LELAKI SUNGAI

Setiap jagoan perlu ironi. Tiap kali seorang tokoh ditampilkan demikian perkasa, penting untuk ambil jarak. Jarak untuk berpikir lagi, dengan sedikit lelucon. Jarak untuk lebih arif. Ironi membuka pintu ke kearifan itu. Ironi

LELAKI SUNGAI

Manusia ditakdirkan mendapat kehidupan, termasuk ujian untuk bertemu dengan diri sendiri di masa lalu. Mengingatkan, bahwa hidup, sebagai panggilan, sebenarnya sebuah panggilan yang muram, sedih. Dalam kesedihan itu kita seharusnya bertugas.

Di suatu hari yang terik di hutan pekat itu, empat dari lima Pandawa mati satu demi satu. Beberapa jam sebelumnya, Yudhistira, sang sulung, meminta adik-adiknya pergi menemukan air. Ia kehausan, demikian juga yang lain. Seorang demi seorang pun berangkat, tapi tak ada yang kembali.

Cemas, Yudhistira pun pergi menyusul sampai di tepi sungai yang jernih. Ia melihat tubuh dua saudara kandungnya seibu, Bhima dan Arjuna tergeletak. Tak bernyawa. Lalu ia menemukan juga mayat dua adiknya yang lain, Sadewa dan Nakula, Putra Pandhu dari ibu Madrim. Yudhistira terhenyak. Keempat saudaranya mati tanpa bekas pertempuran.

Di tengah pikiran yang gelap dan galau itu, Yudhistira mendengar sebuah berat yang tak tampak sumbernya. “Dengar, Yudhistira”, suara itu berkata. “Keempat Ksatria ini, keempat adikmu, satu demi satu mati karena melanggar. Mereka diberitahu untuk tak meminum air telaga itu. Tapi mereka, dengan penuh kepercayaan diri, bahkan angkuh melawan pantangan itu.”

Siapakah yang bicara? Yaksa yang tak berwujud? Hantu penghuni air yang mengenalnya? Yudhistira terdiam, ia mendengarkan kata-kata selanjutnya. Bukan dharma seorang Kesatrya untuk mendengar, mereka bertindak dan memutuskan berdasarkan apa yang mereka pelajari, ia memahami adik-adiknya menentang sang Yaksa.

Namun saat itu di bayangan Yudhistira, di balik airmukanya yang tenang, ia gentar. Ia melihat siang itu seperti bagian mimpi buruk. Tiba-tiba saja sebuah perjalanan, sebuah proses, sejak hari mereka berlima masuk hutan karena di buang, terpotong. Hanya sembilan hari lagi masa pembuangan 13 tahun itu akan berakhir. Tahta Kerajaan Indraprasta akan dikembalikan kepada keluarga Pandawa. Tapi kini apa yang terjadi? Hanya dia, Yudhistira, yang tinggal.

“Katakan saja, aku sukma air sungai ini. Aku tahu keempat adikmu kehausan, aku tahu engkau kehausan, tapi kau sebaiknya tak melakukan hal yang mereka lakukan.”

Dalam sengsara dan kesengsaraan, kebijakan hati bukanlah kesombongan. Saat itu Yudhistira menyadari, di dunia ini di luar tuhan, ada makhluk-makhluk yang jauh lebih kuat darinya. Dan ketika merasa lebih unggul daripada orang lain, disitulah kekalahan bermula. “Izinkan aku minum”, Yudhistira memohon, meminta sesuatu yang mungkin tidak diberikan, tanpa tahu harus berbuat apa jika tidak diizinkan.

“Akan aku izinkan. Tapi kau harus menjawab lebih dahulu beberapa pertanyaan sebelum boleh mereguk air ini.” Kerendahan hati bukankah selalu lebih baik daripada kesombongan, akan tetapi ketika merendah, pihak lawan hampir selalu mengajukan syarat. (Mungkin) itulah sebab kebanyakan orang enggan berlaku rendah hati.

Di saat itu ia bisa memilih. Ia membiarkan dirinya mati seperti keempat Pandawa lain, atau ia bersedia pertanyaan suara Gaib. Tapi ia tak tahu apa yang terjadi jika jawabannya salah. Akankah ia mati juga? Ataukah ia akan dibiarkan hidup tapi tetap tak bisa meminum air danau? Dalam Mahabharata dikisahkan, Yudhistira memutuskan untuk bersedia menjawab pertanyaan yang akan menghadangnya. Dengan itu sebenarnya bagaikan meloncat ke jurang yang gelap di depan.

Syahdan, dalam karya besar tersebut, beberapa pertanyaan dimajukan. Yudhistira menjawab dengan pasrah. Sampai yang paling akhir, paling menentukan.

Kata suara gaib, “Salah satu dari adikmu akan segera kuhidupkan kembali. Siapa yang kau kehendaki, Yudhistira?”

Yudhistira terdiam. Ia pejamkan matanya, dan pilihan-pilihan yang sulit bertabrakan dalam gelap. Akhirnya sahutnya lirih, “Nakula.”

“Nakula?” Suara itu heran. “Bukan Bhima, saudara kandungmu yang kau sayangi, kekuatannya setara dengan puluhan gajah? Bukan Arjuna, sang pemanah piawai?”

“Bukan,” jawab Yudhistira, kata-katanya semakin mantap. “Sebab yang melindungi manusia bukan senjata, bukan kekuatan. Pelindung utama adakah dharma. Nakula aku pilih karena aku, yang selamat dan hidup, adalah putra Kunthi. Sudah sepatutnya putra Madrim juga harus ada yang hidup seperti diriku. Itu adil.”

Kata “adil” itu seperti bergetar di seluruh permukaan air. Mendengar itu, suara gaib seakan-akan membisu, dan tak lama kemudian muncullah Batara Yama di depan Yudhistira. Dewa maut itu dengan mesra memeluknya. Kahyangan  terpesona akan kata-kata putra sulung Pandhu yang barusan diutarakan. Anugerah pun diturunkan. Keempat jenazah bersaudara itu, tak hanya Nakula dihidupkan kembali.

Yudhistira, 13 tahun yang lalu ia seorang penjudi yang gagal. Tapi dalam hidup, kapan perjudian berakhir? Tadi juga ketika ia memutuskan untuk bersedia menjawab suara gaib, ia merasa dirinya ibarat sebuah dadu yang terlontar dan tak bisa menentukan bagaimana ia akan jatuh. Tiap lemparan adalah pengakuan bahwa hidup adalah kecamuk kebetulan-kebetulan. Tak jelas arahnya. Absurd.

Juga di tepi sungai itu. Yudhistira sebenarnya tak tahu, muka mana dari dadu yang akan muncul dan apa yang menyebabkannya. Kupilih Nakula, tapi aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti dengan sisa hidupku di hutan ini. Aku tak tahu dan aku gentar, tapi ada sesuatu yang serta merta memperkuat dirinya, perasaan telah memilih yang adil.

Mungkin itulah sebabnya 13 tahun yang lalu, ia menerima tantangan para Kurawa untuk bermain dadu, dengan sikap tawakal yang membingungkan. Ia mau menghadapi lawan judi yang tangguh dan curang, Sengkuni. Ia kalah, dipermalukan, diusir dan diasingkan selama 13 tahun.

Ia tak berhitung dengan kalkulasi kemungkinan. Tak ada strategi mendapatkan tampilan dadu yang pas dengan yang ditebaknya. Ia cuma memandang ke langit-langit gelap, merasa tiap lontaran tak pernah sama, biarpun berkali-kali. Tiap dadu yang jatuh adalah kebetulan yang niscaya tak dapat diperhitungkan. Teori probabilitas terlampau menyederhanakannya.

Yudhistira berani, tapi bukannya tak ada persoalan disini. Kesediaanya menghilangkan diri sebagai subjek, dan menyerah pada nasib, ternyata tak mampu membuatnya menyentuh dunia di luar dirinya. Maka lakunya jadi bagian dari kekejian, ia jadikan hartanya, kerajaannya, adik-adiknya, bahkan dirinya, dan akhirnya istrinya, jadi barang taruhan. Semua jatuh ke tangan lawan.

Saat itu ia tampil dengan askesis yang kukuh. Sanggup menerima absurditas hidup seraya menghilangkan diri sebagai subjek yang menguasai hal ihwal. Tapi dalam tawakal itu ia tak tergerak oleh liyan, tak terpanggil untuk memikirkan sesama yang lain. Ia memilih diam.

Akhirnya, 13 tahun kemudian ia berubah. Dari adegan di tepi telaga itu tampak, hari itu Yudhistira bukan lagi pelontar dadu yang lembek di depan Sengkuni. Nasib dan kelak tak dapat dikuasainya, tapi ia tak pasif. Ia bukan seonggok robot. Ia memilih dengan hati, Nakula. Ia korbankan cintanya kepada Bima dan harapannya kepada Arjuna.

