RIWAYAT HIDUP TEUNGKU HAJI AHMAD HASBALLAH INDRAPURI

Sketsa Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri (1888-1959)

RIWAYAT HIDUP TEUNGKU HAJI AHMAD HASBALLAH INDRAPURI (1888-1959)

Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri adalah salah seorang dari empat ulama besar yang mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa mempertahankan kemerderdekaan yang diproklamasikan oleh Sukarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 adalah jihad fisabillillah, mereka yang tewas dalam perjuangan tersebut memperoleh syahid. Fatwa ini kelak memberi pengaruh pada sejarah pejuangan kemerdekaan Indonesia melawan penjajahan Belanda yang ingin kembali menjajah setelah perang dunia kedua berakhir.

ANAK YANG LAHIR DALAM KANCAH PERANG ACEH

Pada tanggal 26 Maret 1873 Kerajaan Belanda memproklamasikan perang terhadap Kesultanan Aceh Darussalam, perang ini berkecamuk puluhan tahun, secara resmi Kesultanan Aceh tidak pernah tunduk kepada Belanda, sehingga pemerintah Hindia Belanda di Aceh sifatnya adalah “Pemerintahan Pendudukan”. Peperangan yang berlangsung mengakibatkan banyak pusat-pusat pendidikan di Aceh ditutup, para ulama memimpin dan ikut ambil bagian di medan perang, baik frontal mauun gerilya.

Operasi Pasukan Marsose di Mukim XXII (Perang Aceh 1873-1904) Salah satu perlawanan tergigih dan terlama terhadap kolonisasi Belanda di Indonesia

Salah satu pusat pendidikan yang terpaksa dihentikan adalah Dayah Lam U (Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar sekarang – Penulis). Pada saat itu dipimpin ulama besar yaitu Haji Umar bin Auf, dikenal sebagai Teungku Chik Lam U. Beliau terpaksa berpindah dari satu tempat ke tempat lain di medan perang. Ketika asap-asap mesiu mengepul di tanah Aceh dan pelor-pelor maut mengincar mangsa seorang perempun Bernama Hajjah Safiah melahirkan seorang anak di kampung Lam U, ayah dari anak tersebut yaitu Teungku Haji Umar sedang memanggul senapan peperangan, bayi tersebut diberi nama Ahmad Hasballah, lahir pada 3 Juni 1888.

Sebagaimana anak-anak Aceh yang dilahirkan pada zaman peperangan, ia dibesarkan dengan syair-syair dendang perang yang membentuk jiwa dan karakternya, sehingga ia menjadi seorang mujahid yang anti penjajah, baik Belanda maupun Jepang nantinya. Sebagaimana para ibu Aceh lainnya Safiah senantiasa membuaikan puteranya dengan syair-syair seumpama:

Doda idi doda idang,

Geulayang blang ka putoh talou,

Beurijang rayeuk po muda seudang,

Jang tuiong prang bantu nanggroe

 

Doda idi doda idang,

Boh mandang srot u bumou,

Beurijang rayeuk aneuk lon sayang,

U mideun prang tajak sambinou.

 

Terjemahan bebas:

Buai-buai, buialah sayang,

Layang-layang putus talinya,

Panjang Umur, lekaslah gedang,

Ke medan perang membela negara

 

Buai-buai, tidurlah intan,

Buah embancang gugur ke bumi,

Lekaslah besar belahan badan,

Medan perang telah menanti

Demikianlah syair-syair panggilan jihad yang menderu-deru membesarkan Ahmad Hasballah dari bayi menjadi kanak-kanak kemudian tumbuh remaja, yang kemudian mengikuti orang tuanya ke medan perang, menjadi seorang mukmin, hamba Allah, bukan hamba makhluk apapun.

LATAR BELAKANG KELUARGA ULAMA

Dayah Lam U adalah salah satu pusat pendidikan dalam Kesultanan Aceh Darussalam, ketika awal peperangan pecah antara Aceh dan Belanda, pimpinan adalah Teungku Umar bin Auf, yang melanjutkan kepemimpinan ayahnya Teungku Auf. Ahmad Hasballah adalag putra tertua dari Teungku Haji Umar bin Auf, beliau memiliki 3 saudara lain yaitu: Abdullah, Madhan, Abdulhamid, masing-masing menjadi ulama dan memiliki nama kunyah (julukan) sebagaimana berikut:

  1. Teungku Haji Ahmad Hasballah Indapuri;
  2. Teungku Haji Abdullah Lam U;
  3. Teungku Madhan Yan;
  4. Teungku Abdulhamid Aneuk Batee.

Dari usia kanak-kanak Ahmad Hasballah mempelajari ilmu dari orang tuanya, terutama al-qur’anul karim, beliau tertarik menjadi seorang qari, dan bakatnya terus dikembangkan sampai beliau berangkat ke Mekah. Beliau juga belajar ke dayah (pesantren) lain, dalam keadaan perang Aceh yang masih berlangsung antara lain:

  1. Dayah Piyeung;
  2. Dayah Samalanga;
  3. Dayah Titue;
  4. Dayah Lamjabat.

Kesungguhan belajar dari seorang Ahmad Hasballah membuat beliau menguasai bahasa Arab dengan sangat baik, dan mendalami ilmu-ilmu dengan cemerlang antara lain: Ilmu Nahu Syaraf (Tata Bahasa Arab), Ilmu Fiqih, Ilmu Tauhid, Ilmu Tassawuf, Tarikh Islam, Ilmu Tafsir dan Hadist.

