuh maka sangat sulit kembali. Perang terjadi ketika batas dilanggar. Pasukan yang telah bergerak enggan pulang sebelum bertempur.

Jangan melampaui batas, karena sesungguhnya makanan yang bernama pembalasan itu lebih lezat apabila disajikan dingin. Dan kata batas itu menjadi sangat absurd.

XXXXX

Beberapa opini lainnya:
  1. Sang Tiran; 15 Oktober 2008
  2. Yang Muda Yang Berguna; 22 Oktober 2008
  3. Lughat; 28 November 2008;
  4. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  5. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  6. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  7. Lautan Yang Tersia-siakan; 23 Januari 2009;
  8. Hantu; 20 Februari 2009;
  9. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  10. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  11. Apalah Artinya Sebuah Nama; 13 Juli 2009;
  12. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  13. Perjalanan ini; 18 Agustus 2009;
  14. Menulis Haruskah Pintar; 26 Oktober 2009;
  15. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 11 Comments

ANGIN

“Mengapa harus angin guru, tidakkah api lebih perkasa.”

ANGIN

“Maka yang terakhir adalah angin.”
“Mengapa harus angin guru, tidakkah api lebih perkasa.”
“Anakku api memang perkasa namun ia telah dijinakkan ketika manusia faham akan faedahnya.”
“Mengapa harus angin guru, tidakkah bumi lebih hening.”
“Bumi adalah penjara dimana manusia terpasung olehnya. Angin lebih bebas.”
“Samudera guru, turunkan padaku jurus itu.”
“Muridku, engkau menggodaku. Samudera selalu membuatku takzim. Namun angin lebih luas.”
“Halilintar guru!”
“Terlalu gemuruh anakku.”
“Hutan lebih pemurah guru.”
“Ia terlalu rapuh untukmu.”
“Angin guru, angin antara ada dan tiada. Matahari guru.”
“Matahari mudah dikatahui peredarannya. Angin merdeka.”
“Kenapa harus angin guru?”
“Karena ia tak terbaca, keberadaannya tak terlihat, ia jarang memperlihatkan kekuatannya. Maka yang terakhir yang ku wariskan adalah angin anakku.”
“Angin guru, angin tiada berkekuatan guru.”
“Anakku jangan memasung diri pada kuasa, bergunalah walau sebentuk noktah. Itu lebih baik.”
“Guru, angin tak bisa dipercaya. Ia dapat berubah seketika.”
“Manusia adalah makhluk yang senantiasa berubah anakku.”
“Jadi yang terakhir adalah angin guru.”
“Iya cukuplah itu bagimu.”

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , | 13 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TUJUH

Risalah Sang Durjana tampak depan

Risalah Sang Durjana tampak depan

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN TUJUH

Bandar Aceh Darussalam, Pebruari 1873

Seorang pahlawan tidak langsung dilahirkan dimuka bumi. Seorang pahlawan dibentuk oleh alam, karena seseorang dapat dikatakan sebagai pahlawan jika ia melebihi dirinya. Memberikan manfaat yang secara alur pikiran awam tak dapat ia lakukan. Pada saat itulah seseorang membuktikan kapasitasnya sebagai seorang pahlawan.

Terus terang aku mengagumi anak muda ini, sekaligus membencinya. Umar anak Meulaboh, sudah beberapa minggu belakangan ini ia ada di Bandar Aceh Darussalam. Pergerakannya sangat cepat, baru sesaat dipelabuhan sekejap berikutnya ia membuat keributan di Peukan Aceh. Satu hal yang luar biasa dari anak berumur sembilan belas tahun ini, ia selalu mampu mempengaruhi orang yang lebih tua tunduk pada pengaruhnya. Satu sisi jelek dari anak muda ini yang paling tidak kusukai adalah gayanya yang sangat feodal dan gemar berbelanja. Keonaran adalah cara untuk menunjukan siapa dirinya, cucu Raja Meulaboh. Belum lagi kegemarannya menghisap candu yang menyebabkan giginya kuning seperti aliran krueng Aceh.

