INDONESIA SURGA DUNIA

Indonesia Surga Dunia. “Seandainya Allah SWT menciptakan surga dibumi maka negeri inilah surga itu”. Sebegitu kaya, indah dan suburnya negeri ini.

INDONESIA SURGA DUNIA

Menjelang akhir tahun 1998 kampung Abu dikunjungi oleh Jamaah Tabligh yang berasal dari Afganistan. Mareka dalam rangka khuruj bermukim dimushalla kampung Abu selama seminggu. Uniknya dalam rangka memakmurkan mushalla kebiasaan mereka selepas Ashar mengajak masyarakat untuk datang shalat Maghrib berjamaah dengan mendatangi rumah penduduk satu persatu. Dan Abu sebagai salah satu pemuda yang didatangi oleh mereka.

Terus terang Abu tidak terlalu memahami ajakan mereka dalam bahasa Arab/Urdu dicampur bahasa Inggris tersebut. Untunglah salah seorang penerjemah mereka yang berasal dari Pattani (bagian kesultanan Melayu yang dicaplok oleh Thailand semasa pemerintahan Rama V) menjelaskan dengan bahasa Melayu sehinga Abu dapat menangkap maksud mereka.

Selepas shalat Maghrib merekapun bertausiyah seperti biasa. Kemudian kamipun sebagaimana pemuda kampung manapun didunia yang didatangi orang asing pastinya mendatangi mereka paling tidak karena penasaran, kebanyakan dari mereka tidak banyak berbicara karena langsung membuka Al-Quran saku dan segera membacanya. Kecuali satu orang, ia seingat Abu sangat mirip dengan Zidane yang baru membawa Prancis menjuarai Piala Dunia ketika itu.

Dengan didampingi seorang penerjemah, Pak Zidane ini bercerita bahwa ia dulunya adalah anggota milisi Thaliban. Pernah bertempur melawan pasukan Uni Sovyet dan terlibat perang saudara dengan aliansi Utara setelah pasukan Rusia meninggalkan Afganistan ditahun 1992, ketika milisi Thaliban berhasil merebut Kabul tahun 1996 ia pun berkelana kenegara-negara muslim untuk memperkuat ukhuwah.

Pak Zidane bercerita ia dan tema-temannya telah melalui Pakistan, India, Bangladesh, Burma, Thailand, Malaysia dan sekarang Indonesia dengan berjalan kaki dari masjid ke masjid. Ketakjuban Pak Zidane ketika menginjakkan kaki ke Asia Tenggara terutama Indonesia adalah ketika melihat alamnya, dan tak putus ucapan Subhanallah apabila ia melihat pohon-pohon hijau dan alam yang begitu subur, jauh berbeda dengan kampungnya di Afganistan yang tandus dan kering.

Abu masih teringat kata-kata beliau saat itu, “Seandainya Allah SWT menciptakan surga dibumi maka negeri inilah surga itu”. Sebegitu kaya, indah dan suburnya negeri ini hingga Pak Zidane berkata seperti itu.

Hari ini seiring jalannya waktu, memori Abu kembali ke masa lalu mengingat kata-kata Pak Zidane yang jujur Abu sudah lupa nama asli beliau. Siapa yang membantah bahwa negeri kita sangat subur, sangat kaya akan sumber daya alam baik itu yang terbatas maupun yang tidak terbatas.

Apa sih yang tidak bisa dihasilkan oleh negara yang dilabeli “Surga dunia” oleh Pak Zidane. Bahkan batu dan kayu bisa menjadi tanaman, namun yang terjadi hari ini negara kita terpaksa harus mengimpor beras dan kedelai.

Yang menjadi pertanyaan, apakah kita makan nasi dan tempe/tahu hanya sekarang? Tidak tentunya, karena nasi, tempe/tahu adalah makanan bangsa kita sejak lama. Namun mengapa hari ini kita harus mengimpor beras dan kedelai dari negara lain?

Memang penduduk Indonesia bertambah seiring berjalannya waktu, namun tekhnologi pertanian juga bertambah maju sehingga mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan pasar.

Jawabannya adalah kebijakan impor para cukong, dinegara asalnya beras dan kedelai itu dibeli dengan harga mahal oleh pemerintah mereka untuk kemudian dijual dengan harga murah kepada para cukong untuk diimpor ke Indonesia.