Artinya, ia hadir dalam subyektifitas yang kuat. Saat itu dharma bukan aktualisasi “aku yang teguh”, melainkan kesetiaan kepada kata “adil”, sesuatu yang menjadikan dirinya kukuh dimomen yang menentukan itu, sesuatu yang membuat rasa hidup tak terhingga. Ada yang ajaib di kejadian itu, ia merasa harapan, cinta, dan kesediaan, walau dalam cemas dan ketidaklengkapan.

Sejak itu, dalam Mahabharata. Yudhistira adalah ksatria yang ganjil. Ia berbeda, naik tahta dan menganggap diri pendosa, begitu banyak manusia dibunuh agar Kerajaan Indraprasta kembali ke tangan keluarga Pandhu. Baginya, perilaku para ksatrya, kasta pendekar perang, mirip tingkah anjing yang memperebutkan sisa makanan.  Ia tahu posisi kekuasaan dan dharma selalu akan bertentangan. Dan ia harus memilih, setiap pilihan akan membuka pilihan berikut, dan ia tak akan berlari dari pilihan tersebut, lagi.

Dengan demikian ia memang tak sepenuhnya mematuhi aturan kitab suci tentang manusia, kasta dan peranta. Tapi seperti yang diajarkan oleh suara gaib di tepi sungai itu, orang tidak menjadi bijaksana hanya dengan mempelajari kitab suci semata. Ia harus hidup dan membuat pilihan.

Kadang dalam hidup kita berbuat kesalahan, kita hanya mampu berusaha memastikan bahwa kita tak akan mengulanginya lagi, tanpa tahu bagaimana hasilnya.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 56 Comments

FANA

Sesungguhnya masa lalu, sekarang dan masa depan itu tidak ada. Semua hanyalah gerak semata.

Sesungguhnya masa lalu, sekarang dan masa depan itu tidak ada. Semua hanyalah gerak semata.

FANA

Kata adalah kata, kita cinta karena kata-kata, kita percaya karena kata-kata, nasib terperangkap dalam kata. Mungkin dunia yang kita lihat bukan dunia yang sesungguhnya, sebenarnya beragam gradient warna itu di mata orang lain berbeda. Hanya persepsi yang membungkusnya, menyajikan berbeda. (Mungkin) setiap hari kita melihat hal yang sama, namun waktu menjadikannya berbeda. Semua kehidupan akan berakhir (fana), semua hati akan patah. Maka biarlah kita menggunakan waktu sebaik mungkin

Semua manusia fana, karena ia berubah, ia bergerak. Seseorang yang berumur 29 tahun, ketika diperhatikan potretnya sewaktu berumur 12 tahun, waktu kecil. Berbeda sama sekali rupanya, boleh dikatakan dalam tiap segi. Demikian pula tindak tanduk, laku perbuatan dan perangainya. Dan kita dapat memperkirakan jika ia mencapai umur 80 tahun, maka berbeda pula rupa dan perangainya. Lalu timbul pertanyaan, apakah ia merupakan orang yang berbeda? Maka dialektika menjawab, ketiga itu adalah orang yang sama. Berbeda rupa dan sifat karena peranan waktu.

Alam ini selalu dalam perubahan, tidak ada yang tetap, hanya Tuhanlah yang serba-tetap. Selain daripada itu, tiap-tiapnya selalu mengalami perubahan. Demikianlah manusia berubah, alam pikiran berubah, penghayatan berubah, kebudayaan berubah, pandangan berubah, mentalitas berubah. Sesungguhnya masa lalu, sekarang dan masa depan itu tidak ada. Semua hanyalah gerak semata.

Perubahan di tandai peristiwa, dalam peristiwa ada beberapa keadaaan yang datangnya berturut-turut dalam waktu. Dan waktu adalah syarat bagi peristiwa. Tanpa waktu tidak ada peristiwa. Perjalanan waktu memungkinkan adanya keadaan pertama, disusul kejadian kedua. Tanpa perjalanan waktu keadaan pertama tetap adanya, gerak menjadi ada, karena ada waktu. Surga digambarkan sebagai tempat tanpa perubahan, karena disitu waktu berhenti.

Tapi itu saja belum cukup! Untuk menjadikan sesuatu peristiwa harus ada hubungan antara kedua keadaan itu, yang disebut hubungan sebab-akibat – Hukum Kausalitas. Peristiwa terdiri dari dua keadaan yang berurutan dalam waktu, dan keadaan yang satu berhubungan dengan yang lain. Di surga, dimana hanya ada keabadian, waktu tidak hadir juga perbuatan.

Kekacauan menyertai setiap perubahan besar. Perubahan itu tidak mutlak baik atau buruk, namun pengetahuan selalu berguna. Karena penyesalan itu hanya milik orang yang mampu melakukan sesuatu, tapi tidak melakukan apa-apa

Di dunia ini, manusia adalah manusia, meski dunia ini adalah nihil yang indah. Dunia yang fana ini, ada yang menyentuh, mengejutkan, dan mempesona di sana. Dan di dalam sejarah, di luar surga, manusia harus siap kecewa, tapi (juga) mensyukuri apa yang fana.

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , | 5 Comments

JARING KAMALANGA

Lawan bukanlah musuh, dan manusia, makhluk yang bermain, tak usah malu untuk tak senantiasa bersungguh-sungguh.

JARING KAMALANGA

Impian itu berbagai-bagai coraknya, isi dan maksudnya, ada impian yang tidak teringat lagi pada saat bangunnya, ada yang teringat tetapi tidak mengandung maksud apa-apa, ada lagi impian yang teringat benar-benar dan mengandung maksud apa-apa, ada lagi impian yang teringat benar-benar mengandung keadaan, ada pula yang mengandung ramalan tentang kejadian akan tetapi dengan perlambang dan ada juga yang mengandung ramalan tentang kejadian tidak dengan perlambang, akan tetapi dengan senyata-nyatanya. Impian-impian yang mengandung ramalan itulah peristiwa-peristiwa gaib, yang menjadi bukti, bahwa rohani mempunyai hadirat sendirim kecakapan sendiri dan dapat bertindak sendiri.

X

Pada sebuah malam yang sepenuhnya dikuasai kegelapan, di dalam sebuah liang di tanah, seorang bocah tertidur pulas di lantai. Liangnya bukan liang yang buruk, kotor, basah, penuh cacing dan berbau busuk. Juga bukan liang yang kering, gersang, dan berpasir, di dalam liang tersebut hanya ada satu kursi, bocah tersebut meringkuk bawah kursi tersebut, tidur dalam damai. Liang ini berpintu bundar, sejenak kemudian pintu terbuka, masuklah Sang Musang dan Sang Ular, lama mereka memperhatikan lelapnya tidur sang bocah.

Berkata sang Musang kepada sang Ular. “Sungguh kasihan bocah yang tertidur itu, baiknya ia kita serahkan kepada Kamalanga, agar disembuhkan luka-lukanya.”

Menjawab Sang Ular kepada Sang Musang.  “Sungguh licik engkau sang Musang, demi melepaskan diri dari jerat jaring Sang Kamalanga, engkau rela menumbalkan bocah naif itu!”

Tertawa sang Musang dengan terbahak, ia berkata. “Wahai sang Ular, jaring Kamalanga tidak akan mampu menjeratku. Aku unggul segalanya dibandingkan dia, aku hanya kasihan pada bocah ini, jaring Kamalanga sangat baik untuk mengobati, dan Sang Kamalanga juga membutuhkan teman yang naif.”

Sang Ular mengenyitkan dahi, “Sungguh kitab Suci menceritakan keburukanku, namun sesungguhnya Sang Musang, engkau lebih jahat dibandingkan aku. Tak mungkin aku berseteru denganmu, wahai Sang Musang yang Bijak. Lebih baik aku turut rencanamu.”

Sang Musang menjabat Sang Ular, “sepakat!”

Entah kebetulan, entah takdir Tuhan yang menyibakkan rahasia dalam kegelapan. Bocah tersebut belum sepenuhnya tidur, ia mendengar percakapan mereka. Tak lama kemudian, setelah Sang Musang dan Sang Ular berlalu, ia yang malang itu duduk di kursi sambil memegangi kepalanya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa yang telah dan akan terjadi, siapa Sang Musang? Siapa Sang Ular? Dan siapa Sang Kamalanga?

Sayup-sayup terdengar suara nyanyian.

“Sang Kamalanga, tak bersuara menangis, tak bersayap terbang, jauhkan diri dari jerat jaringnya, bergigi mengigit, mulut berbisik, mula-mula ia memamah lalu mengunyah, kemudian diam tak berubah. Sang Kamalanga, benda ini makan segalanya. Sang Kamalanga, dan jaring-jaringnya.”

Bocah itu tercekat dan pucat.

