JELAS AKU PANCASILA KARENA AKU BER-KTP MERAH-PUTIH

“Setiap pemilik KTP Merah-Putih adalah orang-orang yang terbukti Pancasila.”

JELAS AKU PANCASILA KARENA AKU BER-KTP MERAH-PUTIH

Garuda Pancasila

Akulah pendukungmu

Patriot Proklamasi

Sedia berkorban untukmu

Pancasila dasar Negara

Rakyat adil makmur sentosa

Pribadi bangsaku

Ayo maju maju

Ayo maju maju

Ayo maju maju

XXX

Ketika TVRI masih memopoli siaran berita, lagu Garuda Pancasila wajib ditayangkan selepas Berita Malam (23 April 1992 s.d 25 Desember 1997) pukul 19:00-19.30 WIB. Ketika itu belum ada stasiun televisi swasta yang masuk kota Banda Aceh, namun memang siaran ini juga wajib disiarkan oleh stasiun televisi swasta dengan merelai langsung dari TVRI. Biasanya Abu bersama adik kedua berjoget-joget dan bersemangat sekali dengan lagu ini. Oleh karena itu Abu sangat hafal lagu karangan Sudharnoto ini.

Kenapa? Karena lagu ini adalah penutup kebebasan kami dalam dunia “wonderland” anak-anak yang penuh permainan. Setelah lagu ini selesai ayah akan mematikan TV14 Inchi Hitam-Putih bermerk National milik keluarga kami untuk melanjutkan mengaji. Ya, ayah adalah guru pertama kami mengaji sebelum diserahkan ke tengku (guru mengaji) kampung. Beliau adalah guru mengaji yang keras, tepat waktu dan tekun. Abu dan adik sangat takut kepada ayah dalam urusan mengaji, beliau tak segan mencubit dan tak pernah absen seharipun mengajar kami. Bahkan kalau Abu dan adik berlebihan bercanda sewaktu beliau mengajar, ayah tak segan “melibas” kami dengan sapu lidi.

Waktu itu Kak Seto dengan psikologi anaknya belum berjaya seperti sekarang, setiap anak harus ikut dengan metode pengajaran orang tua titik. Walaupun waktu itu mengaji bersama ayah Abu lakukan secara terpaksa. Ketegasan beliau masalah ajaran agama malah Abu rindukan setelah beliau tiada. Satu lagi kebanggaan Abu terhadap ayah, sebagai anak salah seorang ulama terkemuka PUSA di Aneuk Galong Baroe, beliau selalu mampu memberikan jawaban terhadap pertanyaan Abu tentang hukum-hukum Fiqih, mantiq, tauhid, sejarah atau apapun tentang lekuk-lekuk agama Islam.

XXX

Kita tak akan pernah tahu, kebaikan apa yang pernah kita lakukan di masa lalu tanpa sengaja menyelamatkan masa depan kita.

Waktu berlalu dan Abu tumbuh dewasa. Menjelang millennium kedua berakhir konflik Aceh meletus. Betapa kenangan akan lagu tersebut menyelamatkan Abu. Tahun 2001 terjadi kontak senjata di Jalan Soedirman depan rumah Wakil Kapolda Aceh, tak lama kemudian diadakan sweeping untuk menjaga keamanan. Siang itu, Abu membonceng Matleh pulang sekolah dengan Astrea Grand ’93 yang Abu namai “Si Raja Hijau” (Peduli setan dengan kaum laki-laki yang mencemooh lelaki lain yang menamai barangnya, Abu hanya seorang romantis). Maka Abu melenggang melewati pos jaga, dan jalanan zig-zag yang diberi kawat-kawat berduri itu dengan tanpa dosa. Tokh, Abu mengikuti amaran yang tertulis “Pelan-pelan 15 km/jam saja!”

Ketika diminta berhenti, Abu masih santai. Abu pikir orang lain yang dipanggil, lha Abu berbaju sekolah. Ketika ditodong senjata Abu baru sadar, seketika itu juga berhenti!

“Selamat siang adik-adik!” Kata Pak Polisi ramah.

“Selamat siang Bapak Polisi.” Jawab Abu dan Matleh ramah.

“Adik-adik dari mana kalau boleh kami tahu?” Pak Polisi tersenyum ramah.

“Pulang sekolah pak.” Jawab Abu dan Matleh lebih ramah lagi.

“Kompak sekali adik-adik ini. Adik-adik tahu tidak ada kejadian apa barusan?” Tanya Pak Polisi.

“Tidak tahu pak!” Jawab Abu dan Matleh dengan kompak.

Segera wajah Pak Polisi menjadi kurang senang. Ada konvensi dalam masa konflik Aceh yang Abu dan Matleh lupakan, apabila ditanya oleh aparat Negara tidak boleh menjawab “tidak tahu”, jawaban itu mengindikasikan ketidakjelasan si penjawab. Lebih baik menjawab “belum tahu”,  “tidak lihat” dan sejenisnya. Lha, kami cuma anak sekolah tidak punya pikiran macam-macam.

“Barusan ada kontak tembak disini!” Pak Polisi mulai kesal.

“Kamu!” Pak Polisi menunjuk Matleh. “Sekarang nyanyikan Indonesia Raya!” Perintahnya.

Saudara-saudara, lagu Indonesia Raya itu panjang. Matleh mencoba menyanyikan juga dibawah tekanan. Sepertinya Matleh terbalik ketika mengatakan “Bangunlah badannya” terlebih dahulu sebelum “Bangunlah jiwanya” dan Pak Polisi Murka, dan Matleh diseret kebawah pohon asam diminta push-up 100 kali. Abu pikir wajar Matleh salah, dia bernyanyi dengan kaki gemetar dan sepertinya akan kencing di celana sangking takutnya.

Lha, Abu terlalu banyak komentar terhadap orang lain. Matleh bagaimanapun berbadan kekar, dia pasti sanggup push-up 100 kali. Abu ini lembek, disuruh push-up pasti jadi kerupuk. Abu panik mencoba mengingat yang mana duluan “Bangunlah jiwanya” atau “Bangunlah badannya”, kalau salah mampus Abu.

“Sekarang kamu!” Pak Polisi mendatangi Abu yang gemetar ketakutan. Tiba-tiba muncul lampu di otak Abu sepersekian detik sebelum detik-detik menentukan itu.

“Begini Pak Polisi, Lagu Indonesia Raya itu biasa. Untuk membuktikan saya adalah seorang nasionalis sejati maka untuk Bapak saya akan menyanyikan lagu Garuda Pancasila.” Untuk melagukan lagu Garuda Pancasila Abu percaya diri, bertahun-tahun lagu tersebut merupakan ritual Abu sebelum mengaji.

“Oh ya, boleh!” Pak Polisi tertarik dan senang.

Garuda Pancasila

Akulah pendukungmu

Patriot Proklamasi

Sedia berkorban untukmu

Pancasila dasar Negara

Rakyat adil makmur sentosa

Pribadi bangsaku

Ayo maju maju

Ayo maju maju

Ayo maju maju

Abu tidak pernah percaya diri untuk berlagu, kecuali hari itu. Boleh tanya semua teman Abu. Semua mengatakan kemampuan bernyanyi Abu adalah yang terburuk dari yang paling terburuk. Dikeluarkan dari paduan suara sekolah karena fals, kelak di kantor pun demikian, Abu adalah suara sumbang yang menganggu. Tapi hari itu Abu berjaya, Pak Polisi terkesima dan sangat senang. Kepada Abu diberikan Aqua menunggu Matleh selesai Push-up. Setelah disalami Pak Polisi, Abu dan Matleh pun pulang dengan tenang.

“Mat ada sakit badan push-up 100 kali?” Tanya Abu dalam perjalanan pulang.

Akh, jangankan 100 kali, 500 kali pun aku sanggup! Asal, dibawah todongan senjata kayak tadi.” Matleh dan Abu pun tertawa.

Dan tertawa bersama sahabat, terutama selepas hari yang buruk adalah kepingan surga yang dikirimkan oleh tuhan kepada manusia di bumi.

XXX

Ketika keadaaan di Aceh menjadi tak menentu, Presiden Megawati Soekarno Putri selepas tengah malam 18 Mei 2003 menerapkan darurat militer di Aceh selama enam bulan. Sekitar 30.000 tentara dan 12.000 polisi ditempatkan di Aceh. Pada bulan Juni, pemerintah mengumumkan akan mencetak KTP baru yang harus dibawa semua penduduk sipil untuk membedakan pemberontak dan warga sipil. Ini adalah KTP khusus. Di bagian terluar, berwarna Merah-Putih dengan logo burung garuda lengkap dan bubuhan isi Pancasila dibawahnya, besarnya seperempat kertas kwarto, sehingga untuk memudahkan harus dilipat dua ketika dimasukkan ke dalam dompet.