Kebijakan tersebut memang terlihat menguntungkan secara ekonomi, tapi jangka panjang mematikan potensi ekonomi petani Indonesia. Dan ketika petani Indonesia sekarat mereka menaikkan harga, hari ini dengan alasan harga minyak dunia namun besok hari dengan alasan yang lain. Akibatnya industri dan konsumen yang terbiasa dengan harga murah menekan pemerintah untuk mengkaji kebijakan proteksi yang sejatinya untuk melindungi petani kita.

Akhirnya negara kita ini terjebak dalam lingkaran setan, aduhai negeriku yang elok terjebak politik ekonomi makro tingkat tinggi. Pemerintah dalam hal ini serba salah dalam mengeluarkan kebijakan akibat politik negara asing dan cukong-cukong yang tidak mempunyai harga diri (maaf Abu bukan bermaksud menjelekkan etnis tertentu).

Indonesia pada dasarnya bagi Abu bagaimanapun tetap merupakan surga dunia, namun mengapa kenyataan hari ini tidak demikian? Anda sendirilah yang berhak menilainya, namun ini semua jelas bukan dikarenakan oleh alam kita.

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Opini | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

ELEGI PUISI KEMATIAN CINTA

Aku tak membenci akan adanya cinta, namun ia telah melukaiku sehingga cinta yang membuatku menjauhinya. Cinta itu sendiri menuntunku untuk menghindari kehadirannya. Cinta telah menodai keyakinan dirinya pada cinta itu sendiri.

Aku tak membenci akan adanya cinta, namun ia telah melukaiku.

Aku telah berjanji dengan diriku sendiri bahwa akan mengubur segala yang bernama cinta. Berkeinginan kuat menjadi Lelaki sejati yang kukuh, misterius, dingin dan tak tersentuh namun tetap jujur dan apa adanya. Aku tak membenci akan adanya cinta, namun ia tlah melukaiku sehingga cinta yang membuatku menjauhinya. Cinta itu sendiri menuntunku untuk menghindari kehadirannya. Cinta telah menodai keyakinan dirinya pada cinta itu sendiri. Apakah salah jika aku menolak cinta? Munafikkah jika aku menafikan adanya cinta dalam hatiku? Cinta hanya menjadikan manusia sebagai budak belaka. Cinta telah membuatku dewasa untuk mengerti, sekaligus memaafkan kelakuanku. Butuh waktu untuk memahami bahwa cinta adalah keindahan yang memerlukan penafsiran utuh, saat ini cinta hanyalah penghalang membawa pada sebuah pilihan, membentengi diri dari pesonanya sekuat mungkin, sekukuh yang kubisa. Cinta, jasad, jiwa dan segala sesuatu di diri ini maafkan aku yang belum siap menerima cinta kembali. Hari ini cinta tlah mati, entah esok.

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Poetry, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 13 Comments

MENJADI WALI

Jamuan pada pesta pernikahan

MENJADI WALI

Ketika harus menjadi Wali

Abu adalah anak sulung dari lima bersaudara, tidak usah Abu sebutkan nama asli keempat adik Abu. Tapi untuk memudahkan mengenali mereka Abu sebutkan panggilan kesayangan Abu kepada mereka yaitu Puteri India, Puteri Cina, Pangeran Turki dan Pangeran Brunai.

Masing-masing dari mereka memiliki wajah dan karakteristik yang agak sama dengan nama yang Abu sematkan kepada mereka. Yang menjadi cerita kali ini adalah adik Abu puteri India yang bulan Maret ini akan genap berusia 22 tahun dan Insya Allah dibulan Pebruari akan menyelesaikan kuliahnya di fakultas keguruan pada Universitas terbaik di Nanggroe Aceh.

Puteri India yang berada dipuncak masa mudanya ini telah dilamar oleh tiga keluarga untuk dijadikan menantu. Namun oleh Dewan keamanan keluarga (DKK) Abu ketiga calon tersebut masih di”fit dan proper tes”kan karena bagi keluarga kami puteri India ibarat buah yang tersembunyi dibalik daun karena ia pun tidak pernah berpacaran. Alasannya jelas karena pacaran baginya merupakan larangan dari Dewan Keamanan Keluarga (dimana Abu termasuk anggota tidak tetap), melanggar berarti harus siap mendapat embargo ekonomi, pilitik, sosial dan budaya dan lain-lain pokoknya sanksi yang akan ditetapkan pastinya komprehensif dan menyeluruh.

Pada dasarnya ia adalah seorang penurut sehingga DKK tidak harus menjalankan aksi-aksinya. Mendapatkan tiga lamaran dalam waktu yang berdekatan jelas DKK kelabakan dan akhirnya menyerahkan pilihan kepada Puteri India namun ia memilih akan menurut kepada pilihan DKK siapapun orangnya.

Sebagai salah seorang anggota tidak tetap DKK, otomatis Abu mendapat tugas untuk mewawancarai salah satu calon pelamar. Kebetulan calon tersebut berdomisili di Lhokseumawe sehingga DKK yang berpusat di Banda Aceh menyerahkan tugas wawancara kepada Abu yang kebetulan berdomisili di Lhokseumawe.

Pada hari yang telah ditentukan Abu pun datang ke tempat yang sudah dijanjikan. Namun sayang sebuah musibah menimpa keluarga calon tersebut, terjadi musibah kebakaran di rumah salah seorang kerabatnya sehingga janji wawancara ditunda hingga waktu yang tidak terbatas.

Sebagai perpanjangan tangan DKK maka wajib Abu melaporkan apapun hasil wawancara kepada ketua DKK yaitu Ibunya Abu. Via telepon Abu menjelaskan secara detil mengenai proses wawancara yang gagal tersebut. Ketika Abu selesai memberikan laporan, Puteri India meminta izin berbicara dengan Abu.

“Bang Abu saya boleh meminta sesuatu?” Tanyanya

“Silahkan, kalau bisa pasti akan saya kabulkan.”

“Kalau nanti menikah saya minta abang yang jadi walinya bisakan?”

Mendapat permintaan yang Maha berat ini secara spontan Abu menjawab

“Apa tidak bisa yang lain? Kan masih banyak paman adik almarhum ayah yang lebih berpengalaman dari abang.” Jelas Abu menolak jadi wali, lha sendiri saja belum kawin jadi belum layaklah jadi wali begitu pertimbangan Abu.

“Kalau abang tidak mau, ya tidak mengapa.” Jelas dari suaranya tersimpan nada kecewa yang sangat dalam.

Mendengar jawaban seperti itu hati abang mana didunia tidak luluh. Seandainya abangmu ini memiliki dunia pasti akan kuberikan untukmu jika engkau memintanya adikku, apalagi hanya ini. Dengan mengumpulkan segenap keberanian Abu pun berkata.

“Abang siap wahai adikku.” Dada Abu bergemuruh dan matapun berkaca-kaca.

“Terima kasih bang.” Katanya sangat gembira.

Teleponpun terputus dan Abu hanya terpekur. Rasanya waktu begitu cepat berlalu, sekarang engkau begitu cepat dewasa adikku. Padahal rasanya baru kemarin kita bermain sepakbola dan terkadang sepeda bersama. Hati Abu kok rasanya tidak begitu ikhlas melepaskan adik Abu tersebut, apakah nantinya keluarga suami akan menyayangi dan melindunginya seperti yang kami lakukan.

Namun Abu sadar cepat atau lambat ini semua harus terjadi, dan lebih baik baginya apabila kami segera menyegerakan pernikahan baginya.

Saat waktumu telah tiba, menjadi dewasa, memiliki sebuah keluarga. Kau akan belajar bahwa kau harus membuat pemikiranmu sendiri tentang sesuatu. Kau harus ikutu jalan hidupmu sendiri. Pilihan yang dibuat, sifatnya rumit. Untuk melakukan hal yang benar, kadang kau harus bergantung padahal yang kau pikir itu salah.

XXX

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

DINDA DIMANAKAH ENGKAU BERADA

mungkinkah mata pernah bertemu namun kita tak pernah tahu

DINDA DIMANAKAH ENGKAU BERADA

duhai dimanakah engkau berada

separuh dunia tlah kujejak namun tak jua menemukanmu

mungkinkah mata pernah bertemu namun kita tak pernah tahu

akan kisah hidup akan dijalani

tak ada sia-sia dalam bilangan tahun

sekian lama telah menjalani

meski engkau tak kunjung melihatku

atau sekedar mengetahui namaku

bahwa adahal yang tak pernah kita ketahui

dalam hidup masih banyak misteri yang belum terungkap

dan hari ini penuh dengan tanya

akankah besok kutemukan jawabnya

Sebuah kampung nelayan bernama Sunda Kelapa berubah Jayakarta kemudian menjadi Batavia hingga dan sekarang bernamakan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, 21 April 2008.

