TELATAH YANG PATAH-PATAH

TELATAH YANG PATAH-PATAH

Masihkah engkau mengingat ketika pertama kali paru-paru isi oleh udara, ketika rahman1) dan rahim2) mengantarkan kau menuju gharib3), dari perantah sampai telatah yang patah-patah, sudahkah engkau kenali jalan yang membetuli insan4) wahai arif budiman?

Selalu hidup adalah hasrat, atau ia menghimbau selayaknya fajar, tiap kali didatangi, ia fana, namun disanalah waktu ditetapkan. Shubuh datang, maghrib menjelang kemudian shubuh lagi, tapi repetisi itu tak terasa rutin, tiap menit, tiap jam, dan tiap hari. Harapan akan dunia ini selalu berisi ketegangan, antara amarah atau cita-cita, kemungkinan dan kematian, kekalahan atau kemenangan, nostagia bahkan sulitnya keinginan.

Langkah-langkah hidup penuh onak menuju makrifat

Langkah-langkah hidup penuh onak menuju makrifat

Pada tubir ini, diantara hutan ataupun pantai. Beta berjalan mendaki, dan tak sadar menikmati sentuhan tenah yang keras di telapak kaki, menghirup bau perdu dan pohon-pohon disekeliling. Beta tak sengaja memandangi sepucuk sajaratun5), di depan mata, ia seakan-akan berubah menjadi lambang aljabar6), perjuangan kami, kehilangan kami telah terhitung laba ruginya. Akh, pada saat itu jua, Beta merasa direnggutkan dari sajaratun itu, dan sebagai penganti tampak sebuah lobang melompong kemana rasa marah dan sakit mengalir, masuk.

Bisakah si fakir mengharap makrifat7)? Bila hati dipenuhi maksiat. Harap cemas ibadah digantikan nikmat dunia. Oh, Beta bepergian selayaknya orang-orang, tapi pulang ke sebuah tempat yang tiada. Ibarat hati terombang-ambing, antara kekasih dan nikmat duniawi. Kebimbangan, ketakutan mengungkapkan rasa sedih mengiris. Di tempat ini yang justru tak berarti, tempat yang tak hadir tapi Beta bentangkan setiap hari, mungkinkah Beta menjumpai engkau kekasih sebagai muhlisin?

Beta telah kehilangan segalanya, segalanya pada pusaran mahbub9), perjalanan malam menggunakan suluh cahaya, penuh seluruh harap markab10) ini berlabuh ke Bandar tauhid menuju makrifat, agar supaya dapat bertemu sang kekasih.

Bait al-Hikmah, 4 Rabbiul Akhir 1440 Hijriah (Bertepatan 11 Desember 2018)

Daftar Istilah:

  1. Rahman = Maha Pengasih;
  2. Rahim = Maha Penyayang;
  3. Gharib = Asing/Dagang (Dunia adalah tempat yang asing bagi manusia);
  4. Insan = Manusia;
  5. Sajaratun = Sejarah/Pohon;
  6. Aljabar = Matematika Arab (Cikal bakal Aritmatika);
  7. Makrifat = Pengetahuan yang diperoleh mengetahui akal;
  8. Muhlisin = Orang yang ikhlas;
  9. Mahbub = Lautan dan gelombang;
  10. Markab = Perahu

Tentang tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
Pos ini dipublikasikan di Kolom, Literature, Pengembangan diri, Puisiku dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Leave a Reply

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.