PALESTINA ADALAH KITA

Palestina adalah kesedihan. Sepatah dua patah cerita tentang orang-orang yang kehilangan kemerdekaan, tanah yang dirampas dan orang-orang teraniaya.

PALESTINA ADALAH KITA

Di depan gedung parlemen Israel (Knesset) masih berdiri tulisan yang menjadi landasan politik Israel, bahwa “Luas wilayah Israel adalah dari sungai Eufrat (Irak) sampai ke sungai Nil (Mesir).” Selagi itu masih dijadikan dasar Negara Israel tampaknya kemungkinan damai di Timur Tengah sangat kecil. Israel sendiri sebagai sebuah Negara yang disokong oleh Amerika Serikat merupakan kekuatan besar yang memiliki segalanya, militer tangguh, keuangan persejataan yang kuat, menguasai media serta industri yang maju.

Maka, Palestina adalah kesedihan. Sepatah dua patah cerita tentang orang-orang yang kehilangan kemerdekaan, tanah yang dirampas dan orang-orang teraniaya. Gema Palestina ini sedemikian sering terlupakan. Ketika tindakan kekerasan pihak keamanan Israel yang menyebabkan 3 orang Jemaah tewas dan lebih dari 100 luka-luka di kompleks Masjid Al-Aqsa, sebuah aksi kekerasan dan pelanggaran hak azazi manusia, seperti pembunuhan terhadap orang yang berupaya menjalankan haknya melakukan ibadah di Masjid Al-Aqsa. Dunia terasa sembilu. “Lihatlah!” Israel seakan menegaskan bahwa, “Orang Palestina boleh memiliki pemerintahan sendiri, tapi itu hanya diatas kertas!”

Sejarah adalah sebuah pola dengan beberapa pengulangan.

Pada 11 Juli 1948, tentara Israel, dengan dibantu batalion yang dipimpin Moshe Dayan lengkap dengan sebuah kendaraan berlapis baja yang dipasangi meriam menyerbu al-Ludd, disertai para pemuda yang telah dilatih perang dari Ben Shemen. Kota itu dicoba dipertahankan para milisi Arab. Tapi dalam 47 menit, belasan orang Arab tewas, termasuk perempuan, orang tua, dan anak-anak. Di pihak Israel, sembilan orang mati.

Malam itu juga posisi-posisi kunci di pusat kota direbut. Penduduk Palestina, dalam jumlah ribuan, dipaksa masuk ke masjid utama. Ketika beberapa orang Arab mencoba melawan dengan menembaki tentara Israel dari dekat sebuah masjid kecil, balasan datang tak tanggung-tanggung.

Granat dilontarkan ke rumah-rumah. Masjid kecil itu ditembak dengan peluru antitank. “Dalam 30 menit, dua ratus lima puluh orang Palestina tewas,” tulis Ari Shavit dalam bukunya My Promised Land: The Triumph and Tragedy of Israel. “Zionisme telah melakukan pembantaian di al-Ludd.”

Dan itu bukan akhir cerita. Setelah kota diduduki, Yitzhak Rabin, perwira operasi, meneruskan keputusan Ben-Gurion dalam sebuah instruksi tertulis: “Penduduk al-Ludd harus diusir secepatnya, tanpa memandang umur.”

Menjelang malam, sekitar 35 ribu orang Arab Palestina berduyun-duyun meninggalkan kota kelahiran merekadalam barisan yang amat panjang menuju timur. Tak pernah bisa kembali.

Ari Shavit menuliskan adegan itu dengan nada sedih. Ia tahu kekejaman telah terjadi terhadap orang Palestina yang tak berdosa dan tak berdaya ituorang-orang usiran abad ke-20, seperti bangsa Yahudi, orang-orang usiran abad ke-6 sebelum Masehi. Tapi ia tak mengutuk. Wartawan harian Haaretz itu tak sanggup mengutuk para pemimpin Israel yang memerintahkan kesewenang-wenangan di al-Ludd. “Tanpa mereka,” tulisnya, “aku tak akan pernah dilahirkan. Mereka melakukan kerja yang keji itu yang memungkinkan bangsaku, rakyatku, anak-anakku, dan diriku hidup.”

Shavit lahir di Rehovot, 20 kilometer dari Tel Aviv, sembilan tahun setelah Negara Israel berdiri. Ada yang jujur dalam pernyataannya: ia mengaku tak berdaya di tengah pilihan-pilihan moral yang sulit.

Israel memiliki segalanya untuk memenangkan perang melawan Palestina. Pesawat-pesawat tempur mereka mengaum di angkasa, sedang orang Palestina punya apa? Mungkin mereka hanya bisa mengatakan kami punya tubuh yang bisa meledak. Bayangkan tubuh yang bisa meledak. Palestina bukan hanya “tanah tumpah darah” dalam arti harfiah, tapi juga orang-orang yang selamanya dijerumuskan dalam rasa sakit dan terus menerus dipenggal.

Kondisi di Palestina, masyarakat disana beribadah dengan dikawal Tentara Israel. Foto Reuters / Ammar Awad

Kita tidak tahu sampai kapan bisa Palestina hidup dalam kezaliman Israel, tapi kita semua tahu bahwa Palestina akan selalu hidup sebagai sebuah hasrat. Hari-hari disana penuh ketegangan, antara marah dan cita-cita, kemungkinan hidup atau mati, ketergusuran sekaligus kepahlawanan, nostalgia serta sulitnya harapan.

Palestina mungkin saat ini adalah satu-satunya yang harus kita suarakan, sebab Palestina bukan hanya sebuah wilayah, tapi sebuah perjuangan akan kemerdekaan. Sebagaimana yang dituliskan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. “Bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa.”

Rasanya agak sulit dibayangkan, Israel sebagai sebuah Negara yang menaungi bangsa Yahudi yang membawa trauma sejarah pemusnahan sebagian besar kaum Yahudi oleh Nazi, kini justru melakukan kekejaman selayaknya mereka dulu diperlakukan. Israel adalah Israel, karena merasa pernah menjadi korban holocaust justru menjadikan mereka merasa berhak menjadi pelaku holocaust selanjutnya, yang lebih kejam dari Hitler. Sebuah lingkaran kebencian yang tak akan pernah berujung.

Israel, merasa terkepung sejak lahir, menyerang dan menduduki wilayah orang sejak pertama berdiri. Israel bukan hanya sebuah negeri, Israel adalah sebuah pasukan tempur. Dia siaga terus menerus dan umumnya tak pernah kalah.

Sejarah memang tak pernah menjanjikan penutup yang bahagia bagi semua orang, juga (mungkin) tak ada  “happy ending” yang jadi akhir selama-lamanya. Tapi sejarah juga terdiri atas tindakan yang tak henti-hentinya membangkang, menuntut, dengan kata lain dari kesewenang-wenangan, tak boleh terjadi lagi. Maka dalam segala keterbatasan kita, marilah kita berdoa untuk mereka di Palestina. Karena Palestina adalah kita.

Mengapa kita adalah Palestina? Palestina bukanlah hanya sebuah wilayah, bukanlah sekumpulan orang-orang dari etnis tertentu. Palestina adalah kesedihan, menghadapi kekuatan yang bertaut dengan pengetahuan dan teknologi, menghadapi senjata-senjata yang canggih, kekuatan uang yang begitu perkasa serta menaklukkan. Mengapa kita merasa senasib dengan Palestina? Karena kita tahu rasanya bersedih, karena hati kita merasa senasib dengan Palestina. Pernah merasakan bagaimana diringkus, diringkas dan dibungkam didunia.

Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cuplikan Sejarah, Kolom, Mari Berpikir, Opini and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s