About tengkuputeh
Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Sebenarnya dia tak lebih dari seorang lelaki busuk dengan impian muluk. Seseorang dengan keangkuhan dan berpusat pada dirinya, berpikir bahwa dunia tercipta hanya untuknya. Continue reading →
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku
|
Tagged Cerita, Cinta, Dara, Drama, Dunia, Durjana, Gelap, Hidup, Kampung, Laki-laki, Malam, Manusia, Menulis, Nona, Perempuan, Puisi, Saga, Sastra, Surealis, Syair
|
Kaum pemuda (tentunya pemudi termasuk didalamnya) merupakan pendobrak ketika generasi yang lebih tua mengalami pengapuran, untuk memberi energi baru kepada bangsa ini kerap kali menyelamatkan bengsa untuk direfresh kembali. Sifat bertindak tanpa berpikir terkadang diperlukan dalam situasi tertentu. Continue reading →
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Kolom, Mari Berpikir, Opini
|
Tagged Aceh, Assosiasi, Budaya, Cerita, Dunia, Hidup, Hikayat, Islam, Kampung, Kembali, Laut, Lhokseumawe, logika, Manusia, Menulis, Mesin, Mimpi, Nusantara, Pengembangan, Peradaban, Sejarah, Sosial, Tradisi, Waktu
|
Dia adalah perwujudan sifat indiffrent, acuh. Wajahnya setenang telaga yang tak terduga kedalamannya bagi siapapun jua. Dia adalah pembuktian mengapa patung dewi Venus selalu dipuja dalam keheningannya. Continue reading →
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku
|
Tagged Andalusia, Arab, Bujang, Cerita, Cinta, Dara, Drama, Dunia, Hidup, Islam, Kota, Laki-laki, logika, Manusia, Mimpi, Nona, Perempuan, Puisi, Sastra, Sejarah, Surealis, Syair, Tradisi, Waktu
|
Sang Tiran berkuasa menggunakan ketakutan, seorang tiran mengekploitasikan segala potensi dari ketakutan ketakutan. Teror adalah sebuah instrumen penting yang digunakan untuk menekan pihak lain sebelum yang ditekan itu punya keinginan untuk melawan. Continue reading →
Posted in Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, Opini, Pengembangan diri
|
Tagged Budaya, Cerita, Drama, Dunia, Durjana, Gelap, Hidup, Hikayat, Indonesia, Kampung, Kembali, Kota, Laki-laki, Lanun, Legenda, logika, Menulis, Mesin, Metropolis, Nusantara, Pengembangan, Peradaban, Politik, Saga, Sastra, Sejarah, Sosial, Surealis, Waktu
|
Inikah perempuan yang bertahun lalu mencuri hatiku. Memang senyumnya masih sama, tapi garis waktu telah menenggelamkan kemudaan darinya. Continue reading →
Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah
|
Tagged Aceh, Banda Aceh, Bujang, Cerita, Cinta, Dara, Drama, Dunia, Hidup, Kembali, Kota, Laki-laki, Manusia, Mimpi, Nona, Perempuan, Sejarah, Waktu
|
Kisah percakapan imajinier seorang Bocah yang mempertanyakan bentuk bumi. Continue reading →
Posted in Asal Usil, Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri
|
Tagged Aceh, Budaya, Cerita, Drama, Dunia, Hidup, Indonesia, Islam, Kampung, Kembali, Kerajaan Lama, Kota, Laki-laki, Lhokseumawe, logika, Manusia, Menulis, Mimpi, Nusantara, Pengembangan, Sosial
|
Layakkah dirimu, yang telah menolakku mendapatkan cintaku. Meski sebuah kerajaan engkau tawarkan padaku, sama saja. Ikatan itu telah pudar. Arang telah mencoreng keningku. Continue reading →
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature
|
Tagged Cerita, Cinta, Dara, Drama, Dunia, Hidup, Kampung, Kembali, Laki-laki, logika, Manusia, Mimpi, Nona, Perempuan, Sastra, Surealis, Syair, Waktu
|
Topeng! Bagaimana kita memaknai kata tersebut. Dalam banyak tulisan Topeng dimaknai buruk. Sebuah pertanda kemunafikan dimana seseorang tidak menjadi dirinya sendiri. Topeng darimana asal kata tersebut secara etimologi? Mungkinkah ia merupakan singkatan dari Tutup Bopeng? Continue reading →
Posted in Asal Usil, Kolom, Opini, Pengembangan diri
|
Tagged Budaya, Cerita, Drama, Dunia, Durjana, Gelap, Hidup, Iblis, Indonesia, Kampung, Kota, Laki-laki, Lanun, logika, Menulis, Mesin, Mimpi, Pengembangan, Politik, Sastra, Sosial, Surealis, Syair, Tradisi, Waktu
|
Aku yang telah mengembara sepanjang pesisir barat dan timur
Di tepi pantai yang sunyi ini, aku menyendiri dan bersaksi.
Aku cinta hidup ini, saat aku menangis ketika separuh negeri menjadi lautan. Continue reading →
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku
|
Tagged Aceh, Asmara, Budaya, Cerita, Cinta, Dara, Dunia, Hikayat, Islam, Kampung, Kembali, Kerajaan Lama, Kota, Laki-laki, Laut, Legenda, Lhokseumawe, logika, Malaikat, Malam, Manusia, Menulis, Mesin, Mimpi, Nona, Puisi, Sastra, Sejarah, Surealis, Syair, Tradisi, Waktu
|
Senyum merekah bibir merah
Bagai mawar ditengah sepi
Menanti cinta musafir lalu
Luruh dan lusuh terenggut paksa
Lirikan mata yang sayu
Biru seperti pelangi Continue reading →
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Puisiku
|
Tagged Asmara, Cerita, Cinta, Dara, Drama, Dunia, Hidup, Kembali, Laki-laki, logika, Malaikat, Malam, Manusia, Mimpi, Nona, Nusantara, Perempuan, Puisi, Sastra, Sejarah, Surealis, Syair, Waktu
|