AGAR KEPALA DAN HATI TAK TERBENTUR

Setiap keputusan bisa benar atau salah, tapi ingatlah bahwa yang paling berdaulat dalam setiap diri manusia, yang menjadi penjaga dalam setiap diri manusia, adalah nurani. Untuk itu, kita harus berusaha agar kepala dan hati tidak terbentur.

AGAR KEPALA DAN HATI TAK TERBENTUR

Gula-gula itu berbentuk seperti kuda, berwarna-warni, krim gula dengan belang-belang hijau, merah dan kuning dengan mainan sado beroda sebagai pegangan. Tahun 1988, seharga lima puluh rupiah gula-gula ini merupakan sebuah kemewahan, dimana bentuk permen yang lebih sederhana masih dapat terbeli dengan harga sepuluh rupiah.

Entah mengapa fragmen-fragmen dari masa lalu tiba-tiba hinggap dikepala. Pagi itu, Abu bermain di pantai Ujong Kalak, dekat lokasi Teuku Umar ditembak pasukan Belanda bermain pasir. Keasyikan bermain, Abu lupa menguburkan sado itu dimana, ketika diajak pulang karena hari akan hujan, Abu panik dan tak menemukan dimana mainan tersebut. Dibonceng pulang bersepeda ke Suak Ribee bersepeda, Abu menitikkan air mata mengingat kehilangan tersebut, beberapa saat kemudian Abu diberikan jajan seratus rupiah. Abu tidak tertarik membeli gula-gula dengan kereta sado yang sama. Akh, mungkin sedari kecil Abu punya kecenderungan fatalis, tidak ingin mengulang sesuatu hal yang sama, apalagi yang menyakitkan sampai dua kali.

Sore hari, selepas Ashar setelah mandi, berbedak dan bersisir rapi Abu yang waktu itu berumur 4 tahun main ke rumah tetangga, kawan Abu. Ayah mereka nelayan membawa pulang ikan pari yang besar, bahkan lebih besar dari Abu (kecil). Kemudian dibakar diatas kayu, kemudian di makan dengan kecap, dicampur tomat dan cabai. Mereka menawarkan kepada Abu, dan Abu hanya menggeleng. Kawan Abu tadi yang berumur 9 tahun menceritakan kepada keluarganya bahwa tadi pagi Abu berlinang air mata pulang dari laut karena kehilangan sado, Abu pasrah diejek. Tapi abang kawan Abu yang berumur 9 tahun, kelas 3 SD menghibur Abu dan menceritakan bahwa ia pernah kehilangan pisau lipat, kita harus dewasa ketika menghadapi kehilangan. Abu diam, teman Abu yang saat itu berumur 6 tahun juga bercerita dia pernah kehilangan karet gelang, dan dia tabah menghadapinya. Jadi Abu harus selow, kehilangan mainan sado bukan akhir dunia.

Waktu itu Abu berpikir betapa hebatnya orang-orang yang sudah berusia 6 atau 9 tahun, mereka lebih dewasa dan tenang. Semoga nanti ketika sudah bersekolah, Abu menjadi orang yang hebat seperti mereka. Akhirnya Abu bersemangat kembali dan makan ikan pari kecap bakar itu dengan semangat, bahkan nambah. Disitu Abu baru tahu, bahwa ikan pari bakar sangat sedap.

Tapi benarkah? Kedewasaan mampu membuat orang selalu tabah akan kehilangan? Abu pikir, yang menangis adalah yang merasa “punya”, berpunya adalah kehilangan, dan yang kehilangan adalah mereka yang berkeinginan atas apa yang dihilangkannya. Dua puluh tiga tahun sesudahnya, Abu pun pernah menitikkan air mata tak henti sepanjang tiga puluh kilometer perjalanan di dalam sebuah minibus. Hukum kehilangan tak mengikat apakah dia tua, muda atau apapun. Pengikatnya adalah rasa “berpunya” yang tiba-tiba diangkat menjadi “hilang”, dan bukankah hidup bukanlah sesuatu yang tetap, konstan dan aman. Sepanjang hidup kita semua harus belajar menerima kehilangan satu persatu. Luka separah apapun dapat disembuhkan, setiap orang memiliki duri dalam hidup, tapi ketika bisa menertawakan nasib buruk yang menimpa kita bisa melawan yang paling menindas, nasib buruk.

Hidup seperti teater, terkadang tak perlu menemukan kebenaran, melainkan menghadapi kesalahan, dan mengatasinya, terkadang dengan sedih, terkadang dengan tertawa, mensyukuri kita masih hidup setidaknya sehari lagi.

Ibu bilang Abu pelupa, terhadap hal-hal yang dekat-dekat. Tapi yang ibu herankan, entah bagaimana caranya Abu bisa mengingat kejadian yang telah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Ketika ditanya Abu hanya mengangkat bahu, tidak tahu juga mengapa.

Sedari kecil Abu berusaha menjadi orang yang bijaksana, tapi bagaimana caranya? Tahun 1996 Abu merasa tahu solusinya. Perbanyak membaca! Maka sejak itu Abu menjadi kutu yang hinggap disetiap perpustakaan yang dapat Abu jangkau. Tahun 2002 ketika lulus SMA Abu mencetak rekor pembaca buku terbanyak disekolah sepanjang masa, sampai direkam dengan handycam untuk diwawancarai, guru perpustakaan waktu itu mengatakan, sampai sepuluh tahun kedepan belum tentu ada lagi orang seperti Abu.

Benarkah membaca membuatmu bijaksana? Mungkin tidak. Ketika membaca banyak buku maka otak akan dilimpahi berbagai informasi, banjir informasi ini belum tentu berguna dalam kehidupan praktis. Cukup wajar bahwa generasi milenial saat itu lebih memilih membaca sesuatu yang praktis, langsung digunakan dan bermanfaat. Sejarah, sastra, filsafat, nyaris tidak ada fungsi dalam kehidupan sehari-hari, sedang waktu yang digunakan untuk membaca tentunya sangat berharga. Saat ini lebih baik jika membuat konten Youtube, jika menarik dan banyak penontonnya, gelontoran rupiah akan menjelang. Tapi membaca tentu juga bukanlah sesuatu yang sia-sia, kita tentu tak lantas bijaksana dengan membaca, tapi sedikit kurang kita mampu menilai suasana, memberikan informasi ketika memberi keputusan yang tiba-tiba dan tak ada tempat bertanya. Untunglah kita sekarang memiliki google!

Ada masa setiap orang harus menarik diri, merenung apa yang telah dan sudah dibuat. Hammurabi sebelum menjadi raja Babylonia yang paling bijak pernah berlari ke padang rumput, merasakan menjadi kambing/domba dengan makan rumput. Ilmu merasakan kerap hadir ketika kita dalam kesunyian. Setiap individu harus belajar memetakan dirinya sendiri, orang-orang boleh membuat analisis, berdiskusi atau bahkan bergunjing di meja kopi tentang karakter seseorang, tapi percayalah jika kamu tidak mengenali diri sendiri maka tidak ada orang lain yang bisa.

Teori seringnya lebih mudah daripada kenyataan, sulitnya adalah sebagaimana dikatakan Jack Finch kepada keponakannya Jean Louise yang sedang marah dan bingung dalam Novel Go Set A Watchman karangan Harper Lee. “… mudah untuk mengenang kembali siapa kita, kemarin, sepuluh tahun yang lalu, tapi sulit melihat siapa diri kita sekarang…”

Hati adalah raja ditubuh manusia dimana otak menjadi perdana menterinya

Setiap keputusan bisa benar atau salah, tapi ingatlah bahwa yang paling berdaulat dalam setiap diri manusia, yang menjadi penjaga dalam setiap diri manusia, adalah nurani. Untuk itu, kita harus berusaha agar kepala dan hati tidak terbentur.

Simak (juga) kisah-kisah Petualangan Si Abu lainnya.

Advertisements
Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Cerita, Kisah-Kisah, Kolom, Mari Berpikir, Pengembangan diri and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.