BERANGKAT KE SEMENANJUNG MALAYA KEMUDIAN MEKAH

Ketika Sebagian besar tanah Aceh telah diduduki Belanda, dan pasukan Aceh harus berperang secara gerilya, maka sejumlah ulama di Aceh memilih hijrah ke Semenanjung Melayu, dahulu merupakan vasal dari Kesultanan Aceh Darussalam, dan memiliki hubungan batin dengan Aceh. Para pemimpin gerilya memberikan persetujuan dengan tujuan agar para ulama Aceh membangun pusat-pusat pendidikan Islam, terutama meningkatkan Pusat Pendidikan Islam Melayu yaitu Dayah Yan Kedah yang dahulu dibangun pada masa Kesultanan Aceh Darussalam. Beberapa ulama yang berangkat ke Semenanjung Malaya antara lain:

  1. Teungku Muhammad Arsyad Ie Leubeu, yang kemudian terkenal dengan lakab Teungku Chik di Yan;
  2. Teungku Muhammad Saleh, yang kemudian terkenal dengan lakab Teungku Chik di Lambhuk;
  3. Teungku Haji Umar bin Auf , yang kemudian terkenal dengan lakab Teungku Chik di Lam U.

Ketiga ulama Aceh ini bermukim di Yan Kedah dan mengajar di Dayah Yan, merupakan pusat pendidikan Islam dalam Kerajaan Kedah. Dengan kedatangan tiga ulama Aceh tersebut, Dayah Yan Kedan semakin berkembang dan meningkat kualitasnya. Para pemuda Semenanjung Melayu, Patani, Aceh, dan Sumatera lain serta Jawi menuntut ilmu disana. Sedemikian banyaknya pemuda-pemuda Aceh bermukim di sana sehingga terbina sebuah Kampung Aceh, ketika Ali Hasjimy  (Gubenur Aceh) datang kesana ditahun 1970-an sesudah Indonesia Merdeka, menurut kesaksian beliau di kampung tersebut seperti berada di tanah Aceh, karena budak-budak (anak-anak) yang bermain di bawah pokok manggis semua berbicara dalam bahasa Aceh, bahkan orang Tionghoa di pasar Yan, fasih berbahasa Aceh. (Pada Maret 2026, ketika tulisan ini ditulis, kemungkinan keadaan telah berubah. Penulis pernah berkunjung ke negeri Kedah pada tahun 2006, meski unsur-unsur Aceh sebagaimana diceritakan Ali Hasjimy tidak terlalu terlihat lagi, namun penulis masih merasakan bekas-bekas tinggalan orang Aceh disana. Masakan, bangunan, serta logat bicara terasa sangat akrab bagi penulis, tidak ada wilayah yang pernah penulis kunjungi menyerupai Aceh melebihi Kedah).

Pemuda Ahmad Hasballah dengan jiwa dan semangat juang yang telah ditempa di medan perang gerilya, ikut hijrah bersama ayahnya, Teungku haji Umar bin Auf ke Semenanjung Melayu dan menyambung pendidikan di Dayah Yan. Di antara para pemuda Aceh seangkatan dengan Ahmad Hasballah terdapat dua pemuda terkemuka lain yang kelak menonjol dalam sejarah Aceh yaitu Hasan Krueng Kale dan Muhammad Saman. Ketiganya kemudian melanjutkan pelajaran ke Mekah, dan menjadi ulama besar ketika kembali ke Aceh masing-masing dengan lakab: Teungku Haji Hasan Krueng Kale, Teungku Syekh Muhammad Saman, dan Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri.

SEJARAH DAYAH INDRAPURI

Masjid Indrapuri adalah salah satu masjid sebagai pusat ibadah dan pendidikan/kebudayaan yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda (1016-1045 H atau 1607-1636 M). Masjid ini didirikan di atas pondasi bekas candi Hindu/Budha. Masjid Indrapuri menjadi pusat kegiatan umat.

Indrapuri dahulunya masuk dalam Kawasan pusat Kerajaan Hindu/Budha, setelah zaman Islam terutama pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda berubah menjadi pusat pendidikan Islam, salah satu yang terpenting dalam Kerajaan Aceh, sejak itu menghasilkan ulama-ulama dan tenaga ahli bagi Kesultanan Aceh dan wilayah-wilayah taklukannya yang luas.

Masjid Indrapuri Aceh Besar tempat di mana para Sultan Aceh dulunya dilantik.

Peristiwa besar terakhir yang terjadi di masjid Indrapuri adalah pelantikan/penobatan Sultan Aceh Alaiddin Muhammad Daud Syah pada tahun 1290 H (1874 M) ketika beliau masih di bawah umur, sehingga untuk memimpin negara ditunjuk mangkubumi, Tuanku Hasyim Banta Muda sehubungan pada saat itu negara dalam keadaan perang. Dalam sejarah, masjid Indrapuri pernah menjadi pusat Kerajaan Aceh selama beberapa bulan, setelah daerah Indrapuri diduduki Belanda, ibu kota Kerajaan Aceh dipindahkan ke Keumala (Pidie). Wilayah Keumala yang menjadi kedudukan Sultan kemudian dikenal dengan nama “Keumala Dalam” artinya istana Sultan.

