MEMENTO MORI

Ada kematian ada kelahiran, maka hidup adalah sikap sedia (untuk) kehilangan.

MEMENTO MORI

“Atas nama makhluk, segala sesuatu yang bermula pasti (akan) berakhir.”

Memento Mori berasal dari bahasa latin, ironisnya adalah bahasa yang telah tidak digunakan lagi dalam percakapan (mati). Ingatlah kematian, ingatlah kita akan merasakan kematian. Kapan? Sulit untuk dapat tahu, tapi pasti akan terjadi. Ada banyak cara kematian datang, indah ketika ia datang dalam damai, dikelilingi oleh mereka yang dicintai.

Bayangkan ketika membaca tulisan ini, atau sedang menarik nafas (saat ini), ada seorang di sudut lain di bumi yang sama sedang merenggang nyawa, lebih menyakitkan lagi jika seseorang itu adalah seseorang yang kita kenal, atau bahkan sangat kita sayang. Puncak perasaan yang menyesakkan adalah ketika dia masih sangat muda, ceria dan tak menampakkan tanda-tanda akan pergi. Bagaimana pun kematian (maut) bukan untuk dirayakan kesedihannya, tapi untuk menjadi pelajaran bagi mereka yang masih hidup.

Sejak zaman dahulu (hampir) semua manusia mengharapkan keabadian, di Mesir mereka berharap yang telah mati dapat hidup kembali dan dibuatkan mumi. Mula-mula mayat dikubur dalam pasir dan dikeringkan. Dari lubang hidung dan lubang dubur organ dalam dan otak diambil dengan pinset, setelah itu tubuh dilumuri racikan tumbuh-tumbuhan, setelah enam puluh hari berlalu mayat dimandikan, dilumuri minyak dan perlahan dibalut kain linen. Tak seorang pun dari mereka yang berhasil mendapatkan keabadian. Laki-laki maupun perempuan, baik kaya maupun miskin pasti mati, tua maupun muda.

Hidup memang misterius, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Kebaikan dan kejahatan (akan) mendapatkan ganjaran masing-masing. Karena ada kematian, ada kelahiran, menjalani hidup adalah sikap sedia untuk kehilangan an sich bersedih. Berbuat baiklah kepada siapapun yang kamu pernah temui, karena bisa jadi pertemuan itu adalah yang terakhir.

Ketika dia tiada, maka semua akan terasa menyesakkan ketika tidak ada lagi yang seperti dia.

XXX

Beberapa renungan:

  1. Genderang Pulang Sang Rajawali; 22 Februari 2018;
  2. Bacalah Ini Disaat Engkau Merasa Kalah; 28 Maret 2018;
  3. Dengarlah Suara Kematian; 15 Juli 2018;
  4. Umat Islam Tak Lagi Memiliki Perimbangan Antara Ilmu Dan Iman; 30 Juli 2018;
  5. Jika Hari Ini Adalah Kemarin; 20 Februari 2019;
  6. Jangan Mencintai Lautan; 3 April 2019;
  7. Membaca Angin Menghindari Badai; 28 September 2019;
  8. Kaya Tanpa Harta; 24 November 2019;
  9. Perjalanan Yang Luar Biasa; 4 Desember 2019;
  10. Sunyi; 19 Maret 2020;
  11. Abu Nawas Menasehati Raja; 2 Juni 2020;
  12. Bustanus Salatin Panduan Berkuasa Para Sultan Aceh; 27 September 2020;
  13. Penjara Pikiran; 9 Oktober 2020;
  14. Ilmu Memahami Ilmu; 15 Juni 2021;
  15. Lembu Patah; 18 Desember 2021;
Unknown's avatar

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Kisah-Kisah, Kolom and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.