ANAK ANAK BERMAIN BOLA

Kenzo Jaden El Moro

anak-anak bermain bola tanpa beban kesengsaraan

ANAK ANAK BERMAIN BOLA

anak-anak bermain bola dalam rintik hujan

dalam nikmatnya kebersamaan

anak-anak bermain bola tanpa beban kesengsaraan

tanpa dibayangi ketakutan

anak-anak bermain bola dalam luasnya jagad raya

tanpa tabir kemunafikan

andai dunia seperti realita ini

alangkah indahnya

anak-anak pun bermain dan terus bermain

Krueng Sabee, 16 Agustus 2000

Posted in Asal Usil, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | 17 Comments

TIDAK SEDANG MENCARI CINTA

Untuk cinta yang tak kunjung menampakkan wajahnya

Untuk cinta yang tak kunjung menampakkan wajahnya

TIDAK SEDANG MENCARI CINTA

Malam merayap pelan, pukul Sembilan lewat. Aku benci udara malam, dingin menusuk sumsum. Tidak enak jika harus menolak sampai empat kali. Sebulan ini tak pernah kami bertemu, selalu aku berhasil mencari cara untuk menghindar hingga tiba saat aku muak berlari. Aku datang dengan perasaan enggan, di rumah lebih baik. Ada buku, ada televisi dan terpenting hanya ada aku sendiri disana.

Malam minggu adalah saat orang bergentayangan, dan aku lebih suka menyepi dalam gua sufiku. Seperti biasa aku terlambat, Dara sudah disana ia tersenyum menjulurkan tangan. Aku memalingkan wajah ke atas meja, juice mangga tanpa es kesukaanku. Tapi menyebalkan jika, orang lain yang memesankan seolah-olah mengetahui apa yang kuinginkan. Dara mengangkat tas jinjing dari samping bangkunya mengkode bahwa ia ingin aku duduk disampingnya, reflekku malah mengambil tempat tepat didepan berhadapan. Tak banyak bicara, kuseruput juice mangga dengan memainkan pipetnya. Menghembuskan angin ke udara. Sebuah kebiasaan yang menurutnya sangat ia benci dariku, memancing konflik. Aku tak peduli. Sementara diam menguasai kami, hingga.

“Katakan apa yang salah sehingga dapat aku berubah? Mengapa sebegitu sulit bertemu denganmu?” Wajah yang selalu dihiasi senyuman itu kini menatap dengan penuh emosi, bukan tapi sejenis rasa kalut bercampur takut dibumbui kemarahan tertahan. Wajah itu sekarang berkeringat, air menyusur deras dari pori-pori membuat ia mengeluarkan tisu dari tas jinjing untuk menghapusnya. Ah, seharusnya sejak pertama bertemu seharusnya aku harus sudah mengatakan tidak suka dengan riasan yang ia pakai. Terlalu, mengingatkan pada sosok wanita iblis. Dan itu sangat menakutkanku.

“Kamu hanya diam, seolah tidak ada apa-apa! Apa yang salah sehingga kamu selalu terlambat membalas sms. Apa salahku sehingga kamu hampir selalu baru mau menjawab telpon di panggilan ketiga!” Emosi Dara meledak, kata-katanya kacau tidak terstruktur. Ia mulai menitikkan air mata. Siapa yang mengatakan air mata adalah kelemahan bagi mereka, justru air mata adalah kekuatan terbesar yang mereka miliki untuk meluluhkan baja terkuat sekalipun. Membuatku kehilangan kata-kata, dan berucap pelan. “Maaf.”

“Hanya maaf! Padahal aku sudah mentolerir segala mimpimu. Berdamai dengan keinginan untuk selalu didekatmu. Tapi kamu tak pernah mau mencoba mengerti.” Masalahnya apa? Aku tidak mengerti keinginan Dara. Apa maksudnya menodongku dengan serangan bertubi-tubi. Aku tidak suka didikte. Tidak ada yang boleh dengan seenaknya mengatur diriku termasuk dirinya. Terintimidasi tidak ingin berkata-kata, sudahlah terserah kau sajalah.

“Tidak bisakah kamu sedikit perhatian? Menanyakan kabarku sesekali. Tidak pernah peduli seolah aku ini bukan siapa-siapa. Kamu tidak pernah bercerita tentang dirimu. Sikapmu itu membuat seolah ada jarak antara kita.” Ia kesal berat, menghentak-hentakkan kaki kemudian air matanya tumpah, hidungnya memerah akibat air menyebabkan suara seperti sengau ketika Dara menarik nafas panjang. Aku harus mengatakan apa? Saat ini aku merasa tidak nyaman membagi diriku. Diriku adalah milikku sendiri, seutuhnya merdeka. Independen.

Masih diam, aku hanya memandangi wajahnya, bagai meniti wajah sang rembulan. Menembus darah dan tulang yang dianugerahkan tuhan kepada makhluk ini. Bagaimana ia bisa mengungkapkan perasaannya tanpa pikir panjang setelah sekian lama menahan sebuah beban yang coba ia ekspresikan melalui cara yang lebih santun. Tidakkah ia berpikir sedikit saja, bahwa aku tak berkemauan untuk mendapatkan cintanya. Saat ini merupakan momen yang paling kubenci, mendapati diri sebagai sosok antagonis dalam lagu-lagu Betharia Sonata yang kerap diputar dalam perjalanan bus antar kota. Mengerikan.

“Terlalu! Setidaknya bantah kata-kataku! Jangan hanya diam dan tersenyum seolah mengejekku dengan pikiranmu. Kamu terlalu pasif. Kamu tak pernah menyentuhku, bahkan tak mau duduk disebelahku.” Semilir angin berhembus pelan diwajahku, tempat ini terlalu terbuka. Sebuah tempat makan beratap udara dengan pengunjung ramai. Kata-kata Dara yang meledak sedari tadi membuat kami menjadi pusat perhatian persis seperti arena tinju Las Vegas, kalau dia saja yang perempuan tidak peduli mengapa aku seorang laki-laki harus meributkan hal ini. Ah, masa bodoh dengan orang lain.