Setelah tahun 1903 M, tantara Hindia Belanda telah menangkap pemimpin-pemimpin Kerajaan Aceh seperti Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah, Tuanku Raja Keumala dan Teuku Panglima Polem Muhammad Daud, namun peperangan masih berlanjut di bawah pimpinan para ulama Tiro. Kondisi genting ini membuat Tuanku Mahmudm Tuanku Raja Keumala dan Panglima Polem pada 18 Rajab 1327 H (4 Agustus 1909 M) mengirimkan surat kepada pimpinan perang gerilya yaitu Habib Abdurrahman Teupin Wan, Teungku Hasyim, Teungku Ulee Tutu. Tengku Ibrahim, Teungku Mahyiddin Tiro, dan Teungku Bukit Tiro (dua terakhir adalah putra almarhum Teungku Chik Di Tiro) yang isinya menganjurkan agar dipikirkan Pembangunan kembali pendidikan yang telah kocar-kacir akibat perang. Secara diam-diam mereka mengadakan musyawarah yang menghasilkan Keputusan antara lain:

  1. Sejumlah ulama dan pemimpin gerilya tetap melanjutkan perang dibawah pimpinan Teungku Mahyiddin dan Teungku Bukit.
  2. Sejumlah ulama lain dibolehkan melaporkan diri (menyerah) kepada pemerintah Hindia Belanda, dengan maksud membangun kembali Lembaga pendidikan (dayah) sebagai langkah pertama yang mendasar untuk perjuangan politik agar kelak memperoleh kemerdekaan yaitu pendidikan.

Atas dasar kesepakatan ini, maka sejumlah ulama meletakkan senjata dan meninggalkan medan perang gerilya dan melapor kepada pemerintah Hindia Belanda. Atas anjuran dan bantuan Tuanku Raja Keumala dan Panglima Polem pada tahun 1912 Tengku Haji Ismail (kelak terkenal dengan lakab Teungku Chik Eumpee Trieng) menghidupkan kembali Dayah Indrapuri yang telah puluhan tahun terhenti kegiatannya. Dalam membangun kembali Dayah Indrapuri Teungku Chik Eumpee Trieng dibantu sejumlah ulama lain, diantaranya:

  1. Teungku Hasballah Lam Lubuk Indrapuri;
  2. Teungku Hasyim Indrapuri;
  3. Teungku Haji Ahmad Linteung;
  4. Teungku Haji Aburrasyid Palembang (anak angkat Teungku Chik Eumpee Trieng yang berasal dari Sumatera Selatan);
  5. Teungku Ishak Seuot;
  6. Teuku Raja Lam Ilie;
  7. Teungku Polem Bueng Tujoh Montasik;
  8. Teungku Muhammad Amin Limou;
  9. Waki Saman Lam Lubuk;
  10. Waki Yusuf Seuot.

Setelah berjalan 10 tahun, Dayah Indrapuri belum mencapai kemajuan yang diharapkan, sangat sulit mencapai martabat sebagaimana zaman Kesultanan Aceh Darussalam. Hal ini diakibatkan peperangan masih Meletus. Teungku Chik Eumpee Trieng sendiri juga memiliki tugas membangun dayah-dayah lain di Aceh. Maka pada tahun 1922, diadakan kembali musyawarah penting untuk menilai hasil-hasil yang telah dicapai dan memikirkan usaha-usaha unuk peningkatan berkelanjutan. Dalam musyawarah ini hadir sejumlah bangsawan terkemuka dan sejumlah ulama terbaik saat itu antara lain:

  1. Tuanku Raja Keumala;
  2. Teuku Panglima Polem Muhammad Daud;
  3. Teungku Haji Ismail (Teungku Chik Eumpee Trieng);
  4. Teungku Haji Abdullah Lam U.

Dalam musyawarah tersebut antara lain memutuskan bahwa perlu dicari seorang ulama lain untuk memimpin Dayah Indrapuri. Setelah mendapatkan keterangan dari Teungku Haji Hasan Krueng Kale tentang seorang temannya yaitu Teungku Haji Ahmad Hasballah, yang bersama belajar di Kedah dan Mekah, maka ditetapkanlah bahwa untuk memimpin Dayah Indrapuri perlu menjemput ulama muda yang baru saja pulang dari Mekah (Teungku Ahmad Hasballah) yang waktu itu bermukim di Yan Kedah Semenanjung Tanah Melayu. Demikianlah dikirimkan utusan ke Yan Kedah dengan membawa pesan Tuanku Raja Keumala, Teuku Panglima Polem Muhammad Daud, Teungku Haji Ismail dan Teungku Haji Abdullah Lam U untuk menjemput Teungku Haji Ahmad Habsballah.

Utusan Aceh tersebut mencapai hasil yang diharapkan, Teungku Haji Ahmad Hasballah bersedia pulang ke Aceh untuk memimpin Dayah Indrapuri, akhirnya beliau kembali ke Aceh setelah bertahun-tahun meninggalkannya. Dengan demikian, Dayah Indrapuri mendapat tenaga pimpinan baru, yang ketika belajar di Mekah melihat kemajuan dan semangat Gerakan Wahabi, sehingga memberikan pengaruh kepada pemikiran beliau.

DAYAH INDRAPURI PEMBINA PENDIDIKAN ISLAM MODERN DI ACEH

Di bawah pimpinan Teungku Haji Ahmad Hasballah, Dayah Indrapuri mengalami peningkatan dan kemajuan yang pesat, murid-murid datang dari seluruh tanah Aceh. Langkah pertama yang diambil dalam usahanya untuk memperbaharui pendidikan Islam di Dayah Indrapuri yaitu meningkatkan Pendidikan Iman dan Pendidikan Ibadah. Sesuai dengan pengajaran yang beliau dapatkan di Mekah, Iman dan Ibadah adalah syarat mutlak bagi umat Islam jika ingin bangkit dan maju secara tehormat kembali sebagaimana di masa lalu.

Beliau mendirikan Madrasah Hasbiyah dalam lingkungan Dayah Indrapuri yang terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah, sesuai kurikulum madrasah Islam di Hindia Belanda saat itu, penambahannya adalah Madrasah Habisyah ini menekankan pada pendidikan iman dan pendidikan ibadah.  Selain itu beliau juga mendirikan Al Madrasah Lil Ummahat Tanjung Karang Lhue yang khusus untuk Perempuan, yang menjadi bagian dari Dayah Indrapuri.

Pada era 1930-an, di Aceh Besar ada tiga tempat yang menjadi pusat pergerakan dan tempat mendetak kader-kader pergerakan dan ulama perjuangan, masing-masing memiliki ciri khas yaitu:

  1. Madrasah Jadam di Montasik, pelaksanaan kurikulum dititikberatkan pada pendidikan politik dan wiraswasta;
  2. Perguruan Islam Seulimeum, pelaksanaan kurikulum dititikberatkan pada pendidikan sejarah dan politik;
  3. Madrasah Hasbisyah Indrapuri, pelaksanaan kurikulum dititikberatkan pada pendidikan iman dan ibadah.

Ketiga madrasah tersebut, juga memiliki persamaan yaitu mengajar ilmu keislaman dan ilmu umum antara lain: Tauhid, fiqih, tassawuf, tafsir, Tarikh/sejarah, ilmu bumi, ilmu pasti/alam, falak, bahasa Arab, bahasa Inggris dan sebagainya. Dalam mengelola Madrsah Hasbisyah, Teungku Haji Ahmad dibantu Teuku Ahmad Haji (murid sekaligus menantu) ditambah sejumlah tenaga yang terdiri dari ulama-ulama dan pendidik muda. Selain itu Dayah Indrapuri/Madrasah Hasbisyah juga menjadi pusat pergerakan kader pejuang kemerdekaan, disana bermarkas PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh), Pemuda PUSA, Kepanduan Islam, PERAMIINDO (Pergerakan Angkatan Muda Islam Indonesia), Perhimpunan Kemerdekaan Akhirat (Jamiah Al Ataqiyah Al Ukhrawiyah) dan Serikat Islam.

Kongres PERAMIINDO Pergerakan Angkatan Muda Islam Indonesia tahun 1940 di Indrapuri. (Repro)

Dayah Indrapuri kelak akan menghasilkan ulama-ulama, kaum pendidik dan pemimpin pergerakan, diantaranya:

  1. Teuku Ahmad Haji (murid sekaligus menantu). Pembantu utama Teungku Ahmad Hasballah;
  2. Teungku Haji Muda Wali, kemudian menjadi pemimpin Madrasah Islamiyah di Labuhan Haji, Aceh Selatan;
  3. Tuanku Abdul Aziz, seorang bangsawan sekaligus ulama, yang menjadi ketua MAIBKATRA (Majelis Islam Asia Timur Raya);
  4. Teungku Abdullah Husin, salah satu tokoh Partai Serikat Islam di Aceh.
  5. Teungku Muhammad Sufi Glee Karong, anak dari Teungku Haji Ismail (Teungku Chik Eumpee Trien), ulama yang sangat kuat dalam pendirian akidah.

Dayah Indrapuri juga berfungsi sebagai pusat pengembangan tilawatil quran telah berjasa mencetak banyak qurra yang ahli membaca Al-quran, kemudian menjadi imam-iman shalat dan guru di seluruh Aceh.

PERAN TEUNGKU HAJI AHMAD HASBALLAH INDRAPURI DALAM PERGERAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA

Pada tahun 1922, setbanya di tanah Aceh, Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri selain memimpin dayah juga masuk ke dalam pergerakan politik dengan menjadi anggota Serikat Islam yang telah berkembang di Aceh, para pembantu dan murid-murid juga menjadi anggota sehingga Dayah Indrapuri merupakan tempat di mana Serikat Islam sangat aktif bergerak.

Setelah tahun 1926, Serikat Islam dilarang diseluruh Aceh oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, maka Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri mendirikan satu pergerakan politik dengan nama Perhimpunan Kemerdekaan Akhirat (Jamiah Al Ataqiyah Al Ukhrawiyah). Beliau selaku ketua umum, perhimpunan ini dengan cepat berkambang dan mengantikan Serikat Islam yang telah dilarang, tujuannya adalah membina kesadaran politik bagi para pemuda dengan lebih dahulu membangun kesadaran iman dan ibadah.

Daud Beureueh bersama ulama-ulama Aceh dalam PUSA

Pada 5 Mei 1939 PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) didirikan, Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri menjadi ketua Majelis Syura. Selain itu beliau menjadi penasehat berbagai organisasi pemuda, seperti Pemuda PUSA, SEPIA (Serikat Pemuda Islam Aceh), K.I (Kepanduan Islam), PERAMIINDO (Pergerakan Angkatan Muda Islam Indonesia). Setelah Indonesia Merdeka, beliau menjadi salah satu pimpinan Partai Masyumi di Aceh. Dibidang pemerintahan beliau juga pernah menjabat antara lain:

  1. Kadli pada Teuku Panglima Polem Muhammad Daud kepala Mukim XXII pada zaman Belanda;
  2. Saibantyo Ku-Hoin (Ketua Pengadilan) di zaman pendudukan Jepang;
  3. Anggota Pengadilan Tentara Divisi X di zaman awal Republik Indonesia;
  4. Ketua bagian kehakiman pada Dewan Agama Keresidenan Aceh;
  5. Ketua Mahkamah Syariah Keresidenan Aceh;
  6. Anggota Mahkamah Islam Tinggi;
  7. Ketua Majelis Ifta (Fatwa) pada Jawatan Agama Keresidenan Aceh.

GERAKAN BAWAH TANAH DAN LATAR BELAKANG PERANG ASIA TIMUR

Dengan latar belakang Perang Asia Timur Raya (Perang Pasifik) pecah pada 7-8 Desember 1941, ditandai dengan serangan mendadak Jepang ke Pearl Harbor. Konflik ini merupakan bagian dari Perang Dunia II. Para pemimpin PUSA membahas segala kemungkinan yang akan terjadi, dan ditarik kesimpulan bahwa Jepang akan segera merebut Aceh dari Belanda, sehingga timbul wacana untuk bekerja sama dengan Jepang. Sekalipun diyakini Jepang adalah penjajah yang haus kekuasaan diperkirakan bahwa mereka tidak akan mampu bertahan lama karena akan berhadapan dengan sekutu. Maka diambil sebuah sikap jika nanti Jepang nantinya terusir dan kalah, maka sikap pemimpin PUSA hanya satu, yaitu melawan Belanda yang mungkin datang lagi.

Untuk melaksanakan hal tersebut dalam kalangan Pemuda Pusa didirikan sebuah “Gerakan Bawah Tanah” yang diberi nama “GERAKAN FAJAR” dengan singkatan “Gerakan F”. dipimpin olej dua orang tokoh Pemuda PUSA yaitu Ali Hasjmy dan Ahmad Abdullah, keduanya adalah guru pada Perguruan Islam Seulimeum, dan diawasi oleh dua ulama besar yang menjadi pimpinan pengurus besar PUSA yaitu Teungku Haji Abdul Wahab Seulimeum (Pemimpin Perguruan Islam) dan Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri (Pimpinan Madrasah Hasbiyah).

Gerakan F mulai melaksanakan programnya dengan cepat dan hati-hati, usaha-usaha sabotase dan bentuk perlawanan dilakukan, terutama di wilayah Aceh Besar, mulai dilakukan pada akhir tahun 1941 antara lain menganggu bivak Belanda di Indrapur, kawat-kawat telpon pun dipotong, hal ini mulai membuat kekuasaan Belanda di Aceh menjadi gelisah. Gerakan F juga mengadakan hubungan dengan militer Jepang di Malaya dan Singapura. Said Abubakar, salah seorang pimpinan pemuda PUSA yang sedang berada di Yan Kedah diminta untuk mengadakan kontak dengan pimpinan tantara Jepang, selain itu Teungku Abdul Hamid Samalanga juga dikirim ke Malaya.

Said Abubakar kemudian kembali ke Aceh dengan membawa tugas dari Mayor Fujiwara, sehingga gerakannya dinamakan “Fujiwara Kikan” atau Gerakan Fujiwara jika dipendekkan menjadi Gerakan F sama dengan Gerakan Fajar. Misi Abubakar dengan Gerakan Fujiwara disampaikan kepada pucuk pimpinan PUSA dan ditemani oleh Ahmad Abdullah dari Gerakan fajar, disampaikan juga kepada Teuku Nyak Arief (seorang uleebalang yang nasionalis). Dengan usaha bersama-sama dan didukung rakyat Gerakan F merata ke seluruh Aceh, dan perlawanan  terhadap kekuasaan bermunculan dimana-mana. Pada awal tahun 1942, bentuk perlawanan telah meluas dari Aceh Besar sampai ke Pidie juga Aceh Barat dan Aceh Selatan.

Tanggal 19-20 Februari 1942 terjadi penyerbuan ke kota Seulimeum, sehingga Controleur (Kontrolir atau Kepala Pemerintahan Belanda pada satu Kawasan) J.C. Tiggelman terbunuh, Dilanjutkan 23-24 Februari terjadi pertempuran di Keumire (sekitar 15 km dari arah Seulimeum ke Banda Aceh), dalam insiden tersebut Kepala Eksploitasi Kereta Api Aceh, Bernstorf Von Sperling dan Graaf U, seorang penguasa Belanda terbunuh. Keadaan di Aceh Besar semakin parag, sehingga pemerintah kolonial Hindia Belanda terpaksa menjadikan wilayah Seulimeum dibawah pimpinan militer, ditunjuk Majoor W.F. Palmer van den Broek seorang Commandant pan het korp Marchaussee mejadi kepala pemerintahan sipil/militer wilayah Seulimeum. Cerita singkat, Maret 1942 Jepang memasuki Aceh dan tak lama kemudian kekuasaan Belanda di Aceh runtuh untuk selamanya.

