Advertisements

Tengkuputeh

I love words, I have fallen into the joy of writing them
Dunia ini, waktu, seperti aliran air, kadang-kadang terbelokkan oleh secuil puing, oleh tiupan angin sepoi-sepoi.

MARI BICARA TENTANG KONSEP WAKTU

“Sebagaimana kekagumanku pada orang muda yang memiliki kualitas dalam diri orang tua, sedemikian pula hormatku pada orang tua yang memiliki kualitas orang muda. Mereka yang mengikuti aturan ini bisa menjadi tua tubuhnya, tapi tidak pernah tua secara pikiran.”

=Marcus T. Cicero

Muda memiliki sinonim yang sama dengan semangat, energi, dan kemudaan itu sendiri. Sementara itu musim ujian Final di Unimal masih berkanjut. Memasuki pekan kedua dari total tiga minggu yang dijadwalkan. Menjelang Ashar, memasuki ujian kedua di hari Sabtu Abu memutuskan shalat terlebih dahulu di Masjid Hijau. Sekitar seratus lima puluh meter di samping kanan kampus, Abu memutuskan berjalan kaki saja meninggalkan Shogun Biru 125 di parkiran kampus.

Mesjid hijau tersebut terletak disamping Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Lhokseumawe, yang sore harinya digunakan oleh Madrasah Tsanawiyah Banda Masen. Jadi pelataran masjid dijejali anak-anak sekolah. Abu tersenyum sendiri mengingat moment yang sama, hey sudah hampir sepuluh tahun Abu meninggalkan bangku Sekolah Menengah Pertama.

Waktu boleh bergulir, zaman boleh berubah. Tapi anak-anak ya tetap anak-anak, dengan kebiasaan yang sama. Anak Laki-laki berlari-lari dan saling berteriak persis Gorilla Jantan yang mencoba memikat betina. Sedang anak-anak perempuan lebih anggun, berkerumun dan berbicara dengan suara pelan. Sudahlah, ujian Ekonomi Islam sebentar lagi. Abu harus segera kembali ke kampus tak ada waktu untuk observasi, segera berwudhu dan masuk ke dalam Masjid.

Selesai shalat berjamaah Abu bergegas, cepat-cepat memakai sepatu. Ditangga bawah Masjid bergabung dengan beberapa orang yang sudah mendahului. “Bang, bagaimana rasanya shalat di saff pertama?” Seorang anak laki-laki berseragam Madrasah Tsanawiyah bertanya. Abu terdiam kehilangan kata-kata. Ia menyambung, “Teman-teman tidak mengizinkan aku shalat di Saff pertama karena aku belum disunat.” Katanya menyambung pertanyaan yang belum terjawab oleh Abu. Lalu lagi-lagi ia berkata, “Padahal aku tadi datang awal.”

Shalat di saff pertama? Abu tidak pernah terlalu mempersoalkan hal itu, menjadi sebuah kontradiksi karena dalam ilmu Fiqih bahwa pahala shalat pada saff pertama adalah sangat besar, namun Masjid Hijau hanya terisi dua saff tadi. Abu hanya melihat ke depan, anak ini mungkin masih kelas satu. Terlambat dikhitan ya. Dulu juga Abu mengalami kasus yang sama disunat ketika sudah kelas satu SMP. Menjadi sasaran ejekan teman-teman yang sudah disunat lebih awal. Melihat diri Abu sekarang ternyata perbauran antara takdir dan waktulah yang membawa kemari.

“Waktu dik, ya waktulah yang akan menjawab pertanyaan adik tadi.” Selesai mengikat sepatu Abu bangun untuk pergi. “Waktu apa bang? Aku tidak mengerti.” Anak tersebut berteriak memanggil. Abu berbalik, tersenyum. “Tak perlu terburu untuk mengerti, sepuluh tahun ke depan kamu akan paham.” So what? Abu punya kehidupan sendiri yang harus diurusi, biarlah jawaban tersebut membuat anak itu berpikir.

Berjalan kaki menuju kampus memberikan waktu untuk Abu merenung, bahwa waktu memiliki konsep yang unik. Ia mampu melengserkan kekuasaan raja terhebat, bangunan terkuat, ranumnya masa muda namun ia juga memiliki kekuatan yang bisa dimanfaatkan. Lihat saja anak tersebut, suatu hari tak ada yang mampu menghalanginya untuk shalat di saff pertama. Atau bahkan ada kemungkinan ia untuk melebihi siapapun termasuk diri Abu. Kalau ditimbang, sudah tujuh tahun Abu meninggalkan bangku SMU namun tak kunjung jua menyelesaikan kuliah strata satu dan jika Abu berleha-leha maka akan semakin tertinggal.

Sisi baik kehidupan ia mengenalkan Abu pada orang-orang penuh inspirasi, salah satunya adalah tuan Harun seorang pengusaha muda yang tak malu untuk memulai kuliah ketika sudah berumur empat puluh tujuh tahun. Ada banyak contoh lain yang tak mungkin dituliskan semua. Termasuk anak ini. Abu harus bergegas, tak mau diri ini ketinggalan. Ujian sudah didepan mata dan itulah tantangan Abu sekarang. Waktu, sebelum kamu menaklukkanku kamu akan terlebih dahulu kutaklukkan.

Di daerah yang diselimuti gunung dan udara segar, air yang jernih, seindah-indahnya ikan berenang,

lebih indah lagi masa mudaku yang tak terlupakan, selamanya.

