Tahun 2017 ditargetkan pembangunan infrastruktur dan landscape dalam lingkungan Masjid Raya Baiturrahman. Untuk jangka panjang, kegiatan akan dilakukan adalah pembebasan lahan dan bangunan sampai tepi sungai Krueng Aceh.
Ketika lahan pelataran Masjid Raya Baiturrahman ditutup, pohon-pohon kurma dicabut serta area rerumputan itu hilang, kita mungkin tertegun, merasakan sesuatu sejak masa silam yang hilang, renovasi berarti membangun, tapi ia juga menghancurkan kenangan. Tapi mungkin anda bertanya, masa silam siapa yang lenyap itu?
10 April 1873, agresi tentara Belanda dipimpin Jenderal Van Swieten membakar habis Masjid Raya Baiturrahman. Cut Nyak Dhien saat itu menjadi saksi dan berkata lantang, “Wahai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikan sendiri oleh matamu! Masjid kita dibakarnya! Mereka menantang Allah S.W.T! Tempatmu beribadah dibinasakannya! Nama Allah dicemarkannya! Camkanlah itu! Jangnlah kita melupakan budi si kafir yang serupa itu! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa si kafir yang serupa itu? Masih adalah orang Aceh yang suka menjadi budak kafir Belanda?”
Belanda, kelak membangun kembali masjid Raya Baiturrahman pada tahun 1877 atas perintah Gubernur Jenderal Van Lansberge untuk meredam kemarahan rakyat Aceh sekaligus sebagai permintaan maaf. Masjid satu kubah, kemudian diperluas tahun 1935 (tiga kubah) adalah portrait yang kita ingat sebagaimana harusnya bentuk masjid tersebut.
Tapi benarkah bentuk sebenarnya layaknya seperti itu? Peter Mundy pernah ke Aceh pada tahun 1637, ia membuat sketsa. Bangunan masjid berupa persegi yang terbuat dari kayu, atapnya bukan kubah, tapi model mengkerucut seperti piramida tumpang empat.
Syahdan bukan masjid itu juga yang dingat oleh orang Aceh zaman itu, setelah Peter Mundy pulang, Masjid Raya Baiturrahman terbakar pada masa Ratu Safiatuddin akibat pertikaian internal kerajaan. Dan dibangun kembali.
Ketika Belanda menyelesaikan pembagunan Masjid Raya Baiturrahman tahun 1883, masyarakat Aceh menolak untuk shalat disana, mereka tidak mau beribadah dan menggunakan masjid yang dibangun musuh. Kondisi itu berlangsung 10 tahun, hingga area masjid ditumbuhi semak belukar dan pekarangannya menjadi pasar.
Belanda terus merayu rakyat Aceh agar mau menerima masjid itu. Hingga kemudian Belanda berhasil membujuk masyarakat melalui ulama berpengaruh kala itu yakni Teungku Chik Keumala dan Teungku Chik Krueng Kalee. Penggunaan kembali masjid ini dilakukan sekitar 1893 sampai sekarang.
Maka, tak semua warisan adalah bangunan. Tidak setiap kali ada tambatan yang tulus diri kita kini dan sebuah bangunan bersejarah. Jauh atau dekat sebuah peninggalan masa lalu tak ditentukan peta bumi, bahkan tak selamanya ditentukan oleh kronologi.
Masjid Raya Baiturrahman zaman Kolonial Belanda
Coba kita lihat foto-foto lama Masjid Raya Baiturrahman zaman Belanda, bangunan megah itu begitu terasing dengan lingkungannya. Pada awalnya para orang tua kita mungkin tidak melihat bagian dari dirinya pada foto tua itu. Ia bukan bagian dari kebanggaan itu. Malah mungkin melihat sesuatu yang pahit dan menyakitkan. Rekaman status sebagai bangsa terjajah, terjerumusan yang kekal di lapisan mereka yang kalah.
Bahkan dengan mata netral, kita sendiri melihat foto tersebut sebagai cenderamata yang menarik karena antik, sesuatu yang bisa dikirimkan ke facebook“Kisah dan foto tempoe doeloe”. Boleh jadi kelak selembar benda penting pencatat tarikh.
Karena itulah ketika Gubernur Ibrahim Hasan (1991-1993) melaksanakan perluasan kembali, Masjid Raya Baiturrahman memiliki 7 kubah, 4 menara, dan 1 menara induk dengan bagian halaman ditumbuhi rumput dan indah diselingi pohon kurma kita merasakan lanskap yang nikmat, tampilnya sebuah Masjid dengan kedekatan dengan masyarakat.
Kondisi Masjid Raya Baiturrahman saat tsunami (2004)
Masjid Raya Baiturrahman dalam bukan hanya menjadi kebanggaan rakyat Aceh dan Indonesia semata, bahkan dunia juga tertaut bersama bangunan ini. Bersamaan dengan bencana Tsunami 26 Desember 2004, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri tegak, meski compang takkala ombak tsunami membasahi bumi Aceh. Ia menjadi tempat berlindung juga sebagai tempat evakuasi jenazah korban tsunami yang bergelimpangan.
Andrea Hirata dalam novel Ayah punya gambaran yang mengesankan tentang Masjid Raya Baiturrahman (Halaman 305), “Besarnya mungkin dua puluh kali lebih besar daripada Masjid Al Hikmah di kampong kita, Rai. Lantainya dingin, pilar-pilarnya gagah, seakan dapat memanggul gunung. Kalau kau memandang langit-langitnya, rasanya angkasa terbelah dan kau berubah menjadi seputir pasir. Suasana shalat Jumat di masjid ini tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Saat engkau shalat rasanya ribuan malaikat menungguimu, suara muadzin merdu sekali. Begitu megah, begitu agung mesjid ini sehingga kuakui semua dosaku, yang terkecil sekali pun.”
Masjid Raya Baiturrahman
Benarkah pandangan Andrea Hirata itu menurut kita? Mungkin kemegahan itu menyimpan ironi bagi mereka disekitarnya, kita bercakap tentang kebanggaan dan kemudian kehilangan hakikat itu, kisah kericuhan tongkat di Masjid Raya Ramadhan lalu, salah satu contohnya. Jatuhnya crane di Masjidil Haram pada saat ibadah haji kemarin, adalah salah satu contoh yang lain lagi.
Maka, haruskah bangunan ini direnovasi besar-besaran seperti yang direncanakan sekarang?
Kita tahu, dalam hidup, biarpun ringkas, selalu ada yang harus dilepas. Mungkin ke arah yang lebih baik, mungkin kearah yang lebih buruk. Dan apa yang “lebih baik” dan “lebih buruk” bagi suatu zaman tak pernah ditentukan setiap orang.
Dan kita tak selamanya berdaya untuk mencegah, seperti kita tak bisa mencegah sejumlah peninggalan sejarah lain harus di bongkar. Misalnya, tempat kita dilahirkan menjadi jalan raya.
Wajar ketika Masjid Raya Baiturrahman hendak dibangun besar-besaran kembali muncul petisi menggugat pembangunan tersebut. Mungkin ada kepongahan dalam mega proyek tersebut, tapi di sisi yang lain benar bahwa yang paling penting akhirnya bukan sikap mempertahankan, suatu sikap defensif, tetapi menciptakan
Tanda peradaban, pada hakikatnya, ialah perilaku kita yang hidup dengan rasa hormat kepada yang tumbuh dalam hidup. Dan sebaiknya, para penguasa mengetahui itu.
Kearifan yang sulit dipelajari pada masa kejayaan.
ARIF
Apa yang diperoleh bila seseorang (atau sekelompok) suatu hari kehilangan kejayaannya? Akankah kemarahan atau kekecewaan menguasai? Atau mungkin kesepian? Tapi barangkali kearifan adalah yang paling baik.
Sekelompok tifosi AC Milan di malam berhujan itu mesti rela pertandingan melawan Sassuolo (25 Oktober 2015 pukul 21.00 WIB), di langsungkan dilayar infocus yang tertembak di dinding, streaming putus-putus dan tanpa suara. Warung kopi yang dijadikan basecamp lebih memilih menayangkan derby Manchester dengan suara menggelegar dalam fokus yang maksimal, bahkan televisi kecil (dengan suara tentunya) di dekat mereka lebih mengutamakan partai seru liga Inggris tersebut.
Salahkah? Mungkin tidak. Serie A sudah menurun banyak dibandingkan beberapa dekade lalu, dan AC Milan sendiri sudah tiga musim berturut-turut bermain seperti tim medioker. Tim ini, tidak lagi menunjukkan mental seperti di Athena 2007 lalu. Di dunia yang penuh kompetisi, apa yang terjadi hari itu wajar-wajar saja.
Di dunia yang sedih dan tak sempurna, selalu saja orang harus bertanding dengan akhir yang tak selamanya tenteram. Untuk tiap pemenang harus ada yang kalah, dan para pemenang hanya dapat ada bila ada yang kalah.
Di dunia yang sedih dan tak sempurna, tak semua orang bisa menjadi pemenang. Sebagian akan menderita kekalahan. Politik ekonomi berlangsung seperti permainan bola saat final, piala yang diperebutkan tak bisa dibagi sama.
Kejadian tersebut, tidak pernah dibayangkan (10 tahun lalu) oleh tim yang pernah dijuluki The Dream Team tersebut, menghilang dari persaingan di Eropa bahkan tertatih-tatih dalam liga domestik Italia.
Nikita Khrushchev menulis dalam memoarnya, “kosongnya hidup seorang pensiunan sering menerawangkan hati. Kadang saya tak tahu apa yang akan saya lakukan dengan diri saya. Saya tak tahu apa yang akan saya lakukan dengan waktu saya.”
Lalu, seperti dikemukakannya dalam buku kedua Khrushchev Remembers, ia ditolong oleh sebuah kamera. Pemberian Walikota Goteborg, ketika Khrushchev, sebagai presiden Uni Sovyet mengunjungi Swedia. Di masa setelah Nikita disingkirkan dari tahtanya yang perkasa, benda itulah yang ditimangnya. “kamera itu membantu saya mengisi kehampaan hidup saya,” tulisnya terus terang.
Agaknya bagi Khrushchev, kamera itu juga tanda tentang persahabatan dan kebaikan hati orang lain. Dua hal yang tak terasa bila seseorang dipuncak kekuasaan. Di puncak itu “persahabatan” ibarat tali yang getas, sering palsu. Teman selalu bisa menjadi musuh, atau penghambat, yang bila perlu disingkirkan. Di sekitar selalu berkerumun penjilat.
Dan “kebaikan hati”? Dari orang lain, itu terasa cuma sederet taktik. Apalagi Uni Sovyet (ketika itu) adalah sebuah negeri yang tak mengizinkan orang bicara bebas. Di situ para pemimpin dihukum untuk dirundung selalu curiga, akhirnya tak banyak lagi orang berani terus terang.
