ODE OF A HERMIT

ODE A HERMIT

Tonight let me alone, lonely. Enjoy the wisdom of the Holy book, writings contained in the sky.

ODE OF A HERMIT

Tonight let me alone, lonely. Enjoy the wisdom of the Holy book, writings contained in the sky. Even though when I feel uneasy. As tears spilled when the spell scripture does not mean life is full of sadness. I just enjoy the tears, and felt a real humility, avoiding the hustle and bustle of the world.  And removing all my masks.

It’s at times like this I recognize myself in comfort. Kindly let me sink into silence, touched my heart, although I was not able to self-examine all the flaws. Imperfections that God teaches us to understand love, and purify the soul.

When most humans have been sleeping, how I miss the holy book with wrenching melancholy song. Ignoring the time ahead, laughter and jokes do not want anymore, remember all the mistakes in my life before the screen was revealed, unbeknownst to secrecy, and do not want unexpected by anyone. Do you take all of that, tonight?

When my body is fragile, I want serenity in my sleep. Not wanting to disturb anyone. I have lost the desire, do not expose it to fire again. Enough already, let me rest in peace that only I understand. Cold and bitter. Infinite expectations, not perfect but imprint.

Oh, too many times have I refused, until the time when feeling uncomfortable to decline even more, In the crowd, in the form of a smile. Until I felt it was beyond arrogance devil. No, that’s not what I mean. I was a loner who wants to enjoy quiet, please leave me alone. 

XX-I-I-VIII

  1. THE ODE OF A BACHELOR; 1 August 2008;
  2. LOVE AT FIRST SIGHT; 3 August 2008;
  3. FOREVER, I KNOW THERE IS NO LOVE FOR ME; 22 August 2008;
  4. DEVIL FACE OF AN ANGEL; 19 November 2010;
  5. THE COURT OF SATAN; 29 November 2010;
  6. ROTTEN; 21 February 2012;
  7. POETRY OF THEBES; 13 March 2012;
  8. CURSE OF HATRED; 25 November 2012;
  9. COSMOLOGY UNIVERSE; 2 April 2014;
  10. FATE; 15 April 2014;
  11. MESSAGE FROM THE MIRROR; 26 April 2017;
  12. POOR OLD MAN BALLADS; 27 April 2017;
  13. PLEASE, DO NOT LET ME LOVE HER; 2 May 2017;
  14. MONOLOGUE OF THE MOON; 3 May 2017;
  15. THE FALL OF ICARUS, WHEN A MAN TRIES TO REACH THE SUN; 14 May 2017;
Posted in International, Literature, Poetry | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 9 Comments

HILANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

ASSOSIASI

Saling menerima kekurangan seraya saling melengkapi, itulah essensi dari persahabatan.

HILANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Berapa orang tokoh seri Assosiasi Budjang Lapok yang kalian ketahui? Satu orang? Sepuluh orang? Jika dari semuanya, nama yang satu ini tidak ada. Tolong kalian mengingat baik-baik! Diantara mereka ada seorang lelaki, sifatnya tenang, dingin penuh perhitungan dan kejam. Orang-orang di luar ABL mungkin tidak menganggap serius dia, terlihat pendiam akan tetapi pada orang itu tidak ada satu pun anggota ABL berani mencari pasal. Ahli tipu daya dengan kemampuan untuk melihat kebenaran tanpa tertipu, selalu berpikir tenang bahkan dalam perdebatan yang sebenarnya (mungkin) tak ia pahami, itulah dia. Laksamana Chen.

“Aku benci hal-hal yang rumit, jadi kalian jangan membicarakan hal rumit, kepalaku pusing!” Itu pertanda Laksamana Chen sedang memiliki banyak pikiran, entah di kedai obat, entah di perguruan silat. Tidak ada yang berani menanyakan sebab-musabab, dan itu pertanda segenap anggota ABL harus mengganti pokok pembicaraan ke arah lucu-lucu dan menghibur, walaupun ABL merupakan organisasi egaliter, dalam kondisi begini tidak ada yang bantahan semua langsung mengikuti, setidaknya hingga hari ini. Semacam ada hukum tak tertulis bahwa masuk ke ABL harus mendapat persetujuan Laksamana Chen, tanpa tendeng aling-aling. Dia yang seumur hidup tak pernah menjejakkan kaki keluar dari kota Bandar ini menjadi orang pertama menguji anggota baru ABL.

Baru-baru ini, anggota ABL terbaru, Mas Jaim kebanyakan berbual-bual sambil tertawa bersama anggota ABL lain, Laksamana Chen sedang kumat asam lambung dan tidak tahan, ia berkata, “Tatap mata saya Mas Jaim!” Kemudian melambai-lambaikan lima jari ke mata Mas Jaim, “Mas Jaim ingat ya, jangan terlalu banyak bicara!” Mimik Laksamana Chen sangat serius, Mas Jaim terdiam, mata kosong dan akhirnya mengangguk-angguk. Semenjak hari itu Mas Jaim menjadi anggota ABL yang paling pendiam, sewaktu Laksamana Chen hadir.

Pernah ada yang melawan, “Sejak bergabung di ABL ini, aku menjadi terlalu mudah marah, ini mungkin karena aku adalah sasaran olok-olok kalian, terutama kau! Laksamana! Paruhmu paling tajam! Aku adalah seorang pangeran, ingat itu! Kepala aku meledak-ledak tahu.”

Laksamana Chen menunjuk hidung sendiri.

“Jadi aku yang kau salahkan Pong? Bukan yang lain? Baiklah kalau begitu aku minta maaf.” Laksamana Chen dengan serius menjulurkan tangan kepada Tabib Pong, ketika tangan mereka terjabat, ia tertawa terbahak-bahak senang. Tabib Pong terdiam. Ia tahu atau kelak akan tahu selama tiga bulan kedepan akan menjadi sasaran olok-olok dangan julukan baru, “Pangeran meledak-ledak.”

Seorang paling berani di ABL, Tuan Takur pun khilaf. “Silahkan kritik aku teman-teman! Terutama Laksamana Chen, karena aku menyadari menjadi sukses itu tidak muluk, yaitu berani menerima masukan dari orang lain sehingga menjadi pribadi lebih baik.”

Pada detik ini biasanya orang-orang digrup lain akan tersenyum, memuji dan menyanjung sang Pahlawan, maka tepat sebelum sang Patriach Barbarossa melakukan hal lazim itu, Laksamana Chen datang menyambar, “apa kritik-kritik! Hari ini bilang A, besok bilang B. Macam kami tidak tahu kau siapa! Kamu itu masih labil, belum siap menerima masukan dari kami. Sudah nikmati saja nasi lepau ini, selepas itu pulang terus tidur.” Selesai berbicara Laksamana Chen bersiul-siul.

“Dangkal!” Kemudian Tuan Takur pun berkaca-kaca dipojokan.

Satu lagi, Laksamana Chen ini senang ke pasar, melihat-lihat barang-barang terbaru. Dan bila ingin kesana, orang yang selalu diajaknya adalah Mister Big. Kelucuan pertama, entah apa kejadian di pasar, Mister Big selalu membeli barang yang katanya hendak dibeli Laksamana Chen, sedang ia pulang dengan tangan hampa. Kelucuan Kedua, besoknya Laksamana Chen pergi ke pasar sendiri, dan dapat membeli barang yang mirip dengan harga lebih murah. Paling lucu adalah fenomena ketiga, Mister Big selalu mau diajak ke pasar. Bisa dibayangkan betapa kuat sugesti orang ini.

Sang Patriach pun tak luput, pernah entah terkena angin apa ia bergumam sendiri, kebetulan ada Laksamana Chen, Mister Big dan Penyair, “Aku berbeda dengan orang lain. Aku suka dengan perempuan berkulit putih, tinggi, berambut hitam tebal, wajah oval, pakaian modis dan kalau bisa anak saudagar kaya.” Ia tertawa girang, kemudian menambahkan, “itu baru type aku, cocok menjadi istri, di luar itu bukan type aku.”

Dalam lepau nasi penuh sesak itu, seperti tersengat Laksamana Chen duduk tegak, tersenyum kemudian bertepuk tangan. “Ada ya? Yang punya type seperti itu? Ternyata kamu, saya tidak menyangka.” Ia mengeleng-gelengkan kepala, memberi kesan takjub.

Barbarossa tidak mengerti tambah semangat, “tentu ada dong Laksamana, kalau dicari pasti ketemu type seperti itu.” Mata mengawang-awang, cekikikan.

“Bukan tentang pencarian Barbarossa, type kamu itu berbeda dengan orang kebanyakan, seperti aku, Mister Big atau Penyair. Kalau type kami, hitam, gemuk, rambut acak-acakan dan kemana-mana mengenakan daster.” Laksamana Chen memasang wajah serius, Mister Big dan Penyair ingin membantah, namun mundur dengan satu delikan dari Laksamana Chen.

Barbarossa tak kunjung mengerti, tertawa dan mengejek, “ternyata begitu type kalian, sungguh kasihan.” Ia mengeleng-gelengkan kepala, lalu menambahkan volume tertawa, senang.

“Iya, kalau kamu membayangkan bahwa kamu satu-satunya laki-laki normal didunia ini! Apa yang kamu sebut tadi itu adalah type semua laki-laki! Asal sebut saja, seolah-olah berbeda dengan kebanyakan orang. Sebelum berbicara, berpikir dahulu!” Laksamana Chen membetulkan rambut, sekejap tawa hilang diwajah Barbarossa.

Maka yang paling cerdik di ABL adalah Amish Khan, ia yang bertampang berandalan itu tak pernah berhadapan vis-à-vis dengan Laksamana Chen, belum-belum ia memproklamirkan diri sebagai sekutu setia, pinang dibelah dua dari Laksamana Chen. Mereka mempunyai persamaan kepentingan selalu menyerang sang ketua, Barbarossa pada setiap kesempatan muncul. Satu lagi kesamaan mereka, yaitu menyukai cerita kocak, ringan dan lucu-lucu.

Mengenai lucu-lucu, maka yang kena adalah Penyair. Seseorang yang memiliki jiwa puisikal (mungkin) kurang mampu menyerap sesuatu yang kocak, jika ada kelucuan Penyair adalah yang terakhir mengerti, cenderung kebingungan. Biasanya ia diam, semua berlalu dengan biasa hingga Laksamana Chen kumat. Suatu ketika Amish Khan bercerita tentang seorang banci tak terawat jatuh dalam sumur, semua anggota ABL tertawa kecuali Penyair.

“Kenapa tidak tertawa Penyair? Bukankah cerita pinang sebelah saya lucu?” Tanya Laksamana Chen. Heran melihat penyair, hanya bersemangat ketika membicarakan sesuatu hal serius.

“Beta tak merasa kisah itu kocak, apakah lucu kita menertawakan kisah seorang anak manusia malang jatuh ke dalam sumur?” Penyair adalah penyair, membawa nilai-nilai ideal kemana pun ia berada.

“Aduh Penyair!” Laksamana Chen menutupi muka dengan kedua tangannya. “Itulah akibat terlalu banyak bergaul dengan kitab, semua hal dibawa serius. Lama-lama kamu nanti jadi kutu buku.” Anggota ABL serentak tertawa, akan tetapi Penyair masih bingung.

“Aku bercanda Penyair, kamu bukan kutu buku tapi robot berdasi! Semua tahu, seperti perpustakaan berjalan.  Ingin tahu sejarah tanya penyair! Ingin tahu niaga tanya penyair! Apalagi Ingin tahu syair tanya penyair!” Lagi-lagi anggota ABL lain tertawa terbahak, bahkan Amish Khan sampai memukul-mukul meja. Penyair masih bingung.

Laksamana Chen mengambil wajah serius, “biar aku permudah. Hidup ini sekali-kali kita perlu tertawa, untuk melepaskan beban terhadap dunia. Itulah Humor!” Akhirnya Penyair menganguk-angguk, paham dan sejak hari itu Penyair belajar humor.

Professor Gahul “acap” luput terkena paruh tajam Laksamana Chen, jarang bergabung di lepau nasi bersama, sibuk penelitian. Apalagi Santiago sang pelaut, hampir tak pernah pulang lagi ke Bandar, tambah lagi sejak menikah Santiago belum pernah berbual-bual lagi bersama Assosiasi.

Itulah Assosiasi Budjang Lapok (ABL), pada awalnya mereka adalah individu yang berjalan sendiri-sendiri. Namun, suatu rantai yang tidak terlihat telah mengikat mereka. Sedikit pertengkaran tidak akan mampu merusak persahabatan mereka. Saling menerima kekurangan seraya saling melengkapi, itulah essensi dari persahabatan.

X

Disini, semua terasa menyenangkan bagi Laksamana Chen, hingga di suatu malam berangin. Di sebuah lepau nasi, hanya bertiga. Barbarossa, Laksamana Chen dan Mister Big terhanyut dalam hening. “Jadi kita begini-begini saja? Setiap hari di lepau nasi, tidak ada kemajuan! Ini sudah tidak bisa dibiarkan!” Laksamana Chen melihat kearah kedua temannya, Mister Big mengangkat bahu tak paham. Barbarossa memandang balas, mata mereka bertemu menunggu reaksi lanjutan.

“Kegilaan ini harus berhenti! Sudah saatnya kita berhenti bermain! Kalian tidak berpikir untuk mencari pasangan hidup? Menikah.

“Apa macam membicarakan pernikahan? Biasanya berbicara serius sudah sakit kepala. Masuk jin ya Laksamana?” Barbarossa membalikkan kata-kata Laksamana Chen selama ini, tepat dimuka.

“Kamu lebih muda dariku, makanya tidak paham.” Belum pernah Laksamana Chen semarah ini, dia yang biasa bercanda selalu terjebak dalam tawa sehingga ketika serius pun dianggap sedang main-main. “Aku pulang!” Laksamana mengeluarkan koin dari kantong kain, kemudian bergegas diikuti suara ejekan Barbarossa, “Jeeeh, itu saja merajok.” Dalam kondisi biasa Laksamana Chen berbalik, membalas pantun tersebut. Akan tetapi ini adalah keadaan tak biasa, ia terus pulang.

Mister Big bergeser dan bersuara pelan, “sepertinya kali ini Laksamana serius.”

“Benar, Pak Tua itu serius.” Barbarossa menghirup dalam-dalam tembakau linting.

“Terus?”

“Apanya terus? Aku paling kehilangan kalau Pak Tua itu menikah, tapi sudahlah mungkin sudah waktunya dan itu pun demi kebahagiaan dia juga, sepatutnya kita juga berbahagia.” Barbarossa mengambil gelas dan minum.

Seraya menyalakan tembakau linting, Mister Big berseloroh. “Tidak secepat itu juga kali, mana mungkin secepat itu ia menikah. Jangan terlalu berlebihan Barbarossa. Sekarang Laksamana belum melakukan apa-apa, belum juga punya calon.”

Tapi Barbarossa hanya bilang, “Aku kenal Pak Tua itu lama, ketika ia sudah mulai bergerak maka hasilnya tak akan lama.” Tampaknya, itulah yang terjadi.

XX

Roda pun berputar yaitu roda yang disebut nasib, tak seorang pun mengetahuinya. Tak seorang pun yang bisa mengubahnya dan tak seorang pun bisa lolos darinya. Hari hari kemudian seolah berlalu seperti biasa, anggota ABL kembali dalam tawa, canda dan ceria. Tiga bulan kemudian Laksamana Chen datang ke lepau nasi dengan mata berbinar, senyum merekah. “Aku telah menemukan surga.”

Hidup manusia dilecut waktu, empat bulan kemudian sebuah undangan dilemparkan ke Assosiasi, undangan pernikahan Laksamana Chen. Meski akan menikah, Laksamana Chen tidak kehilangan selera humor dengan menabuhkan kata-kata, “WAJIB HADIR!!!” Malam menjelang pernikahan tersebut terjadi gempa bumi di Kerajaan Bandar, terjadi kegemparan sesaat. Kemudian malam kembali tenang.

XXX

HILANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOKDi pagi yang cerah itu. Laksamana Chen didampingi Amish Khan disisi kiri. Ketika Laksamana hendak maju menghadap Tuan Kadi ada sedikit cameo. Karena kelamaan duduk, kram. Untung Amish Khan cekatan memijat, sehingga langkah pun gagah. Ketika ijab qabul lancar diucapkan, maka kegembiraan membuncah ke langit. Anggota ABL di sudut jauh senyum-senyum.

Ini adalah perjamuan terakhir, ini adalah perpisahan kami. Menunggu para hadirin lain pulang, di dalam ruang sakral itu anggota ABL cekikikan dan bergurau layaknya kanak-kanak. Tuan Takur mendorong kesana-kesini, Penyair bertindak sebagai security dadakan, sedang Amish Khan meniru gaya undangan perempuan yang memamerkan gaun baru, aneh-aneh dan sangat lucu. Suasana ini tidak didapatkan jika yang menikah bukan Laksamana Chen, raja lucu-lucu. Sampai suasana sepi, tiba saatnya untuk mengucap salam perpisahan dan berpelukan.

“Kamu luar biasa.” Professor Gahul.

“Inilah yang dinamakan sejarah.” Penyair.

“Aku tahu kamu pasti ingin cepat-cepat pulangkan?” Barbarossa.

“Jangan berubah Laksamana.” Mister Big.

“Sekutu saya.” Amish Khan.

“Jangan terlalu menjaga wibawa di depan istri.” Mas Jaim.

“Jangan lupa pemanasan, agar tidak kram.” Tuan Takur.

Ketika anggota Assosiasi pulang, Nyonya Chen berbisik, “Siapa mereka bang?”

“Mereka mungkin terlihat seperti kumpulan orang bodoh. Tapi jangan tertipu, mereka adalah orang-orang terbaik.” Nyonya Chen cemberut. “Tentunya setelah kamu, surgaku.” Tambah Laksamana Chen, pipi Nyonya Chen bersemu dadu.

XXXX

Ada yang menyedihkan sekaligus ada yang menyenangkan melepaskan seorang sahabat. selepas ini dunia tak akan lagi sama, Assosiasi telah kehilangan “filter” alias penyeleksi terbaik yang pernah mereka miliki. Ada yang hilang dalam rutinitas lepau nasi selepas akad nikah Laksamana Chen, hari itu menjelang panggilan shalat Jum’at.

“Detik-detik pembubaran ABL.” Seloroh Barbarossa.

“Jangan!” Teriak Mas Jaim, dia masih tiga bulan bergabung, keakraban ini begitu berarti. Sayang jika hancur. Amish Khan, Professor Gahul dan Mister Big sudah memiliki rencana masa depan jadi tidak alasan membantah.

“ABL tinggal kenangan?” Tanya Penyair sekali lagi.

Ketika semua kebingungan, Tuan Takur bersuara. “Kalian bisa melihat tadi pagi. Ia mungkin mempunyai banyak teman-teman lain, tapi dari sorot matanya aku bisa melihat. Assosiasi yang paling diharapkan, yang paling berharga. Mata itu jendela jiwa.”  Biasanya, ini adalah saat-saat Laksamana Chen turun tangan, mematahkan semua kata-kata romantik. Ia benci segala omong kosong gombal tahi minyak itu, akan tetapi kali ini Laksamana Chen tidak ada. “Jadi, sungguh sangat disayangkan jika apa yang telah kita bangun ini hancur! Jangan! Meski relevansi bisa hilang, ABL itu institusi! Jangan bubar!” Tuan Takur berapi-api berorasi.

Barbarossa tersenyum cerah, “mungkin kelak kita bisa berganti bentuk dikemudian hari.”

“Evolusi.” Tambah Mister Big.

“Bersalin rupa.” Timpal Penyair.

“Entahlah.” Mas Jaim.

“Kupu-kupu.” Amish Khan.

“Transformasi.” Professor Gahul.

Saatnya akan tiba, tentang kemungkinan-kemungkinan dihadapi kelak. Namun jika dipikir mendalam, ini sebuah bukanlah akhir. Melainkan adalah awal dari tingkatan berikut. Banyak berhasil, beberapa gagal. Kita meyakinkan mereka mampu mengatasi apapun itu, karena cerita ini bukan kisah sembarang orang, (Akademi) Assosiasi Budjang Lapok. Jika terselip keraguan, singkirkan segera! ABL adalah legenda.

XXXXX

Ketika semua terasa akan hilang bersama lentera malam di lepau nasi dinyalakan, tiba-tiba Laksamana Chen hadir, tepat di malam pertama masih bersenda gurau bersama. Ternyata, alasannya adalah belum berani menginap di rumah mertua, owaaaaalah. Dan waktu melambat perlahan.

XXXXXX

 KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 38 Comments

NGANGKANG STYLE

Ngangkang Style

Ngangkang Style

NGANGKANG STYLE

Sebuah prasangka yang benar-benar menyinggung siapa pun yang berhati luhur dan mulia adalah prasangka syahwat sebagai dasar hasrat manusia”

Terus terang ada keraguan mendalam menyikapi tindakan Pemko Lhokseumawe yang akan melarang perempuan mengangkang di Sepeda motor. Timbul pertanyaan, apakah sudah cukup lengkap pengetahuan kita tentang aturan tersebut? Tentang apa yang menjadi pertimbangan? Tentang sebab dikeluarkan? Karena sebagai manusia rasional, sebaiknya melengkapi reaksi dengan pola pikir komprehensif, agar menghasilkan reaksi terukur, bukan hanya semata gejolak reaksioner semata.

Ketika lembaga formal bicara moral, merumuskan norma serta malah menjadikannya hukum secara resmi, mengikat dan dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah, atau otoritas melalui lembaga atau institusi hukum maka dengan serta merta menghilangkan esensi norma yang sejatinya selalu berkembang dengan kesepakatan-kesepakatan masyarakat.

Menetapkan standar moral berdasarkan praduga bahwa perempuan yang duduk mengangkang saat di sepeda motor membentuk tubuh sehingga mengundang birahi adalah penerapan etik yang dingin, memberi label buruk adalah sangat aneh. Ketika umara mengatur nilai yang sangat detil, mengambil alih peran ulama mengurusi hukum agama, seperti melewati batas atau malah jangan-jangan produk kolaborasi, ketika umara melupakan perannya meningkatkan kesejahteraan, melarikan diri dari substansi malah masuk ke ranah moral. Apa pentingnya mengatur cara perempuan duduk diatas kenderaan bermotor? Bukankah sudah jelas itu merupakan tanggungjawab orang tuanya, atau wali jika ia sudah tidak memiliki orang tua, atau suaminya jika ia telah menikah, ataukah tidak ada pekerjaan lain di dunia sehingga masuk ke dalam rumah tangga orang, ironi ketika banyak peran besar tidak dilakukan dengan baik, akan tetapi hal tidak penting dibesar-besarkan.

Siapapun dia yang berpikir akan sangat terganggu dengan irasionalitas di balik keluarnya aturan ini, sangat tidak substansial, sangat tidak penting mengatur cara orang duduk. Kita boleh lupa, akan tetapi sejarah mencatat Aisyah r.a memimpin perang Jamal dari atas unta. Sejarah Aceh mencatat Laksamana Malahayati melakukan pertempuran satu lawan satu melawan Jenderal Cornelis de Houtman digeladak kapal tanggal 11 September 1599, kita mengenal dibelakang hari ada para pahlawan seperti Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia sampai bahkan Pocut Baren. Atau jika kita lebih jauh meneliti lagi timeline sejarah, Kesultanan Aceh Darussalam dulu pernah selama 59 tahun dibawah pemerintahan 4 Sultanah yaitu ; Sultanah Safiatuddin (1641-1675), Sultanah Naqiatuddin (1675-1678), Sultanah Zaqiatuddin (1678-1688) dan Sultanah Zainatuddin (1688-1699). Satu hal yang langka di dunia muslim, karena hanya sedikit para perempuan yang pernah menjadi sultanah antara lain, Sultanah Syajaratul al-Daur yang memimpin kerajaan Mameluk di Mesir dan Sultanah Raziah di Delhi India dan bahkan pada zaman keemasan Pasai terdapat seorang ratu perempuan yang bernama Sultanah Nahrasiyah. Tanah ini sangat banyak melahirkan perempuan yang agung (grande dame), jadi apakah menurut kita kebijakan ini tidak terlihat mengada-ada?

Kita mungkin lupa, di dunia ini, manusia adalah manusia. Ketika manusia melakukan tindakan keji seperti memperkosa dan membunuh apakah ia masih layak dinamakan manusia? Tetap ia manusia yang berhak untuk dimaafkan, benar perilakunya adalah iblis. Dan jangan lupakan pula merupakan hak dari pihak yang dirugikan melihat ia dihukum apabila tiada permaafan dari apa yang dilakukan, dan wajib itu semua harus melalui proses pengadilan. Dan jika seseorang dianggap bersalah, lalu ia dibakar, apakah yang membakar itu juga manusia? Tetap yang melakukan itu juga manusia, akan tetapi ia telah meninggikan dirinya lebih dari tuhan. Mengapa? Karena hanya Allah S.W.T yang berhak mengahzab bakar, itupun di neraka bukan di dunia. Satu orang manusia adalah keseluruhan dunia, bagi mereka yang mencintainya, karena itu agama mengajarkan kasih sayang.

Dilarang Ngangkang di Lhokseumawe, Aceh, Indonesia

Sebuah prasangka yang benar-benar menyinggung siapa pun yang berhati luhur dan mulia adalah prasangka syahwat sebagai dasar hasrat manusia, apalagi seolah membicarakan surga padahal mengincar neraka, sebuah aturan yang tidak jelas muaranya akan menodai keadilan dan banyak mudharat. Efek yang paling mengerikan dari hukum ini adalah ketidakmampuan Negara menjadi hakim sehingga mengundang pihak-pihak yang bersimpati kepada peraturan ini menjadi hakim, maka terciptalah chaos dan lahirlah anarki, ketika seseorang yang belum tentu bersalah dihakimi oleh orang banyak, maka disitulah perilaku barbaric terlihat jelas. Wajah Islam penuh kasih sayang tercoreng oleh perilaku oknum masyarakat, diawali pola pikir penguasa yang bahkan tidak mengerti agama mendalam, tidak tahu esensi akan tetapi membawa-bawa nama agama.

Salah satu prinsip keadilan adalah lebih baik membebaskan pelaku yang bersalah, dibanding harus menghukum orang yang tidak bersalah, apalagi jika hukuman itu dijatuhkan hanya untuk hal remeh-temeh, tak penting, tidak jelas secara agama sekalipun apalagi secara hukum dan cenderung dungu, peraturan tentang cara duduk yang disebut ngangkang style.

XXXXXXXXXX

Artikel-artikel lain yang sejenis:

  1. Menegakkan Keadilan; 3 November 2009;
  2. Batas; 22 Februari 2010;
  3. Manusia; 18 Maret 2010;
  4. Teori Kemungkinan; 14 Februari 2011;
  5. Generasi Yang Hilang; 17 April 2011;
  6. Apa Yang Machiavelli Lakukan; 1 Juni 2011;
  7. Sejarah Syahdu Sebuah Negeri; 16 Agustus 2011;
  8. Filosofi Gob; 10 Oktober 2011;
  9. Makna Puisi Yang Hilang; 5 Januari 2011
  10. Heil Ceasar; 15 Maret 2012;
  11. Manifesto Politik; 27 Maret 2012;
  12. Ketika Sekolah Usai; 6 Mei 2012;
  13. Politik Abu Nawas; 24 Juli 2012;
  14. Gugatan Kami; 23 September 2012;
  15. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
Posted in Kolom, Mari Berpikir, Opini, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 9 Comments

ANNUAL REPORT 2012

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

ANNUAL REPORT 2012

Annual Report1Sebuah laporan adalah merupakan laporan pelaksanaan tugas dan wewenang, berfungsi menjadi sumber dokumentasi informasi tentang apa yang telah tercapai selama setahun. Sebagai pemenuhan amanat penulis kepada pembaca maka dengan penuh kerendahan hati blog tengkuputeh.wordpress.com dengan ini melaporkan Laporan Tahun 2012 kepada para pembaca setia.

Annual Report2Ditahun 2012, terdapat 60 tulisan baru, sehingga jumlah total arsip tulisan menjadi 239. Dimana terdapat 47 gambar diunggah sehingga menjadikan total kapasitas penyimpanan menjadi 7 MB dari 3 GB ruang yang disediakan oleh wordpress.com. Dengan rata-rata 4 foto perbulan.

Hari tersibuk adalah tanggal 30 Agustus 2012 dengan pengunjung sebanyak 84 orang. Dengan postingan pada tanggal tersebut adalah “YANG MEMUKAU TAK SELAMANYA MEMUKAU”.

Annual Report3Tulisan yang paling banyak dibaca ditahun 2012 ini adalah :

  1. Selamat Ulang Tahun Mama = Februari 2010
  2. Dara Portugis = Desember 2008
  3. Teuku Umar Pahlawan = Februari 2011
  4. Makna Puisi Yang Hilang = Januari 2012
  5. Angin Dingin Menepati Janji = Februari 2012

Annual Report4Pengunjung yang menggunakan mesin pencari kebanyakan menggunakan kata kunci : “kata kata ulang tahun untuk ibu” dan “teori kemungkinan”.

Blog ini direferensikan berdasarkan urutan tertinggi dari : facebook.com, twitter.com, wordpress.com, aneukagamaceh.blogspot.com dan karangsatie.blogspot.com.

Annual Report5Total pengunjung blog ini berasal dari 34 negara, pengunjung paling banyak berasal dari Indonesia. Amerika Serikat dan Negara  lain tidak jauh dibelakang.

Annual Report6

Tulisan yang paling banyak dikomentari tahun 2012 adalah “NASIB ASSOSIASI BUDJANG LAPOK”

Berikut lima komentator teraktif tahun 2012 adalah : dmilano, penyair, eross.delta, Sawali Tuhusetya dan Aulia.

Terima kasih kami ucapkan kepada wordpress.com sebagai fasilitator, terima kasih juga kami ucapkan kepada para teman, para sahabat yang telah memberi masukan, semangat serta apresiasi terhadap blog ini. Kami berharap kita semua dapat bertemu kembali di tahun 2013.

Segala puji kepada Allah S.W.T

Annual Report7Banda Aceh, 31 Desember 2012

 

Tengkuputeh.wordpress.com

Posted in Asal Usil, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

PENAKLUKKAN KEBUDAYAAN

Penaklukkan Mongol senantiasa meninggalkan bukit-bukit tengkorak

PENAKLUKKAN KEBUDAYAAN

Menurut Ibn Khaldun “Kebudayaan yang kalah akan mengikuti kebudayaan pemenang” dan tentu saja penaklukkan bangsa Mongol/Tartar terpaksa dikecualikan dari teori ini. Kita bisa melihat bagaimana penakluk Mongol/Tartar yang meluluhlantakkan Baghdad akhirnya memeluk agama Islam melalui Takudar atau lebih terkenal dengan Muhammad Khan dan di lain tempat cucu sang penakluk “Jenghis Khan” yaitu Kubilai Khan memilih mengikuti budaya Cina dan mendirikan Dinasti Yuan.

Kitab Mukkadimah Ibnu Khaldun

Akan tetapi teori Ibn Khaldun tersebut terbukti sahih, sebagai contoh ketika Jerman, Jepang dan Italia (blok Axis) tertaklukkan pada Perang Dunia II. Maka sistem Fasisme hilang dari muka bumi tergantikan oleh sistem Kapitalisme/Liberal dan Komunis yang menjadi pemenang serta yang paling jelas adalah ketika Jerman dipisahkan menjadi dua bagian yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur.

Penggulangan pola kembali terjadi ketika Komunisme runtuh diera akhir 1980-an, dimana negara-negara Eropa Timur berlomba meninggalkan sistem Komunis menggantikannya dengan sistem ekonomi yang lebih terbuka dan “lebih demokratis.” Bahkan sekarang Cina dan Vietnam walaupun masih menganut sistem Komunisme “terpaksa” harus meliberalisasi sistem negaranya atas “tekanan globalisasi” dunia Internasional.

Praktis di era sekarang apa yang disebut dengan Demokrasi Liberal sedang pada puncak kejayaannya setelah Fasisme terkubur dan Komunisme tertaklukkan. Apa yang diatasnamakan Demokrasi yang berada dibawah panji-panji Barat Amerika dan sekutunya adalah kebenaran mutlak yang harus diikuti oleh negara lain, dengan sepenuh atau dengan modifikasi.

Presiden Amerika, George W. Bush pernah sesumbar diakhir tahun 2005 dengan penuh percaya diri mengatakan bahwa “Setiap bangsa yang ada yang ada di dunia saat ini sebaiknya menghentikan segala upaya untuk menyaingi kebudayaan Barat” Walaupun keesokan harinya Presiden Rusia, mungkin untuk menjaga gengsi. Vladimir Putin membalas “Kita tidak sama, dan kami tidak bersama kalian”. Akan tetapi dari segiapapun juga, dominasi Barat benar-benar mencengkram dunia saat ini.

Otomatis dan sangat jelas dikemukakan oleh Samuel Hutington dalam Clash of Civilization bahwa yang menjadi ancaman bagi kebudayaan Barat adalah Islam. Dan perbedaan itu menjadi jelas ketika nilai-nilai itu terus berbenturan. Banyak contoh yang terjadi dan penulis rasa tidak perlu dituliskan lagi karena kita semua sudah tahu.

Yang menjadi pertanyaan adalah Beranikah kita mengatakan “Nilai-nilai kalian berbeda dengan nilai-nilai kami dan jangan paksakan kami untuk mengikuti kalian.” Berani dalam tindakan, perkataan dan niat. Dan semoga keberanian itu tidak semakin memudar didiri kita.

Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 19 Comments

KISAH PERJUANGAN TAK SAMPAI

Berziarah ke makam Teuku Umar

KISAH PERJUANGAN TAK SAMPAI

Ketika sebuah kisah melebar kemana-mana, tak pelak akan menyebar ke berbagai semesta. Di sepanjang jalur angin berhembus kita tak mesti mempertanyakan mengapa bumbu-rempah hadir dalam gemuruh. Beberapa kisah tercuri dari sejarah, beberapa tertambah. Banyak hal berubah, sedikit yang tidak. Segala sesuatu di dunia terikat hukum kausalitas, sebab akibat. Maka, bayangkanlah apa jadinya ketika sebuah kekuatan maha dasyat bertemu dengan benda tergerakkan? Akan ada yang patah. Ini adalah kisah tentang tulang-tulang yang patah tapi tak pernah lelah berdiri. Disela sendu sekaligus rindu syahdu.

Waktu tanpa terasa berlalu tinggalkan cerita tentang seorang petualang yang tak pernah lelah untuk bangkit kembali, hingga ada cerita tentang akhir. Bahwa hidup tak pernah mudah, terlalu banyak kondisi, terlalu banyak kepentingan. Dimana kelihaian membawa petaka dan kelemahan membawa berkah. Dan ia pergi, mencoba berjuang, tapi akhirnya sejarah tak mengisahkan kemenangan bagi ia.

Selalu ada yang mengharukan dari kisah perjuangan tak sampai, kisah seorang penjanji muluk sekaligus buruk, berbicara mimpi namun hanya sedikit bertindak. Seorang petualang (pun) harus tahun kapan saatnya berbalik melahirkan kebrutalan dengan gaya anggun, sebuah keyakinan berapi-api yang justru membekukan hati, sebuah penampilan harga diri yang menakutkan.

Maka terpujilah ia yang dilahirkan di Barat. Ia yang bermulut manis, yang culas, namun tak kuasa membuang warisan leluhur. Entah apa yang ada dipikiran orang itu, pengkhianat sekaligus pahlawan, dicaci sekaligus dipuja. Kisah hidup berisi ketegangan, antara amarah dan cita-cita, kemungkinan dan tipu daya, ketergusuran, nostagia dan kematian. Itu sebabnya kami berkabung, karena kami gentar tak seorang pun bisa menggantikannya. Demikianlah lupa dan ingatan bisa dibongkar untuk diteriakkan, si pemalu bersuara lirih itu.

XXXXXXXXXXXX

Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 10 Comments

MARI BICARA TENTANG CINTA

 

Pustaka Ababil

Disana ada gentar menggebu disela harap cemas, tak defenisikan meski telah lama merenung.

MARI BICARA TENTANG CINTA

Maka ada yang membingungkan ketika angin menerpa wajah, mencoba menerka apa yang apa yang ada disudut hati. Gelora cinta, gelora dalam jiwa tak pedulikan. Memahami cinta yang tumbuh di dalam hati manusia sebagaimana memahami apakah hidup di diri manusia. Beberapa orang paham dan memahami, beberapa tidak mau paham tapi paham, beberapa (lagi) pura-pura paham, beberapa lain berkeinginan pura-pura paham, pura-pura tidak paham, atau yang paling tragis tidak ingin paham dan tidak memahami.

Disana ada gentar menggebu disela harap cemas, tak defenisikan meski telah lama merenung. Dimana setiap hal unik tak berulang pada tiap kejadian. Membicarakan cinta, adalah kisah lama yang selalu berulang sedari zaman Adam dan Hawa, di dalam cinta terdapat setengah kebijaksanaan dan setengah kegilaan, bukankah dalam bahasa Arab cinta dan gila berada dalam kosa kata yang sama, “majnun.”

Mengapa jiwa harus bergetar mengingat sebuah nama, sedang tak pernah paham dengan isyarat hakikat. Ada hal-hal dimana kata tak mampu mengungkapkan. Sebenarnya cinta adalah cinta, bukan sebuah pengorbanan. Itu (mungkin) cinta ketika sebuah jiwa rela mengembara bagai roh terkutuk, dibandingkan harus masuk surga tanpa cinta. Dan karena cinta, beberapa hal di dunia tak bisa diapa-apakan lagi.

(Karena) cinta terbentuk oleh rasa penuh, bahkan meluap-luap, bahkan (dalam) kekosongan.

Posted in Cerita, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

KURANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

ASSOSIASI

Kisah Para Budjang Lapok

KURANG ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Seiring bertambah umur disadari bahwa apa yang kita miliki dimasa lalu semakin sulit dijaga, lazimnya segala sesuatu yang tua memiliki biaya perawatan tinggi. Dan jika ia mampu melewati tantangan segala zaman maka ia akan disebut klasik, kenapa? Karena sesuatu yang klasik itu bertahan di sepanjang masa. Disitulah apa yang kuno tak akan hilang, menyibak tipuan kasat mata bahwa dunia akan selalu menjadi muda, padahal bumi ini telah lama ada, yang dikemas dan dikatakan sebagai yang baru, justru tak pernah diciptakan kembali.

X

Assosiasi Budjang Lapok tak luput dari pasang surut zaman, setelah berpolemik dengan Wali yang tak menemukan solusi. ABL menemukan senjakala-nya sendiri, dimana para anggota semakin jarang bersama berbagi kisah di lepau nasi. Penyair yang ekspresionis secara jelas mengungkapkan kekecewaan atas ke-tidakbela-an ABL dalam perang opini dengan wali, sedang beberapa anggota lain (mungkin) merasa malu dengan organisasi bercap menyedihkan ini, begitulah pikiran sang Ketua Barbarossa.

Akhir-akhir ini sering Barbarossa duduk sendiri di lepau nasi, sedang sejawat setia Mister Big sibuk menyiapkan acara pernikahannya diseperempat awal tahun depan. Dan celakanya, dalam kesendirian tersebut, terlalu banyak orang mampir memberi nasehat. Bukannya Barbarossa anti-kritik akan tetapi ia kesal dengan kata-kata yang diawali, “Jika saya dulu.” Apalagi, “Kalau saya.” Dalam ia merasakan ada kesombongan dalam memberi nasehat, padahal belum tentu ia tidak bahagia dan belum tentu yang memberi nasehat lebih berbahagia dibandingkan dirinya, padahal setiap orang memiliki kondisi unik tak berulang pada orang lain, yang terlihat hanyalah yang tersurat seperti kebenaran belum tentu bersama khalayak ramai.

Ada yang kurang.

Kemana lagi Barbarossa bercerita, ia teringat Partner in Crime yang sedang magang ilmu pertabiban dinegeri Selatan Bandar, Tabib Pong. Dalam gundah ia mencoret-coret kertas lontar dengan tulisan cakar ayam, sedari dulu Barbarossa memang terkenal dengan tulisan burik, “Pong, sekarang Assosiasi semua sibuk tak menentu, sering aku makan nasi sendiri di lepau nasi. Jadi Pong, beginilah aku, begini-begini saja.” Dan surat itu pun terkirim ke Selatan.

XX

Ditempat lain, masih di Bandar. Hiduplah si Penyair, berbeda dengan Barbarossa yang glamour si Penyair ini terlalu tenang, terlalu acuh. Jikalah ada dalam sekumpulan orang dimana sepanjang percakapan seseorang tidak pernah bicara, itulah dia si Penyair. Berbeda dengan sikap masyarakat Bandar yang suka berbual-bual, Penyair cenderung menjaga jarak dengan sekitar. Jika dikritik ia akan tersenyum sepanjang waktu, kalau dinasehati ia tidak bersuara. Sayangnya tidak semua orang menyukai tabiat Penyair, apalagi ketika ia terlihat begitu lepas berbicara dalam forum ABL, segera si Penyair dicap sombong dan pilih-pilih kawan.. Entah siapa yang mengawali maka Penyair pun dijauhi, dalam setiap kenduri ia dijauhi, tidak dicakapi. Polah paling bodoh yang dapat dilakukan oleh orang tolol adalah meng-embargo bicara seorang pendiam, Memang dunia ini parodi menggelikan, sikap apapun pasti melahirkan rasa tidak suka, baik maupun buruk.

Setelah berbulan-bulan tindakan embargo itu dilakukan barulah si Penyair sadar, entah karena dia tidak peka atau terlalu banyak bergaul dengan kitab. Di kenduri terakhir, si empunya hajatan tidak tahan dan memberitahu, si Penyair terkejut dan langsung menyadari bahwa ia memang sulit berkawan. Dan ia merasa memang Assosiasi yang paling mengerti dirinya.

XXX

Disuatu malam dilepau nasi, akhirnya datang balasan surat dari Tabib Pong. “Jadi begitu Barbarossa? Tapi tenang bulan depan aku mengambil pakansi, nanti aku temani kau makan tiap hari.” Barbarossa tersenyum senang dan melipat surat, dan tak dinyana Penyair sudah duduk didepan tersenyum.

“Tidak marah lagi Penyair?”

“Siapa bilang beta marah, beta hanya punya sedikit teman di dunia fana ini. Buat apa pula beta marah-marah. Mana yang lain?”

“Yang lain sudah menemukan surga, Oh ya Si Pong bulan depan pulang.” Barbarosa menyodorkan surat ke Penyair.

“Syukurlah, setidaknya bertiga lebih baik dibanding berdua. Apa kata orang-orang kalau kita hanya makan selalu berdua, tahulah pikiran orang zaman sekarang. Sudah tak benar semua.”

Barbarossa dan Penyair tertawa lepas.

XXXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 31 Comments

PLEDOI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

BATMAN ABL

Perjuangan kita adalah perjuangan menegakkan kebenaran, perjuangan untuk menjaga kemurnian iman perjuangan.

PLEDOI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Dunia hanya menjanjikan dua kepastian. Hal yang pertama adalah mati, dan hal yang kedua adalah tua. Dikatakan tua sendiri tak berarti harus menjadi kakek atau nenek, karena setiap penambahan umur baik sehari, sejam bahkan sedetik pun adalah proses penuaan. Waktu sejatinya adalah gerak tiada henti. Segala cara telah dilakukan manusia untuk menghentikan waktu, pergantian milenium tetap tak terhenti.

Organisasi tanpa plakat, Assosiasi Budjang Lapok mengalami pergantian zaman yang begitu cepat, sebetapapun legendaris mereka. Kurang lebih dapat dipastikan akan ditinggalkan hampir sebagian besar anggota di tahun depan. Semua anggota telah berpunya rencana, kecuali Barbarossa, Penyair dan Tabib Pong. Dan itu semua wajar, karena tiap generasi memiliki waktunya tersendiri. Orang-orang lama digantikan orang baru, jamak dalam hukum alam. Akan tetapi setiap orang tua memiliki penyakitnya sendiri. Kumpulan sikap sensitif, merasa hebat, ketakutan tak beralasan hingga hal-hal remeh-temeh yang didiagnosis sebagai penyakit tua.

Cerita bermula ketika Barbarossa dan Mister Big mengikuti Konfrensi Organisasi Warlords, sebuah organisasi kumpulan jenderal perang, begitulah mereka menyebut diri. Apa dan bagaimana bentuk organisasi itu sendiri tidak ada yang mengetahui, kecuali para anggotanya. Dan itu dilindungi dengan seperangkat kode etik yang keras. Desas-desus yang beredar di Bandar, organisasi ini tak lebih dari perkumpulan pencinta sejarah yang perangkat organisasi disamakan dengan struktur militer Kerajaan Bandar. Sepengetahuan masyarakat Bandar, organisasi ini dikomandoi oleh Abusyik dan Wali, masing-masing memiliki fungsi misterius, bahkan Barbarossa dan Mister Big sendiri selaku anggota organisasi WarLords tidak pernah membicarakan ini dengan anggota ABL lain, yang juga tidak pernah menanyakan.

Ini bermula ketika Abusyik bertanya, “Apakah ada korelasi antara penyuka sejarah dengan orang yang susah move on?”

“Menurut saya tiada.” Wali menjawab.

“Mungkin saja, untuk itu masa muda janganlah di sia-siakan.” Barbarossa punya pendapat.

“Tanda kesia-siaan waktu muda adalah bujang lapok.”

“Kalau lapok berarti tua Wali.”

“Betul Barbarossa, bujang sampai tua berarti dari muda tetap bujang. Jika sudah menikah namun bubar berarti bukan bujang.”

Sebenarnya tidak ada yang salah apa yang dikatakan Wali, Barbarossa tertawa masam di Konfrensi Warlords, apalagi Mister Big sempat berbisik pelan sambil tersenyum malu-malu. “Eksistensi ABL digugat Wali secara halus.”

Dengan gigi rapat Barbarossa membalas, “biar Penyair yang menyusun gugatan balik.”

X

“Apa pula beta malam-malam diganggu tidur sama dua burung hantu ini.” Penyair menggosok-gosokkan mata, turun tangga rumah dengan kesal. Hampir setengah jam Barbarossa dan Mister Big memangil-mangil. Menjelang akhir tahun pasar makin ramai, petugas pemungut cukai pasar pun mendapat tambahan jam kerja. Pergi sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari tenggelam. Akhir-akhir ini Penyair jarang bergabung dilepau nasi karena kelelahan.

“Hey, Penyair eksistensi kita sedang digugat!”

“Digugat pengadilan maksud kau Barbarossa?”

“Bukan pengadilan, jelaskan Mister!”

“Begini, sewaktu konfrensi Warlords tadi barusan. Wali mengatakan bahwa kita, ABL adalah grup sia-sia, tidak ada guna, penyakit masyarakat, pokoknya yang jelek-jelek.

“Iya kalau ABL memang jelek, kenapa memangnya? Lagian konfrensi Warlords itu kan urusan kalian berdua, beta apa hubungannya?”

“Gugat baliklah Penyair, setidaknya bantahlah.”

“Tidak mau beta! Kalian menyuruh beta menggugat Wali sama dengan misi bunuh diri. Wali itu sudah merantau kemana-mana, belajar ke negeri atas angin. Siapa Penyair?” Penyair menunjuk hidung. “Beta cuma penjaga pasar yang kebetulan menyukai syair.” Sambil mengangkat bahu.

“Ya, setidaknya punya kemampuanlah. Balaslah”

“Beta, sekali bilang tidak tetap tidak!”

“Tak usah terlalu kau bujuk dia Mister, mungkin memang si Penyair ini tipenya senang melihat kawan susah, malu mengakui berkawan dengan kita yang hina ini.”

“Kata-kata itu siapa yang mengajarkan Barbarossa! Jangan bilang nama beta Penyair kalau itu kejadiannya.”

“Jadi?”

“Beta susun sekarang! Kalian pulanglah, besok beta beri!”

XX

Selepas dhuhur, tiba-tiba Penyair datang ke gudang beras, Barbarossa dan Mister Big sedang tidur-tiduran, “Beta tak tidur semalam menyusun ini, ambillah!”

Barbarossa melonggokkan kepala, mengambil daun lontar dari Penyair.

“Duduklah dulu Penyair, ada banyak kueh dan kopi disini.” Kata Mister Big dari samping.

“Tapi waktunya kurang tepat. Beta harus kembali ke pasar.”

“Sudahlah Penyair, tak lama itunya.” Barbarossa membuka gulungan lontar dan membacanya. Penyair duduk, menunggu.

PLEDOI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK, PERJUANGAN KITA

Perjuangan kita adalah perjuangan menegakkan kebenaran, perjuangan untuk menjaga kemurnian iman perjuangan. Perjuangan kita jangan sampai dicemari oleh niat ketidakikhlasan, niat untuk menerima pujian.

Perjuangan kita bukanlah perjuangan membela yang lemah namun perjuangan yang membela keadilan, dimana setiap orang memperoleh haknya sesuai dengan kewajibannya.

Perjuangan kita bukanlah perjuangan yang bergantung pada seorang perorang, namun bergantung pada kontuinitas organisasi perjuangan.

Perjuangan kita, bukanlah perjuangan untuk menipu dengan kata-kata dimana orang sering terperdaya karenanya namun perjuangan kita adalah perjuangan dengan tindakan yang nyata.

Perjuangan kita tidak menginginkan “persatuan” yang dipaksakan karena hanya akan melahirkan “anak banci” namun perjuangan ini menginginkan persatuan dengan keikhlasan dan tulus hati demi apa yang kita sebut persamaan tujuan yang azali.

Terakhir, tujuan perjuangan kita adalah menjaga kedisiplinan diri kita melanjutkan perjuangan dikehidupan nyata.

Selesai membaca kening Barbarossa berkerut, “Terus ini mau diapakan? Diserahkan ke Wali?”

Penyair tertawa keras. “Terserah kalian berdua, mau ditempelkan di markas WarLords juga boleh.”

“Apakah ini tidak terlalu aneh?” Tanya Mister Big.

Penyair memakai kasut dan berkata, “akuilah kita semua memang aneh, makanya kita bergabung dalam ABL. Beta permisi.” Barbarossa dan Mister Big saling pandang. Penyair pergi dengan cepat, ia memacu kuda, debu naik ke angkasa.

“Mister, tidakkah kau merasa bahwa Penyair itu memiliki logika pikir yang aneh?”

“Ente juga aneh Barbarossa.”

“Tapi belum seaneh Mas Jaimkan?”

Mister Big tersenyum, “Mari kita tempelkan ke markas Warlords?”

“Ayo.”

“Tapi bagaimana dengan gudang beras ini? Siapa yang menjaga?”

“Aduh Mister Big.” Barbarossa terdiam sekejap. “Alah peduli setan, gudang ini tidak akan kemana-mana.”

XXX

KATALOG SERI ABL

  1. GEMPAR
  2. TERLARANG
  3. NASIB
  4. RAGA
  5. BOIKOT
  6. RISAU
  7. BAHAGIA
  8. BERAI
  9. LALAI
  10. CIDUK
  11. UNDANGAN
  12. LINGKARAN
  13. PLEDOI
  14. KURANG
  15. HILANG
  16. DENDANG
  17. PERKASA
  18. ENIGMA
  19. ALIANSI
  20. MEMORI
  21. BAYANGAN
  22. MERAJOK
  23. BATAS
  24. ILUSI
  25. EVOLUSI
  26. BUKU
  27. VIRTUE
  28. REALITAS
  29. KRISIS
  30. BERSATULAH
  31. AKHIR
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 41 Comments

CURSE OF HATRED

I retreated from the battlefield, for reasons which even now I can not explain, I found myself crying, but maybe because I was too tired.

CURSE OF HATRED

While I believe have done whatever I could do, and when it has felt unable to do anything else, I’m at peace with my destiny, and I do not fight it anymore. That’s what I call wisdom, even (perhaps) some people will say this is a weakness.

Those who do not know how long I was able to defy fate, to then end up being ash or dust. Though in existence for a while, I tried to choose wisely, walked slowly. Try, to try not to repeat the same mistake, again. And if you say, I did not try hard. Maybe you should learn to realize that I’m not as tough as it was.

Someone bolder, tougher than me. Will attack, in circumstances that make me surrender. I admit today, maybe because I already understand myself a bit more than before, that in this wide world, there are people wiser, more experienced than I am.

I was when I looked in the mirror. Is someone who never felt the situation of life and death, never when I say confession and surrender, given the opportunity to live a second time. In the evening, I remembered, all worldly pleasures are ephemeral and constantly changing.

All the joy and goodness that can be acquired by humans get from HIM, these words would be more meaningful to them, who had the opportunity to live more than once, it will swallow all verbal, curse of hatred in the mind at the same time

I retreated from the battlefield, for reasons which even now I can not explain, I found myself crying, but maybe because I was too tired. If I do not want to be something I hate, so I’d better go. I felt tired and wanted to own.

=maledicto odium=

Posted in International, Literature, Poetry | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments