KENANGAN AKAN GERIMIS
Adakah engkau masih mengingat
Kala gerimis membasahi bumi
Kita pernah berjalan pelan
Mengharumi aroma hujan berdua
Ketika gerimis turun
Segala keindahan turun ke bumi
Sebagai tanda rahmat dari sang Pencipta
Bahkan pada insan yang durhaka
Ketika itu kita masih muda
Penuh cita dan cinta
Menantang kejam dunia dengan rasa
Dan sekejap saja kita telah menua
Tahun demi tahun telah berlalu
Dengarlah suara kematian yang semakin dekat di setiap detiknya
Titik-titik hujan itu jatuh pelan
Aku berpulang dengan perasaan enggan
Tahun ini apa yang telah aku lakukan
Tetesan hujan dipunggungku semua tertelan gemuruh dilangit
Sebenarnya aku tak tahu apa yang aku inginkan sekarang
Hanya satu malam saja akan berakhir
Pernah merasa jalannya waktu terlalu pelan
Pernah merasa jalannya waktu terlalu cepat
Pernah rasanya ingin mengulang ke belakang
Tapi akhirnya aku tak kembali
15 Puisi terakhir
- Menjadi Seseorang; 27 Januari 2009;
- Orang Asing Yang Terasing; 3 Februari 2009;
- Anak-Anak Bermain Bola; 26 Februari 2009;
- Dua Puluh Lima Tahun Seperempat Abad Sudah; 2 Maret 2009;
- Wajah Iblis Sang Malaikat; 12 Maret 2009;
- Hanyalah Lelaki Biasa; 6 April 2009;
- Malam Ini Biarkanku Menyendiri; 20 April 2009;
- Mencumbui Kematian Sebuah Elegi; 16 Mei 2009;
- Ode Seekor Elang; 8 Juni 2009;
- Pledoi Iblis; 12 Juni 2009;
- Berakhir Disini; 16 Juli 2009;
- Cerita Sebuah Gudang; 14 Januari 2010;
- Selamat Ulang Tahun Mama; 1 Februari 2010;
- Pledoi Iblis Jilid Dua; 14 Mei 2010;
- Sang Maha Durjana; 18 Juni 2010;

Pingback: RENUNGAN MALAM | Tengkuputeh
Pingback: MALAM INI BIARKAN AKU MENYENDIRI | Tengkuputeh
Pingback: TAHUKAH ENGKAU CINTA - TengkuputehTengkuputeh
Pingback: PUISI TERINDAH - TengkuputehTengkuputeh
Pingback: DENGARLAH SUARA KEMATIAN | Tengkuputeh
Pingback: BARA API IDEALISME | Tengkuputeh
Pingback: NUN | Tengkuputeh
Pingback: YANG TERCINTA MALAHAYATI | Tengkuputeh
Pingback: CINCIN | Tengkuputeh
Pingback: MONOLOG BULAN | Tengkuputeh
Pingback: CONTOH PUISI CINTA BAHASA GREENLAND/KALAALLISUT (EQQAAMASSAT DRZZLE-MIK) | Tengkuputeh