Puisi-puisi cinta:
  1. Inikah Cinta; 1 Agustus 2008;
  2. Catatan Seorang Pecundang; 1 Agustus 2008;
  3. Maksud Hatiku Padamu; 1 Agustus 2008;
  4. Elegi Puisi Kematian Cinta; 3 Agustus 2008;
  5. Puisi Terindah; 3 Agustus 2008;
  6. Surat Kepada Sepotong Masa Lalu; 3 Agustus 2008;
  7. Tahukah Engkau Cinta; 4 Agustus 2008;
  8. Cryptogram; 4 September 2008;
  9. Kita Yang Tak Akan Bertemu Kembali; 9 September 2008;
  10. Benci diatas Cinta; 13 September 2008;
  11. Indah Bunga; 20 September 2008;
  12. Padamu Perempuanku; 25 September 2008;
  13. Pada Pandangan Pertama; 18 Oktober 2008;
  14. Mengenang Sebuah Perjalanan Cinta; 3 November 2008;
  15. Kalah Perang; 5 November 2008;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 9 Comments

PESONA GADIS MAGHRIBI

Gadis Maghribi

PESONA GADIS MAGHRIBI

Wajahnya mengingatkan kita akan gadis dari negeri Maghribi, hidung mancung bengkok khas semitik dibalut dengan kulit coklat khas terpaan matahari di tepi Samudera Atlantik. Bibirnya yang dihiasi senyuman dibalut dengan hijab hitam seperti dari negeri Persia, begitulah pendapat Abu ketika disodori foto cucu perempuan TSP.

Usianya baru sembilan belas tahun tepaut lima tahun dari Abu yang sudah mulai menua ini, baru menyelesaikan pendidikan di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan.

“Bagaimana Abu, mau?” Tanya TSP.

Siapa yang bisa menolak jika ditawarkan calon istri seperti ini? Belum lagi bimbingan langsung dari TSP sudah pasti akhlaknya top. Namun bukan Abu kalau tidak punya pertimbangan, DKK (Dewan Keamanan Keluarga) Abu memiliki sejarah panjang dan keras dalam bidang perjodohan. Hak Veto mereka bisa dengan mudah melunturkan kepercayaan diri gadis yang sedang rahum ini.

Terang Abu tidak berani menentang secara frontal DKK yang katanya sudah menetapkan jodoh yang sama sekali Abu tidak pernah bertemu atau tahu siapa dia, menolak harapan TSP juga segan. Abu hanya diam dan membisu.

“Nanti saya atur proses ta’arufnya,” vonis beliau tanpa memperhatikan wajah Abu yang mengkerut tanpa nyali dan lagi-lagi diam tanpa bahasa.

“Nanti kamu saya kabari lagi,” tutup beliau.

Pulang kerumah, Abu memandangi cermin. Rambut sudah mulai panjang, kumis tipis tumbuh tidak merata dan jenggot tipis tumbuh tak beraturan. Jelek, wueks lidah Abu pun terjulur.

Bagai mendapat ide brilyan Abu pun tersenyum, bagaimana kalau rambut ini terus dibiarkan memanjang, bagaimana jika kumis ini tak usah dicukur, bagaimana jika jenggot ini tak terapikan. Dan nanti Abu akan menggunakan yang baju yang paling kusam, celana paling jelek. Pasti gadis Maghribi tersebut akan menolak dijodohkan dengan Abu.

Yess! Ide yang bagus, jika tiba nanti harinya nanti mudah-mudahan…..

XXX

Simak Kisah: Petualangan Abu lainya

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

GURUKU KEKANAKAN

Guru kehidupan

GURUKU KEKANAKAN

Siapa bilang hubungan guru dan murid tidak diwarnai hubungan cemburu dan rindu? Tanyakan pada Jalaluddin Rumi yang remuk merindu gurunya Syamsul Tarbiz yang tiba-tiba menghilang.

Siapa bilang hubungan guru dan murid begitu sederhana setelah melihat begitu pelik dan berlika-likunya kisah Mahaguru Dorna dan Arjuna. Dari seorang murid kesayangan hingga menjadi lawan di medan Kurusetra dalam Bhatarayudha.

Maka jangan salahkan Abu yang menyimpan sang guru, Tengku Salek Pungo walau banyak pihak yang ingin bertemu dengannya. Biarlah ia milik Abu seorang yang tidak akan terbongkar identitasnya sampai kapan pun.

Begitupun kalau Abu menyebut nama Mr.Popo sebagai referensi, mata beliau selalu memicing dan menunjukkan ekspresi kurang senang. Mungkin cemburu atau sebuah rasa kurang senang yang tidak dapat disembunyikan. Semua itu adalah hal yang tak diterima oleh nalar dan logika.

Apalagi ditambah cerita hari minggu kemarin.

