PENJARAHAN KEBUDAYAAN

Soeharto dan Keluarganya adalah “Penjarah” terbesar sepanjang sejarah Indonesia

PENJARAHAN KEBUDAYAAN

Pekan Kebudayaan Aceh ke-6 Tahun 2013.

Logo Pekan Kebudayaan Aceh 2013

Mata kepala Museum Aceh ketika itu menjadi berkaca-kaca ketika Abu memprotes, mengapa Museum Aceh hanya diisi oleh foto-foto dari zaman Belanda saja? Beberapa meriam atau parang usang serta hanya kerajinan rotan ditambah kaligrafi saja. Dimanakah sejarah Aceh yang gemilang itu? Tidak ada bukti fisik yang hebat sama sekali!

Menarik nafas panjang beliau berkata. “Nasib kita sebagai bangsa terjajah. Ketika Belanda menyerang kesultanan Aceh Darussalam mereka menguras istana dan mengambil apa saja yang bisa mereka ambil. Belum lagi oknum-oknum tentara Belanda dari KNIL atau Marsose yang merampas berbagai peninggalan dari Kesultanan Aceh. Tapi itu semua masih bisa kita lihat, kalau anak cucu kita ingin melihat kejayaan Aceh masa lampau datanglah ke Museum Kolonial Belanda di Bronbeek. Nisacaya masih ada yang bisa kita lihat?” Ia merenung, ingin menyambung bicara tapi sedikit tertahan.

Monumen Perang Aceh di Bronbeek Belanda

Meriam Besar Milik Kesultanan Aceh yang dirampas Belanda saat Perang Aceh sekarang ada di Bronbeek Museum Arnhem Belanda.

Abu menunggu beliau mengungkapkan apa yang beliau tahan.

Akhirnya beliau berkata pelan. “Dulu, ketika Suharto berkuasa. Setiap ia datang kemari rakyat menyambut gembira, tapi seiring Suharto datang maka ibu Tien (istri Suharto) selalu datang kemari dan mengambil isi museum yang dianggap berharga.”

Keluarga Cendana salah satu penjarah museum Aceh

Rumah Soeharto di Jalan Cendana. Diyakini memiliki ruang bawah tanah tempat menyimpan harta dari seluruh Museum yang dijarah oleh Soeharto dan keluarganya.

Abu terdiam, Abu ingat di tahun 1993 Suharto pernah datang ke Aceh. Waktu itu Abu masih kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah dan melambai-lambaikan bendera merah putih. Saat itu Abu melihat Suharto, tapi tidak ibu Tien! Celaka dua belas keluarga Cendana tersebut.

“Tolong jangan salahkan saya Abu, waktu itu saya masih muda. Hati saya menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa.” Beliau terlihat menyesal.

“Dan lebih menyakitkan lagi, dua-tiga bulan setelah mereka kembali ke Jakarta. Ajudan ibu Tien datang kembali untuk mengambil yang tertinggal. Saya curiga itu sebenarnya untuk dijarah secara pribadi. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa juga.” Beliau seperti telah menceritakan sesuatu yang berat.

“Apa yang telah mereka ambil tidak bisa kita lihat lagi. Saya selalu curiga bahwa di Cendana itu ada ruang bawah tanah. Ada berapa museum di Indonesia yang telah mereka jarah? Tentu banyak sekali.”

“Untungnya keluarga Cendana tidak terlalu tertarik dengan naskah kuno. Mereka banya tertarik dengan senjata dan perkakas logam.” Akhirnya beliau tertawa.

Abu terdiam dan tidak banyak bicara lagi. Sebenarnya masa lalu tak hanya bisa ditemukan dalam buku-buku sejarah semata, atau mungkin sebatas catatan-catatan petualang serta monopoli bangsa-bangsa Eropa. Sejarah itu mungkin terekam melalui artefak-artefak dan peninggalan berupa hasil kerja orang-orang yang hidup di zaman itu. Sayangnya ada banyak realitas masa lalu tersebut yang menjadi bagian dari realitas kebudayaan tersebut telah hilang, bahkan tidak terlintas ke dalam memori generasi sekarang. Dan jika masyarakat Aceh saat ini mengalami degragasi kehidupan dan peradaban, mungkin karena tidak memiliki pijakan sejarah lagi. Maka malanglah Aceh, dan Indonesia (juga) tentunya.

Advertisements

About tengkuputeh

Cepat seperti angin // Tekun seperti hujan // Bergairah seperti api // Diam seperti gunung // Misterius seperti laut // Kejam seperti badai // Anggun seperti ngarai // Hening seperti hutan // Dalam seperti lembah // Lembut seperti awan // Tangguh seperti karang // Sederhana seperti debu // Menyelimuti seperti udara // Hangat seperti matahari // Luas seperti angkasa // Berserakan seperti debu //
This entry was posted in Kisah-Kisah, Reportase and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s