“Sudahlah, tak ada gunanya berbicara denganmu. Seperti berbicara dengan patung, tak berbalas!” Ia menarik tasnya dari atas meja, menyenggol gelas dan PRANG! Sebelum masuk ke dalam mobil ia menoleh,untuk kemudian membanting pintu dengan keras. Aku tak mengerti. Ya sudah, biarlah. Sekalian gelas yang pecah itu menjadi urusanku. Perut ini sakit ketika berjalan gontai menuju keparkiran, semburat ketidaknyamanan memberkas ditubuh ini. Mengenakan helm tentara Vietnam aku pergi dengan motorku, pulang. Malam masih pagi.

Besok, hari yang cerah. Minggu pagi, benar-benar libur. Tanpa beban sungguh menyegarkan menikmati matahari pagi. Tit..Tit..Tit.. Sebuah sms masuk, ah dari Dara mau apa lagi dia. “Aslam… Lg paen ja bg? Dara mohon maaf y smlm, udh mkn? Dara sdg mkn nie… Oy gmn kbrny sht2 kn bg?” Kumatikan hp, saat ini kubutuhkan adalah liburan, lebih baik ke pantai mandi menyegarkan jiwa. Saat ini aku tidak sedang mencari cinta maka biarlah ia berlalu.

“Untuk cinta yang tak kunjung menampakkan wajahnya”

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Wasiat Teruntuk Adinda Malin Kundang; 4 Februari 2009;
  13. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  14. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  15. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  16. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  17. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  18. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  19. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  20. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  21. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  22. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  23. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  24. Ashura; 13 Februari 2013;
  25. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  26. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  27. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 68 Comments

HANTU

Hantu yang bergelantayangan di malam hari mencari mangsa

HANTU

Hantu, menurut pengertian umum yang beredar dimasyarakat adalah arwah orang yang sudah meninggal, mungkin tradisi ini berasal dari warisan Hindu-Budha di Indonesia kuno merupakan pertanda bahwa orang yang meninggal tersebut belum mencapai tingkat sempurna untuk mencapai nirwana sehingga gentayangan di dunia.

Hantu, versi Indonesia tentunya jelas berbeda dengan monster versi Amerika yang bisa dibilang tidak memiliki pijakan kultural di negaranya. Hantu, ditakuti dimana-mana dikampung orang tua menakuti anak-anaknya dengan hantu begitupun dikota.

Hantu sejenis Kuntilanak, Genderowo, Tuyul, dan sejenisnya adalah lebih mengerikan dibanding versi Hantu Amerika seperti Candyman maupun hantu versi-versi negara lainnya, hal ini juga menunjukkan bahwa negara kita ini kaya akan hantu.

Hantu, ironisnya justru tidak memiliki pijakan dalam agama Islam yang menjadi agama mayoritas penduduk negara ini. Walaupun Islam mengakui keberadaan makhluk gaib seperti Jin, Setan dan Iblis namun literatur tentang orang yang sudah mati bangkit kembali adalah hal yang mustahil dalam doktrin agama. Adalah menjadi pertanyaan yang cukup besar mengapa penduduk yang mayoritas muslim justru mempercayai sesuatu yang tidak diakui oleh agamanya?

Hantu mungkin saja merupakan makhluk halus berupa jin, yang menyerupakan diri dengan orang yang telah meninggal untuk mengelabui orang yang masih hidup, seolah orang tersebut bangkit kembali dari kubur.

Hantu, hari ini menjanjikan keuntungan yang berganda. Tidak percaya? Lihatlah perfileman kita penuh dengan hantu. Jelangkung, Bangku Kosong, Lentera Merah, Terowongan Casablanca, dan banyak lagi. Hantu hari ini juga mengicar generasi muda untuk berteriak-teriak dibioskop setelah membayar karcis tentunya.

Biaya pembuatan yang murah serta pengembalian keuntungan yang berlipat membuat para produser berlomba untuk membuat filem bergenre Horor, tak peduli itu dilakukan tanpa riset mendalam, tak peduli kritikan yang terus menekan artinya sifat mereka sama seperti hantu, tidak mempedulikan apa-apa. Prinsipnya adalah “Tidak ada filem hantu yang rugi.”

Hantu pada dasarnya adalah mereka yang tidak layak ada didunia, membicarakannya adalah hal yang sia-sia apalagi menontonnya.

Posted in Asal Usil, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 36 Comments

MARI BICARA TENTANG KONSEP WAKTU

Dunia ini, waktu, seperti aliran air, kadang-kadang terbelokkan oleh secuil puing, oleh tiupan angin sepoi-sepoi.

MARI BICARA TENTANG KONSEP WAKTU

“Sebagaimana kekagumanku pada orang muda yang memiliki kualitas dalam diri orang tua, sedemikian pula hormatku pada orang tua yang memiliki kualitas orang muda. Mereka yang mengikuti aturan ini bisa menjadi tua tubuhnya, tapi tidak pernah tua secara pikiran.”

=Marcus T. Cicero

Muda memiliki sinonim yang sama dengan semangat, energi, dan kemudaan itu sendiri. Sementara itu musim ujian Final di Unimal masih berkanjut. Memasuki pekan kedua dari total tiga minggu yang dijadwalkan. Menjelang Ashar, memasuki ujian kedua di hari Sabtu Abu memutuskan shalat terlebih dahulu di Masjid Hijau. Sekitar seratus lima puluh meter di samping kanan kampus, Abu memutuskan berjalan kaki saja meninggalkan Shogun Biru 125 di parkiran kampus.