XX

Suara riuh dan menggaduh itu membangunkan Ahmad, sudah sepertiga malam. Sepertinya aku tertidur beberapa jam saja tadi. Ia jengkel jengkel karena terlonjak bangun. Tapi ia segera merenggangkan tubuh sekejap, bagaimanapun aku sudah terbangun pikirnya. Ia menyapu pandangan disekeliling kamar, terkejut ternyata ada sesosok berbaju putih sedang duduk di lantai memperhatikan dirinya sedari tadi, Ahmad merasa akrab dengan orang tersebut. Ia mencoba mengingat siapakah gerangan lelaki yang tersenyum ramah seraya menyilangkan jari menatap dirinya. Lalu ia mengingat siapa orang tersebut.

“Engkaukah itu Muhammad?”

Sosok tersebut tersenyum lebar, kemudian balas bertanya kembali. “Benar Ahmad, ini aku Muhammad.  Apa kabarmu wahai Ahmad?”

Ahmad terlonjak senang, ia bertemu sahabat lama yang tak kunjung memberi kabar. “Aku baik-baik saja sahabat, sudah berapa lama kita tidak bertemu? Sekitar sepuluh tahun ya.”

Muhammad menggeleng, “mungkin kamu sudah tidak melihat aku selama sepuluh tahun, namun aku selalu melihatmu. Tahukah kamu? Aku tidak akan mengunjungimu jikalah aku merasa kamu tidak membutuhkan aku.”

“Aku rindu padamu sobat, kita berdebat tentang hakikat setiap malam dulu. Ada masa-masa aku mencari sumber ilmu pengetahuan bagi segala raguku, engkaulah yang menuntunku dahulu. Tapi, kalau alasan aku membutuhkan kamu saat ini, sepertinya kamu mengarang. Aku baik-baik saja, memiliki hidup yang hebat sekarang, lihatlah.” Ahmad tertawa riang.

“Kamu selalu optimis Ahmad, itulah yang membedakan kita sedari dulu. Sayangnya Ahmad, kamu yang dengan rasa ingin tahu yang riang berharap mendapatkan musim semi baru, musim panas baru dan bulan-bulan yang baru selamanya tak menyadari bahwa dalam kerinduanmu itulah terbawa kuman kematian.”

“Mengapa kamu berkata seperti itu sahabatku? Kata-katamu sedikit mengerikan?”

“Kamu sudah melewatkan banyak hal Ahmad, untuk itu aku bersedih untukmu. Aku hanya mengingatkanmu, bahwa kepekaanmu terhadap hal detil telah melemah jauh. Kamu tidak sadar, ada tangan-tangan ajaib yang telah menuntunmu menuju jaring Kamalanga.”

Ahmad terkejut, ia tahu Muhammad adalah satu-satunya sahabat di dunia yang selalu memberitahukan kebenaran, pahit atau manis sekalipun. “Jika aku salah melihat apa yang tersirat maka beritahukanlah wahai sahabat.”

“Untuk itulah aku hadir untukmu sobat, aku hanya ingin mengingatkanmu. Namun sebelum aku memberitahukan itu, aku meminta satu syarat padamu.”

“Apa itu wahai Ahmad?”

“Bersiaplah untuk kecewa, selepas ini dunia tidak akan pernah engkau pandang sama. Dan aku meminta kepadamu, jangalah terlalu kecewa apabila apa yang kamu lihat dan kamu dengar tidak sepenuhnya benar.”

Antara ragu dan tidak, akhirnya Ahmad mengangguk. Kemudian Muhammad berdiri, ia menempelkan telapak tangannya ke dahi Ahmad, seberkas cahaya perak keluar dari situ. Tak lama kemudian, waktu berputar terbalik mundur satu hari, satu bulan, satu tahun sampai tiga tahun kebelakang. Kemudian tertampilkan di situ sebuah layar yang berjalan perlahan, menampilkan dirinya, menampilkan orang-orang disekitarnya, menampilkan dialog-dialog yang terpenggal, dan tertampilkan kejadian-kejadian yang tidak ia ketahui, beberapa kejadian seharusnya ia ketahui sendiri, beberapa tidak. Setelah ia mengetahui segalanya, Ahmad terisak. Hatinya sangat sedih.

“Kamu sudah berjanji sobat.” Muhammad mengingatkan.

Ahmad menjawab, “aku adalah orang yang kadang-kadang juga mengingkari janji, kamu tahu itu. Tapi aku sudah meneguhkan hati. Tapi tenang sobat, aku akan mencoba menepatinya. Hanya saja, aku berpikir aku menang, ternyata tidak. Aku berpikir aku hebat, ternyata juga tidak.”

“Seperti ketika kamu berpikir aku ini ada, padahal mungkin tiada?” Muhammad tersenyum.

“Kita. Aku dan kamu sudah mengetahui sedari dulu, bahwa kita ini satu. Aku adalah kamu, dan kamu adalah aku.”

Mereka adalah sepasang cermin yang saling memantulkan. Dalam wajah yang sama.

Muhammad tersenyum. “Iya.”

“Aku hanya ingin menyampaikan salam dari mereka yang mencintaimu, percayalah harapan itu ada. Baik mereka yang sudah ada di alam berbeda, maupun mereka yang masih ada di dunia namun tak bisa menyentuhmu lagi.”

“Sampaikan salam dariku untuk mereka, dan kamu sobat! Rajin-rajinlah berkunjung.”

“Baik sobat.” Muhammad memamerkan gigi mereka yang serupa. “Tapi aku tak bisa berjanji selalu hadir. Pesanku adalah janganlah menyalahkan siapapun dalam hal ini, baik Sang Musang, Sang Ular, Sang Kamalanga, atau siapapun itu. Ikhlaslah sahabat, sekarang kamu sudah dewasa sekarang.”

“Jika aku ragu, kemanakah aku bertanya sobat?” Ahmad kebingungan.

“Percayakan bahwa hatimu adalah tempat dimana segala bermuara atas ilham dan karunia dan segala yang datang dari tuhan, dan dimana Tuhan membisikkan setiap kebenaran didalamnya sebagai petunjuk atas segala keraguanmu terhadap sesuatu yang masih buram bagi penglihatan kasatmu, atau hatimu yang masih dikuasai ragu. Maka jujurlah kau padanya. Jangan lukai atau nodai kesuciannya. Percayalah, seorang lelaki dengan hati nurani, adalah lelaki yang paling berbahaya di dunia.” Muhammad tersenyum kemudian memeluk Ahmad, samar-samar tubuhnya menghilang, tinggallah Ahmad yang terdiam dan terpaku.

XXX

Aku terjaga dari mimpi, sepertinya aku bermimpi didalam mimpi. Dunia mimpi timpa menimpa. Benar-benar mimpi yang eksatik. Sayup-sayup terdengar suara adzan Shubuh. Sebentar lagi hari yang baru akan dimulai kembali, tahun ini menjelang akhir, antara cita-cita, harapan dan kerelatifan masa depan. Aku hanya ingin mengucapkan selamat pagi yang baru, sekaligus pagi yang lama, selamat pagi dunia yang purba, selamat pagi repetisi.

Terima Kasih ya Allah atas mimpi ini, segala puji dan syukur untukmu Penguasa Semesta Alam. Dan aku mengawali hari dengan mata berkaca-kaca.

XXXX

Pertanyaan dalam hidup yang paling tampak mudah, sekaligus yang paling susah dijawab, adalah “siapa saya?” Betapa banyak orang menghabiskan seumur hidup untuk mencari jati dirinya sebenarnya.

XXXXX

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Perjalanan; 29 November 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 51 Comments

SELUBUNG IMPRESSI

Sesungguhnya masa lalu, sekarang dan masa depan tak ada. Semua hanyalah gerak, semata.

Sesungguhnya masa lalu, sekarang dan masa depan tak ada. Semua hanyalah gerak, semata.

SELUBUNG IMPRESSI

Kenapa asap rokok tak pernah kembali ke rokok? Mengapa molekul saling berjauhan satu sama lain? Kenapa tetesan tinta tak pernah kembali? Karena alam semesta berkecenderungan berevolusi semakin kacau, berhubungan dengan panah waktu, hasil perluasan alam semesta. Apa jadinya jika waktu bertemu dengan gaya gravitasi? Apakah yang terjadi pada waktu? Akankah berputar terbalik? Tidak ada yang tahu pasti jawabannya.

Sejujurnya, ini bukanlah kisah tentang seseorang yang minta dimaklumi atas tindakannya di masa lalu, bertahun ke belakang. Bukan karena seseorang itu memiliki super-ego, yang pertama tiba dengan penuh ambisi, cita-cita tinggi sekaligus tekanan dasyat. Ini adalah kisah tentang seseorang, ketika dihadapkan pada pilihan yang mustahil, saat satu-satunya gerakan yang ia lakukan adalah tidak bergerak. Sebelumnya, ia tak mampu memilih karena ia tak tahu apa yang akan terjadi. Kemudian meskipun ia tahu apa yang akan terjadi, ia masih tak mampu memilih.