Maka selaku seorang warga sipil yang waktu itu berusia 19 tahun Abu harus melewati beragam hal dan institusi yang telah ditunjuk oleh penguasa Darurat Militer (Darmil). Pertama mengambil blangko yang telah diisi oleh Keuchik (Kepala Desa), lalu membawa blangko tersebut ke Polsek, disana harus tertib karena semua warga pada waktu bersamaan secara massal mengurusi KTP Merah Putih. Abu berhadapan dengan Kapolsek dan staff untuk ditanyai keterangan ini dan itu (Abu bisa membayangkan betapa lelahnya bapak Kapolsek dan staff melayani masyarakat). Karena jawaban Abu berikan tegas dan tak berbelit-belit dan nama Abu tidak tercantum dalam DPO Polsek urusannya sangat mudah. Kemudian blangko tersebut Abu bawa ke institusi militer yaitu, Koramil. Prosesnya sama, yang membedakan hanyalah bentuk tandatangan. Danramil dengan senang hati menandatangani KTP Merah-Putih Abu karena proses screening terlewati dengan mulus. Akan tetapi ada satu lagi yang harus dilakukan, membawa KTP Merah-Putih ke Kantor Kecamatan untuk distempel pihak kecamatan. Setelah Pak Camat menandatanganinya, dan memberi cap kecamatan, maka sahlah Abu sebagai warga yang “bersih lingkungan” dari segala kegiatan makar terhadap NKRI.

Untuk mendapatkan KTP Merah-Putih beberapa orang tidak semulus Abu, katanya beberapa orang kena tendang karena lupa urutan Pancasila, katanya juga ada yang di-dor-kan karena memang tidak lulus tes. Mendapatkan KTP Merah-Putih bagi sebagian orang yang tidak pernah belajar PMP atau PPkn adalah ujian tersulit di dunia. Untung bagi Abu, ujian mendapatkan KTP Merah Putih bukan berupa Matematika, dimana Abu tak terlalu bisa. Jika iya, jelas ketika ditanyai Pak Kapolsek, Pak Karamil Abu akan kencing dicelana. Untung yang ditanyakan adalah pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila), PPkn (Pendidikan Kewarganegaraan) dan PSPB (Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa) yang mana Abu sangat paham karena tekun mempelajarinya selama MIN, SMP dan SMA. Berbagai pertanyaan yang keren-keren itu dilakukan untuk memastikan orang-orang Aceh sudah menjadi manusia Pancasila seutuhnya. Berdasarkan pengalaman Abu, maka bolehlah jika Abu berfatwa : “Setiap pemilik KTP Merah-Putih adalah orang-orang yang terbukti Pancasila.”

KTP Merah-Putih sangat istimewa, tidak pernah ada warga provinsi lain yang memegangnya, ini adalah kehormatan dari Republik Indonesia kepada masyarakat Aceh. KTP Merah-Putih ini juga sangat penting, sebagai nyawa kedua yang akan membackup nyawa pertama. Dengan KTP Merah-Putih ini Abu akan bebas melangkah jika ada sweeping yang dilakukan pihak militer. Akan tetapi KTP Merah-Putih juga bisa menjadi simalakama jika terkena sweeping dari pihak yang berlawanan dengan pemerintah, bisa menjadi bencana bagi pemiliknya. Jalan paling aman jika berpergian jauh adalah menyimpannya dalam “segitiga pengaman” tercinta, apalagi kalau melewati hutan-hutan luas dengan kenderaan umum. Akan tetapi juga harus sigap mengeluarkan KTP Merah-Putih dari underwear ketika mendekati pos militer.

Sumbangan KTP Merah-Putih sangat besar bagi nasionalisme, ia memberikan isyarat bahwa Republik Indonesia tidak tenggelam dan karam dalam samudera pertikaian di Aceh, membuktikan kepada dunia Internasional tidak padam dalam konflik yang buram. Sungguh besar jasa KTP Merah-Putih bagi hidup Abu. Sebagai benda yang Abu sayang dan pandang serta ciumi, KTP Merah-Putih yang didalamnya tertera Pancasila, Abu baca-baca setiap hari sehingga Pancasila merasuk ke dalam jiwa Abu, sebuah laku yang secara otomatis menjadi bagian karakter Abu tanpa harus diucapkan lagi.

Maka hari ini, ketika hari Pancasila tiba. Abu hanya ingin mengatakan : “Jelaslah Aku Pancasila karena aku ber-KTP Merah-Putih. Itu tak perlu tanya lagi.”

XXX

Simak juga Petualangan Abu lainnya

Posted in Asal Usil, Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

MENYONGSONG MAUT

Maut pasti akan datang, ketika ia tiba tak akan ada yang mampu mencegah. Cara paling baik adalah menemukan kebahagiaan dan kebaikan di sela-sela sempit antara tibanya.

MENYONGSONG MAUT

Maut adalah sebuah alat, agar manusia waspada akan kehidupan. Agar manusia berbuat baik sepanjang hidupnya. Agama mengajarkan kita, bahwa maut adalah sebuah pintu untuk menuju fase berikutnya. Maut adalah juga sebuah kecemasan akan rapuhnya kehidupan, tidak ada manusia yang kembali setelah dijemput olehnya. Sehingga tidak ada manusia yang pernah bercerita bagaimana pengalaman disana. Alhasil maut adalah misteri yang tak pernah diuji oleh dalil-dalil ilmiah. Alhasil maut menggetarkan seluruh manusia, siapapun dia.

H-1 Ramadhan. Pesawat yang membawa Abu dari Banda Aceh menuju Batam masuk ke dalam awan gelap. Abu antara terjaga dan mengantuk, masih menguap, melanjutkan tidur. Sejam berlalu, Pesawat Lion Air penerbangan JT 0811 masih berada di pekatnya langit. Sebentar-bentar pesawat bergoyang, dari tenang hati Abu pun menjadi gentar. Abu melihat sekeliling, pesawat hanya terisi sepertiga, para penumpang lain terlihat tegang seraya komat-kamit, membaca doa. Besok Ramadhan, apakah besok masih sampai?

Ingatan Abu melayang ke tahun 1993. Waktu itu Abu duduk di kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah, libur sekolah. Abu bersepeda bersama dua teman, Yadi dan Nakata. Kami sedang mencoba keahlian berenang disebuah sungai yang ada pintu airnya. Di depan Kantor Transmigrasi (sekarang Disnaker Prov. Aceh), Sungai Krueng Jambo Aye terkenal dengan arusnya yang deras. Waktu itu musim hujan, aliran sungai penuh. Yadi meloncat terlebih dahulu, apa daya dia terbawa arus. Namun sebelum melewati pintu air dia dapat kami tarik, maka selamatlah ia. Bagaikan anak ayam terkena air, badan Yadi kuyu dan pucat terlihat jelas dia trauma. Nakata mundur, aliran sungai begitu deras.

Tapi Abu, tertawa. Menyepelekan ketakutan Yadi dan Nakata tersebut. “Cemen!” Tanpa pikir panjang langsung meloncat ke dalam air, tapi apa dinyana aliran sungai terlalu kencang. Abu terhanyut, Yadi dan Nakata mencoba meraih sebelum Abu melewati pintu air. Akan tetapi gagal! Maka terhanyutlah Abu dalam aliran Sungai.

Ini adalah titik yang selalu terbayang seumur hidup Abu. Ketika sudah berusaha susah payah mengikuti arus sungai, akhirnya Abu merasa kalah. Dalam kepasrahan total tersebut Abu mencoba tidak panik, mungkin inilah saatnya maut menjemput. Abu mengucapkan dua kalimat syahadat, “Asyhadu al laa ilaaha illa-i-laah wa Asyhadu anna Muhammada-r-Rasulu-l-Laah.” Akan tetapi tiba-tiba rambut Abu ditarik oleh seseorang, lalu ia menarik Abu kepinggir. Berenang dan menyelamatkan orang sekaligus, jelas ia adalah seorang perenang tangguh. Entah syukur atau ketakutan luar biasa, Abu hanya mengucapkan terima kasih kepada penyelamat Abu tersebut.

Dengan kolor merek Hings berwarna merah, Abu berlari menyusuri pinggiran sungai menuju ketempat Yadi dan Nakata. Masih dengan perasaan campur aduk.

“Abu, itulah akibat terlalu sombong!” Kata Yadi.

“Abu kamu ada kasih apa untuk abang itu?” Tanya Nakata.

“Tidak ada kasih apa-apa.” Jawab Abu.

“Ini ada uang seribu kasihkan ke abang itu!” Kata Nakata seraya mengambil uang dari sakunya.

“Tidak berani.” Kata Abu mengkerucut.

“Padahal abang itu baru siap ujian,” Yadi menunjuk SMPN 5 Banda Aceh di seberang sungai. “Dia langsung meloncat ke sungai untuk menyelamatkan kamu Abu.” Tambahnya.

Sungai Krueng Jambo Aye (2017), Pintu Air sudah tergenang, arus sungai tidak sekuat dulu.

Dari jauh Abu melihat, orang yang menyelamatkan Abu tersebut. Ditepuk-tepuk punggungnya oleh teman-temannya. Abu masih trauma dan memilih memakai pakaian, segera pulang bersepeda. Kejadian itu sudah lebih dari dua puluh tahun berlalu, sampai hari ini Abu tidak tahu siapa dan bagaimana orang yang pernah menyelamatkan hidup Abu tepat di garis sakratul maut itu. Sampai sepuluh tahun kedepan dari peristiwa itu, kadang-kadang ditengah malam Abu bermimpi tenggelam dan hanyut, ada perasaan trauma setelah peristiwa tersebut. Akan tetapi segala sesuatu tidaklah buruk semata-mata, pasti ada hikmah dalam peristiwa tersebut. Tentu ada alasan mengapa Allah S.W.T menyelamatkan hidup Abu hari itu, Abu merasa bahwa Allah S.W.T memperpanjang hidup Abu sampai hari ini adalah untuk berbuat baik dan menjadi manusia yang berguna bagi manusia lainnya.

Orang yang telah menyelamatkan hidup Abu tersebut, membuat Abu berpikir bahwa orang yang rela mengorbankan dirinya untuk melindungi kebanggaan dan kehormatan apalagi hidup orang lain memang telah jarang di dunia ini. Akan tetapi itulah yang membuat manusia berharga, karena kalau hanya ingin hidup, sama saja selayaknya dengan hewan peliharaan jadi tak perlu kebanggaan dan kehormatan.

Abu tersentak dari lamunan. Alhamdulillah tak lama kemudian ditengah gelapnya awan, sang pilot mendaratkan pesawat dengan mulus di Bandara Hang Nadim. Kami pun turun, dan pesawat melanjutkan perjalanan menuju Bengkulu. Akhirnya Abu bersua dengan istri menyambut Ramadhan kali ini, sejak istri Abu ditugaskan tiga tahun lalu di Batam, baru kali ini Abu berpuasa disini, biasanya istri yang cuti pulang. Kali ini, cutinya habis. Maghrib pun datang, disambut dengan suka cita sebagai pertanda Ramadhan datang.

Kejadian tersebut mengingatkan bahwa Abu, bahwa tak akan pernah dapat memastikan detik demi detik yang berjalan seutuhnya akan menjadi milik kita. Karena sesungguhnya yang tahu hidup kita hanyalah IA yang Maha berkehendak.

Maut pasti akan datang, ketika ia tiba tak akan ada yang mampu mencegah. Cara paling baik adalah menemukan kebahagiaan dan kebaikan di sela-sela sempit antara tibanya. Abu berangan-angan. Tak bisakah kita sebagai manusia membayangkannya dengan wajah yang ramah? Sesosok berbaju putih bersih dan senyum. Dengan tangannya ia merangkul kita yang terpaku dalam gelap, lalu membawa kita ke dalam cahaya (Khusnul Khatimah). Maut, entahlah.

XXX

Baca selengkapnya di Petualangan Abu;

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , | 1 Comment

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN SEMBILAN BELAS

Illustrasi Citadel Van Antwerpen

RISALAH SANG DURJANA BAGIAN SEMBILAN BELAS

Sabtu, 22 Maret 1873.

Jauh ditengah-tengah laut yang berpantai ke Bandar Aceh Darussalam, bagaikan ditepi langit, nampaklah oleh penduduk empat kapal api, yang mengambil haluan tepat menuju tanjung tanah Aceh yang disebelah Utara. Bagaikan tabuhan terkejut, lalu terbang berkeliling bercerai-berai meninggalkan sarangnya karena diganggu, penduduk kota berhamburan keluar rumah, lalu lari berduyun-duyun ke tepi laut.

Dari beberapa mulut keluarlah teriakan, “Habib datang! Tentara Turki menyertai kita!”

Keempat kapal tersebut disangka membawa Habib Abdurrahman yang pulang dari Istambul, sambil membawa bala bantuan Turki untuk Aceh. Dalam meninjau menilik-nilik ke tepi langit itu suara orang banyak bergalaulah, masing-masing hendak mengemukakan pendapatnya. Berjenis-jenis pula rupanya laskar liar yang datang berduyun-duyun dengan alat senjatanya, masing-masing siap dengan lembing dan rudusnya. Angkatan Perang Aceh berhasrat hendak menyingsing bala bantuan itu secara layakanya orang menerima tamu yang terhormat.

Setelah lama dan menantikan dengan memasang-masang nama, keluar pulalah teriakan baharu dari segala pihak : “Belanda! Yang datang itu kapal Belanda, bukan kapal Turki!”

Bunyi teriakan itu sambung-menyambung pula. Ada yang terkejut, ada yang ketakutan, ada yang kecewa dan tidak kurang pula yang menyatakan kegemasannya.

“Belanda! Belanda datang!” Demikian pula terdengar teriakan orang banyak dijalan-jalan, mereke meninggalkan tepi pantai, mencari jalan pulang. Kebanyakan khawatir, kalau-kalau kedatangan Belanda menjadikan pertumpahan darah, jika telah sampai kesana maka kewajiban masing-masing laki-laki ialah menentukan keadaan anak-anak dan para wanita serta orang tua yang tinggal di rumah. Jadi terpaksalah mereka meninggalkan tepi pantai terlebih dahulu, meskipun kebanyakan diantara yang membawa senjata telah ridha dan setia untuk mempertahankan tanah airnya dari perkosaaan orang kafir.

Armada kapal perang Belanda mengepung pantai Aceh tahun 1873

Tidak salah! Tiga buah kapal perang dan sebuah kapal “kumpeni”. Masing-masing mengibarkan bendera Belanda diujung-ujung tiangnya, bendera tiga warna, yang telah lama menyakiti hati orang Aceh. Keempat kapal terkutuk itu tidaklah berlabuh di pelabuhan yang biasa, melainkan membuang jangkar di sebelah Barat sungai Aceh, yaitu di dekat beberapa buah benteng pertahanan pantai, yang ada di daerah kekuasaan Teuku Nek. Di kemudian hari, diketahuilah keempat kapal itu barulah perambah jalan saja. Angkatan laut Belanda yang secukupnya datang pulalah menyertai mereka lima belas hari kemudian.

X

Salah satu dari kapal perang itu ialah kapal perang “Citadel van Antwerpen”. Di atas kapal tersebut adalah menumpang Nieuwenhuyzen, yang memegang jabatan Utusan Pemerintah Belanda ketika itu. Ditangannya, ia membawa sehelai naskah yang berasal dari Pemerintah Belanda, yang menentukan perang atau damainya antara orang Aceh dan orang Belanda. Nieuwenhuyzen mendapat tugas lebih dahulu melakukan “segala daya upaya yang penghabisan” buat mencari kata damai dengan Sultan Aceh. Tapi jika segala ikhtiarnya sia-sia, maka wajiblah ia menyerahkan naskah ini ketangan Sultan Aceh. Isi naskah tersebut adalah pernyataan perang pihak pemerintah Belanda kepada Kesultanan Aceh.

“Daya upaya yang penghabisan” yang hendak dilakukan oleh komisaris Nieuwenhuyzen itu adalah berupa berbalas-balasan surat dengan Dalam. Didalam surat menyurat itu diceritakan “apa sebab” dan “oleh karena itu”. Dan disesali pula tentang aksi-aksi dibawah tanah terhadap orang Belanda, yang telah dilakukan oleh Orang Aceh di Singapura, sambil bermain mata dengan orang Inggris dan Amerika! Selain daripada itu, dipersalahkan dan diupat pula orang Aceh, karena mereka telah mendukung penyamunan dan pembajakan laut, khususnya ditujukan kepada saudagar-saudagar Belanda yang tidak bersalah. Sultan Aceh diupat dan dipersalahkan telah menggunakan kekuasaannya yang bersandarkan kepada kedaulatan rakyat Aceh secara sesuka-suka, sehingga tindakannya telah merugikan saudagar-saudagar Belanda. Banyak lagi kesalahan-kesalahan orang Aceh kepada Belanda yang dikemukakan Nieuwenhuyzen dalam surat-suratnya kepada Sultan Aceh.

Sultan Aceh memberi pula keterangan dan penjelasan yang membantah. Sultan memberi alasan yang cukup atas kejadian-kejadian yang digunakan menjadi tuduhan tersebut. Pendeknya, Dalam tidak mau mengaku salah, karena tidak merasa bersalah, banyak pula mengemukakan “karena itu” sebagai jawaban “sebab apa” dan “mengapa” yang keluar dari pihak Nieuwenhuyzen.

Pekerjaan berbalas-balasan surat itu diselenggarakan oleh sebuah sekoci Belanda, yang mondar-mandir berdayung antara kapal “Citadel” dengan Dalam. Surat-surat itu dibawa oleh Said Thahir, seorang bangsa Melayu, yang diangkat oleh Belanda sebagai perantara dalam mencari kata “damai” dengan Sultan Aceh. Said Thahir adalah seorang Melayu terkemuka, dahulu ia membuka perniagaan besar di tanah Aceh, dan berhubungan karib dengan raja-raja Aceh yang mendiami segala pelabuhan di kerajaan itu. Sekarang ia menjadi kaki tangan Belanda.

Pekerjaan mondar-mandir membawa surat antara “Citadel” dengan Dalam sangat berbahaya, suasana telah genting. Terlihat yang dicari oleh Belanda bukan kata damai, nyata sikap Belanda hanya mencari retak permasalahan. Di jalan-jalan sampai pantai, laskar liar Aceh telah Nampak berbondong-bondong membawa senjata. Pertumpahan darah sewaktu-waktu pasti akan terjadi, dan orang Aceh telah siap menantikannya.

Bahaya yang senantiasa mengancam Said Thahir, memanglah tidak kecil. Bukan saja karena namanya sudah kurang baik di dalam kalangan orang Aceh, karena ia telah menjadi “budak Belanda”, tapi sekalian orang mengetahui pula perhubungan Said Thahir dengan Melela, seorang Melayu yang tinggal di Meuraksa. Seorang kaki tangan Teuku Nek di Meuraksa. Tak heran, jika Said Thahir tidak lepas-lepas dari pengamatan orang Aceh. Darah mereka senantiasa mendidih, tiap Said Thahir datang ke Dalam membawa surat Nieuwenhuyzen, yang hanya mengandung tuduhan-tuduhan belaka. Demikianlah genting dan hangat suasana saat itu.

X

Teuku Nek Meuraksa

Pada suatu ketika, tengah malam buta, ketika hari gelap gulita, maka meluncurlah diam-diam sebuah sampan dari rawa Muara Cangkoi, lalu menuju ketempat kepal-kapal Belanda berlabuh. Akhirnya sampan itu merapat pada kapal “Citadel”. Penumpangnya adalah Melela, yang berkata ia membawa surat-surat penting untuk tuan komisaris, yang memegang tampuk “perang” atau “damai” ditangannya.

Surat yang diserahkan oleh Melela ketangan Nieuwenhuyzen itu berupa sebuah sampul besar, yang memakai cap kebesaran Uleebalang Teuku Nek. Di dalam surat itu, Nek mengatakan dengan segala perkataan manis, bahwa ia berhasrat hendak menyatakan rasa persahabatan karibnya kepada “Kumpeni”, yang diketahuinya bersifat adil, pengasih dan penyayang. Nek menyatakan keikhlasan dan ketulusan hatinya kepada Pemerintah Belanda. Cara Belanda menjalankan pemerintahannya, demikain kata Nek, sangat disetujuinya dan ia mengharapkan Belanda itu akan dilakukan pula dan dikekalkan di tanah Aceh.

Selanjutnya Nek memohonkan, “dari ujung sepatu Belanda sampai puncak topinya”, agar orang kampung Meuraksa dipelihara dan dilindungi oleh tentara Belanda, bilamana peperangan antara Belanda dan Aceh sampai meletus juga. Karena kampung Meuraksa adalah didiami oleh orang-orang tani dan nelayan yang ingin hidup damai. Sesekali orang Meuraksa jangan dibawa-bawa, karena mereka memang jijik akan perang dan tidak hendak ikut campur dalam persengkataan Aceh.

Dan buat penutup Nek memohon pula “kebawah duli” yang dipertuan komisaris yang sedang berlabuh di muka Meuraksa dengan kapal-kapal perangnya, lengkap juga dengan meriam-meriamnya, agar warakat yang tidak sepertinya itu mendapat balasan, walaupun satu patah kata, dtuliskan diatas secarik kertas. Jika balasannya diterima, kelak Nek akan merundingkan tentang takluknya Aceh dengan tidak bersyarat kepada Pemerintah Belanda dengan sekalian pembesar-pembesar Aceh yang sama percaya dan sama mengandung rasa perendahan terhadap orang Belanda.

Komisaris Nieuwenhuyzen sangat gembira menerima surat semacam itu dari seorang Uleebalang, yang diketahuinya berpangkat besar. Hanya ia ragu atas kejujuran Nek. Nieuwenhuyzen telah banya mendengar tentang “kelicinan” dan “kecerdikan” orang Aceh. Terutana mereka yang telah menjadi diplomat. Diplomat Aceh di Singapura telah berhasil menghasut Inggris dan Amerika, sehingga hampir campur tangan dalam pertikaian Belanda dan Aceh. Untung bagi Belanda, dengan segala kebijaksanaan sambil menunjukkan “budi tahu mengambil dan tahu memberi” mereka dapat menghindarkan bahaya percampuran kedua Negara kuat tersebut. Maka tak heran Nieuwenhuyzen ragu atas kejujuran kata Teuku Nek yang bermulut manis itu.

Nieuwenhuyzen tidak mengetui adanya persengketaan antara Mukim VI dengan Meuraksa. Tidak pula diketahui di pedalaman Aceh itu tidak habis-habisnya sengketa. Nieuwenhuyzen terlalu percaya diri dengan kekuatan angkatan perang Belanda dan memilih tidak menggunakan “Politik Memecah lalu Memerintah” (verdeel en heers systeem). Surat Nek itu dibalasnya dengan manis pula, tapi ditutup dengan perkataan orang Belanda “netral” dalam persengketaan orang Aceh dengan orang Aceh. Mereka kembali kepada Teuku Nek dengan tangan hampa.

Maka segala sudah damai telah mengalami jalan buntu. Satu-satunya jalan yang terbuka bagi Nieuwenhuyzen adalah menyuruh Said Thahir pergi ke Dalam, membawa surat penyataan perang dari Pemerintah Belanda kepada Kesultanan Aceh. Keputusan Nieuwenhuyzen jatuh pada tanggal 26 Maret 1873.

Untuk mencapai Dalam, ketika menginjak daratan Aceh. Said Thahir harus melalui Meuraksa, daerah Teuku Nek. Disana ia bukan disambut oleh pengiring Nek lagi, melainkan oleh Angkatan Perang Nanta Setia, yang telah menduduki pantai daerah pemerintahan Nek itu. Segala benteng-benteng telah ada dibawah kekuasaan Nanta. Tapi meskipun demikian, naskah yang berisi pernyataan perang dari pihak Belanda, sampai juga di Dalam. Hanya Nieuwenhuyzen tidak sampai menerima balasan yang akan bersejarah dari Sultan Mahmud, putera almarhum Sulaiman yang belum baliq.

Meskipun Said Thahir tidak membawa balasan dari Dalam, tapi selama ia berada di Meuraksa, agak banyak juga pendengarannya tentang keadaan suasana di Aceh. Ia mendengar bahwa beberapa orang penasihat Sultan yang ternama, didalam batin setuju kepada penyerahan kedaulatan Aceh kepada Belanda. Kabar yang dibawa Said Thahir itu sebenarnya membuka kemungkinan bagi Belanda untuk menangguk di air keruh, sebelum perang berkobar. Tapi pernyataan perang telah sampai ke Dalam, maka Nieuwenhuyzen sudah tidak dapat berbuat sesuatu apapun lagi. Nasi telah menjadi bubur!

Akan tetapi banyak pula pahlawan-pahlawan Aceh  yang “berpantang tunduk” kepada Belanda. Mereka taat kepada pembesar-pembesar Kesultanan Aceh yang masyur gagah beraninya, dan telah memaksa Uleebalang Nek menyerahkan benteng-benteng pertahanannya di pantai, kepada mereka.

Illustrasi Pendaratan Pertama Belanda di Aceh (1873)

Maka gemetarlah angkasa, karena gemuruh suara pucuk-pucuk meriam, yang dipasang pada ketiga kapal perang Belanda. Meriam-meriam itu memuntahkan pelurunya ke arah daratan Aceh. Disekalian benteng-benteng Aceh yang ada di pantai-pantai tembakan meriam itu disambut dengan sorak dan tempik gemuruh. Maka berkibarlah bendera-bendera merah, berlukiskan bulan sabit dan bintang, disegala benteng itu. Istanapun tidaklah ketinggalan. Disana dinaikkan pula bendera perang, alamat pernyataan perang dari Belanda diterima dengan keteguhan hati.

X

(bersambung)

KATALOG RISALAH SANG DURJANA

  1. BAGIAN SATU;
  2. BAGIAN DUA;
  3. BAGIAN TIGA;
  4. BAGIAN EMPAT;
  5. BAGIAN LIMA;
  6. BAGIAN ENAM;
  7. BAGIAN TUJUH;
  8. BAGIAN DELAPAN:
  9. BAGIAN SEMBILAN;
  10. BAGIAN SEPULUH;
  11. BAGIAN SEBELAS;
  12. BAGIAN DUA BELAS;
  13. BAGIAN TIGA BELAS;
  14. BAGIAN EMPAT BELAS;
  15. BAGIAN LIMA BELAS;
  16. BAGIAN ENAM BELAS;
  17. BAGIAN TUJUH BELAS;
  18. BAGIAN DELAPAN BELAS;
  19. BAGIAN SEMBILAN BELAS;
  20. BAGIAN DUA PULUH;
  21. BAGIAN DUA PULUH SATU;
  22. BAGIAN DUA PULUH DUA;
  23. BAGIAN DUA PULUH TIGA;
  24. BAGIAN DUA PULUH EMPAT;
  25. BAGIAN DUA PULUH LIMA;
  26. BAGIAN DUA PULUH ENAM;
  27. BAGIAN DUA PULUH TUJUH;
  28. BAGIAN DUA PULUH DELAPAN;
  29. BAGIAN DUA PULUH SEMBILAN;
  30. BAGIAN TIGA PULUH;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kisah-Kisah, Literature | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 28 Comments

GLUTTONY

You is not exactly blessed with a towering intellect, gluttony, or “Gula” is deadly sin and lack positive effects.

GLUTTONY

Indonesian Translation

Slowly, year after year. Months come, humans are crushed. Every day, in the same streets, feelings never change. Is there something wrong? The wise man said, for many years in the long war, we lost so much intelligent, principled, and faithful people. Leaving out the two-faced. But in actuality in peace, we lose the attitude, discipline, and anger that make life more passionate.

In reflection, I try to recall past uncertain times, a fighting spirit that makes you not give up easily. There was a time when you did not feel the giant, being nobody, open to being anything, and absorbing everything.

Before you become too angry before you get greedy before you “feel” mighty. In fear and misery, you learn to understand the feelings of the losers. The excluded, and weeping for those who are persecuted. That having fun together is fun, but it would be more fun when in difficult circumstances keep caring. Do you realize when you feel superior and superior to others, that is where the beginning of a defeat?

I am talking about you! Not the country’s leaders, not the corruptors on television. I am talking about you, which is clearly visible in front of the mirror. Someone who in his childhood has big dreams, and when big just have a little reality.

I long for those times when the biggest problem in life is just a bad test score or fear being scolded by mama for smoking cigarettes. Now, I see a picture of a pig, and I (you) in a mirror with repeated views, to the point where I can not distinguish one from another.

And when Ramadan comes, I hope you will be holy (fitrah) back.

Posted in Fiction, International, Literature, Opinion, Poetry, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

RAMADAN AND RELATIVITY

Ramadan is synonymous with fasting. Fasting is related to time. A month in a year, Muslims who feel faithful and willing to be a fasting.

RAMADAN AND RELATIVITY

Indonesia Translation

The wise man said, “God gives all the problems easy to the physicist”, explaining implicitly that the science outside of physics precisely that studying humans is very complicated.

It’s ridiculous to question what works so well. Such as electromagnetic for example. Electromagnetism is confusing, at least confusing Albert Einstein. He envisions two people (eg Bayazid and Barbarossa) carrying a magnetic compass, electric charge passes by. Bayazid stood still, while Barbarossa flew along with the charges at the same speed.

Electromagnetism is confusing, at least confusing Albert Einstein. He envisions two people carrying a magnetic compass, electric charge passes by. one stood still, while another flew along at the same speed.

Bayazid compass needles deviated, but Barbarossa compass needle right! From his point of view, the electric charges did not move. Or, Barbarossa flew by holding a pair of cargo. He just saw their electric field. But Bayazid (silent) also sees the magnetic field due to the movement. Both observers disagreed about the existing terrain. Our measurements do not match!

The more strange, when Barbarossa releases the two payloads, the two keep away from each other. But Bayazid saw the two separated more slowly than Barbarossa, due to magnetic attraction. Both observers measure the speed differently. More strange.

Einstein published his odd analysis of the peculiarity in 1905. Both observers measured different speeds, he said because, from Bayazid’s point of view, time slowed for Barbarossa. True, if Barbarossa had a watch, Bayazid saw that the watch was running slower than he saw in his own hands.

At low speeds, the watch just slows down a bit, so it’s not enough to be measured in the usual way. But as Barbarossa’s speed increases near the speed of light, the Poet sees his watch slower, until it completely stops.

Einstein also pointed out that the object moves shorter (according to the direction of movement) and the mass increases, as the closer the velocity of the object with c, the length shrinks to zero, and the mass increases indefinitely. This series of strange thoughts, supported by a steady calculation, is known as the Theory of Relativity.

A few months later, Einstein published a short paper on the growing mass. As we add energy to moving objects (eg push), speed increases, then mass also increases in an awkward way of relativity.

Somehow, some of the added energy is converted into mass. When Einstein derives the formula that connects mass (m) with energy (e) it turns out that formula is both simple and unsettling: E = MC2. Distracted by c, the speed of light is 300,000 km / sec, then c2 is 90,000,000,000 km2 / second2. An unusually large number, very few masses have the potential to release enormous amounts of energy.

In short, statistical analysis of atomic motion for the first time that atoms and molecules are real physical objects. And he explains the electric photo effect by treating light as the flow of particles (not waves). Another dizzying revolutionary idea that helps lay the foundations of quantum mechanics.

For those wondering what the relationship between Relativity Theory involves time, mass and energy with the creation of atomic bombs hopefully this answers a few questions.

Ramadan is synonymous with fasting. Fasting is related to time. A month in a year, Muslims who feel faithful and willing to be a fasting fast. Fasting is to refrain from all that cancels it (often only associated with eating and drinking) from dawn to sunset, from shubuh to maghrib.

What is interesting here? Time. As Einstein said, time is relative. So silence waiting for time to break with moving in the face will be different. Humans also have mass and energy. Therefore the time in the month of Ramadan is well filled with a series of good activities.

If only goodness, time, mass and energy. What distinguishes Ramadan with another month? The experience of sacrifice. Indeed, human wisdom is tested by many things. Hungry, limp, angry. No one can match the value of sacrifice, neither knowledge nor experience.

Oh, one more privilege Ramadan. The Atomic Bomb named “Lailatul Qadar”. The magical time relativity which lasts a thousand months. Where a man is enlightened one night.

“O you who have believed, decreed upon you is fasting as it was decreed upon those before you that you may become righteous.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Allah SWT commands fasting to people who have faith. Why not just to Muslims? Because of faith in the heart. In contrast to other worship, fasting can not be judged by others. Prayers, zakat, and pilgrimage are seen by others. But fasting is only Allah SWT and the person concerned who knows the truth.

So if there are Muslims in Ramadan that are not fasting (beyond those who are lightened), maybe he is already Islam but not yet believe. Is it also by fasting a man can be a cautious man? Not necessarily, all depends on the quality of himself in fasting.

Prayer during Ramadhan at Masjid Istiqlal, Jakarta – Indonesia.

Ramadan is the month of ethics. When the man becomes a better person. Why ethics? Ethics is above a law that is literally judged to be good, Ramadan is more than that. Ramadan should guide a believer into an ideal (piety). The benchmark is that when a person becomes a better person then he or she runs Ramadan successfully.

Am I right? I do not know because this is all more complicated than Physics.

Marhaban ya Ramadhan

Posted in International, Literature, Opinion, Review, Story | Tagged , , , , , | 6 Comments

WHAT IS THE PURPOSE OF THE SUICIDE BOMBING

The suicide bomber is thought that their most sacred and others unclean, with religious arguments, strong, and lasting.

WHAT IS THE PURPOSE OF THE SUICIDE BOMBING

A girl does not think that she will affect the history of the world. She was named Dhanu, who died on 21 May 1991 in India. That day she came to a rally welcoming Rajiv Gandhi, chairman of the Indian Congress Party at the time. A few minutes before the meeting began, Dhanu walked closer to Gandhi and offered a bouquet of flowers. But right then he pushed the button that triggered the explosive belt on his body. Explosion sounded. Killed Gandhi, Dhanu himself and several others around it including one of the conspirators who were in charge of making the video document of the incident. They are Tamil Eelam, rebel insurgents in Sri Lanka.

From that day until now, Dhanu’s method is used. One or more people provide themselves to be some kind of weapon, a kind of self-destructive missile with a target in an unexpected environment. Of course, after Dhanu, there are some changes. In Palestine, driven by a passion that borders on the loss of rights and sovereignty or an idea of independence against the colonizing Israel. Now, as seen from “September 11, 2011”, “Bali Bomb” to “Jakarta Bomb” which is heard is the cry of “jihad”: something related to the faith, the strong principles of good and evil.

Azahari and Noordin Top, not a foreigner, if the “foreign” and “odd” and “not known”. But they are not here. They entered quietly from Malaysia to Indonesia, hiring local people to detonate a bomb, killing innocent people, and since then Indonesia fell. Since then the state, the country sang by school children as a “safe and secure”, so it is not safe and not safe for anyone.

Pieces of bodies of suicide bomb victims at Busway Bus Stop Kampung Melayu, East Jakarta was strewn on motorcycle parking, Wednesday (24/05/2017). Two people were killed in this incident.

The suicide bomber is thought that their most sacred and others unclean, with religious arguments, strong, and lasting. The ideologues without question. They will not admit that the historical argument that is always changing and different, through interpretation because there is no necessity for them forever to answer a particular situation.

According to most scholars of Islam in Indonesia is perverted suicide bombings, whatever the motives of suicide are against Islam. But they are even thinking of the scholars who speak like that are misguided. Evidence, in the end, is the interpretation, which remains ultimately copied to the ephemeral, which essentially translates into a relative.

The world is seen as a stubborn reality, more than any proposition. The action of the man who took the death shows the apparent “superman” behavior, terrible, terrifying, and at the same time admirable, which overcomes death.

Even more interesting in that remarkable performance, which actually took place was a performance. The terrible, thrilling, terrifying, and fascinating thing is a part of a heroic stage.

But Indonesia does not need a stage to heroes like that.

This country Indonesia, our homeland, was born through revolution. A thing that Malaysians do not experience like Azahari. A revolution involving many people who suffered under colonial rule. The revolution was an event of solidarity, with sacrifice and pride. But, if Indonesia is not perfect, impermanent and not too revered probably because Indonesia is a limited project because it realizes human limitations.

As Indonesia was founded in 1945 is a homeland with much hope and anxiety, with passion as well as trepidation. “Indonesia” is forever pounding in history, it does not deny and fear its limitations. He has been walking and bumping to get up in the experience. We all know “Islam” is the flag that flies in Indonesia, with the desire of brotherhood and the longing for the justice of God. The flag is white but white with color.

That’s not what suicide bombers understand. They blow up bombs, many times, but they will not make the world an arena for the absolute. They wage a total guerrilla, but in the end, they will fail.

Maybe the suicide bombers know they will fail. They are ready to die in the hope of a paradise for themselves and to immerse their victims in infernal hell. And not in the hope of winning the people they defend in this world. So for that, cursed them !!!

Translate From: Bom Bunuh Diri Untuk Kemenangan Siapa;

Posted in History, International, Literature, Opinion, Reportase, Review, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

BOM BUNUH DIRI UNTUK KEMENANGAN SIAPA

Para pelaku bom bunuh diri beranggapan bahwa mereka adalah paling suci dan orang lain najis, dengan dalil-dalil agama bergeming, kukuh, dan abadi.

BOM BUNUH DIRI UNTUK KEMENANGAN SIAPA

Seorang gadis tidak menyangka bahwa ia akan mempengaruhi sejarah dunia. Ia bernama Dhanu, dia yang mati pada tanggal 21 Mei 1991. Hari itu ia datang ke rapat umum menyambut Rajiv Gandhi, ketua Partai Kongres India waktu itu. Beberapa menit sebelum rapat dimulai, Dhanu berjalan mendekat ke arah Gandhi, dan mempersembahkan karangan bunga. Tapi saat itu juga ia menekan tombol yang memicu sabuk bahan peledak di tubuhnya. Ledakan terdengar. Terbunuhlah Gandhi, Dhanu sendiri dan beberapa orang di sekitar itu termasuk salah satu anggota komplotan yang bertugas membuat dokumen video kejadian itu. Mereka Tamil Eelam, gerilyawan pemberontak di Sri Langka.

Sejak hari itu sampai sekarang, metode Dhanu dipakai. Satu atau beberapa orang menyediakan diri untuk menjadi semacam senjata, semacam rudal yang menghancurkan diri sendiri bersama sasaran dalam sebuah lingkungan yang tak disangka-sangka. Tentu saja setelah Dhanu, ada perubahan. Di Palestina, didorong semangat yang bertaut dengan pahitnya kehilangan hak dan kedaulatan atau sebuah cita-cita kemerdekaan melawan Israel yang kokoh menjajah. Kini, saperti tampak sejak “11 September 2011”, “Bom Bali” sampai “Bom Terminal Kampung Melayu” yang terdengar adalah pekik “jihad” : sesuatu yang terkait dengan iman, asas-asas yang kukuh tentang kebaikan dan kemungkaran.

Azahari dan Noor Din Top, bukan orang asing, jika “asing” dan “ganjil” dan “tak dikenali”. Tapi mereka bukan orang sini. Mereka masuk diam-diam dari Malaysia ke Indonesia, merekrut orang-orang lokal buat meledakkan bom, membunuh orang yang tak bersalah, dan sejak itu Indonesia terjerembap. Sejak itu negeri ini, negeri yang dinyanyikan oleh anak-anak sekolah sebagai “aman dan sentausa”, jadi tidak aman dan tak sentosa bagi siapa saja.

Para pelaku bom bunuh diri beranggapan bahwa mereka adalah paling suci dan orang lain najis, dengan dalil-dalil agama bergeming, kukuh, dan abadi. Para ideolog tanpa pertanyaan. Mereka tak akan mengakui bahwa dalam sejarah dalil itu selalu berubah dan berbeda, melalui tafsir karena tak selamanya bagi mereka ada keharusan menjawab sebuah keadaan tertentu.

Menurut sebagian besar ulama di Indonesia bom bunuh diri adalah sesat, apapun motifnya bunuh diri bertentangan dengan Islam. Tapi mereka malah beranggapan para ulama yang bersuara semacam itulah yang sesat. Dalil pada akhirnya adalah tafsir, yang kekal pada akhirnya disalin menjadi yang fana, yang mutlak diterjemahkan menjadi yang nisbi.

Dunia terlihat sebagai sebuah realitas yang keras kepala, lebih dari dalil apapun. Tindakan orang yang menempuh kematian itu memperlihatkan secara nyata laku “supramanusia”, yang dasyat, menggetarkan, mengerikan, dan sekaligus mengagumkan, yang mengatasi kematian.

Yang lebih menarik lagi dalam laku yang luar biasa itu, yang berlangsung sebenarnya adalah sebuah pementasan. Yang dasyat, yang menggetarkan, mengerikan, dan mengagumkan itu adalah sebuah bagian dari sebuah panggung kepahlawanan.

Tapi Indonesia tak butuh panggung kepahlawanan seperti itu.

Potongan tubuh korban bom bunuh diri di Halte Busway Kampung Melayu, Jakarta Timur berserakan di parkiran sepeda motor, Rabu (24/5/2017). Dua orang tewas dalam peristiwa ini. Sumber : https://metro.sindonews.com

Negeri ini Indonesia, tanah air kita, lahir melalui revolusi. Suatu hal yang tidak dialami oleh orang Malaysia seperti Azahari. Revolusi yang melibatkan rakyat banyak yang menderita di bawah penjajahan. Revolusi itu sebuah peristiwa solidaritas, dengan pengorbanan dan rasa bangga. Tapi, bila Indonesia tidak sempurna, tak kekal dan tak terlalu dipuja mungkin karena Indonesia adalah sebuah proyek terbatas, karena menyadari keterbatasan manusia. Sebagaimana Indonesia didirikan pada tahun 1945 adalah tanah air dengan banyak harap dan cemas, dengan gairah sekaligus gentar. “Indonesia” selamanya berdebar-debar dalam sejarah, ia tak menafikan dan takut akan keterbatasan. Ia telah berjalan-jalan dan terbentur-bentur untuk kemudian bangkit dalam pengalaman. Kita semua tahu “Islam” adalah bendera yang berkibar di Indonesia, dengan hasrat persaudaraan dan rasa rindu pada keadilan Allah S.W.T. Bendera itu putih, tetapi putih dengan warna-warni.

Itulah yang tidak dipahami oleh para pelaku bom bunuh diri. Mereka meledakkan bom, berkali-kali, tapi tak akan membuat dunia menjadi arena bagi yang absolut. Mereka melancarkan gerilya secara total, tapi pada akhirnya mereka akan gagal.

Mungkin para pembom bunuh diri tahu mereka akan gagal. Mereka siap mati dengan harapan akan surga bagi diri mereka sendiri, serta membenamkan korban mereka ke neraka jahanam. Dan bukan dengan harapan untuk memenangkan orang-orang yang mereka bela di dunia ini. Maka untuk itu, terkutuklah mereka!!!

Posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 20 Comments

PENGULANGAN SEJARAH

Alkisah seorang Kisra Persia memerintahkan kepada sekumpulan ahli sejarah untuk menuliskan sejarah umat manusia dari awal dikenalnya sejarah hingga dengan hari itu.

PENGULANGAN SEJARAH

Alkisah seorang Kisra Persia memerintahkan kepada sekumpulan ahli sejarah untuk menuliskan sejarah umat manusia dari awal dikenalnya sejarah hingga dengan hari itu. Tahun demi tahun berlalu, para ahli sejarah menyelesaikan tulisan mereka. Jumlah tulisannya sebanyak 10 pikulan keledai. Maka Kisra tersebut memerintahkan kepada para ahli sejarah tersebut untuk meringkaskan kembali tulisan tersebut.

Tahun demi tahun berlalu kembali, dan sekali lagi para ahli sejarah menyelesaikan tulisan mereka, kali ini lebih singkat yaitu 100 Juz. Namun dengan pertimbangan bahwa Kisra tersebut telah menua sehingga tidak mampu membaca keseluruhan tulisan maka ia memerintahkan kepada para ahli untuk meringkaskan tulisan itu menjadi lebih pendek.

Maka sekali lagi, para ahli sejarah tersebut meringkaskan tulisan tersebut. Tahun demi tahun kembali berlalu, para ahli sejarah tersebut belum menyelesaikan tulisan tersebut. Hingga akhirnya Kisra tersebut hampir menemui ajalnya, maka ia memanggil salah pemimpin dari para ahli sejarah tersebut untuk menceritakan sejarah umat manusia dalam bentuk yang ringkas sebelum ajalnya menjemput.

Setelah berpikir maka ketua dari para ahli tersebut meringkaskan kepada Kisra tersebut bahwa sejarah umat manusia secara umum adalah sama ; Dilahirkan, Lelah dan kemudian Meninggal. Setelah mendengar kata-kata dari ahli sejarah tersebut maka Kisra tersebut menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Kehidupan anak manusia boleh saja dituliskan dengan cara yang berbeda namun siklusnya selalu sama, begitulah kesimpulan yang diambil oleh para ahli sejarah Persia kuno tersebut. Namun benarkah kesimpulan yang diambil oleh mereka?

Terkadang kita merasa telah belajar dari pengalaman orang-orang dimasa lalu, belajar dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang di masa lalu namun  tanpa sadar kita mengulangi tingkah polah orang-orang sebelum kita.

Kesalahan yang paling mendasar dari sikap manusia. Merasa sudah sempurna, sehingga tidak mau lagi belajar dan menerima kritik sehingga perkembangan ilmu dan jiwa menjadi stagnan. Lihatlah betapa bisa berubahnya manusia dalam hitungan waktu, Soekarno yang pada masa mudanya lurus menegakkan Indonesia Merdeka dan harus rela menjadi tahanan politik pemerintah Kolonial disaat menjadi Presiden malah “memenjarakan” teman-teman seperjuangannya sendiri.

Hubungan Sutan Syahrir dan Presiden Soekarno memburuk sampai akhirnya PSI dibubarkan tahun 1960. Tahun 1962 hingga 1965, Syahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai menderita stroke. dan Akhirnya Syahrir meninggal di Swiss pada tanggal 9 April 1966.

Jerman sebagai negara yang mengalami kerusakan total yang memporakporandakan semua sistemnya setelah Perang Dunia II negara ini mampu bangkit, menata ulang dan membangun kembali potensi dan kemajuan negerinya. Pada akhir Perang Dunia II Jerman terbagi menjadi dua, Jerman Barat dan Jerman Timur. Pada tahun 1990 Jerman bersatu kembali dan secara resmi terbentuklah Republik Federal Jerman, negara Jerman yang sekarang kita kenal.

Korea Selatan sekarang dikenal sebagai Macan Asia, dengan perekonomian mapan dan perusahaan perusahaannya disegani di dunia. Padahal dahulu, Negeri Ginseng ini benar-benar negara miskin.
Majalah Time menyatakan pada tahun 1960, Korea Selatan lebih miskin dari Irak, Liberia, dan Zimbabwe. Mereka baru selesai perang dengan tetangganya — Korea Utara — dan tidak punya sumber daya alam.

Manusia pada dasarnya sering berbuat salah, namun manusia yang terbaik adalah mereka yang mau belajar dari kesalahan untuk menjadi lebih baik, berbagai musibah yang melanda bangsa ini adalah ujian untuk menjadi bangsa yang lebih baik. Bangsa Jepang tidak akan maju apabila tidak “dibom atom” oleh sekutu, Jerman menjadi negara Industri terkuat Eropa setelah dicabik-cabik dua perang dunia.

Korea Selatan menjadi kekuatan Ekonomi Asia setelah Perang Korea yang meninggalkan trauma. Dan banyak lagi contoh yang lain. Berbagai musibah juga sebuah pertanda, ada yang salah didiri kita. Dan mungkin kita harus segera mengubahnya. Pilihannya adalah, belajar dari sejarah atau mengulangi sejarah.

XXX

Simak sebuah fakta sejarah yang pernah dicoba untuk dihilangkan oleh Penjajah Kolonial Belanda bahwa : KESULTANAN ACEH NEGARA BERDAULAT PERTAMA YANG MENGAKUI KEMERDEKAAN REPUBLIK BELANDA DARI KERAJAAN SPANYOL DI TAHUN 1602

XXX

Beberapa opini yang lain:

  1. Bersatulah Bangsaku; 1 Agustus 2008
  2. Melanjutkan Perjuangan; 4 Agustus 2008
  3. Udik Invation; 15 Desember 2008;
  4. Membangun Tradisi Baru; 18 Desember 2008;
  5. Tragedi Andalusia Mungkinkah Berulang; 30 Desember 2008;
  6. Apalah Artinya Sebuah Nama; 13 Juli 2009;
  7. Jangan Melupakan Sejarah; 26 Juli 2009;
  8. Sejarah Syahdu Sebuah Negeri; 16 Agustus 2011;
  9. Penaklukkan Kebudayaan; 30 Desember 2012;
  10. Mereka Yang Bangkit (Kembali); 18 Desember 2013;
  11. Membakar Buku Membunuh Inteletual; 6 Juni 2016;
  12. Para Penyebar Kebohongan; 13 November 2016;
  13. Riwayat Sarung; 9 Januari 2017;
  14. Mencari Jurus Penangkal Fitnah Sebuah Jurnal Ilmiah; 11 Mei 2017;
  15. Memutus Lingkaran Kebencian; 8 Juli 2017;
Posted in Cerita, Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 11 Comments

DUTCH RAID OPERATION AGAINST CUT MEUTIA (1910)

Painting of Cut Meutia, Beuringen Pirak Village, Matangkuli Sub-district, North Aceh.

DUTCH RAID OPERATION AGAINST CUT MEUTIA (1910)

The heroism of Cut Meutia was obtained at an expensive price, his life. There is a tragic story that we may not see again, a story whereas the children of this nation, shed tears when reading it. The story of the killing of Cut Meutia at the hands of Dutch troops on 25 October 1910 in Pucok Krueng Keureuto, North Aceh.

Sgt. Mosselman, a prominent brigade leader in guerrilla warfare, reported that on October 22, 1910, he was assigned to trail the troops of a herd allegedly in Lhok Reuhat and on the third day he found a new footprint on the branch of the Krueng Peutoe river, despite Acehnese guerrilla forces Has tried to eliminate it.

Dutch troop pursuit of Cut Meutia

“… The farther down the river, the wider the river, the more heavier and the greater. The mountain boulders grew more and more and there were more small meters of water, glassy slippery stones where the water flowed continuously on the carbines and other equipment. After a long climb and waiting for my friends to observe all the circumstances around him, then at about 4 pm, not far ahead of me, I saw a cloud of smoke rolling in the air between the wooden trees. Again the hairs on my neck stood up, a sign of a human being, if he was in danger.

I try to keep the spirit of my men and move forward. What I am left with is the chosen members. However, it is difficult to achieve such a feat of strength. Just marsose Manado Mahamit, nrp 68750 and marsose Java Tarmin, nrp 71065, a very nimble boy from Malang who hides behind a boulder, then turns me and every member of the climbing marsose can see the cues I give.

They are dangerous, Marsose troops. Dutch pride, they are capable subordinates.

After we got together I ordered the troop members to release their rucksacks. When I was about to creep into the forest to see the terrain more clearly so that I could take the best course if I wanted to do a reconnaissance or ambush, suddenly a member of my squad called out: “There!” In the direction called about 200 meters from us seen the people of Aceh are running to a groove. We are unlikely to ambush and only speed can deliver success. “Attack …!” n a moment of lightning run to our seven forwards, to a groove where the man had run away. Despite falling on the rocks but we continue to advance and just stop at a child’s groove. At a distance of approximately 150 meters from the estuary of a groove we encounter a cottage that is being done in abandoned circumstances and its supplies. I wailed, but no one was able to follow me. Together we arrived at the cottage and the three of them stormed into it. After a 200-meter run we came to a sharp tackle line and faced several opposing men, about 30 meters who were trying to cross the river channel. Mamahit who was in front of occasionally pointed to an old man who was escorted by three men to escape into the forest. He fired a shot at the old man who was right on his target and then the old man collapsed.

Immediately raging shoot-out. The three of us were fired at in a very close direction, from the edge of the groove, from the forest, from all directions. Instantly our view of the three met, really mad, that at times like that we both need to look at each other. I think, (then say also Tarmin and Mamahit what they think it is), that the last moment has come for us. It turned out that we had a great success. I jumped into the water in the groove, while behind us stretched the steep hill wall. We stand in the water to the stomach or literally, with our backs against the wall.

We were completely exhausted and fired like a whale blast. We can hardly shoot. The opponents of the opponent scattered before us in the shrinking waters of the hill wall behind us, all misses, but our shots were the same. In panting it is not possible to fire the right shot. In short we have to calm down, to do the raid is not possible because I know very well, that we are now in the midst of opponent forces. Therefore we must strive in this place, if we are hit by opponent bullets, to sell our lives at a price as expensive.

The opposite seems to be panicking. We felt lucky to have calmed down before they could attack us.

An invading gesture was given by a lean woman, yellow-white face with loose hair, swung her machete as her yelled that suddenly attacked from the forest. Her fell down like all the other young men who followed in his footsteps by a shot that hit his head as he stormed a few feet in front of us.

The sound of gunfire rumbled again, even more terrible than before. I sensed that the opponents were getting closer to us. What a critical thing at all while I still have not seen one of our troop members. Then they doubt the actual scene, even though the sound of the gunshots is so hectic! When at first there was a terrific fire on the backs of the opponents. That is a tactic! And really, if they appear like water droplets, the one on the groove, it would be less interesting, then it is certain that we all have names.

The three of us cursed in three languages. Mahamit interrupted his Manadon accent. From the mouth of Tarmin among the “typical” Javanese, I heard repeatedly the words “dog” and “pig” in each shot. The sound of gunfire resembled a thundering music in our ears and suddenly, somewhat obliquely in front of us, in the cracks of the gunfire, came the screaming of people: “Go forward, smite marsose!” Opponents thought that they had been surrounded. Does not it make sense, that the Dutch just sent three marsose men deep into the forest.

The eruption of the shot was somewhat stalled. The shouts of “Allah il Allah” slowly sounded lethargic and suddenly we were five of us with Wakary and Sinkey jumping from the edge of the grove overgrown to the bottom of the groove, storming into the forest in front of us which I suspect the opponent’s place is hiding.

In front of us lay an elderly man whose friend had been hit by our bullets. From behind huge boulders jumped two young men swiftly forward. Each of them protects the old man’s body with their body, wielding a machete in his hand. Both of them had to be killed with our machetes. When I stepped on it I saw that the old man had died. He lies on the ground in a state of motion regardless of the things that happen to him. For a moment I saw the gold-plated weapon, the famous “keris” weapon and suddenly flashed through my head that it must be a sacred person. This is evidenced by the sacrifice of the two young men who actually face death in a hero.

We are not yet time to rest and continue to storm into the forest. Opponent gunners will not wait for us. Only someone has recorded us with a glance from behind a log. I saw a big mole near his nose, a terrible feeling aroused me when my machete flew over his neck.

W.J Mosselman

As I tell this story now I feel as though it was only yesterday that I experienced it even though it was over 27 years ago. I still see the look of that yellow white woman with her intelligent face, fueled by her burning feelings to die as a martyr. With wild eyes and hair loose on his head, which swung a machete attacked us. Did she get tired of his escape? What was her act, so it occurred to me later to know who she was, for the sake of her son? We did not see her son at all, the young men who carried the old parents with their unshining eyes (the cleric was later identified as Tengku Seupot Mata) were the youngest members of the opponent.

For one person there may be no limit to the suffering she can endure, but there is suffering to bear. Her second husband was sentenced to death, the third (Pang Nanggroe) was shot too, a persistent pursuit addressed to her, A terrible suffering in his life, constantly escaping, probably because of his fate following her, crossed her mind: “God’s will” All the worship and praise of her, who determined His time and with His permission also made me the cause of her death.

It is therefore not a certainty, that the woman bought her death with confidence to meet those who had preceded it? Both she and Pang Nanggroe are people who do not know, what he said later, “mel” (= Report)! Those who are young will tell later in various mosques, that they have been martyred in 1910 … “

This W.J Mosselman Report (1937) is recorded in Aceh (1938), H.C Zentgraf, which was translated into Indonesian by Aboe Bakar (1983) Page 227-231.

Explanation of Central Bank of Cut Meutia in Rp denominations Rp.1000, –

The death of Cut Meutia and Tengku Seupot Mata is only a break in the battle. The Dutch colonial government realized there would be resistance from the people of Aceh to the colonial government, although after Cut Meutia the Aceh resistance was only sporadic and small. The Dutch never calmed down even until they left Aceh in 1942.

Translation in Indonesia

About Aceh:

  1. CUMBOK WAR, A SOCIAL REVOLUTION IN ACEH (1946-1947); 8 April 2017;
  2. CIVILIZATION WITHOUT WRITING; 13 April 2017;
  3. ACEH THE FIRST SOVEREIGN COUNTRY TO RECOGNIZING THE INDEPENDENCE OF THE NETHERLANDS; 27 April 2017;
  4. VISITING THE EXHIBITION ACEH TOMBSTONE AS AN ISLAMIC CULTURAL HERITAGE IN SOUTH-EAST ASIA; 16 May 2017;
  5. DUTCH RAID OPERATION AGAINST CUT MEUTIA (1910); 20 May 2017;
  6. SAMUDERA PASAI AS THE FIRST ISLAMIC KINGDOM IN SOUTHEAST ASIA; 6 June 2017;
  7. ISLAMIC SHARIAH WHO IS AFRAID, A CASE STUDY IN ACEH; 13 June 2017;
  8. ACEH WOMEN FULL POWER; 13 June 2017;
  9. DUSK IN MALACCA; 4 July 2017;
  10. GOLD, INFIDELS, AND DEATH; 10 July 2017;
  11. MANTE THE LOST PYGMY TRIBE; 13 July 2017;
  12. HOW TO TELL HISTORY; 14 August 2017;
  13. THE ORIGIN OF THE COFFEE CULTURE IN ACEH; 19 August 2017;
  14. THE UNTOLD STORY ABOUT HISTORY OF THE COMMUNIST PARTY OF INDONESIA IN ACEH PROVINCE; 28 September 2017;
  15. WHEN CRITICISM IS FORBIDDEN; 14 October 2017;
  16. EXPLOITATION OF NATURAL RESOURCES, WHAT IS IT GOOD FOR ACEH; 5 November 2017;
  17. PEUCUT KHERKOFF, ACEH-DUTCH WAR MONUMENT; 12 November 2017;
  18. THE PRICE OF FREEDOM; 5 December 2017;
  19. ACEH CRAZY OR ACEH PUNGO; 25 February 2018;
Posted in History, International, Reportase | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 27 Comments

HISTORY OF SARONG

People “sarungan” all over Indonesia, unite !!!

HISTORY OF SARONG

All stories begin with “once upon a time” or with “in ancient times”. But when was time immemorial? When you were a kid when you were still crawling? You do not remember so your father and mother were small as well. Your grandparents too. Grandparents also have grandparents. They also say “in ancient times”, there is always the same expression again.

So this story begins with a sentence, in ancient times. An unknown genius finds a very precious object: a sarong. The shape, a hundred square centimeters of fabric, various shades, two edges linked lengthwise. The English call it sarong and certainly imitate the word Malay, “sarung”. Although they are reluctant to use it.

The British consider it an impractical dress. No matter, the British “practical” size is different from us. For us, sarong precisely a technology appropriate for all benefits. We can wear it for prayers to the mosque or wedding party, make to the latrine, make a cold blanket, protect from the heat, can be a mask. In a state not as a clothing, a sarong can be a wrapper or book, for example when we move house.

Maybe a genius might find something like that. Or maybe, through a long process.

But something has happened to the sarong. Perhaps because also the experience of a culture always has a changed social relations. Sarongs, which can be both elegant and casual as Calvin Klein designs, are now receding into something very private, just for the bedroom, in the bathroom, or for prayer. The only chance when a sarong comes into the public sphere is when going to the mosque, on Fridays and festivals. The rest, he just a troublesome ornament.

It is not surprising, then, that a sarong can be a symbol of something shrunken natives, something “people” but urgent, something that suits the environment but is threatened by the flooding modernization flows. Slowly, finally, sarongs also become a symbol of modest independence in the face of the fake plastic-fisted cement.

A bit strange is the history of sarongs. There was a time when he became the identity of a mocked layer. At the beginning of the Soeharto regime in Indonesia (1965-1998), there was a slogan warning to be wary of “sarongs”. No specific who, but immediately the phrase becomes clear.

At that time, the tension was felt but rarely spoken, between abangan, with the marginalized (santri) on the one hand. And as a periphery, the santri who dressed in sarongs for a long time were not the people who were heard in the cultural arena. They are “hicks”.

Time certainly changes the dispute. Perhaps “hick” things are now being weighed again and by social, economic or political change even appreciated. However, (as a diligent reader), I never forget the story of Doel on Lebaran day in Aman Dt Modjoindo’s book, this Betawi boy, with all the dreams of a village boy, trying to wear a hat and tie. But his knees, the fierce teacher of the Koran, sprayed him. Si Doel returns wearing a sarong, but his heart is crushed. This romance was composed in the Dutch colonial era. We know where Aman, author of Balai Pustaka which is controlled by the O.K & W Department is (forced) to take sides. The Dutch colonial government clearly “hates” the sarong.

In the third world, most of the colonized peoples, the history of clothing is indeed a history of a cultural and political clash, which sometimes erupts loudly sometimes like lava in the belly of the mountain. In Turkey, to modernize his people, Mustafa Kemal cut the turbus off the heads of many people. In India, as well as to liberate his people, Gandhi maintained the results of the khadi industry. In Indonesia, sarong has also become a socio-cultural item in an era of transition. It is also a point of conflict.

We can see it, precisely because it is versatile, as a sign of our limitations. But we can also, on the other hand, as well as other times, see it with a sense of miss. We can be a snob who scoffs at it as a sacred item. But we can also hoist it aloft, just so as not to be equated with the glamorous rich.

Therefore we love sarongs, the tools that always exist in the ruling house, or the commoners.

Artikel Dalam Bahasa Indonesia

Posted in History, International, Literature, Opinion, Reportase, Story | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 5 Comments