Mesjid hijau tersebut terletak disamping Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Lhokseumawe, yang sore harinya digunakan oleh Madrasah Tsanawiyah Banda Masen. Jadi pelataran masjid dijejali anak-anak sekolah. Abu tersenyum sendiri mengingat moment yang sama, hey sudah hampir sepuluh tahun Abu meninggalkan bangku Sekolah Menengah Pertama.

Waktu boleh bergulir, zaman boleh berubah. Tapi anak-anak ya tetap anak-anak, dengan kebiasaan yang sama. Anak Laki-laki berlari-lari dan saling berteriak persis Gorilla Jantan yang mencoba memikat betina. Sedang anak-anak perempuan lebih anggun, berkerumun dan berbicara dengan suara pelan. Sudahlah, ujian Ekonomi Islam sebentar lagi. Abu harus segera kembali ke kampus tak ada waktu untuk observasi, segera berwudhu dan masuk ke dalam Masjid.

Selesai shalat berjamaah Abu bergegas, cepat-cepat memakai sepatu. Ditangga bawah Masjid bergabung dengan beberapa orang yang sudah mendahului. “Bang, bagaimana rasanya shalat di saff pertama?” Seorang anak laki-laki berseragam Madrasah Tsanawiyah bertanya. Abu terdiam kehilangan kata-kata. Ia menyambung, “Teman-teman tidak mengizinkan aku shalat di Saff pertama karena aku belum disunat.” Katanya menyambung pertanyaan yang belum terjawab oleh Abu. Lalu lagi-lagi ia berkata, “Padahal aku tadi datang awal.”

Shalat di saff pertama? Abu tidak pernah terlalu mempersoalkan hal itu, menjadi sebuah kontradiksi karena dalam ilmu Fiqih bahwa pahala shalat pada saff pertama adalah sangat besar, namun Masjid Hijau hanya terisi dua saff tadi. Abu hanya melihat ke depan, anak ini mungkin masih kelas satu. Terlambat dikhitan ya. Dulu juga Abu mengalami kasus yang sama disunat ketika sudah kelas satu SMP. Menjadi sasaran ejekan teman-teman yang sudah disunat lebih awal. Melihat diri Abu sekarang ternyata perbauran antara takdir dan waktulah yang membawa kemari.

“Waktu dik, ya waktulah yang akan menjawab pertanyaan adik tadi.” Selesai mengikat sepatu Abu bangun untuk pergi. “Waktu apa bang? Aku tidak mengerti.” Anak tersebut berteriak memanggil. Abu berbalik, tersenyum. “Tak perlu terburu untuk mengerti, sepuluh tahun ke depan kamu akan paham.” So what? Abu punya kehidupan sendiri yang harus diurusi, biarlah jawaban tersebut membuat anak itu berpikir.

Berjalan kaki menuju kampus memberikan waktu untuk Abu merenung, bahwa waktu memiliki konsep yang unik. Ia mampu melengserkan kekuasaan raja terhebat, bangunan terkuat, ranumnya masa muda namun ia juga memiliki kekuatan yang bisa dimanfaatkan. Lihat saja anak tersebut, suatu hari tak ada yang mampu menghalanginya untuk shalat di saff pertama. Atau bahkan ada kemungkinan ia untuk melebihi siapapun termasuk diri Abu. Kalau ditimbang, sudah tujuh tahun Abu meninggalkan bangku SMU namun tak kunjung jua menyelesaikan kuliah strata satu dan jika Abu berleha-leha maka akan semakin tertinggal.

Sisi baik kehidupan ia mengenalkan Abu pada orang-orang penuh inspirasi, salah satunya adalah tuan Harun seorang pengusaha muda yang tak malu untuk memulai kuliah ketika sudah berumur empat puluh tujuh tahun. Ada banyak contoh lain yang tak mungkin dituliskan semua. Termasuk anak ini. Abu harus bergegas, tak mau diri ini ketinggalan. Ujian sudah didepan mata dan itulah tantangan Abu sekarang. Waktu, sebelum kamu menaklukkanku kamu akan terlebih dahulu kutaklukkan.

Di daerah yang diselimuti gunung dan udara segar, air yang jernih, seindah-indahnya ikan berenang,

lebih indah lagi masa mudaku yang tak terlupakan, selamanya.

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , | 22 Comments

AROMA PEREMPUAN HIJAU

Campuran wangi bunga yang tak dikenal. Sedikit tetesan keringat memacu bagai hulu ledak luar biasa. Aroma tersebut menggetarkan jantung. Bau khas perempuan!

AROMA PEREMPUAN HIJAU

Bau apa ini? Hidung Abu merasa asing, campuran wangi bunga yang tak dikenal. Sedikit tetesan keringat memacu bagai hulu ledak luar biasa. Aroma tersebut menggetarkan jantung Abu sesaat. Bau khas perempuan! Sudah terlalu lama Abu tidak membaui keharuman ini sehingga sudah terlupa bagaimana rupa bentuknya. Sel Abu-Abu dalam otak Abu pun berputar cepat membuat jantung semakin berdegup kencang.

Perempuan itu berbaju hijau dengan rok hijau pula. Aha seandainya dia tak mengenakan warna hijau akan Abu sikut dia ketika dengan tenang menyalin ujian final milik Abu. Terlambat datang, sedikit senyum dengan dosen pengawas. Lalu duduk disamping Abu, terus seenaknya menyandarkan tubuhnya untuk kemudian menyontek dengan terbuka didepan sekian banyak orang. Dimana otaknya??? Tapi Abu adalah pribadi yang punya masalah dengan warna hijau sebab walaupun mengaku sebagai fans AC MILAN yang identik dengan warna MERAHHITAM, Abu memiliki kesan khusus dengan warna hijau terutama dengan perempuan yang mengenakan warna tersebut. Sebuah alasan emosional dimana kilasan kisah tentang masa lalu menahan Abu untuk marah terhadap aksi-aksi polisionil sang perempuan hijau.

Waktu ujian sudah berlalu sejam dari seratus dua puluh menit ditetapkan, teori dan analisis ekonomi tak pernah menyulitkan Abu. Lima belas menit lalu sudah menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Namun Abu tak pernah berkeinginan segera untuk mengumpulkan jawaban, bukan karena si perempuan hijau tapi itulah kebiasaan Abu dalam ujian apapun. Mengusahakan mengumpul terakhir, sebab dalam waktu ada keniscayaan dan mengamati ekspresi orang yang tekun mengerjakan soal adalah hobi lain Abu yang tak pernah diketahui oleh orang.

“Tulisan Abu lebih rapi dibanding perempuan.” Sang perempuan hijau buka suara. Abu hanya tersenyum tak bicara tapi dalam hati berkata, “Nona tahukah kamu bahwa Abu ini anak seorang guru yang memiliki standar tinggi tentang kerapian tulisan! Dididik bisa membaca diumur empat tahun dan belajar menulis indah sejak kelas satu Madrasah Ibtidaiyah dengan sapu lidi sebagai barometer dan lebih keras lagi sewaktu masih duduk dibangku sekolah catatan Abu diperiksa setiap minggunya!”

“Sepertinya dibagian ini Abu ada yang ketinggalan, atau aku yang salah ya?” Venus selalu tak percaya diri dan hampir selalu tanpa solusi begitupun sang perempuan hijau. Tapi tuhan memberikan mereka ketelitian yang luar biasa mengalahkan Mars terhebat sekalipun! Aha memang benar dinomor dua Abu sedikit kurang penjelasan. Setelah menambahkan bagian yang kurang Abu menatap sang perempuan hijau, bibirnya yang tebal menurut teori ahli Kriminologi abad ke-18 asal Austria, Lamrusso merupakan ciri pasangan setia berkicau pelan membaca tulisan didepannya. Sadar Abu menatapnya, wajah polos tanpa polesan make-up itu terlihat grogi dan meremas pulpen PILOT ditangan. Ia tidak tahu jalan pikiran Abu dan terang tak dapat menebak sedikitpun apa didalamnya. Akhirnya selesai menyalin jawaban Abu, waktu masih tersisa lima belas menit. Ia minta izin lebih dulu mengumpulkan jawaban, Abu mengangguk. Sebelum keluar ia menoleh kepada Abu untuk tersenyum dengan wajah termanis yang bisa ia berikan lalu keluar.

Disisa waktu Abu menambah sedikit analisis Ekonomi untuk melengkapi jawaban Abu tadi, hasil inspirasi waktu lowong ketika sang perempuan hijau mengcopy-paste jawaban tadi. Bukannya bermaksud mencurangi sang perempuan hijau, prediksi Abu salinan tadi sudah cukup membuatnya mendapat nilai A. Tapi berbeda dengan Venus yang komunal dan tak nyaman berkompetisi. Kami makhluk Mars adalah pencinta alam kompetisi, termasuk Abu. Haruslah menjadi yang nomor satu, bahkan jika harus berbagi tempat yang sama kami harus menjadi yang berbeda dengan yang lain. Walaupun jika sama-sama mendapat nilai A harus dengan kualitas yang berbeda. Tak sedikitpun ingin disamai.

Musim ujian Final di Unimal terus berlanjut, keesokan harinya sang perempuan hijau dengan bau yang sama berpapasan ditangga kampus, kali ini dengan pakaian Pink Abu hanya tersenyum membuat wajahnya memerah melebihi pakaian yang ia kenakan. Tapi hati adalah sesuatu yang mudah berbolak-balik. Ketika minggu berikut ia mengenakan pakaian kuning kemudian terakhir biru, Abu tak lagi peduli. Aroma hijau seolah hilang tak berbekas dibenak Abu. Sombong? Entahlah? Yang pasti Abu tak terlalu mudah akrab dengan orang, walau sudah tiga semester berkuliah bersama tak membuat jarak antara Abu dan teman-teman kuliah terutama pihak perempuan mencair. Sejak semester satu beberapa kali mereka tertangkap tangan menggosipkan kesombongan Abu, yang parahnya Abu bahkan tak peduli.

Kadang-kadang Abu bingung tentang sendiri. Entah hati ini terbuat dari apa? Mengapa ia sebegitu keras? Yang pasti bukan terbuat dari baja. Ia lumer sekejab ketika perempuan hijau dengan aroma khasnya menghampiri. Sungguh benar petuah lama, bahwa perempuan sebaiknya tak memakai wewangian mencolok, karena hidung merupakan bagian terlemah melebihi mata bagi seseorang laki-laki. Bau khas perempuan, sungguh lama sudah Abu tidak membauinya. Suatu keadaan yang menyebabkan resistensi Abu juga semakin melemah terhadapnya. Entah sampai kapan Abu bisa bertahan dijalan yang telah dipilih guna meraih cita-cita, untuk tidak melirik hingga waktunya tiba, entahlah. Bahkan Abu sendiri tak tahu.

semakin bertambah usia, semakin dewasa, waktu semakin rumit

“Abu”

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 23 Comments

WASIAT TERUNTUK ADINDA MALIN KUNDANG

MALIN KUNDANG

Batu Malin Kundang

WASIAT TERUNTUK ADINDA MALIN KUNDANG

Adikku engkau yang terlahir dengan nama terkutuk Malin Kundang. Tersohor tingkah polahmu dari Padang Panjang sampai Pariaman. Bacalah surat ini, sebuah wasiat sekaligus tanda cinta dari udamu Midun Kundang. Sebuah surat yang uda selipkan pada bulbul bambu yang membawa bekal berasmu ketika besok bertolak meninggalkan negeri Minang dari Teluk Bayur.

Adinda yang dilahirkan pada larut malam isnin sungguhpun kegemaran kita berbeda dengan uda yang dilahirkan ketika terik matahari arba’ah. Adinda menyukai sabung ayam dan uda yang memilih mengaji di langgar. Sungguh berat bebanmu dibanding-bandingkan dengan uda semenjak dilahirkan. Uda tidak pernah menyalahkan jika engkau membenci kakanda yang selalu menjadi tauladan dikampung kita. Harapan berkumpul timpa menimpa bersama beban melahirkan kemarahan membara adinda kepada uda. Namun satu hal pasti, bahwa darah yang mengalir ditubuh kita berasal dari sumber yang sama yaitu dari almarhum ayah. Dan kelahiran kita adalah perjuangan berat hidup dan mati bunda kita.

Adikku Malin, bukannya uda tak merasakan perasaanmu. Ketika cintamu pada Siti Zubaedah dihalang-halangi karena kita bukan keturunan orang beraja menyebabkan Adinda menjadi pembenci. Sungguhpun Uda merasakan kepedihan yang sama. Apa pasal Bagindo Suleman memasung cinta dua anak manusia yang saling mencinta. Memang Siti Zubaedah anaknya, namun haknya sebagai wali telah disewenangkan. Adinda boleh tertawa membaca wasiat ini, uda mempersilahkan. Memang uda tak pernah mengatakan langsung kepada Adinda, entah mengapa lidah uda selalu kelu jika berhadapan dengan Adinda sehingga kita tak pernah banyak berkata-kata.

Kepada Adinda Kakanda berpesan, jika telah berhasil di Betawi sana maka segeralah pulang. Jengguklah bunda Kanduang yang sangat mencintaimu. Adinda yang selama ini berkata bahwa cinta ibunda tersedot untuk uda yang terlahir dengan tubuh rentan penyakitan. Adinda yang berhujjah bahwa Ranah Minangkabau terlalu sempit jika tinggali dua orang bernama belakang Kundang, Midun dan Malin. Maka ketahuilah jikalau nanti Adinda pulang mungkin uda sudah tak ada.

Bukan merantau jua Adinda. Tubuh uda telah dikalahkan oleh penyakit. Tubercholosis sebut pedagang loji Kompeni dari kota Padang. Sebuah penyakit yang belum memiliki obat. Demi menjaga hati bunda selama ini uda menyembunyikan dahak darah mengucur. Uda mencoba bertahan sekuat tenaga namun batas tubuh manusia berbatas, firasat uda mengatakan tak lama lagi akan tiba saat uda meninggalkan dunia fana berbaring dalam pelukan bumi leluhur menanti Yaumil Masyar.

Adikku Malin, ketahuilah bahwa Adindalah semangat hidup uda. Melihatmu berlari sedari kecil. Melihatmu tumbuh menjadi laki-laki. Uda tiada hendak mencegah Adinda merantau, pergilah! Perantauan akan menyucikan jiwa yang kotor dimusababkan oleh terbelenggu oleh ruang dan waktu. Orang yang merantau bagai air yang mengalir, sekotor apapun ia akan bersih oleh aliran sungai menuju lautan. Sebaliknya air sesuci apapun ia akan kotor diakibatkan terpaku disatu tempat. Uda meyakini Adinda kelak akan berhasil memahamai Falsafah Urang Awak tersebut.

Sekian wasiat Uda,

Dengan sepenuh cinta, peluk dan cium

Midun Kundang

Wasiat ini tidak pernah terbaca oleh Malin Kundang dikarenakan bekal bulbul bambu tersebut pecah dan jatuh ke laut ketika Malin Kundang hendak menaiki Kapal saudagar yang bertolak dari pelabuhan Teluk Bayur. Seandainya Malin membaca wasiat ini sangat mungkin tidak terjadi legenda seorang anak durhaka “MALIN KUNDANG”.

Midun Kundang sendiri wafat enam bulan setelah kepergian Malin Kundang, dikuburkan di Padang Panjang dan sudah menjadi takdirnya untuk tidak tertulis dalam catatan sejarah maupun legenda samar-samar dari ranah Minang.

Katalog Cerita Pendek:

  1. Sebentuk Harta; 10 Agustus 2008;
  2. Elegi Pagi Hari, Sebuah Cerpen; 13 Agustus 2008;
  3. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  4. Ketidakagungan Cinta; 10 Oktober 2008;
  5. Tempat Tiada Kembali; 13 Oktober 2008;
  6. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  7. Aku Tak Mengerti Kamu; 24 Oktober 2008;
  8. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  9. Selamanya; 14 Desember 2008;
  10. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  11. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  12. Tidak Sedang Mencari Cinta; 23 Februari 2009;
  13. Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
  14. Wasiat Hang Tuah; 29 Mei 2009;
  15. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
  16. Tak Ada Apa Apa; 7 Oktober 2009;
  17. The Last Gentleman; 4 Desember 2009;
  18. Renungan Majnun Seorang Penarik Cukai; 31 Mei 2010
  19. Yang Tak Akan Kembali; 10 Juni 2010;
  20. Kisah Sebelum Sang Pengeran Selesai; 5 Juli 2010;
  21. Penyihir Terakhir; 15 Maret 2011;
  22. Santiago Sang Pelaut; 23 Maret 2012;
  23. Iblis Namec Vs Manusia Saiya; 6 April 2012;
  24. Ashura; 13 Februari 2013;
  25. Selamat Tinggal Andalusia; 10 Maret 2013;
  26. Narsis Yang Berbeda; 28 April 2013;
  27. Istana Kosong; 4 Juni 2013;
  28. Bangsawan Pandir; 10 Juni 2013;
  29. Kematian Bhisma; 15 Juni 2013;
  30. Badai Sejarah; 29 Juli 2013;
  31. Cerita Cinta; 7 Agustus 2013;
  32. Perjalanan; 29 November 2013;
  33. Jaring Kamalanga; 29 Desember 2013;
  34. Lelaki Sungai; 19 Januari 2014;
  35. Dragon Dialog; 13 November 2014;
  36. Persahabatan Kambing Dan Serigala; 19 Desember 2014;
  37. Pesan Kepada Penguasa; 17 Januari 2015;
  38. Bagaimana Mengubah Timah Hitam Menjadi Emas; 11 April 2015;
  39. Setelah Revolusi Selesai; 6 Oktober 2016;
  40. Harlequin Dan Pohon Harapan; 30 Oktober 2016;
  41. Permufakatan Para Burung; 5 Januari 2017;
  42. Kepada Cinta Yang Berumur Seminggu; 13 April 2017;
  43. Senja Di Malaka; 14 Juni 2017;
  44. Mengecoh Sang Raja; 17 Oktober 2017;
  45. Wawancara Dengan Sang Iblis; 1 Januari 2018;
  46. Legenda Gajah Putih; 12 Januari 2018;
  47. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  48. Kisah Menteri Jaringan Melawan Kapitalisme Amerika; 17 Desember 2018;
  49. Legenda Naga Sabang; 29 Mei 2020;
  50. Legenda Gunung Geurutee; 1 Juni 2020;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Mari Berpikir | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 65 Comments

ORANG ASING TERASING

Sufi yang terasing dari dunia

ORANG ASING TERASING

Ketika terjaga, tak tahu diriku ini siapa? Bau badan ini milik siapa? Muka acak-acakan dicermin itu akukah? Mungkin hatiku telah dipenuhi belatung. Mungkin otakku sudah membusuk hingga tak mengenali sosok sendiri. Begitu menakutkan sehingga diriku pun gemetar ketakutan pada bayangan hitam dibelakang.

Dimana ini? Diruang pengap tiga kali enam meter, mendapati diri dibawah lampu teplok kuning. Kasus tipis dan bantal penuh liur. Hidungku mencium bau apak menyengat. Deru debu bercampur tahi cicak. Sungguh persemayaman yang menyeramkan. Kupandangi cat dinding mengelupas, seperti wajahku yang telah bopeng oleh sayatan kuku tajam. Luka ditubuhku belum sepenuhnya sembuh. Tertembus baja satu hasta. Berbalut perban kuning tidak putih.

Aku marah, mengerang lalu menjerit, hingga mendapati aku hanya bersama diriku. Aku merasa asing, pada semuanya. Bahkan pada diriku sendiri. Siapakah aku?

Beberapa syair-syair lainnya:

  1. Padamu Perempuanku; 25 September 2008;
  2. Hikayat Sang Pengembara; 6 Oktober 2008;
  3. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  4. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  5. Kalah Perang; 5 November 2008;
  6. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  7. Terima Kasih Telah Menolakku Kemarin; 24 November 2008;
  8. Mengejar Bayang-Bayang; 4 Desember 2008;
  9. Melebihi Keangkuhan Iblis; 5 Desember 2008;
  10. Selamanya; 14 Desember 2008;
  11. Ode Seorang Bujang; 17 Desember 2008;
  12. Puisi Tentang Gerimis; 22 Desember 2008;
  13. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  14. Sepucuk Surat Untuk Lisa; 1 Januari 2009;
  15. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 17 Comments

KETIKA HARUS MENJADI WALI

Hidangan Khas Aceh

KETIKA HARUS MENJADI WALI

Abu adalah anak sulung dari lima bersaudara, tidak usah Abu sebutkan nama asli keempat adik Abu. Tapi untuk memudahkan mengenali mereka Abu sebutkan panggilan kesayangan Abu kepada mereka yaitu Puteri India, Puteri Cina, Pangeran Turki dan Pangeran Brunai.

Masing-masing dari mereka memiliki wajah dan karakteristik yang agak sama dengan nama yang Abu sematkan kepada mereka. Yang menjadi cerita kali ini adalah adik Abu puteri India yang bulan Maret ini akan genap berusia 23 tahun dan Insya Allah ditanggal 14 Pebruari ini akan diwisuda setelah menyelesaikan kuliahnya di fakultas keguruan pada Universitas terbaik di Nanggroe Aceh.

Puteri India yang berada dipuncak masa mudanya ini telah dilamar oleh tiga keluarga untuk dijadikan menantu. Namun oleh Dewan keamanan keluarga (DKK) Abu ketiga calon tersebut masih difit dan proper teskan karena bagi keluarga kami puteri India ibarat buah yang tersembunyi dibalik daun karena ia pun tidak pernah berpacaran. Alasannya jelas karena pacaran baginya merupakan larangan dari Dewan Keamanan Keluarga (dimana Abu termasuk anggota tidak tetap), melanggar berarti harus siap mendapat embargo ekonomi, pilitik, sosial dan budaya dan lain-lain pokoknya sanksi yang akan ditetapkan pastinya komprehensif dan menyeluruh.

Pada dasarnya ia adalah seorang penurut sehingga DKK tidak harus menjalankan aksi-aksinya. Mendapatkan tiga lamaran dalam waktu yang berdekatan jelas DKK kelabakan dan akhirnya menyerahkan pilihan kepada Puteri India namun ia memilih akan menurut kepada pilihan DKK siapapun orangnya.

Sebagai salah seorang anggota tidak tetap DKK, otomatis Abu mendapat tugas untuk mewawancarai salah satu calon pelamar. Kebetulan calon tersebut berdomisili di Lhokseumawe sehingga DKK yang berpusat di Banda Aceh menyerahkan tugas wawancara kepada Abu yang kebetulan berdomisili di Lhokseumawe.

Pada hari yang telah ditentukan Abu pun datang ke tempat yang sudah dijanjikan. Namun sayang sebuah musibah menimpa keluarga calon tersebut, terjadi musibah kebakaran di rumah salah seorang kerabatnya sehingga janji wawancara ditunda hingga waktu yang tidak terbatas.

Sebagai perpanjangan tangan DKK maka wajib Abu melaporkan apapun hasil wawancara kepada ketua DKK yaitu Ibunya Abu. Via telepon Abu menjelaskan secara detil mengenai proses wawancara yang gagal tersebut. Ketika Abu selesai memberikan laporan, Puteri India meminta izin berbicara dengan Abu.

“Bang Abu saya boleh meminta sesuatu?” Tanyanya.

“Silahkan, kalau bisa pasti akan saya kabulkan.”

“Kalau nanti menikah saya minta abang yang jadi walinya bisakan?”

Mendapat permintaan yang Maha berat ini secara spontan Abu menjawab, “Apa tidak bisa yang lain? Kan masih banyak paman adik almarhum ayah yang lebih berpengalaman dari abang.” Jelas Abu menolak jadi wali, lha sendiri saja belum kawin jadi belum layaklah jadi wali begitu pertimbangan Abu.

“Kalau abang tidak mau, ya tidak mengapa.” Jelas dari suaranya tersimpan nada kecewa yang sangat dalam.

Mendengar jawaban seperti itu hati abang mana didunia tidak luluh. Seandainya abangmu ini memiliki dunia pasti akan kuberikan untukmu jika engkau memintanya adikku, apalagi hanya ini. Dengan mengumpulkan segenap keberanian Abu pun berkata.

“Abang siap wahai adikku.” Dada Abu bergemuruh dan matapun berkaca-kaca.

“Terima kasih bang.” Katanya sangat gembira.

Teleponpun terputus dan Abu hanya terpekur. Rasanya waktu begitu cepat berlalu, sekarang engkau begitu cepat dewasa adikku. Padahal rasanya baru kemarin kita bermain sepakbola dan terkadang sepeda bersama. Hati Abu kok rasanya tidak begitu ikhlas melepaskan adik Abu tersebut, apakah nantinya keluarga suami akan menyayangi dan melindunginya seperti yang kami lakukan.

Namun Abu sadar cepat atau lambat ini semua harus terjadi, dan lebih baik baginya apabila kami segera menyegerakan pernikahan baginya.

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 11 Comments

KEHIDUPAN YANG TERKADANG PARADOKS

Hidup terkadang adalah paradok

KEHIDUPAN YANG TERKADANG PARADOKS

Kehidupan terkadang paradoks, penuh dengan pertentangan. Sebagai contoh, Radovan Karadzid semula adalah seorang penyair, seharusnya berperasaan lembut malah ketika berpolitik dan berkuasa menebarkan kebencian rasial yang membuat puluhan ribu muslim Bosnia tewas dalam sebuah tindakan terkutuk bukti kebiadaban manusia bernama genocida. Ia menjadi idola bagi nasionalis Serbia tapi dibenci diseluh dunia.

Penampilan luar sungguh menipu, kehalusan budi bisa saja sebuah topeng. Sebaliknya penampilan kumal bukan berarti tak berilmu, bersikap keras juga bukan berarti kasar. Manusia berubah begitupun zaman, kebaikan hari ini bukan berarti besok berarti sama.

Masa depan tak pernah pasti, musuh dan teman sulit dibedakan, pendapat manusia sekarang bisa berubah 180 derajat besok. Seperti batas tipis antara cinta dan benci.Ketika kejujuran hanya menjadi bahan tertawaan, ketika kepolosan dianggap kebodohan, ketika kesopanan dianggap tindakan hipokrasi sungguh hidup seperti jalan penuh duri penuh liku dan sarat cemooh.

Keras dalam prinsip, lembut dalam perkataan, sopan dalam perbuatan adalah sesuatu yang ingin diusung dalam menghadapi hidup. Menyadari bahwa setiap musuh akan mencatat ini untuk dijadikan bahan untuk menjatuhkan dimasa depan, juga sadar bahwa semua teman akan mengingat untuk menertawakan apabila tidak seperti itu. Untuk itu bantulah untuk bisa manusia yang seperti itu, dengan dukungan atau cacian sekalipun.

Seperti nikmat tawa tak akan bermakna tanpa adanya tangis didunia. Ketulusan hati tak akan berarti tanpa pahitnya pengkhianatan. Ingatkan seandainya jika melupakan hal itu, karena saat ini adalah orang yang percaya, setiap kekuatan bisa menjadi kelemahan dan setiap kelemahan dapat menjadi kekuatan.Kenapa? Karena kehidupan terkadang paradoks.

Catatan ini dibuat untuk diri sendiri, sebagai pengingat sebuah tujuan, sebagai tulisan untuk kelak dibaca kembali. Tindakan berdasarkan sebuah kesimpulan bahwa otak manusia memiliki kemampuan mengingat terbatas dan membutuhkan arsip sebagai memory kolektif perenungan seorang anak manusia dimasa lalu, sekarang dan nanti dimasa depan.

“Tak ada jalan memutar bagi seorang lelaki, maju atau mundur. Ketika telah menetapkan langkah maka jangan menoleh kebelakang. Singkirkan ruang untuk sebuah penyesalan, meski kegagalan membayang ingatlah saat itu tak ada peluang mengulang.”

Beberapa Renungan Lainnya:

  1. Raja Hati Vs Perdana Menteri Otak; 3 Agustus 2008
  2. Hari yang Indah; 4 Agustus 2008
  3. Bidadari Fakta atau Fiksi; 12 September 2008
  4. Tafsir Sang Penafsir; 19 September 2008
  5. Pahamilah Apakah Hidup Dalam Diri Manusia; 22 September 2008
  6. Topeng; 9 Oktober 2008
  7. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  8. Terima Kasih Telah Menolakku Kemarin; 24 November 2008;
  9. Melebihi Keangkuhan Iblis; 5 Desember 2008;
  10. Malam Yang Tertaklukkan; 10 Desember 2008;
  11. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  12. Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
  13. Kehidupan Yang Terkadang Paradoks; 30 Januari 2009;
  14. Hantu; 20 Februari 2009;
  15. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 19 Comments

MENJADI SESEORANG

Pada suatu sore di tahun 1989

MENJADI SESEORANG

Disaat engkau mencintai dan siap untuk tidak dicintai, memberi tanpa menghapapkan imbalan atas perbuatanmu maka sesungguhnya engkau telah menjadi manusia dewasa.

Disaat engkau telah memaafkan orang lain walaupun dia masih dan terus menyakitimu maka sesungguhnya dirimu telah menjadi seorang laki-laki sejati.

Disaat orang lain mengidolakan seseorang dari ketenarannya sedang engkau mengidolakan seseorang dari kepribadiannya maka engkau telah menjadi seseorang yang berkarakter.

Jika engkau tidak melupakan dan tetap menghormati mereka-mereka yang membentuk karakter serta menambah pengetahuanmu maka sesungguhnya engkau telah menjadi orang yang berbudi.

Disaat engkau ingin berbeda dengan orang lain dam menjadi yang terbaik maka sesungguhnya engkau telah memiliki cita-citamu sendiri.

Disaat orang lain hanya bisa menangisi kekalahannya sedang engkau menerimanya dan menjadikanmu semakin kuat maka engkau adalah pemenang yang sesungguhnya.

Disaat orang lain menggerutu menghadapi masalah, sedang engkau tabah dalam menjalaninya maka sesungguhnya dirimu telah mengalahkan masalahmu itu sendiri.

Disaat orang berdusta untuk menyelamatkan dirinya sendiri sadangkan engkau tetap dijalan kejujuran walaupun orang lain mencemooh dan menertawakan dirimu maka sesungguhnya engkau telah menanamkan rasa hormat di hati mereka untuk dirimu.

Disaat orang lain mencaci dan menghinakan lawan mereka sedangkan engkau tetap menghormati mereka maka yakinlah bahwa kekalahan tak akan menyentuh dirimu sedikitpun.

Disaat orang lain bersembunyi dari kenyataan sedangkan engkau tetap tegar menghadapinya meski itu menyakitimu maka sesungguhnya engkau telah menaklukkan musuh terbesarmu.

Disaat tak seorangpun yang menyuarakan kebenaran, engkau mengatakan walaupun kau diacuhkan maka engkau telah menyelamatkan mereka semua.

Disaat engkau tetap bangga dengan keterbatasanmu walaupun orang lain merasa malu jika diposisimu padahal sesungguhnya itulah keadaanmu yang sebenarnya tanpa menutupinya malah engkau mensyukurinya maka engkau telah membuat kebanggaan dimata orang tuamu.

Disaat engkau tetap memberikan yang terbaik darimu yang bisa engkau berikan walaupun tidak cukup untuk memuaskan orang lain maka sesungguhnya engkaulah manusia terbaik.

Ketika engkau memiliki segala kebahagiaan di dunia dan itu semua menambah kecintaan dan rasa syukurmu kepada sang pencipta maka sesungguhnya engkaulah mutiara ilmu dari guru-guru, orang tua dan siapapun yang mendidikmu.

Ketika nanti tiba suatu hari dimana engkau meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Banyak orang yang mengantarkan jenazahmu, bersedih untukmu dan merasa sangat kehilangan atas dirimu maka sesungguhnya engkau telah berhasil sebagai manusia di dunia dan selesailah tugas-tugasmu di dunia ini.

Medan, 31 Juli 2004

Mengenang Ayahanda dan segala nasehatnya

Beberapa renungan:

  1. Raja Hati Vs Perdana Menteri Otak; 3 Agustus 2008
  2. Hari yang Indah; 4 Agustus 2008
  3. Bidadari Fakta atau Fiksi; 12 September 2008
  4. Tafsir Sang Penafsir; 19 September 2008
  5. Pahamilah Apakah Hidup Dalam Diri Manusia; 22 September 2008
  6. Topeng; 9 Oktober 2008
  7. Hanyalah Seorang Hamba; 20 November 2008;
  8. Terima Kasih Telah Menolakku Kemarin; 24 November 2008;
  9. Melebihi Keangkuhan Iblis; 5 Desember 2008;
  10. Malam Yang Tertaklukkan; 10 Desember 2008;
  11. Tuhan Izinkan Hamba Untuk Tidak Jatuh Cinta; 13 Januari 2009;
  12. Kehidupan Yang Terkadang Paradoks; 30 Januari 2009;
  13. Hantu; 20 Februari 2009;
  14. Kekuatan Syair; 3 Maret 2009;
  15. Wajah Iblis Sang Malaikat; 12 Maret 2009;
  16. Bukan Roman Picisan; 24 Maret 2009;
  17. Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
  18. Duhai Diriku Mengapa Engkau Bersedih; 13 Mei 2009;
  19. Selamat Kembali Pulang Sahabat; 25 Mei 2009;
  20. Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
Posted in Kisah-Kisah, Literature, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 50 Comments