Kehidupan ini adalah sekumpulan kemungkinan yang menjalin satu sama lain membentuk sebuah jalan-jalan pilihan bercabang baik yang disengaja maupun tiada. Ada kemungkinan bahwa kita tidak terlahir sebagai manusia. Atau pernah kita menghitung berapa rasio kemungkinan, bahwa kita adalah yang terpilih untuk dilahirkan. Dan mungkin kita pernah melalui satu, dua, tiga atau bahkan lebih peristiwa yang mungkin saja merenggut nyawa kita lebih cepat dari hari ini.

Seseorang mungkin saja tidak pernah bisa memilih beberapa kemungkinan seperti dilahirkan dimana, oleh siapa, kapan waktunya atau pun jenis kelamin. Namun ia mampu memilih beberapa hal seperti siapa sahabat, cinta, atau bahkan sekalipun musuh. Sering, dalam kehidupan hanya ada satu kesempatan memilih, jika buruk pun tetap harus dihadapi. Manusia tidak tergelincir karena bebatuan besar, melainkan karena kerikil.

Kedepan, mungkin lebih banyak kemungkinan. Dan bila dibayangkan mungkin akan membuat semua kemungkinan itu menjadi jelas atau mungkin semakin kabur. Seperti tidak dapat memilih dimana dan kapan meninggalkan dunia, namun setidaknya seseorang masih bisa memilih bagaimana kemungkinan-kemungkinan bagaimana menjalaninya. Masalahnya, manusia tidak bisa kembali ke masa lalu, karena itulah sangat sulit memilih. Ia harus membuat pilihan yang tepat, ditambah lagi, selama tidak memilih segalanya masih mungkin. Karena itu ia meragu, mungkin dan mungkin. Mungkin teori kemungkinan sulit terdefenisikan. Aku tak menemukan penjelasan lain atas keadaan ini, hanya itu kemungkinannya.

Ketika musim berganti. Aliran waktu yang sama masih terus mengalir. Terkadang tenang, terkadang menggelegak marah. Terkadang lebar bak tak terbatas, terkadang mengkerut diisap dinginnya musim dingin. Tapi ia terus mengalir, karena ia sang pemisah takdir.

Mungkin, penting meyakini semua pilihan kehidupan itu nyata, semua jalan adalah benar, semuanya bisa menjadi apapun dan sama maknanya. Kau tahu orang mengatakan, semua bisa diperbaiki pada akhirnya, meskipun buruk. Pengharapan, doa kita selaku manusia kepada “Ia yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” adalah Khusnul Khatimah (Akhir yang baik).

XXXXXX

Posted in Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , | 7 Comments

MEREKA YANG BANGKIT (KEMBALI)

Manusia boleh berusaha, dan mungkin gagal. Tapi ada berkah di balik kegagalan itu. kurasa, aku hanya belum memahami itu

MEREKA YANG BANGKIT (KEMBALI)

Pernahkan anda merasa gagal? Pernahkah anda mempunyai perasaan tidak bisa bangkit kembali? Hal itu dikarenakan anda berada dititik nadir kehidupan anda, maka optimislah dan teruslah berusaha untuk bangkit dan memperbaiki diri. Karena kemenangan/kesuksesan yang sejati bukanlah keberhasilan yang terus-menerus tanpa pernah mengalami kegagalan. Dimana rasa percaya diri yang berlebihan membuat keberhasilan itu menjadi rapuh dan mudah goyah.

Lihatlah kemenangan bangsa Mongol/Tartar yang menaklukkan negeri China, Khawarizmi, Khalifah Baghdad dan menguasai imperium membentang dari Korea hingga Persia dan sebagian Arab (tidak termasuk Mesir dan negeri dibelakangnya tentunya). Dan dari Samudera Hindia hingga Siberia. Akan tetapi dengan hanya satu kekalahan di Ain Jalut, Palestina menghadapi Pasukan Mesir dibawah pimpinan Al-Muzhafar Saifuddun Qathaz dan Panglima Mameluk  Babar, membuat bangsa mongol/Tartar hancur dan tak pernah bisa bangkit kembali selama-lamanya.

Manusia dikenal karena sejarah

Manusia dikenal karena sejarah

Pemenang sejati adalah orang-orang yang mampu bangkit dari segala kesulitan terburuk yang dialaminya untuk kemudian menjadi lebih baik, lebih kuat, lebih berhati-hati dan lebih berpengalaman.

Walaupun kadang-kadang yang bangkit itu bisa terlena kembali, seperti Adolf Hitler. Seburuk-buruknya Adolf Hitler sebagai seorang pribadi, sebagai seorang pemimpin negara. Ia adalah orang yang mampu mambawa Jerman dari kepapaan setelah Perang Dunia I, dan perjanjian Versailes yang melecehkan bangsa Jerman. Menjadi bangsa yang besar dalam jangka waktu hanya 12 tahun! Walaupun diakhir priode ambisinya yang megalomania mengakibatkan berjuta-juta orang sengsara.

Atau lihatlah bapak proklamator kita bung Karno, yang keluar masuk tahanan dipindahkan dari satu daerah ke daerah lainnya, malah menghasilkan wawasan kebangsaan yang utuh serta menghasilkan karya monumental “Indonesia Menggugat” dalam tahanan penjara. Keyakinannya akan kemerdekaan Indonesia tak pernah padam, walaupun sekali lagi diakhir periode kepemimpinannya ia berbuat kesalahan sehingga harus meletakkan jabatan dan disingkirkan.

Belajar, belajar dan belajar, baru kita bisa bangkit. Sebagai contoh di Jepang, Ieyasu Tokugawa penguasa provinsi Mikawa menghabiskan masa kecil dan remajanya sebagai sandera dari Yoshimoto Imagawa penguasa provinsi Suruga demi kelangsungan pronvinsi Mikawa. Dalam masa tahanan “sangkar emas” yang penuh dengan tekanan tersebut Ieyasu menyusun grand stategy sehingga siapa sangka kelak di kemudian hari ia mendirikan Keshogunan Tokugawa yang menguasai Jepang dari tahun 1600-an hingga dijatuhkan oleh retorasi Meiji diakhir 1800-an.

“I Shall return” adalah ungkapan legendaris Jenderal MacArthur dari Amerika menghadapi situasi porak-porandanya pasukan Amerika Serikat di Pasific di tangan armada Jepang diawali oleh serangan kilat ke Pearl Harbor pada 9 Desember 1941. Dan benar saja, di tahun 1944 pertempuran di Iwo Jima Kepulauan Pasifik menjadi titik balik kebangkitan Sekutu dalam front Pasifik hingga akhirnya memenangkan Perang Dunia II.

Contoh lain, konon pendiri Dinasti Ming terkalahkan dalam sembilan puluh sembilan pertempuran melawan pasukan Dinasti Yuan dan hanya memenangkan satu pertempuran terakhir yang ia manfaatkan sebaik mungkin sehingga berdirilah dinasti Ming saat itu di negeri China saat itu.

Atau lihatlah bagaimana Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Khalifah Ustmaniyah yang menaklukkan konstantinopel dalam satu serangan pamungkas, setelah sebelumnya berkali-kali gagal. Bahkan usaha penaklukan Konstantinopel sudah dimulai oleh Muawiyah jauh sebelumnya. Atas usaha Muhammad Al-Fatih yang saat itu masih berusia 23 tahun hingga saat ini Konstantinopel (sekarang Istanbul) hingga saat ini menjadi bagian dari Daulah Islamiyah.

Pengalaman adalah guru yang terbaik, maka belajarlah dari pengalaman. Meski itu pahit ataupun manis. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mau belajar.

“Ada yang bilang, pengalaman adalah guru yang buruk, karena selalu datang terlambat. Maka, jika mungkin belajarlah sedari kemarin bukan besok”

Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 12 Comments

JUST FOR YOU

Love at first sight

Her face was as calm as the lake of unexpected depth for anyone.

JUST FOR YOU

The sea breeze singing softly

Birds flying low in a cloud

Watch the life history scrolling

Nature has always kept a mystery

Come back here, O include your beautiful shawl

Presents eternal dream of all time

Indescribable, unimaginable

When days turned into night

I still beg you

Through the clouds to descend to earth

In God’s perfect creation

Bait Al-Hikmah, 14 December 2013

Posted in Fiction, International, Literature, Poetry, Story | Tagged , , | 7 Comments

NISBI

Di kala bayang langit kelabu yang tiap hari merundung, dengan matahari berbalut suram. Aku merindukan langit biru. Dalam kenangan langit biru, hujan deras, embun pagi, nyiur melambai, dan deburan ombak.

Di kala bayang langit kelabu yang tiap hari merundung, dengan matahari berbalut suram. Aku merindukan langit biru. Dalam kenangan langit biru, hujan deras, embun pagi, nyiur melambai, dan deburan ombak.

NISBI

Mungkin ini hanya utopia nirwana, dan bahwa hidup itu harus selalu diisi dengan cinta kasih. Lantunan ini terdengar begitu murni, seperti bocah-bocah sekolah berbaris di depan gerbang, berteriak gembira mengekspresikan keriangan hati terdalam, kepolosan ekspresi bocah-bocah yang sungguh menggetarkan hati.