Advertisements
Advertisements

22 thoughts on “MARI BICARA TENTANG KONSEP WAKTU

  1. waktu menuntaskan banyak hal. apakah kita yang akan dituntaskan sang waktu tanpa meninggalkan arti?

    -ngomong2 anak itu semangatnya hebat juga ya? semoga tatap ajeg tak usang dilindas waktu-

  2. dan sisibaik yang saya alami dikehidupan sekarang adalah kemauan tetangga saya untuk belajar mengaji walau usia udah kepala 3 Subahanallah rasanya 1001 orang yang mau seperti ini

  3. ach hijau lagi ABu…ssuai banget dengan warnau favorite Abu….masih teringat ama putri hijau Abu…he..he..he..?
    Tak terasa ya Abu sepuluh tahun begitu cepat berlalu

  4. Itulah anak kecil Abu…kritis dengan pertanyaan dan serba ingin tahu…Abu harus menjawab dengan sekali jawab tuntas biar tidak ada pertanyaan yang sambung menyambung…..karena anak kecil masih murni dan ingin tau lebih banyak tentang kehidupan…seandainya sudah dewasa mungkin dia tidak siingin tahu seperti saat dia kecil…demikian juga waktu saya kecil…tapi sekarang saya sudah cuek pada segala hal

  5. Selamat menempuh ujian Abu..semoga Abu sukses…tidak akan ada yang tidak berhasil di dunia ini kalau kita mau berusaha dan mau mengwujudkannya

    Salam persahabatan untuk Abu

    Ilmu-ilmu yang Abu tempuh …ditunggu untuk masa depan nanggroe Aceh

  6. sang pengelana ilmu. dengan detik waktu yang terukur. dan tasbih kompas yang selalu menunjuk ke arah kemana sang pengelana hendak kembali setelah sang pencari ilmu. selamat berujian ria, Kang.

    salam dr Semarang

  7. waktu itu bagai pendulum raksasa, bergerak kaku kekanan dan kekiri, menakar dengan tepat jarak yang tetap setiap saat.

    waktu itu bagai anak panah, selalu tepat tak pernah tersesat.

  8. Jawab

    @Karangs@ti ==> Pertanyaan rumit kang. Abu juga tidak mengetahui jawabannya…

    @Bang Baka ==> Silahkan bang di copy…

    @Omiyan ==> Setiap sisi baik kehidupan, membuat kita tersenyum ya om. Senang dan terinspirasi…

    @Cut Bang Baka ==> Abu tidak tahu nama mesjid itu, lebih tepatnya tidak terlalu perhatian. Hanya kubahnya hijau. Memang Abu suka memberi julukan thd segala sesuatu. Hehehehe….

    @Syedara Baka ==> Hehehe, menjadi tua bukan berarti menjadi dewasa. Kadang2 keploson kanak2 lebih baik…

    @Rakan Baka ==> Salam persahabatan juga, amin semoga setiap ilmu yang Abu peroleh bisa bermanfaat…

    @Gus ==> Terima kasih gus, atas doa untuk sang pengembara ini yang telah menjelajahi timur dan barat namun masih pandir… Salam juga dari Lhokseumawe….

    @Suryaden ==> Seperti Socrates, menjawab tanya dengan tanya… Biarlah ia berpikir sendiri…

    @hack87 ==> Terimong Gaseh, Rakan Aulia. Hehehehe…

    @Masicang ==> Seperti kematian, pasti datangnya…

    @Mabak Lisa ==> Hanya segelas air putih… Hahahaha… Waktu pasti akan menaklukkan kita, itu mutlak. Tapi sebelum itu terjadi ia harus kita manfaatkan sebaik mungkin….

  9. potret si abu bisa menjadi cermin generasi sekarang,mas tengku. dia bisa bergaul dg banyak kalangan, tanpa membedakan masalah status dan jabatan. tak hanya itu, si abu juga tak pernah malu tk belajar dan belajar meski perilakunya seringkali sedikit nakal dan suka slengekan, hehehe ….

  10. Ayo tetap semangat dalam memanfaatkan waktu sebaik-baiknya 🙂
    Ditunggu postingan selanjutnya… apalagi yang berwarna hijau setelah masjid hijau ini 🙂

  11. Al Ashri…
    demi waktu (by Ungu)

    yang kuingat soal waktu cuma rumus2 fisika waktu sma dulu, klo nda salah s=v.t.

  12. tulisannya begitu menggugah Abu,. sering banget kita melalaikan dan membuang2 waktu itu percuma. Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, melainkan yang beriman dan beramal shaleh, dan saling menasehati dalam kebenanran dan kesabaran..

  13. Jawab again…

    @Mas Sawaly ==> Tahu dipuji seperti ini Si Abu besar kepala ; )

    @Lala ==> Lala, tahu saja kegemaran Abu…

    @N4fi ==> Siapa yang menguasai Fisika ia menguasai peradaban…

    @Liza ==> Membuang waktu itu kegemaran Abu, suka kali dia tidur tuh…

    @Iwan ==> Hehehehe, iri kenapa? Janganlah…

    @Mas Tok ==> Salam sukses mas, dari si Badung, : D

  14. Bagus, Tengku, “…orang muda yang memiliki kualitas dalam diri orang tua,dan orang tua yang memiliki kualitas orang muda…” inilah barangkali yang disebut sebagai orang-orang bijaksana. Belajar untuk jadi orang bijak salah satunya harus dapat menundukkan sang waktu (kesempatan) jangan sampai lepas begitu saja, he he he.
    Saya membayangkan anak yang belum disunat, yang terbengong-bengong jadi korban keadaan dan waktu.

Leave a Reply

%d bloggers like this: