Tag Archives: Syair

PASRAH

Aku mundur dari medan pertempuran, untuk alasan-alasan yang sekarang pun tak mampu kusarikan dalam kata-kata, aku mendapati diriku menangis, tetapi mungkin karena aku terlalu lelah. Kalau aku tidak ingin menjadi sesuatu yang kubenci, maka lebih baik aku pergi. Aku merasa letih dan ingin sendiri. Continue reading

Rate this:

Posted in Cerita, Kolom, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

BENAK

Terkadang seorang penyair terlalu membesarkan apa yang ada dibenaknya, layaknya kecemasan burung jalak seolah mimpi seorang raja. Tapi itu perlu, apalah penghiburan bagi pemegang kuasa akan kata selain syair, sederhana bagi awam tapi luar biasa bagi yang paham. Continue reading

Rate this:

Posted in Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

MUSAFIR

Semua berawal dari pergi dan berakhir pada pulang. Hingga mendapati jatuh dan tak bisa bangkit lagi, tersesat dan tak tahu jalan pulang. Tiap-tiap langkah terlewat adalah sejarah. Dibalik diam ada syair, dalam gerak ada zikir. Continue reading

Rate this:

Posted in Kisah-Kisah, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

SEBUAH PUSAKA UNTUKMU ANAKKU

Adalah engkau, anakku alasan itu. Ada yang terindukan ketika aku menyebut namamu. Disitu pula ada gentar yang getar. Apakah ini mendahului takdir-Nya, dan keyakinanku bahwa IA maha pengasih lagi maha penyayang, membuatku berazzam melanjutkan menulis untukmu bersama pasrah sekaligus gairah. Continue reading

Rate this:

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

YANG MEMUKAU TAK SELAMANYA MEMUKAU

Ketika masa lalu mengelak, ketika (kita) tak merasa terkait dengan petilasan tua, disitulah harapan hadir. Harapan atas keyakinan berjuang untuk setia pada mimpi, adalah kegilaan yang memberi harga pada manusia. Continue reading

Rate this:

Posted in Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

EFEK KUPU-KUPU

Ketahuilah bahwa kita hidup tidak bersendirian meski sedang bersendiri, ada malaikat di sisi sekaligus Iblis di sisi yang lain. Engkau si batu merah berhati-hatilah sekaligus jangan terlalu berhati-hati. Jikalah mungkin, tantanglah sang matahari. Milikilah kemarahan yang membara. Gagallah berkali-kali, jatuhlah dengan teruk. Karena dengan jatuh, engkau belajar untuk bangkit. Continue reading

Rate this:

Posted in Cerita, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

ODE SEEKOR HARIMAU

Duhai Harimau, bagaimana perasaanmu? Akan kakimu yang dirantai? Engkau bisu. Dada membusung itu kini tiada. Mungkinkah engkau sudah lupa akan harumnya tanah basah dipegunungan yang bertaut pada perdu durian. Pada lezatnya pepaya matang, pada manis landak hutan. Matamu tak mengenal air mata bukan? Continue reading

Rate this:

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 14 Comments

POLITIK ABU NAWAS

Abu Nawas terasa begitu akrab. Tiap kali seorang tokoh ditampilkan dengan perkasa, tercipta jarak. Jarak untuk mengangumi dari jauh, berusaha paham dengan arif. Dan untuk itu Abu Nawas hadir menampilkan ironi, membuka pintu menuju arif. Tak heran ia menjangkau siapa saja. Continue reading

Rate this:

Posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 13 Comments

BERAI ASSOSIASI BUDJANG LAPOK

Belakangan ini, Assosiasi Budjang Lapok sudah jarang berbual-bual dalam lepau nasi. Jarang sudah berassosiasi. Berai. Continue reading

Rate this:

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 44 Comments

TITIK TIADA KEMBALI

Dan ini adalah titik tiada akan kembali, adalah hidup sebuah pilihan untuk terus melangkah. Ketika bertemu kembali, diruang dan waktu yang lain lebih baik tanpa kata. Bebaskanlah tanggungjawab akan kata. Biarkan udara melingkupi jagad tanpa sepatah kalimat. Apapun itu ketika kaki melangkah, tiada guna menoleh kebelakang. Sungguh aku mengetahui bahwa akhir itu sudah dekat dan telah selesai menangisi hilangnya yang mutlak. Continue reading

Rate this:

Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , | 1 Comment