-
Recent Posts
- CONTOH PUISI CINTA BAHASA MANDARIN SIMPLIFIED (棵真实存在的树的记忆)
- PERADABAN TANPA TULISAN JILID DUA
- SERUAN MERONG MAHAWANGSA
- SUNGAI KEJAYAAN
- SUNGAI KESETARAAN
- CONTOH PUISI CINTA BAHASA MANDARIN TRADISIONAL (錯過)
- IBNU KHALDUN PERINTIS ILMU SEJARAH DAN ILMU-ILMU SOSIAL MODERN
- CONTOH PUISI CINTA BAHASA GREENLAND/KALAALLISUT (EQQAAMASSAT DRZZLE-MIK)
- RIWAYAT HIDUP TEUNGKU HAJI AHMAD HASBALLAH INDRAPURI
- YANG DIKALAHKAN OLEH NAFSU
- MEMENTO MORI
- MAHLIGAI KEMASYGULAN
- AMANAH WALI: SELAMATKAN HUTAN ACEH
- TUNTUTAN KALAM
- SENJAKALA KATA
- MENJAWAB POLEMIK MAKAM TANDINGAN SYEKH ABDUR RAUF AS-SINGKILI ATAU TENGKU SYIAH KUALA
- INGATAN SEBATANG POHON ASAM
- BAGAIMANA MENGELOLA HARTA MENURUT HIKAYAT KALILAH WA DIMNAH
- INFOGRAFIS TSUNAMI ACEH
- POLIFONI BERGERAK MEMENCAR
Fans Page
Twitter
My Tweets
Category Archives: Puisiku
JANGAN MENCINTAI LAUTAN
Jangan mencintai lautan, banyak telah tertelan binasa di tubirnya yang dalam. Laut adalah unsur yang sama sekali tanpa kesetiaan. Jangan percaya padanya atau ia akan menghabisimu dengan merendammu. Laut itu gelisah karena cinta. Continue reading
LAUT DAN SENJA
Laut dan senja, kekosongan dan kehampaan mengundang misteri dalam putih sempurna yang sungguh luas, membuat kita merenung, apakah kehidupan di samudera hampa itu dalam waktu yang terus bergulir. Continue reading
DENGARLAH SUARA KEMATIAN
Karena itulah aku menyukai masa lalu. Setiap tahun yang berlalu, terus bertambah dalam catatanku. Dengarlah suara kematian, bunyinya seperti pedang yang tajam. Tipis mengiris. Continue reading
RISALAH SANG DURJANA BAGIAN DUA PULUH TIGA
“Wahai lelaki yang berbau garam, jangan takut!” Ia tersenyum menatapku geli. Gerimis jatuh tepat dihidungku, aku tidak sedang dalam mimpi. Aku juga merasakan angin menampar-nampar pipiku, bahkan aku merasakan gemericik air ditepian telaga. Continue reading
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Literature, Puisiku
Tagged Aceh, Budaya, Cerita, Cinta, Dara, Drama, Dunia, Durjana, Gelap, Hidup, Hikayat, Kampung, Kerajaan Lama, Laki-laki, Laut, Legenda, Manusia, Nona, Nusantara, Pahlawan, Perang, Perempuan, Puisi, Saga, Sastra, Sejarah, Syair, Tradisi, Tragedi, Waktu
28 Comments
DI TEPIAN PANTAI PULAU BUNTA
Bersama langit merah mega-mega tenggelam. Sembilu menghentak kemudian membatu. Digugusan pulau jauh ini. Asing, terasing dan semakin asing. Continue reading
Posted in Cerita, Kisah-Kisah, Photography, Puisiku
Tagged Aceh, Archipelago, Cinta, Hidup, Laut, Malam, Manusia, Puisi, Sastra, Syair, Waktu
8 Comments
PENANTIAN
PENANTIAN. Tak semua warisan adalah bangunan. Tidak setiap kali ada tambatan yang tulus diri kita kini dan sebuah bangunan bersejarah. Jauh atau dekat sebuah peninggalan masa lalu tak ditentukan peta bumi, bahkan tak selamanya ditentukan oleh kronologi. Continue reading