“Tukang jahit, sekali-kali bergaullah sedikit!” Diikuti beberapa orang yang lebih tua, Umar berkacak pinggang didepan lapakku. Aku tidak berminat mengurusi keturunan Ulee balang manja ini, lebih baik meneruskan pekerjaanku. Tidak dipedulikan tidak membuat orang ini jenggah, malah ia mengambil tempat duduk disampingku. “Abu, aku tahu siapa kamu? Tidak semestinya kamu mengenakan topeng seperti ini. Tidakkah kamu tertarik untul berpolitik? Dan bila kamu memilih Umar sebagai tuan maka aku jamin pilihanmu itu tidak akan mengecewakan.” Tawarnya manis, manis semanis madu.

Aku tak tahu apakah dia, si Umar ini memiliki kualitas untuk menjadi seorang pahlawan atau seorang pecundang. Karena batas antara dua hal ini sangat tipis, lebih tipis dari sutra Tiongkok terbaik. Umar mendekatkan wajahnya dan memainkan alisnya, dia mahir mempengaruhi orang lain. Tak heran diusia muda pengikutnya lumayan banyak disini, apalagi di Meulaboh sana kampungnya.

“Politik itu adalah cerita tentang menang dan kalah, dan aku tidak tertarik sama sekali.” Kutatap matanya.

Ia menunduk, “Abu, aku mendengar cerita nabi Khaidir dan nabi Musa. Aku tahu bahwa di dunia ini lebih banyak orang yang lebih pintar dariku. Apalagi aku mendengar bahwa Abu pernah bertualang dinegara atas angin, meski belum ke Mekkah aku tahu Abu pernah ke negeri Rum. Jangan terkejut Abu, selain mangkubumi Habib Abdurrahman yang merasa paling pintar di dunia itu. Abu satu-satunya orang yang pernah kesana.”

Aku tersenyum, tersanjung sedikit. “Aku tidak tertarik berpolitik, kamu tahu itu.”

Umar menarik nafas panjang, “Abu, negeri pesisir timur membajak kapal Kaphe lagi. Aku tidak tahu apa yang ada diotak mereka, apakah mereka memang terlahir sebagai bangsa perompak?”

Dengan satu kalimat ia menceritakan keadaan sosial budaya sekaligus menyindir masa laluku, Sang Durjana. Tanpa disadari ku membela, “jangan salahkan mereka, salahkan blockade Inggris dan Belanda di Selat Malaka!”

Umar tertawa terbahak, “Lalu apakah kaphe Belanda yang sangat pelit itu akan diam saja! Tidak, mereka bangsa dagang. Tak ada guna Tuan Tibang berunding ke Singapura, perang pasti akan terjadi. Mereka akan mencari pasal.”

Umurnya baru sembilan belas tahun, tapi punya pandangan jauh kedepan. Sama dengan apa yang ku perkirakan selama ini, hanya saja terlihat ia belum terlalu yakin dengan apa yang ia renungkan. “Iya, bulan depan Belanda pasti akan menyerang.” Jawabku.

Umar tersentak. “Sudah kuduga, mereka di Timur tak pernah berperang di laut namun merompak dan membawa negeri ini dalam kehancuran, berbeda dengan kami yang dari Barat. Berjaya sedari dulu menaklukkan Samudera Hindia.” Dan kata-katanya berubah menjadi kegeraman yang amat sangat.

Aku menggeleng, “Saat ini Umar. Bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Tapi ini adalah saat yang tepat untuk bersatu.” Umar memandang antara gairah dan takut akan perang, bagaimanapun bocah ini baru berumur sembilan belas tahun.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Tanyanya.

“Umar, tak usah kau urusi konflik Timur-Barat. Sekarang kamu pulang ke Barat. Damaikan Meulaboh dengan Teunom, perang dua mukim bersisian itu sia-sia. Siapkan pasukan sebanyak mungkin untuk kembali ke Bandar Aceh ketika perang terjadi.” Anak ini harus diperjelas dimana posisinya dalam perang, jelas ia ingin menjadi orang yang berarti ketika pertempuran pecah.

“Apa mungkin Meulaboh dan Teunom berdamai?”

Langsung kupotong, “pasti bisa! Meulaboh dan Teunom adalah negeri terkaya di Barat Selatan. Kali ini kita melawan raksasa, dan raksasa ini gemar mengadu domba.”

Umar mencabut rencongnya, kemudian memandangi ujungnya.

“Apalagi yang kau tunggu, cepat pulang ke Meulaboh!” Tak pernah kubayangkan ia menurut, memberi tabik dan berbalik. Pengikutnya mengikuti dibelakang seperti anak bebek.

Salah seorang pengikutnya sebelum berbalik menyalamiku, “Tuan sangat hebat, mampu membuat junjunganku kembali ke Barat, padahal kakeknya sudah beberapa kali mengirimkan utusan supaya dia pulang. Oh ya, perkenalkan aku Dokarem, pujangga wilayah Barat.” Ia pun pergi mengikuti pemimpinnya, syukurlah paling tidak untuk beberapa minggu ibu kota aman dari sang pembuat onar.

Sebagaimana kekagumanku pada orang muda yang memiliki kualitas dalam diri orang tua, sedemikian pula hormatku pada orang tua yang memiliki kualitas orang muda. Mereka yang mengikuti aturan ini bisa menjadi tua tubuhnya, tapi tidak pernah tua secara pikiran.”

XXXXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 50 Comments

SELAMAT ULANG TAHUN MAMA

Segenap cinta yang pernah ada di dunia. Hanyalah untukmu bahagiaan yang paling terbesar mama.

SELAMAT ULANG TAHUN MAMA

Segenap cinta yang pernah ada di dunia. Hanyalah untukmu bahagian yang paling terbesar mama. Di kehidupan yang ini, betapa aku bersyukur telah dilahirkan dari rahimmu. Mama, engkau telah mengajarkan banyak hal kepada anakmu ini.

Mama, seandainya ananda hidup seribu kali. Hanya dirimu satu-satunya tempat dimana anakmu berbakti. Anakmu yang manja dan keras kepala. Engkau mengetahui dengan jelas hal itu, engkau mengerti dan memperlakukan anakmu bagai raja, raja merajuk.

Mama, tiada kata yang dapat menjelaskan bagaimana rasa cintaku padamu. Bahkan anakmu yang terbiasa bermain dengan pena ini kehilangan kehebatannya. Dan menyerah untuk mecoba merangkai lebih banyak kata lagi.

Selamat ulang tahun mama, dimana setiap pertambahannya adalah kebahagiaan bagi anakmu ini. Selamat Ulang tahun dan tak ada lagi kata. Karena cinta kadang tanpa kata dan puja.

Sebuah ucapan “Selamat Ulang Tahun” untuk mama tercinta

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 15 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN ENAM

Risalah Sang Durjana tampak samping

Risalah Sang Durjana

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN ENAM

Lampisang Aceh Besar, Januari 1873

Kelemahan adalah kekuatan, begitupun sebaliknya kekuatan menjelma menjadi kelemahan. Aku menyeret langkahku enggan pelan menuju rumah Aceh itu. Pihak yang mengundang, pemilik rumah. Tuanku Nanta Setia, putra Datuk Makdum Sati. Keturunan wali negeri Minangkabau ketika masih dalam perlindungan Kesultanan Aceh. Adalah cerita lama sebelum Plakat Panjang terjadi. Keturunan Front liner yang berdarah campur dan masih kerabat dekat kesultanan.

Entah mengapa, aku kehilangan semangat untuk menghadiri. Mungkin aku sudah tua,dan dihinggap penyakit orang tua yang benama kemalasan. Nyamuk Januari sangat mengesalkan berdengung ditelingaku sedari tadi. Aku tiba juga akhirnya. Terlambat, pertemuan sudah dimulai. Belasan kuda memamah biak terlantar disekeliling rumah.

“Tuan terlambat rupanya?” Dibawah rumah gelap terdengar suara. Aku mendekat dan melihat seorang duduk diatas alu penumbuk padi yang lazim ada dibawah kolong rumah panggung. “Sudah dimulai rupanya?” Tanyaku seraya basa-basi mengulurkan tangan.

“Sang Durjana.” Tunjuknyanya. Udara panas malam hari pertanda tak baik. Namun mataku segera membiasakan diri dengan kegelapan. Seorang anak muda, kira-kira berumur sembilan belas tahun. Namun suaranya keras, bariton. Berwajah tirus dan hitam. Memiliki alias yang tebal dan mata yang tajam, entah kenapa aku merasa bertemu dengan orang licik.

Usiaku lebih tua, sehingga berkata. “Sebut saja Abu.”

“Umar.” Katanya datar. “Kamu terlambat juga?” tanyaku. Mata elang itu menatapku dengan remeh. “Aku tak akan terlambat jika diundang paman Nanta. Meski jauh-jauh datang. Diatas ada sainganku Imuem Muda Raja Teunom, negeriku masih bertikai dengan Teunom. Tak elok aku yang datang lebih akhir darinya bertemu dia hari ini.”

“Siapa saja diatas?”

“Selain paman dan si Raja Teunom, ada Pang Hasyim, ada Tuanku Keumala, ada Cut Banta, dan beberapa orang utusan Ampon chik Peusangan. Mereka semua diundang paman untuk membicarakan perang.” Matanya menyala-nyala ketika membicarakan perang seperti orang Neger mempersiapkan pesta.

Aku diundang ke acara seperti ini, semua adalah orang-orang penting. Terlebih Cut Banta yang bergelar Panglima Polim, Panglima Sagoe XXVI. Rasa enggan menebal dipunggungku, aku sudah lelah bertempur. Ingin hidup tenang, yah lagi pula aku bukanlah orang sepenting itu untuk dilibatkan dalam hal taktik menghadapi Kaphe Belanda.

“Belanda melobi Inggris, kita pula hendak meminta bantuan Rum. Perang besar tak mungkin terhindarkan lagi.” Aku hanya diam mengutuki pengetahuanku. Haruskah kukatakan pada anak muda ini bahwa Rum sekarang bukanlah yang dulu, ia sekarang bernama Turki dengan segala penyakitnya, sehingga mustahil membantu Aceh menghadapi Negara Eropa, apalagi jika Britania turut serta. Turki sekarang penakut, kalkun julukan mereka.

“Kenapa harus ada perang?” Aku bertanya pada diriku sendiri.

Umar menatapku tak percaya, seolah melihat makhluk asing yang tak pernah dilihat sebelumnya. “Kenapa Abu? Sudah menjadi penakut? Setelah menikah Durjana menjadi pecundang.” Kemudian ia tertawa keras. Aku menatap anak muda ini kesal, orang seperti inilah yang menyebabkan tanah ini bersimbah darah. Haus darah dan penuh semangat, orang seperti ini berkemungkinan menjadi pahlawan besar sekaligus pengkhianat terculas.

Sudahkah, aku pulang saja. “Sampaikan salamku pada pamanmu anak muda, ketika perang terjadi aku akan ikut serta. Namun saat ini aku ingin menghabiskan hari-hari tersisa dirumah dengan damai. Urusan taktik terserah kalian kaum bangsawan, aku hanyalah jelata.”

“Sang Durjana, kemasyuran namamu hanya sampai disini.” Umar mengejek kekerdilan hatiku. “Dan ingatlah, suatu hari ini dinegeri ini namaku akan berkibar melebihi namamu.” Ia mengeluarkan tembakau linting dari sakunya, membakarnya kemudian menghirup dalam-dalam untuk melepaskan dalam betuk gelang asap. Bau ganja merebak. Gila!

“Maka anak muda, sebutkan dengan jelas namamu dan jika suatu hari aku mendengar namamu niscaya aku tak akan terkejut karenanya.” Tantangku.

“Ingatlah baik-baik sang Durjana, Ahmad, atau Abu. Namaku adalah Umar. Umar anak Meulaboh!”

Sejarah itu lebih banyak ditentukan oleh sebagian besar orang kecil dan sedikit ditentukan oleh orang besar

XXXXXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 52 Comments

CERITA SEBUAH GUDANG

A warehouse as a world

A warehouse as a world

CERITA SEBUAH GUDANG

Hanya sebuah gudang

Dimana setiap sudutnya dihuni serangga

Dimana setiap sisinya dipenuhi kegelapan

Kumuh dan berdebu

 

Diantara bangku dan meja yang lapuk

Duduk termenung menghayati hidup

Merasakan dunia ini laksana sebuah gudang

Dan diri ini semakin kecil dan kerdil

 

Dulu, aku berusaha mengubahnya dengan teriakan-teriakan

Walau mereka ,menutup kedua daun telinga

Dan kini melupakan dan mencampakkan

Kesini disebuah gudang tua

 

Dalam sebuah gudang, terlewat dari hiruk pikuk dunia

Hanya ada keterasingan dan terlupakan

Merasakan nikmatnya sebuah keterasingan

Bersama-sama dengan tikus-tikusnya

 

Banda Aceh, Sabtu 5 Oktober 2002

Posted in Kolom, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 17 Comments

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN LIMA

Risalah Sang Durjana tampak depan

Risalah Sang Durjana tampak depan

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN LIMA

Pantai Cermin, Bandar Aceh Darussalam. Desember 1872.

Akhirnya lima utusan Sultan telah berlayar menuju Melayu Sumatra, Belanda menamakan kawasan itu Riau. Sebagai pembeda dengan Melayu semenanjung yang dikuasai Inggris. Tibang Muhammad yang memimpin delegasi membawa syarat yang sulit dipenuhi oleh Belanda yang intinya Kesultanan Aceh Darussalam sepakat untuk berdagang dan bersahabat dengan Belanda asalkan wilayah yang pernah menjadi bagian Kerajaan Aceh dikembalikan. Di antaranya adalah Sibolga, Barus, Singkel, Pulau Nias dan beberapa kerajaan di pesisir Sumatera Timur.

Perang bukan menjadi kekhawatiran di Kesultanan disini. Para pencinta perang senang mengasah parang, kenangan mengusir Portugis di abad XVI seolah menyakinkan bahwa tanah ini akan selamanya merdeka dari tangan-tangan kaum putih. Berapa kalikah aku mengatakan bahwa ini adakah pandangan yang naïf. Suara sumbang yang kusuarakan menjadikanku orang asing di negeri sendiri. Segenap pengalaman dan ilmu yang kumiliki yang menjadi kekuatanku selama ini diperantauan malah menjadi kelemahan bagiku di negeriku sendiri, tempat yang kuinginkan selalu untuk berpulang.

Sudahlah, aku bosan menjadi orang asing. Apalagi jika itu di negeri sendiri. Aku ingin melakukan sesuatu hal yang berbeda. Cukup rasanya aku memikirkan suatu hal yang bukan menjadi tanggung jawabku. Hanya satu hal, jika perang terjadi maka aku akan mencabut kelewang, rencongku sudah kutabur racun ular padang pasir, oleh-oleh dari pelabuhan Muscat. Senapanku sudah kuminyaki. Aku sudah siap dan saatnya untuk memikirkan kepentingan diri sendiri.

Aku merencanakan sebuah masa depan. Sebagai Onminus Present, akhirnya aku merasakan kelelahan untuk hadir dalam setiap hiruk pikuk dunia. Aku akan menikah, setidaknya ketika perang terjadi aku tak lagi sendiri. Harum namanya, lembut artinya. Berasal dari bahasa Arab. Tak perlu kuceritakan bagaimana dia yang akan membuat jatuh cinta padanya. Yang pasti aku merasakan menemukan seseorang yang tepat disaat yang tepat, di kala aku memahami bahwa sudah waktunya aku mengakhiri segala petualangan ini.

Bang Baka tertawa terbahak ketika mendengar ceritaku, “Kamu yakin Durjana!”

Aku otak kubermain-main dengan banyak kata hingga akhirnya menjawab pendek. “Yakin!” Bang Baka semakin terbahak dan memegangi perutnya.

“Sudah kau katakan padanya kelak dia yang pertama?” Bang Baka adalah satu-satunya orang yang mengetahui riwayat sang durjana.

Aku menggeleng sangat pelan, “Belum bang, tapi suatu hari pasti akan kuceritakan.

Saudagar beras dari negeri Meuredu itu memegang pundakku, dan berbisik. “Katakan dengan jujur padanya, sepatutnya hal ini tidak engkau sembunyikan.”

Kehidupan adalah hal yang penuh rahasia, dan kadang hal yang terlihat bukanlah kebenaran yang mutlak. Haruskah aku yang berjuluk sang Durjana, bajak laut yang telah mengarungi tujuh samudera mengatakan padanya bahwa diriku tak pernah menyentuh perempuan manapun dimuka bumi, tak terbiasa akan pesonanya dan tak pernah menyerahkan hatiku. Lalu bergumam pelan, “Aku takut ia tak percaya. Aku tak ingin ia menganggapku sebagai pembohong. Padahal ia sudah siap dengan seburuk apapun masa laluku.

“Katakan padanya dengan jujur maka ia akan bangga pada dirimu, apapun yang terjadi nanti setidaknya engkau sudah berusaha untuk mengawali dengan kejujuran walaupun sedikit terlambat namun belum terlalu terlambat.”

Aku memandangi mulut Bang Baka berkicau, kalimat yang ia katakan begitu kacau dan tidak tersusun rapi, tapi ada kebenaran didalamnya. “Durjana, sudah saatnya engkau berhenti merahasiakan dirimu dan membuka siapa dirimu. Tokh yang kamu sembunyikan itu bukanlah sebuah aib.” Tambah bang Baka.

Aku terdiam merasakan angin menampar wajahku, di lepau nasi di pantai cermin. Karakterku yang keras, penyendiri dan terlihat dingin ini ternyata bisa memiliki perasaan yang mendalam. Perilakuku yang menyembunyikan sehingga sering disalah artikan oleh orang lain. Matahari pun meninggi dan aku masih diam, berpikir. Untuk diriku sendiri, dan sudah lama aku tak pernah memikirkan diriku sendiri.

XXXXX

Apakah itu takdir sekutu atau seteru

Dan bila Tuhan mengizinkan

Ku hanya ingin sekali saja merasakan cinta

Cukuplah itu bagiku hingga akhir hidup

Hanya itu pintaku

Juga janjiku

XXXXX

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 52 Comments

YUKIMURA SANADA SAMURAI TERAKHIR

Sanada Yukimura (1567-1615); Nama Asli: Sanada Nobushige; Seorang samurai era Sengoku; Dikenal sebagai Panglima Perang dari keluarga Toyotomi ketika mempertahankan benteng Osaka dari serbuan pasukan Tokugawa.

YUKIMURA SANADA SAMURAI TERAKHIR

Angin pagi musim semi merayap pelan masuk dalam benteng Osaka. Pertahanan terakhir keluarga Toyotomi terlihat kusam diantara mekarnya bunga sakura. Wajah sang maut tersenyum menanti saat tepat menyapa membuat suasana gelap pada para penghuni.

Pasukan Tokugawa ada diluar sana, dipimpin seorang yang telaten bernama Ieyasu sang kepala klan. Segenap daimyo terbaik dibelakangnya. Matsume Date si mata satu mendukungnya. Hoichiro Honda berhelm bertanduk pun sudah bersiap diatas kuda siap mencabut nyawa setiap pendukung setia Hideyori.

Tokugawa mengkhianati perjanjian musim dingin. Perdamaian damai bersyarat dihancurkan benteng luar Osaka diingkari. Setiap orang didalam benteng mengutuki ketololan Hideyori sedang pasukan diluar benteng menertawakan kebodohan anak satu-satunya mendiang Hideyoshi sang Taiko yang membawa panji-panji labu emas dalam kebinasaan.

Yukimura dari keluarga Sanada, satu-satunya jenderal yang masih setia pada benteng Osaka memandang katana dengan mata keras. Namun penuh kepedihan. Hideyori bukan bapaknya Hideyoshi, padahal Osaka sudah hampir memenangkan pertempuran musim dingin ketika laskar Edo mengajukan damai. Lacur, Hideyori penakut menerima perjanjian penuh tipu daya. Seluruh negeri kehilangan kepercayaan pada Pasukan Barat.

Suara tatami bergeser pelan, Wakatabe Tenzo masuk membungkuk. Ninja ini sudah menua, alisnya sudah memutih. Ia sudah mengabdi sejak zaman Hideyoshi bahkan ketika mereka dipertuan Oda Nobunaga. “Tuan Sanada, pertempuran sudah pecah digerbang. Pasukan Edo datang dengan meriam Portugis untuk menghancurkan dinding dalam benteng.”

“Akhirnya Tenzo, tiba waktunya bagiku untuk bertempur.” Yukimura berdiri tegar. “Tuan Sanada, sebagai Jenderal baiknya tuan berada disisi Yang Mulia Hideyori.” Bantah Tenzo. Seorang ninja tak boleh membantah Jenderal, setiap prajurit mengetahui kode etik samurai.

Yukimura tersenyum, “Tenzo. Aku akan maju ke front terdepan. Langsung ke kemah Ieyasu, akan aku bawa pulang kepala keparat Mikawa itu sehingga kitalah yang memenangkan perang ini.” Mendengar perkataan tuannya, Tenzo membenturkan kepala ke lantai dan menangis. “Tuan jangan gegabah masih ada perang yang lain, saya mohon tuan pikirkanlah ini baik-baik. Tuan hanya akan menjemput maut, ada dua puluh ribu prajurit menjaga kemah Ieyasu.”

“Tenzo, aku adalah jenderal terakhir setelah semuanya pergi. Apakah mungkin kita menang melawan serbuan pasukan Timur yang datang bagai air bah. Bahkan bertahan saja sulit, perang ini sebenarnya sudah sudah berakhir lama. Bahkan sebelum Sekigahara terjadi. Siapkan kuda Tenzo!” Perintah Yukimura.

Matahari diubun-ubun ketika Yukimura menaiki kuda. Tenzo memegang kekang seraya menangis. “Tenzo, Yang Mulia Hideyori setuju dengan strategiku.” Yukimura meludah kesamping. “Berdoalah pada Hachiman. Akan aku bawa kepala Ieyasu Tokugawa pulang.” Tenzo semakin terisak dan ingusnya pun keluar, “Tuan bagaimana jika kita kalah?”

Yukimura melihat langit menantang matahari terik. “Jagalah kehormatanmu dan matilah dengan tersenyum.” Yukimura Sanada menarik tali kekang dan melaju dengan kekuatan penuh ke pertempuran.

Yukimura Sanada sendirian menembus kepungan pasukan Tokugawa, dengan tubuh penuh panah pasukan lawan. Hari menjelang senja ketika Yukimura Sanada mencapai kemah Tokugawa. Dan ketika ia sudah berhadapan dengan Ieyasu, maut menjemputnya. Tubuh itu pucat, setiap tetes darah sudah tidak menghuni tubuh itu lagi. Ia mati dengan senyuman.

Prinsip utama
Untuk menang dalam perang
Adalah membuat prajurit
Mati bahagia

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  19. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  20. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  21. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  22. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  23. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  24. Ashura; 13 Februari 2013;
  25. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  26. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  27. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 62 Comments

KEKUASAAN PLUIT

Kekuasaan Pluit

KEKUASAAN PLUIT

Wasit adalah seorang yang memiliki wewenang untuk mengatur jalannya suatu pertandingan olahraga. Ada bermacam-macam istilah wasit. Dalam bahasa Inggris dikenal referee, umpire, judge atau linesman. Untuk menjalankan fungsinya dengan baik, wasit dilengkapi dengan sebuah instrumen bernama Peluit. Peluit adalah sebuah alat berukuran kecil terbuat dari berbagai bahan seperti kayu atau plastik yang mengeluarkan suara nyaring ketika ditiup. Peluit umumnya berbentuk lonjong dengan lubang kecil di bagian atas untuk perputaran udara.

Menjadi wasit berarti menjadi hakim dalam sebuah pertandingan, ia adalah pejabat yang memimpin, memutuskan hukuman bagi para pihak. Seringkali wasit menjadi pihak yang paling dipersalahkan oleh keputusan-keputusannya yang dinilai tidak adil dan hanya menguntungkan satu pihak.

Sebagai seseorang yang pernah bermain sepak bola dalam pertandingan antar kampung. Abu adalah termasuk pemain yang bengal, dalam arti kata kerap melawan wasit. Wasit adalah pihak pertama yang Abu salahkan jika tim kami kalah dalam pertandingan, segala kesalahan serta caci maki sumpah serapah ditujukan hanya pada wasit. Satu hal yang jamak dalam kehidupan dunia olah raga kita. Abu pun termasuk didalamnya, menjadi salah satu bagian integral dari masyarakat kita. Sama hingga suatu hari mata Abu terbuka lebar.

Adalah turnamen Futsal yang diadakan oleh teman-teman sekantor. Pada suatu ketika, tidak ada yang ingin menjadi wasit karena akan menjadi pihak yang menerima teror dari penonton dan pemain-pemain dilapangan. Dasar Abu, bangsa mau. Sifat optimis Abu bergejolak dan mengajukan diri sebagai wasit. Hanya bermodal keberanian Abu mencoba.

Ternyata menjadi wasit yang adil itu sulit, meskipun berusaha untuk adil. Pasti ada yang terlewatkan. Sekejap saja hilang kosentrasi maka bisa berakibat fatal terhadap pertandingan. Apalagi jika pertandingan tersebut memiliki tensi emosi tingkat tinggi. Sebagai wasit, sikap fokus dan tegas harus mati-matian dipertahankan ditengah atmosfer keras. Untungkah, wasih dibekali sebuah instrumen kekuasaan bernama peluit yang menjadi pertanda kekuasaannya dilapangan. Dasar Abu, mendapat mainan baru malah keasikan meniup peluit yang malah diprotes oleh para pemain.

Abu baru pertama kalinya menjadi wasit, selalu ada kenikmatan tersendiri terhadap apapun yang kita lakukan pertama kali, itu pasti. Alangkah baiknya jika mengambil hikmah dari segala pengalaman yang kita alami. Ternyata sangat mudah untuk menilai seseorang jika kita dipinggir lapangan, sangat mudah menduga seseorang buruk dari kaca mata kita. Padahal kita tak pernah tahu, apa yang sesungguhnya terjadi. Kita tidak pernah mengkomunikasikan hal itu dengan santun. Dengan emosi dan berbalas emosi, atau yang paling buruk adalah dengan cara bergunjing, membicarakan dibelakang.

Setiap pengalaman menambah ilmu kita, maka Abu sangat senang menjadi wasit. Namun untuk pertandingan berikutnya Abu harus memberikan kesempatan kepada orang lain, bukan karena takut melainkan ternyata Abu telah memaksakan fisik untuk mencapai batasnya, dan sudah saatnya untuk istirahat.

” The optimist sees opportunity in every danger, the pessimist sees danger in every opportunity.”

Milvan Murtadha, 12 Nopember 2009…

 

 

 

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , | 11 Comments