Mungkin itulah sebabnya setelah ia tak lagi berkuasa, Khrushchev dengan sebuah kamera dari Walikota Goteberg bisa melihat dunia yang lebih memikat. Lebih terang, ada penyesalan dalam dirinya, bahwa, misalnya, sewaktu dia berkuasa telah menindak Boris Pasternak. Penulis novel Doktor Zhivago, yang menulis begitu indah, dilarang menerbitkan bukunya di dalam negeri, lalu dimaki-maki oleh hampir seluruh corong komunis di dunia.
Khrushchev menulis di masa pensiunnya. “Bila berurusan dengan pikiran kreatif, tindakan administratif selalu paling merusak dan tak progresif.” Ia tahu penyesalannya dalam hal Doktor Zhivago mungkin telat, tapi katanya pula, “lebih baik telat daripada tidak pernah sama sekali.”
Itulah kearifan yang datang setelah kekuasaan hilang. Seperti diakuinya itu terlambat, tapi kearifan selalu sesuatu yang berharga untuk disambungkan ke orang lain. Terutama orang lain yang, terenyak di kursi kekuasaan, belum menemukannya.
Sebab kekuasaan, selain memberi kemampuan, ternyata juga memberi ketidakmampuan. Kalau orang sedang menjabat, bekerja atau tidak, sukar melihat dirinya sendiri. Sukar.
“Sekarang saya kurang lebih dapat mengerti bagaimana dulunya perasaan tifosi Napoli, Fiorentina, Roma bahkan Lazio sedikit demi sedikit.” Kata-kata itu tidak datang dari Presiden AC Milan, Silvio Berlusconi atau bahkan CEO AC Milan, Andriano Galliani melainkan seorang tifosi biasa.
Ketika pemilik warung diakhir pertandingan datang menyalami dan memohon agar para Milanisti mengerti bahwa ia harus mengedepankan selera pasar, ia hanya tersenyum memahami dan mengucapkan terima kasih.
Kearifan membuat kita mengerti, tak ada zaman yang sempurna, memang. Tapi bila karena itu kita bisa memaafkan suatu keadaan, kita bisa menerima alternatif lain.
Ketika kita menertawakan mereka yang mencemooh dan menghina, karena dalam tragedi kita belajar betapa penting nilai humor. Kearifan yang sulit dipelajari pada masa kejayaan
Sherlock Holmes masih berjalan tegak bagai ia masih muda. Dia ulet menampik keuzuran. Berapa umurnya? Ian McKellen memerankan Sherlock berusia 93 tahun dalam Mr. Holmes (2015). Kubur mungkin sudah digali tapi Sherlock masih meneruskan memelihara lebah untuk memperkuat ingatannya dengan Royal Jelly.
Barangkali dia memang menyadari dengan proses menua. Barangkali dia terlalu berlogika. Sudah tentu Sherlock ini berbeda dengan Sherlock yang (biasa) kita kenal. Atau bahkan orang lain, dimasyarakat kita umumnya suka bila dituakan. Itu artinya mendapatkan hak tambahan buat rasa hormat. Tapi Sherlock ini ia jujur mengakui bahwa ia merasa takut, dan memilih menyendiri agar tak menyakiti orang lain. Berdasarkan pengalaman masa lalu.
Sebuah ulasan tentang Filem Mr. Holmes (2015)
Mereka yang ingin dihormati karena tua pada dasarnya hanya memberi bobot tinggi pada faktor pengalaman. Tapi apakah masa lalu itu? Masa lampau bukanlah panorama damai yang terbentang dibelakang, sebuah negeri yang bisa ditempuh ketika ingin, yang akan menunjukkan secara berangsur-angsur, bukit dan lembah rahasia. Tapi semakin kita ke depan, masa lampau itu dapat runtuh yang mana sebahagian reruntuhan itu masih dapat terlihat, tak punya warna, bisu dan maknanya lepas.
Kurasa aku pernah menjadi nyata sehingga Jhon (Watson) membuatku menjadi fiksi. Lalu setelah itu, aku tak banyak pilihan. Bermain peran seperti dia bentuk, atau menjadi kontradiksi. Itu adalah kata-kata Sherlock kepada Umezaki.
Tapi benarkah masa lalu menghilang? Tak semuanya benar. Masa lalu sering bisa dikunjungi kembali. Batu-batunya yang menutup satu-dua liang yang dulu tak berarti, kini bisa diungkit, menjadi detail menarik bagi suatu panorama yang dulu cuma biasa. Tapi memang jalan Baker Street itu tidak bisa mengulang kembali pengalaman masa silam seutuhnya.
Disitulah orang tua sering tersesat. Ketika mereka ingin menemukan makna hidupnya, rencana, harapan dan ketakutan di jalanan kota lama itu mereka cari untuk dihidupkan kembali lagi. Tapi yang di dapatkan hanya sepasang lebah yang diawetkan, terekat dalam kaca, tak bergerak.
Sementara itu bagi mereka masa depan sangat terbatas. Seperti yang di katakan Sherlock pula, “Aku takkan pernah kembali ke Jepang. Perjalanan itu terlalu panjang untuk orang tua.” Sang anak Roger bertanya, “Kau berhasil sebelumnya.” Sherlock menjawab, “Itu sebelumnya.”
Barangkali karena itu, dalam diri Sherlock Holmes yang diperankan oleh Ian McKellen, usia tua tampak seperti kegilaan. Atau, setidaknya sebuah pangkal kesalahan menilai, ia telah sedemikian uzur akhirnya mudah terpedaya oleh ingatan sendiri.
Sementara kebanyakan orang tua dimanjakan oleh masa silam dan cemas dilupakan masa depan. Tapi untunglah orang tua ini, meski (akhirnya) tidak lagi berjalan tegak menemukan akhir manis. Bahwa seharusnya hidup, adalah tanpa ada rasa penyesalan. Karena ia telah berusaha melakukan yang terbaik.
Fantasi harus berubah bersama waktu, mungkin karena waktu membawa masalah-masalah baru.
KRISIS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK
Fantasi harus berubah bersama waktu, mungkin karena waktu membawa masalah-masalah baru. Tabib Pong pun kian tua. Ia kurang gesit dan bertambah hati-hati. Jika dulu ia menghabiskan tiga kaleng tembakau sehari (tanda kejantanan), kini ia cuma menghisap tiga linting tembakau berkadar tar terendah. Poor Mister.
Assosiasi Budjang Lapok tak lagi suatu kekuatan dunia. Kian lama hanya jadi peran pembantu. Bisa kita bayangkan dalam waktu tak terlalu lama Tabib Pong akan menjadi purnawirawan ABL (seperti yang lain). Berdiri di tepi pantai, menyiulkan lagu The Beatles, When I’m Sixty-Four.
Tentu, suatu pemandangan menyedihkan. Tapi Tabib Pong memang sudah lama dinujum para ahli. Dia, seperti tokoh dongeng dalam kisah ABL. Ia telah menciptakan gambar dan bayangan diri sendiri. Ia telah menciptakan glamor, glamor akan menciptakan peminat. Dan peminat akan menciptakan permintaan. Keinginan akan mendesak permintaan.
Pada suatu tahap, perekonomian akan tumbuh sehat oleh proses seperti itu. Pada satu tahap, kuda mengkilap, rambut mengkilap dan gadis-gadis mengkilap. Semuanya lancar dan merangsang konsumsi, dan itu artinya memperluas pasar, gaya hidup setinggi itu gampang menular.
Impian memang tak bisa dicegah memasuki kelas yang di bawah. Sampai abad berapapun, impian itu tak boleh di cegah. Idaman hidup enak yang mendorong orang untuk naik ke atas, ditambah dengan kemajuan ekonomi yang terjadi bersama itu, merupakan penggerak demokrasi dan kemakmuran.
Tapi sampai kapan?
Tabib Pong mulai cemas dan mengurangi tembakau. Rasa nyaman, seperti fantasi, berubah bersama waktu. Ketika Mas Jaim telah menikah, Barbarossa dan Amish Khan bersamaan membuka lepau nasi. Tapi siapapun yang mengejar sesuatu yang terus mengelak. Hasilnya adalah kehilangan waktu, tenaga dan pikiran. Keluarga, bisnis dan hidup. Mereka semakin sibuk, dan tak terlihat lagi di jalan-jalan Kota. Waktu adalah hal yang mahal, apalagi secara percuma menemani Tabib Pong berleha sejenak di lepau nasi.
Apakah pilihan lain yang tersisa bagi ABL terakhir ini, di samping proses menuju krisis itu? Membatasi hak orang lain, atau ikut menjangkau-jangkau dan berlomba? Atau membatasi diri sendiri? Seperti Tabib Pong membatasi rokoknya berganti yang lebih sehat seperti shisha?
X
Selamat Ulang Tahun kepada anggota ABL yang paling muda, paling dirindukan dan dicintai, Tabib Pong. Selamat bergabung dalam klub tiga puluh.
Che Guevara mengelilingi Amerika latin untuk mewujudkan cita-cita revolusionernya, mengorbankan masa depan sebagai seorang calon dokter muda menjadi pejuang di Kuba dan akhirnya tewas di ujung peluru tentara pemerintah Bolivia. El Che tidak hanya menjadi dokter biasa, ia menjadi icon, seorang legenda.
Mohamdas Karamdas Gandhi atau yang lebih kita kenal sebagai Mahatma Gandhi menjelajahi negerinya untuk melihat nasib bangsanya, sebuah perjalanan yang dimulai dari seorang pengacara muda di Afrika Selatan yang mengurusi nasib orang India disana ia pulang ke India untuk memperjuangkan bangsanya dengan perlawanan ahimsa (a=tanpa/tidak, himsa=kekerasan) terhadap penjajahan Inggris. Dalam dunia yang penuh kekerasan, Gandhi menjadi seseorang yang berbeda, ia unik sekaligus menarik.
Rasullullah di usia yang masih belasan melakukan perjalanan niaga ke negeri Syam, dan pada saat wahyu telah diturunkan kepada beliau Rasullullah juga mencoba berdakwah ke Thaif dan puncaknya ketika Rasullullah berhijrah dari Mekkah ke Madinah untuk melebarkan wilayah dakwah dan akhirnya menjadi awal dari kebangkitan Islam di Jazirah Arabia dan kemuliaan Islam di dunia. Keistimewaan proses Hijrah ini membuat khalifah Umar bin Khattab menetapkan bahwa awal penaggalan tahun Islam dimulai dari Hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah dan dikenal dengan sebutan Tahun Hijriah
Apa yang dapat kita petik dari pelajaran tersebut? Terkadang kita perlu membuka mata terhadap dunia, apa yang terjadi disekeliling kita. Orang yang berpergian ibarat air yang mengalir meskipun ia kotor maka alirannya yang akan membersihkannya, orang yang hanya diam ditempatnya ibarat air yang tergenang meskipun ia bersih lama kelamaan ia akan kotor jua adanya.
Berkaca dari kesuksesan orang-orang terdahulu, sebenarnya hikmah perjalanan itu sebenarnya adalah sangat-sangat besar, terbayang? tidak seandainya Rasulullah tidak pernah Hijrah ke Madinah bagaimana dengan keadaan kita saat ini?
Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang hari ini lebih baik dialah orang yang beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah termasuk orang yang merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin dialah termasuk orang yang celaka”
Sejatinya manusia bertumbuh sepanjang waktu, ia melewati berbagai tantangan zaman dan yang beruntung adalah mereka yang terus memperbaiki kualitas diri menjadi lebih baik. Ada dua kualitas terbaik (fitrah) anak-anak yang sebaiknya dimiliki orang dewasa. Pertama, pemaaf. Seberat apapun dua orang anak-anak bertengkar, adu pukul antara mereka tapi beberapa saat kemudian mereka akan bermain dan tertawa bersama kembali. Kedua, rasa ingin tahu. Anak-anak selalu penuh pertanyaan, sehingga mereka selalu belajar hal yang baru antusiasme. Jika, kita selaku memiliki dua sikap ini, Insya Allah akan selalu bertumbuh menjadi lebih baik.
Hijrah yang ditandai dengan tahun Hijriah memiliki makna yang dalam. Hijrah artinya berpindah menjadi lebih baik. Maka, saya ingin mengucapkan selamat TAHUN BARU HIJRIAH 1437 H. Semoga kita semua menjadi orang yang beruntung.
WAKE UP You are not in a movie. This is life, get back to reality
REALITAS ASSOSIASI BUDJANG LAPOK
Seberapa sering kau berpikir tentang mengapa teman-temanmu datang dalam kehidupanmu? Apakah itu acak, diatur atau mungkin gabungan dari keduanya? Terlepas dari semua alasan, teman yang kau kenal setidaknya akan berada disisimu untuk sementara waktu. Lainnya, kau tidak akan begitu yakin akankah pertemanan berlaku selamanya. Satu persatu teman, sahabat kelak menemui realitas masing-masing. Realitas atau kenyataan dalam bahasa sehari-hari berarti hal yang nyata, benar-benar ada.
Pada bulan-bulan belakangan, Assosiasi Budjang Lapok telah kehilangan banyak energi, semangat, gelora mereka. Satu persatu anggotanya telah menikah, “kelapukan” yang senantiasa melekat pada masing-masing personil telah menghilang bersama angin
Kisah Assosiasi Budjang Lapok ini kembali ketika kabar bahwa salah satu anggotanya Mas Jaim juga akan segera menikah. Ia adalah seseorang yang termasuk terakhir bergabung dalam ABL lama, sosok yang menjadi bulan-bulanan Assosiasi pada puncak kejayaan mereka. Ia memiliki ilmu ikhlas tingkat tinggi.
Beberapa bulan ini Mas Jaim tidak pernah muncul di lepau nasi, muncul pertanyaan apakah dia sedang mengikuti adat pingit? Aduhai, jika benar maka ia terlalu rumit, jalan pikirannya melebihi calon pengantin perempuan.
Menurut penuturan Mister Big, ia bertemu dengan Mas Jaim dan bertanya mengapa tidak pernah muncul lagi di lepau nasi. Mas Jaim menjawab, “teman-teman masa bermain saya telah selesai. Saatnya menghadapi realitas kehidupan yaitu menikah. Untuk itu aku harus fokus mengumpulkan uang dan mengurangi pengeluaran.” Ternyata Mas Jaim selama ini tak terlihat di lepau nasi, bekerja keras mengejar realitas yang diimpikan.
Ia melewatkan banyak hal yang terjadi dalam Assosiasi Budjang Lapok, ia tahu bahwa Assosiasi telah menemukan beberapa personil angkatan baru yaitu Homer, Wan Velor dan Aak De misalnya. Namun ia belum dekat lagi dengan para junior sampai akhirnya pengumuman pernikahannya.
X
Bintang keberuntungan seolah tersenyum ramah kepada Barbarossa, penjaga gudang beras kerajaan ini sedang berjalan menuju puncak kejayaan. Baru-baru ini istrinya melahirkan seorang putra yang rupawan. Selain itu bersama seorang sahabat nama Om Zhen ia merintis usaha lepau nasi, yang diberi nama “Lepau Gorengan” dan syukur perniagaan itu berlangsung baik baginya dan rekan.
Ketika mendapat kabar akan pernikahan Mas Jaim, ia tersenyum girang. “Kawan aku itu sudah banyak berubah, ia semakin baik dari hari ke hari. Aku ingat, dulu dia pernah bercerita dekat dengan anak pejabat dan berpacaran melalui surat-suratan, ternyata dia ditipu dan pacarnya tersebut ujung-ujungnya malah minta pinjam uang.”
Barbarossa meludahkan sirih dari mulutnya, setelah memiliki anak dia telah mengurangi tembakau yang sebenarnya adalah kegemeran utamanya.
“Waktu itu dia sedang dalam krisis kepercayaan diri. Oh ya, aku dulu pernah mengajak dia ke rumah menyanyi, tapi dia diam saja. Tidak menyanyikan satu tembang pun.”
Ia tertawa terbahak, “ternyata dia takut diminta bayaran atas tembang yang dilagukan.”
“Kali ini aku berharap, kabar penikahan ini bukanlah berita palsu. Soalnya Mas Jaim berulang kali mengatakan akan menikah, tapi kenyataannya sampai sekarang dia belum menikah.”
Harapan Barbarossa pun terkabul, ketika undangan pernikahan Mas Jaim tiba.
X
“Yang dulu-dulu banyak yang negatifnya, maaf bukan tidak peduli. Tidak mungkin kalau kita kupas sisi negatifnya di hari Mas Jaim sedang happy.”
Laksamana Chen menolak berkomentar terhadap pernikahan Mas Jaim.“No Comment.” Laksamana Chen tidak mampu mengungkapkan masa lalu Mas Jaim, dengan mengeluarkan kata-kata tajam. Sangking tidak ingin merusak hari bahagia Mas Jaim, ia memilih tidak hadir pada acara tersebut.
X
Prof. Gahul tidak dapat hadir dalam pernikahan Mas Jaim, akan tetapi sebagai anggota Assosiasi yang paling cerdik pandai, ia sudah meminta izin untuk tidak dapat hadir pada acara sakral tersebut dikarenakan ada urusan mengajar.
“Menurut saya, Mas Jaim selama ini adalah korban. Ia selalu menjadi sasaran ejekan anggota ABL lain, mungkin terlalu banyak dan saya pikir di luar batas kemanusiaan. Sampai-sampai dia ngambek. Tapi mungkin yang lain lebih dapat memberikan referensi, karena saya tidak terlalu sering bergabung ketika ada kejadian-kejadian tersebut, karena seperti yang kalian ketahui, saya sibuk dengan profesi dan kegiatan-kegiatan akademisi.”
X
Mendung mengantung pagi itu di Bandar, awan hitam menyelemuti seantero kota. Mas Jaim terlihat gelisah, lima belas menit lagi di masjid kebanggaan masyarakat kota ini dia akan melangsungkan akad nikah. Mana teman-teman? Belum ada satu orang pun yang datang, pengantin perempuan pun sampai saat ini belum hadir.
Ia melihat ibunya mondar-mandir, pihak keluarga dan hanya sepuluh orang yang masih berhadir ke masjid. Bagaimana bisa Mas Jaim seorang legenda ABL ketika menikah hanya dihadiri jumlah orang segitu. Rasanya ia ingin teriak, marah dan protes tapi tidak tahu kemana harus menumpahkan perasaan tersebut. Perasaan muak memuncak, tapi siapakah yang harus disalahkan atas semua kejadian ini?
Sepuluh menit lagi akad nikah, akhirnya ia memutuskan untuk shalat sunnah guna menenangkan hatinya. Selesai salam, ia merasakan sedikit ketenangan. Apalagi ketika ia melihat Penyair sudah tersenyum disampingnya.
“Seumur hidup Mas Jaim, baru kali ini beta melihat engkau shalat.”
Kampet si Penyair pikir Mas Jaim. Ingin ia maki psikopat itu. Otot-otot tubuhnya menegang, dalam hitungan detik bahan kimia yang berfungsi sebagai neutrontransmitter yang bernama catecholamine dilepaskan, untung aliran marah tersebut terhenti sebelum ia menjadi tak terkontrol. Setidaknya Penyair sudah hadir.
Tak lama kemudian, gemuruh hujan pun turun menyapu bumi. Angin kencang menggoyang pelita masjid. Pada saat bersamaan detak jantung Mas Jaim meningkat, tekanan darah naik, dan dengan demikian juga laju pernafasan menjadi tidak teratur. Wajahnya menjadi kemerah-merahan, ia berteriak. “Maaak, mana pengantin perempuannya!”
Dari arah berlawanan ibu Mas Jaim menjawab tenang, “rombongan pengantin perempuan sudah sampai, mereka sedang di teras masjid.
Lima menit lagi menjelang upacara dimulai, pengantin perempuan baru datang? Adrenalin dan noradrenalin terlepas, ia panas.
“Jangan tegang kali Mas Jaim.”Penyair memijat pundaknya.Ia melihat pengantin perempuan sudah mengambil tempat diseberang, tubuhnya mulai rileks menuju posisi normal. Ia ditemani dengan Penyair maju menghadap tuan Kadi. Tapi bukankah yang seharusnya menjadi pendamping pernikahan adalah Tabib Pong? Dia belum kelihatan batang hidungnya, dan belum ada anggota ABL lain yang hadir, inisiatif Penyair menemaninya membuat ia sedikit tenang. Kakinya bergetar, mungkin ia marah tadi untuk menyembunyikan ketakutan.
Mas Jaim sempat kebingungan, menyebutkan kata “mahar” atau “mas kawin” ketika hendak melafadzkan akad, ia sempat gamang. Tiba-tiba ia merasakan bahunya ditinju dari belakang dan pantatnya disepak. Alhamdulillah akhirnya ia mengucapkan kalimat ijab qabul dengan sempurna. Dalam kesenangan yang amat sangat ia sempat mendelik kepada Penyair.
“Yang Beta pukul dan tendang itu bukan engkau Mas Jaim, tapi segala syaitan yang coba menganggu akad nikah kau.”Kata Penyair dengan wajah tanpa rasa bersalah. Bagaimana bisa dia dalam kondisi bersila ditengah suasana syahdu tersebut sempat memukul dan menendang aku pikirnya. Ia berjanji, jika kelak menikah lagi tidak akan memilih orang gila ini sebagai pendamping lagi.
Tapi Mas Jaim punya niat menikah lagi?
Suasana tegang sekejab menjadi ceria, apalagi dikejauhan ia melihat Barbarossa, Mister Big, Amish Khan dan Aak De udah berhadir juga di masjid, dengan kondisi basah kuyup. Ia langsung mendekati Barbarossa dan berbisik senang, “Nikah juga aku bro!” Ia tertawa lepas, lepas sekali.
X
Sebaliknya, bintang keberuntungan seolah sedang menjauhi Tabib pong. Segala apa yang dia rencanakan belakangan ini selalu gagal. Ditambah lagi, dengan menikahnya Mas Jaim maka ia menjadi satu-satunya anggota ABL versi Beta 2.0 yang belum menikah.
Pada malam sebelum Mas Jaim akan menikah ia meminta penyair untuk mengirimkan merpati guna membangunkan dia, ia memiliki penyakit khas pangeran mana pun, yaitu susah bangun tidur di pagi hari. Penyair sendiri sudah mengirimkan merpati pos ke Tabib pong, tapi diketahui tewas karena menganggu sang pengeran tidur. Ketika tersadar di tengah hari Tabib Pong bertanya dalam hati, apakah merpati pos yang tewas berdarah-darah disampingnya adalah kiriman Penyair. Lalu ia menangis dalam luka dalam (Ini adalah pengakuan Tabib Pong yang sangat diragukan kebenarannya).
Sekarang dia menghadapi dua masalah baru, pertama ia telah membunuh merpati pos milik Penyair yang efisien, ia membayangkan Penyair akan marah ketika asetnya telah dimusnahkan walaupun tanpa sengaja oleh Tabib Pong. Akan tetapi masalah itu sangat kecil jika dibandingkan dengan masalah kedua yaitu, ia telah berjanji menjadi pendamping Mas Jaim dan ia telah melewatkan acara sakral itu. Itu baru namanya masalah besar!
Otaknya berpikir keras, bagaimana cara meredakan amarah Mas Jaim. Terlintas olehnya bahwa Mas Jaim memiliki kearifan tingkat dewa, dan sebagaimana dewa kuno manapun di dunia harus diredakan dalam bentuk sesaji.
Ia bergegas menuju rumah Mas Jaim, awalnya Mas Jaim menolak menemuinya. Setelah dengan segala bujuk rayu Tabib Pong akhirnya ia dimaafkan, dengan syarat tentunya. Tabib Pong mengajak Mas Jaim makan malam bersama di “Rumah Makan Ikan” yang dikelola oleh Amish Khan.
Kita ceritakan sedikit, baru-baru ini Amish Khan dipercaya oleh seorang Tabib kaya untuk mengelola sebuah rumah makan, bernama R.M Ikan. Sebenarnya di R.M Ikan itu tidak hanya menyediakan ikan, malah sangat sedikit. Menu unggulan mereka adalah berbagai macam olahan susu, dan daging. Namun Amish Khan sangat mencintai ikan oleh karena itu rumah makan itu dinamakan R.M Ikan.
Mungkin para pembaca tidak tahu, bahwa Mas Jaim adalah anggota Assosiasi Budjang Lapok terkuat. Ia adalah titisan Viking abad ini. Oh, kekuatan Mas Jaim itu bukan dalam hal adu pancho atau mengampak. Tapi dalam skill yang paling purba, yaitu makan. Diperlukan dua gentong besar susu, satu paha kambing dan sepotong roti untuk membuat Mas Jaim memaafkan Tabib Pong.
Selesai makan besar Mas Jaim pun pamit pulang, sebelum pergi ia berkata kepada Tabib Pong. “Sebelum kemari tadi aku sudah makan, jadi belum benar-benar puas. Besok kamu harus mengundang aku lagi.”
Amish Khan yang kebetulan berada disitu memandang Mas Jaim dengan mulut ternganga.Tabib Pong mengeluarkan beberapa keping koin dan membayar. Wajahnya mencoba bertingkah setenang mungkin. Tapi ia menjadi cemberut ketika Amish Khan berbisik, “Selamat ya, sekarang kamu punya berhala yang harus diberikan sesajen.”
Amish Khan tertawa terbahak-tahak, dan Tabib Pong dengan kepala miring meninggalkan R.M. Ikan.
X
“Happy wedding Mas Jaim”~ Homer, anggota baru ABL. Seorang pendongeng piawai nan tajir, berniat dan berencana menikah dua tahun lagi. Dia tidak hadir pada akad nikah Mas jaim. Mas Jaim menanggapi ucapannya dengan dingin, “Homer cuma pandai ngomong, beda dengan Tabib Pong.”
X
Sang Penyair adalah pendamping dadakan ketika Mas Jaim menikah, maka ia pun diwawancarai oleh tim reportase pernikahan Mas Jaim. Ia terlihat santun, tenang dan nyaris tanpa ekspresi ketika ditanyai kesan dan pesan tentang sahabatnya tersebut.
“Jika saja seluruh intelejensi anggota Assosiasi Budjang Lapok ditambahkan, kemudian dibagi dalam bentuk rata-rata. Maka dari penjumlahan tersebut yang menyumbang terkecil adalah Mas Jaim.”
Ia tersenyum, sedang Aak De yang berada di sampingnya terdiam hening. Bulu kuduk tim reportase berdiri, sumpah kami sangat ketakutan berhadapan dengan orang ini. Wajar, Mas Jaim menyebutkan sebelumnya hati-hatilah dengan orang ini, dia seorang psikopat.
“Psikopat? Beta hanya dingin.” Ia tersenyum manis, dan anggota tim reportase buru-buru meninggalkan orang tersebut.
X
Mewakili anggota ABL generasi baru, Wan Valor angkat bicara.
“Baiklah mas brow. By the way, Mas Jaim emang luar biasah kali progress perkembangannya. Yang pasti tu bukan efek dari kekinian.”Wan Velor tertawa terbahak.
“Singkat ajah yah brow. Kalo akuh seh jarang bertemu Mas Jaim dibandingkan yang lain. Jadi sangat sedikit yang akuh tau kronologis perjalanan hidup Mas Jaim beberapa taon kebelakang. Walau pun akuh udah kenal sejak sekolah sama Mas Jaim.”
“Tapih, eh tapih. Akuh pernah dengar sebelum menemukan istrinya yang sekarang, dia pernah memiliki hubungan bertepuk sebelah tangan.Dia hanyah dimanfaatkan ajah untuk antar jemput sajah.”
Wan Velor semakin bersemangat, “kayaknyah ituh semuah dapat terjadi karenah Mas Jaim belum ada kerjah tetap waktu itu, dan harapan ortu pacarnya agak tinggi.”
Wan Velor menjadi teringat sesuatu, “Nanti kita lanjutkan ya mas brow. Akuh ada janji sama dekgem (Dedek Gemez) nih.”
Percayalah bahwa Assosiasi Budjang Lapok telah menemukan satu lagi orator ulung, ahli retorika yang bernama Wan Velor.
X
“Sampai saat ini aku masih tidak menyangka telah menikah, ini semua terjadi seakan dalam mimpi. Ternyata setelah aku merenung kembali ini adalah realitas. Terima kasih teman-teman ABL yang telah mendukung aku selama ini. Istilahnya, ini semua terjadi karena kalian.” ~ Mas Jaim
X
Tak susah melukiskan Assosiasi Budjang Lapok, karena mereka adalah salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan Budjang, sekelompok senewan yang ingin (segera) kawin, semua biasa saja. Akan tetapi ketika alam semesta membuat sesuatu terjadi, menempatkan sekelompok orang yang berbeda karakter bersama-sama, mereka mencari jalan keluar dengan segala lebih dan kurang. Menjalani hidup di bumi, pada titik ini cerita ini berhubungan dengan perasaan mereka bagaikan fenomena unik dan bersifat pribadi.
Maka, Assosiasi Budjang Lapok layak mengucapkan terima kasih kepada Mas Jaim. Ketika kita telah melupakan keajaiban, di hidup yang biasa saja. Kami melihat Mas Jaim telah mengalami berbagai kekalahan, penghinaan namun tak pernah hancur. Dimana banyak orang ketika mereka hancur tak pernah kembali seperti semula. Tapi Mas Jaim bisa sembuh dan semakin kuat dari hari ke hari. Kami berharap dapat begitu seterusnya.
X
“Bagaimana ya cara mengatakannya? Saya segan. Mmmm, Mas Jaim dalam pernikahan itu tolong menjaga emosi ya. Pernikahan itu bukan uji emosi. Apalagi istri, nanti jangan ditampar-tampar ya Mas Jaim.” ~ Mister Big
Menyembelih seorang anak yang tak berdosa, menyembelih anak sendiri yang tak bersalah, sanggupkah engkau? Ibrahim
IBRAHIM
Siapapun yang menjadi ayah, atau berkeinginan menjadi ayah harus belajar dari Ibrahim. Seseorang yang seluruh agama samawi dinisbatkan sebagai keturunannya. Ibrahim telah diusir oleh kaumnya, setelah sebelumnya dibakar dalam api menyala, mengungsi sampai ke Mesir, bertahun-tahun tidak memiliki keturunan, padahal ia sangat berkeinginan memiliki keturunan yang saleh. Ia berdoa, “Ya Tuhanku, kurniakan kiranya kepadaku keturunan-keturunan dari orang-orang yang shalih” (QS Ash-Shaffat ayat 100)
Ketika akhirnya Ibrahim diberi keturunan, perintah itu datang. Mengorbankan sang anak dengan cara menyembelih. Sanggupkah ia?
Menyembelih seorang anak yang tak berdosa, menyembelih anak sendiri yang tak bersalah, sanggupkah engkau? Ibrahim telah mendengar suara itu. Ia yakin itu titah tuhan, agar itulah yang dikerjakannya. Ia sedang diuji sedekat manakah dirinya dengan Tuhan yang harus ditaati. Ia berangkat.
Bayangkan jika kita yang diuji? Tapi kita bukanlah Ibrahim, Nabi yang dijuluki Kholilullah, “sahabat Allah” tentu bukan sembarang. Ia mengatasi nilai “kebaikan” yang universal, yang berlaku kepada siapa saja, dimana saja, kapan saja. Ia juga unik, tersendiri, bersendiri. Tindakan Ibrahim di bukit itu tidak dapat dibenarkan oleh nilai, hukum dan kemanusiaan. Tindakan itu hanya bisa dilakukan karena Ibrahim memiliki kepercayaan. Ia seorang Ksatria Iman.
Tapi tetap saja tak mudah membayangkan “ksatria iman” harus memotong leher anaknya sendiri. Mungkinkah ia sampai hati benar?
Al Qur’an mengambarkan Ibrahim meletakkan anaknya dengan muka yang menelungkup. Dalam tafsir Al-Tabari disebutkan bahwa si bocah berkata kepada ayahnya : “Bila ayah baringkan aku sebagai qurban, telungkupkan wajahku, jangan ayah letakkan miring ke samping, sebab aku khawatir, bila ayah melihat wajahku, rasa belas akan merasuki diri ayah, dan ayah akan batal melaksanakan perintah Allah”
Kita membayangkan, Ibrahim menutup wajah anaknya seraya menghunus pisau. Ia tak akan tega melihat mata si bocah dalam kesakitan. Kemudian tangan menyembelih kurban yang ternyata telah diganti oleh Allah dengan seekor domba. Biji matanya yang hitam merekah sebagai bagian dari senyum yang belum merekah.
Sebab itu, di saat itulah ia melihat kembali wajah nyaris seseorang kurban. Wajah manusia. Wajah yang tak tepermanai. Yang tak bisa menjadi objek. Wajah yang menyebabkan perintah Tuhan memiliki makna, “Jangan engkau membunuh!”
Sebagaimana halnya bagi kita, tiap wajah mengetuk diri kita. Kita pun memberi respons, bertanggung jawab, tak mudah sewenang-wenang. Ketika kita mengingat Ibrahim di bukit itu. Ibrahim mengajarkan kita tauhid, ia mengajarkan kita juga kemanusiaan dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ia, Ibrahim berarti karena itu.
Siapa saja yang berbangga dengan harta dan keturunan, maka hanya saja kebanggaan kami dengan ilmu dan akhlak. Tiada kebaikan pada seseorang merdeka, bila tanpa akhlak mulia. Sama sekali tidak, sekalipun dia dibangsakan kepada Arab Quraisy.
Inskripsi Kaligrafi sebuah makam dari abad X Masehi di Lamno, Aceh
X
Aceh, awal 1874
Entah berapa lama aku tertidur. Tidurku nyenyak dan panjang, menjadi tidur yang menyembuhkan. Saat bangun, aku tidak kesulitan lagi membuka mata dan tubuhku tidak selemah sebelumnya. Lidahku bisa digerakkan sedikit. Aku juga bisa memasukkan jariku ke dalam mulut untuk membersihkannya dari sedikit darah beku dan nanah.
Aku terkejut mendapati diriku berada di sebuah ruangan segi empat dari kayu. Kamar ini mendapatkan penerangan dari ambang pintu yang tidak berdaun pintu, hanya tirai. Aku mengingat-ingat dalam tidur aku menjumpai sesosok tubuh mirip diriku, berbaju sorban putih dan bertanya kepadaku, “untuk apa kau berperang durjana?” Sepanjang tidurku, ia terus bertanya-tanya, sedang aku tak mampu menjawabnya sama sekali.
Aku tidak tahu dimana aku berada, tapi aku lebih tidak tahu jawaban pertanyaan tersebut. Aku mencari-cari dalam batinku, apakah aku berperang untuk kejayaan, kekayaaan, dendam, cinta atau apapun itu. Dalam perenunganku, aku belum menemukan jawaban penuh keyakinan atas pergulatan batin yang aku alami.
Kemudian dari pojok pintu masuklah dua orang perempuan menuju kearahku, rupanya merekalah yang selama ini merawat aku. Yang pertama perempuan tua dengan penuh keriput yang aku duga merupakan tabib kampong dan yang kedua adalah perempuan yang sangat cantik, seumpama dia berjalan di pasar maka akan menarik perhatian di kedai manapun. Dia mengenakan gaun panjang seperti gamis, tidak mengenakan perhiasan apapun hanya rambut bersanggul yang ditusuk konde. Bentuk wajahnya serupa dengan Panglima Tuanku Nanta Setia, perempuan ini pun memiliki bola mata hitam lembut yang sama, tulang pipi yang tidak menonjol seperti orang Aceh lain. Pipinya yang lembut dan berwarna segar seperti menyatu dengan dagunya.
Dia berbicara dengan suara pelan kepada perempuan yang tua agar aku tak terjaga. Saat dia membuka mulutnya yang berbentuk indah untuk tersenyum, giginya berkilat seperti tulang gading paling murni di antara bibirnya yang merah. Kulitnya berwarna coklat tembaga yang agak keperakan, aku menebak usia perempuan ini menjelang tiga puluhan. Aku menebak dia adalah Cut Nyak Dhien, putri Tuanku Nanta Setia. Aku bersyukur tidak jatuh ke tangan musuh.
Kedua perempuan itu sibuk merajang daun untuk pengobatan. Aku duduk. Ya, duduk.
“Kau bangun,” katanya, membuatku terkejut. “Kau perlu sesuatu?”
Aku membuka mulutku untuk menjawab, tetapi kututup lagi. Mendadak ku kira aku tidak bisa berbicara. Namun, aku sudah bisa duduk, mungkin aku bisa berbicara juga. Jadi, aku mencobanya, “ya, beta perlu segelas air.”
Senang sekali mendengar suaraku sendiri. Suaraku memang terdengar aneh di telingaku. Kata-kataku terucap dengan terjepit dan berdegih dan membuat bagian belakang mulutku sakit.
“Berbicara perlahan saja, atau dengan isyarat,” katanya seraya menyerahkan segelas air yang langsung aku minum. “Aku, Cut Nyak Dhien mendengar kau merasa sakit kalau berbicara.”
“Mengapa aku berada disini? Kalau tidak salah ini di Lampisang, sangat jauh dari ingatanku terakhir di Lhambhuek.”
“Awalnya aku dan adikku Tuanku Raja Nanta mencari ayah dan suamiku selepas pertempuran, Alhamdulillah suamiku Ibrahim selamat.” Ia tersenyum.
Sebuah keajaiban, aku mengingat Teuku Ibrahim Lam Nga menantu Tuanku Nanta Setia diberondong senapan Belanda di Kuala Gigieng, ternyata Panglima tak salah pilih menantu.
“Tapi ayah telah gugur.” Suasana hening.
“Dimana Teuku Ibrahim sekarang?” Tanyaku.
“Suamiku sedang menyusun pertahanan di Lampadang, ia menitipkan salam padamu. Ia pula yang menemukan kau sedang merangkak tersengal-sengal di dekat benteng Lhambhuek. Suamiku berkata, kau adalah letnan kesayangan ayah dan almarhum pernah berpesan untuk menjagamu.”
Luar biasa Tuanku Nanta Setia, dalam keadaan perang pun ia menitipkan menjaga diriku kepada keluarganya, dia adalah bangsawan terbaik yang pernah dilahirkan. Aku menangis pilu untuk sang komandan, terisak-isak.
“Tuan Durjana, setiap manusia punya luka. Hadapilah hidup dan jangan cengeng seperti perempuan.” Setelah menghiburku dengan pengetahuan itu, Cut Nyak Dhien mengundurkan diri. Aku ditinggalkan untuk membayangkan betapa sengsara perang yang sudah dan akan menjelang. Pada saat itu aku tidak memikirkan kematianku saja, namun kematian para sahabat dan kerabat yang bisa kapan saja menjelang.
Aku tertidur dengan sebuah pertanyaan yang belum terjawab, “untuk apa beta berperang?”
X
Pesisir Barat Aceh, circa akhir abad XIX
Dusun Jeuram yang terletak dipinggir sungai Krueng Seunagan, di daerah Meulaboh telah sunyi keadaannya. Matahari telah tenggelam di lautan Hindia yang lebar itu, cahaya yang silau, menyilaukan mata berpendar di muka air biru yang maha luas itu.
Aku sedang menatap kosong aliran sungai ketika tiba-tiba orang dibelakang menegur riang. “Ambo melihat tuan sedang bersedih, apakah gerangan?”
Aku melihat kebelakang. Anak muda itu begitu percaya diri, kurang ajar. “Darimana kau menilai?”
Ia tertawa, “sedari tadi kau bercakap-cakap dengan mata kosong. Itu bukan kau?”
Aku menarik nafas, aku tahu pasti dia memiliki kemampuan menelisik ke dalam otak hampir setiap orang, menembus sisi terdalam otak manusia. Aku merasakan setiap bercakap dengan siapapun dia selalu menggunakan bahasa yang sama, namun ia mampu berada dalam satu aliran dengan lawan bicara, orang yang berbahaya.
Tiba-tiba emosiku memuncak, mengetahui bahwa benteng pikiranku tertembus, olah orang yang lebih muda dariku. “Kau bangsawan, tak tahu perasaan beta?”
“Apa salah ambo?”
“Nasib baik terlahir sebagai bangsawan, kau tidak merasakan anggota keluargamu tersandera oleh orang lain, kau punya segala kekuatan yang tak mesti kau cari?”
“Siapa pula keluargamu yang tersandera?”
“Istriku! Ia terkurung di Kutaradja, dikelilingi benteng Belanda, dan kacaunya dijaga ketat oleh para bangsawan yang disana.”
Ia tersenyum. “Setiap orang memiliki masalah masing-masing. Ambo bangsawan, kakek ambo raja Meulaboh. Tapi ambo tak mengenal ayah, ia pergi meninggalkan kami pulang ke Minangkabau, tak pernah kembali sampai ambo dewasa. Ketika melihatnya kembali, ambo bahkan tak punya kenangan apa-apa padanya.”
Aku bersimpati pada nasib anak bangsawan ini, dia memiliki nasib tragis khas anak manusia, ditinggalkan oleh orang yang seharusnya menyayanginya.
“Jadi menurut ambo, dunia ini adalah kesedihan.” Tambahnya.
“Hmm. Itu benar juga.”
Ditengah percakapan Dokarim keluar dari semak-semak, rupanya dia sedari tadi mencuri dengar. Teuku Umar meloncat dan mengunuskan rencong ke leher sang Penyair.
“Apa maksudmu Dokarim?”
“Hamba mendengar percakapan menarik, mungkin hamba bisa menambahkan dalam Hikayat Prang Kumpeni yang sedang hamba karang.” Dokarim gugup ketakutan.
Teuku Umar menampar keras Dokarim, “jangan berani-berani menambahkan yang tidak ambo perintahkan. Pergi!”
Ia menahan tanganku seraya tersenyum manis. “Kau yang terlalu perasa seperti perempuan, lelaki itu harus bertindak keras terhadap bawahan.” Teuku Umar menjelaskan kepadaku.
Teuku Umar adalah sosok yang sukar diterka jalan pikirannya, baik oleh kawan atau lawan, itulah yang membuat dia menawan, bahkan ketika ia mengatakan aku mirip perempuan, malah amarahku mereda. Akan tetapi, “bukan begitu memperlakukan manusia Umar?”
Ia tersenyum, “ambo pikir telah jelas kelemahan kau Durjana. Kau tak punya seni memimpin, seni merangkul orang, masing-masing orang perlu diperlakukan berbeda menurut pola pikirnya.”
“Apa hubungannya dengan menampar dia?” Tanyaku.
“Kamu adalah kamu, mempersamakan logika semua orang dengan dirimu. Sedang orang tak begitu, kitalah yang menyesuaikan diri dengan lawan bicara. Dokarim memang harus ditampar, agar dia mengerti siapa Panglima. Hal yang sama tak bisa aku lakukan padamu.”
“Beta pikir kau licik Umar?
“Kau yang terlalu berprinsip Ahmad, sadarilah kau tak hidup sendiri. Menyesuaikan dirilah terhadap dunia.”
Aku menggeleng.
“Ambo yakin, kau memang petarung hebat, tapi memimpin pasukan kau pasti tak akan bisa. Buktinya dalam setiap pertempuran dengan Belanda kau selalu kalah, teman-teman kau mana? Hampir semua tewas telah bukan?”
Kata-kata bangsawan ini terlalu menusuk hati, para sahabatku gugur semua. Mataku berkaca-kaca. Mungkin benar kata Umar, mungkin aku terlalu bersifat keperempuanan, dan kehilangan keuntungan taktis dalam berperang.
Ia tersenyum penuh empati, dengan kesiagaan penuh aku menatap orang ini, jika ada hal yang aku syukuri saat ini adalah dia bukan musuhku. Jika ia musuhku maka sedari tadi aku sudah tak bernyawa. Tapi benarkah dia temanku?
“Kawan, nikmatilah hidup. Pesisir Barat merdeka dari Belanda. Sembuhkan lukamu, kelak kau akan mengangkat senjata kembali melawan belanda, cepat atau lambat.” Senyum tak pernah hilang dari bibirnya, “ingatlah selalu Durjana, ambo adalah sahabatmu selalu.”
Aku terdiam dan merenung. Pesisir Barat Aceh masih merdeka dari cengkraman Belanda, tapi sampai kapan?
XX
Kampung Pelanggahan, Koetaradja. 30 September 1893
Teuku Umar bersama 15 orang pengikutnya datang ke hadapan Tuan Kadi, Jenderal Deijkerhoff tersenyum senang. Mereka datang seperti yang telah dijanjikan, awalnya ia sempat cemas jagoan Meulaboh ini ingkar janji. Hari ini di makam Teungku Di Anjong. Teuku Umar mengucapkan sumpah setia, sengaja dipilih oleh Belanda dengan harapan Teuku Umar tidak akan mengingkari janji yang diucapkan di depan makam keramat tersebut.
Pada bulan-bulan akhir tahun 1893, Teuku Umar memiliki tentara dua ribu orang bersenjata, senjata Belanda. Pada tanggal 30 Oktober bahkan dia menaklukkan Aneuk Galong, pangkalan militer terpenting Panglima Polem di lembah Seulawah, akhirnya Jenderal Deijkerhoff dapat memerintahkan dapat bendera Belanda dikibarkan dalam radius 16 Kilometer dari Koetaradja setelah 20 tahun berperang. Belanda pun akhirnya menguasai jalur laut dari Ulee Lheu ke Krueng Raba di pantai Barat.
Pada bulan April selesailah operasi pembersihan besar-besaran, dengan kondisi lembah Seulawah telah dikuasai Belanda sepenuhnya. Kaum ulama kebingungan, bolehkah pertempuran melawan pasukan Teuku Umar, yang terdiri dari orang-orang muslim seperti mereka, juga disebut prang sabil, perang suci? Sebagian orang berpendapat tidak. Hal ini juga segera banyak mengurangi hasrat bertempur, bila orang yang gugur tidak memperoleh jaminan syahid memasuki surga.
Belanda kini diatas angin. Siapakah yang masih meragukan bahwa peperangan telah hampir berakhir?
XXX
Lembah Seulawah, circa 1894
Akibat hawa dingin yang menganggu, Jenderal Deijkerhoff sudah terjaga dan siaga sebelum fajar. Pasukan Marsose belum terbiasa membaca jejak, mereka sudah berdiri tegak meski sudah sama-sama kedinginan bersama legion Teuku Umar. Mereka bergerak karena itu membuat hangat. Padang prairi masih terbentang, sekarang perbukitan.
“Kalau sesuai dengan dugaanku, semua usaha kita telah berbuah hasil.” Bintang keberuntungan seperti tersenyum manis pada Jenderal Deijkerhoff ketika ia melirik Teuku Umar.
“Belum Meneer, perang masih akan panjang.” Jawab Teuku Umar.
“Mengapa? Jagoan Sultan yaitu Panglima Polem sudah terdesak. Teungku Tiro sudah mati, pasukan mereka cerai berai. Tak lama lagi Negeri Pidie yang keras kepala pasti akan jatuh.”
“Ada satu orang berbahaya yang belum mati, yang menjadi sandungan. Dialah sang Durjana.” Teuku Umar menjawab mantap.
“Siapa sang Durjana? Tidak ada laporan tentang manusia itu dari mata-mata kita.” Jenderal Deijkerhoff menarik alis.
“Dia adalah orang cerdik nan licik. Kelihatannya dia tidak berbahaya, dugaan ambo dialah yang harus kita lenyapkan dari muka bumi sebelum kita menyerang kenegerian Pidie.” Jawab Teuku Umar.
Jenderal Deijkerhoff sebegitu terpesona oleh Teuku Umar, akan kegemilangan Panglima kesayangannya tersebut. Ia mengagumi orang ini, menurut Jenderal Deijkerhoff, Teuku Umar telah berada dalam satu gelombang pikir dengan Belanda, tanpa perlu mendengar alasan yang terlalu jauh. Ia memerintahkan pasukan berhenti. “Dimana keparat Durjana itu berada?” Tanyanya
“Dia sekarang di Barat, dan sekarang adalah saat yang tepat meremukkannya.” Teuku Umar menerawang menatap langit Barat.
“Baik, kita tunda ekspedisi ke Pidie. Kita cari dan bunuh si Durjana.”
“Siap!” Adalah jawaban yang serentak diucapkan oleh pasukan Belanda, Marsose dan legion Teuku Umar.
XXXX
Krueng Sabee, Pesisir Barat Aceh 1894
Kegelapan, dan dalam kegelapan itu, keheningan.
Ahmad merasa dirinya meluncur sampai berhenti, kemudian tidak ada apa-apa. Ia bisa bernafas, tapi udara terasa apak dan pengap, dan ketika ia berusaha bergerak, tekanan pada jantungnya semakin meningkat.
Melalui udara yang penuh asap, udara berbau dan terasa seperti besi. Dinding-dinding ruangan retak, dan semua pilar, pahatan dan lentera telah hancur. Ahmad menyumpah, jauh dari lorong pasar ratusan orang pribumi dan Belanda menghambur dari ambang-ambang jalan masuk yang menganga. Ahmad menoleh sebelum melihat pasar dilalap api.
Umar! Teriak Ahmad dalam pikirannya, ia bertanya-tanya mengapa kawannya membawa marsose kemari. Ia menyaksikan dalam beberapa detik, kemudian dadanya dipenuhi emosi. Ia menguatkan diri berlari diantara desingan pelor, jelas dia menjadi target utama penyergapan ini.
“Sejak kapan aku menjadi target utama Belanda?” Ia tak habis pikir Belanda telah masuk ke pedalaman Barat Aceh yang selama ini belum tersentuh. Ke pegunungan, ia harus berlari segera. Tak peduli betapapun berat ia harus lolos.
Ahmad menghembuskan nafas, kerongkongannya kering, jantung berdebar sebegitu kencang, sampai sakit rasanya. “Aku harus terus berlari.” Pikirnya, rasa takutnya menyerang kembali. Ia mulai menjauh dari area penyergapan.
Lumpur menempel pada sepatu Ahmad setiap kali ia mengangkat kaki, memperlambat langkahnya yang sudah letih dan pegal. Kakinya tergelincir di saat yang tidak menguntungkan. Ia tak lagi ingin menghindari lumpur. Ia tak peduli lagi pakaiannya kotor. Lagi pula, ia begitu letih, lebih mudah melangkah kearah yang sama daripada harus berpindah-pindah dari satu pulau rumput ke pulau rumput yang lain.
Dalam keadaan getir amat sangat. Lehernya yang tercekat dan membuat sulit bernafas, ia digoda oleh keinginan menyerah. Kemudian ia mengeram, marah dan jijik kepada diri sendiri.
“Pertempuran ini harus berakhir. Aku tak bisa terus menerus seperti ini. Aku tak bisa, aku tak sanggup.” Ia menegadah dan dengan ngeri, rasa takut dan bersemangat membuat gerakan Ahmad semakin cepat.
Gunong Ujeun, Gunung Hujan. Kegirangan, Ahmad meloncat. “Aku masih hidup.” Ia melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada pasukan musuh yang berada di dekatnya, kemudian tersenyum menunjukkan taringnya, ia memperpanjang hidupnya sehari lagi.
XXXXX
Gunong Ujeun, 1894
Sudah dua puluh tahun perang Aceh bergejolak. Aku masih mengingat malam dimana aku diselamatkan oleh keluarga Tuanku Nanta Setia, malamnya aku tertidur dengan kegelisahan akan pertanyaan untuk apa berperang? Disaat aku merasa patah arang dan putus asa seperti hari ini baiknya aku mengenang kembali malam itu.
Lelaki bersorban putih yang menyerupai aku itu kembali datang dalam mimpiku, aku sadar ini hanyalah sebuah mimpi belaka, namun bukankah sebenarnya mimpi itu terkadang adalah refleksi dari kegelisahan hidup. “Apa tujuanmu berperang Ahmad?”
Aku terdiam, tapi kali ini aku membayangkan Sultan Mahmud Syah, Tuanku Nanta Setia dan para sahabat yang telah gugur sebelum malam itu, aku mengingat bahwa sebelum Belanda datang hidup kami penuh canda tawa. Aku tidak mengatakan kondisi negeri Aceh sepenuhnya baik, namun kami hidup dalam keadaan damai.
“Aku tak pernah ingin berperang, aku tidak ingin berjuang. Aku memimpikan darah dan perkelahian brutal saat masih kecil, seperti semua anak. Sewaktu ayah hidup, tanah pertanian kitalah yang aku anggap penting. Itu dan keluarga. Dan sekarang aku membunuh. Aku telah berkali-kali membunuh.” Aku menjawab sosok bersorban itu seolah-olah dia adalah aku.
Ia tersenyum kepadaku. “Pejuang sejati tidak bertempur karena ingin, tapi karena harus bertempur. Seseorang yang bertempur demi sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri mampu membunuh seratus orang dengan mudah.”
“Hati nuraniku berkata, aku tidak bisa melihat ada orang lain kemari dengan alasan peradaban atau apapun membakar, menjarah dan memisahkan anak dari orang tua. Dan menghancurkan ini semua hanya untuk sebuah keserakahan yang membabi buta.”
“Lelaki dengan hati nurani adalah orang paling berbahaya di dunia.” Ia tersenyum lagi, sekejap kemudian aku melihat wajah almarhum Sultan Mahmudsyah dan Tuanku Nanta Setia muncul di belakang laki-laki bersorban putih, mereka tersenyum padaku.
Sultan yang wafat pada usia belasan akibat kolera yang di bawa Belanda pada ekspedisi kedua itu hanya mengangguk, sedang Tuanku Nanta Setia panglima yang dengan gagah berani pernah memimpin pasukan Aceh pada pertempuran di Kuala gigieng berkata, “restu kami padamu, dalam kalah maupun menang. Karena dengan nurani akan menjaga dirimu dari sikap kecewa bilamana nanti pengganti kami tidak sebaik yang kau bayangkan.”
Cahaya putih perak menjelang, dan aku merasa damai.
XXXXXX
Ketika linangan rindu mengalir dari nafas yang retak rekah, apa dayaku zaman telah berpaling muka
Suatu hakikat sejarah pengkhianatan yang hampir selalu menghancurkan kebesaran suatu bangsa.
RISALAH SANG DURJANA BAGIAN ENAM BELAS
Ini adalah kisah para pengkhianat yang telah dimaafkan oleh sejarah, turun-temurun mengalirkan darah mereka, zaman ini mereka berkuasa dan menunjuk orang lain pengkhianat. Tapi mereka lupa, sejarah mencatat darah kotor mereka, garis keturunan yang dimegah-megahkan itu hanyalah noda hitam sejarah.
X
Benteng Lhambhuek, Aceh Darussalam pada hari 1 Januari 1874
Asap yang perlahan-lahan naik menerawang sawang, akan berpadu dengan tedza-tedza yang berarak-arak seluruh cakrawala, kelak menceritakan kepada sekalian anak manusia yang hidup di bawah kolong langit ini dari zaman ke zaman.
Ahmad terbaring di antara mayat-mayat itu. Jumlahnya ribuan.
“Dunia sudah gila,” pikirnya nanar. “Manusia seperti daun kering, yang hanyut ditiup angin.”
Ia sendiri seperti tubuh-tubuh tak bernyawa yang berserakan di sekitarnya. Ia mencoba mengangkat kepala, tapi hanya dapat beberapa senti dari tanah. Ia tak ingat, apakah pernah merasa lebih lemah. “Sudah berapa lama aku disini?” Ia bertanya-tanya.
Lalat-lalat mendengung di sekitar kepalanya. Ia ingin mengusirnya, tapi mengerahkan tenaga untuk mengangkat tangan pun tak sanggup. Tangan itu kaku, hampir-hampir rapuh, seperti halnya bagian tubuh yang lain. “Tentunya sudah beberapa lama aku pingsan,” pikirnya sambil mengerak-gerakkan jemarinya satu demi satu. Ia belum sadar bahwa sudah terluka. Dua peluru bersarang erat di dalam pahanya.
Awan gelap mengerikan berlayar rendah di langit. Malam sebelumnya kira-kira antara tengah malam dan fajar, hujan deras mengguyur daratan. Sesekali siraman hujan segar menimpa mayat-mayat itu, termasuk Ahmad tengadah. Tiap kali hujan menyiram, ia membuka dan menutup mulutnya seperti ikan, mencoba mereguk titik-titik air itu, “seperti air yang dipakai mengusap bibir orang sekarat,” kenangnya sambil melahap setiap titik air yang datang. Kepalanya sudah hilang rasa, sedang pikirannya seperti bayangan-bayangan igauan yang melintas.
Bunyi meriam masih bertaut dari kejauhan, entah dari Peunayong atau istana. Perang masih berlanjut, tapi pihaknya telah kalah. Ia tahu betul itu, Benteng Lhambhuek telah jatuh, oleh pengkhianatan Ali Bahanan, atau siapapun itu.
Hanya dalam setengah hari, seluruh harapan yang pernah ia miliki lebur.
XX
Kuala Gigieng, Pesisir Aceh Darussalam 9 Desember 1873
Belanda telah memperhitungkan bahwa setibanya di Gigieng mereka belum lagi mendapatkan perlawanan. Nyatanya tidak demikian. Begitu mereka tiba segeralah barisan pertahanan Aceh menembaki mereka dengan bedil dan lila, yang dikomandoi Tuanku Nanta Setia. Untuk mengadapi tembakan seru itu, Belanda dibawah pimpinan Jenderal Van Swieten menyerbu barisan sayap kanan dati batalyon-14, di samping mendobrak secara lempar jiwa dalam formasi 100 meter berlapis, dengan juga dilindungi tembakan meriam maju mundur tapak demi tapak dalam percobaan garis muka di seberang dan di hadapannya.
Panglima itu, Tuanku Nanta Setia. Ia memandang lurus kedepan, lalu memanggil ajudannya, “Ahmad, sepertinya mereka sudah mengetahui formasi kita, ada kebocoran.”
Ahmad terdiam.
Di depan mayat bergelimpangan, sang menantu Ibrahim telah berkalang tanah. Mayat-mayat tentara Aceh berjatuhan satu demi satu menghadapi artileri Belanda. Terlihat kepala mayat tergeletak dalam rumput tinggi. Ada yang menegadah ke sungai. Lainnya tersangkut satu sama lain. Aliran air mata membentuk jalur sutra putih menurumi wajah muram Tuanku Nanta Setia. Ia mendengarkan keluhan seseorang yang sakit parah.
“Hari ini kita banyak kehilangan generasi terbaik bangsa ini, aku takut ketika perang ini berakhir yang tersisa hanyalah pengkhianat culas.”
“Kita akan menang Tuan,” jawab Ahmad.
“Menantuku Ibrahim telah gugur,” ia mengusap airmatanya.
“Ahmad, kalau aku mati maukah kau mengurus Nyak Dien putri kesayanganku?”
“Apa yang Tuanku bicarakan?”
“Suaminya telah gugur, dan aku merasa seperti akan mati dalam pertempuran ini.”
Ahmad gusar, ia sendiri sebagai prajurit menyandarkan diri kepada Panglima. “Ayolah Tuanku jangan cengeng seperti ini.”
Suara bedil masih bersahut-sautan, diselingi dentuman meriam. Mereka maju lebih jauh sedikit, sampailah mereka kepada bertumpuk-tumpuk tubuh tanpa nyawa, hingga kelihatannya satu divisi telah di sapu habis. Waktu itu sudah hilang perasaan mereka melihat darah kental. Mata mereka berkaca-kaca menangkap pemandangan itu dengan sikap masa bodoh yang dingin.
XXX
Kubu pertahanan Aceh di pesisir Selat Malaka, Aceh Darussalam 13 Desember 1873.
Belanda telah mengetahui ada dua kubu pertahanan Aceh di dekat pantai sekitar Selat Malaka, yaitu Kota Musapi dan Kota Pohama (Kota Po Amat). Di sini Aceh mempunyai benteng tua yang telah diperbuat semenjak sebelum Iskandar Muda. Jika Belanda ingin mendapatkan jaminan yang lepas dari bahaya jepitan Aceh dari pantai apabila kelak menyerbu ibu kota, mereka harus menaklukkan keduanya.
“Aku mendapat kabar, sejumlah 1500 bantuan sukarela dari Pidie lengkap dengan senjata telah sengaja tiba di ibu kota, mereka dipimpin Teuku Pakeh Dalam untuk mempertahankan benteng Lhambhuek. Maka pergilah kesana Ahmad?”
“Mengapa mereka tidak menuju kemari Tuanku?”
“Kapal Hitam Belanda terlalu ganas di lautan, meriam mereka melindungi marinir mereka dengan sangat baik, mungkin peruntungan kita di darat lebih baik.”
“Beta tak mau pergi!”
“Jangan membantah Ahmad, kau lakukan tugasmu.”
“Tapi.”
“Aku dan pasukan yang tersisa disini akan berusahan mengurangi setiap Belanda yang akan tiba di sana, pergilah! Ingat pesan ku beberapa hari yang lalu!”
Untuk sesaat berkecamuk kesunyian yang menyesakkan. Keduanya menyadari semakin mendekatnya maut. Ahmad akhirnya pergi seraya berpikir, “lihatlah aku berlari seperti seorang pengecut.”
Pertempuran yang telah berkecamuk di sekitar Selat Malaka itu akhirnya memakan waktu 5 hari sampai akhirnya Belanda dapat melumpuhkan tentara Aceh di Musapi dan Pohama.
Panglima itu, Tuanku Nanta Setia gugur bersama seluruh pasukannya.
XXXX
Kemah Pasukan Belanda, Aceh Darussalam 20 Desember 1873
Letnan Jendral Spyck menatap wajah Teuku Ali dalam batinnya terlintas jikalau Kohler berhasil menawan Teuku Nek Meuraksa menjadi kaki tangannya, Spyck pun mempunyai mata-mata rahasia yang tidak harus dicari-cari melainkan datang dengan sendirinya. Teuku Ali datang ke markas besar Spyck untuk memberikan peta negeri, bangunan pertahanan tentara Aceh, nama-nama orang kuat dalam pemerintahan dan masyarakat.
Dengan senyum simpul sesembahan itu diterima oleh Panglima Belanda itu, hatinya bangga tiada terbada-bada, kegirangan. Sementara mereka mengadakan permusyawaratan, tentara Belanda terus menerus menggempur benteng Lhambhuek yang diibaratkan waja dari Kutaraja.
Asap cerutu suguhan Spyck, yang dihembuskan oleh Teuku Ali menerawang perlahan-lahan ke udara, diikuti oleh asap cerutu Spyck sendiri, akan menjadilah saksi seumur hidup bahwa sejak malam itu Teuku Ali menjadi pengkhianat besar bagi Negara Aceh.
Selagi mereka sedang tertawa besar, dewasa itulah Teuku Nek Meuraksa tiba diiringi oleh dua utusan yang mencarinya. T. Nek memberi hormat dengan takzimnya lalu Spyck menyilakan ia duduk. Baru ia tiba dipintu, hatinya terus bertanya-tanya, demi melihat perubahan wajah T. Nek. Teka-teki dalam kalbunya menjadi-jadi apakah teuku Ali juga menjadi pegawai ketentaraan Belanda seperti dia?
Tanda Tanya besar ini lenyap, setelah ia disuguhkan minuman dan cerutu, istimewa karena kesepian ruangan dipecahkan oleh suara Penglima Belanda itu, “kamukah bernama Teuku Nek Hulubalang Meuraksa?”
“Benar,” sahut T. Nek dengan merendah.
“Dahulu kalau saya tidak salah, kamu ada membuat perhubungan dengan Jenderal Kohler, bukan?” Tanya Spyck menyelidik.
Baru saja perkataan itu lepas dari mulut Spyck Teuku Ali ternganga, gelombang perasaan menggunung dan berjuang di pantai hatinya, di antara ombak perompakan itu lahirlah suara hatinya, “rupanya sejak dahulu T. Nek ini telah menjadi pegawai Belanda.”
Pertanyaan itu lama disambut T. Nek karena tanda Tanya besar yang timbul terhadap teuku Ali belum terjawab oleh hatinya. Spyck, rupanya lebih arif akan isi hati T. Nek dewasa itu lalu menegaskan perhubungan dengan Jenderal Kohler bukan?
Mau tak mau, meskipun diliputi oleh selajang perasaan segan, T. Nek terpaksa menjawab, “benar, saya ada membuat perhubungan dengan orang Belanda,” lalu ia pun memperlihatkan surat keterangannya kepada pembesar Belanda itu.
Jawaban itu disambut oleh Spyck dengan simpul dan menegaskan, “saya undang kamu kemari untuk mengadakan perembukan tentang pendaratan kami ke Aceh ini. Sebelum kami menduduki seluruh tanah Aceh, hendak kami ketahui lebih dahulu dari kedua kamu, bagaimana yang sebenarnya pikiran rakyat tentang hal ini?’
Dengan segan T. Nek menjawab, “rakyat Aceh sebahagian besar menyukainya tuan.”
“Oh, begitu?” Tanya Spyck.
“Iya tuan besar.” Jawab T.Nek takzim.
Spyck telah lama mengenal tentang watak rakyat Aceh dengan perantaraan tulisan-tulisan dari pelawat-pelawat kemari, tentunya ia tidak akan mentah-mentah mempercayai pengakuan T. Nek, malahan ia sempat menarik suatu kesimpulan bahwa jiwa T. Nek tidak dapat dipercaya sebagai seorang pegawai Belanda.
“Kalau begitu, atas pertolongan kami bersama Teuku Ali ini, saya pertanggungkan kewajiban untuk memudahkan tentara Belanda melakukan kewajibannya disini.”
“Kamu bersedia, tuan besar!” Serentak suara pengkhianat terhambur dari mulutnya, rupanya mereka telah sejiwa.
“Dalam pertempuran merebut benteng Lhambhuek, tentara kami mulai pecah, karena berbagai daya yang kami cobakan, belum memberi hasil yang baik.” Kata pembesar Belanda dengan suara kecewa. Setelah itu diucapkannya, kelihatannya ia termenung kemudian ditukasnya lagi. “Rancangan merebut kerajaan Aceh tentu akan lebih rusak lagi, manakala berlama-lama mengalahkan Lhambhuek ini.”
Sementara itu kedua pengkhianat tanah air itu memutar otaknya, memikirkan bagaimanakah sistem operasi yang akan diserahkan kepada tentara Belanda itu, untuk memudahkan pendudukan atas benteng Lhambhuek dan menduduki istana Aceh.
Serupa dengan pelajar-pelajar menghadapi pertanyaan-pertanyaan, yang berlomba-lomba untuk lomba berpikir untuk memberi jawaban yang benar, demikianlah layaknya dua pengkhianat ulung itu menghadapi soalan majikannya. Setelah sekian lama memutar otak, T. Nek berkata, “untuk menduduki benteng Lhambhuek, handaklah seluruh kampung di sekitarnya dibakar lebih dahulu. Kalau tidak, sekali-kali Lhambheuk tidak akan jatuh, karena bala bantuan dapat diantarkan dengan perantaraan desa-desa itu. Bilamana kampung-kampung itu tidak ada lagi, maka penjagaan perhubungan keluar benteng mesti dapat diamat-amati.”
Lama pembesar Belanda itu termenung berpikir, kemudian dengan tegas membenarkan pendapat T.Nek, entah beberapa kali bahu T.Nek ditepuk-tepuk oleh Letnan Jenderal itu, tiadalah dapat dihitung lagi, karena ia asyik dibuai gelombang kegirangan.
“Dalam soal pertama ini saya sangat setuju dan akan saya jalankan. Tetapi bagaimanakah soal merebut istana sultan?”
Teuku Ali yang ternyata murid yang tertinggal, dengan soal yang kedua ini ia mencoba mencapai ponten yang baik, sebab itu digunakan otaknya dengan agak terburu-buru lalu ditukasnya dengan gugup, “Tuan besar! Untuk meleburkan istana sultan tidak ada suatu jalan pun, selain menangkap komandan-komandan pengawalnya, diantaranya Tuanku Panglima Polim atau Tuanku Hasyim.” Setelah ia mengucapkan perkataan itu, iapun diamlah, menjadikan ruangan kemah markas hening sepi.
Letnan Jenderal Belanda itu belum dapat membenarkan anjuran Teuku Ali, agaknya ia sedang dihanyutkan oleh gelombang pikiran. Kebimbangan itu lenyap sebentar setelah Spyck menegaskan perkataannya, “ya, saya setuju. Tapi untuk menangkap kedua orang itu bukan perkara mudah.”
“Itulah yang semudah-mudahnya tuan besar, saya sanggup melakukannya.” Teuku Ali girang usulnya diterima.
“Bagaimana pikiran T. Nek?” Tanya Spyck.
Pengkhianat ini hanya mengangguk.
“Nah sekarang kalau begitu kami akan menjalankan pembakaran, kalian berdua sangat berjasa kepada Belanda.” Kemudian setelah ucapannya terhambur dari mulutnya, dua gulungan besar uang kertas telah masuk ke saku mereka masing-masing. Ya, mereka berpura-pura menolak akan pemberian Letnan Jenderal Spyck, tapi tokh masuk juga ke kantong mereka.
Suatu hakikat sejarah pengkhianatan yang hampir selalu menghancurkan kebesaran suatu bangsa.
XXXXX
Semarang, tercetak oleh G.C.T Van Dorp & Co. 1889
Perang di kampong lembu, pada hari 25 Desember 1873
Dari pada segala perbuatan pelawan di negeri Aceh, yang harus diceritakan, ialah seketika batalion tiga berperang di kampong lembu pada hari 25 bulan Desember, 1873.
Meskipun waktu itu beberapa serdadu meninggal dunia di medan perang akan tetapi keberanian itu memberikan kehormatan kepada bendera narandji, yang mengikut battalion tiga. Dari sebab itu dan akan lain perang, pada titah raja bendera itu beroleh bintang kerajaan, yang ternama Militaire Willemsorde.
Haruslah satu-satu serdadu yang mengikut batalion tiga itu, selamanya mengingati perbuatan pelawan temannya dahulu. Maka baiklah satu-satu serdadu tahu perbuatan batalion tiga, sedang berperang akan mengalahkan kampong lembu, yang teramat kuatnya.
Pada hari yang tersebut di atas ini, batalion tiga bersama dengan lain-lain batalion di suruh berangkat ke kampong Lembu, berbahaya betul batalion tiga itu, sedang menghadap benteng-benteng yang berkeliling pinggir kampong.
Dua kali benteng itu diserang sebaik-baiknya, maka dua kali juga batalion itu diundurkan oleh musuh.
Takkala itu menjanjikan kecil hati serdadu itu, maka ajudan onder-officier E.C.O. Von Bredow, yang memikul bendera narandji itu lalu berlari ke pinggir kampong, serta bendera itu ditanamkan di kaki tembok benteng. Barulah orang menengok berbahaya bendera itu, maka secepat-cepatnya officer dan serdadu berlari kehadapan, sedang bendera itu dikepungkan berkeliling
Seperti karang batu di tengah laut, yang sia-sia dipukul ombak, serta tidak bisa dirubuhkan, begitulah orang-orang pelawan itu tetap tinggal ditempatnya. Meskilah beribu pelor musuh berbahayakan officer dan serdadu itu, maka tidak ada satu yang mengingat akan mundur.
Bersama-sama, benteng Aceh itu dilanggar dengan sungguh-sungguh, meskipun kuat sangat perlawanan musuh itu. Seperti macan galak batalion tiga tampil menyerang benteng-benteng Aceh, serta merebahkan segala barang yang menahan jalannya, musuh yang berani melawan ditikam dengan bayonet. Tidak lama kemudian daripada itu, antero kampong dikalahkan.
Maka sebab kelakuan, yang amat beraninya, bintang tanjung, yaitu Militaire Willemsorde diberikan kepada Ajudan onder-officier Von Bredow, SergeantMajoor J. Bach, dan Sergeant Ambon L. Latoemaina. Bintang tanjung itu yang sudah diberikan kepada bendera narandji batalion tiga menunjukkan keberanian dan setia orangnya.
Maka haruslah anak-anak serdadu yang mengikut batalion tiga itu, baik di medan perang baik di tempat perdamaian selamanya mengingat akan laku jalan temannya dahulu, dengan hati besar boleh tunjuk pada perbuatannya itu. Harus jaga satu-satu serdadu mengingat keharusannya, kalau diserahkan perlawanan benderanya.
Meski berbahaya batul, jangan sekali-kali orang mengingat akan tinggalkan benderanya, maka lebih baik tetap ditempatnya atau meninggal dunia di medan perang.
Terhikayat oleh W.J Philips, Kapitein Infaterie
XXXXXX
Setelah kejatuhan Benteng Lhambhuek (Lembu)
29 Desember 1873 – Belanda menguasai Peunayong
6 Januari 1874 – Masjid Raya Baiturrahman diduduki.
24 Januari 1874 – Istana Aceh Darussalam lebur untuk selamanya.
XXXXXXX
Kutaraja (Nama Bandar Aceh Darussalam setelah ibukota direbut Belanda), Aceh 31 Desember 1874.
Sesudah menduduki istana, Jenderal Van Swieten mengeluarkan maklumat yang disebutnya dengan nama Proklamasi. Isi maklumat tersebut, “Pemerintah Hindia Belanda telah menggantikan kedudukan sultan dan menempatkan daerah Aceh Besar menjadi milik pemerintah Hindia Belanda.”
Jenderal Van Swieten yang pada 16 April 1874 kembali ke Batavia dengan meninggalkan korban tewas sebanyak 28 orang perwira, 1024 bawahan, serta 52 orang perwira dan 1082 bawahan yang luka-luka dan sakit serta diungsikan ketempat lain.
Perang Aceh telah berakhir, bagi Jenderal Van Swieten ia meninggalkan Aceh dan tak pernah kembali.