“Tok..Tok…Tok,” pintu kontrakan Abu diketok dengan keras, siapa lagi siang-siang selepas Dhuhur tanpa sopan santun. Tidak tahukah ia bahwa siang minggu ini merupakan waktu yang mewah bagi Abu untuk istrirahat sambil membaca bahan final kuliah nanti sore, dengan perasaan kesal Abu membuka pintu.

“Salam lekom,” rupanya Billy The Kids nafasnya tersenggal-sengal.

“Kom Salam apa apa?” Tanya Abu masih kesal. Billy The Kids langsung menarik tangan Abu.

“Tengku Salek ingin bertemu segera!” Katanya, apa gerangan ini? kemarin beliau terlihat kurang sehat. Apakah beliau sekarat atau ingin meninggalkan wasiat? Jantung Abu berdegup kencang, segera menggunci pintu rumah dan dengan bersarung ikut dengan Billy The Kids menuju rumah TSP.

Sesampainya dirumah beliau, tanpa ba-bi-bu Abu langsung masuk dan menuju ke kamar beliau. Terlihat guru Abu tersebut sedang tergolek lemah di ranjang.

“Ada apa mi?” Tanya Abu kepada istri beliau.

“Ini beliau tidak mau makan jika tidak ada kamu,” jawab Ummi malu-malu akan kelakuan suaminya.

Apa kata dunia? Orang tua seperti TSP bisa berlaku seperti kanak-kanak. Demi melihat kedatangan Abu mata beliau bersinar, Ummi mengambil inisiatif menyuapi beliau. Setelah beberapakali suapan beliau melihat lagi kepada Abu dan berkata, “Suapin Abu!”

Langsung Ummi menyerahkan piring dan sendok, dan terpaksa harus menurutinya jua. Sebenarnya Abu sangat kesal! Waktu belajar Abu yang hanya sekejap tersita untuk adegan tak penting seperti ini. Sekali lagi, Apa kata dunia? Tapi demi beliau terpaksa Abu mengundurkan hitung-hitungan logika. Tak lama kemudian Ummi dan Billy The Kids berangsur meninggalkan Abu dengan TSP. Sebagai murid Abu harus merendah dan menghamba sebagai syarat kemudahan menyerap ilmu.

“Kamu kesal Abu?” Tanyanya.

“Sedikit!” Jawab Abu memencongkan mulut.

“Hahaha,” beliau tertawa.

“Kamu itu seperti pohon, sebesar apapun tak pernah berubah,” seperti biasa beliau menggunakan perumpamaan, Abu hanya diam dan terus menyuapi.

“Memiliki kasih sayang yang besar namun tak mampu menunjukkan, dan terlihat angkuh dari luar,” tambahnya, bahkan disaat kurang sehat seperti ini masih bisa meng-kick.

“Kalau sedang makan jangan bicara Tengku!” Bantah Abu.

“Hahaha,” lagi-lagi beliau tertawa.

“Kalau dipikir-pikir kita ini tidak sedarah, namun kenapa bisa seakrab ini ya?” Tanyanya lagi. Oke deh Abu menyerah, tak mampu lagi rasanya menunjukkan ekspresi kesal di depan beliau dan akhirnya tersenyum.

“Bagaimana kalau kita menjadi saudara?” Tanyanya.

“Tengku punya cucu perempuan baru lulus dari……..” Sebelum beliau menyelesaikan kalimatnya langsung Abu potong.

“Nasinya sudah habis Tengku, sekarang istrirahat dulu kapan-kapan nanti kita bicara lagi,” Abu meletakkan piring dimeja dan beranjak pergi.

“Asar nanti kamu disini ya!”

“Di kampus Tengku.”

“Maghrib?”

“Sepertinya Abu masih di kampus.”

“Kalau Isya?”

“Di rumah, soalnya pasti kecapekan.”

“Lalu kapan bicaranya?”

“Kapan-kapan saja Tengku,” jawab Abu taktis.

“Keburu saya meninggal nanti,” katanya.

“Tengku ini suka bercanda,” sambil tersenyum Abu pun bergegas.

“Abu!” Panggil TSP. Dan Abupun berbalik.

“Selamat berjuang!” Tangannya mengepal, dan Abu pun hanya bisa tersenyum.

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

CEPAT SEMBUH TENGKU

Guru kehidupan

CEPAT SEMBUH TENGKU

Pendidikan formal beliau hanyalah SR (Sekolah Rakyat), yang untuk lulus harus harus menempuh perjalanan kaki 260 km ke Koeta Radja (Nama Banda Aceh pada zaman Belanda dan awal kemerdekaan). SR entah berantah itu kelak dibakar oleh pemberontak DI/TII pimpinan Daud Beureueh karena dianggap sebagai tempat pengkaderan paham sekuler oleh rezim Soekarno.

Selebihnya beliau menuntut ilmu dari dayah ke dayah, demi sesuap ilmu. Yang Abu bicarakan disini tidak lain dan tidak bukan adalah Tengku Salek Pungo seorang mentor sekaligus tempat seorang anak yatim ini bertukar pendapat.

Hari ini sungguh sudah tiga tahun sejak pertama kali Abu bertemu dengan beliau, dari seorang kenalan biasa hingga menjadi salah seorang murid yang paling bandel, paling sering melawan dan (asumsi Abu) yang paling disayangi.

Bagi banyak orang TSP adalah orang yang menakutkan. Mengapa? Karena beliau adalah orang yang tidak pernah menampakkan raut emosi kemarahan dan hanya diam apabila tidak berkenan dengan sesuatu. Suatu hal yang dianggap masyarakat pesisir Selat Malaka sebagai puncak emosi yang terkendali.

Beda dengan diri Abu yang berkultur Koeta Radja yang menantang ganasnya Samudera Hindia, yang kulturnya meledak-ledak serta bergelombang pasang. Sifat beliau ini tidak mempan, bahkan sering meng-kick beliau dengan argumen-argumen post modern.

Tiga tahun sudah, bilangan waktu tak pernah sia-sia. Abu menyadari sudah banyak hikmah yang Abu serap dari beliau, emosi putra tepian Samudera Hindia ini sudah setenang Selat Malaka.

Kemarin Abu berjumpa dengan beliau, rambutnya sudah mulai memutih dan semakin tipis, Tungkai kakinya seolah sudah lelah menopang tubuhnya, urat-urat tangan beliau melepuh seiring waktu tujuh puluh sembilan tahun. Ketika Abu shalat sebagai makmum dibelakang seolah tubuh beliau semakin membungkuk dan batuk beliau membuat Abu sangat khawatir.

Melihat kondisi kesehatan beliau, jujur diri ini merasakan ketakutan yang amat dalam akan kehilangan. Abu menyadari tak ada yang abadi di dunia ini, setiap makhluk akan dipanggil sang Khalik dalam pelukan dan kasih sayang-Nya.

Sebagai murid dan guru kami sering tak sepaham dan tanpa sungkan mengutarakan langsung tanpa basa-basi. Ketika Abu menceritakan sedang menggarap serial Mitologi beliau meyuruh menghentikannya dengan segera!

“Jangan penjarakan imajinasi saya Tengku!” Hanya itu kata-kata Abu dan beliau hanya diam tanpa suara. Bahkan hingga hari ini beliau kerap menyindir Abu Pro-Hellenis, dan dengan pedas menuding tanpa sadar Abu menjadi salah satu agen Barat. Padahal beliau tak pernah membaca dengan tuntas novella yang sedang Abu garap.

Namun bagaimanapun bila harus kehilangan beliau sekarang kok rasanya Abu belum mampu. TSP adalah orang yang dekat dengan masa lalu, yang kerap dilupakan namun sebenarnya menyimpan sejuta pelajaran kepada kita di masa sekarang.

Beliau membantah keras dalam kondisi sakit namun Abu tahu tubuh tuanya telah merenta, sejumlah kuitansi masa muda sekarang waktunya ditagih. Tongkat yang menopang tubuh membungkuk udang tersebut semakin aus ditelan perputaran zaman.

Seperti yang Tengku bilang kepada Abu, “Mata kamu seperti orang pandir yang haus akan lautan ilmu.” Merupakan satu-satunya pujian yang Abu ingat keluar dari mulut beliau. Untuk itu Tengku masih harus hidup untuk mengairi jiwa Abu dengan embun ilmu dan hikmah.

Semoga cepat sembuh Tengku, begitulah ucap dan doa Abu malam ini.

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

RIWAYAT PENULIS

Smilling like a teen

RIWAYAT PENULIS

Milvan Murtadha lahir disebuah kedai nasi milik nenek dari pihak ibu, Nurmi. Pada 29 Pebruari 1984 M / 24 Jumadil Akhir 1404 H di desa Mon Mata, Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Barat (sekarang setelah pemekaran kabupaten menjadi bagian dari Aceh Jaya), Provinsi Daerah Istimewa Aceh (nama lama dari Nanggroe Aceh Darussalam). Adalah seorang anak manusia yang ”dipaksa” untuk lahir, menurut pengakuan dari sang ibu. Ketika tiba waktu dilahirkan ia tidak juga memperlihatkan usaha untuk lahir sehingga harus dipaksa keluar oleh seorang bidan dan seorang dukun beranak. Suatu kejadian yang mungkin membentuk watak dan karakternya menjadi sangat melankolis.

Ayah : (almarhum) Murtadha Hamid (16 Maret 1957 – 4 April 2004) (Aneuk Galong Baroe, Aceh Besar – Rumah Sakit Fakinah, Banda Aceh).

Ibu : Ida Nursanti (1 Pebruari 1962) (Krueng Sabee, Aceh Jaya).

Menikah 25 Nopember 1982

Memiliki empat orang adik

  • Milda Alfia Murtadha (16 Maret 1986) lahir di Rumah Sakit Bersalin Rebecca – Banda Aceh. Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan Universitas Syiah Kuala jurusan Ilmu Sejarah (2004-sekarang).
  • Milla Alsura Murtadha (17 Januari 1990) lahir di Neusu, Banda Aceh. Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Banda Aceh (2005-2008)
  • Milhan Murtadha (4 Nopember 1991) lahir di Dusun Melati Geuceu Menara, Aceh Besar. Sekolah Menengah Atas Negeri 7 Banda Aceh (2006-sekarang)
  • Milzan Murtadha (14 Juli 1995) lahir di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin, Banda Aceh. Sekolah Menengah Pertama Percontohan Banda Aceh (2006-sekarang).

Alamat : Jl. Sukarno-Hatta Lr. Tgk. Menara VII No.48, Dusun Melati, Desa Garot, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Kode Pos 23237. Secara nasab memiliki nama, Milvan Murtadha bin Murtadha Hamid bin Abdul Hamid bin Muhammad Ali. Milvan sendiri diambil dari nama Balkan, Bosnia. Tepat dijantung Eropa, dan cahaya Islam bersinar. Sedang Murtadha dari bahasa Arab yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia ”yang diridhai”, sebagai julukkan yang diberikan oleh Baginda Rasullullah SAW kepada syaidina Ali bin Abi Thalib, kelak Khalifah Islam ke-empat.

Riwayat pendidikan

  • Taman Kanak-kanak Pertiwi, Banda Aceh (1989-1990)
  • Madrasah Ibtidaiyah Negeri Teladan, Banda Aceh (1990-1996)
  • Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 1, Banda Aceh (1996-1999)
  • Sekolah Menengah Umum Negeri 3, Banda Aceh (1999-2002) Jurusan Ilmu Pendidikan Sosial
  • Fakuktas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Negeri Syiah Kuala, Banda Aceh (2002-2003/Drop Out)
  • Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Program Diploma I Jurusan Perpajakan, Medan (2003-2004)
  • Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Universitas Negeri Malikussaleh, Lhokseumawe (2007-sekarang)

Status pekerjaan

  • Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Departemen Keuangan, Direktorat Jenderal Pajak, Kantor Pelayanan Pajak Lhokseumawe (2004-sekarang)

Lhokseumawe, 1 Agustus 2008

Posted in Asal Usil, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

MAKSUD HATIKU PADAMU

Siang dan malam terbayang selalu
Terbayang wajahmu

MAKSUD HATIKU PADAMU

Maksud hati hendak aku bertanya

Karena bunga sedap dipandang

Mohon jawab pertanyaanku

Apakah bunga sudah ada pemiliknya

 

Sebab suka telah muncul di hati

Karena kebenanian tak selalu muncul

Agar bunga jangan sampai layu

Bisakan aku meminta setangkai

 

Betapa hatiku terasa bimbang

Akan dikau wahai idaman

Aku melihat wajah yang menawan

Begitulah aku tertawan

 

Jikalah adinda telah setuju

Marilah kita melangkah menghadap penghulu

Agar sembuh segala rasa rindu

Siang dan malam dapat bersama

 

Aku melihat langit penuh bintang

Cahayanya jauh berpendar

Siang dan malam terbayang selalu

Terbayang wajahmu

 

Tersenyumlah sayang

Tersenyumlah intan

Agar hati ini terasa senang

Ketika memandang wajahmu

Lhokseumawe, 29 Maret 2007

Beberapa puisi lain:

  1. Dinda Dimanakah Engkau Berada; 1 Agustus 2008;
  2. Elegi Puisi Kematian Cinta; 3 Agustus 2008;
  3. Dalam Jubah Sufiku; 3 Agustus 2008;
  4. Dipersimpang Jalan; 3 Agustus 2008;
  5. Puisi Terindah; 3 Agustus 2008;
  6. Maghribi dan East; 3 Agustus 2008;
  7. Surat Kepada Sepotong Masa Lalu; 3 Agustus 2008;
  8. Tahukah Engkau Cinta; 4 Agustus 2008;
  9. Dua Puluh Empat Setengah Tahun; 6 Agustus 2008;
  10. Elegi Pagi Hari, Sebuah Puisi; 7 Agustus 2008;
  11. Cryptogram; 4 September 2008;
  12. Keindahan Sang Rembulan; 5 September 2008;
  13. Kita Yang Tak Akan Bertemu Kembali; 9 September 2008;
  14. Benci diatas Cinta; 13 September 2008;
  15. Indah Bunga; 20 September 2008;
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 12 Comments

PROPOSAL KAWIN

Apalagi yang kurang? Tampang, umur, kemapanan, materil, sprirituil semuanya kurang.

PROPOSAL KAWIN

Percayalah pada usia tertentu, pada tahap tertentu, seorang pria atau perempuan yang belum menikah bisa menjadi (hal) buruk.

Apalagi yang kurang? Tampang, umur, kemapanan, materil, sprirituil semuanya kurang. Tapi kalau indikatornya kecukupan seberapapun kita berusaha tidak akan cukup, kerena sesuai dengan prinsip Ekonomi bahwa keinginan itu tidak terbatas. Ya kalau kita tidak mencoba, bagaimana kita tahu kemampuan kita. Ketika Abu mengajukan proposal tersebut ibunya Abu kelihatan terkejut, padahal sudah setiap tahun dalam tiga tahun belakangan ini beliau menolak aplikasi Abu.

“Kamu itu masih anak-anak, kok minta kawin?” Seloroh beliau.

“Anak-anak apaan, lha sekarang sudah 24.” Tidak biasa-biasanya Abu menuakan diri.

“Kamu ini terlalu manja, terkadang kekanak-kanakan jadi belum layak!” Aduh rahasia perusahaan Abu jangan diobral dong bu.

“Itu semua bisa berubah bu, seiring jalannya waktu.” Abu tidak mau kalah.

“Emangnya kamu tahu menikah itu untuk apa?” Gawat! Ibu Abu menanyakan esensi menikah itu apa.

“Ya sama dengan orang lainlah, gitu aja kok repot.” Gampang saja Abu menjawab.

“Itu namanya ikut tren dan bukannya hasil pemikiran kamu.” Vonis beliau.

“Kalau seandaimya pendapat orang lain itu lebih baik mengapa tidak?” Balik Abu.

“kamu itu dibilang orang tua kok ngeyel nak?” Bisa dibilang ini adalah jurus umum orang tua untuk menolak keinginan anaknya.

“Apa pernah Abu membantah? Dulu sepulang sekolah Abu mengurus kambing terus pas liburannya jualan sayur dipasar? Pokoknya segala yang pernah Ibu minta Abu turuti kan dari dulu, jadi Abu ini tidak pernah ngeyel bu.” Abu sedikit mengungkit jasa masa lalu, hehehe.

“Kamu itu kalau dibilangin selalu seperti ini, persis seperti almarhum bapakmu.” Waduh ibu Abu menggunakan jurus mautnya, namun tiba-tiba suara beliau melunak.

“Jadi kamu itu di Lhokseumawe sudah punya calon?” Sontak wajah Abu memerah.

“Ya belum.” Jawab Abu malu-malu.

“Lha ini, pacaran saja seumur hidup tidak pernah sekarang malah berani minta kawin.” Ibu Abu tersenyum penuh kemenangan, padahal beliau yang melarang Abu untuk pacaran.

“Ya itukan karena…….” Suara Abu terputus.

“Pokoknya Ibu belum mengikhlaskan kamu untuk menikah.” Skak mat sudah. Tahun ini proposal Abu diveto oleh Dewan Keamanan Persekutuan Keluarga Abu, tapi tak apalah tahun ini boleh gagal tapi tahun depan akan Abu coba lagi, Genbato Abu.

Ketika mengantarkan Abu berangkat menuju Lhokseumawe diterminal bus Banda Aceh, beliau berbisik. “Awas kamu Abu kalau ibu mendengar kamu macam-macam disana ya! Baik-baik disana, ibu akan menyiapkan calon buat kamu.” Ancam beliau.

Emangnya ini zamannya Datuk Maringgih apa? Kok pake perjodohan segala? Tapi sudahlah untuk sementara Abu tidak mau membahas lebih lanjut, dan bus pun segera berangkat.

Baca juga: KISAH KISAH PETUALANGAN SI ABU

Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments