Tag Archives: Puisi

APA SEBAB RAKYAT ACEH SANGGUP BERPERANG PULUHAN TAHUN MELAWAN AGRESSI BELANDA

Hikayat Prang Sabi sebagai media dakwah yang sanggup membangkitkan semangat perang dan jihad fi Sabilil-lah orang Aceh untuk melawan para serdadu Belanda, dipandang oleh pimpinan Hindia Belanda sebagai senjata yang sangat berbahaya, sehingga dilarang membaca, menyimpan dan mengedarkannya. Continue reading →

Posted in Buku, Cuplikan Sejarah, Data dan Fakta, E-Book, History, Kisah-Kisah, Kolom, Reportase, Review | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 42 Comments

PEUCUT KHERKOF SUATU MASA

Dari tombak dan kelewang lelaki perkasa. Atau dari rencong lengan halus perempuan mulia. Kalian-kalian yang dikuburkan ini adalah nista. Continue reading →

Posted in Cuplikan Sejarah, Kisah-Kisah, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 11 Comments

SEORANG TANPA NAMA TANPA GELAR

Wajah seorang pencinta harus menyala, berkilau dan berkobar-kobar bagaikan api. Cinta yang sejati tak mengenal resiko yang menyusul kemudian, dengan cinta, baik dan buruk menjadi tiada. Continue reading →

Posted in Cerita, Literature, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 21 Comments

SYAIR PERAHU OLEH HAMZAH FANSURI

Wahai muda kenali dirimu, ialah perahu tamsil tubuhmu, tiadalah berapa lama hidupmu, ke akhirat jua kekal diammu. Continue reading →

Posted in Kolom, Literature, Mari Berpikir, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 9 Comments

JANGAN MENCINTAI LAUTAN

Jangan mencintai lautan, banyak telah tertelan binasa di tubirnya yang dalam. Laut adalah unsur yang sama sekali tanpa kesetiaan. Jangan percaya padanya atau ia akan menghabisimu dengan merendammu. Laut itu gelisah karena cinta. Continue reading →

Posted in Kisah-Kisah, Literature, Poetry, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 23 Comments

JIKA HARI INI ADALAH KEMARIN

Ruang dan waktu menyimpan tipu daya bagi mereka yang matanya belum terbuka. Seperti halnya ada kemungkinan bahwa hari ini adalah kemarin, dan ternyata besok (telah) datang tapi kita masih terpaku pada hari ini. Continue reading →

Posted in Kisah-Kisah, Kolom, Literature, Mari Berpikir, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 24 Comments

LAUT DAN SENJA

Laut dan senja, kekosongan dan kehampaan mengundang misteri dalam putih sempurna yang sungguh luas, membuat kita merenung, apakah kehidupan di samudera hampa itu dalam waktu yang terus bergulir. Continue reading →

Posted in Cerita, Kolom, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 25 Comments

TELATAH YANG PATAH-PATAH

Selalu hidup adalah hasrat, atau ia menghimbau selayaknya fajar, tiap kali didatangi, ia fana, namun disanalah waktu ditetapkan. Shubuh datang, maghrib menjelang kemudian shubuh lagi, tapi repetisi itu tak terasa rutin, tiap menit, tiap jam, dan tiap hari. Continue reading →

Posted in Kolom, Literature, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

AGAR HIDUP LEBIH TERASA HIDUP

Agar hidup lebih hidup, seharusnya kita tak perlu mempertakuti kematian, akan tetapi selayaknya yang kita takuti adalah tidak pernah berusaha memulai hidup. Ketika mati maka kita sampai pada sebuah titik konstan, stabil dan henti. Hidup bukanlah sesuatu yang ajeg, rapi jali dan nyaman. Continue reading →

Posted in Kolom, Mari Berpikir, Opini, Pengembangan diri | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

DENGARLAH SUARA KEMATIAN

Karena itulah aku menyukai masa lalu. Setiap tahun yang berlalu, terus bertambah dalam catatanku. Dengarlah suara kematian, bunyinya seperti pedang yang tajam. Tipis mengiris. Continue reading →

Posted in Kisah-Kisah, Kolom, Pengembangan diri, Puisiku | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 19 Comments