FATWA PERANG SABIL DARI TEUNGKU HAJI AHMAD HASBALLAH INDRAPURI

Selama masa pendudukan militer Jepang di Aceh Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri menerima untuk diangkat menjadi  Saibantyo Ku-Hoin (Ketua Pengadilan), hal ini memberikan jalan untuk membela rakyat tertindas, selain itu juga untuk mengukuhkan akidah dan ibadah umat Islam dalam menghadapi upaya-upaya Jepang untuk melunturkannya. Disamping itu belian memberikan dukungan kuat kepada Pemuda PUSA yang bermarkas di Aceh Sinbun, menjelang kekuasaan Jepang berakhir beliau melakukaan telaah bahwa adanya kemungkinan Belanda akan datang lagi ke Aceh. Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri mendukung dan berusaha agar mencapai Indonesia Merdeka.

Ketika Proklamasi kemerdekan Indonesia sampai kabarnya ke Aceh. Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri bersama tiga ulama besar lain di Aceh mengeluarkan sebuah fatwa yang menyatakan kewajiban berjihad untuk mempertahankan kemerdekaan dan jika tewas maka berlaku hukum mati syahid, pernyataan selengkapnya berbunyi:

“Perang Dunia kedua yang mahadasyat telah tamat. Sekarag di barat dan di timur oleh empat Kerajaan besar sedang diatur perdamaian dunia yang abadi untuk keselamatan makhluk Allah. Dan Indonesia tanah tumpah darah kita telah dimaklumkan kemerdekaannya kepada seluruh dunia serta telah berdiri Republik Indonesia di bawah pimpinan yang mulia mahapemimpin kita Ir. Sukarno.

Belanda adalah satu Kerajaan kecil serta miskin satu negeri yang lebih kecil dari daerah Aceh dan hancur lebur, mereka telah bertindak melakukan kekhiatanannya kepada tanah air kita Indonesia yang sudah Merdeka itu, untuk dijajah kembali.

Kalau maksud yang jahanam itu berhasil, maka pastilah mereka akan memeras segala lapisan rakyat, merampas semua harta benda negara dan harta rakyat dan segala kekayaan yang kita kumpulkan selama ini akan musnah sama sekali. Mereka akan memperbudak rakyat Indonesia menjadi hambanya kembali dan menjalankan usaha untuk mengapus agama Islam kita yang suci serta menindas  dan menghambat kemulian dan kemakmuran bangsa Indonesia.

Di Jawa Barat Belanda dan kaki-tangannya telah melakukan keganasannya terhadap Republik Indonesia hingga terjadi pertempurn di beberapa tempat yang akhirnya kemenangan berada di pihak kita, Sungguhpun begitu, mereka belum juga insaf.

Segenap lapisan rakyat telah bersatu padu dengan patuh di belakang mahapemimpin Ir. Sukarno untuk menunggu perintah dan kewajiban yang akan dijalankan.

Menurut keyakinan kami bahwa peperangan ini adalah perjuangan suci yang disebut perang sabil.

Maka percayalah wahai bangsa kami, bahwa perjuangan ini adalah sambungan perjuangan dahulu di Aceh yang dipimpin Teungku Chik di Tiro dan pahlawan-pahlawan kebanggan yang lain.

Dari sebab itu, bangunlah wahai bangsa kami sekalian, bersatu padu Menyusun bahu mengangkat langkah maju ke muka untuk mengikut jejak perjuangan nenek kita dahulu. Tunduklah dengan patuh akan segala perintah-perintah pemimpin kita untuk keselamatan tanah air, agama dan bangsa.”

Kutaraja, 15 Oktober 1945,

Atas nama Ulama Seluruh Aceh

Teungku Haji Jakfar Siddik Lamjabat

Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri

Teungku Haji Hasan Kruengkale

Teungku Muhammad Daud Beureueh

Pernyataan empat ulama besar ini sangat besar pengaruhnya dalam menggerakan semangat rakyat Aceh untuk berperang melawan Belanda dan kaki-tangannya. Hal ini mengakibatkan kekuatan militer Hindia Belanda tidak berani kembali ke Aceh dalam dua agresinya yang terkutuk tersebut.

TEUNGKU HAJI AHMAD HASBALLAH INDRAPURI ANTI KOMUNIS

Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri terkenal sangat anti komunis, dan selalu berjuang melawan atheism. Beliau berkeyakinan bahwa dengan kemurnian akidah dan ibadah maka umat Islam akan menang melawan musuh-musuhnya. Beliau sangat gusar melihat kenyataan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) sangat leluasa menggunakan pengaruhnya terutama setelah penyerahan kedaulatan pada Konfrensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949. Hati beliau masygul melihat pemerintah memberikan kemudahan dan kesempatan PKI bergerak, sementara golongan-golongan bukan komunis semakin terdesak.

Kenyataan ini berkali-kali dibicarakan dalam rapat pucuk pimpinan PUSA, dimana beliau berpendapat agar PUSA menahan laju komunis. Bahkan pada kongres PUSA terakhir pada tahun 1950 hal ini juga dibicarakan.

Tindakan pemerintah pusat untuk membubarkan Provinsi Aceh dan menggabungkan wilayah Aceh kedalam provinsi Sumatera Utara membuat pada bulan September 1953 memberontak kepada pemerintah Republik Indonesia. Provokasi dan hasutan kaum komunis membuat pemberontakan rakyat Aceh di bawah panji DI/TII (Darul Islam /Tentara Islam Indonesia) akhirnya pecah, Teungku Muhammad Daud Beureueh, ketua pengurus besar PUSA memimpin pemberontakan, dibantu beberapa ulama lain. Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri termasuk yang mendukung dan diangkat menjadi Ketua Majelis Syura.

Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri sebagaimana ulama Aceh yang lain dari semula tidak anti Pancasila, dan berpendapat tdak bertentangan dengan Islam. Tapi merasa gerah setelah kaum komunis mengacaukan Pancasila memeras menjadi Trisila dan akhirnya Ekasila yaitu gotong royong. Beliau dan ulama-ulama Aceh yang lain berpendapat jika hanya menjadi gotong royong maka hilanglah Ketuhanan yang Maha Esa, kemanusian yang beradab, persatuan Indonesia, musyawarah dan keadilan sosial.

Pemerintah melalui Panglima Kodam I Iskandar Muda Syamaun Gaharu dan Gubernur Aceh Ali Hasjmy kemudian berhasil meyakinkan ulama-ulama Aceh bahwa kaum komunis tidak akan mampu menghapuskan Ketuhanan yang Maha Esa dari bumi Indonesia, barulah mereka bersedia kembali ke pangkuan Republik Indonesia, dengan demikian Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri turun dari medan gerilya.

Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri berkeinginan untuk hijrah untuk kedua kalinya ke Semenanjung Melayu, karena di kampung Yan Kedah disanalah ayahnya berkubur. Dengan persetujuan Panglima Kodam I Iskandar Muda dan Gubernur Aceh pada akhir tahun 1958 beliau berangkat kesana. Takdir Allah, 29 April 1959 Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri meninggal dunia, beliau meninggalkan seorang istri dan sebelas orang anak, dikebumikan di kampung Yan Kedah, dekat makam ayahnya Teungku Haji Umar,

Demikianlah Riwayat hidup Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri (3 Juni 1888 – 29 April 1959) tulisan ini saduran dari tulisan Ali Hasjmy dengan judul: Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri Ulama Ahlussunah Penganjur Aliran Wahabi Pendiri Perhimpunan Kemerdekaan Akhirat. Pada Majalah Sinar Darussalam (ISSN 0125-9601) No.  108/109 Mei/Juni 1980 halaman 224-241.

Artikel-artikel tentang Aceh:

  1. HIKAYAT-HIKAYAT DARI NEGERI ACEH 16 DESEMBER 2017;
  2. LEGENDA GAJAH PUTIH SEBAGAI ASAL NAMA KABUPATEN BENER MERIAH; 12 JANUARI 2018;
  3. SECANGKIR KOPI DARI ACEH; 22 JANUARI 2018;
  4. ACEH PUNGO (ACEH GILA); 8 FEBRUARI 2018;
  5. SIAPAKAH ORANG ACEH SEBENARNYA; 6 APRIL 2018;
  6. ORANG ACEH DALAM SEJARAH SUMATERA; 15 APRIL 2018;
  7. KETIKA IBNU BATTUTA MELAWAT SAMUDERA PASAI; 16 APRIL 2018;
  8. KISAH HIDUP LAKSAMANA MALAHAYATI; 18 APRIL 2018;
  9. PERANAN LEMBAGA TUHA PEUET DALAM MASYARAKAT ACEH PADA MASA LAMPAU; 5 MEI 2018;
  10. MENYINGKAP MAKNA SYAIR KUTINDHIENG SELAKU MANTRA SIHIR ACEH KUNO; 15 MEI 2018;
  11. SEJARAH KERAJAAN LAMURI; 24 JUNI 2018;
  12. KEBIJAKAN POLITIK ISLAM OLEH SNOUCK HURGRONJE SEBAGAI SARAN KEPADA PEMERINTAH HINDIA BELANDA UNTUK MENGHANCURKAN KEKUATAN ISLAM DI INDONESIA; 25 JUNI 2018;
  13. MASA DEPAN POLITIK DUNIA MELAYU; 28 JULI 2018;
  14. EDISI KHUSUS SERI PAHLAWAN NASIONAL PRANGKO 100 TAHUN CUT NYAK DHIEN; 8 AGUSTUS 2018;
  15. MEMOAR PANGLIMA POLEM SEORANG PEJUANG PERINTIS KEMERDEKAAN; 19 SEPTEMBER 2018;
  16. PUTROE PHANG JULUKAN DARI TENGKU KAMALIAH SEORANG PUTRI KESULTANAN PAHANG; 28 SEPTEMBER 2018;
  17. TEUKU NYAK ARIEF SEORANG YANG TULEN BERANI DAN LURUS SEBAGAI RENCONG ACEH DI VOLKSRAAD; 17 OKTOBER 2018;
  18. RINCIAN ISI KANUN MEUKUTA ALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM YANG DISUSUN PADA MASA PEMERINTAHAN SULTAN ISKANDAR MUDA; 26 OKTOBER 2018;
  19. CATATAN SEJARAH RANTAI BABI ATAU RANTE BUI DALAM TULISAN YANG DISUSUN KOLONIAL BELANDA; 26 OKTOBER 2018;
  20. PASUKAN MERIAM NUKUM SANANY SEBUAH PASAK DARI RUMAH GADANG INDONESIA MERDEKA; 4 NOVEMBER 2018;
  21. PENEMUAN ARCA KEPALA ALALOKITESWARA SEBAGAI JEJAK KEBERADAAN PERADABAN AGAMA BUDHA DI ACEH; 18 NOVEMBER 2018;
  22. REVOLUSI DESEMBER ’45 DI ACEH ATAU PEMBASMIAN PENGKHIANAT TANAH AIR; 6 FEBRUARI 2019;
  23. LEBURNJA KERATON ATJEH; 11 MARET 2019;
  24. HADIH MAJA PENGAJARAN SERTA HIBURAN WARISAN LELUHUR; 27 MARET 2019;
  25. HAME ATAU PANTANGAN ORANG ACEH DARI MASA LAMPAU; 19 JUNI 2019;
  26. SINGA ATJEH BIOGRAPHI SERI SULTAN ISKANDAR MUDA; 6 AGUSTUS 2019;
  27. APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA; 17 OKTOBER 2019;
  28. PERBANDINGAN PENGUCAPAN BAHASA ACEH DENGAN BAHASA INDONESIA; 30 DESEMBER 2019;
  29. BERBAGAI BAHASA DAERAH DI ACEH; 30 JANUARI 2020;
  30. LOKASI ISTANA KERAJAAN ACEH DULU DAN SEKARANG; 27 FEBRUARI 2020;
  31. MEREKONSTRUKSIKAN KEMBALI LETAK ISTANA DARODDONYA; 3 MARET 2020;
  32. LEGENDA DAN MITOS ASAL USUL PENAMAAN PULAU SABANG, GUNUNG SEULAWAH, PANTAI ALUE NAGA DAN KAWASAN ULEE LHEU; 29 MEI 2020;
  33. LEGENDA ASAL USUL GUNUNG GEURUTEE; 1 JUNI 2020;
  34. HAMZAH FANSURI PERINTIS SASTRA MELAYU; 4 JULI 2020;
  35. GEREJA PERTAMA DI ACEH; 12 JULI 2020;
  36. PERISTIWA TERBUNUHNYA TEUKU UMAR; 1 AGUSTUS 2020;
  37. SISTEM PERPAJAKAN KERAJAAN ACEH; 14 AGUSTUS 2020;
  38. SEJARAH KERAJAAN PEDIR (POLI) ATAU NEGERI PIDIE; 18 AGUSTUS 2020;
  39. SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO); 21 AGUSTUS 2020;
  40. KETIKA ACEH MINTA MENJADI VASAL TURKI USTMANI; 21 SEPTEMBER 2020;
  41. HENRICUS CHRISTIAN VERBRAAK MISIONARIS KATOLIK PERTAMA DI ACEH; 23 SEPTEMBER 2020;
  42. BUSTANUS SALATIN PANDUAN BERKUASA PARA SULTAN ACEH; 27 SEPTEMBER 2020;
  43. SEJARAH PENDIRIAN PUSA (PERSATUAN ULAMA SELURUH ACEH); 16 OKTOBER 2020;
  44. PARA ULEEBALANG RAJA KECIL DI ACEH DARI MASA KESULTANAN SAMPAI REVOLUSI SOSIAL (1512-1946); 25 OKTOBER 2020;
  45. KENAPA SULTAN ACEH MENYERAH PADA BELANDA; 9 APRIL 2021;
  46. HIKAYAT MEURAH SILU; 8 JUNI 2021;
  47. SULTAN ALAIDDIN MAHMUDSYAH II, SULTAN ACEH MERDEKA TERAKHIR; 29 JUNI 2021;
  48. RAJA DEKAT TUHAN JAUH; 3 AGUSTUS 2021;
  49. BERZIARAH KE MESJID ASAL PENAMPAAN DI BLANGKEJEREN GAYO LUES; 17 AGUSTUS 2021;
  50. KISAH-KISAH DI BLANG; 22 NOVEMBER 2021;
  51. ORIDA (OEANG REPUBLIK INDONESIA) ACEH 1947-1949; 14 JANUARI 2022;
  52. ACEH YANG DILUPAKAN; 29 MARET 2022;
  53. PROSA ALAM GAYO LUES; 8 AGUSTUS 2022;
  54. ADAT PELANTIKAN PEMAHKOTAAN PENABALAN SULTAN ACEH DARUSSALAM; 10 JANUARI 2023;
  55. SUSUNAN PEMERINTAHAN ACEH SEMASA KESULTANAN; 14 APRIL 2023;
  56. HIKAYAT SEJARAH ASAL MULA RENCONG; 22 JUNI 2023;
  57. MASIHKAH ORANG ACEH BERJIWA PENYAIR; 25 JUNI 2023;
  58. SEJARAH BENTUK DAN FILOSOFI RUMAH ACEH; 9 JULI 2023;
  59. MENJAWAB POLEMIK MAKAM TANDINGAN SYEKH ABDUR RAUF AS-SINGKILI ATAU TENGKU SYIAH KUALA; 12 MEI 2024;
Unknown's avatar

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.