Tapi, itu tidak sepenuhnya benar.

Dan (terkadang) kita harus pasrah menerima (beberapa) nasib buruk sebagai takdir. Dan (mungkin) tak ada tafsir kata yang akan tepat berbicara, ketika lidah seolah menolak berkata-kata padahal banyak yang ingin diungkapkan.

Dan (ternyata) derita jiwa tak menumpul seiring bertambah usia. Ada kebanggaan yang pudar, semangat yang menipis, seperti sungai yang begitu deras dan dasyat di hulu, lalu meresap dan melebur dalam kegersangan gurun di hilirnya.

(Pasti) setiap manusia memiliki beberapa cerita tersembunyi, bahwa sebenarnya hidup mampu menebus ketidakmurnian yang lain. Pahit tapi ironis, pasrah juga menyimpan gairah. Ia yang sunyi, terasing di antara lalu lalang, siap menjangkau peta yang berbeda, zaman yang lain, meski tak selamanya didukung. Disitu ada rindu, dimana diharapkan hadir kebajikan.

Yang memukau tak selamanya memukau.

Ketika terhenyak merasakan perasaaan, perasaan yang sudah lama tak pernah datang kembali. Kekosongan dan kehampaan mengundang misteri. Dalam putih sempurna yang begitu luas, membuat merenung, apakah kehidupan (seperti) di samudera hampa itu, Nisbi.

Sesungguhnya, tiap-tiap langkah terlewat adalah sejarah. Dibalik diam ada syair, dalam gerak ada zikir. Saat zikir-zikir mulai patah-patah, mata perlahan tertutup, kemudian lelahnya lidah terhenti jiwa yang terlelap.

Tetapi, semua manusia pasti (pernah) punya masalah.

Dan (mungkin) hanya dalam sengsara dan mengenal kesengsaraan. Kebesaran jiwa bukan sebuah kesombongan. Dan (selalu) sebuah pagi setelah hujan akan sangat menyegarkan. Harapan atas keyakinan berjuang untuk setia pada mimpi, adalah kegilaan yang memberi harga pada manusia.

Bait Al Hikmah, Hari Asyura, 10 Muharram 1435 H (bertepatan 13 Desember 2013)

Posted in Cerita, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

MERAJOK ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Assosiasi Budjang Lapok, Pada Masa Puncak Kejayaan Organisasi.

MERAJOK ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Setiap kata, kalimat, tindakan adalah perwujudan diri. Melekat kuat pada kesejatian individu sehingga siapapun kelak akan mengenalinya sebagai “hakikat jiwa” dari seorang anak manusia. Meski jiwa adalah substansi sederhana, ia tidak dapat diraba dengan salah satu pancaindera, karena pancaindera tiada memiliki kemampuan mengetahui selain sesuatu yang dapat diraba. Jiwa itu adalah ma’rifat akal yang (mungkin) saling bertentangan, sulit memperoleh pengertian melalui pancaindera belaka.

X

Everybody changing, but old friends still same

Everybody changing, but old friends still same

Assosiasi Budjang Lapok adalah organisasi Paradoksal. Kadang-kadang dalam berbual di lepau nasi mereka terlihat saling akur, tentram dan gembira. Akan tetapi ada juga saat mereka saling menikam lewat kata-kata berduri dan tanpa tendeng aling-aling. Semua pernah menjadi korban pembunuhan karakter ini, terluka dengan parah bergantian. Namun, dunia selalu menyimpan perkecualian, dalam hal ini Barbarossa selalu selamat. Karena ketua Assosiasi ini memiliki kelebihan meralat kata-katanya sendiri, menurut bahasa ABL itu adalah Ilmu Adjust (Penyesuaian). Jurus pertama adjust adalah lupa, atau pura-pura lupa. Melupakan adalah kutukan, dalam hal ini Barbarossa berhasil menyulap menjadi anugerah sehingga ia yang hanya memiliki kemampuan rata-rata saja didaulat sebagai ketua, namun Barbarossa ini bukan tanpa kelebihan, ia menguasai seluruh ilmu di semua bidang (tidak ada anggota ABL yang memiliki kemampuan rata-rata sebaik Barbarossa, biasanya mereka sangat ahli di bidangnya tapi hanya di satu, dua atau lebih sedikit).

Seluruh manusia adalah tempat lupa dan khilaf bersemayam, itu berbanding terbalik dengan Penyair, ia adalah anggota ABL yang paling baik ingatannya, paling bagus daya rekamnya.  Sebagaimana kita ketahui bahwa dunia ini selalu seimbang (Give and Curse) tidak pelupa sekaligus ia merupakan anugerah maka ia (bisa) pula menjadi kutukan bagi pemiliknya.

Kadang-kadang kita mesti bingung dalam mendudukkan seseorang, contohnya seorang anggota Assosiasi Budjang Lapok bernama Penyair itu. Orangnya jelas cemerlang, kreatif dan inovatif – terutama dalam mengendus kata-kata yang seolah tak bermakna dari percakapan seloroh untuk mengejawantahkan dalam bentuk sistematis, sehingga lebih bermakna bagi yang mendengarkan. Idenya untuk me-modern-kan duduk-duduk di lepau nasi menjadi berfaedah dengan brilyan ia laksanakan. Ia menggerakkan ABL popular dengan kata-katanya, sebagai penyambung lidah yang telaten. Jelas ia juga merupakan cendikiawan yang sosial, berbudi bawa leksana. Seluruh anggota Assosiasi Budjang Lapok mengakui dengan adil, bahwa meskipun Penyair itu kadang-kadang narsis, ke-overacting-an, bolehnya membagi-bagi rezeki pengetahuan yang ia baca dari berbagai kitab, ia adalah pembaca terajin di ABL. Namun tidak ada orang yang sempurna, bisa dikatakan, tidak ada orang yang berhak mendapatkan kesempurnaan, Penyair ini merasa tahu segalanya, menurut diagnosis Tabib Pong itu adalah efek samping dari terlalu banyak membaca. Penyakit kecil itu, bila dibiarkan akan memancing komplikasi lain, itu pasti! Setidaknya dalam ilmu pertabiban.

Dan itu akhirnya terjadi. Penyair ini sangat pemalas, akibat terlalu pemalas dia melewatkan banyak hal baik dengan menghabiskan waktu di tempat tidur, ia juga kurang peduli dengan masa depan. Serta yang paling parah, Penyair adalah satu-satunya anggota ABL yang “terlihat” tidak berhasrat mengakhiri masa bujang. Itu mengesalkan bagi anggota ABL lain, terutama bagi mereka yang telah berusaha mengenalkan banyak anak dara kepadanya, namun Penyair hanya menarik alis dan mengemukakan banyak alasan. Masalah ini melebar kemana-mana, sampai-sampai Abusyik dari organisasi Warlords pernah dengan sengaja menyempatkan diri mampir ke lepau nasi untuk menyindir, “Saya heran dengan pemuda zaman ini, berwajah tampan, dikenal baik serta mampu menghidupi. Akan tetapi kemauan tidak ada.” Semua menunggu reaksi Penyair kita, namun dia hanya minum teh dengan santai, entah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu.

Suatu hari di lepau nasi, tak seperti biasanya, selimut kabut seolah menggantung di atas kota Bandar. Dalam hening, rombongan kafilah itu berjalan di balik kegelapan yang menyelimuti  dan menggoreskan jari-jemarinya yang hitam kelam di atas dinding-dinding batu paras banteng. Assosiasi Budjang Lapok lahir di dunia lain, dunia yang manis dan tak serius, sebagaimana balita ia berkembang menjadi dewasa dan serius.

Adalah Professor Gahul yang pertama tidak sanggup lagi menahan diri, ia merasa Penyair tidak bisa diluruskan dengan kelembutan, perlu ada aksi yang lebih keras, “Penyair, kamu masih normal?”

Penyair menarik alis. “Apa yang salah dengan beta?”

“Kamu dikenalkan sama anak dara yang ini tidak mau, sama yang itu tidak mau? Jadi mau kamu apa?”

“Kenapa memaksa? Beta manusia bebas, tidak tunduk atas kehendak dan keinginan orang lain.” Tanya Penyair.

Alah, Professor Gahul tidak usah dipaksa Penyair, dia memang sedikit bodoh masalah itu.” Sembur Amish Khan, Penyair melirik.

“Penyair itu tidak suka dengan anak dara, tapi dengan bujang.” Laksamana Chen menusuk diiringi cekikan nakal.

Penyair mulai tersinggung, sejatinya ia dibalik tampilan intelektual merupakan orang yang sensitif, dan ini merupakan hinaan terpahit bagi dirinya.

“Oh tidak, Penyair itu pacaran dengan kitab.” Amish Khan tertawa seraya memukul-mukul meja.

“Beta memiliki jiwa yang murni ya, memulai sesuatu harus dengan cinta. Dan itu tidak bisa dipaksakan.” Penyair mencoba membela diri.

“Terus kapan sang Penyair ini jatuh cinta?” Tanya Professor Gahul.

Penyair kebingungan, dia tidak tahu. Ia melihat kekiri dan kanan, hanya Tabib Pong, Mas Jaim dan Barbarossa yang masih diam. Ia melihat sang ketua Barbarossa meminta bantuan.

“Bingung!” Sambar Laksamana Chen.

“Tidak ada di buku itu Penyair!” Amish Khan memberikan tekanan.

“Jangan-jangan benar Penyair ini….” Professor Gahul tersenyum centil.

Penyair kehabisan kata-kata, ia tidak mungkin menjawab seluruh serangan secara bersamaan, ia masih mengharapkan bantuan.

“Itu semua, karena pikiran Penyair ini jahat. Dia penuh konspirasi sehingga menganggap apa yang kita tawarkan kepadanya adalah jebakan.” Kali ini Barbarossa yang bicara.

“Kamu juga menikam dari belakang Barbarossa?” Penyair terkejut.

“Baik, beta keluar dari Assosiasi Budjang Lapok. Kita sudah tidak sejalan lagi, silahkan melanjutkan organisasi ini sesuai keinginan kalian. Beta berhenti!” Penyair melemparkan koin dan pergi, semua anggota ABL tertawa, hanya Tabib Pong yang menutup muka kemudian menggelengkan kepala.

Senja tak selamanya mengguratkan keindahan dalam hati yang rawan, langit senja hanya mendatangkan rasa pedih dan gulana. Itulah yang dirasakan oleh Penyair, ia bukannya tak sakit hati atas ejekan teman-temannya. Ia tak menyangka sama sekali, bahwa segenap teman-teman dekatnya mengeroyok secara bersamaan. Ia adalah manusia tipe lama, yang berpikir duel sejati adalah satu lawan satu. Ia kecewa ketika nilai-nilai kuno yang dia anut bertentangan dengan keadaan zaman terbaru.

XXX

Tak disangka, tak diduga, bahwa anggota ABL yang paling perhatian itu adalah Mas Jaim, selang sehari setelah kejadian. Mas Jaim datang menyambangi Penyair ke rumah, mengajaknya kembali bergabung.

“Tolonglah Penyair, dunia perlepauan tidak akan seru jika tidak ada kamu.”

Penyair bahkan tidak turun tangga rumah, di pintu ia hanya dengan berkacak pinggang dan berkata, “sampai kiamat pun, beta tidak akan bergabung kembali!”

Mas Jaim pun berbalik dengan wajah sedih.

XXXX

Berbagai usaha telah dilakukan untuk membujuk Penyair yang merajok kembali ke Assosiasi Budjang Lapok telah dilakukan, semua yang dilakukan itu menemui jalan buntu dikarenakan kekeraskepalaan Penyair kita. Kehilangan Penyair ini lebih dirasakan anggota Aliansi lainnya yaitu Barbarossa dan Tabib Pong. Mereka pun melakukan diskusi kecil.

“Bagaimana bisa Penyair sedangkal itu? Barbarossa bertanya.

“Kamu salah Barbarossa. Tentu bisa. Selama ini waktu kita bersama lumayan banyak, seolah-olah kita telah mengenal lama, saling berbagi kenangan dimasa lalu. Salahnya, kita berpikir Penyair memiliki pengalaman sejumlah yang kita miliki. Sebenarnya tidak! Berbagai kitab yang ia baca mungkin membuat dia seolah setara dengan kita, padahal tidak. Tidakkah kau menyadari, sebenarnya dia masih hijau. Ada banyak hal di kehidupan nyata, yang sebenarnya ia tidak tahu.” Jawab Tabib Pong.

“Mungkin ia sudah berubah banyak, dari awal kita mengenalnya. Namun belum sebanyak yang kita pikirkan.”

“Tidak apa, sebuah luka akan baik. Ia akan belajar untuk bangkit.”

“Kamu yakin?”

“Sangat yakin. Karena dia adalah sang Penyair.”

XXXX

Penyair akan kembali, dan harus kembali! Karena bagaimana pun hebatnya cerita Assosiasi Budjang Lapok di lepau nasi, itu semua tidak akan tersampaikan kepada khalayak jika tidak ada yang menuliskan. Di antara banyak kekurangan karakter yang ia miliki, ia memiliki satu keahlian lain khusus yaitu bercerita.

Kepada para pembaca yang mengikuti edisi Assosiasi Budjang Lapok diharapkan bersabar dahulu, karena cerita ini akan digantung sampai dengan Penyair selesai merajok. Atas apa yang terjadi di mohon para pembaca maklum.

Peristiwa mengubah satu kejadian menjadi kejadian yang lain. Perubahan mengemukakan yang berubah. Dengan sendirinya dibaliknya tesembunyi sesuatu yang dalam perubahan itu tetap keadaannya, yang dapat menjelma dalam berbagai rupa, inilah yang dinamakan hakikat.

XXXXX

Eits, tapi tunggu dulu. Ini adalah cerita kejadian empat bulan yang lalu. And The legend (still) Continous…

 KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 30 Comments

PERJALANAN

Hidup adalah perjalanan sejati, dan aku adalah orang yang mudah tersesat.

PERJALANAN

Hidup adalah perjalanan sejati, dan aku adalah orang yang mudah tersesat. Kuakui, kerap kali aku harus mengulangi jalan sama berulang kali. Pengalaman itu tidak menyenangkan untuk dituturkan, menjalani jalan neraka berulang kali, sendirian. Namun, sungguh hidup harus terus berjalan dalam setiap tarikan nafas, bahkan di wilayah yang lindap dan basah, penuh tikus dan tikungan. Reptil busuk, dan rawa payau. Mungkin, tak perlu seseorang luar biasa pemberani. Ketika seseorang diuji oleh berbagai kejadian, petualangan, penyesalan bahkan kejatuhan. Itu sudah sewajarnya dalam hidup.

Monsieur d'Artagnan

Monsieur d’Artagnan

Sebuah cerita pengembangan bebas dari Trio Musketri Karya Alexandre Dumas

Paris, 1628 M. Kegelapan malam menyelebunginya. Diatas, bintang-bintang yang rapat terus memancarkan cahaya mereka yang bergemerlapan. Di bawah tak ada makhluk yang bergerak, dan d’Artagnan tidak bisa mendengar apa-apa kecuali angin lembut mengeser bilah-bilah rumput.

D’Artagnan berjalan perlahan, anak muda yang gagah. Ia memakai jaket wol pendek berwarna biru yang lusuh dan sudah menipis, celana berkuda selutut berwarna cokelat serta sepatu bot tinggi senada. Ia mengenakan topi baret merah khas Gascon yang berhiaskan bulu-bulu meriah. Sebagai salah satu musketri, pengawal Raja Perancis, cara berjalannya angkuh dan menantang.

“Sampai kapan kamu akan terus berlari?” Sebuah suara menyeruak dari pinggir hutan, suara yang amat dikenal, wajah d’Artagnan memucat. Clarice de Winter muncul dari balik pepohonan, meski menggunakan jubah hitam panjang untuk menyembunyikan diri namun ia tidak mungkin salah mengenali suara perempuan itu. Suara dingin seperti kucing, dan semua kucing berwarna abu-abu pada malam hari. Mereka ahli menyembunyikan diri, karena itu d’Artagnan sangat membenci kucing.

“Pertanyaan anda sungguh menusuk hati saya, Lady de Winter. Anda tahu bahwa sejak pertama kali kita bertemu, saya adalah seorang gentleman. A gentlemant will walk, not run.” Langit malam tak mampu menutupi wajah kebohongan d’Artagnan, kaki-kakinya sebenarnya siap melarikan diri. Clarice de Winter alias Lady Milady adalah seorang dimana d’Artagnan lebih memilih bertempur melawan seratus orang daripada berhadapan dengannya. Lady Milady adalah seorang penuh konspirasi dan selalu berhasil menjebak d’Artagnan.

Lady Milady membuka kerudung, ia terlihat begitu pucat dan matanya lelah, mungkin karena menangis atau kurang tidur. Milady menebarkan pesonanya untuk menyenangkan pemuda itu dan memikatnya dengan kepintarannya. Api amarah yang ada di dalam dirinya menambah kilatan di mata dan semburat pipinya. D’Artagnan merasa dirinya jatuh ke dalam jampi-jampinya. Lalu Milady tersenyum dan pemuda itu tahu ia akan terkena kutukan senyuman itu. Lady Milady mulai merasa senang karena telah mempermainkannya.

Dari hal-hal yang remeh temeh, pembicaraan beralih ke topik serius. Milady bertanya kepada d’Artagnan apakah ia sedang jatuh cinta. D’Artagnan menghela nafas panjang. “Ya.”

Milady tersenyum janggal.

“Jadi, benarkah anda telah jatuh cinta kepada wanita selain saya?”

“Perlukah saya menjawabnya? Anda pasti sudah mengetahuinya.”

“Ya,” jawabnya. “Tapi seperti yang aku tahu, anda memiliki hati yang teguh sulit ditaklukkan.”

“Itu semua terjadi, berkat anda Lady.”

“Tidak adakah sedikit pemaafaan untukku Monsieur d’Artagnan. Bukan demi apa-apa, hanya untuk masa lalu.”

“Oh para dewa,” pikir d’Artagnan. Apa yang menyebabkan makhluk yang tidak bisa ditebak ini datang kepadaku, ia butuh waktu memikirkan persoalan itu dan jika mungkin, menebak isi benak Milady. Ia selalu berusaha untuk itu, dan selalu saja gagal.

“Apa maksud anda Lady menemui saya?” D’Artagnan memutuskan bertanya langsung.

“Aku hanya merindukan seseorang yang tak pernah bisa aku sentuh, kamu d’Artagnan.”

XX

D’Artagnan langsung teringat adegan di sebuah teras di Saint-Germain. Orang itu, Comte de Wardes, saingannya memperebutkan hati Lady Milady, dulu. Pesta dansa Madame de Guise, saat itu d’Artagnan sedang mencari semak-semak untuk pipis ketika melihat hal itu. Di taman rumah Madame de Guise.

“Ini aku, de Wardes!” Suara laki-laki dengan rendah.

“Ya?” ujar Milady, suaranya bergetar karena suka cita. “Mengapa tidak masuk?”

Lalu ia berseru, “Comte, comte kau tahu aku menunggumu!”

D’Artagnan menunggu lama, kemudian menyelinap kemudian mengintip dari lubang kunci lemari. Ia melihat, Milady mengerang dengan suaranya yang paling halus, mengengam tangan de Wardes dengan erat.

“Oh, Comte,” ujarnya, “tatapan penuh cinta dan segala hal yang indah yang kau katakan setiap kali bertemu membuatku sungguh bahagia! Aku pun mencintaimu. Buktikanlah cintamu kepadaku dan akan kuberikan cincin ini supaya tidak melupakanku.”

Tidak ada luka yang lebih dalam bagi seorang laki-laki selain mendengarkan kekasihnya menyatakan perasaan kepada pria lain. D’Artagnan tanpa sangka ia merasa tertekan, ia diliputi cemburu dan menderita. Ia menangis di kamar sebelah.

Lady Milady melepaskan cincin berlian dan batu safir dan memasangnya di jari Comte De Wardes, ia langsung mengembalikannya pada perempuan itu, tapi Milady mencegahnya.

“Jangan. Simpanlah sebagai tanda cintaku.” Kata Milady.

Perlu waktu untuk d’Artagnan melepaskan diri dari konflik batinnya, sehingga ia memutuskan segera pergi dari tempat itu.

XXX

D’Artagnan pagi-pagi sekali esok harinya sudah berada di rumah Athos, ia telah terperosok ke dalam sebuah intrik fantastik sampai harus meminta nasihat sahabat sekaligus musketri pertama Kerajaan Perancis itu. Ia menceritakan semuanya kepada Athos.

Athos mengerutkan dahi beberapa kali mendengar ceritanya.

Kedaannya sungguh sulit, sungguh sulit.”

“Kau selalu mengatakan hal itu, Athos,” ujar d’artagnan. “Bagaimana kau bisa berpendapat seperti itu? Kau tidak pernah jatuh cinta!”

Mata Athos yang sayu bersinar beberapa saat. Tapi hanya sesaat. Matanya kemudian berubah menjadi datar dan tidak bercahaya lagi.

“Kau benar,” desahnya. “Aku tidak pernah jatuh cinta.”

“Orang berhati batu macam kau tidak berhak berlaku keras pada orang-orang bodoh berhati lembut seperti kami,” ujar d’Artagnan.

“Hati yang lembut, hati yang patah,” gumam Athos

“Apa yang kau katakan?”

“Menurutku cinta adalah sebuah perjudian dan hadiahnya adalah kematian. Kau beruntung kalah, percayalah. Jika kau pintar, kau akan berusaha untuk kalah.”

“Dan aku pikir ia mencintaiku!”

“Kau pikir!”

“Aku tahu ia mencintaiku!”

“Begitu mudah percaya! Setiap lelaki mengira kekasihnya mencintainya dan setiap kekasih lelaki itu tidak setia padanya.” Athos memberikan perumpamaan yang membingungkan.

“Kamu seperti orang yang sudah berpengalaman akan cinta?”

“Tidak,” jawab Athos setelah diam beberapa saat. “Aku tidak pernah memilikinya. Ayo, mari kita minum.”

“Ayo, Socrates,” Kata d’Artagnan. “Ajari aku falsafahmu. Biarkan aku minum dari air pengetahuan. Aku butuh pengetahuan dan penghiburan.”

“Penghiburan untuk apa?”

“Kesedihanku.”

“Kesedihanmu tak ada artinya sama sekali, yang perlu kamu lakukan hanyalah mencari perempuan lain.” jawab Athos.

XXXX

Siangnya, d’Artagnan telah bertekad untuk bertemu Lady de Winter apa pun yang harus terjadi dan meminta penjelasan atas semua peristiwa yang telah terjadi. Jadi ia pun pergi ke Louvre, berharap seragam pengawalnya dapat membukakan jalan. Ia berniat menemui Milady langsung.

Ketika tiba di rumah Lady de Winter, pahlawan kita menahan diri untuk tidak menimbulkan kecurigaan dan mulai menghentakkan kakinya ke lantai sebagai tanda protes. Para pelayan yang bertugas di ruang tunggu langsung berlari dan mengumumkan kedatangannya padahal ia belum sempat bertanya apakah majikannya ada dirumah.

“Persilakan dia masuk,” ujar Milady dengan tegas dan keras sampai d’Artagnan dapat mendengar suaranya dari ruang tamu. “Aku tidak mau menerima tamu lain,” tambahnya. “Kau mengerti? Tidak menerima tamu.”

Pelayan itu keluar dan mendampingi pemuda itu masuk. Saat d’Artagnan memasuki ruangan kerja Milady. Ia langsung dan berkata terus, tanpa sempat menutup pintu.

“Hari ini, de Wardes memamerkan sebuah cincin yang katanya hadiah dari anda.”

Milady pura-pura terkejut.

“Beberapa orang mengatakan anda memiliki hubungan khusus dengannya. Bahkan semalam anda terlihat berduaan dengannya.” Anak muda itu kali ini berbicara serius.

Milady terhenyak dan mundur.

“Dari mana anda tahu?” Tanyanya sambil memandang d’Artagnan seolah bisa membaca pikirannya.

D’Artagnan menyadari ia telah hanyut dalam kecemburuan sehingga membuat kesalahan.

“Katakan dari mana anda tahu?” Milady bersikeras.

“Bagaimana saya tahu?”

“Ya.”

“Tadi pagi seorang tamu pesta dansa Madame de Guise memberitahu kepada saya.”

“Jangan bicara lagi tentang hal-hal yang mustahil, anda terlalu obsesif Monsieur d’Artagnan. Terlalu percaya pada para penggosip, ingat kita tidak bisa membangun sebuah hubungan jika tidak saling percaya.”

Andai d’Artagnan tidak melihat sendiri kejadian tersebut, maka akan percaya dengan Milady. Ia memandang ke dalam mata Lady de Winter, adakah pandangan penuh cinta seperti yang ia tujukan kepada Comte de Wardes, meski Milady tersenyum mencoba meyakinkan, ia tidak melihat bahkan setengah dari semalam. Tiba-tiba d’Artagnan merasa kalah, ia bagaikan seorang musketri yang kalah perang dengan harga diri tercabik-cabik.

“Aku melihatnya sendiri.”

“Bangsat! Penguntit!”

Kata-kata Milady mempengaruhi d’Artagnan begitu cepat.

“Untuk apa kamu melakukan ini Lady?” Di dasar hati d’Artagnan masih mengharapkan pembelaan dari Clarice de Winter, ia (masih) ingin berpura-pura bahwa dunia ini indah.

Milady memanfaatkan kesempatan baik itu. “Anda mengatakan bahwa anda mencintai saya, Monsieur d’Artagnan,” lanjut Milady. “Apa yang telah anda lakukan untuk membuktikannya?”

“Apa saja!” seru d’Artagnan.

Milady tersenyum penuh kemenangan, “saya tidak merasa anda menunjukkan rasa cinta anda dengan benar Monsieur, menyentuhku pun saja tidak.”

“Aku memberimu kata-kata yang baik.”

“Sejujurnya d’Artagnan kamu itu membosankan! Hanya menunggu waktu sebelum kamu aku tendang.”

Keburukan apa yang telah ia dengar? Makhluk yang ia puja, yang ia kira baik hati, ternyata menyumpahinya dengan suara kasar yang tak ia kenali, dan marah karena kegagalannya menunjukkan ketidaksantunan. Kebenarannya adalah, malaikat itu seorang iblis, dan seorang anak tanpa dosa itu adalah seorang pencuri.

D’Artagnan berbalik, ia berjalan gontai, tanpa semangat dan hampir jatuh terpeleset pada sebuah undakan, di belakang Milady tertawa keras penuh kemenangan.

“Teruslah berlari d’Artagnan! Disaat kamu merasa tidak nyaman dan terancam!”

XXXXX

Paris, 1628 M. Sinar rembulan telah keluar ketika d’Artagnan terdiam mengingat rentetan peristiwa di masa lalu, udara lembab berangsur-angsur menghangat. Sambil menunduk di bawah cemara-cemara yang tumbuh di sana-sini, d’Artagnan menegadah, menatap ke sela jarum, melihat gugus bintang pertama yang menghiasi langit bagai beluduru.

Clarice de Winter

Clarice de Winter

Kemudian ia memandang Lady Milady lekat-lekat, rambutnya yang bergelombang seperti riak-riak samudera, bibirnya seperti apel yang ranum, matanya laksana biji coklat pekat dan pipinya mulus seperti porselen, sayang orang secantik itu harus memiliki kejahatan sejahat itu. D’Artagnan memiliki kelemahan terhadap kecantikan, karena itu dia selalu menahan diri dalam melemparkan pandangan. Ia merasa memiliki jiwa yang murni sampai Milady merusaknya, pernah ia jatuh dalam perasaan terdalam, terhipnotis sehingga menyerahkan jiwa dan raga untuk perempuan itu.

“Untuk apa mengingat masa lalu Lady?” D’Artagnan mengingat beberapa peristiwa di masa lalu, tanpa mengingat lagi perasaan apa yang ia rasakan, tiba-tiba ia merasa kuat untuk menghadapi Lady Milady.

“Untuk sebuah nostagia.” Clarice de Winter tersenyum menggoda, ia berpikir masih berhadapan dengan orang yang sama dengan beberapa tahun lalu. “Tanpa resiko tentunya.” Inilah alasan mengapa para pencinta menjadi pencemburu? Nostagia akan mudah memicu kenangan cinta terdalam sekaligus sakit tak tertanggungkan, yang sejatinya tidak akan pernah di bagi kepada siapapun juga.

“Aku tidak mengingat perasaan apa-apamu Lady.”

“Apa ini semua gara-gara Madame Bonacieux!”

D’Artagnan tersenyum, “mungkin karena dia, tapi bukankah anda sudah memiliki Comte De Wardes, untuk apa merisaukan kebahagiaan saya Lady?”

“Karena aku tidak tahan melihat anda bahagia Monsieur d’Artagnan!”

Sungguh menderita orang yang kebahagiaannya terfokus kepada orang lain, tidak pada dasar dirinya. D’Artagnan merasa kasihan, betapapun ia pernah membenci Lady Milady.

“Aku kalah,” kata Milady. “Andai saja dulu, andai dulu anda lebih gigih berjuang. Mungkin hari ini akan berbeda.” Tambah Milady.

“Aku tidak hidup dalam penyesalan Lady. Aku memaafkanmu,” ujar d’Artagnan, “atas kesalahan yang telah kau lakukan padaku, karena telah membuatku malu, karena merusak cintaku kepadamu, dan bahkan aku telah memaafkan atas kedengkianmu padaku sekarang.”

D’Artagnan melihatnya dan tersenyum sedih. Diam-diam ia berharap tidak bertemu lagi dengan perempuan ini lagi. Walaupun mengaku kalah, Lady Milady sangat pintar memancing perasaan bersalah di dalam hati d’Artagnan. Dan karena Clarice de Winter merupakan salah satu dari sedikit orang di dunia yang mengetahui bahwa d’Artagnan memiliki hati yang lembut, sesuatu yang disembunyikan terlalu dalam dibalik penampilannya yang keras dan brutal.

Dan pemuda Gascon tersebut, d’Artagnan berlari dalam keheningan malam.

XXXXXX

Kenangan bisa menjadi surga yang tak ingin kita tinggalkan, tetapi ia juga mungkin neraka yang tak mampu kita hindari

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  14. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  15. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  16. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  17. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  18. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  19. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  20. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  21. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  22. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  23. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  24. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  25. Ashura; 13 Februari 2013;
  26. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  27. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  28. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  29. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  30. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  31. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  32. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 54 Comments

UNTUKKU

Aku yakin, kelak tangan-tangan gaib memancarkan cahaya kemilau, menyingkap selimut malam, menembus kegelapan yang mengantung serupa kabut. Di bibirnya terkembang senyum ramah, ramah menyapa semesta.

Aku yakin, kelak tangan-tangan gaib memancarkan cahaya kemilau, menyingkap selimut malam, menembus kegelapan yang mengantung serupa kabut. Di bibirnya terkembang senyum ramah, ramah menyapa semesta.

UNTUKKU

Adakah kekuatan lain yang mampu menandingi kekuatan cinta? Adakah sentuhan lain yang lebih lembut dari elusan jari-jemari tulus yang melahirkan mukjizat dari balik sayap-sayapnya yang terkembang? Serupa bunga-bunga mekar di tengah padang tandus. Seperti air bening jernih yang tak hentinya mengalir dari dalam pecahan batu. Itulah mukjizat yang menyelamatkan hidup.

Sebagaimana hasrat bermain di dalam pikiran, mempermainkan jiwa manusia yang lemah dan lesu? Sementara hidup serupa bayang-bayang mimpi yang kabur dan tiada berketentuan. Kemana diri hendak menemu kesejatian nurani? Ke mana diri hendak meraih hakekat kebenaran? Jiwa yang lungkrah telungkup pasrah, menjadi bulan-bulanan tangan sang takdir yang menghumbalangkan segala harap di hati.

Layaknya jiwa yang rindu dendam dapat menemukan kembali cahaya dalam dirinya. Adakah kebenaran akan hadir di dalam jiwa yang merindukan kehangatan cinta sang api suci? Kemanakah diri mesti mencari, sementara kerinduan ini tiada bertepi?

Aku yang pernah merasakan, berpikir bahwa dunia ini jahat dan kejam, demikian penuh dengan rangkaian tipu muslihat licik, yang tersembunyi di balik kilau mata seorang penyihir yang tak mengenal cinta. Akhirnya memahami kembali arti benih bunga-bunga yang tumbuh di dalam hati kanak-kanak? Apakah arti segenap tembang keindahan yang terbit dari bibir mereka, yang terdengar begitu merdu, lugu dan polos? Nyanyian itu serupa deru suara hujan, gemericik aliran sungai, dan hembusan angin yang menyentuh ranting-ranting pepohonan. Begitulah, ucapan kanak-kanak mengekal dalam ingatan

Aku menyadari kepandiranku, seperti apa dilihat oleh seorang buta ketika matanya telah dicelikkan. Sebagaimana perasaan orang buta saat menantap cahaya untuk pertama kali. Dan serupa itukah makna kerinduan di dalam hati seorang pencinta, saat bertemu dengan kekasih hati, setelah melewati sebuah penantian yang begitu melelahkan. Siapakah yang sanggup menafsirkan kegalauan dalam hati seorang kekasih, bila ia tidak pernah mengalami sendiri kebesaran arti cinta yang tulus dan murni itu?

Begitu banyak nama, beratus-ratus, bahkan beribu-ribu nama dapat aku ingat di dalam benak.  Aku tak mampu menepiskan namamu dari dalam hati. Namamu, serupa kelopak seroja yang terkembang ditengah kolam. Keelokan bunga itu begitu melambungkan seluruh hasrat dalam jiwaku untuk meraih dan memiliki.

Serupa buah-buah delima yang matang di pucuk ranting-ranting memberat, berkilau menggoda, memukau hati yang rindu dendam terpanggang oleh api cinta. Jiwa-jiwa kehausan merindukan kesegaran oase untuk melepaskan segenap dahaga yang menjerat tenggorokan. Dan buah-buah ranum yang merah merekah itu telah menerbitkan kekuatan hasrat di dalam diri untuk segera memetik dan memilikinya.

Adakah duka yang lebih perih dari buah-buah zaitun yang rontok sebelum musimnya? Adakah luka yang lebih nestapa daripada cinta sang putik yang tak menemukan benang sari tambatan hatinya? Aku merasa sesak oleh seribu beban yang seolah tak sanggup tertanggungkan.

Aku yakin, kelak tangan-tangan gaib memancarkan cahaya kemilau, menyingkap selimut malam, menembus kegelapan yang mengantung serupa kabut. Di bibirnya terkembang senyum ramah, ramah menyapa semesta.

Itu semua karena engkau sangat berarti, untukku.

Bait Al Hikmah, suatu pagi di 13 Muharram 1435 H (Bertepatan 17 November 2013)

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments